Haruskah Menyekolahkan Anak di Sekolah Internasional?

Pertanyaan di atas bisa dijawab dengan simpel: Ya kalo emang sanggup, why not? Kesanggupan di sini ada banyak macamnya tapi ya yang paling penting sih, sanggup ga sama biayanya. Sekolah macam begini ga murah loh ya. Jumlah total uang yang dihabiskan di akhir periode pendidikan bisa buat keliling dunia kali…. Jadi ya, kudu kuat di dompet biar kita sebagai orang tua ga kelabakan menuhin kebutuhan pendidikan si buah hati. Tapi pada praktiknya nih ya, realitasnya bisa beda dan hal ini semua bisa jadi ga sesimpel itu. Sebelum kita bahas lebih jauh, mending kita bahas deh, apa bedanya sekolah nasional dan sekolah internasional.

Perbedaan Fundamental

Hal paling mencolok yang membedakan kedua tipe sekolah ini adalah kurikulum. Kurikulum di international schools biasanya ya kalo ga IGSCE (International General Certificate of Secondary Education, ya IB (International Baccalaureate). Dari namanya aja udah keliatan dong, berbeda. Kurikulum yang diterapkan seperti ini membuat penjurusan di sekolah jadi beda juga dari sekolah nasional. Kalo biasanya sekolah nasional menerapkan jurusan IPA-IPS (kadang juga ada yang nerapin jurusan Bahasa), tapi kalo di international schools, bidang minat boleh berat ke satu area, tapi juga include mata pelajaran dari area lain. Jadinya, oke boleh komposisi mata pelajaran dibanyakin natural science-nya, tapi minimal ada mata pelajaran dari bidang social science juga.

Yang kedua, bahasa. Yang namanya international schools, bahasa pengantar pada proses belajar-mengajar ya pastinya bahasa internasional juga—dalam hal ini Bahasa Inggris. Interaksi murid baik dengan guru, staf, maupun dengan sesama murid harus menggunakan Bahasa Inggris. Makanya ga heran lulusan international schools pasti casciscus ngomong bulenya. Beberapa internationa schools lain mengijinkan penggunaan bahasa lain di luar sesi belajar—selama proses belajar-mengajar berlangsung, wajib menggunakan Bahasa Inggris. Guru-guru dan sesama murid pun akan banyak membantu jika satu anak mengalami kesulitan dalam hal grammar atau vocabulary. Mengambil kelas selain Bahasa Inggris pun jadi mata pelajaran wajib juga. Ada yang menawarkan kelas bahasa Arab, Cina, Jerman, atau Jepang. Gimana dengan Bahasa Indonesia? Bahasa Indonesia diperlakukan sebagai bahasa kedua malahan.

Terus, perbedaan lain terletak pada tugas sekolah. Murid-murid international school biasanya diajarkan sejak dini untuk bisa merangkai proses berpikir logis dan ini terefleksi dari metode penugasan dari sekolah. Makalah adalah hal biasa bagi murid-murid di sekolah macam ini. Murid juga dilatih untuk melakukan eksperimen sendiri terutama dalam bidang ilmu science kayak Biologi, Fisika, atau Kimia. Mereka akan dituntut untuk menyusun hipotesis sendiri, membuat metode penelitian sendiri, membahas hasil penelitian, dan membuat konklusi dari penelitian itu tadi. Untuk kelas-kelas bahasa, biasanya mereka akan ditugaskan untuk membuat analisis karya sastra, entah novel, cerpen, atau puisi.

Cara belajar di international schools juga dirancang lebih interaktif. Murid-murid diberi kebebasan untuk mengetengahkan pendapat mereka sendiri terhadap sebuah subjek. Guru dituntut untuk membangun jalur komunikasi dua arah dengan murid, ga cuman bediri depan kelas dan ceramah.

Kalo soal ujian, international schools biasanya menerapkan Ujian Tengah Semester, Ujian Akhir Semester, plus ujian resmi sesuai kurikulum terapan. Ujian kurikulum ini biasanya cuma diadakan di akhir, sebelum kelulusan. Bentuk ujiannya juga esai semua, ga ada pilihan ganda.

