Ada satu jurnal unik tentang perselingkuhan yang pernah saya baca tempo hari. Jurnal ini mengklaim bahwa perselingkuhan pada dasarnya bukan hanya mengenai satu orang yang sudah memiliki komitmen dengan seorang pasangan kemudian menjalin hubungan dengan orang lain. Ketika satu saja dari pihak yang sudah saling berkomitmen itu merasa nyaman dengan pola interaksi yang ada dengan pihak lain, itu sudah sebuah perselingkuhan. Kata kuncinya di sini adalah “interaksi” loh ya. Jadi bentuknya bisa sangat umum, harmless, dan halus nyaris ga bisa dibedakan dari pola interaksi yang lain.

Selingkuh: sebuah konflik yang umum tapi bisa dihindari
Dari sini timbul satu pertanyaan, dan pertanyaan itu betul-betul “revolusioner”, “Kalo gitu, semua orang di muka bumi ini pasti pernah selingkuh se-engga-nya sekali seumur hidup?” Revolusioner, kan? Ini bisa mengubah cara kita meniilik konsep perselingkuhan dan bisa-bisa memaksa kita mengganti cara berinteraksi dengan orang lain, dong.
Bentar–bentar, jangan dulu ngerasa dituduh trus sebel sama saya, ya. Hahahah. Saya ga nuduh, loh. Ini bukan judgment. Ini cuma pembahasan menarik buat saya karena ternyata hal sederhana yang kayanya ga berisiko-berisiko banget ternyata bisa punya dampak sistemik yang gede, gitu.
Supaya lebih praktis, yuk coba kita terapin pake contoh real. Ada ga yang masih temenan sama mantannya di medsos? Kalo ada, pasti dong, sering kepo. Sering kan, ngeliat fotonya di feed trus masuk ke profilnya trus kebayang masa lalu trus kepikiran masa-masa indah dulu trus senyum-senyum sendiri. Trus tanpa diduga muncul dorongan buat nyoba ngontak lagi. DM-DM-an, ah. Trus ngobrol deh panjang-lebar. Dan semuanya pasti dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Nunggu pasangan tidur lah, di kamar mandi lah, di tempat kerja lah. Kenapa sembunyi-sembunyi? Karena alam bawah sadar kita cenderung mem-protect diri sendiri supaya ga ada dalam situasi menjadi tertuduh dan merasa bersalah. Kebayang kan, gimana berabe-nya kalo pasangan sampe ngegap kita lagi ngobrol asik sama mantan? Kita tahu itu salah dan punya banyak potensi konflik, tapi tetap kita lakukan; maka mekanisme defensif kita adalah dengan melakukannya di belakang pihak yang berisiko menjadi marah.

Semua serba di belakang pasangan
Ga usah sampe DM-DM-an sama mantan deh; menikmati keindahan manusia yang fotonya terpampang di feed aja pasti udah bikin nyaman kan? Cakep banget nih UwU. Gila, bening banget, nih. Emang, mungkin ga sampe yang nekat ngajak kenalan ato bikin hasrat menggebu-gebu. Tapi nyaman ga, pas mantengin? Nyaman? Nah, selingkuh deh, tuh.
Ato kasus lain. Ada ga yang udah lama ga kontak sama mantannya, tiba-tiba harus ngubungin gegara masalah kerjaan? Udah setengah mati nyoba nyari pakar lain tapi cuma si mantan yang available dan kita tahu kualitas kerjanya kaya apa. Mau ga mau kan? Deadline udah deket, nih. Di-WA deh, tuh si mantan. Kebayang dong awkward-nya gimana? Tapi seiring waktu berjalan dan karena memang konteksnya adalah pekerjaan, rasa canggung pun hilang, berganti rasa nyaman. Dari rasa nyaman, muncul rasa kehilangan kalo ga kontak sehari karena emang lagi ga ada keperluan kerja.
“Ya kan, ga salah, Dok. Di kasus pertama, kita ga sampe ketemuan. Di kasus kedua, kan cuma suka ngeliatin—paling jauh juga ngasi like. Di kasus ketiga, salahnya di mana, Dok? Kan ngobrolnya cuma masalah kerjaan.”
