Mengasuh Anak dengan Cara yang Apa Adanya

Teman DRYD,

Udah maksimal belum dalam memastikan anak hepi dan bertumbuh-kembang dengan baik? Ini bukan judgment loh ya, Teman-teman, cuma pertanyaan sederhana yang bahkan mungkin tanpa perlu diajukan sekalipun udah ada dalam kepala kita semua. Salah satu dari banyak concerns kita sebagai orang tua adalah memastikan si buah hati tidak memiliki hambatan yang berarti dalam prosesnya mendewasa. Dan salah satu cara untuk bisa melancarkan proses perkembangan anak itu adalah dengan membuatnya bahagia di rumah.

Rumah yang terasa hangat dan energetik adalah sumber kebahagiaan anak yang mutlak. Anak tidak akan bisa bertumbuh dan berkembang dengan relatif sempurna jika lingkungan intinya tidak akomodatif dan sehat. Peran kita dalam hal ini adalah membentuk lingkungan akomodatif tersebut.

Sebenernya mencari tahu dan mengukur kadar apakah anak itu sehat atau tidak adalah suatu hal yang sedikit kompleks. Kita perlu jadi supersensitif terhadap perubahan sekecil apa pun pada anak, superkritis terhadap diri sendiri dan cara-cara pengasuhan anak yang dipakai, super-willing buat mengevaluasi dan mengoreksi diri, supertajam dalam menganalisa keadaan, superikhlas dalam mempersembahkan banyak faktor untuk anak (waktu, ruang, energi), dan superfleksibel dalam menyediakan perhatian khusus untuk si buah hati.

Terdengar rumit, kan? Emang iya. Saya ga bosen-bosen ngingetin kalo membesarkan anak itu tugas yang saaangat ribet. Keliatannya aja yang gampang, apalagi kalo kita lebih banyak ngeliat keluar dan cuma yang enak-enaknya aja. Sekali diterapin sendiri bisa keteteran. Bisa terjerat sendiri dalam serangkaian kerumitan menjadi orang tua.

Tapi sebagai guidelines mendasar, ada kok parameter penilaian apakah anak sehat di rumah dan ini dibagi menjadi dua tipe: jasmani dan rohani.

Ciri-ciri anak yang jasmaninya sehat relatif lebih mudah untuk diobservasi:

  1. Aktif

Anak yang secara fisik aktif adalah anak yang cukup sering bergerak sehingga makanan yang ia konsumsi bisa diubah menjadi energi secara konsisten. Efeknya apa dari anak yang dinamis? Kepercayaan dirinya lebih besar, konsentrasinya lebih tinggi, lebih mudah bersosialisasi, berbagi dan bekerja sama dengan orang pun akan menjadi suatu hal yang alami buat si anak. Organ-organ dalamnya juga lebih kuat dan maksimal dalam bekerja.

  1. Tumbuh

Agak ga fair sebenernya kalo mau memberikan penilaian kesehatan anak dari sisi pertumbuhannya karena setiap anak adalah individu berbeda yang memiliki laju tumbuh-kembang yang berbeda-beda juga. Penambahan tinggi dan berat adalah 2 hal yang cukup konstan untuk ditilik di setiap anak: Proses ini semestinya berlangsung secara proporsional dan menunjukkan peningkatan signifikan, terutama di masa pubertas.

  1. Tubuh

Menilai kesehatan anak secara jasmani bisa jauh lebih mudah apabila si anak emang nunjukin ciri-ciri yang sehat. Kulitnya sehat ga bentol-bentil atau kering, rambutnya ga rontok dan ga ada kutu di kepala, kukunya bersih dan kuat, lidahnya kemerahan, mulutnya ga bau, dan giginya ga ada lubang atau karang.

Ciri-ciri anak yang rohaninya sehat cuma bisa diamati dengan peninjauan ekstensif dan komprehensi karena berkenaan erat dengan aspek-aspek seperti kemampuan akademik, kepribadian, dan sikap, tapi umumnya:

  1. Emosinya lebih stabil

Perilakunya secara umum baik dan sopan dan ga suka tantrum. Agresivitasnya pun masih dalam skala masuk akal. Si anak jarang terlihat sedih dan ga narik dirinya tiba-tiba.

  1. Kepercayaan dirinya tinggi dan sifatnya ceria

Si anak tampak lebih menikmati hidupnya dan jauh dari yang namanya cemas berlebihan.

  1. Sifatnya supel

Kemandirian bisa diamati dalam dirinya dan ini membuatnya lebih mudah bergaul tanpa menghindari dunia sosial di sekitarnya.

  1. Lebih mudah belajar

Konsentrasinya terjaga dengan baik dan mampu menyerap pelajaran di sekolah dengan relatif baik pula.

  1. Istirahatnya cukup

Buah hati ga mengalami kesulitan dalam beristirahat dan ga ada gangguan tidur—ga sulit tidur atau tidurnya kelamaan.

Tentunya ini cuma general guidelines ya. Ga mesti semuanya harus sesuai dengan apa yang dijabarkan di atas, lebih bersifat berdasarkan kasus aja. Yang perlu diingat juga adalah anak-anak masih mempelajari cara berkomunikasi yang baik dan efektif jadi akan selalu ada kemungkinan dia menyimpan sendiri kendala yang ia hadapi. Kitalah yang perlu jeli, responsif, dan proaktif dalam mengulik permasalahan yang sebetulnya terjadi.

Apa pentingnya kita menjaga kesehatan anak di rumah? Anak yang tumbuh sehat di rumah adalah anak yang bahagia. Anak yang bahagia akan merefleksikan cara mengasuh anak yang baik pula, yang orang lain bisa lihat secara langsung. Ini bukan berarti kita perlu selalu memikirkan apa opini atau omongan orang lain ya; anak kan anak kita. Kita yang kenal karakternya seperti apa. Kita yang menghadapi kesulitan dan menikmati keberhasilan dalam mendidik anak. Bodo amat deh sama apa yang orang lain pikirkan. Tapiii, ketika anak berubah menjadi “cermin” yang memantulkan pola asuh yang kita terapkan dan orang lain bisa dengan gamblang menangkap sinyal bahwa si anak ga bahagia di rumah, kita juga yang kena getahnya. Kita dianggap ga becus membesarkan anak dan belum lagi kita harus menghadapi konsekuensi dari pola asuh yang tidak tepat itu sendiri nanti.

Lagi-lagi, emang kita ga perlu menyusahkan diri sendiri dengan memikirkan pandangan orang lain. Tapi orang lain itu juga bisa banget menangkap apa yang anak rasakan dari cara mereka berinteraksi dengan si anak.Misalnya nih, kita lagi ketemu sama temen dan anak kita bawa. Ketika si temen mencoba membangun komunikasi dengan anak kita, cara si anak memberi respons kepada orang dewasa akan mencerminkan apa yang kita tanamkan kepadanya. Apakah dia malu dan memilih bersembunyi di balik badan kita? Apakah dia dengan sopan membalas sapaan orang dewasa dan terlibat dalam percakapan yang dinamis? Sesama orang dewasa bisa menangkap jika ada sesuatu yang salah dengan cara kita mendidik anak di rumah atau jika ada sesuatu yang dengan tepat sudah kita terapkan pada anak.

Anak itu output ya, Teman-teman. Mereka bisa menjadi tolok ukur orang lain dalam menilai kefasihan kita dalam memastikan kesehatan dan kebahagiaan anak. Jadi jangan “bersandiwara”; bersikap seolah-olah semuanya udah kita terapkan dengan baik dan sempurna sementara dari muka anaknya aja udah keliatan kalo dia ga mendapatkan cukup kebahagiaan di rumahnya sendiri.

Masalah terbesar kita sebagai orang tua yang memiliki anak yang masih lumayan kecil adalah bagaimana kita bisa membuatnya patuh tanpa menggunakan cara-cara yang berpotensi merusak tumbuh-kembangnya. Ada sih tips dan trik yang bisa dipake, tapi sama lagi, semuanya ini cuma general guidelines, ya. Tinggal cocokkan dengan apa yang terjadi dan situasi di rumah aja nanti.

