Free Trial Classes untuk Anak? Tabukah?

Hai Teman DRYD,

Kapan itu kita kan udah ngomongin gaya parenting 3 negara maju di Eropa kan ya. Dari pembahasan tempo hari itu, kesimpulannya bisa diambil kalo di ketiga model pola asuh di ketiga negara itu sama-sama menekankan free will, kemandirian, dan peningkatan kemampuan emosional anak-anak. Anak-anak di Denmark, Perancis, dan Jerman udah dikenalin sejak dini ke konsep-konsep menghargai diri sendiri, kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri dan menghadapi konsekuensi, kemauan untuk berdiri di kaki sendiri dan mencari solusi untuk sebuah masalah, dan menghargai orang lain serta norma-norma kesopanan. Hal-hal seperti ini juga bisa nih, ternyata, diobservasi dari cara orang-orang tua di negara maju dalam membiarkan anak-anak mereka memilih pendidikan yang mereka inginkan. Pastinya dong, peran orang tua masih tetap ada. Tapi itu lebih kepada pemberian pengarahan. Jadi para orang tua mengambil posisi sebagai sumber saran dan masukan aja. Selebihnya si anak dibiarkan menikmati sebesar mungkin kesempatan untuk mencoba segala macam opportunities yang ada dan tersedia.

Ini sedikit kontras dengan apa yang ada di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Pola pengasuhan di negara kita masih bercorak involved 100%. Si anak bukan lagi diarahkan atau diberi masukan. Mereka jadi disetir dan di-micromanage. Anak jadi ga punya ruang untuk memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan. Ga salah siiih, membantu memilihkan sesuatu untuk anak. Toh juga namanya anak-anak kan masih milih berdasar kesukaan, excitement, dan fun. Sementara di lain pihak kita orang tua mikirnya udah jauh perkara masa depan. Tapi kalo pola manajemen hidup anak kita dasarkan pada agenda pribadi, gimana dong? Kan jadinya kita ngegedein anak buat jadi versi kecil-nya diri kita sendiri. Si anak juga kan individu merdeka yang kemauannya mungkin berbeda jauh dari orang tuanya. Kalo kita maksain agenda-agenda tertentu, jangan heran nanti kalo ternyata hidup yang dia jalanin adalah sebuah penyiksaan ketimbang petualangan. Jangan heran nanti kalo kuliahnya lamaaa banget ato bahkan ga selesai. Jangan heran kalo nanti dia serba kesel sama kita dan hubungan kita jadi ga harmonis dengan dia.

Orang tua membantu anak menentukan pilihan hidup itu kewajiban. Sayangnya, banyak yang gagal membedakan “membantu” dan “mengendalikan”. Kita mau punya anak, berarti kita juga harus mau menerima kenyataan bahwa kita sedang membesarkan seorang manusia yang datang lengkap dengan free will, interes, pola pikir, dan hasratnya sendiri. Kita ga lagi ngegedein versi mini dari kita, bukan kloning kita. Tugas kita cuma memastikan si anak bertumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang aman, nyaman, kondusif, dan positif. Selebihnya kita cuma perlu memfasilitasi supaya si anak bisa sadar dan menemukan apa yang ia kehendaki dan kemudian realisasikan.

Cara Pandang Umum

Dengan konsep seperti yang dijabarkan di atas, yuk kita coba lirik kecenderungan orang tua kebanyakan yang sering banget nolak daftarin anaknya ke program free trial class. Kelas-kelas model begini biasanya disediakan untuk anak-anak usia TK atau playgroup dan bisa berjalan dalam 3 kali pertemuan atau bahkan 3 minggu.

Kelas – percobaan – gratis. Dari kata-kata penyusun istilah itu aja kita udah bisa nebak apa yang ngedorong orang tua ogah daftarin anaknya.

Di pikiran kita, yang namanya kelas itu adalah ruangan tempat proses belajar mengajar antara murid dan guru berlangsung kan ya. Nah, bayangannya adalah sebuah sekolah formal yang didukung oleh kurikulum formal dan valid.

Di pikiran kita, yang namanya percobaan itu temporer. Setelah masa uji kelar, udah deh ga lanjut. Signifikansi program percobaan jadinya gimana? Kan gitu mikirnya.

