Memukul dan Menggigit: Ketika Anak Cuma Tahu Ekspresi Fisikal untuk Berkomunikasi

Beberapa orang di dekat saya sempat mengeluh tentang anak yang tiba-tiba suka sekali menggigit atau memukul mereka. Awalnya si buah hati maniiis banget. Tau-tau, ga ada ujan ga ada badai, kebiasaannya jadi berubah lebih agresif. Saya jadi kasian karena kondisi begini biasanya gampang banget bikin si ortu jadi kepikiran. Kaya, mereka jadi otomatis mikir, “Apa sih sebenernya yang salah? Apa saya salah didik apa gimana? Apa ada faktor tertentu di dalam rumah yang bikin anak saya jadi seagresif ini ya?” Itu baru sebagian kecil contoh overthinking ortu ketika menghadapi kenyataan bahwa anaknya yang tadinya berperilaku sweet bak malaikat tiba-tiba berubah jadi monster.

Yang jadi masalah lebih besar lagi adalah bahwa si buah hati ga cuma ngejadiin ortunya sendiri sebagai sasaran. Orang lain, terutama teman-teman sebayanya, juga bisa kena. Siapa yang ga stres dengan situasi macam begini? Digigit atau dipukul anak itu emang sakit, apalagi anak-anak ga bisa ngukur efek dari tindakannya itu. Main gigit atau pukul aja. Kadang sampe bikin kulit memar dan bahkan mungkin berdarah. Tapi rasa sakit fisikal ini kalah mengkhawatirkan dibandingkan dengan kemungkinan si anak berubah menjadi bully saat dia nanti masuk sekolah.

Memukul atau menggigit sebetulnya pola perilaku yang lambat laun bisa hilang seiring dengan pertambahan usia si anak. Tapi akan lebih baik jika tindakan seperti ini bisa ditangani sejak dini sebelum berubah menjadi pola perilaku yang lebih sulit untuk dikoreksi di masa depan. Konsep dasarnya seperti ini: Perilaku agresif pada anak-anak umur di bawah tiga tahun itu lebih mengarah kepada masalah “latihan” yang minim ketimbang kenakalan murni. Batita adalah makhluk yang baru lepas dari gendongan ibunya, skill sosial dan komunikasi mereka saaangat terbatas dengan jumlah kosa kata yang bahkan jauh lebih minim lagi. Makanya, mereka menggunakan cara menggigit atau memukul orang lain sebagai cara untuk menyampaikan protes atau ketidaksetujuan yang mereka rasakan karena cuma itu yang mereka anggap logis. Nalarnya belum sempurna. Empatinya belum berkembang sempurna. Mereka ga suka sama sesuatu tapi karena keterbatasan daya penyampaian, mereka beralih pada ekspresi fisikal untuk menyampaikan apa yang dirasakan. Kitalah sebagai orang tua, manusia dewasa yang logika dan empatinya udah jauh lebih matang, yang seharusnya bisa mengajarkan si anak untuk mengembangkan kemampuan sosial yang lebih baik tanpa mengambil jalan yang justru bikin kebiasaan menggigit dan memukul jadi makin buruk.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan dan Apa yang Semestinya Dihindari?

Yang jangan dilakukan adalah:

Pertama, JANGAN PERNAH memukul balik si anak dan berpikir itu akan menjadi sarana pembelajaran bagi si anak. Sadar ga sih, ketika kita memukul buah hati kita karena kelakuannya itu hanya akan memberikan pembenaran buat dia sendiri? Berpikir bahwa memukul adalah tindakan pendisiplinan yang efektif itu cuma bakal bikin si anak mikir kalo kekerasan fisik itu bisa diterima. Orang tuanya aja suka mukul, apalagi anaknya.

Kedua, JANGAN PERNAH memberikan hukuman dalam bentuk apa pun. Tujuan kita adalah membantu anak untuk mengelola semua emosi yang dia rasakan. Tapi pemberian hukuman justru bakal jadi kontraproduktif karena itu hanya akan membuatnya berpikir bahwa dirinya adalah jahat dan nakal. Ini, pada prosesnya nanti, hanya akan memperburuk perilaku agresifnya.

Ketiga, JANGAN PERNAH memusingkan apa yang orang lain katakan. Berkaitan dengan kasus anak suka memukul atau menggigit, fokus kita harus seratus persen diberikan kepada si anak, bukan kepada nama baik kita sebagai orang tua atau pendapat orang lain. Jadi jangan pernah takut kalo perilaku anak akan membuat imej kita buruk dan dianggap sebagai orang tua yang tidak handal. Semua orang punya porsi masing-masing. Semua orang punya cara masing-masing.

Keempat, JANGAN PERNAH memaksa si anak meminta maaf atas perbuatannya. Kata kuncinya di sini adalah “memaksa” ya. Batita mungkin sudah fasih meminta maaf tapi permintaan maaf dari seorang batita itu ga pernah tulus kok. Mereka cuma minta maaf buat keluar dari kemungkinan dimarahi. Jadi gimana? Ga mungkin dibiarin aja kan? Tentunya engga. Ketika si anak sudah lebih tenang dan tantrumnya ilang, ajak dia bicara sesederhana mungkin tentang apa yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki situasi atau tentang bagaimana dia bisa membuat si orang yand digigit atau dipukul merasa lebih baik. Caranya gimana? Coba berikan gambaran tentang tindakan kebajikan ke si anak. Atau kalo bisa didemonstrasikan langsung tindakan kebajikan itu malah lebih baik. Kita bisa ngajarin si anak buat bertanggung jawab atas tindakannya sendiri dan berempati pada orang lain juga.

Yang sebaiknya dilakukan adalah:

Pertama, monitor buah hati kita. Batita itu kaya cuaca, susah banget ditebak. Tapi sebagai orang tua kita mungkin punya cara tersendiri buat mengenali fase frustrasi atau kelelahan anak kita sendiri ketika sedang bermain dengan anak-anak lain. Begitu kita menangkap sinyal buruk dari suasana hati si anak, langsung aja deh dia dibawa pergi sebelum keadaanya makin buruk.

Kedua, tetaplah tenang. Kita orang tua juga manusia jadi bisa dimengerti ada rasa kesal ketika anak bertingkah tidak pantas. Tapi hasil positif bisa lebih mudah didapatkan jika kita tetap tenang dalam situasi anak memukul atau menggigit. Jika kita menunjukkan kekesalan dengan gamblang, si anak akan malah ketakutan dan ini mempersulit dirinya untuk mempelajari nilai-nilai yang mau kita sampaikan. Plus, si anak akan menyadari bahwa orang tuanya memberikan respons secara signifikan ketika dia melakukan kesalahan dan akhirnya berpikir bahwa perhatian orang tua cuma bisa didapatkan melalui sifat nakal—yang artinya kita gagal memperbaiki sifatnya.

