Skincare untuk Pria: Yay or Nay?

Haaalooo Teman DRYD,

Oke, bahas skincare pria sekarang ya.

Ada yang mikir, “Ih, cowo mah ga kudu rempong mikirin kulit”?

Kalo ada, jangan mikir gitu lagi yaaa. Kebutuhan perawatan kulit itu jaman sekarang ga lagi eksklusif urusan perempuan. Kenapa? Yang namanya kerusakan atau gangguan kulit itu ga kenal gender, jadi skincare pun udah semestinya ga bergender. Mau cowo, mau cewe, kita sekarang hidup dalam dunia modern yang datang lengkap dengan segala macam bentuk potensi gangguan kulit. Toh polusi di mana-mana. Sinar matahari jatuhnya ke mana-mana. Debu, kuman, partikel-partikel radikal bebas juga ga pandang jenis kelamin. Yang penting nemplok aja di kulit, udah deh, breakout lah, kering lah. Pola hidup juga berperan; rasa malas mengurus kebersihan dan kesehatan kulit atau cara makan yang kurang tepat bisa ada di siapapun kan?

Jadi kenapa kita harus meributkan soal skincare itu urusannya perempuan? Bahkan, jika ada seorang cowo yang rajin perawatan kulit sekalipun kulitnya bersih dan sehat, ya gapapa juga kan? Estetika itu harusnya bisa dinikmati semua orang tanpa perlu dibahas jenis kelaminnya. Justru yang perlu diliat itu malah, “Oh, itu cowo keren banget caranya ngurus kulit. Contek ah jurus-jurusnya.” Intinya, kenapa ga kita kulik tips dan trik dari seseorang soal handle estetikanya daripada ngeributin jenis kelaminnya?

Di dalam hierarki maslow sendiri pun kebutuhan estetis itu udah jadi kebutuhan mendasar, integral dalam kehidupan seseorang. Bentuknya emang bisa macam-macam, tapi estetika juga meliputi penampilan yang prima, toh? Nah, ga ada larangan buat cowo-cowo memberikan kepedulian lebih terhadap penampilannya dia sendiri, sama seperti para cewe-cewe ngasi perhatian maksimal terhadap kesempurnaan kulitnya juga.

P.S. Buat Teman-teman yang belum tau apa itu Maslow’s Hierarchy of Needs dan kenapa penting buat memahami teorinya, nah, pe-er buat Teman-teman yaaa. Coba gugling-gugling deh, pasti banyak referensi.

Maslow’s hierarchy of needs, a scalable vector illustration on white background

 

“Apa hubungannya, Dok, estetika sama kebutuhan mendasar? Kan, tanpa keliatan estetis pun kita masih bisa idup kan, Dok, asal bisa makan, punya tempat tinggal, gitu-gitu?”

Oh, ya jelas. Kebutuhan pangan, sandang, dan papan itu emang mutlak. Tapi itu jenis kebutuhan biologis dan fisiologis ya. Kaitannya sama kebutuhan jasmani. Sekarang, emang kebutuhan rohani ga perlu diperhatikan? Perlu kan? Di sini peran penting estetika bisa diliat. Dengan tampil lebih baik (kulit bersih—ga perlu putih, ya—dan sehat) maka rasa percaya diri bakal dapet boost gede-gedean. Ketika rasa percaya diri meningkat, produktivitas pun maksimal. Bos seneng dengan performance, dapet bonus ato promosi. Hidup lebih bahagia. Psikis lebih sehat.

Nah, bisa menjalar ke mana-mana hanya dengan merawat kulit.

Coba kalo sebaliknya: Kulit kusam, ada rasa-rasa curiga diomongin orang, rasa percaya diri drop, fokus kebagi-bagi, performance pekerjaan otomatis jadi ga maksimal, bos ngamuk, boro-boro dapet bonus ato promosi, stres, kehidupan di rumah kena dampak, dan psikis jadi labil. Dan kalo psikologisnya udah kena, tinggal tunggu waktu sebelum fisik juga terpengaruh.

Iya, okelah kalo ini kejauhan nyambung-nyambunginnya. Iya, okelah kalo ini dianggap cocoklogi. Oke. Tapi masuk akal, ga? Ini semua proses loh ya, ga instan mulai dari kulit kusam langsung jadi masalaha psikis. Tapi ini adalah rentetan kejadian, rantai panjang sebab dan efek. Kita perlu waspada sejak dini supaya hal terburuk ga sampe kejadian, gitu. Masa baru ngeh pas semuanya udah kadung rusak?

Perbedaan Kulit

Kebutuhan boleh sama rata, tapi ga berarti kulit cowo itu sama persis sama kulit cewe ya. Ada perbedaan mendasar secara struktur dan dalam aspek-aspek fisiologis masing-masing gender.

