Meeting Internal Keluarga: Mengajarkan Demokrasi Sejak Dini

Kayanya, kalo udah ngomongin masalah bentuk pemerintahan, semua pasti setuju ya, kalo demokrasi adalah tipe yang paling ideal. Idealnya, dengan membawa paham yang satu ini, pemerintahan negara berjalan berdasar keinginan rakyat, pemimpin berperan lebih sebagai pelaksana. Idealnya, ya itu; praktiknya mah, ga tau juga yeee….

Tenang-tenang, Teman DRYD, kita ga lagi mau bahas perkara tata negara. Dokter Yusri ga lagi mau merambah ranah politik kok. Masih di sini-sini aja nemenin Teman-teman mencari jalan dan solusi terbaik untuk mendapatkan kulit yang senantiasa glowing.

Trus kenapa bawa-bawa bentuk pemerintahan, Dok?”

Kali ini saya berniat membawa bentuk pemerintahan demokratis ke ranah parenting. Kok bisa? Ya bisa, dong. Keluarga dan rumah tangga itu kan sama aja kaya negara kecil. Ada kepalanya, ada mentrinya, dan ada rakyatnya. Umumnya, kepala negara dalam sebuah rumah tangga adalah bapak, ibu ada di sampingnya sebagai mentri yang memberikan dukungan kepada si pemimpin. Umumnya begitu. Rakyatnya siapa? Ya anak-anak, dong, siapa lagi?

Dengan analogi seperti ini, bentuk pemerintahan yang demokratis bisa diterapkan juga loh. Cara membina rumah tangga yang didasari atas kepentingan bersama ini justru bisa menciptakan dinamika keluarga yang lebih sehat dan terbuka. Coba deh, Teman-teman bayangin kalo sebuah rumah tangga dijalankan dengan cara yang otoriter. Orangtua memegang peran tirani yang titahnya ga bisa dipatahkan sama sekali. Anak ga punya celah untuk mengungkapkan pendapat dan dipandang sebagai rakyat jelata yang sebaiknya nurut aja apa kata yang lebih tua.

Emang iyaaa, yang namanya anak-anak pastinya belum terbiasa dengan yang namanya memilah sesuatu berdasarkan benar-salah. Mereka bertindak berdasar naluri dan keinginan dan asal hepi aja. Dan tindakan orangtua untuk menuntun anak-anaknya yang belum tahu apa-apa itu juga udah semestinya. Tapi kan ga berarti kalo anak ga berhak punya pendapat sendiri atau sekadar menyampaikan aspirasinya. Kita yang orang dewasa lah yang selanjutnya menyaring apakah pendapat atau keinginan si anak akan berdampak baik untuk dirinya sendiri dan untuk keutuhan dan kedaulatan rumah tangga secara umum. Udah kaya pelajaran Tata Negara aja ini pake bawa-bawa kedaulatan segala.

Tapi beneran deh, biasanya anak yang tumbuh dalam keluarga yang diktator itu biasanya akan jadi kepribadian yang problematis. Ini bukan judgment loh ya; tapi emang banyak banget kasus semacam itu. Ada anak yang jadi individu yang depresi pas gedenya. Ada yang jadi kaku dan frigid. Ada yang maunya serba harus dituruti. Sementara anak yang berkembang dalam keluarga yang open dan serba gamblang biasanya gedenya nanti jauh lebih fleksibel, mudah bergaul, dan lebih positif sikapnya terhadap kritikan dari orang lain.

Menerapkan demokrasi dalam keluarga itu ga susah sebenernya. Cuma kadang ego kita sebagai orangtua terlalu gede yang akhirnya membuat kita sering menyepelekan perasaan dan pandangan dari anak-anak. Gimana caranya menerapkan paham ini dalam level dasar seperti sebuah keluarga?

  1. Budayakan kebiasaan melindungi hak-hak anggota keluarga

Semua manusia itu punya hak azazi: hak untuk mendapatkan pemenuhan terhadap kebutuhan, hak hidup dengan aman, dan hak untuk memberi dan menerima kasih sayang. Semua anggota keluarga perlu menyadari hak mereka sendiri dan menghargai hak yang dimiliki oleh pihak lain. dari sisi anak-anak sendiri ada 10 macam hak azazi yang ditetapkan oleh PBB dalam Konvensi Hak Anak tahun 1989: hak bermain, hak mendapatkan pendidikan, hak mendapatkan perlindungan, hak mendapatkan nama atau identitas, hak memiliki status kebangsaan, hak untuk mendapatkan makanan dan akses kesehatan, hak untuk berekreasi, hak untuk mendapatkan kesamaan, dan hak dalam berperan di pembangunan. Coba deh Teman DRYD telaah lagi, apakah kesemua hak anak ini udah Teman-teman penuhi untuk si buah hati.

  1. Ajarkan menjaga komunikasi

Yang namanya rumah tangga atau keluarga itu adalah tempat pertama bagi anak-anak untuk belajar bersosialisasi. Nah, bersosialisasi yang benar itu adalah dengan cara menjaga jalur komunikasi terbuka secara dua arah. Ini mencakup komunikasi antara kedua orangtua, antara orangtua dan anak, dan antara sesama anak (jika ada). Ajarkan anak-anak cara berkomunikasi yang benar agar mereka mampu mendengarkan orang lain dengan baik, tidak berkembang menjadi pribadi yang egois, dan memiliki kemampuan empati yang tinggi.

Supaya semuanya bisa berjalan dengan natural dan sehat, sebaiknya budaya berkomunikasi ini diterapkan sejak si anak masih bayi. Gimana caranya? Coba libatkan anak dalam percakapan—sesuai batasan, tentunya. Minta pendapatnya dan biarkan dia mengutarakan isi kepalanya, sekalipun pendapatnya itu kedengeran ga masuk akal. Yaaa, namanya juga anak-anak. Jangan lupa juga tanyakan apa yang ia rasakan dan ungkapkan apa yang kita rasakan. Coba deh, belajar buang jauh-jauh anggapan bahwa anak masih terlalu kecil untuk dilibatkan. Ini cuma perkara pemilihan kata aja kok. Kosakata anak-anak masih terlalu terbatas jadi sesuaiin aja cara penyampaian kita kepada mereka.