Guru di international schools bervariasi. Beberapa sekolah hanya meng-hire satu guru asing untuk Bahasa Inggris, yang lainnya orang Indonesia—meskipun demikian, interaksi harus tetap berbasis Bahasa Inggris. Sekolah-sekolah lain ada juga yang meng-hire beberapa guru asing untuk mengampu berbagai mata pelajaran.

Keuntungan

Dari perbedaan-perbedaan itu, kita bisa deh cari tau apa aja keuntungan sekolah di sekolah internasional. Naaah, karena pola belajarnya menitikberatkan pada interaksi dan komunikasi dua arah, murid-murid jadi terlatih buat menyampaikan isi kepalanya dengan cara yang lebih tertata dan logis. Jadi ga pasif aja gitu, nerima materi tanpa mencerna dan memahami.

Dengan banyak aturan yang diterapkan, utamanya soal penggunaan Bahasa Inggris dan metode pengerjaan tugas, murid-murid juga jadi belajar soal disiplin dan menghargai hasil kerja sendiri.

Kombinasi antara kurikulum internasional dan penggunaan bahasa asing yang intens juga bisa mempersiapkan murid untuk mengantisipasi globalisasi dan iklim persaingan dunia. Resume mereka kelak akan lebih “bersinar” dan mereka ga bakal kaget sama kehidupan dan dunia perkuliahan yang emang menuntut kemandirian individu.

Di international schools juga sering ada program overseas yang mengharuskan murid untuk terbang ke negara lain untuk belajar. Ini memungkinkan si anak untuk menyerap budaya modern lebih mudah dan membantu merestrukturisasi pola pikirnya secara akademis juga.

Kekurangan

Nah, dengan berbagai keuntungan itu tadi, sulit ya, rasanya ngebayangin ada yang namanya kekurangan sekolah internasional. Kenyataannya, kekurangan itu hal lazim dalam dunia pendidikan, termasuk dalam hal international schools juga.

Pertama, murid-murid harus ikut ujian akhir dua kali. Pertama, ujian berbasis kurikulum sekolah, kedua, Ujian Nasional. Ini wajib, sudah ditetapkan dalam peraturan Mendikbud tahun 2014. Hasilnya apa? Murid bisa jadi kewalahan membagi fokus karena harus mengimbangi kedua kewajiban di saat yang bersamaan.

Kedua, beban ujiannya jauh lebih membebani. Tiap mata pelajaran menuntut ujian dalam 2 bentuk, teori dan studi kasus. Itu belum ditambah ujian dalam bentuk extended essay sepanjang at least 4000 kata.

Ketiga, mengingat materi pelajaran yang bermuatan internasional, murid kemungkinan tidak bisa mengenal negaranya sendiri dengan lebih baik. Emang sih, pas kelas Sastra Indonesia mereka akan juga belajar tentang sejarah, tapi apakah itu cukup?

Kekurangan nomor empat terletak pada keharusan menggunakan Bahasa Inggris di sekolah. Iya sih, mereka akan lebih cakap dalam menggunakan bahasa asing, tapi nantinya ketika diminta berbicara dengan Bahasa Indonesia, pola tutur mereka akan tidak konsisten. Bahasa Inggris yang dicampur Bahasa Indonesia. Atau sebaliknya.

Jadi Sebaiknya Gimana?

