Memukul dan Menggigit: Ketika Anak Cuma Tahu Ekspresi Fisikal untuk Berkomunikasi

Beberapa orang di dekat saya sempat mengeluh tentang anak yang tiba-tiba suka sekali menggigit atau memukul mereka. Awalnya si buah hati maniiis banget. Tau-tau, ga ada ujan ga ada badai, kebiasaannya jadi berubah lebih agresif. Saya jadi kasian karena kondisi begini biasanya gampang banget bikin si ortu jadi kepikiran. Kaya, mereka jadi otomatis mikir, “Apa sih sebenernya yang salah? Apa saya salah didik apa gimana? Apa ada faktor tertentu di dalam rumah yang bikin anak saya jadi seagresif ini ya?” Itu baru sebagian kecil contoh overthinking ortu ketika menghadapi kenyataan bahwa anaknya yang tadinya berperilaku sweet bak malaikat tiba-tiba berubah jadi monster.

Yang jadi masalah lebih besar lagi adalah bahwa si buah hati ga cuma ngejadiin ortunya sendiri sebagai sasaran. Orang lain, terutama teman-teman sebayanya, juga bisa kena. Siapa yang ga stres dengan situasi macam begini? Digigit atau dipukul anak itu emang sakit, apalagi anak-anak ga bisa ngukur efek dari tindakannya itu. Main gigit atau pukul aja. Kadang sampe bikin kulit memar dan bahkan mungkin berdarah. Tapi rasa sakit fisikal ini kalah mengkhawatirkan dibandingkan dengan kemungkinan si anak berubah menjadi bully saat dia nanti masuk sekolah.

Memukul atau menggigit sebetulnya pola perilaku yang lambat laun bisa hilang seiring dengan pertambahan usia si anak. Tapi akan lebih baik jika tindakan seperti ini bisa ditangani sejak dini sebelum berubah menjadi pola perilaku yang lebih sulit untuk dikoreksi di masa depan. Konsep dasarnya seperti ini: Perilaku agresif pada anak-anak umur di bawah tiga tahun itu lebih mengarah kepada masalah “latihan” yang minim ketimbang kenakalan murni. Batita adalah makhluk yang baru lepas dari gendongan ibunya, skill sosial dan komunikasi mereka saaangat terbatas dengan jumlah kosa kata yang bahkan jauh lebih minim lagi. Makanya, mereka menggunakan cara menggigit atau memukul orang lain sebagai cara untuk menyampaikan protes atau ketidaksetujuan yang mereka rasakan karena cuma itu yang mereka anggap logis. Nalarnya belum sempurna. Empatinya belum berkembang sempurna. Mereka ga suka sama sesuatu tapi karena keterbatasan daya penyampaian, mereka beralih pada ekspresi fisikal untuk menyampaikan apa yang dirasakan. Kitalah sebagai orang tua, manusia dewasa yang logika dan empatinya udah jauh lebih matang, yang seharusnya bisa mengajarkan si anak untuk mengembangkan kemampuan sosial yang lebih baik tanpa mengambil jalan yang justru bikin kebiasaan menggigit dan memukul jadi makin buruk.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan dan Apa yang Semestinya Dihindari?

Yang jangan dilakukan adalah:

Pertama, JANGAN PERNAH memukul balik si anak dan berpikir itu akan menjadi sarana pembelajaran bagi si anak. Sadar ga sih, ketika kita memukul buah hati kita karena kelakuannya itu hanya akan memberikan pembenaran buat dia sendiri? Berpikir bahwa memukul adalah tindakan pendisiplinan yang efektif itu cuma bakal bikin si anak mikir kalo kekerasan fisik itu bisa diterima. Orang tuanya aja suka mukul, apalagi anaknya.

Kedua, JANGAN PERNAH memberikan hukuman dalam bentuk apa pun. Tujuan kita adalah membantu anak untuk mengelola semua emosi yang dia rasakan. Tapi pemberian hukuman justru bakal jadi kontraproduktif karena itu hanya akan membuatnya berpikir bahwa dirinya adalah jahat dan nakal. Ini, pada prosesnya nanti, hanya akan memperburuk perilaku agresifnya.

Ketiga, JANGAN PERNAH memusingkan apa yang orang lain katakan. Berkaitan dengan kasus anak suka memukul atau menggigit, fokus kita harus seratus persen diberikan kepada si anak, bukan kepada nama baik kita sebagai orang tua atau pendapat orang lain. Jadi jangan pernah takut kalo perilaku anak akan membuat imej kita buruk dan dianggap sebagai orang tua yang tidak handal. Semua orang punya porsi masing-masing. Semua orang punya cara masing-masing.

Keempat, JANGAN PERNAH memaksa si anak meminta maaf atas perbuatannya. Kata kuncinya di sini adalah “memaksa” ya. Batita mungkin sudah fasih meminta maaf tapi permintaan maaf dari seorang batita itu ga pernah tulus kok. Mereka cuma minta maaf buat keluar dari kemungkinan dimarahi. Jadi gimana? Ga mungkin dibiarin aja kan? Tentunya engga. Ketika si anak sudah lebih tenang dan tantrumnya ilang, ajak dia bicara sesederhana mungkin tentang apa yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki situasi atau tentang bagaimana dia bisa membuat si orang yand digigit atau dipukul merasa lebih baik. Caranya gimana? Coba berikan gambaran tentang tindakan kebajikan ke si anak. Atau kalo bisa didemonstrasikan langsung tindakan kebajikan itu malah lebih baik. Kita bisa ngajarin si anak buat bertanggung jawab atas tindakannya sendiri dan berempati pada orang lain juga.

Yang sebaiknya dilakukan adalah:

Pertama, monitor buah hati kita. Batita itu kaya cuaca, susah banget ditebak. Tapi sebagai orang tua kita mungkin punya cara tersendiri buat mengenali fase frustrasi atau kelelahan anak kita sendiri ketika sedang bermain dengan anak-anak lain. Begitu kita menangkap sinyal buruk dari suasana hati si anak, langsung aja deh dia dibawa pergi sebelum keadaanya makin buruk.

Kedua, tetaplah tenang. Kita orang tua juga manusia jadi bisa dimengerti ada rasa kesal ketika anak bertingkah tidak pantas. Tapi hasil positif bisa lebih mudah didapatkan jika kita tetap tenang dalam situasi anak memukul atau menggigit. Jika kita menunjukkan kekesalan dengan gamblang, si anak akan malah ketakutan dan ini mempersulit dirinya untuk mempelajari nilai-nilai yang mau kita sampaikan. Plus, si anak akan menyadari bahwa orang tuanya memberikan respons secara signifikan ketika dia melakukan kesalahan dan akhirnya berpikir bahwa perhatian orang tua cuma bisa didapatkan melalui sifat nakal—yang artinya kita gagal memperbaiki sifatnya.

Ketiga, berempatilah dengan anak dan buat batasan. Jangan gengsi buat menyampaikan pada anak bahwa kita memahami emosi yang ia rasakan dan berikan pengertian padanya bahwa apa yang ia rasakan bukan alasan pembenaran untuk tindakannya.

Keempat, tenangkan si anak. Ajarkan kepada anak untuk menenangkan diri dengan cara pernapasan perut, pemberian pelukan, atau bahkan menyanyikan sebuah lagu. Tujuannya adalah memberikan kesadaran pada anak bahwa dialah yang punya kuasa atas segala bentuk emosi yang dirasakannya tanpa perlu membiarkan dirinya meledak.

Kelima, cobalah mempraktikkan “redo”. Begitu anak sudah cukup tenang, ajak dia membayangkan alternatif berbeda dari apa yang sudah dia lakukan lain kali. Tapi kita kudu sabar juga, emosi mentah yang dirasakan si anak bisa terlalu kuat dan kebiasaan baru itu butuh waktu buat dipelajari.

Keenam, praktikkan strategi alternatif. Ajak anak main boneka dan pancing dia untuk mempraktikkan apa yang mungkin dia bisa lakukan ketika merasa frustrasi, termasuk pergi menjauh, meminta tolong, atau menggunakan kata-kata yang tepat untuk menyampaikan apa yang dia rasakan. Yang perlu diingat, strategi ini mungkin ga bakal menunjukkan hasil dalam waktu singkat tapi menerapkannya sejak dini dan reguler adalah kunci.

