Your One-Stop Choice for a Skin Treatment Solution

Haaalo Teman DRYD,

Di rubrik (aelah, rubriiik…) Must-try kali ini, saya mau memperkenalkan satu produk skin treatment yang oke punya. Beklah, langsung aja saya perkenalkaaan… Serum Klinik DRYD!!!

Yah, kok malah jualan, Dok?

Ya gapapa dooong, sekali-kali ah promoin diri sendiri. Kan siapa tau produknya berguna bagi nusa dan bangsa dan turut memperkaya pilihan solusi kulit glowing se-Indonesia.

Serum ini saya ramu (kok kayak penyihir ya, jadinya?) sendiri dengan tangan saya menggunakan bahan-bahan natural yang saaangat bermanfaat dalam memberikan hasil paripurna setelah digunakan. Taaapiii, saya ga bosen-bosen, ga cape-cape ngingetin pemirsa nih, sebagus apa pun produk kalo penggunaannya ga rutin dan ga konsisten ya percumaaa.

Kenapa saya merekomendasikan ini? Pertama, karena ini racikan sendiri, saya bisa kontrol langsung produksinya, takarannya, keasliannya, gitu-gitu. Kedua, bahannya alami semua jadi aman banget buat penggunaan harian. Ketiga, ini ga pake pengawet, kulit jadi ga kepapar bahan kimia berlebihan. Keempat, teruji secara klinis, jadinya bukan kaleng-kaleng yaaa.

Penggunaannya juga simpel. Boleh dipake pagi ato malem sehabis cuci muka dan pake toner. Ratakan di seluruh wajah dan tepuk-tepuk ringan pake jari ato telapak tangan sampe menyerap ke kulit seluruhnya. Serumnya berfungsi tripel: mencerahkan kulit, meratakan warna kulit, dan memudarkan noda hitam dan bekas jerawat juga. Semua manfaat ini dihasilkan dari kombinasi bahan alami serum.

Ada niacinamide di kandungannya. Zat ini bisa mengatasi jerawat, memudarkan noda pada kulit, membuat kulit lembap, berperan dalam pengendalian produksi minyak, mengurangi kerutan dan garis-garis halus, memperkuat sistem imun kulit, dan mengatasi hiperpigmentasi.

Ada almond juga di dalam serum ini. Beberapa manfaat almond oil adalah membantu mengatasi kantung mata, memperbaiki warna kulit yang tidak rata, mengatasi kulit kering, menghilangkan jerawat, memperbaiki kerusakan akibat terpapar sinar matahari, memudarkan bekas luka, dan membantu memperhalus kulit. Minyak almond juga mengandung vitamin dan kaya akan mineral.

Ada tranexamic acid sebagai elemen pelengkapnya. Kegunaan tranexamic acid untuk kulit adalah membantu mengurangi peradangan, menghambat pembentukan tirosinase (enzim yang memicu pembentukan melanin) dalam melanosit dan menghentikan alur pigmen dari melanosit ke epidermis, menenangkan kulit, den mengembalikan fungsi barrier pada kulit. Tranexamic acid aman digunakan secara topikal dan mampu menurunkan tingkat sensitivitas kulit terhadap sinar UV.

Dengan segudang manfaat kaya gini, it’s definitely a must-try for me, indeed.

P.S. Kalo mau tanya-tanya lebih lanjut ato kalo berminat, silakan langsung kontak admin klinik DRYD, yaaa. Selamat mencobaaa!

Skincare Itu Penting—Bahkan Waktu Sebelum C-Section

Apa yang terbayang saat mendengar “operasi sesar”? Pasti ngeri, kan? Bayangin aja, perut dibuka oleh orang lain dan organ dalam di-obok-obok. Emang sih, pake anestesi; tapi, itu ga bikin segalanya jadi lebih baik kok. Perasaan takut menggentayangi. Perasaan ngeri terus-terusan menghantui. Ujung-ujungnya si ibu jadi stres, depresi, dan banyak hal negatif lain yang akan mengikuti. Ini baru urusan kemelut internal psikis si calon ibu loh, ya. Kita bahkan belum ngebahas apa aja yang berpotensi bikin si ibu semakin stres dari luar dirinya sendiri. Apa aja faktor dari luar yang bikin si ibu tambah stres?

Banyaaak.

Tapi yang paling utama sih ya, omongan dari orang lain tentang prosedur operasi itu sendiri.

Suka ga suka, masyarakat kita masih memandang sebelah mata operasi cesar. Anggapannya adalah operasi ini adalah sesuatu yang ga alami dan karenanya orang yang memilih jalan C-section untuk melahirkan adalah sama ga alaminya. Banyak banget yang masih mikir kalo menjadi ibu sutuhnya adalah dengan cara melahirkan alami padahal prinsipnya ga begitu. Apa pun cara melahirkannya, si jabang bayi toh dibentuk di dalam rahim sendiri, kan? Jadi ga seharusnya berpikir kalo ukuran ibu sempurna itu cuma diliat dari gimana dia ngelairin anaknya sendiri. Mau sesar, mau alami, rasa cinta kita pada anak sama aja, kan ya?