  1. Kulit cowo 25% lebih tebel dari kulit cewe. Seiring pertambahan usia, kulit pria menipis sementara kulit perempuan ketebalannya relatif konstan hingga usia 40an. Baru setelah memasuki fase menopause, kulit perempuan menipis secara signifikan.
  2. Kulit pria punya lebih banyak kandungan kolagen daripada kulit perempuan. Karena perbedaan kandungan alami kolagen ini, makanya perempuan lebih umum mengalami penuaan lebih awal sekalipun mungkin usianya sama.
  3. Pori-pori kulit pria lebih besar dan produksi sebumnya lebih tinggi. Kulit pria lebih rentan terkena jerawat, pori-pori tersumbat, komedo, dan seborrheic dermatitis karena faktor ini. Produksi sebum di kulit pria juga relatif konstan dan tidak mengalami penurunan seiring usia.
  4. Lapisan stratum corneum di kulit pria lebih tebal dan karena itu kulit pria umumnya lebih tough dan lebih kasar. Karena faktor ini juga ada perbedaan pembentukan kerutan antara kulit pria dan wanita; pria lebih rentan mengalami kerutan wajah yang lebih dalam.
  5. Karena rambut wajah pria lebih banyak, kebutuhan bercukur juga lebih relevan pada kulit pria. Tapi ini juga berpotensi menyebabkan kulit pria jadi lebih sensitif yang mudah teriritasi dan rangkaian risiko lain seperti luka iris, folliculitis, dan ingrown hairs. Rutinitas bercukur pun membuat kulit wajah pria lebih mudah terpapar faktor-faktor eksternal karena ketika bercukur, lapisan sel kulit mati mikroskopis pada permukaan kulit ikut terbuang, yang menyebabkan penurunan fungsi perlindungan dari kulit itu sendiri.

Nah, dengan semua perbedaan dan risiko yang ada, cowo-cowo masih males ngurus kulit? Ini juga nih yang perlu dilurusin pola pikirnya. Jangan lagi pada mikir, “Ah, gue cowo, masa ribet sama kulit?” Ato, “Cowo tuh kudunya emang keliatan rough. Ga usah repot ngrawat-rawat segala.”

Jangan ya, kasian kulitnya ga dijaga. Cewe-cewe juga males kali, punya pasangan yang kulitnya kusam. Masa udah cape-cape benerin kulit, segala krim, treatment dijalanin, eh, pasangannya kek ga pedulian sama dirinya sendiri. Ga usah berlebihan juga dalam merawat kulit nih, para cowo-cowo. Yang standar-standar aja pun asal dilakuin konsisten dan reguler cukup kok buat ngejaga kualitas prima kulit kita. Kecualiii, kecuali nih, ya, emang ada gangguan nyata di kulitnya. Bolehlah treatment supaya masalahnya bisa pergi selamanya. Tapi itu pun dengan catatan dijalankan dengan konsisten dan patuh sama omongan dokter yaaa.

Urutan Skincare untuk Pria

Jadi apa aja nih, step dasar skincare untuk pria buat dilakuin? Yuk kita pantau.

  1. Mencuci muka

Mau urutan perawatan kulit buat cewe mau buat cowo, semuanya berawal di sini. Tapi, karena kebutuhan kulitnya beda, jenis sabun cuci mukanya juga beda. Tipikal kulit pria itu kan, berminyak dan berjerawat ya. Jadi, lebih baik pilih sabun muka yang bisa meng-cover kebutuhan yang relevan seperti mengangkat kotoran dan partikel debu serta bisa mengurangi produksi minyak berlebih. Untuk yang kulitnya berminyak, coba pake sabun muka dengan kandungan scrub supaya kotoran bisa diangkat sampai ke pori-pori. Rutin ya, cuci mukanya, dua kali sehari aja, terutama waktu mau tidur.

  1. Menggunakan toner

Mencuci muka itu kegiatan yang sejujurnya terlalu berat buat muka karena potensi kering jadi naik setelahnya. Ini gunanya toner. Setelah mencuci muka, pengaplikasian toner akan membantu menyegarkan kulit dan mengembalikan pH kulit. Tambahan lagi, toner juga bisa menghilangkan sel kulit mati yang mungkin ga keangkat pas cuci muka. Cara pakenya, cukup ambil kapas, tuang toner ke kapas, trus totol-totolin deh pelan-pelan ke muka merata.

  1. Serum

Tahap ini opsional yaaa, lebih ke liat kebutuhan sama kondisi kulit. Serum sama pelembap itu fungsinya kurang lebih sama, cuma beda kepadatan tekstur aja. Serum juga lebih gampang diserap kulit, makanya penggunaan serum dianjurkan ketika kulit kita emang lagi ngalamin permasalahan kayak jerawat atau ada tanda-tanda penuaan.

  1. Pelembap

Jangan sepelekan moisturizer, guys! Pelembap bisa ngejaga kulit supaya tetap terhidrasi dan ngontrol kadar minyak di kulit. Jadi, kulit berminyak jangan terlalu banyak dikasi pelembap dan pilih yang teksturnya ringan. Kulit kering sebaliknya, pake pelembap pagi dan malam. Coba juga sambil dipijat-pijat mukanya supaya melancarkan sirkulasi darah.

  1. Tabir surya

Tahapan ini haram dilewatin kalo kita punya rutinitas outdoor dengan intensitas tinggi. Kulit yang terpapar sinar matahari tanpa perlindungan akan berujung pada kerusakan kulit dan, yang paling bahaya, kanker kulit. Gunakan at least 15 menit sebelum memulai aktivitas outdoor, setelah pelembap, dan pastikan memilih produk dengan SPF yang tinggi untuk mengurangi frekuensi pengaplikasian ulang.

  1. Masker

Ini nih, yang kadang suka bikin ilfil kan? “Cowo kok maskeran.” Sering banget pasti dapet celetukan kayak gitu kan, cowo-cowo? Sekarang, mulai deh bodo amatan sama komen-komen begitu. Masker itu penting sekalipun sifatnya jauh lebih opsional daripada serum. Kenapa penting? Masker bisa merangsang regenerasi sel kulit dan meremajakan kulit. Emang lebih repot sih, harus nunggu beberapa menit sebelum boleh dibersihkan setelah digunakan. Tapi kan makenya cuma sekali seminggu. Di malam hari pula. Pake rata di muka, tunggu meresap sambil mungkin ngegame, udah deh dicuci. Sekalian me-time-an laaah. Pilih masker yang sesuai dengan jenis kulit dan kebutuhan yaaa.

