Permintaan dari Anak: Sejauh Apa Kita Harus Memenuhi?

Menjadi orangtua adalah suatu pengalaman yang pastinya bikin kita excited, ya. Setelah menemukan pasangan yang pas di hati kemudian mengarungi bahtera rumah tangga, hal berikutnya yang paling ditunggu-tunggu adalah kehadiran si buah hati yang akan mengisi hari-hari kita hingga tua nanti. Tapi apa sesederhana itu? Teman-teman DRYD yang udah jadi orangtua sekarang pasti paham kalo yang namanya ngasuh dan ngedidik anak itu bukan perkara gampang. Menjadi orangtua itu adalah pekerjaan seumur hidup. Orang bilang begitu si anak sudah menikah, tugas kita sebagai orangtua selesai. Kenyataannya, bahkan ketika buah hati kita udah mapan dan siap hidup dengan orang lain, kita sebagai orangtua akan selalu menjadi tempat si anak kembali dan berkeluh-kesah. Kita pun punya kewajiban untuk memberikan bimbingan dan bantuan dalam bentuk apa pun yang dibutuhkan si anak. Coba, sekarang siapa yang bisa anak kita andalkan untuk meminta nasihat kalo bukan orangtuanya sendiri? Namanya orangtua, pasti menang di besaran angka usia kan? Nah, asumsinya adalah dengan usia yang lebih matang, pengalaman pun lebih banyak. Sementara si anak mungkin baru memasuki satu tahap tertentu yang udah bertahun-tahun lalu kita lewati. Emang sih, usia ga menjamin kematangan pengalaman hidup tapi ya suka ga suka tetap kita para orangtua yang akan dijadikan sumber pembelajaran buat anak. Ibaratnya kita adalah sebuah buku yang akan dibaca dan dijadikan referensi oleh si buah hati.

Nah, salah satu hal terberat yang dihadapi oleh orangtua adalah perkara permintaan anak. Sebagai orangtua yang sangat menyayangi anaknya, naluri atau insting kita adalah membuat anak bahagia. Menuruti apa yang diminta oleh anak menjadi sebuah dorongan yang akan kita rasakan. Ditilik dari segi tanggung jawab orangtua pun, emang udah sebuah kewajiban untuk mengabulkan keinginan anak. Kasarnya seperti ini: Kita berani punya anak, kita pun harus berani berkomitmen untuk mensejahterakan kehidupan si anak. Yang jadi sumber persoalan sekarang adalah apabila kita secara buta mengabulkan keinginan anak—apalagi jika ini adalah pola yang udah telanjur dikenal si anak dari kecil. Apa aja risiko menuruti semua kemauan anak? Akan menjadi bumerang di kemudian hari. Jika anak sejak kecil udah terbiasa mendapatkan apa yang dia mau, dia akan tumbuh menjadi individu yang kurang daya usahanya dan temperamental sifatnya. Ketika semua kehendaknya kita turuti, pola asuh seperti ini akan menghapus insting si anak, merusak kemampuannya untuk mengikhlaskan sesuatu, meniadakan wibawa dan keberanian, terlalu royal, cuma bisa bersuka-ria, egoistis, dan selalu mementingkan diri sendiri.

Jadi gimana strategi yang perlu diterapkan supaya kita ga kebablasan dalam merespon permintaan dari anak?

  1. Pahami konsep boleh-tidak boleh.

Kita sebagai orangtua perlu menelaah permintaan si anak itu sendiri terlebih dahulu. Pertimbangkan apakah permintaan tersebut termasuk sesuatu yang tabu atau justru sebenarnya baik untuk diri anak sendiri. Banyak faktor yang bisa dijadikan tolok ukur. Umur, misalnya. Anak biasanya cuma tahu meminta karena dia suka tetapi kita sebagai orang yang lebih dewasa seharusnya bisa memilah mana yang pantas mana yang tidak. Ga semua permintaan harus dikabulkan kok selama itu emang ga pantes. Contohnya, anak mungkin kepingin dibelikan satu pakaian karena dia melihat idolanya mengenakan kostum yang serupa di televisi atau internet. Kita lihat dulu objeknya; jika pakaiannya terlalu terbuka, pastinya ga pantes dong dipakai oleh balita.

  1. Ajarkan batasan

Balik ke poin pertama, ga semua permintaan kudu kita kabulkan. Terlepas dari apakah si anak memahami alasan keinginannya ga kita penuhi, ini merupakan cara yang jitu buat mengajarkan batasan-batasan untuk si anak pahami. Ada untungnya juga buat kita sebagai orangtua. Jika anak sudah memahami konsep spesifik bahwa tidak semua permintaannya akan kita penuhi, dia ga akan memandang kita sebagai orangtua yang jahat, pelit, dan mengecewakan. Hasilnya, selain memahami konsep batasan, anak juga akan belajar untuk ga mudah patah semangat ketika nanti terbentur kesulitan.

  1. Tentukan aturan

Ini gunanya adalah untuk mengajarkan anak untuk tidak mencari celah dan berargumen ketika si anak keinginannya tidak dikabulkan. Kesalahan umum yang kita lakukan sebagai orangtua ketika menolak keinginan anak adalah ketiadaan aturan khusus dalam melarang. Contoh kasus, anak udah kebanyakan makan makanan manis dan masih meminta lebih; kecenderungan kita adalah mengucapkan larangan yang ambigu seperti, “Oke, kamu boleh makan satu lagi.” Larangan yang open-ended seperti ini memberi celah buat si anak untuk menegosiasi permintaannya supaya dia bisa makan lebih dari satu. Coba susun ulang kalimat larangan tadi menjadi, “Oke, gapapa makan satu lagi, tapi abis itu kuenya disimpan, ya.” Dengan begini, anak paham batasan, larangan, dan tidak akan menegosiasikan permintaannya lebih jauh.

