Lima Holy Grail Ingredients Versi Dinuth

Hai Teman DRYD,

Pada ngeh ga, sama yang namanya holy grail? Kalo dalam Bahasa Inggris, “holy grail” itu adalah idiom, semacam majas yang artinya merujuk pada suatu hal yang paling diinginkan oleh semua orang. Kadang-kadang, istilah ini juga memiliki konotasi suatu hal yang banyak dicari oleh semua orang tapi sangat sulit untuk didapatkan. Tapi kita ga lagi mau bicara soal istilah ini dan definisi persisnya apa, kok.

Fokus topik bahasan kita kali ini adalah bahan-bahan yang biasanya digunakan dalam produk-produk skin care. Kenapa disebut bahan-bahan holy grail? Karena semuanya punya khasiat yang mujarab jadi pasti selalu dimasukkan ke dalam produk, ga boleh engga. Wajib. Kudu. Kayak, kalo sebuah produk ga menyertakan bahan-bahan holy grail ini, ga bisa deh dibilang komplit, apalagi efektif untuk perawatan.

Saking lazim bahan-bahan yang dimaksud, Teman-teman pasti seenggaknya pernah baca dari daftar komposisi sebuah produk, deh. Yuk, daripada lama-lama, langsung bahas ya.

Retinol

Sebagai salah satu anggota kelompok vitamin A, retinol juga disebut dengan nama vitamin A1-alkohol. Retinol bisa ditemukan secara alami dalam makanan dan penggunaannya biasanya berkaitan dengan penanganan kondisi kekurangan vitamin A seperti xerophthalmia. Dalam kaitannya dengan produk skin care, retinol bekerja dengan cara meningkatkan produksi kolagen dalam badan dan mengenyalkan kulit. Retinol juga bisa memperbaiki warna kulit dan mengurangi bercak-bercak pada permukaan kulit. Penggunaan produk berbasis retinol bisa menyebabkan lapisan kulit atas mengering dan bersisik. Oleh karena itu, penggunaan produk tipe ini sebaiknya dilakukan pada malam hari kemudian diikuti dengan pengaplikasian pelembap dan tabir surya di pagi harinya. Retinol dapat mengurangi tampilan kerut pada kulit, meningkatkan ketebalan dan elastisitas kulit, menunda penguraian kolagen (yang sejatinya menjaga kekencangan kulit), dan mencerahkan bercak kecoklatan akibat paparan matahari. Retinol pertama kali muncul pada awal dekade 70an dan dipasarkan sebagai obat jerawat.

Cara kerja retinol bertumpu pada kemampuannya untuk merangsang sel-sel kulit di permukaan untuk luruh lebih cepat yang kemudian digantikan oleh sel-sel kulit baru yang tumbuh di bagian bawah. Klaim bahwa retinol menipiskan kulit adalah tidak benar. Emang sih, pada minggu-minggu pertama penggunaan, retinol akan mengakibatkan pengelupasan kulit dan membuat kulit kemerahan. Tapi sebetulnya retinol justru mempertebal kulit. Retinol juga bisa mengikis lapisan bercak kecoklatan dan menghambat pembetukan melanin.

Struktur kimia retinol

Hyaluronic Acid (HA)

