Teknik Jurnaling: Ketik atau Tulis Tangan?

Hai Teman DRYD,

Udah nemuin apa self-love languages kalian? Seperti yang kita udah pernah bahas kemarin-kemarin, ungkapan mencintai diri sendiri itu juga penting untuk dipelajari supaya kita ga terjebak dalam mencintai orang atau hal lain tapi luput dari memelihara kesehatan pribadi—fisik maupun mental. Dan karena setiap individu adalah subjek unik yang memiiki cara tersendiri dalam menangani berbagai macam kendala pribadi, yang namanya self-love language buat masing-masing juga berbeda-beda. Ada yang memilih bermeditasi, ada yang lebih suka pergi ke spa atau dipijat, ada juga yang cenderung lebih merasa dirinya teraktualisasi ketika melakukan hobi yang mereka suka.

Semuanya valid dan legit ya, Teman DRYD. Do whatever makes you happy and feel loved by your very own self. Ga ada judgment di sini. Namanya juga self-care, cuma kita yang tahu gimana caranya supaya bisa mencintai diri sendiri dengan lebih mendalam dan lebih intim dalam menjalin hubungan dengan diri sendiri. Cuma kadang-kadang nih, apa yang menurut kita bisa membuat lebih mencintai diri sendiri itu bisa-bisa kebentur penghalang. Misalnya, yang berminat meditasi mungkin terkendala masalah jadwal kerja. Sibuk di kantor, lembur sampe malam, kerjaan kebawa sampe rumah—banyak faktor yang berkaitan dengan kesibukan hari-hari yang menjegal jalan menuju ketenangan batin lewat meditasi. Ataaau, mungkin ada yang kepingin nyobain spa atau massage treatment tapi kehalang masalah budget. Mungkin alokasi dana bulanan ini mepet banget dan kalo dipaksain pergi ke spa malah bikin overbudget. Atau mungkin ada yang kepikiran buat menekuni hobi memasak atau berkebun tapi si buah hati yang masih kecil bikin agak ga mungkin buat mereka ninggalin barang semenit.

Apa pun alasannya, gapapa. Ga cuma satu jalan ke Roma, kata orang-orang. Ga perlu stres gegara ga sempet me-time karena entah apa pun. Ga usah juga merasa ga enak pada siapapun dan ngerasa banyak alesan. Kita yang tau kondisi. Kita yang paham medan. Kita yang ngerti kaya apa situasi, risiko, dan efeknya. Gapapa.

Teman DRYD tau ga, kalo ternyata tindakan self-care yang paling efektif itu adalah juga yang paling murah, mudah, dan ga ngebebanin?

“Masa sih, Dok? Emang ada alternatif lain?”

Ada dong. Perkenalkan, jurnaling.

Pernah denger? Ato ini pertaman kalinya denger istilah ini? Basically, membuat jurnal itu adalah kegiatan pencatatan pengalaman yang dilakukan secara harian dalam sebuah media tertulis. Nah, berdasarkan definisi sederhana ini, pasti yang kebayang itu adalah buku diari kan ya?

“Dok, masa udah tua masih disuru nulis diari, sih?”

Eits, jangan buru-buru nyimpulin yaaa. Sekilas emang menulis jurnal dan buku diary itu mirip. Tapi keduanya berbeda secara fundamental. Diari yang biasanya kita gembok pas jaman es-de sampe es-em-a itu ditulis harian, emang. Tapi isinya saaangat random dan sifatnya lebih ke luapan isi hati yang ga bisa disampaikan ke orang lain. Kesel sama sahabat lah, bete sama pacar lah, sedih dicuekin gebetan lah, keki sama ortu lah, seneng karena nilai ulangan bagus lah, emosi gegara LDR-an lah, cemburu sama orang lain lah, gitu-gitu deh.

Nah, bedanya sama jurnal, jurnal itu lebih rapi, lengkap, berpola, dan teknis. Kita ga harus menceritakan panjang lebar tentang perasaan sebel gegara ngeliat gebetan dipepet sama temen deket. Cukup, misalnya, bikin satu section yang mengandung emoticon-emoticon dari sedih sampe seneng. Nanti dibuat bagan per tanggal untuk satu bulan. Di tanggal yang dimaksud, kita tinggal warnai emoticon yang sesuai dengan overall mood kita hari itu. Simpel, kan? Kalo mau dispesifikkan kenapa kita mewarnai emoticon sedih untuk hari itu, bisa aja dikasi note gitu, ngejelasin kenapa mood kita jelek.

Teknik ini disebut juga dengan bulletjournal, karena kita dianjurkan untuk seminim mungkin dalam menggunakan kata-kata dan lebih bermain ke pewarnaan, checklist, diagram, dan ikon-ikon atau gambar. Dengan cara ini, pencatatan harian kita selama sebulan bisa lebih compact, praktis, dan mudah dibawa ke mana-mana. Kebayang ga, gimana repotnya harus punya dan bawa-bawa 5 buku catatan untuk hal yang berbeda? Kegiatan menjurnal bakal jadi sangat menyita waktu dan truly exhausting.