Mengatasi Perilaku Agresif pada Anak di Atas 3 Tahun

Cara mengatasi anak yang suka memukul atau menggigit pada rentang usia di bawah 3 tahun emang cukup menyita perhatian. Tapi ketika anak di atas 3 tahun masih suka agresif, semuanya berubah menjadi luar biasa melelahkan karena asumsinya adalah mereka udah sepantasnya tahu baik-buruk dan benar-salah. Sebaiknya kita ga langsung mengklaim bahwa si anak udah bakat buat jadi bully. Yang lebih penting untuk dilakukan adalah memahami bahwa “kenakalan” macam ini tuh aslinya pertanda bahwa si anak perlu dilatih dengan strategi pengendalian impuls.

Terlebih dulu buang jauh-jauh kecenderungan untuk mencap anak sebagai anak yang nakal, kasar, dan agresif karena label seperti ini akan membuat anak kecil hati dan memperburuk perilaku negatif yang udah ada.

Mengatasi perilaku agresif pada anak usia di atas 3 tahun bisa dibagi menjadi 3 kelompok: sebelum, pada saat, dan sesudah sebuah insiden.

Sebelum insiden

  1. Pastikan anak istirahat dengan cukup. Anak akan lebih mudah mengendalikan impuls mereka ketika kebutuhan tidurnya tercukupi.
  2. Jangan berlama-lama berkunjung ke tempat orang lain. Ketika anak sudah sangat bosan berada di satu tempat, dia akan lebih mudah melancarkan sikap agresif.
  3. Jangan melewatkan waktu tidur siang atau waktu beristirahat secara umum. Bermain bersama teman atau mengunjungi anggota keluarga akan terasa lebih menyenangkan jika anak punya cukup waktu untuk beristirahat.
  4. Selalu penuhi kebutuhan anak akan perhatian. Berikan perhatian yang positif pada anak setiap hari. Sisihkan waktu untuk mendengarkan cerita mereka untuk membangun ikatan emosional dan menenangkan impuls si anak.
  5. Ajarkan strategi resolusi konflik yang positif. Dorongan anak untuk bertindak agresif akan terkendali jika dia sudah mempelajari strategi-strategi seperti penggunaan frase “aku merasa…”, pergi meninggalkan sumber konflik, tidak mengindahkan, mencari jalan tengah, atau semacamnya.
  6. Jangan langsung merespon begitu sikap agresif muncul. Ikuti alurnya jika si anak menggunakan kata-kata untuk berargumen. Tapi begitu tanda-tanda perilaku kasar dan agresif terlihat, langsung tenangkan dirinya dan carilah jalan keluar yang lebih baik.
  7. Pujilah anak ketika dia berhasil tetap tenang. Jangan pelit mengeluarkan pujian ketika memang pujian itu pantas diberikan, terutama ketika anak berhasil tetap mengendalikan emosinya di bawah tekanan.
  8. Rancang jadwal kegiatan fisik yang proporsional. Beberapa anak memang lebih cenderung bersifat fisikal dan itu adalah kenyataan yang ga bisa ditampik. Menjadwalkan kegiatan fisikal bisa menjadi alternatif buat si anak untuk menyalurkan energinya yang berlebihan.
  9. Terapkan cara berkomunikasi yang penuh kedamaian. Jika suasana rumah dipenuhi rasa menghargai, kemungkinannya akan sangat kecil buat si anak untuk bertindak agresif.

Pada saat insiden

Untuk trik ketika anak melakukan tindakan kasar dan agresif, secara umum sama seperti apa yang dijelaskan pada bagian mengatasi anak batita yang suka menggigit dan memukul: jangan memukul balik, jangan menghukum, jangan memikirkan pendapat orang lain, berempati dan berikan batasan, dan tetaplah bersikap tenang. Tambahannya adalah, jangan lupa memastikan pihak yang menjadi objek perilaku anak kita baik-baik saja—jika melibatkan orang lain. Jika si anak sudah lebih tenang, kalo bisa ikutsertakan dia dalam proses khusus ini jadi dia juga bisa belajar lebih jauh tentang empati dan tentang bagaimana tindakannya akan mempengaruhi orang lain.

Setelah insiden—Untuk dilakukan pada saat situasi sudah lebih tenang

  1. Jalankan skenario role-play. Ajarkan anak bagaimana memberikan respons tanpa perlu melibatkan tindakan kasar. Misalnya dengan menggunakan kata-kata, meminta bantuan pada orang dewasa, atau pergi meninggalkan sumber konflik.
  2. Praktikkan strategi menenangkan diri. Metodenya banyak, mulai dari pernapasan perut sampai ke pola menghitung sampai angka 10.
  3. Buat sinyal nonverbal rahasia. Isyarat ini bisa digunakan untuk menunjukkan kepada anak kapan dia perlu mempraktikkan strategi menenangkan diri.
  4. Sadari bahwa kendali impuls adalah hal yang sulit untuk dilakukan oleh anak-anak.

Menghardik dan Bahayanya

Ketika menghadapi kondisi anak suka menggigit atau memukul, udah pasti kita akan ngerasa kesel dan frustrasi. Naluri kita sebagai manusia cenderung ingin segera merespon perilaku si anak ketika tingkahnya ga sesuai dengan harapan. Tapi sekesal apa pun kita, seemosi apa pun kita dibuatnya, jangan pernah meneriaki anak apalagi memaki. Ada banyak dampak negatif dari menerapkan pola pendisiplinan yang terlalu keras dan ini juga yang bikin menghardik a big NO ketika kita mau mendidik anak yang perilakunya agresif. Frustrasi itu normal. Jengkel dan kesal itu alami. Kita juga manusia, sekalipun kita adalah orang tua. Tapi begitu merasakan ada dorongan untuk menghardik anak, coba ingat-ingat hal berikut ini:

  1. Hardikan hanya akan memperburuk perilaku anak.

Sangat mudah membayangkan bahwa teriakan kepada anak akan menyelesaikan semuanya dengan cepat dan memberi tahu si anak apa yang boleh apa yang ga boleh dilakukan. Tapi penelitannya udah ada tentang hardikan yang justru malah bikin permasalahan lebih banyak dalam jangka panjang. Hardikan akan memperburuk perilaku negatif anak yang akhirnya kita malah harus menghardik lebih keras lagi dengan harapan semuanya selesai. Dan lingkaran setan pun dimulai.

  1. Hardikan dapat mengganggu perkembangan otak anak

Otak manusia memproses input-input negatif lebih cepat daripada yang positif. Ketika anak terpapar makian dan teriakan di masa kecilnya, akan ada kelainan mencolok pada bagian otak yang memproses suara dan bahasa.

  1. Hardikan bisa berujung depresi.

Bentakan dari orang tua itu ga cuma membuat anak merasa sakit, takut, dan sedih. Kekerasan verbal berpotensi menciptakan gangguan psikologis yang lebih dalam di diri anak dan permasalahan ini bisa terbawa sampai saat ia dewasa.

  1. Hardikan berpengaruh terhadap kesehatan jasmani dan berpotensi menyebabkan penyakit kronis

Kekerasan verbal di masa kecil bisa membuat anak mengalami berbagai gangguan kesehatan seperti nyeri sendi, sakit kepala, dan gangguan pada punggung dan leher.

Daripada menghabiskan energi dengan meneriaki anak dengan harapan bisa mendisiplinkannya, mending belajar cara berkomunikasi yang baik dengan anak deh. Rumah terasa lebih damai dan risiko besar di masa dewasa pada anak bisa ditekan sedalam mungkin.

Bonding dengan Anak dengan Cara yang Benar

Teman DRYD,

Pasti pada familiar dengan jargon “Anak cowo deketnya ama mama, anak cewe ama papa”, kan? Ini tuh anggapan lazim di kalangan masyarakat luas dan emang pas diamati, ada kecenderungan demikian. Tapi sebenernya sejauh apa sih, anggapan ini validitasnya? Apa emang ada penyebab-penyebab khusus atau ini cuma kerangka pikir yang terbentuk berdasar landasan sosiokultural aja?

Naaah, ini nih, yang bakal kita bahas kali ini.

