Meeting Internal Keluarga: Mengajarkan Demokrasi Sejak Dini

Kayanya, kalo udah ngomongin masalah bentuk pemerintahan, semua pasti setuju ya, kalo demokrasi adalah tipe yang paling ideal. Idealnya, dengan membawa paham yang satu ini, pemerintahan negara berjalan berdasar keinginan rakyat, pemimpin berperan lebih sebagai pelaksana. Idealnya, ya itu; praktiknya mah, ga tau juga yeee….

Tenang-tenang, Teman DRYD, kita ga lagi mau bahas perkara tata negara. Dokter Yusri ga lagi mau merambah ranah politik kok. Masih di sini-sini aja nemenin Teman-teman mencari jalan dan solusi terbaik untuk mendapatkan kulit yang senantiasa glowing.

Trus kenapa bawa-bawa bentuk pemerintahan, Dok?”

Kali ini saya berniat membawa bentuk pemerintahan demokratis ke ranah parenting. Kok bisa? Ya bisa, dong. Keluarga dan rumah tangga itu kan sama aja kaya negara kecil. Ada kepalanya, ada mentrinya, dan ada rakyatnya. Umumnya, kepala negara dalam sebuah rumah tangga adalah bapak, ibu ada di sampingnya sebagai mentri yang memberikan dukungan kepada si pemimpin. Umumnya begitu. Rakyatnya siapa? Ya anak-anak, dong, siapa lagi?

Dengan analogi seperti ini, bentuk pemerintahan yang demokratis bisa diterapkan juga loh. Cara membina rumah tangga yang didasari atas kepentingan bersama ini justru bisa menciptakan dinamika keluarga yang lebih sehat dan terbuka. Coba deh, Teman-teman bayangin kalo sebuah rumah tangga dijalankan dengan cara yang otoriter. Orangtua memegang peran tirani yang titahnya ga bisa dipatahkan sama sekali. Anak ga punya celah untuk mengungkapkan pendapat dan dipandang sebagai rakyat jelata yang sebaiknya nurut aja apa kata yang lebih tua.

Emang iyaaa, yang namanya anak-anak pastinya belum terbiasa dengan yang namanya memilah sesuatu berdasarkan benar-salah. Mereka bertindak berdasar naluri dan keinginan dan asal hepi aja. Dan tindakan orangtua untuk menuntun anak-anaknya yang belum tahu apa-apa itu juga udah semestinya. Tapi kan ga berarti kalo anak ga berhak punya pendapat sendiri atau sekadar menyampaikan aspirasinya. Kita yang orang dewasa lah yang selanjutnya menyaring apakah pendapat atau keinginan si anak akan berdampak baik untuk dirinya sendiri dan untuk keutuhan dan kedaulatan rumah tangga secara umum. Udah kaya pelajaran Tata Negara aja ini pake bawa-bawa kedaulatan segala.

Tapi beneran deh, biasanya anak yang tumbuh dalam keluarga yang diktator itu biasanya akan jadi kepribadian yang problematis. Ini bukan judgment loh ya; tapi emang banyak banget kasus semacam itu. Ada anak yang jadi individu yang depresi pas gedenya. Ada yang jadi kaku dan frigid. Ada yang maunya serba harus dituruti. Sementara anak yang berkembang dalam keluarga yang open dan serba gamblang biasanya gedenya nanti jauh lebih fleksibel, mudah bergaul, dan lebih positif sikapnya terhadap kritikan dari orang lain.

Menerapkan demokrasi dalam keluarga itu ga susah sebenernya. Cuma kadang ego kita sebagai orangtua terlalu gede yang akhirnya membuat kita sering menyepelekan perasaan dan pandangan dari anak-anak. Gimana caranya menerapkan paham ini dalam level dasar seperti sebuah keluarga?

  1. Budayakan kebiasaan melindungi hak-hak anggota keluarga

Semua manusia itu punya hak azazi: hak untuk mendapatkan pemenuhan terhadap kebutuhan, hak hidup dengan aman, dan hak untuk memberi dan menerima kasih sayang. Semua anggota keluarga perlu menyadari hak mereka sendiri dan menghargai hak yang dimiliki oleh pihak lain. dari sisi anak-anak sendiri ada 10 macam hak azazi yang ditetapkan oleh PBB dalam Konvensi Hak Anak tahun 1989: hak bermain, hak mendapatkan pendidikan, hak mendapatkan perlindungan, hak mendapatkan nama atau identitas, hak memiliki status kebangsaan, hak untuk mendapatkan makanan dan akses kesehatan, hak untuk berekreasi, hak untuk mendapatkan kesamaan, dan hak dalam berperan di pembangunan. Coba deh Teman DRYD telaah lagi, apakah kesemua hak anak ini udah Teman-teman penuhi untuk si buah hati.

