Menjadi orangtua adalah suatu pengalaman yang pastinya bikin kita excited, ya. Setelah menemukan pasangan yang pas di hati kemudian mengarungi bahtera rumah tangga, hal berikutnya yang paling ditunggu-tunggu adalah kehadiran si buah hati yang akan mengisi hari-hari kita hingga tua nanti. Tapi apa sesederhana itu? Teman-teman DRYD yang udah jadi orangtua sekarang pasti paham kalo yang namanya ngasuh dan ngedidik anak itu bukan perkara gampang. Menjadi orangtua itu adalah pekerjaan seumur hidup. Orang bilang begitu si anak sudah menikah, tugas kita sebagai orangtua selesai. Kenyataannya, bahkan ketika buah hati kita udah mapan dan siap hidup dengan orang lain, kita sebagai orangtua akan selalu menjadi tempat si anak kembali dan berkeluh-kesah. Kita pun punya kewajiban untuk memberikan bimbingan dan bantuan dalam bentuk apa pun yang dibutuhkan si anak. Coba, sekarang siapa yang bisa anak kita andalkan untuk meminta nasihat kalo bukan orangtuanya sendiri? Namanya orangtua, pasti menang di besaran angka usia kan? Nah, asumsinya adalah dengan usia yang lebih matang, pengalaman pun lebih banyak. Sementara si anak mungkin baru memasuki satu tahap tertentu yang udah bertahun-tahun lalu kita lewati. Emang sih, usia ga menjamin kematangan pengalaman hidup tapi ya suka ga suka tetap kita para orangtua yang akan dijadikan sumber pembelajaran buat anak. Ibaratnya kita adalah sebuah buku yang akan dibaca dan dijadikan referensi oleh si buah hati.
Nah, salah satu hal terberat yang dihadapi oleh orangtua adalah perkara permintaan anak. Sebagai orangtua yang sangat menyayangi anaknya, naluri atau insting kita adalah membuat anak bahagia. Menuruti apa yang diminta oleh anak menjadi sebuah dorongan yang akan kita rasakan. Ditilik dari segi tanggung jawab orangtua pun, emang udah sebuah kewajiban untuk mengabulkan keinginan anak. Kasarnya seperti ini: Kita berani punya anak, kita pun harus berani berkomitmen untuk mensejahterakan kehidupan si anak. Yang jadi sumber persoalan sekarang adalah apabila kita secara buta mengabulkan keinginan anak—apalagi jika ini adalah pola yang udah telanjur dikenal si anak dari kecil. Apa aja risiko menuruti semua kemauan anak? Akan menjadi bumerang di kemudian hari. Jika anak sejak kecil udah terbiasa mendapatkan apa yang dia mau, dia akan tumbuh menjadi individu yang kurang daya usahanya dan temperamental sifatnya. Ketika semua kehendaknya kita turuti, pola asuh seperti ini akan menghapus insting si anak, merusak kemampuannya untuk mengikhlaskan sesuatu, meniadakan wibawa dan keberanian, terlalu royal, cuma bisa bersuka-ria, egoistis, dan selalu mementingkan diri sendiri.
Jadi gimana strategi yang perlu diterapkan supaya kita ga kebablasan dalam merespon permintaan dari anak?
- Pahami konsep boleh-tidak boleh.
Kita sebagai orangtua perlu menelaah permintaan si anak itu sendiri terlebih dahulu. Pertimbangkan apakah permintaan tersebut termasuk sesuatu yang tabu atau justru sebenarnya baik untuk diri anak sendiri. Banyak faktor yang bisa dijadikan tolok ukur. Umur, misalnya. Anak biasanya cuma tahu meminta karena dia suka tetapi kita sebagai orang yang lebih dewasa seharusnya bisa memilah mana yang pantas mana yang tidak. Ga semua permintaan harus dikabulkan kok selama itu emang ga pantes. Contohnya, anak mungkin kepingin dibelikan satu pakaian karena dia melihat idolanya mengenakan kostum yang serupa di televisi atau internet. Kita lihat dulu objeknya; jika pakaiannya terlalu terbuka, pastinya ga pantes dong dipakai oleh balita.
- Ajarkan batasan
Balik ke poin pertama, ga semua permintaan kudu kita kabulkan. Terlepas dari apakah si anak memahami alasan keinginannya ga kita penuhi, ini merupakan cara yang jitu buat mengajarkan batasan-batasan untuk si anak pahami. Ada untungnya juga buat kita sebagai orangtua. Jika anak sudah memahami konsep spesifik bahwa tidak semua permintaannya akan kita penuhi, dia ga akan memandang kita sebagai orangtua yang jahat, pelit, dan mengecewakan. Hasilnya, selain memahami konsep batasan, anak juga akan belajar untuk ga mudah patah semangat ketika nanti terbentur kesulitan.
