Bonding dengan Anak dengan Cara yang Benar

Teman DRYD,

Pasti pada familiar dengan jargon “Anak cowo deketnya ama mama, anak cewe ama papa”, kan? Ini tuh anggapan lazim di kalangan masyarakat luas dan emang pas diamati, ada kecenderungan demikian. Tapi sebenernya sejauh apa sih, anggapan ini validitasnya? Apa emang ada penyebab-penyebab khusus atau ini cuma kerangka pikir yang terbentuk berdasar landasan sosiokultural aja?

Naaah, ini nih, yang bakal kita bahas kali ini.

Kalo kita bicara tentang kedekatan antara orang tua dan anak, itu ga jauh-jauh larinya dari proses bonding. Ikatan antara orang tua dan anak terbentuk sejak dini, bahkan sudah dimulai sejak si buah hati masih ada dalam kandungan. Prosesnya sangat fundamental sifatnya dan sering banget ga bisa diobservasi secara langsung. Itu bisa disebabkan karena ada faktor familiaritas antara orang tua dan si anak, jadi semua terasa natural bahkan ketika sekalipun interaksi yang ada tidak secara sadar diarahkan pada pola pembentukan ikatan antara kedua pihak. Tapi saking fundamental proses ini, semuanya bisa berdampak pada tumbuh-kembang si buah hati sampai ke saat anak tersebut menginjak usia dewasa nanti. Mulai dari hal-hal kecil seperti cara kita berkomunikasi, berinteraksi, penggunaan kalimat dan intonasi, cara memberikan komunikasi fisik sampai ke hal-hal yang secara signifikan emang ditujukan untuk mendidik si anak seperti memberi masukan dalam hal akademis, memberi pemahaman mengenai tata krama dan sopan santun, menurunkan nilai-nilai budaya dan sosial. Semua ini adalah bentuk-bentuk bonding antara anak dan kedua orangtuanya. Seerat apa ikatan yang terbentuk pada prosesnya akan menjadi faktor penentu apakah si anak akan berkembang dengan relatif sempurna di kemudian hari.

Nah, jargon yang udah kita singgung sebelumnya akan menjadi penghambat besar dalam memberikan pengaruh positif pada anak kalo kita—sebagai orangtua—tidak mencernanya dengan saksama dan menyeluruh loh. Jangan sampai salah kaprah dan menelan jargon itu mentah-mentah tanpa dipelajari terlebih dahulu.

Pada dasarnya, anak itu paling deket sama ibunya, mau anak cowo, mau anak cewe, ketika mereka masih bayi. Ada basis kuat untuk hal ini. Di fase perkembangan sejak lahir hingga beberapa tahun setelahnya, si bayi akan sangat tergantung pada si ibu dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar, misalnya soal nutrisi. Anak bayi makannya apa? Ya air susu ibunya kan? Cuma ibu yang bisa menyediakan kebutuhan seprimer ini. Itu baru soal makan. Gimana perkara lain kayak ganti popok, mandi, ganti baju? Si ibu kan yang paling sering berperan. Emang sih, ada juga ayah yang menjalankan peran ibu, tapi persentasenya jauh lebih kecil daripada alternatif pertama—dan sifatnya pun lebih cenderung berdasarkan kasus aja.

Semakin si anak bertambah usianya, akan ada sedikit pergeseran. Maka jadilah jargon yang kita bahas di awal tadi: Anak cowo sama mamanya, anak cewe sama papanya. Apakah ini proses alami? Apakah ini bentuk adaptasi? Apa ini cuma soal kebiasaan? Yuk, kita cari tahu alasannya.

Kenapa Anak Cewe Lebih Deket ke Papanya?

Bener ga sih, anak cewe lebih deket sama papanya?

Di mata anak perempuan, figur seorang ayah adalah sosok yang bisa memberikan perlindungan untuknya dan juga lebih tegas. Ini bikin si anak cewe merasa lebih aman pas deketan sama papanya. Ini ga otomatis berarti ibu ga mampu melindungi anak cewe-nya lo ya. Cuma, anak perempuan bisa mendapatkan lebih banyak pelajaran tentang ketegasan dan ketangguhan dari ayahnya.

Faktor lain penyebab anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya adalah kecemburuan terhadap adik, terutama adik laki-laki. Kehadiran bayi baru yang belum bisa apa-apa akan menyedot fokus dan tenaga ibu. Otomatis, anak perempuan yang sudah lebih dewasa umurnya akan mencari sumber perhatian lain karena waktu ibunya sudah terpakai mengasuh sang adik. Dalam hal ini, ayahlah yang menjadi tempat mereka “melarikan diri”.