Ketiga, berempatilah dengan anak dan buat batasan. Jangan gengsi buat menyampaikan pada anak bahwa kita memahami emosi yang ia rasakan dan berikan pengertian padanya bahwa apa yang ia rasakan bukan alasan pembenaran untuk tindakannya.

Keempat, tenangkan si anak. Ajarkan kepada anak untuk menenangkan diri dengan cara pernapasan perut, pemberian pelukan, atau bahkan menyanyikan sebuah lagu. Tujuannya adalah memberikan kesadaran pada anak bahwa dialah yang punya kuasa atas segala bentuk emosi yang dirasakannya tanpa perlu membiarkan dirinya meledak.

Kelima, cobalah mempraktikkan “redo”. Begitu anak sudah cukup tenang, ajak dia membayangkan alternatif berbeda dari apa yang sudah dia lakukan lain kali. Tapi kita kudu sabar juga, emosi mentah yang dirasakan si anak bisa terlalu kuat dan kebiasaan baru itu butuh waktu buat dipelajari.

Keenam, praktikkan strategi alternatif. Ajak anak main boneka dan pancing dia untuk mempraktikkan apa yang mungkin dia bisa lakukan ketika merasa frustrasi, termasuk pergi menjauh, meminta tolong, atau menggunakan kata-kata yang tepat untuk menyampaikan apa yang dia rasakan. Yang perlu diingat, strategi ini mungkin ga bakal menunjukkan hasil dalam waktu singkat tapi menerapkannya sejak dini dan reguler adalah kunci.

Mengatasi Perilaku Agresif pada Anak di Atas 3 Tahun

Cara mengatasi anak yang suka memukul atau menggigit pada rentang usia di bawah 3 tahun emang cukup menyita perhatian. Tapi ketika anak di atas 3 tahun masih suka agresif, semuanya berubah menjadi luar biasa melelahkan karena asumsinya adalah mereka udah sepantasnya tahu baik-buruk dan benar-salah. Sebaiknya kita ga langsung mengklaim bahwa si anak udah bakat buat jadi bully. Yang lebih penting untuk dilakukan adalah memahami bahwa “kenakalan” macam ini tuh aslinya pertanda bahwa si anak perlu dilatih dengan strategi pengendalian impuls.

Terlebih dulu buang jauh-jauh kecenderungan untuk mencap anak sebagai anak yang nakal, kasar, dan agresif karena label seperti ini akan membuat anak kecil hati dan memperburuk perilaku negatif yang udah ada.

Mengatasi perilaku agresif pada anak usia di atas 3 tahun bisa dibagi menjadi 3 kelompok: sebelum, pada saat, dan sesudah sebuah insiden.

Sebelum insiden

  1. Pastikan anak istirahat dengan cukup. Anak akan lebih mudah mengendalikan impuls mereka ketika kebutuhan tidurnya tercukupi.
  2. Jangan berlama-lama berkunjung ke tempat orang lain. Ketika anak sudah sangat bosan berada di satu tempat, dia akan lebih mudah melancarkan sikap agresif.
  3. Jangan melewatkan waktu tidur siang atau waktu beristirahat secara umum. Bermain bersama teman atau mengunjungi anggota keluarga akan terasa lebih menyenangkan jika anak punya cukup waktu untuk beristirahat.
  4. Selalu penuhi kebutuhan anak akan perhatian. Berikan perhatian yang positif pada anak setiap hari. Sisihkan waktu untuk mendengarkan cerita mereka untuk membangun ikatan emosional dan menenangkan impuls si anak.
  5. Ajarkan strategi resolusi konflik yang positif. Dorongan anak untuk bertindak agresif akan terkendali jika dia sudah mempelajari strategi-strategi seperti penggunaan frase “aku merasa…”, pergi meninggalkan sumber konflik, tidak mengindahkan, mencari jalan tengah, atau semacamnya.
  6. Jangan langsung merespon begitu sikap agresif muncul. Ikuti alurnya jika si anak menggunakan kata-kata untuk berargumen. Tapi begitu tanda-tanda perilaku kasar dan agresif terlihat, langsung tenangkan dirinya dan carilah jalan keluar yang lebih baik.
  7. Pujilah anak ketika dia berhasil tetap tenang. Jangan pelit mengeluarkan pujian ketika memang pujian itu pantas diberikan, terutama ketika anak berhasil tetap mengendalikan emosinya di bawah tekanan.
  8. Rancang jadwal kegiatan fisik yang proporsional. Beberapa anak memang lebih cenderung bersifat fisikal dan itu adalah kenyataan yang ga bisa ditampik. Menjadwalkan kegiatan fisikal bisa menjadi alternatif buat si anak untuk menyalurkan energinya yang berlebihan.
  9. Terapkan cara berkomunikasi yang penuh kedamaian. Jika suasana rumah dipenuhi rasa menghargai, kemungkinannya akan sangat kecil buat si anak untuk bertindak agresif.

Pada saat insiden

Untuk trik ketika anak melakukan tindakan kasar dan agresif, secara umum sama seperti apa yang dijelaskan pada bagian mengatasi anak batita yang suka menggigit dan memukul: jangan memukul balik, jangan menghukum, jangan memikirkan pendapat orang lain, berempati dan berikan batasan, dan tetaplah bersikap tenang. Tambahannya adalah, jangan lupa memastikan pihak yang menjadi objek perilaku anak kita baik-baik saja—jika melibatkan orang lain. Jika si anak sudah lebih tenang, kalo bisa ikutsertakan dia dalam proses khusus ini jadi dia juga bisa belajar lebih jauh tentang empati dan tentang bagaimana tindakannya akan mempengaruhi orang lain.

Setelah insiden—Untuk dilakukan pada saat situasi sudah lebih tenang

  1. Jalankan skenario role-play. Ajarkan anak bagaimana memberikan respons tanpa perlu melibatkan tindakan kasar. Misalnya dengan menggunakan kata-kata, meminta bantuan pada orang dewasa, atau pergi meninggalkan sumber konflik.
  2. Praktikkan strategi menenangkan diri. Metodenya banyak, mulai dari pernapasan perut sampai ke pola menghitung sampai angka 10.
  3. Buat sinyal nonverbal rahasia. Isyarat ini bisa digunakan untuk menunjukkan kepada anak kapan dia perlu mempraktikkan strategi menenangkan diri.
  4. Sadari bahwa kendali impuls adalah hal yang sulit untuk dilakukan oleh anak-anak.

