Antiaging Sebagai Konsep Estetika Holistik

Hai Teman DRYD,

Seluruh makhluk hidup di planet ini pasti mengalami penuaan secara biologis sebagai konsekuensi logis dari progres perkembangan dan pertumbuhan fisik. Manusia pun ga luput dari penuaan. Sebagian besar sel di badan kita akan melalui proses daur-ulang, yang lama diganti yang baru. Proses ini akan terus berlangsung selama kita hidup. Boleh dibilang penuaan adalah akumulasi semua perubahan yang terjadi dalam tubuh kita baik secara biologis maupun psikologis. Penyebab penuaan, atau aging, itu sendiri sih masih menjadi sumber perdebatan banyak pihak dalam dunia medis. Tapi yang jelas setiap sel di badan kita punya limit tertentu dan kalo limit ini udah tercapai, pertumbuhan jadi tersendat dan bahkan mengalami proses regresi.

Aging adalah proses biologis

Kulit adalah organ yang paling menjadi “korban” dalam proses aging. Kenapa? Kulit itu organ paling besar di tubuh kita dibanding organ lain. Letaknya paling luar pula. Status paling besar dan paling luar menjadikan kulit sebagai pembatas antara tubuh kita dan dunia luar. Kulit berdiri paling depan untuk melindungi kita dari serangan banyak faktor eksternal yang hampir semuanya bersifat destruktif—apalagi kita hidup di masa modern, lingkungan sekitar praktis jadi penuh dengan sumber kerusakan. Karena terus-terusan dibombardir oleh segala macam  bentuk “penjajahan”, kulit mau ga mau harus beradaptasi dengan cara secara dinamis memperbaharui diri. Setiap sel kulit yang mati atau rusak diganti dengan yang baru supaya pertahanan pertama diri kita dari dunia luar tetap terjaga dan stabil. Nah, proses ini lambat laun memaksa kulit untuk menua karena itu tadi, pembelahan sel itu ada batasnya. Ketika batas itu tercapai, semua proses regenerasi menjadi lamban dan akhirnya kulit mengerut, tidak lagi kenyal, kering, dan kita pun kehilangan kesan muda.

Mengkhawatirkan, memang. Tapi langkah pertama dalam menghadapi penuaan adalah menerima kenyataan bahwa ini semua adalah proses biologis yang alami dan sifatnya pasti terjadi.

Apa ga ada yang bisa dilakukan, Dok?

Siapa bilang ga ada? Karena semua inilah makanya tercetus konsep antiaging, yaitu sebuah usaha untuk menunda agar segalanya ga terjadi sebelum saatnya. Sealami-alaminya sebuah proses biologis, kalo kejadian sebelum waktunya juga kan nyebelin, ya. Yaaa, sekalipun usaha untuk meniadakan proses penuaan sama sekali itu juga lagi ongoing sih. Ilmuwan masih nyoba ngulik kemungkinan yang ada jadi kita kudu sabar. Toh teknologi juga semakin mutakhir. Siapa tau teka-teki ini bisa terpecahkan lebih cepat kan?

Kulit berkerut adalah salah satu tanda penuaan

Sembari nunggu semuanya mendapatkan solusi, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mencegah, mencegah, dan mencegah. Oh, merawat, merawat, dan merawat juga. Kalo kita bisa merawat kulit sejak dini, secara konsisten, dan reguler, kemungkinan kita bisa nyuru si aging nunggu lebih lama juga lebih besar. Oh, sama jangan salah kaprah juga ya, Teman DRYD. Istilah “penuaan dini” pasti udah sering banget didenger kan? Nah, sekarang kita kudu sejalan pemahamannya karena istilah ini mengandung pengertian yang bisa diinterpretasi dengan tidak tepat. Ga ada namanya “titik permulaan” yang pasti soal aging. Secara umum, tanda penuaan udah mulai bisa diobservasi sejak umur 25 tahun. Ada beberapa yang mulai di usia 30 tahunan. Tapi memahami aging sebagai sebuah garis lurus dengan titik mula dan akhir yang pasti bisa berbahaya karena kita bisa-bisa berpikir, “Ah, masih umur segini, masih aman” dan akhirnya baru kepikiran buat perawatan ketika semuanya udah kejadian. Jadi gitu, yang namanya pencegahan ga pernah dilakukan setelah sesuatu terjadi kan? Pencegahan dan perawatan kudu dilakuin relatif serentak supaya si aging bisa diem dulu dan ditunda kedatangannya.

Memelihara Kesehatan Kulit di Tengah Pandemi

New Normal udah berjalan. Pandemi belum surut. Tapi life must go on dan gitu juga sama usaha kita buat mencegah penuaan datang. Jangan berpikir New Normal berarti kita bisa lebih longgar dan akhirnya lengah. Justru di tengah pandemi gini kita harus semakin naikin level kewaspadaan kita dan konsep anti aging jadi lebih relevan. Dengan segala bentuk penyesuaian dalam pola hidup baru di tengah pandemi, malah seharusnya kita punya lebih banyak waktu untuk menyayangi kulit kita lebih jauh. Inget kata Linden Tyler:

“Invest in your skin,

It’s going to represent you for a very long time.”

Berinvestasilah untuk kulit kita karena kulitlah yang akan merepresentasikan diri kita dalam kurun waktu yang lama. Nah, menilik makna dan kegunaan anti aging yang udah kita bahas sebelumnya, melakukan perawatan dan menjaga kesehatan kulit itu bukan suatu hal yang sia-sia. Jangan mikir, “Lagi pandemi, percuma ngerawat kulit susah-susah. Nanti juga terpapar segala kuman yang ada di dunia.” Heeei, pemuda-pemudi harapan bangsa, mau pandemi, mau keadaan normal, kulit kita senantiasa berada dalam kondisi terancam risiko. Terlepas dari segala hal, menjalankan perawatan kulit untuk menunda proses penuaan itu harus dijadikan habit. Kita harus terbiasa mencintai kulit kita karena jasa-jasanya ga keukur dalam melindungi diri kita dan menjadi tanda pengenal kita ketika bersosialisasi.

Apakah Antiaging Itu Perkara Estetika Semata?

Tapiii, masih banyak yang menilai antiaging sebatas pemaksimalan estetika aja. Itu sebenernya sih ga salah-salah banget juga sih. Menunda penuaan emang akhirnya berujung pada penampilan yang lebih seger, lebih awet muda, lebih sehat. Tapi jalannya ga sesingkat itu. Ada beberapa hal lain yang harus dijadikan perhatian sebelum akhirnya mendapatkan penampilan yang awet muda, jauh dari kata tua.

  1. Pahami proses aging

Kita udah omongin ini di awal tadi. Kita perlu pelajari apa itu penuaan, kenapa ada penuaan, konsekuensinya apa aja, apa yang bisa dilakukan. Sederhananya gini, kita harus mempelajari segala sesuatu tentang musuh kita supaya bisa menyusun strategi perang kan. Kita perlu tau, nembaknya dari sisi mana yang efektif, apa yang harus ditarget, apa aja yang bisa dipake buat nyerang. Melawan aging adalah sebuah pertempuran ya, guys. Kita harus siap sedia sebelum masuk medan perang.

  1. Jalani pola hidup yang sehat

Strategi matang, pemetaan mendetail, taktik udah sempurna. Apa yang kurang? Amunisi. Dalam peperangan melawan aging, apa yang dijadikan amunisi? Apa lagi kalo bukan kehidupan yang dijalani dengan baik dan sehat? Komponen hidup sehat itu sebenernya simpel: makan yang bener, jangan lupa olah raga, hindari racun-racun. Taaapi, meskipun sederhana dan pretty much straightforward, pola hidup sehat itu sering banget luput kita jalankan.

  1. Pilih treatment yang tepat

Ketika kita memilih jenis perawatan dan penanganan kulit yang benar dan tepat, maka kita artinya udah selangkah lebih dekat ke tujuan utama: pencegahan, penundaan, dan bahkan pembalikan kondisi aging.

  1. Estetika

Naaah, ngerti konsepnya udah, pola hidup udah dibenerin, treatment udah efisien. Abis itu, baru deh, kesempurnaan estetis menjadi milik kita. Kulit cerah bersih. Kenyal kek bayi. Seger bebas kerut-kerut. Sehat ga jerawatan.

Jadi estetika kulit itu kudu banget diawali dengan kesadaran dari dalam dan dimulai dari dasar. Lakukan hal-hal yang fundamental terlebih dahulu, segala sesuatu yang sifatnya basic, baru kita bisa berangkat menuju kebahagiaan yang holistik.

Aging: Faktor dan Fase

Supaya kita bisa memahami konsep aging secara fundamental, ada baiknya kita coba kulik dikit apa aja sih yang bikin kulit kita mengalami proses seperti itu. Secara prinsip, faktor pencetus penuaan itu dibagi menjadi dua kelompok besar berdasar sumber, internal dan eksternal.

  1. Faktor internal penyebab penuaan adalah perubahan-perubahan yang terjadi di dalam tubuh kita sendiri.

    Radikal bebas

    Contohnya: Komposisi dan jumlah hormon yang tidak stabil, keberadaan radikal bebas, kerusakan pada struktur DNA, sistem imun yang terganggu, dan faktor genetis.

  2. Faktor eksternal penyebab penuaan berarti sebaliknya, ada gangguan yang datangnya dari luar badan dan mempengaruhi kinerja biologis badan kita. Contohnya: Gaya hidup yang patut dipertanyakan, diet yang tidak sehat, habit yang tidak benar, berada dalam lingkungan yang dipenuhi polusi, stres berkepanjangan dan tidak di-manage, serta ketidakmampuan finansial untuk mendukung usaha pencegahan proses penuaan.

Sementara itu proses penuaan pada tubuh manusia bukanlah sebuah momen yang terjadi dalam satu waktu. Jadi ada fase-fasenya. Fase permulaan dari proses penuaan inilah yang rada susah buat dipatok dengan pasti dan tepat. Ada yang baru umur dua puluhan, udah mulai banyak kerut-kerut. Ada yang baru muncul tanda-tanda penuaannya waktu menginjak usia 30an. Secara garis besar, fase proses penuaan itu dibagi menjadi:

  1. Fase subklinis

Fase ini muncul dalam rentang usia 25 – 35 tahunan. Ada kemungkinan besar seseorang terlihat sehat-sehat aja dan dianya sendiri merasa normal, ga ada keluhan sama sekali. Tanda-tanda aging bisa dikatakan ga keliatan sama sekali.

Dua hormon penting dalam tubuh manusia

Tapi pada praktiknya, ada sejumlah perubahan yang berlangsung di dalam badan. Hormon-hormon (terutama testosteron, growth hormone, dan hormon estrogen) mulai menurun produksinya. Kerusakan di tingkat sel juga udah mulai terlacak sekalipun belum bisa diperiksa efeknya secara langsung. Naaah, individu-individu di rentang usia segini tu kan, pada banyak yang mungkin udah berpasangan dan barangkali juga mengkonsumsi kontrasepsi hormonal. Ini juga pengaruhnya gede banget; selain memiliki andil dalam mengacaukan keseimbangan hormon dalam badan, konsumsi kontrasepsi jenis ini juga bisa berujung pada penurunan gairah seksual.

