Self-Love Language: Berkomunikasi Mesra dengan Diri Sendiri

Istilah self love sekarang baaanyak banget dipake di mana-mana. Unggahan-unggahan Instagram, advice dari kolega atau keluarga, buku-buku self-help, cerita-cerita seleb, kita mungkin bahkan denger istilah ini dalam percakapan sehari-hari. Konsep “mencintai diri sendiri” sering dipake baik secara kasual maupun kontekstual sampe-sampe istilah itu jadi kehilangan makna terdalamnya. Dan meskipun emang makna cinta itu sendiri begiiitu universal dan bisa diaplikasikan ke apa aja, kadang-kadang kalo kita pake terus-terusan hanya sebatas permukaan, jadinya ya… cuma sekadar omongan. Kosong, gitu.

Teman-teman DRYD mungkin punya pemaknaan tersendiri terhadap cinta pada diri sendiri. Praktiknya pun mungkin beda-beda, tergantung preferensi dan definisi itu tadi. Tapi pernah ga temen-temen denger tentang self-love language? Tau ga caranya berbicara pada diri sendiri supaya diri sendiri sadar bahwa kita mencintai diri kita sendiri?

Yuk, bermain peran. Bayangin diri kita jadi orang lain yang sedang menjalin hubungan dengan kita. Gimana cara kita memperlakukan orang itu? Apakah kita baik padanya? Apakah kita selalu berpikiran baik terhadap tubuh dan jiwa orang itu? Sebagai manusia, pernah ga temen-temen ngalamin yang kaya begini:

  • Mencaci-maki diri sendiri dengan ucapan-ucapan yang kejam?
  • Menetapkan ekspektasi-ekspektasi yang impossible dan ga masuk akal, yang kemudian berujung kepada kegagalan?
  • Melakukan tindakan sabotase pribadi dan akhirnya menutup jalan untuk mendapatkan apapun yang pantas didapatkan?
  • Menyakiti tubuh dengan mengabaikannya atau mengambil keputusan-keputusan yang salah?

Disadari ato engga, tindakan-tindakan macam begitu akan ngaruh banget ke kesehatan mental dan fisik, ngerusak hubungan dengan orang lain, dan juga mengganggu perkembangan karir. Dan disadari ato engga, salah satu hal yang paling sulit dilakukan oleh manusia adalah bagaiman kita bisa menerima diri kita sendiri sepenuhnya dan mencintai individu yang ada di dalam diri. Begitu kita bisa melakukan ini, menerima dan mencintai diri kita sendiri dengan total tanpa denial, kita akan bisa memberikan cinta dan menerima cinta dari dunia, termasuk orang lain. Saat kebutuhan untuk mencintai diri sendiri sudah selesai dan terpenuhi dengan relatif sempurna, kita bisa mencintai hal lain tanpa perlu merasa terpaksa, kelelahan, dan terkuras. Saat kita bisa menerima diri sendiri dan memahami struktur internal diri kita, kita bisa menerima cinta dari dunia dengan bangga dan penuh rasa terima kasih karena kita paham, kita tahu bahwa kita pantas dicintai dan diterima oleh dunia.

Pertanyaan terbesarnya sekarang: Gimana caranya kita bisa mencintai diri sendiri? Inilah gunanya mempelajari bahasa cinta terhadap diri sendiri karena sekadar mengetahui kalo kita perlu melakukan ini tuh beda banget sama bener-bener ngelakuinnya.

Dr. Gary Chapman menulis dan menerbitkan buku “The 5 Love Languages” di tahun 1992, isinya mengupas bahasa cinta dengan mendetail supaya pembacanya bisa memahami cara memberi dan menerima cinta.

Yuk, kita breakdown bagian mencintai diri sendiri.

  1. Memikirkan Self-love: Kata-kata Afirmasi

Afirmasi diri sebaiknya dilakukan harian. Kenapa? Pikiran kita biasanya datang lebih dulu daripada emosi dan tindakan. Jadi kalo cara berpikir udah negatif duluan, semuanya akan jadi serba negatif juga. Coba cari kata-kata yang bisa meningkatkan rasa kasih kita pada diri sendiri. Fokuskan pikiran pada bagaimana caranya supaya kita bisa memperlakukan diri sendiri dengan lebih baik. Cara-cara yang bisa dilakukan meliputi membuat catatan tentang aspek-aspek kekuatan kita dan segala hal tentang kita yang kita syukuri. Coba buat sebuah dokumentasi tentang semua yang sudah kita capai selama ini, tentang hal-hal yang membuat perasaan bahagia, segala hal yang udah kita lakukan dengan baik, atau apapun yang kita suka tentang diri kita sendiri. Coba self-talk yang positif. Redam si tukang kritik di dalam diri.

brain cartoon characters vector illustration image showing how man has confused emotion when brains debating together about self confidence (conceptual image about human self confidence)

  1. Melakukan Self-love: Tindakan Memberikan Pelayanan

Melayani ga selalu berkaitan dengan orang lain yaaa, diri sendiri pun kadang perlu dilayani dan cuma kita yang mengerti jenis layanan seperti apa yang akan menunjukkan self-love. Kita bisa mulai dengan cara menyiapkan makanan sehat untuk diri sendiri. Berikan perhatian menyeluruh ketika berbelanja bahan makanan dan ketika proses memasak. Ciptakan lingkungan rumah yang teratur, bersih, dan menyenangkan secara estetis. Cintai tempat tinggal kita sendiri bahkan ketika budget-nya terbatas. Rutinlah mengecek kesehatan fisik, kesehatan gigi, dan kesehatan mental. Selesaikan persoalan di setiap segi begitu persoalan itu muncul di saat yang tepat. Tanpa kesehatan, kita praktis ga punya apa-apa untuk diandalkan. Grooming dan perawatan tubuh juga jangan luput. Penampilan fisik yang terawat akan sinkron dengan perasaan mencintai diri sendiri yang muncul.

  1. Menyerap Self-love: Menerima hadiah

Batasi pembelian barang-barang pada hal-hal yang emang disukai. Jangan buat lemari atau rumah penuh dengan hal-hal yang ga ngasi kita perasaan positif. Coba declutter, buang barang-barang yang udah ga lagi ngasi kita rasa bahagia. Susun bucket list dan hadiahi diri sendiri dengan pengalaman yang ga terlupakan. Misalnya, kita udah lama pengen nyoba rafting nih. Coba deh, susun anggaran dan perencanaan. Wujudin keinginan itu. Coba berinvestasi di pendidikan dan pengembangan skill. Kalo pengen dapet gelar S2, misalnya, atau pengen ngasah kemampuan masak, misalnya. Coba lakukan sesuatu untuk bener-bener bisa ngeraih itu semua.

  1. Mempraktikkan Self-love: Menghabiskan Waktu Berkualitas

Luangkan waktu setiap hari untuk kegiatan-kegiatan melapangkan pikiran seperti meditasi, latihan pernapasan dalam, dan relaksasi otot. Sisihkan waktu untuk bersenang-senang dan menjalankan hobi. Salah satu aspek penting dalam menghargai hidup adalah dengan menyediakan waktu untuk bermain dan bersenang-senang, loh. Tidur dan olahraga harus jadi prioritas.

