Skincare Itu Penting—Bahkan Waktu Sebelum C-Section

Apa yang terbayang saat mendengar “operasi sesar”? Pasti ngeri, kan? Bayangin aja, perut dibuka oleh orang lain dan organ dalam di-obok-obok. Emang sih, pake anestesi; tapi, itu ga bikin segalanya jadi lebih baik kok. Perasaan takut menggentayangi. Perasaan ngeri terus-terusan menghantui. Ujung-ujungnya si ibu jadi stres, depresi, dan banyak hal negatif lain yang akan mengikuti. Ini baru urusan kemelut internal psikis si calon ibu loh, ya. Kita bahkan belum ngebahas apa aja yang berpotensi bikin si ibu semakin stres dari luar dirinya sendiri. Apa aja faktor dari luar yang bikin si ibu tambah stres?

Banyaaak.

Tapi yang paling utama sih ya, omongan dari orang lain tentang prosedur operasi itu sendiri.

Suka ga suka, masyarakat kita masih memandang sebelah mata operasi cesar. Anggapannya adalah operasi ini adalah sesuatu yang ga alami dan karenanya orang yang memilih jalan C-section untuk melahirkan adalah sama ga alaminya. Banyak banget yang masih mikir kalo menjadi ibu sutuhnya adalah dengan cara melahirkan alami padahal prinsipnya ga begitu. Apa pun cara melahirkannya, si jabang bayi toh dibentuk di dalam rahim sendiri, kan? Jadi ga seharusnya berpikir kalo ukuran ibu sempurna itu cuma diliat dari gimana dia ngelairin anaknya sendiri. Mau sesar, mau alami, rasa cinta kita pada anak sama aja, kan ya?

Tapi itu tetep ga membuat seorang calon ibu yang akan menjalani sesar lebih legaan dikit. Pertanyaan-pertanyaan dari orang lain, yang mungkin sebetulnya ga ditujukan buat nyakitin ati, tetep nancep. “Kenapa gitu, milih disesar?” “Berarti pas persalinan, bobo doang dong?” “Enak ya, disesar, ga ngerasain sakit kontraksi.” Semua pertanyaan simpel, tapi bisa diartikan sebagai sindiran halus oleh si calon ibu bersangkutan.

Dan yang namanya ngerasa disindir, pasti ga enak kan? Overthinking lah jadinya. Stres lah jadinya. Mana hormon-hormon lagi bergejolak pula. Tambah bikin depresi lah jadinya. Bisa-bisa si calon ibu malah ogah ngelairin cuma gegara ngerasa dipojokin. Padahal nih, ya, perjalanan seorang yang abis disesar itu ga kalah memukau loh.

Pertama, recovery mereka lebih lama. Luka pembedahan pasca-sesar itu butuh waktu kurang lebih enam minggu untuk sembuh. Nah, dalam periode recovery ini, mereka akan selalu “serba salah”. Bergerak, sakit. Tidur ga nyaman. Batuk ato bersin, risikonya jahitan luka bedah kebuka. Jangankan beraktivitas seperti biasa sebelum operasi, menyusui anak aja harus dibantu orang lain karena ga mungkin bangun dari tempat tidur. Belum lagi soal kateter yang ga boleh dilepas soalnya tanpa kateter proses pengeluaran urin bakalan bikin semuanya messy.

Kedua, hasil akhir proses operasi cuma bisa diketahui setelah prosedur selesai dan para ibu yang melahirkan sesar harus menjalani semuanya di dalam ruang operasi sendirian. Tanpa sang suami. Tanpa orang tua. Tanpa anggota keluarga. Bahkan tanpa teman dekat. Ga ada. Cuma dia, para dokter, dan suster-suster. FYI nih ya; dalam sebuah prosedur C-section, seenggaknya ada tiga dokter yang terlibat: dokter anestesi, dokter bedah, dan dokter anak. Kebayang ga, gimana sepinya si ibu dalam ruangan yang asing dan dikelilingi orang-orang yang sama asingnya. Badannya keekspos, organ dalamnya diiris. Ga ada suami yang bisa minjemin tangannya buat diremas menahan sakit. Ga ada orang tua yang suaranya bisa ngasi ketenangan. Ga ada anggota keluarga yang seenggaknya bisa bikin ruang bedah sedikit lebih familiar. Ga ada para sahabat yang bisa ngasi semangat.