  1. Fase transisi

Fase ini berlangsung dalam periode usia 35 – 45 tahunan. Ketika memasuki fase transisi, jumlah hormon yang diproduksi tubuh udah berkurang sampai 25%-nya. Pengaruhnya apa? Salah satunya adalah menyebabkan penurunan massa otot yang perkurangannya bisa sampe 1 kilo dalam beberapa tahun aja. Untuk soal penurunan massa otot, angka 1 kilo ini cukup signifikan karena akan berimbas kepada penurunan level stamina dan output energi. Kita jadi sering lelah, lemas, dan lebih suka bermalas-malasan. Nah, karena pola hidup jadi stagnan, lemak yang dikonsumsi harian akan tertumpuk karena kan ga dipake buat memproduksi energi buat badan kan. Organ-organ dalam badan pun kehilangan sensitivitasnya dan menimbulkan apa yang kemudian dikenal dengan resistensi insulin, yaitu ketika sel-sel tidak dapat lagi mengolah gula menjadi energi sekalipun insulin sudah diproduksi cukup untuk memerintahkan si sel-sel ini buat bekerja sebagaimana mestinya. Gula yang ga kepake ditumpuk lagi bersama lemak badan. Makin gede deh tu badan. Akhirnya obesitas.

Udah? Selesai sampai di situ? Enggaaa. Karena menyadang status obesitas, kulit pun melar supaya bisa mengakomodasi badan yang membesar. Elastisitas kulit bener-bener dipaksa sampai batas maksimalnya sampe akhirnya kulit udah ga sanggup lagi mengembang. Dan yang perlu diingat lagi adalah semakin kita bertambah usia, produksi kolagen kulit makin irit. Semakin jumlah kolagen terbatas, semakin terancamlah elastisitas kulit. Jumlah kolagen yang diproduksi ga seimbang dengan kebutuhan kulit untuk mengembang dan akhirnya muncullah yang namanya stretchmarks. Stretchmarks, sodara-sodara, cuma satu dari sekian banyak permasalahan kulit yang hadir ga diundang ketika kita obesitas. Pigmentasi kulit juga perlu diwaspadai karena tentunya merusak penampilan.

Selanjutnya udah bisa ditebak seharusnya sih. Sistem imun berada dalam titik kritis karena badan bener-bener diporsir dengan segala macam ketidakseimbangan. Radikal bebas datang dengan leluasa dan semakin memperburuk kondisi. Efek paling sederhana dari terjangan radikal bebas ini adalah kulit yang tidak lagi terlihat awet muda. Akibat lainnya? Fase menopause/andropause datang terlalu awal dan, ho-oh bisa ditebak, gairah seksual anjlok drastis.

Di fase transisi, kalo kita ga waspada dan tetep bodo amatan, proses penuaan yang datang dengan tidak terkendali bisa berarti satu hal: Baaanyak banget penyakit aneh-aneh yang bikin kita bergumam, “Ya tuhan…. Kok ada ya, penyakit kek gitu…?” Contohnya? Coronary artery disease (jantung koroner, bapak-bapak, ibu-ibu), artritis (radang sendi, guys), memory loss (pikun deh, pikun), diabetes, daaan—jreng-jreeeng—kanker.

Dan kita masih ngomongin fase transisi ini loh ya….

  1. Fase klinis

Di rentang usia 45 tahun ke atas, fase klinis datang dengan seenak jidatnya. Apa yang terjadi di fase ini? Tentu saja penurunan produksi hormon masih terus berlanjut. Tapi progres penurunan fungsi tubuh secara umum jauh lebih menakutkan.

Kita bisa mengalami ketidakmampuan untuk menyerap nutrisi, vitamin, dan mineral. Kalo ada yang masih mikir, “Ah, ga ngeri-ngeri amat ih,” heeei Anda hidup dari apaaa? Sinar matahari? Situ tanaman apa manusia deh? Heran…. Nutrisi, vitamin, mineral; tiga serangkai yang keberadaannya dalam badan manusia menjadi jaminan keberlangsungan hidup kita semua. Ketidakmampuan menyerap ketiganya berarti yaaa… ya udah… *pasrah

Di usia segini nih, badan biasanya akan semakin sulit membakar kalori yang masuk bersama makanan. Lagi-lagi, karena ga mampu memproduksi energi dari kalori yang masuk, semua diubah jadi lemak karena badan kita mikirnya, “Ah, simpen dulu ini lemak; sapa tau nanti perlu.” Dan nyatanya ga diperluin karena badan kita udah berasa beraaat banget buat gerak. Tapi badan ga mau rugi, “Sekarang ga bergerak. Sapa tau nanti gerak. Dan kalo nanti gerak, gua butuh asupan energi dong?” Teteeep aja disimpen itu berbagai macam lemak karena badan taunya cuma perkara survival. Lemak numpuk, berat badan naik dong. Oh, ga sampe di sana, tentunya. Berat nambah, siapa yang jadi korbannya? Ya tulanglah. Apa hubungannya? Karena badan udah ga tau lagi mau nyimpen lemak di mana, secara semua tempat udah disempal lemak-lemak sebelumnya, maka tulang jadi target operasi berikutnya. Disempil-sempilin dah tuh, lemak-lemak ga kepake dalam pori-pori tulang. Kalsium, yang notabene perannya gede banget dalam ngejaga struktur kerangka, jadi ga punya tempat masuk. Hasilnya, tulang jadi rapuh. Masih kurang ngeri? Bayangin deh, tulang paha retak atau tulang belakang patah gegara badan kita segitu beratnya. Udah ngeri kan? Tapi mimpi buruk belum kelar. Di usia rentan kek gini, proses penuaan juga ga luput ngincar massa otot. Dalam waktu 3 tahun, kita bisa kehilangan 1 kilo massa otot. Kombinasikan massa otot yang menipis dengan berat badan awur-awuran dengan tulang yang keropos. Bikin pengen balik ke umur 15….

Upaya-upaya Preventif

Risiko dan konesekuensi boleh bikin jiper. Tapi bukan berarti kita ga bisa ngelakuin sesuatu buat nyegah penuaan datang lebih awal dan merusak mood. Tindakan pencegahan yang dilakukan secara menyeluruh, konsisten, dan efektif bahkan mungkin bisa membalikkan segala macam kerusakan yang kadung tercetus karena aging datang di waktu yang ga tepat.

  1. Ubah gaya hidup dan terapkan pola hidup sehat
  • Coba deh mulai olahraga dengan lebih teratur. Buat jadwal untuk berolahraga selama sekurang-kurangnya 30 menit setiap hari, 3 kali seminggu. Kalo bisa sih luangkan waktu setiap hari untuk berolahraga. Kalo ga memungkinkan, ya coba dulu 3 kali seminggu. Yang penting setiap hari ga diabisin dengan bangun-makan-makan-makan lagi-tidur. Badan harus aktif dan pilihan olahraga pun beragam, jadi bisa disesuaikan sama kebutuhan dan jadwal harian.
  • Atur pola makan. Asupan nutrisi, vitamin, dan mineral harus selalu tercukupi on daily basis. Jangan berlebihan, jangan kurang dari cukup. Rasio protein dan serat harus diperbanyak tapi jangan sama sekali meninggalkan lemak dan karbo. Secukupnya. Sepantasnya. Seperlunya.
  • Kelola stres. Saya berusaha banget untuk ga terkotakkan dalam pola pikir “menghindari stres”. Stres itu sifatnya kayak, “Surpriiise!!!” Jadi dia akan selalu datang entah dari mana, di saat yang ga kita duga, dan dalam bentuk apa aja. Jadi rada susah kalo yang dijadikan target adalah “menghindari” SAJA. Menurut saya akan lebih oke kalo kita menghindari DAN mengelola stres. Sebisa mungkin hindari stres, tapi jangan lari kalo akhirnya mau ga mau kita tetep harus berurusan dengan stres. Cari solusi dan cara untuk menanganinya dengan sehat dan tuntas.
  • Hindari bahan-bahan beracun. Sebisa mungkin jangan pernah menyentuh yang namanya rokok atau bersentuhan dengan asap rokok. Alkohol, kalo emang ga bisa sama sekali engga, jangan dikonsumsi berlebihan—tapi akan lebih baik jika engga sama sekali sih. Waspada dengan benda-benda (terutama bahan makanan) yang mengandung pestisida dan pengawet buatan yang ga sehat. Pestisida mungkin masih bisa diminimalisasi dengan cara pencucian yang rata, bersih, dan menyeluruh. Tapi kalo soal pengawet, kalo bisa please, cari bahan lain yang bebas pengawet aja.
  • Perhatikan ritme tidur. Di saat tidur, tubuh kita bekerja memperbaiki segala kerusakan yang terjadi ketika kita berkegiatan. Jadi jangan pandang sebelah mata soal tidur. Pastikan waktu tidur kita setidaknya 6-7 jam per hari. Tapi jangan berlebihan juga, ya.
  • Kelola dunia sosial. Tanpa disadari, interaksi dengan orang lain sehari-hari bisa menjadi pemicu stres. Karena itu, perlu juga disadari bahwa terkadang kita butuh downtime, perlu mengatur diri sendiri, dan perlu alone time.
  • Jaga keseimbangan dunia kerja dan relaksasi. Bekerja itu kewajiban tapi bersantai itu juga sebuah kebutuhan. Jangan sampai hari-hari diisi dengan bekerja, bekerja, dan bekerja tanpa memperhatikan kebutuhan mental kita untuk sedikit menarik napas dalam-dalam dan mengistirahatkan otak dan badan.
  1. Jalani hidup dalam lingkungan keluarga yang bahagia dan sebisa mungkin hindari kehidupan seks yang ga Jika sudah memiliki pasangan, komunikasikan semuanya secara transparan dan bangunlah jembatan interaksi dua arah yang dinamis.
  2. Selesaikan pekerjaan dengan ikhlas dan rasa senang. Pekerjaan apapun ya, ini konteksnya. Pekerjaan profesional kudu diselesaikan dengan baik tanpa rasa dongkol dan terpaksa. Sesuatu yang dilakukan dengan keterpaksaan pastinya ga bakal berakhir baik. Pekerjaan rumah yang sifatnya untuk kebaikan bersama pun demikian. Belajar ikhlas melakukan sesuatu tanpa pandang bulu dan tanpa menunggu kesadaran orang lain. Jika kita bisa, kenapa harus orang lain?
  3. Jalani kehidupan sesuai dengan conscience. Apa itu conscience? Pernah ga ada “suara-suara” dalam hati pas lagi ga suka dengan tingkah-laku seseorang? Nah, itu namanya conscience. Dengerin deh suara hati itu karena biasanya kalo kita mengingkari batin sendiri, interaksi dengan orang lain jadi ga Kalo ga tulus, ujung-ujungnya jadi stres lagi. Ga perlu takut nolak ajakan nongkrong kalo emang kita ga lagi pengen keluar rumah. Belajar bilang enggak, kalo emang kita ga mau. Belajar juga untuk menyampaikan penolakan tanpa menyakiti orang lain dan memberikan penerimaan tanpa berlebihan.
  4. Optimistis dan positif

Optimisme itu baik buat mental. Kita jadi ga gampang nyerah. Ga gampang putus asa. Ga gampang down. Positivitas isi kepala juga kudu dipelihara karena pikiran yang selalu terisi hal-hal negatif ga bakal bikin hati tenang. Hati yang selalu ga tenang itu sarangnya stres.

  1. Jangan berpikir kita kebal

Kalo ada hal yang paling rentan sedunia, manusia adalah salah satunya. Kita bisa merasa sehat, ga ada keluhan apapun. Kita bisa merasa normal karena semua fungsi badan berjalan sebagaimana mestinya. Tapi jangan sekali-kali merasa kebal. Orang yang rajin olahraga, makannya dijaga, tidurnya teratur, minum airnya ga pernah putus aja masih bisa kena kanker. Merasa baik-baik aja itu ga salah. Tapi ga berarti itu jadi alasan kita jadi lengah dan ga waspada. Inget ya, Teman DRYD, musibah jadi musibah karena kita ga pernah ngira kapan datangnya.

  1. Jangan berpikir kita tua dan karenanya helpless

Menjadi tua itu mutlak. Benda mati aja bisa lapuk dan keropos apalagi kita makhluk hidup. Tapi jangan biarkan fakta itu jadi momok dan bikin kita ngerasa ga ada yang bisa dilakuin. Tua dan helpless itu dua hal yang ga berkaitan sebenernya. Buktinya, banyak orang-orang yang umurnya udah 50an tapi masih segar-bugar dan tetap hidup mandiri.