  1. Normalisasi hormat-menghormati dan saling sayang menyayangi

Udah ga jamannya beranggapan orangtua adalah yang paling powerful dan karenanya adalah yang paling pantas untuk dihormati. Sekarang tuh, coba terapkan prinsip “hargai saya dan saya akan menghormati kamu”.

  1. Terbukalah akan kritik dan pendapat

Ingat ya, Teman-teman, yang namanya demokratisasi keluarga pasti diwarnai ketidaksepahaman dan silang pendapat. Dari sini muncul kritikan. Orangtua ga sempurna jadi juga ga luput dari kritikan yang anak lancarkan. Ini sah-sah aja ya. Justru ini adalah pola dinamika yang sehat karena semua elemen keluarga punya hak yang setara dalam soal melancarkan kritik. Tapi pastikan kita udah ngajarin anak cara menyampaikan pendapat dan kritik dengan benar. Sebaliknya, ketika kita mengkritik anak, sebaiknya juga kita dampingi dirinya supaya mengerti gimana seharusnya bersikap ketika dikritik.

  1. Jangan pernah mendiskriminasi

Demokrasi yang ideal adalah lingkungan yang bebas diskriminasi dalam bentuk apa pun. Rasa aman dan nyaman adalah hak semua anggota keluarga jadi jangan pernah ada yang namanya kekerasan psikis, verbal, atau juga fisik.

  1. Tanamkan pola tugas dan kewajiban

Yang namanya kesetaraan hak pasti juga disertai dengan keadilan dalam hal kewajiban. Pembagian tugas rumah tangga harus adil, bukan sejajar. Karena kalau berdasarkan kesejajaran, berarti anak juga mengemban tugas untuk nyari nafkah, dong? Penekanan harus diberikan pada prinsip keadilan dan kesesuaian. Bapak ada tugas dan kewajibannya. Begitu juga dengan ibu dan anak-anak. Anak-anak punya kewajiban juga? Iya, dong. Tugas-tugas sederhana seperti mematikan lampu kamar atau merapikan mainan mereka sendiri juga termasuk kewajiban. Lagi-lagi, semua harus sesuai dengan umur dan kemampuan masing-masing, ya.

  1. Biasakan bermusyawarah

Setiap keputusan internal rumah tangga harus diambil berdasarkan musyawarah. Ga perlu rapat formal; suasana santai pun bisa jadi ajang bermusyawarah keluarga loh.

Keluarga saya sendiri menerapkan contoh demokrasi di lingkungan keluarga seperti ini terutama di poin terakhir. Biasanya, setiap akhir bulan seluruh anggota keluarga inti: bapak, ibu, saya, dan adik-adik saya akan berkumpul untuk meeting internal. Apa aja manfaat yang saya rasakan?

Pertama, bonding antara anggota keluarga jadi lebih erat karena dalam rapat bulanan ini kami ada dalam situasi yang lebih hangat dan akrab.

Kedua, saya merasakan pola komunikasi yang lebih efisien dan efektif karena diskusi ga cuma berlangsung di belakang layar antara bapak dan ibu tapi juga antara mereka dan kami para anak serta antara sesama anak-anak. Kita jadi paham proses pengambilan keputusan yang akan diterapkan dan bebas mempertanyakan kebijakan dari orangtua juga.

Ketiga, semua elemen dalam keluarga bebas membicarakan apa aja, mulai dari ada kejadian apa selama sebulan ini, ada perkembangan apa, ada hal baru apa yang sedang dikerjakan, saaampai ke hal-hal yang rada berat dan membutuhkan keputusan bersama. Topik emang bebas, tapi bukan ga ada batesan ya. Hal-hal tertentu yang sifatnya personal dan sensitif biasanya dibicarakan dengan cara pendekatan yang lebih privat juga. Biasanya salah satu atau kedua orangtua akan “menarik” satu anak ke “pinggir” dan mulai deh di-interview.

“Lah, katanya open, Dok? Kok main sembunyi-sembunyi ngobrolnya?”

Ya kalo topiknya terlalu sensitif dan berpotensi mempermalukan si anggota keluarga terkait di depan publik, masa iya harus dibahas terbuka juga? Kan demokrasi itu menjamin rasa aman dan nyama setiap anggota. Kalo malu jadinya ga nyaman lagi dong.

Tapi itu sekadar contoh yaaa. Setiap keluarga pasti punya ciri khas tersendiri yang mungkin bikin metode yang ada di keluarga saya sedikit ga efektif untuk diterapkan. Gapapa. Berdemokrasi itu fleksibel aja kok asal kesejahteraan setiap anggota keluarga tetap terjamin. Kalo emang kayanya lebih aman kalo dimulai dengan “di balik layar” dan cara pendekatan yang selalu personal dan privat, ya monggo. Asal ga berdampak negatif secara global (cie global… apasiii   ?), ya gapapa. Intinya sih, apa pun caranya, gimanapun metodenya, semua anggota keluarga harus dijamin hak dan diminta pertanggungjawabannya.

Memukul dan Menggigit: Ketika Anak Cuma Tahu Ekspresi Fisikal untuk Berkomunikasi

Beberapa orang di dekat saya sempat mengeluh tentang anak yang tiba-tiba suka sekali menggigit atau memukul mereka. Awalnya si buah hati maniiis banget. Tau-tau, ga ada ujan ga ada badai, kebiasaannya jadi berubah lebih agresif. Saya jadi kasian karena kondisi begini biasanya gampang banget bikin si ortu jadi kepikiran. Kaya, mereka jadi otomatis mikir, “Apa sih sebenernya yang salah? Apa saya salah didik apa gimana? Apa ada faktor tertentu di dalam rumah yang bikin anak saya jadi seagresif ini ya?” Itu baru sebagian kecil contoh overthinking ortu ketika menghadapi kenyataan bahwa anaknya yang tadinya berperilaku sweet bak malaikat tiba-tiba berubah jadi monster.