  1. Merasakan Self-love: Sentuhan Fisik

Meregangkan otot dan memijat bagian-bagian badan tertentu bisa memberi efek relaksasi. Keluarkan racun-racun dalam badan dengan berendam air panas. Stres berkurang dan badan akan berterima kasih akan cinta kasih yang kita berikan. Aplikasikan losion atau minyak-minyak pelembap kulit. Di setiap sentuhan yang kita berikan pada badan, ucapkan terima kasih atas jasa-jasa bagian tubuh tersebut untuk hidup kita. Pahami kalo kita sangat-sangat pantas menerima perhatian khusus dengan cara, mungkin menikmati sebuah spa treatment. Manikur, pedikur, facial treatment, apapun yang bisa membuat hati senang dan badan rileks.

Semua ini penting dilakukan. Tapi yang paling penting lagi adalah menyadari bahwa mencintai diri sendiri itu adalah sebuah proses perjalanan—apalagi kalo kita terbiasa memandang rendah diri sendiri. Yang dibutuhkan adalah dedikasi, perhatian penuh, dan mempraktikkan semuanya.

Self-love dan Relationship

Jadi ada ga sih, kaitan langsung antara self-love languages dengan hubungan dengan orang lain? Oh, jelas ada dong. Lima macam bahas mencintai diri sendiri di atas itu bisa diliat mana yang lebih efektif untuk kita praktikkan. Kalo emang kelima-limanya sangat efektif, ya bagus deh. Tapi paling engga nih ya, ada satu tipe yang emang klop banget buat kita jalani.

Nah, setelah menemukan tipe yang sesuai dengan kita, sebaiknya dikomunikasikan dengan pasangan. “Yang, keknya tiap hari Minggu mau meditasi deh.” Ato, “Babe, tiap hari Rabu aku mau konsultasi treatment skincare.” Ato, “Khusus hari Sabtu aku mau kursus masak ya.” Apa manfaatnya mengkomunikasikan ini ke orang lain? Toh, yang ngerasain juga diri kita sendiri, kan artinya orang lain ga perlu tahu, ya ga? Ga gitu juga sih. Ketika ada dalam sebuah hubungan, artinya kita harus menimbang posisi orang lain. Ketika seseorang ga paham bahwa pasangannya sedang me-time-an, akan timbul gesekan. Dari korslet-korslet kecil nanti jadi salah paham yang kemudian akan meledak jadi konflik. Sebagai pasangan yang sudah diinformasikan mengenai self-love language partnernya, kita juga kudu menghargai hak dia untuk mencintai dirinya sendiri juga. Jangan dibates-batesin, dilarang-larang. Toh juga kebahagiaan yang dia rasakan dengan dirinya sendiri akan berdampak positif terhadap kebahagiaan hubungan juga.

Kebahagiaan anak juga akan lebih improved—buat yang udah punya momongan—karena harmonisasi antara kedua orang tuanya lebih terjaga. Ga ada salah paham. Level stres lebih terkelola dengan baik. Orang tua yang bahagia dengan dirinya sendiri, bahagia dengan hubungan bersama pasangan, dan bahagia secara umum akan membuat keadaan rumah jauh lebih ceria dan si anak bisa tumbuh dan berkembang dengan lebih sempurna.

Apa ini berarti self-love languages cuma cocok diterapin untuk mereka-mereka yang udah berpasangan dan memiliki anak? Apa single ladies and gents out there ga bisa mempraktikkan ini? Oh, sudah pasti status seseorang ga relevan di masalah ini. Siapapun bisa mempraktikkan bahasa cinta pada diri sendiri terlepas dari status percintaannya. Justru mungkin mereka-mereka yang single malah butuh mempraktikkan ini lebih banyak. Bahkan, pola ini ga cuma aplikatif di masalah percintaan loh. Dalam hubungan pertemanan, pekerjaan, dan relasi dengan orang tua pun penting supaya bisa meminimalisasi konflik, meningkatkan rasa percaya (pada diri sendiri dan satu sama lain), dan membuat hubungan lebih intim dan hangat.

Nah, Teman DRYD, semoga kita bisa belajar banyak tentang bagaimana mencintai dan menerima diri sendiri yaaa. Mencintai orang lain dengan sepenuh hati itu dimulai dengan mencintai diri sendiri dulu. Ini mungkin kalimat yang Teman-teman udah sering denger, sampe eneg juga mungkin. Tapi ini juga kalimat yang sekaligus sangat powerful dan mujarab untuk mengubah cara pandang kita, baik terhadap dunia umumnya dan terhadap diri sendiri khususnya.

Yuk, sharing pengalaman kalian dalam mempraktikkan self-love di kolom komentar. Ato kalo mau nanya-nanya juga boleh. Ditunggu yaaa.

Skincare untuk Pria: Yay or Nay?

Haaalooo Teman DRYD,

Oke, bahas skincare pria sekarang ya.

Ada yang mikir, “Ih, cowo mah ga kudu rempong mikirin kulit”?

Kalo ada, jangan mikir gitu lagi yaaa. Kebutuhan perawatan kulit itu jaman sekarang ga lagi eksklusif urusan perempuan. Kenapa? Yang namanya kerusakan atau gangguan kulit itu ga kenal gender, jadi skincare pun udah semestinya ga bergender. Mau cowo, mau cewe, kita sekarang hidup dalam dunia modern yang datang lengkap dengan segala macam bentuk potensi gangguan kulit. Toh polusi di mana-mana. Sinar matahari jatuhnya ke mana-mana. Debu, kuman, partikel-partikel radikal bebas juga ga pandang jenis kelamin. Yang penting nemplok aja di kulit, udah deh, breakout lah, kering lah. Pola hidup juga berperan; rasa malas mengurus kebersihan dan kesehatan kulit atau cara makan yang kurang tepat bisa ada di siapapun kan?

Jadi kenapa kita harus meributkan soal skincare itu urusannya perempuan? Bahkan, jika ada seorang cowo yang rajin perawatan kulit sekalipun kulitnya bersih dan sehat, ya gapapa juga kan? Estetika itu harusnya bisa dinikmati semua orang tanpa perlu dibahas jenis kelaminnya. Justru yang perlu diliat itu malah, “Oh, itu cowo keren banget caranya ngurus kulit. Contek ah jurus-jurusnya.” Intinya, kenapa ga kita kulik tips dan trik dari seseorang soal handle estetikanya daripada ngeributin jenis kelaminnya?

Di dalam hierarki maslow sendiri pun kebutuhan estetis itu udah jadi kebutuhan mendasar, integral dalam kehidupan seseorang. Bentuknya emang bisa macam-macam, tapi estetika juga meliputi penampilan yang prima, toh? Nah, ga ada larangan buat cowo-cowo memberikan kepedulian lebih terhadap penampilannya dia sendiri, sama seperti para cewe-cewe ngasi perhatian maksimal terhadap kesempurnaan kulitnya juga.