- Tentukan aturan
Ini gunanya adalah untuk mengajarkan anak untuk tidak mencari celah dan berargumen ketika si anak keinginannya tidak dikabulkan. Kesalahan umum yang kita lakukan sebagai orangtua ketika menolak keinginan anak adalah ketiadaan aturan khusus dalam melarang. Contoh kasus, anak udah kebanyakan makan makanan manis dan masih meminta lebih; kecenderungan kita adalah mengucapkan larangan yang ambigu seperti, “Oke, kamu boleh makan satu lagi.” Larangan yang open-ended seperti ini memberi celah buat si anak untuk menegosiasi permintaannya supaya dia bisa makan lebih dari satu. Coba susun ulang kalimat larangan tadi menjadi, “Oke, gapapa makan satu lagi, tapi abis itu kuenya disimpan, ya.” Dengan begini, anak paham batasan, larangan, dan tidak akan menegosiasikan permintaannya lebih jauh.
- Ketika ragu, terapkan aturan tambahan
Jika kita belum terlalu yakin apakah akan mengabulkan atau menolak keinginan anak, coba berikan satu aturan tambahan sebelum berkata, “Ya.” Misalnya, Teman DRYD masih ragu apakah sebaiknya membiarkan anak menonton TV atau tidak. Untuk meyakinkan diri, coba berikan satu syarat ke anak. Jadi sampaikan, “Kamu baru boleh nonton TV kalo udah tidur siang dulu.” Atau, “Boleh nonton TV kalo mainannya udah kamu rapiin, ya.”
- Ga ada yang namanya cuma-cuma
Terapkan sistem reward. Mengabulkan keinginan anak tanpa memberikan tututan padanya adalah cara ampuh untuk membuat anak jadi manja. Sebaiknya, keinginan anak baru dikabulkan apabila dia sudah bisa memenuhi apa yang kita minta lebih dulu. Belikan dia mainan baru hanya jika nilainya bagus di sekolah, misalnya.
- Pahami konsep hak dan kewajiban
Tanamkan pada anak kemampuan untuk memenuhi kewajiban untuk mendapatkan apa yang menjadi haknya. Kita sebagai orangtua pun harus konsisten; jika anak sudah berhasil memenuhi kewajibannya, berikan haknya tanpa menunda.
- Buka komunikasi dan berdiskusi
Berikan penjelasan pada anak tentang kenapa kita menolak permintaannya dengan cara selugas mungkin. Harapannya adalah dengan membuka jalur komunikasi seperti ini, anak akan paham bahwa dia tidak sebaiknya mementingkan diri sendiri, belajar mengendalikan keinginannya, dan menjadi cermat dalam menghabiskan uang.
- Jangan bertindak fisikal
Maksudnya, jika menolak permintaan dari anak, jangan pernah disertai bentakan, ancaman, apalagi kontak fisik seperti pukulan. Tindakan seperti ini akan di-copy oleh anak dan ini akan berdampak pada sikap agresif. Sebagai orangtua, kita selayaknya membujuk dan menggunakan kata-kata yang penuh kasih sayang dan lembut. Tentunya ini perlu dilakukan tanpa disertai pemberian janji-janji yang menimbulkan harapan di diri si anak.
- Tetap konsisten
Ketika aturan sudah diterapkan, kita harus konsisten dan mengikuti apa yang kita tetapkan sendiri. Jangan keluar jalur sekalipun kita kasihan pada anak.
- Kompak dengan pasangan
Kita dan pasangan adalah orangtua si anak dan karena itu harus sejalan dalam mendisiplinkan buah hati. Jika menolak, keduanya menolak. Jika setuju, kedunya harus sepemahaman. Ini juga berlaku untuk orang dewasa selain orangtua seperti kakek-nenek, pengasuhnya, atau saudaranya.
- Perhatikan cara anak meminta
Sekalipun apa yang diminta oleh anak adalah hal yang baik yang ia butuhkan dan kita emang mampu mengabulkannya, jika anak meminta dengan cara yang tidak pantas seperti berteriak, menangis, atau merengek, jangan langsung dipenuhi setidaknya sampai akhirnya sikapnya berubah jadi lebih baik. Sebaliknya, jika permintaannya disertai dengan perilaku yang manis, berikan pujian dan usapan lembut di rambut atau tangannya. Ini akan meng-encourage sikap positif di masa depan.