Tapi itu tetep ga membuat seorang calon ibu yang akan menjalani sesar lebih legaan dikit. Pertanyaan-pertanyaan dari orang lain, yang mungkin sebetulnya ga ditujukan buat nyakitin ati, tetep nancep. “Kenapa gitu, milih disesar?” “Berarti pas persalinan, bobo doang dong?” “Enak ya, disesar, ga ngerasain sakit kontraksi.” Semua pertanyaan simpel, tapi bisa diartikan sebagai sindiran halus oleh si calon ibu bersangkutan.

Dan yang namanya ngerasa disindir, pasti ga enak kan? Overthinking lah jadinya. Stres lah jadinya. Mana hormon-hormon lagi bergejolak pula. Tambah bikin depresi lah jadinya. Bisa-bisa si calon ibu malah ogah ngelairin cuma gegara ngerasa dipojokin. Padahal nih, ya, perjalanan seorang yang abis disesar itu ga kalah memukau loh.

Pertama, recovery mereka lebih lama. Luka pembedahan pasca-sesar itu butuh waktu kurang lebih enam minggu untuk sembuh. Nah, dalam periode recovery ini, mereka akan selalu “serba salah”. Bergerak, sakit. Tidur ga nyaman. Batuk ato bersin, risikonya jahitan luka bedah kebuka. Jangankan beraktivitas seperti biasa sebelum operasi, menyusui anak aja harus dibantu orang lain karena ga mungkin bangun dari tempat tidur. Belum lagi soal kateter yang ga boleh dilepas soalnya tanpa kateter proses pengeluaran urin bakalan bikin semuanya messy.

Kedua, hasil akhir proses operasi cuma bisa diketahui setelah prosedur selesai dan para ibu yang melahirkan sesar harus menjalani semuanya di dalam ruang operasi sendirian. Tanpa sang suami. Tanpa orang tua. Tanpa anggota keluarga. Bahkan tanpa teman dekat. Ga ada. Cuma dia, para dokter, dan suster-suster. FYI nih ya; dalam sebuah prosedur C-section, seenggaknya ada tiga dokter yang terlibat: dokter anestesi, dokter bedah, dan dokter anak. Kebayang ga, gimana sepinya si ibu dalam ruangan yang asing dan dikelilingi orang-orang yang sama asingnya. Badannya keekspos, organ dalamnya diiris. Ga ada suami yang bisa minjemin tangannya buat diremas menahan sakit. Ga ada orang tua yang suaranya bisa ngasi ketenangan. Ga ada anggota keluarga yang seenggaknya bisa bikin ruang bedah sedikit lebih familiar. Ga ada para sahabat yang bisa ngasi semangat.

Ketiga, seorang ibu yang menjalani sesar berarti dengan sadar sudah paham konsekuensi selepas operasi nanti. Termasuk di dalamnya adalah keharusan buat ninggalin rasa malu di luar ruang operasi, rasa sakit yang menerjang berhari-hari—bahkan beberapa bulan setelah luka operasi sembuh pun rasa sakit masih bisa datang sendiri, dan menanggung kemungkinan kemunculan rasa trauma. Semuanya cuma karena satu hal: Si ibu ingin anaknya baik-baik saja.

Tuh, udah tau kan, gimana beratnya perjuangan seorang ibu yang memilih prosedur sesar? Sesar ini ga sembarangan loh ya. Harus ada serangkaian tes dan pemeriksaan medis oleh pakarnya sebelum diputuskan kalo si calon ibu sebaiknya menjalani C-section. Kalo kondisi si ibu atau si bayi atau bahkan keduanya ga memungkinkan (atau mengancam nyawa) buat proses melahirkan alami, ya mau ga mau harus sesar kan? Emang sih, ada juga opsi sesar elektif. Tapi itu ga mengurangi esensi menjadi seorang ibu kok. Misal nih, ada semacam fobia yang berkaitan dengan proses kelahiran normal, daripada nanti berujung semuanya berubah menjadi trauma mendalam, ya sesar bisa jadi opsi untuk dipilih. Yang penting konsultasi sama dokter dan dengerin dan ikutin anjuran aja.

Nah, topik bahasan kita kali ini berkaitan erat sama manajemen stres pra-kelahiran lewat prosedur sesar.

Udah tau dong kalo stres bikin komposisi hormon dalam badan jadi kacau-balau? Kondisi hormon yang ga stabil bisa bikin kondisi badan secara umum juga labil. Tekanan darah naik. Denyut jantung ga normal. Respons sistem imun bisa hiperaktif. Macem-macem, tapi semuanya bisa mengganggu kelancaran operasi nantinya. Gimana caranya dong biar bisa seengganya mengontrol risiko seperti ini? Me-time dong.