Kalo kita bicara tentang kedekatan antara orang tua dan anak, itu ga jauh-jauh larinya dari proses bonding. Ikatan antara orang tua dan anak terbentuk sejak dini, bahkan sudah dimulai sejak si buah hati masih ada dalam kandungan. Prosesnya sangat fundamental sifatnya dan sering banget ga bisa diobservasi secara langsung. Itu bisa disebabkan karena ada faktor familiaritas antara orang tua dan si anak, jadi semua terasa natural bahkan ketika sekalipun interaksi yang ada tidak secara sadar diarahkan pada pola pembentukan ikatan antara kedua pihak. Tapi saking fundamental proses ini, semuanya bisa berdampak pada tumbuh-kembang si buah hati sampai ke saat anak tersebut menginjak usia dewasa nanti. Mulai dari hal-hal kecil seperti cara kita berkomunikasi, berinteraksi, penggunaan kalimat dan intonasi, cara memberikan komunikasi fisik sampai ke hal-hal yang secara signifikan emang ditujukan untuk mendidik si anak seperti memberi masukan dalam hal akademis, memberi pemahaman mengenai tata krama dan sopan santun, menurunkan nilai-nilai budaya dan sosial. Semua ini adalah bentuk-bentuk bonding antara anak dan kedua orangtuanya. Seerat apa ikatan yang terbentuk pada prosesnya akan menjadi faktor penentu apakah si anak akan berkembang dengan relatif sempurna di kemudian hari.

Nah, jargon yang udah kita singgung sebelumnya akan menjadi penghambat besar dalam memberikan pengaruh positif pada anak kalo kita—sebagai orangtua—tidak mencernanya dengan saksama dan menyeluruh loh. Jangan sampai salah kaprah dan menelan jargon itu mentah-mentah tanpa dipelajari terlebih dahulu.

Pada dasarnya, anak itu paling deket sama ibunya, mau anak cowo, mau anak cewe, ketika mereka masih bayi. Ada basis kuat untuk hal ini. Di fase perkembangan sejak lahir hingga beberapa tahun setelahnya, si bayi akan sangat tergantung pada si ibu dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar, misalnya soal nutrisi. Anak bayi makannya apa? Ya air susu ibunya kan? Cuma ibu yang bisa menyediakan kebutuhan seprimer ini. Itu baru soal makan. Gimana perkara lain kayak ganti popok, mandi, ganti baju? Si ibu kan yang paling sering berperan. Emang sih, ada juga ayah yang menjalankan peran ibu, tapi persentasenya jauh lebih kecil daripada alternatif pertama—dan sifatnya pun lebih cenderung berdasarkan kasus aja.

Semakin si anak bertambah usianya, akan ada sedikit pergeseran. Maka jadilah jargon yang kita bahas di awal tadi: Anak cowo sama mamanya, anak cewe sama papanya. Apakah ini proses alami? Apakah ini bentuk adaptasi? Apa ini cuma soal kebiasaan? Yuk, kita cari tahu alasannya.

Kenapa Anak Cewe Lebih Deket ke Papanya?

Bener ga sih, anak cewe lebih deket sama papanya?

Di mata anak perempuan, figur seorang ayah adalah sosok yang bisa memberikan perlindungan untuknya dan juga lebih tegas. Ini bikin si anak cewe merasa lebih aman pas deketan sama papanya. Ini ga otomatis berarti ibu ga mampu melindungi anak cewe-nya lo ya. Cuma, anak perempuan bisa mendapatkan lebih banyak pelajaran tentang ketegasan dan ketangguhan dari ayahnya.

Faktor lain penyebab anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya adalah kecemburuan terhadap adik, terutama adik laki-laki. Kehadiran bayi baru yang belum bisa apa-apa akan menyedot fokus dan tenaga ibu. Otomatis, anak perempuan yang sudah lebih dewasa umurnya akan mencari sumber perhatian lain karena waktu ibunya sudah terpakai mengasuh sang adik. Dalam hal ini, ayahlah yang menjadi tempat mereka “melarikan diri”.

Riset oleh Jennifer Mascaro di Universitas Emory menunjukkan bahwa seorang ayah juga cenderung lebih mudah memberikan perhatian atau respons untuk anak perempuannya. Hasil riset tersebut membuktikan bahwa aktivitas otak ayah akan meningkat secara signifikan ketika melihat foto anak perempuannya ketimbang anak laki-laki. Secara tidak sadar, ini juga dapat diobservasi dari cara anak perempuan mendekati ayahnya ketika menginginkan sesuatu seperti mainan, misalnya. Si anak perempuan seolah mengerti bahwa ayahnya pasti akan memberikan respons positif terhadap keinginannya ketimbang ibu. Kecenderungan yang ada adalah seorang ibu kemungkinan besar akan mengabaikan rengekan anak perempuannya sementara seorang ayah akan segera mengabulkan permintaannya.

Kenapa Anak Cowo Lebih Deket ke Mamanya?

Anak cowo lebih mesra dengan ibunya, katanya.

Anak cowo akan memilih untuk mengadu atau lari ke ibunya ketika berbuat salah atau menangis karena sesuatu, bukan ke ayahnya. Ini bukan semata-mata soal manja loh, ya. Tapi si anak laki-laki merasa lebih bisa tenang dan diperhatikan oleh ibunya. Kecenderungan yang ada adalah seorang ayah mungkin malah akan menghakimi si anak cowo, bukannya menenangkan. Faktor segan dan takut juga ikut ambil bagian karena seorang papa biasanya punya ekspektasi yang terlalu besar untuk dipenuhi oleh si anak cowo: Laki-laki harus kuat. Padahal justru sebaliknya, kuat-tidak seorang anak tidak dipengaruhi oleh jenis kelaminnya. Anak laki-laki boleh aja kok ngerasa tidak berdaya dan membutuhkan bantuan atau dukungan. Sebaliknya, anak perempuan juga ga boleh kalah dari anak laki-laki, juga harus mandiri dan dependable. Ketegasan seorang ayah pun bisa diartikan sebagai sikap galak oleh anak laki-laki yang mungkin pada suatu waktu tertentu membutuhkan ayahnya.

Kecerdasan emosional seorang anak cowo biasanya terasah lebih baik ketika di dekat mamanya. Anak-anak cowo yang memiiki ikatan kuat dengan mamanya umumnya lebih terjauhkan dari masalah denga teman, tidak suka bertikai atau memilih cara kekerasan seperti berkelahi, tidak ikut-ikut geng sekolahan, tidak jatuh dalam pengaruh narkoba, dan terhindar dari perilaku seks bebas. Tentunya banyak faktor lain yang menentukan ini semua, tidak semata-mata hanya karena kedekatan dengan ibu. Tapi seorang ibu biasanya lebih mudah berkomunikasi dengan anak sehingga si anak laki-laki akhirnya mencontoh sifat ini untuk diterapkan di dalam hidupnya sendiri. Dengan skill komunikasi yang terlatih relatif dengan baik, anak cowo biasanya punya lebih banyak teman dan minim risiko mengalami stres.

Pola kedekatan dengan si ibu juga mempengaruhi anak laki-laki dalam hal berempati, menjauhkan diri dari bahaya, dan pengendalian emosi. Ada juga kemungkinan besar bahwa si anak akan lebih mampu menghargai perempuan.

Salahkah Pola Bonding Seperti Ini?

Ga ada yang salah, ga ada yang benar. Agak berisiko kalo kita mau membedah topik ini dari sudut pandang benar-salah. Yang sebaiknya dilakukan adalah menyudahi pola asuh dan pola didik yang terlalu berbasi gender. Jenis kelamin tidak memainkan peran dalam porsi pemberian kasih sayang dan perhatian—bahkan bukan sebuah faktor yang relevan untuk sekadar dipertimbangkan. Mau anak cowo, mau anak cewe, semua butuh kasih sayang dan apalah kita orang tua kalo bukan gudangnya kasih sayang untuk anak-anak kita, kan? Rasa kasih, rasa sayang, rasa cinta, dan perhatian itu bukan konsep berbasis gender jadi siapa kita mau menentukan anak cowo porsinya lebih sedikit dari anak cewe atau sebaliknya? Jangan pilih kasih, apalagi pilih kasih berdasar jenis kelamin si anak. Dampaknya bisa fatal dan mungkin ga bisa diperbaiki.

Jangan juga mengandalkan jargon-jargon umum tanpa mendidik diri sendiri sebagai orang tua. Siapa, aturan mana, hukum seperti apa yang menentukan anak mana deket ama ortu yang mana. Anak cewe dan ibunya bisa jadi duo maut yang sinkron di segala lini karena mereka berbagi jenis kelamin yang sama dan begitu juga anak cowo bisa jadi “partner in crime” yang koheren untuk ayahnya karena mereka bisa aja berbagi passion serupa—ini kalo emang mau bawa-bawa jenis kelamin ke perihal bonding, ya. Kalo bonding didasarkan pada jargon semata, efeknya bisa membuat anak punya jarak yang lebar dengan salah satu orang tua. Yang kita mau kan, semua anak kita bisa deket sama kita, kan? Bisa berbagi dengan kita, bisa bicara apa aja sama kita, bisa lengket dan harmonis relasinya dengan kita, kan? Iya, kan? Apa di antara Teman DRYD yang menginginkan sebaliknya? Engga, kan?

