Hai moms and dads,

Buku itu adalah jendela dunia. Karenanya, dengan membaca buku, artinya kita bisa mengintip dunia dan mengetahui banyak hal tanpa perlu berinteraksi langsung dengan dunia luar. Kita jadi tau New York tu kayak gimana atau Paris tuh gemerlapnya kayak apa tanpa perlu bener-bener dateng ke kota yang dimaksud. Kita bisa tau proses-proses ilmiah, geologis, biologis, astronomis, filosofis, sosiologis—macem-macem, cuma dengan membaca buku. Buku dan membaca menjadi senjata untuk membuka kunci yang mengekang wawasan dan pengetahuan kita mengenai banyak hal di dunia dan kehidupan ini.
Dengan bekal pengetahuan yang didapat dari membaca, anak pun bisa terbantu tumbuh-kembangnya. Banyaaak banget manfaat membaca buku tapi itu kita bahas ntaran deh ya. Sekarang saya mau nanya dulu; moms and dads, pada suka baca buku ga?
Sebagai orang tua, kita pastinya mau anak kita berpengetahuan luas, wawasannya mencakup berbagai macam bidang, ketrampilan dan keahliannya keasah tajam. Kita kepingin anak kita kualitasnya lebih baik dari orang tuanya karena—suka ga suka—salah satu parameter keberhasilan mendidik anak adalah ketika si anak memahami hal-hal tertentu yang orang tuanya mungkin ga pernah punya kesempatan buat dalami, kan? Nah, dengan membaca, si anak bisa membuka matanya untuk banyak kemungkinan yang ada di luar sana. Sementara kita, para orang tua, sibuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan rumah tangga, si anak bisa mengasah pengetahuannya dengan segala macam buku yang dia baca.

Permasalahannya, sejauh apa kita bisa meng-influence anak untuk mencintai buku? Apakah sudah maksimal cara kita mendukung dan mendorong anak untuk gemar membaca? Atau justru malah kita membiarkan buah hati kita tenggelam dalam dunia online di genggamannya dengan pemikiran “lebih baik sibuk dengan handphone daripada kenapa-kenapa”?
Kalo udah ada kesempatan dan jeda dari kesibukan, coba deh, moms and dads, berenti sebentar buat nanya ke diri sendiri: “Sudahkah saya menjadikan membaca sebagai habit saya sendiri?”
“Kenapa gitu harus banget nanya kayak gitu ke diri sendiri, Dok?”
Kalo udah soal mendidik anak, kayanya lebih efektif kalo kita ngasi contoh langsung deh. Anak suka ga responsif kalo kita cuma ngandelin perintah oral apalagi sambil dimara-marain ato dibentak-bentak. Biasanya suka mental omongan kita kan? Nah, kalo si anak udah sejak dini ngeliat orang tuanya demen baca buku, dia bisa menginternalisasi kebiasaan kita, lebih mudah untuk disuruh mencoba membaca, dan akhirnya nanti potensi doyan baca bukunya juga lebih gede.
Nah, moms and dads jangan cuma bisa nyuru anaknya baca yaaa. Kudu banget ngejadiin baca buku sebagai kebiasaan harian kita sendiri supaya anak bisa jadiin contoh buat dirinya sendiri. Pada prinsipnya, anak ga bakal suka baca buku kalo orang tuanya ga suka baca buku juga. Habit itu menular loh, ya. Bakal kesulitan mendidik anak untuk suka buku kalo kitanya sendiri ga punya interest sedikit pun ke objek terkait.
Ga berarti kita juga kudu ngubah sesuatu yang emang pada dasarnya bukan kita yaaa. Natural aja. Kalo emang ga bisa meng-influence anak buat suka baca, yaaa mungkin bisa dikasi suplemen lain yang bisa nutup “bolongan” itu. Pas nonton TV, misalnya; mungkin kita bisa memberi stimulasi dengan acara-acara pendidikan—yang tentunya juga sulit dilakukan pada masa ini mengingat kualitas acara televisi kita….
Tapi intinya begitu; jangan memaksakan kemauan kita, idealisasi yang ada di kepala kita kalo kitanya sendiri juga masih ga menerapkan itu. Bisa-bisa si anak ngeluarin jurus, “Mamah-Papah nyuru-nyuru baca, emang Mamah-Papah sendiri suka baca?” Gigit lidah kan kalo anak udah nge-skakmat kita kayak gitu?
Kadang juga kita suka tergiur sama tren buku diskon. Begitu ada info tentang cuci gudang dan diskon gede-gedean, kita langsung aja pengen nyomot. Tujuannya mau buat anak supaya bisa doyan baca. Tapi kan ya percuma, orang bekal interestnya aja ga ada kan? Mau beli buku diskonan satu truk juga kalo si anak kaga doyan baca, ga bakal berguna. Stop deh, ikut-ikut beli diskonan buku gitu. Ngapain dibeli kalo ujung-ujungnya buku-buku itu cuma jadi bagian dari dekorasi rumah? Yang ada buku-bukunya malah ngumpulin debu, rusak dimakan rayap, ancur karena lembap. Akhirnya apa? Dibuang. Diloakin. Dikiloin. Dijadiin pembungkus. Kan kasian. Nulis buku itu ga gampang loh. Jadi jangan disia-siain kalo emang ga bakal kepake ato berguna.
Membuat anak untuk gemar membaca buku itu tujuan mulia. Tapi tujuan itu akan lebih mudah tercapai kalo semuanya dimulai dari dasar, dari diri kita sendiri dulu. Jadikan membaca sebagai sebuah kebiasaan secara harian dan anak akan mencontoh. Mungkin ga sampai ke target yang kita kehendaki, karena toh anak juga punya interest-nya sendiri. Tapi paling engga, kita udah ngebiasain buah hati buat terbiasa memegang buku dan ga menganggap buku sebagai sebuah media kuno yang ga lagi relevan di zaman modern.