  1. Krim cukur

Balik lagi, karena kebutuhan bercukur itu tinggi, kita kudu jeli juga milih produk yang relevan. Kalo bisa, cari produk yang mengandung pelembap; jadi kita ga cuma bisa bercukur lebih mudah tapi kulit juga tetap lembut setelahnya.

Ribet? Bikin males? Bisa dimengerti tapi ga juga kok. Cuma perlu pembiasaan dan itu kuncinya adalah konsistensi. Setelah beberapa kali ngejalanin, pasti deh nanti bakal ngerasa ada yang ilang kalo ga dilakuin.

Poin-poin Penting

Jadi apa hikmah (cieee, hikmah…) dari obrolan kali ini?

Pertama, skincare untuk laki laki itu sama validnya dengan skincare untuk perempuan. Ga ada yang lebih pantes, ga ada eksklusif-eksklusifan. Mau cewe, mau cowo, pake deh tu skincare kalo mau tampil segar, sehat, awet muda, dan percaya diri.

Kedua, cewe-cewe maunya pasangan yang keliatan seprima dirinya. Imbangi penampilan pasangan kita dengan rajin menggunakan perawatan kulit yang sesuai. Biar ga keliatan jomplang. Mbak-nya keliatan wah, mas-nya keliatan hah. Pada pajam sama yang namanya couple goals, kaaan. Nah, goals kaya gini tuh dinilai juga dari keseimbangan penampilan fisik kedua pihak. Kalo rasio penampilannya udah setimbang, kemesraan dengan pasangan bakal bikin iri siapapun yang liat nanti.

Ketiga, insecurity kita para cowo-cowo bisa diminimalisasi kalo ga sama sekali dibuang. Insecurity tuh, awalnya simpel kok: Kita ngerasa ga pe-de. Abis itu, mulai deh membandingkan diri dengan orang lain. Diri sendiri ga nyaman. Pasangan ikut ga nyaman sama ke-ga nyaman-an kita. Sering curiga. Ujung-ujungnya sering berantem.

Keempat, cowo-cowo jangan males. Kita peduli sama kualitas kulit ga berarti maskulinitas kita menurun. Inget ya, skincare itu ga berjenis kelamin, jadi kenapa kita malah terbebani dengan sesuatu yang ga seharusnya kita pikirkan? Nambah-nambah stres aja. Kulit makin kusam loh, gegara sering stres doang.

Antiaging Sebagai Konsep Estetika Holistik

Hai Teman DRYD,

Seluruh makhluk hidup di planet ini pasti mengalami penuaan secara biologis sebagai konsekuensi logis dari progres perkembangan dan pertumbuhan fisik. Manusia pun ga luput dari penuaan. Sebagian besar sel di badan kita akan melalui proses daur-ulang, yang lama diganti yang baru. Proses ini akan terus berlangsung selama kita hidup. Boleh dibilang penuaan adalah akumulasi semua perubahan yang terjadi dalam tubuh kita baik secara biologis maupun psikologis. Penyebab penuaan, atau aging, itu sendiri sih masih menjadi sumber perdebatan banyak pihak dalam dunia medis. Tapi yang jelas setiap sel di badan kita punya limit tertentu dan kalo limit ini udah tercapai, pertumbuhan jadi tersendat dan bahkan mengalami proses regresi.

Aging adalah proses biologis

Kulit adalah organ yang paling menjadi “korban” dalam proses aging. Kenapa? Kulit itu organ paling besar di tubuh kita dibanding organ lain. Letaknya paling luar pula. Status paling besar dan paling luar menjadikan kulit sebagai pembatas antara tubuh kita dan dunia luar. Kulit berdiri paling depan untuk melindungi kita dari serangan banyak faktor eksternal yang hampir semuanya bersifat destruktif—apalagi kita hidup di masa modern, lingkungan sekitar praktis jadi penuh dengan sumber kerusakan. Karena terus-terusan dibombardir oleh segala macam  bentuk “penjajahan”, kulit mau ga mau harus beradaptasi dengan cara secara dinamis memperbaharui diri. Setiap sel kulit yang mati atau rusak diganti dengan yang baru supaya pertahanan pertama diri kita dari dunia luar tetap terjaga dan stabil. Nah, proses ini lambat laun memaksa kulit untuk menua karena itu tadi, pembelahan sel itu ada batasnya. Ketika batas itu tercapai, semua proses regenerasi menjadi lamban dan akhirnya kulit mengerut, tidak lagi kenyal, kering, dan kita pun kehilangan kesan muda.

Mengkhawatirkan, memang. Tapi langkah pertama dalam menghadapi penuaan adalah menerima kenyataan bahwa ini semua adalah proses biologis yang alami dan sifatnya pasti terjadi.

Apa ga ada yang bisa dilakukan, Dok?

Siapa bilang ga ada? Karena semua inilah makanya tercetus konsep antiaging, yaitu sebuah usaha untuk menunda agar segalanya ga terjadi sebelum saatnya. Sealami-alaminya sebuah proses biologis, kalo kejadian sebelum waktunya juga kan nyebelin, ya. Yaaa, sekalipun usaha untuk meniadakan proses penuaan sama sekali itu juga lagi ongoing sih. Ilmuwan masih nyoba ngulik kemungkinan yang ada jadi kita kudu sabar. Toh teknologi juga semakin mutakhir. Siapa tau teka-teki ini bisa terpecahkan lebih cepat kan?

