Permintaan dari Anak: Sejauh Apa Kita Harus Memenuhi?

Menjadi orangtua adalah suatu pengalaman yang pastinya bikin kita excited, ya. Setelah menemukan pasangan yang pas di hati kemudian mengarungi bahtera rumah tangga, hal berikutnya yang paling ditunggu-tunggu adalah kehadiran si buah hati yang akan mengisi hari-hari kita hingga tua nanti. Tapi apa sesederhana itu? Teman-teman DRYD yang udah jadi orangtua sekarang pasti paham kalo yang namanya ngasuh dan ngedidik anak itu bukan perkara gampang. Menjadi orangtua itu adalah pekerjaan seumur hidup. Orang bilang begitu si anak sudah menikah, tugas kita sebagai orangtua selesai. Kenyataannya, bahkan ketika buah hati kita udah mapan dan siap hidup dengan orang lain, kita sebagai orangtua akan selalu menjadi tempat si anak kembali dan berkeluh-kesah. Kita pun punya kewajiban untuk memberikan bimbingan dan bantuan dalam bentuk apa pun yang dibutuhkan si anak. Coba, sekarang siapa yang bisa anak kita andalkan untuk meminta nasihat kalo bukan orangtuanya sendiri? Namanya orangtua, pasti menang di besaran angka usia kan? Nah, asumsinya adalah dengan usia yang lebih matang, pengalaman pun lebih banyak. Sementara si anak mungkin baru memasuki satu tahap tertentu yang udah bertahun-tahun lalu kita lewati. Emang sih, usia ga menjamin kematangan pengalaman hidup tapi ya suka ga suka tetap kita para orangtua yang akan dijadikan sumber pembelajaran buat anak. Ibaratnya kita adalah sebuah buku yang akan dibaca dan dijadikan referensi oleh si buah hati.

Nah, salah satu hal terberat yang dihadapi oleh orangtua adalah perkara permintaan anak. Sebagai orangtua yang sangat menyayangi anaknya, naluri atau insting kita adalah membuat anak bahagia. Menuruti apa yang diminta oleh anak menjadi sebuah dorongan yang akan kita rasakan. Ditilik dari segi tanggung jawab orangtua pun, emang udah sebuah kewajiban untuk mengabulkan keinginan anak. Kasarnya seperti ini: Kita berani punya anak, kita pun harus berani berkomitmen untuk mensejahterakan kehidupan si anak. Yang jadi sumber persoalan sekarang adalah apabila kita secara buta mengabulkan keinginan anak—apalagi jika ini adalah pola yang udah telanjur dikenal si anak dari kecil. Apa aja risiko menuruti semua kemauan anak? Akan menjadi bumerang di kemudian hari. Jika anak sejak kecil udah terbiasa mendapatkan apa yang dia mau, dia akan tumbuh menjadi individu yang kurang daya usahanya dan temperamental sifatnya. Ketika semua kehendaknya kita turuti, pola asuh seperti ini akan menghapus insting si anak, merusak kemampuannya untuk mengikhlaskan sesuatu, meniadakan wibawa dan keberanian, terlalu royal, cuma bisa bersuka-ria, egoistis, dan selalu mementingkan diri sendiri.

Jadi gimana strategi yang perlu diterapkan supaya kita ga kebablasan dalam merespon permintaan dari anak?

  1. Pahami konsep boleh-tidak boleh.

Kita sebagai orangtua perlu menelaah permintaan si anak itu sendiri terlebih dahulu. Pertimbangkan apakah permintaan tersebut termasuk sesuatu yang tabu atau justru sebenarnya baik untuk diri anak sendiri. Banyak faktor yang bisa dijadikan tolok ukur. Umur, misalnya. Anak biasanya cuma tahu meminta karena dia suka tetapi kita sebagai orang yang lebih dewasa seharusnya bisa memilah mana yang pantas mana yang tidak. Ga semua permintaan harus dikabulkan kok selama itu emang ga pantes. Contohnya, anak mungkin kepingin dibelikan satu pakaian karena dia melihat idolanya mengenakan kostum yang serupa di televisi atau internet. Kita lihat dulu objeknya; jika pakaiannya terlalu terbuka, pastinya ga pantes dong dipakai oleh balita.