Yang jadi masalah lebih besar lagi adalah bahwa si buah hati ga cuma ngejadiin ortunya sendiri sebagai sasaran. Orang lain, terutama teman-teman sebayanya, juga bisa kena. Siapa yang ga stres dengan situasi macam begini? Digigit atau dipukul anak itu emang sakit, apalagi anak-anak ga bisa ngukur efek dari tindakannya itu. Main gigit atau pukul aja. Kadang sampe bikin kulit memar dan bahkan mungkin berdarah. Tapi rasa sakit fisikal ini kalah mengkhawatirkan dibandingkan dengan kemungkinan si anak berubah menjadi bully saat dia nanti masuk sekolah.

Memukul atau menggigit sebetulnya pola perilaku yang lambat laun bisa hilang seiring dengan pertambahan usia si anak. Tapi akan lebih baik jika tindakan seperti ini bisa ditangani sejak dini sebelum berubah menjadi pola perilaku yang lebih sulit untuk dikoreksi di masa depan. Konsep dasarnya seperti ini: Perilaku agresif pada anak-anak umur di bawah tiga tahun itu lebih mengarah kepada masalah “latihan” yang minim ketimbang kenakalan murni. Batita adalah makhluk yang baru lepas dari gendongan ibunya, skill sosial dan komunikasi mereka saaangat terbatas dengan jumlah kosa kata yang bahkan jauh lebih minim lagi. Makanya, mereka menggunakan cara menggigit atau memukul orang lain sebagai cara untuk menyampaikan protes atau ketidaksetujuan yang mereka rasakan karena cuma itu yang mereka anggap logis. Nalarnya belum sempurna. Empatinya belum berkembang sempurna. Mereka ga suka sama sesuatu tapi karena keterbatasan daya penyampaian, mereka beralih pada ekspresi fisikal untuk menyampaikan apa yang dirasakan. Kitalah sebagai orang tua, manusia dewasa yang logika dan empatinya udah jauh lebih matang, yang seharusnya bisa mengajarkan si anak untuk mengembangkan kemampuan sosial yang lebih baik tanpa mengambil jalan yang justru bikin kebiasaan menggigit dan memukul jadi makin buruk.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan dan Apa yang Semestinya Dihindari?

Yang jangan dilakukan adalah:

Pertama, JANGAN PERNAH memukul balik si anak dan berpikir itu akan menjadi sarana pembelajaran bagi si anak. Sadar ga sih, ketika kita memukul buah hati kita karena kelakuannya itu hanya akan memberikan pembenaran buat dia sendiri? Berpikir bahwa memukul adalah tindakan pendisiplinan yang efektif itu cuma bakal bikin si anak mikir kalo kekerasan fisik itu bisa diterima. Orang tuanya aja suka mukul, apalagi anaknya.

Kedua, JANGAN PERNAH memberikan hukuman dalam bentuk apa pun. Tujuan kita adalah membantu anak untuk mengelola semua emosi yang dia rasakan. Tapi pemberian hukuman justru bakal jadi kontraproduktif karena itu hanya akan membuatnya berpikir bahwa dirinya adalah jahat dan nakal. Ini, pada prosesnya nanti, hanya akan memperburuk perilaku agresifnya.

Ketiga, JANGAN PERNAH memusingkan apa yang orang lain katakan. Berkaitan dengan kasus anak suka memukul atau menggigit, fokus kita harus seratus persen diberikan kepada si anak, bukan kepada nama baik kita sebagai orang tua atau pendapat orang lain. Jadi jangan pernah takut kalo perilaku anak akan membuat imej kita buruk dan dianggap sebagai orang tua yang tidak handal. Semua orang punya porsi masing-masing. Semua orang punya cara masing-masing.

Keempat, JANGAN PERNAH memaksa si anak meminta maaf atas perbuatannya. Kata kuncinya di sini adalah “memaksa” ya. Batita mungkin sudah fasih meminta maaf tapi permintaan maaf dari seorang batita itu ga pernah tulus kok. Mereka cuma minta maaf buat keluar dari kemungkinan dimarahi. Jadi gimana? Ga mungkin dibiarin aja kan? Tentunya engga. Ketika si anak sudah lebih tenang dan tantrumnya ilang, ajak dia bicara sesederhana mungkin tentang apa yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki situasi atau tentang bagaimana dia bisa membuat si orang yand digigit atau dipukul merasa lebih baik. Caranya gimana? Coba berikan gambaran tentang tindakan kebajikan ke si anak. Atau kalo bisa didemonstrasikan langsung tindakan kebajikan itu malah lebih baik. Kita bisa ngajarin si anak buat bertanggung jawab atas tindakannya sendiri dan berempati pada orang lain juga.

Yang sebaiknya dilakukan adalah:

Pertama, monitor buah hati kita. Batita itu kaya cuaca, susah banget ditebak. Tapi sebagai orang tua kita mungkin punya cara tersendiri buat mengenali fase frustrasi atau kelelahan anak kita sendiri ketika sedang bermain dengan anak-anak lain. Begitu kita menangkap sinyal buruk dari suasana hati si anak, langsung aja deh dia dibawa pergi sebelum keadaanya makin buruk.

Kedua, tetaplah tenang. Kita orang tua juga manusia jadi bisa dimengerti ada rasa kesal ketika anak bertingkah tidak pantas. Tapi hasil positif bisa lebih mudah didapatkan jika kita tetap tenang dalam situasi anak memukul atau menggigit. Jika kita menunjukkan kekesalan dengan gamblang, si anak akan malah ketakutan dan ini mempersulit dirinya untuk mempelajari nilai-nilai yang mau kita sampaikan. Plus, si anak akan menyadari bahwa orang tuanya memberikan respons secara signifikan ketika dia melakukan kesalahan dan akhirnya berpikir bahwa perhatian orang tua cuma bisa didapatkan melalui sifat nakal—yang artinya kita gagal memperbaiki sifatnya.

