Belajar dengan Cara yang Lebih Kekinian Bersama Coursera

Buat Teman DRYD yang berminat buat dapetin sertifikat resmi dari luar negri, online courses bisa jadi alternatif yang menarik loh. Lumayan banget buat nambah isi resume dan lebih lumayan banget lagi buat memperluas wawasan dan mempertajam skill. Kenapa kudu online, Dok? Sebenernya ga kudu sih. Cuma kan kalo online akan saaangat leluasa tanpa terikat jadwal ketat. Plus, dengan menggunakan sarana pendidikan online, kita juga bisa memperluas jangkauan dan memilih mengambil program yang ditawarkan oleh institusi bertaraf internasional. Beberapa universitas ternama di luar negri (kayak Stanford, Harvard, dan Yale) juga ada yang menyediakan fasilitas belajar online supaya semua orang tanpa pandang batas negara bisa nyicipin kurikulum pendidikan mereka.

Nah, kalo tertarik, Teman-teman bisa nih, nyobain yang namanya Coursera. Coursera itu adalah salah satu penyedia layanan online course ternama yang Teman-teman bisa jadikan opsi untuk dipilih.

“Kenapa harus ke situ kalo emang bisa daftar kuliah online di universitas bergengsi, Dok?”

Gini, ada yang namanya online courses ada yang namanya online college courses. Emang kita bisa apply ke program kuliah daring dari, katakanlah, Harvard. Tapi itu statusnya kita jadi anak kuliahan. Yang bikin beda cuma perkuliahannya diselenggarakan melalui internet. Kewajibannya tetap sama sama anak kuliah biasa. Tanggung jawabnya sama. Konsekuensi kalo ninggalin perkuliahan juga sama. Jadi ada lulus-ga lulus-nya, gitu. Soal biaya juga beda karena gelar yang didapat itu bakal resmi turun dari universitas yang dimaksud.

Nah, kalo online courses, sekarang tuh terkenal dengan sebutan Massive Open Online Courses (MOOCs). MOOCs ini sifatnya yaaa lebih ke kursus, mungkin ya, bahasa awamnya. Proses belajar bisa dihentikan kapan aja semau peserta, tanpa ada konsekuensi apapun dari pihak penyelenggara. Coursera itu salah satu pihak penyedia layanan MOOCs ini.

Mata pelajaran yang disediakan Coursera banyak variasinya. Coursera juga ada bekerja sama dengan beberapa universitas di dunia, termasuk dari Indonesia juga ada, untuk memberikan pilihan mata kuliah yang bisa dipilih calon peserta. Nantinya setelah proses ajar-mengajar selesai, ujian, kemudian peserta bisa mendapatkan sertifikat resmi dari instansi terkait. Bisa juga loh, nyari ijazah diploma dari Coursera. Sertifikat yang didapat tidak diberikan dalam bentuk fisik ya. Jadi ga kaya ijazah-ijazah sekolahan ato kampus yang ditulis di atas kertas gitu. Sertifikatnya bentuknya file digital, mengingat proses ajar-mengajar juga dilangsungkan secara virtual. Untuk katalog pelajaran yang disediakan bisa dicek di sini ya.

Materi pelajaran di Coursera sebenernya gratis; ga pake bayar, cukup bikin akun aja di situs resminya dan semua bisa diakses tanpa biaya. Tapiii, ada tapinya nih, kalo kita ngincer sertifikatnya, apalagi gelar sarjana dari Coursera, kita kudu bayar. Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai biaya bisa dipelajari di sini ya.

Keuntungannya banyak bangeeet. Pertama, jelas jauh lebih fleksibel daripada metode pendidikan konvensional. Kedua, kita bisa dapet sertifikat bertaraf internasional dan sertifikat ini sifatnya diakui ya, jadi bisa valid digunakan untuk tujuan profesional maupun akademis. Ketiga, kalopun kita ga ngincer sertifikatnya, seperti yang udah dibilang tadi, semua mata pelajaran tersedia gratis buat dibaca-baca. Keempat, karena sifatnya open, ga ada istilah limit untuk belajar. Ga ada yang namanya udah ga ada slot buat masuk kelas. Ga ada yang namanya udah ketuaan buat belajar. Ga ada yang namanya titip absen karena ga bisa masuk kelas. Bebas. Fleksibel.

Saya sih, manfaatin Coursera banget pas masa-masanya karantina mandiri karena COVID-19 kemarin. Bosen kan, isolasi sendiri di rumah, semua kegiatan udah dicobain, dan udah ga tau harus ngapain lagi, trus iseng deh, apply. Itungitung sembari menjaga diri dari pandemi bisa tetap mengasah ketajaman skill dan memperkaya pengetahuan. That’s why it’s a must-try for me.

Memahami Faktor Krusial Komunikasi Efektif dalam Keluarga

Hai Teman DRYD,

Setuju ga kalo saya bilang komunikasi itu salah satu hal dalam hidup yang mudah dimengerti tapi sulit untuk dipraktikkan? Ga setuju? Coba, berapa banyak konflik rumah tangga yang seharusnya bisa diselesaikan bahkan sebelum kemunculannya kalau saja kedua belah pihak bisa membangun komunikasi yang baik? At least salah satu aja dari kedua belah pihak mau memulai membuka jalur komunikasi, api prahara sebetulnya bisa diredam sebelum membesar jadi kebakaran. Banyak yang bisa jadi penyebab komunikasi stagnan. Tapi yang paling kentara, yang paling umum, dan yang paling-paling-paling nyebelin adalah ego. Kalo ego udah bicara, selogis apapun satu manusia, pasti berubah jadi individu paling susah untuk berbicara dan diajak bicara. Rumah tangga itu kan, persatuan 2 kepala ya. Nah, 2 kepala ini punya 2 manusia yang tentu saja berbeda karakter. Teman DRYD bisa aja berkilah, “Engga ah Dok, ga beda. Saya nikah kan karena banyak kesamaan sama pasangan.” Hooh, iya. Tentu saja demikian. Tapi sadar ga, mau sesama kayak apapun sama pasangan pasti ada perbedaan fundamental yang ada di antara kalian? Oh, dua-duanya seneng musik. Udah ngebahas genre musik favorit belum? Penyuka musik klasik akan punya persepsi tertentu terhadap musik pop cheeky dan easylistening yang disukai pasangannya. Oh, dua-duanya hobi nonton, udah kroscek genre kesukaan masing-masing? Penggemar berat film komedi pasti ogah nonton film horor kesukaan pasangannya. Kalo mau pun, pasti dengan sangat berat hati; nonton cuma gegara ga enak ati mau nolak.

Nah, itu dia yang saya maksud dengan perbedaan fundamental. Perbedaan fundamental inilah yang seringkali jadi sumber konflik dalam rumah tangga. Ada tipe orang yang mau pasangannya mengerti karakter dasar dirinya. Ada yang mau kompromi dan ada juga yang menekan sangat keras karakter dan kepribadiannya sendiri demi menghindari menyulut drama. Semua ini, Teman-teman saya sekalian, hanya bisa terakomodasi dengan efisien jika komunikasi efektif dalam keluarga tercipta. Dengan mengkomunikasikan karakter pribadi pada pasangan, hilang sudah kemungkinan munculnya rasa kesal karena pasangan ga ngerti maunya kita apa, potensi depresi karena kudu jadi pihak yang selalu ngalah, atau meminimalisasi keterbatasan kemampuan manajemen konflik.

