Keluhan Kesehatan Kulit dan Stres

Hai Teman DRYD,

Percaya ga kalo penyakit kulit bisa disebabkan oleh tekanan batin yang berlebihan? Sepertinya mungkin emang ga ada kaitannya ya. Kok bisa, gitu, kulit bermasalah gegara hati yang gundah gulana? Tekanan batin kan adanya di dalam hati ya, ga mungkin lah bisa ngefek ke kulit.

Pikiran soal gangguan psikis bisa berimbas ke fisik itu emang kaya ga masuk akal karena kita terbiasa memisahkan keduanya dengan garis batas maya yang tegas. Terlalu tegas, malah, sampe-sampe kita menolak percaya bahwa apa yang ada dalam hati kita bisa terefleksikan dari penampilan luar. Beberapa waktu lalu kita pernah bahas yang namanya penyakit psikosomatis, yaitu ketika beban mental yang terlalu besar berubah menjadi penyakit fisikal, yang baru bisa diatasi jika sumbernya (yaitu ketidakseimbangan kondisi psikis) di-handle terlebih dahulu. Ini beneran lo ya, ga ngada-ngada. Pada beberapa kasus, justru isi kepala dan hatilah yang bikin badan jadi sakit dan gejala-gejala gangguan fisikal itu akan hilang setelah metode-metode stress management diterapkan. Yaaa, sebenernya ga sesimpel itu juga sih. Tapi paling ga nih ya, gejala fisik tadi mungkin akan lebih mudah untuk diatasi jika kondisi psikis seseorang sudah tertangani lebih dulu.

Ini juga berlaku untuk kondisi gangguan kulit.

Pernah ga sih, Teman DRYD tiba-tiba nemuin ada jerawat di muka padahal ga abis ngapa-ngapain dan selalu merawat dan membersihkan kulit? Ato mungkin ada rasa gatal-gatal tanpa sebab di permukaan kulit di beberapa bagian tubuh tertentu? Semuanya serba tiba-tiba dan serba goib aja gitu, muncul tanpa sebab. Coba deh liat ke belakang lagi, runut semuanya. Apa Teman DRYD baru aja ngalamin suatu kejadian yang bikin nervous? Ada ujian yang ribet, mungkin? Atau lagi abis berantem sama si bos, mungkin? Ato mungkin tempat kerja yang udah terlalu toxic?

Kalo iya, curiga ga sih kalo gejala-gejala yang ada di kulit tadi ada hubungannya? Ini dengan catatan semua effort buat menjaga kulit udah dilakuin loh, ya. Ya kali kulit ga bakal sakit even pas kita ga rajin cuci muka. Coba bandingin kondisi kulit setelah tekanan batin terpicu sama sebelum. Ada perbedaan? Kalo iya, fixed udah semuanya dikarenakan kondisi psikis sedang dalam keadaan yang ga sehat.

Sebenernya prosesnya ga sesederhana itu juga sih. Ga yang…. kalo lagi tertekan, langsung biduren, langsung jerawatan. Ga seinstan itu juga. Tetap ada yang namanya sebab-musabab, reaksi berantai. Kayak efek domino, gitu; kalo yang satu di awal udah tumbang, yang lainnya ikutan ketimpa dan terus berjatuhan.

Semuanya berawal dari hormon.

Tubuh kita punya yang namanya sistem respons terhadap pencetus stres. Ini proses alami ya, sesuatu yang mutlak secara biologis dan fisiologis jadi mustahil bisa kita kendalikan atau hentikan sama sekali. Begitu kita tertekan, tubuh akan memproduksi hormon tertentu sebagai respons alami. Apa hormon itu? Jreng jreng jreeeng, perkenalkaaan hormon kortisol!

Kortisol ini dikenal juga dengan julukan the stress hormone. Kenapa? Karena ketika kita sedang mengalami tekanan psikis, produksi hormon ini meningkat jumlahnya. Jadi ketika diukur, tubuh seseorang yang tengah mengalami tekanan batin akan mengandung sejumlah besar kortisol. Yuk cek fun facts about this hormone:

  1. Kortisol berperan dalam produksi energi bagi tubuh dan membantu mengendalikan stres. Kortisol berperan dalam proses metabolisme tubuh karena hormon ini mengendalikan jumlah glukosa yang digunakan untuk menyediakan energi untuk tubuh. Kortisol diproduksi dengan jumlah besar ketika tubuh mengalami stres, baik fisikal mau pun psikis, karena hormon ini juga berfungsi menormalisasi tekanan darah dan memicu pelepasan insulin untuk mengendalikan kadar glukosa darah. Jadi semakin kita stres, semakin banyak kortisol yang diekskresikan karena tubuh tuh ngertinya kondisi badan kita lagi ga Jadi selama tubuh masih ga seimbang, bakalan ada terus tu, peningkatan kortisol.
  2. Alarm alamiah tubuh menjadi pemicu pelepasan kortisol. Ketika stres, otak akan mengartikan itu sebagai kondisi mengancam untuk tubuh secara umum dan memerintahkan kelenjar adrenal untuk memproduksi adrenalin dan kortisol secara bersamaan. Adrenalin membuat denyut jantung meningkat sementara kortisol memperbanyak kadar gula dalam darah. Dengan kondisi ini, tubuh akan membuat keadaan yang lebih kondusif bagi otak untuk bisa berpikir dengan lebih jernih.
  3. Kortisol ada dalam kadar tertingginya justru di pagi hari. Normalnya, kadar tertinggi kortisol dalam tubuh terjadi sekitar jam 8 pagi dan kemudian menurun ke tingkat paling rendah di saat sebelum tidur. Nah, pada orang-orang yang pola kerjanya lebih banyak dilakukan di malam hari, tingkatannya akan sebaliknya.
  4. Kortisol bisa menjadi penyebab kenaikan berat badan. Jika kortisol diproduksi secara hiperaktif dan tidak ditangani, hormon ini bisa mengubah cara tubuh menyimpan lemak. Tubuh akan dipengaruhi dan punya kecenderungan untuk menumpuk lemak di area perut. Ini, pada gilirannya, akan menyebabkan peningkatan risiko penyakit-penyakit kardiovaskular.

Hormon dan Kulit

Trus hubungannya kortisol dengan gangguan pada kulit apa dong, Dok?”

Simpel: Produksi kortisol berlebihan menyebabkan 1) peradangan dan 2) produksi minyak pada kulit meningkat.

Kalo udah begini, udah deh ya… pasti bakal banyak keluhan yang muncul.

Pertama, jerawat udah pasti jadi masalah umum. Kenapa? Dengan kondisi minyak pada permukaan kulit yang diproduksi secara meningkat, potensi kulit dihinggapi partikel-partikel penyumbat pori-pori juga ikut meningkat. Pori-pori yang tersumbat bikin pengeluaran minyak terhambat dan ini jadi lingkungan yang cocok buat bakteri berkembang-biak. Meradang lah itu kulit. Jerawatan lah akhirnya.

Kedua, biduran. Ini sedikit lebih rumit prosesnya. Ketika stres, selain mengeluarkan kortisol, tubuh juga memproduksi neuropeptida dan neurotransmitter. Zat kimia seperti ini berpotensi “mengobrak-abrik” cara tubuh merespons alergen, zat-zat pemicu alergi. Kulit jadi supersensitif dan merespons alergen tadi dengan cara abnormal dan ini akan memicu biduran. Jadi jangan heran kalo pas stres kita jadi lebih sensitif terhadap hal-hal yang tadinya ga memicu alergi.

Ketiga, eksim. Baik eksim atopik mau pun eksim diskoid ditandai dengan kulit kemerahan, rasa gatal, bersisik, dan penebalan. Penyebab utama eksim sebenernya masih jadi perdebatan tapi secara umum peningkatan kortisol ketika stres akan membuat kulit secara umum meradang dan ini yang menyebabkan eksim muncul.

Keempat, psoriasis. Psoriasis ditandai dengan kulit merah dan bersisik yang terasa gatal. Psoriasis merupakan jenis penyakit kulit yang disebabkan, salah satunya, gangguan sistem imun. Ketika stres, sistem imun tubuh akan terganggu dan ini bisa berujung pada kemunculan psoriasis. Kondisi psoriasis yang emang udah ada sebelumnya juga bisa diperparah. Beberapa orang merespons stres dengan cara menggaruk kulit yang aslinya ga gatal. Jika area yang digaruk sudah terjangkit psoriasis, kondisinya bisa lebih parah.