Ketiga, berempatilah dengan anak dan buat batasan. Jangan gengsi buat menyampaikan pada anak bahwa kita memahami emosi yang ia rasakan dan berikan pengertian padanya bahwa apa yang ia rasakan bukan alasan pembenaran untuk tindakannya.

Keempat, tenangkan si anak. Ajarkan kepada anak untuk menenangkan diri dengan cara pernapasan perut, pemberian pelukan, atau bahkan menyanyikan sebuah lagu. Tujuannya adalah memberikan kesadaran pada anak bahwa dialah yang punya kuasa atas segala bentuk emosi yang dirasakannya tanpa perlu membiarkan dirinya meledak.

Kelima, cobalah mempraktikkan “redo”. Begitu anak sudah cukup tenang, ajak dia membayangkan alternatif berbeda dari apa yang sudah dia lakukan lain kali. Tapi kita kudu sabar juga, emosi mentah yang dirasakan si anak bisa terlalu kuat dan kebiasaan baru itu butuh waktu buat dipelajari.

Keenam, praktikkan strategi alternatif. Ajak anak main boneka dan pancing dia untuk mempraktikkan apa yang mungkin dia bisa lakukan ketika merasa frustrasi, termasuk pergi menjauh, meminta tolong, atau menggunakan kata-kata yang tepat untuk menyampaikan apa yang dia rasakan. Yang perlu diingat, strategi ini mungkin ga bakal menunjukkan hasil dalam waktu singkat tapi menerapkannya sejak dini dan reguler adalah kunci.

Mengatasi Perilaku Agresif pada Anak di Atas 3 Tahun

Cara mengatasi anak yang suka memukul atau menggigit pada rentang usia di bawah 3 tahun emang cukup menyita perhatian. Tapi ketika anak di atas 3 tahun masih suka agresif, semuanya berubah menjadi luar biasa melelahkan karena asumsinya adalah mereka udah sepantasnya tahu baik-buruk dan benar-salah. Sebaiknya kita ga langsung mengklaim bahwa si anak udah bakat buat jadi bully. Yang lebih penting untuk dilakukan adalah memahami bahwa “kenakalan” macam ini tuh aslinya pertanda bahwa si anak perlu dilatih dengan strategi pengendalian impuls.

Terlebih dulu buang jauh-jauh kecenderungan untuk mencap anak sebagai anak yang nakal, kasar, dan agresif karena label seperti ini akan membuat anak kecil hati dan memperburuk perilaku negatif yang udah ada.

Mengatasi perilaku agresif pada anak usia di atas 3 tahun bisa dibagi menjadi 3 kelompok: sebelum, pada saat, dan sesudah sebuah insiden.

Sebelum insiden

  1. Pastikan anak istirahat dengan cukup. Anak akan lebih mudah mengendalikan impuls mereka ketika kebutuhan tidurnya tercukupi.
  2. Jangan berlama-lama berkunjung ke tempat orang lain. Ketika anak sudah sangat bosan berada di satu tempat, dia akan lebih mudah melancarkan sikap agresif.
  3. Jangan melewatkan waktu tidur siang atau waktu beristirahat secara umum. Bermain bersama teman atau mengunjungi anggota keluarga akan terasa lebih menyenangkan jika anak punya cukup waktu untuk beristirahat.
  4. Selalu penuhi kebutuhan anak akan perhatian. Berikan perhatian yang positif pada anak setiap hari. Sisihkan waktu untuk mendengarkan cerita mereka untuk membangun ikatan emosional dan menenangkan impuls si anak.
  5. Ajarkan strategi resolusi konflik yang positif. Dorongan anak untuk bertindak agresif akan terkendali jika dia sudah mempelajari strategi-strategi seperti penggunaan frase “aku merasa…”, pergi meninggalkan sumber konflik, tidak mengindahkan, mencari jalan tengah, atau semacamnya.
  6. Jangan langsung merespon begitu sikap agresif muncul. Ikuti alurnya jika si anak menggunakan kata-kata untuk berargumen. Tapi begitu tanda-tanda perilaku kasar dan agresif terlihat, langsung tenangkan dirinya dan carilah jalan keluar yang lebih baik.
  7. Pujilah anak ketika dia berhasil tetap tenang. Jangan pelit mengeluarkan pujian ketika memang pujian itu pantas diberikan, terutama ketika anak berhasil tetap mengendalikan emosinya di bawah tekanan.
  8. Rancang jadwal kegiatan fisik yang proporsional. Beberapa anak memang lebih cenderung bersifat fisikal dan itu adalah kenyataan yang ga bisa ditampik. Menjadwalkan kegiatan fisikal bisa menjadi alternatif buat si anak untuk menyalurkan energinya yang berlebihan.
  9. Terapkan cara berkomunikasi yang penuh kedamaian. Jika suasana rumah dipenuhi rasa menghargai, kemungkinannya akan sangat kecil buat si anak untuk bertindak agresif.

Pada saat insiden

Untuk trik ketika anak melakukan tindakan kasar dan agresif, secara umum sama seperti apa yang dijelaskan pada bagian mengatasi anak batita yang suka menggigit dan memukul: jangan memukul balik, jangan menghukum, jangan memikirkan pendapat orang lain, berempati dan berikan batasan, dan tetaplah bersikap tenang. Tambahannya adalah, jangan lupa memastikan pihak yang menjadi objek perilaku anak kita baik-baik saja—jika melibatkan orang lain. Jika si anak sudah lebih tenang, kalo bisa ikutsertakan dia dalam proses khusus ini jadi dia juga bisa belajar lebih jauh tentang empati dan tentang bagaimana tindakannya akan mempengaruhi orang lain.