Seringnya nih, kita punya kecenderungan buat menghindar dari konflik. Enggak, saya ga bilang kita kudu cari masalah terus-terusan. Cape juga kali kaya gitu. Tapi kadang konflik itu mau ga mau kudu pecah. Dan ini proses yang sebetulnya menguntungkan kalau difasilitasi dengan baik. Konflik itu bisa jadi bentuk komunikasi juga, jadi jangan ditekan supaya ga meledak tapi di-manage. Pahami cara menyalurkan ide dan pokok permasalahan dengan selugas mungkin, ga usah pake metafora apalagi pribahasa. Pelajari cara menuntaskan rasa marah pada pasangan dengan cara yang lebih baik; ga pake ngambek-ngambek penuh kode keras, ga pake jerit-jerit, ga pake ngeluarin seisi kebun binatang dari mulut, ga pake jambak-jambak, cakar-cakar, gigit-gigit, gegulingan, pencak silat, karate, kayang, daaan segala macam lainnya. Marah pada pasangan itu ga salah kok. Ya wajar dong…. Namanya juga 2 manusia berbeda yang disatukan dalam ikatan resmi. Isi kepalanya beda-beda. Perspektif yang dipake beda-beda. Pola menyusun solusi beda-beda. Cara memahami subjek atau topik beda-beda. Dan perbedaan itulah yang sering banget jadi penyulut pertengkaran.

Komunikasi Efektif Dimulai dari Orang Tua

Cara berkomunikasi dengan anak itu harus diperhatikan

Pemahaman mengenai komunikasi efektif dalam keluarga berdampak langsung ke cara mendidik dan mengasuh anak. Sekarang gini, gimana coba mau berkomunikasi dengan anak dengan cara yang baik kalo berkomunikasi dengan pasangan sendiri aja susah? Ngomong sama bini, intonasinya dingin. Ngomong sama laki, nadanya tinggi. Kebayang ga, jadi anak di dalam rumah yang penuh huru-hara kayak gimana rasanya? Gimana anaknya ga lebih betah di luar sana main sampe seminggu ga pulang-pulang. Diinget lagi coba deh, pola pengasuhan yang baik itu adalah ketika orang-orang dewasa di sekitar si anak mampu menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan menyehatkan sisi mental dan fisik bagi tumbuh-kembang. Iyaaa, bisa dipahami kalo kita berargumen, “Namanya juga manusia, Dok. Kan kadang suka luput.” Itulah pentingnya komunikasi yang baik antara kedua orang tua; cara menyampaikan isi kepala dan emosi sebaiknya dimutakhirkan supaya ketika nanti konflik muncul, dampaknya ke anak bisa diminimalkan kalo ga ditiadakan sama sekali.

Tipe Komunikasi

Tipe komunikasi

Nah, komunikasi itu secara umum ada 2 tipenya: verbal dan nonverbal. Dalam praktiknya, komunikasi verbal adalah jenis komunikasi yang paling dominan dalam pola hubungan apapun. Kenapa? Karena sebuah ide lebih mudah disampaikan dengan metode ini. Dengan cara komunikasi verbal, pihak yang dituju diharapkan bisa menangkap ide-ide atau topik-topik secara langsung dan mencerna situasi. Jenis komunikasi ini bisa dilakukan baik secara lisan maupun tulisan. Apapun yang kita baca dan apapun yang kita dengar adalah contoh nyata usaha komunikasi verbal yang dilakukan pihak lain.

Sementara itu, komunikasi non verbal meliputi hal-hal yang sifatnya interpretatif, subtil, dan implisit. Bentuk komunikasi ini sebetulnya sering secara ga sadar kita lakukan karena kecenderungannya yang lebih menuntut kepekaan emosional dan ketajaman intuisi. Ini juga yang sering bikin komunikasi tipe ini ga efektif. Satu pihak mungkin terlalu sering menggunakannya sementara pihak lain kurang mampu menerjemahkan sinyal yang ditangkap atau malah ga bisa menangkap sinyal itu sama sekali. Bentuk komunikasi seperti ini meliputi elemen seperti:

  1. Sentuhan fisik, contohnya seperti belaian tangan ibu di rambut atau punggung anaknya atau teguran dari ayah berupa tepukan di tangan anaknya.
  2. Kinesik

Kinesik adalah istilah yang merujuk pada gerakan tubuh dalam komunikasi yang biasanya memungkinkan kita untuk meniadakan frase lisan, menjelaskan suatu gambaran, dan mengekspresikan emosi. Bentuk kinesik bisa beragam tapi umumnya bisa berupa kontak mata, gestur tubuh, dan ekspresi pada wajah. Contoh paling gampang buat kinesik adalah gerakan menganggukkan kepala untuk memberikan ijin pada anak.

  1. Vokalik

Kalo kinesik berkisar di sekitar gerakan tubuh, vokalik berfokus pada unsur-unsur nonverbal yang menjadi pendukung dalam suatu ucapan. Sederhananya, vokalik adalah cara kita berbicara pada anak. Contohnya: kejernihan suara, kecepatan berbicara, intensitas suara, dan nada (nada suara dan nada bicara).

  1. Kronemik

Kronemik berfokus pada waktu berkomunikasi. Contohnya: durasi yang sesuai untuk sebuah proses komunikasi, porsi komunikasi yang pas dalam rentang waktu tertentu, dan ketepatan waktu berkomunikasi.

Nah, dari perbedaan kedua jenis komunikasi ini kita bisa menimbang keefektifan kita dalam berkomunikasi dengan anak. Tapiii, jangan dikira keduanya bisa dilakukan terpisah satu sama lain yaaa. Ini rada pelik sih. Misalnya gini; kita sebagai orang tua mungkin akan berpikir komunikasi verbal adalah yang paling efektif karena pokok pikiran kita langsung terungkap dan harapannya si anak bisa langsung memahami. Tapi kan si anak juga punya daya interpretasinya sendiri. Maka, ketika kita membolehkan si anak main keluar tapi dengan nada yang dingin (karena aslinya kita ga ngebolein), si anak akan kebingungan karena ada mixed signal yang dia terima. Jadi unsur nonverbal dari sebuah komunikasi verbal akan terus ada, sulit untuk dipisahkan satu sama lain.

Komunikasi yang efektif (baik antar pasangan dan dengan anak) akan terbentuk lebih efektif jika kedua elemen verbal dan nonverbal bisa sinkron. Keinginan, maksud, dan tujuan kita bisa dituruti dan dipahami oleh pasangan atau anak jika ucapan dan intonasi sejalan. Misalnya gini, kita lagi repot nih, ngerjain sesuatu, trus tetiba si bayi rewel. Reaksi pertama kita pastinya kan akan meminta pasangan buat handle si anak kan? Kan apa yang lagi dikerjain kan lagi ga bisa ditinggal ni. Nah, ini adalah momen krusial yang akan menentukan apakah kita bisa menyampaikan maksud sebenarnya ke pasangan. Seringnya kita bakal teriak nyuru pasangan buat handle si anak. Kadang kalo lagi dikejar deadline bisa sampe ngebentak. Ini ga bakal efektif. Si pasangan mungkin akan merespon dengan ngedumel. Ato bales teriak. Yang kemudian dibalas teriakan berikutnya dari pasangan. Yang terus disautin pake teriakan selanjutnya dari yang satunya. Ga ada ujungnya. Kerjaan ga kelar, anak nangis makin jadi. Beuh, betah tinggal dalem rumah kayak gitu?