  1. Jangan sembarangan minum obat

Kalo suatu saat ketemu iklan obat anti penuaan dengan penuh klaim menggiurkan dari para penggunanya, jangan langsung percaya. Apa yang bekerja efektif buat orang lain belum tentu berarti sama untuk kita. Itu satu. Yang kedua, siapa yang bisa jamin kalo klaim-klaim itu ga dibuat buat kepentingan pemasaran doang? Sementara itu kita telanjur kemakan janji-janji tanpa tahu baik-buruk suatu produk. Makanya, kerjain deh pe-er-nya: Riset sedalam mungkin. Cari tahu apa kata ahli di bidangnya tentang suatu produk. Telusuri landasan ilmiahnya. Jangan ragu untuk katakan tidak kalo setelah semua riset yang dilakukan, masih belum ada keyakinan dalam diri buat nyoba suatu produk.

  1. Medical checkup berkala

Pengecekan kesehatan adalah tindakan yang lebih direct untuk mengetahui apakah ada yang salah dengan badan kita. Ga jarang potensi besar suatu penyakit berbahaya bisa diredam lebih awal lewat medical checkup reguler. Jadi jangan malas buat bergerak nyari pihak yang qualified buat melakukan pengecekan rutin ya.

  1. Amati kebiasaan mengkonsumsi suplemen/obat-obatan

Kalo selama ini kita minum suplemen vitamin atau obat-obatan tertentu sekadar memenuhi anjuran, mungkin saatnya buat memperbaiki semuanya. Yang misalnya minum vitamin C sekali sehari cuma karena disuruhnya begitu tanpa peduli dosis, sekarang yuk coba dihitung kebutuhan minimal hariannya berapa. Kulik data-data ilmiah yang menjelaskan peran suatu zat dalam suplemen yang kita telan dalam perannya memerangi penuaan. Dengan dukungan informasi yang lengkap, bukan ga mungkin kita bisa mengembalikan fungsi organ yang menurun karena proses penuaan.

Antiaging dalam Kaitannya dengan Pandemi

Relevansi antiaging sebagai sebuah konsep lifestyle di masa pandemi seperti sekarang ini makin kerasa kental. Pandemi membuat kita harus siaga dan selalu siap untuk beradaptasi. Salah satu bentuk adaptasinya apa? Kita harus selalu waspada dan memberikan perhatian ekstra untuk kebiasaan kita sehari-hari. Yang biasanya cukup longgar dan santai, sekarang harus lebih berhati-hati. Bukan jadi paranoid dan kaku, ya. Tapi paling engga, kita seharusnya jadi lebih aware terhadap risiko kesehatan dan paparan terhadap hal-hal yang mempercepat proses penuaan. Masker atau face shield harus banget dijadikan satu barang yang wajib ada dekat dengan kita. Masker yang dipilih sebaiknya yang mampu “mencengkram” wajah kita supaya kontak langsung dengan udara luar bisa dibatasi. Multivitamin boleh dikonsumsi untuk membantu menambah daya tahan tubuh dan menjaga stamina. Tapi ingat, minum sesuai dosisnya aja. Jangan nelen sebotol vitamin C cuma gegara denger-denger vitamin C ampuh mengatasi infeksi. Yang ada malah nambah beban kerja ginjal jadinya mah. Ngomong-ngomong soal multivitamin dan suplemen, sebaiknya pilih yang mengandung kombinasi bahan vitamin (C, D), zinc, magnesium, melatonin, dan sederet antioksidan lain.

Buah dan sayur adalah sumber antioksidan alami

Perhatikan juga soal durasi, ventilasi, dan jarak. Tiga poin ini adalah yang paling penting untuk diberikan atensi khusus berkaitan dengan pandemi. Lama kita berinteraksi dengan dunia luar, sirkulasi udara di lingkungan, dan jarak antara individu memegang peranan penting dalam mengendalikan transfer virus dan substansi penyebab penuaan secara signifikan. Untuk masalah pola makanan, pastika pilih menu yang low sugar dan konsumsi bahan yang mampu memicu percepatan pembakaran lemak seperti ekstrak the hijau dan kelapa.

Pilar Antiaging

Bicara tentang antiaging sebagai sebuah disiplin medis khusus, kita ga bisa melepaskan peran penting faktor-faktor yang menjadi penyokong. Yuk kita liat satu-satu.

  1. Diet sehat

Terbiasa dengan konsep 4 sehat 5 sempurna? Udah saatnya direformasi; sekarang coba deh adopsi konsep piring sehat. Penuhi piring dengan sumber serat, seenggaknya setengah dari ukuran piring. Sisanya bisa dibagi rata untuk protein dan karbo.

Perhatikan komposisi gizi

  1. Nutraceutical

Istilah neutraceutical merujuk pada bahan yang lebih dari sekadar makanan tapi tidak cukup untuk dianggap sebagai obat. Jadi… di antara makanan dan obat, gitu. Bahan yang bersifat nutraceutical sederhananya adalah makanan yang memiliki nilai keuntungan kesehatan medis yang tinggi, yang mampu mencegah atau merawat suatu penyakit. Contohnya misalnya sereal, susu, dan jeruk.

Makanan yang juga obat-obatan

  1. Penyeimbangan hormon

Cara paling sederhana untuk mencapai hormone balance adalah dengan mengatur kembali pola diet kita dan mengendalikan porsi makan.

  1. Pengurangan tingkat stres dan manajemen stres
  2. Olahraga

Poin Akhir

Saya mau nawarin dua kesimpulan utama nih untuk obrolan kita kali ini.

Pertama, estetika dan antiaging itu dua entitas yang berbeda. Estetika adalah bagian dari antiaging karena pada akhirnya keindahan penampilan bisa terbentuk dari metode-metode antiaging yang tepat. Tapi antiaging adalah sebuah konsep yang lebih fundamental dan holistik. Ruang lingkupnya lebih luas dan menjangkau area-area yang sering luput kita pertimbangkan. Konsistensi dan kesabaran merupakan dua kata kunci yang melekat erat pada konsep antiaging dan estetika.

Kedua, perubahan habit harus menjadi titik penekanan untuk dipahami. Segala bentuk usaha pencegahan atau bahkan pembalikan proses penuaan berawal dari perbaikan kebiasaan dan pola hidup. Kita ga bisa berharap tubuh bisa kembali membaik dengan sendirinya setelah didera berbagai bentuk kerusakan akibat proses penuaan tanpa mengubah beberapa aspek yang esensial. Perbaiki dulu yang mendasar, baru kita bisa mengharapkan kesehatan, baru kita bisa menikmati semuanya dari segi estetika.

Segitu dulu ya, Teman DRYD. Byeee!

Kukis Mediterranea: Sepotong Surga dalam Mulut Saya

Hai Teman DRYD,

Pada suka kukis ga? Yang seneng ngemil paaasti jawab suka. Yang takut ngemil paaasti pada bilang ga suka deh, hahahah!

Iya, sekarang kita lagi mau bahas tentang brand snack yang saya suka banget. Gapapa, ini buat referensi aja ya. Kalo suka ya monggo dicobain, kalo engga yaaa di-bookmark dulu aja. Sapa tau nanti-nanti kepingin nyobain.

Di Jogja ada yang namanya Mediterranea Restaurant. Lokasinya ada di zona padat turis dan restorannya menyajikan pilihan menu khas Laut Tengah sana. Lumayan cozy, enak dijadiin tempat hangout sambil dinner sama temen-temen. Ya udah-ya udah; kalo emang malah udah langganan di sana ya bagus dah. Tapi buat yang belom tau dan pengen nyoba ganti menu supaya ga itu-itu aja, bisa ni dijadiin alternatif. Chef-nya orang Perancis. Namanya sih aslinya Camille. Tapi diserap ke Indonesia jadi Kamil. Pernah bekerja di restoran internasional dengan rating Michelin pastinya bikin resto ini punya daya tarik khusus ketika diperkenalkan tahun 2012.

Taaapi, bukan restonya itu yang saya mau bahas loooh.

Selain restoran, Mediterranea juga buka lini produk baked goods dengan label Aromatics Store and Bakery. Toko roti milik Mediterranea ini mengunggulkan suasana khas Perancis yang pastinya juga bikin kancah kuliner Jogja makin berwarna. Salah satu produk andalannya ya kukis itu tadi, dikenal dengan nama Mediterranea Cookies by Kamil.

Apa yang bikin kukis Mediterranea agak berbeda dari brand lain adalah kukisnya dibikin ga pake pengawet dan penambah rasa artifisial. Jadi semuanya bener-bener alami dan terjaga kualitasnya. Kukisnya juga ga pake margarin, semuanya menggunakan butter. Kukis Mediterranea menggunakan mentega karena pastinya rasa yang dihasilkan bakal lebih mantep, ngena gitu di hati. Banyak sih yang bilang margarin lebih sehat meskipun rasanya ga seenak mentega. Itu mungkin bener tapi ga sepenuhnya relevan. Coba deh, googling bahaya margarin, pasti pada paham.

Hadeh, malah bahas beginian. Oke, balik lagi.

Selain menyediakan varian kukis reguler yang pecah banget di mulut gegara perpaduan kombinasi bahan-bahan yang pas, Kukis Mediterranea juga ngasi solusi buat mereka-mereka yang ga bisa mengkonsumsi gluten. Varian kukis non-gluten ini ga pake terigu tapi tepung almond. Nah, varian lainnya ada juga yang pake oatmeal, ada yang mencampurkan buah-buahan kering juga. Ada yang teksturnya soft banget, chewy gitu. Ada yang pake chocochips. Aduh, pokoknya di setiap gigitannya saya pasti ngerasa terbang ke langit kesepuluh saking enaknya. Sampe saya sayang-sayaaang itu kukis; buka kemasannya, ambil sekeping, endus-endus, udah, taro lagi biar ga khilaf kemakan sampe abis dan akhirnya cemberut karena wadahnya tau-tau kosong. Personally, it’s a must-try banget for me.

Baru inget…. Kemaren tu mesen 2 packs, masih aman ga ya…? *was-was*

Ya udah deh ya. Ga mau ah, cerita panjang-panjang. Nanti ga surprise. Pokoknyaaa, kalo penasaran bisa japri saya aja. Nanti saya ceritain deh lebih detail.

Dah ya, byeeeee! *buru-buru ke dapur*

 

Mediterranea Restaurant by Kamil

Address: Tirtodipuran St No.24A, Mantrijeron, Yogyakarta City, Special Region of Yogyakarta 55143

Phone: (0274) 371052

COVID-19 dan Dilema Mengajak Anak Bermain di Kala Pandemi

Hai moms,

Bermain adalah kegiatan penting untuk anak-anak yang masih dalam periode tumbuh-kembang. Penting bagi kita sebagai orang tua untuk bisa mengajak dan memfasilitasi kebutuhan bermain si anak agar pertumbuhan fisiknya sempurna dan perkembangan otaknya maksimal. Menikmati kegiatan bermain adalah salah satu hak mendasar seorang anak, seperti yang juga sudah ditetapkan oleh PBB. Buat kita orang dewasa mungkin bermain itu adalah hal yang sepele dan remeh. Tapi pada dasarnya semua manusia yang hidup di dunia adalah homo ludens, makhluk yang suka bermain. Saat dewasa pun kita pasti melakukan kegiatan bermain tapi mungkin cara dan jenisnya sudah berevolusi karena manusia dewasa memiliki tuntutan, tanggung jawab, kewajiban, gaya hidup, dan energi yang berbeda dari anak-anak. Maka bermain pun berubah menjadi traveling, berolahraga, atau melakukan hal lain yang melibatkan tubuh dan indra.

