Meeting Internal Keluarga: Mengajarkan Demokrasi Sejak Dini

Kayanya, kalo udah ngomongin masalah bentuk pemerintahan, semua pasti setuju ya, kalo demokrasi adalah tipe yang paling ideal. Idealnya, dengan membawa paham yang satu ini, pemerintahan negara berjalan berdasar keinginan rakyat, pemimpin berperan lebih sebagai pelaksana. Idealnya, ya itu; praktiknya mah, ga tau juga yeee….

Tenang-tenang, Teman DRYD, kita ga lagi mau bahas perkara tata negara. Dokter Yusri ga lagi mau merambah ranah politik kok. Masih di sini-sini aja nemenin Teman-teman mencari jalan dan solusi terbaik untuk mendapatkan kulit yang senantiasa glowing.

Trus kenapa bawa-bawa bentuk pemerintahan, Dok?”

Kali ini saya berniat membawa bentuk pemerintahan demokratis ke ranah parenting. Kok bisa? Ya bisa, dong. Keluarga dan rumah tangga itu kan sama aja kaya negara kecil. Ada kepalanya, ada mentrinya, dan ada rakyatnya. Umumnya, kepala negara dalam sebuah rumah tangga adalah bapak, ibu ada di sampingnya sebagai mentri yang memberikan dukungan kepada si pemimpin. Umumnya begitu. Rakyatnya siapa? Ya anak-anak, dong, siapa lagi?

Dengan analogi seperti ini, bentuk pemerintahan yang demokratis bisa diterapkan juga loh. Cara membina rumah tangga yang didasari atas kepentingan bersama ini justru bisa menciptakan dinamika keluarga yang lebih sehat dan terbuka. Coba deh, Teman-teman bayangin kalo sebuah rumah tangga dijalankan dengan cara yang otoriter. Orangtua memegang peran tirani yang titahnya ga bisa dipatahkan sama sekali. Anak ga punya celah untuk mengungkapkan pendapat dan dipandang sebagai rakyat jelata yang sebaiknya nurut aja apa kata yang lebih tua.

Emang iyaaa, yang namanya anak-anak pastinya belum terbiasa dengan yang namanya memilah sesuatu berdasarkan benar-salah. Mereka bertindak berdasar naluri dan keinginan dan asal hepi aja. Dan tindakan orangtua untuk menuntun anak-anaknya yang belum tahu apa-apa itu juga udah semestinya. Tapi kan ga berarti kalo anak ga berhak punya pendapat sendiri atau sekadar menyampaikan aspirasinya. Kita yang orang dewasa lah yang selanjutnya menyaring apakah pendapat atau keinginan si anak akan berdampak baik untuk dirinya sendiri dan untuk keutuhan dan kedaulatan rumah tangga secara umum. Udah kaya pelajaran Tata Negara aja ini pake bawa-bawa kedaulatan segala.

Tapi beneran deh, biasanya anak yang tumbuh dalam keluarga yang diktator itu biasanya akan jadi kepribadian yang problematis. Ini bukan judgment loh ya; tapi emang banyak banget kasus semacam itu. Ada anak yang jadi individu yang depresi pas gedenya. Ada yang jadi kaku dan frigid. Ada yang maunya serba harus dituruti. Sementara anak yang berkembang dalam keluarga yang open dan serba gamblang biasanya gedenya nanti jauh lebih fleksibel, mudah bergaul, dan lebih positif sikapnya terhadap kritikan dari orang lain.

Menerapkan demokrasi dalam keluarga itu ga susah sebenernya. Cuma kadang ego kita sebagai orangtua terlalu gede yang akhirnya membuat kita sering menyepelekan perasaan dan pandangan dari anak-anak. Gimana caranya menerapkan paham ini dalam level dasar seperti sebuah keluarga?

  1. Budayakan kebiasaan melindungi hak-hak anggota keluarga

Semua manusia itu punya hak azazi: hak untuk mendapatkan pemenuhan terhadap kebutuhan, hak hidup dengan aman, dan hak untuk memberi dan menerima kasih sayang. Semua anggota keluarga perlu menyadari hak mereka sendiri dan menghargai hak yang dimiliki oleh pihak lain. dari sisi anak-anak sendiri ada 10 macam hak azazi yang ditetapkan oleh PBB dalam Konvensi Hak Anak tahun 1989: hak bermain, hak mendapatkan pendidikan, hak mendapatkan perlindungan, hak mendapatkan nama atau identitas, hak memiliki status kebangsaan, hak untuk mendapatkan makanan dan akses kesehatan, hak untuk berekreasi, hak untuk mendapatkan kesamaan, dan hak dalam berperan di pembangunan. Coba deh Teman DRYD telaah lagi, apakah kesemua hak anak ini udah Teman-teman penuhi untuk si buah hati.

  1. Ajarkan menjaga komunikasi

Yang namanya rumah tangga atau keluarga itu adalah tempat pertama bagi anak-anak untuk belajar bersosialisasi. Nah, bersosialisasi yang benar itu adalah dengan cara menjaga jalur komunikasi terbuka secara dua arah. Ini mencakup komunikasi antara kedua orangtua, antara orangtua dan anak, dan antara sesama anak (jika ada). Ajarkan anak-anak cara berkomunikasi yang benar agar mereka mampu mendengarkan orang lain dengan baik, tidak berkembang menjadi pribadi yang egois, dan memiliki kemampuan empati yang tinggi.

Supaya semuanya bisa berjalan dengan natural dan sehat, sebaiknya budaya berkomunikasi ini diterapkan sejak si anak masih bayi. Gimana caranya? Coba libatkan anak dalam percakapan—sesuai batasan, tentunya. Minta pendapatnya dan biarkan dia mengutarakan isi kepalanya, sekalipun pendapatnya itu kedengeran ga masuk akal. Yaaa, namanya juga anak-anak. Jangan lupa juga tanyakan apa yang ia rasakan dan ungkapkan apa yang kita rasakan. Coba deh, belajar buang jauh-jauh anggapan bahwa anak masih terlalu kecil untuk dilibatkan. Ini cuma perkara pemilihan kata aja kok. Kosakata anak-anak masih terlalu terbatas jadi sesuaiin aja cara penyampaian kita kepada mereka.

  1. Normalisasi hormat-menghormati dan saling sayang menyayangi

Udah ga jamannya beranggapan orangtua adalah yang paling powerful dan karenanya adalah yang paling pantas untuk dihormati. Sekarang tuh, coba terapkan prinsip “hargai saya dan saya akan menghormati kamu”.