Riset oleh Jennifer Mascaro di Universitas Emory menunjukkan bahwa seorang ayah juga cenderung lebih mudah memberikan perhatian atau respons untuk anak perempuannya. Hasil riset tersebut membuktikan bahwa aktivitas otak ayah akan meningkat secara signifikan ketika melihat foto anak perempuannya ketimbang anak laki-laki. Secara tidak sadar, ini juga dapat diobservasi dari cara anak perempuan mendekati ayahnya ketika menginginkan sesuatu seperti mainan, misalnya. Si anak perempuan seolah mengerti bahwa ayahnya pasti akan memberikan respons positif terhadap keinginannya ketimbang ibu. Kecenderungan yang ada adalah seorang ibu kemungkinan besar akan mengabaikan rengekan anak perempuannya sementara seorang ayah akan segera mengabulkan permintaannya.

Kenapa Anak Cowo Lebih Deket ke Mamanya?

Anak cowo lebih mesra dengan ibunya, katanya.

Anak cowo akan memilih untuk mengadu atau lari ke ibunya ketika berbuat salah atau menangis karena sesuatu, bukan ke ayahnya. Ini bukan semata-mata soal manja loh, ya. Tapi si anak laki-laki merasa lebih bisa tenang dan diperhatikan oleh ibunya. Kecenderungan yang ada adalah seorang ayah mungkin malah akan menghakimi si anak cowo, bukannya menenangkan. Faktor segan dan takut juga ikut ambil bagian karena seorang papa biasanya punya ekspektasi yang terlalu besar untuk dipenuhi oleh si anak cowo: Laki-laki harus kuat. Padahal justru sebaliknya, kuat-tidak seorang anak tidak dipengaruhi oleh jenis kelaminnya. Anak laki-laki boleh aja kok ngerasa tidak berdaya dan membutuhkan bantuan atau dukungan. Sebaliknya, anak perempuan juga ga boleh kalah dari anak laki-laki, juga harus mandiri dan dependable. Ketegasan seorang ayah pun bisa diartikan sebagai sikap galak oleh anak laki-laki yang mungkin pada suatu waktu tertentu membutuhkan ayahnya.

Kecerdasan emosional seorang anak cowo biasanya terasah lebih baik ketika di dekat mamanya. Anak-anak cowo yang memiiki ikatan kuat dengan mamanya umumnya lebih terjauhkan dari masalah denga teman, tidak suka bertikai atau memilih cara kekerasan seperti berkelahi, tidak ikut-ikut geng sekolahan, tidak jatuh dalam pengaruh narkoba, dan terhindar dari perilaku seks bebas. Tentunya banyak faktor lain yang menentukan ini semua, tidak semata-mata hanya karena kedekatan dengan ibu. Tapi seorang ibu biasanya lebih mudah berkomunikasi dengan anak sehingga si anak laki-laki akhirnya mencontoh sifat ini untuk diterapkan di dalam hidupnya sendiri. Dengan skill komunikasi yang terlatih relatif dengan baik, anak cowo biasanya punya lebih banyak teman dan minim risiko mengalami stres.

Pola kedekatan dengan si ibu juga mempengaruhi anak laki-laki dalam hal berempati, menjauhkan diri dari bahaya, dan pengendalian emosi. Ada juga kemungkinan besar bahwa si anak akan lebih mampu menghargai perempuan.

Salahkah Pola Bonding Seperti Ini?

Ga ada yang salah, ga ada yang benar. Agak berisiko kalo kita mau membedah topik ini dari sudut pandang benar-salah. Yang sebaiknya dilakukan adalah menyudahi pola asuh dan pola didik yang terlalu berbasi gender. Jenis kelamin tidak memainkan peran dalam porsi pemberian kasih sayang dan perhatian—bahkan bukan sebuah faktor yang relevan untuk sekadar dipertimbangkan. Mau anak cowo, mau anak cewe, semua butuh kasih sayang dan apalah kita orang tua kalo bukan gudangnya kasih sayang untuk anak-anak kita, kan? Rasa kasih, rasa sayang, rasa cinta, dan perhatian itu bukan konsep berbasis gender jadi siapa kita mau menentukan anak cowo porsinya lebih sedikit dari anak cewe atau sebaliknya? Jangan pilih kasih, apalagi pilih kasih berdasar jenis kelamin si anak. Dampaknya bisa fatal dan mungkin ga bisa diperbaiki.