Bermain adalah salah satu hak dasar anak-anak

Karena cara pandang kita berbeda, mungkin kita sering menganggap enteng kegiatan bermain untuk anak dan membiarkan si anak cenderung diam dan pasif. Ini sebenernya ga disaranin ya, moms. Psikoanalis Sigmund Freud berpendapat bahwa ada nilai-nilai terapeutik yang bisa diambil dari kegiatan bermain. Dengan merangsang si anak untuk aktif bermain, kita bisa mencegah potensi kemunculan ketidakseimbangan psiko-emosional dalam dirinya. Dengan bermain jugalah si anak bisa menetralkan situasi stres, rasa cemas, rasa takut, serta meminimalisasi kemungkinan depresi. Ini penting supaya kelak ketika si anak dewasa, ia bisa mengatur keadaan psikisnya sendiri dengan lebih efektif.

Bagi orang tua, meluangkan waktu setiap hari untuk berinteraksi dengan anaknya akan memungkinkan kita untuk membentuk suatu ikatan emosional yang kuat dengan si anak sehingga ia bisa menganggap kita teman untuk berbagi dan berkembang menjadi individu matang yang terbuka. Pastinya ga mau dong, moms, anaknya jadi orang yang tertutup rapat dan nyimpen banyak banget rahasia dari kita orang tuanya sendiri?

Bermain pun punya manfaat sosial yang besar untuk perkembangan mental si anak. Sering bergaul dengan teman dan menghabiskan waktu bermain bersama anak-anak lain akan membuat anak paham bagaimana cara berinteraksi yang lebih efisien dengan individu lain. Kegiatan bermain yang intens dan reguler akan membantu mengasah soft skills anak jadi nanti ketika dewasa, ia tahu betul apa itu fairplay, persaingan sehat, bagaimana mencegah diri merasa iri, dan bisa memupuk rasa percaya diri yang maksimal.

Membiarkan anak bermain bisa membantu mengasah soft skills

Kita sebagai orang tua mungkin lebih sering berpikir bahwa pendidikan formal dari sekolah akan cukup untuk memberi anak bekal untuk dewasa nanti. Tapi kita luput mempertimbangkan bahwa sesempurna apapun sekolah dan kurikulum yang ditawarkan, ada beberapa hal yang tidak bisa diajarkan bagi kebaikan si anak di masa depan.

Dan kita sebagai orang tua juga sering lengah dan kebablasan dalam memanjakan anak. Anak usia TK udah dikasi gadget. Iya, taaau; pasti sebel juga denger anak pulang sekolah langsung komplain, “Ma, temenku dibeliin iPhone sama mamahnya!” Terus kita panas dan mau juga ngasi anak barang mahal. Ato mungkin karena cape kali ya, didesak mulu sama anak buat beliin handphone. Alasan lain orang tua membelikan gadget untuk anaknya mungkin didasari oleh alasan keamanan. Mungkin kita takut kalo nanti dia kesasar apa gimana, bisa langsung telepon ke rumah dan kita akan segera memberikan pertolongan. Semua alasan ini valid dan legit. Ga ada orang tua yang ga mau anaknya seneng, aman, nyaman, terpenuhi semua kemauannnya. Tapi kita juga kudu banget jeli memilah mana yang kemauan dan mana yang kebutuhan. Gadget itu stagnan ya, moms. Benda elektronik itu merangsang visual anak tapi mematikan sensor-sensor lain—yang juga seharusnya distimulasi supaya perkembangannya benar. Anak umur 1 sampai 5 tahun harusnya aktif bergerak, berinteraksi dengan sesama manusia, banyak berkomunikasi, dan bonding dengan teman sebaya, bukannya diem di sofa mantengin Instagram. Ga heran kalo jaman sekarang pengetahuan dunia pop anak umur setahun bisa lebih luas daripada orang tuanya sendiri. Jangan sampe ya, kita dapet update artis mana yang cerai atau selingkuh dari anak kita sendiri yang seharusnya masih ngubek-ngubek tanah ato ngejer-ngejer kucing. Jangan sampe dia terpengaruh YouTuber paling kaya se-Indonesia trus pengen dibeliin mobil balap impor sementara kita mau beli bajunya aja kudu mikir sisa duit cukup ngga buat makan. Jangan sampe ya, anak badannya membesar ga terkendali karena kerjanya makan melewati batas normal dan ngemil depan TV setiap hari. Tuh, yang gitu-gitu yang kudu dihindari. Dan yang gitu-gitu sebenernya bisa kita cegah seandainya kita mau proaktif memberikan stimulasi agar anak mau bermain, entah bersama kita, entah dengan teman-temannya di luar sana.

Tapiii, ada lagi nih hal lain yang bikin semuanya agak riweuh. Kan lagi pandemi ni ya, gimana dong caranya supaya si anak bisa tetap aktif? Pandemi emang merepotkan dan kita harus beradaptasi dengan cara mengadopsi pola asuh new normal. Kalo dipikir-pikir, apa sih yang ga dibikin repot sama pandemi kan ya? Pola hidup, ga cuma pola asuh, harus diperbarui supaya kita tetap bisa menjalankan hidup dengan relatif normal sekalipun wabah masih belum reda.

Betul, mengajak anak bermain outdoor di tengah pandemi memang ribet. Tapi bukan ga mungkin. Masalahnya ada di kita; apakah kita mau telaten dan sabar? Anjuran umum memang mengatakan bahwa sekalipun New Normal udah diberlakukan, sebaiknya tetap di rumah aja kalo ga ada keperluan banget keluar rumah. Tapi itu ga berarti kita ga boleh ajak anak keluar sama sekali. Di teras rumah juga udah lumayan. Ato kalo ada halaman cukup luas, ajak deh anak main di sana.

Ato kalo emang nih, kita takut banget ngajak anak keluar dari rumah, ada sih beberapa tips agar anak tidak bosan di rumah saat pandemi. Cuma nih ya, kita juga ga boleh menutup mata dari kebutuhan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan di luar rumahnya. Membiarkan anak lama di dalam rumah tanpa diberi kesempatan sedikit pun untuk mendapatkan stimulasi terhadap indra-indranya dari lingkungan eksternal itu juga bisa jadi pisau bermata dua. Iya, si anak bakal lebih terjamin keamanannya karena kita bisa 24 jam memonitor situasi dan kondisi. Tapi di saat yang sama dia ga sempat mencerna apa itu dunia luar dan ketika nanti sudah agak besar, si anak akan dipenuhi rasa cemas ketika harus melangkah keluar dari pintu depan rumah. Bayangin gimana repotnya kalo dia udah masuk masa sekolah. Masa kita juga kudu ikut duduk di kelas? Kita juga harus mempersiapkan si anak dengan memberi bekal pengertian bahwa dunia itu lebih dari sekadar apa yang dia observasi di dalam rumah. Wawasannya bisa meluas. Rasa percaya dirinya bisa terbentuk. Rasa sosialnya bisa dipupuk.

Dan iya, sebaiknya tetap diusahakan supaya si anak sempat berinteraksi dengan anak lain—selain saudaranya, kalo ada. Dengan cara ini, dia bisa belajar toleransi dan memahami bahwa dunia bukan miliknya sendiri, bisa lebih mandiri, dan mengetahui cara yang tepat untuk berempati. Enggak, kita ga perlu beli masker bayi banyak-banyak. WHO sendiri udah netapin kalo bayi dan anak-anak di bawah 2 tahun jangan penutup wajah, apapun bentuknya, mau face shield, masker kain, masker dokter, masker N95, masker bengkoang, masker spirulina…. Enggak, ga usah. Nanti kalo ada yang ngiklan jualan masker yang katanya bisa buat bayi, jangan ngiler ya, moms. Saya bukannya mau sabotase jualannya orang nih. Tapi emang ga dianjurin anak bayi pake masker.

Amankah masker bayi?

Lah, kenapa, Dok? Kan bisa buat ngalangin partikel virus di udara.

Kalo itu iya, masker mungkin bisa jadi alat pencegahan. Tapi yang perlu diinget di sini adalah bahwa saluran pernapasan anak kecil itu masih saaangat kecil. Jadi dia butuh akses ke oksigen tanpa gangguan. Masker itu kan kudu ketat dan sebisa mungkin menutup akses langsung ke udara kan, sementara si anak sistem pernapasannya belum mampu mengakomodasi keterbatasan asupan oksigen. Anak bayi juga belum bisa bereaksi ketika jalan udarannya terhambat jadi ga bisa ngelepas masker sendiri kalo sesak napas. Anak-anak yang lebih gedean mungkin bisa langsung copot tapi itu memperbesar risiko kontak kulit wajah dengan tangan, secara kan mereka belum paham cara melepas masker yang benar. Jadi serba salah ni; pake masker kudu ketat, bikin sesak, ga pake masker, risiko infeksi jadi tinggi. Jadi gimana ngatasinnya supaya anak bisa tetap enjoy diajak main ke luar?

Kitanya yang kudu waspada. Kitanya yang kudu maskeran sama cuci tangan bersih-bersih. Kitanya yang harus membantu membatasi potensi infeksi pada anak karena sistem imun bayi dan anak-anak juga masih sangat rentan. Ga boleh lengah; malah mungkin harus jauh lebih teliti ketimbang ketika si anak ada dalam rumah. Kita harus banget mengedukasi diri soal personal hygiene anak. Bayi mungkin pasif ya, bisanya cuma diem dalam gendongan kita jadi mungkin sedikit lebih mudah melindunginya.

Ajarkan kebersihan sejak dini

Cukup awasi jangan sampai ada kotoran yang menempel pada bagian tubuhnya. Yang repot itu anak-anak yang udah mulai bisa jalan apalagi yang udah mulai bandel lari-larian sana-sini. Coba mulai perkenalkan si anak dengan kebiasaan mencuci tangan pake sabun setiap abis dari luar rumah. Supaya efektif, kita kasih contoh. Jadi jangan kitanya yang males, bisanya cuma nyuru doang. Ajarkan si anak secara mendetail: kapan aja harus cuci tangan, sabun cuci tangannya yang mana, bagian mana dulu yang dicuci, step-nya apa aja, berapa lama nyabunin tangannya, gitu-gitu. Harus sabar juga. Karena kan namanya anak-anak, yang diliat pasti sisi fun-nya aja.

Terus, peratiin juga durasi bermain anak. Semakin lama di luar rumah pastinya semakin tinggi terekspos berbagai macam kuman dan kotoran. Seengganya, biarin anak bermain selama 2 jam setiap hari, 1 jam di dalam rumah, 1 jam di luar.

Perhatikan durasi

Abis itu, mandiii, yaaay! Sekalipun mainnya cuma di dalam rumah, ada baiknya juga memperkenalkan sistem penjadwalan kepada si anak sejak dini supaya dia bisa belajar disiplin dan menghargai waktu. Nanti seiring pertambahan usia, boleh kok, menambahkan jam bermain.

Yang berikutnya untuk diperhitungkan adalah ventilasi udara. Ini khususnya berlaku untuk ketika si anak bermain di dalam ruangan ya, moms. Pastikan sirkulasi udara dari dan ke dalam ruangan bermain terjaga agar udara senantiasa bersih dan sehat untuk dihirup. Ventilasi yang tidak memadai tidak akan bisa memfasilitasi pertukaran udara sehingga kemungkinannya lebih besar untuk debu dan partikel kuman tetap berada di dalam ruangan lebih lama. Bukan berarti ini tidak berlaku dengan area bermain outdoor.

Sirkulasi udara yang baik juga penting

Jangan biarkan anak bermain di lokasi yang terlalu lembap atau terlalu kering. Area yang terlalu lembap adalah ladang subur untuk perkembangbiakan bakteri dan hal-hal menakutkan lain. Sementara area yang terlalu kering selain membuat udara terasa panas, debu lebih mudah terbang dan hinggap di saluran pernapasan.