Menyekolahkan anak di mana itu kewajiban dan mau di mana menyekolahkan anak itu adalah hak. Jadi ya, suka-suka orang tuanya kan? Asal itu tadi, sanggup menyokong si anak sampai pendidikannya selesai, ga putus di tengah jalan. Tapi ada pertanyaan yang jauh lebih krusial lagi sebenarnya: Apakah keputusan untuk memasukkan anak ke sekolah bertaraf internasional itu didasari oleh tren, gengsi, atau emang tuntutan kebutuhannya seperti itu? Hal lain yang kudu banget dipertimbangin ada rasio antara keputusan tersebut dengan output-nya nanti. Sebanding ga? Sesuai ga? Worth it, ga? Apa yang dimaksud dengan “output”? Coba kita sederhanakan deh, ya. Kira-kira nanti profesi yang diambil si anak sepadan ga dengan latar belakang pendidikannya? Iya, bener; anak mau jadi apa nanti itu ga ada yang bisa nebak. Tapi paling ga, kita sebagai orang tua udah menerapkan navigasi profesi sejak si anak masih kecil. Coba kita kasi si anak berbagai macam alternatif pilihan profesi sejak jenjang pendidikan dasar sehingga nanti fokus si buah hati dalam belajar bisa lebih terarah. Relevansinya apa dengan international school? Ini akan membantu kita dalam memilihkan sekolah mana untuk si kecil. Kurikulum mana yang kira-kira akan membantunya meraih cita-citanya. Orang tua boleh kan, bermimpi anaknya menjadi seseorang dengan profesi yang so orang tua idamkan? Boleh dong. Asalkan tetap pada jalurnya, ga memaksakan apa pun tapi tetap memberikan pengarahan. Ga ada orang tua yang pingin anaknya jadi pengangguran atau menjalani profesi yang tidak menjamin masa depannya sendiri. Misalnya nih, kita mau anak kita jadi dokter. Ya udah, dari kecil diarahkan. Boleh pilih sekolah berkurikulum internasional asalkan itu emang beneran bisa mendukung jalur profesi di masa depannya nanti.

Tapi jangan mentang-mentang udah yakin sekolahnya cocok dan bagus, malah dibiarin aja sekolah yang mengambil-alih pola pengasuhan si anak ya. Ini bisa berujung pada inkonsistensi budaya belajar nanti.

Orang Tua dan Peran Mereka

Gini, di sekolah internasional itu kan semuanya berbasis Bahasa Inggris. Kalo kita lepas tangan dan ngebiarin sekolah sepenuhnya mendidik si anak, dampaknya bisa sangat berbahaya. Bahasa itu cikal-bakal budaya. Membiarkan anak fasih ber-Bahasa Inggris tanpa filter dan upaya pengimbangan di rumah akan melunturkan nilai budaya negara sendiri. Akibatnya si anak akan lupa pada jati dirinya sendiri dan berkiblat ke negara barat. Ga masalah menjadikan negara barat sebagai tolok ukur, toh mereka emang maju kok. Banyak pelajaran dan ide yang bisa dipetik dan diterapkan dari negara-negara maju. Tapi kalau proses pergeseran nilai itu terjadi dengan gegabah dan kita ga secara proaktif mengendalikannya, lahirlah sifat “mengagungkan negara barat dan merendahkan budaya sendiri”. Anak-anak yang bersekolah di sekolah internasional harus diberikan pengertian bahwa Indonesia juga merupakan bagian dari komunitas global. Mereka harus dibuat paham bahwa yang namanya “internasional” itu tidak otomatis konotasinya adalah negara-negara barat. Mereka harus tahu bahwa harga diri dan jati diri mereka sendiri membuat mereka pantas berdiri di antara anggota penduduk dunia lain, sama rata, sejajar.

Terus, dari sisi orang tua, ga bosen-bosennya diingatkan, perhatikan masalah pendanaan. Sekolah macam begini tuh, ga murah. Uang akan mulai terkikis sedikit demi sedikit mulai dari fase pendaftaran saaampai akhirnya nanti lulus. Jangan berpikir, “Ya udah semampunya dulu aja.” Ga ada ceritanya begitu. Sekali menginginkan anak sekolah dengan gaya internasional, selanjutnya harus konsisten. SD-nya internasional, masa SMP-nya lokal? Ga haram sih, emang, apalagi kalo emang udah tuntutannya begitu. Tapi akibatnya si anak bisa ngalamin culture shock. Dari yang tadinya mereka diajarkan untuk bersikap kritis, aktif, dan komunikatif, mereka akan dibentuk ulang dalam pola sekolah nasional yang… yaaa… you know-lah. Makanya, sebelum memutuskan cuma karena excited, ukur dulu semuanya. Pikir-pikir lagi perbandingan antara sustainability pekerjaan kita yang sekarang dengan kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak.