  1. Ajarkan batasan

Balik ke poin pertama, ga semua permintaan kudu kita kabulkan. Terlepas dari apakah si anak memahami alasan keinginannya ga kita penuhi, ini merupakan cara yang jitu buat mengajarkan batasan-batasan untuk si anak pahami. Ada untungnya juga buat kita sebagai orangtua. Jika anak sudah memahami konsep spesifik bahwa tidak semua permintaannya akan kita penuhi, dia ga akan memandang kita sebagai orangtua yang jahat, pelit, dan mengecewakan. Hasilnya, selain memahami konsep batasan, anak juga akan belajar untuk ga mudah patah semangat ketika nanti terbentur kesulitan.

  1. Tentukan aturan

Ini gunanya adalah untuk mengajarkan anak untuk tidak mencari celah dan berargumen ketika si anak keinginannya tidak dikabulkan. Kesalahan umum yang kita lakukan sebagai orangtua ketika menolak keinginan anak adalah ketiadaan aturan khusus dalam melarang. Contoh kasus, anak udah kebanyakan makan makanan manis dan masih meminta lebih; kecenderungan kita adalah mengucapkan larangan yang ambigu seperti, “Oke, kamu boleh makan satu lagi.” Larangan yang open-ended seperti ini memberi celah buat si anak untuk menegosiasi permintaannya supaya dia bisa makan lebih dari satu. Coba susun ulang kalimat larangan tadi menjadi, “Oke, gapapa makan satu lagi, tapi abis itu kuenya disimpan, ya.” Dengan begini, anak paham batasan, larangan, dan tidak akan menegosiasikan permintaannya lebih jauh.

  1. Ketika ragu, terapkan aturan tambahan

Jika kita belum terlalu yakin apakah akan mengabulkan atau menolak keinginan anak, coba berikan satu aturan tambahan sebelum berkata, “Ya.” Misalnya, Teman DRYD masih ragu apakah sebaiknya membiarkan anak menonton TV atau tidak. Untuk meyakinkan diri, coba berikan satu syarat ke anak. Jadi sampaikan, “Kamu baru boleh nonton TV kalo udah tidur siang dulu.” Atau, “Boleh nonton TV kalo mainannya udah kamu rapiin, ya.”

  1. Ga ada yang namanya cuma-cuma

Terapkan sistem reward. Mengabulkan keinginan anak tanpa memberikan tututan padanya adalah cara ampuh untuk membuat anak jadi manja. Sebaiknya, keinginan anak baru dikabulkan apabila dia sudah bisa memenuhi apa yang kita minta lebih dulu. Belikan dia mainan baru hanya jika nilainya bagus di sekolah, misalnya.

  1. Pahami konsep hak dan kewajiban

Tanamkan pada anak kemampuan untuk memenuhi kewajiban untuk mendapatkan apa yang menjadi haknya. Kita sebagai orangtua pun harus konsisten; jika anak sudah berhasil memenuhi kewajibannya, berikan haknya tanpa menunda.

  1. Buka komunikasi dan berdiskusi

Berikan penjelasan pada anak tentang kenapa kita menolak permintaannya dengan cara selugas mungkin. Harapannya adalah dengan membuka jalur komunikasi seperti ini, anak akan paham bahwa dia tidak sebaiknya mementingkan diri sendiri, belajar mengendalikan keinginannya, dan menjadi cermat dalam menghabiskan uang.

  1. Jangan bertindak fisikal

Maksudnya, jika menolak permintaan dari anak, jangan pernah disertai bentakan, ancaman, apalagi kontak fisik seperti pukulan. Tindakan seperti ini akan di-copy oleh anak dan ini akan berdampak pada sikap agresif. Sebagai orangtua, kita selayaknya membujuk dan menggunakan kata-kata yang penuh kasih sayang dan lembut. Tentunya ini perlu dilakukan tanpa disertai pemberian janji-janji yang menimbulkan harapan di diri si anak.

  1. Tetap konsisten

Ketika aturan sudah diterapkan, kita harus konsisten dan mengikuti apa yang kita tetapkan sendiri. Jangan keluar jalur sekalipun kita kasihan pada anak.

  1. Kompak dengan pasangan

Kita dan pasangan adalah orangtua si anak dan karena itu harus sejalan dalam mendisiplinkan buah hati. Jika menolak, keduanya menolak. Jika setuju, kedunya harus sepemahaman. Ini juga berlaku untuk orang dewasa selain orangtua seperti kakek-nenek, pengasuhnya, atau saudaranya.