Kulit berkerut adalah salah satu tanda penuaan

Sembari nunggu semuanya mendapatkan solusi, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mencegah, mencegah, dan mencegah. Oh, merawat, merawat, dan merawat juga. Kalo kita bisa merawat kulit sejak dini, secara konsisten, dan reguler, kemungkinan kita bisa nyuru si aging nunggu lebih lama juga lebih besar. Oh, sama jangan salah kaprah juga ya, Teman DRYD. Istilah “penuaan dini” pasti udah sering banget didenger kan? Nah, sekarang kita kudu sejalan pemahamannya karena istilah ini mengandung pengertian yang bisa diinterpretasi dengan tidak tepat. Ga ada namanya “titik permulaan” yang pasti soal aging. Secara umum, tanda penuaan udah mulai bisa diobservasi sejak umur 25 tahun. Ada beberapa yang mulai di usia 30 tahunan. Tapi memahami aging sebagai sebuah garis lurus dengan titik mula dan akhir yang pasti bisa berbahaya karena kita bisa-bisa berpikir, “Ah, masih umur segini, masih aman” dan akhirnya baru kepikiran buat perawatan ketika semuanya udah kejadian. Jadi gitu, yang namanya pencegahan ga pernah dilakukan setelah sesuatu terjadi kan? Pencegahan dan perawatan kudu dilakuin relatif serentak supaya si aging bisa diem dulu dan ditunda kedatangannya.

Memelihara Kesehatan Kulit di Tengah Pandemi

New Normal udah berjalan. Pandemi belum surut. Tapi life must go on dan gitu juga sama usaha kita buat mencegah penuaan datang. Jangan berpikir New Normal berarti kita bisa lebih longgar dan akhirnya lengah. Justru di tengah pandemi gini kita harus semakin naikin level kewaspadaan kita dan konsep anti aging jadi lebih relevan. Dengan segala bentuk penyesuaian dalam pola hidup baru di tengah pandemi, malah seharusnya kita punya lebih banyak waktu untuk menyayangi kulit kita lebih jauh. Inget kata Linden Tyler:

“Invest in your skin,

It’s going to represent you for a very long time.”

Berinvestasilah untuk kulit kita karena kulitlah yang akan merepresentasikan diri kita dalam kurun waktu yang lama. Nah, menilik makna dan kegunaan anti aging yang udah kita bahas sebelumnya, melakukan perawatan dan menjaga kesehatan kulit itu bukan suatu hal yang sia-sia. Jangan mikir, “Lagi pandemi, percuma ngerawat kulit susah-susah. Nanti juga terpapar segala kuman yang ada di dunia.” Heeei, pemuda-pemudi harapan bangsa, mau pandemi, mau keadaan normal, kulit kita senantiasa berada dalam kondisi terancam risiko. Terlepas dari segala hal, menjalankan perawatan kulit untuk menunda proses penuaan itu harus dijadikan habit. Kita harus terbiasa mencintai kulit kita karena jasa-jasanya ga keukur dalam melindungi diri kita dan menjadi tanda pengenal kita ketika bersosialisasi.

Apakah Antiaging Itu Perkara Estetika Semata?

Tapiii, masih banyak yang menilai antiaging sebatas pemaksimalan estetika aja. Itu sebenernya sih ga salah-salah banget juga sih. Menunda penuaan emang akhirnya berujung pada penampilan yang lebih seger, lebih awet muda, lebih sehat. Tapi jalannya ga sesingkat itu. Ada beberapa hal lain yang harus dijadikan perhatian sebelum akhirnya mendapatkan penampilan yang awet muda, jauh dari kata tua.

  1. Pahami proses aging

Kita udah omongin ini di awal tadi. Kita perlu pelajari apa itu penuaan, kenapa ada penuaan, konsekuensinya apa aja, apa yang bisa dilakukan. Sederhananya gini, kita harus mempelajari segala sesuatu tentang musuh kita supaya bisa menyusun strategi perang kan. Kita perlu tau, nembaknya dari sisi mana yang efektif, apa yang harus ditarget, apa aja yang bisa dipake buat nyerang. Melawan aging adalah sebuah pertempuran ya, guys. Kita harus siap sedia sebelum masuk medan perang.

  1. Jalani pola hidup yang sehat

Strategi matang, pemetaan mendetail, taktik udah sempurna. Apa yang kurang? Amunisi. Dalam peperangan melawan aging, apa yang dijadikan amunisi? Apa lagi kalo bukan kehidupan yang dijalani dengan baik dan sehat? Komponen hidup sehat itu sebenernya simpel: makan yang bener, jangan lupa olah raga, hindari racun-racun. Taaapi, meskipun sederhana dan pretty much straightforward, pola hidup sehat itu sering banget luput kita jalankan.

  1. Pilih treatment yang tepat

Ketika kita memilih jenis perawatan dan penanganan kulit yang benar dan tepat, maka kita artinya udah selangkah lebih dekat ke tujuan utama: pencegahan, penundaan, dan bahkan pembalikan kondisi aging.

  1. Estetika

Naaah, ngerti konsepnya udah, pola hidup udah dibenerin, treatment udah efisien. Abis itu, baru deh, kesempurnaan estetis menjadi milik kita. Kulit cerah bersih. Kenyal kek bayi. Seger bebas kerut-kerut. Sehat ga jerawatan.

Jadi estetika kulit itu kudu banget diawali dengan kesadaran dari dalam dan dimulai dari dasar. Lakukan hal-hal yang fundamental terlebih dahulu, segala sesuatu yang sifatnya basic, baru kita bisa berangkat menuju kebahagiaan yang holistik.