Terus lagi, nilai-nilai yang diajarkan ke anak sebaiknya konsisten dengan apa yang mereka serap dari sekolah. Kalo di sekolah mereka dituntut mandiri dan aktif, di rumah mereka juga harus diminta berperilaku sama. Jangan pas di sekolah mereka serba dinamis dan terbiasa dengan proses yang cepat, di rumah mereka serba dilayani, serba dijadikan raja dan ratu, serba diiyakan maunya. Serba selalu dibantu sama asisten rumah tangga kebutuhannya. Neneknya dateng ke rumah, jadi manja. Jadi ngelendot-ngelendot. Anak manja pada orang tua atau kakek-neneknya itu wajar. Tapi kita juga harus dengan sadar mencoba menanamkan apa yang diajarkan sekolah mereka. Supaya apa? Supaya karakternya konsisten dan apa adanya. Fokusnya ga kebagi-bagi, di sekolah harus mandiri, di rumah jadi manja. Sesuai aja semuanya, ya. Sesuai porsi, sesuai kebiasaan. Inget, kita menginginkan anak yang bermental baja dalam mengantisipasi arus globalisasi yang terkenal kejam itu.

Free Trial Classes untuk Anak? Tabukah?

Hai Teman DRYD,

Kapan itu kita kan udah ngomongin gaya parenting 3 negara maju di Eropa kan ya. Dari pembahasan tempo hari itu, kesimpulannya bisa diambil kalo di ketiga model pola asuh di ketiga negara itu sama-sama menekankan free will, kemandirian, dan peningkatan kemampuan emosional anak-anak. Anak-anak di Denmark, Perancis, dan Jerman udah dikenalin sejak dini ke konsep-konsep menghargai diri sendiri, kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri dan menghadapi konsekuensi, kemauan untuk berdiri di kaki sendiri dan mencari solusi untuk sebuah masalah, dan menghargai orang lain serta norma-norma kesopanan. Hal-hal seperti ini juga bisa nih, ternyata, diobservasi dari cara orang-orang tua di negara maju dalam membiarkan anak-anak mereka memilih pendidikan yang mereka inginkan. Pastinya dong, peran orang tua masih tetap ada. Tapi itu lebih kepada pemberian pengarahan. Jadi para orang tua mengambil posisi sebagai sumber saran dan masukan aja. Selebihnya si anak dibiarkan menikmati sebesar mungkin kesempatan untuk mencoba segala macam opportunities yang ada dan tersedia.

Ini sedikit kontras dengan apa yang ada di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Pola pengasuhan di negara kita masih bercorak involved 100%. Si anak bukan lagi diarahkan atau diberi masukan. Mereka jadi disetir dan di-micromanage. Anak jadi ga punya ruang untuk memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan. Ga salah siiih, membantu memilihkan sesuatu untuk anak. Toh juga namanya anak-anak kan masih milih berdasar kesukaan, excitement, dan fun. Sementara di lain pihak kita orang tua mikirnya udah jauh perkara masa depan. Tapi kalo pola manajemen hidup anak kita dasarkan pada agenda pribadi, gimana dong? Kan jadinya kita ngegedein anak buat jadi versi kecil-nya diri kita sendiri. Si anak juga kan individu merdeka yang kemauannya mungkin berbeda jauh dari orang tuanya. Kalo kita maksain agenda-agenda tertentu, jangan heran nanti kalo ternyata hidup yang dia jalanin adalah sebuah penyiksaan ketimbang petualangan. Jangan heran nanti kalo kuliahnya lamaaa banget ato bahkan ga selesai. Jangan heran kalo nanti dia serba kesel sama kita dan hubungan kita jadi ga harmonis dengan dia.