Itu tadi baru beberapa contoh kasus aja ya. Secara estetis, stres membuat kualitas tampilan kulit jadi ga menarik karena kita akan kelihatan lebih tua dengan kerutan, kulit keriput dan ga elastis, dan kekusaman. Rosacea juga bisa muncul tapi mungkin lebih kepada orang-orang yang emang berisiko tinggi. Kondisi-kondisi gangguan kulit ini diperparah juga dengan kemungkinan besar kita lupa melakukan perawatan kulit. Tau dong ya, kalo udah stres pasti ga kepikiran mau cuci muka. Perawatan se-basic nyuci muka aja luput apalagi yang kaya-kaya pake pelembap gitu. Makin parah lah kondisi gangguannya.

“Ah, kalo gitu mendingan hormonnya distop produksinya kali ya, Dok?”

Ga gitu juga, Nyaiii….

Stres itu sesuatu yang mustahil buat dihindari karena kita ga punya kontrol terhadap kemunculannya. Makanya saya agak menghindari mencari tahu tentang cara menghilangkan stres. Iya, saya penganut paham “daripada sibuk nyari cara ngilangin stres, mending di-managekalo udah soal ini sih. Karena saya pikir sih, mencoba menghilangkan, menghentikan, atau bahkan mencegah itu kayak mencoba menahan gelombang laut gitu. Sia-sia. Dia datang di saat tak terduga dan ga peduli sama persiapan apa pun yang udah kita coba terapkan. Jadi mending dimitigasi, dikelola, dikenali, dan dijadikan teman. Karena kita juga butuh stres buat bertumbuh dan berkembang. Beberapa jenis stres dalam tingkatan tertentu malah dibutuhkan sebagai stimulan yang berpengaruh secara positif pada tubuh. Iya, kita kudu waspada. Iya kita kudu paham efeknya apa. Tapi mencoba menghilangkan stres itu tindakan yang menurut saya sedikit ga ada gunanya. Kita cuma bisa mencoba mengurangi dan membatasi efek buruknya aja.

“Jadi apa ngga ada yang bisa dilakukan supaya kulit ga terlalu menderita pas stres, Dok? Sedih banget dong….”

Ada dooong.

Yang pertama yang harus dilakukan sebagai cara mengatasi stres adalah jangan jadi denial. Sadari diri sedang mengalami stres dan jangan berusaha mengabaikannya. Jangan pernah berpikir, “Ah, engga gua ga stres. Cuma lagi banyak kerjaan aja.” Ya, masa harus dikasi tau sih, kalo tumpukan pekerjaan itu adalah salah satu faktor utama pemicu stres?

Kedua, sestres apa pun, se-distracted apa pun, sepusing apa pun sama lingkungan, JANGAN PERNAH lupa (atau melewatkan) merawat kulit. Kulit harus selalu dijaga bersih dan dirawat supaya tetap sehat. Cuci muka sehari dua kali. Pelembap dipake terus. Sunscreen juga ga boleh dilewatin. Berikan perhatian ekstra untuk kulit. Rasakan setiap sentuhan yang diberikan. Ini juga bisa jadi momen pas buat menyembuhkan kondisi psikis yang sedang kacau.

Ketiga, perhatikan makanan. Nih ya, pas lagi stres, pasti bawaannya pengen ngemil kan? Gapapa, ga masalah. Boleh aja ngemil tapi pastiin cemilannya sehat dan ga memperburuk kondisi kulit. Kaya yang manis-manis dan minyak-minyak, itu ga boleh ya. Ganti dengan buah dan sayuran aja.

Keempat, tidur yang cukup. Saat kita tidur, tubuh melakukan perbaikan struktural menyeluruh, termasuk di bagian kulit. Kurang tidur sama sekali ga memperbaiki keadaan karena tubuh akan malah semakin stres.

Kelima, relaksasi. Apa aja metodenya? Meditasi bisa. Pijat juga bisa. Spa pun bisa. Efeknya dobel pula; stres berkurang, kulit makin segar.

Keenam, gunakan produk-produk eksternal seperti krim atau salep. Psoriasis bisa ditanggulangi dengan krim retinoid sementara eksim bisa ditangani dengan krim gliserin. Tapiii, ada baiknya sebelum menggunakan produk seperti ini kita konsultasi dulu ke dokter kulit biar ga nimbulin masalah baru.

Stres jangan dianggap enteng tapi jangan diperburuk dengan overthinking ya. Kondisi psikis dan kondisi kulit itu berkaitan secara langsung meskipun ga sederhana juga prosesnya. Yang terpenting, jangan lupa merawat kulit apa pun keadannya. Jangan males, jangan kebawa emosi. Kelola dan kendalikan stres dengan cara yang efisien.

Stretchmarks Kudu Diapain Sih, Sebenernya?

Dari semua permasalahan kulit yang ada, stretchmarks kayanya jadi salah satu yang paling bikin horor, ya. Kulit dipenuhi “rekahan-rekahan” merah muda yang ga bakal bisa ilang. Mau kaya apa juga ga bakal pergi itu kondisi. Masa sih, semengerikan itu?

Pertama dan yang terutama, masalah kulit seperti ini dalam dunia dermatologi dikenal sebagai striae, striae distensae, striae athropicans, striae gravidarum dan bisa menyerang siapa aja, ga peduli jenis kelamin. Tapi emang sih, perempuan lebih rentan kena daripada laki-laki. Bentuknya berupa garis-garis atau guratan di permukaan kulit, mirip bekas luka, dengan warna yang lebih gelap dibandingkan kulit sekitarnya. Gurat-gurat kemerahan ini biasanya bisa ditemukan di beberapa area tubuh seperti perut, paha, pinggul, payudara, lengan atas, dan punggung bawah. Stretchmark biasanya muncul sebagai respons negatif dari kulit terhadap peregangan mendadak dan tidak dapat kembali ke keadaan normalnya dan ini merupakan sebuah kondisi kulit yang umum terjadi. Lebih dari 50% perempuan mengalami stretchmarks ketika masa hamil.

(Not so) Fun Facts tentang Stretchmarks

  • Kehamilan, pubertas, dan pertambahan berat badan secara signifikan adalah sebab-sebab umum stretch marks.
  • Treatment-treatment yang ada dewasa ini (yang diklaim ampuh menghilangkan stretch marks) belum didukung oleh dasar medis yang valid.
  • Stretch marks akan memudar seiring waktu, meskipun memang tidak sepenuhnya hilang. Stretch marks bukan sebuah kondisi yang membawa risiki kesehatan jangka panjang.
  • Area-area yang rentan terkena stretch marks meliputi area abdomen, payudara, pinggul, punggung bawah, pantat, dan paha.

Jadi jelas nih, ya, keberadaan stretch marks sebenernya bukan sebuah gangguan medis yang bisa mengancam nyawa dan keselamatan. Taaapi, orang-orang yang memiliki kondisi kulit seperti ini biasanya akan bermasalah dengan yang namanya citra diri dan kecemasan berlebihan. Untuk beberapa orang bahkan stretch marks bisa berubah menjadi persoalan kosmetis yang akan mempengaruhi hidup mereka secara umum.

Proses Terjadinya Stretch Marks

Ada tiga lapisan utama pada jaringan kulit dan stretchmarks terbentuk di area lapisan tengah atau dermis. Jaringan ikat pada lapisan kulit ini bisa melar sampai melewati batas elastisitasnya ketika kulit meregang sangat cepat.

Jaringan ikat pada lapisan dermis mampu meregang dalam batas tertentu untuk mengakomodasi pertumbuhan tubuh yang normal. Tapi pertumbuhan yang sangat cepat akan membuat lapisan dermis robek dan inilah yang membuat stretch marks berbentuk seperti bekas luka. Stretch marks akan berwarna putih mengilap karena lapisan lemak bawah kulit menjadi terekspos alih-alih pembuluh darah dan jaringan lain.

Stretch marks lebih cepat terbentuk dan bisa memburuk ketika kortison diproduksi dalam tingkat yang sangat tinggi atau ketika kulit terpapar pada kortison. Kortisol, si hormon stres yang diproduksi oleh kelenjar adrenal, akan dikonversi menjadi kortison dan ini bisa menyebabkan serat-serat elastis pada kulit menjadi lemah.