Secara umum, membuat jurnal adalah kegiatan positif yang sehat untuk mental dan tidak menuntut banyak dari pelakunya. Dengan membuat jurnal, kita bisa lebih mudah dalam mengolah emosi yang dirasakan, mengembangkan kreativitas, dan mempermudah strategi hidup (melacak kejadian di masa lalu, membantu menyusun apa yang harus dilakukan saat ini, dan merancang masa depan). Uniknya, bullet journal juga bisa mencakup masalah penyusunan budget harian. Kita bisa mencatat pengeluaran untuk dijadikan parameter ketika akan menyusun keperluan finansial di bulan berikutnya. Kira-kira di bagian mana uang mengalir terlalu deras sehingga menyedot kebutuhan di sektor lain.

Pake Tangan Ato Ketik?

Pertanyaan yang satu ini jadi relevan karena di jaman modern kaya gini, smartphone kita pun disertai kemampuan untuk menjalankan aplikasi digital bahkan untuk membuat jurnal harian. Komputer pun bisa mengakomodasi kegiatan ini dengan cakupan yang lebih luas mengingat kemampuannya untuk memfasilitasi desain grafis. Tapi ada hal tertentu yang membedakan membuat jurnal dengan menulis dan mengetik lebih dari jenis media dan fasilitas.

Membuat jurnal dengan buku dan pena itu sesederhana membuka lembaran kertas dan mulai menuliskan pikiran, pendapat, dan perasaan. Dengan menulis, kita bisa memiliki kesempatan untuk melibatkan otak kita dengan lebih dinamis sehingga bisa membuat kita menyimpan memori dengan lebih baik. Menjurnal dengan mengetik melibatkan aplikasi menulis digital seperti OneNote, Microsoft Word, Google Docs, Tumblr, atau WordPress. Isi pikiran dan perasaan diketik dan tertuang langsung dalam layar peranti di hadapan kita.

Ada keuntungan dan kekurangan masing-masing dari kedua cara itu tadi. Menulis memungkinkan kita untuk mewariskan sesuatu yang dapat dipegang pada anak-cucu kita nanti untuk mereka pelajari sendiri. Menulis di atas kertas pun meniadakan kemungkinan data kita diretas atau hilang karena kerusakan media penyimpanan. Mengetik dengan media digital, di lain pihak, memungkinkan kita untuk membuat backup data dan dengan alat yang tepat kita bisa mengakses arsip-arsip data di mana dan kapan aja.

Menulis dengan Tangan Memaksa Kita untuk Melambatkan Proses Berpikir

Keluhan terbesar tentang membuat jurnal dengan menulis adalah bahwa kegiatan ini sama sekali ga convenient. Ga praktis untuk sesuatu yang semestinya membuat segalanya ringkas dan, well, praktis. Menulis emang bukan hal sulit tapi mengetik jauh lebih mudah apalagi kalo pada kenyataannya kita udah duduk di depan komputer juga buat kerja. Kebanyakan dari kita bahkan mungkin lebih banyak mengetik daripada mengunakan pena jadi membuat jurnal dengan menulis mungkin akan butuh beberapa saat sebelum kita terbiasa. Karena ini, menulis dengan tangan akan terdengar ga produkti karena kita akan diperlambat—tapi ini justru berdampak baik. Kenapa? Karena ketika kita menulis dengan tangan, kita dipaksa untuk fokus pada apa yang penting saat itu. Ketika kita menulis dengan tangan, kita akan menghasilkan lebih banyak kata ketimbang saat mengetik dan juga kita bisa mengekspresikan lebih banyak ide.

Menulis tangan memerlukan koordinasi halus antara jari-jari dan otak—ini sesuatu yang lebih complicated daripada mengetik. Kegiatan ini merangsang aktivitas pada bagian motor cortex di otak—efek yang sama ditemukan juga pada kegiatan bermeditasi.

Mengetik Mempermudah Kita Membentuk Habit

Kenyamanan dan kemudahan adalah keuntungan utama jika kita memilih mengetik sebagai cara untuk journalling. Dan karena semuanya serba mudah dan nyaman, mengetik membuat kegiatan menjurnal lebih mudah untuk ditelateni dengan ketekunan. Ketika menulis dengan tangan, kita dipaksa untuk memproses apa yang kita rasakan sebelum dituangkan di atas kertas. Mengetik di komputer atau smartphone membuat kita meng-skip proses yang satu ini jadi isi kepala bisa langsung mengalir dalam bentuk tulisan pada layar monitor.

Analisis

Beberapa orang merasakan sensasi atau kepuasan tersendiri ketika menjurnal dengan tangan setelah melalui satu hari yang penuh dengan stres atau diwarnai hal-hal yang membuat down. Mereka merasa lebih “lepas” dan “lega” setelah menggunakan pena dan kertas untuk mengeluarkan isi kepala, terutama karena mereka secara ga sadar mengasosiasikan mengetik di komputer atau gadget lain dengan kegiatan kerja profesional—yang tentunya melelahkan.