Nah, buat yang anaknya doyan banget main sama temen-temennya, ajarin deh aturan jarak aman social distancing menurut who.

Beri pengertian tentang social distancing

Jarak aman minimal itu 2 meter, tapi mungkin anak-anak akan kebingungan kalo kita suruh jauh-jauh 2 meter dari anak lain. Jadi mungkin moms bisa kasih contoh yang lebih mudah supaya dia ngerti. Misalnya mungkin dengan memberi jarak dua rentang tangan si anak. Ato buat ibu-ibu yang hobi ngobrol sore-sore sama tetangga, bisa terapkan juga metode penjarakan ini. Ga perlu ngerasa ga enak ato takut dianggap antisosial atau sombong. Orang lain juga kalo emang paham situasi dan kondisi juga males kali deketan.

Beradaptasi dengan mencari tahu tentang cara mengasuh anak saat pandemi covid-19 itu sudah merupakan sebuah kewajiban di era New Normal ini. Kita ga bisa lengah dan menurunkan tingkat kewaspadaan gitu aja meskipun peraturan udah lebih longgar. Tapi di saat yang sama kita juga harus memperhitungkan kewajiban kita untuk memenuhi hak anak untuk menikmati kegiatan bermainnya. Bermain sambil waspada itu masih memungkinkan untuk dilakukan asal kita paham regulasi dan aturan serta memilah mana yang efektif dan efisien dan mana yang sekadar bersumber dari ketakutan personal kita sebagai orang tua.

Berdamai dengan Diri Sendiri: Inner Child, Self-Acceptance, dan Self-Healing

Hai Teman DRYD,

Ketika mendengar istilah “inner child”, apakah yang muncul dalam pikiran Teman-teman semua? Diliat dari terjemahan literalnya, inner child itu adalah sisi anak-anak yang ada dalam diri semua individu. Tapi ini definis yang terlalu amat sangat luas sekali. Dan bisa jadi banyak yang bakal menolak keberadaan konsep inner child ini kalo cuma bersandar pada arti harafiahnya saja.

Kebanyakan dari kita pasti udah ngerasa dewasa begitu melewati fase-fase hidup tertentu: lulus sekolah, jadi sarjana, bekerja, menikah, memiliki keturunan, daaan sebagainya. Nah, setiap fase tersebut punya parameter atau tuntutan kedewasaan masing-masing jadi kita akan mudah menganggap bahwa seseorang yang sudah menikah, misalnya, adalah pribadi yang sangat mature dan memiliki pola pemikiran yang dewasa serta cara pandang yang lebih matang. Itu adalah frame sosiokultural yang ada di kalangan masyarakat. Pada praktiknya, kenyataan bisa berbeda 180 derajat dari yang dijadikan anggapan. Seseorang yang sudah menikah atau sudah bekerja dengan mapan masih mungkin memiliki pola pikir dan tindak-tanduk yang tidak sesuai baik dengan usia kematangan fisik maupun usia kemajuan mental. Kok bisa? Inner child-lah penyebabnya.

Jadi apa sih, inner child itu sebenernya? Konsep ini adalah salah satu dari banyak banget konsep yang keliatannya sih simpel tapi nyatanya punya banyak makna dan penerapan, jadinya agak sedikit ribet kalo mau dijabarkan dengan tidak menghilangkan detail-detail kecil. Inner child itu, kalo dalam kajian psikologi pop dan psikologi analitis, adalah aspek kanak-kanak dari kepribadian kita, terutama segala macam hal yang dialami pada periode prapubertas. Inner child juga merupakan sebuah kepribadian dari diri yang sifatnya semi-independen dari kepribadian utama kita. Jadi mungkin boleh dibilang kalo inner child itu adalah “tandem”-nya kesadaran diri kita, keberadaannya bisa disadari bisa tidak tapi koneksinya dengan kepribadian diri itu masih tetap ada.

Kita boleh berdalih, “Ah, enggak kok. Saya udah cukup dewasa untuk bisa lepas dari sisi kekanak-kanakan saya. Kan udah gede, udah … (isi titik-titik dengan usia yang relevan) taun, ya ga mungkin dong masih kayak anak-anak.”

Nah, ini. Banyak banget orang yang ga nyadarin kalo kedewasaan dan usia itu korelasinya ga selalu berbanding lurus. Selalu aja usia yang lebih dulu jadi konteks kedewasaan. Kalo di antara Teman-teman DRYD ada yang, amit-amit nih, ya, masih punya konsep kayak gitu, berpikir bahwa umur dan kedewasaan itu sepaket, coba deh dipikir ulang. Orang yang umurnya 45 tahun masih ada loh, yang gaaampang banget tersinggung karena hal paling sepele. Ato ada yang umurnya udah 55 tahun tapi masih bisa ngerasa insecure, punya trust issues parah, dan suka banget baperan. Bukan. Saya ga lagi ngejudge ya, jadi jangan dulu emosi hahahah! Gini. Asumsi mendasarnya adalah seiring dengan pertambahan usia, pola pikir, kepribadian, dan kestabilan emosi seharusnya bisa lebih matang dan stabil. Jadi kenapa ada beberapa individu yang ga kayak gitu? Pertama ya itu tadi, kedewasaan dan usia itu ga sepaket belinya. Ga buy one get one. Kedua, balik lagi ke awal, ada yang perlu dilihat kembali dari segi inner child-nya.

Keadaan Suspended Animation

Kalo kita pake kacamata psikologi untuk menelaah inner child lebih dalam, aspek kanak-kanak dari diri seseorang itu adalah sisi kepribadian yang terbentuk akibat trauma di masa lalu, ketika seseorang itu masih, well, anak-anak. Periode kanak-kanak itu fragile ya, rapuh banget. Kita sebagai orang tua ga bakal bisa memprediksi mana dari tindakan kita terhadap anak yang bakal membekas daaalam banget mana yang bisa langsung sembuh tanpa jejak sama sekali. Beberapa jenis trauma bisa melukai diri anak sangat dalam dan ga sembuh-sembuh. Ini yang bahaya; luka yang ga sembuh itu dibawa sampe si anak gede dan berperan besar dalam membentuk kepribadiannya kelak.

Ketika si aspek kanak-kanak ini terluka berat dan ga bisa sembuh, sisi ini akan masuk dalam mode suspended animation dan sebelum ada intervensi, dia ga bakal berubah apalagi sembuh. Apa itu suspended animation? Coba bayangkan pemain akrobat yang sedang melompat dari satu tali ke tali lain. Sebelum si pemain akrobat berhasil menggapai tali yang dia tuju, bekukan dia di udara. Ngambang kan? balik ke tali sebelumnya ga bisa, maju ke tali selanjutnya juga ga mungkin. Itu yang namanya suspended animation. Semua serba ada dalam kondisi terhambat dan diam. Stagnan.

Figur anak kecil dalam diri semua manusia itu bisa berbentuk positif bisa negatif. Yang positif sih udah jelas, ya. Kenangan dan pengalaman yang menyenangkan di masa lalu bisa membentuk manusia dewasa yang relatif bahagia, tenang, nyaman dengan dirinya sendiri, lepas dan bebas, dan penuh semangat. Karena itu, kita kayanya ga perlu fokus pada inner child yang positif. Yang jadi masalah adalah individu-individu yang inner child-nya penuh dengan trauma. Inner child yang membawa trauma yang ga sembuh akan bermanifestasi ketika usia bertambah dan memasuki fase adult dalam bentuk dominasi perasaan atau emosi seperti kecemasan, kebencian, ketakutan, dan kemarahan.

Dan kalo udah ngomongin trauma masa kecil, duh…. Mungkin perlu satu buku khusus buat ngebahas apa aja yang berpotensi jadi sumber trauma buat anak kecil. Tapi semuanya selalu hal-hal yang buat kita, sebagai orang tua, keliatan kecil banget, keliatan ga mungkin banget bisa bikin si anak trauma. Siapa yang ngira kalo marain anak yang ga mau makan bakal bikin dia jadi orang yang takutan, membangkang, dan suka ngedumel di belakang pas gede nanti? Siapa yang bisa prediksi bahwa anaknya ga bakal jadi individu pemarah penuh dendam kesumat hanya karena kita sebagai orang tua selalu menyetir opininya tanpa mau ngasi dia sedetik pun kesempatan untuk berpendapat? Ga ada kan? Itu karena kita ga tau (atau mungkin ga mau tau) kalo batu pun bakal pecah kalo terus-terusan kena tetesan air. Kita cuma mikir si anak masih kecil, dia ga tau mana yang baik mana yang salah, dia belum bisa berpikiran objektif, dia belum bisa menimbang-nimbang konsekuensi sebuah tindakan. Ato pas masih pada kecil-kecil salah satu anak selalu jadi pilihan pertama sementara yang lain mungkin masuk itungan aja enggak. Gede-nya nanti si anak yang ga diperhitungkan bisa punya krisis kepercayaan diri dan bahkan bisa membenci saudaranya yang lain. Ato anak yang kecilnya selalu kesepian karena orang tuanya berpikir bahwa pekerjaan yang menuntut jarak dan waktu harus dilaksanakan demi si anak juga. Niatnya bener, tapi efeknya nanti si anak tumbuh jadi individu yang ga paham cara berkomunikasi dengan orang lain dan emosinya ga terkendali.

See? Itu masih segelintir contoh loh. Banyak banget hal lain yang dari sisi orang tua mungkin logis dan relevan bahkan mungkin wajib tapi bagi perkembangan psikologis si anak justru buruk. Iya, sebagai orang tua kita emang cuma bisa melakukan yang terbaik tapi ada untungnya juga kita mempertimbangkan risiko-risiko dan konsekuensi yang berpotensi buruk di masa depan. Ribet? Complicated? Siapa bilang jadi orang tua itu gampang?

Tapi dari semuanya, contoh trauma paling gampang bikin inner child meradang sampe gede itu adalah kekerasan fisik dan psikis, baik yang diterima langsung oleh si anak maupun yang diobservasi oleh si anak.

Emang anak-anak bisa observasi, Dok?

Weh, jangan salah. Anak-anak itu mungkin daya nalar-nya masih berkembang tapi kan indra-indranya udah cukup matang buat menerima informasi. Kemampuan observasi anak-anak itu masih sangat mentah dan apa adanya makanya sangat-sangat berbahaya membiarkan informasi masuk dengan bebas ke dalam diri si anak tanpa kita membantu memfilternya. Dia ga bakal ngerti alasan di balik kenapa bapaknya selingkuh dan bikin ibunya nangis tiap malam. Dia cuma taunya si bapak jahat ke si ibu dan membenci si bapak. Buruknya lagi, konsep perselingkuhan yang dia terima tanpa hambatan ini bakal jadi momok di kemudian hari yang akhirnya bikin dia parno membangun relasi dengan orang lain dengan alasan takut diselingkuhi kayak ibunya dulu. Sepele kan? Kita sebagai orang tua yang juga manusia pasti mikirnya, “Saya sedang mengalami krisis dalam rumah tangga, jadi fokusnya adalah menyembuhkan diri dulu dari luka pribadi ini.” Mana sempat kita memikirkan perasaan dan kondisi psikis anak kalo di saat yang sama juga kudu handle kenyataan bahwa pasangan punya kekasih lain kan?

Tapi ya nyatanya efeknya juga kena ke anak. Makanya, jangan pernah meremehkan daya observasi anak-anak. Ada yang bilang insting anak-anak itu masih raw, murni, jadi mereka bisa jadi lebih sensitif untuk hal-hal tertentu. Dia bisa susah banget disuruh makan ato belajar. Tapi mungkin bisa paham tanpa perlu omongan kalo orang tuanya lagi bermasalah.