  1. Berikan contoh yang baik

Mengharapkan diri sendiri menjadi orang tua yang sempurna itu cuma mimpi. Kita cuma bisa melakukan dan memberikan yang terbaik. Don’t be too hard on yourself; adapt, adapt, and adapt. Kita harus fleksibel dan cukup mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak dan tuntutan menjadi orang tua yang “memadai” aja. Jangan menarget kesempurnaan karena ini bisa berpotensi menjadi bumerang yang hanya akan menyakiti diri sendiri pada prosesnya. Memberikan contoh kepada anak adalah yang sederhana; anak itu seperti kertas kosong yang tinggal diisi dengan apa yang kita kehendaki. Jika kita menginginkan anak memiliki sikap tertentu, tunjukkan. Jangan cuma menyuruh dan memerintah. Anak lebih mudah mencontoh apa yang ia lihat daripada dengar.

  1. Panggil namanya

Kita susah-susah mencarikan nama yang artinya bagus buat anak, kita juga yang akhirnya menolak menggunakan nama itu untuk memanggilnya. Kan ga konsisten jadinya. Menyebut nama si anak akan memberikan rasa dianggap pada diri anak sendiri. Setelah si buah hati menoleh, utarakan dengan lembut apa yang kita inginkan. Jangan pernah berteriak atau membentak ya.

  1. Dengarkan dirinya

Dengarkan keluhannya. Dengarkan protesnya. Dengarkan alasannya.

  1. Kenali trigger

Jika anak marah, kita patut mencari tahu apa yang menjadi penyebab kemunculan emosi negatif. Hindari menguliahi anak di saat dia sedang marah karena ga bakalan ada satu pelajaran pun yang bisa dia serap.

  1. Jadilah konsisten

Pola yang konsisten dan rutin akan memberikan rasa aman untuk anak dan mendidiknya untuk terbiasa dengan karakter kita sendiri sebagai orang tua.

  1. Hukum dengan pantas

Kalau bicara soal hukuman, semua sudah pasti harus selalu proporsional. Hukuman yang masih dalam batas kewajaran bisa menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dan ketegasan pada diri anak.

  1. Apresiasi dan puji

Berikan pujian dan apresiasi terhadap pencapaian anak dengan tidak berlebihan atau kurang dari cukup agar motivasi anak tetap terjaga.

  1. Ciptakan keharmonisan

Menjaga keharmonisan rumah tangga dapat mendukung rasa nyaman anak sehingga lebih mudah untuk mereka mendengarkan ucapan dan permintaan orang tua.

Bonding dengan Anak dengan Cara yang Benar

Teman DRYD,

Pasti pada familiar dengan jargon “Anak cowo deketnya ama mama, anak cewe ama papa”, kan? Ini tuh anggapan lazim di kalangan masyarakat luas dan emang pas diamati, ada kecenderungan demikian. Tapi sebenernya sejauh apa sih, anggapan ini validitasnya? Apa emang ada penyebab-penyebab khusus atau ini cuma kerangka pikir yang terbentuk berdasar landasan sosiokultural aja?

Naaah, ini nih, yang bakal kita bahas kali ini.

Kalo kita bicara tentang kedekatan antara orang tua dan anak, itu ga jauh-jauh larinya dari proses bonding. Ikatan antara orang tua dan anak terbentuk sejak dini, bahkan sudah dimulai sejak si buah hati masih ada dalam kandungan. Prosesnya sangat fundamental sifatnya dan sering banget ga bisa diobservasi secara langsung. Itu bisa disebabkan karena ada faktor familiaritas antara orang tua dan si anak, jadi semua terasa natural bahkan ketika sekalipun interaksi yang ada tidak secara sadar diarahkan pada pola pembentukan ikatan antara kedua pihak. Tapi saking fundamental proses ini, semuanya bisa berdampak pada tumbuh-kembang si buah hati sampai ke saat anak tersebut menginjak usia dewasa nanti. Mulai dari hal-hal kecil seperti cara kita berkomunikasi, berinteraksi, penggunaan kalimat dan intonasi, cara memberikan komunikasi fisik sampai ke hal-hal yang secara signifikan emang ditujukan untuk mendidik si anak seperti memberi masukan dalam hal akademis, memberi pemahaman mengenai tata krama dan sopan santun, menurunkan nilai-nilai budaya dan sosial. Semua ini adalah bentuk-bentuk bonding antara anak dan kedua orangtuanya. Seerat apa ikatan yang terbentuk pada prosesnya akan menjadi faktor penentu apakah si anak akan berkembang dengan relatif sempurna di kemudian hari.

Nah, jargon yang udah kita singgung sebelumnya akan menjadi penghambat besar dalam memberikan pengaruh positif pada anak kalo kita—sebagai orangtua—tidak mencernanya dengan saksama dan menyeluruh loh. Jangan sampai salah kaprah dan menelan jargon itu mentah-mentah tanpa dipelajari terlebih dahulu.

Pada dasarnya, anak itu paling deket sama ibunya, mau anak cowo, mau anak cewe, ketika mereka masih bayi. Ada basis kuat untuk hal ini. Di fase perkembangan sejak lahir hingga beberapa tahun setelahnya, si bayi akan sangat tergantung pada si ibu dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar, misalnya soal nutrisi. Anak bayi makannya apa? Ya air susu ibunya kan? Cuma ibu yang bisa menyediakan kebutuhan seprimer ini. Itu baru soal makan. Gimana perkara lain kayak ganti popok, mandi, ganti baju? Si ibu kan yang paling sering berperan. Emang sih, ada juga ayah yang menjalankan peran ibu, tapi persentasenya jauh lebih kecil daripada alternatif pertama—dan sifatnya pun lebih cenderung berdasarkan kasus aja.

Semakin si anak bertambah usianya, akan ada sedikit pergeseran. Maka jadilah jargon yang kita bahas di awal tadi: Anak cowo sama mamanya, anak cewe sama papanya. Apakah ini proses alami? Apakah ini bentuk adaptasi? Apa ini cuma soal kebiasaan? Yuk, kita cari tahu alasannya.

Kenapa Anak Cewe Lebih Deket ke Papanya?

Bener ga sih, anak cewe lebih deket sama papanya?

Di mata anak perempuan, figur seorang ayah adalah sosok yang bisa memberikan perlindungan untuknya dan juga lebih tegas. Ini bikin si anak cewe merasa lebih aman pas deketan sama papanya. Ini ga otomatis berarti ibu ga mampu melindungi anak cewe-nya lo ya. Cuma, anak perempuan bisa mendapatkan lebih banyak pelajaran tentang ketegasan dan ketangguhan dari ayahnya.

Faktor lain penyebab anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya adalah kecemburuan terhadap adik, terutama adik laki-laki. Kehadiran bayi baru yang belum bisa apa-apa akan menyedot fokus dan tenaga ibu. Otomatis, anak perempuan yang sudah lebih dewasa umurnya akan mencari sumber perhatian lain karena waktu ibunya sudah terpakai mengasuh sang adik. Dalam hal ini, ayahlah yang menjadi tempat mereka “melarikan diri”.

Riset oleh Jennifer Mascaro di Universitas Emory menunjukkan bahwa seorang ayah juga cenderung lebih mudah memberikan perhatian atau respons untuk anak perempuannya. Hasil riset tersebut membuktikan bahwa aktivitas otak ayah akan meningkat secara signifikan ketika melihat foto anak perempuannya ketimbang anak laki-laki. Secara tidak sadar, ini juga dapat diobservasi dari cara anak perempuan mendekati ayahnya ketika menginginkan sesuatu seperti mainan, misalnya. Si anak perempuan seolah mengerti bahwa ayahnya pasti akan memberikan respons positif terhadap keinginannya ketimbang ibu. Kecenderungan yang ada adalah seorang ibu kemungkinan besar akan mengabaikan rengekan anak perempuannya sementara seorang ayah akan segera mengabulkan permintaannya.

Kenapa Anak Cowo Lebih Deket ke Mamanya?

Anak cowo lebih mesra dengan ibunya, katanya.

Anak cowo akan memilih untuk mengadu atau lari ke ibunya ketika berbuat salah atau menangis karena sesuatu, bukan ke ayahnya. Ini bukan semata-mata soal manja loh, ya. Tapi si anak laki-laki merasa lebih bisa tenang dan diperhatikan oleh ibunya. Kecenderungan yang ada adalah seorang ayah mungkin malah akan menghakimi si anak cowo, bukannya menenangkan. Faktor segan dan takut juga ikut ambil bagian karena seorang papa biasanya punya ekspektasi yang terlalu besar untuk dipenuhi oleh si anak cowo: Laki-laki harus kuat. Padahal justru sebaliknya, kuat-tidak seorang anak tidak dipengaruhi oleh jenis kelaminnya. Anak laki-laki boleh aja kok ngerasa tidak berdaya dan membutuhkan bantuan atau dukungan. Sebaliknya, anak perempuan juga ga boleh kalah dari anak laki-laki, juga harus mandiri dan dependable. Ketegasan seorang ayah pun bisa diartikan sebagai sikap galak oleh anak laki-laki yang mungkin pada suatu waktu tertentu membutuhkan ayahnya.