Dari satu studi di Universitas Iowa, subjek penelitian menunjukkan reaksi positif terhadap pengalaman traumatis setelah membuat jurnal tentang pengalaman tersebut; tapi hasil ini semua didapatkan bukan dari kegiatan itu sendiri melainkan lebih kepada bagaimana kegiatan itu dilakukan, gitu. Mereka diminta untuk menjurnal dengan menulis tangan dan berfokus tidak hanya pada emosi tapi juga pada pikiran dan perasaan.

Ketika kita menulis dengan tangan, fokus untuk pikiran dan perasaan jadi terasa lebih leluasa untuk dilakukan karena kita kudu nih, berenti sebentar buat memproses apa yang kita rasakan sebetulnya. Ketika mengetik, proses ini otomatis ditiadakan karena kita ngerasa ga perlu berhenti sejenak buat berpikir dan merasakan. Semuanya langsung mengalir lewat kecepatan tangan mengetik.

Jadi Mana Yang Lebih Baik?

Mengetik tidak serta-merta berarti kita ga bisa memproses isi kepala dan perasaan dan semata-mata mencurahkan fokus pada emosi aja. Tetap bisa, tapi dengan menulis tangan, semuanya bakal kerasa lebih organik aja karena kita ga terarahkan untuk menuangkan sebuah ide tanpa berhenti sebentar. Kadang perlu juga loh, ngerem diri sendiri sebelum bertindak. Diproses dulu apa yang kita rasakan. Sinkronkan dulu dengan isi kepala. Baru kemudian kita gunakan sejajar dengan emosi yang ada. Jadi menentukan mana yang lebih baik antara menulis tangan dan mengetik itu agak sedikit rancu karena semuanya balik lagi ke tujuan awal kita membuat jurnal.

Mengetik bisa jadi pilihan yang aman jika tujuan kita adalah merekam informasi dan data karena lebih mudah dan lebih cepat. Tapi kalo kita kepingin belajar melacak kejadian di masa lalu, memproses perasaan, menghasilkan ide-ide, ato sekadar untuk menjadi lebih tenang aja, menulis dengan tangan adalah pilihan yang lebih tepat.

Ga ada alasan juga buat ga ngelakuin keduanya. Pas mau nyatet informasi ato data, ngetik deh. Pas mau menajamkan fokus dan mau ngerem proses berpikir sebentar, nulis tangan deh. Tapi kalo tujuannya dari awal mau ngedapetin manfaat secara kesehatan mental, mending nulis tangan deh.

Beberapa Tips

Tertarik buat mulai bikin jurnal, terutama dengan menulis tangan? Ada tipsnya supaya ga ngebosenin dan kita bisa dapetin manfaat penuh.

  1. Cari buku yang cocok sama kepribadian kita. Kenapa? Simpel. Ga ada kan yang nganggep buku tulis polos tanpa pemanis itu menarik? Ga perlu yang terlalu semarak warna-warni ber-glitter. Baaanyak buku jurnal dijual di luar sana dengan desain menarik dan inovatif. Pilih satu yang emang berpotensi ngedukung kegiatan kita dan sesuai dengan kepribadian kita. Ini bakal bikin excitement meningkat dan kita bakal ngerasa kayak ada yang ilang kalo ga ngejurnal sehari aja.
  2. Don’t limit yourself. Maksudnya di sini jangan sekali-kali ngasi batasan tentang isi jurnal yang sebaiknya. Jurnal ga melulu perkara tanggal-tanggal dan appointments Isinya bisa tentang jadwal atau siklus mens (buat cewe-cewe ni, ya), must-try recipes, alokasi budget, ide-ide dan inspirasi apa pun, lists (judul film yang mau/harus ditonton, album must-have), bahkan rancangan belanja bulanan. Untuk masalah ini, kreativitas kitalah yang jadi batasannya.
  3. Tetapkan jadwal jurnal rutin. Ga perlu setiap pagi kok. Kalo emang nyamannya memulai menjurnal di pagi hari, ya mulailah sesegera setelah bangun. Kalo emang lebih nyaman di malam hari, ga Yang penting ada alokasi waktu menjurnal setiap hari.
  4. Memilih buku harian yang cocok aja ga Harus ada temannya. Cari alat-alat tulis dan dekorasi yang menarik juga. Pena warna, stiker-stiker, label, pembatas halaman, apa pun itu yang bisa ngedukung kreativitas.
  5. Yang terakhir, enjoy. Tanamkan di diri kalo kegiatan menjurnal ini adalah sesuatu yang sifatnya menenangkan. Ini semua perkara self-care. Dijalani aja senyamannya kita. Tapi kalo emang setelah dicoba, kegiatan ini ga kerasa ada dampak positifnya, sah-sah aja kok kalo kita mau berpaling dan mencoba alternatif self-care Lagi-lagi, ga satu jalan menuju Roma. Self-love language adalah sesuatu yang fleksibel dan hanya menuntut satu hal saja: Do whatever makes you happy and love yourself even more.