Apa hubungannya, Dok, me-time sama manajemen stres pra-sesar?

Loh, ya ada dong. Begitu kita bisa menyisihkan waktu buat mengelola stres, tubuh bisa merespon dengan positif dan keadaan internal badan bisa lebih stabil. Apa caranya? Yang paling gampang deh ya, skincare-an aja.

Skincare ataupun skin treatment mungkin adalah hal terakhir yang seorang calon ibu pikirkan di hari-hari menjelang melahirkan. Tapi ini juga sekaligus cara termudah. Kenapa? Misalnya seorang ibu sedang deg-degan mau operasi. Terus dia pergi ke spa buat relaksasi. Pijatan yang diberikan pada bagian-bagian tubuh tertentu bisa memicu pelepasan endorfin yang kemudian bisa berefek menenangkan. Pikiran jadi lebih “diam”. Rasa takut bisa lebih mudah dikendalikan.

Apa harus segitunya sampe pergi ke spa? Ga juga sih, kan cuma contoh. Alternatif lain yang bahkan ga ngeluarin uang banyak apa? Naaah, coba deh pake sheetmask.

Penggunaan masker wajah model begini bisa sangat akomodatif buat ibu-ibu hamil. Tinggal cuci muka, keringin, buka kemasan, tempel ke muka, tunggu beberapa menit, lepas, kelar. Biar sederhana, biar murah, biar effortless, kalo soal hasil akhir, masker seperti ini ga bisa diremehin. Kulit jadi kinclong, berasa sehat dan seger, hati seneng, stres berkurang deh. Calon ibu tetep harus ngerasa cantik loh ya meskipun tanggal jadwal prosedur operasi udah makin deket. Dengan mengurus kesehatan kulit dengan benar, percaya diri bisa makin meningkat. Dengan bekal kepercayaan diri yang besar, ketakutan akan risiko-risiko operasi yang ada bisa lebih gampang di-manage.

Ato kalo emang mau yang lebih all out, bisa aja sih, dateng ke klinik perawatan kulit. Tapiii, pastiin dulu di klinik itu ada jenis perawatan yang bersahabat sama kondisi kehamilan. Misal nih, coba deh tanya, ada ngga masker untuk ibu hamil yang ditawarin si klinik. Iya emang tujuannya buat ngerawat wajah dan kulit tapi ga bisa sembarangan loh ya. Cari tau informasi tentang masker yang aman untuk ibu hamil itu apa aja. Soalnya kalo sembarangan pilih produk bisa-bisa malah berbahaya buat kandungan nantinya.

Kalo punya waktu dan energi, coba deh racik sendiri masker wajah alami buat dipake sehari-hari. Banyak kok referensinya. Lagi-lagi, kalo milih cara ini, semuanya kudu banget higienis yaaa, biar ga ngefek ke dedek bayi dalem kandungan.

“Oh, jadi skincare-an ini cuma eksklusif buat ibu-ibu yang mau sesar, Dok? Yang rencananya lairan normal ga perlu rawat-rawat ini-itu, gitu?”

Hahahah, bentar-bentar, jangan ngambek dulu dooong.

Yang namanya proses melahirkan itu, apa pun bentuknya, pasti mendebarkan. Pasti bikin stres. Kenapa pembahasan kali ini fokusnya ke proses sesar itu karena risiko dan konsekuensi yang udah disebutin tadi. Iya, melahirkan normal itu juga menyakitkan. Tapi paling engga di dalam ruang persalinan nanti ada orang lain selain para dokter dan bidan yang nemenin. Tapi ya tetep sama kok. Ibu-ibu yang mau melahirkan normal juga boleh—dan sebaiknya, malah—menjalani perawatan kulit. Kan tujuannya mau buat mengelola rasa stres dan takut, kan ya. Jadi sah-sah aja kok. Asal itu tadi, pastikan produknya aman dan ga berisiko baik buat si ibu maupun buat si anak.

Dah ya, gitu aja. Sampe ketemu di topik lain yaaa. Saya mau maskeran dulu. Stres juga ni, nyari referensi tentang sesar. Ngelairin kaga, stresnya tetep dapet.

Lima Holy Grail Ingredients Versi Dinuth

Hai Teman DRYD,

Pada ngeh ga, sama yang namanya holy grail? Kalo dalam Bahasa Inggris, “holy grail” itu adalah idiom, semacam majas yang artinya merujuk pada suatu hal yang paling diinginkan oleh semua orang. Kadang-kadang, istilah ini juga memiliki konotasi suatu hal yang banyak dicari oleh semua orang tapi sangat sulit untuk didapatkan. Tapi kita ga lagi mau bicara soal istilah ini dan definisi persisnya apa, kok.