Secara alami, hyaluronic acid dapat ditemukan di dalam tubuh manusia dengan konsentrasi paling tinggi terdapat di mata dan persendian. HA diklaim sebagai obat antipenuaan tapi klaim ini sebetulnya tidak sepenuhnya benar. Menyebut HA sebagai sumber hidrasi kulit adalah lebih akurat. HA memiliki struktur molekul makro, yang berarti molekul HA berukuran terlalu besar untuk bisa diserap oleh kulit secara efektif. Khasiat HA terdapat pada kemampuannya untuk menjaga tingkat hidrasi kulit. Sifat HA adalah humectant, artinya HA mengikat air di dalam strukturnya sendiri dan ini akan menyebabkan kulit bisa menahan air lebih lama. Ketika HA diaplikasikan, zat ini akan menarik kelembapan dari lapisan dalam kulit sehingga lapisan atasnya bisa terhidrasi. Jika kita sedang berada di area dengan kelembapan tinggi, HA pun bisa menarik molekul air di udara ke kulit kita. HA mungkin ga bisa menghapus garis-garis halus dan kerutan pada kulit tapi kelembapan ekstra yang HA berikan bisa membantu menjaga kekenyalan kulit, yang akhirnya membuat kulit terlihat lebih halus. Garis-garis halus di sekitar mata dan bibir biasanya juga disebabkan oleh dehidrasi jadi penggunaan HA akan membantu membuat kulit tidak terlalu berkerut. HA pun bekerja baik untuk segala macam tipe kulit. Zat ini bisa meningkatkan kelembapan kulit tanpa menambah jumlah kandungan minyak. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa HA memiliki kemampuan antioksidan dan antiradang. HA membantu mempercepat regenerasi penyembuhan kulit.

Pengaplikasian serum hyaluronic acid.

Alpha Hydroxy Acids dan Beta Hydroxy Acids

Alpha dan Beta Hydroxy Acids, atau AHA/BHA, merupakan dua asam hidroksi yang membantu mengeksfoliasi kulit, yang berarti keduanya bisa digunakan untuk membuang lapisan sel kulit mati.

Zat-zat yang termasuk AHA adalah:

  1. Glycolic Acid, diturunkan dari gula tebu, memiliki kemampuan antimikroba,
  2. Malic acid, diturunkan dari apel,
  3. Lactic acid, diturunkan dari laktosa,
  4. Tartaric acid, diturunkan dari ekstrak buah anggur,
  5. Mandelic acid, diturunkan dari ekstrak almon,
  6. Citric acid, diturunkan dari buah sitrus.

AHA biasanya ditambahkan ke dalam produk untuk membantu menyeimbangkan keasaman kulit dan mencerahkan bercak kulit.

Zat-zat yang termasuk BHA adalah:

  1. Asam salisilat, lazim digunakan untuk mengatasi jerawat,
  2. Beberapa formula asam sitrat juga masuk dalam kategori BHA dan berperan dalam mengangkat sel kulit mati dan menekan produksi minyak,

Fungsi AHA dan BHA meliputi:

  1. Menanggulangi radang yang menyertai jerawat atau rosacea,
  2. Membantu membuat warna kulit lebih rata,
  3. Mengendalikan tampilan pembesaran pori-pori dan mengatasi kerutan,
  4. Mencegah jerawat dengan membuka pori-pori,
  5. Mengangkat sel kulit mati,
  6. Merestrukturisasi tekstur kulit,

AHA/BHA ampuh mengikis sel kulit mati.

Niacinamide

Dikenal juga dengan nama nicotinamide atau vitamin B3, niacinamide adalah zat yang gampang larut dalam air dan dapat mengurangi pembesaran pori-pori, mengencangkan pori-pori, meratakan warna kulit, menghaluskan garis-garis wajah dan kerutan, mengurangi kekusaman, dan mengencangkan permukaan kulit yang kendor. Vitamin ini juga bisa mengurangi dampak kerusakan dari faktor eksternal dengan cara memperbaiki pertahanan alami kulit terhadap lingkungan luar. Manfaat lain niacinamide adalah memperbarui dan mengembalikan kelembapan dan hidrasi kulit dengan cara merangsang produksi ceramide—zat yang berfungsi menjaga kekencangan kulit.

Struktur kimia niacinamide.

Vitamin C

Pertama kali ditemukan tahun 1912, vitamin c diisolasi tahun 1928 dan merupakan jenis vitamin pertama yang diproduksi secara kimiawi di tahun 1933. Vitamin ini dikenal luas karena kemampuannya dalam membantu tubuh memerangi radikal bebas. Karena kemampuannya ini, vitamin C bisa mempercepat proses regenerasi kulit. Tapi kemampuan antioksidan bukan satu-satunya potensi yang dimiliki vitamin C. karena sifatnya yang sangat asam, vitamin C bisa digunakan secara topikal untuk memicu kulit menyembuhkan diri dengan cara mempercepat produksi kolagen dan elastin—dua serat protein yang secara alami bisa membantu menjaga kulit tetap kenyal dan kencang. Vitamin C juga mampu membatasi pembentukan melanin pada kulit.

