Hai Teman DRYD,
Ini edisi khusus curhat dokter Yusri ya. Hahah, sebenernya agak rancu sih soalnya kan bagian Self-care biasa biasanya emang diisi sama curhatan-curhatan saya ya. Jadi kalo saya sampe announce kali ini adalah edisi curhat jadinya rada ga guna juga. Jadi lebay. Tapi emang, kalo biasanya saya curhat di Self-care berdasarkan curhatan orang lain yang kemudian dibahas pake kacamata orang lain, kali ini saya curhat berdasarkan pengalaman pribadi. Pengalaman yang mungkin bisa aja jadi berarti buat dibaca oleh orang lain. Kalo membantu, ya sukur semoga kita bisa belajar banyak bareng-bareng yaaa. Kalo ga membantu juga gapapa, siapa tau bisa di-share ke orang lain yang mungkin lagi butuh pencerahan, insights, pendapat, gitu-gitu.
Apa sih curhatnya dokter Yusri ini sampe pake edisi khusus segala?
Saya mau membahas kegagalan, sodara-sodara.
Siapa sih yang ga tau apa itu kegagalan? Semua orang pasti paham; anak kecil juga pasti ngalamin meskipun mereka mungkin belum tau maknanya, apalagi pelajaran apa yang bisa diambil. Tapi pernah ga sih, Teman DRYD ngalamin kegagalan yang benar-benar gagal? Gagal segagal-gagalnya sampe down dan mikir kaya ga mungkin lagi kembali berdiri? Gagal yang hancur porak-poranda?
Ada yang bilang hidup itu lebih dinamis jika terisi oleh beberapa momen kegagalan yang “sehat”, yaitu ketika kita bisa memetik pelajaran berharga dari momen tersebut untuk memperbaiki banyak hal di kemudian hari. Ada yang bilang juga kalo yang namanya gagal itu guru paling baik tempat kita belajar pengalaman hidup dan introspeksi. Beberapa orang mungkin bisa menanggapi kegagalan dengan cara yang lebih baik, apalagi kalo kegagalan yang dimaksud itu semacam hal-hal yang relatif kecil. Tapi kalo kegagalan itu sampe bikin kita stres dan merasa ga bersemangat menghadapi hidup? Wah, banyak efek dan akibatnya. Jadi kaya domino; satu kegagalan menjadi sumber untuk serangkaian kegagalan-kegagalan lain dalam hidup.
Ada ga yang pernah sampai kaya gitu?
Saya pernah.
Apa sih yang bikin saya terpuruk demikian dalam dan sampe harus ngambil terapi khusus buat memperbaiki semuanya? Satu kata sederhana: bangkrut.
Semuanya berawal dari bisnis klinik kecantikan yang saya bangun di Jakarta beberapa tahun lalu. Singkat aja nih ya; setelah berjalan, saya melewati fase bisnis yang bikin saya rugi besar sampe harus gulung tikar. Ini kegagalan dan ini hal yang lazim terjadi dalam dunia bisnis. Sampe di sana kelar? Enggaaa. Kalo orang bilang satu kegagalan seharusnya ga bikin kita gentar dan memadamkan semangat, justru itu yang terjadi pada saya dulu. Saya down se-down-down-nya. Stres? Bukan lagi stres, depresi. Saya depresi berat sampai butuh bantuan profesional buat bisa setidaknya ngeliat kejadian ini dari kacamata yang berbeda. Kecenderungan orang yang depresi itu sederhana, Teman DRYD, mereka ga bakal bisa “menarik” diri dari pusaran tekanan di sekitar tanpa uluran tangan orang lain. Makanya nih, kalo ada di antara Teman DRYD yang udah mulai ngerasain gejala-gejala depresi, jangan menutup diri. Jangan terlena dengan tekanan yang ada. Percaya deh, orang kalo lagi depresi itu saaangat-sangat “menikmati” kondisi tertekan mereka. Tanda kutip itu, ya; artinya mereka cenderung membiarkan diri semakin tenggelam dalam kegelapan—bukan karena mereka enjoy berada di situasi itu tapi karena mereka ga tau kudu ngapain.
Itu yang terjadi pada saya.
Setelah mulai pulih, apa yang saya lakukan? Apa saya kapok berkecimpung di dunia estetika? Apakah saya terus mencampakkan ijazah kedokteran saya? Engga dong. Jalan dari terapi ke fase membaik itu ga simpel. Ga singkat. Sampe sekarang saya masih merasa bahwa proses penyembuhan itu terus berjalan. It takes time. Suatu waktu, saya kerjasama dengan dr. Jimmy Adrian SPKj. untuk mengadakan semacam seminar. Waktu itu temanya overthinking. Nah, di situlah saya ketemu sama salah satu partisipan yang sekarang jadi teman baik saya. Namanya Mbak Deborah Ayu.
Kenapa satu perempuan ini yang saya sorot? Karena saya dan dia dihubungkan dengan satu kondisi yang sama: bangkrut. Kami sama-sama pernah ada di titik terendah hidup kami. Kami sama-sama pernah menderita batin, sama-sama pernah memandang hidup ini ga adil dan kepingin kelar aja cepet-cepet semuanya.
Mbak Deborah ini juga penggiat bidang estetika. Kasusnya juga mirip sama apa yang saya lalui. Singkatnya, bisnisnya juga bubar. Tapi di kliniknya ada alat-alat nganggur yang saat itu terbengkalai. Langsung deh saya kepikiran, “Wah, daripada mesin-mesin itu rusak ga kepake, kenapa ga saya aja yang pake buat bisnis sendiri lagi?”