  1. Terbukalah akan kritik dan pendapat

Ingat ya, Teman-teman, yang namanya demokratisasi keluarga pasti diwarnai ketidaksepahaman dan silang pendapat. Dari sini muncul kritikan. Orangtua ga sempurna jadi juga ga luput dari kritikan yang anak lancarkan. Ini sah-sah aja ya. Justru ini adalah pola dinamika yang sehat karena semua elemen keluarga punya hak yang setara dalam soal melancarkan kritik. Tapi pastikan kita udah ngajarin anak cara menyampaikan pendapat dan kritik dengan benar. Sebaliknya, ketika kita mengkritik anak, sebaiknya juga kita dampingi dirinya supaya mengerti gimana seharusnya bersikap ketika dikritik.

  1. Jangan pernah mendiskriminasi

Demokrasi yang ideal adalah lingkungan yang bebas diskriminasi dalam bentuk apa pun. Rasa aman dan nyaman adalah hak semua anggota keluarga jadi jangan pernah ada yang namanya kekerasan psikis, verbal, atau juga fisik.

  1. Tanamkan pola tugas dan kewajiban

Yang namanya kesetaraan hak pasti juga disertai dengan keadilan dalam hal kewajiban. Pembagian tugas rumah tangga harus adil, bukan sejajar. Karena kalau berdasarkan kesejajaran, berarti anak juga mengemban tugas untuk nyari nafkah, dong? Penekanan harus diberikan pada prinsip keadilan dan kesesuaian. Bapak ada tugas dan kewajibannya. Begitu juga dengan ibu dan anak-anak. Anak-anak punya kewajiban juga? Iya, dong. Tugas-tugas sederhana seperti mematikan lampu kamar atau merapikan mainan mereka sendiri juga termasuk kewajiban. Lagi-lagi, semua harus sesuai dengan umur dan kemampuan masing-masing, ya.

  1. Biasakan bermusyawarah

Setiap keputusan internal rumah tangga harus diambil berdasarkan musyawarah. Ga perlu rapat formal; suasana santai pun bisa jadi ajang bermusyawarah keluarga loh.

Keluarga saya sendiri menerapkan contoh demokrasi di lingkungan keluarga seperti ini terutama di poin terakhir. Biasanya, setiap akhir bulan seluruh anggota keluarga inti: bapak, ibu, saya, dan adik-adik saya akan berkumpul untuk meeting internal. Apa aja manfaat yang saya rasakan?

Pertama, bonding antara anggota keluarga jadi lebih erat karena dalam rapat bulanan ini kami ada dalam situasi yang lebih hangat dan akrab.

Kedua, saya merasakan pola komunikasi yang lebih efisien dan efektif karena diskusi ga cuma berlangsung di belakang layar antara bapak dan ibu tapi juga antara mereka dan kami para anak serta antara sesama anak-anak. Kita jadi paham proses pengambilan keputusan yang akan diterapkan dan bebas mempertanyakan kebijakan dari orangtua juga.

Ketiga, semua elemen dalam keluarga bebas membicarakan apa aja, mulai dari ada kejadian apa selama sebulan ini, ada perkembangan apa, ada hal baru apa yang sedang dikerjakan, saaampai ke hal-hal yang rada berat dan membutuhkan keputusan bersama. Topik emang bebas, tapi bukan ga ada batesan ya. Hal-hal tertentu yang sifatnya personal dan sensitif biasanya dibicarakan dengan cara pendekatan yang lebih privat juga. Biasanya salah satu atau kedua orangtua akan “menarik” satu anak ke “pinggir” dan mulai deh di-interview.

“Lah, katanya open, Dok? Kok main sembunyi-sembunyi ngobrolnya?”

Ya kalo topiknya terlalu sensitif dan berpotensi mempermalukan si anggota keluarga terkait di depan publik, masa iya harus dibahas terbuka juga? Kan demokrasi itu menjamin rasa aman dan nyama setiap anggota. Kalo malu jadinya ga nyaman lagi dong.

Tapi itu sekadar contoh yaaa. Setiap keluarga pasti punya ciri khas tersendiri yang mungkin bikin metode yang ada di keluarga saya sedikit ga efektif untuk diterapkan. Gapapa. Berdemokrasi itu fleksibel aja kok asal kesejahteraan setiap anggota keluarga tetap terjamin. Kalo emang kayanya lebih aman kalo dimulai dengan “di balik layar” dan cara pendekatan yang selalu personal dan privat, ya monggo. Asal ga berdampak negatif secara global (cie global… apasiii   ?), ya gapapa. Intinya sih, apa pun caranya, gimanapun metodenya, semua anggota keluarga harus dijamin hak dan diminta pertanggungjawabannya.

Mengasuh Anak dengan Cara yang Apa Adanya

Teman DRYD,

Udah maksimal belum dalam memastikan anak hepi dan bertumbuh-kembang dengan baik? Ini bukan judgment loh ya, Teman-teman, cuma pertanyaan sederhana yang bahkan mungkin tanpa perlu diajukan sekalipun udah ada dalam kepala kita semua. Salah satu dari banyak concerns kita sebagai orang tua adalah memastikan si buah hati tidak memiliki hambatan yang berarti dalam prosesnya mendewasa. Dan salah satu cara untuk bisa melancarkan proses perkembangan anak itu adalah dengan membuatnya bahagia di rumah.

Rumah yang terasa hangat dan energetik adalah sumber kebahagiaan anak yang mutlak. Anak tidak akan bisa bertumbuh dan berkembang dengan relatif sempurna jika lingkungan intinya tidak akomodatif dan sehat. Peran kita dalam hal ini adalah membentuk lingkungan akomodatif tersebut.

Sebenernya mencari tahu dan mengukur kadar apakah anak itu sehat atau tidak adalah suatu hal yang sedikit kompleks. Kita perlu jadi supersensitif terhadap perubahan sekecil apa pun pada anak, superkritis terhadap diri sendiri dan cara-cara pengasuhan anak yang dipakai, super-willing buat mengevaluasi dan mengoreksi diri, supertajam dalam menganalisa keadaan, superikhlas dalam mempersembahkan banyak faktor untuk anak (waktu, ruang, energi), dan superfleksibel dalam menyediakan perhatian khusus untuk si buah hati.

Terdengar rumit, kan? Emang iya. Saya ga bosen-bosen ngingetin kalo membesarkan anak itu tugas yang saaangat ribet. Keliatannya aja yang gampang, apalagi kalo kita lebih banyak ngeliat keluar dan cuma yang enak-enaknya aja. Sekali diterapin sendiri bisa keteteran. Bisa terjerat sendiri dalam serangkaian kerumitan menjadi orang tua.

Tapi sebagai guidelines mendasar, ada kok parameter penilaian apakah anak sehat di rumah dan ini dibagi menjadi dua tipe: jasmani dan rohani.