  1. Ajarkan menjaga komunikasi

Yang namanya rumah tangga atau keluarga itu adalah tempat pertama bagi anak-anak untuk belajar bersosialisasi. Nah, bersosialisasi yang benar itu adalah dengan cara menjaga jalur komunikasi terbuka secara dua arah. Ini mencakup komunikasi antara kedua orangtua, antara orangtua dan anak, dan antara sesama anak (jika ada). Ajarkan anak-anak cara berkomunikasi yang benar agar mereka mampu mendengarkan orang lain dengan baik, tidak berkembang menjadi pribadi yang egois, dan memiliki kemampuan empati yang tinggi.

Supaya semuanya bisa berjalan dengan natural dan sehat, sebaiknya budaya berkomunikasi ini diterapkan sejak si anak masih bayi. Gimana caranya? Coba libatkan anak dalam percakapan—sesuai batasan, tentunya. Minta pendapatnya dan biarkan dia mengutarakan isi kepalanya, sekalipun pendapatnya itu kedengeran ga masuk akal. Yaaa, namanya juga anak-anak. Jangan lupa juga tanyakan apa yang ia rasakan dan ungkapkan apa yang kita rasakan. Coba deh, belajar buang jauh-jauh anggapan bahwa anak masih terlalu kecil untuk dilibatkan. Ini cuma perkara pemilihan kata aja kok. Kosakata anak-anak masih terlalu terbatas jadi sesuaiin aja cara penyampaian kita kepada mereka.

  1. Normalisasi hormat-menghormati dan saling sayang menyayangi

Udah ga jamannya beranggapan orangtua adalah yang paling powerful dan karenanya adalah yang paling pantas untuk dihormati. Sekarang tuh, coba terapkan prinsip “hargai saya dan saya akan menghormati kamu”.

  1. Terbukalah akan kritik dan pendapat

Ingat ya, Teman-teman, yang namanya demokratisasi keluarga pasti diwarnai ketidaksepahaman dan silang pendapat. Dari sini muncul kritikan. Orangtua ga sempurna jadi juga ga luput dari kritikan yang anak lancarkan. Ini sah-sah aja ya. Justru ini adalah pola dinamika yang sehat karena semua elemen keluarga punya hak yang setara dalam soal melancarkan kritik. Tapi pastikan kita udah ngajarin anak cara menyampaikan pendapat dan kritik dengan benar. Sebaliknya, ketika kita mengkritik anak, sebaiknya juga kita dampingi dirinya supaya mengerti gimana seharusnya bersikap ketika dikritik.

  1. Jangan pernah mendiskriminasi

Demokrasi yang ideal adalah lingkungan yang bebas diskriminasi dalam bentuk apa pun. Rasa aman dan nyaman adalah hak semua anggota keluarga jadi jangan pernah ada yang namanya kekerasan psikis, verbal, atau juga fisik.

  1. Tanamkan pola tugas dan kewajiban

Yang namanya kesetaraan hak pasti juga disertai dengan keadilan dalam hal kewajiban. Pembagian tugas rumah tangga harus adil, bukan sejajar. Karena kalau berdasarkan kesejajaran, berarti anak juga mengemban tugas untuk nyari nafkah, dong? Penekanan harus diberikan pada prinsip keadilan dan kesesuaian. Bapak ada tugas dan kewajibannya. Begitu juga dengan ibu dan anak-anak. Anak-anak punya kewajiban juga? Iya, dong. Tugas-tugas sederhana seperti mematikan lampu kamar atau merapikan mainan mereka sendiri juga termasuk kewajiban. Lagi-lagi, semua harus sesuai dengan umur dan kemampuan masing-masing, ya.

  1. Biasakan bermusyawarah

Setiap keputusan internal rumah tangga harus diambil berdasarkan musyawarah. Ga perlu rapat formal; suasana santai pun bisa jadi ajang bermusyawarah keluarga loh.