Nah, mending dari awal disadari deh. Kontrol jarak antara kita dan buah hati. Kalo dirasa interaksi antara anak cowo dan papanya kurang ato kalo anak cewe kayanya lebih sering hangout sama papanya, coba deh, mulai diliat lagi bagian mana yang harus dimodifikasi.

Semuanya harus rata. Anak cowo harus diajari empati dan cara berkomunikasi oleh ibunya sambil tetap diberikan pemahaman tentang menjadi kuat dan tegas oleh ayahnya dengan cara yang tepat. Anak cewe gimana caranya tetap menyerap nilai-nilai prinsipil dan mendapat perlindungan dari ayahnya tanpa mengecilkan peran si ibu yang bisa mewariskan ajaran tentang keperempuanan padanya. Semua harus balance.

Taaapiii, jangan juga terus lupa sama satu hal yang paaaling fundamental soal mengasuh anak: Setiap anak lahir dengan karakternya masing-masing. Ini juga yang bikin pola asuh berbasis gender dan jargon jadi ga efektif. Setiap anak adalah “special case”, pendekatannya seharusnya lebih ke berbasis individual dan sesuai porsi dan posisi. Kita sebagai orang tua harus siaga buat beradaptasi dengan karakter anak sambil tetap diarahkan. Harus fluid dan fleksibel. Harus adaptif. Harus siap dengan perubahan dan mau menerima hal-hal baru selain dari jargon atau quote tua yang belum tentu aplikatif di era modern ini.

Anak cowo atau cewe sama-sama butuh perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Mengajarkan Gemar Membaca Buku pada Anak itu Bermula dari Kita

Hai moms and dads,

Buku itu adalah jendela dunia. Karenanya, dengan membaca buku, artinya kita bisa mengintip dunia dan mengetahui banyak hal tanpa perlu berinteraksi langsung dengan dunia luar. Kita jadi tau New York tu kayak gimana atau Paris tuh gemerlapnya kayak apa tanpa perlu bener-bener dateng ke kota yang dimaksud. Kita bisa tau proses-proses ilmiah, geologis, biologis, astronomis, filosofis, sosiologis—macem-macem, cuma dengan membaca buku. Buku dan membaca menjadi senjata untuk membuka kunci yang mengekang wawasan dan pengetahuan kita mengenai banyak hal di dunia dan kehidupan ini.

Dengan bekal pengetahuan yang didapat dari membaca, anak pun bisa terbantu tumbuh-kembangnya. Banyaaak banget manfaat membaca buku tapi itu kita bahas ntaran deh ya. Sekarang saya mau nanya dulu; moms and dads, pada suka baca buku ga?

Sebagai orang tua, kita pastinya mau anak kita berpengetahuan luas, wawasannya mencakup berbagai macam bidang, ketrampilan dan keahliannya keasah tajam. Kita kepingin anak kita kualitasnya lebih baik dari orang tuanya karena—suka ga suka—salah satu parameter keberhasilan mendidik anak adalah ketika si anak memahami hal-hal tertentu yang orang tuanya mungkin ga pernah punya kesempatan buat dalami, kan? Nah, dengan membaca, si anak bisa membuka matanya untuk banyak kemungkinan yang ada di luar sana. Sementara kita, para orang tua, sibuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan rumah tangga, si anak bisa mengasah pengetahuannya dengan segala macam buku yang dia baca.

Permasalahannya, sejauh apa kita bisa meng-influence anak untuk mencintai buku? Apakah sudah maksimal cara kita mendukung dan mendorong anak untuk gemar membaca? Atau justru malah kita membiarkan buah hati kita tenggelam dalam dunia online di genggamannya dengan pemikiran “lebih baik sibuk dengan handphone daripada kenapa-kenapa”?

Kalo udah ada kesempatan dan jeda dari kesibukan, coba deh, moms and dads, berenti sebentar buat nanya ke diri sendiri: “Sudahkah saya menjadikan membaca sebagai habit saya sendiri?”

“Kenapa gitu harus banget nanya kayak gitu ke diri sendiri, Dok?”

Kalo udah soal mendidik anak, kayanya lebih efektif kalo kita ngasi contoh langsung deh. Anak suka ga responsif kalo kita cuma ngandelin perintah oral apalagi sambil dimara-marain ato dibentak-bentak. Biasanya suka mental omongan kita kan? Nah, kalo si anak udah sejak dini ngeliat orang tuanya demen baca buku, dia bisa menginternalisasi kebiasaan kita, lebih mudah untuk disuruh mencoba membaca, dan akhirnya nanti potensi doyan baca bukunya juga lebih gede.

Nah, moms and dads jangan cuma bisa nyuru anaknya baca yaaa. Kudu banget ngejadiin baca buku sebagai kebiasaan harian kita sendiri supaya anak bisa jadiin contoh buat dirinya sendiri. Pada prinsipnya, anak ga bakal suka baca buku kalo orang tuanya ga suka baca buku juga. Habit itu menular loh, ya. Bakal kesulitan mendidik anak untuk suka buku kalo kitanya sendiri ga punya interest sedikit pun ke objek terkait.

Ga berarti kita juga kudu ngubah sesuatu yang emang pada dasarnya bukan kita yaaa. Natural aja. Kalo emang ga bisa meng-influence anak buat suka baca, yaaa mungkin bisa dikasi suplemen lain yang bisa nutup “bolongan” itu. Pas nonton TV, misalnya; mungkin kita bisa memberi stimulasi dengan acara-acara pendidikan—yang tentunya juga sulit dilakukan pada masa ini mengingat kualitas acara televisi kita….

Tapi intinya begitu; jangan memaksakan kemauan kita, idealisasi yang ada di kepala kita kalo kitanya sendiri juga masih ga menerapkan itu. Bisa-bisa si anak ngeluarin jurus, “Mamah-Papah nyuru-nyuru baca, emang Mamah-Papah sendiri suka baca?” Gigit lidah kan kalo anak udah nge-skakmat kita kayak gitu?

Kadang juga kita suka tergiur sama tren buku diskon. Begitu ada info tentang cuci gudang dan diskon gede-gedean, kita langsung aja pengen nyomot. Tujuannya mau buat anak supaya bisa doyan baca. Tapi kan ya percuma, orang bekal interestnya aja ga ada kan? Mau beli buku diskonan satu truk juga kalo si anak kaga doyan baca, ga bakal berguna. Stop deh, ikut-ikut beli diskonan buku gitu. Ngapain dibeli kalo ujung-ujungnya buku-buku itu cuma jadi bagian dari dekorasi rumah? Yang ada buku-bukunya malah ngumpulin debu, rusak dimakan rayap, ancur karena lembap. Akhirnya apa? Dibuang. Diloakin. Dikiloin. Dijadiin pembungkus. Kan kasian. Nulis buku itu ga gampang loh. Jadi jangan disia-siain kalo emang ga bakal kepake ato berguna.

Membuat anak untuk gemar membaca buku itu tujuan mulia. Tapi tujuan itu akan lebih mudah tercapai kalo semuanya dimulai dari dasar, dari diri kita sendiri dulu. Jadikan membaca sebagai sebuah kebiasaan secara harian dan anak akan mencontoh. Mungkin ga sampai ke target yang kita kehendaki, karena toh anak juga punya interest-nya sendiri. Tapi paling engga, kita udah ngebiasain buah hati buat terbiasa memegang buku dan ga menganggap buku sebagai sebuah media kuno yang ga lagi relevan di zaman modern.

Menjadikan membaca buku sebagai sebuah kebiasaan juga membawa berbagai macam dampak positif kok.

Membaca bisa mengurangi risiko stres. Universitas Sussex di Inggris melakukan riset tahun 2009 yang hasilnya menunjukkan bahwa stres bisa dikurangi sampai 68%. Detak jantung melambat hanya dengan membaca buku selama 6 menit.

Membaca bisa meningkatkan kemampuan empati. Keith Oatley dan Raymond Mar, profesor emeritus psikologi Universitas Toronto dan psikolog di Universitas York—respectively, berpendapat bahwa kebiasaan membaca karya fiksi bisa menajamkan kemampuan individu dalam memahami orang lain.