Di pikiran kita yang gratis-gratis itu pasti kualitas rendah karena otak kita udah kadung keprogram buat mikir kalo kualitas tinggi itu berbanding lurus dengan harga. Kalo bisa, semakin mahal berarti semakin baik.

Tanpa disadari, ketiga pola pikir ini bikin kita ngerasa ogah buat nyoba kelas-kelas gratis dari bimbel-bimbel yang ada. Dan kalo dipikir-pikir masuk akal juga sebenernya. Siapa juga yang mau anaknya duduk dalam program kelas tambahan yang temporer dan diberikan secara cuma-cuma, kan? Tapi ngebiarin opini semacam ini berlarut-larut juga berarti kita membiarkan kesempatan buat anak bisa ngembangin potensinya lebih dini terbang gitu aja. Kenapa? Yuk kita bahas manfaat kelas percobaan itu apa aja. Kelas percobaan itu intinya mempersiapkan anak untuk periode pendidikan yang lebih serius lagi di masa depan. Kurikulum yang diberikan di kelas percobaan ga jauh beda dari sekolah formal; jadi, ini yang perlu diluruskan: Kelas percobaan itu bukan tempat penitipan anak atau sesuatu yang buang-buang waktu.

Manfaat di Segala Sisi

Tapi Dok, kan katanya di Eropa sana anak-anak ga harus nyoba belajar formal terlalu dini.”

Emang. Kan kelas percobaan itu sifatnya pengondisian dan fungsinya buat nyari tau bakat dan minat sejak dini. Kurikulum mungkin sama dengan sekolah formal, tapi aplikasinya bisa aja dikemas dengan cara berbeda, kan? Lagian kan ini modelnya suplemental gitu, jadi anak ga kaget dengan pola akademis sebetulnya nanti. Paling engga, dengan mendaftarkan anak ke kelas percobaan, kita bisa tau kemampuan interaksi sosial dasarnya kek gimana. Karena, coba deh, bayangin, hal terberat buat anak-anak ketika pertama kali masuk sekolah itu pasti membangun relasi dengan teman-teman sekelas dan guru. Dia harus keluar dari zona nyaman di rumah, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan di saat yang sama harus menyerap materi ajar di papan tulis. Dengan kelas percobaan, paling tidak si anak udah dilatih buat berada di antara orang-orang yang bukan komponen keluarganya.

Dan karena kurikulum yang diterapin ga jauh beda dari sekolah formal, kita tau kalo kualitasnya juga ga main-main sekalipun programnya cuma-cuma. Program kelas percobaan ini dikasi gratis juga kan karena menguntungkan si bimbel, guys. Mereka toh butuh anak didik supaya bisnis bisa jalan toh? Nah, harapannya itu program kelas percobaan gratis ini tuh, bisa jadi media promosi dan pengenalan jasa pada calon-calon klien. Ditambah lagi nih ya, program percobaan kaya gini nih, bisa banget ngebantu bimbel buat mengevaluasi kemampuan anak mengikuti kurikulum yang tersedia jadi nantinya penempatan level belajarnya bisa efisien dan efektif. Kalo kita asal daftarin anak ke bimbel langsung masuk ke level intermediate, misalnya, sementara si anak bahkan belum memiliki penguasaan materi dasar, ya kan jadi masalah lagi nantinya.

Dari sisi anak juga lebih besar manfaatnya.

Pertama, bimbel bisa memperkenalkan kurikulum pada orang tua dan anak dan kita bisa mempelajari apakah program terkait memang benar sesuai dengan kemampuan si anak dan minatnya. Kita bisa liat nih, misalnya, “Oh, anak saya agak lemah di bidang matematika tapi ternyata bimbel ini fokusnya ke pengasahan kemampuan berhitung.” Nah, kita bisa ambil strategi yang mungkin relevan. Entah mungkin bisa meneruskan program dan mendaftarkan anak secara resmi ke bimbelnya. Atau mungkin berpikir biar nanti sekolah formal yang meng-handle sisi kelemahan si anak jadi sekarang cabut dulu dari bimbelnya dan cari program lain yang mendukung minat anak.