Menghardik dan Bahayanya

Ketika menghadapi kondisi anak suka menggigit atau memukul, udah pasti kita akan ngerasa kesel dan frustrasi. Naluri kita sebagai manusia cenderung ingin segera merespon perilaku si anak ketika tingkahnya ga sesuai dengan harapan. Tapi sekesal apa pun kita, seemosi apa pun kita dibuatnya, jangan pernah meneriaki anak apalagi memaki. Ada banyak dampak negatif dari menerapkan pola pendisiplinan yang terlalu keras dan ini juga yang bikin menghardik a big NO ketika kita mau mendidik anak yang perilakunya agresif. Frustrasi itu normal. Jengkel dan kesal itu alami. Kita juga manusia, sekalipun kita adalah orang tua. Tapi begitu merasakan ada dorongan untuk menghardik anak, coba ingat-ingat hal berikut ini:

  1. Hardikan hanya akan memperburuk perilaku anak.

Sangat mudah membayangkan bahwa teriakan kepada anak akan menyelesaikan semuanya dengan cepat dan memberi tahu si anak apa yang boleh apa yang ga boleh dilakukan. Tapi penelitannya udah ada tentang hardikan yang justru malah bikin permasalahan lebih banyak dalam jangka panjang. Hardikan akan memperburuk perilaku negatif anak yang akhirnya kita malah harus menghardik lebih keras lagi dengan harapan semuanya selesai. Dan lingkaran setan pun dimulai.

  1. Hardikan dapat mengganggu perkembangan otak anak

Otak manusia memproses input-input negatif lebih cepat daripada yang positif. Ketika anak terpapar makian dan teriakan di masa kecilnya, akan ada kelainan mencolok pada bagian otak yang memproses suara dan bahasa.

  1. Hardikan bisa berujung depresi.

Bentakan dari orang tua itu ga cuma membuat anak merasa sakit, takut, dan sedih. Kekerasan verbal berpotensi menciptakan gangguan psikologis yang lebih dalam di diri anak dan permasalahan ini bisa terbawa sampai saat ia dewasa.

  1. Hardikan berpengaruh terhadap kesehatan jasmani dan berpotensi menyebabkan penyakit kronis

Kekerasan verbal di masa kecil bisa membuat anak mengalami berbagai gangguan kesehatan seperti nyeri sendi, sakit kepala, dan gangguan pada punggung dan leher.

Daripada menghabiskan energi dengan meneriaki anak dengan harapan bisa mendisiplinkannya, mending belajar cara berkomunikasi yang baik dengan anak deh. Rumah terasa lebih damai dan risiko besar di masa dewasa pada anak bisa ditekan sedalam mungkin.

Berkenalan dengan Parenting Styles di 3 Negara

Teman DRYD, kali ini saya mau ngajakin Teman-teman semua melanglang buana ke benua Eropa. Taaapi, bukan buat tamasyaaa hehehehe. Kali ini saya mau ngebahas tentang pola asuh yang banyak diterapkan di tiga negara Eropa yaitu Denmark, Perancis, dan Jerman.

“Kenapa gitu, Dok? Emang pola parenting negara sendiri jelek ya, sampe harus jauh-jauh ngelirik negara lain?”

Bukaaan. Ini bukan masalah mana yang jelek mana yang bagus. Ini juga bukan soal mana yang terbaik. Pola asuh itu berbeda berdasarkan negara, kultur, dan kebiasaan. Budaya Indonesia pastinya beda dong sama budaya Amerika atau Eropa bahkan bisa beda jauh dengan sesama negara Asia. Pertimbangannya sederhana sih, Eropa kan terhitung wilayah yang lebih maju daripada area berkembang lain, jadinya ga salah dong kalo kita pelajari apa aja yang membuatnya berbeda dari negara sendiri?

Trus kenapa harus ketiga negara itu, Dok? Kan banyak negara lain di Eropa sana.”

Denmark saya pilih karena negara itu secara konstan ada dalam daftar negara paling bahagia menurut World Happiness Record yang diselenggarakan oleh PBB. Prestasi ini udah diraih Denmark selama 40 tahun—berturut-turut. Pasti dong, ada yang membuat pencapaian ini menjadi istimewa dan menarik untuk ditelaah. Perancis unik untuk dibahas karena pola parenting ibu-ibu negara sana mendidik anak tumbuh menjadi individu yang santun. Sementara Jerman dikenal dengan pola asuh yang menekankan kemandirian. Nah, bahagia, santun, dan mandiri; orang tua mana yang ga mau anaknya punya kualitas seperti itu?

Mengintip Pola Asuh di Denmark

Pola asuh di Denmark bisa disederhanakan dengan satu kata: PARENT, yang merupakan akronim dari Play, Authenticity, Reframing, Empathy, No ultimatums, dan Togetherness and Hygge. Dengan menerapkan konsep ini, anak-anak Denmark tumbuh dan berkembang menjadi pribadi dengan masa kecil yang membahagiakan.

  1. P = PLAY (Bermain)

Anak-anak di Denmark dibebaskan bermain oleh orangtua mereka. Mereka pun dibolehkan untuk memulai jenjang pendidikan ketika berusia 7 tahun. Reasoning-nya apa? Dengan memberi keleluasaan semacam ini, anak-anak Denmark punya kesempatan yang cukup untuk menikmati periode bermain mereka sebelum akhirnya dihadapkan pada kewajiban bersekolah. Apa pentingnya membiarkan anak-anak bermain dengan bebas? Banyak hal yang mereka bisa pelajari hanya dari hal sesederhana permainan; mereka paham mengenai ketangguhan, cara bergaul dan bersosialisasi yang benar, dan belajar selfcontrol sejak dini.

  1. A = AUTHENTICITY (Otentisitas)

Poin berharga lain yang diwariskan orangtua Denmark kepada anak-anak mereka adalah kejujuran kepada diri sendiri dan identifikasi emosi yang dirasakan. Pola didik yang dilaksanakan lebih dititikberatkan pada mengenali dan mengekspresikan emosi ketimbang kesempurnaan.