Jeruk adalah salah satu sumber vitamin C.

Skincare dan Kombinasi yang Tepat

Yang perlu diingat di sini adalah harga mahal bukanlah sebuah jaminan untuk efektivitas suatu produk. Kita harus proaktif dalam memperhatikan dan mempelajari bahan-bahan aktif dalam sebuah produk, yang artinya kitalah yang harusnya menjadi yang paling tahu tentang apa yang dibutuhkan oleh kulit kita sendiri. Ada beberapa bahan yang sebaiknya tidak dikombinasikan pada saat pengaplikasian karena akan membuat efektivitas masing-masing bahan menurun secara signifikan. Efeknya bisa menyebabkan kulit bruntusan. Ini kemudian diartikan oleh customer produk tersebut tidak cocok dengan kulitnya padahal sebetulnya kombinasi bahan-bahan tersebutlah yang menyebabkan gangguan. Produk yang tersedia di pasaran pasti sudah melalui dan lolos proses uji jadi tidak mungkin produsen salah menggabungkan ingredients yang ada. Customer sendirilah yang kemudian salah mengkombinasikan unsur-unsur yang ada dikarenakan ketidakpahaman mengenai semua bahan yang disertakan.

Nah, yuk, kita liat kombinasi apa aja yang patut mendapatkan perhatian khusus.

  1. Vitamin C dan AHA/BHA

Vitamin C merupakan asam yang bersifat aktif. Jika dikombinasikan dengan AHA/BHA jenis apapun bisa membuat struktur molekul asamnya menjadi tidak stabil, dan mengganggu keseimbangan pH kulit. By the end of the day, bahan-bahan yang semestinya bisa bermanfaat malah jadi tidak memiliki dampak apapun.

  1. Vitamin C dan Niacinamide

Keduanya sama-sama bisa menyamarkan bekas jerawat dan membantu penyembuhan kulit yang luka. Tapi ketika digabungkan, struktur rantai molekul vitamin C bisa dirusak oleh niacinamide.

  1. Retinol dan vitamin C

Jika vitamin C dan retinol digunakan bersamaan, kulit bisa mengalami pengelupasan, kemerahan, dan iritasi. Kombinasi keduanya juga menyebabkan kulit menjadi jauh lebih sensitif terhadap matahari. Retinol sebaiknya diaplikasikan malam hari sementara vitamin C bisa dipakai pada siang hari.

  1. Retinol dan AHA/BHA

Retinol mungkin memang bukan zat eksfoliasi tapi tetap memiliki kemampuan untuk mengelupas permukaan kulit dan merangsang regenerasi kulit. Penggunaan kedua bahan bersamaan akan mengakibatkan kulit kering dan teriritasi serta mengganggu keseimbangan kelembapan kulit dan berpotensi menyebabkan breakout jerawat.

  1. Glycolic acid dan salicylic acid

Kedua asam ini sangat mujarab dalam perkara mengangkat sel kulit mati tapi ketika dikombinasikan malah akan menyebabkan sensasi menyakitkan.

Penggunaan layer ingredients yang tidak tepat berisiko menyebabkan bruntusan.

Bumil dan Busui Skincare-an? Emang Ga Bahaya, Gitu?