  1. Ketika ragu, terapkan aturan tambahan

Jika kita belum terlalu yakin apakah akan mengabulkan atau menolak keinginan anak, coba berikan satu aturan tambahan sebelum berkata, “Ya.” Misalnya, Teman DRYD masih ragu apakah sebaiknya membiarkan anak menonton TV atau tidak. Untuk meyakinkan diri, coba berikan satu syarat ke anak. Jadi sampaikan, “Kamu baru boleh nonton TV kalo udah tidur siang dulu.” Atau, “Boleh nonton TV kalo mainannya udah kamu rapiin, ya.”

  1. Ga ada yang namanya cuma-cuma

Terapkan sistem reward. Mengabulkan keinginan anak tanpa memberikan tututan padanya adalah cara ampuh untuk membuat anak jadi manja. Sebaiknya, keinginan anak baru dikabulkan apabila dia sudah bisa memenuhi apa yang kita minta lebih dulu. Belikan dia mainan baru hanya jika nilainya bagus di sekolah, misalnya.

  1. Pahami konsep hak dan kewajiban

Tanamkan pada anak kemampuan untuk memenuhi kewajiban untuk mendapatkan apa yang menjadi haknya. Kita sebagai orangtua pun harus konsisten; jika anak sudah berhasil memenuhi kewajibannya, berikan haknya tanpa menunda.

  1. Buka komunikasi dan berdiskusi

Berikan penjelasan pada anak tentang kenapa kita menolak permintaannya dengan cara selugas mungkin. Harapannya adalah dengan membuka jalur komunikasi seperti ini, anak akan paham bahwa dia tidak sebaiknya mementingkan diri sendiri, belajar mengendalikan keinginannya, dan menjadi cermat dalam menghabiskan uang.

  1. Jangan bertindak fisikal

Maksudnya, jika menolak permintaan dari anak, jangan pernah disertai bentakan, ancaman, apalagi kontak fisik seperti pukulan. Tindakan seperti ini akan di-copy oleh anak dan ini akan berdampak pada sikap agresif. Sebagai orangtua, kita selayaknya membujuk dan menggunakan kata-kata yang penuh kasih sayang dan lembut. Tentunya ini perlu dilakukan tanpa disertai pemberian janji-janji yang menimbulkan harapan di diri si anak.

  1. Tetap konsisten

Ketika aturan sudah diterapkan, kita harus konsisten dan mengikuti apa yang kita tetapkan sendiri. Jangan keluar jalur sekalipun kita kasihan pada anak.

  1. Kompak dengan pasangan

Kita dan pasangan adalah orangtua si anak dan karena itu harus sejalan dalam mendisiplinkan buah hati. Jika menolak, keduanya menolak. Jika setuju, kedunya harus sepemahaman. Ini juga berlaku untuk orang dewasa selain orangtua seperti kakek-nenek, pengasuhnya, atau saudaranya.

  1. Perhatikan cara anak meminta

Sekalipun apa yang diminta oleh anak adalah hal yang baik yang ia butuhkan dan kita emang mampu mengabulkannya, jika anak meminta dengan cara yang tidak pantas seperti berteriak, menangis, atau merengek, jangan langsung dipenuhi setidaknya sampai akhirnya sikapnya berubah jadi lebih baik. Sebaliknya, jika permintaannya disertai dengan perilaku yang manis, berikan pujian dan usapan lembut di rambut atau tangannya. Ini akan meng-encourage sikap positif di masa depan.

  1. Jangan mudah tergugah

Jangan menyerah pada permohonan, teriakan, dan tangisan si anak. Tegaskan bahwa no means no. Sekali kita mengalah karena tangisan si anak, dia akan otomatis beranggapan bahwa keinginannya akan terkabul dengan cara-cara negatif.

Mengelola cara mengabulkan atau menolak keinginan anak itu cukup praktis karena kita langsung menghadapinya. Anak meminta sesuatu, tinggal kita yang perlu secara cermat memilih bagaimana menyikapi. Tapiii, ada juga loh, beberapa jenis permintaan anak yang tersirat. Maksudnya di sini adalah permintaan-permintaan yang bahkan si anak ga sadar ingin kita kabulkan dan penuhi. Emang iya? Nah, yuk kita liat.