Kecerdasan emosional seorang anak cowo biasanya terasah lebih baik ketika di dekat mamanya. Anak-anak cowo yang memiiki ikatan kuat dengan mamanya umumnya lebih terjauhkan dari masalah denga teman, tidak suka bertikai atau memilih cara kekerasan seperti berkelahi, tidak ikut-ikut geng sekolahan, tidak jatuh dalam pengaruh narkoba, dan terhindar dari perilaku seks bebas. Tentunya banyak faktor lain yang menentukan ini semua, tidak semata-mata hanya karena kedekatan dengan ibu. Tapi seorang ibu biasanya lebih mudah berkomunikasi dengan anak sehingga si anak laki-laki akhirnya mencontoh sifat ini untuk diterapkan di dalam hidupnya sendiri. Dengan skill komunikasi yang terlatih relatif dengan baik, anak cowo biasanya punya lebih banyak teman dan minim risiko mengalami stres.

Pola kedekatan dengan si ibu juga mempengaruhi anak laki-laki dalam hal berempati, menjauhkan diri dari bahaya, dan pengendalian emosi. Ada juga kemungkinan besar bahwa si anak akan lebih mampu menghargai perempuan.

Salahkah Pola Bonding Seperti Ini?

Ga ada yang salah, ga ada yang benar. Agak berisiko kalo kita mau membedah topik ini dari sudut pandang benar-salah. Yang sebaiknya dilakukan adalah menyudahi pola asuh dan pola didik yang terlalu berbasi gender. Jenis kelamin tidak memainkan peran dalam porsi pemberian kasih sayang dan perhatian—bahkan bukan sebuah faktor yang relevan untuk sekadar dipertimbangkan. Mau anak cowo, mau anak cewe, semua butuh kasih sayang dan apalah kita orang tua kalo bukan gudangnya kasih sayang untuk anak-anak kita, kan? Rasa kasih, rasa sayang, rasa cinta, dan perhatian itu bukan konsep berbasis gender jadi siapa kita mau menentukan anak cowo porsinya lebih sedikit dari anak cewe atau sebaliknya? Jangan pilih kasih, apalagi pilih kasih berdasar jenis kelamin si anak. Dampaknya bisa fatal dan mungkin ga bisa diperbaiki.

Jangan juga mengandalkan jargon-jargon umum tanpa mendidik diri sendiri sebagai orang tua. Siapa, aturan mana, hukum seperti apa yang menentukan anak mana deket ama ortu yang mana. Anak cewe dan ibunya bisa jadi duo maut yang sinkron di segala lini karena mereka berbagi jenis kelamin yang sama dan begitu juga anak cowo bisa jadi “partner in crime” yang koheren untuk ayahnya karena mereka bisa aja berbagi passion serupa—ini kalo emang mau bawa-bawa jenis kelamin ke perihal bonding, ya. Kalo bonding didasarkan pada jargon semata, efeknya bisa membuat anak punya jarak yang lebar dengan salah satu orang tua. Yang kita mau kan, semua anak kita bisa deket sama kita, kan? Bisa berbagi dengan kita, bisa bicara apa aja sama kita, bisa lengket dan harmonis relasinya dengan kita, kan? Iya, kan? Apa di antara Teman DRYD yang menginginkan sebaliknya? Engga, kan?

Nah, mending dari awal disadari deh. Kontrol jarak antara kita dan buah hati. Kalo dirasa interaksi antara anak cowo dan papanya kurang ato kalo anak cewe kayanya lebih sering hangout sama papanya, coba deh, mulai diliat lagi bagian mana yang harus dimodifikasi.

Semuanya harus rata. Anak cowo harus diajari empati dan cara berkomunikasi oleh ibunya sambil tetap diberikan pemahaman tentang menjadi kuat dan tegas oleh ayahnya dengan cara yang tepat. Anak cewe gimana caranya tetap menyerap nilai-nilai prinsipil dan mendapat perlindungan dari ayahnya tanpa mengecilkan peran si ibu yang bisa mewariskan ajaran tentang keperempuanan padanya. Semua harus balance.

Taaapiii, jangan juga terus lupa sama satu hal yang paaaling fundamental soal mengasuh anak: Setiap anak lahir dengan karakternya masing-masing. Ini juga yang bikin pola asuh berbasis gender dan jargon jadi ga efektif. Setiap anak adalah “special case”, pendekatannya seharusnya lebih ke berbasis individual dan sesuai porsi dan posisi. Kita sebagai orang tua harus siaga buat beradaptasi dengan karakter anak sambil tetap diarahkan. Harus fluid dan fleksibel. Harus adaptif. Harus siap dengan perubahan dan mau menerima hal-hal baru selain dari jargon atau quote tua yang belum tentu aplikatif di era modern ini.

Anak cowo atau cewe sama-sama butuh perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Free Trial Classes untuk Anak? Tabukah?

Hai Teman DRYD,

Kapan itu kita kan udah ngomongin gaya parenting 3 negara maju di Eropa kan ya. Dari pembahasan tempo hari itu, kesimpulannya bisa diambil kalo di ketiga model pola asuh di ketiga negara itu sama-sama menekankan free will, kemandirian, dan peningkatan kemampuan emosional anak-anak. Anak-anak di Denmark, Perancis, dan Jerman udah dikenalin sejak dini ke konsep-konsep menghargai diri sendiri, kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri dan menghadapi konsekuensi, kemauan untuk berdiri di kaki sendiri dan mencari solusi untuk sebuah masalah, dan menghargai orang lain serta norma-norma kesopanan. Hal-hal seperti ini juga bisa nih, ternyata, diobservasi dari cara orang-orang tua di negara maju dalam membiarkan anak-anak mereka memilih pendidikan yang mereka inginkan. Pastinya dong, peran orang tua masih tetap ada. Tapi itu lebih kepada pemberian pengarahan. Jadi para orang tua mengambil posisi sebagai sumber saran dan masukan aja. Selebihnya si anak dibiarkan menikmati sebesar mungkin kesempatan untuk mencoba segala macam opportunities yang ada dan tersedia.

Ini sedikit kontras dengan apa yang ada di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Pola pengasuhan di negara kita masih bercorak involved 100%. Si anak bukan lagi diarahkan atau diberi masukan. Mereka jadi disetir dan di-micromanage. Anak jadi ga punya ruang untuk memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan. Ga salah siiih, membantu memilihkan sesuatu untuk anak. Toh juga namanya anak-anak kan masih milih berdasar kesukaan, excitement, dan fun. Sementara di lain pihak kita orang tua mikirnya udah jauh perkara masa depan. Tapi kalo pola manajemen hidup anak kita dasarkan pada agenda pribadi, gimana dong? Kan jadinya kita ngegedein anak buat jadi versi kecil-nya diri kita sendiri. Si anak juga kan individu merdeka yang kemauannya mungkin berbeda jauh dari orang tuanya. Kalo kita maksain agenda-agenda tertentu, jangan heran nanti kalo ternyata hidup yang dia jalanin adalah sebuah penyiksaan ketimbang petualangan. Jangan heran nanti kalo kuliahnya lamaaa banget ato bahkan ga selesai. Jangan heran kalo nanti dia serba kesel sama kita dan hubungan kita jadi ga harmonis dengan dia.

Orang tua membantu anak menentukan pilihan hidup itu kewajiban. Sayangnya, banyak yang gagal membedakan “membantu” dan “mengendalikan”. Kita mau punya anak, berarti kita juga harus mau menerima kenyataan bahwa kita sedang membesarkan seorang manusia yang datang lengkap dengan free will, interes, pola pikir, dan hasratnya sendiri. Kita ga lagi ngegedein versi mini dari kita, bukan kloning kita. Tugas kita cuma memastikan si anak bertumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang aman, nyaman, kondusif, dan positif. Selebihnya kita cuma perlu memfasilitasi supaya si anak bisa sadar dan menemukan apa yang ia kehendaki dan kemudian realisasikan.