Aging: Faktor dan Fase

Supaya kita bisa memahami konsep aging secara fundamental, ada baiknya kita coba kulik dikit apa aja sih yang bikin kulit kita mengalami proses seperti itu. Secara prinsip, faktor pencetus penuaan itu dibagi menjadi dua kelompok besar berdasar sumber, internal dan eksternal.

  1. Faktor internal penyebab penuaan adalah perubahan-perubahan yang terjadi di dalam tubuh kita sendiri.

    Radikal bebas

    Contohnya: Komposisi dan jumlah hormon yang tidak stabil, keberadaan radikal bebas, kerusakan pada struktur DNA, sistem imun yang terganggu, dan faktor genetis.

  2. Faktor eksternal penyebab penuaan berarti sebaliknya, ada gangguan yang datangnya dari luar badan dan mempengaruhi kinerja biologis badan kita. Contohnya: Gaya hidup yang patut dipertanyakan, diet yang tidak sehat, habit yang tidak benar, berada dalam lingkungan yang dipenuhi polusi, stres berkepanjangan dan tidak di-manage, serta ketidakmampuan finansial untuk mendukung usaha pencegahan proses penuaan.

Sementara itu proses penuaan pada tubuh manusia bukanlah sebuah momen yang terjadi dalam satu waktu. Jadi ada fase-fasenya. Fase permulaan dari proses penuaan inilah yang rada susah buat dipatok dengan pasti dan tepat. Ada yang baru umur dua puluhan, udah mulai banyak kerut-kerut. Ada yang baru muncul tanda-tanda penuaannya waktu menginjak usia 30an. Secara garis besar, fase proses penuaan itu dibagi menjadi:

  1. Fase subklinis

Fase ini muncul dalam rentang usia 25 – 35 tahunan. Ada kemungkinan besar seseorang terlihat sehat-sehat aja dan dianya sendiri merasa normal, ga ada keluhan sama sekali. Tanda-tanda aging bisa dikatakan ga keliatan sama sekali.

Dua hormon penting dalam tubuh manusia

Tapi pada praktiknya, ada sejumlah perubahan yang berlangsung di dalam badan. Hormon-hormon (terutama testosteron, growth hormone, dan hormon estrogen) mulai menurun produksinya. Kerusakan di tingkat sel juga udah mulai terlacak sekalipun belum bisa diperiksa efeknya secara langsung. Naaah, individu-individu di rentang usia segini tu kan, pada banyak yang mungkin udah berpasangan dan barangkali juga mengkonsumsi kontrasepsi hormonal. Ini juga pengaruhnya gede banget; selain memiliki andil dalam mengacaukan keseimbangan hormon dalam badan, konsumsi kontrasepsi jenis ini juga bisa berujung pada penurunan gairah seksual.

  1. Fase transisi

Fase ini berlangsung dalam periode usia 35 – 45 tahunan. Ketika memasuki fase transisi, jumlah hormon yang diproduksi tubuh udah berkurang sampai 25%-nya. Pengaruhnya apa? Salah satunya adalah menyebabkan penurunan massa otot yang perkurangannya bisa sampe 1 kilo dalam beberapa tahun aja. Untuk soal penurunan massa otot, angka 1 kilo ini cukup signifikan karena akan berimbas kepada penurunan level stamina dan output energi. Kita jadi sering lelah, lemas, dan lebih suka bermalas-malasan. Nah, karena pola hidup jadi stagnan, lemak yang dikonsumsi harian akan tertumpuk karena kan ga dipake buat memproduksi energi buat badan kan. Organ-organ dalam badan pun kehilangan sensitivitasnya dan menimbulkan apa yang kemudian dikenal dengan resistensi insulin, yaitu ketika sel-sel tidak dapat lagi mengolah gula menjadi energi sekalipun insulin sudah diproduksi cukup untuk memerintahkan si sel-sel ini buat bekerja sebagaimana mestinya. Gula yang ga kepake ditumpuk lagi bersama lemak badan. Makin gede deh tu badan. Akhirnya obesitas.

Udah? Selesai sampai di situ? Enggaaa. Karena menyadang status obesitas, kulit pun melar supaya bisa mengakomodasi badan yang membesar. Elastisitas kulit bener-bener dipaksa sampai batas maksimalnya sampe akhirnya kulit udah ga sanggup lagi mengembang. Dan yang perlu diingat lagi adalah semakin kita bertambah usia, produksi kolagen kulit makin irit. Semakin jumlah kolagen terbatas, semakin terancamlah elastisitas kulit. Jumlah kolagen yang diproduksi ga seimbang dengan kebutuhan kulit untuk mengembang dan akhirnya muncullah yang namanya stretchmarks. Stretchmarks, sodara-sodara, cuma satu dari sekian banyak permasalahan kulit yang hadir ga diundang ketika kita obesitas. Pigmentasi kulit juga perlu diwaspadai karena tentunya merusak penampilan.

Selanjutnya udah bisa ditebak seharusnya sih. Sistem imun berada dalam titik kritis karena badan bener-bener diporsir dengan segala macam ketidakseimbangan. Radikal bebas datang dengan leluasa dan semakin memperburuk kondisi. Efek paling sederhana dari terjangan radikal bebas ini adalah kulit yang tidak lagi terlihat awet muda. Akibat lainnya? Fase menopause/andropause datang terlalu awal dan, ho-oh bisa ditebak, gairah seksual anjlok drastis.