Jangan juga mengandalkan jargon-jargon umum tanpa mendidik diri sendiri sebagai orang tua. Siapa, aturan mana, hukum seperti apa yang menentukan anak mana deket ama ortu yang mana. Anak cewe dan ibunya bisa jadi duo maut yang sinkron di segala lini karena mereka berbagi jenis kelamin yang sama dan begitu juga anak cowo bisa jadi “partner in crime” yang koheren untuk ayahnya karena mereka bisa aja berbagi passion serupa—ini kalo emang mau bawa-bawa jenis kelamin ke perihal bonding, ya. Kalo bonding didasarkan pada jargon semata, efeknya bisa membuat anak punya jarak yang lebar dengan salah satu orang tua. Yang kita mau kan, semua anak kita bisa deket sama kita, kan? Bisa berbagi dengan kita, bisa bicara apa aja sama kita, bisa lengket dan harmonis relasinya dengan kita, kan? Iya, kan? Apa di antara Teman DRYD yang menginginkan sebaliknya? Engga, kan?

Nah, mending dari awal disadari deh. Kontrol jarak antara kita dan buah hati. Kalo dirasa interaksi antara anak cowo dan papanya kurang ato kalo anak cewe kayanya lebih sering hangout sama papanya, coba deh, mulai diliat lagi bagian mana yang harus dimodifikasi.

Semuanya harus rata. Anak cowo harus diajari empati dan cara berkomunikasi oleh ibunya sambil tetap diberikan pemahaman tentang menjadi kuat dan tegas oleh ayahnya dengan cara yang tepat. Anak cewe gimana caranya tetap menyerap nilai-nilai prinsipil dan mendapat perlindungan dari ayahnya tanpa mengecilkan peran si ibu yang bisa mewariskan ajaran tentang keperempuanan padanya. Semua harus balance.

Taaapiii, jangan juga terus lupa sama satu hal yang paaaling fundamental soal mengasuh anak: Setiap anak lahir dengan karakternya masing-masing. Ini juga yang bikin pola asuh berbasis gender dan jargon jadi ga efektif. Setiap anak adalah “special case”, pendekatannya seharusnya lebih ke berbasis individual dan sesuai porsi dan posisi. Kita sebagai orang tua harus siaga buat beradaptasi dengan karakter anak sambil tetap diarahkan. Harus fluid dan fleksibel. Harus adaptif. Harus siap dengan perubahan dan mau menerima hal-hal baru selain dari jargon atau quote tua yang belum tentu aplikatif di era modern ini.

Anak cowo atau cewe sama-sama butuh perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Delay atau Right Away: Tentukan Cara Kita Merespon Sesuatu

Hai Teman DRYD,

Bersikap terlalu sensitif dan selalu mengambil hati tentang segala hal berpotensi mengganggu hubungan interpersonal. Sayangnya, situasi seperti ini selalu terjadi berulang kali dan barangkali Teman-teman juga pernah merasa heran akan reaksi yang Teman-teman berikan terhadap suatu hal. Dan jika memang ini yang sering terjadi, maka Teman-teman sebaiknya mulai mencari tahu kenapa Teman-teman bisa sangat reaktif secara emosional.

Tanda-tanda orang yang reaktif secara emosional meliputi:

  1. Gampang sekali tersinggung bahkan karena hal paling remeh sekalipun,
  2. Reaksi yang diberikan terhadap sebuah situasi sering berlebihan,
  3. Sering merasa sangat kesal apabila sesuatu tidak berjalan sesuai rencana,
  4. Meyakini bahwa reaksi yang diberikan adalah akibat keadaan yang ada yang mengakibatkan perasaan tertekan oleh kerasnya hidup,
  5. Orang lain di sekitar merasa tidak nyaman berada di sekitar,
  6. Bersikap defensif dan penuh kemarahan ketika orang lain diduga sudah mengkritisi diri,
  7. Mudah diliputi kemurkaan dalam waktu singkat bahkan akibat provokasi paling kecil sekalipun,
  8. Merasakan ada sebuah pola dalam suatu ledakan amarah tapi tidak dapat diketahui dengan pasti,
  9. Merasa tidak berdaya disertai dengan rasa tanggung jawab yang rendah.