  1. R = REFRAMING (Memaknai ulang)

Secara sederhana, reframing adalah proses penelaahan terhadap suatu hal dari perspektif yang berbeda. Yang dilakukan oleh orangtua Denmark adalah mengajarkan anaknya untuk dapat menarik kesimpulan positif dari apa yang mereka hadapi tapi tetap dalam koridor yang realistis. Penerapan metode ini diharapkan bisa mendidik anak menjadi individu yang tidak gampang berpikiran negatif terhadap suatu kondisi ataupun orang lain.

  1. E = EMPATHY (Empati)

Empati pada dasarnya adalah kemampuan seseorang untuk dapat ikut merasakan apa yang orang lain rasakan. Inilah yang ditanamkan oleh orangtua kepada anak di Denmark. Sistem pendidikan di negara itu pun dirancang dengan prinsip ini sebagai landasannya.

  1. N = No ultimatums (Tanpa peringatan)

Pola asuh orangtua Denmark ditandai dengan sikap lembut, menghargai, dan tanpa ancaman. Akibatnya, ada kedekatan antara anak dan orangtua dalam hubungan yang harmonis tanpa rasa takut.

  1. T = TOGETHERNESS & HYGEE (Kebersamaan & kenyamanan)

Keluarga Denmark menekankan poin penting tentang kebersamaan. Berkumpul dengan keluarga merupakan hal yang tidak boleh dilewatkan sesibuk apapun hari yang dilalui. Hari libur pun dihabiskan dengan berkumpul bersama anggota keluarga. Dari rasa kebersamaan yang dipupuk, muncullah rasa nyaman yang bisa dinikmati oleh semua orang.

Belajar Tata Krama dan Adab Sopan Santun a la Perancis

Di Perancis, metode parenting yang diterapkan berfokus pada pembentukan kepribadian yang penuh sopan santun dan jauh dari kata manja. Strategi yang dijalankan meliputi:

  1. Didikan untuk menghargai waktu orang tua

Di Perancis, anaklah yang diatur sedemikian rupa sehingga jadwal pribadi si orang tua tidak terganggu. Anak akan diajari untuk sudah berada di dalam ruang tidur jam 7 malam. Si anak boleh langsung tidur atau memilih untuk melakukan aktivitas lain, selama aktivitas itu tidak mengganggu orang tua. Apa tujuan dari penerapan metode ini? Anak diharapkan bisa tumbuh dengan pemahaman bahwa dia bukanlah pusat dunia, bahkan dunia orang tuanya pun tidak hanya berpusat pada dirinya saja. Anak diajarkan untuk mengerti bahwa orang tua mereka pun manusia yang harus menjalankan hidupnya sendiri di luar tanggung jawab mereka terhadap anak.

  1. Selektif dalam memberikan pujian pada anak

Orang tua Perancis tidak gampang memuji anaknya. Pencapaian kecil si anak mungkin tidak akan berbalas pujian. Pujian baru akan diberikan apabila si anak berhasil melakukan yang memang pantas untuk diapresiasi. Bukannya pelit. Tapi metode ini bertujuan untuk membentuk kepribadian yang tidak gampang puas untuk segala sesuatu yang sudah si anak lakukan serta mendidiknya untuk tidak selalu melakukan sesuatu dengan mengharapkan imbalan.

  1. Pengimplementasian jadwal dan pola makan yang strict

Dengan cara ini, kasus picky eater pada anak-anak Perancis minim ditemukan. Orang tua tidak secara khusus menyiapkan makanan untuk sang anak. Anak duduk di meja makan dengan tenang dan diwajibkan memakan apapun yang tersaji. Kebiasaan ngemil praktis ga ada di pola asuh orang tua Perancis karena berisiko mengacaukan selera makan. Di sana memang ada tradisi gouter, yaitu makan sedikit roti di sore hari setelah pulang sekolah. Tapi secara umum, anak tidak akan makan apapun antara makan siang dan makan malam, sekitar pukul 8. Akibatnya, begitu si anak duduk di meja makan, perut yang keroncongan akan membuatnya menyantap apapun yang disajikan orang tua.

  1. Melatih kesabaran

Kasus tantrum di anak-anak Perancis pun minim. Apa rahasianya? Orang tua mengajarkan kepada anak-anak untuk sabar untuk hal-hal mendasar seperti menerima perhatian, menunggu waktu makan, maupun menunggu giliran mendapatkan jawaban. Dengan pendidikan begini, si anak sejak kecil dilatih untuk menunggu dengan sabar tanpa gelisah, marah, atau tantrum.

  1. Pengikutsertaan anak dalam urusan rumah tangga

Enggak, ini ga berarti si anak harus ikut dalam pengambilan keputusan atau semacamnya. Tapi si anak bisa dilibatkan dalam urusan bagaimana menjaga rumah agar tetap rapi dan nyaman, misalnya. Anak-anak Perancis dididik dari kecil untuk aktif menuntaskan tugas rumah tangga yang sepadan dengan usia mereka seperti ikut berbelanja ke supermarket, membuang sampah pada tempatnya, menata piring di meja makan, dan hal-hal kecil lainnya.

  1. Mengajari sopan santun dan tata krama

Ada istilah bien eleve dalam pola asuh di Perancis yang bisa diterjemahkan sebagai adab sopan santun yang merupakan hal mutlak dan tidak bisa dikompromi. Konsep ini sudah mulai diterapkan sejak si anak mulai bicara. Contohnya seperti:

  • Saat bertemu dengan orang baru, harus memperkenalkan diri
  • Membiasakan diri untuk mengucapkan terima kasih, maaf, dan tolong
  • Memberikan salam setiap kali memasuki ruangan
  • Memperhatikan kontak mata ketika berbicara dengan orang lain
  • Mempelajari dan menerapkan table manner saat makan
  • Pada saat menghadiri acara formal atau pesta, harus mengenakan pakaian terbaik
  1. Mengajar anak untuk mampu menyelesaikan segala sesuatu sendiri

Karakter yang otonom menjadi target lain yang diinginkan dalam penerapan pola parenting a la Perancis. Anak-anak diajarkan untuk berkembang menjadi pribadi yang penuh rasa tanggung jawab, kemandirian, dan kepercayaan diri yang tinggi. Anak-anak pun dididik untuk mengerjakan berbagai hal yang bisa mereka lakukan sendiri lalu belajar untuk menerima konsekuensi logis dari kesalahan yang diperbuat.