Kedua, seperti yang udah sempet disinggung tadi, mendaftar ke program kelas percobaan tuh, bisa membantu anak beradaptasi dengan lingkungan sosial-akademis dengan lebih natural. Anak bisa terbiasa menghabiskan beberapa jam ga bareng orang tuanya di rumah aja jadi nanti pas beneran masuk sekolah, dianya ga kaget dan harus beradaptasi dengan berbagai macam perubahan di saat yang sama. Ga semua anak loh, punya kemampuan adaptasi yang fleksibel. Ada yang mungkin karena ga sanggung mengimbangi perubahan yang datang secara sekaligus malah terganggu proses belajarnya.

Ketiga, anak bisa belajar tentang kedisiplinan lebih awal. Mungkin program kelas percobaan ga sama persis dengan sekolah. Tapi pasti ada serentetan aturan yang kemudian diimplementasikan kepada para peserta belajar. Karena udah dibekali dengan pengalaman berurusan dengan jadwal dan urutan kegiatan, anak bisa lebih udah mengikuti aturan sekolah yang pastinya lebih strict dan di rumah pun bisa mempraktikkan apa yang sudah dia dapatkan.

Dari sisi orang tua juga ada hal yang bisa didapatkan. Karena sifatnya gratis, orang tua bisa leluasa memutuskan untuk tidak menggunakan jasa satu bimbel tanpa ada konsekuensi finansial apapun. Tentunya ini semua setelah melakukan observasi terhadap respons si buah hati terhadap program yang ada ya. Selanjutnya, orang tua juga bisa memberikan masukan kepada pihak penyelenggara setelah masa percobaannya selesai. Kritik dan poin-poin evaluasi bisa dilancarkan agar program kelas percobaan yang disediakan pihak bimbel bisa mengoreksi diri.

Yang Perlu Dipersiapkan

Kita sebagai orang tua ga boleh gede gengsi cuma karena fasilitas yang dikasi itu gratis. Kalo ada di antara Teman DRYD yang punya pola pikir “mahal pasti bagus”, coba deh ilangin. Jaman sekarang udah ga relevan punya pola pikir kayak gitu. Nyobain kelas gratis ga bikin prestige turun, sumpah. Lah, buktinya program kelas percobaan gratis justru banyak diadakan oleh bimbel-bimbel ternama. Sekarang, kalo bimbel terkenal dan punya nama aja mau ngasi gratisan, siapa kita nolak-nolak, kan?

Taaapiii, jangan mentang-mentang gratis, semuuua kelas percobaan dicobain. Bukannya ga boleh sih, tapi, pertama, kasian anaknya. Masa dari pagi sampe sore ngabisin waktu di luar rumah? Kan si buah hati juga perlu ada di sekitar kita selama masa pertumbuhan. Kita aja yang orang dewasa bisa bosen dengan rutinitas, apa lagi anak-anak. Terus, si anak jadi ga punya fokus. Pagi-siang, les membaca. Siang-sore, les berhitung. Sore-agak malaman, les musik. Padet banget gitu, mainnya kapan? Lebih kacau lagi kalo si anak udah masuk sekolah. Sebagian besar harinya diabisin di sekolah. Sisanya di les-lesan. Selain ga efisien dan terlalu menyedot energi, kita ga bisa liat ini anak potensinya di bidang apa. Si anak pun keteteran meng-handle semuanya tanpa sempat mengasah satu keahlian yang dia emang punya ketertarikan.

Nah, kalo udah dapet satu program yang dinilai cocok sama anak, apa nih yang kudu dilakuin?

Pertama, pelajari dengan mendetail kurikulum yang tersedia, sarana dan prasarana, dan aturan yang ada di satu lembaga itu. Lingkungannya harus aman, harus nyaman, harus bersahabat dengan anak-anak. Staf-staf dan pengajar harus orang yang paham berkomunikasi dengan anak-anak. Kurikulumnya harus sejalan dengan target minat dan fokus anak. Pokoknya semuanya harus serba kondusif demi anak.

Kedua, kita kudu proaktif tanya ini-itu ke semua elemen di bimbel itu, gurukah, stafnya-kah. Semuanya. Bodo amat dikira ceriwis dan nyinyir. Gratis ato engga, kita sebagai orang tua punya hak sepenuhnya buat tau seluk-beluk tentang bimbel penyelenggara. Dan kalo pihak penyelenggaranya fair dan paham aturan main, pastinya ga keberatan ngasi jawaban untuk semua pertanyaan kita.