Ketiga, seorang ibu yang menjalani sesar berarti dengan sadar sudah paham konsekuensi selepas operasi nanti. Termasuk di dalamnya adalah keharusan buat ninggalin rasa malu di luar ruang operasi, rasa sakit yang menerjang berhari-hari—bahkan beberapa bulan setelah luka operasi sembuh pun rasa sakit masih bisa datang sendiri, dan menanggung kemungkinan kemunculan rasa trauma. Semuanya cuma karena satu hal: Si ibu ingin anaknya baik-baik saja.

Tuh, udah tau kan, gimana beratnya perjuangan seorang ibu yang memilih prosedur sesar? Sesar ini ga sembarangan loh ya. Harus ada serangkaian tes dan pemeriksaan medis oleh pakarnya sebelum diputuskan kalo si calon ibu sebaiknya menjalani C-section. Kalo kondisi si ibu atau si bayi atau bahkan keduanya ga memungkinkan (atau mengancam nyawa) buat proses melahirkan alami, ya mau ga mau harus sesar kan? Emang sih, ada juga opsi sesar elektif. Tapi itu ga mengurangi esensi menjadi seorang ibu kok. Misal nih, ada semacam fobia yang berkaitan dengan proses kelahiran normal, daripada nanti berujung semuanya berubah menjadi trauma mendalam, ya sesar bisa jadi opsi untuk dipilih. Yang penting konsultasi sama dokter dan dengerin dan ikutin anjuran aja.

Nah, topik bahasan kita kali ini berkaitan erat sama manajemen stres pra-kelahiran lewat prosedur sesar.

Udah tau dong kalo stres bikin komposisi hormon dalam badan jadi kacau-balau? Kondisi hormon yang ga stabil bisa bikin kondisi badan secara umum juga labil. Tekanan darah naik. Denyut jantung ga normal. Respons sistem imun bisa hiperaktif. Macem-macem, tapi semuanya bisa mengganggu kelancaran operasi nantinya. Gimana caranya dong biar bisa seengganya mengontrol risiko seperti ini? Me-time dong.

Apa hubungannya, Dok, me-time sama manajemen stres pra-sesar?

Loh, ya ada dong. Begitu kita bisa menyisihkan waktu buat mengelola stres, tubuh bisa merespon dengan positif dan keadaan internal badan bisa lebih stabil. Apa caranya? Yang paling gampang deh ya, skincare-an aja.

Skincare ataupun skin treatment mungkin adalah hal terakhir yang seorang calon ibu pikirkan di hari-hari menjelang melahirkan. Tapi ini juga sekaligus cara termudah. Kenapa? Misalnya seorang ibu sedang deg-degan mau operasi. Terus dia pergi ke spa buat relaksasi. Pijatan yang diberikan pada bagian-bagian tubuh tertentu bisa memicu pelepasan endorfin yang kemudian bisa berefek menenangkan. Pikiran jadi lebih “diam”. Rasa takut bisa lebih mudah dikendalikan.

Apa harus segitunya sampe pergi ke spa? Ga juga sih, kan cuma contoh. Alternatif lain yang bahkan ga ngeluarin uang banyak apa? Naaah, coba deh pake sheetmask.

Penggunaan masker wajah model begini bisa sangat akomodatif buat ibu-ibu hamil. Tinggal cuci muka, keringin, buka kemasan, tempel ke muka, tunggu beberapa menit, lepas, kelar. Biar sederhana, biar murah, biar effortless, kalo soal hasil akhir, masker seperti ini ga bisa diremehin. Kulit jadi kinclong, berasa sehat dan seger, hati seneng, stres berkurang deh. Calon ibu tetep harus ngerasa cantik loh ya meskipun tanggal jadwal prosedur operasi udah makin deket. Dengan mengurus kesehatan kulit dengan benar, percaya diri bisa makin meningkat. Dengan bekal kepercayaan diri yang besar, ketakutan akan risiko-risiko operasi yang ada bisa lebih gampang di-manage.