P.S. Buat Teman-teman yang belum tau apa itu Maslow’s Hierarchy of Needs dan kenapa penting buat memahami teorinya, nah, pe-er buat Teman-teman yaaa. Coba gugling-gugling deh, pasti banyak referensi.

Maslow’s hierarchy of needs, a scalable vector illustration on white background

 

“Apa hubungannya, Dok, estetika sama kebutuhan mendasar? Kan, tanpa keliatan estetis pun kita masih bisa idup kan, Dok, asal bisa makan, punya tempat tinggal, gitu-gitu?”

Oh, ya jelas. Kebutuhan pangan, sandang, dan papan itu emang mutlak. Tapi itu jenis kebutuhan biologis dan fisiologis ya. Kaitannya sama kebutuhan jasmani. Sekarang, emang kebutuhan rohani ga perlu diperhatikan? Perlu kan? Di sini peran penting estetika bisa diliat. Dengan tampil lebih baik (kulit bersih—ga perlu putih, ya—dan sehat) maka rasa percaya diri bakal dapet boost gede-gedean. Ketika rasa percaya diri meningkat, produktivitas pun maksimal. Bos seneng dengan performance, dapet bonus ato promosi. Hidup lebih bahagia. Psikis lebih sehat.

Nah, bisa menjalar ke mana-mana hanya dengan merawat kulit.

Coba kalo sebaliknya: Kulit kusam, ada rasa-rasa curiga diomongin orang, rasa percaya diri drop, fokus kebagi-bagi, performance pekerjaan otomatis jadi ga maksimal, bos ngamuk, boro-boro dapet bonus ato promosi, stres, kehidupan di rumah kena dampak, dan psikis jadi labil. Dan kalo psikologisnya udah kena, tinggal tunggu waktu sebelum fisik juga terpengaruh.

Iya, okelah kalo ini kejauhan nyambung-nyambunginnya. Iya, okelah kalo ini dianggap cocoklogi. Oke. Tapi masuk akal, ga? Ini semua proses loh ya, ga instan mulai dari kulit kusam langsung jadi masalaha psikis. Tapi ini adalah rentetan kejadian, rantai panjang sebab dan efek. Kita perlu waspada sejak dini supaya hal terburuk ga sampe kejadian, gitu. Masa baru ngeh pas semuanya udah kadung rusak?

Perbedaan Kulit

Kebutuhan boleh sama rata, tapi ga berarti kulit cowo itu sama persis sama kulit cewe ya. Ada perbedaan mendasar secara struktur dan dalam aspek-aspek fisiologis masing-masing gender.

  1. Kulit cowo 25% lebih tebel dari kulit cewe. Seiring pertambahan usia, kulit pria menipis sementara kulit perempuan ketebalannya relatif konstan hingga usia 40an. Baru setelah memasuki fase menopause, kulit perempuan menipis secara signifikan.
  2. Kulit pria punya lebih banyak kandungan kolagen daripada kulit perempuan. Karena perbedaan kandungan alami kolagen ini, makanya perempuan lebih umum mengalami penuaan lebih awal sekalipun mungkin usianya sama.
  3. Pori-pori kulit pria lebih besar dan produksi sebumnya lebih tinggi. Kulit pria lebih rentan terkena jerawat, pori-pori tersumbat, komedo, dan seborrheic dermatitis karena faktor ini. Produksi sebum di kulit pria juga relatif konstan dan tidak mengalami penurunan seiring usia.
  4. Lapisan stratum corneum di kulit pria lebih tebal dan karena itu kulit pria umumnya lebih tough dan lebih kasar. Karena faktor ini juga ada perbedaan pembentukan kerutan antara kulit pria dan wanita; pria lebih rentan mengalami kerutan wajah yang lebih dalam.
  5. Karena rambut wajah pria lebih banyak, kebutuhan bercukur juga lebih relevan pada kulit pria. Tapi ini juga berpotensi menyebabkan kulit pria jadi lebih sensitif yang mudah teriritasi dan rangkaian risiko lain seperti luka iris, folliculitis, dan ingrown hairs. Rutinitas bercukur pun membuat kulit wajah pria lebih mudah terpapar faktor-faktor eksternal karena ketika bercukur, lapisan sel kulit mati mikroskopis pada permukaan kulit ikut terbuang, yang menyebabkan penurunan fungsi perlindungan dari kulit itu sendiri.

Nah, dengan semua perbedaan dan risiko yang ada, cowo-cowo masih males ngurus kulit? Ini juga nih yang perlu dilurusin pola pikirnya. Jangan lagi pada mikir, “Ah, gue cowo, masa ribet sama kulit?” Ato, “Cowo tuh kudunya emang keliatan rough. Ga usah repot ngrawat-rawat segala.”

Jangan ya, kasian kulitnya ga dijaga. Cewe-cewe juga males kali, punya pasangan yang kulitnya kusam. Masa udah cape-cape benerin kulit, segala krim, treatment dijalanin, eh, pasangannya kek ga pedulian sama dirinya sendiri. Ga usah berlebihan juga dalam merawat kulit nih, para cowo-cowo. Yang standar-standar aja pun asal dilakuin konsisten dan reguler cukup kok buat ngejaga kualitas prima kulit kita. Kecualiii, kecuali nih, ya, emang ada gangguan nyata di kulitnya. Bolehlah treatment supaya masalahnya bisa pergi selamanya. Tapi itu pun dengan catatan dijalankan dengan konsisten dan patuh sama omongan dokter yaaa.

Urutan Skincare untuk Pria

Jadi apa aja nih, step dasar skincare untuk pria buat dilakuin? Yuk kita pantau.

  1. Mencuci muka

Mau urutan perawatan kulit buat cewe mau buat cowo, semuanya berawal di sini. Tapi, karena kebutuhan kulitnya beda, jenis sabun cuci mukanya juga beda. Tipikal kulit pria itu kan, berminyak dan berjerawat ya. Jadi, lebih baik pilih sabun muka yang bisa meng-cover kebutuhan yang relevan seperti mengangkat kotoran dan partikel debu serta bisa mengurangi produksi minyak berlebih. Untuk yang kulitnya berminyak, coba pake sabun muka dengan kandungan scrub supaya kotoran bisa diangkat sampai ke pori-pori. Rutin ya, cuci mukanya, dua kali sehari aja, terutama waktu mau tidur.

  1. Menggunakan toner

Mencuci muka itu kegiatan yang sejujurnya terlalu berat buat muka karena potensi kering jadi naik setelahnya. Ini gunanya toner. Setelah mencuci muka, pengaplikasian toner akan membantu menyegarkan kulit dan mengembalikan pH kulit. Tambahan lagi, toner juga bisa menghilangkan sel kulit mati yang mungkin ga keangkat pas cuci muka. Cara pakenya, cukup ambil kapas, tuang toner ke kapas, trus totol-totolin deh pelan-pelan ke muka merata.

  1. Serum

Tahap ini opsional yaaa, lebih ke liat kebutuhan sama kondisi kulit. Serum sama pelembap itu fungsinya kurang lebih sama, cuma beda kepadatan tekstur aja. Serum juga lebih gampang diserap kulit, makanya penggunaan serum dianjurkan ketika kulit kita emang lagi ngalamin permasalahan kayak jerawat atau ada tanda-tanda penuaan.