Contoh lain nih. Kita lagi masak di dapur. Trus garem abis. Trus nyuru anak bantu beliin. Ngomongnya sih bener, “Deeek, garem abiiis. Bantuin mamah dong, beliin ke warung.” Tapi suaranya ga kedengeran yang bikin harus sautsautan. Ato pake intonasinya kasar. Ato sambil ngomel. Ato pake banting-banting barang. Kompor ditonjok. Tabung gas ditendang. Tempenya dibejekbejek. Kaki disentak-sentak. Rambutnya ditarik-tarik. Matanya melotot. Kukunya keluar. Taringnya berkilat. Ngeluarin api dari mulut. Ya kan ga bakal direspon baik sama anak itu mah. Udala anaknya emang mageran, disuruh dengan cara kayak gitu, ya pastinya bakal kuat-kuatan satu sama lain. Masak kaga kelar. Perut laper. Emosi liat tingkah anak. Akhirnya apa? Matiin kompor, pake sendal, jalan ke warung ngedumel, marah-marah ke ibu warung yang ga tau apa-apa, pulang lanjut masak yang akhirnya asin seasin-asinnya dunia, trus ngadu ke suami, eh si suami balik marahin kita, tambah kesel, suami disuruh tidur di halaman. Panjang…. Cuma karena kita ga tau kudu gimana ngomong ke anak.

Kadang-kadang, kita sebagai orang tua sukanya berkomunikasi lisan karena berpikir si anak harusnya mengerti isi omongan tapi komunikasi interpersonal dalam keluarga itu, terutama sama anak, ga bisa cuma ngandelin omongan. Contoh yang diberikan ke anak sebaiknya ga berhenti di pola verbal. Kita mau rumah selalu dalam keadaan rapi. Tapi anak pulang sekolah tasnya dilempar ke sofa, sepatunya dilepas di tengah ruangan, seragamnya dibiarin di lantai. Nah, kita kalo mau menanamkan konsep kerapian ke anak ga cukup cuma disuruh doang, apalagi pake marah-marah. Bakal mental, masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Coba kasi contoh yang lebih nyata. Ambil pakaiannya dari lantai sambil ngomong, “Dek, ini jangan dibiarin di sini ya. Naronya di gantungan kamar kayak gini.”

Komunikasi interpersonal

Ke pasangan juga gitu. Mungkin ada kebiasaannya yang ga cocok sama kita. Mungkin pasangan suka naro gelas minuman di meja kayu yang akhirnya bikin ada bercak air di permukaan. Solusinya kan gampang ya tinggal pake coaster, kan? Tapi pasangan mungkin mikirnya itu bukan hal yang terlalu gede buat dipermasalahkan. Benturan antara idealisme pribadi dengan pola pikir orang lain kaya gini yang sebetulnya bisa di-manage supaya konflik ga tercetus. Bilang ke pasangan, “Beb, enak ya nyore di meja ini. Aku juga seneng gitu. Tapi kalo aku seringnya gelasnya dikasi alas biar ga ngotorin kayunya.” Trus ambil satu coaster, taro di bawah gelas yang sedang dia pake. Simpel kan? Apa yang kita mau atau suka tetap terjaga, perasaan pasangan terjaga, keindahan meja kayu yang kita sayangi tetap terjaga. Cuma kadang emang yang paling racun itu egonya kita sendiri. Sering banget pasti mikir, “Gimana sih, gitu doang ga paham?!”

Yang namanya kebiasaan pasti susah hilang, Teman-Teman DRYD. Makanya, pasti nanti kebiasaan buruk yang kita ga suka dari pasangan akan muncul terus. Kitanya yang harus telaten. Kalo mau hasil instan yang emang, tinggal hardik, kelar. Tapi instan itu ga sebanding dengan risiko dan efek lanjutan. Sebuah hardikan bisa berujung peperangan. Kalo kita bisa dengan tekun memberi contoh dan sabar, lama-kelamaan bakal keliatan kok perubahannya. Dan kalo kedua orang tua udah punya pola yang jelas dan sinkron, si anak bisa belajar sendiri memahami aturan, nilai, dan norma yang ditetapkan tanpa harus diseret. Jadi jangan cuma ngomong doang. Ucapan dan suruhan verbal tetap harus diterapkan tapi sebaiknya disertai dengan tindakan. Action, people! Action speaks louder!

Waspadai Orang Ketiga

Yang saya maksud dengan “orang ketiga” bukan selingkuhan. Ada yang tinggal bareng mertua ato mertuanya benerbener involved dengan keluarga inti sampai hal paling kecil sekalipun? Nah, ini salah satu yang paling jadi momok di setiap keluarga: Ketika peranan mertua porsinya membesar ga terkendali. Kita ga lagi bahas jelek-jeleknya mertua ya. Bukan itu intinya. Tapi kita kudu memahami porsi dan posisi masing-masing. Mertua itu siapa sih? Dia cuma orang tua dari pasangan kita yang berarti porsinya sebaiknya sesuai dengan posisi yang dia tempati.

Yang sering terjadi adalah mertua ikut campur dalam urusan pengasuhan anak. Memberi andil pada tumbuh-kembang cucu itu wajib loh ya bagi semua elemen keluarga. Tapi seringkali seorang mertua melewati garis batas karena lebih tua dan lebih banyak pengalaman. Itu bener; karena hidup lebih dulu dan udah lebih lama, mertua pasti lebih banyak pengalamannya. Tapi jaman kan udah beda. Apa yang jadi pakem parenting ketika mertua dulu menjalankan perannya sebagai orang tua pasti juga udah berevolusi di jaman anaknya.

Kenapa perlu diwaspadai porsi dan posisi mertua? Karena intervensi dari pihak ketiga akan mengacaukan alur komunikasi interpersonal DAN intrapersonal dalam sebuah keluarga. Apa perbedaan interpersonal dan intrapersonal? Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang terbentuk antar individu sementara komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang dibentuk dalam diri seseorang itu sendiri. Sederhananya, komunikasi intrapersonal adalah bagaimana cara seseorang mengajak bicara dan mengenali dirinya sendiri. Apa contoh komunikasi interpersonal dalam keluarga? Udah banyak tadi contohnya di atas ya. Apa contoh komunikasi intrapersonal? Misalnya cara seseorang mengolah dan mencerna informasi apapun yang dia terima. Atau ketika berbicara dengan orang lain (komunikasi interpersonal), kita sering menelaah sifat-sifat orang itu dalam hati saja (komunikasi intrapersonal).

Komunikasi intrapersonal

Nah, kehadiran pihak ketiga yang porsinya melebihi elemen dasar rumah tangga inti akan menimbulkan distorsi pada pola yang sudah lebih dulu established. Misalnya si anak pulang sekolah selalu berantakan. Nah neneknya berinisiatif membereskan tanpa memberi instruksi apapun. Ketika orang tua si anak mencoba mengajari suatu konsep, si anak akan membenturkannya dengan apa yang dia serap dari interaksi dan komunikasinya dengan si nenek.

Ibu: “Deeek, bajunya jangan dibiarin di lantaaai!”

Anak: “Aaah, udah diberesin nenek koook.”

Familiar ga sama dialog kayak gitu?”

Mungkin dari semua Teman DRYD yang baca ini sekarang belum ada yang jadi mertua. Sebagian malah mungkin udah. Udah ato belum, kesadaran tentang porsi dan posisi itu mutlak diterapkan. Sebagai orang tua, kita wajib mengajari anak untuk paham bahwa komando komunikasi itu ada di kita. Bukan berarti harus otoriter dan membatasi atau bahkan melarang anak berkomunikasi dengan pihak lain ya. Tapi ini tentang bagaimana si anak paham bahwa ibu dan ayah adalah 2 komponen fundamental yang harus dia dengarkan meskipun dia punya opini berbeda. Sebagai mertua, kita juga harus jeli menyadari posisi kita. Jangan mencampuri urusan anak dalam mengasuh anaknya kecuali dimintai bantuan. Itupun, lagi-lagi, harus sesuai porsinya. Misal nih ya, ibunya lagi sibuk di dapur ato si cucu dititipin ke kita. Si cucu trus lari-lari megang gunting. Kan ngeri tuh ya. Nah, karena si ibunya lagi ga ada di sekitaranya, boleh deh kita take over urusan ngasi pemahaman mana yang sebaiknya dan tidak sebaiknya. Tapi kalo ibunya pas ada trus si anak koprol bolak-balik ruang tamu-dapur, ya biarin deh ibunya yang bertugas ngasi larangan dan pengertian. Yaaa, sambil ngelarang-larang dikit gapapaaa. Namanya juga khawatir kan. Tapi kalo urusan mendidik si anak ya udah sih, ada emaknya ini. Kalo emang kegangguuu banget sama cara si ibu ngerawat anaknya, ajak ngobrol empat mata. Ungkapkan concern kita dan biarkan si anak atau menantu mengajukan counterargument-nya. Sebagai anak atau menantu, filter konsep parenting dari yang lebih tua. Serap yang baik-baik, tinggalkan yang sekiranya ga cocok lagi diterapkan di masa kini.

