Teknik Jurnaling: Ketik atau Tulis Tangan?

Hai Teman DRYD,

Udah nemuin apa self-love languages kalian? Seperti yang kita udah pernah bahas kemarin-kemarin, ungkapan mencintai diri sendiri itu juga penting untuk dipelajari supaya kita ga terjebak dalam mencintai orang atau hal lain tapi luput dari memelihara kesehatan pribadi—fisik maupun mental. Dan karena setiap individu adalah subjek unik yang memiiki cara tersendiri dalam menangani berbagai macam kendala pribadi, yang namanya self-love language buat masing-masing juga berbeda-beda. Ada yang memilih bermeditasi, ada yang lebih suka pergi ke spa atau dipijat, ada juga yang cenderung lebih merasa dirinya teraktualisasi ketika melakukan hobi yang mereka suka.

Semuanya valid dan legit ya, Teman DRYD. Do whatever makes you happy and feel loved by your very own self. Ga ada judgment di sini. Namanya juga self-care, cuma kita yang tahu gimana caranya supaya bisa mencintai diri sendiri dengan lebih mendalam dan lebih intim dalam menjalin hubungan dengan diri sendiri. Cuma kadang-kadang nih, apa yang menurut kita bisa membuat lebih mencintai diri sendiri itu bisa-bisa kebentur penghalang. Misalnya, yang berminat meditasi mungkin terkendala masalah jadwal kerja. Sibuk di kantor, lembur sampe malam, kerjaan kebawa sampe rumah—banyak faktor yang berkaitan dengan kesibukan hari-hari yang menjegal jalan menuju ketenangan batin lewat meditasi. Ataaau, mungkin ada yang kepingin nyobain spa atau massage treatment tapi kehalang masalah budget. Mungkin alokasi dana bulanan ini mepet banget dan kalo dipaksain pergi ke spa malah bikin overbudget. Atau mungkin ada yang kepikiran buat menekuni hobi memasak atau berkebun tapi si buah hati yang masih kecil bikin agak ga mungkin buat mereka ninggalin barang semenit.

Apa pun alasannya, gapapa. Ga cuma satu jalan ke Roma, kata orang-orang. Ga perlu stres gegara ga sempet me-time karena entah apa pun. Ga usah juga merasa ga enak pada siapapun dan ngerasa banyak alesan. Kita yang tau kondisi. Kita yang paham medan. Kita yang ngerti kaya apa situasi, risiko, dan efeknya. Gapapa.

Teman DRYD tau ga, kalo ternyata tindakan self-care yang paling efektif itu adalah juga yang paling murah, mudah, dan ga ngebebanin?

“Masa sih, Dok? Emang ada alternatif lain?”

Ada dong. Perkenalkan, jurnaling.

Pernah denger? Ato ini pertaman kalinya denger istilah ini? Basically, membuat jurnal itu adalah kegiatan pencatatan pengalaman yang dilakukan secara harian dalam sebuah media tertulis. Nah, berdasarkan definisi sederhana ini, pasti yang kebayang itu adalah buku diari kan ya?

“Dok, masa udah tua masih disuru nulis diari, sih?”

Eits, jangan buru-buru nyimpulin yaaa. Sekilas emang menulis jurnal dan buku diary itu mirip. Tapi keduanya berbeda secara fundamental. Diari yang biasanya kita gembok pas jaman es-de sampe es-em-a itu ditulis harian, emang. Tapi isinya saaangat random dan sifatnya lebih ke luapan isi hati yang ga bisa disampaikan ke orang lain. Kesel sama sahabat lah, bete sama pacar lah, sedih dicuekin gebetan lah, keki sama ortu lah, seneng karena nilai ulangan bagus lah, emosi gegara LDR-an lah, cemburu sama orang lain lah, gitu-gitu deh.

Nah, bedanya sama jurnal, jurnal itu lebih rapi, lengkap, berpola, dan teknis. Kita ga harus menceritakan panjang lebar tentang perasaan sebel gegara ngeliat gebetan dipepet sama temen deket. Cukup, misalnya, bikin satu section yang mengandung emoticon-emoticon dari sedih sampe seneng. Nanti dibuat bagan per tanggal untuk satu bulan. Di tanggal yang dimaksud, kita tinggal warnai emoticon yang sesuai dengan overall mood kita hari itu. Simpel, kan? Kalo mau dispesifikkan kenapa kita mewarnai emoticon sedih untuk hari itu, bisa aja dikasi note gitu, ngejelasin kenapa mood kita jelek.

Teknik ini disebut juga dengan bulletjournal, karena kita dianjurkan untuk seminim mungkin dalam menggunakan kata-kata dan lebih bermain ke pewarnaan, checklist, diagram, dan ikon-ikon atau gambar. Dengan cara ini, pencatatan harian kita selama sebulan bisa lebih compact, praktis, dan mudah dibawa ke mana-mana. Kebayang ga, gimana repotnya harus punya dan bawa-bawa 5 buku catatan untuk hal yang berbeda? Kegiatan menjurnal bakal jadi sangat menyita waktu dan truly exhausting.

Secara umum, membuat jurnal adalah kegiatan positif yang sehat untuk mental dan tidak menuntut banyak dari pelakunya. Dengan membuat jurnal, kita bisa lebih mudah dalam mengolah emosi yang dirasakan, mengembangkan kreativitas, dan mempermudah strategi hidup (melacak kejadian di masa lalu, membantu menyusun apa yang harus dilakukan saat ini, dan merancang masa depan). Uniknya, bullet journal juga bisa mencakup masalah penyusunan budget harian. Kita bisa mencatat pengeluaran untuk dijadikan parameter ketika akan menyusun keperluan finansial di bulan berikutnya. Kira-kira di bagian mana uang mengalir terlalu deras sehingga menyedot kebutuhan di sektor lain.

Pake Tangan Ato Ketik?