  1. Perhatikan cara anak meminta

Sekalipun apa yang diminta oleh anak adalah hal yang baik yang ia butuhkan dan kita emang mampu mengabulkannya, jika anak meminta dengan cara yang tidak pantas seperti berteriak, menangis, atau merengek, jangan langsung dipenuhi setidaknya sampai akhirnya sikapnya berubah jadi lebih baik. Sebaliknya, jika permintaannya disertai dengan perilaku yang manis, berikan pujian dan usapan lembut di rambut atau tangannya. Ini akan meng-encourage sikap positif di masa depan.

  1. Jangan mudah tergugah

Jangan menyerah pada permohonan, teriakan, dan tangisan si anak. Tegaskan bahwa no means no. Sekali kita mengalah karena tangisan si anak, dia akan otomatis beranggapan bahwa keinginannya akan terkabul dengan cara-cara negatif.

Mengelola cara mengabulkan atau menolak keinginan anak itu cukup praktis karena kita langsung menghadapinya. Anak meminta sesuatu, tinggal kita yang perlu secara cermat memilih bagaimana menyikapi. Tapiii, ada juga loh, beberapa jenis permintaan anak yang tersirat. Maksudnya di sini adalah permintaan-permintaan yang bahkan si anak ga sadar ingin kita kabulkan dan penuhi. Emang iya? Nah, yuk kita liat.

  1. Anak ingin dicintai sepenuh hati. Ini mungkin hal yang simpel di mata kita. Toh, kita kerja banting tulang siang malam juga kan, untuk anak. Tapi pahami bahwa ada hal-hal lain yang bisa dilakukan untuk menunjukkan cinta pada anak juga.
  2. Anak ingin kita tidak memarahinya di depan publik. Kita frustrasi, stres, dan kehilangan kesabaran itu wajar. Tapi jangan pernah meluapkan amarah pada anak di depan orang banyak. Ini akan menghancurkan kepercayadiriannya dan membuat kita sendiri terlihat buruk di matanya.
  3. Anak ingin kita tidak membanding-bandingkan. Jangan pernah membandingkan anak kita dengan saudaranya sendiri atau orang lain. Setiap anak adalah harta karun tersendiri. Mereka memiliki prosesnya sendiri. Mudah buat kita membandingkan mereka dengan orang lain tapi apakah pernah terlintas di pikiran kita bahwa hal yang sama bisa mereka lakukan pada kita? Setiap anak juga punya gambaran ideal tentang orangtua sempurna, sanggupkah kita menerima kenyataan bahwa anak membandingkan kita dengan orangtua temannya, misalnya?
  4. Anak ingin kita menjadi role model-nya yang baik. Anak itu adalah cerminan kita sebagai orangtua. Apa yang kita terapkan akan terefleksi pada bagaimana mereka bertindak dan berperilaku. Kalau kita ingin anak berperilaku X, maka kita harus memberikan contoh X yang sama padanya.
  5. Anak ingin kita menilainya dewasa. Ini pastinya sesuai porsi ya; tapi intinya anak itu ga mau dianggap kecil dan ga berdaya terus-menerus. Umurnya bertambah tiap tahun jadi kita pun harus menyesuaikan semuanya.
  6. Anak ingin dibiarkan mencoba sesuatu. Jika gagal, jika berhasil, jika salah, jika benar, mereka ingin dibimbing dan diapresiasi, bukannya dikekang.
  7. Anak ingin kita ga ngungkit-ngungkit Anak melakukan kesalahan itu sudah sepantasnya. Kita pun ga luput dari kesalahan, loh. Maafkan kesalahan yang ada dan kemudian move on. Kalo kita terus-terusan mengingatkan anak tentang kesalahannya, ini akan membuat dirinya ga mampu menilai diri sendiri lebih dari kesalahannya.
  8. Anak ingin kita tidak memarahinya dengan hal-hal buruk. Sekali lagi, anak bertindak salah dan kita memarahinya itu adalah hal lumrah. Udah emang gitu siklus orangtua-anak, mah. Tapi kalo kemarahan kita disalurkan dengan disertai ucapan-ucapan kasar yang buruk, mental si anak bisa rusak dan mengalami trauma.
  9. Anak ingin kita memberikan penjelasan atas larangan yang kita berikan. Jangan berhenti pada kata “jangan” atau “ga boleh”, tapi lanjutkan dengan alasan dan penjelasan.
  10. Anak ingin kita ga menyeretnya ke dalam persoalan yang sama sekali ga ada hubungannya dengan dia. Kalo kita lagi berantem sama pasangan, jangan bawa-bawa anak atau melampiaskan kekesalan pada anak yang ga ngerti apa-apa.