Tanda-tanda dan Gejala

Kemunculan stretch marks biasanya ditandai dengan penipisan lapisan kulit dan warna merah muda. Di beberapa kasus, gejala ini juga disertai dengan rasa perih dan gatal. Pada awalnya guratan kulit akan terlihat mengerut  dan jendul-jendul. Warnanya berubah menjadi merah, ungu, coklat kemerahan, atau coklat tua—tergantung pada jenis dan warna kulit. Guratan ini akan memudar dan menipis seiring waktu dan warnanya akan berubah keputihan. Stretch marks bisa jadi terlihat sangaaat samar tapi butuh waktu bertahun-tahun sebelum akhirnya guratan-guratan yang ada jadi pupus.

Penyebab dan Faktor Risiko

Sebab umum stretch marks adalah:

  1. Tadi udah disinggung dikit; antara 50-90% perempuan yang menjalani periode kehamilan akan mengalami stretch marks, baik pada saat hamil maupun sesudahnya.
  2. Pertumbuhan fisik yang pesat di kelompok usia remaja akan memaksa kulit untuk meregang.
  3. Kenaikan berat badan secara signifikan. Ketika berat badan bertambah dalam jangka waktu singkat juga bisa membuat kulit meregang mendadak.
  4. Kondisi medis tertentu. Sindrom Marfan dapat menurunkan tingkat elastisitas kulit sementara Sindrom Cushing membuat tubuh menghasilkan hormon yang berperan dalam peningkatan berat badan dan membuat kulit “rapuh”.
  5. Penggunaan kortikosteroid. Penggunaan kortikosteroid dalam jangkan waktu lama (baik krim atau lotion) bisa menurunkan jumlah kolagen dalam kulit. Kolagen berperan dalam memperkuat dan menyokong kulit.

Faktor risiko:

  1. Riwayat keluarga,
  2. Penyakit kronis,
  3. BMI (body mass index) sebelum hamil, dan
  4. Berat badan bayi dalam kandungan pada perempuan hamil,

Diagnosis

Pendiagnosaan stretch marks biasanya dilakukan dengan cara pemeriksaan langsung terhadap kulit. Secara umum stretch marks biasanya tidak menyebabkan keluhan medis meskipun di beberapa kasus langka, kondisi kulit ini merupakan gejala dari gangguan lain yang harus ditangani.

Pengobatan dan Pencegahan

Baaanyak banget orang yang nyari tau tentang cara menghilangkan stretch marks. Tapi biasanya nih ya, kalo stretch marks udah muncul, ya udah, ga bakal bisa ilang. Kalau pun yang namanya obat penghilang stretch marks itu ada, yang paling mungkin buat diarepin cuma efek memudarkan. Permukaan kulit tetap bakal kaya ada guratan-guratan gitu walopun mungkin ga sekasar pas pertama muncul. Beberapa pilihan perawatan biasanya mahal dan ga selalu efektif. Alternatif lain pun masih jadi pertanyaan. Krim, gel, lotion, bahkan bedah kosmetik digadang-gadang sebagai penghilang stretchmarks yang mumpuni meskipun, lagi-lagi, keefektifannya masih jadi perdebatan kok.

Yang jadi masalah, stretch marks ga selalu bisa dicegah kemunculannya. Taaapi, ada beberapa cara yang bisa diambil untuk menurunkan risiko.

  1. Jaga berat badan ideal,
  2. Hindari pola diet yo-yo,
  3. Atur pola makan yang kaya akan vitamin dan mineral dan tingkatkan asupan vitamin A dan C serta mineral zinc dan silikon yang bisa mendukung kesehatan kulit,
  4. Usahakan berat badan berkurang perlahan dan bertahap selama kehamilan,
  5. Minum 6 hingga 8 gelas air setiap hari.

Takeaway

Naaah, Teman DRYD, udah paham dong yaaa stretch mark itu kondisi normal. Semuanya cuma konsekuensi logis dari proses biologis yang terjadi pada tubuh. Ga perlu panik, ga usah berlebihan menanggapinya. Yang pertama-tama perlu dilakukan ketika mendapati tubuh yang terkena stretch marks adalah menciptakan citra tubuh positif. Tubuh kita adalah tubuh kita, apa pun keadaannya—apalagi ini adalah sebuah proses alami. Kalo mau dicari salah siapa dan kenapa, ya kita juga kok yang teledor. Kenapa dulu ga dijaga makannya? Kenapa dulu berat badan ga dikontrol naiknya?

Tapi ya udah; yang udah kejadian ya udah biarin. Rawat semasuk akalnya aja. Jangan kecewa pas nemuin krim mahal yang dibeli online ternyata ga ada hasil dan ga membawa perubahan apa pun. Jangan kecil ati. Seengganya warnanya bisa dibikin pudar kok. Stretch marks memudar akan jauh lebih baik daripada engga sama sekali kan? Tapi ya sabar. Orang kulitnya “pecah” aja butuh waktu, mudarin penampilannya juga butuh timeframe tertentu juga kali….

Boleh pake body lotion untuk stretch mark yang diiklanin di internet—selama kandungan bahan di dalamnya ga beracun dan berbahaya buat badan. Gapapa pake krim ini, salep itu, gapapa banget. Namanya juga usaha, kan?

Yang namanya cara menghilangkan stretch mark di perut itu agak sedikit seperti khayalan semu. Daripada ngabisin waktu dan energi nyari salep untuk menghilangkan stretch marks sampe ke ujung dunia dan ke tujuh samudra, mendingan mindset kitanya yang diganti deh. Jangan berfokus ke “mengobati”, tapi coba dijaga supaya stretch mark-nya ga muncul. Gimana caranya? Yang termudah adalah coba deh mulai sekarang rajin pake lotion, terutama di bagian-bagian badan yang rentan terkena. Produk-produk seperti lotion atau yang lainnya bisa mem-promote kulit yang sehat dan segar sehingga ga gampang melar terus “sobek”. Konsumsi makanan sehat kaya vitamin dan mineral bisa meningkatkan produksi kolagen kulit jadi elastisitasnya tetap terjaga. Kalo asupan nutrisi buat kulit udah terpenuhi dan maksimal dan stretch marks tetap muncul, jangan frustrasi. Saatnya kita mencintai stretch marks karena itu adalah bagian dari kita—tapi ga semestinya menjadi satu-satunya hal yang mendefinisikan jati diri kita, siapa kita, dan bagaimana kita menilai diri sendiri.

Skincare untuk Pria: Yay or Nay?

Haaalooo Teman DRYD,

Oke, bahas skincare pria sekarang ya.

Ada yang mikir, “Ih, cowo mah ga kudu rempong mikirin kulit”?

Kalo ada, jangan mikir gitu lagi yaaa. Kebutuhan perawatan kulit itu jaman sekarang ga lagi eksklusif urusan perempuan. Kenapa? Yang namanya kerusakan atau gangguan kulit itu ga kenal gender, jadi skincare pun udah semestinya ga bergender. Mau cowo, mau cewe, kita sekarang hidup dalam dunia modern yang datang lengkap dengan segala macam bentuk potensi gangguan kulit. Toh polusi di mana-mana. Sinar matahari jatuhnya ke mana-mana. Debu, kuman, partikel-partikel radikal bebas juga ga pandang jenis kelamin. Yang penting nemplok aja di kulit, udah deh, breakout lah, kering lah. Pola hidup juga berperan; rasa malas mengurus kebersihan dan kesehatan kulit atau cara makan yang kurang tepat bisa ada di siapapun kan?

Jadi kenapa kita harus meributkan soal skincare itu urusannya perempuan? Bahkan, jika ada seorang cowo yang rajin perawatan kulit sekalipun kulitnya bersih dan sehat, ya gapapa juga kan? Estetika itu harusnya bisa dinikmati semua orang tanpa perlu dibahas jenis kelaminnya. Justru yang perlu diliat itu malah, “Oh, itu cowo keren banget caranya ngurus kulit. Contek ah jurus-jurusnya.” Intinya, kenapa ga kita kulik tips dan trik dari seseorang soal handle estetikanya daripada ngeributin jenis kelaminnya?