Pertanyaan yang satu ini jadi relevan karena di jaman modern kaya gini, smartphone kita pun disertai kemampuan untuk menjalankan aplikasi digital bahkan untuk membuat jurnal harian. Komputer pun bisa mengakomodasi kegiatan ini dengan cakupan yang lebih luas mengingat kemampuannya untuk memfasilitasi desain grafis. Tapi ada hal tertentu yang membedakan membuat jurnal dengan menulis dan mengetik lebih dari jenis media dan fasilitas.

Membuat jurnal dengan buku dan pena itu sesederhana membuka lembaran kertas dan mulai menuliskan pikiran, pendapat, dan perasaan. Dengan menulis, kita bisa memiliki kesempatan untuk melibatkan otak kita dengan lebih dinamis sehingga bisa membuat kita menyimpan memori dengan lebih baik. Menjurnal dengan mengetik melibatkan aplikasi menulis digital seperti OneNote, Microsoft Word, Google Docs, Tumblr, atau WordPress. Isi pikiran dan perasaan diketik dan tertuang langsung dalam layar peranti di hadapan kita.

Ada keuntungan dan kekurangan masing-masing dari kedua cara itu tadi. Menulis memungkinkan kita untuk mewariskan sesuatu yang dapat dipegang pada anak-cucu kita nanti untuk mereka pelajari sendiri. Menulis di atas kertas pun meniadakan kemungkinan data kita diretas atau hilang karena kerusakan media penyimpanan. Mengetik dengan media digital, di lain pihak, memungkinkan kita untuk membuat backup data dan dengan alat yang tepat kita bisa mengakses arsip-arsip data di mana dan kapan aja.

Menulis dengan Tangan Memaksa Kita untuk Melambatkan Proses Berpikir

Keluhan terbesar tentang membuat jurnal dengan menulis adalah bahwa kegiatan ini sama sekali ga convenient. Ga praktis untuk sesuatu yang semestinya membuat segalanya ringkas dan, well, praktis. Menulis emang bukan hal sulit tapi mengetik jauh lebih mudah apalagi kalo pada kenyataannya kita udah duduk di depan komputer juga buat kerja. Kebanyakan dari kita bahkan mungkin lebih banyak mengetik daripada mengunakan pena jadi membuat jurnal dengan menulis mungkin akan butuh beberapa saat sebelum kita terbiasa. Karena ini, menulis dengan tangan akan terdengar ga produkti karena kita akan diperlambat—tapi ini justru berdampak baik. Kenapa? Karena ketika kita menulis dengan tangan, kita dipaksa untuk fokus pada apa yang penting saat itu. Ketika kita menulis dengan tangan, kita akan menghasilkan lebih banyak kata ketimbang saat mengetik dan juga kita bisa mengekspresikan lebih banyak ide.

Menulis tangan memerlukan koordinasi halus antara jari-jari dan otak—ini sesuatu yang lebih complicated daripada mengetik. Kegiatan ini merangsang aktivitas pada bagian motor cortex di otak—efek yang sama ditemukan juga pada kegiatan bermeditasi.

Mengetik Mempermudah Kita Membentuk Habit

Kenyamanan dan kemudahan adalah keuntungan utama jika kita memilih mengetik sebagai cara untuk journalling. Dan karena semuanya serba mudah dan nyaman, mengetik membuat kegiatan menjurnal lebih mudah untuk ditelateni dengan ketekunan. Ketika menulis dengan tangan, kita dipaksa untuk memproses apa yang kita rasakan sebelum dituangkan di atas kertas. Mengetik di komputer atau smartphone membuat kita meng-skip proses yang satu ini jadi isi kepala bisa langsung mengalir dalam bentuk tulisan pada layar monitor.

Analisis

Beberapa orang merasakan sensasi atau kepuasan tersendiri ketika menjurnal dengan tangan setelah melalui satu hari yang penuh dengan stres atau diwarnai hal-hal yang membuat down. Mereka merasa lebih “lepas” dan “lega” setelah menggunakan pena dan kertas untuk mengeluarkan isi kepala, terutama karena mereka secara ga sadar mengasosiasikan mengetik di komputer atau gadget lain dengan kegiatan kerja profesional—yang tentunya melelahkan.

Dari satu studi di Universitas Iowa, subjek penelitian menunjukkan reaksi positif terhadap pengalaman traumatis setelah membuat jurnal tentang pengalaman tersebut; tapi hasil ini semua didapatkan bukan dari kegiatan itu sendiri melainkan lebih kepada bagaimana kegiatan itu dilakukan, gitu. Mereka diminta untuk menjurnal dengan menulis tangan dan berfokus tidak hanya pada emosi tapi juga pada pikiran dan perasaan.

Ketika kita menulis dengan tangan, fokus untuk pikiran dan perasaan jadi terasa lebih leluasa untuk dilakukan karena kita kudu nih, berenti sebentar buat memproses apa yang kita rasakan sebetulnya. Ketika mengetik, proses ini otomatis ditiadakan karena kita ngerasa ga perlu berhenti sejenak buat berpikir dan merasakan. Semuanya langsung mengalir lewat kecepatan tangan mengetik.

Jadi Mana Yang Lebih Baik?

Mengetik tidak serta-merta berarti kita ga bisa memproses isi kepala dan perasaan dan semata-mata mencurahkan fokus pada emosi aja. Tetap bisa, tapi dengan menulis tangan, semuanya bakal kerasa lebih organik aja karena kita ga terarahkan untuk menuangkan sebuah ide tanpa berhenti sebentar. Kadang perlu juga loh, ngerem diri sendiri sebelum bertindak. Diproses dulu apa yang kita rasakan. Sinkronkan dulu dengan isi kepala. Baru kemudian kita gunakan sejajar dengan emosi yang ada. Jadi menentukan mana yang lebih baik antara menulis tangan dan mengetik itu agak sedikit rancu karena semuanya balik lagi ke tujuan awal kita membuat jurnal.