Delay atau Right Away: Tentukan Cara Kita Merespon Sesuatu

Hai Teman DRYD,

Bersikap terlalu sensitif dan selalu mengambil hati tentang segala hal berpotensi mengganggu hubungan interpersonal. Sayangnya, situasi seperti ini selalu terjadi berulang kali dan barangkali Teman-teman juga pernah merasa heran akan reaksi yang Teman-teman berikan terhadap suatu hal. Dan jika memang ini yang sering terjadi, maka Teman-teman sebaiknya mulai mencari tahu kenapa Teman-teman bisa sangat reaktif secara emosional.

Tanda-tanda orang yang reaktif secara emosional meliputi:

  1. Gampang sekali tersinggung bahkan karena hal paling remeh sekalipun,
  2. Reaksi yang diberikan terhadap sebuah situasi sering berlebihan,
  3. Sering merasa sangat kesal apabila sesuatu tidak berjalan sesuai rencana,
  4. Meyakini bahwa reaksi yang diberikan adalah akibat keadaan yang ada yang mengakibatkan perasaan tertekan oleh kerasnya hidup,
  5. Orang lain di sekitar merasa tidak nyaman berada di sekitar,
  6. Bersikap defensif dan penuh kemarahan ketika orang lain diduga sudah mengkritisi diri,
  7. Mudah diliputi kemurkaan dalam waktu singkat bahkan akibat provokasi paling kecil sekalipun,
  8. Merasakan ada sebuah pola dalam suatu ledakan amarah tapi tidak dapat diketahui dengan pasti,
  9. Merasa tidak berdaya disertai dengan rasa tanggung jawab yang rendah.

Mengubah kecenderungan untuk selalu reaktif secara emosional itu agak sulit sebenarnya karena melibatkan cara kita menyusun ulang bagaimana kita mempersepsikan hidup. Yang pertama harus kita tanamkan di diri adalah pemahaman bahwa kita bukanlah korban dari keadaan dan kita bisa dengan sadar menentukan cara kita merespon sesuatu, terutama jika sesuatu itu tidak sesuai dengan apa yang kita kehendaki.

Menjadi terlalu responsif secaqra emosional itu tidak baik untuk mental.

Tarik Napas Dalam-dalam

Jangan langsung bereaksi. Coba diam sebentar beberapa detik sebelum memberikan respons apa pun itu bentuknya, ya. Ketika kita merasakan bahwa sesaat lagi rasa marah kita akan meledak, tarik napas dalam-dalam dan pertimbangkan kembali apa sih yang sebetulnya terjadi. Apakah situasinya itu sendiri yang membuat kita marah atau malah semuanya cuma soal hal di balik situasi itu yang mengusik kita?

Kenali Trigger

Mengenali pemicu ledakan amarah atau sikap reaksioner emang rada ribet dan butuh banyak waktu tapi jika akhirnya berhasil, cara ini sebenernya cukup ampuh untuk mengurangi level reaktif diri kita. Dalam jangka waktu tertentu, coba kembangkan kemampuan untuk bisa “memeriksa” apa yang kita pikirkan, rasakan, dan lakukan. Jangan membiarkan diri bereaksi secara langsung tapi kenali momen ketika kita akan bereaksi atau memberikan respons dan buatlah catatan mental mengenai momen itu. Ketika sudah tenang nanti, coba deh lihat kembali reaksi yang udah kita kasi trus coba juga memahami emosi yang ada di balik reaksi tersebut yang menjadi pemicu. Ketika nanti di masa yang akan datang kita akan bereaksi atau merespon sesuatu, kita bisa mengenali dorongan tersebut apa adanya: Tidak lebih dari sekadar faktor pemicu. Untuk contoh praktis, misalnya kita punya kecenderungan untuk langsung merespon opini yang kontra dengan ide yang kita punya. Yang umum terjadi kan pastinya kita akan langsung masuk ke dalam situasi debat kusir yang ujung-ujungnya cuma akan bikin kita sakit kepala. Nah, coba hindari perdebatan, karena ini adalah faktor trigger. Dengan menghindar, memikirkan kembali inti dari apa yang menjadi sumber perdebatan, dan kemudian mengenali dorongan untuk berdebat sebagai respon semata, seharusnya kita bisa memilah kapan sebaiknya melempar opini dan memposisikan diri dalam sebuah forum.

Pikirkan dulu apa yang ada dalam kepala sebelum meyesal.

Pada praktiknya, adu argumen itu emang jauh lebih sehat ketimbang adu jotos untuk bisa menemukan jalan tengah. Tapi beradu argumen pun sejatinya punya tata cara yang baik agar bisa produktif dan efisien, bukan sekadar adu lempar pendapat dan bersitegang ga mau kalah.