Analogi Pohon

Mari membayangkan sebuah pohon. Apakah semua bagian pohon yang terlihat itu muncul gitu aja tanpa ada yang menyokong? Kalo tanahnya subur, penuh nutrisi, dan kelembapannya terjaga, pohon yang tumbuh juga bagus kualitasnya. Kalo semua faktor eksternal di sekitar tunas pohon udah ga seimbang dari awal, si pohon bakal ga maksimal pertumbuhannya. Emang sih, tetap ada kemungkinan buat membesar dan terlihat seperti pohon kebanyakan. Gimanapun juga makhluk hidup di bumi dibekali daya adaptasi terhadap lingkungan yang luar biasa. Tapi risiko juga lebih besar. Si pohon emang bisa tumbuh besar dan keliatan sehat. Tapi mungkin dia ga bisa berbuah. Daunnya jarang-jarang dan kecil-kecil. Selalu dihinggapi penyakit. Semua itu dampak dari adaptasi akar terhadap lingkungan yang ga bersahabat.

Analogi ini cocok untuk diterapin ke konsep inner child. Kenapa? Karena semua hal yang ada di masa kini itu akarnya ada di masa lalu. Kepribadian kita sekarang adalah salah satunya. Bahkan, dalam metode terapi inner child, kita bakal dibawa pertama-tama untuk melihat kembali ke belakang, balik ke masa kecil.

Ibarat pohon, segala daun, batang, cabang, ranting, bunga, buah, semuanya yang bisa dilihat adalah masa sekarang. Tapi semua yang kita nikmati itu (daun yang hijau segar, batang yang kokoh, cabang yang megah, ranting yang meliuk-liuk rumit, bunga yang cantik rupawan, buah yang manis sedap) cuma bisa dihasilkan lewat peran besar satu hal yang selalu luput dari perhatian: Akar. Akar itu terkubur dalam tanah, persis seperti inner child kita hilang dari pandangan tertutupi masa lalu. Tapi andilnya luar biasa besar. Orang-orang yang inner child-nya trauma ga sembuh-sembuh bisa dipastikan punya permasalahan. Semua permasalahan ini bisa dirunut ke belakang, jauuuh ke masa si orang ini masih kecil. Saya mungkin agak bias di sini. Mereka-mereka yang punya kehidupan bahagia saat ini pun sebetulnya mungkin punya trauma masa kecil. Itu ada 2 kemungkinannya: 1) dia sudah berdamai dengan masa lalu atau 2) ada mekanisme pertahanan mental yang mengubur trauma tertentu saaangat dalam. Kalo yang pertama yang terjadi, well, good for them. Kalo yang kedua yang terjadi, nah, ini yang rumit.

Seiring pertambahan usia, memori memudar. Trauma berubah menjadi flashback, bukan lagi sebuah rekaman detail. Alam bawah sadar kita bakal membungkus trauma itu, masukin dalem kotak, trus simpen di gudang, yang terus ketumpuk-tumpuk memori lain. Ini mekanisme natural. Ada alternatif ilustrasi lain. Si trauma yang begitu besar udah ga bisa diselamatin terus berubah jadi dinding tebal. Nah, perkembangan mental kita bisa diibaratkan sebagai jaringan akar yang secara naluriah menghindari si dinding. Jadi pertumbuhannya bisa memutar mengitari si dinding, bisa naik ke atas si dinding, bisa ngegali tanah di bawah si dinding. Apapun dilakukan karena sejatinya kondisi psikis manusia itu memiliki progres. Perkembangan harus tetap terjadi apapun yang terjadi, mau ada trauma atau enggak. Jadi apa boleh buat kan? karena progres harus tetap diakomodasi, mau ga mau si trauma tadi harus difasilitasi karena ga bisa disembuhkan secara alami.

Kalo kita ngebiarin alam bawah sadar kita yang meng-handle trauma masa lalu, yang terjadi adalah kita berkembang menjadi pribadi yang tidak sehat. Hasilnya? Kita jadi orang yang punya trust issues, ga mampu membangun keintiman dalam bentuk apapun dengan orang lain (kalaupun bisa, sifat hubungan itu bakal sangat berketergantungan), dan berpotensi menjadi orang yang kompulsif dan adiktif. Kita pun bisa sering merasa rendah diri, ga bisa dikritik, gampang banget kesinggung, amarahnya mudah terpicu, penuh rasa cemas dan khawatir berlebihan, punya rasa insecure tinggi, dan mungkin selalu takut disakiti orang lain.

Destructive behavior takes various forms: from subtle self-sabotage and self-defeating patterns to passive hostility to severe self-destructive symptoms, violent aggression and, sometimes, evil deeds.” – Stephen A. Diamond Ph.D.

Kutipan di atas jika disederhanakan berarti bahwa inner child yang terluka bisa berujung pada berbagai macam bentuk tingkah-laku destruktif. Ini juga berarti bahwa gangguan pada inner child menyebabkan pematangan mental yang tersendat dan akhirnya orang yang umurnya udah gede tapi pola pikirnya masih persis seperti anak-anak dan terlihat tidak berdaya dalam mengendalikan situasi di sekitarnya. Kondisi “anak-anak yang terjebak dalam tubuh orang dewasa ini” sama sekali ga cute loh, ya. Yang ada malah bikin si orang jadi nyebelin, selalu self-defense, penuh excuses, dan ya itu tadi, seolah tidak berdaya, helpless, hopeless, ngerasa dirinya sendirian di dunia yang kejam. Intinya, si orang tadi tumbuh jadi a self-deprecating, self-depreciating, self-loathing, self-condemning asshole yang aduuuh, bikin gemes deh. And not in a good way loh, ya. Iya, masalahnya pelik. Iya konfliknya gede. Iya kepalanya keburu penuh jadi ga bisa mikir rasional. Kita paham kok meskipun kita ga melalui kesulitan itu. Tapi kan kesel ya, kita udah bantu kasi perspektif berbeda, nyoba kasi solusi, nyoba ngasi pemahaman baru. Semuaaanya mental, kek ngomong sama selembar karet. Kayakngerti ga si lu, kita tuh care, kita ga mau lu kesulitan. Tapi cuma gegara si inner child-nya segitu terlukanya, dia kayak susaaah banget dengerin orang lain. Siapa yang ga kesel coba, kalo rasa sayang, rasa peduli, rasa toleransi, rasa sabar, rasa semua-muanya kita sama sekali ga ada efeknya sedikit pun?

“Kok ngomel sih, Dok? Hayooo, pengalaman pribadi ya?”

Aduh, saya jadi ngelantur kan…. Saya minta maap nih, ya, terpaksa menggunakan kata sekasar itu karena ya… ngeselin. Ga ditujukan ke any person sih, lebih ke kondisinya aja yang bikin sebel.

Penanganan: Metode-metode Konkrit

Masalah sepelik ini emang bikin kita ngerasa putus asa, kayak ga mungkiiin aja ada solusinya. Solusi itu ada. Cuma, kitanya mau ngga, sabar buat nyeleseinnya? Berurusan dengan anak-anak beneran aja udah ribet, loh, apalagi ngurusin anak-anak yang ada dalam diri kita sendiri. Konsepnya abstrak, pola pendekatannya pun pastinya lebih delicate. Tapi semuanya mengerucut pada satu hal yang, lagi-lagi, sederhana tapi luar biasa complicated: self-acceptance.

Jangan buru-buru bilang, “I’ve already accepted myself, kok!”

Pada kenyataannya, pengertian self acceptance itu ga sama dengan berpasrah diri. Ada bedanya juga dengan toxic positivity. Self-acceptance itu adalah legowo tanpa kepasrahan. Gimana tuh, Dok? Kita bisa mulai dengan mencoba ga defense. Akui bahwa inner child itu ada dan ada trauma pada dirinya. Terima kenyataan bahwa apa yang terjadi udah ga bisa diubah. Kita semua punya keinginan buat balik ke masa lalu dan membetulkan semua yang salah supaya masa kini dan masa depan menjadi lebih baik. Tapi kan ga mungkin. Itu cuma wishful thinking. Yang bisa dilakukan sekarang cuma menyadari bahwa kesalahan dan trauma di masa lalu itu ada dan berperan membentuk masa kini dan masa depan kita tapi kita punya kemampuan untuk membatasi pengaruhnya. Gimana cara memberikan batasan terhadap ‘hantu’ dari masa lalu itu? Dengan meningkatkan self awareness. Kesadaran terhadap diri sendiri itu penting untuk membantu memetakan permasalahan, menemukan titik-titik rawan konflik, dan kemudian menyusun strategi untuk menyerang balik. Tujuannya bukan apa-apa kok. Kita ga perlu membuktikan apapun ke orang lain apalagi pihak yang ga ada sangkut-pautnya dengan diri kita. Ini masalah ketenangan batin. Ini soal resolusi perdamaian dengan masa lalu yang terus-menerus memberikan pengaruh negatifnya ke kehidupan kita saat ini dan yang akan datang.

Ada metode yang lebih aplikatif sebagai cara meningkatkan kesadaran diri? Ada dooong. Kita bisa coba segala cara yang bisa efektif dalam menenangkan inner child kita. Misalnya dengan afirmasi diri. Sederhananya, self affirmation adalah cara-cara yang dilakukan untuk menimbulkan positivitas dalam diri kita. Yang paling mudah adalah dengan misalnya mengucapkan kata-kata positif dengan perulangan di depan cermin. Lama-kelamaan nanti konsep yang kita ucapkan itu akan tertanam dengan dalam dan bisa mengubah cara kita memandang sesuatu. Itu cuma salah satu contoh afirmasi percaya diri ya. Ada banyak metode lain. Misalnya bisa dengan mempelajari self-love language atau dengan menyempatkan diri untuk menikmati me-time. Cara kita mengafirmasi diri sendiri juga bisa diperluas hingga ke bagaimana kita berkomunikasi dengan orang lain. Misalnya dengan mengatakan bahwa kita terganggu dengan omongan temen tapi kita akan mencoba mengatasi rasa itu. Ingat ya, ga perlu defense kalo emang inner child kita merasa sesuatu itu salah. Yang perlu dilakukan cuma gimana caranya supaya semuanya ga meledak jadi luapan emosi atau malah konflik berkepanjangan. Jujur sama perasaan sendiri itu juga menyehatkan kok. Tapi ya ga usah pake emosi berlebihan. “Oh iya, omongannya si anu nyelekit banget. Tapi ya udah ah…,” adalah bentuk penyederhanaan paaaling sederhana buat konsep ini. Kita menyadari bahwa rasa tersinggung itu muncul bukan karena omongan itu sendiri melainkan karena inner child kita yang terusik dan kita dengan sadar memilih untuk ga menindaklanjuti rasa itu lebih lanjut. Diingat juga ya, ketika udah berurusan dengan inner child kita, orang lain ga salah sama sekali. Masalahnya ada di kita, inner child kita yang memproyeksikan masalah itu ke orang lain. Tapi ini juga ga otomatis berarti kita harus nyari pemakluman untuk kelakuan orang lain yang nyebelin juga ya. Kalo emang omongan temen itu sifatnya intrusif, komentar-komentar rasis atau melecehkan, misalnya? Wajar dong kita tersinggung dan merespon. Ga ada hubungan sama inner child itu mah. Tapi secara umum sebaiknya kita introspeksi dulu, telaah dulu semuanya. Pahami konteks dan kondisinya. Kalo emang temen-temen pada ceng-cengin pas kondisi lagi ngobrol bareng-bareng, hepi-hepi, suasana lagi hangat dan topik pembicaraan ringaaan seringan-ringannya, apa iya kita kudu ngambek berhari-hari cuma karena satu omongan yang bahkan bukan sebuah ejekan? Apalagi kalo emang kita udah paham banget sifatnya si temen yang nyablak. Kan nanti kitanya yang dinilai baperan. Mau? Coba deh, pas ada omongan atau ejekan ringan yang kebetulan ngena banget ke kita, jangan biarin inner child kita yang take over. Ngambek sehari dua hari ya udah sih ya, suka-suka yang penting manage dulu suasana hatinya. Tapi kalo sampe memutus relasi kan ya terlalu ekstrim to?