Cara Pandang Umum

Dengan konsep seperti yang dijabarkan di atas, yuk kita coba lirik kecenderungan orang tua kebanyakan yang sering banget nolak daftarin anaknya ke program free trial class. Kelas-kelas model begini biasanya disediakan untuk anak-anak usia TK atau playgroup dan bisa berjalan dalam 3 kali pertemuan atau bahkan 3 minggu.

Kelas – percobaan – gratis. Dari kata-kata penyusun istilah itu aja kita udah bisa nebak apa yang ngedorong orang tua ogah daftarin anaknya.

Di pikiran kita, yang namanya kelas itu adalah ruangan tempat proses belajar mengajar antara murid dan guru berlangsung kan ya. Nah, bayangannya adalah sebuah sekolah formal yang didukung oleh kurikulum formal dan valid.

Di pikiran kita, yang namanya percobaan itu temporer. Setelah masa uji kelar, udah deh ga lanjut. Signifikansi program percobaan jadinya gimana? Kan gitu mikirnya.

Di pikiran kita yang gratis-gratis itu pasti kualitas rendah karena otak kita udah kadung keprogram buat mikir kalo kualitas tinggi itu berbanding lurus dengan harga. Kalo bisa, semakin mahal berarti semakin baik.

Tanpa disadari, ketiga pola pikir ini bikin kita ngerasa ogah buat nyoba kelas-kelas gratis dari bimbel-bimbel yang ada. Dan kalo dipikir-pikir masuk akal juga sebenernya. Siapa juga yang mau anaknya duduk dalam program kelas tambahan yang temporer dan diberikan secara cuma-cuma, kan? Tapi ngebiarin opini semacam ini berlarut-larut juga berarti kita membiarkan kesempatan buat anak bisa ngembangin potensinya lebih dini terbang gitu aja. Kenapa? Yuk kita bahas manfaat kelas percobaan itu apa aja. Kelas percobaan itu intinya mempersiapkan anak untuk periode pendidikan yang lebih serius lagi di masa depan. Kurikulum yang diberikan di kelas percobaan ga jauh beda dari sekolah formal; jadi, ini yang perlu diluruskan: Kelas percobaan itu bukan tempat penitipan anak atau sesuatu yang buang-buang waktu.

Manfaat di Segala Sisi

Tapi Dok, kan katanya di Eropa sana anak-anak ga harus nyoba belajar formal terlalu dini.”

Emang. Kan kelas percobaan itu sifatnya pengondisian dan fungsinya buat nyari tau bakat dan minat sejak dini. Kurikulum mungkin sama dengan sekolah formal, tapi aplikasinya bisa aja dikemas dengan cara berbeda, kan? Lagian kan ini modelnya suplemental gitu, jadi anak ga kaget dengan pola akademis sebetulnya nanti. Paling engga, dengan mendaftarkan anak ke kelas percobaan, kita bisa tau kemampuan interaksi sosial dasarnya kek gimana. Karena, coba deh, bayangin, hal terberat buat anak-anak ketika pertama kali masuk sekolah itu pasti membangun relasi dengan teman-teman sekelas dan guru. Dia harus keluar dari zona nyaman di rumah, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan di saat yang sama harus menyerap materi ajar di papan tulis. Dengan kelas percobaan, paling tidak si anak udah dilatih buat berada di antara orang-orang yang bukan komponen keluarganya.

Dan karena kurikulum yang diterapin ga jauh beda dari sekolah formal, kita tau kalo kualitasnya juga ga main-main sekalipun programnya cuma-cuma. Program kelas percobaan ini dikasi gratis juga kan karena menguntungkan si bimbel, guys. Mereka toh butuh anak didik supaya bisnis bisa jalan toh? Nah, harapannya itu program kelas percobaan gratis ini tuh, bisa jadi media promosi dan pengenalan jasa pada calon-calon klien. Ditambah lagi nih ya, program percobaan kaya gini nih, bisa banget ngebantu bimbel buat mengevaluasi kemampuan anak mengikuti kurikulum yang tersedia jadi nantinya penempatan level belajarnya bisa efisien dan efektif. Kalo kita asal daftarin anak ke bimbel langsung masuk ke level intermediate, misalnya, sementara si anak bahkan belum memiliki penguasaan materi dasar, ya kan jadi masalah lagi nantinya.

Dari sisi anak juga lebih besar manfaatnya.

Pertama, bimbel bisa memperkenalkan kurikulum pada orang tua dan anak dan kita bisa mempelajari apakah program terkait memang benar sesuai dengan kemampuan si anak dan minatnya. Kita bisa liat nih, misalnya, “Oh, anak saya agak lemah di bidang matematika tapi ternyata bimbel ini fokusnya ke pengasahan kemampuan berhitung.” Nah, kita bisa ambil strategi yang mungkin relevan. Entah mungkin bisa meneruskan program dan mendaftarkan anak secara resmi ke bimbelnya. Atau mungkin berpikir biar nanti sekolah formal yang meng-handle sisi kelemahan si anak jadi sekarang cabut dulu dari bimbelnya dan cari program lain yang mendukung minat anak.

Kedua, seperti yang udah sempet disinggung tadi, mendaftar ke program kelas percobaan tuh, bisa membantu anak beradaptasi dengan lingkungan sosial-akademis dengan lebih natural. Anak bisa terbiasa menghabiskan beberapa jam ga bareng orang tuanya di rumah aja jadi nanti pas beneran masuk sekolah, dianya ga kaget dan harus beradaptasi dengan berbagai macam perubahan di saat yang sama. Ga semua anak loh, punya kemampuan adaptasi yang fleksibel. Ada yang mungkin karena ga sanggung mengimbangi perubahan yang datang secara sekaligus malah terganggu proses belajarnya.

Ketiga, anak bisa belajar tentang kedisiplinan lebih awal. Mungkin program kelas percobaan ga sama persis dengan sekolah. Tapi pasti ada serentetan aturan yang kemudian diimplementasikan kepada para peserta belajar. Karena udah dibekali dengan pengalaman berurusan dengan jadwal dan urutan kegiatan, anak bisa lebih udah mengikuti aturan sekolah yang pastinya lebih strict dan di rumah pun bisa mempraktikkan apa yang sudah dia dapatkan.

Dari sisi orang tua juga ada hal yang bisa didapatkan. Karena sifatnya gratis, orang tua bisa leluasa memutuskan untuk tidak menggunakan jasa satu bimbel tanpa ada konsekuensi finansial apapun. Tentunya ini semua setelah melakukan observasi terhadap respons si buah hati terhadap program yang ada ya. Selanjutnya, orang tua juga bisa memberikan masukan kepada pihak penyelenggara setelah masa percobaannya selesai. Kritik dan poin-poin evaluasi bisa dilancarkan agar program kelas percobaan yang disediakan pihak bimbel bisa mengoreksi diri.

Yang Perlu Dipersiapkan

Kita sebagai orang tua ga boleh gede gengsi cuma karena fasilitas yang dikasi itu gratis. Kalo ada di antara Teman DRYD yang punya pola pikir “mahal pasti bagus”, coba deh ilangin. Jaman sekarang udah ga relevan punya pola pikir kayak gitu. Nyobain kelas gratis ga bikin prestige turun, sumpah. Lah, buktinya program kelas percobaan gratis justru banyak diadakan oleh bimbel-bimbel ternama. Sekarang, kalo bimbel terkenal dan punya nama aja mau ngasi gratisan, siapa kita nolak-nolak, kan?

Taaapiii, jangan mentang-mentang gratis, semuuua kelas percobaan dicobain. Bukannya ga boleh sih, tapi, pertama, kasian anaknya. Masa dari pagi sampe sore ngabisin waktu di luar rumah? Kan si buah hati juga perlu ada di sekitar kita selama masa pertumbuhan. Kita aja yang orang dewasa bisa bosen dengan rutinitas, apa lagi anak-anak. Terus, si anak jadi ga punya fokus. Pagi-siang, les membaca. Siang-sore, les berhitung. Sore-agak malaman, les musik. Padet banget gitu, mainnya kapan? Lebih kacau lagi kalo si anak udah masuk sekolah. Sebagian besar harinya diabisin di sekolah. Sisanya di les-lesan. Selain ga efisien dan terlalu menyedot energi, kita ga bisa liat ini anak potensinya di bidang apa. Si anak pun keteteran meng-handle semuanya tanpa sempat mengasah satu keahlian yang dia emang punya ketertarikan.