Mengetik bisa jadi pilihan yang aman jika tujuan kita adalah merekam informasi dan data karena lebih mudah dan lebih cepat. Tapi kalo kita kepingin belajar melacak kejadian di masa lalu, memproses perasaan, menghasilkan ide-ide, ato sekadar untuk menjadi lebih tenang aja, menulis dengan tangan adalah pilihan yang lebih tepat.

Ga ada alasan juga buat ga ngelakuin keduanya. Pas mau nyatet informasi ato data, ngetik deh. Pas mau menajamkan fokus dan mau ngerem proses berpikir sebentar, nulis tangan deh. Tapi kalo tujuannya dari awal mau ngedapetin manfaat secara kesehatan mental, mending nulis tangan deh.

Beberapa Tips

Tertarik buat mulai bikin jurnal, terutama dengan menulis tangan? Ada tipsnya supaya ga ngebosenin dan kita bisa dapetin manfaat penuh.

  1. Cari buku yang cocok sama kepribadian kita. Kenapa? Simpel. Ga ada kan yang nganggep buku tulis polos tanpa pemanis itu menarik? Ga perlu yang terlalu semarak warna-warni ber-glitter. Baaanyak buku jurnal dijual di luar sana dengan desain menarik dan inovatif. Pilih satu yang emang berpotensi ngedukung kegiatan kita dan sesuai dengan kepribadian kita. Ini bakal bikin excitement meningkat dan kita bakal ngerasa kayak ada yang ilang kalo ga ngejurnal sehari aja.
  2. Don’t limit yourself. Maksudnya di sini jangan sekali-kali ngasi batasan tentang isi jurnal yang sebaiknya. Jurnal ga melulu perkara tanggal-tanggal dan appointments Isinya bisa tentang jadwal atau siklus mens (buat cewe-cewe ni, ya), must-try recipes, alokasi budget, ide-ide dan inspirasi apa pun, lists (judul film yang mau/harus ditonton, album must-have), bahkan rancangan belanja bulanan. Untuk masalah ini, kreativitas kitalah yang jadi batasannya.
  3. Tetapkan jadwal jurnal rutin. Ga perlu setiap pagi kok. Kalo emang nyamannya memulai menjurnal di pagi hari, ya mulailah sesegera setelah bangun. Kalo emang lebih nyaman di malam hari, ga Yang penting ada alokasi waktu menjurnal setiap hari.
  4. Memilih buku harian yang cocok aja ga Harus ada temannya. Cari alat-alat tulis dan dekorasi yang menarik juga. Pena warna, stiker-stiker, label, pembatas halaman, apa pun itu yang bisa ngedukung kreativitas.
  5. Yang terakhir, enjoy. Tanamkan di diri kalo kegiatan menjurnal ini adalah sesuatu yang sifatnya menenangkan. Ini semua perkara self-care. Dijalani aja senyamannya kita. Tapi kalo emang setelah dicoba, kegiatan ini ga kerasa ada dampak positifnya, sah-sah aja kok kalo kita mau berpaling dan mencoba alternatif self-care Lagi-lagi, ga satu jalan menuju Roma. Self-love language adalah sesuatu yang fleksibel dan hanya menuntut satu hal saja: Do whatever makes you happy and love yourself even more.

Memukul dan Menggigit: Ketika Anak Cuma Tahu Ekspresi Fisikal untuk Berkomunikasi

Beberapa orang di dekat saya sempat mengeluh tentang anak yang tiba-tiba suka sekali menggigit atau memukul mereka. Awalnya si buah hati maniiis banget. Tau-tau, ga ada ujan ga ada badai, kebiasaannya jadi berubah lebih agresif. Saya jadi kasian karena kondisi begini biasanya gampang banget bikin si ortu jadi kepikiran. Kaya, mereka jadi otomatis mikir, “Apa sih sebenernya yang salah? Apa saya salah didik apa gimana? Apa ada faktor tertentu di dalam rumah yang bikin anak saya jadi seagresif ini ya?” Itu baru sebagian kecil contoh overthinking ortu ketika menghadapi kenyataan bahwa anaknya yang tadinya berperilaku sweet bak malaikat tiba-tiba berubah jadi monster.

Yang jadi masalah lebih besar lagi adalah bahwa si buah hati ga cuma ngejadiin ortunya sendiri sebagai sasaran. Orang lain, terutama teman-teman sebayanya, juga bisa kena. Siapa yang ga stres dengan situasi macam begini? Digigit atau dipukul anak itu emang sakit, apalagi anak-anak ga bisa ngukur efek dari tindakannya itu. Main gigit atau pukul aja. Kadang sampe bikin kulit memar dan bahkan mungkin berdarah. Tapi rasa sakit fisikal ini kalah mengkhawatirkan dibandingkan dengan kemungkinan si anak berubah menjadi bully saat dia nanti masuk sekolah.

Memukul atau menggigit sebetulnya pola perilaku yang lambat laun bisa hilang seiring dengan pertambahan usia si anak. Tapi akan lebih baik jika tindakan seperti ini bisa ditangani sejak dini sebelum berubah menjadi pola perilaku yang lebih sulit untuk dikoreksi di masa depan. Konsep dasarnya seperti ini: Perilaku agresif pada anak-anak umur di bawah tiga tahun itu lebih mengarah kepada masalah “latihan” yang minim ketimbang kenakalan murni. Batita adalah makhluk yang baru lepas dari gendongan ibunya, skill sosial dan komunikasi mereka saaangat terbatas dengan jumlah kosa kata yang bahkan jauh lebih minim lagi. Makanya, mereka menggunakan cara menggigit atau memukul orang lain sebagai cara untuk menyampaikan protes atau ketidaksetujuan yang mereka rasakan karena cuma itu yang mereka anggap logis. Nalarnya belum sempurna. Empatinya belum berkembang sempurna. Mereka ga suka sama sesuatu tapi karena keterbatasan daya penyampaian, mereka beralih pada ekspresi fisikal untuk menyampaikan apa yang dirasakan. Kitalah sebagai orang tua, manusia dewasa yang logika dan empatinya udah jauh lebih matang, yang seharusnya bisa mengajarkan si anak untuk mengembangkan kemampuan sosial yang lebih baik tanpa mengambil jalan yang justru bikin kebiasaan menggigit dan memukul jadi makin buruk.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan dan Apa yang Semestinya Dihindari?

