Insight Timer: Aplikasi untuk yang Sedang Berusaha Merapikan Kembali Hidupnya

Hai hai, Teman DRYD.

Udah pernah nyoba meditasi tapi selalu gagal? Selalu niat buat ngejadiin meditasi part of your day-to-day life but still can’t find a way to do so? Atooo, pengen banget nyobain meditasi tapi bingung kudu mulai dari mana? Naaah, kalo Teman-teman berpikir bermeditasi adalah bentuk self-care yang Teman-teman nilai cocok atau kalo Teman-teman berpikir bahwa bermeditasi adalah bentuk self-love language yang sesuai dengan kepribadian Teman-teman, mungkin semuanya bakal berat di awal. Kenapa? Pertama, kita ga kebiasa. Kedua, karena ga kebiasa itu, kita ga tau gimana memulainya.

Sama. Saya dulu juga gitu, ga tau apa yang harus dilakuin pertama buat membiasakan diri bermeditasi. Taaapi, sejak kenal yang namanya insight timer, saya jadi lebih bisa memahami langkah-langkah awal yang harus dipraktikkan supaya bermeditasi menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.

Insight Timer adalah nama sebuah aplikasi smartphone yang rancangannya menarget mereka-mereka yang sedang mencari jalan untuk menenangkan batin, termasuk di dalamnya adalah meditasi. Aplikasi ini bisa membantu dengan lebih dari satu jalan.

Pertama, itu tadi; aplikasi ini menawarkan sejumlah panduan bermeditasi yang gampang dipahami dan dipraktikkan. Panduan-panduan itu dibagi ke dalam judul-judul berbeda, jadi kita tinggal pilih mana yang kira-kira cocok buat kita praktekin.

Kedua, aplikasi ini membantu mereka-mereka yang sedang mencoba menemukan cara untuk lebih rileks. Ada bagian yang menawarkan koleksi musik-musik yang menenangkan untuk dinikmati dan membuat kita lebih tenang dan santai.

Ketiga, ada juga bagian yang ditujukan untuk membantu orang agar bisa tidur lebih nyenyak dan lebih berkualitas.

Keempat, pada bagian Talks, Teman-teman bisa menemukan koleksi pembahasan topik oleh orang-orang yang kompeten di bidangnya. Dengan menikmati bagian ini, Teman-teman bisa mendapatkan wawasan baru tentang satu subjek yang mungkin ga kepikiran sebelumnya.

Kelima, ada bagian khusus orang tua juga yang ngasi tips dan trik tentang, misalnya, gimana cara supaya anak bisa lebih berkembang kreativitasnya atau tentang meditasi tidur untuk anak-anak.

Pokoknya lengkap deh. Aplikasi ini pas banget buat menemani perjalanan Teman DRYD yang baru mau atau berencana menjadikan bermeditasi part of their lifestyle, gitu. Buat saya, aplikasi ini bantuannya sangat gede, so it’s definitely a must try for me.

 

P.S. Insight Timer tersedia untuk sistem operasi Android dan iOS.

Download versi Android di sini dan versi iOS di sini.

 

Delay atau Right Away: Tentukan Cara Kita Merespon Sesuatu

Hai Teman DRYD,

Bersikap terlalu sensitif dan selalu mengambil hati tentang segala hal berpotensi mengganggu hubungan interpersonal. Sayangnya, situasi seperti ini selalu terjadi berulang kali dan barangkali Teman-teman juga pernah merasa heran akan reaksi yang Teman-teman berikan terhadap suatu hal. Dan jika memang ini yang sering terjadi, maka Teman-teman sebaiknya mulai mencari tahu kenapa Teman-teman bisa sangat reaktif secara emosional.

Tanda-tanda orang yang reaktif secara emosional meliputi:

  1. Gampang sekali tersinggung bahkan karena hal paling remeh sekalipun,
  2. Reaksi yang diberikan terhadap sebuah situasi sering berlebihan,
  3. Sering merasa sangat kesal apabila sesuatu tidak berjalan sesuai rencana,
  4. Meyakini bahwa reaksi yang diberikan adalah akibat keadaan yang ada yang mengakibatkan perasaan tertekan oleh kerasnya hidup,
  5. Orang lain di sekitar merasa tidak nyaman berada di sekitar,
  6. Bersikap defensif dan penuh kemarahan ketika orang lain diduga sudah mengkritisi diri,
  7. Mudah diliputi kemurkaan dalam waktu singkat bahkan akibat provokasi paling kecil sekalipun,
  8. Merasakan ada sebuah pola dalam suatu ledakan amarah tapi tidak dapat diketahui dengan pasti,
  9. Merasa tidak berdaya disertai dengan rasa tanggung jawab yang rendah.