Membaca bisa melatih kemampuan matematis. Selain melatih kemampuan bahasa, ketajaman matematis juga bisa ditingkatkan dengan membaca karena seorang individu yang gemar membaca buku memiliki daya serap teoretis dan konseptual yang lebih tinggi.

Membaca bisa memperpanjang umur. Riset oleh Universitas Yale di tahun 2016 menunjukkan bahwa membaca selama setidaknya 30 menit setiap hari bisa memperbaiki kualitas hidup seseorang yang akhirnya bisa memperpanjang usia.

Membaca bisa membantu menyehatkan tubuh. Menurut hasil riset Universitas Stavanger di Norwegia, anak-anak yang tidak gemar membaca kondisi fisik dan mentalnya jauh lebih buruk daripada mereka yang suka.

Membaca bisa membantu mengasah daya ingat. Ketika kita tidur, energi akan sepenuhnya tersalurkan ke otak. Jika sebelum tidur kita membaca buku, otomatis daya ingat kita akan semua informasi yang didapat sebelumnya juga akan lebih baik.

Membaca bisa membuat otak bugar. Saat membaca buku, otak akan berpikir lebih banyak. Imajinasi dan abstraksi ide akan lebih dinamis.

Memberikan sebuah buku anak akan jauh lebih baik daripada membiarkan buah hati sibuk dengan gadget yang layarnya memancarkan sinar biru. Ini klasik sih, masalah mana yang lebih baik: buku atau smartphone. Kita ga perlu mencari-cari keburukan dari sebuah gadget, gimanapun juga toh perkembangan teknologi bisa berdampak positif untuk kemajuan peradaban. Yang patut dipertanyakan di sini adalah apakah bijak membiarkan anak mengenal smartphone terlalu awal? Dari sebuah peranti kecil dalam genggaman tangan si buat hati yang mungil, arus informasi tidak akan bisa dibendung. Otaknya akan mengalami ketersendatan dalam berkembang karena hanya pasif menerima input dari smartphone-nya.

Buku jauh lebih sehat. Buku memberikan pengetahuan dalam skala besar tapi juga ruang lingkupnya bisa sedikit dikekang. Dengan keterbatasan akses ke informasi tambahan, si anak akan distimulasi untuk berimajinasi, mengolah sebuah konsep, dan melatihnya menyerap dan menyaring sesuatu sebelum diaplikasikan ke dunia nyata.

COVID-19 dan Dilema Mengajak Anak Bermain di Kala Pandemi

Hai moms,

Bermain adalah kegiatan penting untuk anak-anak yang masih dalam periode tumbuh-kembang. Penting bagi kita sebagai orang tua untuk bisa mengajak dan memfasilitasi kebutuhan bermain si anak agar pertumbuhan fisiknya sempurna dan perkembangan otaknya maksimal. Menikmati kegiatan bermain adalah salah satu hak mendasar seorang anak, seperti yang juga sudah ditetapkan oleh PBB. Buat kita orang dewasa mungkin bermain itu adalah hal yang sepele dan remeh. Tapi pada dasarnya semua manusia yang hidup di dunia adalah homo ludens, makhluk yang suka bermain. Saat dewasa pun kita pasti melakukan kegiatan bermain tapi mungkin cara dan jenisnya sudah berevolusi karena manusia dewasa memiliki tuntutan, tanggung jawab, kewajiban, gaya hidup, dan energi yang berbeda dari anak-anak. Maka bermain pun berubah menjadi traveling, berolahraga, atau melakukan hal lain yang melibatkan tubuh dan indra.

Bermain adalah salah satu hak dasar anak-anak

Karena cara pandang kita berbeda, mungkin kita sering menganggap enteng kegiatan bermain untuk anak dan membiarkan si anak cenderung diam dan pasif. Ini sebenernya ga disaranin ya, moms. Psikoanalis Sigmund Freud berpendapat bahwa ada nilai-nilai terapeutik yang bisa diambil dari kegiatan bermain. Dengan merangsang si anak untuk aktif bermain, kita bisa mencegah potensi kemunculan ketidakseimbangan psiko-emosional dalam dirinya. Dengan bermain jugalah si anak bisa menetralkan situasi stres, rasa cemas, rasa takut, serta meminimalisasi kemungkinan depresi. Ini penting supaya kelak ketika si anak dewasa, ia bisa mengatur keadaan psikisnya sendiri dengan lebih efektif.

Bagi orang tua, meluangkan waktu setiap hari untuk berinteraksi dengan anaknya akan memungkinkan kita untuk membentuk suatu ikatan emosional yang kuat dengan si anak sehingga ia bisa menganggap kita teman untuk berbagi dan berkembang menjadi individu matang yang terbuka. Pastinya ga mau dong, moms, anaknya jadi orang yang tertutup rapat dan nyimpen banyak banget rahasia dari kita orang tuanya sendiri?

Bermain pun punya manfaat sosial yang besar untuk perkembangan mental si anak. Sering bergaul dengan teman dan menghabiskan waktu bermain bersama anak-anak lain akan membuat anak paham bagaimana cara berinteraksi yang lebih efisien dengan individu lain. Kegiatan bermain yang intens dan reguler akan membantu mengasah soft skills anak jadi nanti ketika dewasa, ia tahu betul apa itu fairplay, persaingan sehat, bagaimana mencegah diri merasa iri, dan bisa memupuk rasa percaya diri yang maksimal.

Membiarkan anak bermain bisa membantu mengasah soft skills

Kita sebagai orang tua mungkin lebih sering berpikir bahwa pendidikan formal dari sekolah akan cukup untuk memberi anak bekal untuk dewasa nanti. Tapi kita luput mempertimbangkan bahwa sesempurna apapun sekolah dan kurikulum yang ditawarkan, ada beberapa hal yang tidak bisa diajarkan bagi kebaikan si anak di masa depan.

Dan kita sebagai orang tua juga sering lengah dan kebablasan dalam memanjakan anak. Anak usia TK udah dikasi gadget. Iya, taaau; pasti sebel juga denger anak pulang sekolah langsung komplain, “Ma, temenku dibeliin iPhone sama mamahnya!” Terus kita panas dan mau juga ngasi anak barang mahal. Ato mungkin karena cape kali ya, didesak mulu sama anak buat beliin handphone. Alasan lain orang tua membelikan gadget untuk anaknya mungkin didasari oleh alasan keamanan. Mungkin kita takut kalo nanti dia kesasar apa gimana, bisa langsung telepon ke rumah dan kita akan segera memberikan pertolongan. Semua alasan ini valid dan legit. Ga ada orang tua yang ga mau anaknya seneng, aman, nyaman, terpenuhi semua kemauannnya. Tapi kita juga kudu banget jeli memilah mana yang kemauan dan mana yang kebutuhan. Gadget itu stagnan ya, moms. Benda elektronik itu merangsang visual anak tapi mematikan sensor-sensor lain—yang juga seharusnya distimulasi supaya perkembangannya benar. Anak umur 1 sampai 5 tahun harusnya aktif bergerak, berinteraksi dengan sesama manusia, banyak berkomunikasi, dan bonding dengan teman sebaya, bukannya diem di sofa mantengin Instagram. Ga heran kalo jaman sekarang pengetahuan dunia pop anak umur setahun bisa lebih luas daripada orang tuanya sendiri. Jangan sampe ya, kita dapet update artis mana yang cerai atau selingkuh dari anak kita sendiri yang seharusnya masih ngubek-ngubek tanah ato ngejer-ngejer kucing. Jangan sampe dia terpengaruh YouTuber paling kaya se-Indonesia trus pengen dibeliin mobil balap impor sementara kita mau beli bajunya aja kudu mikir sisa duit cukup ngga buat makan. Jangan sampe ya, anak badannya membesar ga terkendali karena kerjanya makan melewati batas normal dan ngemil depan TV setiap hari. Tuh, yang gitu-gitu yang kudu dihindari. Dan yang gitu-gitu sebenernya bisa kita cegah seandainya kita mau proaktif memberikan stimulasi agar anak mau bermain, entah bersama kita, entah dengan teman-temannya di luar sana.

Tapiii, ada lagi nih hal lain yang bikin semuanya agak riweuh. Kan lagi pandemi ni ya, gimana dong caranya supaya si anak bisa tetap aktif? Pandemi emang merepotkan dan kita harus beradaptasi dengan cara mengadopsi pola asuh new normal. Kalo dipikir-pikir, apa sih yang ga dibikin repot sama pandemi kan ya? Pola hidup, ga cuma pola asuh, harus diperbarui supaya kita tetap bisa menjalankan hidup dengan relatif normal sekalipun wabah masih belum reda.