Parenting Cara Jerman yang Tegas

Karakter pola asuh Jerman diwarnai pendidikan menghargai waktu dan disiplin yang kental. Cara-cara yang diterapkan termasuk:

  1. Pendisiplinan anak dengan penekanan pada empati dan diskusi

Percaya ato engga, di Jerman, strategi hukuman fisik sebagai bentuk pendisiplinan sudah ditetapkan ilegal sejak tahun 2000. Sebagai gantinya, metode diskusi dengan muatan empati dan logika menjadi pilihan. Saat seorang anak melakukan kesalahan, orang tua akan mengajaknya untuk berdiskusi, utamanya perihal perilaku mana yang pantas dan mana yang tidak untuk dilakukan oleh anak pada usianya. Efektivitas metode ini terletak pada kemampuannya mendidik anak untuk memahami siapa yang memegang kendali dan bahwa semuanya perlu dilakukan untuk kebaikan si anak itu sendiri.

  1. Mengenalkan alur rutinitas sejak bayi

Memperkenalkan rutinitas merupakan hal penting untuk dilakukan dalam mengasuh balita. Orang tua Jerman, di lain pihak, bahkan sudah menerapkan hal ini semenjak si anak masih bayi. Mirip dengan pola asuh Perancis, orang tua Jerman mengajarkan si anak untuk menghargai jadwal mereka. Rutinitas di-arrange sedemikian rupa sehingga mengikuti alur jadwal si orang tua ketimbang sebaliknya. Batasan tegas diberikan untuk waktu tidur, makan, dan bermain dan disesuaikan dengan usia si anak. Pemberian instruksi yang jelas, konsisten, dan tegas juga berkemungkinan menghindarkan orang tua dari keharusan untuk mengingatkan ulang si anak.

  1. Mengajari anak untuk mencari penyelesaian masalah sendiri

Kalo Teman-teman DRYD pernah dengan istilah helicopter parenting, pola asuh Jerman cenderung berbeda total, malah lebih condong ke tipe authoritative. Standar perilaku yang tinggi dan aturan tegas ditanamkan sejak dini pada anak, ketimbang membiarkan mereka melakukan apapun yang mereka inginkan. Ini diterapkan sambil tetap memperhatikan kebutuhan emosional si anak di saat yang sama. Ketika si anak melakukan kesalahan atau mengalami hambatan, si orang tua ga serta-merta take over dan menyelesaikan permasalahan untuk si anak. Mereka cuma bakal ngasi instruksi atau pentunjuk untuk menuntun si anak agar mampu menyelesaikan persoalan.

Sebuah penelitian oleh Organization for Economic Co-operation dan Development menunjukkan bahwa anak-anak Jerman lebih mudah memecahkan permasalahan yang mereka temui dalam hal membaca, Bahasa Inggris, dan matematika dibandingkan dengan anak seusia mereka dari Amerika—semua berkat penerapan metode asuh yang satu ini.

Dengan penerapan pola ini, di Jerman dikenal konsep “selbständigkeit”, yaitu kemampuan untuk mengandalkan diri sendiri sehingga si anak ga cepet menyerah atau meminta bantuan dari orang lain untuk persoalan yang sebetulnya bisa diselesaikan sendiri.

  1. Membiasakan anak untuk bermain sambil belajar

Orang tua Jerman tidak terlalu terburu-buru dan memaksa anaknya untuk cepat bisa menulis dan membaca. Mereka justru meng-encourage anaknya untuk banyak menghabiskan waktu dengan bermain di luar. Cuaca tidak masalah. Unstructured play menjadi bagian integral dalam pola asuh Jerman selagi pakaian yang dikenakan tepat dan kondisi aman. Konsep permainan tak berstruktur ini bisa melatih kemampuan sosial si anak, mendidiknya menjadi pribadi yang mawas diri, mampu menjaga dirinya sendiri, dan melatih pola pikir kreatif.

Menarik Benang Merah

Pola asuh Denmark membuat kita sadar bahwa untuk bisa berkembang menjadi kepribadian yang bahagia, perlu banget membentuk masa kecil yang memorable dan penuh dengan sukacita. Anak harus diajari untuk mengenali dirinya sendiri untuk bisa menyadari posisinya dalam lingkungan yang lebih luas.

Pola asuh Perancis memberikan kita makna empati yang sebenarnya dan keharusan untuk menjaga tata krama bahkan dari ruang lingkup rumah tangga.

Pola asuh cara Jerman menekankan pembentukan individu yang penuh otoritas, mandiri, dan memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah dengan efektif dan efisien.

Secara umum, cara-cara yang diterapkan dalam mengasuh anak di ketiga negara tersebut relatif mudah untuk diaplikasikan secara aman. Pengecualian mungkin bisa diberikan untuk pola asuh dari Denmark poin usia masuk sekolah secara sistem pendidikannya juga berbeda dari yang ada di Indonesia. Tapi semuanya masih bisa di-tambal-sulam, kok. Kalo ditarik benang merah-nya, ketiganya punya satu kesamaan: Ketiganya sama-sama menitikberatkan pada keharusan untuk menerapkan pola asuh dengan kebutuhan emosional si anak sebagai dasarnya.

Kalo selama ini kita mendidik anak dengan menggunakan kepentingan kita pribadi sebagai reasoning dasarnya, maka si anak akan lupa cara menghargai dirinya sendiri. Nah, kalo menghargai diri sendiri aja luput, gimana mau menghargai orang lain? Gimana mau menghargai lingkungan? Kemandirian pun menjadi motif lain yang ditemukan dalam ketiga parenting styles itu. Anak-anak Denmark, Perancis, dan Jerman diajarkan untuk mengandalkan diri mereka sendiri dengan asumsi bahwa kemampuan untuk membantu orang lain berakar dari kemampuan untuk menolong diri sendiri.

Konklusi

Suka ga suka, pertanyaan seputar parenting styles mana yang paling baik untuk coba diterapkan di Indonesia akan banyak muncul setelah menelaah metode pengasuhan di 3 negara di atas. Tapi kita, lagi-lagi, di sini ga harus mengunggulkan satu metode di atas yang lain. Metode parenting Indonesia juga ada nilai positifnya, kok. Cuma, ga ada salahnya toh, mempelajari bagaimana orang-orang tua di negara lain mendidik anak mereka?