Fokus topik bahasan kita kali ini adalah bahan-bahan yang biasanya digunakan dalam produk-produk skin care. Kenapa disebut bahan-bahan holy grail? Karena semuanya punya khasiat yang mujarab jadi pasti selalu dimasukkan ke dalam produk, ga boleh engga. Wajib. Kudu. Kayak, kalo sebuah produk ga menyertakan bahan-bahan holy grail ini, ga bisa deh dibilang komplit, apalagi efektif untuk perawatan.

Saking lazim bahan-bahan yang dimaksud, Teman-teman pasti seenggaknya pernah baca dari daftar komposisi sebuah produk, deh. Yuk, daripada lama-lama, langsung bahas ya.

Retinol

Sebagai salah satu anggota kelompok vitamin A, retinol juga disebut dengan nama vitamin A1-alkohol. Retinol bisa ditemukan secara alami dalam makanan dan penggunaannya biasanya berkaitan dengan penanganan kondisi kekurangan vitamin A seperti xerophthalmia. Dalam kaitannya dengan produk skin care, retinol bekerja dengan cara meningkatkan produksi kolagen dalam badan dan mengenyalkan kulit. Retinol juga bisa memperbaiki warna kulit dan mengurangi bercak-bercak pada permukaan kulit. Penggunaan produk berbasis retinol bisa menyebabkan lapisan kulit atas mengering dan bersisik. Oleh karena itu, penggunaan produk tipe ini sebaiknya dilakukan pada malam hari kemudian diikuti dengan pengaplikasian pelembap dan tabir surya di pagi harinya. Retinol dapat mengurangi tampilan kerut pada kulit, meningkatkan ketebalan dan elastisitas kulit, menunda penguraian kolagen (yang sejatinya menjaga kekencangan kulit), dan mencerahkan bercak kecoklatan akibat paparan matahari. Retinol pertama kali muncul pada awal dekade 70an dan dipasarkan sebagai obat jerawat.

Cara kerja retinol bertumpu pada kemampuannya untuk merangsang sel-sel kulit di permukaan untuk luruh lebih cepat yang kemudian digantikan oleh sel-sel kulit baru yang tumbuh di bagian bawah. Klaim bahwa retinol menipiskan kulit adalah tidak benar. Emang sih, pada minggu-minggu pertama penggunaan, retinol akan mengakibatkan pengelupasan kulit dan membuat kulit kemerahan. Tapi sebetulnya retinol justru mempertebal kulit. Retinol juga bisa mengikis lapisan bercak kecoklatan dan menghambat pembetukan melanin.

Struktur kimia retinol

Hyaluronic Acid (HA)

Secara alami, hyaluronic acid dapat ditemukan di dalam tubuh manusia dengan konsentrasi paling tinggi terdapat di mata dan persendian. HA diklaim sebagai obat antipenuaan tapi klaim ini sebetulnya tidak sepenuhnya benar. Menyebut HA sebagai sumber hidrasi kulit adalah lebih akurat. HA memiliki struktur molekul makro, yang berarti molekul HA berukuran terlalu besar untuk bisa diserap oleh kulit secara efektif. Khasiat HA terdapat pada kemampuannya untuk menjaga tingkat hidrasi kulit. Sifat HA adalah humectant, artinya HA mengikat air di dalam strukturnya sendiri dan ini akan menyebabkan kulit bisa menahan air lebih lama. Ketika HA diaplikasikan, zat ini akan menarik kelembapan dari lapisan dalam kulit sehingga lapisan atasnya bisa terhidrasi. Jika kita sedang berada di area dengan kelembapan tinggi, HA pun bisa menarik molekul air di udara ke kulit kita. HA mungkin ga bisa menghapus garis-garis halus dan kerutan pada kulit tapi kelembapan ekstra yang HA berikan bisa membantu menjaga kekenyalan kulit, yang akhirnya membuat kulit terlihat lebih halus. Garis-garis halus di sekitar mata dan bibir biasanya juga disebabkan oleh dehidrasi jadi penggunaan HA akan membantu membuat kulit tidak terlalu berkerut. HA pun bekerja baik untuk segala macam tipe kulit. Zat ini bisa meningkatkan kelembapan kulit tanpa menambah jumlah kandungan minyak. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa HA memiliki kemampuan antioksidan dan antiradang. HA membantu mempercepat regenerasi penyembuhan kulit.

Pengaplikasian serum hyaluronic acid.

Alpha Hydroxy Acids dan Beta Hydroxy Acids

Alpha dan Beta Hydroxy Acids, atau AHA/BHA, merupakan dua asam hidroksi yang membantu mengeksfoliasi kulit, yang berarti keduanya bisa digunakan untuk membuang lapisan sel kulit mati.

Zat-zat yang termasuk AHA adalah:

  1. Glycolic Acid, diturunkan dari gula tebu, memiliki kemampuan antimikroba,
  2. Malic acid, diturunkan dari apel,
  3. Lactic acid, diturunkan dari laktosa,
  4. Tartaric acid, diturunkan dari ekstrak buah anggur,
  5. Mandelic acid, diturunkan dari ekstrak almon,
  6. Citric acid, diturunkan dari buah sitrus.