Nah, kalo udah dapet satu program yang dinilai cocok sama anak, apa nih yang kudu dilakuin?

Pertama, pelajari dengan mendetail kurikulum yang tersedia, sarana dan prasarana, dan aturan yang ada di satu lembaga itu. Lingkungannya harus aman, harus nyaman, harus bersahabat dengan anak-anak. Staf-staf dan pengajar harus orang yang paham berkomunikasi dengan anak-anak. Kurikulumnya harus sejalan dengan target minat dan fokus anak. Pokoknya semuanya harus serba kondusif demi anak.

Kedua, kita kudu proaktif tanya ini-itu ke semua elemen di bimbel itu, gurukah, stafnya-kah. Semuanya. Bodo amat dikira ceriwis dan nyinyir. Gratis ato engga, kita sebagai orang tua punya hak sepenuhnya buat tau seluk-beluk tentang bimbel penyelenggara. Dan kalo pihak penyelenggaranya fair dan paham aturan main, pastinya ga keberatan ngasi jawaban untuk semua pertanyaan kita.

Ketiga, balik lagi ke fokus si anak. Pertimbangkan tiga hal dari anak: potensi, minat, dan kemampuan. Setelah itu, bandingkan dengan rancangan kurikulum bimbel, apakah sudah tepat dan mampu menyokong ketiga poin itu?

Keempat, pahami kategori program belajar yang akan diambil. Ada lembaga pendidikan yang menyediakan program-program belajar akademis, ada juga yang bidangnya berat ke segi seni. Bisa nih, kita pertimbangin buat daftarin anak ke kumon kalo emang potensinya gede di bidang akademis. Kalo si anak nunjukin minat besar ke dunia seni, kelas mewarnai atau menggambar atau mungkin balet bisa dijadikan alternatif. Anak-anak belajar robotika juga ga tabu loh. Malah bisa mengasah rasa ingin tahu si anak bahkan, bagus buat tumbuh-kembang intelijensinya nanti.

Minimalisasi Intervensi

Jadi gitu. Kita sebagai orang tua harus banget ngebiarin anak memilih sendiri bidang minat dan fokusnya. Kita ga perlu intervensi, toh juga kelas-kelas percobaannya masih gratis. Ga ada konsekuensi apapun kok, kecuali mungkin kita kudu ngorbanin sedikit waktu buat ngajak anak keluar dari rumah. Gapapa, kan manfaatnya juga dobel-dobel. Jangan intervensi apa-apa ya. Anak maunya apa, kita turutin dulu soal ini. Oh, mau belajar ngitung cepet? Yuk! Oh, mau belajar nari muter-muter pake rok tutu? Yuk! Oh, mau belajar bikin robot? Yuk! Anak-anak biasanya fokusnya ilang secepet minatnya berubah kok. Biarin aja dulu dia sadar dan menemukan apa yang menjadi passion-nya. Intinya mah, yang penting dia bisa kenal dunia pendidikan dari awal, belajar disiplin lebih dini, bisa paham arti kemandirian sejak kecil, dan mengenal konsep free will secara fundamental.

Berhati-hati dengan Bahaya Bias Gender dalam Pengasuhan Anak

Hai Teman DRYD,

Mungkin di antara teman semua ada yang memahami apa itu bias gender dan tahu pasti tentang literatur atau sumber-sumber padat informasi mengenai isu satu ini. Mungkin ada yang tahu tapi pemahamannya masih samar, masih meraba-raba. Jadi ada baiknya jika pertemuan kita kali ini diawali dengan pembahasan yang mendasar dulu ya.

Yuk, kita samakan persepsi dulu mengenai definisi istilah itu. Bias adalah suatu kondisi yang diwarnai dengan kecenderungan untuk memihak atau merugikan. Gender adalah sifat atau nilai yang dilekatkan baik pada laki-laki maupun perempuan oleh konstruksi sosial dan budaya. Dari sini, kita bisa mensederhanakan pengertian bias gender menjadi keberpihakan pada satu gender yang merugikan gender lain.

Gender tidak sama dengan jenis kelamin ya, moms, sekalipun sering digunakan bergantian dengan anggapan bahwa keduanya merupakan sinonim. Kata kuncinya adalah ‘sosial’ dan ‘budaya’. Gender merupakan identitas hasil persepsi sosial dan ditanamkan pada satu individu dalam ruang lingkup kultur tertentu. Dan karena berkaitan dengan kultur, maka identitas gender bisa dikatakan sebagai warisan leluhur sebab ide mendasar yang menjadi landasan pembagian gender muncul dan diteruskan secara turun-temurun.

Akibatnya apa? Kita sebagai masyarakat sosial memiliki kebiasaan untuk mengkotak-kotakkan sesuatu berdasar ide identifikasi gender tersebut. Contohnya apa, Dok? Misal nih, pas lebaran kan ada tradisi beli baju baru kan. Nah, orang tua akan cenderung memilih produk yang dibeli berdasar pola gender tadi. Jadilah anak laki-laki dibelikan baju biru sementara anak perempuan dapat baju warna merah jambu. Atau anak laki-laki dibelikkan robot-robotan sementara adik perempuannya diberi boneka cantik yang anggun. Ga ada salahnya sama sekali melakukan yang seperti ini—asal anaknya seneng aja. Tapi, coba deh lihat kembali ke belakang, apa sih yang mendasari perlakuan seperti ini? Anak-anak mungkin ga peduli dengan konsep seabstrak maskulin-feminin dan itu lumrah karena mereka belum perlu mengenal keduanya dan apa bedanya. Kita nih, sebagai orang tua yang menyetir persepsi mereka dari kecil sehingga mainan mobil-mobilan merupakan hak prerogatif untuk laki-laki sementara anak perempuan diidentifikasi dengan boneka, warna merah jambu, permainan masak-masakan, dan sederet lain aktivitas yang dinilai cewe banget.

Emang secara lahiriah cowocewe itu beda. Tapi siapa yang tahu pasti tentang perkara batiniah. Seorang anak perempuan mungkin tertarik memegang robot-robotan karena di matanya robot itu sangat unik untuk dieksplorasi ketimbang boneka sederhana yang membosankan. Seorang anak mungkin tertarik dengan warna biru atau merah elektrik atau bahkan hitam karena entah kenapa. Itu cuma preferensi ya, Teman-teman. Memilih sesuatu yang diidentikkan dengan lawan gendernya tidak serta-merta mengubah identifikasi seksualnya. Si anak perempuan cuma suka main robot, ga ada yang salah kan? Bias gender-lah yang membuat semua terlihat seperti tidak pada tempatnya.

Guys, otak kita merespon konsep bias dengan sangat baik. Konsep maskulin-feminin dan strata di antara keduanya merupakan konsep purba yang sudah dipupuk selama ratusan ribu tahun sejak nenek moyang kita masih hidup di gua dengan pola berburu dan meramu. Kebayang kan, seberapa dalam pemahaman ini udah mengakar di dalam gen kita? Otak kita kayak udah disetel demikian dari sananya. Ini adalah kultur yang patut untuk ditilik lebih lanjut untuk direkonstruksi. Kenapa? Yang berbahaya lagi adalah kebiasaan pengelompokan hal berdasar gender ini akan lambat laun membentuk karakter si anak. Berdasarkan pengertian bias gender menurut para ahli, pihak gender yang diuntungkan akan mudah melontarkan judgment sementara si pihak yang dirugikan akan memiliki kompleks inferioritas. Kita sebagai orang tua pastinya ga mau kan, kalo ada anak kita yang merasa dirinya inferior? Karena bias gender lebih sering merugikan perempuan ketimbang laki-laki, maka jika pola asuh berdasar gender diterapkan secara asal, anak perempuan bukan ga mungkin akan merasa lebih kecil daripada laki-laki. Lebih jauh lagi, inferioritas ini mungkin berpotensi merambah lebih dalam lagi dan membuat si anak merasa kecil di hadapan siapapun bahkan di depan sesama gendernya sendiri. Orang tua yang paling memanjakan anaknya sekalipun pasti ingin anaknya mandiri dan mampu menyelesaikan persoalannya sendiri dengan relatif lancar. Sekarang, kalo dari awal aja si anak udah ngerasa ga mampu, gimana gedenya, kan?