  1. Pelembap

Jangan sepelekan moisturizer, guys! Pelembap bisa ngejaga kulit supaya tetap terhidrasi dan ngontrol kadar minyak di kulit. Jadi, kulit berminyak jangan terlalu banyak dikasi pelembap dan pilih yang teksturnya ringan. Kulit kering sebaliknya, pake pelembap pagi dan malam. Coba juga sambil dipijat-pijat mukanya supaya melancarkan sirkulasi darah.

  1. Tabir surya

Tahapan ini haram dilewatin kalo kita punya rutinitas outdoor dengan intensitas tinggi. Kulit yang terpapar sinar matahari tanpa perlindungan akan berujung pada kerusakan kulit dan, yang paling bahaya, kanker kulit. Gunakan at least 15 menit sebelum memulai aktivitas outdoor, setelah pelembap, dan pastikan memilih produk dengan SPF yang tinggi untuk mengurangi frekuensi pengaplikasian ulang.

  1. Masker

Ini nih, yang kadang suka bikin ilfil kan? “Cowo kok maskeran.” Sering banget pasti dapet celetukan kayak gitu kan, cowo-cowo? Sekarang, mulai deh bodo amatan sama komen-komen begitu. Masker itu penting sekalipun sifatnya jauh lebih opsional daripada serum. Kenapa penting? Masker bisa merangsang regenerasi sel kulit dan meremajakan kulit. Emang lebih repot sih, harus nunggu beberapa menit sebelum boleh dibersihkan setelah digunakan. Tapi kan makenya cuma sekali seminggu. Di malam hari pula. Pake rata di muka, tunggu meresap sambil mungkin ngegame, udah deh dicuci. Sekalian me-time-an laaah. Pilih masker yang sesuai dengan jenis kulit dan kebutuhan yaaa.

  1. Krim cukur

Balik lagi, karena kebutuhan bercukur itu tinggi, kita kudu jeli juga milih produk yang relevan. Kalo bisa, cari produk yang mengandung pelembap; jadi kita ga cuma bisa bercukur lebih mudah tapi kulit juga tetap lembut setelahnya.

Ribet? Bikin males? Bisa dimengerti tapi ga juga kok. Cuma perlu pembiasaan dan itu kuncinya adalah konsistensi. Setelah beberapa kali ngejalanin, pasti deh nanti bakal ngerasa ada yang ilang kalo ga dilakuin.

Poin-poin Penting

Jadi apa hikmah (cieee, hikmah…) dari obrolan kali ini?

Pertama, skincare untuk laki laki itu sama validnya dengan skincare untuk perempuan. Ga ada yang lebih pantes, ga ada eksklusif-eksklusifan. Mau cewe, mau cowo, pake deh tu skincare kalo mau tampil segar, sehat, awet muda, dan percaya diri.

Kedua, cewe-cewe maunya pasangan yang keliatan seprima dirinya. Imbangi penampilan pasangan kita dengan rajin menggunakan perawatan kulit yang sesuai. Biar ga keliatan jomplang. Mbak-nya keliatan wah, mas-nya keliatan hah. Pada pajam sama yang namanya couple goals, kaaan. Nah, goals kaya gini tuh dinilai juga dari keseimbangan penampilan fisik kedua pihak. Kalo rasio penampilannya udah setimbang, kemesraan dengan pasangan bakal bikin iri siapapun yang liat nanti.

Ketiga, insecurity kita para cowo-cowo bisa diminimalisasi kalo ga sama sekali dibuang. Insecurity tuh, awalnya simpel kok: Kita ngerasa ga pe-de. Abis itu, mulai deh membandingkan diri dengan orang lain. Diri sendiri ga nyaman. Pasangan ikut ga nyaman sama ke-ga nyaman-an kita. Sering curiga. Ujung-ujungnya sering berantem.

Keempat, cowo-cowo jangan males. Kita peduli sama kualitas kulit ga berarti maskulinitas kita menurun. Inget ya, skincare itu ga berjenis kelamin, jadi kenapa kita malah terbebani dengan sesuatu yang ga seharusnya kita pikirkan? Nambah-nambah stres aja. Kulit makin kusam loh, gegara sering stres doang.

Fasilitas Snooze Lounge dan Early Check-in di Changi

Hai-hai Teman DRYD,

Buat yang belum tau, ada yang menarik nih, di bandaranya singapore. Buat yang sering banget ketinggalan jadwal keberangkatan pesawat, sekarang bisa menarik napas lega karena di Changi ada dua fasilitas yang nguntungiiin banget: ruang tunggu untuk tidur dan check-in awal.

Apa menariknya, Dok, cuma gitu doang?

Kalo pas penerbangan internasional dan pas layover-nya di Singapura, pastinya dong bakal disuruh nunggu kedatangan pesawat berikutnya. Naaah, masa nunggunya ini kadang bisa sampe berjam-jam kan. Biasanya pada ngapain? Pasti nyari hotel transit gitu kan. Lumayan dapet tidur beberapa jam daripada ngarepin tidur di pesawat yang kemungkinan besar bakal ada banyak gangguan. Yang jadi risiko tuh kalo bobonya keenakan terus bablas. Pesawat udah kadung terbang, kitanya juga ikutan terbang ke alam mimpi. Bangun-bangun, liat jam, baru deh jejeritan. Iya sih, bisa setel alarm. Tapi kan juga kudu pertimbangin waktu juga. Belum siap-siap lagi. Belum pesen taksi. Belum kalo jalanan macet. Belum perjalanan dari drop point ke terminal. Setiap detik berharga banget. Kalo ternyata ketinggalan pesawat kan kesel. Booking tiket lagi. Nunggu lagi. Duit lagi.

Fasilitas snooze lounge yang disediakan Changi bener-bener jadi penyelamat dah. Kita bisa santai nunggu keberangkatan tanpa harus keluar area bandara. Tinggal duduk, bobo cantik bentar, bangun-bangun udah tinggal guling-guling aja nyampe ke gerbang keberangkatan. Tapi tetep, alarm kudu siaga soalnya walopun dikasi fasilitas buat bobo kilat, ga disediain staf khusus buat bangunin kita. Di Changi ini ada beberapa lounges yang disebar di berbagai terminal bandara jadi kita bisa nyesuain juga.

Nah, kalo fasilitas early check-in ini guna banget buat yang udah kudu cabut dari hotel tapi jam keberangkatannya masih lama. Di Changi, check-in awal dilayani mulai dari 24 jam sebelum waktu keberangkatan. Tinggal dateng ke bandara, serahin barang-barang ke petugas, nikmatin detik-detik terakhir di Singapura, terus nanti tinggal masuk aja lewat gerbang keberangkatan abis ngasi liat boarding pass kita. Trus, mau ngapain aja setelah check-in? Wah, banyak. Bisa keluar dari airport beneran trus pergi ke Orchard buar blanja-blanji. Bisa ke Jewel Changi buat sekadar nongkrong. Intinya mah, ini fasilitas yang keren banget soalnya dia ngasi kita kebebasan buat nikmatin segala akomodasi yang disediakan Changi, yang tarafnya udah diakui di mata dunia. Taaapi, ga semua maskapai yang ngasi layanan ini ya. Coba buka www.changiairport.com/checkinearly.html buat nyari tau maskapai mana aja yang menerima check-in awal.