Keluarga saya sendiri menerapkan contoh demokrasi di lingkungan keluarga seperti ini terutama di poin terakhir. Biasanya, setiap akhir bulan seluruh anggota keluarga inti: bapak, ibu, saya, dan adik-adik saya akan berkumpul untuk meeting internal. Apa aja manfaat yang saya rasakan?

Pertama, bonding antara anggota keluarga jadi lebih erat karena dalam rapat bulanan ini kami ada dalam situasi yang lebih hangat dan akrab.

Kedua, saya merasakan pola komunikasi yang lebih efisien dan efektif karena diskusi ga cuma berlangsung di belakang layar antara bapak dan ibu tapi juga antara mereka dan kami para anak serta antara sesama anak-anak. Kita jadi paham proses pengambilan keputusan yang akan diterapkan dan bebas mempertanyakan kebijakan dari orangtua juga.

Ketiga, semua elemen dalam keluarga bebas membicarakan apa aja, mulai dari ada kejadian apa selama sebulan ini, ada perkembangan apa, ada hal baru apa yang sedang dikerjakan, saaampai ke hal-hal yang rada berat dan membutuhkan keputusan bersama. Topik emang bebas, tapi bukan ga ada batesan ya. Hal-hal tertentu yang sifatnya personal dan sensitif biasanya dibicarakan dengan cara pendekatan yang lebih privat juga. Biasanya salah satu atau kedua orangtua akan “menarik” satu anak ke “pinggir” dan mulai deh di-interview.

“Lah, katanya open, Dok? Kok main sembunyi-sembunyi ngobrolnya?”

Ya kalo topiknya terlalu sensitif dan berpotensi mempermalukan si anggota keluarga terkait di depan publik, masa iya harus dibahas terbuka juga? Kan demokrasi itu menjamin rasa aman dan nyama setiap anggota. Kalo malu jadinya ga nyaman lagi dong.

Tapi itu sekadar contoh yaaa. Setiap keluarga pasti punya ciri khas tersendiri yang mungkin bikin metode yang ada di keluarga saya sedikit ga efektif untuk diterapkan. Gapapa. Berdemokrasi itu fleksibel aja kok asal kesejahteraan setiap anggota keluarga tetap terjamin. Kalo emang kayanya lebih aman kalo dimulai dengan “di balik layar” dan cara pendekatan yang selalu personal dan privat, ya monggo. Asal ga berdampak negatif secara global (cie global… apasiii   ?), ya gapapa. Intinya sih, apa pun caranya, gimanapun metodenya, semua anggota keluarga harus dijamin hak dan diminta pertanggungjawabannya.

COVID-19 dan Dilema Mengajak Anak Bermain di Kala Pandemi

Hai moms,

Bermain adalah kegiatan penting untuk anak-anak yang masih dalam periode tumbuh-kembang. Penting bagi kita sebagai orang tua untuk bisa mengajak dan memfasilitasi kebutuhan bermain si anak agar pertumbuhan fisiknya sempurna dan perkembangan otaknya maksimal. Menikmati kegiatan bermain adalah salah satu hak mendasar seorang anak, seperti yang juga sudah ditetapkan oleh PBB. Buat kita orang dewasa mungkin bermain itu adalah hal yang sepele dan remeh. Tapi pada dasarnya semua manusia yang hidup di dunia adalah homo ludens, makhluk yang suka bermain. Saat dewasa pun kita pasti melakukan kegiatan bermain tapi mungkin cara dan jenisnya sudah berevolusi karena manusia dewasa memiliki tuntutan, tanggung jawab, kewajiban, gaya hidup, dan energi yang berbeda dari anak-anak. Maka bermain pun berubah menjadi traveling, berolahraga, atau melakukan hal lain yang melibatkan tubuh dan indra.

Bermain adalah salah satu hak dasar anak-anak

Karena cara pandang kita berbeda, mungkin kita sering menganggap enteng kegiatan bermain untuk anak dan membiarkan si anak cenderung diam dan pasif. Ini sebenernya ga disaranin ya, moms. Psikoanalis Sigmund Freud berpendapat bahwa ada nilai-nilai terapeutik yang bisa diambil dari kegiatan bermain. Dengan merangsang si anak untuk aktif bermain, kita bisa mencegah potensi kemunculan ketidakseimbangan psiko-emosional dalam dirinya. Dengan bermain jugalah si anak bisa menetralkan situasi stres, rasa cemas, rasa takut, serta meminimalisasi kemungkinan depresi. Ini penting supaya kelak ketika si anak dewasa, ia bisa mengatur keadaan psikisnya sendiri dengan lebih efektif.