Mengubah kecenderungan untuk selalu reaktif secara emosional itu agak sulit sebenarnya karena melibatkan cara kita menyusun ulang bagaimana kita mempersepsikan hidup. Yang pertama harus kita tanamkan di diri adalah pemahaman bahwa kita bukanlah korban dari keadaan dan kita bisa dengan sadar menentukan cara kita merespon sesuatu, terutama jika sesuatu itu tidak sesuai dengan apa yang kita kehendaki.

Menjadi terlalu responsif secaqra emosional itu tidak baik untuk mental.

Tarik Napas Dalam-dalam

Jangan langsung bereaksi. Coba diam sebentar beberapa detik sebelum memberikan respons apa pun itu bentuknya, ya. Ketika kita merasakan bahwa sesaat lagi rasa marah kita akan meledak, tarik napas dalam-dalam dan pertimbangkan kembali apa sih yang sebetulnya terjadi. Apakah situasinya itu sendiri yang membuat kita marah atau malah semuanya cuma soal hal di balik situasi itu yang mengusik kita?

Kenali Trigger

Mengenali pemicu ledakan amarah atau sikap reaksioner emang rada ribet dan butuh banyak waktu tapi jika akhirnya berhasil, cara ini sebenernya cukup ampuh untuk mengurangi level reaktif diri kita. Dalam jangka waktu tertentu, coba kembangkan kemampuan untuk bisa “memeriksa” apa yang kita pikirkan, rasakan, dan lakukan. Jangan membiarkan diri bereaksi secara langsung tapi kenali momen ketika kita akan bereaksi atau memberikan respons dan buatlah catatan mental mengenai momen itu. Ketika sudah tenang nanti, coba deh lihat kembali reaksi yang udah kita kasi trus coba juga memahami emosi yang ada di balik reaksi tersebut yang menjadi pemicu. Ketika nanti di masa yang akan datang kita akan bereaksi atau merespon sesuatu, kita bisa mengenali dorongan tersebut apa adanya: Tidak lebih dari sekadar faktor pemicu. Untuk contoh praktis, misalnya kita punya kecenderungan untuk langsung merespon opini yang kontra dengan ide yang kita punya. Yang umum terjadi kan pastinya kita akan langsung masuk ke dalam situasi debat kusir yang ujung-ujungnya cuma akan bikin kita sakit kepala. Nah, coba hindari perdebatan, karena ini adalah faktor trigger. Dengan menghindar, memikirkan kembali inti dari apa yang menjadi sumber perdebatan, dan kemudian mengenali dorongan untuk berdebat sebagai respon semata, seharusnya kita bisa memilah kapan sebaiknya melempar opini dan memposisikan diri dalam sebuah forum.

Pikirkan dulu apa yang ada dalam kepala sebelum meyesal.

Pada praktiknya, adu argumen itu emang jauh lebih sehat ketimbang adu jotos untuk bisa menemukan jalan tengah. Tapi beradu argumen pun sejatinya punya tata cara yang baik agar bisa produktif dan efisien, bukan sekadar adu lempar pendapat dan bersitegang ga mau kalah.

Isi Ulang Tenaga Kita

Tubuh yang lemas dan kelelahan merupakan salah satu sumber utama penyebab kecenderungan respons negatif dari biasanya karena kita ga punya cukup cadangan energi. Coba susun jadwal kegiatan dalam seminggu yang bisa membantu me-recharge energi kita, bukannya malah menguras energi. Kegiatan-kegiatan yang sifatnya statis dan menenangkan bisa menjadi alternatif seperti meditasi, kegiatan dinamis seperto berolahraga, atau aktivitas kreatif juga bisa (contohnya berkebun, memasak, menggambar, atau menulis). Ga perlu, bahkan, sesuatu yang njelimet, cukup meluangkan waktu untuk introspeksi diri sendiri dan memastikan apa yang sedang kita rasakan untuk bisa membuat kita merasa lebih sejalan dengan diri sendiri.

Ubah Cara Mengungkapkan Perasaan

Kalo biasanya kita selalu nyalahin orang lain, coba deh ubah perspektifnya. Kalo biasanya kita selalu bilang, “Kamu bikin aku marah waktu kamu lupa telepon aku,” coba ubah kalimatnya menjadi, “Kalo kamu ga telepon aku di jam yang udah kita setujuin sama-sama, aku ngerasa diabaikan dan dilupakan. Kamu cuma perlu kirim pesan aja, kasi tau kalo kamu ternyata ga bisa nepatin janji telepon itu, kok.” Cara kita berkomunikasi bisa dengan drastis mempengaruhi seberapa negatif respons yang kita berikan.