  1. Anak ingin dicintai sepenuh hati. Ini mungkin hal yang simpel di mata kita. Toh, kita kerja banting tulang siang malam juga kan, untuk anak. Tapi pahami bahwa ada hal-hal lain yang bisa dilakukan untuk menunjukkan cinta pada anak juga.
  2. Anak ingin kita tidak memarahinya di depan publik. Kita frustrasi, stres, dan kehilangan kesabaran itu wajar. Tapi jangan pernah meluapkan amarah pada anak di depan orang banyak. Ini akan menghancurkan kepercayadiriannya dan membuat kita sendiri terlihat buruk di matanya.
  3. Anak ingin kita tidak membanding-bandingkan. Jangan pernah membandingkan anak kita dengan saudaranya sendiri atau orang lain. Setiap anak adalah harta karun tersendiri. Mereka memiliki prosesnya sendiri. Mudah buat kita membandingkan mereka dengan orang lain tapi apakah pernah terlintas di pikiran kita bahwa hal yang sama bisa mereka lakukan pada kita? Setiap anak juga punya gambaran ideal tentang orangtua sempurna, sanggupkah kita menerima kenyataan bahwa anak membandingkan kita dengan orangtua temannya, misalnya?
  4. Anak ingin kita menjadi role model-nya yang baik. Anak itu adalah cerminan kita sebagai orangtua. Apa yang kita terapkan akan terefleksi pada bagaimana mereka bertindak dan berperilaku. Kalau kita ingin anak berperilaku X, maka kita harus memberikan contoh X yang sama padanya.
  5. Anak ingin kita menilainya dewasa. Ini pastinya sesuai porsi ya; tapi intinya anak itu ga mau dianggap kecil dan ga berdaya terus-menerus. Umurnya bertambah tiap tahun jadi kita pun harus menyesuaikan semuanya.
  6. Anak ingin dibiarkan mencoba sesuatu. Jika gagal, jika berhasil, jika salah, jika benar, mereka ingin dibimbing dan diapresiasi, bukannya dikekang.
  7. Anak ingin kita ga ngungkit-ngungkit Anak melakukan kesalahan itu sudah sepantasnya. Kita pun ga luput dari kesalahan, loh. Maafkan kesalahan yang ada dan kemudian move on. Kalo kita terus-terusan mengingatkan anak tentang kesalahannya, ini akan membuat dirinya ga mampu menilai diri sendiri lebih dari kesalahannya.
  8. Anak ingin kita tidak memarahinya dengan hal-hal buruk. Sekali lagi, anak bertindak salah dan kita memarahinya itu adalah hal lumrah. Udah emang gitu siklus orangtua-anak, mah. Tapi kalo kemarahan kita disalurkan dengan disertai ucapan-ucapan kasar yang buruk, mental si anak bisa rusak dan mengalami trauma.
  9. Anak ingin kita memberikan penjelasan atas larangan yang kita berikan. Jangan berhenti pada kata “jangan” atau “ga boleh”, tapi lanjutkan dengan alasan dan penjelasan.
  10. Anak ingin kita ga menyeretnya ke dalam persoalan yang sama sekali ga ada hubungannya dengan dia. Kalo kita lagi berantem sama pasangan, jangan bawa-bawa anak atau melampiaskan kekesalan pada anak yang ga ngerti apa-apa.

Nah itu tadi pembahasan singkat kita tentang gimana nyikapin keinginan anak ya, Teman DRYD. Pastinya semuanya sebaiknya dipraktikkan atau diaplikasikan sesuai dengan situasi dan kondisi ya. Semoga kita bisa menjadi orangtua yang sempurna di mata anak.

Berhati-hati dengan Bahaya Bias Gender dalam Pengasuhan Anak

Hai Teman DRYD,

Mungkin di antara teman semua ada yang memahami apa itu bias gender dan tahu pasti tentang literatur atau sumber-sumber padat informasi mengenai isu satu ini. Mungkin ada yang tahu tapi pemahamannya masih samar, masih meraba-raba. Jadi ada baiknya jika pertemuan kita kali ini diawali dengan pembahasan yang mendasar dulu ya.

Yuk, kita samakan persepsi dulu mengenai definisi istilah itu. Bias adalah suatu kondisi yang diwarnai dengan kecenderungan untuk memihak atau merugikan. Gender adalah sifat atau nilai yang dilekatkan baik pada laki-laki maupun perempuan oleh konstruksi sosial dan budaya. Dari sini, kita bisa mensederhanakan pengertian bias gender menjadi keberpihakan pada satu gender yang merugikan gender lain.

Gender tidak sama dengan jenis kelamin ya, moms, sekalipun sering digunakan bergantian dengan anggapan bahwa keduanya merupakan sinonim. Kata kuncinya adalah ‘sosial’ dan ‘budaya’. Gender merupakan identitas hasil persepsi sosial dan ditanamkan pada satu individu dalam ruang lingkup kultur tertentu. Dan karena berkaitan dengan kultur, maka identitas gender bisa dikatakan sebagai warisan leluhur sebab ide mendasar yang menjadi landasan pembagian gender muncul dan diteruskan secara turun-temurun.

Akibatnya apa? Kita sebagai masyarakat sosial memiliki kebiasaan untuk mengkotak-kotakkan sesuatu berdasar ide identifikasi gender tersebut. Contohnya apa, Dok? Misal nih, pas lebaran kan ada tradisi beli baju baru kan. Nah, orang tua akan cenderung memilih produk yang dibeli berdasar pola gender tadi. Jadilah anak laki-laki dibelikan baju biru sementara anak perempuan dapat baju warna merah jambu. Atau anak laki-laki dibelikkan robot-robotan sementara adik perempuannya diberi boneka cantik yang anggun. Ga ada salahnya sama sekali melakukan yang seperti ini—asal anaknya seneng aja. Tapi, coba deh lihat kembali ke belakang, apa sih yang mendasari perlakuan seperti ini? Anak-anak mungkin ga peduli dengan konsep seabstrak maskulin-feminin dan itu lumrah karena mereka belum perlu mengenal keduanya dan apa bedanya. Kita nih, sebagai orang tua yang menyetir persepsi mereka dari kecil sehingga mainan mobil-mobilan merupakan hak prerogatif untuk laki-laki sementara anak perempuan diidentifikasi dengan boneka, warna merah jambu, permainan masak-masakan, dan sederet lain aktivitas yang dinilai cewe banget.

Emang secara lahiriah cowocewe itu beda. Tapi siapa yang tahu pasti tentang perkara batiniah. Seorang anak perempuan mungkin tertarik memegang robot-robotan karena di matanya robot itu sangat unik untuk dieksplorasi ketimbang boneka sederhana yang membosankan. Seorang anak mungkin tertarik dengan warna biru atau merah elektrik atau bahkan hitam karena entah kenapa. Itu cuma preferensi ya, Teman-teman. Memilih sesuatu yang diidentikkan dengan lawan gendernya tidak serta-merta mengubah identifikasi seksualnya. Si anak perempuan cuma suka main robot, ga ada yang salah kan? Bias gender-lah yang membuat semua terlihat seperti tidak pada tempatnya.