Ciri-ciri anak yang jasmaninya sehat relatif lebih mudah untuk diobservasi:

  1. Aktif

Anak yang secara fisik aktif adalah anak yang cukup sering bergerak sehingga makanan yang ia konsumsi bisa diubah menjadi energi secara konsisten. Efeknya apa dari anak yang dinamis? Kepercayaan dirinya lebih besar, konsentrasinya lebih tinggi, lebih mudah bersosialisasi, berbagi dan bekerja sama dengan orang pun akan menjadi suatu hal yang alami buat si anak. Organ-organ dalamnya juga lebih kuat dan maksimal dalam bekerja.

  1. Tumbuh

Agak ga fair sebenernya kalo mau memberikan penilaian kesehatan anak dari sisi pertumbuhannya karena setiap anak adalah individu berbeda yang memiliki laju tumbuh-kembang yang berbeda-beda juga. Penambahan tinggi dan berat adalah 2 hal yang cukup konstan untuk ditilik di setiap anak: Proses ini semestinya berlangsung secara proporsional dan menunjukkan peningkatan signifikan, terutama di masa pubertas.

  1. Tubuh

Menilai kesehatan anak secara jasmani bisa jauh lebih mudah apabila si anak emang nunjukin ciri-ciri yang sehat. Kulitnya sehat ga bentol-bentil atau kering, rambutnya ga rontok dan ga ada kutu di kepala, kukunya bersih dan kuat, lidahnya kemerahan, mulutnya ga bau, dan giginya ga ada lubang atau karang.

Ciri-ciri anak yang rohaninya sehat cuma bisa diamati dengan peninjauan ekstensif dan komprehensi karena berkenaan erat dengan aspek-aspek seperti kemampuan akademik, kepribadian, dan sikap, tapi umumnya:

  1. Emosinya lebih stabil

Perilakunya secara umum baik dan sopan dan ga suka tantrum. Agresivitasnya pun masih dalam skala masuk akal. Si anak jarang terlihat sedih dan ga narik dirinya tiba-tiba.

  1. Kepercayaan dirinya tinggi dan sifatnya ceria

Si anak tampak lebih menikmati hidupnya dan jauh dari yang namanya cemas berlebihan.

  1. Sifatnya supel

Kemandirian bisa diamati dalam dirinya dan ini membuatnya lebih mudah bergaul tanpa menghindari dunia sosial di sekitarnya.

  1. Lebih mudah belajar

Konsentrasinya terjaga dengan baik dan mampu menyerap pelajaran di sekolah dengan relatif baik pula.

  1. Istirahatnya cukup

Buah hati ga mengalami kesulitan dalam beristirahat dan ga ada gangguan tidur—ga sulit tidur atau tidurnya kelamaan.

Tentunya ini cuma general guidelines ya. Ga mesti semuanya harus sesuai dengan apa yang dijabarkan di atas, lebih bersifat berdasarkan kasus aja. Yang perlu diingat juga adalah anak-anak masih mempelajari cara berkomunikasi yang baik dan efektif jadi akan selalu ada kemungkinan dia menyimpan sendiri kendala yang ia hadapi. Kitalah yang perlu jeli, responsif, dan proaktif dalam mengulik permasalahan yang sebetulnya terjadi.

Apa pentingnya kita menjaga kesehatan anak di rumah? Anak yang tumbuh sehat di rumah adalah anak yang bahagia. Anak yang bahagia akan merefleksikan cara mengasuh anak yang baik pula, yang orang lain bisa lihat secara langsung. Ini bukan berarti kita perlu selalu memikirkan apa opini atau omongan orang lain ya; anak kan anak kita. Kita yang kenal karakternya seperti apa. Kita yang menghadapi kesulitan dan menikmati keberhasilan dalam mendidik anak. Bodo amat deh sama apa yang orang lain pikirkan. Tapiii, ketika anak berubah menjadi “cermin” yang memantulkan pola asuh yang kita terapkan dan orang lain bisa dengan gamblang menangkap sinyal bahwa si anak ga bahagia di rumah, kita juga yang kena getahnya. Kita dianggap ga becus membesarkan anak dan belum lagi kita harus menghadapi konsekuensi dari pola asuh yang tidak tepat itu sendiri nanti.

Lagi-lagi, emang kita ga perlu menyusahkan diri sendiri dengan memikirkan pandangan orang lain. Tapi orang lain itu juga bisa banget menangkap apa yang anak rasakan dari cara mereka berinteraksi dengan si anak.Misalnya nih, kita lagi ketemu sama temen dan anak kita bawa. Ketika si temen mencoba membangun komunikasi dengan anak kita, cara si anak memberi respons kepada orang dewasa akan mencerminkan apa yang kita tanamkan kepadanya. Apakah dia malu dan memilih bersembunyi di balik badan kita? Apakah dia dengan sopan membalas sapaan orang dewasa dan terlibat dalam percakapan yang dinamis? Sesama orang dewasa bisa menangkap jika ada sesuatu yang salah dengan cara kita mendidik anak di rumah atau jika ada sesuatu yang dengan tepat sudah kita terapkan pada anak.

Anak itu output ya, Teman-teman. Mereka bisa menjadi tolok ukur orang lain dalam menilai kefasihan kita dalam memastikan kesehatan dan kebahagiaan anak. Jadi jangan “bersandiwara”; bersikap seolah-olah semuanya udah kita terapkan dengan baik dan sempurna sementara dari muka anaknya aja udah keliatan kalo dia ga mendapatkan cukup kebahagiaan di rumahnya sendiri.

Masalah terbesar kita sebagai orang tua yang memiliki anak yang masih lumayan kecil adalah bagaimana kita bisa membuatnya patuh tanpa menggunakan cara-cara yang berpotensi merusak tumbuh-kembangnya. Ada sih tips dan trik yang bisa dipake, tapi sama lagi, semuanya ini cuma general guidelines, ya. Tinggal cocokkan dengan apa yang terjadi dan situasi di rumah aja nanti.

  1. Berikan contoh yang baik

Mengharapkan diri sendiri menjadi orang tua yang sempurna itu cuma mimpi. Kita cuma bisa melakukan dan memberikan yang terbaik. Don’t be too hard on yourself; adapt, adapt, and adapt. Kita harus fleksibel dan cukup mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak dan tuntutan menjadi orang tua yang “memadai” aja. Jangan menarget kesempurnaan karena ini bisa berpotensi menjadi bumerang yang hanya akan menyakiti diri sendiri pada prosesnya. Memberikan contoh kepada anak adalah yang sederhana; anak itu seperti kertas kosong yang tinggal diisi dengan apa yang kita kehendaki. Jika kita menginginkan anak memiliki sikap tertentu, tunjukkan. Jangan cuma menyuruh dan memerintah. Anak lebih mudah mencontoh apa yang ia lihat daripada dengar.