Setelah insiden—Untuk dilakukan pada saat situasi sudah lebih tenang

  1. Jalankan skenario role-play. Ajarkan anak bagaimana memberikan respons tanpa perlu melibatkan tindakan kasar. Misalnya dengan menggunakan kata-kata, meminta bantuan pada orang dewasa, atau pergi meninggalkan sumber konflik.
  2. Praktikkan strategi menenangkan diri. Metodenya banyak, mulai dari pernapasan perut sampai ke pola menghitung sampai angka 10.
  3. Buat sinyal nonverbal rahasia. Isyarat ini bisa digunakan untuk menunjukkan kepada anak kapan dia perlu mempraktikkan strategi menenangkan diri.
  4. Sadari bahwa kendali impuls adalah hal yang sulit untuk dilakukan oleh anak-anak.

Menghardik dan Bahayanya

Ketika menghadapi kondisi anak suka menggigit atau memukul, udah pasti kita akan ngerasa kesel dan frustrasi. Naluri kita sebagai manusia cenderung ingin segera merespon perilaku si anak ketika tingkahnya ga sesuai dengan harapan. Tapi sekesal apa pun kita, seemosi apa pun kita dibuatnya, jangan pernah meneriaki anak apalagi memaki. Ada banyak dampak negatif dari menerapkan pola pendisiplinan yang terlalu keras dan ini juga yang bikin menghardik a big NO ketika kita mau mendidik anak yang perilakunya agresif. Frustrasi itu normal. Jengkel dan kesal itu alami. Kita juga manusia, sekalipun kita adalah orang tua. Tapi begitu merasakan ada dorongan untuk menghardik anak, coba ingat-ingat hal berikut ini:

  1. Hardikan hanya akan memperburuk perilaku anak.

Sangat mudah membayangkan bahwa teriakan kepada anak akan menyelesaikan semuanya dengan cepat dan memberi tahu si anak apa yang boleh apa yang ga boleh dilakukan. Tapi penelitannya udah ada tentang hardikan yang justru malah bikin permasalahan lebih banyak dalam jangka panjang. Hardikan akan memperburuk perilaku negatif anak yang akhirnya kita malah harus menghardik lebih keras lagi dengan harapan semuanya selesai. Dan lingkaran setan pun dimulai.

  1. Hardikan dapat mengganggu perkembangan otak anak

Otak manusia memproses input-input negatif lebih cepat daripada yang positif. Ketika anak terpapar makian dan teriakan di masa kecilnya, akan ada kelainan mencolok pada bagian otak yang memproses suara dan bahasa.

  1. Hardikan bisa berujung depresi.

Bentakan dari orang tua itu ga cuma membuat anak merasa sakit, takut, dan sedih. Kekerasan verbal berpotensi menciptakan gangguan psikologis yang lebih dalam di diri anak dan permasalahan ini bisa terbawa sampai saat ia dewasa.

  1. Hardikan berpengaruh terhadap kesehatan jasmani dan berpotensi menyebabkan penyakit kronis

Kekerasan verbal di masa kecil bisa membuat anak mengalami berbagai gangguan kesehatan seperti nyeri sendi, sakit kepala, dan gangguan pada punggung dan leher.

Daripada menghabiskan energi dengan meneriaki anak dengan harapan bisa mendisiplinkannya, mending belajar cara berkomunikasi yang baik dengan anak deh. Rumah terasa lebih damai dan risiko besar di masa dewasa pada anak bisa ditekan sedalam mungkin.

Memahami Faktor Krusial Komunikasi Efektif dalam Keluarga

Hai Teman DRYD,

Setuju ga kalo saya bilang komunikasi itu salah satu hal dalam hidup yang mudah dimengerti tapi sulit untuk dipraktikkan? Ga setuju? Coba, berapa banyak konflik rumah tangga yang seharusnya bisa diselesaikan bahkan sebelum kemunculannya kalau saja kedua belah pihak bisa membangun komunikasi yang baik? At least salah satu aja dari kedua belah pihak mau memulai membuka jalur komunikasi, api prahara sebetulnya bisa diredam sebelum membesar jadi kebakaran. Banyak yang bisa jadi penyebab komunikasi stagnan. Tapi yang paling kentara, yang paling umum, dan yang paling-paling-paling nyebelin adalah ego. Kalo ego udah bicara, selogis apapun satu manusia, pasti berubah jadi individu paling susah untuk berbicara dan diajak bicara. Rumah tangga itu kan, persatuan 2 kepala ya. Nah, 2 kepala ini punya 2 manusia yang tentu saja berbeda karakter. Teman DRYD bisa aja berkilah, “Engga ah Dok, ga beda. Saya nikah kan karena banyak kesamaan sama pasangan.” Hooh, iya. Tentu saja demikian. Tapi sadar ga, mau sesama kayak apapun sama pasangan pasti ada perbedaan fundamental yang ada di antara kalian? Oh, dua-duanya seneng musik. Udah ngebahas genre musik favorit belum? Penyuka musik klasik akan punya persepsi tertentu terhadap musik pop cheeky dan easylistening yang disukai pasangannya. Oh, dua-duanya hobi nonton, udah kroscek genre kesukaan masing-masing? Penggemar berat film komedi pasti ogah nonton film horor kesukaan pasangannya. Kalo mau pun, pasti dengan sangat berat hati; nonton cuma gegara ga enak ati mau nolak.

Nah, itu dia yang saya maksud dengan perbedaan fundamental. Perbedaan fundamental inilah yang seringkali jadi sumber konflik dalam rumah tangga. Ada tipe orang yang mau pasangannya mengerti karakter dasar dirinya. Ada yang mau kompromi dan ada juga yang menekan sangat keras karakter dan kepribadiannya sendiri demi menghindari menyulut drama. Semua ini, Teman-teman saya sekalian, hanya bisa terakomodasi dengan efisien jika komunikasi efektif dalam keluarga tercipta. Dengan mengkomunikasikan karakter pribadi pada pasangan, hilang sudah kemungkinan munculnya rasa kesal karena pasangan ga ngerti maunya kita apa, potensi depresi karena kudu jadi pihak yang selalu ngalah, atau meminimalisasi keterbatasan kemampuan manajemen konflik.