Bagi orang tua, meluangkan waktu setiap hari untuk berinteraksi dengan anaknya akan memungkinkan kita untuk membentuk suatu ikatan emosional yang kuat dengan si anak sehingga ia bisa menganggap kita teman untuk berbagi dan berkembang menjadi individu matang yang terbuka. Pastinya ga mau dong, moms, anaknya jadi orang yang tertutup rapat dan nyimpen banyak banget rahasia dari kita orang tuanya sendiri?

Bermain pun punya manfaat sosial yang besar untuk perkembangan mental si anak. Sering bergaul dengan teman dan menghabiskan waktu bermain bersama anak-anak lain akan membuat anak paham bagaimana cara berinteraksi yang lebih efisien dengan individu lain. Kegiatan bermain yang intens dan reguler akan membantu mengasah soft skills anak jadi nanti ketika dewasa, ia tahu betul apa itu fairplay, persaingan sehat, bagaimana mencegah diri merasa iri, dan bisa memupuk rasa percaya diri yang maksimal.

Membiarkan anak bermain bisa membantu mengasah soft skills

Kita sebagai orang tua mungkin lebih sering berpikir bahwa pendidikan formal dari sekolah akan cukup untuk memberi anak bekal untuk dewasa nanti. Tapi kita luput mempertimbangkan bahwa sesempurna apapun sekolah dan kurikulum yang ditawarkan, ada beberapa hal yang tidak bisa diajarkan bagi kebaikan si anak di masa depan.

Dan kita sebagai orang tua juga sering lengah dan kebablasan dalam memanjakan anak. Anak usia TK udah dikasi gadget. Iya, taaau; pasti sebel juga denger anak pulang sekolah langsung komplain, “Ma, temenku dibeliin iPhone sama mamahnya!” Terus kita panas dan mau juga ngasi anak barang mahal. Ato mungkin karena cape kali ya, didesak mulu sama anak buat beliin handphone. Alasan lain orang tua membelikan gadget untuk anaknya mungkin didasari oleh alasan keamanan. Mungkin kita takut kalo nanti dia kesasar apa gimana, bisa langsung telepon ke rumah dan kita akan segera memberikan pertolongan. Semua alasan ini valid dan legit. Ga ada orang tua yang ga mau anaknya seneng, aman, nyaman, terpenuhi semua kemauannnya. Tapi kita juga kudu banget jeli memilah mana yang kemauan dan mana yang kebutuhan. Gadget itu stagnan ya, moms. Benda elektronik itu merangsang visual anak tapi mematikan sensor-sensor lain—yang juga seharusnya distimulasi supaya perkembangannya benar. Anak umur 1 sampai 5 tahun harusnya aktif bergerak, berinteraksi dengan sesama manusia, banyak berkomunikasi, dan bonding dengan teman sebaya, bukannya diem di sofa mantengin Instagram. Ga heran kalo jaman sekarang pengetahuan dunia pop anak umur setahun bisa lebih luas daripada orang tuanya sendiri. Jangan sampe ya, kita dapet update artis mana yang cerai atau selingkuh dari anak kita sendiri yang seharusnya masih ngubek-ngubek tanah ato ngejer-ngejer kucing. Jangan sampe dia terpengaruh YouTuber paling kaya se-Indonesia trus pengen dibeliin mobil balap impor sementara kita mau beli bajunya aja kudu mikir sisa duit cukup ngga buat makan. Jangan sampe ya, anak badannya membesar ga terkendali karena kerjanya makan melewati batas normal dan ngemil depan TV setiap hari. Tuh, yang gitu-gitu yang kudu dihindari. Dan yang gitu-gitu sebenernya bisa kita cegah seandainya kita mau proaktif memberikan stimulasi agar anak mau bermain, entah bersama kita, entah dengan teman-temannya di luar sana.