Menjadikan membaca buku sebagai sebuah kebiasaan juga membawa berbagai macam dampak positif kok.
Membaca bisa mengurangi risiko stres. Universitas Sussex di Inggris melakukan riset tahun 2009 yang hasilnya menunjukkan bahwa stres bisa dikurangi sampai 68%. Detak jantung melambat hanya dengan membaca buku selama 6 menit.
Membaca bisa meningkatkan kemampuan empati. Keith Oatley dan Raymond Mar, profesor emeritus psikologi Universitas Toronto dan psikolog di Universitas York—respectively, berpendapat bahwa kebiasaan membaca karya fiksi bisa menajamkan kemampuan individu dalam memahami orang lain.
Membaca bisa melatih kemampuan matematis. Selain melatih kemampuan bahasa, ketajaman matematis juga bisa ditingkatkan dengan membaca karena seorang individu yang gemar membaca buku memiliki daya serap teoretis dan konseptual yang lebih tinggi.
Membaca bisa memperpanjang umur. Riset oleh Universitas Yale di tahun 2016 menunjukkan bahwa membaca selama setidaknya 30 menit setiap hari bisa memperbaiki kualitas hidup seseorang yang akhirnya bisa memperpanjang usia.
Membaca bisa membantu menyehatkan tubuh. Menurut hasil riset Universitas Stavanger di Norwegia, anak-anak yang tidak gemar membaca kondisi fisik dan mentalnya jauh lebih buruk daripada mereka yang suka.
Membaca bisa membantu mengasah daya ingat. Ketika kita tidur, energi akan sepenuhnya tersalurkan ke otak. Jika sebelum tidur kita membaca buku, otomatis daya ingat kita akan semua informasi yang didapat sebelumnya juga akan lebih baik.
Membaca bisa membuat otak bugar. Saat membaca buku, otak akan berpikir lebih banyak. Imajinasi dan abstraksi ide akan lebih dinamis.
Memberikan sebuah buku anak akan jauh lebih baik daripada membiarkan buah hati sibuk dengan gadget yang layarnya memancarkan sinar biru. Ini klasik sih, masalah mana yang lebih baik: buku atau smartphone. Kita ga perlu mencari-cari keburukan dari sebuah gadget, gimanapun juga toh perkembangan teknologi bisa berdampak positif untuk kemajuan peradaban. Yang patut dipertanyakan di sini adalah apakah bijak membiarkan anak mengenal smartphone terlalu awal? Dari sebuah peranti kecil dalam genggaman tangan si buat hati yang mungil, arus informasi tidak akan bisa dibendung. Otaknya akan mengalami ketersendatan dalam berkembang karena hanya pasif menerima input dari smartphone-nya.
Buku jauh lebih sehat. Buku memberikan pengetahuan dalam skala besar tapi juga ruang lingkupnya bisa sedikit dikekang. Dengan keterbatasan akses ke informasi tambahan, si anak akan distimulasi untuk berimajinasi, mengolah sebuah konsep, dan melatihnya menyerap dan menyaring sesuatu sebelum diaplikasikan ke dunia nyata.
