Social Distancing vs. Social Disconnecting: Beda dan Bahaya

Hai Teman DRYD,

Di update kali ini, kita mau ngomongin COVID-19 lagi nih.

Whaaat?! Yaaah, masa stupid covid lagi, Dok? Basi kali….”

Ga dooong. Pandemi kan masih jalan; dan selama pandemi masih belum dinyatakan kelar, suka ga suka topik satu ini pasti masih valid buat diperbincangkan. Bukan berarti sehabis pandemi kita bisa melupakan ya. Forgive but never forget. Kita bisa move on dan memaafkan semua bencana yang disebabkan pandemi tapi kita sama sekali ga boleh melupakan efeknya. Belajar dari yang terjadi. Ambil hikmahnya.

Emang ada, Dok, hikmah dari semua mimpi buruk ini?”

Adaaa. Kan saya udah pernah bilang, jika kita ga bisa mengubah sesuatu, yuk kita coba liat sesuatu itu dari perspektif yang berbeda. Tinggal “pelintir” aja cara kita melihat suatu hal. Bukan berarti denial, ya, ga gitu. Kita tetap harus terima kenyataan tapi sebaiknya kia ga cuma fokus ke hal-hal buruk aja. Ga sehat buat mental dan di saat yang sama juga ga sehat buat fisik.

Salah satu yang sempat menjadi tren beberapa saat lalu adalah kebijakan social distancing. Di titik ini, pastinya semua udah pada ngeh dong ya, tentang penjarakan sosial di masa wabah seperti ini. Kebijakan ini diterapkan supaya penyebaran virus dapat ditekan karena asumsinya orang-orang pada berada di jarak aman yang tidak mengakomodasi infeksi lebih jauh secara massal. Prinsipnya, dengan membatasi jarak interaksi antarindividu, penyebaran virus jadi terbatas dan ini bisa memberikan waktu bagi para pakar untuk menciptakan penangkal bagi penyakit yang ada, seperti vaksin misalnya. Pembuatan vaksin itu butuh waktu hitungan tahun, jadi dengan mengekang atau mengendalikan laju penyebaran virus, jumlah orang yang terinfeksi bisa tetap minimal dan bisa dibuat imun setelah vaksin selesai dibuat.

Secara konsep, kebijakan ini sederhana sebenernya. Kasi aja jarak yang cukup jauh antara kita dan orang lain. Tapi kenyataannya ga sesimpel itu. Selain kita ga bener-bener bisa menjamin bahwa partikel virus ga bisa sampe ke kita dalam jarak tertentu, efek psikologisnya jauh lebih besar lagi. Kenapa? Karena kita ga terbiasa untuk memberi jarak antara kita dan orang lain ketika berinteraksi. Naluri kita sebagai manusia adalah untuk terus membangun relasi dengan individu lain dan ini memerlukan kedekatan dalam hal jarak. Kita butuh interaksi fisikal dalam kadar yang relatif berbeda-beda tapi ini menuntut kita untuk berdekatan dengan orang lain. Akan sedikit sulit untuk kita bisa selalu berjauhan dengan dengan orang lain secara konsisten karena kehidupan sehari-hari kita pun bergantung dengan keberadaan orang di sekitar. Lalu kita pun mengurung diri dalam rumah selama berhari-hari, takut berhubungan dengan orang lain. Kita mengambil tindakan ekstrim yang akhirnya berbuntut pada pemutusan relasi dengan dunia luar. Alih-alih menjalani proses penjarakan sosial, kita pun tenggelam dalam yang namanya social disconnecting. Ini sangat, sangat ga sehat. Ga sehat buat fisik, ga sehat buat mental, dan ga sehat untuk kemampuan kita menjalani hidup sosial.