Nah itu tadi pembahasan singkat kita tentang gimana nyikapin keinginan anak ya, Teman DRYD. Pastinya semuanya sebaiknya dipraktikkan atau diaplikasikan sesuai dengan situasi dan kondisi ya. Semoga kita bisa menjadi orangtua yang sempurna di mata anak.

Berkenalan dengan Parenting Styles di 3 Negara

Teman DRYD, kali ini saya mau ngajakin Teman-teman semua melanglang buana ke benua Eropa. Taaapi, bukan buat tamasyaaa hehehehe. Kali ini saya mau ngebahas tentang pola asuh yang banyak diterapkan di tiga negara Eropa yaitu Denmark, Perancis, dan Jerman.

“Kenapa gitu, Dok? Emang pola parenting negara sendiri jelek ya, sampe harus jauh-jauh ngelirik negara lain?”

Bukaaan. Ini bukan masalah mana yang jelek mana yang bagus. Ini juga bukan soal mana yang terbaik. Pola asuh itu berbeda berdasarkan negara, kultur, dan kebiasaan. Budaya Indonesia pastinya beda dong sama budaya Amerika atau Eropa bahkan bisa beda jauh dengan sesama negara Asia. Pertimbangannya sederhana sih, Eropa kan terhitung wilayah yang lebih maju daripada area berkembang lain, jadinya ga salah dong kalo kita pelajari apa aja yang membuatnya berbeda dari negara sendiri?

Trus kenapa harus ketiga negara itu, Dok? Kan banyak negara lain di Eropa sana.”

Denmark saya pilih karena negara itu secara konstan ada dalam daftar negara paling bahagia menurut World Happiness Record yang diselenggarakan oleh PBB. Prestasi ini udah diraih Denmark selama 40 tahun—berturut-turut. Pasti dong, ada yang membuat pencapaian ini menjadi istimewa dan menarik untuk ditelaah. Perancis unik untuk dibahas karena pola parenting ibu-ibu negara sana mendidik anak tumbuh menjadi individu yang santun. Sementara Jerman dikenal dengan pola asuh yang menekankan kemandirian. Nah, bahagia, santun, dan mandiri; orang tua mana yang ga mau anaknya punya kualitas seperti itu?

Mengintip Pola Asuh di Denmark

Pola asuh di Denmark bisa disederhanakan dengan satu kata: PARENT, yang merupakan akronim dari Play, Authenticity, Reframing, Empathy, No ultimatums, dan Togetherness and Hygge. Dengan menerapkan konsep ini, anak-anak Denmark tumbuh dan berkembang menjadi pribadi dengan masa kecil yang membahagiakan.

  1. P = PLAY (Bermain)

Anak-anak di Denmark dibebaskan bermain oleh orangtua mereka. Mereka pun dibolehkan untuk memulai jenjang pendidikan ketika berusia 7 tahun. Reasoning-nya apa? Dengan memberi keleluasaan semacam ini, anak-anak Denmark punya kesempatan yang cukup untuk menikmati periode bermain mereka sebelum akhirnya dihadapkan pada kewajiban bersekolah. Apa pentingnya membiarkan anak-anak bermain dengan bebas? Banyak hal yang mereka bisa pelajari hanya dari hal sesederhana permainan; mereka paham mengenai ketangguhan, cara bergaul dan bersosialisasi yang benar, dan belajar selfcontrol sejak dini.

  1. A = AUTHENTICITY (Otentisitas)

Poin berharga lain yang diwariskan orangtua Denmark kepada anak-anak mereka adalah kejujuran kepada diri sendiri dan identifikasi emosi yang dirasakan. Pola didik yang dilaksanakan lebih dititikberatkan pada mengenali dan mengekspresikan emosi ketimbang kesempurnaan.

  1. R = REFRAMING (Memaknai ulang)

Secara sederhana, reframing adalah proses penelaahan terhadap suatu hal dari perspektif yang berbeda. Yang dilakukan oleh orangtua Denmark adalah mengajarkan anaknya untuk dapat menarik kesimpulan positif dari apa yang mereka hadapi tapi tetap dalam koridor yang realistis. Penerapan metode ini diharapkan bisa mendidik anak menjadi individu yang tidak gampang berpikiran negatif terhadap suatu kondisi ataupun orang lain.