Jangan kebablasan; sebagus apapun satu metode, mungkin tidak cocok dengan kondisi dalam negri. Ambil yang baik-baik, kombinasikan dengan konsep pribadi, dan terapkan sesuai kebutuhan. Keharusan untuk selalu berkumpul dengan keluarga mungkin tidak bisa terus-terusan dipraktikkan sehubungan dengan keharusan untuk bekerja di luar kota dalam jangka waktu lama, misalnya. Kebijakan no ultimatums pun mungkin tidak bisa selalu ditegakkan mengingat orang tua pun manusia yang bisa habis kesabarannya. Apapun itu, jika terjadi kesalahan, tidak ada salahnya loh untuk minta maaf pada anak. Jangan gengsi. Itu malah bisa ngajarin si anak tentang betapa berharga dan powerful sebuah kata sederhana.

Punya Anak Lebih Dari Satu Itu Berisiko? Yuk, Kita Bahas

Keluarga yang harmonis

Haaalo Teman DRYD!

Ketemu lagi kita di kategori khusus membahas seputar dunia parenting. Teman semua pasti dong tahu tentang yang dimaksud parenting. Paling ga, pasti ada pemahaman mendasar tentang topik ini. Parenting bisa disederhanakan sebagai pola asuh orang tua terhadap anak, bagaimana orang tua mendidik anaknya. Tapi, pendidikan yang gimana dulu nih?

American Psychological Association (APA) mengerucutkan parenting dengan definisi berupa pola asuh anak yang dilakukan oleh orang dewasa (tidak mesti berhubungan secara biologis loh, ya) dengan tujuan utama meliputi: memastikan kesehatan dan keamanan bagi anak, memastikan si anak menjadi pribadi yang produktif di masa depan, dan memastikan nilai-nilai budaya turun pada anak dan terinternalisasi dengan baik.

Definisi mendasar parenting ini bisa kita gunakan untuk menilik fenomena unik yang kayanya makin marak belakangan ini: Bahwa semakin banyak orang tua yang kepingin menambah anak tanpa memperhitungkan jarak anak pertama dan kedua. Hasrat menambah anak adalah hal lazim di setiap rumah tangga dan itu dapat dimaklumi. Kenapa mau tambah anak? Wah, ada banyak alasan untuk dijadikan jawaban bagi pertanyaan sesederhana itu. Ada yang berpikir dengan menambah anak maka rumah akan menjadi lebih ramai, ga sunyi kayak lapangan kosong. Ada yang mikir, wah si kakak butuh adek nih, biar ga sibuk sendiri. Ada lagi yang mikir, nambah anak dengan rentang usia berdekatan berarti nanti gede-nya bisa barengan; ga yang satu udah dewasa, yang satu masih muda belia. Ide bahwa membesarkan anak secara bersamaan berarti nanti rasa lelahnya pun usai bersamaan pun juga jadi alasan logis. Trus, ada lagi yang mikir-nya rada-rada konvensional; banyak anak, banyak rejeki, jadi selagi masih bisa, yok di-gas. Semua alasan ini valid; kita ga lagi ngomongin mana yang masuk akal, mana yang bikin mulut menganga. Kecuali alasannya mau bikin kesebelasan, baru deh, mengernyitkan dahi. Tapi yang jadi pokok permasalahannya di sini adalah apakah sebuah langkah yang smart menambah anak sementara anak pertama masih perlu dipantau perkembangannya?

Ga ada kok, yang menyalahkan keinginan punya anak. Tapi coba deh, dipikir-pikir lagi, apa si anak pertama sudah cukup menerima pola asuh dari kita sebagai orang tua? Ada tahapan perkembangan anak menurut umur yang harus selalu diikuti dengan baik agar si anak sempurna pertumbuhannya, baik fisik maupun mental. Kalau anak pertama bicara saja masih belum beres, terus udah hamil lagi, ibu akan sangat keteteran dalam meng-cover semuanya: Memastikan anak pertama baik-baik saja itu sudah menyedot pikiran loh, apalagi kalau ditambah harus memantau anak dalam kandungan sehat selalu di saat yang sama.

Apa Buruknya?

Setuju ga, kalau dibilang mengurus satu anak itu ga gampang? Iya kan? Iya, dia lahir dari kita. Iya, dia kita yang urus. Tapi seorang anak tetaplah individu yang berdiri sendiri; kepalanya aja udah beda, apalagi isinya, apalagi karakter dan kepribadiannya. Jujur deh, kalau punya anak kedua (atau ketiga, keempat) pasti anak yang sudah lebih dulu tua disuruh ikut membantu merawat adiknya. Kenapa? Ini biasanya terjadi ketika si ibu merasa segalanya sudah out of hand, dia sudah merasa bahwa kondisi rumah tangga sudah tidak bisa lagi dia kontrol sendirian. Mending kalo si bapak melek situasi, kan? Coba kalo suami tipe yang keburu tersedot perhatian dan tenaganya oleh pekerjaan. Ujung-ujungnya, anak yang gede yang disuruh-suruh.

“Kan tujuannya juga buat ngelatih dia, Dok, biar mandiri, sigap, patuh.”

Iyaaa, paham. Melibatkan anak dalam urusan rumah tangga itu ga salah. Malah banyak sisi positifnya. Tapi masa iya, dia mau disuruh ngawasin adek-nya juga? Orang dia juga masih perlu diawasi, kok. Gini loh, bundaaa, kalau si anak diberi tanggung jawab se-gede itu, dia ditempatkan dalam posisi yang mungkin hampir sama dengan orang tuanya, nanti dia dewasa terlalu cepat loh. Beban psikis yang diterima belum sepadan dengan tahapan tumbuh-kembangnya dan akhirnya dipaksa men-skip apa yang seharusnya dia lewati dengan sehat. Nih, ke-skip satu aja fase perkembangan di usia dini bisa fatal akibatnya. Efeknya mungkin ga langsung bisa diobservasi. Tapi nanti suatu saat nanti ketika dia besar secara umur, baru deh bermanifestasi. Susah? Complicated? Siapa bilang punya anak itu gampang?

Mari Membahas Risiko dan Efek

Waspada terhadap potensi tantrum pada anak

Jadi, apa sih, Dok, efek nyata dari punya anak dengan rentang umur terlalu dekat?

Pertama, potensi tantrum menanjak. Si anak pertama masih butuh kasih-sayang dan perhatian khusus, sudah ditinggal mengurus anak kedua—yang juga butuh extra care. Dari sisi orang tua saja jelas ini merupakan kerugian besar. Cape loh, kondisi kayak gini. Anak yang masih bayi nangis minta makan. Anak pertama nangis ngajak main. Si anak pertama belum paham apa-apa, tau-nya cuma teriak-teriak minta ini-itu. Kalo ga dikabulkan, marah sejadi-jadinya. Kenapa? Karena cara komunikasinya baru sampai sana. Pahamnya baru tentang jerit-menjerit. Dia belum sempat belajar menyampaikan kemauan dengan lebih smooth. Nah, tantrum-nya keluar, orang tuanya kecapean, meledak ga tuh seisi rumah?