Kalo diliat sekilas, menutup diri dari interaksi sosial emang cukup praktis. Kita ga perlu membuat “jembatan” dengan dunia luar dan risiko tertular virus pun bisa tetap ditekan secara signifikan. Yang jadi masalah adalah ini ga membuat kita merasa lebih baik. Kondisi terkungkung dalam rumah tanpa bisa melakukan apa pun itu berpotensi besar membuat stres dan kalo dibiarin berlarut-larut bakal berujung pada depresi. Dan ga ada satu pun yang bisa dinikmati dari keadaan tertekan mental di tengah pandemi yang ga tau kapan bakal kelar. Selesai sampe sana? Tentu engga. Kalau kita depresi, kita butuh penanganan khusus. Yang artinya kita harus interaksi dengan pihak lain, para pakar kejiwaan misalnya. Ini berarti hasil akhir dari keputusan yang kita ambil sebelumnya untuk menutup diri dari dunia luar adalah negatif, yang artinya lagi adalah kenapa ga dari awal aja dipikir lagi semuanya?

Jangan gegabah, itu aja sih yang perlu ditanamkan. Penjarakan sosial ga serta-merta kita mengubah sifat menjadi antisosial. Yang salah itu bukan sosialnya tapi cara berinteraksinya. Ga dilarang kok berinteraksi sama tukang sayur keliling kompleks, misalnya, asal kita pake masker, dianya pake masker, kita cuci tangan setelah transaksi, batasi komunikasi oral, pake sarung tangan kalo perlu. Ga perlu denger kata orang lain. “Ih, si ibu mah, lebay. Saya kan ga kena corona….” Bodo amat yaaa. Ga peduli lu mau sakit apa engga, yang penting gue jaga diri sendiri aja dulu. Ga perlu memusuhi orang-orang dan bersikap defensif terhadap dunia luar. Kita cuma perlu membatasi, bukan menutup diri dari segala hal.

Naaah, sekarang penajarakan sosial jauh lebih longgar dengan penerapan new normal. Apa ini berarti kita bebas kembali seperti sebelum semuanya berubah jadi mimpi buruk sekarang? Ga jugaaa. Justru kita malah lebih wajib menyesuaikan diri. Karena sekarang dengan kenormalan baru ini, semua orang keluar dari sarangnya. Ini yang bikin kita harusnya lebih waspada dari yang udah-udah. Jarak interaksi masih harus tetap dijaga pada batas aman. Kontak fisik tetap harus ditekan ke level minimal. Berada di lingkungan dengan sirkulasi udara yang lancar dan baik tetap harus diutamakan. Durasi berinteraksi pun harus dijaga supaya ga berlebihan. Durasi, ventilasi, dan jarak adalah tiga kata sakral yang harus kita jadikan mantra untuk diingat di masa-masa seperti ini.

Kenormalan baru mengundan orang-orang untuk tetap berinteraksi sosial dengan cara baru. Ini bisa jadi faktor utama yang mendorong kita untuk memutus interaksi sosial secara total. Gimana supaya kita bisa menyikapi pandemi dan penjarakan sosial dengan lebih bijak?

Pertama, berhenti mempertanyakan kapan wabah COVID-19 berakhir. Tadi udah dijelasin, wabah kaya gini baru bakal kelar kalo vaksinnya udah ditemukan dan terbukti dan teruji efektif. Selama vaksinnya belum ada, yang kita perlu lakukan cuma menerima kenyataan bahwa hidup udah berubah. Ini bikin kita lebih legaan dikit dalam menjalani hidup sehari-hari. Karena kan kita ga bisa ngelakuin apa-apa soal ini, toh? Ya udah, dijalani aja dulu. Toh, juga para ahli bukannya diem-diem bae, nyante-nyante ngopi. Mereka juga muter otak kali, ga tidur berhari-hari buat mecahin satu masalah ini.

Kedua, stop bersikap seolah-olah pandemi ini adalah alasan bagus buat jadi anti sosial. Yang justru malah sebaiknya dilakukan adalah memandang situasi ini sebagai sebuah pertanda bahwa kita harus hidup lebih baik. Kalo mau dibawa ke sisi yang lebih sih, anggap aja wabah ini sebuah teguran dari alam bahwa kita selama ini udah terlalu dimanjakan dengan pola hidup yang sama sekali ga sehat. Dulu sebelum wabah ga kepikiran kan buat cuci tangan dengan sangat rajin? Ga kepikiran kan, buat rajin olahraga? Ga kepikiran kan, buat memperhatikan pola makan dan apa yang dimakan?

