Pernah ga, Teman DRYD, suatu hari rambutnya rontok banyak banget, ngumpul di bantal pas bangun pagi? Ato mungkin pas mandi gitu, cuci rambut, trus saluran air sampe kesumbat gegara rontokan rambut? Ato ada ngga, temen yang notice gitu, pas ngeliat baju Teman-teman dipenuhi helaian rambut yang luar biasa nyuri perhatian publik? Kondisi ini emang bikin was-was sih. Saat rambut berguguran lebih cepat dari umumnya, itu berarti ada sesuatu yang terjadi dalam badan kita. Mau tau “sesuatu” itu apa?
Sebelum ke sana, mungkin kita kupas sedikit lebih dalam ya, perkara rambut rontok di luar batas normal ini.
Misteri Rambut Berguguran
Rambut rontok itu ada nama ilmiahnya, alopecia androgenik istilahnya. Kondisi ini ga cuma hinggap di perempuan; laki-laki juga bisa terkena. Bedanya, kerontokan yang terjadi pada laki-laki itu lebih berpola; jadi lebi kentara karena kebotakannya berbentuk spot-spot tertentu di area kulit kepala. Sementara di perempuan, alopecia ini terjadi secara merata di seluruh area kulit kepala; jadi penipisannya bisa dibilang lebih samar. Tapiii, di beberapa kasus, ada juga perempuan yang menderita alopecia dengan kombinasi kedua pola tadi itu.
Alopecia androgenik pada perempuan terjadi karena kerja androgen, yaitu hormon laki-laki yang pada kondisi normal ada dalam komposisi yang sangat sedikit pada tubuh perempuan. Jangan salah loh ya; sekalipun berjenis kelamin perempuan, di dalam tubuh tetap ada hormon laki-laki tapi dengan jumlah yang jauh lebih rendah ketimbang hormon perempuan.
Penyebab Kerontokan Rambut
Apa penyebabnya? Banyak. Tapi kalo emang ada kaitannya dengan komposisi hormon, alopecia jenis ini biasanya ditimbulkan oleh ovarian cysts, misalnya. Atau juga bisa karena konsumsi pil kontrasepsi yang tinggi kadar androgen, kehamilan, atau menopause.
Pada keadaan hormon yang tidak seimbang dalam tubuh perempuan, ada yang namanya hormon DHT (dihydrotestosterone), tipe hormon androgen yang berperan dalam pembentukan karakter jenis kelamin laki-laki seperti pembentukan rambut-rambut tubuh. Tapi keberadaan DHT ternyata juga bisa menyebabkan kerontokan rambut secara dini apalagi jika jumlahnya terlalu banyak di dalam tubuh. Jadi hormon ini yang jadi biang kerok rambut yang berguguran karena dia ngebikin folikel jadi mengecil.
Fase menopause pada perempuan juga jadi momok menakutkan karena begitu memasuki tahap ini, tubuh mengalami penurunan dalam hal produksi hormon-hormon perempuan (seperti estrogen dan progestin). Ketika jumlah hormon ini menurun, tubuh perempuan akan jauh lebih sensitif terhadap hormon laki-laki, termasuk DHT itu tadi. Karena sifatnya bergantung pada fase menopause, biasanya kondisi ini akan datang ketika seorang perempuan menginjak umur 50 atau 60 tahun.
Gangguan kelenjar tiroid juga bisa menyebabkan alopecia karena kelenjar inilah yang bertanggung jawab dalam pembentukan rambut-rambut baru. Singkatnya, kelenjar ini yang mengatur jumlah helaian rambut pada tubuh seorang manusia. Kondisi hipotiroidisme (produksi hormon tiroid rendah) atau hipertiroidisme (produksi hormon tiroid berlebihan) bisa mempengaruhi kerontokan rambut dan di saat yang sama bisa menyebabkan rambut yang tersisa menjadi lemah, kering, dan rapuh.
Seberapa Lazim Sih, Kerontokan Rambut Pada Perempuan?
Empat puluh persen kasus kerontokan rambut pada perempuan terjadi di saat umur 40 tahunan dan ini bisa jadi isu yang membuat tekanan batin meningkat apalagi kalo penyebabnya ga cepat ditemukan dan ditangani.
Dua belas persen dari perempuan dalam rentang umur 20-29 tahun juga mengalami alopecia. Perempuan usia 80 tahun ke atas memiliki 80% kemungkinan kerontokan rambut berkaitan gangguan hormon. Faktor genetis juga memainkan peran dalam hal ini. Jika Teman DRYD memiliki ibu, saudara perempuan kandung, atau saudara perempuan lain memiliki riwayat rambut rontok, kemungkinannya jadi lebih besar juga Teman mengidap kondisi yang sama.