Di dalam hierarki maslow sendiri pun kebutuhan estetis itu udah jadi kebutuhan mendasar, integral dalam kehidupan seseorang. Bentuknya emang bisa macam-macam, tapi estetika juga meliputi penampilan yang prima, toh? Nah, ga ada larangan buat cowo-cowo memberikan kepedulian lebih terhadap penampilannya dia sendiri, sama seperti para cewe-cewe ngasi perhatian maksimal terhadap kesempurnaan kulitnya juga.

P.S. Buat Teman-teman yang belum tau apa itu Maslow’s Hierarchy of Needs dan kenapa penting buat memahami teorinya, nah, pe-er buat Teman-teman yaaa. Coba gugling-gugling deh, pasti banyak referensi.

Maslow’s hierarchy of needs, a scalable vector illustration on white background

 

“Apa hubungannya, Dok, estetika sama kebutuhan mendasar? Kan, tanpa keliatan estetis pun kita masih bisa idup kan, Dok, asal bisa makan, punya tempat tinggal, gitu-gitu?”

Oh, ya jelas. Kebutuhan pangan, sandang, dan papan itu emang mutlak. Tapi itu jenis kebutuhan biologis dan fisiologis ya. Kaitannya sama kebutuhan jasmani. Sekarang, emang kebutuhan rohani ga perlu diperhatikan? Perlu kan? Di sini peran penting estetika bisa diliat. Dengan tampil lebih baik (kulit bersih—ga perlu putih, ya—dan sehat) maka rasa percaya diri bakal dapet boost gede-gedean. Ketika rasa percaya diri meningkat, produktivitas pun maksimal. Bos seneng dengan performance, dapet bonus ato promosi. Hidup lebih bahagia. Psikis lebih sehat.

Nah, bisa menjalar ke mana-mana hanya dengan merawat kulit.

Coba kalo sebaliknya: Kulit kusam, ada rasa-rasa curiga diomongin orang, rasa percaya diri drop, fokus kebagi-bagi, performance pekerjaan otomatis jadi ga maksimal, bos ngamuk, boro-boro dapet bonus ato promosi, stres, kehidupan di rumah kena dampak, dan psikis jadi labil. Dan kalo psikologisnya udah kena, tinggal tunggu waktu sebelum fisik juga terpengaruh.

Iya, okelah kalo ini kejauhan nyambung-nyambunginnya. Iya, okelah kalo ini dianggap cocoklogi. Oke. Tapi masuk akal, ga? Ini semua proses loh ya, ga instan mulai dari kulit kusam langsung jadi masalaha psikis. Tapi ini adalah rentetan kejadian, rantai panjang sebab dan efek. Kita perlu waspada sejak dini supaya hal terburuk ga sampe kejadian, gitu. Masa baru ngeh pas semuanya udah kadung rusak?

Perbedaan Kulit

Kebutuhan boleh sama rata, tapi ga berarti kulit cowo itu sama persis sama kulit cewe ya. Ada perbedaan mendasar secara struktur dan dalam aspek-aspek fisiologis masing-masing gender.

  1. Kulit cowo 25% lebih tebel dari kulit cewe. Seiring pertambahan usia, kulit pria menipis sementara kulit perempuan ketebalannya relatif konstan hingga usia 40an. Baru setelah memasuki fase menopause, kulit perempuan menipis secara signifikan.
  2. Kulit pria punya lebih banyak kandungan kolagen daripada kulit perempuan. Karena perbedaan kandungan alami kolagen ini, makanya perempuan lebih umum mengalami penuaan lebih awal sekalipun mungkin usianya sama.
  3. Pori-pori kulit pria lebih besar dan produksi sebumnya lebih tinggi. Kulit pria lebih rentan terkena jerawat, pori-pori tersumbat, komedo, dan seborrheic dermatitis karena faktor ini. Produksi sebum di kulit pria juga relatif konstan dan tidak mengalami penurunan seiring usia.
  4. Lapisan stratum corneum di kulit pria lebih tebal dan karena itu kulit pria umumnya lebih tough dan lebih kasar. Karena faktor ini juga ada perbedaan pembentukan kerutan antara kulit pria dan wanita; pria lebih rentan mengalami kerutan wajah yang lebih dalam.
  5. Karena rambut wajah pria lebih banyak, kebutuhan bercukur juga lebih relevan pada kulit pria. Tapi ini juga berpotensi menyebabkan kulit pria jadi lebih sensitif yang mudah teriritasi dan rangkaian risiko lain seperti luka iris, folliculitis, dan ingrown hairs. Rutinitas bercukur pun membuat kulit wajah pria lebih mudah terpapar faktor-faktor eksternal karena ketika bercukur, lapisan sel kulit mati mikroskopis pada permukaan kulit ikut terbuang, yang menyebabkan penurunan fungsi perlindungan dari kulit itu sendiri.

Nah, dengan semua perbedaan dan risiko yang ada, cowo-cowo masih males ngurus kulit? Ini juga nih yang perlu dilurusin pola pikirnya. Jangan lagi pada mikir, “Ah, gue cowo, masa ribet sama kulit?” Ato, “Cowo tuh kudunya emang keliatan rough. Ga usah repot ngrawat-rawat segala.”

Jangan ya, kasian kulitnya ga dijaga. Cewe-cewe juga males kali, punya pasangan yang kulitnya kusam. Masa udah cape-cape benerin kulit, segala krim, treatment dijalanin, eh, pasangannya kek ga pedulian sama dirinya sendiri. Ga usah berlebihan juga dalam merawat kulit nih, para cowo-cowo. Yang standar-standar aja pun asal dilakuin konsisten dan reguler cukup kok buat ngejaga kualitas prima kulit kita. Kecualiii, kecuali nih, ya, emang ada gangguan nyata di kulitnya. Bolehlah treatment supaya masalahnya bisa pergi selamanya. Tapi itu pun dengan catatan dijalankan dengan konsisten dan patuh sama omongan dokter yaaa.

Urutan Skincare untuk Pria

Jadi apa aja nih, step dasar skincare untuk pria buat dilakuin? Yuk kita pantau.

  1. Mencuci muka

Mau urutan perawatan kulit buat cewe mau buat cowo, semuanya berawal di sini. Tapi, karena kebutuhan kulitnya beda, jenis sabun cuci mukanya juga beda. Tipikal kulit pria itu kan, berminyak dan berjerawat ya. Jadi, lebih baik pilih sabun muka yang bisa meng-cover kebutuhan yang relevan seperti mengangkat kotoran dan partikel debu serta bisa mengurangi produksi minyak berlebih. Untuk yang kulitnya berminyak, coba pake sabun muka dengan kandungan scrub supaya kotoran bisa diangkat sampai ke pori-pori. Rutin ya, cuci mukanya, dua kali sehari aja, terutama waktu mau tidur.

  1. Menggunakan toner

Mencuci muka itu kegiatan yang sejujurnya terlalu berat buat muka karena potensi kering jadi naik setelahnya. Ini gunanya toner. Setelah mencuci muka, pengaplikasian toner akan membantu menyegarkan kulit dan mengembalikan pH kulit. Tambahan lagi, toner juga bisa menghilangkan sel kulit mati yang mungkin ga keangkat pas cuci muka. Cara pakenya, cukup ambil kapas, tuang toner ke kapas, trus totol-totolin deh pelan-pelan ke muka merata.

  1. Serum

Tahap ini opsional yaaa, lebih ke liat kebutuhan sama kondisi kulit. Serum sama pelembap itu fungsinya kurang lebih sama, cuma beda kepadatan tekstur aja. Serum juga lebih gampang diserap kulit, makanya penggunaan serum dianjurkan ketika kulit kita emang lagi ngalamin permasalahan kayak jerawat atau ada tanda-tanda penuaan.

  1. Pelembap

Jangan sepelekan moisturizer, guys! Pelembap bisa ngejaga kulit supaya tetap terhidrasi dan ngontrol kadar minyak di kulit. Jadi, kulit berminyak jangan terlalu banyak dikasi pelembap dan pilih yang teksturnya ringan. Kulit kering sebaliknya, pake pelembap pagi dan malam. Coba juga sambil dipijat-pijat mukanya supaya melancarkan sirkulasi darah.