Ketiga, balik lagi ke fokus si anak. Pertimbangkan tiga hal dari anak: potensi, minat, dan kemampuan. Setelah itu, bandingkan dengan rancangan kurikulum bimbel, apakah sudah tepat dan mampu menyokong ketiga poin itu?

Keempat, pahami kategori program belajar yang akan diambil. Ada lembaga pendidikan yang menyediakan program-program belajar akademis, ada juga yang bidangnya berat ke segi seni. Bisa nih, kita pertimbangin buat daftarin anak ke kumon kalo emang potensinya gede di bidang akademis. Kalo si anak nunjukin minat besar ke dunia seni, kelas mewarnai atau menggambar atau mungkin balet bisa dijadikan alternatif. Anak-anak belajar robotika juga ga tabu loh. Malah bisa mengasah rasa ingin tahu si anak bahkan, bagus buat tumbuh-kembang intelijensinya nanti.

Minimalisasi Intervensi

Jadi gitu. Kita sebagai orang tua harus banget ngebiarin anak memilih sendiri bidang minat dan fokusnya. Kita ga perlu intervensi, toh juga kelas-kelas percobaannya masih gratis. Ga ada konsekuensi apapun kok, kecuali mungkin kita kudu ngorbanin sedikit waktu buat ngajak anak keluar dari rumah. Gapapa, kan manfaatnya juga dobel-dobel. Jangan intervensi apa-apa ya. Anak maunya apa, kita turutin dulu soal ini. Oh, mau belajar ngitung cepet? Yuk! Oh, mau belajar nari muter-muter pake rok tutu? Yuk! Oh, mau belajar bikin robot? Yuk! Anak-anak biasanya fokusnya ilang secepet minatnya berubah kok. Biarin aja dulu dia sadar dan menemukan apa yang menjadi passion-nya. Intinya mah, yang penting dia bisa kenal dunia pendidikan dari awal, belajar disiplin lebih dini, bisa paham arti kemandirian sejak kecil, dan mengenal konsep free will secara fundamental.

Punya Anak Lebih Dari Satu Itu Berisiko? Yuk, Kita Bahas

Keluarga yang harmonis

Haaalo Teman DRYD!

Ketemu lagi kita di kategori khusus membahas seputar dunia parenting. Teman semua pasti dong tahu tentang yang dimaksud parenting. Paling ga, pasti ada pemahaman mendasar tentang topik ini. Parenting bisa disederhanakan sebagai pola asuh orang tua terhadap anak, bagaimana orang tua mendidik anaknya. Tapi, pendidikan yang gimana dulu nih?

American Psychological Association (APA) mengerucutkan parenting dengan definisi berupa pola asuh anak yang dilakukan oleh orang dewasa (tidak mesti berhubungan secara biologis loh, ya) dengan tujuan utama meliputi: memastikan kesehatan dan keamanan bagi anak, memastikan si anak menjadi pribadi yang produktif di masa depan, dan memastikan nilai-nilai budaya turun pada anak dan terinternalisasi dengan baik.

Definisi mendasar parenting ini bisa kita gunakan untuk menilik fenomena unik yang kayanya makin marak belakangan ini: Bahwa semakin banyak orang tua yang kepingin menambah anak tanpa memperhitungkan jarak anak pertama dan kedua. Hasrat menambah anak adalah hal lazim di setiap rumah tangga dan itu dapat dimaklumi. Kenapa mau tambah anak? Wah, ada banyak alasan untuk dijadikan jawaban bagi pertanyaan sesederhana itu. Ada yang berpikir dengan menambah anak maka rumah akan menjadi lebih ramai, ga sunyi kayak lapangan kosong. Ada yang mikir, wah si kakak butuh adek nih, biar ga sibuk sendiri. Ada lagi yang mikir, nambah anak dengan rentang usia berdekatan berarti nanti gede-nya bisa barengan; ga yang satu udah dewasa, yang satu masih muda belia. Ide bahwa membesarkan anak secara bersamaan berarti nanti rasa lelahnya pun usai bersamaan pun juga jadi alasan logis. Trus, ada lagi yang mikir-nya rada-rada konvensional; banyak anak, banyak rejeki, jadi selagi masih bisa, yok di-gas. Semua alasan ini valid; kita ga lagi ngomongin mana yang masuk akal, mana yang bikin mulut menganga. Kecuali alasannya mau bikin kesebelasan, baru deh, mengernyitkan dahi. Tapi yang jadi pokok permasalahannya di sini adalah apakah sebuah langkah yang smart menambah anak sementara anak pertama masih perlu dipantau perkembangannya?