Berkomunikasi dengan Efektif Agar Keluarga Lebih Harmonis

Mengusahakan agar komunikasi bisa berjalan lancar itu salah satu cara menjaga keharmonisan rumah tangga loh. Ingat, pasangan kita bukan cenayang yang tau apa yang kita pikirkan. Lucu juga kali ya, punya pasangan yang bisa baca pikiran. Tinggal mikir, eh dia langsung bilang, “Oke sayaaang, laksanakan,” gitu. Tapi kalo kebetulan kita dapet manusia biasa sebagai pasangan, ya kudu banget jaga pola komunikasi yang sehat. Yaaa, korslet dikit sana-sini gapapalah. Namanya juga rumah tangga; ngarepin muluus aja gitu ga pake kendala juga rada mustahil. Beberapa orang malah bilang kalo tahapan pra-konflik, konflik, dan pasca-konflik itu justru yang bikin kehidupan berumah tangga jadi lebih dinamis. Tapi jangan dicari-cari juga, kakaaak. Udah, idup tanpa drama udah paling nyaman dah.

Bermula dari komunikasi antarpasangan yang lancar, anak pun bisa terdidik dengan relatif lebih baik. Keinginan kita supaya si anak berkembang menjadi pribadi yang lugas, mandiri, ga manja, logis, dan mengenal dirinya sendiri bisa terwujud dengan lebih rasional.

Personal Branding vs. Self-Image

Halo Teman DRYD,

Disadari ato engga, suka ato engga, media sosial udah jadi bagian hidup sehari-hari kita. Bahkan, daya tarik berinternet sebagian besar ada di kenikmatan ber-media sosial. Berita-berita ato isu-isu terbaru bisa dengan gampang nyebar lewat medsos. Update tentang teman, mau teman dekat ato sekadar kenalan, bisa dikonsumsi dalam beberapa detik saat sebuah unggahan masuk ke linimasa. Internet memang memberikan kemajuan dalam hidup semenjak diciptakan. Tapi media sosial-lah yang merevolusi cara kita bergaul dan memandang suatu hal. Artis-artis yang udah punya nama punya media baru buat menjangkau fans. Orang biasa bisa melejit jadi tenar dalam semalam. Berbisnis jadi lebih mudah karena marketing bisa disederhanakan dan lebih affordable. Wah, kalo udah bahas efek kemunculan media sosial bisa-bisa satu artikel pun ga bakal cukup. Tapi ada satu hal unik yang dimungkinkan untuk terjadi karena media sosial yang datang dengan segala kemudahannya: Branding.

Sekelumit tentang Branding

Branding sebagai salah satu metode marketing.

Kata branding diturunkan dari kata dasar brand, yang merujuk pada simbol dan alat identifikasi suatu produk sehingga si produk bisa dibedakan dari produk-produk lain. Nah, branding adalah proses mengembangkan simbol atau identitas ini. Di dunia bisnis dan marketing, branding adalah salah satu bagian mendasar yang harus disempurnakan sebelum sebuah produk bisa mendatangkan keuntungan bagi si pihak yang menawarkan. Kaitannya dengan media sosial adalah media sosial mampu menyebarluaskan sebuah brand dengan sangat mudah karena sifatnya yang easily accessible. Proses menyebar sebuah brand inilah yang disebut branding, yaitu membuat sekelompok individu mengenali satu merek barang atau jasa. Setelah menyebar, akan ada kondisi brand awareness, yaitu ketika orang-orang sudah menyadari dan mengasosiasikan satu merek dengan produk atau jasa yang ditawarkan.

Makanya marketing melalui media sosial itu sekarang udah jadi pakemnya berbisnis. Bakal lucu kalo sebuah entitas bisnis, apalagi nama-nama besar dalam suatu industri, ga merambah dunia digital yang satu ini dan memilih tetap menggunakan cara-cara marketing yang konvensional. Buat bisnis-bisnis kecil social media branding akan menjadi satu senjata andalan mengingat ongkos yang minim (kalaupun ada) dan kesederhanaan metode operasional.

Tapi bukan itu fokus bahasan kita kali ini, Teman DRYD.

Branding Model Lain

Ada yang namanya self brand. Basis pengertiannya sama seperti yang udah dikulik di atas tadi. Tapi kalo tadi objeknya adalah barang atau jasa yang diniatkan untuk dipasarkan, ini lebih kepada diri pribadi. Emang kenapa gitu diri sendiri harus di-brand? Kalau kita pintar mengembangkan sebuah brand untuk diri kita sendiri, efek positifnya bakal berasa banget dari sisi profesionalisme. Ibaratnya gini; semua orang pasti mau dong, dinilai menguasai suatu bidang pekerjaan? Kita semua pasti maunya orang lain paham bahwa kualitas diri kita ada di atas rata-rata. Nah, dengan mengembangkan brand personal ini, kita bisa kayak ngomong ke orang lain, “Hei, gue jago banget di bidang ini,” tanpa perlu mengumbar klaim atau bawa resume ke mana-mana. Kalo si brand personal udah nyebar luas dan udah kebentuk satu awareness terhadap brand kita itu, kerjaan pasti dateng tanpa perlu dicari. Dengan kata lain, saat kita punya satu skill, si brand tadi itu yang bakal jadi “kartu nama” supaya orang lain bisa menghubungi kita. Itu dari satu sisi profesionalisme.

Personal branding dan perannya.

Kita belum bahas dampak pengembangan brand personal di aspek hidup yang lain. Di dalam hidup modern ini yang semuanya serba diukur dengan follower, mengembangkan personal branding bisa membantu membentuk kelompok massa yang akan rajin mengikuti update dalam hidup kita. Misal satu individu A punya kepribadian yang hangat dan senang memasak. Maka para calon followers yang punya interest di dalam area tersebut akan segera ter-grab perhatiannya. Ibaratnya, brand yang kita kembangkan akan menjadi hook yang bisa “menjerat” lebih banyak lagi pengikut di media sosial kita.

Membandingkan Self-Image dengan Personal Branding

Brand personal tidak sama dengan self image ya, Teman-teman. Untuk masalah brand pribadi, itu lebih cenderung ke sifat bawaan yang kemudian ditampilkan setelah di-enhance. Makanya dari tadi saya lebih suka menggunakan istilah “mengembangkan” daripada “membentuk” ketika merujuk pada brand personal. Kita contohkan brand personal dengan warna kulit. Kulit yang gelap udah hampir mustahil buat diubah. Yang bisa dilakukan cuma memilih treatment yang benar supaya si kulit tadi tetap sehat, segar, berkilau, dan bebas dari gangguan—dengan kata lain di-enhance. Brand personal juga sama. Seorang individu yang dari awalnya emang udah seneng sama dunia anak-anak, ga bakal bisa diubah interest itu. Yang bisa dilakukan cuma mengembangkan interest tadi menjadi fokus yang bisa dsajikan untuk pemirsa sekalian.