Orang tua membantu anak menentukan pilihan hidup itu kewajiban. Sayangnya, banyak yang gagal membedakan “membantu” dan “mengendalikan”. Kita mau punya anak, berarti kita juga harus mau menerima kenyataan bahwa kita sedang membesarkan seorang manusia yang datang lengkap dengan free will, interes, pola pikir, dan hasratnya sendiri. Kita ga lagi ngegedein versi mini dari kita, bukan kloning kita. Tugas kita cuma memastikan si anak bertumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang aman, nyaman, kondusif, dan positif. Selebihnya kita cuma perlu memfasilitasi supaya si anak bisa sadar dan menemukan apa yang ia kehendaki dan kemudian realisasikan.

Cara Pandang Umum

Dengan konsep seperti yang dijabarkan di atas, yuk kita coba lirik kecenderungan orang tua kebanyakan yang sering banget nolak daftarin anaknya ke program free trial class. Kelas-kelas model begini biasanya disediakan untuk anak-anak usia TK atau playgroup dan bisa berjalan dalam 3 kali pertemuan atau bahkan 3 minggu.

Kelas – percobaan – gratis. Dari kata-kata penyusun istilah itu aja kita udah bisa nebak apa yang ngedorong orang tua ogah daftarin anaknya.

Di pikiran kita, yang namanya kelas itu adalah ruangan tempat proses belajar mengajar antara murid dan guru berlangsung kan ya. Nah, bayangannya adalah sebuah sekolah formal yang didukung oleh kurikulum formal dan valid.

Di pikiran kita, yang namanya percobaan itu temporer. Setelah masa uji kelar, udah deh ga lanjut. Signifikansi program percobaan jadinya gimana? Kan gitu mikirnya.

Di pikiran kita yang gratis-gratis itu pasti kualitas rendah karena otak kita udah kadung keprogram buat mikir kalo kualitas tinggi itu berbanding lurus dengan harga. Kalo bisa, semakin mahal berarti semakin baik.

Tanpa disadari, ketiga pola pikir ini bikin kita ngerasa ogah buat nyoba kelas-kelas gratis dari bimbel-bimbel yang ada. Dan kalo dipikir-pikir masuk akal juga sebenernya. Siapa juga yang mau anaknya duduk dalam program kelas tambahan yang temporer dan diberikan secara cuma-cuma, kan? Tapi ngebiarin opini semacam ini berlarut-larut juga berarti kita membiarkan kesempatan buat anak bisa ngembangin potensinya lebih dini terbang gitu aja. Kenapa? Yuk kita bahas manfaat kelas percobaan itu apa aja. Kelas percobaan itu intinya mempersiapkan anak untuk periode pendidikan yang lebih serius lagi di masa depan. Kurikulum yang diberikan di kelas percobaan ga jauh beda dari sekolah formal; jadi, ini yang perlu diluruskan: Kelas percobaan itu bukan tempat penitipan anak atau sesuatu yang buang-buang waktu.

Manfaat di Segala Sisi

Tapi Dok, kan katanya di Eropa sana anak-anak ga harus nyoba belajar formal terlalu dini.”

Emang. Kan kelas percobaan itu sifatnya pengondisian dan fungsinya buat nyari tau bakat dan minat sejak dini. Kurikulum mungkin sama dengan sekolah formal, tapi aplikasinya bisa aja dikemas dengan cara berbeda, kan? Lagian kan ini modelnya suplemental gitu, jadi anak ga kaget dengan pola akademis sebetulnya nanti. Paling engga, dengan mendaftarkan anak ke kelas percobaan, kita bisa tau kemampuan interaksi sosial dasarnya kek gimana. Karena, coba deh, bayangin, hal terberat buat anak-anak ketika pertama kali masuk sekolah itu pasti membangun relasi dengan teman-teman sekelas dan guru. Dia harus keluar dari zona nyaman di rumah, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan di saat yang sama harus menyerap materi ajar di papan tulis. Dengan kelas percobaan, paling tidak si anak udah dilatih buat berada di antara orang-orang yang bukan komponen keluarganya.