Guys, otak kita merespon konsep bias dengan sangat baik. Konsep maskulin-feminin dan strata di antara keduanya merupakan konsep purba yang sudah dipupuk selama ratusan ribu tahun sejak nenek moyang kita masih hidup di gua dengan pola berburu dan meramu. Kebayang kan, seberapa dalam pemahaman ini udah mengakar di dalam gen kita? Otak kita kayak udah disetel demikian dari sananya. Ini adalah kultur yang patut untuk ditilik lebih lanjut untuk direkonstruksi. Kenapa? Yang berbahaya lagi adalah kebiasaan pengelompokan hal berdasar gender ini akan lambat laun membentuk karakter si anak. Berdasarkan pengertian bias gender menurut para ahli, pihak gender yang diuntungkan akan mudah melontarkan judgment sementara si pihak yang dirugikan akan memiliki kompleks inferioritas. Kita sebagai orang tua pastinya ga mau kan, kalo ada anak kita yang merasa dirinya inferior? Karena bias gender lebih sering merugikan perempuan ketimbang laki-laki, maka jika pola asuh berdasar gender diterapkan secara asal, anak perempuan bukan ga mungkin akan merasa lebih kecil daripada laki-laki. Lebih jauh lagi, inferioritas ini mungkin berpotensi merambah lebih dalam lagi dan membuat si anak merasa kecil di hadapan siapapun bahkan di depan sesama gendernya sendiri. Orang tua yang paling memanjakan anaknya sekalipun pasti ingin anaknya mandiri dan mampu menyelesaikan persoalannya sendiri dengan relatif lancar. Sekarang, kalo dari awal aja si anak udah ngerasa ga mampu, gimana gedenya, kan?

Yang lebih menyedihkan lagi adalah keberadaan bias gender dalam pendidikan. Sekolah, sebuah institusi pendidikan formal, pun mengaplikasikan bias gender, disadari atau tidak. Buku-buku pelajaran diwarnai dengan pengondisian konseptual terhadap peran laki-laki versus perempuan. Di buku-buku SD—bahkan mungkin sarana pengajaran di playground—coba liat deh. Anak laki-laki diilustrasikan bermain di luar rumah dengan teman-temannya. Atau mungkin mancing dengan bapaknya. Atau mungkin ada ilustrasi lain yang menggambarkan pria dewasa di lingkungan kerjanya. Bagian anak perempuan gimana? Anak cewe biasanya digambarkan membantu ibunya memasak di rumah, beres-beres kamar, bermain boneka sendirian. Perempuan dewasa diilustrasikan sebagai pribadi yang terikat dengan rumah: Mengasuh anak, menyiapkan makan dan minum, atau mungkin ngobrol sama tetangga. Jomplang kan? Dan itu ditemukan di media pendidikan dasar yang akan membentuk landasan pikiran dan persepsinya di kemudian hari.

UUD 1945 pasal 31 udah dengan sangat gamblang ngasi ketegasan: Pendidikan itu hak semua warga negara. Ga peduli gendernya. Semua orang berhak mendapatkan pendidikan dan pengetahuan yang setara maka buku pelajaran SD pun sebaiknya bisa memuat ilustrasi tentang seorang pilot perempuan. Pernah liat perempuan jadi pilot? Kalopun pernah pasti cuma sekali seumur hidup dan tanggapan kita pasti, “Gilak ni cewek, jadi pilot euy!” Ada perasaan takjub campur heran. Tapi kalo kita liat pilot laki-laki, apa respons kita? Ga ada kan? Seolah-olah kita udah nerima gitu aja kalo pilot itu pekerjaan yang secara natural dilakukan laki-laki. Artinya apa? Secara ga langsung kita dikondisikan untuk beranggapan bahwa cuma laki-laki yang punya kecakapan dan kekuatan yang dibutuhkan untuk menjadi pilot.

Okelah kita berargumen memang perempuan memiliki fisik yang lebih lemah dari laki-laki sehingga wajar yang dipilih untuk satu pekerjaan adalah laki-laki. Oke, let’s go with that argument. Tapi itu tidak otomatis menutup pintu probabilitas seharusnya. Laki-laki dan perempuan berhak atas pengetahuan yang sama, dalam komposisi yang sama, dengan persepsi yang sama, dan perlakuan yang sama dalam hal pendidikan. Kita ambil contoh profesi pilot tadi. Aturan mana yang melarang perempuan untuk mempelajari dunia penerbangan? Terserah nanti di masa depan mau kayak gimana. Seorang perempuan akan menjadi pilot atau tidak, itu tergantung ketekunan, potensi, preferensi, dan kemampuannya. Tapi paling tidak sedari awal dia sudah dibekali dengan porsi pengetahuan yang ga beda dari rekan laki-lakinya.

Apa akibatnya kalau kita membiarkan bias gender menjadi that one driving force di balik cara kita mengasuh anak? Banyak. Terlalu banyak untuk dibahas karena sifatnya sistemik, menjalar ke mana-mana. Tapi secara umum bias gender dalam pola asuh bisa:

  1. Membuat si anak berkembang menjadi pribadi yang mudah memberikan judgment pada pihak yang tidak menerapkan konsep yang serupa. Contoh nih, si anak A melihat sebuah keluarga yang bapaknya ga Si ibu yang mencari nafkah sementara si bapak mengasuh anak dan mengurus rumah. Si A akan memiliki persepsi negatif terhadap keluarga tersebut. “Ih, masa cowo ga kerja…?” “Ih, kok cewe berangkat pagi pulang sore. Apa ga mau ngurus rumah ya?” Kita ga pernah tahu cerita yang ada di balik sebuah keluarga. Dan bias gender membuat kita merancang sebuah cerita tentang keluarga itu untuk merasionalisasi ketidakcocokan dengan konsep pribadi kita.
  2. Menghambat fleksibilitas anak ketika nanti dewasa. Contoh yang paling mudah adalah tentang pilot yang tadi kita bahas. Karena sedari kecil udah diinternalisasikan ke pikiran si anak cewe bahwa dia ga punya kepantasan untuk menyandang gelar profesi tertentu, sedari kecil jalan hidupnya bakal banyak benturan. Dia akan berjalan di satu arah tertentu yang didiktekan oleh konstruksi sosial budaya sekitarnya. Tidak ada ruang untuk bertumbuh dan berkembang dan menyerap pengalaman lain. Perempuan dituntut untuk selalu bersifat melayani, berpembawaan lembut, dan selalu berpenampilan cantik. Dan tidak ada pilot (atau profesi lain yang terasa maskulin) dikondisikan tidak cocok untuk yang cantik-cantik atau yang lembut-lembut. Profesi itu cuma cocok untuk yang gagah, kuat, dan berani, yaitu segala kualitas yang dimiliki laki-laki. Potensi yang mungkin ada di diri satu gender akan ditekan sangat kuat oleh sosial budaya di sekitarnya hanya karena tidak dinilai sesuai.

Kesetaraan gender tidak otomatis meninggalkan kodrat masing-masing individu. Iya, emang perempuan dikaruniai insting lebih serta desain fisik yang membuatnya mampu menjalankan peran sebagai ibu. Tapi mengasuh anak tidak serta-merta menjadi ranah khusus perempuan. Si bapak tidak harus melulu bekerja, minta dilayani, dan istirahat. Kalo emang ada waktu dan energi, coba deh, ambil si anak dari pangkuan istri dan ajak main. Itung-itung ngasi istri jeda buat bernapas. Bonding akan menjadi proses yang menyenangkan sehingga si anak tidak berkembang menjadi pribadi yang menganggap bapaknya seseorang yang kaku, dingin, dan tidak bisa diakses. Anak itu seharusnya punya akses 24 jam bebas hambatan loh, ke orang tuanya sendiri. Ini penting untuk membangun kedekatan dan menciptakan keharmonisan.

Sistem keluarga patriarki memang sudah terlalu kental dalam struktur sosial masyarakat kita. Butuh proses panjang dan ketekunan untuk bisa menyusun ulang semuanya supaya ga ada pihak yang dirugikan. Tapi semua mulainya dari keluarga inti kok. Jadi apa yang bisa kita lakukan?

Pertama, biarkan preferensi menjadi preferensi. Sadari bahwa preferensi bukanlah sebuah tindakan yang melawan hukum alam. Biarkan anak-anak memilih apa yang mereka suka; toh, kalau nantinya mereka tidak lagi merasa cocok dengan suatu hal, mereka akan mencari hal lain lagi yang barangkali lebih sesuai. Sambil tetap diamati loh, ya. Jangan sampe kebablasan melanggar koridor kewajaran. Anak yang cewe penasaran sama mobil-mobilan abangnya, berikan ia kesempatan untuk eksplorasi. Anak cowo mau nyoba megang boneka kakaknya, biarin ya, moms. Cuma megang doang, ga perlu ditanggapi dengan histeris apalagi sampe keluar pertanyaan, “Anak laki main bonekaaa? Mau jadi apa kamu?!” Ga perlu ya, moms. Dia cuma penasaran dan membiarkan anak menemukan jawaban atas rasa penasarannya akan berdampak positif untuk tumbuh-kembang-nya.

Kedua, jangan pilih kasih. Anak cowo dibeliin baju baru warna biru, tanya saudara perempuannya apa mau warna biru juga? Lagi-lagi, jangan membatasi preferensinya. Kecuali kalo emang dianya memilih yang berbeda. Tapi tanyakan dulu maunya apa dan yang mana. Dengan begini dia bisa merasakan kenyamanan dalam lingkup keluarga yang inklusif dan paham bahwa orang tuanya tidak memilih-milih dalam meberikan perhatian. Ini juga berlaku untuk keluarga dengan satu anak loh, ya. Biarkan anak yang memilih, kita cuma perlu kasi pendapat tanpa memaksakan konsep apapun. Toh, yang make barangnya ya dia. Toh, yang ngejalanin hidupnya nanti ya dia. Kita cuma perlu membiarkan dia tahu bahwa kita sangat menyayanginya.

Punya Anak Lebih Dari Satu Itu Berisiko? Yuk, Kita Bahas

Keluarga yang harmonis

Haaalo Teman DRYD!

Ketemu lagi kita di kategori khusus membahas seputar dunia parenting. Teman semua pasti dong tahu tentang yang dimaksud parenting. Paling ga, pasti ada pemahaman mendasar tentang topik ini. Parenting bisa disederhanakan sebagai pola asuh orang tua terhadap anak, bagaimana orang tua mendidik anaknya. Tapi, pendidikan yang gimana dulu nih?

American Psychological Association (APA) mengerucutkan parenting dengan definisi berupa pola asuh anak yang dilakukan oleh orang dewasa (tidak mesti berhubungan secara biologis loh, ya) dengan tujuan utama meliputi: memastikan kesehatan dan keamanan bagi anak, memastikan si anak menjadi pribadi yang produktif di masa depan, dan memastikan nilai-nilai budaya turun pada anak dan terinternalisasi dengan baik.