Sebenernya buat memulai bisnis lagi itu satu step yang cukup bikin gemeteran sih, waktu itu. Ya namanya trauma ya. Lukanya mungkin udah sembuh di permukaan tapi di bawahnya masih memar-memar berdarah. Kebayang lagi deh kejadian-kejadian masa lalu. Tapi trus sayanya mikir, “Ini passion saya. Ini kesempatan baik dan ga semua orang dikasi kesempatan baik dua kali.”
Mbak Deborah sendiri sedang ada di fase ingin menyembuhkan diri dari luka pribadinya. Satu cara yang dia pilih waktu itu adalah dengan melepaskan semua perlengkapan dan peralatan yang dulu dia pake buat berbisnis. Asumsinya dia adalah bahwa dengan “membuang” segala hal yang ada kaitannya dengan masa lalu, proses penyembuhan dirinya jadi lebih cepat.
Akhirnya ya saya sampein deh ke Mbak Deborah waktu itu, “Alat-alatmu saya beli aja buat bisnis di Jogja.” Perjanjiannya waktu itu pembayarannya dengan cara mencicil dan saya sanggup melunasi dalam waktu kurang dari setengah tahun, bahkan. Sombong? Bukan. Ini bukan perkara saya menyombongkan kemampuan saya dalam melunasi hutang. Ini perkara “di mana ada kemauan, di situ ada jalan.”
Klasik? Basi? Bikin eneg? Ya gapapa; kenyataannya kalimat itu emang udah terlalu sering diumbar dan didengar sampe-sampe maknanya jadi monoton dan membosankan. Tapi kalimat itu sering diucapkan karena emang ada benernya kok sekalipun ga sesederhana itu realitasnya.
Kenapa saya bilang ga sesederhana itu? Ketika kita tahu apa yang kita mau, kita tahu cara mendapatkannya. Adaaa aja jalannya. Tapi, sekarang gimana bisa kita punya kemauan kalo buat bernapas aja butuh energi lebih? Depresi itu candu lo ya, Teman DRYD. Alam bawah sadar kita udah sedemikian ter-disable sampe-sampe otak jadi kepengaruh dan berpikir bahwa ga ada jalan lain, this is the end of the road.
Jadi hal berbeda apa yang saya lakukan? Pertama, saya tanamkan ke diri saya bahwa saya ga boleh membandingkan penderitaan saya dengan orang lain. Iya, ada banyak orang lain di dunia ini yang penderitaannya jauh lebih menyakitkan dari saya. Iya, saya masih lebih beruntung karena masih punya support system yang lebih dari bersedia mendukung saya. Tapi menepis penderitaan sendiri, menutup mata dan menulikan telinga dari rasa sakit yang saya rasakan hanya karena orang lain punya masalah lebih berat itu juga ga adil buat diri saya sendiri. Jalan orang berbeda dengan jalan saya. Cara mereka menghadapi kejadian berbeda dengan cara saya dan gitu juga dengan kapasitas masing-masing. Menyadari persoalan orang lain, menghargai usaha mereka untuk tetap hidup, dan tidak menyepelekan masalah orang lain itu penting dan harus. Tapi ga bisa dilakukan dengan cara menyepelekan persoalan sendiri ya.
Dari situ berlanjut ke penerimaan. Saya menerima kondisi saya tanpa menipu diri sendiri. Saya tanamkan pada diri sendiri bahwa denial itu ga bakal menyelesaikan apa pun. Saya ingat-ingat terus bahwa ga ada yang salah dengan kalah dan menerima fakta bahwa saya kalah. Kalah-menang itu hukum alam. Senang dan gembira karena menang itu lumrah. Sedih dan kecewa karena kalah itu manusiawi. Di kondisi keduanya, diri kita sebagai manusia diuji. Oh, kamu kalah? Apa yang mau kamu lakukan dengan fakta itu, kondisi itu? Oke, kamu mau bersedih dan menangis? Nikmati fase itu. Tapi seterusnya jangan biarkan dirimu larut dan tenggelam apalagi sampe nolak bantuan dari orang lain. Sadari bahwa kamu depresi dan dalam keadaan itu kamu adalah musuh terbesarmu.
Terakhir, saya coba pikirkan, apa sih yang sebetulnya paling menyakitkan ketika kalah? Saya berkesimpulan, kekalahan yang ada terasa sangat telak dan kemudian saya depresi karena masih punya keterkaitan emosional dengan hal di masa lalu. Dari situ saya mulai belajar melepaskan. Apa yang tidak ditakdirkan menjadi milik saya, sampai jagat raya kiamat pun ga bakal pernah saya genggam lagi. Keterikatan dengan suatu hal itu adalah sumber penderitaan. Saya merasa memiliki suatu hal dan saya tersungkur parah ketika sesuatu itu lepas dari tangan. Dari belajar melepaskan ini saya paham, ketika kita mau membiarkan hal yang sudah lewat tetap ada di masa lalu dan mengakui kekalahan yang kita terima, semestalah yang kemudian akan mengambil alih dan menggantikannya dengan yang baru. Akhirnya apa? Saya kembali punya klinik. Di Jogja. Hal yang serupa, di kota yang berbeda, dengan orang-orang berbeda, dengan kondisi dan situasi yang berbeda.
Saya paham. Belajar melepaskan dan mengakui kekalahan itu proses yang menyakitkan. Tapi kadang rasa sakit itu diperlukan untuk menyembuhkan luka. Kemudian, bekas lukanya mungkin hilang tapi sensasi sakitnya akan terus terasa selagi kita memiliki otak yang fungsional. Di titik inilah kita perlu menimbang: Am I forever defined by the pain I experienced in the past? Apakah luka dan trauma di masa lalu menjadi identitas tunggal diri ini?