Yang lebih menyedihkan lagi adalah keberadaan bias gender dalam pendidikan. Sekolah, sebuah institusi pendidikan formal, pun mengaplikasikan bias gender, disadari atau tidak. Buku-buku pelajaran diwarnai dengan pengondisian konseptual terhadap peran laki-laki versus perempuan. Di buku-buku SD—bahkan mungkin sarana pengajaran di playground—coba liat deh. Anak laki-laki diilustrasikan bermain di luar rumah dengan teman-temannya. Atau mungkin mancing dengan bapaknya. Atau mungkin ada ilustrasi lain yang menggambarkan pria dewasa di lingkungan kerjanya. Bagian anak perempuan gimana? Anak cewe biasanya digambarkan membantu ibunya memasak di rumah, beres-beres kamar, bermain boneka sendirian. Perempuan dewasa diilustrasikan sebagai pribadi yang terikat dengan rumah: Mengasuh anak, menyiapkan makan dan minum, atau mungkin ngobrol sama tetangga. Jomplang kan? Dan itu ditemukan di media pendidikan dasar yang akan membentuk landasan pikiran dan persepsinya di kemudian hari.

UUD 1945 pasal 31 udah dengan sangat gamblang ngasi ketegasan: Pendidikan itu hak semua warga negara. Ga peduli gendernya. Semua orang berhak mendapatkan pendidikan dan pengetahuan yang setara maka buku pelajaran SD pun sebaiknya bisa memuat ilustrasi tentang seorang pilot perempuan. Pernah liat perempuan jadi pilot? Kalopun pernah pasti cuma sekali seumur hidup dan tanggapan kita pasti, “Gilak ni cewek, jadi pilot euy!” Ada perasaan takjub campur heran. Tapi kalo kita liat pilot laki-laki, apa respons kita? Ga ada kan? Seolah-olah kita udah nerima gitu aja kalo pilot itu pekerjaan yang secara natural dilakukan laki-laki. Artinya apa? Secara ga langsung kita dikondisikan untuk beranggapan bahwa cuma laki-laki yang punya kecakapan dan kekuatan yang dibutuhkan untuk menjadi pilot.

Okelah kita berargumen memang perempuan memiliki fisik yang lebih lemah dari laki-laki sehingga wajar yang dipilih untuk satu pekerjaan adalah laki-laki. Oke, let’s go with that argument. Tapi itu tidak otomatis menutup pintu probabilitas seharusnya. Laki-laki dan perempuan berhak atas pengetahuan yang sama, dalam komposisi yang sama, dengan persepsi yang sama, dan perlakuan yang sama dalam hal pendidikan. Kita ambil contoh profesi pilot tadi. Aturan mana yang melarang perempuan untuk mempelajari dunia penerbangan? Terserah nanti di masa depan mau kayak gimana. Seorang perempuan akan menjadi pilot atau tidak, itu tergantung ketekunan, potensi, preferensi, dan kemampuannya. Tapi paling tidak sedari awal dia sudah dibekali dengan porsi pengetahuan yang ga beda dari rekan laki-lakinya.

Apa akibatnya kalau kita membiarkan bias gender menjadi that one driving force di balik cara kita mengasuh anak? Banyak. Terlalu banyak untuk dibahas karena sifatnya sistemik, menjalar ke mana-mana. Tapi secara umum bias gender dalam pola asuh bisa:

  1. Membuat si anak berkembang menjadi pribadi yang mudah memberikan judgment pada pihak yang tidak menerapkan konsep yang serupa. Contoh nih, si anak A melihat sebuah keluarga yang bapaknya ga Si ibu yang mencari nafkah sementara si bapak mengasuh anak dan mengurus rumah. Si A akan memiliki persepsi negatif terhadap keluarga tersebut. “Ih, masa cowo ga kerja…?” “Ih, kok cewe berangkat pagi pulang sore. Apa ga mau ngurus rumah ya?” Kita ga pernah tahu cerita yang ada di balik sebuah keluarga. Dan bias gender membuat kita merancang sebuah cerita tentang keluarga itu untuk merasionalisasi ketidakcocokan dengan konsep pribadi kita.
  2. Menghambat fleksibilitas anak ketika nanti dewasa. Contoh yang paling mudah adalah tentang pilot yang tadi kita bahas. Karena sedari kecil udah diinternalisasikan ke pikiran si anak cewe bahwa dia ga punya kepantasan untuk menyandang gelar profesi tertentu, sedari kecil jalan hidupnya bakal banyak benturan. Dia akan berjalan di satu arah tertentu yang didiktekan oleh konstruksi sosial budaya sekitarnya. Tidak ada ruang untuk bertumbuh dan berkembang dan menyerap pengalaman lain. Perempuan dituntut untuk selalu bersifat melayani, berpembawaan lembut, dan selalu berpenampilan cantik. Dan tidak ada pilot (atau profesi lain yang terasa maskulin) dikondisikan tidak cocok untuk yang cantik-cantik atau yang lembut-lembut. Profesi itu cuma cocok untuk yang gagah, kuat, dan berani, yaitu segala kualitas yang dimiliki laki-laki. Potensi yang mungkin ada di diri satu gender akan ditekan sangat kuat oleh sosial budaya di sekitarnya hanya karena tidak dinilai sesuai.

Kesetaraan gender tidak otomatis meninggalkan kodrat masing-masing individu. Iya, emang perempuan dikaruniai insting lebih serta desain fisik yang membuatnya mampu menjalankan peran sebagai ibu. Tapi mengasuh anak tidak serta-merta menjadi ranah khusus perempuan. Si bapak tidak harus melulu bekerja, minta dilayani, dan istirahat. Kalo emang ada waktu dan energi, coba deh, ambil si anak dari pangkuan istri dan ajak main. Itung-itung ngasi istri jeda buat bernapas. Bonding akan menjadi proses yang menyenangkan sehingga si anak tidak berkembang menjadi pribadi yang menganggap bapaknya seseorang yang kaku, dingin, dan tidak bisa diakses. Anak itu seharusnya punya akses 24 jam bebas hambatan loh, ke orang tuanya sendiri. Ini penting untuk membangun kedekatan dan menciptakan keharmonisan.

Sistem keluarga patriarki memang sudah terlalu kental dalam struktur sosial masyarakat kita. Butuh proses panjang dan ketekunan untuk bisa menyusun ulang semuanya supaya ga ada pihak yang dirugikan. Tapi semua mulainya dari keluarga inti kok. Jadi apa yang bisa kita lakukan?

Pertama, biarkan preferensi menjadi preferensi. Sadari bahwa preferensi bukanlah sebuah tindakan yang melawan hukum alam. Biarkan anak-anak memilih apa yang mereka suka; toh, kalau nantinya mereka tidak lagi merasa cocok dengan suatu hal, mereka akan mencari hal lain lagi yang barangkali lebih sesuai. Sambil tetap diamati loh, ya. Jangan sampe kebablasan melanggar koridor kewajaran. Anak yang cewe penasaran sama mobil-mobilan abangnya, berikan ia kesempatan untuk eksplorasi. Anak cowo mau nyoba megang boneka kakaknya, biarin ya, moms. Cuma megang doang, ga perlu ditanggapi dengan histeris apalagi sampe keluar pertanyaan, “Anak laki main bonekaaa? Mau jadi apa kamu?!” Ga perlu ya, moms. Dia cuma penasaran dan membiarkan anak menemukan jawaban atas rasa penasarannya akan berdampak positif untuk tumbuh-kembang-nya.

Kedua, jangan pilih kasih. Anak cowo dibeliin baju baru warna biru, tanya saudara perempuannya apa mau warna biru juga? Lagi-lagi, jangan membatasi preferensinya. Kecuali kalo emang dianya memilih yang berbeda. Tapi tanyakan dulu maunya apa dan yang mana. Dengan begini dia bisa merasakan kenyamanan dalam lingkup keluarga yang inklusif dan paham bahwa orang tuanya tidak memilih-milih dalam meberikan perhatian. Ini juga berlaku untuk keluarga dengan satu anak loh, ya. Biarkan anak yang memilih, kita cuma perlu kasi pendapat tanpa memaksakan konsep apapun. Toh, yang make barangnya ya dia. Toh, yang ngejalanin hidupnya nanti ya dia. Kita cuma perlu membiarkan dia tahu bahwa kita sangat menyayanginya.