  1. Panggil namanya

Kita susah-susah mencarikan nama yang artinya bagus buat anak, kita juga yang akhirnya menolak menggunakan nama itu untuk memanggilnya. Kan ga konsisten jadinya. Menyebut nama si anak akan memberikan rasa dianggap pada diri anak sendiri. Setelah si buah hati menoleh, utarakan dengan lembut apa yang kita inginkan. Jangan pernah berteriak atau membentak ya.

  1. Dengarkan dirinya

Dengarkan keluhannya. Dengarkan protesnya. Dengarkan alasannya.

  1. Kenali trigger

Jika anak marah, kita patut mencari tahu apa yang menjadi penyebab kemunculan emosi negatif. Hindari menguliahi anak di saat dia sedang marah karena ga bakalan ada satu pelajaran pun yang bisa dia serap.

  1. Jadilah konsisten

Pola yang konsisten dan rutin akan memberikan rasa aman untuk anak dan mendidiknya untuk terbiasa dengan karakter kita sendiri sebagai orang tua.

  1. Hukum dengan pantas

Kalau bicara soal hukuman, semua sudah pasti harus selalu proporsional. Hukuman yang masih dalam batas kewajaran bisa menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dan ketegasan pada diri anak.

  1. Apresiasi dan puji

Berikan pujian dan apresiasi terhadap pencapaian anak dengan tidak berlebihan atau kurang dari cukup agar motivasi anak tetap terjaga.

  1. Ciptakan keharmonisan

Menjaga keharmonisan rumah tangga dapat mendukung rasa nyaman anak sehingga lebih mudah untuk mereka mendengarkan ucapan dan permintaan orang tua.

Bonding dengan Anak dengan Cara yang Benar

Teman DRYD,

Pasti pada familiar dengan jargon “Anak cowo deketnya ama mama, anak cewe ama papa”, kan? Ini tuh anggapan lazim di kalangan masyarakat luas dan emang pas diamati, ada kecenderungan demikian. Tapi sebenernya sejauh apa sih, anggapan ini validitasnya? Apa emang ada penyebab-penyebab khusus atau ini cuma kerangka pikir yang terbentuk berdasar landasan sosiokultural aja?

Naaah, ini nih, yang bakal kita bahas kali ini.

Kalo kita bicara tentang kedekatan antara orang tua dan anak, itu ga jauh-jauh larinya dari proses bonding. Ikatan antara orang tua dan anak terbentuk sejak dini, bahkan sudah dimulai sejak si buah hati masih ada dalam kandungan. Prosesnya sangat fundamental sifatnya dan sering banget ga bisa diobservasi secara langsung. Itu bisa disebabkan karena ada faktor familiaritas antara orang tua dan si anak, jadi semua terasa natural bahkan ketika sekalipun interaksi yang ada tidak secara sadar diarahkan pada pola pembentukan ikatan antara kedua pihak. Tapi saking fundamental proses ini, semuanya bisa berdampak pada tumbuh-kembang si buah hati sampai ke saat anak tersebut menginjak usia dewasa nanti. Mulai dari hal-hal kecil seperti cara kita berkomunikasi, berinteraksi, penggunaan kalimat dan intonasi, cara memberikan komunikasi fisik sampai ke hal-hal yang secara signifikan emang ditujukan untuk mendidik si anak seperti memberi masukan dalam hal akademis, memberi pemahaman mengenai tata krama dan sopan santun, menurunkan nilai-nilai budaya dan sosial. Semua ini adalah bentuk-bentuk bonding antara anak dan kedua orangtuanya. Seerat apa ikatan yang terbentuk pada prosesnya akan menjadi faktor penentu apakah si anak akan berkembang dengan relatif sempurna di kemudian hari.

Nah, jargon yang udah kita singgung sebelumnya akan menjadi penghambat besar dalam memberikan pengaruh positif pada anak kalo kita—sebagai orangtua—tidak mencernanya dengan saksama dan menyeluruh loh. Jangan sampai salah kaprah dan menelan jargon itu mentah-mentah tanpa dipelajari terlebih dahulu.

Pada dasarnya, anak itu paling deket sama ibunya, mau anak cowo, mau anak cewe, ketika mereka masih bayi. Ada basis kuat untuk hal ini. Di fase perkembangan sejak lahir hingga beberapa tahun setelahnya, si bayi akan sangat tergantung pada si ibu dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar, misalnya soal nutrisi. Anak bayi makannya apa? Ya air susu ibunya kan? Cuma ibu yang bisa menyediakan kebutuhan seprimer ini. Itu baru soal makan. Gimana perkara lain kayak ganti popok, mandi, ganti baju? Si ibu kan yang paling sering berperan. Emang sih, ada juga ayah yang menjalankan peran ibu, tapi persentasenya jauh lebih kecil daripada alternatif pertama—dan sifatnya pun lebih cenderung berdasarkan kasus aja.

Semakin si anak bertambah usianya, akan ada sedikit pergeseran. Maka jadilah jargon yang kita bahas di awal tadi: Anak cowo sama mamanya, anak cewe sama papanya. Apakah ini proses alami? Apakah ini bentuk adaptasi? Apa ini cuma soal kebiasaan? Yuk, kita cari tahu alasannya.

Kenapa Anak Cewe Lebih Deket ke Papanya?

Bener ga sih, anak cewe lebih deket sama papanya?

Di mata anak perempuan, figur seorang ayah adalah sosok yang bisa memberikan perlindungan untuknya dan juga lebih tegas. Ini bikin si anak cewe merasa lebih aman pas deketan sama papanya. Ini ga otomatis berarti ibu ga mampu melindungi anak cewe-nya lo ya. Cuma, anak perempuan bisa mendapatkan lebih banyak pelajaran tentang ketegasan dan ketangguhan dari ayahnya.

Faktor lain penyebab anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya adalah kecemburuan terhadap adik, terutama adik laki-laki. Kehadiran bayi baru yang belum bisa apa-apa akan menyedot fokus dan tenaga ibu. Otomatis, anak perempuan yang sudah lebih dewasa umurnya akan mencari sumber perhatian lain karena waktu ibunya sudah terpakai mengasuh sang adik. Dalam hal ini, ayahlah yang menjadi tempat mereka “melarikan diri”.

Riset oleh Jennifer Mascaro di Universitas Emory menunjukkan bahwa seorang ayah juga cenderung lebih mudah memberikan perhatian atau respons untuk anak perempuannya. Hasil riset tersebut membuktikan bahwa aktivitas otak ayah akan meningkat secara signifikan ketika melihat foto anak perempuannya ketimbang anak laki-laki. Secara tidak sadar, ini juga dapat diobservasi dari cara anak perempuan mendekati ayahnya ketika menginginkan sesuatu seperti mainan, misalnya. Si anak perempuan seolah mengerti bahwa ayahnya pasti akan memberikan respons positif terhadap keinginannya ketimbang ibu. Kecenderungan yang ada adalah seorang ibu kemungkinan besar akan mengabaikan rengekan anak perempuannya sementara seorang ayah akan segera mengabulkan permintaannya.