Ini sebenernya bisa jadi momen yang pas buat kita bisa introspeksi diri, menata ulang segala yang salah tentang diri kita. Bukannya malah ngambek dan ga mau interaksi sama sekali dengan sosial sekitar. Ada wabah ato engga, hidup sebaiknya terus berjalan.

Dan hidup memang tetap berjalan, ga peduli sama apa yang terjadi. Tinggal kitanya, mau adaptasi dan mengubah diri atau tenggelam dalam jurang depresi.

Menilik COVID-19 dari Perspektif yang Berbeda

Kalau ada kumpulan kata yang bisa menyatukan umat sedunia, COVID-19 adalah salah satunya. Kenapa? Semua orang, ga peduli usia, ga pandang jabatan, cewek-cowok bodo amat, pasti tahu coronavirus dan penyakit yang dibawanya. Semua orang mungkin tahu, tapi pemahamannya pasti berbeda-beda. Ada yang tahu separah apa akibat terjangkit COVID-19. Ada yang paham cara pencegahan dan penanganannya. Ada juga yang menyamakan coronavirus dengan COVID-19 (coronavirus itu virusnya, penyebab sakitnya; COVID-19 itu penyakit yang disebabkan virusnya.) Variasi pemahaman bisa berbeda tapi cuma satu hal yang sama: Semua tahu, paham, dan setuju bahwa COVID-19 itu berbahaya. Makanya di awal dikatakan COVID-19 itu salah satu pemersatu bangsa-bangsa. Semua memiliki musuh yang sama.

Pandemi dan Respons Kita

Bayangkan, satu makhluk kecil mungil tak kasat mata mampu men-shut down­ dunia. Pariwisata mati suri, tau deh kapan bangunnya. Perdangangan hampir pingsan. Ekonomi global praktis koma. PHK di mana-mana. Cuti tak berbayar jadi satu hal yang ditunggu dengan tidak antusias. Alkohol, masker wajah, sarung tangan, hand sanitizer, bahkan hidrogen peroksida menipis stoknya. Se-desperate itu. Sepanik itu. Cuma gara-gara virus yang menyebar ke mana-mana. COVID-19 berubah dari istilah menjadi teror yang bikin kita ngeri-ngeri horor. Hal-hal pertama yang nyangkut di kepala ketika mendengar COVID-19 adalah: wabah, infeksi, pandemi, virus, demam, dan segudang kata lain yang, oh tuhanku, bikin pingin di rumah aja sampe kelar.

Batuk kering adalah salah satu gejala umum

Belum lagi kalo kita ngomongin fakta bahwa COVID-19 belum ada obatnya, vaksinnya. Wah, kepala bakal tambah butek. Pikiran resah. Tidur ga nyenyak. Makan ga enak. Hari-hari diisi khawatir berkepanjangan. Setiap jam diisi pertanyaan “Apa lagi, nih, yang kudu gue lakuin biar lebih higienis, sehat, bebas kuman?” Trus, ngelakuin hal-hal yang niatnya supaya waspada tapi kenanya malah ga masuk akal. WFH niatnya baik tapi gara-gara kelamaan di rumah malah berubah jadi kaya hukuman. Mau keluar, takut. Tetap di rumah, bosan. Kita semua bimbang mau mengorbankan kebiasaan demi keamanan atau bersikap ga mau tau, berharap dan berdoa semua baik-baik aja.

Tapi masa sih, cuma hal buruk yang ada untuk diantisipasi dari keadaan saat ini? Masa sih, kita kudu memaksa diri beradaptasi dengan cara bersiap untuk hal-hal paling buruk aja? Masa sih, mulai sekarang kita kudu hidup dengan penuh curiga sama orang lain? Sulit, memang, membayangkan ada hal baik yang bisa dilihat dari situasi seburuk sekarang ini. Kita cenderung terenyuh waktu dihadapkan dengan keadaan yang serba buruk—dan itu, BTW, manusiawi. Siapa sih, yang benar-benar siap menerima kenyataan pahit? Kita bisa selalu siap siaga, selalu waspada dan berpikir tidak ada yang terlalu berat untuk dihadapi. Tapi bencana—apapun bentuknya—itu kaya banjir bandang. Selalu datang tiba-tiba di saat yang paling tidak kita kira. Dan kalo udah dateng, udah deh, cuma bisa ngelakuin tindakan-tindakan kuratif meskipun tindakan preventifnya udah seabreg-abreg.