Pasti pada paham dong ya, skin care itu penting. Yang lebih penting lagi adalah membentuk rutinitas perawatan kulit untuk hasil yang maksimal. Di banyak kasus, perawatan kulit yang secara rutin dilakukan dan dengan cara yang tepat bisa menjadi kunci untuk mendapatkan kulit yang glowing, segar, sehat, dan awet muda. Naaah, yang jadi pokok pembicaraan sekarang tuh, skincare untuk ibu hamil. Masa kehamilan adalah periode yang pastinya membahagiakan untuk semua perempuan. Tapiii, waktu hamil juga di saat yang sama bisa menjadi masa-masa yang penuh stres. Makan jadi kagok, takut ga dibolein. Kopi jadi dilema buat perempuan pencinta kafein. Aktivitas jadi kikuk, takut ada yang salah. Hal yang sama juga pasti dirasakan ibu-ibu hamil dan menyusui kalo udah soal skincare. Beberapa malah memutuskan untuk membiarkan kulitnya ga terawat selama kehamilan karena satu keraguan: Apakah nanti produk perawatan yang dipakai tidak akan berpengaruh pada janin yang dikandung? Hasilnya, kulit jadi kusam. Tau sendiri kan, masa kehamilan itu penuh dengan produksi hormon yang fluktuatif dan ini bikin kulit jadi salah satu yang terkena dampaknya.

Ibu hamil juga perlu perawatan kulit

Berdasarkan diskusi dengan dokter oktavianus wahyu spog., saya menyimpulkan bahwa selain dari hal-hal yang jelas berbahaya (alkohol dan rokok, misalnya) bagi kehamilan, ga ada kok, yang ga boleh untuk digunakan oleh bumil dan busui. Yang ada tuh, keharusan buat memperhatikan komposisi ingredients-nya. Memang ada beberapa bahan yang lazim ditemukan dalam produk-produk kecantikan dan perawatan kulit yang bisa berbahaya baik untuk ibu hamil maupun yang menyusui. Selagi bahan-baahan itu dihindari, sah-sah aja kok, melakukan perawatan. Skincare itu hak azazi semua anak bangsa loooh, termasuk bumil dan busui. Perempuan hamil dan ibu-ibu menyusui punya hak yang sama dengan yang lain untuk tetap terlihat cantik dan menawan dari masa kehamilan sampai periode menyusui saaampai nanti-nanti juga. Hidup kesetaraan hak untuk menjadi cantik! Perjuangkan hak-hak ibu-ibu untuk tetap terlihat awet muda!

Oke-oke, saya berhenti orasi….

Apa Aja Yang Berbahaya?

Naaah, muncul deh, pertanyaan berikutnya: “Kalo gitu apa sih, Dok, skincare yang aman untuk ibu hamil dan menyusui?”

Biarkan saya memulai dengan mengatakan bahwa jawaban untuk pertanyaan itu sedikit tricky. Sedikit rumit-rumit simpel.

Gimana sih, Dok?

Sabaaar…. Gini. Ketika hamil, kita kudu banget waspada dalam 2 hal: Terhadap bahan-bahan yang berbahaya untuk kita DAN untuk si bayi dalam kandungan. Ketika lepas melahirkan dan masuk periode menyusui, risiko untuk pribadi mungkin menurun tapi risiko untuk si bayi masih tetap tinggi karena potensi transfer komposisi kimia sangat besar melalui air susu yang diberikan. Di sini letak rumitnya. Kudu pake banget baca komposisi dalam suatu produk. Buat amannya sih, ya konsultasi ke dokter. Jangan deh, coba-coba ini-itu tanpa tau efek samping. Inget, kita bertanggung jawab untuk menjaga kesehatan si anak. Sisi simpelnya ya itu tadi, setelah tau apa-apa yang menjadi larangan dan masuk blacklist, hindari dan semua akan baik-baik saja.

Apa aja bahan-bahan skincare yang tidak boleh untuk ibu hamil?

  1. Retinol, retin-A, asam retinoat, dan tazaratene. Bahan-bahan turunan vitamin A ini emang ajaib banget dan ampuh buat bikin kulit halus. Tapiii, penggunaannya bisa mengganggu perkembangan janin dan yang paling bikin ngeri adalah potensinya untuk menyebabkan cacat dari lahir.
  2. Hydroquinone dan benzoyl peroxide. Keduanya adalah bahan aktif pemutih kulit. Kenapa harus dihindari? Uji coba pada hewan menunjukkan keduanya memiliku potensi karsinogenik yang tinggi.
  3. Asam salisilat dan produk-produk yang mengandung asam salisilat, termasuk aspirin.