Ga ada kok, yang menyalahkan keinginan punya anak. Tapi coba deh, dipikir-pikir lagi, apa si anak pertama sudah cukup menerima pola asuh dari kita sebagai orang tua? Ada tahapan perkembangan anak menurut umur yang harus selalu diikuti dengan baik agar si anak sempurna pertumbuhannya, baik fisik maupun mental. Kalau anak pertama bicara saja masih belum beres, terus udah hamil lagi, ibu akan sangat keteteran dalam meng-cover semuanya: Memastikan anak pertama baik-baik saja itu sudah menyedot pikiran loh, apalagi kalau ditambah harus memantau anak dalam kandungan sehat selalu di saat yang sama.

Apa Buruknya?

Setuju ga, kalau dibilang mengurus satu anak itu ga gampang? Iya kan? Iya, dia lahir dari kita. Iya, dia kita yang urus. Tapi seorang anak tetaplah individu yang berdiri sendiri; kepalanya aja udah beda, apalagi isinya, apalagi karakter dan kepribadiannya. Jujur deh, kalau punya anak kedua (atau ketiga, keempat) pasti anak yang sudah lebih dulu tua disuruh ikut membantu merawat adiknya. Kenapa? Ini biasanya terjadi ketika si ibu merasa segalanya sudah out of hand, dia sudah merasa bahwa kondisi rumah tangga sudah tidak bisa lagi dia kontrol sendirian. Mending kalo si bapak melek situasi, kan? Coba kalo suami tipe yang keburu tersedot perhatian dan tenaganya oleh pekerjaan. Ujung-ujungnya, anak yang gede yang disuruh-suruh.

“Kan tujuannya juga buat ngelatih dia, Dok, biar mandiri, sigap, patuh.”

Iyaaa, paham. Melibatkan anak dalam urusan rumah tangga itu ga salah. Malah banyak sisi positifnya. Tapi masa iya, dia mau disuruh ngawasin adek-nya juga? Orang dia juga masih perlu diawasi, kok. Gini loh, bundaaa, kalau si anak diberi tanggung jawab se-gede itu, dia ditempatkan dalam posisi yang mungkin hampir sama dengan orang tuanya, nanti dia dewasa terlalu cepat loh. Beban psikis yang diterima belum sepadan dengan tahapan tumbuh-kembangnya dan akhirnya dipaksa men-skip apa yang seharusnya dia lewati dengan sehat. Nih, ke-skip satu aja fase perkembangan di usia dini bisa fatal akibatnya. Efeknya mungkin ga langsung bisa diobservasi. Tapi nanti suatu saat nanti ketika dia besar secara umur, baru deh bermanifestasi. Susah? Complicated? Siapa bilang punya anak itu gampang?

Mari Membahas Risiko dan Efek

Waspada terhadap potensi tantrum pada anak

Jadi, apa sih, Dok, efek nyata dari punya anak dengan rentang umur terlalu dekat?

Pertama, potensi tantrum menanjak. Si anak pertama masih butuh kasih-sayang dan perhatian khusus, sudah ditinggal mengurus anak kedua—yang juga butuh extra care. Dari sisi orang tua saja jelas ini merupakan kerugian besar. Cape loh, kondisi kayak gini. Anak yang masih bayi nangis minta makan. Anak pertama nangis ngajak main. Si anak pertama belum paham apa-apa, tau-nya cuma teriak-teriak minta ini-itu. Kalo ga dikabulkan, marah sejadi-jadinya. Kenapa? Karena cara komunikasinya baru sampai sana. Pahamnya baru tentang jerit-menjerit. Dia belum sempat belajar menyampaikan kemauan dengan lebih smooth. Nah, tantrum-nya keluar, orang tuanya kecapean, meledak ga tuh seisi rumah?