Isi Ulang Tenaga Kita

Tubuh yang lemas dan kelelahan merupakan salah satu sumber utama penyebab kecenderungan respons negatif dari biasanya karena kita ga punya cukup cadangan energi. Coba susun jadwal kegiatan dalam seminggu yang bisa membantu me-recharge energi kita, bukannya malah menguras energi. Kegiatan-kegiatan yang sifatnya statis dan menenangkan bisa menjadi alternatif seperti meditasi, kegiatan dinamis seperto berolahraga, atau aktivitas kreatif juga bisa (contohnya berkebun, memasak, menggambar, atau menulis). Ga perlu, bahkan, sesuatu yang njelimet, cukup meluangkan waktu untuk introspeksi diri sendiri dan memastikan apa yang sedang kita rasakan untuk bisa membuat kita merasa lebih sejalan dengan diri sendiri.

Ubah Cara Mengungkapkan Perasaan

Kalo biasanya kita selalu nyalahin orang lain, coba deh ubah perspektifnya. Kalo biasanya kita selalu bilang, “Kamu bikin aku marah waktu kamu lupa telepon aku,” coba ubah kalimatnya menjadi, “Kalo kamu ga telepon aku di jam yang udah kita setujuin sama-sama, aku ngerasa diabaikan dan dilupakan. Kamu cuma perlu kirim pesan aja, kasi tau kalo kamu ternyata ga bisa nepatin janji telepon itu, kok.” Cara kita berkomunikasi bisa dengan drastis mempengaruhi seberapa negatif respons yang kita berikan.

Pada contoh kalimat pertama, kita menimpakan kesalahan pada orang lain. Orang lainlah yang bersalah dan membuat kita marah. Kalimat kedua lebih jelas menyatakan perasaan kita sebetulnya dan menunjukkan bahwa adalah sepenuhnya tanggung jawab kita kenapa bisa merasakan hal tersebut.

Konsultasi dengan Terapis

Kalo permasalahan sikap responsif yang berlebihan seperti ini udah mulai jadi sebuah problem yang terlalu besar dan mengganggu, mencari bantuan dari pihak profesional mungkin bisa membantu kita menemukan solusi yang tepat. Terapis profesional bisa jadi pilihan karena mereka mampu membantu kita mengenali perilaku mana aja yang ga bermanfaat buat hidup kita. Terapis profesional juga berkemungkinan besar bisa menolong kita membuat perubahan yang dibutuhkan supaya kita ga selalu jadi budak mood dan mencari tahu apa yang diperlukan untuk mengendalikan mood itu.

Jangan mau jadi budak emosi.

Nah, Teman DRYD, perlu diingat baik-baik kalo ga semua hal harus direspon dengan seketika. Perlu banget menahan diri buat ga langsung bereaksi terhadap sesuatu apalagi kalo reaksi yang dimaksud kontennya negatif. Kenapa? Karena itu ga sehat buat kondisi psikis kita sendiri. Energi akan sangat gampang terkuras habis dan akan ada kemungkinan buat jadi overthinking pada prosesnya—yang juga sama ga sehat dengan menjadi reaktif dan reaksioner.

Menunda reaksi atau respons jadinya lebih-kurang adalah sebuah usaha untuk menikmati me-time karena kita memilih untuk “memanjakan diri sendiri” dulu ketimbang tunduk dan ikut “permainan” orang lain. Ga salah kok, kalo kita ga langsung merespon sesuatu. Ga usah takut dibilang “loading-nya lama” atau ga ekspresif. Buat apa jadi ekspresif kalo ujung-ujungnya kita pusing sendiri dengan berbagai macam efek, hasil akhir, dan beban mental yang buruk? Yang penting itu adalah bagaimana kita bisa menjaga diri sendiri, menata hati, dan memberikan reaksi dan respons di saat yang tepat—yaitu ketika kita merasa semuanya sudah dicerna dengan baik.

Kalo misalnya kita kena sebuah kritik dari orang lain, diem dulu deh, coba ya. Kalo kita ngasi respons instan, kemungkinan besar semuanya akan berujung pada debat yang ga tentu arah. Kita hanya akan langsung mengeluarkan apa yang ada di dalam pikiran saat itu aja tanpa disaring, tanpa ditelaah, tanpa dicerna terlebih dahulu.

Saya selalu menekankan untuk banyak menarik napas dalam sebelum melontarkan suatu respons atau memberikan reaksi terhadap suatu hal karena tindakan menarik napas ini bener-bener mujarab banget buat menenangkan pikiran dan membantu mengendalikan perasaan dan emosi. Coba deh, Teman DRYD praktekin. Next time kalo ada dorongan buat langsung responsif dan reaksioner terhadap suatu hal, diem dulu, tarik napas daaalam-dalam, dan rasakan pikiran berangsur-angsur jadi lapang. Abis itu, baru deh mikirin gimana kudu menanggapi hal tersebut.