Gini, ada yang namanya selingkuh fisik, ada yang namanya selingkuh hati dan pikiran. Kalo selingkuh fisik, pasti pada paham dong. Pasangan udah ketemuan sama orang lain, ngedate tiap minggu tanpa kita tahu, kebangetan kalo masih nanya, “Selingkuh ga sih, itu namanya?” Nah, selingkuh hati adalah jenis perselingkuhan yang paling abstrak. Kenapa? Karena biasanya terjadi satu arah, si pihak lain bisa aware dan merespon balik bisa enggak. Kedua, perselingkuhan jenis ini bisa melibatkan fisik bisa enggak, meskipun di kebanyakan kasus, ga perlu kontak fisik atau face to face. Ketiga, jenis perselingkuhan ini relatif lebih cepat hilang, apalagi kalo pihak satunya ga memberi respons yang mendukung. Begitu jalur komunikasi ditutup, rasa-rasa dalam dada bisa cepat hilang.
Karena sifatnya terlalu abstrak dan seringkali tidak terdeteksi, selingkuh hati ini juga sekaligus jenis perselingkuhan yang paling sering terjadi. Masa sih, cuma ngelike foto orang doang bisa dianggap selingkuh? Harmless emang; tapi coba deh tempatkan diri kita di posisi pasangan. Apa kita ga otomatis kepikiran, “Seharusnya aku yang di-like. Kenapa dia ngelike orang itu? Apa yang kurang di diriku?” Insecurities, self-doubt, ketidakbahagiaan, rasa marah, rasa tidak percaya, rasa curiga, perasaan dikhianati; wah, resep anti-gagal untuk memasak konflik dalam hubungan hingga matang.
Selingkuh itu konsep sederhana, sebetulnya, cuma aplikasinya sangat luas jadinya bikin kita mikir ke mana-mana. Simpelnya, selingkuh itu adalah ketika kamu melakukan atau merasakan sesuatu yang seharusnya kamu lakukan bersama atau rasakan terhadap pasangan sahmu—baik pacar apalagi pasangan legal. Dan dari ketiga contoh di atas tadi, benang merah-nya sama: ciri ciri selingkuh hati itu adalah ketika kita merasa nyaman terhadap sesuatu yang terjadi dengan orang lain dan semuanya terjadi di belakang pasangan kita. Semua orang bisa berargumen mengontak mantan itu bukan hal yang salah ketika menyangkut masalah profesionalisme. Mengobrol dengan mantan pun relatif tidak salah; argumennya, toh, ga ada pembicaraan yang “menjurus”. Cuma tanya kabar, sibuk apa, atau mengomentari anaknya (kalo ada) yang kiyut. Semuanya pun ga kita perkirakan dan tanpa sepengetahuan pasangan—baik pasangan kita maupun pasangan si mantan. Kondisi ini bisa terjadi tanpa si mantan berniat memicu kembali kenangan masa lalu yaaa. Si mantan bisa aja tetep nge-jaga profesionalisme. Bahkan mungkin pasangannya sendiri tahu urusan kita sama si mantan. Tapi dari sisi kita sendiri? Siapa yang bisa jamin ga ada kesalahpahaman di antara kalian sehingga ucapan yang sejatinya bersifat pekerjaan malah kita artikan bentuk kepedulian personal?
Ga ada yang salah. Selama masih dalam batas normal dan paham cara mengatasi selingkuh hati, semua serbah sah sebenarnya.
Tapi pantas, ga?
Siapapun pasti paham tentang konsep benar-salah. Dari kecil kita udah dididik untuk membedakan mana yang benar untuk dilakukan, mana yang salah. Kadarnya mungkin memang berbeda, tergantung latar belakang, lingkungan, dan daya nalar. Tapi semua orang punya parameter masing-masing mengenai benar-salah. Tapi kalo udah membahas pantas-tidak pantas, ceritanya bakal panjang.