Sisi Lain dari COVID-19

Nah, udah deh ya, kita ga usah bahas yang serem-serem. Ada banyak sumber di luar sana buat dibaca kalo soal dampak buruk lah, simtom lah, pengobatan lah. Ga usah juga bahas apa itu coronavirus, tinggal buka Wikipedia buat ringkasnya, mah. Coba tutup mata pelan-pelan dan tarik napas dalam-dalam. Habis itu, yuk kita ngobrolin yang baik-baik aja sekarang, saat ini, sebentar saja.

  1. Kita jadi lebih sering cuci tangan

Coba, dulu sebelum COVID-19 trending, berapa kali kita cuci tangan dalam sehari? Cuci tangan sekali sehari juga udah bagus, kan? Itu pun sekadar basah. Sekarang, cuci tangan kudu pake sabun, kalo ga, ga mantep. Frekuensinya juga naik. Setiap dari luar, habis pegang sesuatu, atau ngapain pasti cuci tangan minimal 20 detik. Katanya ada juga yang cuci tangan sambil digosok kuat-kuat sampe lecet. Lebay sih, emang. Tapi mencuci tangan tiba-tiba jadi budaya harian yang lumrah dilakukan. Toko-toko, mall-mall, warung-warung makan, semua sedia fasilitas cuci tangan. Repot? Pastinya; apa lagi kalau kita ingat jaman dulu sebelum wabah, masuk mall main masuk aja. Sekarang? Jangan coba-coba kalo ga mau diusir pak satpam. Jadi ingat juga dulu pas kuliah ada temen yang males banget cuci tangan karena pemikirannya gini: ngapain cuci tangan toh ada asam lambung yang bakal bunuh bakteri dan virus yang nempel di makanan.

Wabah COVID-19 membawa kesadaran untuk kita supaya kita sadar, hei, selama ini kita tuh teledor sekali soal kebersihan dan sering menyepelekan hal sekecil virus. Ingat ya, hal besar selalu berakar dari hal kecil.

  1. Lebih teliti soal kehigienisan hal di sekitar

Sekali kita sadar tentang menghargai kebersihan, kita pun akan menjadi lebih pemilih perkara kebersihan. Ada semacam kesadaran di diri kita untuk menghindari makanan yang tidak dimasak atau dimasak tidak sempurna. Bahkan ketika memilih makanan segar (sayuran mentah, misalnya) kita akan tergerak untuk benar-benar membersihkan si bahan makanan. Mungkin akan ada pikiran, ah, virus ga mungkin nempel di sayur segitu lamanya. Tapi, apakah kita sebegitu kepingin makan sayuran mentah sampai rela mengonsumsi sesuatu yang tidak dicuci dengan menyeluruh dan tuntas?

Fun tip: Pilah-pilah daun sayuran, buang yang layu (atau sisihkan untuk dimasak, jika bisa). Lepaskan dari bonggolnya lalu cuci di bawah air mengalir. Kemudian, rendam sayuran tersebut dalam baskom berisi air garam dan biarkan selama setidaknya 10 menit. Ini juga bisa dilakukan sebagai tindakan disinfeksi alamiah untuk sayuran yang akan dimasak tapi tidak dalam waktu lama.

Lingkungan tempat tinggal pun menjadi objek yang tidak bisa kita abaikan. Kita jadi lebih sering mengepel lantai. Semprotan disinfektan (baik yang tanpa aroma maupun yang wanginya semerbak semesta raya sampai kecium ke jalan) secara reguler. Semua supaya kita yakin tidak ada potensi infeksi di sekitar tempat kita menghabiskan waktu sehari-hari.