Seringnya nih, kita punya kecenderungan buat menghindar dari konflik. Enggak, saya ga bilang kita kudu cari masalah terus-terusan. Cape juga kali kaya gitu. Tapi kadang konflik itu mau ga mau kudu pecah. Dan ini proses yang sebetulnya menguntungkan kalau difasilitasi dengan baik. Konflik itu bisa jadi bentuk komunikasi juga, jadi jangan ditekan supaya ga meledak tapi di-manage. Pahami cara menyalurkan ide dan pokok permasalahan dengan selugas mungkin, ga usah pake metafora apalagi pribahasa. Pelajari cara menuntaskan rasa marah pada pasangan dengan cara yang lebih baik; ga pake ngambek-ngambek penuh kode keras, ga pake jerit-jerit, ga pake ngeluarin seisi kebun binatang dari mulut, ga pake jambak-jambak, cakar-cakar, gigit-gigit, gegulingan, pencak silat, karate, kayang, daaan segala macam lainnya. Marah pada pasangan itu ga salah kok. Ya wajar dong…. Namanya juga 2 manusia berbeda yang disatukan dalam ikatan resmi. Isi kepalanya beda-beda. Perspektif yang dipake beda-beda. Pola menyusun solusi beda-beda. Cara memahami subjek atau topik beda-beda. Dan perbedaan itulah yang sering banget jadi penyulut pertengkaran.

Komunikasi Efektif Dimulai dari Orang Tua

Cara berkomunikasi dengan anak itu harus diperhatikan

Pemahaman mengenai komunikasi efektif dalam keluarga berdampak langsung ke cara mendidik dan mengasuh anak. Sekarang gini, gimana coba mau berkomunikasi dengan anak dengan cara yang baik kalo berkomunikasi dengan pasangan sendiri aja susah? Ngomong sama bini, intonasinya dingin. Ngomong sama laki, nadanya tinggi. Kebayang ga, jadi anak di dalam rumah yang penuh huru-hara kayak gimana rasanya? Gimana anaknya ga lebih betah di luar sana main sampe seminggu ga pulang-pulang. Diinget lagi coba deh, pola pengasuhan yang baik itu adalah ketika orang-orang dewasa di sekitar si anak mampu menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan menyehatkan sisi mental dan fisik bagi tumbuh-kembang. Iyaaa, bisa dipahami kalo kita berargumen, “Namanya juga manusia, Dok. Kan kadang suka luput.” Itulah pentingnya komunikasi yang baik antara kedua orang tua; cara menyampaikan isi kepala dan emosi sebaiknya dimutakhirkan supaya ketika nanti konflik muncul, dampaknya ke anak bisa diminimalkan kalo ga ditiadakan sama sekali.

Tipe Komunikasi

Tipe komunikasi

Nah, komunikasi itu secara umum ada 2 tipenya: verbal dan nonverbal. Dalam praktiknya, komunikasi verbal adalah jenis komunikasi yang paling dominan dalam pola hubungan apapun. Kenapa? Karena sebuah ide lebih mudah disampaikan dengan metode ini. Dengan cara komunikasi verbal, pihak yang dituju diharapkan bisa menangkap ide-ide atau topik-topik secara langsung dan mencerna situasi. Jenis komunikasi ini bisa dilakukan baik secara lisan maupun tulisan. Apapun yang kita baca dan apapun yang kita dengar adalah contoh nyata usaha komunikasi verbal yang dilakukan pihak lain.

Sementara itu, komunikasi non verbal meliputi hal-hal yang sifatnya interpretatif, subtil, dan implisit. Bentuk komunikasi ini sebetulnya sering secara ga sadar kita lakukan karena kecenderungannya yang lebih menuntut kepekaan emosional dan ketajaman intuisi. Ini juga yang sering bikin komunikasi tipe ini ga efektif. Satu pihak mungkin terlalu sering menggunakannya sementara pihak lain kurang mampu menerjemahkan sinyal yang ditangkap atau malah ga bisa menangkap sinyal itu sama sekali. Bentuk komunikasi seperti ini meliputi elemen seperti:

  1. Sentuhan fisik, contohnya seperti belaian tangan ibu di rambut atau punggung anaknya atau teguran dari ayah berupa tepukan di tangan anaknya.
  2. Kinesik

Kinesik adalah istilah yang merujuk pada gerakan tubuh dalam komunikasi yang biasanya memungkinkan kita untuk meniadakan frase lisan, menjelaskan suatu gambaran, dan mengekspresikan emosi. Bentuk kinesik bisa beragam tapi umumnya bisa berupa kontak mata, gestur tubuh, dan ekspresi pada wajah. Contoh paling gampang buat kinesik adalah gerakan menganggukkan kepala untuk memberikan ijin pada anak.

  1. Vokalik

Kalo kinesik berkisar di sekitar gerakan tubuh, vokalik berfokus pada unsur-unsur nonverbal yang menjadi pendukung dalam suatu ucapan. Sederhananya, vokalik adalah cara kita berbicara pada anak. Contohnya: kejernihan suara, kecepatan berbicara, intensitas suara, dan nada (nada suara dan nada bicara).

  1. Kronemik

Kronemik berfokus pada waktu berkomunikasi. Contohnya: durasi yang sesuai untuk sebuah proses komunikasi, porsi komunikasi yang pas dalam rentang waktu tertentu, dan ketepatan waktu berkomunikasi.

Nah, dari perbedaan kedua jenis komunikasi ini kita bisa menimbang keefektifan kita dalam berkomunikasi dengan anak. Tapiii, jangan dikira keduanya bisa dilakukan terpisah satu sama lain yaaa. Ini rada pelik sih. Misalnya gini; kita sebagai orang tua mungkin akan berpikir komunikasi verbal adalah yang paling efektif karena pokok pikiran kita langsung terungkap dan harapannya si anak bisa langsung memahami. Tapi kan si anak juga punya daya interpretasinya sendiri. Maka, ketika kita membolehkan si anak main keluar tapi dengan nada yang dingin (karena aslinya kita ga ngebolein), si anak akan kebingungan karena ada mixed signal yang dia terima. Jadi unsur nonverbal dari sebuah komunikasi verbal akan terus ada, sulit untuk dipisahkan satu sama lain.