Berkenalan dengan Parenting Styles di 3 Negara

Teman DRYD, kali ini saya mau ngajakin Teman-teman semua melanglang buana ke benua Eropa. Taaapi, bukan buat tamasyaaa hehehehe. Kali ini saya mau ngebahas tentang pola asuh yang banyak diterapkan di tiga negara Eropa yaitu Denmark, Perancis, dan Jerman.

“Kenapa gitu, Dok? Emang pola parenting negara sendiri jelek ya, sampe harus jauh-jauh ngelirik negara lain?”

Bukaaan. Ini bukan masalah mana yang jelek mana yang bagus. Ini juga bukan soal mana yang terbaik. Pola asuh itu berbeda berdasarkan negara, kultur, dan kebiasaan. Budaya Indonesia pastinya beda dong sama budaya Amerika atau Eropa bahkan bisa beda jauh dengan sesama negara Asia. Pertimbangannya sederhana sih, Eropa kan terhitung wilayah yang lebih maju daripada area berkembang lain, jadinya ga salah dong kalo kita pelajari apa aja yang membuatnya berbeda dari negara sendiri?

Trus kenapa harus ketiga negara itu, Dok? Kan banyak negara lain di Eropa sana.”

Denmark saya pilih karena negara itu secara konstan ada dalam daftar negara paling bahagia menurut World Happiness Record yang diselenggarakan oleh PBB. Prestasi ini udah diraih Denmark selama 40 tahun—berturut-turut. Pasti dong, ada yang membuat pencapaian ini menjadi istimewa dan menarik untuk ditelaah. Perancis unik untuk dibahas karena pola parenting ibu-ibu negara sana mendidik anak tumbuh menjadi individu yang santun. Sementara Jerman dikenal dengan pola asuh yang menekankan kemandirian. Nah, bahagia, santun, dan mandiri; orang tua mana yang ga mau anaknya punya kualitas seperti itu?

Mengintip Pola Asuh di Denmark

Pola asuh di Denmark bisa disederhanakan dengan satu kata: PARENT, yang merupakan akronim dari Play, Authenticity, Reframing, Empathy, No ultimatums, dan Togetherness and Hygge. Dengan menerapkan konsep ini, anak-anak Denmark tumbuh dan berkembang menjadi pribadi dengan masa kecil yang membahagiakan.

  1. P = PLAY (Bermain)

Anak-anak di Denmark dibebaskan bermain oleh orangtua mereka. Mereka pun dibolehkan untuk memulai jenjang pendidikan ketika berusia 7 tahun. Reasoning-nya apa? Dengan memberi keleluasaan semacam ini, anak-anak Denmark punya kesempatan yang cukup untuk menikmati periode bermain mereka sebelum akhirnya dihadapkan pada kewajiban bersekolah. Apa pentingnya membiarkan anak-anak bermain dengan bebas? Banyak hal yang mereka bisa pelajari hanya dari hal sesederhana permainan; mereka paham mengenai ketangguhan, cara bergaul dan bersosialisasi yang benar, dan belajar selfcontrol sejak dini.

  1. A = AUTHENTICITY (Otentisitas)

Poin berharga lain yang diwariskan orangtua Denmark kepada anak-anak mereka adalah kejujuran kepada diri sendiri dan identifikasi emosi yang dirasakan. Pola didik yang dilaksanakan lebih dititikberatkan pada mengenali dan mengekspresikan emosi ketimbang kesempurnaan.

  1. R = REFRAMING (Memaknai ulang)

Secara sederhana, reframing adalah proses penelaahan terhadap suatu hal dari perspektif yang berbeda. Yang dilakukan oleh orangtua Denmark adalah mengajarkan anaknya untuk dapat menarik kesimpulan positif dari apa yang mereka hadapi tapi tetap dalam koridor yang realistis. Penerapan metode ini diharapkan bisa mendidik anak menjadi individu yang tidak gampang berpikiran negatif terhadap suatu kondisi ataupun orang lain.

  1. E = EMPATHY (Empati)

Empati pada dasarnya adalah kemampuan seseorang untuk dapat ikut merasakan apa yang orang lain rasakan. Inilah yang ditanamkan oleh orangtua kepada anak di Denmark. Sistem pendidikan di negara itu pun dirancang dengan prinsip ini sebagai landasannya.

  1. N = No ultimatums (Tanpa peringatan)

Pola asuh orangtua Denmark ditandai dengan sikap lembut, menghargai, dan tanpa ancaman. Akibatnya, ada kedekatan antara anak dan orangtua dalam hubungan yang harmonis tanpa rasa takut.

  1. T = TOGETHERNESS & HYGEE (Kebersamaan & kenyamanan)

Keluarga Denmark menekankan poin penting tentang kebersamaan. Berkumpul dengan keluarga merupakan hal yang tidak boleh dilewatkan sesibuk apapun hari yang dilalui. Hari libur pun dihabiskan dengan berkumpul bersama anggota keluarga. Dari rasa kebersamaan yang dipupuk, muncullah rasa nyaman yang bisa dinikmati oleh semua orang.

Belajar Tata Krama dan Adab Sopan Santun a la Perancis

Di Perancis, metode parenting yang diterapkan berfokus pada pembentukan kepribadian yang penuh sopan santun dan jauh dari kata manja. Strategi yang dijalankan meliputi:

  1. Didikan untuk menghargai waktu orang tua

Di Perancis, anaklah yang diatur sedemikian rupa sehingga jadwal pribadi si orang tua tidak terganggu. Anak akan diajari untuk sudah berada di dalam ruang tidur jam 7 malam. Si anak boleh langsung tidur atau memilih untuk melakukan aktivitas lain, selama aktivitas itu tidak mengganggu orang tua. Apa tujuan dari penerapan metode ini? Anak diharapkan bisa tumbuh dengan pemahaman bahwa dia bukanlah pusat dunia, bahkan dunia orang tuanya pun tidak hanya berpusat pada dirinya saja. Anak diajarkan untuk mengerti bahwa orang tua mereka pun manusia yang harus menjalankan hidupnya sendiri di luar tanggung jawab mereka terhadap anak.

  1. Selektif dalam memberikan pujian pada anak

Orang tua Perancis tidak gampang memuji anaknya. Pencapaian kecil si anak mungkin tidak akan berbalas pujian. Pujian baru akan diberikan apabila si anak berhasil melakukan yang memang pantas untuk diapresiasi. Bukannya pelit. Tapi metode ini bertujuan untuk membentuk kepribadian yang tidak gampang puas untuk segala sesuatu yang sudah si anak lakukan serta mendidiknya untuk tidak selalu melakukan sesuatu dengan mengharapkan imbalan.

  1. Pengimplementasian jadwal dan pola makan yang strict

Dengan cara ini, kasus picky eater pada anak-anak Perancis minim ditemukan. Orang tua tidak secara khusus menyiapkan makanan untuk sang anak. Anak duduk di meja makan dengan tenang dan diwajibkan memakan apapun yang tersaji. Kebiasaan ngemil praktis ga ada di pola asuh orang tua Perancis karena berisiko mengacaukan selera makan. Di sana memang ada tradisi gouter, yaitu makan sedikit roti di sore hari setelah pulang sekolah. Tapi secara umum, anak tidak akan makan apapun antara makan siang dan makan malam, sekitar pukul 8. Akibatnya, begitu si anak duduk di meja makan, perut yang keroncongan akan membuatnya menyantap apapun yang disajikan orang tua.

  1. Melatih kesabaran

Kasus tantrum di anak-anak Perancis pun minim. Apa rahasianya? Orang tua mengajarkan kepada anak-anak untuk sabar untuk hal-hal mendasar seperti menerima perhatian, menunggu waktu makan, maupun menunggu giliran mendapatkan jawaban. Dengan pendidikan begini, si anak sejak kecil dilatih untuk menunggu dengan sabar tanpa gelisah, marah, atau tantrum.

  1. Pengikutsertaan anak dalam urusan rumah tangga

Enggak, ini ga berarti si anak harus ikut dalam pengambilan keputusan atau semacamnya. Tapi si anak bisa dilibatkan dalam urusan bagaimana menjaga rumah agar tetap rapi dan nyaman, misalnya. Anak-anak Perancis dididik dari kecil untuk aktif menuntaskan tugas rumah tangga yang sepadan dengan usia mereka seperti ikut berbelanja ke supermarket, membuang sampah pada tempatnya, menata piring di meja makan, dan hal-hal kecil lainnya.