Image atau citra, di lain pihak, adalah kesan yang didapat oleh orang lain terhadap diri kita. Dan karena sifat citra itu adalah impresi eksternal (berasal dari luar seorang individu), maka akan sangat mudah dibentuk dan dimanipulasi. Oh, kita sebenernya ga suka yang namanya masak karena panas, berminyak, cape, de-el-el, de-es-be. Tapi kita tau basis penggemar masak itu gede banget di dunia medsos. Maka kita bisa merancang sebuah imej yang sesuai dengan target sekalipun itu bukan interest kita, apalagi fokus.

Tren self-branding masa kini

Membentuk citra yang bertolak belakang dengan realitas itu ga salah. Selama ga merugikan orang lain secara finansial atau membahayakan jiwa semua pihak, ga salah dong, tampil layaknya koki jebolan sekolah kuliner di Perancis padahal aslinya ngebalik telor mata sapi aja gagap? Enggak, itu ga salah. Tapi apa pantas?

Minta tolong disadari dong, ketika kita membentuk sebuah imej, apalagi kalo kita adalah seorang influencer, kita bisa dengan mudah menggiring opini publik. Apa yang bahaya dari potensi ini? Emang mau, pake krim pemutih yang bahkan nama mereknya aja ga bisa kita lafalkan cuma gegara diendorse YouTuber ternama?

Self-Image dan Personal Branding Bisa Sejalan

Dari obrolan di atas, mudah emang memberi label negatif terhadap proses pembentukan citra dan mengaitkannya dengan kebiasaan berbohong atau berpura-pura. Yang perlu diingat adalah citra diri yang mapan memang bisa didapatkan dari pengembangan brand personal. Tapi pembentukan citra melalui brand personal itu berarti kita sebaiknya ga pake bohong. Ketika kita sedang live di akun Instagram dan berbicara tentang satu topik atau me-review suatu barang yang sama sekali ga kita kuasai, kita udah membohongi orang lain. Boleeeh, boleh banget kok, mengulas satu produk. Ga dilarang kok, ngebahas satu topik hangat minggu ini. Tapi ketika berbicara, pastikan dulu kita punya bukti, data, referensi, dan kalo bisa pengalaman di dalam apa yang sedang dijadikan pembahasan. Tapi ketika kita dengan antusias me-review satu produk padahal kita bahkan ga punya pengetahuan paling dasar tentang produk itu, semua imej yang kita bentuk akan keliatan kosong melompong.

Ato ketika kita pengen keliatan punya kepribadian yang feminin padahal aslinya tomboi, misalnya; kan ada kesenjangan fundamental antara apa yang disajikan ke orang lain dan apa yang sebetulnya. Sebaiknya apa yang ada di kehidupan nyata sejalan dengan apa yang diperlihatkan secara online. Baru deh, citra bisa terbentuk secara alami dan brand personal bisa mengakar di pikiran orang-orang.

Tapi itu juga ga berarti kita kudu saklek sama satu hal ya.

Misalnya gini, si tomboi tadi misalnya. Kepribadiannya cuek, awur-awuran, suka ngasal, kalo ketawa masyaallah nyaringnya. Tapi di saat yang sama dia juga adalah individu yang senang dengan dunia merancang busana, misalnya. Ga masalah ditampilkan. Toh, itu benar. Toh, ga ada yang direka-reka. Dengan mengembangkan satu aspek sifat diri ini menjadi brand personal, siapa tau malah mendatangkan keuntungan. Untuk contoh tadi, siapa tau si cewek tomboi malah jadi desainer andalan dan banyak yang tertarik menggunakan jasanya? Who knows, kan? Tapi kalo udala tomboi, pake baju cenderung simpel, trus dikondisikan jadi individu dengan keahlian merancang busana, bisa jadi bumerang kan? Berbohong kepada orang lain itu sama dengan membohongi diri sendiri. Kenapa? Karena ketika kita menampilkan suatu kepura-puraan, di saat yang sama kita pun tahu bahwa itu semua dusta.

Jujurlah pada diri sendiri

Dampak Pencitraan

Citra yang dibentuk tanpa memperhatikan risiko dan efek akan mendatangkan potensi pergeseran value di tengah masyarakat. Ujung-ujungnya, bermedsos akan menjadi tidak sehat. Kemudahan dalam menampilkan citra diri lewat internet juga memberi jalan untuk mengubah gaya hidup pengguna media sosial. Tolok ukur kesuksesan standar, terutama di mata anak muda, akan sangat tidak masuk akal jadinya. Sukses itu relatif dan subjekti ya, sifatnya. Ada yang mengukur kesuksesan ketika lulus kuliah S3, punya anak 2, dan istri yang bahagia. Ada yang menilai kesuksesannya ketika dia udah punya kerajaan bisnis di kelima benua. Tapi ketika opini bisa dengan mudah digiring hanya dengan menatap layar handphone dan menonton sepotong kehidupan pesohor di Amrik sana, semua bisa terdekonstruksi.

Konsep kebahagiaan bisa-bisa mentok di apa yang dilihat di Instagram, misalnya, dan akhirnya semua akan berpikir bahwa sukses itu adalah ketika di garasi ada berderet mobil impor, punya rumah harganya triliunan, dan gadget yang dipakai harus yang paling baru. Mentereng semuanya. Ketika pada kenyataannya ga bisa dapetin itu semua, realitas tabrakan sama idealisasi, dan akhirnya depresi.

Ini yang sebaiknya kita ingat ketika mencoba mengembangkan brand personal kita: Bahwa pada akhirnya branding pada diri sendiri akan berujung pada pembentukan citra dan citra itu memiliki potensi yang besar dalam mempengaruhi hidup banyak orang lain.

Hal lain yang perlu diingat adalah bahwa medsos itu mesin raksasa yang ditenagai tren. Begitu tren habis, mesinnya mandek. Dan kalo medsosnya udah ga lagi mengakomodasi suatu tren, kelar deh kesempatan membanggakan sesuatu yang ga sesuai dengan realitas.

Berinternet dengan Sehat

Dari sisi konsumen internet, butuh kesadaran dan pembentukan pola pikir. Sadari bahwa apapun bisa terlihat indah dan menarik di internet dan media sosial. Tanpa kehati-hatian dalam menyaring input, berinternet tidak akan sehat dan bermedsos akan hanya menimbulkan keirian. Dampaknya ga bagus buat mental dan mungkin bisa berakibat fisik juga. Jadi apa yang harus dilakukan ketika mengkonsumsi unggahan orang lain di medsos?

  1. Pertanyakan kapasitas dan bukti

Contoh paling gampang buat poin ini adalah ketika menonton sebuah ulasan produk kecantikan. Pada banyak kasus, si pengulas biasanya cuma dibayar untuk cuap-cuap tentang satu produk. Kalo dihadapkan dengan yang satu ini, bedah dulu si pengulasnya. Siapa orang ini?. Ketika si pengulas produk mengklaim bahwa satu produk itu aman, tanyakan pada diri kita sendiri dulu, sudah seahli apa si pembicara sampai bisa mengeluarkan statement tertentu? Seorang beauty vlogger harusnya paham estetika tapi ga berarti dia punya kapasitas yang cukup buat merambah ranah medis.

Ketika seseorang menampilkan sebuah kegiatan secara online, kulik kembali ke belakang. Lacak rekam jejaknya di feed dan bandingkan kesesuaian latar belakangnya dengan apa yang ditampilkan.

Klaim-klaim dan statement yang dibuat secara online sebaiknya dikroscek dengan mencari referensi sendiri, jangan ditelan mentah-mentah. Cari sumber validnya. Baca referensi dari ahlinya. Bandingkan dengan apa yang kita terima.