Personal Branding vs. Self-Image

Halo Teman DRYD,

Disadari ato engga, suka ato engga, media sosial udah jadi bagian hidup sehari-hari kita. Bahkan, daya tarik berinternet sebagian besar ada di kenikmatan ber-media sosial. Berita-berita ato isu-isu terbaru bisa dengan gampang nyebar lewat medsos. Update tentang teman, mau teman dekat ato sekadar kenalan, bisa dikonsumsi dalam beberapa detik saat sebuah unggahan masuk ke linimasa. Internet memang memberikan kemajuan dalam hidup semenjak diciptakan. Tapi media sosial-lah yang merevolusi cara kita bergaul dan memandang suatu hal. Artis-artis yang udah punya nama punya media baru buat menjangkau fans. Orang biasa bisa melejit jadi tenar dalam semalam. Berbisnis jadi lebih mudah karena marketing bisa disederhanakan dan lebih affordable. Wah, kalo udah bahas efek kemunculan media sosial bisa-bisa satu artikel pun ga bakal cukup. Tapi ada satu hal unik yang dimungkinkan untuk terjadi karena media sosial yang datang dengan segala kemudahannya: Branding.

Sekelumit tentang Branding

Branding sebagai salah satu metode marketing.

Kata branding diturunkan dari kata dasar brand, yang merujuk pada simbol dan alat identifikasi suatu produk sehingga si produk bisa dibedakan dari produk-produk lain. Nah, branding adalah proses mengembangkan simbol atau identitas ini. Di dunia bisnis dan marketing, branding adalah salah satu bagian mendasar yang harus disempurnakan sebelum sebuah produk bisa mendatangkan keuntungan bagi si pihak yang menawarkan. Kaitannya dengan media sosial adalah media sosial mampu menyebarluaskan sebuah brand dengan sangat mudah karena sifatnya yang easily accessible. Proses menyebar sebuah brand inilah yang disebut branding, yaitu membuat sekelompok individu mengenali satu merek barang atau jasa. Setelah menyebar, akan ada kondisi brand awareness, yaitu ketika orang-orang sudah menyadari dan mengasosiasikan satu merek dengan produk atau jasa yang ditawarkan.

Makanya marketing melalui media sosial itu sekarang udah jadi pakemnya berbisnis. Bakal lucu kalo sebuah entitas bisnis, apalagi nama-nama besar dalam suatu industri, ga merambah dunia digital yang satu ini dan memilih tetap menggunakan cara-cara marketing yang konvensional. Buat bisnis-bisnis kecil social media branding akan menjadi satu senjata andalan mengingat ongkos yang minim (kalaupun ada) dan kesederhanaan metode operasional.

Tapi bukan itu fokus bahasan kita kali ini, Teman DRYD.

Branding Model Lain

Ada yang namanya self brand. Basis pengertiannya sama seperti yang udah dikulik di atas tadi. Tapi kalo tadi objeknya adalah barang atau jasa yang diniatkan untuk dipasarkan, ini lebih kepada diri pribadi. Emang kenapa gitu diri sendiri harus di-brand? Kalau kita pintar mengembangkan sebuah brand untuk diri kita sendiri, efek positifnya bakal berasa banget dari sisi profesionalisme. Ibaratnya gini; semua orang pasti mau dong, dinilai menguasai suatu bidang pekerjaan? Kita semua pasti maunya orang lain paham bahwa kualitas diri kita ada di atas rata-rata. Nah, dengan mengembangkan brand personal ini, kita bisa kayak ngomong ke orang lain, “Hei, gue jago banget di bidang ini,” tanpa perlu mengumbar klaim atau bawa resume ke mana-mana. Kalo si brand personal udah nyebar luas dan udah kebentuk satu awareness terhadap brand kita itu, kerjaan pasti dateng tanpa perlu dicari. Dengan kata lain, saat kita punya satu skill, si brand tadi itu yang bakal jadi “kartu nama” supaya orang lain bisa menghubungi kita. Itu dari satu sisi profesionalisme.

Personal branding dan perannya.

Kita belum bahas dampak pengembangan brand personal di aspek hidup yang lain. Di dalam hidup modern ini yang semuanya serba diukur dengan follower, mengembangkan personal branding bisa membantu membentuk kelompok massa yang akan rajin mengikuti update dalam hidup kita. Misal satu individu A punya kepribadian yang hangat dan senang memasak. Maka para calon followers yang punya interest di dalam area tersebut akan segera ter-grab perhatiannya. Ibaratnya, brand yang kita kembangkan akan menjadi hook yang bisa “menjerat” lebih banyak lagi pengikut di media sosial kita.

Membandingkan Self-Image dengan Personal Branding

Brand personal tidak sama dengan self image ya, Teman-teman. Untuk masalah brand pribadi, itu lebih cenderung ke sifat bawaan yang kemudian ditampilkan setelah di-enhance. Makanya dari tadi saya lebih suka menggunakan istilah “mengembangkan” daripada “membentuk” ketika merujuk pada brand personal. Kita contohkan brand personal dengan warna kulit. Kulit yang gelap udah hampir mustahil buat diubah. Yang bisa dilakukan cuma memilih treatment yang benar supaya si kulit tadi tetap sehat, segar, berkilau, dan bebas dari gangguan—dengan kata lain di-enhance. Brand personal juga sama. Seorang individu yang dari awalnya emang udah seneng sama dunia anak-anak, ga bakal bisa diubah interest itu. Yang bisa dilakukan cuma mengembangkan interest tadi menjadi fokus yang bisa dsajikan untuk pemirsa sekalian.