  1. Tabir surya

Tahapan ini haram dilewatin kalo kita punya rutinitas outdoor dengan intensitas tinggi. Kulit yang terpapar sinar matahari tanpa perlindungan akan berujung pada kerusakan kulit dan, yang paling bahaya, kanker kulit. Gunakan at least 15 menit sebelum memulai aktivitas outdoor, setelah pelembap, dan pastikan memilih produk dengan SPF yang tinggi untuk mengurangi frekuensi pengaplikasian ulang.

  1. Masker

Ini nih, yang kadang suka bikin ilfil kan? “Cowo kok maskeran.” Sering banget pasti dapet celetukan kayak gitu kan, cowo-cowo? Sekarang, mulai deh bodo amatan sama komen-komen begitu. Masker itu penting sekalipun sifatnya jauh lebih opsional daripada serum. Kenapa penting? Masker bisa merangsang regenerasi sel kulit dan meremajakan kulit. Emang lebih repot sih, harus nunggu beberapa menit sebelum boleh dibersihkan setelah digunakan. Tapi kan makenya cuma sekali seminggu. Di malam hari pula. Pake rata di muka, tunggu meresap sambil mungkin ngegame, udah deh dicuci. Sekalian me-time-an laaah. Pilih masker yang sesuai dengan jenis kulit dan kebutuhan yaaa.

  1. Krim cukur

Balik lagi, karena kebutuhan bercukur itu tinggi, kita kudu jeli juga milih produk yang relevan. Kalo bisa, cari produk yang mengandung pelembap; jadi kita ga cuma bisa bercukur lebih mudah tapi kulit juga tetap lembut setelahnya.

Ribet? Bikin males? Bisa dimengerti tapi ga juga kok. Cuma perlu pembiasaan dan itu kuncinya adalah konsistensi. Setelah beberapa kali ngejalanin, pasti deh nanti bakal ngerasa ada yang ilang kalo ga dilakuin.

Poin-poin Penting

Jadi apa hikmah (cieee, hikmah…) dari obrolan kali ini?

Pertama, skincare untuk laki laki itu sama validnya dengan skincare untuk perempuan. Ga ada yang lebih pantes, ga ada eksklusif-eksklusifan. Mau cewe, mau cowo, pake deh tu skincare kalo mau tampil segar, sehat, awet muda, dan percaya diri.

Kedua, cewe-cewe maunya pasangan yang keliatan seprima dirinya. Imbangi penampilan pasangan kita dengan rajin menggunakan perawatan kulit yang sesuai. Biar ga keliatan jomplang. Mbak-nya keliatan wah, mas-nya keliatan hah. Pada pajam sama yang namanya couple goals, kaaan. Nah, goals kaya gini tuh dinilai juga dari keseimbangan penampilan fisik kedua pihak. Kalo rasio penampilannya udah setimbang, kemesraan dengan pasangan bakal bikin iri siapapun yang liat nanti.

Ketiga, insecurity kita para cowo-cowo bisa diminimalisasi kalo ga sama sekali dibuang. Insecurity tuh, awalnya simpel kok: Kita ngerasa ga pe-de. Abis itu, mulai deh membandingkan diri dengan orang lain. Diri sendiri ga nyaman. Pasangan ikut ga nyaman sama ke-ga nyaman-an kita. Sering curiga. Ujung-ujungnya sering berantem.

Keempat, cowo-cowo jangan males. Kita peduli sama kualitas kulit ga berarti maskulinitas kita menurun. Inget ya, skincare itu ga berjenis kelamin, jadi kenapa kita malah terbebani dengan sesuatu yang ga seharusnya kita pikirkan? Nambah-nambah stres aja. Kulit makin kusam loh, gegara sering stres doang.

Delivering Happiness through Skincare

Kulit, bagi kebanyakan dari kita, adalah salah satu sumber rasa percaya diri. Kondisi kulit gampang banget bikin rasa percaya diri naik turun. Jerawatan dikit, langsung down, langsung ga mau keluar rumah. Ada bercak gelap dikit, bawaannya langsung sadar diri, ngomong sama orang ga mau keliatan mukanya. Belang dikit, langsung milih buat matiin henpon, ga mau diajak ketemuan di luar. Wah, udah deh, banyak banget yang selalu menjadikan penampilan kulitnya sebagai satu-satunya sumber percaya diri.

Dan itu ga salah sebenernya.

Merawat kulit bisa menjadi sumber kepercayaan diri

Kulit yang glowing bersih, bebas minyak, sehat, kenyal, dan berseri emang bisa bikin kita pede banget. Itu karena kulit adalah benteng pertama yang membatasi kita dari dunia luar. Orang-orang kalo ngeliat kita pasti dong, penampilan luarnya, bukan gimana kepribadian kita ato inner beauty kita. Outer beauty emang bukan satu-satunya yang menjadi kualitas pembentuk suatu individu. Tapi keindahan yang ditampilkan itu lebih kasat mata dan lebih instan untuk diobservasi orang lain. Makanya kita gampang banget minder pas kulit lagi ga dalam keadaan prima.

Dan emang bener, kekurangan yang ada di kulit kita bisa ditambal-sulam dengan misalnya performa kerja atau mungkin kemampuan sosial yang di atas rata-rata. Tapi kita selalu merasa bahwa semua akan lebih sempurna kalau segalanya seimbang. Personality keren, kulit paten. Tapi kan ga semuanya dong, bakal seimbang setiap saat. Bisa aja ada sesuatu yang bikin kondisi kulit menurun. Kurang tidur aja udah cukup bikin kulit keliatan kusam.

Jadi begitu; kulit emang gampang banget bikin rasa percaya diri sendiri jadi fluktuatif kayak bursa saham. Ada keanehan dikit yang kayanya ga bakal deh orang lain notice, udah cukup ngerusak hari buat kita. Akhirnya kita pun beralih mengandalkan makeup buat nutupin “cela” itu dari orang lain. Semuanya keluar dari kotak kosmetik. Sampe produk yang jaaarang banget dipake, keluar. Apa aja yang penting bercak kecil di pipi ketutup. Apa aja yang penting jerawat yang bengkak merah ga jadi sorotan lawan bicara.

“Ya kan kita juga ga mau dianggap ga bisa ngerawat diri, Dok. Ga mau juga dianggap ga higienis sama si bos….”

Ya makanya saya bilang kalo memperhatikan kondisi kulit itu ga salah. Apa yang salah? Yang salah adalah ketika kondisi kulit yang tidak sesuai harapan berubah menjadi sumber kekhawatiran dan insecurity. Ketika kulit yang sedang tidak prima mendominasi isi kepala kita sampai-sampai menjadi obsesi, itu udah ga sehat. Energi yang seharusnya bisa kita salurkan untuk menyelesaikan tugas-tugas malah keporsir buat mikirin jerawat di jidat yang cenutcenut. Waktu yang seharusnya kita habiskan buat bersenang-senang sama orang-orang tersayang jadi kesedot buat ngaca dan ngelus-ngelus noda hitam di pipi. Kita terdorong untuk memitigasi “bencana” ini dengan cara yang agak ga masuk akal. Suplemen diminum  ga sesuai anjuran. Minum air segalon abis sendirian. Makan sayur digenjot sampe kebutuhan karbo dan lemak diabaikan. Segala krim, segala sabun, segala serum dipake.

Suplemen vitamin itu kudunya diminum sesuai dosis; otherwise we would only end up with very expensive urine. Namanya juga suplemen. Minum air juga kudu liat-liat; kalo ga malah bikin beser-beser dan lemas. Minum air teratur itu emang baik buat mem-promote kesehatan kulit. Tapi kalo kebanyakan? Coba deh, kapan-kapan googlin “water poisoning”. Banyak makan sayur itu bagus, semua orang juga tau. Tapi kan harus balance, proteinnya masuk, seratnya masuk, karbonya masuk, lemak juga perlu. Krim-krim, sabun muka, serum kecantikan, semuanya perlu dipake supaya ada usaha dari luar buat menjaga kondisi kulit. Tapi ada jenis zat dalam produk perawatan kulit yang justru ga bakal berkhasiat ketika dipake bersamaan dengan produk dengan zat yang berbeda. Makanya ada yang namanya step, waktu aplikasi, dan layer mana yang bisa di-combine dengan layer apa. Kalo dipake barengan dengan asumsi “makin banyak, pasti makin ngefek” yang ada malah mungkin bikin breakout.

Jadi, omongan orang tua tentang segala sesuatu yang berlebihan itu ga baik ada benernya.