Tapiii, ada lagi nih hal lain yang bikin semuanya agak riweuh. Kan lagi pandemi ni ya, gimana dong caranya supaya si anak bisa tetap aktif? Pandemi emang merepotkan dan kita harus beradaptasi dengan cara mengadopsi pola asuh new normal. Kalo dipikir-pikir, apa sih yang ga dibikin repot sama pandemi kan ya? Pola hidup, ga cuma pola asuh, harus diperbarui supaya kita tetap bisa menjalankan hidup dengan relatif normal sekalipun wabah masih belum reda.

Betul, mengajak anak bermain outdoor di tengah pandemi memang ribet. Tapi bukan ga mungkin. Masalahnya ada di kita; apakah kita mau telaten dan sabar? Anjuran umum memang mengatakan bahwa sekalipun New Normal udah diberlakukan, sebaiknya tetap di rumah aja kalo ga ada keperluan banget keluar rumah. Tapi itu ga berarti kita ga boleh ajak anak keluar sama sekali. Di teras rumah juga udah lumayan. Ato kalo ada halaman cukup luas, ajak deh anak main di sana.

Ato kalo emang nih, kita takut banget ngajak anak keluar dari rumah, ada sih beberapa tips agar anak tidak bosan di rumah saat pandemi. Cuma nih ya, kita juga ga boleh menutup mata dari kebutuhan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan di luar rumahnya. Membiarkan anak lama di dalam rumah tanpa diberi kesempatan sedikit pun untuk mendapatkan stimulasi terhadap indra-indranya dari lingkungan eksternal itu juga bisa jadi pisau bermata dua. Iya, si anak bakal lebih terjamin keamanannya karena kita bisa 24 jam memonitor situasi dan kondisi. Tapi di saat yang sama dia ga sempat mencerna apa itu dunia luar dan ketika nanti sudah agak besar, si anak akan dipenuhi rasa cemas ketika harus melangkah keluar dari pintu depan rumah. Bayangin gimana repotnya kalo dia udah masuk masa sekolah. Masa kita juga kudu ikut duduk di kelas? Kita juga harus mempersiapkan si anak dengan memberi bekal pengertian bahwa dunia itu lebih dari sekadar apa yang dia observasi di dalam rumah. Wawasannya bisa meluas. Rasa percaya dirinya bisa terbentuk. Rasa sosialnya bisa dipupuk.

Dan iya, sebaiknya tetap diusahakan supaya si anak sempat berinteraksi dengan anak lain—selain saudaranya, kalo ada. Dengan cara ini, dia bisa belajar toleransi dan memahami bahwa dunia bukan miliknya sendiri, bisa lebih mandiri, dan mengetahui cara yang tepat untuk berempati. Enggak, kita ga perlu beli masker bayi banyak-banyak. WHO sendiri udah netapin kalo bayi dan anak-anak di bawah 2 tahun jangan penutup wajah, apapun bentuknya, mau face shield, masker kain, masker dokter, masker N95, masker bengkoang, masker spirulina…. Enggak, ga usah. Nanti kalo ada yang ngiklan jualan masker yang katanya bisa buat bayi, jangan ngiler ya, moms. Saya bukannya mau sabotase jualannya orang nih. Tapi emang ga dianjurin anak bayi pake masker.

Amankah masker bayi?

Lah, kenapa, Dok? Kan bisa buat ngalangin partikel virus di udara.

Kalo itu iya, masker mungkin bisa jadi alat pencegahan. Tapi yang perlu diinget di sini adalah bahwa saluran pernapasan anak kecil itu masih saaangat kecil. Jadi dia butuh akses ke oksigen tanpa gangguan. Masker itu kan kudu ketat dan sebisa mungkin menutup akses langsung ke udara kan, sementara si anak sistem pernapasannya belum mampu mengakomodasi keterbatasan asupan oksigen. Anak bayi juga belum bisa bereaksi ketika jalan udarannya terhambat jadi ga bisa ngelepas masker sendiri kalo sesak napas. Anak-anak yang lebih gedean mungkin bisa langsung copot tapi itu memperbesar risiko kontak kulit wajah dengan tangan, secara kan mereka belum paham cara melepas masker yang benar. Jadi serba salah ni; pake masker kudu ketat, bikin sesak, ga pake masker, risiko infeksi jadi tinggi. Jadi gimana ngatasinnya supaya anak bisa tetap enjoy diajak main ke luar?