Kesemuanya sebaiknya dihindari. Tapi dari 3 kelompok itu, retinol dan hydroquinone adalah yang paling wajib diwaspadai karena keduanya termasuk yang umum ditemukan dalam produk perawatan kulit. Aspirin masuk ke dalam kategori abu-abu; sebagian pakar tidak menganjurkan sama sekali, sebagian lain membolehkan tapi dalam dosis yang rendah terutama untuk pasien yang memang kondisinya memerlukan perawatan berbasis salisilat. Lagi-lagi, sebaiknya konsultasi dulu ke dokter kulit dan dokter Sp. OG buat mastiin semuanya aman. Anjuran dan instruksi dari pakar harus diikuti ya.

Hydroquinone

Hydroquinone

Sebagai salah satu bahan yang sering ditambahkan dalam produk perawatan kulit, hydroquinone bisa dibilang primadona yang sedang naik daun. Dan itu bukan tanpa alasan. Bahan ini diklaim ampuh mencerahkan kulit karena kemampuannya untuk menekan jumlah melanin dalam kulit. Makanya dia banyak ditemukan dalam produk-produk yang menargetkan kondisi hiperpigmentasi kulit seperti bekas jerawat, melasma, age spot, dan sun spot. Hydroquinone sudah digunakan sejak abad ke-19 tapi kontroversinya muncul relatif baru-baru ini. Tahun 2006, U.S. Food and Drug Administration mengadakan penelitian yang mengungkap sejumlah risiko kesehatan yang dibawa oleh bahan kimia turunan benzena ini. Secara umum hydroquinone berpotensi menyebabkan ochronosis, photosensitivity, reaksi alergi. Ochronosis adalah jenis kerusakan kulit yang justru menimbulkan noda gelap kebiruan atau abu-abu. Photosensitivity adalah kondisi kulit yang terlalu sensitif terhadap sinar UV. Kulit yang di-treatment menggunakan hydroquinone sebaiknya dilapisi dengan sunscreen supaya tidak terbakar matahari. Reaksi alergi sebetulnya efek yang masih langka dari penggunaan hydroquinone. Beberapa individu yang sangat sensitif bisa mengalami pembengkakan pada mulut, sensasi tersengat pada kulit, dan kesulitan bernapas.

Belum ada riset yang secara pasti menegaskan bahaya hydroquinone untuk ibu hamil dan menyusui. Uji coba klinis masih terbatas pada hewan tapi hasilnya seharusnya cukup untuk membuat ibu-ibu mikir dua kali buat make hydroquinone pas hamil. Sebagai tambahan, zat ini punya tingkat serapan yang terbilang tinggi ke dalam kulit, sekitar 35-45%. Emang sih, hydroquinone adalah bahan yang paling efektif buat mencerahkan wajah, tapi apa ga takut make produk yang segitu gampang diserap kulit pada saat hamil dan menyusui sementara efek sampingnya masih jadi sumber perdebatan?

Arbutin

Sebagai alternatif, ada bahan lain yang bisa digunakan untuk mencerahkan kulit. Kojic acid, misalnya. Asam ini dihasilnya dari proses fermentasi minuman sake dan bisa dijadikan pertimbangan. Ada juga arbutin yang diekstrak dari daun bearberry. Arbutin adalah hydroquinone alami, struktur kimianya mirip dengan yang sintetis. Ada lagi yang namanya azelaic acid yang diturunkan dari jamur Pityrosporum ovale, yang jauh lebih soft daripada hydroquinone. Niacinamide juga bisa masuk itungan. Antioksidan yang diekstrak dari tumbuh-tumbuhan ini lebih aman digunakan karena struktur kimianya lebih stabil.