Kenapa Anak Cowo Lebih Deket ke Mamanya?

Anak cowo lebih mesra dengan ibunya, katanya.

Anak cowo akan memilih untuk mengadu atau lari ke ibunya ketika berbuat salah atau menangis karena sesuatu, bukan ke ayahnya. Ini bukan semata-mata soal manja loh, ya. Tapi si anak laki-laki merasa lebih bisa tenang dan diperhatikan oleh ibunya. Kecenderungan yang ada adalah seorang ayah mungkin malah akan menghakimi si anak cowo, bukannya menenangkan. Faktor segan dan takut juga ikut ambil bagian karena seorang papa biasanya punya ekspektasi yang terlalu besar untuk dipenuhi oleh si anak cowo: Laki-laki harus kuat. Padahal justru sebaliknya, kuat-tidak seorang anak tidak dipengaruhi oleh jenis kelaminnya. Anak laki-laki boleh aja kok ngerasa tidak berdaya dan membutuhkan bantuan atau dukungan. Sebaliknya, anak perempuan juga ga boleh kalah dari anak laki-laki, juga harus mandiri dan dependable. Ketegasan seorang ayah pun bisa diartikan sebagai sikap galak oleh anak laki-laki yang mungkin pada suatu waktu tertentu membutuhkan ayahnya.

Kecerdasan emosional seorang anak cowo biasanya terasah lebih baik ketika di dekat mamanya. Anak-anak cowo yang memiiki ikatan kuat dengan mamanya umumnya lebih terjauhkan dari masalah denga teman, tidak suka bertikai atau memilih cara kekerasan seperti berkelahi, tidak ikut-ikut geng sekolahan, tidak jatuh dalam pengaruh narkoba, dan terhindar dari perilaku seks bebas. Tentunya banyak faktor lain yang menentukan ini semua, tidak semata-mata hanya karena kedekatan dengan ibu. Tapi seorang ibu biasanya lebih mudah berkomunikasi dengan anak sehingga si anak laki-laki akhirnya mencontoh sifat ini untuk diterapkan di dalam hidupnya sendiri. Dengan skill komunikasi yang terlatih relatif dengan baik, anak cowo biasanya punya lebih banyak teman dan minim risiko mengalami stres.

Pola kedekatan dengan si ibu juga mempengaruhi anak laki-laki dalam hal berempati, menjauhkan diri dari bahaya, dan pengendalian emosi. Ada juga kemungkinan besar bahwa si anak akan lebih mampu menghargai perempuan.

Salahkah Pola Bonding Seperti Ini?

Ga ada yang salah, ga ada yang benar. Agak berisiko kalo kita mau membedah topik ini dari sudut pandang benar-salah. Yang sebaiknya dilakukan adalah menyudahi pola asuh dan pola didik yang terlalu berbasi gender. Jenis kelamin tidak memainkan peran dalam porsi pemberian kasih sayang dan perhatian—bahkan bukan sebuah faktor yang relevan untuk sekadar dipertimbangkan. Mau anak cowo, mau anak cewe, semua butuh kasih sayang dan apalah kita orang tua kalo bukan gudangnya kasih sayang untuk anak-anak kita, kan? Rasa kasih, rasa sayang, rasa cinta, dan perhatian itu bukan konsep berbasis gender jadi siapa kita mau menentukan anak cowo porsinya lebih sedikit dari anak cewe atau sebaliknya? Jangan pilih kasih, apalagi pilih kasih berdasar jenis kelamin si anak. Dampaknya bisa fatal dan mungkin ga bisa diperbaiki.

Jangan juga mengandalkan jargon-jargon umum tanpa mendidik diri sendiri sebagai orang tua. Siapa, aturan mana, hukum seperti apa yang menentukan anak mana deket ama ortu yang mana. Anak cewe dan ibunya bisa jadi duo maut yang sinkron di segala lini karena mereka berbagi jenis kelamin yang sama dan begitu juga anak cowo bisa jadi “partner in crime” yang koheren untuk ayahnya karena mereka bisa aja berbagi passion serupa—ini kalo emang mau bawa-bawa jenis kelamin ke perihal bonding, ya. Kalo bonding didasarkan pada jargon semata, efeknya bisa membuat anak punya jarak yang lebar dengan salah satu orang tua. Yang kita mau kan, semua anak kita bisa deket sama kita, kan? Bisa berbagi dengan kita, bisa bicara apa aja sama kita, bisa lengket dan harmonis relasinya dengan kita, kan? Iya, kan? Apa di antara Teman DRYD yang menginginkan sebaliknya? Engga, kan?

Nah, mending dari awal disadari deh. Kontrol jarak antara kita dan buah hati. Kalo dirasa interaksi antara anak cowo dan papanya kurang ato kalo anak cewe kayanya lebih sering hangout sama papanya, coba deh, mulai diliat lagi bagian mana yang harus dimodifikasi.

Semuanya harus rata. Anak cowo harus diajari empati dan cara berkomunikasi oleh ibunya sambil tetap diberikan pemahaman tentang menjadi kuat dan tegas oleh ayahnya dengan cara yang tepat. Anak cewe gimana caranya tetap menyerap nilai-nilai prinsipil dan mendapat perlindungan dari ayahnya tanpa mengecilkan peran si ibu yang bisa mewariskan ajaran tentang keperempuanan padanya. Semua harus balance.

Taaapiii, jangan juga terus lupa sama satu hal yang paaaling fundamental soal mengasuh anak: Setiap anak lahir dengan karakternya masing-masing. Ini juga yang bikin pola asuh berbasis gender dan jargon jadi ga efektif. Setiap anak adalah “special case”, pendekatannya seharusnya lebih ke berbasis individual dan sesuai porsi dan posisi. Kita sebagai orang tua harus siaga buat beradaptasi dengan karakter anak sambil tetap diarahkan. Harus fluid dan fleksibel. Harus adaptif. Harus siap dengan perubahan dan mau menerima hal-hal baru selain dari jargon atau quote tua yang belum tentu aplikatif di era modern ini.