Definisi mendasar parenting ini bisa kita gunakan untuk menilik fenomena unik yang kayanya makin marak belakangan ini: Bahwa semakin banyak orang tua yang kepingin menambah anak tanpa memperhitungkan jarak anak pertama dan kedua. Hasrat menambah anak adalah hal lazim di setiap rumah tangga dan itu dapat dimaklumi. Kenapa mau tambah anak? Wah, ada banyak alasan untuk dijadikan jawaban bagi pertanyaan sesederhana itu. Ada yang berpikir dengan menambah anak maka rumah akan menjadi lebih ramai, ga sunyi kayak lapangan kosong. Ada yang mikir, wah si kakak butuh adek nih, biar ga sibuk sendiri. Ada lagi yang mikir, nambah anak dengan rentang usia berdekatan berarti nanti gede-nya bisa barengan; ga yang satu udah dewasa, yang satu masih muda belia. Ide bahwa membesarkan anak secara bersamaan berarti nanti rasa lelahnya pun usai bersamaan pun juga jadi alasan logis. Trus, ada lagi yang mikir-nya rada-rada konvensional; banyak anak, banyak rejeki, jadi selagi masih bisa, yok di-gas. Semua alasan ini valid; kita ga lagi ngomongin mana yang masuk akal, mana yang bikin mulut menganga. Kecuali alasannya mau bikin kesebelasan, baru deh, mengernyitkan dahi. Tapi yang jadi pokok permasalahannya di sini adalah apakah sebuah langkah yang smart menambah anak sementara anak pertama masih perlu dipantau perkembangannya?

Ga ada kok, yang menyalahkan keinginan punya anak. Tapi coba deh, dipikir-pikir lagi, apa si anak pertama sudah cukup menerima pola asuh dari kita sebagai orang tua? Ada tahapan perkembangan anak menurut umur yang harus selalu diikuti dengan baik agar si anak sempurna pertumbuhannya, baik fisik maupun mental. Kalau anak pertama bicara saja masih belum beres, terus udah hamil lagi, ibu akan sangat keteteran dalam meng-cover semuanya: Memastikan anak pertama baik-baik saja itu sudah menyedot pikiran loh, apalagi kalau ditambah harus memantau anak dalam kandungan sehat selalu di saat yang sama.

Apa Buruknya?

Setuju ga, kalau dibilang mengurus satu anak itu ga gampang? Iya kan? Iya, dia lahir dari kita. Iya, dia kita yang urus. Tapi seorang anak tetaplah individu yang berdiri sendiri; kepalanya aja udah beda, apalagi isinya, apalagi karakter dan kepribadiannya. Jujur deh, kalau punya anak kedua (atau ketiga, keempat) pasti anak yang sudah lebih dulu tua disuruh ikut membantu merawat adiknya. Kenapa? Ini biasanya terjadi ketika si ibu merasa segalanya sudah out of hand, dia sudah merasa bahwa kondisi rumah tangga sudah tidak bisa lagi dia kontrol sendirian. Mending kalo si bapak melek situasi, kan? Coba kalo suami tipe yang keburu tersedot perhatian dan tenaganya oleh pekerjaan. Ujung-ujungnya, anak yang gede yang disuruh-suruh.

“Kan tujuannya juga buat ngelatih dia, Dok, biar mandiri, sigap, patuh.”

Iyaaa, paham. Melibatkan anak dalam urusan rumah tangga itu ga salah. Malah banyak sisi positifnya. Tapi masa iya, dia mau disuruh ngawasin adek-nya juga? Orang dia juga masih perlu diawasi, kok. Gini loh, bundaaa, kalau si anak diberi tanggung jawab se-gede itu, dia ditempatkan dalam posisi yang mungkin hampir sama dengan orang tuanya, nanti dia dewasa terlalu cepat loh. Beban psikis yang diterima belum sepadan dengan tahapan tumbuh-kembangnya dan akhirnya dipaksa men-skip apa yang seharusnya dia lewati dengan sehat. Nih, ke-skip satu aja fase perkembangan di usia dini bisa fatal akibatnya. Efeknya mungkin ga langsung bisa diobservasi. Tapi nanti suatu saat nanti ketika dia besar secara umur, baru deh bermanifestasi. Susah? Complicated? Siapa bilang punya anak itu gampang?

Mari Membahas Risiko dan Efek

Waspada terhadap potensi tantrum pada anak

Jadi, apa sih, Dok, efek nyata dari punya anak dengan rentang umur terlalu dekat?

Pertama, potensi tantrum menanjak. Si anak pertama masih butuh kasih-sayang dan perhatian khusus, sudah ditinggal mengurus anak kedua—yang juga butuh extra care. Dari sisi orang tua saja jelas ini merupakan kerugian besar. Cape loh, kondisi kayak gini. Anak yang masih bayi nangis minta makan. Anak pertama nangis ngajak main. Si anak pertama belum paham apa-apa, tau-nya cuma teriak-teriak minta ini-itu. Kalo ga dikabulkan, marah sejadi-jadinya. Kenapa? Karena cara komunikasinya baru sampai sana. Pahamnya baru tentang jerit-menjerit. Dia belum sempat belajar menyampaikan kemauan dengan lebih smooth. Nah, tantrum-nya keluar, orang tuanya kecapean, meledak ga tuh seisi rumah?

Kedua, bonding menjadi kurang, baik antara anak pertama dan orang tua dan juga antara anak pertama dengan yang kedua. Kenapa bisa begitu? Usia-usia dini, sekitar 1 hingga 3 tahun, adalah periode kritis dalam proses identifikasi anak terhadap lingkungannya, termasuk unsur-unsur di dalam ruang lingkup dekat. Orang tua termasuk memegang peran vital dalam memastikan keutuhan ikatan batin antara mereka dan si anak. Gimana sih, proses bonding ini? Apa sih, yang bikin ikatan batin jadi kuat? Banyak faktor dan aspeknya. Yang paling sederhana ya, menghabiskan waktu dengan si anak. Main dengan mereka. Makan dengan mereka. Penuhi semua kebutuhan dasarnya. Ajak dia berbincang. Caranya bisa macemmacem; tapi dengan keberadaan anak yang baru lahir, apa mungkin Teman DRYD sanggup membagi perhatian, waktu, dan energi dengan adil dan merata? Dengan adiknya sendiri juga akan sulit terbentuk ikatan yang kuat. Sejak kecil si kakak akan menilai bahwa si adik adalah sebuah tanggung jawab. Perlakuannya akan beda sebab si kakak ujung-ujungnya bakal menganggap adiknya ini sebuah… apa ya… beban, mungkin?