Meng-combine kedua layanan ini bakal banget ngasi kita keleluasaan di saat-saat terakhir kita berada di singapore changi airport. Next time kalo mampir Changi, cobain ya, jangan lupa. Buat saya sih, kedua fasilitas ini ­bener-bener ngebantu banget, so they’re definitely a must-try for me.

Free Trial Classes untuk Anak? Tabukah?

Hai Teman DRYD,

Kapan itu kita kan udah ngomongin gaya parenting 3 negara maju di Eropa kan ya. Dari pembahasan tempo hari itu, kesimpulannya bisa diambil kalo di ketiga model pola asuh di ketiga negara itu sama-sama menekankan free will, kemandirian, dan peningkatan kemampuan emosional anak-anak. Anak-anak di Denmark, Perancis, dan Jerman udah dikenalin sejak dini ke konsep-konsep menghargai diri sendiri, kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri dan menghadapi konsekuensi, kemauan untuk berdiri di kaki sendiri dan mencari solusi untuk sebuah masalah, dan menghargai orang lain serta norma-norma kesopanan. Hal-hal seperti ini juga bisa nih, ternyata, diobservasi dari cara orang-orang tua di negara maju dalam membiarkan anak-anak mereka memilih pendidikan yang mereka inginkan. Pastinya dong, peran orang tua masih tetap ada. Tapi itu lebih kepada pemberian pengarahan. Jadi para orang tua mengambil posisi sebagai sumber saran dan masukan aja. Selebihnya si anak dibiarkan menikmati sebesar mungkin kesempatan untuk mencoba segala macam opportunities yang ada dan tersedia.

Ini sedikit kontras dengan apa yang ada di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Pola pengasuhan di negara kita masih bercorak involved 100%. Si anak bukan lagi diarahkan atau diberi masukan. Mereka jadi disetir dan di-micromanage. Anak jadi ga punya ruang untuk memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan. Ga salah siiih, membantu memilihkan sesuatu untuk anak. Toh juga namanya anak-anak kan masih milih berdasar kesukaan, excitement, dan fun. Sementara di lain pihak kita orang tua mikirnya udah jauh perkara masa depan. Tapi kalo pola manajemen hidup anak kita dasarkan pada agenda pribadi, gimana dong? Kan jadinya kita ngegedein anak buat jadi versi kecil-nya diri kita sendiri. Si anak juga kan individu merdeka yang kemauannya mungkin berbeda jauh dari orang tuanya. Kalo kita maksain agenda-agenda tertentu, jangan heran nanti kalo ternyata hidup yang dia jalanin adalah sebuah penyiksaan ketimbang petualangan. Jangan heran nanti kalo kuliahnya lamaaa banget ato bahkan ga selesai. Jangan heran kalo nanti dia serba kesel sama kita dan hubungan kita jadi ga harmonis dengan dia.

Orang tua membantu anak menentukan pilihan hidup itu kewajiban. Sayangnya, banyak yang gagal membedakan “membantu” dan “mengendalikan”. Kita mau punya anak, berarti kita juga harus mau menerima kenyataan bahwa kita sedang membesarkan seorang manusia yang datang lengkap dengan free will, interes, pola pikir, dan hasratnya sendiri. Kita ga lagi ngegedein versi mini dari kita, bukan kloning kita. Tugas kita cuma memastikan si anak bertumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang aman, nyaman, kondusif, dan positif. Selebihnya kita cuma perlu memfasilitasi supaya si anak bisa sadar dan menemukan apa yang ia kehendaki dan kemudian realisasikan.

Cara Pandang Umum

Dengan konsep seperti yang dijabarkan di atas, yuk kita coba lirik kecenderungan orang tua kebanyakan yang sering banget nolak daftarin anaknya ke program free trial class. Kelas-kelas model begini biasanya disediakan untuk anak-anak usia TK atau playgroup dan bisa berjalan dalam 3 kali pertemuan atau bahkan 3 minggu.

Kelas – percobaan – gratis. Dari kata-kata penyusun istilah itu aja kita udah bisa nebak apa yang ngedorong orang tua ogah daftarin anaknya.

Di pikiran kita, yang namanya kelas itu adalah ruangan tempat proses belajar mengajar antara murid dan guru berlangsung kan ya. Nah, bayangannya adalah sebuah sekolah formal yang didukung oleh kurikulum formal dan valid.

Di pikiran kita, yang namanya percobaan itu temporer. Setelah masa uji kelar, udah deh ga lanjut. Signifikansi program percobaan jadinya gimana? Kan gitu mikirnya.

Di pikiran kita yang gratis-gratis itu pasti kualitas rendah karena otak kita udah kadung keprogram buat mikir kalo kualitas tinggi itu berbanding lurus dengan harga. Kalo bisa, semakin mahal berarti semakin baik.

Tanpa disadari, ketiga pola pikir ini bikin kita ngerasa ogah buat nyoba kelas-kelas gratis dari bimbel-bimbel yang ada. Dan kalo dipikir-pikir masuk akal juga sebenernya. Siapa juga yang mau anaknya duduk dalam program kelas tambahan yang temporer dan diberikan secara cuma-cuma, kan? Tapi ngebiarin opini semacam ini berlarut-larut juga berarti kita membiarkan kesempatan buat anak bisa ngembangin potensinya lebih dini terbang gitu aja. Kenapa? Yuk kita bahas manfaat kelas percobaan itu apa aja. Kelas percobaan itu intinya mempersiapkan anak untuk periode pendidikan yang lebih serius lagi di masa depan. Kurikulum yang diberikan di kelas percobaan ga jauh beda dari sekolah formal; jadi, ini yang perlu diluruskan: Kelas percobaan itu bukan tempat penitipan anak atau sesuatu yang buang-buang waktu.

Manfaat di Segala Sisi

Tapi Dok, kan katanya di Eropa sana anak-anak ga harus nyoba belajar formal terlalu dini.”

Emang. Kan kelas percobaan itu sifatnya pengondisian dan fungsinya buat nyari tau bakat dan minat sejak dini. Kurikulum mungkin sama dengan sekolah formal, tapi aplikasinya bisa aja dikemas dengan cara berbeda, kan? Lagian kan ini modelnya suplemental gitu, jadi anak ga kaget dengan pola akademis sebetulnya nanti. Paling engga, dengan mendaftarkan anak ke kelas percobaan, kita bisa tau kemampuan interaksi sosial dasarnya kek gimana. Karena, coba deh, bayangin, hal terberat buat anak-anak ketika pertama kali masuk sekolah itu pasti membangun relasi dengan teman-teman sekelas dan guru. Dia harus keluar dari zona nyaman di rumah, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan di saat yang sama harus menyerap materi ajar di papan tulis. Dengan kelas percobaan, paling tidak si anak udah dilatih buat berada di antara orang-orang yang bukan komponen keluarganya.