  1. Pola makan lebih teratur dan terjaga

Dulu, sebelum COVID-19, berapa kali kita makan junkfood? Berapa kali kita makan daging tanpa diimbangi unsur gizi lain? Sekarang saatnya kita-kita yang menghindari sayuran dan buah untuk mempertimbangkan ulang pola dan pilihan hidup yang kita ambil. Iya, sayur memang rasanya tidak seenak daging. Oke, dari kecil ga terbiasa makan buah karena repot ngupas dan motong. Tapi ini saatnya kita belajar membiasakan diri. Buah dan sayuran tinggi nilai gizi dan antioksidan alami. Vitamin? Jangan tanya. Mineral? Sayuran dan buah gudangnya. Makan buah dan sayuran akan memberi kita manfaat yang berlipat-lipat; vitamin, mineral, dan antioksidan didapatkan, serat alami juga masuk. Badan sehat karena imun kuat, pencernaan lancar jaya bebas tanpa hambatan.

  1. Tidur lebih baik

Berkat pandemi, kantor-kantor ditutup dan karyawannya disuruh kerja dari rumah. Ini bisa dijadikan momen tepat untuk mendetoks diri dari lingkungan kantor yang selama ini bikin kita jengah dan muak. Memang, untuk bisa nyaman bekerja dari rumah setelah bertahun-tahun menjalani rutinitas berangkat ke dan pulang dari kantor butuh waktu. Anggap saja ini adalah paksaan untuk kita menekan tombol reset. Karena bekerja dari rumah, keharusan untuk lembur tidak ada. Bangun pagi jauh lebih santai tanpa bayangan ketakutan terjebak macet dan konsekuensi terlambat. Kita pun bisa beristirahat lebih maksimal. Tidur jauh lebih cukup ketimbang pas masih ngantor. Tapi ingat ya, WFH atau tidak, kewajiban tetap kewajiban loh.

  1. Lebih banyak waktu untuk keluarga

Konsekuensi wabah COVID-19 ada bermacam-macam dari sisi profesi. Di-PHK dan pemberian status cuti tanpa bayaran sudah bukan hal mengejutkan lagi sekarang ini. Respons psikis kita pun berbeda-beda terhadap konsekuensi ini. Tapi kalau kita bisa melihat dari sisi lain dan mampu melewati periode “berduka” itu dengan sehat, ada kok hikmahnya. Kita bisa kembali mendekatkan diri dengan keluarga setelah selama ini waktu yang kita punya hanya terfokus pada pekerjaan dan main dengan teman di luaran sana. Kita bisa ikut melihat tumbuh-kembang anak, lebih terlibat dalam mendidik mereka dan memantau apa-apa di sekitar mereka. Dengan pasangan juga bisa lebih mesra dan lebih dekat lagi.

Gimana kalo yang masih lajang? Sama juga. Kita bisa lebih sadar dengan hal-hal yang terjadi di rumah, misalnya. Kita pun bisa menjadi tempat curhat bagi orang tua atau saudara. Pokoknya, ini benar-benar menjadi kesempatan untuk kita bisa kembali “melihat ke dalam”.

  1. Jadi lebih paham teknologi

Kewajiban untuk bekerja dan sekolah dari rumah menuntut kita untuk melek teknologi. Dulu mungkin kita ga tau apa sih, Zoom itu? Fungsinya apa, dan makenya gimana? Sekarang semuanya diselenggarakan via internet. Mau ga mau kita kudu upgrade skill kita dalam menggunakan teknologi komunikasi digital. Para orang tua juga dituntut paham teknologi dalam membantu anak-anak mereka menyelenggarakan sekolah via internet. Pastinya ada kesulitan tersendiri terkait hal ini. Tapi karena terpaksa, ya…lagi-lagi, mau ga mau kan?

  1. Kreativitas meningkat

COVID-19 datang dengan konsekuensi ekonomi yang bertaraf global. Saat PHK karena corona dan cuti massal diberlakukan, kita pun dituntut untuk lebih kreatif dalam mencari penghasilan. Jika sebelumnya polanya adalah lebih cenderung pasif (kerja dan terima upah) sekarang kita harus memutar otak mencari apa yang bisa dijadikan uang di masa sulit seperti ini. Jualan daring jadi lazim. Metode reseller jadi alternatif yang cukup menggiurkan.