Komunikasi yang efektif (baik antar pasangan dan dengan anak) akan terbentuk lebih efektif jika kedua elemen verbal dan nonverbal bisa sinkron. Keinginan, maksud, dan tujuan kita bisa dituruti dan dipahami oleh pasangan atau anak jika ucapan dan intonasi sejalan. Misalnya gini, kita lagi repot nih, ngerjain sesuatu, trus tetiba si bayi rewel. Reaksi pertama kita pastinya kan akan meminta pasangan buat handle si anak kan? Kan apa yang lagi dikerjain kan lagi ga bisa ditinggal ni. Nah, ini adalah momen krusial yang akan menentukan apakah kita bisa menyampaikan maksud sebenarnya ke pasangan. Seringnya kita bakal teriak nyuru pasangan buat handle si anak. Kadang kalo lagi dikejar deadline bisa sampe ngebentak. Ini ga bakal efektif. Si pasangan mungkin akan merespon dengan ngedumel. Ato bales teriak. Yang kemudian dibalas teriakan berikutnya dari pasangan. Yang terus disautin pake teriakan selanjutnya dari yang satunya. Ga ada ujungnya. Kerjaan ga kelar, anak nangis makin jadi. Beuh, betah tinggal dalem rumah kayak gitu?

Contoh lain nih. Kita lagi masak di dapur. Trus garem abis. Trus nyuru anak bantu beliin. Ngomongnya sih bener, “Deeek, garem abiiis. Bantuin mamah dong, beliin ke warung.” Tapi suaranya ga kedengeran yang bikin harus sautsautan. Ato pake intonasinya kasar. Ato sambil ngomel. Ato pake banting-banting barang. Kompor ditonjok. Tabung gas ditendang. Tempenya dibejekbejek. Kaki disentak-sentak. Rambutnya ditarik-tarik. Matanya melotot. Kukunya keluar. Taringnya berkilat. Ngeluarin api dari mulut. Ya kan ga bakal direspon baik sama anak itu mah. Udala anaknya emang mageran, disuruh dengan cara kayak gitu, ya pastinya bakal kuat-kuatan satu sama lain. Masak kaga kelar. Perut laper. Emosi liat tingkah anak. Akhirnya apa? Matiin kompor, pake sendal, jalan ke warung ngedumel, marah-marah ke ibu warung yang ga tau apa-apa, pulang lanjut masak yang akhirnya asin seasin-asinnya dunia, trus ngadu ke suami, eh si suami balik marahin kita, tambah kesel, suami disuruh tidur di halaman. Panjang…. Cuma karena kita ga tau kudu gimana ngomong ke anak.

Kadang-kadang, kita sebagai orang tua sukanya berkomunikasi lisan karena berpikir si anak harusnya mengerti isi omongan tapi komunikasi interpersonal dalam keluarga itu, terutama sama anak, ga bisa cuma ngandelin omongan. Contoh yang diberikan ke anak sebaiknya ga berhenti di pola verbal. Kita mau rumah selalu dalam keadaan rapi. Tapi anak pulang sekolah tasnya dilempar ke sofa, sepatunya dilepas di tengah ruangan, seragamnya dibiarin di lantai. Nah, kita kalo mau menanamkan konsep kerapian ke anak ga cukup cuma disuruh doang, apalagi pake marah-marah. Bakal mental, masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Coba kasi contoh yang lebih nyata. Ambil pakaiannya dari lantai sambil ngomong, “Dek, ini jangan dibiarin di sini ya. Naronya di gantungan kamar kayak gini.”

Komunikasi interpersonal

Ke pasangan juga gitu. Mungkin ada kebiasaannya yang ga cocok sama kita. Mungkin pasangan suka naro gelas minuman di meja kayu yang akhirnya bikin ada bercak air di permukaan. Solusinya kan gampang ya tinggal pake coaster, kan? Tapi pasangan mungkin mikirnya itu bukan hal yang terlalu gede buat dipermasalahkan. Benturan antara idealisme pribadi dengan pola pikir orang lain kaya gini yang sebetulnya bisa di-manage supaya konflik ga tercetus. Bilang ke pasangan, “Beb, enak ya nyore di meja ini. Aku juga seneng gitu. Tapi kalo aku seringnya gelasnya dikasi alas biar ga ngotorin kayunya.” Trus ambil satu coaster, taro di bawah gelas yang sedang dia pake. Simpel kan? Apa yang kita mau atau suka tetap terjaga, perasaan pasangan terjaga, keindahan meja kayu yang kita sayangi tetap terjaga. Cuma kadang emang yang paling racun itu egonya kita sendiri. Sering banget pasti mikir, “Gimana sih, gitu doang ga paham?!”

Yang namanya kebiasaan pasti susah hilang, Teman-Teman DRYD. Makanya, pasti nanti kebiasaan buruk yang kita ga suka dari pasangan akan muncul terus. Kitanya yang harus telaten. Kalo mau hasil instan yang emang, tinggal hardik, kelar. Tapi instan itu ga sebanding dengan risiko dan efek lanjutan. Sebuah hardikan bisa berujung peperangan. Kalo kita bisa dengan tekun memberi contoh dan sabar, lama-kelamaan bakal keliatan kok perubahannya. Dan kalo kedua orang tua udah punya pola yang jelas dan sinkron, si anak bisa belajar sendiri memahami aturan, nilai, dan norma yang ditetapkan tanpa harus diseret. Jadi jangan cuma ngomong doang. Ucapan dan suruhan verbal tetap harus diterapkan tapi sebaiknya disertai dengan tindakan. Action, people! Action speaks louder!