Pada contoh kalimat pertama, kita menimpakan kesalahan pada orang lain. Orang lainlah yang bersalah dan membuat kita marah. Kalimat kedua lebih jelas menyatakan perasaan kita sebetulnya dan menunjukkan bahwa adalah sepenuhnya tanggung jawab kita kenapa bisa merasakan hal tersebut.

Konsultasi dengan Terapis

Kalo permasalahan sikap responsif yang berlebihan seperti ini udah mulai jadi sebuah problem yang terlalu besar dan mengganggu, mencari bantuan dari pihak profesional mungkin bisa membantu kita menemukan solusi yang tepat. Terapis profesional bisa jadi pilihan karena mereka mampu membantu kita mengenali perilaku mana aja yang ga bermanfaat buat hidup kita. Terapis profesional juga berkemungkinan besar bisa menolong kita membuat perubahan yang dibutuhkan supaya kita ga selalu jadi budak mood dan mencari tahu apa yang diperlukan untuk mengendalikan mood itu.

Jangan mau jadi budak emosi.

Nah, Teman DRYD, perlu diingat baik-baik kalo ga semua hal harus direspon dengan seketika. Perlu banget menahan diri buat ga langsung bereaksi terhadap sesuatu apalagi kalo reaksi yang dimaksud kontennya negatif. Kenapa? Karena itu ga sehat buat kondisi psikis kita sendiri. Energi akan sangat gampang terkuras habis dan akan ada kemungkinan buat jadi overthinking pada prosesnya—yang juga sama ga sehat dengan menjadi reaktif dan reaksioner.

Menunda reaksi atau respons jadinya lebih-kurang adalah sebuah usaha untuk menikmati me-time karena kita memilih untuk “memanjakan diri sendiri” dulu ketimbang tunduk dan ikut “permainan” orang lain. Ga salah kok, kalo kita ga langsung merespon sesuatu. Ga usah takut dibilang “loading-nya lama” atau ga ekspresif. Buat apa jadi ekspresif kalo ujung-ujungnya kita pusing sendiri dengan berbagai macam efek, hasil akhir, dan beban mental yang buruk? Yang penting itu adalah bagaimana kita bisa menjaga diri sendiri, menata hati, dan memberikan reaksi dan respons di saat yang tepat—yaitu ketika kita merasa semuanya sudah dicerna dengan baik.

Kalo misalnya kita kena sebuah kritik dari orang lain, diem dulu deh, coba ya. Kalo kita ngasi respons instan, kemungkinan besar semuanya akan berujung pada debat yang ga tentu arah. Kita hanya akan langsung mengeluarkan apa yang ada di dalam pikiran saat itu aja tanpa disaring, tanpa ditelaah, tanpa dicerna terlebih dahulu.

Saya selalu menekankan untuk banyak menarik napas dalam sebelum melontarkan suatu respons atau memberikan reaksi terhadap suatu hal karena tindakan menarik napas ini bener-bener mujarab banget buat menenangkan pikiran dan membantu mengendalikan perasaan dan emosi. Coba deh, Teman DRYD praktekin. Next time kalo ada dorongan buat langsung responsif dan reaksioner terhadap suatu hal, diem dulu, tarik napas daaalam-dalam, dan rasakan pikiran berangsur-angsur jadi lapang. Abis itu, baru deh mikirin gimana kudu menanggapi hal tersebut.

Self-Love Language: Berkomunikasi Mesra dengan Diri Sendiri

Istilah self love sekarang baaanyak banget dipake di mana-mana. Unggahan-unggahan Instagram, advice dari kolega atau keluarga, buku-buku self-help, cerita-cerita seleb, kita mungkin bahkan denger istilah ini dalam percakapan sehari-hari. Konsep “mencintai diri sendiri” sering dipake baik secara kasual maupun kontekstual sampe-sampe istilah itu jadi kehilangan makna terdalamnya. Dan meskipun emang makna cinta itu sendiri begiiitu universal dan bisa diaplikasikan ke apa aja, kadang-kadang kalo kita pake terus-terusan hanya sebatas permukaan, jadinya ya… cuma sekadar omongan. Kosong, gitu.

Teman-teman DRYD mungkin punya pemaknaan tersendiri terhadap cinta pada diri sendiri. Praktiknya pun mungkin beda-beda, tergantung preferensi dan definisi itu tadi. Tapi pernah ga temen-temen denger tentang self-love language? Tau ga caranya berbicara pada diri sendiri supaya diri sendiri sadar bahwa kita mencintai diri kita sendiri?