Yang jangan dilakukan adalah:

Pertama, JANGAN PERNAH memukul balik si anak dan berpikir itu akan menjadi sarana pembelajaran bagi si anak. Sadar ga sih, ketika kita memukul buah hati kita karena kelakuannya itu hanya akan memberikan pembenaran buat dia sendiri? Berpikir bahwa memukul adalah tindakan pendisiplinan yang efektif itu cuma bakal bikin si anak mikir kalo kekerasan fisik itu bisa diterima. Orang tuanya aja suka mukul, apalagi anaknya.

Kedua, JANGAN PERNAH memberikan hukuman dalam bentuk apa pun. Tujuan kita adalah membantu anak untuk mengelola semua emosi yang dia rasakan. Tapi pemberian hukuman justru bakal jadi kontraproduktif karena itu hanya akan membuatnya berpikir bahwa dirinya adalah jahat dan nakal. Ini, pada prosesnya nanti, hanya akan memperburuk perilaku agresifnya.

Ketiga, JANGAN PERNAH memusingkan apa yang orang lain katakan. Berkaitan dengan kasus anak suka memukul atau menggigit, fokus kita harus seratus persen diberikan kepada si anak, bukan kepada nama baik kita sebagai orang tua atau pendapat orang lain. Jadi jangan pernah takut kalo perilaku anak akan membuat imej kita buruk dan dianggap sebagai orang tua yang tidak handal. Semua orang punya porsi masing-masing. Semua orang punya cara masing-masing.

Keempat, JANGAN PERNAH memaksa si anak meminta maaf atas perbuatannya. Kata kuncinya di sini adalah “memaksa” ya. Batita mungkin sudah fasih meminta maaf tapi permintaan maaf dari seorang batita itu ga pernah tulus kok. Mereka cuma minta maaf buat keluar dari kemungkinan dimarahi. Jadi gimana? Ga mungkin dibiarin aja kan? Tentunya engga. Ketika si anak sudah lebih tenang dan tantrumnya ilang, ajak dia bicara sesederhana mungkin tentang apa yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki situasi atau tentang bagaimana dia bisa membuat si orang yand digigit atau dipukul merasa lebih baik. Caranya gimana? Coba berikan gambaran tentang tindakan kebajikan ke si anak. Atau kalo bisa didemonstrasikan langsung tindakan kebajikan itu malah lebih baik. Kita bisa ngajarin si anak buat bertanggung jawab atas tindakannya sendiri dan berempati pada orang lain juga.

Yang sebaiknya dilakukan adalah:

Pertama, monitor buah hati kita. Batita itu kaya cuaca, susah banget ditebak. Tapi sebagai orang tua kita mungkin punya cara tersendiri buat mengenali fase frustrasi atau kelelahan anak kita sendiri ketika sedang bermain dengan anak-anak lain. Begitu kita menangkap sinyal buruk dari suasana hati si anak, langsung aja deh dia dibawa pergi sebelum keadaanya makin buruk.

Kedua, tetaplah tenang. Kita orang tua juga manusia jadi bisa dimengerti ada rasa kesal ketika anak bertingkah tidak pantas. Tapi hasil positif bisa lebih mudah didapatkan jika kita tetap tenang dalam situasi anak memukul atau menggigit. Jika kita menunjukkan kekesalan dengan gamblang, si anak akan malah ketakutan dan ini mempersulit dirinya untuk mempelajari nilai-nilai yang mau kita sampaikan. Plus, si anak akan menyadari bahwa orang tuanya memberikan respons secara signifikan ketika dia melakukan kesalahan dan akhirnya berpikir bahwa perhatian orang tua cuma bisa didapatkan melalui sifat nakal—yang artinya kita gagal memperbaiki sifatnya.

Ketiga, berempatilah dengan anak dan buat batasan. Jangan gengsi buat menyampaikan pada anak bahwa kita memahami emosi yang ia rasakan dan berikan pengertian padanya bahwa apa yang ia rasakan bukan alasan pembenaran untuk tindakannya.

Keempat, tenangkan si anak. Ajarkan kepada anak untuk menenangkan diri dengan cara pernapasan perut, pemberian pelukan, atau bahkan menyanyikan sebuah lagu. Tujuannya adalah memberikan kesadaran pada anak bahwa dialah yang punya kuasa atas segala bentuk emosi yang dirasakannya tanpa perlu membiarkan dirinya meledak.

Kelima, cobalah mempraktikkan “redo”. Begitu anak sudah cukup tenang, ajak dia membayangkan alternatif berbeda dari apa yang sudah dia lakukan lain kali. Tapi kita kudu sabar juga, emosi mentah yang dirasakan si anak bisa terlalu kuat dan kebiasaan baru itu butuh waktu buat dipelajari.

Keenam, praktikkan strategi alternatif. Ajak anak main boneka dan pancing dia untuk mempraktikkan apa yang mungkin dia bisa lakukan ketika merasa frustrasi, termasuk pergi menjauh, meminta tolong, atau menggunakan kata-kata yang tepat untuk menyampaikan apa yang dia rasakan. Yang perlu diingat, strategi ini mungkin ga bakal menunjukkan hasil dalam waktu singkat tapi menerapkannya sejak dini dan reguler adalah kunci.

Mengatasi Perilaku Agresif pada Anak di Atas 3 Tahun

Cara mengatasi anak yang suka memukul atau menggigit pada rentang usia di bawah 3 tahun emang cukup menyita perhatian. Tapi ketika anak di atas 3 tahun masih suka agresif, semuanya berubah menjadi luar biasa melelahkan karena asumsinya adalah mereka udah sepantasnya tahu baik-buruk dan benar-salah. Sebaiknya kita ga langsung mengklaim bahwa si anak udah bakat buat jadi bully. Yang lebih penting untuk dilakukan adalah memahami bahwa “kenakalan” macam ini tuh aslinya pertanda bahwa si anak perlu dilatih dengan strategi pengendalian impuls.