AHA biasanya ditambahkan ke dalam produk untuk membantu menyeimbangkan keasaman kulit dan mencerahkan bercak kulit.

Zat-zat yang termasuk BHA adalah:

  1. Asam salisilat, lazim digunakan untuk mengatasi jerawat,
  2. Beberapa formula asam sitrat juga masuk dalam kategori BHA dan berperan dalam mengangkat sel kulit mati dan menekan produksi minyak,

Fungsi AHA dan BHA meliputi:

  1. Menanggulangi radang yang menyertai jerawat atau rosacea,
  2. Membantu membuat warna kulit lebih rata,
  3. Mengendalikan tampilan pembesaran pori-pori dan mengatasi kerutan,
  4. Mencegah jerawat dengan membuka pori-pori,
  5. Mengangkat sel kulit mati,
  6. Merestrukturisasi tekstur kulit,

AHA/BHA ampuh mengikis sel kulit mati.

Niacinamide

Dikenal juga dengan nama nicotinamide atau vitamin B3, niacinamide adalah zat yang gampang larut dalam air dan dapat mengurangi pembesaran pori-pori, mengencangkan pori-pori, meratakan warna kulit, menghaluskan garis-garis wajah dan kerutan, mengurangi kekusaman, dan mengencangkan permukaan kulit yang kendor. Vitamin ini juga bisa mengurangi dampak kerusakan dari faktor eksternal dengan cara memperbaiki pertahanan alami kulit terhadap lingkungan luar. Manfaat lain niacinamide adalah memperbarui dan mengembalikan kelembapan dan hidrasi kulit dengan cara merangsang produksi ceramide—zat yang berfungsi menjaga kekencangan kulit.

Struktur kimia niacinamide.

Vitamin C

Pertama kali ditemukan tahun 1912, vitamin c diisolasi tahun 1928 dan merupakan jenis vitamin pertama yang diproduksi secara kimiawi di tahun 1933. Vitamin ini dikenal luas karena kemampuannya dalam membantu tubuh memerangi radikal bebas. Karena kemampuannya ini, vitamin C bisa mempercepat proses regenerasi kulit. Tapi kemampuan antioksidan bukan satu-satunya potensi yang dimiliki vitamin C. karena sifatnya yang sangat asam, vitamin C bisa digunakan secara topikal untuk memicu kulit menyembuhkan diri dengan cara mempercepat produksi kolagen dan elastin—dua serat protein yang secara alami bisa membantu menjaga kulit tetap kenyal dan kencang. Vitamin C juga mampu membatasi pembentukan melanin pada kulit.

Jeruk adalah salah satu sumber vitamin C.

Skincare dan Kombinasi yang Tepat

Yang perlu diingat di sini adalah harga mahal bukanlah sebuah jaminan untuk efektivitas suatu produk. Kita harus proaktif dalam memperhatikan dan mempelajari bahan-bahan aktif dalam sebuah produk, yang artinya kitalah yang harusnya menjadi yang paling tahu tentang apa yang dibutuhkan oleh kulit kita sendiri. Ada beberapa bahan yang sebaiknya tidak dikombinasikan pada saat pengaplikasian karena akan membuat efektivitas masing-masing bahan menurun secara signifikan. Efeknya bisa menyebabkan kulit bruntusan. Ini kemudian diartikan oleh customer produk tersebut tidak cocok dengan kulitnya padahal sebetulnya kombinasi bahan-bahan tersebutlah yang menyebabkan gangguan. Produk yang tersedia di pasaran pasti sudah melalui dan lolos proses uji jadi tidak mungkin produsen salah menggabungkan ingredients yang ada. Customer sendirilah yang kemudian salah mengkombinasikan unsur-unsur yang ada dikarenakan ketidakpahaman mengenai semua bahan yang disertakan.

Nah, yuk, kita liat kombinasi apa aja yang patut mendapatkan perhatian khusus.

  1. Vitamin C dan AHA/BHA

Vitamin C merupakan asam yang bersifat aktif. Jika dikombinasikan dengan AHA/BHA jenis apapun bisa membuat struktur molekul asamnya menjadi tidak stabil, dan mengganggu keseimbangan pH kulit. By the end of the day, bahan-bahan yang semestinya bisa bermanfaat malah jadi tidak memiliki dampak apapun.

  1. Vitamin C dan Niacinamide

Keduanya sama-sama bisa menyamarkan bekas jerawat dan membantu penyembuhan kulit yang luka. Tapi ketika digabungkan, struktur rantai molekul vitamin C bisa dirusak oleh niacinamide.

  1. Retinol dan vitamin C

Jika vitamin C dan retinol digunakan bersamaan, kulit bisa mengalami pengelupasan, kemerahan, dan iritasi. Kombinasi keduanya juga menyebabkan kulit menjadi jauh lebih sensitif terhadap matahari. Retinol sebaiknya diaplikasikan malam hari sementara vitamin C bisa dipakai pada siang hari.