Yuk, bermain peran. Bayangin diri kita jadi orang lain yang sedang menjalin hubungan dengan kita. Gimana cara kita memperlakukan orang itu? Apakah kita baik padanya? Apakah kita selalu berpikiran baik terhadap tubuh dan jiwa orang itu? Sebagai manusia, pernah ga temen-temen ngalamin yang kaya begini:

  • Mencaci-maki diri sendiri dengan ucapan-ucapan yang kejam?
  • Menetapkan ekspektasi-ekspektasi yang impossible dan ga masuk akal, yang kemudian berujung kepada kegagalan?
  • Melakukan tindakan sabotase pribadi dan akhirnya menutup jalan untuk mendapatkan apapun yang pantas didapatkan?
  • Menyakiti tubuh dengan mengabaikannya atau mengambil keputusan-keputusan yang salah?

Disadari ato engga, tindakan-tindakan macam begitu akan ngaruh banget ke kesehatan mental dan fisik, ngerusak hubungan dengan orang lain, dan juga mengganggu perkembangan karir. Dan disadari ato engga, salah satu hal yang paling sulit dilakukan oleh manusia adalah bagaiman kita bisa menerima diri kita sendiri sepenuhnya dan mencintai individu yang ada di dalam diri. Begitu kita bisa melakukan ini, menerima dan mencintai diri kita sendiri dengan total tanpa denial, kita akan bisa memberikan cinta dan menerima cinta dari dunia, termasuk orang lain. Saat kebutuhan untuk mencintai diri sendiri sudah selesai dan terpenuhi dengan relatif sempurna, kita bisa mencintai hal lain tanpa perlu merasa terpaksa, kelelahan, dan terkuras. Saat kita bisa menerima diri sendiri dan memahami struktur internal diri kita, kita bisa menerima cinta dari dunia dengan bangga dan penuh rasa terima kasih karena kita paham, kita tahu bahwa kita pantas dicintai dan diterima oleh dunia.

Pertanyaan terbesarnya sekarang: Gimana caranya kita bisa mencintai diri sendiri? Inilah gunanya mempelajari bahasa cinta terhadap diri sendiri karena sekadar mengetahui kalo kita perlu melakukan ini tuh beda banget sama bener-bener ngelakuinnya.

Dr. Gary Chapman menulis dan menerbitkan buku “The 5 Love Languages” di tahun 1992, isinya mengupas bahasa cinta dengan mendetail supaya pembacanya bisa memahami cara memberi dan menerima cinta.

Yuk, kita breakdown bagian mencintai diri sendiri.

  1. Memikirkan Self-love: Kata-kata Afirmasi

Afirmasi diri sebaiknya dilakukan harian. Kenapa? Pikiran kita biasanya datang lebih dulu daripada emosi dan tindakan. Jadi kalo cara berpikir udah negatif duluan, semuanya akan jadi serba negatif juga. Coba cari kata-kata yang bisa meningkatkan rasa kasih kita pada diri sendiri. Fokuskan pikiran pada bagaimana caranya supaya kita bisa memperlakukan diri sendiri dengan lebih baik. Cara-cara yang bisa dilakukan meliputi membuat catatan tentang aspek-aspek kekuatan kita dan segala hal tentang kita yang kita syukuri. Coba buat sebuah dokumentasi tentang semua yang sudah kita capai selama ini, tentang hal-hal yang membuat perasaan bahagia, segala hal yang udah kita lakukan dengan baik, atau apapun yang kita suka tentang diri kita sendiri. Coba self-talk yang positif. Redam si tukang kritik di dalam diri.

brain cartoon characters vector illustration image showing how man has confused emotion when brains debating together about self confidence (conceptual image about human self confidence)

  1. Melakukan Self-love: Tindakan Memberikan Pelayanan

Melayani ga selalu berkaitan dengan orang lain yaaa, diri sendiri pun kadang perlu dilayani dan cuma kita yang mengerti jenis layanan seperti apa yang akan menunjukkan self-love. Kita bisa mulai dengan cara menyiapkan makanan sehat untuk diri sendiri. Berikan perhatian menyeluruh ketika berbelanja bahan makanan dan ketika proses memasak. Ciptakan lingkungan rumah yang teratur, bersih, dan menyenangkan secara estetis. Cintai tempat tinggal kita sendiri bahkan ketika budget-nya terbatas. Rutinlah mengecek kesehatan fisik, kesehatan gigi, dan kesehatan mental. Selesaikan persoalan di setiap segi begitu persoalan itu muncul di saat yang tepat. Tanpa kesehatan, kita praktis ga punya apa-apa untuk diandalkan. Grooming dan perawatan tubuh juga jangan luput. Penampilan fisik yang terawat akan sinkron dengan perasaan mencintai diri sendiri yang muncul.