Terlebih dulu buang jauh-jauh kecenderungan untuk mencap anak sebagai anak yang nakal, kasar, dan agresif karena label seperti ini akan membuat anak kecil hati dan memperburuk perilaku negatif yang udah ada.

Mengatasi perilaku agresif pada anak usia di atas 3 tahun bisa dibagi menjadi 3 kelompok: sebelum, pada saat, dan sesudah sebuah insiden.

Sebelum insiden

  1. Pastikan anak istirahat dengan cukup. Anak akan lebih mudah mengendalikan impuls mereka ketika kebutuhan tidurnya tercukupi.
  2. Jangan berlama-lama berkunjung ke tempat orang lain. Ketika anak sudah sangat bosan berada di satu tempat, dia akan lebih mudah melancarkan sikap agresif.
  3. Jangan melewatkan waktu tidur siang atau waktu beristirahat secara umum. Bermain bersama teman atau mengunjungi anggota keluarga akan terasa lebih menyenangkan jika anak punya cukup waktu untuk beristirahat.
  4. Selalu penuhi kebutuhan anak akan perhatian. Berikan perhatian yang positif pada anak setiap hari. Sisihkan waktu untuk mendengarkan cerita mereka untuk membangun ikatan emosional dan menenangkan impuls si anak.
  5. Ajarkan strategi resolusi konflik yang positif. Dorongan anak untuk bertindak agresif akan terkendali jika dia sudah mempelajari strategi-strategi seperti penggunaan frase “aku merasa…”, pergi meninggalkan sumber konflik, tidak mengindahkan, mencari jalan tengah, atau semacamnya.
  6. Jangan langsung merespon begitu sikap agresif muncul. Ikuti alurnya jika si anak menggunakan kata-kata untuk berargumen. Tapi begitu tanda-tanda perilaku kasar dan agresif terlihat, langsung tenangkan dirinya dan carilah jalan keluar yang lebih baik.
  7. Pujilah anak ketika dia berhasil tetap tenang. Jangan pelit mengeluarkan pujian ketika memang pujian itu pantas diberikan, terutama ketika anak berhasil tetap mengendalikan emosinya di bawah tekanan.
  8. Rancang jadwal kegiatan fisik yang proporsional. Beberapa anak memang lebih cenderung bersifat fisikal dan itu adalah kenyataan yang ga bisa ditampik. Menjadwalkan kegiatan fisikal bisa menjadi alternatif buat si anak untuk menyalurkan energinya yang berlebihan.
  9. Terapkan cara berkomunikasi yang penuh kedamaian. Jika suasana rumah dipenuhi rasa menghargai, kemungkinannya akan sangat kecil buat si anak untuk bertindak agresif.

Pada saat insiden

Untuk trik ketika anak melakukan tindakan kasar dan agresif, secara umum sama seperti apa yang dijelaskan pada bagian mengatasi anak batita yang suka menggigit dan memukul: jangan memukul balik, jangan menghukum, jangan memikirkan pendapat orang lain, berempati dan berikan batasan, dan tetaplah bersikap tenang. Tambahannya adalah, jangan lupa memastikan pihak yang menjadi objek perilaku anak kita baik-baik saja—jika melibatkan orang lain. Jika si anak sudah lebih tenang, kalo bisa ikutsertakan dia dalam proses khusus ini jadi dia juga bisa belajar lebih jauh tentang empati dan tentang bagaimana tindakannya akan mempengaruhi orang lain.

Setelah insiden—Untuk dilakukan pada saat situasi sudah lebih tenang

  1. Jalankan skenario role-play. Ajarkan anak bagaimana memberikan respons tanpa perlu melibatkan tindakan kasar. Misalnya dengan menggunakan kata-kata, meminta bantuan pada orang dewasa, atau pergi meninggalkan sumber konflik.
  2. Praktikkan strategi menenangkan diri. Metodenya banyak, mulai dari pernapasan perut sampai ke pola menghitung sampai angka 10.
  3. Buat sinyal nonverbal rahasia. Isyarat ini bisa digunakan untuk menunjukkan kepada anak kapan dia perlu mempraktikkan strategi menenangkan diri.
  4. Sadari bahwa kendali impuls adalah hal yang sulit untuk dilakukan oleh anak-anak.

Menghardik dan Bahayanya

Ketika menghadapi kondisi anak suka menggigit atau memukul, udah pasti kita akan ngerasa kesel dan frustrasi. Naluri kita sebagai manusia cenderung ingin segera merespon perilaku si anak ketika tingkahnya ga sesuai dengan harapan. Tapi sekesal apa pun kita, seemosi apa pun kita dibuatnya, jangan pernah meneriaki anak apalagi memaki. Ada banyak dampak negatif dari menerapkan pola pendisiplinan yang terlalu keras dan ini juga yang bikin menghardik a big NO ketika kita mau mendidik anak yang perilakunya agresif. Frustrasi itu normal. Jengkel dan kesal itu alami. Kita juga manusia, sekalipun kita adalah orang tua. Tapi begitu merasakan ada dorongan untuk menghardik anak, coba ingat-ingat hal berikut ini:

  1. Hardikan hanya akan memperburuk perilaku anak.

Sangat mudah membayangkan bahwa teriakan kepada anak akan menyelesaikan semuanya dengan cepat dan memberi tahu si anak apa yang boleh apa yang ga boleh dilakukan. Tapi penelitannya udah ada tentang hardikan yang justru malah bikin permasalahan lebih banyak dalam jangka panjang. Hardikan akan memperburuk perilaku negatif anak yang akhirnya kita malah harus menghardik lebih keras lagi dengan harapan semuanya selesai. Dan lingkaran setan pun dimulai.