  1. E = EMPATHY (Empati)

Empati pada dasarnya adalah kemampuan seseorang untuk dapat ikut merasakan apa yang orang lain rasakan. Inilah yang ditanamkan oleh orangtua kepada anak di Denmark. Sistem pendidikan di negara itu pun dirancang dengan prinsip ini sebagai landasannya.

  1. N = No ultimatums (Tanpa peringatan)

Pola asuh orangtua Denmark ditandai dengan sikap lembut, menghargai, dan tanpa ancaman. Akibatnya, ada kedekatan antara anak dan orangtua dalam hubungan yang harmonis tanpa rasa takut.

  1. T = TOGETHERNESS & HYGEE (Kebersamaan & kenyamanan)

Keluarga Denmark menekankan poin penting tentang kebersamaan. Berkumpul dengan keluarga merupakan hal yang tidak boleh dilewatkan sesibuk apapun hari yang dilalui. Hari libur pun dihabiskan dengan berkumpul bersama anggota keluarga. Dari rasa kebersamaan yang dipupuk, muncullah rasa nyaman yang bisa dinikmati oleh semua orang.

Belajar Tata Krama dan Adab Sopan Santun a la Perancis

Di Perancis, metode parenting yang diterapkan berfokus pada pembentukan kepribadian yang penuh sopan santun dan jauh dari kata manja. Strategi yang dijalankan meliputi:

  1. Didikan untuk menghargai waktu orang tua

Di Perancis, anaklah yang diatur sedemikian rupa sehingga jadwal pribadi si orang tua tidak terganggu. Anak akan diajari untuk sudah berada di dalam ruang tidur jam 7 malam. Si anak boleh langsung tidur atau memilih untuk melakukan aktivitas lain, selama aktivitas itu tidak mengganggu orang tua. Apa tujuan dari penerapan metode ini? Anak diharapkan bisa tumbuh dengan pemahaman bahwa dia bukanlah pusat dunia, bahkan dunia orang tuanya pun tidak hanya berpusat pada dirinya saja. Anak diajarkan untuk mengerti bahwa orang tua mereka pun manusia yang harus menjalankan hidupnya sendiri di luar tanggung jawab mereka terhadap anak.

  1. Selektif dalam memberikan pujian pada anak

Orang tua Perancis tidak gampang memuji anaknya. Pencapaian kecil si anak mungkin tidak akan berbalas pujian. Pujian baru akan diberikan apabila si anak berhasil melakukan yang memang pantas untuk diapresiasi. Bukannya pelit. Tapi metode ini bertujuan untuk membentuk kepribadian yang tidak gampang puas untuk segala sesuatu yang sudah si anak lakukan serta mendidiknya untuk tidak selalu melakukan sesuatu dengan mengharapkan imbalan.

  1. Pengimplementasian jadwal dan pola makan yang strict

Dengan cara ini, kasus picky eater pada anak-anak Perancis minim ditemukan. Orang tua tidak secara khusus menyiapkan makanan untuk sang anak. Anak duduk di meja makan dengan tenang dan diwajibkan memakan apapun yang tersaji. Kebiasaan ngemil praktis ga ada di pola asuh orang tua Perancis karena berisiko mengacaukan selera makan. Di sana memang ada tradisi gouter, yaitu makan sedikit roti di sore hari setelah pulang sekolah. Tapi secara umum, anak tidak akan makan apapun antara makan siang dan makan malam, sekitar pukul 8. Akibatnya, begitu si anak duduk di meja makan, perut yang keroncongan akan membuatnya menyantap apapun yang disajikan orang tua.

  1. Melatih kesabaran

Kasus tantrum di anak-anak Perancis pun minim. Apa rahasianya? Orang tua mengajarkan kepada anak-anak untuk sabar untuk hal-hal mendasar seperti menerima perhatian, menunggu waktu makan, maupun menunggu giliran mendapatkan jawaban. Dengan pendidikan begini, si anak sejak kecil dilatih untuk menunggu dengan sabar tanpa gelisah, marah, atau tantrum.

  1. Pengikutsertaan anak dalam urusan rumah tangga

Enggak, ini ga berarti si anak harus ikut dalam pengambilan keputusan atau semacamnya. Tapi si anak bisa dilibatkan dalam urusan bagaimana menjaga rumah agar tetap rapi dan nyaman, misalnya. Anak-anak Perancis dididik dari kecil untuk aktif menuntaskan tugas rumah tangga yang sepadan dengan usia mereka seperti ikut berbelanja ke supermarket, membuang sampah pada tempatnya, menata piring di meja makan, dan hal-hal kecil lainnya.