  1. Menyerap Self-love: Menerima hadiah

Batasi pembelian barang-barang pada hal-hal yang emang disukai. Jangan buat lemari atau rumah penuh dengan hal-hal yang ga ngasi kita perasaan positif. Coba declutter, buang barang-barang yang udah ga lagi ngasi kita rasa bahagia. Susun bucket list dan hadiahi diri sendiri dengan pengalaman yang ga terlupakan. Misalnya, kita udah lama pengen nyoba rafting nih. Coba deh, susun anggaran dan perencanaan. Wujudin keinginan itu. Coba berinvestasi di pendidikan dan pengembangan skill. Kalo pengen dapet gelar S2, misalnya, atau pengen ngasah kemampuan masak, misalnya. Coba lakukan sesuatu untuk bener-bener bisa ngeraih itu semua.

  1. Mempraktikkan Self-love: Menghabiskan Waktu Berkualitas

Luangkan waktu setiap hari untuk kegiatan-kegiatan melapangkan pikiran seperti meditasi, latihan pernapasan dalam, dan relaksasi otot. Sisihkan waktu untuk bersenang-senang dan menjalankan hobi. Salah satu aspek penting dalam menghargai hidup adalah dengan menyediakan waktu untuk bermain dan bersenang-senang, loh. Tidur dan olahraga harus jadi prioritas.

  1. Merasakan Self-love: Sentuhan Fisik

Meregangkan otot dan memijat bagian-bagian badan tertentu bisa memberi efek relaksasi. Keluarkan racun-racun dalam badan dengan berendam air panas. Stres berkurang dan badan akan berterima kasih akan cinta kasih yang kita berikan. Aplikasikan losion atau minyak-minyak pelembap kulit. Di setiap sentuhan yang kita berikan pada badan, ucapkan terima kasih atas jasa-jasa bagian tubuh tersebut untuk hidup kita. Pahami kalo kita sangat-sangat pantas menerima perhatian khusus dengan cara, mungkin menikmati sebuah spa treatment. Manikur, pedikur, facial treatment, apapun yang bisa membuat hati senang dan badan rileks.

Semua ini penting dilakukan. Tapi yang paling penting lagi adalah menyadari bahwa mencintai diri sendiri itu adalah sebuah proses perjalanan—apalagi kalo kita terbiasa memandang rendah diri sendiri. Yang dibutuhkan adalah dedikasi, perhatian penuh, dan mempraktikkan semuanya.

Self-love dan Relationship

Jadi ada ga sih, kaitan langsung antara self-love languages dengan hubungan dengan orang lain? Oh, jelas ada dong. Lima macam bahas mencintai diri sendiri di atas itu bisa diliat mana yang lebih efektif untuk kita praktikkan. Kalo emang kelima-limanya sangat efektif, ya bagus deh. Tapi paling engga nih ya, ada satu tipe yang emang klop banget buat kita jalani.

Nah, setelah menemukan tipe yang sesuai dengan kita, sebaiknya dikomunikasikan dengan pasangan. “Yang, keknya tiap hari Minggu mau meditasi deh.” Ato, “Babe, tiap hari Rabu aku mau konsultasi treatment skincare.” Ato, “Khusus hari Sabtu aku mau kursus masak ya.” Apa manfaatnya mengkomunikasikan ini ke orang lain? Toh, yang ngerasain juga diri kita sendiri, kan artinya orang lain ga perlu tahu, ya ga? Ga gitu juga sih. Ketika ada dalam sebuah hubungan, artinya kita harus menimbang posisi orang lain. Ketika seseorang ga paham bahwa pasangannya sedang me-time-an, akan timbul gesekan. Dari korslet-korslet kecil nanti jadi salah paham yang kemudian akan meledak jadi konflik. Sebagai pasangan yang sudah diinformasikan mengenai self-love language partnernya, kita juga kudu menghargai hak dia untuk mencintai dirinya sendiri juga. Jangan dibates-batesin, dilarang-larang. Toh juga kebahagiaan yang dia rasakan dengan dirinya sendiri akan berdampak positif terhadap kebahagiaan hubungan juga.

Kebahagiaan anak juga akan lebih improved—buat yang udah punya momongan—karena harmonisasi antara kedua orang tuanya lebih terjaga. Ga ada salah paham. Level stres lebih terkelola dengan baik. Orang tua yang bahagia dengan dirinya sendiri, bahagia dengan hubungan bersama pasangan, dan bahagia secara umum akan membuat keadaan rumah jauh lebih ceria dan si anak bisa tumbuh dan berkembang dengan lebih sempurna.

Apa ini berarti self-love languages cuma cocok diterapin untuk mereka-mereka yang udah berpasangan dan memiliki anak? Apa single ladies and gents out there ga bisa mempraktikkan ini? Oh, sudah pasti status seseorang ga relevan di masalah ini. Siapapun bisa mempraktikkan bahasa cinta pada diri sendiri terlepas dari status percintaannya. Justru mungkin mereka-mereka yang single malah butuh mempraktikkan ini lebih banyak. Bahkan, pola ini ga cuma aplikatif di masalah percintaan loh. Dalam hubungan pertemanan, pekerjaan, dan relasi dengan orang tua pun penting supaya bisa meminimalisasi konflik, meningkatkan rasa percaya (pada diri sendiri dan satu sama lain), dan membuat hubungan lebih intim dan hangat.