Kedua, bonding menjadi kurang, baik antara anak pertama dan orang tua dan juga antara anak pertama dengan yang kedua. Kenapa bisa begitu? Usia-usia dini, sekitar 1 hingga 3 tahun, adalah periode kritis dalam proses identifikasi anak terhadap lingkungannya, termasuk unsur-unsur di dalam ruang lingkup dekat. Orang tua termasuk memegang peran vital dalam memastikan keutuhan ikatan batin antara mereka dan si anak. Gimana sih, proses bonding ini? Apa sih, yang bikin ikatan batin jadi kuat? Banyak faktor dan aspeknya. Yang paling sederhana ya, menghabiskan waktu dengan si anak. Main dengan mereka. Makan dengan mereka. Penuhi semua kebutuhan dasarnya. Ajak dia berbincang. Caranya bisa macemmacem; tapi dengan keberadaan anak yang baru lahir, apa mungkin Teman DRYD sanggup membagi perhatian, waktu, dan energi dengan adil dan merata? Dengan adiknya sendiri juga akan sulit terbentuk ikatan yang kuat. Sejak kecil si kakak akan menilai bahwa si adik adalah sebuah tanggung jawab. Perlakuannya akan beda sebab si kakak ujung-ujungnya bakal menganggap adiknya ini sebuah… apa ya… beban, mungkin?

Ketiga, rasa percaya diri si kakak bisa berada dalam bahaya. Inget kan, tadi dikatakan usia dini itu periode kritis? Ini juga berlaku untuk pematangan cara si kakak memandang dirinya sendiri, caranya memberi value pada dirinya sendiri. Di dalam usia yang semestinya masih menerima perhatian utuh dan terfokus, si kakak harus mencerna kenyataan bahwa dirinya ga terlalu spesial untuk dirawat. Selalu adik yang nomor satu. “Tapi anak bayi namanya, Dok. Pasti dong dirawat ekstra….” Ya makanya itu; suka ga suka, bayi itu sangat demanding. Dengan keberadaan si kakak, akan sangat sulit membagi fokus dan meratakan perhatian dengan serata-ratanya. Kondisi ini bisa diperburuk lagi kalau si kakak juga dituntut untuk berpartisipasi dalam membesarkan si adik. Itu bukan kewajibannya loh. Akhirnya gimana kalau ada tanggung jawab itu juga yang harus si kakak pikul? Yaaa, mungkin nanti dia bakal mikir, “Ah, saya cuma orang yang ikut membesarkan adik….” Gawat kan, kalo sampe sana dia berpikir.

Keempat, timbul rasa iri dan sifat kompetitif yang berlebihan dan tidak sehat. Naaah, ini nih, yang paling gampang dideteksi. Siapa sih, yang suka dengan sikap pilih kasih? Si kakak bisa berpikir si adik menerima curahan kasih sayang dan perhatian seratus persen dari ibu-bapaknya sementara dia cuma di-acknowledge kapan perlu. Ga perlu anak-anak deh, orang dewasa juga sebel dibegituin, kan? Orang tua bisa berdalih, “Engga kok, saya ga pilih kasih. Kan sesuai porsinya, kakak udah gede, udah bisa mandi, makan sendiri. Adek kan belum bisa ngapa-ngapain.” Itu menurut kita; dari perspektif si kakak bisa beda total. Dari rasa iri, muncul kompetisi. Dan kalo udah ada kompetisi, dijamin deh, rumah bakal panas rasanya. Persaingan antarsaudara itu lumrah. Malah mungkin sehat kalau intensitasnya normal. Tapi kalau sudah jadi kompetisi, itu yang berbahaya. Si kakak mikir gimana caranya supaya jadi yang the best di segala lini. Apa-apa kudu sempurna, lebih dari adiknya. Si adek, di lain pihak, kan ga ngerti nih, ini kakak kenaaapa, ya? Trus ga suka sama kelakuan kakaknya yang ga mau kalah. Ga nutup kemungkinan di kemudian hari nanti apa yang bermula sebagai persaingan sederhana berujung benci dan dendam, itu yang kita harusnya hindari.

Ada Ga Sih, Jarak Usia Anak-anak yang Ideal?

“Tapi, yang jadi pertanyaan adalah, apakah sanggup membagi rata perhatian dan memastikan pola asuh yang diberikan sudah tepat?”