Ketiga, rasa percaya diri si kakak bisa berada dalam bahaya. Inget kan, tadi dikatakan usia dini itu periode kritis? Ini juga berlaku untuk pematangan cara si kakak memandang dirinya sendiri, caranya memberi value pada dirinya sendiri. Di dalam usia yang semestinya masih menerima perhatian utuh dan terfokus, si kakak harus mencerna kenyataan bahwa dirinya ga terlalu spesial untuk dirawat. Selalu adik yang nomor satu. “Tapi anak bayi namanya, Dok. Pasti dong dirawat ekstra….” Ya makanya itu; suka ga suka, bayi itu sangat demanding. Dengan keberadaan si kakak, akan sangat sulit membagi fokus dan meratakan perhatian dengan serata-ratanya. Kondisi ini bisa diperburuk lagi kalau si kakak juga dituntut untuk berpartisipasi dalam membesarkan si adik. Itu bukan kewajibannya loh. Akhirnya gimana kalau ada tanggung jawab itu juga yang harus si kakak pikul? Yaaa, mungkin nanti dia bakal mikir, “Ah, saya cuma orang yang ikut membesarkan adik….” Gawat kan, kalo sampe sana dia berpikir.

Keempat, timbul rasa iri dan sifat kompetitif yang berlebihan dan tidak sehat. Naaah, ini nih, yang paling gampang dideteksi. Siapa sih, yang suka dengan sikap pilih kasih? Si kakak bisa berpikir si adik menerima curahan kasih sayang dan perhatian seratus persen dari ibu-bapaknya sementara dia cuma di-acknowledge kapan perlu. Ga perlu anak-anak deh, orang dewasa juga sebel dibegituin, kan? Orang tua bisa berdalih, “Engga kok, saya ga pilih kasih. Kan sesuai porsinya, kakak udah gede, udah bisa mandi, makan sendiri. Adek kan belum bisa ngapa-ngapain.” Itu menurut kita; dari perspektif si kakak bisa beda total. Dari rasa iri, muncul kompetisi. Dan kalo udah ada kompetisi, dijamin deh, rumah bakal panas rasanya. Persaingan antarsaudara itu lumrah. Malah mungkin sehat kalau intensitasnya normal. Tapi kalau sudah jadi kompetisi, itu yang berbahaya. Si kakak mikir gimana caranya supaya jadi yang the best di segala lini. Apa-apa kudu sempurna, lebih dari adiknya. Si adek, di lain pihak, kan ga ngerti nih, ini kakak kenaaapa, ya? Trus ga suka sama kelakuan kakaknya yang ga mau kalah. Ga nutup kemungkinan di kemudian hari nanti apa yang bermula sebagai persaingan sederhana berujung benci dan dendam, itu yang kita harusnya hindari.

Ada Ga Sih, Jarak Usia Anak-anak yang Ideal?

“Tapi, yang jadi pertanyaan adalah, apakah sanggup membagi rata perhatian dan memastikan pola asuh yang diberikan sudah tepat?”

Ajak si kakak berkomunikasi

Ada baiknya memikirkan selisih umur anak yang ideal sebelum memutuskan untuk punya anak lagi. Warren Cann, psikolog dari Parenting Research Centre di Australia, berpendapat bahwa rentang usia antara 2 anak yang terlalu dekat dan terlalu jauh sama-sama memiliki risiko kesehatan. Jadi diperlukan semacam garis tengah yang aman dalam hal ini. Jika bicara tentang jarak umur anak yang ideal dalam kaitannya dengan keinginan untuk punya 2 anak berjarak dekat usianya, sebaiknya kehamilan berikutnya direncanakan setidaknya 18 hingga 23 bulan semenjak kelahiran anak sebelumnya. Itu setidaknya loh, ya. Periode ini dirasa cukup untuk memberikan kesempatan pada anak pertama untuk bertumbuh dan berkembang dengan wajar sehingga kehadiran anak berikutnya tidak akan memberi jeda pada tahap-tahap yang semestinya.

Dua masa kehamilan yang berjarak kurang dari 18 bulan akan membuat Teman DRYD kehilangan me-time. Bukan, ini bukan berarti Teman semua harus egoistis—menjadi orang tua adalah pekerjaan seumur hidup yang otomatis meniadakan waktu berkualitas untuk diri sendiri. Tapi bagaimanapun juga kita semua adalah manusia yang kadang jenuh dengan rutinitas sehingga butuh menekan tombol pause sejenak untuk menarik napas. Dua anak yang umurnya terlalu dekat akan sangat melelahkan. Memang nantinya akan lebih mudah karena mereka pun membesar hampir bersamaan. Tapi, yang jadi pertanyaan adalah, apakah sanggup membagi rata perhatian dan memastikan pola asuh yang diberikan sudah tepat? Ingat ya, pola pengasuhan harus membuat anak-anak merasa aman, sehat, produktif, dan mampu memahami nilai dan tatanan yang diturunkan. Sebaliknya, 2 anak dengan rentang usia yang terlalu jauh memiliki potensi beban psikologis yang besar. Setelah 5 tahun merawat satu anak, kembali mengasuh bayi dari nol akan memaksa diri untuk lagi dan lagi melewati fase yang sama.

Langkah-langkah Preventif

Sebenarnya, tidak ada solusi pasti untuk fenomena ini karena memang ini bukan masalah melainkan lebih kepada berkenaan hal-hal abstrak yang bersifat management. Tapi tetap ada cara-cara yang bisa bunda semua lakukan untuk menekan potensi efek negatif.