Dan karena kurikulum yang diterapin ga jauh beda dari sekolah formal, kita tau kalo kualitasnya juga ga main-main sekalipun programnya cuma-cuma. Program kelas percobaan ini dikasi gratis juga kan karena menguntungkan si bimbel, guys. Mereka toh butuh anak didik supaya bisnis bisa jalan toh? Nah, harapannya itu program kelas percobaan gratis ini tuh, bisa jadi media promosi dan pengenalan jasa pada calon-calon klien. Ditambah lagi nih ya, program percobaan kaya gini nih, bisa banget ngebantu bimbel buat mengevaluasi kemampuan anak mengikuti kurikulum yang tersedia jadi nantinya penempatan level belajarnya bisa efisien dan efektif. Kalo kita asal daftarin anak ke bimbel langsung masuk ke level intermediate, misalnya, sementara si anak bahkan belum memiliki penguasaan materi dasar, ya kan jadi masalah lagi nantinya.

Dari sisi anak juga lebih besar manfaatnya.

Pertama, bimbel bisa memperkenalkan kurikulum pada orang tua dan anak dan kita bisa mempelajari apakah program terkait memang benar sesuai dengan kemampuan si anak dan minatnya. Kita bisa liat nih, misalnya, “Oh, anak saya agak lemah di bidang matematika tapi ternyata bimbel ini fokusnya ke pengasahan kemampuan berhitung.” Nah, kita bisa ambil strategi yang mungkin relevan. Entah mungkin bisa meneruskan program dan mendaftarkan anak secara resmi ke bimbelnya. Atau mungkin berpikir biar nanti sekolah formal yang meng-handle sisi kelemahan si anak jadi sekarang cabut dulu dari bimbelnya dan cari program lain yang mendukung minat anak.

Kedua, seperti yang udah sempet disinggung tadi, mendaftar ke program kelas percobaan tuh, bisa membantu anak beradaptasi dengan lingkungan sosial-akademis dengan lebih natural. Anak bisa terbiasa menghabiskan beberapa jam ga bareng orang tuanya di rumah aja jadi nanti pas beneran masuk sekolah, dianya ga kaget dan harus beradaptasi dengan berbagai macam perubahan di saat yang sama. Ga semua anak loh, punya kemampuan adaptasi yang fleksibel. Ada yang mungkin karena ga sanggung mengimbangi perubahan yang datang secara sekaligus malah terganggu proses belajarnya.

Ketiga, anak bisa belajar tentang kedisiplinan lebih awal. Mungkin program kelas percobaan ga sama persis dengan sekolah. Tapi pasti ada serentetan aturan yang kemudian diimplementasikan kepada para peserta belajar. Karena udah dibekali dengan pengalaman berurusan dengan jadwal dan urutan kegiatan, anak bisa lebih udah mengikuti aturan sekolah yang pastinya lebih strict dan di rumah pun bisa mempraktikkan apa yang sudah dia dapatkan.

Dari sisi orang tua juga ada hal yang bisa didapatkan. Karena sifatnya gratis, orang tua bisa leluasa memutuskan untuk tidak menggunakan jasa satu bimbel tanpa ada konsekuensi finansial apapun. Tentunya ini semua setelah melakukan observasi terhadap respons si buah hati terhadap program yang ada ya. Selanjutnya, orang tua juga bisa memberikan masukan kepada pihak penyelenggara setelah masa percobaannya selesai. Kritik dan poin-poin evaluasi bisa dilancarkan agar program kelas percobaan yang disediakan pihak bimbel bisa mengoreksi diri.

Yang Perlu Dipersiapkan

Kita sebagai orang tua ga boleh gede gengsi cuma karena fasilitas yang dikasi itu gratis. Kalo ada di antara Teman DRYD yang punya pola pikir “mahal pasti bagus”, coba deh ilangin. Jaman sekarang udah ga relevan punya pola pikir kayak gitu. Nyobain kelas gratis ga bikin prestige turun, sumpah. Lah, buktinya program kelas percobaan gratis justru banyak diadakan oleh bimbel-bimbel ternama. Sekarang, kalo bimbel terkenal dan punya nama aja mau ngasi gratisan, siapa kita nolak-nolak, kan?