Dan karena kurikulum yang diterapin ga jauh beda dari sekolah formal, kita tau kalo kualitasnya juga ga main-main sekalipun programnya cuma-cuma. Program kelas percobaan ini dikasi gratis juga kan karena menguntungkan si bimbel, guys. Mereka toh butuh anak didik supaya bisnis bisa jalan toh? Nah, harapannya itu program kelas percobaan gratis ini tuh, bisa jadi media promosi dan pengenalan jasa pada calon-calon klien. Ditambah lagi nih ya, program percobaan kaya gini nih, bisa banget ngebantu bimbel buat mengevaluasi kemampuan anak mengikuti kurikulum yang tersedia jadi nantinya penempatan level belajarnya bisa efisien dan efektif. Kalo kita asal daftarin anak ke bimbel langsung masuk ke level intermediate, misalnya, sementara si anak bahkan belum memiliki penguasaan materi dasar, ya kan jadi masalah lagi nantinya.

Dari sisi anak juga lebih besar manfaatnya.

Pertama, bimbel bisa memperkenalkan kurikulum pada orang tua dan anak dan kita bisa mempelajari apakah program terkait memang benar sesuai dengan kemampuan si anak dan minatnya. Kita bisa liat nih, misalnya, “Oh, anak saya agak lemah di bidang matematika tapi ternyata bimbel ini fokusnya ke pengasahan kemampuan berhitung.” Nah, kita bisa ambil strategi yang mungkin relevan. Entah mungkin bisa meneruskan program dan mendaftarkan anak secara resmi ke bimbelnya. Atau mungkin berpikir biar nanti sekolah formal yang meng-handle sisi kelemahan si anak jadi sekarang cabut dulu dari bimbelnya dan cari program lain yang mendukung minat anak.

Kedua, seperti yang udah sempet disinggung tadi, mendaftar ke program kelas percobaan tuh, bisa membantu anak beradaptasi dengan lingkungan sosial-akademis dengan lebih natural. Anak bisa terbiasa menghabiskan beberapa jam ga bareng orang tuanya di rumah aja jadi nanti pas beneran masuk sekolah, dianya ga kaget dan harus beradaptasi dengan berbagai macam perubahan di saat yang sama. Ga semua anak loh, punya kemampuan adaptasi yang fleksibel. Ada yang mungkin karena ga sanggung mengimbangi perubahan yang datang secara sekaligus malah terganggu proses belajarnya.

Ketiga, anak bisa belajar tentang kedisiplinan lebih awal. Mungkin program kelas percobaan ga sama persis dengan sekolah. Tapi pasti ada serentetan aturan yang kemudian diimplementasikan kepada para peserta belajar. Karena udah dibekali dengan pengalaman berurusan dengan jadwal dan urutan kegiatan, anak bisa lebih udah mengikuti aturan sekolah yang pastinya lebih strict dan di rumah pun bisa mempraktikkan apa yang sudah dia dapatkan.

Dari sisi orang tua juga ada hal yang bisa didapatkan. Karena sifatnya gratis, orang tua bisa leluasa memutuskan untuk tidak menggunakan jasa satu bimbel tanpa ada konsekuensi finansial apapun. Tentunya ini semua setelah melakukan observasi terhadap respons si buah hati terhadap program yang ada ya. Selanjutnya, orang tua juga bisa memberikan masukan kepada pihak penyelenggara setelah masa percobaannya selesai. Kritik dan poin-poin evaluasi bisa dilancarkan agar program kelas percobaan yang disediakan pihak bimbel bisa mengoreksi diri.

Yang Perlu Dipersiapkan

Kita sebagai orang tua ga boleh gede gengsi cuma karena fasilitas yang dikasi itu gratis. Kalo ada di antara Teman DRYD yang punya pola pikir “mahal pasti bagus”, coba deh ilangin. Jaman sekarang udah ga relevan punya pola pikir kayak gitu. Nyobain kelas gratis ga bikin prestige turun, sumpah. Lah, buktinya program kelas percobaan gratis justru banyak diadakan oleh bimbel-bimbel ternama. Sekarang, kalo bimbel terkenal dan punya nama aja mau ngasi gratisan, siapa kita nolak-nolak, kan?

Taaapiii, jangan mentang-mentang gratis, semuuua kelas percobaan dicobain. Bukannya ga boleh sih, tapi, pertama, kasian anaknya. Masa dari pagi sampe sore ngabisin waktu di luar rumah? Kan si buah hati juga perlu ada di sekitar kita selama masa pertumbuhan. Kita aja yang orang dewasa bisa bosen dengan rutinitas, apa lagi anak-anak. Terus, si anak jadi ga punya fokus. Pagi-siang, les membaca. Siang-sore, les berhitung. Sore-agak malaman, les musik. Padet banget gitu, mainnya kapan? Lebih kacau lagi kalo si anak udah masuk sekolah. Sebagian besar harinya diabisin di sekolah. Sisanya di les-lesan. Selain ga efisien dan terlalu menyedot energi, kita ga bisa liat ini anak potensinya di bidang apa. Si anak pun keteteran meng-handle semuanya tanpa sempat mengasah satu keahlian yang dia emang punya ketertarikan.

Nah, kalo udah dapet satu program yang dinilai cocok sama anak, apa nih yang kudu dilakuin?

Pertama, pelajari dengan mendetail kurikulum yang tersedia, sarana dan prasarana, dan aturan yang ada di satu lembaga itu. Lingkungannya harus aman, harus nyaman, harus bersahabat dengan anak-anak. Staf-staf dan pengajar harus orang yang paham berkomunikasi dengan anak-anak. Kurikulumnya harus sejalan dengan target minat dan fokus anak. Pokoknya semuanya harus serba kondusif demi anak.

Kedua, kita kudu proaktif tanya ini-itu ke semua elemen di bimbel itu, gurukah, stafnya-kah. Semuanya. Bodo amat dikira ceriwis dan nyinyir. Gratis ato engga, kita sebagai orang tua punya hak sepenuhnya buat tau seluk-beluk tentang bimbel penyelenggara. Dan kalo pihak penyelenggaranya fair dan paham aturan main, pastinya ga keberatan ngasi jawaban untuk semua pertanyaan kita.

Ketiga, balik lagi ke fokus si anak. Pertimbangkan tiga hal dari anak: potensi, minat, dan kemampuan. Setelah itu, bandingkan dengan rancangan kurikulum bimbel, apakah sudah tepat dan mampu menyokong ketiga poin itu?

Keempat, pahami kategori program belajar yang akan diambil. Ada lembaga pendidikan yang menyediakan program-program belajar akademis, ada juga yang bidangnya berat ke segi seni. Bisa nih, kita pertimbangin buat daftarin anak ke kumon kalo emang potensinya gede di bidang akademis. Kalo si anak nunjukin minat besar ke dunia seni, kelas mewarnai atau menggambar atau mungkin balet bisa dijadikan alternatif. Anak-anak belajar robotika juga ga tabu loh. Malah bisa mengasah rasa ingin tahu si anak bahkan, bagus buat tumbuh-kembang intelijensinya nanti.