Nah, Teman DRYD, semoga kita bisa belajar banyak tentang bagaimana mencintai dan menerima diri sendiri yaaa. Mencintai orang lain dengan sepenuh hati itu dimulai dengan mencintai diri sendiri dulu. Ini mungkin kalimat yang Teman-teman udah sering denger, sampe eneg juga mungkin. Tapi ini juga kalimat yang sekaligus sangat powerful dan mujarab untuk mengubah cara pandang kita, baik terhadap dunia umumnya dan terhadap diri sendiri khususnya.

Yuk, sharing pengalaman kalian dalam mempraktikkan self-love di kolom komentar. Ato kalo mau nanya-nanya juga boleh. Ditunggu yaaa.

Memilih Meditasi Untuk Memelihara Kesehatan Jiwa

Hai Teman DRYD,

Udah nyempetin me-time-an belom minggu ini? Mungkin pada heran kali ya, kenapa si DRYD selaaalu aja nyelipin me time di setiap kesempatan. Hahahah! Me-time itu bukan sekadar jargon doang loh ya. Saya selalu ngomongin soal ini setiap kali ada celah karena emang penting banget buat kita menyediakan dikit aja waktu buat diabisin bersama diri sendiri.

Pentingnya apa, gitu Dok?

Nih ya, kalo kita ga ngasi jeda di antara kesibukan pekerjaan dan interaksi sosial hari-hari, nanti kita bisa stres. Mending berenti di stres, kalo sampe depresi? Kan gawat. Kita kadang perlu juga ngerasain napas yang kita tarik dan lepaskan, suara degup jantung sendiri, menghirup udara tanpa berbagi dengan orang lain, nonton TV ato bioskop tanpa harus tunggu-tungguan dengan orang lain, masak sesuka hati, exercise demi kebugaran pribadi tanpa harus peduli standar sosial, jalan-jalan sendirian keliling kota dari pagi saaampe pagi lagi. Semua hal bisa dijadikan momen me-time, sebenernya. Syaratnya cuma satu: Apapun yang dilakukan harus dijalani demi kesenangan pribadi. Ini adalah kesempatan buat kita bisa egoistis dikit, hehehe. Ga usah peduliin hal lain, masih banyak waktu buat itu nanti setelah kelar menyenangkan diri pribadi. Kalo kita terus-terusan hidup berdasar standar orang lain, terus-terusan sharing space dengan orang lain, terus-terusan mikirin posisi kita di antara orang lain, waktu dan tenaga kita kesedot buat itu semua. Lah, kalo setiap saat kaya gitu, kan akhirnya jadi beban buat diri sendiri. Ujung-ujungnya kita tertekan. Naaah, me-time inilah kesempatan kita buat jadi diri sendiri, menikmati segala hal yang kita ga sempat alami di hari-hari biasanya dan melepaskan diri dari segala macam tuntutan baik profesional, sosial, mental, maupun fisikal.

Salah satu bentuk me-time yang bisa dipilih adalah meditasi. Pasti udah sering denger istilah ini dong ya. Asosiasinya pasti langsung ke sikap duduk tegak yang rileks, pikiran yang dikosongkan, dan pernapasan yang teratur. Tapi tau ga sih, Teman DRYD, meditasi ternyata ga sesederhana itu. Banyak yang nyoba buat meditasi tapi ga sedikit yang gagal. Penasaran ga sih, sama cara meditasi yang benar? Sebelum masuk ke bagian ini, mungkin kita lebih baik memulai dengan memahami manfaat dari kegiatan ini dulu ya.

Meditasi itu ternyata bagian dari self-love languages, yaitu cara-cara yang bisa kita gunakan untuk mengungkapkan rasa cinta terhadap diri kita sendiri, gitu. Kebanyakan dari kita tuh, fasih banget kalo udah soal mencintai orang lain tapi hampir selalu gagal dalam hal mencintai diri sendiri. Nah, “bahasa cinta untuk diri sendiri” di sini adalah penjabaran bagaimana kita bisa mulai mencintai diri kita terlebih dahulu. Meditasi adalah bentuk cara menghabiskan quality time bersama diri sendiri. Pada praktiknya, meditasi melibatkan serangkaian ritual yang kesemuanya ditujukan supaya kita bisa melepaskan pikiran dari segala hal yang menyedot terlalu banyak fokus, memberatkan, dan membuat cemas dalam kehidupan. Mau definisi yang lebih baku lagi? Meditasi bisa dikatakan adalah sebuah proses mental yang berlangsung dalam durasi tertentu yang ditujukan untuk menelaah suatu objek, menarik kesimpulan dari proses penelaahan itu, dan berujung pada proses penyusunan strategi untuk memahami, mengambil tindakan, dan menyelesaikan segala persoalan yang berkenaan dengan diri pribadi, kehidupan, dan tingkah-laku.