  1. Hardikan dapat mengganggu perkembangan otak anak

Otak manusia memproses input-input negatif lebih cepat daripada yang positif. Ketika anak terpapar makian dan teriakan di masa kecilnya, akan ada kelainan mencolok pada bagian otak yang memproses suara dan bahasa.

  1. Hardikan bisa berujung depresi.

Bentakan dari orang tua itu ga cuma membuat anak merasa sakit, takut, dan sedih. Kekerasan verbal berpotensi menciptakan gangguan psikologis yang lebih dalam di diri anak dan permasalahan ini bisa terbawa sampai saat ia dewasa.

  1. Hardikan berpengaruh terhadap kesehatan jasmani dan berpotensi menyebabkan penyakit kronis

Kekerasan verbal di masa kecil bisa membuat anak mengalami berbagai gangguan kesehatan seperti nyeri sendi, sakit kepala, dan gangguan pada punggung dan leher.

Daripada menghabiskan energi dengan meneriaki anak dengan harapan bisa mendisiplinkannya, mending belajar cara berkomunikasi yang baik dengan anak deh. Rumah terasa lebih damai dan risiko besar di masa dewasa pada anak bisa ditekan sedalam mungkin.

Proses Berpikir Berhenti di Pematangan Logika? Engga Juga!

Ada satu jurnal unik tentang perselingkuhan yang pernah saya baca tempo hari. Jurnal ini mengklaim bahwa perselingkuhan pada dasarnya bukan hanya mengenai satu orang yang sudah memiliki komitmen dengan seorang pasangan kemudian menjalin hubungan dengan orang lain. Ketika satu saja dari pihak yang sudah saling berkomitmen itu merasa nyaman dengan pola interaksi yang ada dengan pihak lain, itu sudah sebuah perselingkuhan. Kata kuncinya di sini adalah “interaksi” loh ya. Jadi bentuknya bisa sangat umum, harmless, dan halus nyaris ga bisa dibedakan dari pola interaksi yang lain.

Selingkuh: sebuah konflik yang umum tapi bisa dihindari

Dari sini timbul satu pertanyaan, dan pertanyaan itu betul-betul “revolusioner”, “Kalo gitu, semua orang di muka bumi ini pasti pernah selingkuh se-engga-nya sekali seumur hidup?” Revolusioner, kan? Ini bisa mengubah cara kita meniilik konsep perselingkuhan dan bisa-bisa memaksa kita mengganti cara berinteraksi dengan orang lain, dong.

Bentarbentar, jangan dulu ngerasa dituduh trus sebel sama saya, ya. Hahahah. Saya ga nuduh, loh. Ini bukan judgment. Ini cuma pembahasan menarik buat saya karena ternyata hal sederhana yang kayanya ga berisiko-berisiko banget ternyata bisa punya dampak sistemik yang gede, gitu.

Supaya lebih praktis, yuk coba kita terapin pake contoh real. Ada ga yang masih temenan sama mantannya di medsos? Kalo ada, pasti dong, sering kepo. Sering kan, ngeliat fotonya di feed trus masuk ke profilnya trus kebayang masa lalu trus kepikiran masa-masa indah dulu trus senyum-senyum sendiri. Trus tanpa diduga muncul dorongan buat nyoba ngontak lagi. DM-DM-an, ah. Trus ngobrol deh panjang-lebar. Dan semuanya pasti dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Nunggu pasangan tidur lah, di kamar mandi lah, di tempat kerja lah. Kenapa sembunyi-sembunyi? Karena alam bawah sadar kita cenderung mem-protect diri sendiri supaya ga ada dalam situasi menjadi tertuduh dan merasa bersalah. Kebayang kan, gimana berabe-nya kalo pasangan sampe ngegap kita lagi ngobrol asik sama mantan? Kita tahu itu salah dan punya banyak potensi konflik, tapi tetap kita lakukan; maka mekanisme defensif kita adalah dengan melakukannya di belakang pihak yang berisiko menjadi marah.

Semua serba di belakang pasangan

Ga usah sampe DM-DM-an sama mantan deh; menikmati keindahan manusia yang fotonya terpampang di feed aja pasti udah bikin nyaman kan? Cakep banget nih UwU. Gila, bening banget, nih. Emang, mungkin ga sampe yang nekat ngajak kenalan ato bikin hasrat menggebu-gebu. Tapi nyaman ga, pas mantengin? Nyaman? Nah, selingkuh deh, tuh.

Ato kasus lain. Ada ga yang udah lama ga kontak sama mantannya, tiba-tiba harus ngubungin gegara masalah kerjaan? Udah setengah mati nyoba nyari pakar lain tapi cuma si mantan yang available dan kita tahu kualitas kerjanya kaya apa. Mau ga mau kan? Deadline udah deket, nih. Di-WA deh, tuh si mantan. Kebayang dong awkward-nya gimana? Tapi seiring waktu berjalan dan karena memang konteksnya adalah pekerjaan, rasa canggung pun hilang, berganti rasa nyaman. Dari rasa nyaman, muncul rasa kehilangan kalo ga kontak sehari karena emang lagi ga ada keperluan kerja.

“Ya kan, ga salah, Dok. Di kasus pertama, kita ga sampe ketemuan. Di kasus kedua, kan cuma suka ngeliatin—paling jauh juga ngasi like. Di kasus ketiga, salahnya di mana, Dok? Kan ngobrolnya cuma masalah kerjaan.”

Gini, ada yang namanya selingkuh fisik, ada yang namanya selingkuh hati dan pikiran. Kalo selingkuh fisik, pasti pada paham dong. Pasangan udah ketemuan sama orang lain, ngedate tiap minggu tanpa kita tahu, kebangetan kalo masih nanya, “Selingkuh ga sih, itu namanya?” Nah, selingkuh hati adalah jenis perselingkuhan yang paling abstrak. Kenapa? Karena biasanya terjadi satu arah, si pihak lain bisa aware dan merespon balik bisa enggak. Kedua, perselingkuhan jenis ini bisa melibatkan fisik bisa enggak, meskipun di kebanyakan kasus, ga perlu kontak fisik atau face to face. Ketiga, jenis perselingkuhan ini relatif lebih cepat hilang, apalagi kalo pihak satunya ga memberi respons yang mendukung. Begitu jalur komunikasi ditutup, rasa-rasa dalam dada bisa cepat hilang.