Kulit menurun performanya itu lumrah. Penyebabnya bisa karena kelalaian, bisa juga karena badan sendiri yang sedang drop staminanya. Kalo soal lalai masih bisalah diperbaiki. Lah kalo udah masalah kondisi, stamina, hormon, emosi?

Saya ngomong ini sekarang karena berdasarkan pengalaman, ada beberapa orang yang datang ke klinik perawatan kulit bukan karena mereka emang mau treatment. Jadi ngapain mereka dateng, Dok? Nah, beberapa orang ini dateng ke klinik cuma karena ngerasa insecure sama kondisi kulit mereka saat itu. Jadi mungkin ada beberapa yang langsung panik pas liat di kaca ada jerawat muncul padahal sebelumnya baik-baik aja. Ato mungkin ada yang kaget nemuin flek di wajah padahal ga ngerasa abis kena sinar matahari. Iyaaa, kondisi yang kayak gitu emang kudu di-treatment. Tapiii yang jadi masalahnya adalah mereka berpikir dengan menjalani treatment, insecure-nya jadi ilang seketika. Jadi prosedur perawatan kulit dianggap sebagai solusi instan buat memperbaiki rasa percaya diri mereka yang sedang terluka. Emang bener sih, kulit dikasi treatment khusus emang bisa mengembalikan kondisi kulit seperti sedia kala sebelum ada cela. Tapi apakah seinstan itu?

Gini, saya selaaalu menekankan bahwa treatment yang berfaedah itu adalah treatment yang prosedurnya dijalankan dengan baik dan secara reguler. Ini tentunya untuk kasus yang relevan ya. Kalo treatment kulit itu kudu banget diulang supaya hasil akhirnya sesuai dengan harapan dan berefek lama. Nah, kalo kita treatment cuma karena lagi insecure dan ngerasa ada yang salah aja sama kita, ga bakal tuh, efektif. Misalnya nih, ada yang lagi kena masalah flek. Sekali treatment udah ilang, misalnya. Trus kita udah pe-de lagi kan dong ya. Trus berenti treatment. Ntar ga berapa lama, muncul lagi deh. Kenapa? Karena yang namanya flek itu complicated. Bisa ditreatment, tapi kalo ga reguler bakal muncul lagi, muncul lagi. Kitanya down lagi, down lagi. Treatment lagi, treatment lagi. Ilang lagi, berenti treatment lagi, muncul lagi. Gitu aja terus sampe manusia pindah ke Mars.

Treatment kulit itu ga seinstan itu. Ada tatacaranya, instruksinya, jadwalnya, perulangannya, yang semuanya sebaiknya dijalani supaya hasil akhirnya lebih memuaskan dan dampak psikologisnya bisa lebih menyeluruh. Jangan pas jerawatan, trus dikasi obat sama dokter kecantikan wajah, trus seneng kan karena jerawatnya ilang; eh, dianya juga ikutan ilang. Ga ada kabarnya lagi, ga kontrol, ga apa. Tau-tau nanti nongoool aja deh, ngeluh jerawatnya dateng lagi. Kalo kita mah, seneng-seneng aja ngasi resep ato laser sana, suntik sini. Tapi kan kasian si pasien kan, kulitnya kaga bagus-bagus, insecure-nya makin parah, idupnya ga hepi.

Kalo saya sebagai pelaku dunia estetika, kudu banget mastiin si pasien hepi. Makanya saya selaaalu nyempetin ngobrol sama pasien sebelum prosedur, selalu saya memastikan bahwa ada cukup waktu supaya interaksi dengan si pasien bisa terbentuk dengan lebih baik. Ga main, “Oh, silakan ke ruang sebelah sana; nanti ada asisten saya yang bantu.” Saya tanya dulu si pasien, “Motivasinya apa dateng ke klinik?” Setelah paham, baru deh lanjut ke tindakan-tindakan. Dan saya selalu mastiin bahwa tangan sayalah yang langsung bekerja menyentuh kulit si pasien, bukan asisten, bukan dokter magang, bukan mas-mas ojek yang nganterin pesenan makanan ke klinik. Enggaaa. Kenapa seperti itu? Karena saya kepingin relasi yang baik dengan pasien itu terbangun mulai dari bikin janji, ketemuan, prosedur, saaampe si pasien jalan keluar dari klinik. Saya mau memberikan sebuah nilai happiness pada pasien melalui pekerjaan saya. I want to deliver happiness through the things I do. Saya mau pasien hepi dulu, sesederhana itu.

Eh, ini ga berarti saya bisa mengukur apakah pasien bahagia ato engga ya. Saya bukan siapa-siapa yang bisa ngeklaim, “Oh, kamu ga bahagia niii.” Siapa gue kan….

Tapi seengganya saya bisa nyoba bantu pasien buat memilah-milah, mana yang mereka lakukan berdasarkan hasrat singkat semata, mana yang memang mereka butuhkan saat itu. Saya mau ngajak kita semua buat mencerdaskan diri dalam memandang sebuah kondisi, udah gitu aja. Saya mau pasien saya mampu memahami persoalan yang sedang mereka hadapi. Saya mau pasien saya tau dulu apa yang kudu di-enhance di diri mereka sebelum datang ke klinik dan menjalani prosedur. Saya mau pasien saya ngerti kalo efektivitas sebuah treatment itu ga didapet begitu aja setelah satu kali prosedur melainkan dari usaha berulang dan kesadaran diri.

Iya, saya emang banyak maunya….

Tapi ini bukan hal yang ga pernah terjadi loh. Ada pasien yang datang dengan keluhan jerawat. Dikasi obat sekali, sembuh. Tapi terus makannya ga karuan. Makeup ga dihapus sempurna sebelum tidur. Kan kacau. Obatnya efektif, tapi ga diimbangi dengan perbaikan pola hidup. Ini nih, tanda-tandanya orang yang datang ke klinik cuma karena gangguan kepercayaan diri sesaat. Dokter kulit dan kecantikan dijadiin solusi instan yang efeknya bisa permanen. Ya ga bisalah!

Makanya saya selalu nyoba buat ngobrol dulu panjang lebar sama pasien sebelum treatment. Saya ga mau kalo skincare dijadiin sebuah jalan keluar yang efeknya superficial, cuma di permukaan doang. Sekali masalahnya ilang, ilang juga ketekunan. Nanti percaya diri-nya juga ga permanen. Nah kalo kita gampang ga percaya sama diri sendiri cuma karena jerawat ato flek, otomatis kita juga sering ga hepi. Nah kalo udah ga hepi, semuanya jadi serba salah.

Penting juga ni, milih klinik yang tepat karena ga semua klinik paham apa yang jadi kebutuhan pasiennya. Bukannya mau jelek-jelekin yaaa; tapi ini jadi pe-er banget buat kita semua supaya lebih jeli dalam memilih sesuatu. Kenali dulu apa yang menjadi kebutuhan kita dalam melakukan perawatan kulit baru deh, dicocokin sama apa yang menjadi tawaran dari sebuah klinik. Cari tau juga apakah si klinik mampu meng-cover kebutuhan kita sebagai pasien, jangan cuma nyari tau tentang diskon sama promo-promo. Dapet diskon menarik ato promo yang menggiurkan tapi ternyata servis yang ditawarkan bukan apa yang kita butuh juga kan jadi sia-sia.

Saya mau pasien saya paham betul kondisi kulitnya dan apa yang menyebabkan permasalahan. Saya mau rasa percaya diri pasien saya ga gampang goyah. Saya mau pasien saya konsisten menjalani treatment yang secara sadar udah dia pilih; ga dateng pas lagi down, terus ngilang. Sakit tau, ditinggal gitu aja…. Saya mau pasien saya semuanya hepi. Saya mau pasien saya bisa leluasa mengungkapkan apa isi hatinya karena dari situ bisa kita rumuskan pola treatment yang efektif. Saya mau membantu pasien saya mengembalikan rasa percaya dirinya yang luntur. Saya mau pasien saya sayang sama dirinya sendiri dulu sebelum memikirkan bagaimana orang lain bisa menyayangi dia. Saya mau pasien saya memilih untuk meng-enhance kulit mereka bukan karena cuma itu yang menjadi tolok ukur mereka menilai diri sendiri. Saya mau pasien saya paham bahwa ketika mereka memusatkan seluruh perhatian dan energi mereka ke jerawat di idung ato flek di pipi, life goes on nonetheless. Saya mau pasien saya bisa mengatasi problem kulit mereka dengan hepi, bukan dijadikan beban yang bikin lesu dan malas berangkat ke kantor ato ngapain aja. Saya mau saya, keluarga saya, pasien saya, temen-temen saya, adek-kakak-nya temen saya, sodara-nya pasien saya, mamas ojek yang nganter pasien ke klinik, mbak-mbak yang jualan makanan yang saya pesen, semuaaanya bahagia.