  1. Mengajari sopan santun dan tata krama

Ada istilah bien eleve dalam pola asuh di Perancis yang bisa diterjemahkan sebagai adab sopan santun yang merupakan hal mutlak dan tidak bisa dikompromi. Konsep ini sudah mulai diterapkan sejak si anak mulai bicara. Contohnya seperti:

  • Saat bertemu dengan orang baru, harus memperkenalkan diri
  • Membiasakan diri untuk mengucapkan terima kasih, maaf, dan tolong
  • Memberikan salam setiap kali memasuki ruangan
  • Memperhatikan kontak mata ketika berbicara dengan orang lain
  • Mempelajari dan menerapkan table manner saat makan
  • Pada saat menghadiri acara formal atau pesta, harus mengenakan pakaian terbaik
  1. Mengajar anak untuk mampu menyelesaikan segala sesuatu sendiri

Karakter yang otonom menjadi target lain yang diinginkan dalam penerapan pola parenting a la Perancis. Anak-anak diajarkan untuk berkembang menjadi pribadi yang penuh rasa tanggung jawab, kemandirian, dan kepercayaan diri yang tinggi. Anak-anak pun dididik untuk mengerjakan berbagai hal yang bisa mereka lakukan sendiri lalu belajar untuk menerima konsekuensi logis dari kesalahan yang diperbuat.

Parenting Cara Jerman yang Tegas

Karakter pola asuh Jerman diwarnai pendidikan menghargai waktu dan disiplin yang kental. Cara-cara yang diterapkan termasuk:

  1. Pendisiplinan anak dengan penekanan pada empati dan diskusi

Percaya ato engga, di Jerman, strategi hukuman fisik sebagai bentuk pendisiplinan sudah ditetapkan ilegal sejak tahun 2000. Sebagai gantinya, metode diskusi dengan muatan empati dan logika menjadi pilihan. Saat seorang anak melakukan kesalahan, orang tua akan mengajaknya untuk berdiskusi, utamanya perihal perilaku mana yang pantas dan mana yang tidak untuk dilakukan oleh anak pada usianya. Efektivitas metode ini terletak pada kemampuannya mendidik anak untuk memahami siapa yang memegang kendali dan bahwa semuanya perlu dilakukan untuk kebaikan si anak itu sendiri.

  1. Mengenalkan alur rutinitas sejak bayi

Memperkenalkan rutinitas merupakan hal penting untuk dilakukan dalam mengasuh balita. Orang tua Jerman, di lain pihak, bahkan sudah menerapkan hal ini semenjak si anak masih bayi. Mirip dengan pola asuh Perancis, orang tua Jerman mengajarkan si anak untuk menghargai jadwal mereka. Rutinitas di-arrange sedemikian rupa sehingga mengikuti alur jadwal si orang tua ketimbang sebaliknya. Batasan tegas diberikan untuk waktu tidur, makan, dan bermain dan disesuaikan dengan usia si anak. Pemberian instruksi yang jelas, konsisten, dan tegas juga berkemungkinan menghindarkan orang tua dari keharusan untuk mengingatkan ulang si anak.

  1. Mengajari anak untuk mencari penyelesaian masalah sendiri

Kalo Teman-teman DRYD pernah dengan istilah helicopter parenting, pola asuh Jerman cenderung berbeda total, malah lebih condong ke tipe authoritative. Standar perilaku yang tinggi dan aturan tegas ditanamkan sejak dini pada anak, ketimbang membiarkan mereka melakukan apapun yang mereka inginkan. Ini diterapkan sambil tetap memperhatikan kebutuhan emosional si anak di saat yang sama. Ketika si anak melakukan kesalahan atau mengalami hambatan, si orang tua ga serta-merta take over dan menyelesaikan permasalahan untuk si anak. Mereka cuma bakal ngasi instruksi atau pentunjuk untuk menuntun si anak agar mampu menyelesaikan persoalan.

Sebuah penelitian oleh Organization for Economic Co-operation dan Development menunjukkan bahwa anak-anak Jerman lebih mudah memecahkan permasalahan yang mereka temui dalam hal membaca, Bahasa Inggris, dan matematika dibandingkan dengan anak seusia mereka dari Amerika—semua berkat penerapan metode asuh yang satu ini.