Ajak si kakak berkomunikasi

Ada baiknya memikirkan selisih umur anak yang ideal sebelum memutuskan untuk punya anak lagi. Warren Cann, psikolog dari Parenting Research Centre di Australia, berpendapat bahwa rentang usia antara 2 anak yang terlalu dekat dan terlalu jauh sama-sama memiliki risiko kesehatan. Jadi diperlukan semacam garis tengah yang aman dalam hal ini. Jika bicara tentang jarak umur anak yang ideal dalam kaitannya dengan keinginan untuk punya 2 anak berjarak dekat usianya, sebaiknya kehamilan berikutnya direncanakan setidaknya 18 hingga 23 bulan semenjak kelahiran anak sebelumnya. Itu setidaknya loh, ya. Periode ini dirasa cukup untuk memberikan kesempatan pada anak pertama untuk bertumbuh dan berkembang dengan wajar sehingga kehadiran anak berikutnya tidak akan memberi jeda pada tahap-tahap yang semestinya.

Dua masa kehamilan yang berjarak kurang dari 18 bulan akan membuat Teman DRYD kehilangan me-time. Bukan, ini bukan berarti Teman semua harus egoistis—menjadi orang tua adalah pekerjaan seumur hidup yang otomatis meniadakan waktu berkualitas untuk diri sendiri. Tapi bagaimanapun juga kita semua adalah manusia yang kadang jenuh dengan rutinitas sehingga butuh menekan tombol pause sejenak untuk menarik napas. Dua anak yang umurnya terlalu dekat akan sangat melelahkan. Memang nantinya akan lebih mudah karena mereka pun membesar hampir bersamaan. Tapi, yang jadi pertanyaan adalah, apakah sanggup membagi rata perhatian dan memastikan pola asuh yang diberikan sudah tepat? Ingat ya, pola pengasuhan harus membuat anak-anak merasa aman, sehat, produktif, dan mampu memahami nilai dan tatanan yang diturunkan. Sebaliknya, 2 anak dengan rentang usia yang terlalu jauh memiliki potensi beban psikologis yang besar. Setelah 5 tahun merawat satu anak, kembali mengasuh bayi dari nol akan memaksa diri untuk lagi dan lagi melewati fase yang sama.

Langkah-langkah Preventif

Sebenarnya, tidak ada solusi pasti untuk fenomena ini karena memang ini bukan masalah melainkan lebih kepada berkenaan hal-hal abstrak yang bersifat management. Tapi tetap ada cara-cara yang bisa bunda semua lakukan untuk menekan potensi efek negatif.

Kita sebagai orang tua sebaiknya aware perkara keharusan untuk sharing dengan anak pertama, terutama tentang hal-hal yang bikin hepi. Jika memang Teman memutuskan untuk punya anak dengan jarak usia berdekatan, selama masa kehamilan kedua, cobalah berbagi dengan si kakak mengenai yang positif-positif saja. Pas lagi berduaan, ajak ngobrol deh, coba tanya “Kakak bentar lagi punya temen loh; mau diajak ngapain aja nanti?” Atau “Nanti dede-nya disayang ya, Kakak. Dikasi kue ya, sama dipinjemin mainan, ya.” Kecil kemungkinan anak umur 1 atau 2 tahun bisa paham apa yang bunda katakan. Tapi paling tidak si kakak bisa meraba mimik muka bunda dan merespon nada bicara bunda yang positif dan membuatnya bahagia. Nantinya, si kakak akan mengasosiasikan si adik dengan hal-hal baik yang membuat rasa excitement-nya meningkat. Jadi jangan sedikit-sedikit si kakak di-ingetin tentang kewajiban harus menjaga adik, harus merawat adik, harus nyuapin adik, apalagi harus menyekolahkan adik, berabe buk-ibuuuuk.