- Jangan mudah tergugah
Jangan menyerah pada permohonan, teriakan, dan tangisan si anak. Tegaskan bahwa no means no. Sekali kita mengalah karena tangisan si anak, dia akan otomatis beranggapan bahwa keinginannya akan terkabul dengan cara-cara negatif.
Mengelola cara mengabulkan atau menolak keinginan anak itu cukup praktis karena kita langsung menghadapinya. Anak meminta sesuatu, tinggal kita yang perlu secara cermat memilih bagaimana menyikapi. Tapiii, ada juga loh, beberapa jenis permintaan anak yang tersirat. Maksudnya di sini adalah permintaan-permintaan yang bahkan si anak ga sadar ingin kita kabulkan dan penuhi. Emang iya? Nah, yuk kita liat.
- Anak ingin dicintai sepenuh hati. Ini mungkin hal yang simpel di mata kita. Toh, kita kerja banting tulang siang malam juga kan, untuk anak. Tapi pahami bahwa ada hal-hal lain yang bisa dilakukan untuk menunjukkan cinta pada anak juga.
- Anak ingin kita tidak memarahinya di depan publik. Kita frustrasi, stres, dan kehilangan kesabaran itu wajar. Tapi jangan pernah meluapkan amarah pada anak di depan orang banyak. Ini akan menghancurkan kepercayadiriannya dan membuat kita sendiri terlihat buruk di matanya.
- Anak ingin kita tidak membanding-bandingkan. Jangan pernah membandingkan anak kita dengan saudaranya sendiri atau orang lain. Setiap anak adalah harta karun tersendiri. Mereka memiliki prosesnya sendiri. Mudah buat kita membandingkan mereka dengan orang lain tapi apakah pernah terlintas di pikiran kita bahwa hal yang sama bisa mereka lakukan pada kita? Setiap anak juga punya gambaran ideal tentang orangtua sempurna, sanggupkah kita menerima kenyataan bahwa anak membandingkan kita dengan orangtua temannya, misalnya?
- Anak ingin kita menjadi role model-nya yang baik. Anak itu adalah cerminan kita sebagai orangtua. Apa yang kita terapkan akan terefleksi pada bagaimana mereka bertindak dan berperilaku. Kalau kita ingin anak berperilaku X, maka kita harus memberikan contoh X yang sama padanya.
- Anak ingin kita menilainya dewasa. Ini pastinya sesuai porsi ya; tapi intinya anak itu ga mau dianggap kecil dan ga berdaya terus-menerus. Umurnya bertambah tiap tahun jadi kita pun harus menyesuaikan semuanya.
- Anak ingin dibiarkan mencoba sesuatu. Jika gagal, jika berhasil, jika salah, jika benar, mereka ingin dibimbing dan diapresiasi, bukannya dikekang.
- Anak ingin kita ga ngungkit-ngungkit Anak melakukan kesalahan itu sudah sepantasnya. Kita pun ga luput dari kesalahan, loh. Maafkan kesalahan yang ada dan kemudian move on. Kalo kita terus-terusan mengingatkan anak tentang kesalahannya, ini akan membuat dirinya ga mampu menilai diri sendiri lebih dari kesalahannya.
- Anak ingin kita tidak memarahinya dengan hal-hal buruk. Sekali lagi, anak bertindak salah dan kita memarahinya itu adalah hal lumrah. Udah emang gitu siklus orangtua-anak, mah. Tapi kalo kemarahan kita disalurkan dengan disertai ucapan-ucapan kasar yang buruk, mental si anak bisa rusak dan mengalami trauma.
- Anak ingin kita memberikan penjelasan atas larangan yang kita berikan. Jangan berhenti pada kata “jangan” atau “ga boleh”, tapi lanjutkan dengan alasan dan penjelasan.
- Anak ingin kita ga menyeretnya ke dalam persoalan yang sama sekali ga ada hubungannya dengan dia. Kalo kita lagi berantem sama pasangan, jangan bawa-bawa anak atau melampiaskan kekesalan pada anak yang ga ngerti apa-apa.
Nah itu tadi pembahasan singkat kita tentang gimana nyikapin keinginan anak ya, Teman DRYD. Pastinya semuanya sebaiknya dipraktikkan atau diaplikasikan sesuai dengan situasi dan kondisi ya. Semoga kita bisa menjadi orangtua yang sempurna di mata anak.