  1. Mengajari sopan santun dan tata krama

Ada istilah bien eleve dalam pola asuh di Perancis yang bisa diterjemahkan sebagai adab sopan santun yang merupakan hal mutlak dan tidak bisa dikompromi. Konsep ini sudah mulai diterapkan sejak si anak mulai bicara. Contohnya seperti:

  • Saat bertemu dengan orang baru, harus memperkenalkan diri
  • Membiasakan diri untuk mengucapkan terima kasih, maaf, dan tolong
  • Memberikan salam setiap kali memasuki ruangan
  • Memperhatikan kontak mata ketika berbicara dengan orang lain
  • Mempelajari dan menerapkan table manner saat makan
  • Pada saat menghadiri acara formal atau pesta, harus mengenakan pakaian terbaik
  1. Mengajar anak untuk mampu menyelesaikan segala sesuatu sendiri

Karakter yang otonom menjadi target lain yang diinginkan dalam penerapan pola parenting a la Perancis. Anak-anak diajarkan untuk berkembang menjadi pribadi yang penuh rasa tanggung jawab, kemandirian, dan kepercayaan diri yang tinggi. Anak-anak pun dididik untuk mengerjakan berbagai hal yang bisa mereka lakukan sendiri lalu belajar untuk menerima konsekuensi logis dari kesalahan yang diperbuat.

Parenting Cara Jerman yang Tegas

Karakter pola asuh Jerman diwarnai pendidikan menghargai waktu dan disiplin yang kental. Cara-cara yang diterapkan termasuk:

  1. Pendisiplinan anak dengan penekanan pada empati dan diskusi

Percaya ato engga, di Jerman, strategi hukuman fisik sebagai bentuk pendisiplinan sudah ditetapkan ilegal sejak tahun 2000. Sebagai gantinya, metode diskusi dengan muatan empati dan logika menjadi pilihan. Saat seorang anak melakukan kesalahan, orang tua akan mengajaknya untuk berdiskusi, utamanya perihal perilaku mana yang pantas dan mana yang tidak untuk dilakukan oleh anak pada usianya. Efektivitas metode ini terletak pada kemampuannya mendidik anak untuk memahami siapa yang memegang kendali dan bahwa semuanya perlu dilakukan untuk kebaikan si anak itu sendiri.

  1. Mengenalkan alur rutinitas sejak bayi

Memperkenalkan rutinitas merupakan hal penting untuk dilakukan dalam mengasuh balita. Orang tua Jerman, di lain pihak, bahkan sudah menerapkan hal ini semenjak si anak masih bayi. Mirip dengan pola asuh Perancis, orang tua Jerman mengajarkan si anak untuk menghargai jadwal mereka. Rutinitas di-arrange sedemikian rupa sehingga mengikuti alur jadwal si orang tua ketimbang sebaliknya. Batasan tegas diberikan untuk waktu tidur, makan, dan bermain dan disesuaikan dengan usia si anak. Pemberian instruksi yang jelas, konsisten, dan tegas juga berkemungkinan menghindarkan orang tua dari keharusan untuk mengingatkan ulang si anak.

  1. Mengajari anak untuk mencari penyelesaian masalah sendiri

Kalo Teman-teman DRYD pernah dengan istilah helicopter parenting, pola asuh Jerman cenderung berbeda total, malah lebih condong ke tipe authoritative. Standar perilaku yang tinggi dan aturan tegas ditanamkan sejak dini pada anak, ketimbang membiarkan mereka melakukan apapun yang mereka inginkan. Ini diterapkan sambil tetap memperhatikan kebutuhan emosional si anak di saat yang sama. Ketika si anak melakukan kesalahan atau mengalami hambatan, si orang tua ga serta-merta take over dan menyelesaikan permasalahan untuk si anak. Mereka cuma bakal ngasi instruksi atau pentunjuk untuk menuntun si anak agar mampu menyelesaikan persoalan.

Sebuah penelitian oleh Organization for Economic Co-operation dan Development menunjukkan bahwa anak-anak Jerman lebih mudah memecahkan permasalahan yang mereka temui dalam hal membaca, Bahasa Inggris, dan matematika dibandingkan dengan anak seusia mereka dari Amerika—semua berkat penerapan metode asuh yang satu ini.

Dengan penerapan pola ini, di Jerman dikenal konsep “selbständigkeit”, yaitu kemampuan untuk mengandalkan diri sendiri sehingga si anak ga cepet menyerah atau meminta bantuan dari orang lain untuk persoalan yang sebetulnya bisa diselesaikan sendiri.

  1. Membiasakan anak untuk bermain sambil belajar

Orang tua Jerman tidak terlalu terburu-buru dan memaksa anaknya untuk cepat bisa menulis dan membaca. Mereka justru meng-encourage anaknya untuk banyak menghabiskan waktu dengan bermain di luar. Cuaca tidak masalah. Unstructured play menjadi bagian integral dalam pola asuh Jerman selagi pakaian yang dikenakan tepat dan kondisi aman. Konsep permainan tak berstruktur ini bisa melatih kemampuan sosial si anak, mendidiknya menjadi pribadi yang mawas diri, mampu menjaga dirinya sendiri, dan melatih pola pikir kreatif.

Menarik Benang Merah

Pola asuh Denmark membuat kita sadar bahwa untuk bisa berkembang menjadi kepribadian yang bahagia, perlu banget membentuk masa kecil yang memorable dan penuh dengan sukacita. Anak harus diajari untuk mengenali dirinya sendiri untuk bisa menyadari posisinya dalam lingkungan yang lebih luas.

Pola asuh Perancis memberikan kita makna empati yang sebenarnya dan keharusan untuk menjaga tata krama bahkan dari ruang lingkup rumah tangga.

Pola asuh cara Jerman menekankan pembentukan individu yang penuh otoritas, mandiri, dan memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah dengan efektif dan efisien.

Secara umum, cara-cara yang diterapkan dalam mengasuh anak di ketiga negara tersebut relatif mudah untuk diaplikasikan secara aman. Pengecualian mungkin bisa diberikan untuk pola asuh dari Denmark poin usia masuk sekolah secara sistem pendidikannya juga berbeda dari yang ada di Indonesia. Tapi semuanya masih bisa di-tambal-sulam, kok. Kalo ditarik benang merah-nya, ketiganya punya satu kesamaan: Ketiganya sama-sama menitikberatkan pada keharusan untuk menerapkan pola asuh dengan kebutuhan emosional si anak sebagai dasarnya.

Kalo selama ini kita mendidik anak dengan menggunakan kepentingan kita pribadi sebagai reasoning dasarnya, maka si anak akan lupa cara menghargai dirinya sendiri. Nah, kalo menghargai diri sendiri aja luput, gimana mau menghargai orang lain? Gimana mau menghargai lingkungan? Kemandirian pun menjadi motif lain yang ditemukan dalam ketiga parenting styles itu. Anak-anak Denmark, Perancis, dan Jerman diajarkan untuk mengandalkan diri mereka sendiri dengan asumsi bahwa kemampuan untuk membantu orang lain berakar dari kemampuan untuk menolong diri sendiri.

Konklusi

Suka ga suka, pertanyaan seputar parenting styles mana yang paling baik untuk coba diterapkan di Indonesia akan banyak muncul setelah menelaah metode pengasuhan di 3 negara di atas. Tapi kita, lagi-lagi, di sini ga harus mengunggulkan satu metode di atas yang lain. Metode parenting Indonesia juga ada nilai positifnya, kok. Cuma, ga ada salahnya toh, mempelajari bagaimana orang-orang tua di negara lain mendidik anak mereka?

Jangan kebablasan; sebagus apapun satu metode, mungkin tidak cocok dengan kondisi dalam negri. Ambil yang baik-baik, kombinasikan dengan konsep pribadi, dan terapkan sesuai kebutuhan. Keharusan untuk selalu berkumpul dengan keluarga mungkin tidak bisa terus-terusan dipraktikkan sehubungan dengan keharusan untuk bekerja di luar kota dalam jangka waktu lama, misalnya. Kebijakan no ultimatums pun mungkin tidak bisa selalu ditegakkan mengingat orang tua pun manusia yang bisa habis kesabarannya. Apapun itu, jika terjadi kesalahan, tidak ada salahnya loh untuk minta maaf pada anak. Jangan gengsi. Itu malah bisa ngajarin si anak tentang betapa berharga dan powerful sebuah kata sederhana.