Minimalisasi Intervensi

Jadi gitu. Kita sebagai orang tua harus banget ngebiarin anak memilih sendiri bidang minat dan fokusnya. Kita ga perlu intervensi, toh juga kelas-kelas percobaannya masih gratis. Ga ada konsekuensi apapun kok, kecuali mungkin kita kudu ngorbanin sedikit waktu buat ngajak anak keluar dari rumah. Gapapa, kan manfaatnya juga dobel-dobel. Jangan intervensi apa-apa ya. Anak maunya apa, kita turutin dulu soal ini. Oh, mau belajar ngitung cepet? Yuk! Oh, mau belajar nari muter-muter pake rok tutu? Yuk! Oh, mau belajar bikin robot? Yuk! Anak-anak biasanya fokusnya ilang secepet minatnya berubah kok. Biarin aja dulu dia sadar dan menemukan apa yang menjadi passion-nya. Intinya mah, yang penting dia bisa kenal dunia pendidikan dari awal, belajar disiplin lebih dini, bisa paham arti kemandirian sejak kecil, dan mengenal konsep free will secara fundamental.

Memilih Meditasi Untuk Memelihara Kesehatan Jiwa

Hai Teman DRYD,

Udah nyempetin me-time-an belom minggu ini? Mungkin pada heran kali ya, kenapa si DRYD selaaalu aja nyelipin me time di setiap kesempatan. Hahahah! Me-time itu bukan sekadar jargon doang loh ya. Saya selalu ngomongin soal ini setiap kali ada celah karena emang penting banget buat kita menyediakan dikit aja waktu buat diabisin bersama diri sendiri.

Pentingnya apa, gitu Dok?

Nih ya, kalo kita ga ngasi jeda di antara kesibukan pekerjaan dan interaksi sosial hari-hari, nanti kita bisa stres. Mending berenti di stres, kalo sampe depresi? Kan gawat. Kita kadang perlu juga ngerasain napas yang kita tarik dan lepaskan, suara degup jantung sendiri, menghirup udara tanpa berbagi dengan orang lain, nonton TV ato bioskop tanpa harus tunggu-tungguan dengan orang lain, masak sesuka hati, exercise demi kebugaran pribadi tanpa harus peduli standar sosial, jalan-jalan sendirian keliling kota dari pagi saaampe pagi lagi. Semua hal bisa dijadikan momen me-time, sebenernya. Syaratnya cuma satu: Apapun yang dilakukan harus dijalani demi kesenangan pribadi. Ini adalah kesempatan buat kita bisa egoistis dikit, hehehe. Ga usah peduliin hal lain, masih banyak waktu buat itu nanti setelah kelar menyenangkan diri pribadi. Kalo kita terus-terusan hidup berdasar standar orang lain, terus-terusan sharing space dengan orang lain, terus-terusan mikirin posisi kita di antara orang lain, waktu dan tenaga kita kesedot buat itu semua. Lah, kalo setiap saat kaya gitu, kan akhirnya jadi beban buat diri sendiri. Ujung-ujungnya kita tertekan. Naaah, me-time inilah kesempatan kita buat jadi diri sendiri, menikmati segala hal yang kita ga sempat alami di hari-hari biasanya dan melepaskan diri dari segala macam tuntutan baik profesional, sosial, mental, maupun fisikal.

Salah satu bentuk me-time yang bisa dipilih adalah meditasi. Pasti udah sering denger istilah ini dong ya. Asosiasinya pasti langsung ke sikap duduk tegak yang rileks, pikiran yang dikosongkan, dan pernapasan yang teratur. Tapi tau ga sih, Teman DRYD, meditasi ternyata ga sesederhana itu. Banyak yang nyoba buat meditasi tapi ga sedikit yang gagal. Penasaran ga sih, sama cara meditasi yang benar? Sebelum masuk ke bagian ini, mungkin kita lebih baik memulai dengan memahami manfaat dari kegiatan ini dulu ya.

Meditasi itu ternyata bagian dari self-love languages, yaitu cara-cara yang bisa kita gunakan untuk mengungkapkan rasa cinta terhadap diri kita sendiri, gitu. Kebanyakan dari kita tuh, fasih banget kalo udah soal mencintai orang lain tapi hampir selalu gagal dalam hal mencintai diri sendiri. Nah, “bahasa cinta untuk diri sendiri” di sini adalah penjabaran bagaimana kita bisa mulai mencintai diri kita terlebih dahulu. Meditasi adalah bentuk cara menghabiskan quality time bersama diri sendiri. Pada praktiknya, meditasi melibatkan serangkaian ritual yang kesemuanya ditujukan supaya kita bisa melepaskan pikiran dari segala hal yang menyedot terlalu banyak fokus, memberatkan, dan membuat cemas dalam kehidupan. Mau definisi yang lebih baku lagi? Meditasi bisa dikatakan adalah sebuah proses mental yang berlangsung dalam durasi tertentu yang ditujukan untuk menelaah suatu objek, menarik kesimpulan dari proses penelaahan itu, dan berujung pada proses penyusunan strategi untuk memahami, mengambil tindakan, dan menyelesaikan segala persoalan yang berkenaan dengan diri pribadi, kehidupan, dan tingkah-laku.

Bermeditasi bisa membantu Teman DRYD semua untuk melepaskan diri dari segala bentuk penderitaan yang bermula dari pemikiran pribadi, baik yang sifatnya baik maupun yang buruk. Kenapa sebaiknya melepaskan diri dari pola pikir seperti ini? Karena sifatnya saaangat subjektif. Aktivitas berpikir dan menilai sesuatu adalah sifat dasar manusia dan merupakan sebuah proses berkepanjangan yang seolah tanpa akhir. Membiarkan diri terjebak dalam siklus ini sama aja dengan mengundang penderitaan personal, yang pada akhirnya akan berbuah beban mental. Meditasi mengajarkan kita bahwa ada kalanya kita butuh untuk membebaskan diri dari segala macam bentuk aktivitas berpikir untuk meraih tingkat kesadaran yang lebih objektif, lepas dari semua bias dan subjektivitas.

Meditasi dan Manfaatnya

Tadi udah dibahas tentang tujuan meditasi. Nah, tujuannya ini yang berkaitan erat dengan manfaat aktivitas tersebut. Dengan menenangkan pikiran dan melepaskan diri dari beban-beban mental yang memberatkan hidup, jiwa jadi lebih sehat. Lebih segar dan lebih tajam dalam memandang sesuatu.

“Apa manfaatnya cuma perkara ketenangan jiwa, Dok?

Engga juga. Tapi itu kita bahas ntaran dulu. Ada yang lebih penting buat dibicarakan sekarang.

Banyak orang dengan lugunya menyamakan meditasi dengan melamun. Ini penyamaan yang saaangat amat salah. Melamun itu kegiatan yang pasif dan karena dia pasif, ga ada kontrol dalam bentuk apapun. Ga ada durasi, ga ada teknik pernapasan, ga ada aturan sikap tubuh. Jadi jangan abis bengong trus mikir, “Wah udah meditasi nih gue, lumayan dapet 5 menit.” Kaga begitu juga, sayangkuuu. Meditasi itu tindakan aktif. Kita sadar ketika memutuskan untuk bermeditasi dan kita paham apa yang kita lakukan. Jangan menganggap meditasi sebuah aktivitas yang sia-sia dan membuang waktu.