Anak cowo atau cewe sama-sama butuh perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Memahami Faktor Krusial Komunikasi Efektif dalam Keluarga

Hai Teman DRYD,

Setuju ga kalo saya bilang komunikasi itu salah satu hal dalam hidup yang mudah dimengerti tapi sulit untuk dipraktikkan? Ga setuju? Coba, berapa banyak konflik rumah tangga yang seharusnya bisa diselesaikan bahkan sebelum kemunculannya kalau saja kedua belah pihak bisa membangun komunikasi yang baik? At least salah satu aja dari kedua belah pihak mau memulai membuka jalur komunikasi, api prahara sebetulnya bisa diredam sebelum membesar jadi kebakaran. Banyak yang bisa jadi penyebab komunikasi stagnan. Tapi yang paling kentara, yang paling umum, dan yang paling-paling-paling nyebelin adalah ego. Kalo ego udah bicara, selogis apapun satu manusia, pasti berubah jadi individu paling susah untuk berbicara dan diajak bicara. Rumah tangga itu kan, persatuan 2 kepala ya. Nah, 2 kepala ini punya 2 manusia yang tentu saja berbeda karakter. Teman DRYD bisa aja berkilah, “Engga ah Dok, ga beda. Saya nikah kan karena banyak kesamaan sama pasangan.” Hooh, iya. Tentu saja demikian. Tapi sadar ga, mau sesama kayak apapun sama pasangan pasti ada perbedaan fundamental yang ada di antara kalian? Oh, dua-duanya seneng musik. Udah ngebahas genre musik favorit belum? Penyuka musik klasik akan punya persepsi tertentu terhadap musik pop cheeky dan easylistening yang disukai pasangannya. Oh, dua-duanya hobi nonton, udah kroscek genre kesukaan masing-masing? Penggemar berat film komedi pasti ogah nonton film horor kesukaan pasangannya. Kalo mau pun, pasti dengan sangat berat hati; nonton cuma gegara ga enak ati mau nolak.

Nah, itu dia yang saya maksud dengan perbedaan fundamental. Perbedaan fundamental inilah yang seringkali jadi sumber konflik dalam rumah tangga. Ada tipe orang yang mau pasangannya mengerti karakter dasar dirinya. Ada yang mau kompromi dan ada juga yang menekan sangat keras karakter dan kepribadiannya sendiri demi menghindari menyulut drama. Semua ini, Teman-teman saya sekalian, hanya bisa terakomodasi dengan efisien jika komunikasi efektif dalam keluarga tercipta. Dengan mengkomunikasikan karakter pribadi pada pasangan, hilang sudah kemungkinan munculnya rasa kesal karena pasangan ga ngerti maunya kita apa, potensi depresi karena kudu jadi pihak yang selalu ngalah, atau meminimalisasi keterbatasan kemampuan manajemen konflik.

Seringnya nih, kita punya kecenderungan buat menghindar dari konflik. Enggak, saya ga bilang kita kudu cari masalah terus-terusan. Cape juga kali kaya gitu. Tapi kadang konflik itu mau ga mau kudu pecah. Dan ini proses yang sebetulnya menguntungkan kalau difasilitasi dengan baik. Konflik itu bisa jadi bentuk komunikasi juga, jadi jangan ditekan supaya ga meledak tapi di-manage. Pahami cara menyalurkan ide dan pokok permasalahan dengan selugas mungkin, ga usah pake metafora apalagi pribahasa. Pelajari cara menuntaskan rasa marah pada pasangan dengan cara yang lebih baik; ga pake ngambek-ngambek penuh kode keras, ga pake jerit-jerit, ga pake ngeluarin seisi kebun binatang dari mulut, ga pake jambak-jambak, cakar-cakar, gigit-gigit, gegulingan, pencak silat, karate, kayang, daaan segala macam lainnya. Marah pada pasangan itu ga salah kok. Ya wajar dong…. Namanya juga 2 manusia berbeda yang disatukan dalam ikatan resmi. Isi kepalanya beda-beda. Perspektif yang dipake beda-beda. Pola menyusun solusi beda-beda. Cara memahami subjek atau topik beda-beda. Dan perbedaan itulah yang sering banget jadi penyulut pertengkaran.

Komunikasi Efektif Dimulai dari Orang Tua

Cara berkomunikasi dengan anak itu harus diperhatikan

Pemahaman mengenai komunikasi efektif dalam keluarga berdampak langsung ke cara mendidik dan mengasuh anak. Sekarang gini, gimana coba mau berkomunikasi dengan anak dengan cara yang baik kalo berkomunikasi dengan pasangan sendiri aja susah? Ngomong sama bini, intonasinya dingin. Ngomong sama laki, nadanya tinggi. Kebayang ga, jadi anak di dalam rumah yang penuh huru-hara kayak gimana rasanya? Gimana anaknya ga lebih betah di luar sana main sampe seminggu ga pulang-pulang. Diinget lagi coba deh, pola pengasuhan yang baik itu adalah ketika orang-orang dewasa di sekitar si anak mampu menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan menyehatkan sisi mental dan fisik bagi tumbuh-kembang. Iyaaa, bisa dipahami kalo kita berargumen, “Namanya juga manusia, Dok. Kan kadang suka luput.” Itulah pentingnya komunikasi yang baik antara kedua orang tua; cara menyampaikan isi kepala dan emosi sebaiknya dimutakhirkan supaya ketika nanti konflik muncul, dampaknya ke anak bisa diminimalkan kalo ga ditiadakan sama sekali.

Tipe Komunikasi

Tipe komunikasi

Nah, komunikasi itu secara umum ada 2 tipenya: verbal dan nonverbal. Dalam praktiknya, komunikasi verbal adalah jenis komunikasi yang paling dominan dalam pola hubungan apapun. Kenapa? Karena sebuah ide lebih mudah disampaikan dengan metode ini. Dengan cara komunikasi verbal, pihak yang dituju diharapkan bisa menangkap ide-ide atau topik-topik secara langsung dan mencerna situasi. Jenis komunikasi ini bisa dilakukan baik secara lisan maupun tulisan. Apapun yang kita baca dan apapun yang kita dengar adalah contoh nyata usaha komunikasi verbal yang dilakukan pihak lain.

Sementara itu, komunikasi non verbal meliputi hal-hal yang sifatnya interpretatif, subtil, dan implisit. Bentuk komunikasi ini sebetulnya sering secara ga sadar kita lakukan karena kecenderungannya yang lebih menuntut kepekaan emosional dan ketajaman intuisi. Ini juga yang sering bikin komunikasi tipe ini ga efektif. Satu pihak mungkin terlalu sering menggunakannya sementara pihak lain kurang mampu menerjemahkan sinyal yang ditangkap atau malah ga bisa menangkap sinyal itu sama sekali. Bentuk komunikasi seperti ini meliputi elemen seperti:

  1. Sentuhan fisik, contohnya seperti belaian tangan ibu di rambut atau punggung anaknya atau teguran dari ayah berupa tepukan di tangan anaknya.
  2. Kinesik

Kinesik adalah istilah yang merujuk pada gerakan tubuh dalam komunikasi yang biasanya memungkinkan kita untuk meniadakan frase lisan, menjelaskan suatu gambaran, dan mengekspresikan emosi. Bentuk kinesik bisa beragam tapi umumnya bisa berupa kontak mata, gestur tubuh, dan ekspresi pada wajah. Contoh paling gampang buat kinesik adalah gerakan menganggukkan kepala untuk memberikan ijin pada anak.