Retinol dan Retinoid

Di saat hamil, ada dua hal yang menjadi concern terbesar: kulit kusam dan terlihat tua dan jerawat. Treatment anti-aging bisa diambil untuk kasus pertama sementara treatment jerawat bisa mengatasi yang kedua. Yang jadi masalah adalah produk-produk anti-aging sebagian besar mengadung retinol dan perawatan jerawat memakai retinoid supaya efektif. Dan keduanya membawa risiko besar untuk ibu hamil.

Retinol diturunkan dari vitamin A dan dikenal dengan nama yang berbeda-beda (Accutane, retinyl palmitate, atau Retin-A). Retinol dikenal ampuh mengatasi tanda-tanda penuaan dini pada kulit. Tapiii, efek samping retinol untuk ibu hamil juga berisiko besar, terutama jika dosisnya terlampau berlebihan. Potensi merusak zat ini muncul pada naiknya risiko kecacatan janin seperti kelainan otak, jantung, tulang belakang, kepala, dan wajah. Jumlah retinol yang diserap kulit sebenernya ga banyak. Tapi risiko yang terlalu besar bikin lebih baik sama sekali dihentikan penggunaannya seengganya sampai si bayi lahir. Selama kehamilan dan menyusui sebaiknya beralih ke sunscreen biasa aja supaya aman.

Retinoid mengandung komposisi yang terdiri dari tretinoin, tazarotene, isotretinoin, bexarotene, alitretinoin, adapalene, dan citretin. Retinoid umumnya dimanfaatkan sebagai bahan aktif penghilang jerawat dan psoriasis, dikonsumsi secara oral maupun topikal. Penggunaan topikal (dioles) terhitung aman untuk janin ketimbang oral (diminum) karena persentase zat yang diserap jauh lebih kecil sehingga potensi transfernya ke kandungan pun minim. Tapiii, menurut European Medicines Agency, retinoid punya efek samping berupa gangguan saraf baik pada ibu maupun janin. Jadiii, mending ga usah pake sama sekali deh supaya risiko bisa ditekan seminimal mungkin.

Azelaic acid

Nah, kalo untuk jerawat mungkin sifatnya lebih ke perawatan per kasus nih ya, asal dominan bahan alami dan ga ada retinoid, relatif aman. Atau boleh coba azelaic acid yang bisa melawan jerawat sekaligus hiperpigmentasi. Tapiii, apa dong Dok, alternatif retinol untuk ibu hamil? Kan tetep pingin keliatan muda walopun lagi hamil.

  1. Coba pake ekstrak kedelai. Kandungan di dalam ekstrak kedelai serupa dengan asam retinoat yang dalam retinol. Ekstrak kedelai bisa merangsang fibroblast, sel-sel kulit yang memproduksi kolagen, tanpa efek kering pada kulit seperti yang lazim ditemukan dalam penggunaan retinol. Kekurangannya cuma satu: Ekstrak kedelai punya efek mirip estrogen yang kadang malah memperburuk pigmentasi kulit terutama pada kulit gelap ato kondisi melasma (noda gelap yang sering muncul saat kehamilan). Tapi ada kok, produk ekstrak kedelai yang dikemas tanpa efek samping mirip estrogen ini.
  2. Vitamin C juga punya andil dalam pembentukan kolagen. Vitamin C punya komponen antioksidan yang melindungi sel kulit dari kerusakan penuaan dini dengan cara menekan radikal bebas yang sering muncul ketika kulit terpapar sinar matahari.
  3. Kojic acid memberikan hasil serupa dengan retinol tanpa efek samping yang sama. Penggunaan retinol utamanya menghasilkan kulit yang bebas dari garis-garis halus. Efek pencerah kulit dari retinol, di lain pihak, didapat dari kemampuannya untuk mempertebal lapisan dermis dan mengikis lapisan sel kulit mati di permukaan kulit. Kojic acid yang diturunkan dari jamur bekerja dengan cara yang lebih simpel: Zat ini menekan enzim pembentuk pigmen kulit.