Kitanya yang kudu waspada. Kitanya yang kudu maskeran sama cuci tangan bersih-bersih. Kitanya yang harus membantu membatasi potensi infeksi pada anak karena sistem imun bayi dan anak-anak juga masih sangat rentan. Ga boleh lengah; malah mungkin harus jauh lebih teliti ketimbang ketika si anak ada dalam rumah. Kita harus banget mengedukasi diri soal personal hygiene anak. Bayi mungkin pasif ya, bisanya cuma diem dalam gendongan kita jadi mungkin sedikit lebih mudah melindunginya.

Ajarkan kebersihan sejak dini

Cukup awasi jangan sampai ada kotoran yang menempel pada bagian tubuhnya. Yang repot itu anak-anak yang udah mulai bisa jalan apalagi yang udah mulai bandel lari-larian sana-sini. Coba mulai perkenalkan si anak dengan kebiasaan mencuci tangan pake sabun setiap abis dari luar rumah. Supaya efektif, kita kasih contoh. Jadi jangan kitanya yang males, bisanya cuma nyuru doang. Ajarkan si anak secara mendetail: kapan aja harus cuci tangan, sabun cuci tangannya yang mana, bagian mana dulu yang dicuci, step-nya apa aja, berapa lama nyabunin tangannya, gitu-gitu. Harus sabar juga. Karena kan namanya anak-anak, yang diliat pasti sisi fun-nya aja.

Terus, peratiin juga durasi bermain anak. Semakin lama di luar rumah pastinya semakin tinggi terekspos berbagai macam kuman dan kotoran. Seengganya, biarin anak bermain selama 2 jam setiap hari, 1 jam di dalam rumah, 1 jam di luar.

Perhatikan durasi

Abis itu, mandiii, yaaay! Sekalipun mainnya cuma di dalam rumah, ada baiknya juga memperkenalkan sistem penjadwalan kepada si anak sejak dini supaya dia bisa belajar disiplin dan menghargai waktu. Nanti seiring pertambahan usia, boleh kok, menambahkan jam bermain.

Yang berikutnya untuk diperhitungkan adalah ventilasi udara. Ini khususnya berlaku untuk ketika si anak bermain di dalam ruangan ya, moms. Pastikan sirkulasi udara dari dan ke dalam ruangan bermain terjaga agar udara senantiasa bersih dan sehat untuk dihirup. Ventilasi yang tidak memadai tidak akan bisa memfasilitasi pertukaran udara sehingga kemungkinannya lebih besar untuk debu dan partikel kuman tetap berada di dalam ruangan lebih lama. Bukan berarti ini tidak berlaku dengan area bermain outdoor.

Sirkulasi udara yang baik juga penting

Jangan biarkan anak bermain di lokasi yang terlalu lembap atau terlalu kering. Area yang terlalu lembap adalah ladang subur untuk perkembangbiakan bakteri dan hal-hal menakutkan lain. Sementara area yang terlalu kering selain membuat udara terasa panas, debu lebih mudah terbang dan hinggap di saluran pernapasan.

Nah, buat yang anaknya doyan banget main sama temen-temennya, ajarin deh aturan jarak aman social distancing menurut who.

Beri pengertian tentang social distancing

Jarak aman minimal itu 2 meter, tapi mungkin anak-anak akan kebingungan kalo kita suruh jauh-jauh 2 meter dari anak lain. Jadi mungkin moms bisa kasih contoh yang lebih mudah supaya dia ngerti. Misalnya mungkin dengan memberi jarak dua rentang tangan si anak. Ato buat ibu-ibu yang hobi ngobrol sore-sore sama tetangga, bisa terapkan juga metode penjarakan ini. Ga perlu ngerasa ga enak ato takut dianggap antisosial atau sombong. Orang lain juga kalo emang paham situasi dan kondisi juga males kali deketan.

Beradaptasi dengan mencari tahu tentang cara mengasuh anak saat pandemi covid-19 itu sudah merupakan sebuah kewajiban di era New Normal ini. Kita ga bisa lengah dan menurunkan tingkat kewaspadaan gitu aja meskipun peraturan udah lebih longgar. Tapi di saat yang sama kita juga harus memperhitungkan kewajiban kita untuk memenuhi hak anak untuk menikmati kegiatan bermainnya. Bermain sambil waspada itu masih memungkinkan untuk dilakukan asal kita paham regulasi dan aturan serta memilah mana yang efektif dan efisien dan mana yang sekadar bersumber dari ketakutan personal kita sebagai orang tua.