  1. Retinol dan AHA/BHA

Retinol mungkin memang bukan zat eksfoliasi tapi tetap memiliki kemampuan untuk mengelupas permukaan kulit dan merangsang regenerasi kulit. Penggunaan kedua bahan bersamaan akan mengakibatkan kulit kering dan teriritasi serta mengganggu keseimbangan kelembapan kulit dan berpotensi menyebabkan breakout jerawat.

  1. Glycolic acid dan salicylic acid

Kedua asam ini sangat mujarab dalam perkara mengangkat sel kulit mati tapi ketika dikombinasikan malah akan menyebabkan sensasi menyakitkan.

Penggunaan layer ingredients yang tidak tepat berisiko menyebabkan bruntusan.

Delivering Happiness through Skincare

Kulit, bagi kebanyakan dari kita, adalah salah satu sumber rasa percaya diri. Kondisi kulit gampang banget bikin rasa percaya diri naik turun. Jerawatan dikit, langsung down, langsung ga mau keluar rumah. Ada bercak gelap dikit, bawaannya langsung sadar diri, ngomong sama orang ga mau keliatan mukanya. Belang dikit, langsung milih buat matiin henpon, ga mau diajak ketemuan di luar. Wah, udah deh, banyak banget yang selalu menjadikan penampilan kulitnya sebagai satu-satunya sumber percaya diri.

Dan itu ga salah sebenernya.

Merawat kulit bisa menjadi sumber kepercayaan diri

Kulit yang glowing bersih, bebas minyak, sehat, kenyal, dan berseri emang bisa bikin kita pede banget. Itu karena kulit adalah benteng pertama yang membatasi kita dari dunia luar. Orang-orang kalo ngeliat kita pasti dong, penampilan luarnya, bukan gimana kepribadian kita ato inner beauty kita. Outer beauty emang bukan satu-satunya yang menjadi kualitas pembentuk suatu individu. Tapi keindahan yang ditampilkan itu lebih kasat mata dan lebih instan untuk diobservasi orang lain. Makanya kita gampang banget minder pas kulit lagi ga dalam keadaan prima.

Dan emang bener, kekurangan yang ada di kulit kita bisa ditambal-sulam dengan misalnya performa kerja atau mungkin kemampuan sosial yang di atas rata-rata. Tapi kita selalu merasa bahwa semua akan lebih sempurna kalau segalanya seimbang. Personality keren, kulit paten. Tapi kan ga semuanya dong, bakal seimbang setiap saat. Bisa aja ada sesuatu yang bikin kondisi kulit menurun. Kurang tidur aja udah cukup bikin kulit keliatan kusam.

Jadi begitu; kulit emang gampang banget bikin rasa percaya diri sendiri jadi fluktuatif kayak bursa saham. Ada keanehan dikit yang kayanya ga bakal deh orang lain notice, udah cukup ngerusak hari buat kita. Akhirnya kita pun beralih mengandalkan makeup buat nutupin “cela” itu dari orang lain. Semuanya keluar dari kotak kosmetik. Sampe produk yang jaaarang banget dipake, keluar. Apa aja yang penting bercak kecil di pipi ketutup. Apa aja yang penting jerawat yang bengkak merah ga jadi sorotan lawan bicara.

“Ya kan kita juga ga mau dianggap ga bisa ngerawat diri, Dok. Ga mau juga dianggap ga higienis sama si bos….”

Ya makanya saya bilang kalo memperhatikan kondisi kulit itu ga salah. Apa yang salah? Yang salah adalah ketika kondisi kulit yang tidak sesuai harapan berubah menjadi sumber kekhawatiran dan insecurity. Ketika kulit yang sedang tidak prima mendominasi isi kepala kita sampai-sampai menjadi obsesi, itu udah ga sehat. Energi yang seharusnya bisa kita salurkan untuk menyelesaikan tugas-tugas malah keporsir buat mikirin jerawat di jidat yang cenutcenut. Waktu yang seharusnya kita habiskan buat bersenang-senang sama orang-orang tersayang jadi kesedot buat ngaca dan ngelus-ngelus noda hitam di pipi. Kita terdorong untuk memitigasi “bencana” ini dengan cara yang agak ga masuk akal. Suplemen diminum  ga sesuai anjuran. Minum air segalon abis sendirian. Makan sayur digenjot sampe kebutuhan karbo dan lemak diabaikan. Segala krim, segala sabun, segala serum dipake.