Dengan penerapan pola ini, di Jerman dikenal konsep “selbständigkeit”, yaitu kemampuan untuk mengandalkan diri sendiri sehingga si anak ga cepet menyerah atau meminta bantuan dari orang lain untuk persoalan yang sebetulnya bisa diselesaikan sendiri.

  1. Membiasakan anak untuk bermain sambil belajar

Orang tua Jerman tidak terlalu terburu-buru dan memaksa anaknya untuk cepat bisa menulis dan membaca. Mereka justru meng-encourage anaknya untuk banyak menghabiskan waktu dengan bermain di luar. Cuaca tidak masalah. Unstructured play menjadi bagian integral dalam pola asuh Jerman selagi pakaian yang dikenakan tepat dan kondisi aman. Konsep permainan tak berstruktur ini bisa melatih kemampuan sosial si anak, mendidiknya menjadi pribadi yang mawas diri, mampu menjaga dirinya sendiri, dan melatih pola pikir kreatif.

Menarik Benang Merah

Pola asuh Denmark membuat kita sadar bahwa untuk bisa berkembang menjadi kepribadian yang bahagia, perlu banget membentuk masa kecil yang memorable dan penuh dengan sukacita. Anak harus diajari untuk mengenali dirinya sendiri untuk bisa menyadari posisinya dalam lingkungan yang lebih luas.

Pola asuh Perancis memberikan kita makna empati yang sebenarnya dan keharusan untuk menjaga tata krama bahkan dari ruang lingkup rumah tangga.

Pola asuh cara Jerman menekankan pembentukan individu yang penuh otoritas, mandiri, dan memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah dengan efektif dan efisien.

Secara umum, cara-cara yang diterapkan dalam mengasuh anak di ketiga negara tersebut relatif mudah untuk diaplikasikan secara aman. Pengecualian mungkin bisa diberikan untuk pola asuh dari Denmark poin usia masuk sekolah secara sistem pendidikannya juga berbeda dari yang ada di Indonesia. Tapi semuanya masih bisa di-tambal-sulam, kok. Kalo ditarik benang merah-nya, ketiganya punya satu kesamaan: Ketiganya sama-sama menitikberatkan pada keharusan untuk menerapkan pola asuh dengan kebutuhan emosional si anak sebagai dasarnya.

Kalo selama ini kita mendidik anak dengan menggunakan kepentingan kita pribadi sebagai reasoning dasarnya, maka si anak akan lupa cara menghargai dirinya sendiri. Nah, kalo menghargai diri sendiri aja luput, gimana mau menghargai orang lain? Gimana mau menghargai lingkungan? Kemandirian pun menjadi motif lain yang ditemukan dalam ketiga parenting styles itu. Anak-anak Denmark, Perancis, dan Jerman diajarkan untuk mengandalkan diri mereka sendiri dengan asumsi bahwa kemampuan untuk membantu orang lain berakar dari kemampuan untuk menolong diri sendiri.

Konklusi

Suka ga suka, pertanyaan seputar parenting styles mana yang paling baik untuk coba diterapkan di Indonesia akan banyak muncul setelah menelaah metode pengasuhan di 3 negara di atas. Tapi kita, lagi-lagi, di sini ga harus mengunggulkan satu metode di atas yang lain. Metode parenting Indonesia juga ada nilai positifnya, kok. Cuma, ga ada salahnya toh, mempelajari bagaimana orang-orang tua di negara lain mendidik anak mereka?

Jangan kebablasan; sebagus apapun satu metode, mungkin tidak cocok dengan kondisi dalam negri. Ambil yang baik-baik, kombinasikan dengan konsep pribadi, dan terapkan sesuai kebutuhan. Keharusan untuk selalu berkumpul dengan keluarga mungkin tidak bisa terus-terusan dipraktikkan sehubungan dengan keharusan untuk bekerja di luar kota dalam jangka waktu lama, misalnya. Kebijakan no ultimatums pun mungkin tidak bisa selalu ditegakkan mengingat orang tua pun manusia yang bisa habis kesabarannya. Apapun itu, jika terjadi kesalahan, tidak ada salahnya loh untuk minta maaf pada anak. Jangan gengsi. Itu malah bisa ngajarin si anak tentang betapa berharga dan powerful sebuah kata sederhana.