Seseorang boleh menghubungi kembali mantannya untuk masalah pekerjaan. Seorang anak yang sudah dewasa berhak dihidupi oleh orang tuanya. Mendukung satu ideologi sah diperbolehkan oleh hukum. Tidak ada yang salah sama sekali. Tapi, apakah pantas menghubungi mantan di luar pekerjaan? Apakah pantas orang dewasa menggantungkan hidupnya pada orang tuanya? Apakah pantas mendukung sebuah ideologi kontroversial? Konsep benar-salah itu diterapkan berdasarkan logika sementara pemahaman mengenai pantas-tidak pantas itu lebih mengedepankan perasaan. Mana yang harus didahulukan? Apa salah mendahulukan logika? Toh, manusia diberikan kemampuan untuk melakukan proses berpikir kritis, kan? Itu pun benar. Tapi yang perlu diingat adalah benar-salah adalah pola pikir hitam-putih yang sangat subjektif sifatnya. Hidup itu ga serba hitam atau serba putih. Ada kalanya kita dipaksa memasuki area abu-abu dan pembagian benar-salah tidak efektif. Apa yang menurut logika subjektif kita adalah benar, bisa berarti sebaliknya dari perspektif orang lain.
Enggak, bukan berarti kita harus hidup berdasarkan pendapat orang lain juga. Kita individu merdeka, bebas dari apa yang orang lain pikirkan tentang tindakan kita. Tapiii, ada baiknya jika kita juga meluangkan waktu untuk menggunakan perasaan sendiri untuk menelaah tingkat kepatutan suatu tindakan setelah selesai dengan proses pemilahan tingkat kebenaran tindakan tersebut. Gunanya apa? Supaya kita tidak menyakiti perasaan orang lain atau, amit-amit melanggar hak orang lain.
Kita, semerdeka-merdekanya kita, seindividualistis apapun kita, adalah makhuk sosial. Kita ga hidup sendirian. Bahkan di saat kita berpikir bahwa kita sudah menjalani lifestyle yang mandiri, independen, ga pedulian, tanpa disadari hidup kita selalu bersinggungan dengan orang lain. Selalu ada satu irisan yang membuat kita berinteraksi dengan hidup orang lain. Perasaan dan hak orang lain juga kudu dipertimbangkan. Konsekuensinya kalo engga gimana? Ya, jadi public enemy. Jadi sumber pencetus konflik. Pasangan ga bakal nyaman hidup berdampingan dengan kita padahal kan, tujuan membina sebuah relationship itu kan salah salah satunya menyatukan dua kepala yang berbeda biar satu arah. Kalo sebuah hubungan dijalani tanpa rasa nyaman, udah pasti ambyar. Tinggal nunggu waktu. Ini berlaku ga cuma perkara romance loh, ya. Hubungan pertemanan juga sama; ga ada orang yang nyaman berada di satu circle yang sama dengan seseorang yang ga pernah mikirin perasaan orang lain. Hubungan profesional juga sama, lebih-lebih lagi malah mengingat unsur like and dislike sangat kental di dunia kerja.
Contoh lain yang menarik adalah momen reuni. Kan biasa nih ya, pasti ada group chat alumni. Trus salah satu anggota grup adalah seorang cewe yang dulunya pas kuliah sering berpenampilan hot, gitu, serba wow. Trus ada anggota lain, cowo (tipikal badut di kelas gitu, deh) yang tiba-tiba nyeletuk, “Eh, lu masih seksi, ga?” di dalam percakapan grup tersebut. Salah? Enggak. Pada kenyataannya emang si cewe itu penampilannya emang menarik perhatian. Dan karena udah lama ga ketemu, pastinya ga tau ada update apa, kan. Ada perubahan ato engga. Completely harmless. Malah mungkin mengundang seisi grup untuk ketawa, lucu-lucuan aja, gitu.
Tapi pantes, ga?
Siapa yang tau pasti si member cewe masih kaya dulu? Siapa tahu dia udah hijrah sepenuhnya. Siapa tahu dia udah berkeluarga dan ada perasaan keluarga yang harus dia jaga. Gimana perasaan kita kalo jadi suaminya dan ngeliat pertanyaan kaya gitu terlontar segitu casual-nya? Gimana perasaan istri kita kalo dia liat suaminya nanyain hal begituan? Apa ga timbul pertanyaan, “Lah, kalo masih seksi trus mau gimana? Mau dipepet, gitu?” Panjang urusannya. Secara ga langsung, menimbang kepantasan suatu tindakan atau ucapan bisa mencegah kemunculan konflik-konflik yang ga perlu di hidup kita. Problematika hidup yang udah ada aja masih belum kelar, masa mau nambah? Dengan meminimalisasi konflik, hidup akhirnya akan terasa lebih ringan. Hidup yang dijalani dengan ringan akan menyenangkan. Salah satu kunci kebahagiaan adalah dengan meningkatkan kedewasaan diri.