Betul, mengajak anak bermain outdoor di tengah pandemi memang ribet. Tapi bukan ga mungkin. Masalahnya ada di kita; apakah kita mau telaten dan sabar? Anjuran umum memang mengatakan bahwa sekalipun New Normal udah diberlakukan, sebaiknya tetap di rumah aja kalo ga ada keperluan banget keluar rumah. Tapi itu ga berarti kita ga boleh ajak anak keluar sama sekali. Di teras rumah juga udah lumayan. Ato kalo ada halaman cukup luas, ajak deh anak main di sana.

Ato kalo emang nih, kita takut banget ngajak anak keluar dari rumah, ada sih beberapa tips agar anak tidak bosan di rumah saat pandemi. Cuma nih ya, kita juga ga boleh menutup mata dari kebutuhan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan di luar rumahnya. Membiarkan anak lama di dalam rumah tanpa diberi kesempatan sedikit pun untuk mendapatkan stimulasi terhadap indra-indranya dari lingkungan eksternal itu juga bisa jadi pisau bermata dua. Iya, si anak bakal lebih terjamin keamanannya karena kita bisa 24 jam memonitor situasi dan kondisi. Tapi di saat yang sama dia ga sempat mencerna apa itu dunia luar dan ketika nanti sudah agak besar, si anak akan dipenuhi rasa cemas ketika harus melangkah keluar dari pintu depan rumah. Bayangin gimana repotnya kalo dia udah masuk masa sekolah. Masa kita juga kudu ikut duduk di kelas? Kita juga harus mempersiapkan si anak dengan memberi bekal pengertian bahwa dunia itu lebih dari sekadar apa yang dia observasi di dalam rumah. Wawasannya bisa meluas. Rasa percaya dirinya bisa terbentuk. Rasa sosialnya bisa dipupuk.

Dan iya, sebaiknya tetap diusahakan supaya si anak sempat berinteraksi dengan anak lain—selain saudaranya, kalo ada. Dengan cara ini, dia bisa belajar toleransi dan memahami bahwa dunia bukan miliknya sendiri, bisa lebih mandiri, dan mengetahui cara yang tepat untuk berempati. Enggak, kita ga perlu beli masker bayi banyak-banyak. WHO sendiri udah netapin kalo bayi dan anak-anak di bawah 2 tahun jangan penutup wajah, apapun bentuknya, mau face shield, masker kain, masker dokter, masker N95, masker bengkoang, masker spirulina…. Enggak, ga usah. Nanti kalo ada yang ngiklan jualan masker yang katanya bisa buat bayi, jangan ngiler ya, moms. Saya bukannya mau sabotase jualannya orang nih. Tapi emang ga dianjurin anak bayi pake masker.

Amankah masker bayi?

Lah, kenapa, Dok? Kan bisa buat ngalangin partikel virus di udara.

Kalo itu iya, masker mungkin bisa jadi alat pencegahan. Tapi yang perlu diinget di sini adalah bahwa saluran pernapasan anak kecil itu masih saaangat kecil. Jadi dia butuh akses ke oksigen tanpa gangguan. Masker itu kan kudu ketat dan sebisa mungkin menutup akses langsung ke udara kan, sementara si anak sistem pernapasannya belum mampu mengakomodasi keterbatasan asupan oksigen. Anak bayi juga belum bisa bereaksi ketika jalan udarannya terhambat jadi ga bisa ngelepas masker sendiri kalo sesak napas. Anak-anak yang lebih gedean mungkin bisa langsung copot tapi itu memperbesar risiko kontak kulit wajah dengan tangan, secara kan mereka belum paham cara melepas masker yang benar. Jadi serba salah ni; pake masker kudu ketat, bikin sesak, ga pake masker, risiko infeksi jadi tinggi. Jadi gimana ngatasinnya supaya anak bisa tetap enjoy diajak main ke luar?

Kitanya yang kudu waspada. Kitanya yang kudu maskeran sama cuci tangan bersih-bersih. Kitanya yang harus membantu membatasi potensi infeksi pada anak karena sistem imun bayi dan anak-anak juga masih sangat rentan. Ga boleh lengah; malah mungkin harus jauh lebih teliti ketimbang ketika si anak ada dalam rumah. Kita harus banget mengedukasi diri soal personal hygiene anak. Bayi mungkin pasif ya, bisanya cuma diem dalam gendongan kita jadi mungkin sedikit lebih mudah melindunginya.

Ajarkan kebersihan sejak dini

Cukup awasi jangan sampai ada kotoran yang menempel pada bagian tubuhnya. Yang repot itu anak-anak yang udah mulai bisa jalan apalagi yang udah mulai bandel lari-larian sana-sini. Coba mulai perkenalkan si anak dengan kebiasaan mencuci tangan pake sabun setiap abis dari luar rumah. Supaya efektif, kita kasih contoh. Jadi jangan kitanya yang males, bisanya cuma nyuru doang. Ajarkan si anak secara mendetail: kapan aja harus cuci tangan, sabun cuci tangannya yang mana, bagian mana dulu yang dicuci, step-nya apa aja, berapa lama nyabunin tangannya, gitu-gitu. Harus sabar juga. Karena kan namanya anak-anak, yang diliat pasti sisi fun-nya aja.

Terus, peratiin juga durasi bermain anak. Semakin lama di luar rumah pastinya semakin tinggi terekspos berbagai macam kuman dan kotoran. Seengganya, biarin anak bermain selama 2 jam setiap hari, 1 jam di dalam rumah, 1 jam di luar.

Perhatikan durasi

Abis itu, mandiii, yaaay! Sekalipun mainnya cuma di dalam rumah, ada baiknya juga memperkenalkan sistem penjadwalan kepada si anak sejak dini supaya dia bisa belajar disiplin dan menghargai waktu. Nanti seiring pertambahan usia, boleh kok, menambahkan jam bermain.

Yang berikutnya untuk diperhitungkan adalah ventilasi udara. Ini khususnya berlaku untuk ketika si anak bermain di dalam ruangan ya, moms. Pastikan sirkulasi udara dari dan ke dalam ruangan bermain terjaga agar udara senantiasa bersih dan sehat untuk dihirup. Ventilasi yang tidak memadai tidak akan bisa memfasilitasi pertukaran udara sehingga kemungkinannya lebih besar untuk debu dan partikel kuman tetap berada di dalam ruangan lebih lama. Bukan berarti ini tidak berlaku dengan area bermain outdoor.

Sirkulasi udara yang baik juga penting

Jangan biarkan anak bermain di lokasi yang terlalu lembap atau terlalu kering. Area yang terlalu lembap adalah ladang subur untuk perkembangbiakan bakteri dan hal-hal menakutkan lain. Sementara area yang terlalu kering selain membuat udara terasa panas, debu lebih mudah terbang dan hinggap di saluran pernapasan.

Nah, buat yang anaknya doyan banget main sama temen-temennya, ajarin deh aturan jarak aman social distancing menurut who.

Beri pengertian tentang social distancing

Jarak aman minimal itu 2 meter, tapi mungkin anak-anak akan kebingungan kalo kita suruh jauh-jauh 2 meter dari anak lain. Jadi mungkin moms bisa kasih contoh yang lebih mudah supaya dia ngerti. Misalnya mungkin dengan memberi jarak dua rentang tangan si anak. Ato buat ibu-ibu yang hobi ngobrol sore-sore sama tetangga, bisa terapkan juga metode penjarakan ini. Ga perlu ngerasa ga enak ato takut dianggap antisosial atau sombong. Orang lain juga kalo emang paham situasi dan kondisi juga males kali deketan.

Beradaptasi dengan mencari tahu tentang cara mengasuh anak saat pandemi covid-19 itu sudah merupakan sebuah kewajiban di era New Normal ini. Kita ga bisa lengah dan menurunkan tingkat kewaspadaan gitu aja meskipun peraturan udah lebih longgar. Tapi di saat yang sama kita juga harus memperhitungkan kewajiban kita untuk memenuhi hak anak untuk menikmati kegiatan bermainnya. Bermain sambil waspada itu masih memungkinkan untuk dilakukan asal kita paham regulasi dan aturan serta memilah mana yang efektif dan efisien dan mana yang sekadar bersumber dari ketakutan personal kita sebagai orang tua.