Ato kalo emang mau yang lebih all out, bisa aja sih, dateng ke klinik perawatan kulit. Tapiii, pastiin dulu di klinik itu ada jenis perawatan yang bersahabat sama kondisi kehamilan. Misal nih, coba deh tanya, ada ngga masker untuk ibu hamil yang ditawarin si klinik. Iya emang tujuannya buat ngerawat wajah dan kulit tapi ga bisa sembarangan loh ya. Cari tau informasi tentang masker yang aman untuk ibu hamil itu apa aja. Soalnya kalo sembarangan pilih produk bisa-bisa malah berbahaya buat kandungan nantinya.

Kalo punya waktu dan energi, coba deh racik sendiri masker wajah alami buat dipake sehari-hari. Banyak kok referensinya. Lagi-lagi, kalo milih cara ini, semuanya kudu banget higienis yaaa, biar ga ngefek ke dedek bayi dalem kandungan.

“Oh, jadi skincare-an ini cuma eksklusif buat ibu-ibu yang mau sesar, Dok? Yang rencananya lairan normal ga perlu rawat-rawat ini-itu, gitu?”

Hahahah, bentar-bentar, jangan ngambek dulu dooong.

Yang namanya proses melahirkan itu, apa pun bentuknya, pasti mendebarkan. Pasti bikin stres. Kenapa pembahasan kali ini fokusnya ke proses sesar itu karena risiko dan konsekuensi yang udah disebutin tadi. Iya, melahirkan normal itu juga menyakitkan. Tapi paling engga di dalam ruang persalinan nanti ada orang lain selain para dokter dan bidan yang nemenin. Tapi ya tetep sama kok. Ibu-ibu yang mau melahirkan normal juga boleh—dan sebaiknya, malah—menjalani perawatan kulit. Kan tujuannya mau buat mengelola rasa stres dan takut, kan ya. Jadi sah-sah aja kok. Asal itu tadi, pastikan produknya aman dan ga berisiko baik buat si ibu maupun buat si anak.

Dah ya, gitu aja. Sampe ketemu di topik lain yaaa. Saya mau maskeran dulu. Stres juga ni, nyari referensi tentang sesar. Ngelairin kaga, stresnya tetep dapet.

COVID-19 dan Dilema Mengajak Anak Bermain di Kala Pandemi

Hai moms,

Bermain adalah kegiatan penting untuk anak-anak yang masih dalam periode tumbuh-kembang. Penting bagi kita sebagai orang tua untuk bisa mengajak dan memfasilitasi kebutuhan bermain si anak agar pertumbuhan fisiknya sempurna dan perkembangan otaknya maksimal. Menikmati kegiatan bermain adalah salah satu hak mendasar seorang anak, seperti yang juga sudah ditetapkan oleh PBB. Buat kita orang dewasa mungkin bermain itu adalah hal yang sepele dan remeh. Tapi pada dasarnya semua manusia yang hidup di dunia adalah homo ludens, makhluk yang suka bermain. Saat dewasa pun kita pasti melakukan kegiatan bermain tapi mungkin cara dan jenisnya sudah berevolusi karena manusia dewasa memiliki tuntutan, tanggung jawab, kewajiban, gaya hidup, dan energi yang berbeda dari anak-anak. Maka bermain pun berubah menjadi traveling, berolahraga, atau melakukan hal lain yang melibatkan tubuh dan indra.

Bermain adalah salah satu hak dasar anak-anak

Karena cara pandang kita berbeda, mungkin kita sering menganggap enteng kegiatan bermain untuk anak dan membiarkan si anak cenderung diam dan pasif. Ini sebenernya ga disaranin ya, moms. Psikoanalis Sigmund Freud berpendapat bahwa ada nilai-nilai terapeutik yang bisa diambil dari kegiatan bermain. Dengan merangsang si anak untuk aktif bermain, kita bisa mencegah potensi kemunculan ketidakseimbangan psiko-emosional dalam dirinya. Dengan bermain jugalah si anak bisa menetralkan situasi stres, rasa cemas, rasa takut, serta meminimalisasi kemungkinan depresi. Ini penting supaya kelak ketika si anak dewasa, ia bisa mengatur keadaan psikisnya sendiri dengan lebih efektif.