  1. Pertanyakan masalah certification

Lagi-lagi, ini lebih kepada persoalan ulasan produk ya. Ketika ada selebram yang mempromosikan satu produk, kulik produk itu sampai ke akar-akarnya. Cari tahu tentang keamanan penggunaan, bahan-bahan yang digunakan, saaampai klaim dukungan dari pakar. Semua harus dalam keadaan serba dipertanyakan. Kalo ternyata si produk banyak kontroversi, jangan tutup mata dan telinga dari apa kata orang. Kalo semua orang bilang bahaya, masa kita tetap mau pake cuma karena loyal dengan seorang selebgram?

  1. Pertanyakan, “Relatable ga, sih?”

Ngeliat YouTuber pelesir ke Eropa bulan ini terus ke Afrika bulan besoknya terus ke Antartika taun depannya emang menghibur. Ngeliat YouTuber hangout sama artis-artis papan atas di tempat mahal setiap hari emang nyenengin. Tapi jangan buru-buru kepingin. Bandingin dulu sama kenyataan hidup sendiri. Gapapa dijadikan cita-cita. Mimpi itu bagus buat memacu kerja keras. Tapi jangan larut dan lupa sama kenyataan. Kalo ternyata gaya hidup yang dilihat ga bisa diterapkan di kehidupan hari-hari, move along….

  1. Pertanyakan soal kebutuhan

Kalo ada selebgram ngerekomenin furnitur bagus buat leyehleyeh sementara kita ga butuh, jangan buru-buru ke toko mebel. Sayang uangnya. Sayang waktunya. Sayang energinya. Iya kalo kita punya budget nganggur. Lah kalo duitnya cuma cukup beli beras sama isi dapur buat sebulan, masa iya mau di-pake beli furnitur? Kalo ternyata butuh pun, di-liat lagi deh, mendingan. Siapa tau ada barang yang serupa tapi dengan harga yang jaaauh di bawah yang direkomendasikan.

Catatan Tambahan

Topik bahasan ini sudah pernah saya jadikan tema obrolan di Instagram. Coba klik di sini ya, buat lengkapnya. Siapa tau bisa menambah informasi lebih jauh lagi. Salam.

Bumil dan Busui Skincare-an? Emang Ga Bahaya, Gitu?

Pasti pada paham dong ya, skin care itu penting. Yang lebih penting lagi adalah membentuk rutinitas perawatan kulit untuk hasil yang maksimal. Di banyak kasus, perawatan kulit yang secara rutin dilakukan dan dengan cara yang tepat bisa menjadi kunci untuk mendapatkan kulit yang glowing, segar, sehat, dan awet muda. Naaah, yang jadi pokok pembicaraan sekarang tuh, skincare untuk ibu hamil. Masa kehamilan adalah periode yang pastinya membahagiakan untuk semua perempuan. Tapiii, waktu hamil juga di saat yang sama bisa menjadi masa-masa yang penuh stres. Makan jadi kagok, takut ga dibolein. Kopi jadi dilema buat perempuan pencinta kafein. Aktivitas jadi kikuk, takut ada yang salah. Hal yang sama juga pasti dirasakan ibu-ibu hamil dan menyusui kalo udah soal skincare. Beberapa malah memutuskan untuk membiarkan kulitnya ga terawat selama kehamilan karena satu keraguan: Apakah nanti produk perawatan yang dipakai tidak akan berpengaruh pada janin yang dikandung? Hasilnya, kulit jadi kusam. Tau sendiri kan, masa kehamilan itu penuh dengan produksi hormon yang fluktuatif dan ini bikin kulit jadi salah satu yang terkena dampaknya.

Ibu hamil juga perlu perawatan kulit

Berdasarkan diskusi dengan dokter oktavianus wahyu spog., saya menyimpulkan bahwa selain dari hal-hal yang jelas berbahaya (alkohol dan rokok, misalnya) bagi kehamilan, ga ada kok, yang ga boleh untuk digunakan oleh bumil dan busui. Yang ada tuh, keharusan buat memperhatikan komposisi ingredients-nya. Memang ada beberapa bahan yang lazim ditemukan dalam produk-produk kecantikan dan perawatan kulit yang bisa berbahaya baik untuk ibu hamil maupun yang menyusui. Selagi bahan-baahan itu dihindari, sah-sah aja kok, melakukan perawatan. Skincare itu hak azazi semua anak bangsa loooh, termasuk bumil dan busui. Perempuan hamil dan ibu-ibu menyusui punya hak yang sama dengan yang lain untuk tetap terlihat cantik dan menawan dari masa kehamilan sampai periode menyusui saaampai nanti-nanti juga. Hidup kesetaraan hak untuk menjadi cantik! Perjuangkan hak-hak ibu-ibu untuk tetap terlihat awet muda!

Oke-oke, saya berhenti orasi….

Apa Aja Yang Berbahaya?

Naaah, muncul deh, pertanyaan berikutnya: “Kalo gitu apa sih, Dok, skincare yang aman untuk ibu hamil dan menyusui?”

Biarkan saya memulai dengan mengatakan bahwa jawaban untuk pertanyaan itu sedikit tricky. Sedikit rumit-rumit simpel.

Gimana sih, Dok?

Sabaaar…. Gini. Ketika hamil, kita kudu banget waspada dalam 2 hal: Terhadap bahan-bahan yang berbahaya untuk kita DAN untuk si bayi dalam kandungan. Ketika lepas melahirkan dan masuk periode menyusui, risiko untuk pribadi mungkin menurun tapi risiko untuk si bayi masih tetap tinggi karena potensi transfer komposisi kimia sangat besar melalui air susu yang diberikan. Di sini letak rumitnya. Kudu pake banget baca komposisi dalam suatu produk. Buat amannya sih, ya konsultasi ke dokter. Jangan deh, coba-coba ini-itu tanpa tau efek samping. Inget, kita bertanggung jawab untuk menjaga kesehatan si anak. Sisi simpelnya ya itu tadi, setelah tau apa-apa yang menjadi larangan dan masuk blacklist, hindari dan semua akan baik-baik saja.

Apa aja bahan-bahan skincare yang tidak boleh untuk ibu hamil?

  1. Retinol, retin-A, asam retinoat, dan tazaratene. Bahan-bahan turunan vitamin A ini emang ajaib banget dan ampuh buat bikin kulit halus. Tapiii, penggunaannya bisa mengganggu perkembangan janin dan yang paling bikin ngeri adalah potensinya untuk menyebabkan cacat dari lahir.
  2. Hydroquinone dan benzoyl peroxide. Keduanya adalah bahan aktif pemutih kulit. Kenapa harus dihindari? Uji coba pada hewan menunjukkan keduanya memiliku potensi karsinogenik yang tinggi.
  3. Asam salisilat dan produk-produk yang mengandung asam salisilat, termasuk aspirin.

Kesemuanya sebaiknya dihindari. Tapi dari 3 kelompok itu, retinol dan hydroquinone adalah yang paling wajib diwaspadai karena keduanya termasuk yang umum ditemukan dalam produk perawatan kulit. Aspirin masuk ke dalam kategori abu-abu; sebagian pakar tidak menganjurkan sama sekali, sebagian lain membolehkan tapi dalam dosis yang rendah terutama untuk pasien yang memang kondisinya memerlukan perawatan berbasis salisilat. Lagi-lagi, sebaiknya konsultasi dulu ke dokter kulit dan dokter Sp. OG buat mastiin semuanya aman. Anjuran dan instruksi dari pakar harus diikuti ya.