Berkenalan dengan Parenting Styles di 3 Negara

Teman DRYD, kali ini saya mau ngajakin Teman-teman semua melanglang buana ke benua Eropa. Taaapi, bukan buat tamasyaaa hehehehe. Kali ini saya mau ngebahas tentang pola asuh yang banyak diterapkan di tiga negara Eropa yaitu Denmark, Perancis, dan Jerman.

“Kenapa gitu, Dok? Emang pola parenting negara sendiri jelek ya, sampe harus jauh-jauh ngelirik negara lain?”

Bukaaan. Ini bukan masalah mana yang jelek mana yang bagus. Ini juga bukan soal mana yang terbaik. Pola asuh itu berbeda berdasarkan negara, kultur, dan kebiasaan. Budaya Indonesia pastinya beda dong sama budaya Amerika atau Eropa bahkan bisa beda jauh dengan sesama negara Asia. Pertimbangannya sederhana sih, Eropa kan terhitung wilayah yang lebih maju daripada area berkembang lain, jadinya ga salah dong kalo kita pelajari apa aja yang membuatnya berbeda dari negara sendiri?

Trus kenapa harus ketiga negara itu, Dok? Kan banyak negara lain di Eropa sana.”

Denmark saya pilih karena negara itu secara konstan ada dalam daftar negara paling bahagia menurut World Happiness Record yang diselenggarakan oleh PBB. Prestasi ini udah diraih Denmark selama 40 tahun—berturut-turut. Pasti dong, ada yang membuat pencapaian ini menjadi istimewa dan menarik untuk ditelaah. Perancis unik untuk dibahas karena pola parenting ibu-ibu negara sana mendidik anak tumbuh menjadi individu yang santun. Sementara Jerman dikenal dengan pola asuh yang menekankan kemandirian. Nah, bahagia, santun, dan mandiri; orang tua mana yang ga mau anaknya punya kualitas seperti itu?

Mengintip Pola Asuh di Denmark

Pola asuh di Denmark bisa disederhanakan dengan satu kata: PARENT, yang merupakan akronim dari Play, Authenticity, Reframing, Empathy, No ultimatums, dan Togetherness and Hygge. Dengan menerapkan konsep ini, anak-anak Denmark tumbuh dan berkembang menjadi pribadi dengan masa kecil yang membahagiakan.

  1. P = PLAY (Bermain)

Anak-anak di Denmark dibebaskan bermain oleh orangtua mereka. Mereka pun dibolehkan untuk memulai jenjang pendidikan ketika berusia 7 tahun. Reasoning-nya apa? Dengan memberi keleluasaan semacam ini, anak-anak Denmark punya kesempatan yang cukup untuk menikmati periode bermain mereka sebelum akhirnya dihadapkan pada kewajiban bersekolah. Apa pentingnya membiarkan anak-anak bermain dengan bebas? Banyak hal yang mereka bisa pelajari hanya dari hal sesederhana permainan; mereka paham mengenai ketangguhan, cara bergaul dan bersosialisasi yang benar, dan belajar selfcontrol sejak dini.

  1. A = AUTHENTICITY (Otentisitas)

Poin berharga lain yang diwariskan orangtua Denmark kepada anak-anak mereka adalah kejujuran kepada diri sendiri dan identifikasi emosi yang dirasakan. Pola didik yang dilaksanakan lebih dititikberatkan pada mengenali dan mengekspresikan emosi ketimbang kesempurnaan.

  1. R = REFRAMING (Memaknai ulang)

Secara sederhana, reframing adalah proses penelaahan terhadap suatu hal dari perspektif yang berbeda. Yang dilakukan oleh orangtua Denmark adalah mengajarkan anaknya untuk dapat menarik kesimpulan positif dari apa yang mereka hadapi tapi tetap dalam koridor yang realistis. Penerapan metode ini diharapkan bisa mendidik anak menjadi individu yang tidak gampang berpikiran negatif terhadap suatu kondisi ataupun orang lain.

  1. E = EMPATHY (Empati)

Empati pada dasarnya adalah kemampuan seseorang untuk dapat ikut merasakan apa yang orang lain rasakan. Inilah yang ditanamkan oleh orangtua kepada anak di Denmark. Sistem pendidikan di negara itu pun dirancang dengan prinsip ini sebagai landasannya.

  1. N = No ultimatums (Tanpa peringatan)

Pola asuh orangtua Denmark ditandai dengan sikap lembut, menghargai, dan tanpa ancaman. Akibatnya, ada kedekatan antara anak dan orangtua dalam hubungan yang harmonis tanpa rasa takut.

  1. T = TOGETHERNESS & HYGEE (Kebersamaan & kenyamanan)

Keluarga Denmark menekankan poin penting tentang kebersamaan. Berkumpul dengan keluarga merupakan hal yang tidak boleh dilewatkan sesibuk apapun hari yang dilalui. Hari libur pun dihabiskan dengan berkumpul bersama anggota keluarga. Dari rasa kebersamaan yang dipupuk, muncullah rasa nyaman yang bisa dinikmati oleh semua orang.

Belajar Tata Krama dan Adab Sopan Santun a la Perancis

Di Perancis, metode parenting yang diterapkan berfokus pada pembentukan kepribadian yang penuh sopan santun dan jauh dari kata manja. Strategi yang dijalankan meliputi:

  1. Didikan untuk menghargai waktu orang tua

Di Perancis, anaklah yang diatur sedemikian rupa sehingga jadwal pribadi si orang tua tidak terganggu. Anak akan diajari untuk sudah berada di dalam ruang tidur jam 7 malam. Si anak boleh langsung tidur atau memilih untuk melakukan aktivitas lain, selama aktivitas itu tidak mengganggu orang tua. Apa tujuan dari penerapan metode ini? Anak diharapkan bisa tumbuh dengan pemahaman bahwa dia bukanlah pusat dunia, bahkan dunia orang tuanya pun tidak hanya berpusat pada dirinya saja. Anak diajarkan untuk mengerti bahwa orang tua mereka pun manusia yang harus menjalankan hidupnya sendiri di luar tanggung jawab mereka terhadap anak.

  1. Selektif dalam memberikan pujian pada anak

Orang tua Perancis tidak gampang memuji anaknya. Pencapaian kecil si anak mungkin tidak akan berbalas pujian. Pujian baru akan diberikan apabila si anak berhasil melakukan yang memang pantas untuk diapresiasi. Bukannya pelit. Tapi metode ini bertujuan untuk membentuk kepribadian yang tidak gampang puas untuk segala sesuatu yang sudah si anak lakukan serta mendidiknya untuk tidak selalu melakukan sesuatu dengan mengharapkan imbalan.

  1. Pengimplementasian jadwal dan pola makan yang strict

Dengan cara ini, kasus picky eater pada anak-anak Perancis minim ditemukan. Orang tua tidak secara khusus menyiapkan makanan untuk sang anak. Anak duduk di meja makan dengan tenang dan diwajibkan memakan apapun yang tersaji. Kebiasaan ngemil praktis ga ada di pola asuh orang tua Perancis karena berisiko mengacaukan selera makan. Di sana memang ada tradisi gouter, yaitu makan sedikit roti di sore hari setelah pulang sekolah. Tapi secara umum, anak tidak akan makan apapun antara makan siang dan makan malam, sekitar pukul 8. Akibatnya, begitu si anak duduk di meja makan, perut yang keroncongan akan membuatnya menyantap apapun yang disajikan orang tua.

  1. Melatih kesabaran

Kasus tantrum di anak-anak Perancis pun minim. Apa rahasianya? Orang tua mengajarkan kepada anak-anak untuk sabar untuk hal-hal mendasar seperti menerima perhatian, menunggu waktu makan, maupun menunggu giliran mendapatkan jawaban. Dengan pendidikan begini, si anak sejak kecil dilatih untuk menunggu dengan sabar tanpa gelisah, marah, atau tantrum.

  1. Pengikutsertaan anak dalam urusan rumah tangga

Enggak, ini ga berarti si anak harus ikut dalam pengambilan keputusan atau semacamnya. Tapi si anak bisa dilibatkan dalam urusan bagaimana menjaga rumah agar tetap rapi dan nyaman, misalnya. Anak-anak Perancis dididik dari kecil untuk aktif menuntaskan tugas rumah tangga yang sepadan dengan usia mereka seperti ikut berbelanja ke supermarket, membuang sampah pada tempatnya, menata piring di meja makan, dan hal-hal kecil lainnya.