Iya, saya emang banyak maunya….

Bumil dan Busui Skincare-an? Emang Ga Bahaya, Gitu?

Pasti pada paham dong ya, skin care itu penting. Yang lebih penting lagi adalah membentuk rutinitas perawatan kulit untuk hasil yang maksimal. Di banyak kasus, perawatan kulit yang secara rutin dilakukan dan dengan cara yang tepat bisa menjadi kunci untuk mendapatkan kulit yang glowing, segar, sehat, dan awet muda. Naaah, yang jadi pokok pembicaraan sekarang tuh, skincare untuk ibu hamil. Masa kehamilan adalah periode yang pastinya membahagiakan untuk semua perempuan. Tapiii, waktu hamil juga di saat yang sama bisa menjadi masa-masa yang penuh stres. Makan jadi kagok, takut ga dibolein. Kopi jadi dilema buat perempuan pencinta kafein. Aktivitas jadi kikuk, takut ada yang salah. Hal yang sama juga pasti dirasakan ibu-ibu hamil dan menyusui kalo udah soal skincare. Beberapa malah memutuskan untuk membiarkan kulitnya ga terawat selama kehamilan karena satu keraguan: Apakah nanti produk perawatan yang dipakai tidak akan berpengaruh pada janin yang dikandung? Hasilnya, kulit jadi kusam. Tau sendiri kan, masa kehamilan itu penuh dengan produksi hormon yang fluktuatif dan ini bikin kulit jadi salah satu yang terkena dampaknya.

Ibu hamil juga perlu perawatan kulit

Berdasarkan diskusi dengan dokter oktavianus wahyu spog., saya menyimpulkan bahwa selain dari hal-hal yang jelas berbahaya (alkohol dan rokok, misalnya) bagi kehamilan, ga ada kok, yang ga boleh untuk digunakan oleh bumil dan busui. Yang ada tuh, keharusan buat memperhatikan komposisi ingredients-nya. Memang ada beberapa bahan yang lazim ditemukan dalam produk-produk kecantikan dan perawatan kulit yang bisa berbahaya baik untuk ibu hamil maupun yang menyusui. Selagi bahan-baahan itu dihindari, sah-sah aja kok, melakukan perawatan. Skincare itu hak azazi semua anak bangsa loooh, termasuk bumil dan busui. Perempuan hamil dan ibu-ibu menyusui punya hak yang sama dengan yang lain untuk tetap terlihat cantik dan menawan dari masa kehamilan sampai periode menyusui saaampai nanti-nanti juga. Hidup kesetaraan hak untuk menjadi cantik! Perjuangkan hak-hak ibu-ibu untuk tetap terlihat awet muda!

Oke-oke, saya berhenti orasi….

Apa Aja Yang Berbahaya?

Naaah, muncul deh, pertanyaan berikutnya: “Kalo gitu apa sih, Dok, skincare yang aman untuk ibu hamil dan menyusui?”

Biarkan saya memulai dengan mengatakan bahwa jawaban untuk pertanyaan itu sedikit tricky. Sedikit rumit-rumit simpel.

Gimana sih, Dok?

Sabaaar…. Gini. Ketika hamil, kita kudu banget waspada dalam 2 hal: Terhadap bahan-bahan yang berbahaya untuk kita DAN untuk si bayi dalam kandungan. Ketika lepas melahirkan dan masuk periode menyusui, risiko untuk pribadi mungkin menurun tapi risiko untuk si bayi masih tetap tinggi karena potensi transfer komposisi kimia sangat besar melalui air susu yang diberikan. Di sini letak rumitnya. Kudu pake banget baca komposisi dalam suatu produk. Buat amannya sih, ya konsultasi ke dokter. Jangan deh, coba-coba ini-itu tanpa tau efek samping. Inget, kita bertanggung jawab untuk menjaga kesehatan si anak. Sisi simpelnya ya itu tadi, setelah tau apa-apa yang menjadi larangan dan masuk blacklist, hindari dan semua akan baik-baik saja.

Apa aja bahan-bahan skincare yang tidak boleh untuk ibu hamil?

  1. Retinol, retin-A, asam retinoat, dan tazaratene. Bahan-bahan turunan vitamin A ini emang ajaib banget dan ampuh buat bikin kulit halus. Tapiii, penggunaannya bisa mengganggu perkembangan janin dan yang paling bikin ngeri adalah potensinya untuk menyebabkan cacat dari lahir.
  2. Hydroquinone dan benzoyl peroxide. Keduanya adalah bahan aktif pemutih kulit. Kenapa harus dihindari? Uji coba pada hewan menunjukkan keduanya memiliku potensi karsinogenik yang tinggi.
  3. Asam salisilat dan produk-produk yang mengandung asam salisilat, termasuk aspirin.

Kesemuanya sebaiknya dihindari. Tapi dari 3 kelompok itu, retinol dan hydroquinone adalah yang paling wajib diwaspadai karena keduanya termasuk yang umum ditemukan dalam produk perawatan kulit. Aspirin masuk ke dalam kategori abu-abu; sebagian pakar tidak menganjurkan sama sekali, sebagian lain membolehkan tapi dalam dosis yang rendah terutama untuk pasien yang memang kondisinya memerlukan perawatan berbasis salisilat. Lagi-lagi, sebaiknya konsultasi dulu ke dokter kulit dan dokter Sp. OG buat mastiin semuanya aman. Anjuran dan instruksi dari pakar harus diikuti ya.

Hydroquinone

Hydroquinone

Sebagai salah satu bahan yang sering ditambahkan dalam produk perawatan kulit, hydroquinone bisa dibilang primadona yang sedang naik daun. Dan itu bukan tanpa alasan. Bahan ini diklaim ampuh mencerahkan kulit karena kemampuannya untuk menekan jumlah melanin dalam kulit. Makanya dia banyak ditemukan dalam produk-produk yang menargetkan kondisi hiperpigmentasi kulit seperti bekas jerawat, melasma, age spot, dan sun spot. Hydroquinone sudah digunakan sejak abad ke-19 tapi kontroversinya muncul relatif baru-baru ini. Tahun 2006, U.S. Food and Drug Administration mengadakan penelitian yang mengungkap sejumlah risiko kesehatan yang dibawa oleh bahan kimia turunan benzena ini. Secara umum hydroquinone berpotensi menyebabkan ochronosis, photosensitivity, reaksi alergi. Ochronosis adalah jenis kerusakan kulit yang justru menimbulkan noda gelap kebiruan atau abu-abu. Photosensitivity adalah kondisi kulit yang terlalu sensitif terhadap sinar UV. Kulit yang di-treatment menggunakan hydroquinone sebaiknya dilapisi dengan sunscreen supaya tidak terbakar matahari. Reaksi alergi sebetulnya efek yang masih langka dari penggunaan hydroquinone. Beberapa individu yang sangat sensitif bisa mengalami pembengkakan pada mulut, sensasi tersengat pada kulit, dan kesulitan bernapas.

Belum ada riset yang secara pasti menegaskan bahaya hydroquinone untuk ibu hamil dan menyusui. Uji coba klinis masih terbatas pada hewan tapi hasilnya seharusnya cukup untuk membuat ibu-ibu mikir dua kali buat make hydroquinone pas hamil. Sebagai tambahan, zat ini punya tingkat serapan yang terbilang tinggi ke dalam kulit, sekitar 35-45%. Emang sih, hydroquinone adalah bahan yang paling efektif buat mencerahkan wajah, tapi apa ga takut make produk yang segitu gampang diserap kulit pada saat hamil dan menyusui sementara efek sampingnya masih jadi sumber perdebatan?