Karena sifatnya terlalu abstrak dan seringkali tidak terdeteksi, selingkuh hati ini juga sekaligus jenis perselingkuhan yang paling sering terjadi. Masa sih, cuma ngelike foto orang doang bisa dianggap selingkuh? Harmless emang; tapi coba deh tempatkan diri kita di posisi pasangan. Apa kita ga otomatis kepikiran, “Seharusnya aku yang di-like. Kenapa dia ngelike orang itu? Apa yang kurang di diriku?” Insecurities, self-doubt, ketidakbahagiaan, rasa marah, rasa tidak percaya, rasa curiga, perasaan dikhianati; wah, resep anti-gagal untuk memasak konflik dalam hubungan hingga matang.

Selingkuh itu konsep sederhana, sebetulnya, cuma aplikasinya sangat luas jadinya bikin kita mikir ke mana-mana. Simpelnya, selingkuh itu adalah ketika kamu melakukan atau merasakan sesuatu yang seharusnya kamu lakukan bersama atau rasakan terhadap pasangan sahmu—baik pacar apalagi pasangan legal. Dan dari ketiga contoh di atas tadi, benang merah-nya sama: ciri ciri selingkuh hati itu adalah ketika kita merasa nyaman terhadap sesuatu yang terjadi dengan orang lain dan semuanya terjadi di belakang pasangan kita. Semua orang bisa berargumen mengontak mantan itu bukan hal yang salah ketika menyangkut masalah profesionalisme. Mengobrol dengan mantan pun relatif tidak salah; argumennya, toh, ga ada pembicaraan yang “menjurus”. Cuma tanya kabar, sibuk apa, atau mengomentari anaknya (kalo ada) yang kiyut. Semuanya pun ga kita perkirakan dan tanpa sepengetahuan pasangan—baik pasangan kita maupun pasangan si mantan. Kondisi ini bisa terjadi tanpa si mantan berniat memicu kembali kenangan masa lalu yaaa. Si mantan bisa aja tetep nge-jaga profesionalisme. Bahkan mungkin pasangannya sendiri tahu urusan kita sama si mantan. Tapi dari sisi kita sendiri? Siapa yang bisa jamin ga ada kesalahpahaman di antara kalian sehingga ucapan yang sejatinya bersifat pekerjaan malah kita artikan bentuk kepedulian personal?

Ga ada yang salah. Selama masih dalam batas normal dan paham cara mengatasi selingkuh hati, semua serbah sah sebenarnya.

Tapi pantas, ga?

Siapapun pasti paham tentang konsep benar-salah. Dari kecil kita udah dididik untuk membedakan mana yang benar untuk dilakukan, mana yang salah. Kadarnya mungkin memang berbeda, tergantung latar belakang, lingkungan, dan daya nalar. Tapi semua orang punya parameter masing-masing mengenai benar-salah. Tapi kalo udah membahas pantas-tidak pantas, ceritanya bakal panjang.

Seseorang boleh menghubungi kembali mantannya untuk masalah pekerjaan. Seorang anak yang sudah dewasa berhak dihidupi oleh orang tuanya. Mendukung satu ideologi sah diperbolehkan oleh hukum. Tidak ada yang salah sama sekali. Tapi, apakah pantas menghubungi mantan di luar pekerjaan? Apakah pantas orang dewasa menggantungkan hidupnya pada orang tuanya? Apakah pantas mendukung sebuah ideologi kontroversial? Konsep benar-salah itu diterapkan berdasarkan logika sementara pemahaman mengenai pantas-tidak pantas itu lebih mengedepankan perasaan. Mana yang harus didahulukan? Apa salah mendahulukan logika? Toh, manusia diberikan kemampuan untuk melakukan proses berpikir kritis, kan? Itu pun benar. Tapi yang perlu diingat adalah benar-salah adalah pola pikir hitam-putih yang sangat subjektif sifatnya. Hidup itu ga serba hitam atau serba putih. Ada kalanya kita dipaksa memasuki area abu-abu dan pembagian benar-salah tidak efektif. Apa yang menurut logika subjektif kita adalah benar, bisa berarti sebaliknya dari perspektif orang lain.

Enggak, bukan berarti kita harus hidup berdasarkan pendapat orang lain juga. Kita individu merdeka, bebas dari apa yang orang lain pikirkan tentang tindakan kita. Tapiii, ada baiknya jika kita juga meluangkan waktu untuk menggunakan perasaan sendiri untuk menelaah tingkat kepatutan suatu tindakan setelah selesai dengan proses pemilahan tingkat kebenaran tindakan tersebut. Gunanya apa? Supaya kita tidak menyakiti perasaan orang lain atau, amit-amit melanggar hak orang lain.

Kita, semerdeka-merdekanya kita, seindividualistis apapun kita, adalah makhuk sosial. Kita ga hidup sendirian. Bahkan di saat kita berpikir bahwa kita sudah menjalani lifestyle yang mandiri, independen, ga pedulian, tanpa disadari hidup kita selalu bersinggungan dengan orang lain. Selalu ada satu irisan yang membuat kita berinteraksi dengan hidup orang lain. Perasaan dan hak orang lain juga kudu dipertimbangkan. Konsekuensinya kalo engga gimana? Ya, jadi public enemy. Jadi sumber pencetus konflik. Pasangan ga bakal nyaman hidup berdampingan dengan kita padahal kan, tujuan membina sebuah relationship itu kan salah salah satunya menyatukan dua kepala yang berbeda biar satu arah. Kalo sebuah hubungan dijalani tanpa rasa nyaman, udah pasti ambyar. Tinggal nunggu waktu. Ini berlaku ga cuma perkara romance loh, ya. Hubungan pertemanan juga sama; ga ada orang yang nyaman berada di satu circle yang sama dengan seseorang yang ga pernah mikirin perasaan orang lain. Hubungan profesional juga sama, lebih-lebih lagi malah mengingat unsur like and dislike sangat kental di dunia kerja.