Image atau citra, di lain pihak, adalah kesan yang didapat oleh orang lain terhadap diri kita. Dan karena sifat citra itu adalah impresi eksternal (berasal dari luar seorang individu), maka akan sangat mudah dibentuk dan dimanipulasi. Oh, kita sebenernya ga suka yang namanya masak karena panas, berminyak, cape, de-el-el, de-es-be. Tapi kita tau basis penggemar masak itu gede banget di dunia medsos. Maka kita bisa merancang sebuah imej yang sesuai dengan target sekalipun itu bukan interest kita, apalagi fokus.

Tren self-branding masa kini

Membentuk citra yang bertolak belakang dengan realitas itu ga salah. Selama ga merugikan orang lain secara finansial atau membahayakan jiwa semua pihak, ga salah dong, tampil layaknya koki jebolan sekolah kuliner di Perancis padahal aslinya ngebalik telor mata sapi aja gagap? Enggak, itu ga salah. Tapi apa pantas?

Minta tolong disadari dong, ketika kita membentuk sebuah imej, apalagi kalo kita adalah seorang influencer, kita bisa dengan mudah menggiring opini publik. Apa yang bahaya dari potensi ini? Emang mau, pake krim pemutih yang bahkan nama mereknya aja ga bisa kita lafalkan cuma gegara diendorse YouTuber ternama?

Self-Image dan Personal Branding Bisa Sejalan

Dari obrolan di atas, mudah emang memberi label negatif terhadap proses pembentukan citra dan mengaitkannya dengan kebiasaan berbohong atau berpura-pura. Yang perlu diingat adalah citra diri yang mapan memang bisa didapatkan dari pengembangan brand personal. Tapi pembentukan citra melalui brand personal itu berarti kita sebaiknya ga pake bohong. Ketika kita sedang live di akun Instagram dan berbicara tentang satu topik atau me-review suatu barang yang sama sekali ga kita kuasai, kita udah membohongi orang lain. Boleeeh, boleh banget kok, mengulas satu produk. Ga dilarang kok, ngebahas satu topik hangat minggu ini. Tapi ketika berbicara, pastikan dulu kita punya bukti, data, referensi, dan kalo bisa pengalaman di dalam apa yang sedang dijadikan pembahasan. Tapi ketika kita dengan antusias me-review satu produk padahal kita bahkan ga punya pengetahuan paling dasar tentang produk itu, semua imej yang kita bentuk akan keliatan kosong melompong.

Ato ketika kita pengen keliatan punya kepribadian yang feminin padahal aslinya tomboi, misalnya; kan ada kesenjangan fundamental antara apa yang disajikan ke orang lain dan apa yang sebetulnya. Sebaiknya apa yang ada di kehidupan nyata sejalan dengan apa yang diperlihatkan secara online. Baru deh, citra bisa terbentuk secara alami dan brand personal bisa mengakar di pikiran orang-orang.

Tapi itu juga ga berarti kita kudu saklek sama satu hal ya.

Misalnya gini, si tomboi tadi misalnya. Kepribadiannya cuek, awur-awuran, suka ngasal, kalo ketawa masyaallah nyaringnya. Tapi di saat yang sama dia juga adalah individu yang senang dengan dunia merancang busana, misalnya. Ga masalah ditampilkan. Toh, itu benar. Toh, ga ada yang direka-reka. Dengan mengembangkan satu aspek sifat diri ini menjadi brand personal, siapa tau malah mendatangkan keuntungan. Untuk contoh tadi, siapa tau si cewek tomboi malah jadi desainer andalan dan banyak yang tertarik menggunakan jasanya? Who knows, kan? Tapi kalo udala tomboi, pake baju cenderung simpel, trus dikondisikan jadi individu dengan keahlian merancang busana, bisa jadi bumerang kan? Berbohong kepada orang lain itu sama dengan membohongi diri sendiri. Kenapa? Karena ketika kita menampilkan suatu kepura-puraan, di saat yang sama kita pun tahu bahwa itu semua dusta.

Jujurlah pada diri sendiri

Dampak Pencitraan

Citra yang dibentuk tanpa memperhatikan risiko dan efek akan mendatangkan potensi pergeseran value di tengah masyarakat. Ujung-ujungnya, bermedsos akan menjadi tidak sehat. Kemudahan dalam menampilkan citra diri lewat internet juga memberi jalan untuk mengubah gaya hidup pengguna media sosial. Tolok ukur kesuksesan standar, terutama di mata anak muda, akan sangat tidak masuk akal jadinya. Sukses itu relatif dan subjekti ya, sifatnya. Ada yang mengukur kesuksesan ketika lulus kuliah S3, punya anak 2, dan istri yang bahagia. Ada yang menilai kesuksesannya ketika dia udah punya kerajaan bisnis di kelima benua. Tapi ketika opini bisa dengan mudah digiring hanya dengan menatap layar handphone dan menonton sepotong kehidupan pesohor di Amrik sana, semua bisa terdekonstruksi.