Hydroquinone

Hydroquinone

Sebagai salah satu bahan yang sering ditambahkan dalam produk perawatan kulit, hydroquinone bisa dibilang primadona yang sedang naik daun. Dan itu bukan tanpa alasan. Bahan ini diklaim ampuh mencerahkan kulit karena kemampuannya untuk menekan jumlah melanin dalam kulit. Makanya dia banyak ditemukan dalam produk-produk yang menargetkan kondisi hiperpigmentasi kulit seperti bekas jerawat, melasma, age spot, dan sun spot. Hydroquinone sudah digunakan sejak abad ke-19 tapi kontroversinya muncul relatif baru-baru ini. Tahun 2006, U.S. Food and Drug Administration mengadakan penelitian yang mengungkap sejumlah risiko kesehatan yang dibawa oleh bahan kimia turunan benzena ini. Secara umum hydroquinone berpotensi menyebabkan ochronosis, photosensitivity, reaksi alergi. Ochronosis adalah jenis kerusakan kulit yang justru menimbulkan noda gelap kebiruan atau abu-abu. Photosensitivity adalah kondisi kulit yang terlalu sensitif terhadap sinar UV. Kulit yang di-treatment menggunakan hydroquinone sebaiknya dilapisi dengan sunscreen supaya tidak terbakar matahari. Reaksi alergi sebetulnya efek yang masih langka dari penggunaan hydroquinone. Beberapa individu yang sangat sensitif bisa mengalami pembengkakan pada mulut, sensasi tersengat pada kulit, dan kesulitan bernapas.

Belum ada riset yang secara pasti menegaskan bahaya hydroquinone untuk ibu hamil dan menyusui. Uji coba klinis masih terbatas pada hewan tapi hasilnya seharusnya cukup untuk membuat ibu-ibu mikir dua kali buat make hydroquinone pas hamil. Sebagai tambahan, zat ini punya tingkat serapan yang terbilang tinggi ke dalam kulit, sekitar 35-45%. Emang sih, hydroquinone adalah bahan yang paling efektif buat mencerahkan wajah, tapi apa ga takut make produk yang segitu gampang diserap kulit pada saat hamil dan menyusui sementara efek sampingnya masih jadi sumber perdebatan?

Arbutin

Sebagai alternatif, ada bahan lain yang bisa digunakan untuk mencerahkan kulit. Kojic acid, misalnya. Asam ini dihasilnya dari proses fermentasi minuman sake dan bisa dijadikan pertimbangan. Ada juga arbutin yang diekstrak dari daun bearberry. Arbutin adalah hydroquinone alami, struktur kimianya mirip dengan yang sintetis. Ada lagi yang namanya azelaic acid yang diturunkan dari jamur Pityrosporum ovale, yang jauh lebih soft daripada hydroquinone. Niacinamide juga bisa masuk itungan. Antioksidan yang diekstrak dari tumbuh-tumbuhan ini lebih aman digunakan karena struktur kimianya lebih stabil.

Retinol dan Retinoid

Di saat hamil, ada dua hal yang menjadi concern terbesar: kulit kusam dan terlihat tua dan jerawat. Treatment anti-aging bisa diambil untuk kasus pertama sementara treatment jerawat bisa mengatasi yang kedua. Yang jadi masalah adalah produk-produk anti-aging sebagian besar mengadung retinol dan perawatan jerawat memakai retinoid supaya efektif. Dan keduanya membawa risiko besar untuk ibu hamil.

Retinol diturunkan dari vitamin A dan dikenal dengan nama yang berbeda-beda (Accutane, retinyl palmitate, atau Retin-A). Retinol dikenal ampuh mengatasi tanda-tanda penuaan dini pada kulit. Tapiii, efek samping retinol untuk ibu hamil juga berisiko besar, terutama jika dosisnya terlampau berlebihan. Potensi merusak zat ini muncul pada naiknya risiko kecacatan janin seperti kelainan otak, jantung, tulang belakang, kepala, dan wajah. Jumlah retinol yang diserap kulit sebenernya ga banyak. Tapi risiko yang terlalu besar bikin lebih baik sama sekali dihentikan penggunaannya seengganya sampai si bayi lahir. Selama kehamilan dan menyusui sebaiknya beralih ke sunscreen biasa aja supaya aman.

Retinoid mengandung komposisi yang terdiri dari tretinoin, tazarotene, isotretinoin, bexarotene, alitretinoin, adapalene, dan citretin. Retinoid umumnya dimanfaatkan sebagai bahan aktif penghilang jerawat dan psoriasis, dikonsumsi secara oral maupun topikal. Penggunaan topikal (dioles) terhitung aman untuk janin ketimbang oral (diminum) karena persentase zat yang diserap jauh lebih kecil sehingga potensi transfernya ke kandungan pun minim. Tapiii, menurut European Medicines Agency, retinoid punya efek samping berupa gangguan saraf baik pada ibu maupun janin. Jadiii, mending ga usah pake sama sekali deh supaya risiko bisa ditekan seminimal mungkin.

Azelaic acid

Nah, kalo untuk jerawat mungkin sifatnya lebih ke perawatan per kasus nih ya, asal dominan bahan alami dan ga ada retinoid, relatif aman. Atau boleh coba azelaic acid yang bisa melawan jerawat sekaligus hiperpigmentasi. Tapiii, apa dong Dok, alternatif retinol untuk ibu hamil? Kan tetep pingin keliatan muda walopun lagi hamil.

  1. Coba pake ekstrak kedelai. Kandungan di dalam ekstrak kedelai serupa dengan asam retinoat yang dalam retinol. Ekstrak kedelai bisa merangsang fibroblast, sel-sel kulit yang memproduksi kolagen, tanpa efek kering pada kulit seperti yang lazim ditemukan dalam penggunaan retinol. Kekurangannya cuma satu: Ekstrak kedelai punya efek mirip estrogen yang kadang malah memperburuk pigmentasi kulit terutama pada kulit gelap ato kondisi melasma (noda gelap yang sering muncul saat kehamilan). Tapi ada kok, produk ekstrak kedelai yang dikemas tanpa efek samping mirip estrogen ini.
  2. Vitamin C juga punya andil dalam pembentukan kolagen. Vitamin C punya komponen antioksidan yang melindungi sel kulit dari kerusakan penuaan dini dengan cara menekan radikal bebas yang sering muncul ketika kulit terpapar sinar matahari.
  3. Kojic acid memberikan hasil serupa dengan retinol tanpa efek samping yang sama. Penggunaan retinol utamanya menghasilkan kulit yang bebas dari garis-garis halus. Efek pencerah kulit dari retinol, di lain pihak, didapat dari kemampuannya untuk mempertebal lapisan dermis dan mengikis lapisan sel kulit mati di permukaan kulit. Kojic acid yang diturunkan dari jamur bekerja dengan cara yang lebih simpel: Zat ini menekan enzim pembentuk pigmen kulit.

    Kojic acid

  4. Glycolic acid bisa menghilangkan minyak berlebih dan mengikis sel kulit mati. Penggunaan asam ini menyebabkan luka-luka mikroskopik pada permukaan kulit yang merangsang pembentukan kolagen. Produk glycolic acid dari dokter kulit biasanya mengandung konsentrasi sebesar 40%. Tapi produk non-resep dengan konsentrasi rendah pun tetap punya efek yang menjanjikan. Tapiii, kesamaannya dengan retinol adalah keduanya sama-sama meningkatkan sensitivitas terhadap sinar UV. Gunakan sunscreen untuk perlindungan tambahan ya.

Glycolic acid

Konklusi

Kita udah panjang-lebar ngebahas skincare untuk ibu menyusui dan ibu hamil. Udah butek juga pasti kan, liat nama-nama zat kimia? Jadi, intinya apa? Pembahasan kali ini bukan dimaksudkan supaya bukibuk semua parno. Engga, sama sekali engga. Kehamilan itu, suka ga suka, adalah masa penuh tekanan, Buk. Kalo mau dibahas parno, wah semua hal bisa bikin takut. Megang ini, takut. Ngelakuin itu, ragu. Makan ini, minum itu, mikir panjang dan lama. Ini cuma sekadar ngingetin, ngerawat kulit itu harus dilakuin sekalipun lagi hamil ato menyusui. Punya janin yang lagi di kandungan, punya bayi yang lagi disusui, semuanya ga boleh jadi alasan buat skip perawatan. Jangan skincare yang dihindari karena mikir zat kimianya pasti berbahaya. Sekarang gini, okelah takut treatment, okelah niatnya meminimalisasi zat kimia ke dalam janin. Tapi siapa yang bisa jamin risiko ga bakal dateng dari sumber lain? Air yang diminum bisa jadi sumber masalah. Makanan yang masuk bisa jadi perkara. Udara yang dihirup bisa bikin prahara.