  1. Mengajari sopan santun dan tata krama

Ada istilah bien eleve dalam pola asuh di Perancis yang bisa diterjemahkan sebagai adab sopan santun yang merupakan hal mutlak dan tidak bisa dikompromi. Konsep ini sudah mulai diterapkan sejak si anak mulai bicara. Contohnya seperti:

  • Saat bertemu dengan orang baru, harus memperkenalkan diri
  • Membiasakan diri untuk mengucapkan terima kasih, maaf, dan tolong
  • Memberikan salam setiap kali memasuki ruangan
  • Memperhatikan kontak mata ketika berbicara dengan orang lain
  • Mempelajari dan menerapkan table manner saat makan
  • Pada saat menghadiri acara formal atau pesta, harus mengenakan pakaian terbaik
  1. Mengajar anak untuk mampu menyelesaikan segala sesuatu sendiri

Karakter yang otonom menjadi target lain yang diinginkan dalam penerapan pola parenting a la Perancis. Anak-anak diajarkan untuk berkembang menjadi pribadi yang penuh rasa tanggung jawab, kemandirian, dan kepercayaan diri yang tinggi. Anak-anak pun dididik untuk mengerjakan berbagai hal yang bisa mereka lakukan sendiri lalu belajar untuk menerima konsekuensi logis dari kesalahan yang diperbuat.

Parenting Cara Jerman yang Tegas

Karakter pola asuh Jerman diwarnai pendidikan menghargai waktu dan disiplin yang kental. Cara-cara yang diterapkan termasuk:

  1. Pendisiplinan anak dengan penekanan pada empati dan diskusi

Percaya ato engga, di Jerman, strategi hukuman fisik sebagai bentuk pendisiplinan sudah ditetapkan ilegal sejak tahun 2000. Sebagai gantinya, metode diskusi dengan muatan empati dan logika menjadi pilihan. Saat seorang anak melakukan kesalahan, orang tua akan mengajaknya untuk berdiskusi, utamanya perihal perilaku mana yang pantas dan mana yang tidak untuk dilakukan oleh anak pada usianya. Efektivitas metode ini terletak pada kemampuannya mendidik anak untuk memahami siapa yang memegang kendali dan bahwa semuanya perlu dilakukan untuk kebaikan si anak itu sendiri.

  1. Mengenalkan alur rutinitas sejak bayi

Memperkenalkan rutinitas merupakan hal penting untuk dilakukan dalam mengasuh balita. Orang tua Jerman, di lain pihak, bahkan sudah menerapkan hal ini semenjak si anak masih bayi. Mirip dengan pola asuh Perancis, orang tua Jerman mengajarkan si anak untuk menghargai jadwal mereka. Rutinitas di-arrange sedemikian rupa sehingga mengikuti alur jadwal si orang tua ketimbang sebaliknya. Batasan tegas diberikan untuk waktu tidur, makan, dan bermain dan disesuaikan dengan usia si anak. Pemberian instruksi yang jelas, konsisten, dan tegas juga berkemungkinan menghindarkan orang tua dari keharusan untuk mengingatkan ulang si anak.

  1. Mengajari anak untuk mencari penyelesaian masalah sendiri

Kalo Teman-teman DRYD pernah dengan istilah helicopter parenting, pola asuh Jerman cenderung berbeda total, malah lebih condong ke tipe authoritative. Standar perilaku yang tinggi dan aturan tegas ditanamkan sejak dini pada anak, ketimbang membiarkan mereka melakukan apapun yang mereka inginkan. Ini diterapkan sambil tetap memperhatikan kebutuhan emosional si anak di saat yang sama. Ketika si anak melakukan kesalahan atau mengalami hambatan, si orang tua ga serta-merta take over dan menyelesaikan permasalahan untuk si anak. Mereka cuma bakal ngasi instruksi atau pentunjuk untuk menuntun si anak agar mampu menyelesaikan persoalan.

Sebuah penelitian oleh Organization for Economic Co-operation dan Development menunjukkan bahwa anak-anak Jerman lebih mudah memecahkan permasalahan yang mereka temui dalam hal membaca, Bahasa Inggris, dan matematika dibandingkan dengan anak seusia mereka dari Amerika—semua berkat penerapan metode asuh yang satu ini.

Dengan penerapan pola ini, di Jerman dikenal konsep “selbständigkeit”, yaitu kemampuan untuk mengandalkan diri sendiri sehingga si anak ga cepet menyerah atau meminta bantuan dari orang lain untuk persoalan yang sebetulnya bisa diselesaikan sendiri.

  1. Membiasakan anak untuk bermain sambil belajar

Orang tua Jerman tidak terlalu terburu-buru dan memaksa anaknya untuk cepat bisa menulis dan membaca. Mereka justru meng-encourage anaknya untuk banyak menghabiskan waktu dengan bermain di luar. Cuaca tidak masalah. Unstructured play menjadi bagian integral dalam pola asuh Jerman selagi pakaian yang dikenakan tepat dan kondisi aman. Konsep permainan tak berstruktur ini bisa melatih kemampuan sosial si anak, mendidiknya menjadi pribadi yang mawas diri, mampu menjaga dirinya sendiri, dan melatih pola pikir kreatif.

Menarik Benang Merah

Pola asuh Denmark membuat kita sadar bahwa untuk bisa berkembang menjadi kepribadian yang bahagia, perlu banget membentuk masa kecil yang memorable dan penuh dengan sukacita. Anak harus diajari untuk mengenali dirinya sendiri untuk bisa menyadari posisinya dalam lingkungan yang lebih luas.

Pola asuh Perancis memberikan kita makna empati yang sebenarnya dan keharusan untuk menjaga tata krama bahkan dari ruang lingkup rumah tangga.

Pola asuh cara Jerman menekankan pembentukan individu yang penuh otoritas, mandiri, dan memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah dengan efektif dan efisien.

Secara umum, cara-cara yang diterapkan dalam mengasuh anak di ketiga negara tersebut relatif mudah untuk diaplikasikan secara aman. Pengecualian mungkin bisa diberikan untuk pola asuh dari Denmark poin usia masuk sekolah secara sistem pendidikannya juga berbeda dari yang ada di Indonesia. Tapi semuanya masih bisa di-tambal-sulam, kok. Kalo ditarik benang merah-nya, ketiganya punya satu kesamaan: Ketiganya sama-sama menitikberatkan pada keharusan untuk menerapkan pola asuh dengan kebutuhan emosional si anak sebagai dasarnya.

Kalo selama ini kita mendidik anak dengan menggunakan kepentingan kita pribadi sebagai reasoning dasarnya, maka si anak akan lupa cara menghargai dirinya sendiri. Nah, kalo menghargai diri sendiri aja luput, gimana mau menghargai orang lain? Gimana mau menghargai lingkungan? Kemandirian pun menjadi motif lain yang ditemukan dalam ketiga parenting styles itu. Anak-anak Denmark, Perancis, dan Jerman diajarkan untuk mengandalkan diri mereka sendiri dengan asumsi bahwa kemampuan untuk membantu orang lain berakar dari kemampuan untuk menolong diri sendiri.

Konklusi

Suka ga suka, pertanyaan seputar parenting styles mana yang paling baik untuk coba diterapkan di Indonesia akan banyak muncul setelah menelaah metode pengasuhan di 3 negara di atas. Tapi kita, lagi-lagi, di sini ga harus mengunggulkan satu metode di atas yang lain. Metode parenting Indonesia juga ada nilai positifnya, kok. Cuma, ga ada salahnya toh, mempelajari bagaimana orang-orang tua di negara lain mendidik anak mereka?

Jangan kebablasan; sebagus apapun satu metode, mungkin tidak cocok dengan kondisi dalam negri. Ambil yang baik-baik, kombinasikan dengan konsep pribadi, dan terapkan sesuai kebutuhan. Keharusan untuk selalu berkumpul dengan keluarga mungkin tidak bisa terus-terusan dipraktikkan sehubungan dengan keharusan untuk bekerja di luar kota dalam jangka waktu lama, misalnya. Kebijakan no ultimatums pun mungkin tidak bisa selalu ditegakkan mengingat orang tua pun manusia yang bisa habis kesabarannya. Apapun itu, jika terjadi kesalahan, tidak ada salahnya loh untuk minta maaf pada anak. Jangan gengsi. Itu malah bisa ngajarin si anak tentang betapa berharga dan powerful sebuah kata sederhana.