    Kojic acid

  4. Glycolic acid bisa menghilangkan minyak berlebih dan mengikis sel kulit mati. Penggunaan asam ini menyebabkan luka-luka mikroskopik pada permukaan kulit yang merangsang pembentukan kolagen. Produk glycolic acid dari dokter kulit biasanya mengandung konsentrasi sebesar 40%. Tapi produk non-resep dengan konsentrasi rendah pun tetap punya efek yang menjanjikan. Tapiii, kesamaannya dengan retinol adalah keduanya sama-sama meningkatkan sensitivitas terhadap sinar UV. Gunakan sunscreen untuk perlindungan tambahan ya.

Glycolic acid

Konklusi

Kita udah panjang-lebar ngebahas skincare untuk ibu menyusui dan ibu hamil. Udah butek juga pasti kan, liat nama-nama zat kimia? Jadi, intinya apa? Pembahasan kali ini bukan dimaksudkan supaya bukibuk semua parno. Engga, sama sekali engga. Kehamilan itu, suka ga suka, adalah masa penuh tekanan, Buk. Kalo mau dibahas parno, wah semua hal bisa bikin takut. Megang ini, takut. Ngelakuin itu, ragu. Makan ini, minum itu, mikir panjang dan lama. Ini cuma sekadar ngingetin, ngerawat kulit itu harus dilakuin sekalipun lagi hamil ato menyusui. Punya janin yang lagi di kandungan, punya bayi yang lagi disusui, semuanya ga boleh jadi alasan buat skip perawatan. Jangan skincare yang dihindari karena mikir zat kimianya pasti berbahaya. Sekarang gini, okelah takut treatment, okelah niatnya meminimalisasi zat kimia ke dalam janin. Tapi siapa yang bisa jamin risiko ga bakal dateng dari sumber lain? Air yang diminum bisa jadi sumber masalah. Makanan yang masuk bisa jadi perkara. Udara yang dihirup bisa bikin prahara.

Ngeri kan? Iya, emang ngeri—kalo kita cuma fokus ke risiko. Identifikasi kondisi dan risiko. Telaah dulu benerbener. Baru deh, ambil tindakan. Selama kita tau kandungan skincare untuk ibu hamil dan ibu menyusui yang aman, perawatan kulit ga bisa dilewatin gitu aja. Kalo emang ga berani treatment sendiri di rumah, ke dokter dulu. Tanya ini-itu. Perluas dulu pengetahuan, jangan buru-buru parno. Dokter biasanya paham kondisi ibu hamil dan menyusui dan harusnya tau mana yang berbahaya, mana yang masih meragukan, dan mana yang aman. Perhatian lebih sebaiknya juga diberikan untuk memilah bahan skincare berdasar tingkat bahaya karena nanti efeknya bakal kerasa lewat pemberian ASI.

Emang ke klinik pas kondisi hamil atau menyusui ga dilarang, Dok? Nah lo…. Ga ada yang larang. Bumil dan busui gapapa ke klinik buat treatment kulit. Jangan salah, treatment kulit khusus buat bumil dan busui itu adaaa. Apa aja treatment dan di mana treatment-nya bisa dilakuin? Nah, bagian ini bisa dijawab dengan nanya ke admin klinik DRYD. Di sana ada justru udah disiapin tipe treatment yang emang khusus diperuntukkan buat bumil dan busui. Semua prosedur juga ada di bawah monitor dan kontrol dokter SPOG jadi keamanannya bisa dimaksimalkan.

Jadi gitu. Ibu hamil juga punya hak buat cantik. Ibu menyusui juga berhak terlihat awet muda. Ibu-ibu ga boleh kalah sama yang belum ada di fase itu. Semua berhak untuk cantik! Semua berhak untuk glowing! Hidup glowing! Ayo perjuangkan kesetaraan hak untuk glowing!

Iya-iya, saya berhenti orasi….