Ngeri kan? Iya, emang ngeri—kalo kita cuma fokus ke risiko. Identifikasi kondisi dan risiko. Telaah dulu benerbener. Baru deh, ambil tindakan. Selama kita tau kandungan skincare untuk ibu hamil dan ibu menyusui yang aman, perawatan kulit ga bisa dilewatin gitu aja. Kalo emang ga berani treatment sendiri di rumah, ke dokter dulu. Tanya ini-itu. Perluas dulu pengetahuan, jangan buru-buru parno. Dokter biasanya paham kondisi ibu hamil dan menyusui dan harusnya tau mana yang berbahaya, mana yang masih meragukan, dan mana yang aman. Perhatian lebih sebaiknya juga diberikan untuk memilah bahan skincare berdasar tingkat bahaya karena nanti efeknya bakal kerasa lewat pemberian ASI.

Emang ke klinik pas kondisi hamil atau menyusui ga dilarang, Dok? Nah lo…. Ga ada yang larang. Bumil dan busui gapapa ke klinik buat treatment kulit. Jangan salah, treatment kulit khusus buat bumil dan busui itu adaaa. Apa aja treatment dan di mana treatment-nya bisa dilakuin? Nah, bagian ini bisa dijawab dengan nanya ke admin klinik DRYD. Di sana ada justru udah disiapin tipe treatment yang emang khusus diperuntukkan buat bumil dan busui. Semua prosedur juga ada di bawah monitor dan kontrol dokter SPOG jadi keamanannya bisa dimaksimalkan.

Jadi gitu. Ibu hamil juga punya hak buat cantik. Ibu menyusui juga berhak terlihat awet muda. Ibu-ibu ga boleh kalah sama yang belum ada di fase itu. Semua berhak untuk cantik! Semua berhak untuk glowing! Hidup glowing! Ayo perjuangkan kesetaraan hak untuk glowing!

Iya-iya, saya berhenti orasi….

3 Akomodasi Paling Oke Buat Staycation di Jogja—So Far…

Halooo Teman-teman DRYD:

Kemarin kan kita udah ngomongin tentang apa itu staycation dan manfaatnya. Nah, sekarang kita mau ngomongin di mana sih tempat yang enak buat staycation di Jogja. Di Jogja baaanyak banget tempat yang termasuk recommended dan pas banget buat dicobain. Yaaa, secara kan namanya juga kota wisata kan ya jadi wajar banget . Banyak yang bagus, harga juga bervariasi. Mau yang budget ala-ala backpacker, ada. Mau yang fasilitasnya standar tapi harga terjangkau, ada. Mau yang amenities-nya selangit dengan harga yang di atas rata-rata, ada jugaaa. Begitu.

Kalo lagi feeling adventurous dan mau nyobanyoba, ya udah random aja gapapa. Pilih salah satu hotel di jogja yang available, terus dateng. Nikmati pengalamannya kalo emang berkesan, ambil pelajarannya kalo emang ga terlalu memuaskan. Naaah, supaya gampang, saya mau kasi rekomendasi hotel yang baaagus banget dan sayang banget buat dilewatin kalo Teman-teman mau staycation.

Habitat @ Uttara

Alamat: Jalan Kaliurang, Catur Tunggal, Kecamatan Depok, Manggung, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281. Tlp: (0274) 2922000.

Pertama ada Habitat @ Uttara. Buat Teman-teman yang mencari suasana eksklusif, privat, dan akses ke mana saja yang mudah, ini bisa jadi pilihan. Habitat adalah satu apartemen yang merupakan bagian dari Uttara the Icon. Meskipun namanya apartemen, Habitat bisa kok di-pake harian, mingguan, ato bulanan. Privasi dan eksklusivitas adalah yang utama bagi Habitat. Akses masuk ke kamar harus melalui lift, yang hanya bisa dibuka oleh pemegang kunci. Jadi pengunjung bangunan yang tidak berkepentingan tidak akan bisa mengakses lantai tempat Habitat berada. Posisi bangunan Uttara the Icon yang berada di salah satu jalan paling ramai di Jogja bikin tamu nyaman. Semua ada di sekitar apartemen. Mau makan, tinggal jalan kaki. Mau hangout, kafe seabrekabrek. Tamu Habitat akan mendapatkan akses ke fitness center dan kolam renang outdoor di rooftop. Kamar bertipe studio ini dilengkapi dengan fasilitas kamar hotel berupa tempat tidur, daybed, kamar mandi, serta dapur dengan kulkas dan perlengkapannya. AC udah pasti ada dan TV-nya dipersenjatai cable channels. Jaringan nirkabel didukung oleh fasilitas WiFi yang bisa diakses gratis dan security bertugas 24 jam menjaga keamanan. Minat? Kudu buru-buru booking loh. Soalnya namanya juga apartemen, jadi cuma ada satu kamar yang kalo ga buru-buru di-pesen bisa keduluan yang lain.

 

Sofia Boutique Residence

Alamat: Jl. Karya Utama, Panggung Sari, Sariharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581. Tlp: 0823-2944-0601.

Sofia Boutique Residence cocok banget buat Teman-teman yang mencari suasana tenang dan elegan dalam menikmati staycation-nya. Desain interior kamarnya dirancang dengan gaya neo-klasik yang bikin saya bergumam, “Wow, berasa nginep di istana.” Lokasinya lebih dekat ke Gunung Merapi jadi kalo booking kamar yang ada di lantai atas, bangun tidur bakalan disambut pemandangan gunung yang tertimpa kehangatan sinar mentari. Tuh, jadi romantis gitu bahasanya kalo ngomongin Sofia mah. Soal fasilitas ga jauh beda dari hotel standar lain; ada WiFi gratis pastinya. Restoran juga ada. Layanan kamar tersedia buat yang mager gegara telanjur enak boboan di kasurnya.

 

Adhisthana

Alamat: Jl. Prawirotaman 2 No.613, Brontokusuman, Kec. Mergangsan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55153. Tlp: (0274) 413888

Nah, buat yang kepingin nyobain staycation di tengah touristy scene-nya Jogja, Adhisthana adalah jawabannya. Pertama dateng, Teman-teman bakal disambut oleh satu space kayak dinding gitu yang dibangun dengan menyusun daun-daun jendela. Berasa banget nuansa hipster-nya. Masuk ke Adhisthana itu kayak masuk ke dunia yang tersusun dari banyak elemen. Desain arsitektur hotelnya seperti mencampur-campurkan unsur bangunan ala Jawa dengan elemen dekoratif dari Cina dan Eropa. Untuk kamarnya sendiri bergaya minimalis dengan dominasi furnitur kayu dan garis-garis geometris yang tegas. Kalo penasaran, booking aja langsung kamarnya sekarang dan nikmati sendiri kombinasi yang secara mengejutkan bisa cocok satu sama lain ini.

https://www.instagram.com/p/B7xYQ35g2sQ/?utm_source=ig_web_copy_link

 

Itu tadi rekomendasi dari saya kalo Teman-teman nanya, hotel mana nih, Dok, yang bagus buat me time-an? Sebenernya masih banyak sih tempat-tempat lain yang worth your time banget. Tapi dari semuanya yang pernah saya coba, baru 3 ini yang nempel banget di ati. So, each one of them is definitely a must-try for me.