Arbutin

Sebagai alternatif, ada bahan lain yang bisa digunakan untuk mencerahkan kulit. Kojic acid, misalnya. Asam ini dihasilnya dari proses fermentasi minuman sake dan bisa dijadikan pertimbangan. Ada juga arbutin yang diekstrak dari daun bearberry. Arbutin adalah hydroquinone alami, struktur kimianya mirip dengan yang sintetis. Ada lagi yang namanya azelaic acid yang diturunkan dari jamur Pityrosporum ovale, yang jauh lebih soft daripada hydroquinone. Niacinamide juga bisa masuk itungan. Antioksidan yang diekstrak dari tumbuh-tumbuhan ini lebih aman digunakan karena struktur kimianya lebih stabil.

Retinol dan Retinoid

Di saat hamil, ada dua hal yang menjadi concern terbesar: kulit kusam dan terlihat tua dan jerawat. Treatment anti-aging bisa diambil untuk kasus pertama sementara treatment jerawat bisa mengatasi yang kedua. Yang jadi masalah adalah produk-produk anti-aging sebagian besar mengadung retinol dan perawatan jerawat memakai retinoid supaya efektif. Dan keduanya membawa risiko besar untuk ibu hamil.

Retinol diturunkan dari vitamin A dan dikenal dengan nama yang berbeda-beda (Accutane, retinyl palmitate, atau Retin-A). Retinol dikenal ampuh mengatasi tanda-tanda penuaan dini pada kulit. Tapiii, efek samping retinol untuk ibu hamil juga berisiko besar, terutama jika dosisnya terlampau berlebihan. Potensi merusak zat ini muncul pada naiknya risiko kecacatan janin seperti kelainan otak, jantung, tulang belakang, kepala, dan wajah. Jumlah retinol yang diserap kulit sebenernya ga banyak. Tapi risiko yang terlalu besar bikin lebih baik sama sekali dihentikan penggunaannya seengganya sampai si bayi lahir. Selama kehamilan dan menyusui sebaiknya beralih ke sunscreen biasa aja supaya aman.

Retinoid mengandung komposisi yang terdiri dari tretinoin, tazarotene, isotretinoin, bexarotene, alitretinoin, adapalene, dan citretin. Retinoid umumnya dimanfaatkan sebagai bahan aktif penghilang jerawat dan psoriasis, dikonsumsi secara oral maupun topikal. Penggunaan topikal (dioles) terhitung aman untuk janin ketimbang oral (diminum) karena persentase zat yang diserap jauh lebih kecil sehingga potensi transfernya ke kandungan pun minim. Tapiii, menurut European Medicines Agency, retinoid punya efek samping berupa gangguan saraf baik pada ibu maupun janin. Jadiii, mending ga usah pake sama sekali deh supaya risiko bisa ditekan seminimal mungkin.

Azelaic acid

Nah, kalo untuk jerawat mungkin sifatnya lebih ke perawatan per kasus nih ya, asal dominan bahan alami dan ga ada retinoid, relatif aman. Atau boleh coba azelaic acid yang bisa melawan jerawat sekaligus hiperpigmentasi. Tapiii, apa dong Dok, alternatif retinol untuk ibu hamil? Kan tetep pingin keliatan muda walopun lagi hamil.

  1. Coba pake ekstrak kedelai. Kandungan di dalam ekstrak kedelai serupa dengan asam retinoat yang dalam retinol. Ekstrak kedelai bisa merangsang fibroblast, sel-sel kulit yang memproduksi kolagen, tanpa efek kering pada kulit seperti yang lazim ditemukan dalam penggunaan retinol. Kekurangannya cuma satu: Ekstrak kedelai punya efek mirip estrogen yang kadang malah memperburuk pigmentasi kulit terutama pada kulit gelap ato kondisi melasma (noda gelap yang sering muncul saat kehamilan). Tapi ada kok, produk ekstrak kedelai yang dikemas tanpa efek samping mirip estrogen ini.
  2. Vitamin C juga punya andil dalam pembentukan kolagen. Vitamin C punya komponen antioksidan yang melindungi sel kulit dari kerusakan penuaan dini dengan cara menekan radikal bebas yang sering muncul ketika kulit terpapar sinar matahari.
  3. Kojic acid memberikan hasil serupa dengan retinol tanpa efek samping yang sama. Penggunaan retinol utamanya menghasilkan kulit yang bebas dari garis-garis halus. Efek pencerah kulit dari retinol, di lain pihak, didapat dari kemampuannya untuk mempertebal lapisan dermis dan mengikis lapisan sel kulit mati di permukaan kulit. Kojic acid yang diturunkan dari jamur bekerja dengan cara yang lebih simpel: Zat ini menekan enzim pembentuk pigmen kulit.

    Kojic acid

  4. Glycolic acid bisa menghilangkan minyak berlebih dan mengikis sel kulit mati. Penggunaan asam ini menyebabkan luka-luka mikroskopik pada permukaan kulit yang merangsang pembentukan kolagen. Produk glycolic acid dari dokter kulit biasanya mengandung konsentrasi sebesar 40%. Tapi produk non-resep dengan konsentrasi rendah pun tetap punya efek yang menjanjikan. Tapiii, kesamaannya dengan retinol adalah keduanya sama-sama meningkatkan sensitivitas terhadap sinar UV. Gunakan sunscreen untuk perlindungan tambahan ya.

Glycolic acid

Konklusi

Kita udah panjang-lebar ngebahas skincare untuk ibu menyusui dan ibu hamil. Udah butek juga pasti kan, liat nama-nama zat kimia? Jadi, intinya apa? Pembahasan kali ini bukan dimaksudkan supaya bukibuk semua parno. Engga, sama sekali engga. Kehamilan itu, suka ga suka, adalah masa penuh tekanan, Buk. Kalo mau dibahas parno, wah semua hal bisa bikin takut. Megang ini, takut. Ngelakuin itu, ragu. Makan ini, minum itu, mikir panjang dan lama. Ini cuma sekadar ngingetin, ngerawat kulit itu harus dilakuin sekalipun lagi hamil ato menyusui. Punya janin yang lagi di kandungan, punya bayi yang lagi disusui, semuanya ga boleh jadi alasan buat skip perawatan. Jangan skincare yang dihindari karena mikir zat kimianya pasti berbahaya. Sekarang gini, okelah takut treatment, okelah niatnya meminimalisasi zat kimia ke dalam janin. Tapi siapa yang bisa jamin risiko ga bakal dateng dari sumber lain? Air yang diminum bisa jadi sumber masalah. Makanan yang masuk bisa jadi perkara. Udara yang dihirup bisa bikin prahara.

Ngeri kan? Iya, emang ngeri—kalo kita cuma fokus ke risiko. Identifikasi kondisi dan risiko. Telaah dulu benerbener. Baru deh, ambil tindakan. Selama kita tau kandungan skincare untuk ibu hamil dan ibu menyusui yang aman, perawatan kulit ga bisa dilewatin gitu aja. Kalo emang ga berani treatment sendiri di rumah, ke dokter dulu. Tanya ini-itu. Perluas dulu pengetahuan, jangan buru-buru parno. Dokter biasanya paham kondisi ibu hamil dan menyusui dan harusnya tau mana yang berbahaya, mana yang masih meragukan, dan mana yang aman. Perhatian lebih sebaiknya juga diberikan untuk memilah bahan skincare berdasar tingkat bahaya karena nanti efeknya bakal kerasa lewat pemberian ASI.

Emang ke klinik pas kondisi hamil atau menyusui ga dilarang, Dok? Nah lo…. Ga ada yang larang. Bumil dan busui gapapa ke klinik buat treatment kulit. Jangan salah, treatment kulit khusus buat bumil dan busui itu adaaa. Apa aja treatment dan di mana treatment-nya bisa dilakuin? Nah, bagian ini bisa dijawab dengan nanya ke admin klinik DRYD. Di sana ada justru udah disiapin tipe treatment yang emang khusus diperuntukkan buat bumil dan busui. Semua prosedur juga ada di bawah monitor dan kontrol dokter SPOG jadi keamanannya bisa dimaksimalkan.

Jadi gitu. Ibu hamil juga punya hak buat cantik. Ibu menyusui juga berhak terlihat awet muda. Ibu-ibu ga boleh kalah sama yang belum ada di fase itu. Semua berhak untuk cantik! Semua berhak untuk glowing! Hidup glowing! Ayo perjuangkan kesetaraan hak untuk glowing!

Iya-iya, saya berhenti orasi….