Kedua, bonding menjadi kurang, baik antara anak pertama dan orang tua dan juga antara anak pertama dengan yang kedua. Kenapa bisa begitu? Usia-usia dini, sekitar 1 hingga 3 tahun, adalah periode kritis dalam proses identifikasi anak terhadap lingkungannya, termasuk unsur-unsur di dalam ruang lingkup dekat. Orang tua termasuk memegang peran vital dalam memastikan keutuhan ikatan batin antara mereka dan si anak. Gimana sih, proses bonding ini? Apa sih, yang bikin ikatan batin jadi kuat? Banyak faktor dan aspeknya. Yang paling sederhana ya, menghabiskan waktu dengan si anak. Main dengan mereka. Makan dengan mereka. Penuhi semua kebutuhan dasarnya. Ajak dia berbincang. Caranya bisa macemmacem; tapi dengan keberadaan anak yang baru lahir, apa mungkin Teman DRYD sanggup membagi perhatian, waktu, dan energi dengan adil dan merata? Dengan adiknya sendiri juga akan sulit terbentuk ikatan yang kuat. Sejak kecil si kakak akan menilai bahwa si adik adalah sebuah tanggung jawab. Perlakuannya akan beda sebab si kakak ujung-ujungnya bakal menganggap adiknya ini sebuah… apa ya… beban, mungkin?

Ketiga, rasa percaya diri si kakak bisa berada dalam bahaya. Inget kan, tadi dikatakan usia dini itu periode kritis? Ini juga berlaku untuk pematangan cara si kakak memandang dirinya sendiri, caranya memberi value pada dirinya sendiri. Di dalam usia yang semestinya masih menerima perhatian utuh dan terfokus, si kakak harus mencerna kenyataan bahwa dirinya ga terlalu spesial untuk dirawat. Selalu adik yang nomor satu. “Tapi anak bayi namanya, Dok. Pasti dong dirawat ekstra….” Ya makanya itu; suka ga suka, bayi itu sangat demanding. Dengan keberadaan si kakak, akan sangat sulit membagi fokus dan meratakan perhatian dengan serata-ratanya. Kondisi ini bisa diperburuk lagi kalau si kakak juga dituntut untuk berpartisipasi dalam membesarkan si adik. Itu bukan kewajibannya loh. Akhirnya gimana kalau ada tanggung jawab itu juga yang harus si kakak pikul? Yaaa, mungkin nanti dia bakal mikir, “Ah, saya cuma orang yang ikut membesarkan adik….” Gawat kan, kalo sampe sana dia berpikir.

Keempat, timbul rasa iri dan sifat kompetitif yang berlebihan dan tidak sehat. Naaah, ini nih, yang paling gampang dideteksi. Siapa sih, yang suka dengan sikap pilih kasih? Si kakak bisa berpikir si adik menerima curahan kasih sayang dan perhatian seratus persen dari ibu-bapaknya sementara dia cuma di-acknowledge kapan perlu. Ga perlu anak-anak deh, orang dewasa juga sebel dibegituin, kan? Orang tua bisa berdalih, “Engga kok, saya ga pilih kasih. Kan sesuai porsinya, kakak udah gede, udah bisa mandi, makan sendiri. Adek kan belum bisa ngapa-ngapain.” Itu menurut kita; dari perspektif si kakak bisa beda total. Dari rasa iri, muncul kompetisi. Dan kalo udah ada kompetisi, dijamin deh, rumah bakal panas rasanya. Persaingan antarsaudara itu lumrah. Malah mungkin sehat kalau intensitasnya normal. Tapi kalau sudah jadi kompetisi, itu yang berbahaya. Si kakak mikir gimana caranya supaya jadi yang the best di segala lini. Apa-apa kudu sempurna, lebih dari adiknya. Si adek, di lain pihak, kan ga ngerti nih, ini kakak kenaaapa, ya? Trus ga suka sama kelakuan kakaknya yang ga mau kalah. Ga nutup kemungkinan di kemudian hari nanti apa yang bermula sebagai persaingan sederhana berujung benci dan dendam, itu yang kita harusnya hindari.

Ada Ga Sih, Jarak Usia Anak-anak yang Ideal?

“Tapi, yang jadi pertanyaan adalah, apakah sanggup membagi rata perhatian dan memastikan pola asuh yang diberikan sudah tepat?”

Ajak si kakak berkomunikasi

Ada baiknya memikirkan selisih umur anak yang ideal sebelum memutuskan untuk punya anak lagi. Warren Cann, psikolog dari Parenting Research Centre di Australia, berpendapat bahwa rentang usia antara 2 anak yang terlalu dekat dan terlalu jauh sama-sama memiliki risiko kesehatan. Jadi diperlukan semacam garis tengah yang aman dalam hal ini. Jika bicara tentang jarak umur anak yang ideal dalam kaitannya dengan keinginan untuk punya 2 anak berjarak dekat usianya, sebaiknya kehamilan berikutnya direncanakan setidaknya 18 hingga 23 bulan semenjak kelahiran anak sebelumnya. Itu setidaknya loh, ya. Periode ini dirasa cukup untuk memberikan kesempatan pada anak pertama untuk bertumbuh dan berkembang dengan wajar sehingga kehadiran anak berikutnya tidak akan memberi jeda pada tahap-tahap yang semestinya.

Dua masa kehamilan yang berjarak kurang dari 18 bulan akan membuat Teman DRYD kehilangan me-time. Bukan, ini bukan berarti Teman semua harus egoistis—menjadi orang tua adalah pekerjaan seumur hidup yang otomatis meniadakan waktu berkualitas untuk diri sendiri. Tapi bagaimanapun juga kita semua adalah manusia yang kadang jenuh dengan rutinitas sehingga butuh menekan tombol pause sejenak untuk menarik napas. Dua anak yang umurnya terlalu dekat akan sangat melelahkan. Memang nantinya akan lebih mudah karena mereka pun membesar hampir bersamaan. Tapi, yang jadi pertanyaan adalah, apakah sanggup membagi rata perhatian dan memastikan pola asuh yang diberikan sudah tepat? Ingat ya, pola pengasuhan harus membuat anak-anak merasa aman, sehat, produktif, dan mampu memahami nilai dan tatanan yang diturunkan. Sebaliknya, 2 anak dengan rentang usia yang terlalu jauh memiliki potensi beban psikologis yang besar. Setelah 5 tahun merawat satu anak, kembali mengasuh bayi dari nol akan memaksa diri untuk lagi dan lagi melewati fase yang sama.