Terus, hal basic nih. Perkirakan kesiapan Teman DRYD untuk kembali menimang anak. Punya anak-anak deketan usianya emang ide yang menawan karena prospek lepas dari rasa lelah mengasuh anak yang lebih serentak di masa depan. Tapi siap ga secara mental, fisik, dan, terutama, finansial? Emang sih, karena jarak yang ga terlalu jauh, peralatan bayi si kakak bisa dipakai lagi untuk si adik—dot atau stroller misalnya. Tapi ada hal lain loh, yang ga mungkin disamakan. Asupan gizi anak umur 2 tahun pasti beda dengan anak umur sebulan setengah, misalnya. Belum nanti kalo mereka udah gedean, udah bisa mikir lebih kompleks dan punya selera sendiri. Mana mau si adek make baju bekas kakaknya.

Persiapan Sebelum Kembali Memiliki Momongan

“Pastikan ikatan antara bunda dan si kakak tetap terjaga sekalipun di tengah masa kehamilan yang baru.”

Jadi? Udah mantep mau punya anak lagi? Gini nih, garis besar persiapannya.

  1. Lihat usia si ibu

Perempuan di bawah 30 tahun yang sehat berpotensi lebih besar ketimbang yang berusia di atas 35 tahun. Bukaaan, bukan dilarang hamil umur segitu. Tapi kehamilan pada saat usia ibu di atas 35 tahun lebih rentan risiko terutama risiko kelainan kongenital. Selama kehamilan pun si ibu nanti akan lebih berpotensi kesulitan seperti diabetes gestasional maupun keguguran.

  1. Jarak kehamilan sebaiknya ideal

Tadi udah disinggung tentang periode ideal antara 2 kehamilan jika yang diinginkan adalah anak-anak yang usianya berdekatan. Nah, sekarang bahas jarak kehamilan yang ideal secara normal, yang pasnya, gitu. Sebaiknya, rencanakan kehamilan berikutnya antara 2 hingga 4 tahun sejak kelahiran yang pertama. Ini bukan cuma perkara kematangan si anak yang sebelumnya tetapi juga kondisi fisik si ibu. Kondisi tubuh perempuan memerlukan waktu untuk kembali siap mengandung lagi. Jika kehamilan terjadi terlalu dekat, dikhawatirkan akan terjadi kelainan plasenta—risiko ini akan berlipat apabila persalinan sebelumnya terjadi secara sesar.

  1. Timbang-timbang kemampuan finansial

Ini sih, seharusnya sudah tidak dibahas ya. Jumlah anggota keluarga bertambah, artinya biaya yang dibutuhkan pun meningkat. Tapi ya mau ga mau harus diikutsertakan sebagai salah satu faktor yang patut ditelaah sebelum memutuskan untuk memiliki momongan lagi. Banyak loh, yang harus dipersiapkan: biaya selama kehamilan, biaya persalinan, asupan gizi seperti susu, perlengkapan dan peralatan bayi, imunisasi, sampai masalah biaya pendidikan jika sudah menginjak usia sekolah.

  1. Cari tahu masalah kesiapan pasangan

Punya anak itu andil berdua, ya. Jika satu saja dari sepasang orang tua berpikir bahwa ia belum siap memiliki momongan lagi, maka sebaiknya diurungkan saja.

  1. Tanya si kakak, siapkah dia menyandang status baru?

Dengan asumsi si kakak sudah dapat berkomunikasi lebih baik dan pola logikanya sudah mulai terbentuk, ajukan pertanyaan-pertanyaan yang bunda bisa jadikan sebagai tolok ukur kesiapan mentalnya dalam menerima kehadiran bayi baru di tengah keluarga. Pastikan ikatan antara bunda dan si kakak tetap terjaga sekalipun di tengah masa kehamilan yang baru.

Final Words

Siap punya anak lagi?

Pembahasan kali ini bukan dimaksudkan sebagai judgment atau upaya menentukan nilai baik-buruk, benar-salah. Semua berhak dan bisa punya anak, kapanpun mereka siap dan berapapun mereka mau. Tapi ini lebih kepada usaha pemberian pemahaman kepada Teman semua mengenai risiko, konsekuensi, dan tanggung jawab kita sebagai orang tua dalam memastikan pola asuh yang tepat.

Punya anak lebih dari satu itu memang menyenangkan. Rumah terasa lebih hangat dan Teman DRYD pun tidak akan kesepian. Tetapi kalau Teman memilih untuk punya anak lebih dari satu dengan jarak usia yang sangat mepet dan akhirnya kewalahan, apakah tidak lebih baik dari awal menunda kehamilan berikutnya? Something to think about.