Suplemen vitamin itu kudunya diminum sesuai dosis; otherwise we would only end up with very expensive urine. Namanya juga suplemen. Minum air juga kudu liat-liat; kalo ga malah bikin beser-beser dan lemas. Minum air teratur itu emang baik buat mem-promote kesehatan kulit. Tapi kalo kebanyakan? Coba deh, kapan-kapan googlin “water poisoning”. Banyak makan sayur itu bagus, semua orang juga tau. Tapi kan harus balance, proteinnya masuk, seratnya masuk, karbonya masuk, lemak juga perlu. Krim-krim, sabun muka, serum kecantikan, semuanya perlu dipake supaya ada usaha dari luar buat menjaga kondisi kulit. Tapi ada jenis zat dalam produk perawatan kulit yang justru ga bakal berkhasiat ketika dipake bersamaan dengan produk dengan zat yang berbeda. Makanya ada yang namanya step, waktu aplikasi, dan layer mana yang bisa di-combine dengan layer apa. Kalo dipake barengan dengan asumsi “makin banyak, pasti makin ngefek” yang ada malah mungkin bikin breakout.

Jadi, omongan orang tua tentang segala sesuatu yang berlebihan itu ga baik ada benernya.

Kulit menurun performanya itu lumrah. Penyebabnya bisa karena kelalaian, bisa juga karena badan sendiri yang sedang drop staminanya. Kalo soal lalai masih bisalah diperbaiki. Lah kalo udah masalah kondisi, stamina, hormon, emosi?

Saya ngomong ini sekarang karena berdasarkan pengalaman, ada beberapa orang yang datang ke klinik perawatan kulit bukan karena mereka emang mau treatment. Jadi ngapain mereka dateng, Dok? Nah, beberapa orang ini dateng ke klinik cuma karena ngerasa insecure sama kondisi kulit mereka saat itu. Jadi mungkin ada beberapa yang langsung panik pas liat di kaca ada jerawat muncul padahal sebelumnya baik-baik aja. Ato mungkin ada yang kaget nemuin flek di wajah padahal ga ngerasa abis kena sinar matahari. Iyaaa, kondisi yang kayak gitu emang kudu di-treatment. Tapiii yang jadi masalahnya adalah mereka berpikir dengan menjalani treatment, insecure-nya jadi ilang seketika. Jadi prosedur perawatan kulit dianggap sebagai solusi instan buat memperbaiki rasa percaya diri mereka yang sedang terluka. Emang bener sih, kulit dikasi treatment khusus emang bisa mengembalikan kondisi kulit seperti sedia kala sebelum ada cela. Tapi apakah seinstan itu?

Gini, saya selaaalu menekankan bahwa treatment yang berfaedah itu adalah treatment yang prosedurnya dijalankan dengan baik dan secara reguler. Ini tentunya untuk kasus yang relevan ya. Kalo treatment kulit itu kudu banget diulang supaya hasil akhirnya sesuai dengan harapan dan berefek lama. Nah, kalo kita treatment cuma karena lagi insecure dan ngerasa ada yang salah aja sama kita, ga bakal tuh, efektif. Misalnya nih, ada yang lagi kena masalah flek. Sekali treatment udah ilang, misalnya. Trus kita udah pe-de lagi kan dong ya. Trus berenti treatment. Ntar ga berapa lama, muncul lagi deh. Kenapa? Karena yang namanya flek itu complicated. Bisa ditreatment, tapi kalo ga reguler bakal muncul lagi, muncul lagi. Kitanya down lagi, down lagi. Treatment lagi, treatment lagi. Ilang lagi, berenti treatment lagi, muncul lagi. Gitu aja terus sampe manusia pindah ke Mars.

Treatment kulit itu ga seinstan itu. Ada tatacaranya, instruksinya, jadwalnya, perulangannya, yang semuanya sebaiknya dijalani supaya hasil akhirnya lebih memuaskan dan dampak psikologisnya bisa lebih menyeluruh. Jangan pas jerawatan, trus dikasi obat sama dokter kecantikan wajah, trus seneng kan karena jerawatnya ilang; eh, dianya juga ikutan ilang. Ga ada kabarnya lagi, ga kontrol, ga apa. Tau-tau nanti nongoool aja deh, ngeluh jerawatnya dateng lagi. Kalo kita mah, seneng-seneng aja ngasi resep ato laser sana, suntik sini. Tapi kan kasian si pasien kan, kulitnya kaga bagus-bagus, insecure-nya makin parah, idupnya ga hepi.

Kalo saya sebagai pelaku dunia estetika, kudu banget mastiin si pasien hepi. Makanya saya selaaalu nyempetin ngobrol sama pasien sebelum prosedur, selalu saya memastikan bahwa ada cukup waktu supaya interaksi dengan si pasien bisa terbentuk dengan lebih baik. Ga main, “Oh, silakan ke ruang sebelah sana; nanti ada asisten saya yang bantu.” Saya tanya dulu si pasien, “Motivasinya apa dateng ke klinik?” Setelah paham, baru deh lanjut ke tindakan-tindakan. Dan saya selalu mastiin bahwa tangan sayalah yang langsung bekerja menyentuh kulit si pasien, bukan asisten, bukan dokter magang, bukan mas-mas ojek yang nganterin pesenan makanan ke klinik. Enggaaa. Kenapa seperti itu? Karena saya kepingin relasi yang baik dengan pasien itu terbangun mulai dari bikin janji, ketemuan, prosedur, saaampe si pasien jalan keluar dari klinik. Saya mau memberikan sebuah nilai happiness pada pasien melalui pekerjaan saya. I want to deliver happiness through the things I do. Saya mau pasien hepi dulu, sesederhana itu.