Nah, sekarang balik ke manfaat fisikal dari meditasi, yuk!

Meditasi dikenal dalam dunia fisiologi sebagai penyembuh stres yang paling baik dan paling aman. Saat stres melanda, jantung akan berdenyut lebih cepat dan tekanan darah meninggi. Pernapasan jadi ngasal, pendek-pendek dan terburu-buru. Di saat yang sama, kelenjar adrenalin bekerja ekstra keras memproduksi hormon-hormon stres. Ketika kemudian kita bermeditasi untuk mengatasi kondisi ini, akan terjadi perlambatan denyut jantung. Tekanan darah kembali normal dan pernapasan pun kembali melambat. Sementara itu, hormon kortisol, epinefrin, dan norepinefrin (biang kerok penyebab stres makin parah, huh!) perlahan-lahan mulai dikurangi produksinya. Di lain pihak, serotonin dan melatonin meningkat sekresinya dan akibatnya kita merasa lebih tenang dan rileks. Kita bisa simpulkan juga setelah memahami ini kalo memisahkan efek fisikal meditasi dari efek psikisnya itu adalah tindakan yang percuma karena keduanya berkaitan saaangat erat. Perbaikan kondisi biologis akan menghasilkan keseimbangan mental.
Dulu, manfaat meditasi itu cuma bisa disimpulkan dari klaim-klaim orang yang mempraktikkan aktivitas ini. Sekarang, riset ilmiah pun udah ngedukung fakta bahwa meditasi memiliki banyak dampak positif terhadap kesehatan mental dan fisik. Riset Universitas Wisconsin bahkan nunjukin kalo pada orang yang terbiasa bermeditasi, otaknya menghasilkan gelombang Gamma lebih banyak. Sekadar catatan, gelombang Gamma ini adalah gelombang otak yang muncul saat kita sedang seneng. Meditasi juga ampuh untuk menanggulangi berbagai macam keluhan medis lain seperti masalah adiksi, anxiety, dan juga rasa nyeri di badan.

Selain bisa membuat fungsi badan bekerja dengan lebih teratur, meditasi juga membawa dampak signifikan untuk kesehatan jiwa kita.

  1. Kita jadi lebih gampang memaafkan orang lain dan memahami individu selain diri kita sendiri.
  2. Kita juga jadi lebih fokus pada pola hidup yang jauh lebih baik. Kemampuan fokus secara umum juga menjadi lebh baik.
  3. Suka-duka, derita, kebahagiaan, kesulitan, dan tantangan juga lebih mudah untuk kita terima dan olah.
  4. Kesadaran diri meningkat secara signifikan.
  5. Emosi-emosi negatif berkurang drastis.
  6. Stres lebih mudah untuk dikelola dan perspektif kita pun jadi lebih luas untuk menelaah suatu problem.

Lebih jauh lagi, ada klaim yang menyatakan bahwa meditasi bisa juga meringankan beberapa penyakit berat seperti kanker, gangguan tidur, psoriasis, fibromyalgia, dan masalah jantung. Taaapiii, klaim-klaim ini belum memiliki bukti valid dan masih ada dalam kategori penelitian lebih lanjut.

Bentuk-bentuk Meditasi

Bentuk meditasi itu ada banyak meskipun semuanya bertujuan sama, sama-sama membantu menemukan kedamaian jiwa dan ketenangan batin. Contoh tekniknya ada Qi gong, Tai chi, meditasi transedental, dan yoga. Tapi secara garis besar teknik meditasi itu dibagi jadi 2 kelompok utama: meditasi konsentrasi dan meditasi kesadaran. Metode konsentrasi memfokuskan pada konsentrasi terhadap satu objek tertentu, bisa suara, bisa bayangan, bisa tarikan napas, bisa ucapan. Metode kesadaran memusatkan fokus pada apapun yang melintas dalam pikiran saat bermeditasi.

Metode, bentuk, dan teknik bisa beda-beda tapi semuanya punya elemen yang serupa:

  1. Pikiran fokus,
  2. Bernapas perlahan, dan
  3. Sikap tubuh yang rileks.

Tips Sederhana untuk Meditasi

Karena sifatnya personal, aktivitas bermeditasi itu bukan sesuatu yang bisa diajarkan oleh orang lain. kita sendiri nih yang kudu ngalamin supaya tau apa yang efektif untuk membantu diri sendiri dalam bermeditasi. Lebih ke trial and error, gitu. Emang sih, ada banyak buku yang isinya membahas meditasi dan cara-caranya. Banyak juga seminar-seminar gitu, yang niatnya ngasi bimbingan buat orang-orang yang berminat menjadikan meditasi sebagai bagian dari pola hidup mereka. Tapi semuanya ujung-ujungnya cuma berakhir menjadi sebatas semacam guidelines aja gitu. Karena pada praktiknya, apa yang diajarkan olehy buku dan seminar itu semua belum tentu efisien buat kita jalankan. Semua jadi serba relatif.

Tapi gapapa kan ya, share dikit tentang cara bermeditasi yang efektif. Semuanya bisa dipraktekin berdasar coba-coba aja dulu. Kalo emang ga efektif, mungkin bisa dimodifikasi jadi sesuatu yang lebih cocok buat dijalanin.

Pertama-tama dan yang paling utama, tentukan waktu yang tepat lebih dulu. Inget ya, meditasi itu butuh konsentrasi penuh jadi coba cari waktu yang minim gangguan dan kita bisa menyendiri. Setidaknya alokasikan waktu 10 menit untuk satu kali sesi.

Terus, tarik napas dalam dengan pelan berulang kali sambil berfokus kepada setiap tarikan napas dan apa yang sedang dirasakan.

Terus, sambil menjaga irama napas, alihkan fokus kepada bagian tubuh satu demi satu dan pahami apa yang terasakan di setiap bagian badan itu.

Selama bermeditasi, usahakan tubuh selalu dalam keadaan rileks, ya.

Meditasi ga harus duduk juga. Coba bermeditasi sambil jalan kaki. Berikan fokus menyeluruh pada gerakan tungkai dan coba kendalikan gerakan berjalan supaya tetep pelan dan berirama. Meditasi sambil berjalan ini levelnya udah advanced ya, Teman DRYD. Jadi untuk soal lokasi bisa di mana aja dan kapan aja asal fokus dan konsentrasi tetap terjaga.

Coba gabungkan aktivitas bermeditasi dengan musik yang menenangkan atau gunakan aplikasi Insight Timer untuk membantu proses meditasi.

Mau tutup mata ato engga pas meditasi mah bebas, senyamannya aja. Pilih yang mungkin paling efektif dalam membantu berkonsentrasi. Tambahan lagi, kalo bisa, jangan meditasi dalam dua jam setelah makan. Proses pencernaan akan sangat mengganggu meditasi.