Taaapiii, jangan mentang-mentang gratis, semuuua kelas percobaan dicobain. Bukannya ga boleh sih, tapi, pertama, kasian anaknya. Masa dari pagi sampe sore ngabisin waktu di luar rumah? Kan si buah hati juga perlu ada di sekitar kita selama masa pertumbuhan. Kita aja yang orang dewasa bisa bosen dengan rutinitas, apa lagi anak-anak. Terus, si anak jadi ga punya fokus. Pagi-siang, les membaca. Siang-sore, les berhitung. Sore-agak malaman, les musik. Padet banget gitu, mainnya kapan? Lebih kacau lagi kalo si anak udah masuk sekolah. Sebagian besar harinya diabisin di sekolah. Sisanya di les-lesan. Selain ga efisien dan terlalu menyedot energi, kita ga bisa liat ini anak potensinya di bidang apa. Si anak pun keteteran meng-handle semuanya tanpa sempat mengasah satu keahlian yang dia emang punya ketertarikan.

Nah, kalo udah dapet satu program yang dinilai cocok sama anak, apa nih yang kudu dilakuin?

Pertama, pelajari dengan mendetail kurikulum yang tersedia, sarana dan prasarana, dan aturan yang ada di satu lembaga itu. Lingkungannya harus aman, harus nyaman, harus bersahabat dengan anak-anak. Staf-staf dan pengajar harus orang yang paham berkomunikasi dengan anak-anak. Kurikulumnya harus sejalan dengan target minat dan fokus anak. Pokoknya semuanya harus serba kondusif demi anak.

Kedua, kita kudu proaktif tanya ini-itu ke semua elemen di bimbel itu, gurukah, stafnya-kah. Semuanya. Bodo amat dikira ceriwis dan nyinyir. Gratis ato engga, kita sebagai orang tua punya hak sepenuhnya buat tau seluk-beluk tentang bimbel penyelenggara. Dan kalo pihak penyelenggaranya fair dan paham aturan main, pastinya ga keberatan ngasi jawaban untuk semua pertanyaan kita.

Ketiga, balik lagi ke fokus si anak. Pertimbangkan tiga hal dari anak: potensi, minat, dan kemampuan. Setelah itu, bandingkan dengan rancangan kurikulum bimbel, apakah sudah tepat dan mampu menyokong ketiga poin itu?

Keempat, pahami kategori program belajar yang akan diambil. Ada lembaga pendidikan yang menyediakan program-program belajar akademis, ada juga yang bidangnya berat ke segi seni. Bisa nih, kita pertimbangin buat daftarin anak ke kumon kalo emang potensinya gede di bidang akademis. Kalo si anak nunjukin minat besar ke dunia seni, kelas mewarnai atau menggambar atau mungkin balet bisa dijadikan alternatif. Anak-anak belajar robotika juga ga tabu loh. Malah bisa mengasah rasa ingin tahu si anak bahkan, bagus buat tumbuh-kembang intelijensinya nanti.

Minimalisasi Intervensi

Jadi gitu. Kita sebagai orang tua harus banget ngebiarin anak memilih sendiri bidang minat dan fokusnya. Kita ga perlu intervensi, toh juga kelas-kelas percobaannya masih gratis. Ga ada konsekuensi apapun kok, kecuali mungkin kita kudu ngorbanin sedikit waktu buat ngajak anak keluar dari rumah. Gapapa, kan manfaatnya juga dobel-dobel. Jangan intervensi apa-apa ya. Anak maunya apa, kita turutin dulu soal ini. Oh, mau belajar ngitung cepet? Yuk! Oh, mau belajar nari muter-muter pake rok tutu? Yuk! Oh, mau belajar bikin robot? Yuk! Anak-anak biasanya fokusnya ilang secepet minatnya berubah kok. Biarin aja dulu dia sadar dan menemukan apa yang menjadi passion-nya. Intinya mah, yang penting dia bisa kenal dunia pendidikan dari awal, belajar disiplin lebih dini, bisa paham arti kemandirian sejak kecil, dan mengenal konsep free will secara fundamental.