Eh, ini ga berarti saya bisa mengukur apakah pasien bahagia ato engga ya. Saya bukan siapa-siapa yang bisa ngeklaim, “Oh, kamu ga bahagia niii.” Siapa gue kan….

Tapi seengganya saya bisa nyoba bantu pasien buat memilah-milah, mana yang mereka lakukan berdasarkan hasrat singkat semata, mana yang memang mereka butuhkan saat itu. Saya mau ngajak kita semua buat mencerdaskan diri dalam memandang sebuah kondisi, udah gitu aja. Saya mau pasien saya mampu memahami persoalan yang sedang mereka hadapi. Saya mau pasien saya tau dulu apa yang kudu di-enhance di diri mereka sebelum datang ke klinik dan menjalani prosedur. Saya mau pasien saya ngerti kalo efektivitas sebuah treatment itu ga didapet begitu aja setelah satu kali prosedur melainkan dari usaha berulang dan kesadaran diri.

Iya, saya emang banyak maunya….

Tapi ini bukan hal yang ga pernah terjadi loh. Ada pasien yang datang dengan keluhan jerawat. Dikasi obat sekali, sembuh. Tapi terus makannya ga karuan. Makeup ga dihapus sempurna sebelum tidur. Kan kacau. Obatnya efektif, tapi ga diimbangi dengan perbaikan pola hidup. Ini nih, tanda-tandanya orang yang datang ke klinik cuma karena gangguan kepercayaan diri sesaat. Dokter kulit dan kecantikan dijadiin solusi instan yang efeknya bisa permanen. Ya ga bisalah!

Makanya saya selalu nyoba buat ngobrol dulu panjang lebar sama pasien sebelum treatment. Saya ga mau kalo skincare dijadiin sebuah jalan keluar yang efeknya superficial, cuma di permukaan doang. Sekali masalahnya ilang, ilang juga ketekunan. Nanti percaya diri-nya juga ga permanen. Nah kalo kita gampang ga percaya sama diri sendiri cuma karena jerawat ato flek, otomatis kita juga sering ga hepi. Nah kalo udah ga hepi, semuanya jadi serba salah.

Penting juga ni, milih klinik yang tepat karena ga semua klinik paham apa yang jadi kebutuhan pasiennya. Bukannya mau jelek-jelekin yaaa; tapi ini jadi pe-er banget buat kita semua supaya lebih jeli dalam memilih sesuatu. Kenali dulu apa yang menjadi kebutuhan kita dalam melakukan perawatan kulit baru deh, dicocokin sama apa yang menjadi tawaran dari sebuah klinik. Cari tau juga apakah si klinik mampu meng-cover kebutuhan kita sebagai pasien, jangan cuma nyari tau tentang diskon sama promo-promo. Dapet diskon menarik ato promo yang menggiurkan tapi ternyata servis yang ditawarkan bukan apa yang kita butuh juga kan jadi sia-sia.

Saya mau pasien saya paham betul kondisi kulitnya dan apa yang menyebabkan permasalahan. Saya mau rasa percaya diri pasien saya ga gampang goyah. Saya mau pasien saya konsisten menjalani treatment yang secara sadar udah dia pilih; ga dateng pas lagi down, terus ngilang. Sakit tau, ditinggal gitu aja…. Saya mau pasien saya semuanya hepi. Saya mau pasien saya bisa leluasa mengungkapkan apa isi hatinya karena dari situ bisa kita rumuskan pola treatment yang efektif. Saya mau membantu pasien saya mengembalikan rasa percaya dirinya yang luntur. Saya mau pasien saya sayang sama dirinya sendiri dulu sebelum memikirkan bagaimana orang lain bisa menyayangi dia. Saya mau pasien saya memilih untuk meng-enhance kulit mereka bukan karena cuma itu yang menjadi tolok ukur mereka menilai diri sendiri. Saya mau pasien saya paham bahwa ketika mereka memusatkan seluruh perhatian dan energi mereka ke jerawat di idung ato flek di pipi, life goes on nonetheless. Saya mau pasien saya bisa mengatasi problem kulit mereka dengan hepi, bukan dijadikan beban yang bikin lesu dan malas berangkat ke kantor ato ngapain aja. Saya mau saya, keluarga saya, pasien saya, temen-temen saya, adek-kakak-nya temen saya, sodara-nya pasien saya, mamas ojek yang nganter pasien ke klinik, mbak-mbak yang jualan makanan yang saya pesen, semuaaanya bahagia.

Iya, saya emang banyak maunya….