Di fase transisi, kalo kita ga waspada dan tetep bodo amatan, proses penuaan yang datang dengan tidak terkendali bisa berarti satu hal: Baaanyak banget penyakit aneh-aneh yang bikin kita bergumam, “Ya tuhan…. Kok ada ya, penyakit kek gitu…?” Contohnya? Coronary artery disease (jantung koroner, bapak-bapak, ibu-ibu), artritis (radang sendi, guys), memory loss (pikun deh, pikun), diabetes, daaan—jreng-jreeeng—kanker.

Dan kita masih ngomongin fase transisi ini loh ya….

  1. Fase klinis

Di rentang usia 45 tahun ke atas, fase klinis datang dengan seenak jidatnya. Apa yang terjadi di fase ini? Tentu saja penurunan produksi hormon masih terus berlanjut. Tapi progres penurunan fungsi tubuh secara umum jauh lebih menakutkan.

Kita bisa mengalami ketidakmampuan untuk menyerap nutrisi, vitamin, dan mineral. Kalo ada yang masih mikir, “Ah, ga ngeri-ngeri amat ih,” heeei Anda hidup dari apaaa? Sinar matahari? Situ tanaman apa manusia deh? Heran…. Nutrisi, vitamin, mineral; tiga serangkai yang keberadaannya dalam badan manusia menjadi jaminan keberlangsungan hidup kita semua. Ketidakmampuan menyerap ketiganya berarti yaaa… ya udah… *pasrah

Di usia segini nih, badan biasanya akan semakin sulit membakar kalori yang masuk bersama makanan. Lagi-lagi, karena ga mampu memproduksi energi dari kalori yang masuk, semua diubah jadi lemak karena badan kita mikirnya, “Ah, simpen dulu ini lemak; sapa tau nanti perlu.” Dan nyatanya ga diperluin karena badan kita udah berasa beraaat banget buat gerak. Tapi badan ga mau rugi, “Sekarang ga bergerak. Sapa tau nanti gerak. Dan kalo nanti gerak, gua butuh asupan energi dong?” Teteeep aja disimpen itu berbagai macam lemak karena badan taunya cuma perkara survival. Lemak numpuk, berat badan naik dong. Oh, ga sampe di sana, tentunya. Berat nambah, siapa yang jadi korbannya? Ya tulanglah. Apa hubungannya? Karena badan udah ga tau lagi mau nyimpen lemak di mana, secara semua tempat udah disempal lemak-lemak sebelumnya, maka tulang jadi target operasi berikutnya. Disempil-sempilin dah tuh, lemak-lemak ga kepake dalam pori-pori tulang. Kalsium, yang notabene perannya gede banget dalam ngejaga struktur kerangka, jadi ga punya tempat masuk. Hasilnya, tulang jadi rapuh. Masih kurang ngeri? Bayangin deh, tulang paha retak atau tulang belakang patah gegara badan kita segitu beratnya. Udah ngeri kan? Tapi mimpi buruk belum kelar. Di usia rentan kek gini, proses penuaan juga ga luput ngincar massa otot. Dalam waktu 3 tahun, kita bisa kehilangan 1 kilo massa otot. Kombinasikan massa otot yang menipis dengan berat badan awur-awuran dengan tulang yang keropos. Bikin pengen balik ke umur 15….

Upaya-upaya Preventif

Risiko dan konesekuensi boleh bikin jiper. Tapi bukan berarti kita ga bisa ngelakuin sesuatu buat nyegah penuaan datang lebih awal dan merusak mood. Tindakan pencegahan yang dilakukan secara menyeluruh, konsisten, dan efektif bahkan mungkin bisa membalikkan segala macam kerusakan yang kadung tercetus karena aging datang di waktu yang ga tepat.