Langkah-langkah Preventif

Sebenarnya, tidak ada solusi pasti untuk fenomena ini karena memang ini bukan masalah melainkan lebih kepada berkenaan hal-hal abstrak yang bersifat management. Tapi tetap ada cara-cara yang bisa bunda semua lakukan untuk menekan potensi efek negatif.

Kita sebagai orang tua sebaiknya aware perkara keharusan untuk sharing dengan anak pertama, terutama tentang hal-hal yang bikin hepi. Jika memang Teman memutuskan untuk punya anak dengan jarak usia berdekatan, selama masa kehamilan kedua, cobalah berbagi dengan si kakak mengenai yang positif-positif saja. Pas lagi berduaan, ajak ngobrol deh, coba tanya “Kakak bentar lagi punya temen loh; mau diajak ngapain aja nanti?” Atau “Nanti dede-nya disayang ya, Kakak. Dikasi kue ya, sama dipinjemin mainan, ya.” Kecil kemungkinan anak umur 1 atau 2 tahun bisa paham apa yang bunda katakan. Tapi paling tidak si kakak bisa meraba mimik muka bunda dan merespon nada bicara bunda yang positif dan membuatnya bahagia. Nantinya, si kakak akan mengasosiasikan si adik dengan hal-hal baik yang membuat rasa excitement-nya meningkat. Jadi jangan sedikit-sedikit si kakak di-ingetin tentang kewajiban harus menjaga adik, harus merawat adik, harus nyuapin adik, apalagi harus menyekolahkan adik, berabe buk-ibuuuuk.

Terus, hal basic nih. Perkirakan kesiapan Teman DRYD untuk kembali menimang anak. Punya anak-anak deketan usianya emang ide yang menawan karena prospek lepas dari rasa lelah mengasuh anak yang lebih serentak di masa depan. Tapi siap ga secara mental, fisik, dan, terutama, finansial? Emang sih, karena jarak yang ga terlalu jauh, peralatan bayi si kakak bisa dipakai lagi untuk si adik—dot atau stroller misalnya. Tapi ada hal lain loh, yang ga mungkin disamakan. Asupan gizi anak umur 2 tahun pasti beda dengan anak umur sebulan setengah, misalnya. Belum nanti kalo mereka udah gedean, udah bisa mikir lebih kompleks dan punya selera sendiri. Mana mau si adek make baju bekas kakaknya.

Persiapan Sebelum Kembali Memiliki Momongan

“Pastikan ikatan antara bunda dan si kakak tetap terjaga sekalipun di tengah masa kehamilan yang baru.”

Jadi? Udah mantep mau punya anak lagi? Gini nih, garis besar persiapannya.

  1. Lihat usia si ibu

Perempuan di bawah 30 tahun yang sehat berpotensi lebih besar ketimbang yang berusia di atas 35 tahun. Bukaaan, bukan dilarang hamil umur segitu. Tapi kehamilan pada saat usia ibu di atas 35 tahun lebih rentan risiko terutama risiko kelainan kongenital. Selama kehamilan pun si ibu nanti akan lebih berpotensi kesulitan seperti diabetes gestasional maupun keguguran.

  1. Jarak kehamilan sebaiknya ideal

Tadi udah disinggung tentang periode ideal antara 2 kehamilan jika yang diinginkan adalah anak-anak yang usianya berdekatan. Nah, sekarang bahas jarak kehamilan yang ideal secara normal, yang pasnya, gitu. Sebaiknya, rencanakan kehamilan berikutnya antara 2 hingga 4 tahun sejak kelahiran yang pertama. Ini bukan cuma perkara kematangan si anak yang sebelumnya tetapi juga kondisi fisik si ibu. Kondisi tubuh perempuan memerlukan waktu untuk kembali siap mengandung lagi. Jika kehamilan terjadi terlalu dekat, dikhawatirkan akan terjadi kelainan plasenta—risiko ini akan berlipat apabila persalinan sebelumnya terjadi secara sesar.

  1. Timbang-timbang kemampuan finansial

Ini sih, seharusnya sudah tidak dibahas ya. Jumlah anggota keluarga bertambah, artinya biaya yang dibutuhkan pun meningkat. Tapi ya mau ga mau harus diikutsertakan sebagai salah satu faktor yang patut ditelaah sebelum memutuskan untuk memiliki momongan lagi. Banyak loh, yang harus dipersiapkan: biaya selama kehamilan, biaya persalinan, asupan gizi seperti susu, perlengkapan dan peralatan bayi, imunisasi, sampai masalah biaya pendidikan jika sudah menginjak usia sekolah.

  1. Cari tahu masalah kesiapan pasangan

Punya anak itu andil berdua, ya. Jika satu saja dari sepasang orang tua berpikir bahwa ia belum siap memiliki momongan lagi, maka sebaiknya diurungkan saja.

  1. Tanya si kakak, siapkah dia menyandang status baru?

Dengan asumsi si kakak sudah dapat berkomunikasi lebih baik dan pola logikanya sudah mulai terbentuk, ajukan pertanyaan-pertanyaan yang bunda bisa jadikan sebagai tolok ukur kesiapan mentalnya dalam menerima kehadiran bayi baru di tengah keluarga. Pastikan ikatan antara bunda dan si kakak tetap terjaga sekalipun di tengah masa kehamilan yang baru.

Final Words

Siap punya anak lagi?

Pembahasan kali ini bukan dimaksudkan sebagai judgment atau upaya menentukan nilai baik-buruk, benar-salah. Semua berhak dan bisa punya anak, kapanpun mereka siap dan berapapun mereka mau. Tapi ini lebih kepada usaha pemberian pemahaman kepada Teman semua mengenai risiko, konsekuensi, dan tanggung jawab kita sebagai orang tua dalam memastikan pola asuh yang tepat.

Punya anak lebih dari satu itu memang menyenangkan. Rumah terasa lebih hangat dan Teman DRYD pun tidak akan kesepian. Tetapi kalau Teman memilih untuk punya anak lebih dari satu dengan jarak usia yang sangat mepet dan akhirnya kewalahan, apakah tidak lebih baik dari awal menunda kehamilan berikutnya? Something to think about.