Ada lagi ga sih, yang bisa kita lakuin biar lebih hands-on, gitu ngehandle masalah inner child ini?

Pertama, coba meditasi. Meditasi itu ga perlu yang sampe duduk di taman sepi di depan kolam lotus sambil ngeluarin bunyi “Hmmmmm”, gitu. Yaaa, kalo emang bisa gitu sih, ya gapapa juga. Tapi meditasi itu banyak modelnya tapi semuanya tujuannya cuma satu: memfasilitasi diri untuk bisa in-touch sama apa yang ada di dalem diri kita. It’s a private session between you and you alone. Mau duduk, boleh. Mau sambil jalan kaki di tempat yang teduh, monggo. Yang penting, sediakan waktu setidaknya lima menit sehari untuk bisa menyendiri dan bicara dengan anak-anak di dalam diri kita. Tarik napas dalam lalu keluarkan sambil ngomong, “Umur saya lima tahun. Saya dilingkupi kasih sayang dan saya tersenyum penuh kebahagiaan.” Anak-anak di dalam diri kita yang terkubur jauh itu usianya lima tahun dan dia perlu dihibur, di-emong, disembuhkan, dirawat, dan diajak bicara. Ga ada orang lain yang bisa ngelakuin itu selain diri kita sendiri. Nah, nantinya, kalo kita udah terbiasa dengan kalimat tadi di atas, meditasinya bisa di-upgrade dengan mengubah kalimat menjadi, “Umur saya lima tahun. Saya dikelilingi kasih sayang dan kedua orang tua saya tersenyum penuh perhatian pada saya.”

Kedua, jangan mengabaikan apa yang inner child sampaikan pada kita. Disadari ato engga, anak-anak di dalam diri yang sedang terluka sering berusaha menyampaikan perasaannya pada kita. Cara si inner child berbicara pada kita inilah yang memiliki kaitan erat dengan trauma di masa lalu. Apa yang harus dilakukan? Dengarkan, dengarkan, dan dengarkan dengan saksama. Diri kita yang sekarang sudah lebih dewasa daripada si anak kecil di dalam sana. Katakan padanya, “Diriku yang muda belia, yang belum tahu apa-apa, aku siap mendengarkanmu. Apa saja. Keluhan, rasa sakit, gangguan, apa saja. Ceritakan penderitaanmu. Beritahu aku apa yang membuatmu menderita.” Peluk si anak kecil, erat. Biarkan dia tahu bahwa dirinya aman dan kehangatan yang bersumber dari pelukan itu selalu bisa dia dapatkan. Jika memang perlu, menangislah bersamanya. Bangunlah hubungan yang mesra dengan dirinya sebab dia adalah kita juga sebetulnya. Memahami penyebab rasa sedih dan penderitaan, mengkomunikasikannya dengan si inner child, dan bersama-sama merasakan semuanya akan membantu mempercepat penyembuhan trauma yang tak kasat mata.

Ketiga, jangan tinggalkan si anak di masa lalu. Jangan bersikap seolah-olah apa yang terjadi di masa lalu, trauma yang dialami ketika kecil bukanlah bagian dari masa kini yang sedang kita jalani dan masa depan yang akan tiba. Ga ada orang yang suka merasa left out, dikucilkan dan ditinggalkan. Si anak dalam diri kita pun begitu. Jadi jangan membuat batas antara diri kita saat ini yang sudah besar dan diri kita yang masih kecil yang masih butuh perhatian. Lagi-lagi, siapa yang bisa memenuhi kebutuhan si anak kecil itu selain kita sendiri? Mengharapkan orang lain tentu bukan jalan keluar; orang lain pun mungkin butuh waktu untuk menyembuhkan inner child-nya sendiri. Ajak si anak kecil berbincang. Ga perlu soal yang rumit-rumit. Ga perlu memaksanya ke dalam situasi dewasa. Toh namanya juga anak kecil; maka perlakukan dia selayaknya anak kecil.

Keempat, visualisasikan. Maksudnya di sini adalah memposisikan si anak kecil di dalam diri kita itu sebagai lawan bicara yang ada di depan kita. Saya paham, ini mungkin akan terkesan sedikit… ga masuk akal. Tapi efeknya luar biasa melegakan. Ambil dua buah bantal. Letakkan satu di bawah kepala kita dan yang satunya di sebelahnya persis. Berbaringlah menghadap ke bantal di sebelah dan bayangkan diri kita versi umur lima tahun sedang ada di sana, berbaring menghadap kita. Ucapkan hal-hal positif yang menenangkan seperti misalnya memberikan pengertian kepada si anak kecil bahwa hidup itu menyenangkan dan indah untuk dijalani. Selanjutnya, kita bisa pindah ke bantal kosong itu, berbaring menghadap bantal yang sebelumnya kita pakai dan bicaralah selayaknya anak kecil umur lima tahun. Bayangkan di sebelah kita ada diri kita versi dewasa dan gunakan bahasa anak-anak untuk memberikan gambaran beban yang sedang kita pikul sebagai anak-anak. Katakan padanya bahwa kita sedang merasa tidak berdaya, takut, terancam, bingung, sedih. Setelah selesai berkeluh-kesah, balik lagi ke bantal pertama, kembali berperan sebagai diri versi dewasa. Yakinkan diri versi anak bahwa semua curhatannya sudah kita dengarkan dan cerna dengan baik lalu tekankan bahwa kita bisa menuntaskan persoalan bersama-sama. Ho-oh, ini cara yang rada ribet dan berisiko membuat situasi menjadi kikuk apalagi kalo ketahuan orang lain. Pertama kali mencoba terapi ini mungkin bakal berasa kayak… maaf, orang setres. Makanya, usahakan metode ini dilakukan dalal kondisi yang menjamin privasi dan coba jalankan selama 10 menit dalam 5 hari. Kalo emang dirasa ga ada perubahan signifikan, ya mungkin memang terapi ini tidak atau belum cocok untuk dijalani.

Kelima, kalo bisa, coba deh, tulis surat untuk si anak. Kita bisa punya banyak rencana. Kita bisa punya banyak cara untuk mengafirmasi perubahan. Tapi kadang semuanya hanya ada di dalam kepala dan itu bikin semuanya mengawang-awang bebas di alam pemikiran. Menuliskan semuanya dalam format surat yang ditujukan langsung untuk si anak akan membuat semuanya terasa lebih konkrit dan mungkin bisa membantu diri sendiri dalam merumuskan langkah-langkah nyata untuk mengobati diri.

Keenam, ketika ada kesempatan untuk bersenang-senang, jangan berpikir bahwa kesenangan dan kebahagiaan itu adalah hak eksklusif diri versi besar. Libatkan diri versi kecil kita dalam segala hal. Jangan buat inner child kita merasa bahwa kita hanya mau berkomunikasi saat semua terasa menyedihkan dan lalu kita pergi saat bersenang-senang. Bayangkan duduk di pantai menikmati sunset bersama si anak. Bayangkan berwisata kuliner dengan si anak kecil ada di sebelah kita. Bayangkan rasa takut si anak saat menonton film horor di bioskop dan kita memeluknya.

Ketujuh, jika bisa, carilah teman yang pernah punya masalah yang sama dengan inner child-nya dan berhasil berdamai. Dukungan dari mereka-mereka yang mengerti tentang latar belakang persoalan spesifik seperti ini akan sangat menguatkan dan membantu mempercepat penyembuhan trauma pada si anak kecil di dalam diri kita sendiri.

Semua metode di atas sifatnya fleksibel. Artinya, mungkin dengan salah satu aja dan dalam waktu singkat, penyembuhan sudah bisa diraih. Semua tergantung separah apa trauma yang ada, sih. Makin dalam lukanya, makin rumit penanganannya, bahkan mungkin butuh cara selain yang sudah dicontohkan biar bisa sembuh. Yang menjadi pokok adalah self healing itu adalah sebuah proses. Ga ada yang namanya sekali meditasi kurang dari 5 menit, traumanya ilang. Efek trauma bisa instan, penyembuhannya butuh waktu. Bahkan ketika dirasa sudah sembuh pun, konsistensi dalam berkomunikasi dengan inner child harus banget dijaga biar tetap harmonis semuanya.

Mendewasakan Diri dengan Menyembuhkan Inner Child

Pertemuan kita kali ini rada lama ya, Teman DRYD. Saya mah gitu, dikasi kesempatan dikit aja langsung deh, nyerocos. Moga ga bosen, ye….

Omongan boleh panjang kali lebar. Penjabaran bisa bertele-tele dan ga to the point. Tapi inti omongan saya sih, kita sebaiknya berinisiatif memutus mata rantai lingkaran setan yang bermula dari inner child  yang menderita. Kalo inner child kita trauma akibat pola asuh yang salah dari orang tua, gimana caranya supaya semuanya berhenti sampai di kita aja. Lingkungan kita ga perlu ikut kena imbasnya. Jangan mengulangi pola. Jangan membiarkan luka masa lalu infeksi dan menjalar ke masa sekarang apalagi masa depan. Jangan membuat anak kita merasakan hal yang sama dengan kita; ingat, anak kita yang berumur lima tahun akan membeku kondisi psikisnya, lengkap dengan luka-luka dan rasa sedih, sekalipun tubuhnya membesar dan usianya bertambah.

Sembuhkan inner child kita sendiri because who else? Siapa lagi kalau bukan kita yang bisa nyembuhin luka di masa lalu? Maafkan dan terima kesalahan di masa lalu. Lepaskan yang ga bisa diapa-apain lagi. Sembuhkan si anak di dalam diri kita dan kemerdekaan akan menjadi sesuatu yang niscaya. Karena orang dewasa yang sudah benar-benar matang fisik dan mentalnya adalah mereka-mereka yang ga larut dalam trauma masa lalu dan memori buruk masa kecil.

Delivering Happiness through Skincare

Kulit, bagi kebanyakan dari kita, adalah salah satu sumber rasa percaya diri. Kondisi kulit gampang banget bikin rasa percaya diri naik turun. Jerawatan dikit, langsung down, langsung ga mau keluar rumah. Ada bercak gelap dikit, bawaannya langsung sadar diri, ngomong sama orang ga mau keliatan mukanya. Belang dikit, langsung milih buat matiin henpon, ga mau diajak ketemuan di luar. Wah, udah deh, banyak banget yang selalu menjadikan penampilan kulitnya sebagai satu-satunya sumber percaya diri.

Dan itu ga salah sebenernya.

Merawat kulit bisa menjadi sumber kepercayaan diri

Kulit yang glowing bersih, bebas minyak, sehat, kenyal, dan berseri emang bisa bikin kita pede banget. Itu karena kulit adalah benteng pertama yang membatasi kita dari dunia luar. Orang-orang kalo ngeliat kita pasti dong, penampilan luarnya, bukan gimana kepribadian kita ato inner beauty kita. Outer beauty emang bukan satu-satunya yang menjadi kualitas pembentuk suatu individu. Tapi keindahan yang ditampilkan itu lebih kasat mata dan lebih instan untuk diobservasi orang lain. Makanya kita gampang banget minder pas kulit lagi ga dalam keadaan prima.

Dan emang bener, kekurangan yang ada di kulit kita bisa ditambal-sulam dengan misalnya performa kerja atau mungkin kemampuan sosial yang di atas rata-rata. Tapi kita selalu merasa bahwa semua akan lebih sempurna kalau segalanya seimbang. Personality keren, kulit paten. Tapi kan ga semuanya dong, bakal seimbang setiap saat. Bisa aja ada sesuatu yang bikin kondisi kulit menurun. Kurang tidur aja udah cukup bikin kulit keliatan kusam.