  1. Vokalik

Kalo kinesik berkisar di sekitar gerakan tubuh, vokalik berfokus pada unsur-unsur nonverbal yang menjadi pendukung dalam suatu ucapan. Sederhananya, vokalik adalah cara kita berbicara pada anak. Contohnya: kejernihan suara, kecepatan berbicara, intensitas suara, dan nada (nada suara dan nada bicara).

  1. Kronemik

Kronemik berfokus pada waktu berkomunikasi. Contohnya: durasi yang sesuai untuk sebuah proses komunikasi, porsi komunikasi yang pas dalam rentang waktu tertentu, dan ketepatan waktu berkomunikasi.

Nah, dari perbedaan kedua jenis komunikasi ini kita bisa menimbang keefektifan kita dalam berkomunikasi dengan anak. Tapiii, jangan dikira keduanya bisa dilakukan terpisah satu sama lain yaaa. Ini rada pelik sih. Misalnya gini; kita sebagai orang tua mungkin akan berpikir komunikasi verbal adalah yang paling efektif karena pokok pikiran kita langsung terungkap dan harapannya si anak bisa langsung memahami. Tapi kan si anak juga punya daya interpretasinya sendiri. Maka, ketika kita membolehkan si anak main keluar tapi dengan nada yang dingin (karena aslinya kita ga ngebolein), si anak akan kebingungan karena ada mixed signal yang dia terima. Jadi unsur nonverbal dari sebuah komunikasi verbal akan terus ada, sulit untuk dipisahkan satu sama lain.

Komunikasi yang efektif (baik antar pasangan dan dengan anak) akan terbentuk lebih efektif jika kedua elemen verbal dan nonverbal bisa sinkron. Keinginan, maksud, dan tujuan kita bisa dituruti dan dipahami oleh pasangan atau anak jika ucapan dan intonasi sejalan. Misalnya gini, kita lagi repot nih, ngerjain sesuatu, trus tetiba si bayi rewel. Reaksi pertama kita pastinya kan akan meminta pasangan buat handle si anak kan? Kan apa yang lagi dikerjain kan lagi ga bisa ditinggal ni. Nah, ini adalah momen krusial yang akan menentukan apakah kita bisa menyampaikan maksud sebenarnya ke pasangan. Seringnya kita bakal teriak nyuru pasangan buat handle si anak. Kadang kalo lagi dikejar deadline bisa sampe ngebentak. Ini ga bakal efektif. Si pasangan mungkin akan merespon dengan ngedumel. Ato bales teriak. Yang kemudian dibalas teriakan berikutnya dari pasangan. Yang terus disautin pake teriakan selanjutnya dari yang satunya. Ga ada ujungnya. Kerjaan ga kelar, anak nangis makin jadi. Beuh, betah tinggal dalem rumah kayak gitu?

Contoh lain nih. Kita lagi masak di dapur. Trus garem abis. Trus nyuru anak bantu beliin. Ngomongnya sih bener, “Deeek, garem abiiis. Bantuin mamah dong, beliin ke warung.” Tapi suaranya ga kedengeran yang bikin harus sautsautan. Ato pake intonasinya kasar. Ato sambil ngomel. Ato pake banting-banting barang. Kompor ditonjok. Tabung gas ditendang. Tempenya dibejekbejek. Kaki disentak-sentak. Rambutnya ditarik-tarik. Matanya melotot. Kukunya keluar. Taringnya berkilat. Ngeluarin api dari mulut. Ya kan ga bakal direspon baik sama anak itu mah. Udala anaknya emang mageran, disuruh dengan cara kayak gitu, ya pastinya bakal kuat-kuatan satu sama lain. Masak kaga kelar. Perut laper. Emosi liat tingkah anak. Akhirnya apa? Matiin kompor, pake sendal, jalan ke warung ngedumel, marah-marah ke ibu warung yang ga tau apa-apa, pulang lanjut masak yang akhirnya asin seasin-asinnya dunia, trus ngadu ke suami, eh si suami balik marahin kita, tambah kesel, suami disuruh tidur di halaman. Panjang…. Cuma karena kita ga tau kudu gimana ngomong ke anak.

Kadang-kadang, kita sebagai orang tua sukanya berkomunikasi lisan karena berpikir si anak harusnya mengerti isi omongan tapi komunikasi interpersonal dalam keluarga itu, terutama sama anak, ga bisa cuma ngandelin omongan. Contoh yang diberikan ke anak sebaiknya ga berhenti di pola verbal. Kita mau rumah selalu dalam keadaan rapi. Tapi anak pulang sekolah tasnya dilempar ke sofa, sepatunya dilepas di tengah ruangan, seragamnya dibiarin di lantai. Nah, kita kalo mau menanamkan konsep kerapian ke anak ga cukup cuma disuruh doang, apalagi pake marah-marah. Bakal mental, masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Coba kasi contoh yang lebih nyata. Ambil pakaiannya dari lantai sambil ngomong, “Dek, ini jangan dibiarin di sini ya. Naronya di gantungan kamar kayak gini.”

Komunikasi interpersonal

Ke pasangan juga gitu. Mungkin ada kebiasaannya yang ga cocok sama kita. Mungkin pasangan suka naro gelas minuman di meja kayu yang akhirnya bikin ada bercak air di permukaan. Solusinya kan gampang ya tinggal pake coaster, kan? Tapi pasangan mungkin mikirnya itu bukan hal yang terlalu gede buat dipermasalahkan. Benturan antara idealisme pribadi dengan pola pikir orang lain kaya gini yang sebetulnya bisa di-manage supaya konflik ga tercetus. Bilang ke pasangan, “Beb, enak ya nyore di meja ini. Aku juga seneng gitu. Tapi kalo aku seringnya gelasnya dikasi alas biar ga ngotorin kayunya.” Trus ambil satu coaster, taro di bawah gelas yang sedang dia pake. Simpel kan? Apa yang kita mau atau suka tetap terjaga, perasaan pasangan terjaga, keindahan meja kayu yang kita sayangi tetap terjaga. Cuma kadang emang yang paling racun itu egonya kita sendiri. Sering banget pasti mikir, “Gimana sih, gitu doang ga paham?!”