Waspadai Orang Ketiga

Yang saya maksud dengan “orang ketiga” bukan selingkuhan. Ada yang tinggal bareng mertua ato mertuanya benerbener involved dengan keluarga inti sampai hal paling kecil sekalipun? Nah, ini salah satu yang paling jadi momok di setiap keluarga: Ketika peranan mertua porsinya membesar ga terkendali. Kita ga lagi bahas jelek-jeleknya mertua ya. Bukan itu intinya. Tapi kita kudu memahami porsi dan posisi masing-masing. Mertua itu siapa sih? Dia cuma orang tua dari pasangan kita yang berarti porsinya sebaiknya sesuai dengan posisi yang dia tempati.

Yang sering terjadi adalah mertua ikut campur dalam urusan pengasuhan anak. Memberi andil pada tumbuh-kembang cucu itu wajib loh ya bagi semua elemen keluarga. Tapi seringkali seorang mertua melewati garis batas karena lebih tua dan lebih banyak pengalaman. Itu bener; karena hidup lebih dulu dan udah lebih lama, mertua pasti lebih banyak pengalamannya. Tapi jaman kan udah beda. Apa yang jadi pakem parenting ketika mertua dulu menjalankan perannya sebagai orang tua pasti juga udah berevolusi di jaman anaknya.

Kenapa perlu diwaspadai porsi dan posisi mertua? Karena intervensi dari pihak ketiga akan mengacaukan alur komunikasi interpersonal DAN intrapersonal dalam sebuah keluarga. Apa perbedaan interpersonal dan intrapersonal? Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang terbentuk antar individu sementara komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang dibentuk dalam diri seseorang itu sendiri. Sederhananya, komunikasi intrapersonal adalah bagaimana cara seseorang mengajak bicara dan mengenali dirinya sendiri. Apa contoh komunikasi interpersonal dalam keluarga? Udah banyak tadi contohnya di atas ya. Apa contoh komunikasi intrapersonal? Misalnya cara seseorang mengolah dan mencerna informasi apapun yang dia terima. Atau ketika berbicara dengan orang lain (komunikasi interpersonal), kita sering menelaah sifat-sifat orang itu dalam hati saja (komunikasi intrapersonal).

Komunikasi intrapersonal

Nah, kehadiran pihak ketiga yang porsinya melebihi elemen dasar rumah tangga inti akan menimbulkan distorsi pada pola yang sudah lebih dulu established. Misalnya si anak pulang sekolah selalu berantakan. Nah neneknya berinisiatif membereskan tanpa memberi instruksi apapun. Ketika orang tua si anak mencoba mengajari suatu konsep, si anak akan membenturkannya dengan apa yang dia serap dari interaksi dan komunikasinya dengan si nenek.

Ibu: “Deeek, bajunya jangan dibiarin di lantaaai!”

Anak: “Aaah, udah diberesin nenek koook.”

Familiar ga sama dialog kayak gitu?”

Mungkin dari semua Teman DRYD yang baca ini sekarang belum ada yang jadi mertua. Sebagian malah mungkin udah. Udah ato belum, kesadaran tentang porsi dan posisi itu mutlak diterapkan. Sebagai orang tua, kita wajib mengajari anak untuk paham bahwa komando komunikasi itu ada di kita. Bukan berarti harus otoriter dan membatasi atau bahkan melarang anak berkomunikasi dengan pihak lain ya. Tapi ini tentang bagaimana si anak paham bahwa ibu dan ayah adalah 2 komponen fundamental yang harus dia dengarkan meskipun dia punya opini berbeda. Sebagai mertua, kita juga harus jeli menyadari posisi kita. Jangan mencampuri urusan anak dalam mengasuh anaknya kecuali dimintai bantuan. Itupun, lagi-lagi, harus sesuai porsinya. Misal nih ya, ibunya lagi sibuk di dapur ato si cucu dititipin ke kita. Si cucu trus lari-lari megang gunting. Kan ngeri tuh ya. Nah, karena si ibunya lagi ga ada di sekitaranya, boleh deh kita take over urusan ngasi pemahaman mana yang sebaiknya dan tidak sebaiknya. Tapi kalo ibunya pas ada trus si anak koprol bolak-balik ruang tamu-dapur, ya biarin deh ibunya yang bertugas ngasi larangan dan pengertian. Yaaa, sambil ngelarang-larang dikit gapapaaa. Namanya juga khawatir kan. Tapi kalo urusan mendidik si anak ya udah sih, ada emaknya ini. Kalo emang kegangguuu banget sama cara si ibu ngerawat anaknya, ajak ngobrol empat mata. Ungkapkan concern kita dan biarkan si anak atau menantu mengajukan counterargument-nya. Sebagai anak atau menantu, filter konsep parenting dari yang lebih tua. Serap yang baik-baik, tinggalkan yang sekiranya ga cocok lagi diterapkan di masa kini.

Berkomunikasi dengan Efektif Agar Keluarga Lebih Harmonis

Mengusahakan agar komunikasi bisa berjalan lancar itu salah satu cara menjaga keharmonisan rumah tangga loh. Ingat, pasangan kita bukan cenayang yang tau apa yang kita pikirkan. Lucu juga kali ya, punya pasangan yang bisa baca pikiran. Tinggal mikir, eh dia langsung bilang, “Oke sayaaang, laksanakan,” gitu. Tapi kalo kebetulan kita dapet manusia biasa sebagai pasangan, ya kudu banget jaga pola komunikasi yang sehat. Yaaa, korslet dikit sana-sini gapapalah. Namanya juga rumah tangga; ngarepin muluus aja gitu ga pake kendala juga rada mustahil. Beberapa orang malah bilang kalo tahapan pra-konflik, konflik, dan pasca-konflik itu justru yang bikin kehidupan berumah tangga jadi lebih dinamis. Tapi jangan dicari-cari juga, kakaaak. Udah, idup tanpa drama udah paling nyaman dah.

Bermula dari komunikasi antarpasangan yang lancar, anak pun bisa terdidik dengan relatif lebih baik. Keinginan kita supaya si anak berkembang menjadi pribadi yang lugas, mandiri, ga manja, logis, dan mengenal dirinya sendiri bisa terwujud dengan lebih rasional.