Bagi orang tua, meluangkan waktu setiap hari untuk berinteraksi dengan anaknya akan memungkinkan kita untuk membentuk suatu ikatan emosional yang kuat dengan si anak sehingga ia bisa menganggap kita teman untuk berbagi dan berkembang menjadi individu matang yang terbuka. Pastinya ga mau dong, moms, anaknya jadi orang yang tertutup rapat dan nyimpen banyak banget rahasia dari kita orang tuanya sendiri?

Bermain pun punya manfaat sosial yang besar untuk perkembangan mental si anak. Sering bergaul dengan teman dan menghabiskan waktu bermain bersama anak-anak lain akan membuat anak paham bagaimana cara berinteraksi yang lebih efisien dengan individu lain. Kegiatan bermain yang intens dan reguler akan membantu mengasah soft skills anak jadi nanti ketika dewasa, ia tahu betul apa itu fairplay, persaingan sehat, bagaimana mencegah diri merasa iri, dan bisa memupuk rasa percaya diri yang maksimal.

Membiarkan anak bermain bisa membantu mengasah soft skills

Kita sebagai orang tua mungkin lebih sering berpikir bahwa pendidikan formal dari sekolah akan cukup untuk memberi anak bekal untuk dewasa nanti. Tapi kita luput mempertimbangkan bahwa sesempurna apapun sekolah dan kurikulum yang ditawarkan, ada beberapa hal yang tidak bisa diajarkan bagi kebaikan si anak di masa depan.

Dan kita sebagai orang tua juga sering lengah dan kebablasan dalam memanjakan anak. Anak usia TK udah dikasi gadget. Iya, taaau; pasti sebel juga denger anak pulang sekolah langsung komplain, “Ma, temenku dibeliin iPhone sama mamahnya!” Terus kita panas dan mau juga ngasi anak barang mahal. Ato mungkin karena cape kali ya, didesak mulu sama anak buat beliin handphone. Alasan lain orang tua membelikan gadget untuk anaknya mungkin didasari oleh alasan keamanan. Mungkin kita takut kalo nanti dia kesasar apa gimana, bisa langsung telepon ke rumah dan kita akan segera memberikan pertolongan. Semua alasan ini valid dan legit. Ga ada orang tua yang ga mau anaknya seneng, aman, nyaman, terpenuhi semua kemauannnya. Tapi kita juga kudu banget jeli memilah mana yang kemauan dan mana yang kebutuhan. Gadget itu stagnan ya, moms. Benda elektronik itu merangsang visual anak tapi mematikan sensor-sensor lain—yang juga seharusnya distimulasi supaya perkembangannya benar. Anak umur 1 sampai 5 tahun harusnya aktif bergerak, berinteraksi dengan sesama manusia, banyak berkomunikasi, dan bonding dengan teman sebaya, bukannya diem di sofa mantengin Instagram. Ga heran kalo jaman sekarang pengetahuan dunia pop anak umur setahun bisa lebih luas daripada orang tuanya sendiri. Jangan sampe ya, kita dapet update artis mana yang cerai atau selingkuh dari anak kita sendiri yang seharusnya masih ngubek-ngubek tanah ato ngejer-ngejer kucing. Jangan sampe dia terpengaruh YouTuber paling kaya se-Indonesia trus pengen dibeliin mobil balap impor sementara kita mau beli bajunya aja kudu mikir sisa duit cukup ngga buat makan. Jangan sampe ya, anak badannya membesar ga terkendali karena kerjanya makan melewati batas normal dan ngemil depan TV setiap hari. Tuh, yang gitu-gitu yang kudu dihindari. Dan yang gitu-gitu sebenernya bisa kita cegah seandainya kita mau proaktif memberikan stimulasi agar anak mau bermain, entah bersama kita, entah dengan teman-temannya di luar sana.

Tapiii, ada lagi nih hal lain yang bikin semuanya agak riweuh. Kan lagi pandemi ni ya, gimana dong caranya supaya si anak bisa tetap aktif? Pandemi emang merepotkan dan kita harus beradaptasi dengan cara mengadopsi pola asuh new normal. Kalo dipikir-pikir, apa sih yang ga dibikin repot sama pandemi kan ya? Pola hidup, ga cuma pola asuh, harus diperbarui supaya kita tetap bisa menjalankan hidup dengan relatif normal sekalipun wabah masih belum reda.