  1. Ubah gaya hidup dan terapkan pola hidup sehat
  • Coba deh mulai olahraga dengan lebih teratur. Buat jadwal untuk berolahraga selama sekurang-kurangnya 30 menit setiap hari, 3 kali seminggu. Kalo bisa sih luangkan waktu setiap hari untuk berolahraga. Kalo ga memungkinkan, ya coba dulu 3 kali seminggu. Yang penting setiap hari ga diabisin dengan bangun-makan-makan-makan lagi-tidur. Badan harus aktif dan pilihan olahraga pun beragam, jadi bisa disesuaikan sama kebutuhan dan jadwal harian.
  • Atur pola makan. Asupan nutrisi, vitamin, dan mineral harus selalu tercukupi on daily basis. Jangan berlebihan, jangan kurang dari cukup. Rasio protein dan serat harus diperbanyak tapi jangan sama sekali meninggalkan lemak dan karbo. Secukupnya. Sepantasnya. Seperlunya.
  • Kelola stres. Saya berusaha banget untuk ga terkotakkan dalam pola pikir “menghindari stres”. Stres itu sifatnya kayak, “Surpriiise!!!” Jadi dia akan selalu datang entah dari mana, di saat yang ga kita duga, dan dalam bentuk apa aja. Jadi rada susah kalo yang dijadikan target adalah “menghindari” SAJA. Menurut saya akan lebih oke kalo kita menghindari DAN mengelola stres. Sebisa mungkin hindari stres, tapi jangan lari kalo akhirnya mau ga mau kita tetep harus berurusan dengan stres. Cari solusi dan cara untuk menanganinya dengan sehat dan tuntas.
  • Hindari bahan-bahan beracun. Sebisa mungkin jangan pernah menyentuh yang namanya rokok atau bersentuhan dengan asap rokok. Alkohol, kalo emang ga bisa sama sekali engga, jangan dikonsumsi berlebihan—tapi akan lebih baik jika engga sama sekali sih. Waspada dengan benda-benda (terutama bahan makanan) yang mengandung pestisida dan pengawet buatan yang ga sehat. Pestisida mungkin masih bisa diminimalisasi dengan cara pencucian yang rata, bersih, dan menyeluruh. Tapi kalo soal pengawet, kalo bisa please, cari bahan lain yang bebas pengawet aja.
  • Perhatikan ritme tidur. Di saat tidur, tubuh kita bekerja memperbaiki segala kerusakan yang terjadi ketika kita berkegiatan. Jadi jangan pandang sebelah mata soal tidur. Pastikan waktu tidur kita setidaknya 6-7 jam per hari. Tapi jangan berlebihan juga, ya.
  • Kelola dunia sosial. Tanpa disadari, interaksi dengan orang lain sehari-hari bisa menjadi pemicu stres. Karena itu, perlu juga disadari bahwa terkadang kita butuh downtime, perlu mengatur diri sendiri, dan perlu alone time.
  • Jaga keseimbangan dunia kerja dan relaksasi. Bekerja itu kewajiban tapi bersantai itu juga sebuah kebutuhan. Jangan sampai hari-hari diisi dengan bekerja, bekerja, dan bekerja tanpa memperhatikan kebutuhan mental kita untuk sedikit menarik napas dalam-dalam dan mengistirahatkan otak dan badan.
  1. Jalani hidup dalam lingkungan keluarga yang bahagia dan sebisa mungkin hindari kehidupan seks yang ga Jika sudah memiliki pasangan, komunikasikan semuanya secara transparan dan bangunlah jembatan interaksi dua arah yang dinamis.
  2. Selesaikan pekerjaan dengan ikhlas dan rasa senang. Pekerjaan apapun ya, ini konteksnya. Pekerjaan profesional kudu diselesaikan dengan baik tanpa rasa dongkol dan terpaksa. Sesuatu yang dilakukan dengan keterpaksaan pastinya ga bakal berakhir baik. Pekerjaan rumah yang sifatnya untuk kebaikan bersama pun demikian. Belajar ikhlas melakukan sesuatu tanpa pandang bulu dan tanpa menunggu kesadaran orang lain. Jika kita bisa, kenapa harus orang lain?
  3. Jalani kehidupan sesuai dengan conscience. Apa itu conscience? Pernah ga ada “suara-suara” dalam hati pas lagi ga suka dengan tingkah-laku seseorang? Nah, itu namanya conscience. Dengerin deh suara hati itu karena biasanya kalo kita mengingkari batin sendiri, interaksi dengan orang lain jadi ga Kalo ga tulus, ujung-ujungnya jadi stres lagi. Ga perlu takut nolak ajakan nongkrong kalo emang kita ga lagi pengen keluar rumah. Belajar bilang enggak, kalo emang kita ga mau. Belajar juga untuk menyampaikan penolakan tanpa menyakiti orang lain dan memberikan penerimaan tanpa berlebihan.
  4. Optimistis dan positif

Optimisme itu baik buat mental. Kita jadi ga gampang nyerah. Ga gampang putus asa. Ga gampang down. Positivitas isi kepala juga kudu dipelihara karena pikiran yang selalu terisi hal-hal negatif ga bakal bikin hati tenang. Hati yang selalu ga tenang itu sarangnya stres.

  1. Jangan berpikir kita kebal

Kalo ada hal yang paling rentan sedunia, manusia adalah salah satunya. Kita bisa merasa sehat, ga ada keluhan apapun. Kita bisa merasa normal karena semua fungsi badan berjalan sebagaimana mestinya. Tapi jangan sekali-kali merasa kebal. Orang yang rajin olahraga, makannya dijaga, tidurnya teratur, minum airnya ga pernah putus aja masih bisa kena kanker. Merasa baik-baik aja itu ga salah. Tapi ga berarti itu jadi alasan kita jadi lengah dan ga waspada. Inget ya, Teman DRYD, musibah jadi musibah karena kita ga pernah ngira kapan datangnya.

  1. Jangan berpikir kita tua dan karenanya helpless

Menjadi tua itu mutlak. Benda mati aja bisa lapuk dan keropos apalagi kita makhluk hidup. Tapi jangan biarkan fakta itu jadi momok dan bikin kita ngerasa ga ada yang bisa dilakuin. Tua dan helpless itu dua hal yang ga berkaitan sebenernya. Buktinya, banyak orang-orang yang umurnya udah 50an tapi masih segar-bugar dan tetap hidup mandiri.

  1. Jangan sembarangan minum obat

Kalo suatu saat ketemu iklan obat anti penuaan dengan penuh klaim menggiurkan dari para penggunanya, jangan langsung percaya. Apa yang bekerja efektif buat orang lain belum tentu berarti sama untuk kita. Itu satu. Yang kedua, siapa yang bisa jamin kalo klaim-klaim itu ga dibuat buat kepentingan pemasaran doang? Sementara itu kita telanjur kemakan janji-janji tanpa tahu baik-buruk suatu produk. Makanya, kerjain deh pe-er-nya: Riset sedalam mungkin. Cari tahu apa kata ahli di bidangnya tentang suatu produk. Telusuri landasan ilmiahnya. Jangan ragu untuk katakan tidak kalo setelah semua riset yang dilakukan, masih belum ada keyakinan dalam diri buat nyoba suatu produk.

  1. Medical checkup berkala

Pengecekan kesehatan adalah tindakan yang lebih direct untuk mengetahui apakah ada yang salah dengan badan kita. Ga jarang potensi besar suatu penyakit berbahaya bisa diredam lebih awal lewat medical checkup reguler. Jadi jangan malas buat bergerak nyari pihak yang qualified buat melakukan pengecekan rutin ya.