Jadi begitu; kulit emang gampang banget bikin rasa percaya diri sendiri jadi fluktuatif kayak bursa saham. Ada keanehan dikit yang kayanya ga bakal deh orang lain notice, udah cukup ngerusak hari buat kita. Akhirnya kita pun beralih mengandalkan makeup buat nutupin “cela” itu dari orang lain. Semuanya keluar dari kotak kosmetik. Sampe produk yang jaaarang banget dipake, keluar. Apa aja yang penting bercak kecil di pipi ketutup. Apa aja yang penting jerawat yang bengkak merah ga jadi sorotan lawan bicara.

“Ya kan kita juga ga mau dianggap ga bisa ngerawat diri, Dok. Ga mau juga dianggap ga higienis sama si bos….”

Ya makanya saya bilang kalo memperhatikan kondisi kulit itu ga salah. Apa yang salah? Yang salah adalah ketika kondisi kulit yang tidak sesuai harapan berubah menjadi sumber kekhawatiran dan insecurity. Ketika kulit yang sedang tidak prima mendominasi isi kepala kita sampai-sampai menjadi obsesi, itu udah ga sehat. Energi yang seharusnya bisa kita salurkan untuk menyelesaikan tugas-tugas malah keporsir buat mikirin jerawat di jidat yang cenutcenut. Waktu yang seharusnya kita habiskan buat bersenang-senang sama orang-orang tersayang jadi kesedot buat ngaca dan ngelus-ngelus noda hitam di pipi. Kita terdorong untuk memitigasi “bencana” ini dengan cara yang agak ga masuk akal. Suplemen diminum  ga sesuai anjuran. Minum air segalon abis sendirian. Makan sayur digenjot sampe kebutuhan karbo dan lemak diabaikan. Segala krim, segala sabun, segala serum dipake.

Suplemen vitamin itu kudunya diminum sesuai dosis; otherwise we would only end up with very expensive urine. Namanya juga suplemen. Minum air juga kudu liat-liat; kalo ga malah bikin beser-beser dan lemas. Minum air teratur itu emang baik buat mem-promote kesehatan kulit. Tapi kalo kebanyakan? Coba deh, kapan-kapan googlin “water poisoning”. Banyak makan sayur itu bagus, semua orang juga tau. Tapi kan harus balance, proteinnya masuk, seratnya masuk, karbonya masuk, lemak juga perlu. Krim-krim, sabun muka, serum kecantikan, semuanya perlu dipake supaya ada usaha dari luar buat menjaga kondisi kulit. Tapi ada jenis zat dalam produk perawatan kulit yang justru ga bakal berkhasiat ketika dipake bersamaan dengan produk dengan zat yang berbeda. Makanya ada yang namanya step, waktu aplikasi, dan layer mana yang bisa di-combine dengan layer apa. Kalo dipake barengan dengan asumsi “makin banyak, pasti makin ngefek” yang ada malah mungkin bikin breakout.

Jadi, omongan orang tua tentang segala sesuatu yang berlebihan itu ga baik ada benernya.

Kulit menurun performanya itu lumrah. Penyebabnya bisa karena kelalaian, bisa juga karena badan sendiri yang sedang drop staminanya. Kalo soal lalai masih bisalah diperbaiki. Lah kalo udah masalah kondisi, stamina, hormon, emosi?

Saya ngomong ini sekarang karena berdasarkan pengalaman, ada beberapa orang yang datang ke klinik perawatan kulit bukan karena mereka emang mau treatment. Jadi ngapain mereka dateng, Dok? Nah, beberapa orang ini dateng ke klinik cuma karena ngerasa insecure sama kondisi kulit mereka saat itu. Jadi mungkin ada beberapa yang langsung panik pas liat di kaca ada jerawat muncul padahal sebelumnya baik-baik aja. Ato mungkin ada yang kaget nemuin flek di wajah padahal ga ngerasa abis kena sinar matahari. Iyaaa, kondisi yang kayak gitu emang kudu di-treatment. Tapiii yang jadi masalahnya adalah mereka berpikir dengan menjalani treatment, insecure-nya jadi ilang seketika. Jadi prosedur perawatan kulit dianggap sebagai solusi instan buat memperbaiki rasa percaya diri mereka yang sedang terluka. Emang bener sih, kulit dikasi treatment khusus emang bisa mengembalikan kondisi kulit seperti sedia kala sebelum ada cela. Tapi apakah seinstan itu?

Gini, saya selaaalu menekankan bahwa treatment yang berfaedah itu adalah treatment yang prosedurnya dijalankan dengan baik dan secara reguler. Ini tentunya untuk kasus yang relevan ya. Kalo treatment kulit itu kudu banget diulang supaya hasil akhirnya sesuai dengan harapan dan berefek lama. Nah, kalo kita treatment cuma karena lagi insecure dan ngerasa ada yang salah aja sama kita, ga bakal tuh, efektif. Misalnya nih, ada yang lagi kena masalah flek. Sekali treatment udah ilang, misalnya. Trus kita udah pe-de lagi kan dong ya. Trus berenti treatment. Ntar ga berapa lama, muncul lagi deh. Kenapa? Karena yang namanya flek itu complicated. Bisa ditreatment, tapi kalo ga reguler bakal muncul lagi, muncul lagi. Kitanya down lagi, down lagi. Treatment lagi, treatment lagi. Ilang lagi, berenti treatment lagi, muncul lagi. Gitu aja terus sampe manusia pindah ke Mars.

Treatment kulit itu ga seinstan itu. Ada tatacaranya, instruksinya, jadwalnya, perulangannya, yang semuanya sebaiknya dijalani supaya hasil akhirnya lebih memuaskan dan dampak psikologisnya bisa lebih menyeluruh. Jangan pas jerawatan, trus dikasi obat sama dokter kecantikan wajah, trus seneng kan karena jerawatnya ilang; eh, dianya juga ikutan ilang. Ga ada kabarnya lagi, ga kontrol, ga apa. Tau-tau nanti nongoool aja deh, ngeluh jerawatnya dateng lagi. Kalo kita mah, seneng-seneng aja ngasi resep ato laser sana, suntik sini. Tapi kan kasian si pasien kan, kulitnya kaga bagus-bagus, insecure-nya makin parah, idupnya ga hepi.

Kalo saya sebagai pelaku dunia estetika, kudu banget mastiin si pasien hepi. Makanya saya selaaalu nyempetin ngobrol sama pasien sebelum prosedur, selalu saya memastikan bahwa ada cukup waktu supaya interaksi dengan si pasien bisa terbentuk dengan lebih baik. Ga main, “Oh, silakan ke ruang sebelah sana; nanti ada asisten saya yang bantu.” Saya tanya dulu si pasien, “Motivasinya apa dateng ke klinik?” Setelah paham, baru deh lanjut ke tindakan-tindakan. Dan saya selalu mastiin bahwa tangan sayalah yang langsung bekerja menyentuh kulit si pasien, bukan asisten, bukan dokter magang, bukan mas-mas ojek yang nganterin pesenan makanan ke klinik. Enggaaa. Kenapa seperti itu? Karena saya kepingin relasi yang baik dengan pasien itu terbangun mulai dari bikin janji, ketemuan, prosedur, saaampe si pasien jalan keluar dari klinik. Saya mau memberikan sebuah nilai happiness pada pasien melalui pekerjaan saya. I want to deliver happiness through the things I do. Saya mau pasien hepi dulu, sesederhana itu.

Eh, ini ga berarti saya bisa mengukur apakah pasien bahagia ato engga ya. Saya bukan siapa-siapa yang bisa ngeklaim, “Oh, kamu ga bahagia niii.” Siapa gue kan….

Tapi seengganya saya bisa nyoba bantu pasien buat memilah-milah, mana yang mereka lakukan berdasarkan hasrat singkat semata, mana yang memang mereka butuhkan saat itu. Saya mau ngajak kita semua buat mencerdaskan diri dalam memandang sebuah kondisi, udah gitu aja. Saya mau pasien saya mampu memahami persoalan yang sedang mereka hadapi. Saya mau pasien saya tau dulu apa yang kudu di-enhance di diri mereka sebelum datang ke klinik dan menjalani prosedur. Saya mau pasien saya ngerti kalo efektivitas sebuah treatment itu ga didapet begitu aja setelah satu kali prosedur melainkan dari usaha berulang dan kesadaran diri.

Iya, saya emang banyak maunya….

Tapi ini bukan hal yang ga pernah terjadi loh. Ada pasien yang datang dengan keluhan jerawat. Dikasi obat sekali, sembuh. Tapi terus makannya ga karuan. Makeup ga dihapus sempurna sebelum tidur. Kan kacau. Obatnya efektif, tapi ga diimbangi dengan perbaikan pola hidup. Ini nih, tanda-tandanya orang yang datang ke klinik cuma karena gangguan kepercayaan diri sesaat. Dokter kulit dan kecantikan dijadiin solusi instan yang efeknya bisa permanen. Ya ga bisalah!

Makanya saya selalu nyoba buat ngobrol dulu panjang lebar sama pasien sebelum treatment. Saya ga mau kalo skincare dijadiin sebuah jalan keluar yang efeknya superficial, cuma di permukaan doang. Sekali masalahnya ilang, ilang juga ketekunan. Nanti percaya diri-nya juga ga permanen. Nah kalo kita gampang ga percaya sama diri sendiri cuma karena jerawat ato flek, otomatis kita juga sering ga hepi. Nah kalo udah ga hepi, semuanya jadi serba salah.

Penting juga ni, milih klinik yang tepat karena ga semua klinik paham apa yang jadi kebutuhan pasiennya. Bukannya mau jelek-jelekin yaaa; tapi ini jadi pe-er banget buat kita semua supaya lebih jeli dalam memilih sesuatu. Kenali dulu apa yang menjadi kebutuhan kita dalam melakukan perawatan kulit baru deh, dicocokin sama apa yang menjadi tawaran dari sebuah klinik. Cari tau juga apakah si klinik mampu meng-cover kebutuhan kita sebagai pasien, jangan cuma nyari tau tentang diskon sama promo-promo. Dapet diskon menarik ato promo yang menggiurkan tapi ternyata servis yang ditawarkan bukan apa yang kita butuh juga kan jadi sia-sia.

Saya mau pasien saya paham betul kondisi kulitnya dan apa yang menyebabkan permasalahan. Saya mau rasa percaya diri pasien saya ga gampang goyah. Saya mau pasien saya konsisten menjalani treatment yang secara sadar udah dia pilih; ga dateng pas lagi down, terus ngilang. Sakit tau, ditinggal gitu aja…. Saya mau pasien saya semuanya hepi. Saya mau pasien saya bisa leluasa mengungkapkan apa isi hatinya karena dari situ bisa kita rumuskan pola treatment yang efektif. Saya mau membantu pasien saya mengembalikan rasa percaya dirinya yang luntur. Saya mau pasien saya sayang sama dirinya sendiri dulu sebelum memikirkan bagaimana orang lain bisa menyayangi dia. Saya mau pasien saya memilih untuk meng-enhance kulit mereka bukan karena cuma itu yang menjadi tolok ukur mereka menilai diri sendiri. Saya mau pasien saya paham bahwa ketika mereka memusatkan seluruh perhatian dan energi mereka ke jerawat di idung ato flek di pipi, life goes on nonetheless. Saya mau pasien saya bisa mengatasi problem kulit mereka dengan hepi, bukan dijadikan beban yang bikin lesu dan malas berangkat ke kantor ato ngapain aja. Saya mau saya, keluarga saya, pasien saya, temen-temen saya, adek-kakak-nya temen saya, sodara-nya pasien saya, mamas ojek yang nganter pasien ke klinik, mbak-mbak yang jualan makanan yang saya pesen, semuaaanya bahagia.

Iya, saya emang banyak maunya….