Yang namanya kebiasaan pasti susah hilang, Teman-Teman DRYD. Makanya, pasti nanti kebiasaan buruk yang kita ga suka dari pasangan akan muncul terus. Kitanya yang harus telaten. Kalo mau hasil instan yang emang, tinggal hardik, kelar. Tapi instan itu ga sebanding dengan risiko dan efek lanjutan. Sebuah hardikan bisa berujung peperangan. Kalo kita bisa dengan tekun memberi contoh dan sabar, lama-kelamaan bakal keliatan kok perubahannya. Dan kalo kedua orang tua udah punya pola yang jelas dan sinkron, si anak bisa belajar sendiri memahami aturan, nilai, dan norma yang ditetapkan tanpa harus diseret. Jadi jangan cuma ngomong doang. Ucapan dan suruhan verbal tetap harus diterapkan tapi sebaiknya disertai dengan tindakan. Action, people! Action speaks louder!

Waspadai Orang Ketiga

Yang saya maksud dengan “orang ketiga” bukan selingkuhan. Ada yang tinggal bareng mertua ato mertuanya benerbener involved dengan keluarga inti sampai hal paling kecil sekalipun? Nah, ini salah satu yang paling jadi momok di setiap keluarga: Ketika peranan mertua porsinya membesar ga terkendali. Kita ga lagi bahas jelek-jeleknya mertua ya. Bukan itu intinya. Tapi kita kudu memahami porsi dan posisi masing-masing. Mertua itu siapa sih? Dia cuma orang tua dari pasangan kita yang berarti porsinya sebaiknya sesuai dengan posisi yang dia tempati.

Yang sering terjadi adalah mertua ikut campur dalam urusan pengasuhan anak. Memberi andil pada tumbuh-kembang cucu itu wajib loh ya bagi semua elemen keluarga. Tapi seringkali seorang mertua melewati garis batas karena lebih tua dan lebih banyak pengalaman. Itu bener; karena hidup lebih dulu dan udah lebih lama, mertua pasti lebih banyak pengalamannya. Tapi jaman kan udah beda. Apa yang jadi pakem parenting ketika mertua dulu menjalankan perannya sebagai orang tua pasti juga udah berevolusi di jaman anaknya.

Kenapa perlu diwaspadai porsi dan posisi mertua? Karena intervensi dari pihak ketiga akan mengacaukan alur komunikasi interpersonal DAN intrapersonal dalam sebuah keluarga. Apa perbedaan interpersonal dan intrapersonal? Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang terbentuk antar individu sementara komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang dibentuk dalam diri seseorang itu sendiri. Sederhananya, komunikasi intrapersonal adalah bagaimana cara seseorang mengajak bicara dan mengenali dirinya sendiri. Apa contoh komunikasi interpersonal dalam keluarga? Udah banyak tadi contohnya di atas ya. Apa contoh komunikasi intrapersonal? Misalnya cara seseorang mengolah dan mencerna informasi apapun yang dia terima. Atau ketika berbicara dengan orang lain (komunikasi interpersonal), kita sering menelaah sifat-sifat orang itu dalam hati saja (komunikasi intrapersonal).

Komunikasi intrapersonal

Nah, kehadiran pihak ketiga yang porsinya melebihi elemen dasar rumah tangga inti akan menimbulkan distorsi pada pola yang sudah lebih dulu established. Misalnya si anak pulang sekolah selalu berantakan. Nah neneknya berinisiatif membereskan tanpa memberi instruksi apapun. Ketika orang tua si anak mencoba mengajari suatu konsep, si anak akan membenturkannya dengan apa yang dia serap dari interaksi dan komunikasinya dengan si nenek.

Ibu: “Deeek, bajunya jangan dibiarin di lantaaai!”

Anak: “Aaah, udah diberesin nenek koook.”

Familiar ga sama dialog kayak gitu?”

Mungkin dari semua Teman DRYD yang baca ini sekarang belum ada yang jadi mertua. Sebagian malah mungkin udah. Udah ato belum, kesadaran tentang porsi dan posisi itu mutlak diterapkan. Sebagai orang tua, kita wajib mengajari anak untuk paham bahwa komando komunikasi itu ada di kita. Bukan berarti harus otoriter dan membatasi atau bahkan melarang anak berkomunikasi dengan pihak lain ya. Tapi ini tentang bagaimana si anak paham bahwa ibu dan ayah adalah 2 komponen fundamental yang harus dia dengarkan meskipun dia punya opini berbeda. Sebagai mertua, kita juga harus jeli menyadari posisi kita. Jangan mencampuri urusan anak dalam mengasuh anaknya kecuali dimintai bantuan. Itupun, lagi-lagi, harus sesuai porsinya. Misal nih ya, ibunya lagi sibuk di dapur ato si cucu dititipin ke kita. Si cucu trus lari-lari megang gunting. Kan ngeri tuh ya. Nah, karena si ibunya lagi ga ada di sekitaranya, boleh deh kita take over urusan ngasi pemahaman mana yang sebaiknya dan tidak sebaiknya. Tapi kalo ibunya pas ada trus si anak koprol bolak-balik ruang tamu-dapur, ya biarin deh ibunya yang bertugas ngasi larangan dan pengertian. Yaaa, sambil ngelarang-larang dikit gapapaaa. Namanya juga khawatir kan. Tapi kalo urusan mendidik si anak ya udah sih, ada emaknya ini. Kalo emang kegangguuu banget sama cara si ibu ngerawat anaknya, ajak ngobrol empat mata. Ungkapkan concern kita dan biarkan si anak atau menantu mengajukan counterargument-nya. Sebagai anak atau menantu, filter konsep parenting dari yang lebih tua. Serap yang baik-baik, tinggalkan yang sekiranya ga cocok lagi diterapkan di masa kini.

Berkomunikasi dengan Efektif Agar Keluarga Lebih Harmonis

Mengusahakan agar komunikasi bisa berjalan lancar itu salah satu cara menjaga keharmonisan rumah tangga loh. Ingat, pasangan kita bukan cenayang yang tau apa yang kita pikirkan. Lucu juga kali ya, punya pasangan yang bisa baca pikiran. Tinggal mikir, eh dia langsung bilang, “Oke sayaaang, laksanakan,” gitu. Tapi kalo kebetulan kita dapet manusia biasa sebagai pasangan, ya kudu banget jaga pola komunikasi yang sehat. Yaaa, korslet dikit sana-sini gapapalah. Namanya juga rumah tangga; ngarepin muluus aja gitu ga pake kendala juga rada mustahil. Beberapa orang malah bilang kalo tahapan pra-konflik, konflik, dan pasca-konflik itu justru yang bikin kehidupan berumah tangga jadi lebih dinamis. Tapi jangan dicari-cari juga, kakaaak. Udah, idup tanpa drama udah paling nyaman dah.

Bermula dari komunikasi antarpasangan yang lancar, anak pun bisa terdidik dengan relatif lebih baik. Keinginan kita supaya si anak berkembang menjadi pribadi yang lugas, mandiri, ga manja, logis, dan mengenal dirinya sendiri bisa terwujud dengan lebih rasional.