Yang berbahaya dari alopecia androgenik adalah bahwa kondisi ini sifatnya permanen thanks to hormon DHT itu tadi. Karena si hormon ini membuat kantong-kantong rambut mengecil, rambut jadi berguguran dan ga lagi tumbuh. Kabar baiknya, alopecia androgenik adalah gangguan yang sebetulnya bisa diatasi dengan menggunakan beberapa pilihan treatment.
Yang paling penting di sini adalah seberapa cepat kita menanggapi gejala awal kerontokan rambut alopecia. Makin cepat kita menanganinya, makin besar kesempatan kita buat menyelamatkan sebanyak mungkin helaian rambut.
Solusinya Apa Dong?
Yang pertama harus ditanamkan dalam diri adalah, ga usah mikir it’s the end of the world begitu nemu rontokan rambut berjubel di bantal atau saluran kamar mandi. Kondisi ini masih bisa disembuhkan kok, mau disebabkan hormonal imbalance atau apa pun itu. Trus, jangan ragu ke dokter begitu nemu gejala awal karena dokterlah yang bisa ngebantu kita mencari tahu penyebab utama kerontokan rambut. Kalo emang hormon yang jadi pemicu, ya nanti pasti dikasi treatment yang sesuai buat ngatasin persoalan gangguan hormon pada tubuh.
Yang pertama ada spironolactone. Obat ini bersifat antiandrogen; jadi dia bekerja dengan cara menekan produksi testosteron pada tubuh perempuan, termasuk si DHT. Obat ini juga diberikan berdasar resep jadi kita kudu nih, konsultasi ke dokter karena penggunaannya bisa berefek samping lain.
Ada juga yang namanya saw palmetto. Obat ini penggunaannya topikal, jadi langsung dioles ke kulit. Cara kerjanya adalah dengan menghambat sintesis testosteron menjadi DHT.
Trus ada minoxidil. Ini juga obat oles yang cara kerjanya lebih kepada merangsang asupan darah ke kulit kepala yang akhirnya memberi boost kepada pertumbuhan rambut. Tapiii obat ini bukan obat yang langsung mempengaruhi komposisi hormon badan ya, karena dia ga menekan produksi DHT. Simpelnya, obat ini mempercepat pertumbuhan helaian rambut aja. Penggunaannya lebih efektif ketika mencapai periode 3 hingga 6 bulan.
Yang terakhir adalah dengan proaktif mengubah pola makan dan gaya hidup. Memperbaiki pola makan dengan asupan mikronutrien seperti zat besi dan protein mungkin ga mempengaruhi komposisi hormon tubuh secara langsung ya. Tapi tetep aja cara ini bisa membantu dari dalam. Hasilnya emang ga instan tapi cepat atau lambat pasti bakal ada perubahan positif terhadap kekuatan akar rambut dan ketebalan jumlah helaiannya, terutama jika diet tinggi zat besi dan protein ini dijalankan selama 3-6 bulan. Trus kelola stres dengan benar. Jangan salaaah, stres juga berperan besar dalam menimbulkan alopecia karena stres juga menyebabkan ketidakseimbangan komposisi hormon. Jika stres kita kebanyakan disebabkan pekerjaan, coba deh, atasi akar permasalahannya. Mungkin waktunya buat ganti pekerjaan baru? Tapi ini tentunya bukan solusi buat semua orang ya, ga semua orang bisa segampang itu melepas pekerjaannya cuma gegara rambut rontok. Kan ga lucu…. Makanya, coba cari cara buat mengelola tekanan mental yang disebabkan lingkungan kerja. Kalo punya kebiasaan minum minuman berkafein atau sehari-hari ngerokok, coba dikurangi kalo ga bisa dieliminasi sama sekali. Olahraga juga penting, ga boleh ditinggal.
Final Words
Nah, dari pembahasan kali ini, yang paling penting buat diingat itu adalah bahwa alopecia androgenik itu bukan sebuah “hukuman mati”, yaaa, Teman DRYD. Efeknya mungkin emang permanen tapi kalo kita sigap dan dengan tepat mengambil tindakan, bisa kok diatasi. Yang penting itu semuanya butuh proses. Penggunaan obat butuh waktu sebelum menunjukkan hasil. Mengubah pola makan dan gaya hidup itu juga butuh waktu lebih lama lagi buat ngasi efek positif. Harus sabar, konsisten, dan teguh karena masa menjalani proses perawatan ini adalah periode kita diuji dengan sangat-sangat menyeluruh. Jangan panik, jangan tambah stres. Semua akan kembali lebat dan indah pada saatnya.