Kita sebagai orang tua sebaiknya aware perkara keharusan untuk sharing dengan anak pertama, terutama tentang hal-hal yang bikin hepi. Jika memang Teman memutuskan untuk punya anak dengan jarak usia berdekatan, selama masa kehamilan kedua, cobalah berbagi dengan si kakak mengenai yang positif-positif saja. Pas lagi berduaan, ajak ngobrol deh, coba tanya “Kakak bentar lagi punya temen loh; mau diajak ngapain aja nanti?” Atau “Nanti dede-nya disayang ya, Kakak. Dikasi kue ya, sama dipinjemin mainan, ya.” Kecil kemungkinan anak umur 1 atau 2 tahun bisa paham apa yang bunda katakan. Tapi paling tidak si kakak bisa meraba mimik muka bunda dan merespon nada bicara bunda yang positif dan membuatnya bahagia. Nantinya, si kakak akan mengasosiasikan si adik dengan hal-hal baik yang membuat rasa excitement-nya meningkat. Jadi jangan sedikit-sedikit si kakak di-ingetin tentang kewajiban harus menjaga adik, harus merawat adik, harus nyuapin adik, apalagi harus menyekolahkan adik, berabe buk-ibuuuuk.

Terus, hal basic nih. Perkirakan kesiapan Teman DRYD untuk kembali menimang anak. Punya anak-anak deketan usianya emang ide yang menawan karena prospek lepas dari rasa lelah mengasuh anak yang lebih serentak di masa depan. Tapi siap ga secara mental, fisik, dan, terutama, finansial? Emang sih, karena jarak yang ga terlalu jauh, peralatan bayi si kakak bisa dipakai lagi untuk si adik—dot atau stroller misalnya. Tapi ada hal lain loh, yang ga mungkin disamakan. Asupan gizi anak umur 2 tahun pasti beda dengan anak umur sebulan setengah, misalnya. Belum nanti kalo mereka udah gedean, udah bisa mikir lebih kompleks dan punya selera sendiri. Mana mau si adek make baju bekas kakaknya.

Persiapan Sebelum Kembali Memiliki Momongan

“Pastikan ikatan antara bunda dan si kakak tetap terjaga sekalipun di tengah masa kehamilan yang baru.”

Jadi? Udah mantep mau punya anak lagi? Gini nih, garis besar persiapannya.

  1. Lihat usia si ibu

Perempuan di bawah 30 tahun yang sehat berpotensi lebih besar ketimbang yang berusia di atas 35 tahun. Bukaaan, bukan dilarang hamil umur segitu. Tapi kehamilan pada saat usia ibu di atas 35 tahun lebih rentan risiko terutama risiko kelainan kongenital. Selama kehamilan pun si ibu nanti akan lebih berpotensi kesulitan seperti diabetes gestasional maupun keguguran.

  1. Jarak kehamilan sebaiknya ideal

Tadi udah disinggung tentang periode ideal antara 2 kehamilan jika yang diinginkan adalah anak-anak yang usianya berdekatan. Nah, sekarang bahas jarak kehamilan yang ideal secara normal, yang pasnya, gitu. Sebaiknya, rencanakan kehamilan berikutnya antara 2 hingga 4 tahun sejak kelahiran yang pertama. Ini bukan cuma perkara kematangan si anak yang sebelumnya tetapi juga kondisi fisik si ibu. Kondisi tubuh perempuan memerlukan waktu untuk kembali siap mengandung lagi. Jika kehamilan terjadi terlalu dekat, dikhawatirkan akan terjadi kelainan plasenta—risiko ini akan berlipat apabila persalinan sebelumnya terjadi secara sesar.

  1. Timbang-timbang kemampuan finansial

Ini sih, seharusnya sudah tidak dibahas ya. Jumlah anggota keluarga bertambah, artinya biaya yang dibutuhkan pun meningkat. Tapi ya mau ga mau harus diikutsertakan sebagai salah satu faktor yang patut ditelaah sebelum memutuskan untuk memiliki momongan lagi. Banyak loh, yang harus dipersiapkan: biaya selama kehamilan, biaya persalinan, asupan gizi seperti susu, perlengkapan dan peralatan bayi, imunisasi, sampai masalah biaya pendidikan jika sudah menginjak usia sekolah.

  1. Cari tahu masalah kesiapan pasangan

Punya anak itu andil berdua, ya. Jika satu saja dari sepasang orang tua berpikir bahwa ia belum siap memiliki momongan lagi, maka sebaiknya diurungkan saja.

  1. Tanya si kakak, siapkah dia menyandang status baru?

Dengan asumsi si kakak sudah dapat berkomunikasi lebih baik dan pola logikanya sudah mulai terbentuk, ajukan pertanyaan-pertanyaan yang bunda bisa jadikan sebagai tolok ukur kesiapan mentalnya dalam menerima kehadiran bayi baru di tengah keluarga. Pastikan ikatan antara bunda dan si kakak tetap terjaga sekalipun di tengah masa kehamilan yang baru.

Final Words

Siap punya anak lagi?

Pembahasan kali ini bukan dimaksudkan sebagai judgment atau upaya menentukan nilai baik-buruk, benar-salah. Semua berhak dan bisa punya anak, kapanpun mereka siap dan berapapun mereka mau. Tapi ini lebih kepada usaha pemberian pemahaman kepada Teman semua mengenai risiko, konsekuensi, dan tanggung jawab kita sebagai orang tua dalam memastikan pola asuh yang tepat.

Punya anak lebih dari satu itu memang menyenangkan. Rumah terasa lebih hangat dan Teman DRYD pun tidak akan kesepian. Tetapi kalau Teman memilih untuk punya anak lebih dari satu dengan jarak usia yang sangat mepet dan akhirnya kewalahan, apakah tidak lebih baik dari awal menunda kehamilan berikutnya? Something to think about.