Contoh lain yang menarik adalah momen reuni. Kan biasa nih ya, pasti ada group chat alumni. Trus salah satu anggota grup adalah seorang cewe yang dulunya pas kuliah sering berpenampilan hot, gitu, serba wow. Trus ada anggota lain, cowo (tipikal badut di kelas gitu, deh) yang tiba-tiba nyeletuk, “Eh, lu masih seksi, ga?” di dalam percakapan grup tersebut. Salah? Enggak. Pada kenyataannya emang si cewe itu penampilannya emang menarik perhatian. Dan karena udah lama ga ketemu, pastinya ga tau ada update apa, kan. Ada perubahan ato engga. Completely harmless. Malah mungkin mengundang seisi grup untuk ketawa, lucu-lucuan aja, gitu.

Tapi pantes, ga?

Siapa yang tau pasti si member cewe masih kaya dulu? Siapa tahu dia udah hijrah sepenuhnya. Siapa tahu dia udah berkeluarga dan ada perasaan keluarga yang harus dia jaga. Gimana perasaan kita kalo jadi suaminya dan ngeliat pertanyaan kaya gitu terlontar segitu casual-nya? Gimana perasaan istri kita kalo dia liat suaminya nanyain hal begituan? Apa ga timbul pertanyaan, “Lah, kalo masih seksi trus mau gimana? Mau dipepet, gitu?” Panjang urusannya. Secara ga langsung, menimbang kepantasan suatu tindakan atau ucapan bisa mencegah kemunculan konflik-konflik yang ga perlu di hidup kita. Problematika hidup yang udah ada aja masih belum kelar, masa mau nambah? Dengan meminimalisasi konflik, hidup akhirnya akan terasa lebih ringan. Hidup yang dijalani dengan ringan akan menyenangkan. Salah satu kunci kebahagiaan adalah dengan meningkatkan kedewasaan diri.

Suatu hal bisa benar tapi tidak pantas di saat yang sama. Sebaliknya, sesuatu itu bisa salah tapi kemungkinannya untuk menjadi pantas masih terbuka lebar. Apa contohnya? Tau dong, berinteraksi dengan manusia lain di masa pandemi seperti sekarang adalah hal yang salah untuk dilakukan. Tapi gimana dengan orang-orang yang hidupnya bergantung sepenuhnya pada pekerjaan yang mengharuskan mereka untuk interaksi? Maka tetap berinteraksi dengan orang lain menjadi pantas untuk dilakukan—setelah menimbang aspek kewaspadaan, kehati-hatian, dan pencegahan, tentu saja. Intinya, proses berpikir sebaiknya ga berhenti di apakah suatu hal itu benar atau salah. Pikirkan juga tentang apakah sesuatu itu: 1) akan mengundang konflik atau tidak, 2) menyakiti dan melanggar hak orang lain atau tidak, 3) urjen atau tidak.

Jadi apa nih, yang kudu di-lakuin untuk mencegah diri dari menjadi individu yang hitam-putih? Pertama, lihat ke dalam. Apakah selfawareness dan selfcontrol kita udah matang? Tingkat kematangan kedewasaan seseorang bisa dilihat dari kedua hal itu. Inget, dewasa tidak berbanding lurus dengan besaran usia, ya. Dalam praktiknya, pengertian kedewasaan lebih menitikberatkan pada kemampuan seseorang dalam me-manage dirinya secara internal dan memahami perannya dalam lingkungan.

Kedua, untuk contoh kasus perselingkuhan nih, pahami perasaan sendiri. Identifikasi, tanyakan pada diri sendiri, “Ini perasaan apa sih?” Analisa, “Oh, ini perasaan nyaman. Apa yang menjadi penyebab?” Dan mitigasi, hindari hal-hal yang bisa menjadi trigger. Hentikan sama sekali jika memang sangat membahayakan dan memungkinkan. Cegah dirimu melihat-lihat hal-hal yang potensial menimbulkan masalah. Ingat, perasaan pasangan kita adalah hal pertama yang harus dijaga. Tapiii, logika dan perasaan dalam cinta harus seimbang. Percuma mengandalkan logika aja karena pada kenyataannya kita berurusan dengan hal yang saaangat abstrak. Menggunakan perasaan sepenuhnya juga riskan karena kalo soal cinta, hati seringkali ga berguna dalam mengurai permasalahan. Seimbangkan semuanya. Jaga hatimu, hati pasanganmu, dan hati pasangannya mantanmu. Kecuali nih, kalo kamu dan mantanmu (atau pihak lain manapun) masih sama-sama single, in which case, by all means, go ahead.

Ketiga, introspeksi. Kita sering lupa berkaca pada diri sendiri. Kita sering lupa menempatkan diri pada posisi orang lain. Judgment sering lancar mengalir dari mulut. Ucapan sering ga dijaga. Ada bener-nya omongan orang-orang tentang sebaiknya pause dulu sebelum berbicara. Pikir dulu efeknya nanti kayak gimana. If you have nothing good to say, then you might as well shut your mouth.

Tapiii, yang namanya manusia pasti nih ya, sering luput, sering banget bikin kesalahan yang ga disengaja. Niatnya bercanda, eh orang lain kesinggung. Niatnya ngingetin, eh bikin bubar pertemanan. Niatnya nyembunyiin cerita tentang pekerjaan dengan mantan dari pasangan biar ga curigaan, eh malah murka dianya. Risiko pasti ada, kok. Lagi-lagi, namanya manusia, pasti isinya ga ada yang sempurna. Basi? Iya. Klise? Hooh, emang. Tapi itu realitasnya. Sebagai manusia yang ber-akal-budi, semuanya balik ke kita gimana cara menyikapi realitas itu. Pikir, telaah, dan timbang.