  1. Lebih rajin olahraga

Apa lagi coba, yang lebih efektif dalam meningkatkan stamina selain menggerakkan tubuh? Dulu ada berbagai macam alasan yang kita pakai untuk menunda olahraga: “Ah, fitnesan kejauhan…”, “Ah, membership-nya kemahalan…”, “Ah, males”, “Ah, cape”, “Ah, ga ada waktu”, dan sebaris ah-ah lain mulai dari yang masuk akal sampe yang malah kedengeran dibuat-buat. Sekarang, dengan segalanya tentang WFH saat ini, udah ga ada alasan buat ga olahraga.

Menyikapi New Normal

Belakangan marak istilah New Normal. Ketika sebuah wabah belum bisa diatasi dengan menyeluruh dan obat yang bisa membabat habis penyebab sakit belum ditemukan, maka aturan stay at home menjadi satu-satunya alat untuk menekan penyebaran virus. Makanya kemarin-kemarin banyak banget iklan dan kampanye buat kasi pengertian ke masyarakat biar tetap di rumah aja, ga usah ke mana-mana. COVID-19 itu tingkat penularannya terbilang tinggi; jadi kalau mobilitas penduduk tidak sedikit dikekang, jadinya ya, bisa-bisa penyebarannya bisa merata ke seluruh pelosok negara.

Anjuran buat stay at home memang ga membawa dampak bagi mereka-mereka yang pekerjaannya bisa dijalankan dari rumah. Trus, gimana dong, sama yang pekerjaannya mengharuskan mereka untuk ada di luar rumah? Gimana dengan yang menggantungkan hidup justru dari pola mobilitas tinggi? Naaah, makanya awalnya diberlakukan PSBB; boleh keluar, asal untuk alasan urgent dan pekerjaan; yang kelayapan cuma buat cari tempat hangout, disuruh balik ke rumah masing-masing. Keluar dari rumah pun masih disertai persyaratan: kudu pake masker, kudu pake sarung tangan karet, kudu cuci tangan setiap sehabis megang sesuatu. Hand sanitizer dan sebotol disinfektan jadi perkakas wajib buat dimasukin ke tas. Kudu jaga jarak dari orang lain.

Still, itu pun masih ga cukup. Pemerintah mikirnya, mau sampe kapan bisnis-bisnis dikekang? Mau sampe kapan pemukiman penduduk diportal? Mau sampe kapan provinsi-provinsi di-lock down? Perekonomian terancam, nih. Ga mungkin juga ngutang ke negara lain, kan? Negara lain juga sama terpuruk, loh. Naaah, muncul deh, New Normal, sebuah tatanan berkehidupan yang baru sebagai respons direct terhadap kemungkinan bahwa COVID-19 masih belum sepenuhnya berada di bawah kendali. Kita semua dituntut beradaptasi dengan keadaan yang ada. Semuanya berangkat dari satu pemikiran sederhana: Life must go on, wabah atau tidak.

Sekarang, toko-toko, kafe-kafe, pusat-pusat perbelanjaan, hotel-hotel udah mulau dibolehin beroperasi. Tapi kita juga digiring untuk tahu diri biar ga kebablasan. Jangan mentang-mentang udah pada buka, lepas semuanya. Masker ga dipake. Cuci tangan malas. Mulai kacau-balau pola makan-tidur-olahraganya. Ga boleh gitu, ya. Inget ya, vaksinnya belum ada nih, ini penyakit. Kudu siap juga dengan COVID-19 gelombang kedua nanti. Ya, sukur-sukur sih, ga pake gelombang-gelombangan.

Berharap, Berdoa, dan Beradaptasi

Kata orang, habis gelap, terbitlah terang. Kata orang yang lain, selalu ada matahari sehabis badai. Orang yang lain lagi, ada hikmah di setiap kesulitan. Gimana kalo kita coba putar cara kita berpikir jadi gitu? Apa lagi sih, yang kita bisa lakukan, kan? Tentu segala pencegahan harus dijalankan, pastinya. Tapi kalau kita terus-terusan fokus ke hal buruk doang, apa ga bikin depresi ujung-ujungnya? COVID-19 memang bencana; cuma si pongah, si angkuh, dan si pengidap keterbatasan informasi yang mungkin mengklaim sebaliknya. Tapi percaya deh, this, too, shall pass. Ini juga bakal ada ujungnya. Semua bakal indah pada waktunya.