Suatu hal bisa benar tapi tidak pantas di saat yang sama. Sebaliknya, sesuatu itu bisa salah tapi kemungkinannya untuk menjadi pantas masih terbuka lebar. Apa contohnya? Tau dong, berinteraksi dengan manusia lain di masa pandemi seperti sekarang adalah hal yang salah untuk dilakukan. Tapi gimana dengan orang-orang yang hidupnya bergantung sepenuhnya pada pekerjaan yang mengharuskan mereka untuk interaksi? Maka tetap berinteraksi dengan orang lain menjadi pantas untuk dilakukan—setelah menimbang aspek kewaspadaan, kehati-hatian, dan pencegahan, tentu saja. Intinya, proses berpikir sebaiknya ga berhenti di apakah suatu hal itu benar atau salah. Pikirkan juga tentang apakah sesuatu itu: 1) akan mengundang konflik atau tidak, 2) menyakiti dan melanggar hak orang lain atau tidak, 3) urjen atau tidak.

Jadi apa nih, yang kudu di-lakuin untuk mencegah diri dari menjadi individu yang hitam-putih? Pertama, lihat ke dalam. Apakah self–awareness dan self–control kita udah matang? Tingkat kematangan kedewasaan seseorang bisa dilihat dari kedua hal itu. Inget, dewasa tidak berbanding lurus dengan besaran usia, ya. Dalam praktiknya, pengertian kedewasaan lebih menitikberatkan pada kemampuan seseorang dalam me-manage dirinya secara internal dan memahami perannya dalam lingkungan.
Kedua, untuk contoh kasus perselingkuhan nih, pahami perasaan sendiri. Identifikasi, tanyakan pada diri sendiri, “Ini perasaan apa sih?” Analisa, “Oh, ini perasaan nyaman. Apa yang menjadi penyebab?” Dan mitigasi, hindari hal-hal yang bisa menjadi trigger. Hentikan sama sekali jika memang sangat membahayakan dan memungkinkan. Cegah dirimu melihat-lihat hal-hal yang potensial menimbulkan masalah. Ingat, perasaan pasangan kita adalah hal pertama yang harus dijaga. Tapiii, logika dan perasaan dalam cinta harus seimbang. Percuma mengandalkan logika aja karena pada kenyataannya kita berurusan dengan hal yang saaangat abstrak. Menggunakan perasaan sepenuhnya juga riskan karena kalo soal cinta, hati seringkali ga berguna dalam mengurai permasalahan. Seimbangkan semuanya. Jaga hatimu, hati pasanganmu, dan hati pasangannya mantanmu. Kecuali nih, kalo kamu dan mantanmu (atau pihak lain manapun) masih sama-sama single, in which case, by all means, go ahead.
Ketiga, introspeksi. Kita sering lupa berkaca pada diri sendiri. Kita sering lupa menempatkan diri pada posisi orang lain. Judgment sering lancar mengalir dari mulut. Ucapan sering ga dijaga. Ada bener-nya omongan orang-orang tentang sebaiknya pause dulu sebelum berbicara. Pikir dulu efeknya nanti kayak gimana. If you have nothing good to say, then you might as well shut your mouth.

Tapiii, yang namanya manusia pasti nih ya, sering luput, sering banget bikin kesalahan yang ga disengaja. Niatnya bercanda, eh orang lain kesinggung. Niatnya ngingetin, eh bikin bubar pertemanan. Niatnya nyembunyiin cerita tentang pekerjaan dengan mantan dari pasangan biar ga curigaan, eh malah murka dianya. Risiko pasti ada, kok. Lagi-lagi, namanya manusia, pasti isinya ga ada yang sempurna. Basi? Iya. Klise? Ho–oh, emang. Tapi itu realitasnya. Sebagai manusia yang ber-akal-budi, semuanya balik ke kita gimana cara menyikapi realitas itu. Pikir, telaah, dan timbang.