Betul, mengajak anak bermain outdoor di tengah pandemi memang ribet. Tapi bukan ga mungkin. Masalahnya ada di kita; apakah kita mau telaten dan sabar? Anjuran umum memang mengatakan bahwa sekalipun New Normal udah diberlakukan, sebaiknya tetap di rumah aja kalo ga ada keperluan banget keluar rumah. Tapi itu ga berarti kita ga boleh ajak anak keluar sama sekali. Di teras rumah juga udah lumayan. Ato kalo ada halaman cukup luas, ajak deh anak main di sana.

Ato kalo emang nih, kita takut banget ngajak anak keluar dari rumah, ada sih beberapa tips agar anak tidak bosan di rumah saat pandemi. Cuma nih ya, kita juga ga boleh menutup mata dari kebutuhan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan di luar rumahnya. Membiarkan anak lama di dalam rumah tanpa diberi kesempatan sedikit pun untuk mendapatkan stimulasi terhadap indra-indranya dari lingkungan eksternal itu juga bisa jadi pisau bermata dua. Iya, si anak bakal lebih terjamin keamanannya karena kita bisa 24 jam memonitor situasi dan kondisi. Tapi di saat yang sama dia ga sempat mencerna apa itu dunia luar dan ketika nanti sudah agak besar, si anak akan dipenuhi rasa cemas ketika harus melangkah keluar dari pintu depan rumah. Bayangin gimana repotnya kalo dia udah masuk masa sekolah. Masa kita juga kudu ikut duduk di kelas? Kita juga harus mempersiapkan si anak dengan memberi bekal pengertian bahwa dunia itu lebih dari sekadar apa yang dia observasi di dalam rumah. Wawasannya bisa meluas. Rasa percaya dirinya bisa terbentuk. Rasa sosialnya bisa dipupuk.

Dan iya, sebaiknya tetap diusahakan supaya si anak sempat berinteraksi dengan anak lain—selain saudaranya, kalo ada. Dengan cara ini, dia bisa belajar toleransi dan memahami bahwa dunia bukan miliknya sendiri, bisa lebih mandiri, dan mengetahui cara yang tepat untuk berempati. Enggak, kita ga perlu beli masker bayi banyak-banyak. WHO sendiri udah netapin kalo bayi dan anak-anak di bawah 2 tahun jangan penutup wajah, apapun bentuknya, mau face shield, masker kain, masker dokter, masker N95, masker bengkoang, masker spirulina…. Enggak, ga usah. Nanti kalo ada yang ngiklan jualan masker yang katanya bisa buat bayi, jangan ngiler ya, moms. Saya bukannya mau sabotase jualannya orang nih. Tapi emang ga dianjurin anak bayi pake masker.

Amankah masker bayi?

Lah, kenapa, Dok? Kan bisa buat ngalangin partikel virus di udara.

Kalo itu iya, masker mungkin bisa jadi alat pencegahan. Tapi yang perlu diinget di sini adalah bahwa saluran pernapasan anak kecil itu masih saaangat kecil. Jadi dia butuh akses ke oksigen tanpa gangguan. Masker itu kan kudu ketat dan sebisa mungkin menutup akses langsung ke udara kan, sementara si anak sistem pernapasannya belum mampu mengakomodasi keterbatasan asupan oksigen. Anak bayi juga belum bisa bereaksi ketika jalan udarannya terhambat jadi ga bisa ngelepas masker sendiri kalo sesak napas. Anak-anak yang lebih gedean mungkin bisa langsung copot tapi itu memperbesar risiko kontak kulit wajah dengan tangan, secara kan mereka belum paham cara melepas masker yang benar. Jadi serba salah ni; pake masker kudu ketat, bikin sesak, ga pake masker, risiko infeksi jadi tinggi. Jadi gimana ngatasinnya supaya anak bisa tetap enjoy diajak main ke luar?

Kitanya yang kudu waspada. Kitanya yang kudu maskeran sama cuci tangan bersih-bersih. Kitanya yang harus membantu membatasi potensi infeksi pada anak karena sistem imun bayi dan anak-anak juga masih sangat rentan. Ga boleh lengah; malah mungkin harus jauh lebih teliti ketimbang ketika si anak ada dalam rumah. Kita harus banget mengedukasi diri soal personal hygiene anak. Bayi mungkin pasif ya, bisanya cuma diem dalam gendongan kita jadi mungkin sedikit lebih mudah melindunginya.