Konsep kebahagiaan bisa-bisa mentok di apa yang dilihat di Instagram, misalnya, dan akhirnya semua akan berpikir bahwa sukses itu adalah ketika di garasi ada berderet mobil impor, punya rumah harganya triliunan, dan gadget yang dipakai harus yang paling baru. Mentereng semuanya. Ketika pada kenyataannya ga bisa dapetin itu semua, realitas tabrakan sama idealisasi, dan akhirnya depresi.

Ini yang sebaiknya kita ingat ketika mencoba mengembangkan brand personal kita: Bahwa pada akhirnya branding pada diri sendiri akan berujung pada pembentukan citra dan citra itu memiliki potensi yang besar dalam mempengaruhi hidup banyak orang lain.

Hal lain yang perlu diingat adalah bahwa medsos itu mesin raksasa yang ditenagai tren. Begitu tren habis, mesinnya mandek. Dan kalo medsosnya udah ga lagi mengakomodasi suatu tren, kelar deh kesempatan membanggakan sesuatu yang ga sesuai dengan realitas.

Berinternet dengan Sehat

Dari sisi konsumen internet, butuh kesadaran dan pembentukan pola pikir. Sadari bahwa apapun bisa terlihat indah dan menarik di internet dan media sosial. Tanpa kehati-hatian dalam menyaring input, berinternet tidak akan sehat dan bermedsos akan hanya menimbulkan keirian. Dampaknya ga bagus buat mental dan mungkin bisa berakibat fisik juga. Jadi apa yang harus dilakukan ketika mengkonsumsi unggahan orang lain di medsos?

  1. Pertanyakan kapasitas dan bukti

Contoh paling gampang buat poin ini adalah ketika menonton sebuah ulasan produk kecantikan. Pada banyak kasus, si pengulas biasanya cuma dibayar untuk cuap-cuap tentang satu produk. Kalo dihadapkan dengan yang satu ini, bedah dulu si pengulasnya. Siapa orang ini?. Ketika si pengulas produk mengklaim bahwa satu produk itu aman, tanyakan pada diri kita sendiri dulu, sudah seahli apa si pembicara sampai bisa mengeluarkan statement tertentu? Seorang beauty vlogger harusnya paham estetika tapi ga berarti dia punya kapasitas yang cukup buat merambah ranah medis.

Ketika seseorang menampilkan sebuah kegiatan secara online, kulik kembali ke belakang. Lacak rekam jejaknya di feed dan bandingkan kesesuaian latar belakangnya dengan apa yang ditampilkan.

Klaim-klaim dan statement yang dibuat secara online sebaiknya dikroscek dengan mencari referensi sendiri, jangan ditelan mentah-mentah. Cari sumber validnya. Baca referensi dari ahlinya. Bandingkan dengan apa yang kita terima.

  1. Pertanyakan masalah certification

Lagi-lagi, ini lebih kepada persoalan ulasan produk ya. Ketika ada selebram yang mempromosikan satu produk, kulik produk itu sampai ke akar-akarnya. Cari tahu tentang keamanan penggunaan, bahan-bahan yang digunakan, saaampai klaim dukungan dari pakar. Semua harus dalam keadaan serba dipertanyakan. Kalo ternyata si produk banyak kontroversi, jangan tutup mata dan telinga dari apa kata orang. Kalo semua orang bilang bahaya, masa kita tetap mau pake cuma karena loyal dengan seorang selebgram?

  1. Pertanyakan, “Relatable ga, sih?”

Ngeliat YouTuber pelesir ke Eropa bulan ini terus ke Afrika bulan besoknya terus ke Antartika taun depannya emang menghibur. Ngeliat YouTuber hangout sama artis-artis papan atas di tempat mahal setiap hari emang nyenengin. Tapi jangan buru-buru kepingin. Bandingin dulu sama kenyataan hidup sendiri. Gapapa dijadikan cita-cita. Mimpi itu bagus buat memacu kerja keras. Tapi jangan larut dan lupa sama kenyataan. Kalo ternyata gaya hidup yang dilihat ga bisa diterapkan di kehidupan hari-hari, move along….

  1. Pertanyakan soal kebutuhan

Kalo ada selebgram ngerekomenin furnitur bagus buat leyehleyeh sementara kita ga butuh, jangan buru-buru ke toko mebel. Sayang uangnya. Sayang waktunya. Sayang energinya. Iya kalo kita punya budget nganggur. Lah kalo duitnya cuma cukup beli beras sama isi dapur buat sebulan, masa iya mau di-pake beli furnitur? Kalo ternyata butuh pun, di-liat lagi deh, mendingan. Siapa tau ada barang yang serupa tapi dengan harga yang jaaauh di bawah yang direkomendasikan.

Catatan Tambahan

Topik bahasan ini sudah pernah saya jadikan tema obrolan di Instagram. Coba klik di sini ya, buat lengkapnya. Siapa tau bisa menambah informasi lebih jauh lagi. Salam.