Bermeditasi bisa membantu Teman DRYD semua untuk melepaskan diri dari segala bentuk penderitaan yang bermula dari pemikiran pribadi, baik yang sifatnya baik maupun yang buruk. Kenapa sebaiknya melepaskan diri dari pola pikir seperti ini? Karena sifatnya saaangat subjektif. Aktivitas berpikir dan menilai sesuatu adalah sifat dasar manusia dan merupakan sebuah proses berkepanjangan yang seolah tanpa akhir. Membiarkan diri terjebak dalam siklus ini sama aja dengan mengundang penderitaan personal, yang pada akhirnya akan berbuah beban mental. Meditasi mengajarkan kita bahwa ada kalanya kita butuh untuk membebaskan diri dari segala macam bentuk aktivitas berpikir untuk meraih tingkat kesadaran yang lebih objektif, lepas dari semua bias dan subjektivitas.

Meditasi dan Manfaatnya

Tadi udah dibahas tentang tujuan meditasi. Nah, tujuannya ini yang berkaitan erat dengan manfaat aktivitas tersebut. Dengan menenangkan pikiran dan melepaskan diri dari beban-beban mental yang memberatkan hidup, jiwa jadi lebih sehat. Lebih segar dan lebih tajam dalam memandang sesuatu.

“Apa manfaatnya cuma perkara ketenangan jiwa, Dok?

Engga juga. Tapi itu kita bahas ntaran dulu. Ada yang lebih penting buat dibicarakan sekarang.

Banyak orang dengan lugunya menyamakan meditasi dengan melamun. Ini penyamaan yang saaangat amat salah. Melamun itu kegiatan yang pasif dan karena dia pasif, ga ada kontrol dalam bentuk apapun. Ga ada durasi, ga ada teknik pernapasan, ga ada aturan sikap tubuh. Jadi jangan abis bengong trus mikir, “Wah udah meditasi nih gue, lumayan dapet 5 menit.” Kaga begitu juga, sayangkuuu. Meditasi itu tindakan aktif. Kita sadar ketika memutuskan untuk bermeditasi dan kita paham apa yang kita lakukan. Jangan menganggap meditasi sebuah aktivitas yang sia-sia dan membuang waktu.

Nah, sekarang balik ke manfaat fisikal dari meditasi, yuk!

Meditasi dikenal dalam dunia fisiologi sebagai penyembuh stres yang paling baik dan paling aman. Saat stres melanda, jantung akan berdenyut lebih cepat dan tekanan darah meninggi. Pernapasan jadi ngasal, pendek-pendek dan terburu-buru. Di saat yang sama, kelenjar adrenalin bekerja ekstra keras memproduksi hormon-hormon stres. Ketika kemudian kita bermeditasi untuk mengatasi kondisi ini, akan terjadi perlambatan denyut jantung. Tekanan darah kembali normal dan pernapasan pun kembali melambat. Sementara itu, hormon kortisol, epinefrin, dan norepinefrin (biang kerok penyebab stres makin parah, huh!) perlahan-lahan mulai dikurangi produksinya. Di lain pihak, serotonin dan melatonin meningkat sekresinya dan akibatnya kita merasa lebih tenang dan rileks. Kita bisa simpulkan juga setelah memahami ini kalo memisahkan efek fisikal meditasi dari efek psikisnya itu adalah tindakan yang percuma karena keduanya berkaitan saaangat erat. Perbaikan kondisi biologis akan menghasilkan keseimbangan mental.
Dulu, manfaat meditasi itu cuma bisa disimpulkan dari klaim-klaim orang yang mempraktikkan aktivitas ini. Sekarang, riset ilmiah pun udah ngedukung fakta bahwa meditasi memiliki banyak dampak positif terhadap kesehatan mental dan fisik. Riset Universitas Wisconsin bahkan nunjukin kalo pada orang yang terbiasa bermeditasi, otaknya menghasilkan gelombang Gamma lebih banyak. Sekadar catatan, gelombang Gamma ini adalah gelombang otak yang muncul saat kita sedang seneng. Meditasi juga ampuh untuk menanggulangi berbagai macam keluhan medis lain seperti masalah adiksi, anxiety, dan juga rasa nyeri di badan.

Selain bisa membuat fungsi badan bekerja dengan lebih teratur, meditasi juga membawa dampak signifikan untuk kesehatan jiwa kita.