Ajarkan kebersihan sejak dini

Cukup awasi jangan sampai ada kotoran yang menempel pada bagian tubuhnya. Yang repot itu anak-anak yang udah mulai bisa jalan apalagi yang udah mulai bandel lari-larian sana-sini. Coba mulai perkenalkan si anak dengan kebiasaan mencuci tangan pake sabun setiap abis dari luar rumah. Supaya efektif, kita kasih contoh. Jadi jangan kitanya yang males, bisanya cuma nyuru doang. Ajarkan si anak secara mendetail: kapan aja harus cuci tangan, sabun cuci tangannya yang mana, bagian mana dulu yang dicuci, step-nya apa aja, berapa lama nyabunin tangannya, gitu-gitu. Harus sabar juga. Karena kan namanya anak-anak, yang diliat pasti sisi fun-nya aja.

Terus, peratiin juga durasi bermain anak. Semakin lama di luar rumah pastinya semakin tinggi terekspos berbagai macam kuman dan kotoran. Seengganya, biarin anak bermain selama 2 jam setiap hari, 1 jam di dalam rumah, 1 jam di luar.

Perhatikan durasi

Abis itu, mandiii, yaaay! Sekalipun mainnya cuma di dalam rumah, ada baiknya juga memperkenalkan sistem penjadwalan kepada si anak sejak dini supaya dia bisa belajar disiplin dan menghargai waktu. Nanti seiring pertambahan usia, boleh kok, menambahkan jam bermain.

Yang berikutnya untuk diperhitungkan adalah ventilasi udara. Ini khususnya berlaku untuk ketika si anak bermain di dalam ruangan ya, moms. Pastikan sirkulasi udara dari dan ke dalam ruangan bermain terjaga agar udara senantiasa bersih dan sehat untuk dihirup. Ventilasi yang tidak memadai tidak akan bisa memfasilitasi pertukaran udara sehingga kemungkinannya lebih besar untuk debu dan partikel kuman tetap berada di dalam ruangan lebih lama. Bukan berarti ini tidak berlaku dengan area bermain outdoor.

Sirkulasi udara yang baik juga penting

Jangan biarkan anak bermain di lokasi yang terlalu lembap atau terlalu kering. Area yang terlalu lembap adalah ladang subur untuk perkembangbiakan bakteri dan hal-hal menakutkan lain. Sementara area yang terlalu kering selain membuat udara terasa panas, debu lebih mudah terbang dan hinggap di saluran pernapasan.

Nah, buat yang anaknya doyan banget main sama temen-temennya, ajarin deh aturan jarak aman social distancing menurut who.

Beri pengertian tentang social distancing

Jarak aman minimal itu 2 meter, tapi mungkin anak-anak akan kebingungan kalo kita suruh jauh-jauh 2 meter dari anak lain. Jadi mungkin moms bisa kasih contoh yang lebih mudah supaya dia ngerti. Misalnya mungkin dengan memberi jarak dua rentang tangan si anak. Ato buat ibu-ibu yang hobi ngobrol sore-sore sama tetangga, bisa terapkan juga metode penjarakan ini. Ga perlu ngerasa ga enak ato takut dianggap antisosial atau sombong. Orang lain juga kalo emang paham situasi dan kondisi juga males kali deketan.

Beradaptasi dengan mencari tahu tentang cara mengasuh anak saat pandemi covid-19 itu sudah merupakan sebuah kewajiban di era New Normal ini. Kita ga bisa lengah dan menurunkan tingkat kewaspadaan gitu aja meskipun peraturan udah lebih longgar. Tapi di saat yang sama kita juga harus memperhitungkan kewajiban kita untuk memenuhi hak anak untuk menikmati kegiatan bermainnya. Bermain sambil waspada itu masih memungkinkan untuk dilakukan asal kita paham regulasi dan aturan serta memilah mana yang efektif dan efisien dan mana yang sekadar bersumber dari ketakutan personal kita sebagai orang tua.