  1. Amati kebiasaan mengkonsumsi suplemen/obat-obatan

Kalo selama ini kita minum suplemen vitamin atau obat-obatan tertentu sekadar memenuhi anjuran, mungkin saatnya buat memperbaiki semuanya. Yang misalnya minum vitamin C sekali sehari cuma karena disuruhnya begitu tanpa peduli dosis, sekarang yuk coba dihitung kebutuhan minimal hariannya berapa. Kulik data-data ilmiah yang menjelaskan peran suatu zat dalam suplemen yang kita telan dalam perannya memerangi penuaan. Dengan dukungan informasi yang lengkap, bukan ga mungkin kita bisa mengembalikan fungsi organ yang menurun karena proses penuaan.

Antiaging dalam Kaitannya dengan Pandemi

Relevansi antiaging sebagai sebuah konsep lifestyle di masa pandemi seperti sekarang ini makin kerasa kental. Pandemi membuat kita harus siaga dan selalu siap untuk beradaptasi. Salah satu bentuk adaptasinya apa? Kita harus selalu waspada dan memberikan perhatian ekstra untuk kebiasaan kita sehari-hari. Yang biasanya cukup longgar dan santai, sekarang harus lebih berhati-hati. Bukan jadi paranoid dan kaku, ya. Tapi paling engga, kita seharusnya jadi lebih aware terhadap risiko kesehatan dan paparan terhadap hal-hal yang mempercepat proses penuaan. Masker atau face shield harus banget dijadikan satu barang yang wajib ada dekat dengan kita. Masker yang dipilih sebaiknya yang mampu “mencengkram” wajah kita supaya kontak langsung dengan udara luar bisa dibatasi. Multivitamin boleh dikonsumsi untuk membantu menambah daya tahan tubuh dan menjaga stamina. Tapi ingat, minum sesuai dosisnya aja. Jangan nelen sebotol vitamin C cuma gegara denger-denger vitamin C ampuh mengatasi infeksi. Yang ada malah nambah beban kerja ginjal jadinya mah. Ngomong-ngomong soal multivitamin dan suplemen, sebaiknya pilih yang mengandung kombinasi bahan vitamin (C, D), zinc, magnesium, melatonin, dan sederet antioksidan lain.

Buah dan sayur adalah sumber antioksidan alami

Perhatikan juga soal durasi, ventilasi, dan jarak. Tiga poin ini adalah yang paling penting untuk diberikan atensi khusus berkaitan dengan pandemi. Lama kita berinteraksi dengan dunia luar, sirkulasi udara di lingkungan, dan jarak antara individu memegang peranan penting dalam mengendalikan transfer virus dan substansi penyebab penuaan secara signifikan. Untuk masalah pola makanan, pastika pilih menu yang low sugar dan konsumsi bahan yang mampu memicu percepatan pembakaran lemak seperti ekstrak the hijau dan kelapa.

Pilar Antiaging

Bicara tentang antiaging sebagai sebuah disiplin medis khusus, kita ga bisa melepaskan peran penting faktor-faktor yang menjadi penyokong. Yuk kita liat satu-satu.

  1. Diet sehat

Terbiasa dengan konsep 4 sehat 5 sempurna? Udah saatnya direformasi; sekarang coba deh adopsi konsep piring sehat. Penuhi piring dengan sumber serat, seenggaknya setengah dari ukuran piring. Sisanya bisa dibagi rata untuk protein dan karbo.

Perhatikan komposisi gizi

  1. Nutraceutical

Istilah neutraceutical merujuk pada bahan yang lebih dari sekadar makanan tapi tidak cukup untuk dianggap sebagai obat. Jadi… di antara makanan dan obat, gitu. Bahan yang bersifat nutraceutical sederhananya adalah makanan yang memiliki nilai keuntungan kesehatan medis yang tinggi, yang mampu mencegah atau merawat suatu penyakit. Contohnya misalnya sereal, susu, dan jeruk.

Makanan yang juga obat-obatan

  1. Penyeimbangan hormon

Cara paling sederhana untuk mencapai hormone balance adalah dengan mengatur kembali pola diet kita dan mengendalikan porsi makan.

  1. Pengurangan tingkat stres dan manajemen stres
  2. Olahraga

Poin Akhir

Saya mau nawarin dua kesimpulan utama nih untuk obrolan kita kali ini.

Pertama, estetika dan antiaging itu dua entitas yang berbeda. Estetika adalah bagian dari antiaging karena pada akhirnya keindahan penampilan bisa terbentuk dari metode-metode antiaging yang tepat. Tapi antiaging adalah sebuah konsep yang lebih fundamental dan holistik. Ruang lingkupnya lebih luas dan menjangkau area-area yang sering luput kita pertimbangkan. Konsistensi dan kesabaran merupakan dua kata kunci yang melekat erat pada konsep antiaging dan estetika.

Kedua, perubahan habit harus menjadi titik penekanan untuk dipahami. Segala bentuk usaha pencegahan atau bahkan pembalikan proses penuaan berawal dari perbaikan kebiasaan dan pola hidup. Kita ga bisa berharap tubuh bisa kembali membaik dengan sendirinya setelah didera berbagai bentuk kerusakan akibat proses penuaan tanpa mengubah beberapa aspek yang esensial. Perbaiki dulu yang mendasar, baru kita bisa mengharapkan kesehatan, baru kita bisa menikmati semuanya dari segi estetika.

Segitu dulu ya, Teman DRYD. Byeee!