  1. Kita jadi lebih gampang memaafkan orang lain dan memahami individu selain diri kita sendiri.
  2. Kita juga jadi lebih fokus pada pola hidup yang jauh lebih baik. Kemampuan fokus secara umum juga menjadi lebh baik.
  3. Suka-duka, derita, kebahagiaan, kesulitan, dan tantangan juga lebih mudah untuk kita terima dan olah.
  4. Kesadaran diri meningkat secara signifikan.
  5. Emosi-emosi negatif berkurang drastis.
  6. Stres lebih mudah untuk dikelola dan perspektif kita pun jadi lebih luas untuk menelaah suatu problem.

Lebih jauh lagi, ada klaim yang menyatakan bahwa meditasi bisa juga meringankan beberapa penyakit berat seperti kanker, gangguan tidur, psoriasis, fibromyalgia, dan masalah jantung. Taaapiii, klaim-klaim ini belum memiliki bukti valid dan masih ada dalam kategori penelitian lebih lanjut.

Bentuk-bentuk Meditasi

Bentuk meditasi itu ada banyak meskipun semuanya bertujuan sama, sama-sama membantu menemukan kedamaian jiwa dan ketenangan batin. Contoh tekniknya ada Qi gong, Tai chi, meditasi transedental, dan yoga. Tapi secara garis besar teknik meditasi itu dibagi jadi 2 kelompok utama: meditasi konsentrasi dan meditasi kesadaran. Metode konsentrasi memfokuskan pada konsentrasi terhadap satu objek tertentu, bisa suara, bisa bayangan, bisa tarikan napas, bisa ucapan. Metode kesadaran memusatkan fokus pada apapun yang melintas dalam pikiran saat bermeditasi.

Metode, bentuk, dan teknik bisa beda-beda tapi semuanya punya elemen yang serupa:

  1. Pikiran fokus,
  2. Bernapas perlahan, dan
  3. Sikap tubuh yang rileks.

Tips Sederhana untuk Meditasi

Karena sifatnya personal, aktivitas bermeditasi itu bukan sesuatu yang bisa diajarkan oleh orang lain. kita sendiri nih yang kudu ngalamin supaya tau apa yang efektif untuk membantu diri sendiri dalam bermeditasi. Lebih ke trial and error, gitu. Emang sih, ada banyak buku yang isinya membahas meditasi dan cara-caranya. Banyak juga seminar-seminar gitu, yang niatnya ngasi bimbingan buat orang-orang yang berminat menjadikan meditasi sebagai bagian dari pola hidup mereka. Tapi semuanya ujung-ujungnya cuma berakhir menjadi sebatas semacam guidelines aja gitu. Karena pada praktiknya, apa yang diajarkan olehy buku dan seminar itu semua belum tentu efisien buat kita jalankan. Semua jadi serba relatif.

Tapi gapapa kan ya, share dikit tentang cara bermeditasi yang efektif. Semuanya bisa dipraktekin berdasar coba-coba aja dulu. Kalo emang ga efektif, mungkin bisa dimodifikasi jadi sesuatu yang lebih cocok buat dijalanin.

Pertama-tama dan yang paling utama, tentukan waktu yang tepat lebih dulu. Inget ya, meditasi itu butuh konsentrasi penuh jadi coba cari waktu yang minim gangguan dan kita bisa menyendiri. Setidaknya alokasikan waktu 10 menit untuk satu kali sesi.

Terus, tarik napas dalam dengan pelan berulang kali sambil berfokus kepada setiap tarikan napas dan apa yang sedang dirasakan.

Terus, sambil menjaga irama napas, alihkan fokus kepada bagian tubuh satu demi satu dan pahami apa yang terasakan di setiap bagian badan itu.

Selama bermeditasi, usahakan tubuh selalu dalam keadaan rileks, ya.

Meditasi ga harus duduk juga. Coba bermeditasi sambil jalan kaki. Berikan fokus menyeluruh pada gerakan tungkai dan coba kendalikan gerakan berjalan supaya tetep pelan dan berirama. Meditasi sambil berjalan ini levelnya udah advanced ya, Teman DRYD. Jadi untuk soal lokasi bisa di mana aja dan kapan aja asal fokus dan konsentrasi tetap terjaga.

Coba gabungkan aktivitas bermeditasi dengan musik yang menenangkan atau gunakan aplikasi Insight Timer untuk membantu proses meditasi.

Mau tutup mata ato engga pas meditasi mah bebas, senyamannya aja. Pilih yang mungkin paling efektif dalam membantu berkonsentrasi. Tambahan lagi, kalo bisa, jangan meditasi dalam dua jam setelah makan. Proses pencernaan akan sangat mengganggu meditasi.