Mengubah kecenderungan untuk selalu reaktif secara emosional itu agak sulit sebenarnya karena melibatkan cara kita menyusun ulang bagaimana kita mempersepsikan hidup. Yang pertama harus kita tanamkan di diri adalah pemahaman bahwa kita bukanlah korban dari keadaan dan kita bisa dengan sadar menentukan cara kita merespon sesuatu, terutama jika sesuatu itu tidak sesuai dengan apa yang kita kehendaki.

Menjadi terlalu responsif secaqra emosional itu tidak baik untuk mental.

Tarik Napas Dalam-dalam

Jangan langsung bereaksi. Coba diam sebentar beberapa detik sebelum memberikan respons apa pun itu bentuknya, ya. Ketika kita merasakan bahwa sesaat lagi rasa marah kita akan meledak, tarik napas dalam-dalam dan pertimbangkan kembali apa sih yang sebetulnya terjadi. Apakah situasinya itu sendiri yang membuat kita marah atau malah semuanya cuma soal hal di balik situasi itu yang mengusik kita?

Kenali Trigger

Mengenali pemicu ledakan amarah atau sikap reaksioner emang rada ribet dan butuh banyak waktu tapi jika akhirnya berhasil, cara ini sebenernya cukup ampuh untuk mengurangi level reaktif diri kita. Dalam jangka waktu tertentu, coba kembangkan kemampuan untuk bisa “memeriksa” apa yang kita pikirkan, rasakan, dan lakukan. Jangan membiarkan diri bereaksi secara langsung tapi kenali momen ketika kita akan bereaksi atau memberikan respons dan buatlah catatan mental mengenai momen itu. Ketika sudah tenang nanti, coba deh lihat kembali reaksi yang udah kita kasi trus coba juga memahami emosi yang ada di balik reaksi tersebut yang menjadi pemicu. Ketika nanti di masa yang akan datang kita akan bereaksi atau merespon sesuatu, kita bisa mengenali dorongan tersebut apa adanya: Tidak lebih dari sekadar faktor pemicu. Untuk contoh praktis, misalnya kita punya kecenderungan untuk langsung merespon opini yang kontra dengan ide yang kita punya. Yang umum terjadi kan pastinya kita akan langsung masuk ke dalam situasi debat kusir yang ujung-ujungnya cuma akan bikin kita sakit kepala. Nah, coba hindari perdebatan, karena ini adalah faktor trigger. Dengan menghindar, memikirkan kembali inti dari apa yang menjadi sumber perdebatan, dan kemudian mengenali dorongan untuk berdebat sebagai respon semata, seharusnya kita bisa memilah kapan sebaiknya melempar opini dan memposisikan diri dalam sebuah forum.

Pikirkan dulu apa yang ada dalam kepala sebelum meyesal.

Pada praktiknya, adu argumen itu emang jauh lebih sehat ketimbang adu jotos untuk bisa menemukan jalan tengah. Tapi beradu argumen pun sejatinya punya tata cara yang baik agar bisa produktif dan efisien, bukan sekadar adu lempar pendapat dan bersitegang ga mau kalah.

Isi Ulang Tenaga Kita

Tubuh yang lemas dan kelelahan merupakan salah satu sumber utama penyebab kecenderungan respons negatif dari biasanya karena kita ga punya cukup cadangan energi. Coba susun jadwal kegiatan dalam seminggu yang bisa membantu me-recharge energi kita, bukannya malah menguras energi. Kegiatan-kegiatan yang sifatnya statis dan menenangkan bisa menjadi alternatif seperti meditasi, kegiatan dinamis seperto berolahraga, atau aktivitas kreatif juga bisa (contohnya berkebun, memasak, menggambar, atau menulis). Ga perlu, bahkan, sesuatu yang njelimet, cukup meluangkan waktu untuk introspeksi diri sendiri dan memastikan apa yang sedang kita rasakan untuk bisa membuat kita merasa lebih sejalan dengan diri sendiri.

Ubah Cara Mengungkapkan Perasaan

Kalo biasanya kita selalu nyalahin orang lain, coba deh ubah perspektifnya. Kalo biasanya kita selalu bilang, “Kamu bikin aku marah waktu kamu lupa telepon aku,” coba ubah kalimatnya menjadi, “Kalo kamu ga telepon aku di jam yang udah kita setujuin sama-sama, aku ngerasa diabaikan dan dilupakan. Kamu cuma perlu kirim pesan aja, kasi tau kalo kamu ternyata ga bisa nepatin janji telepon itu, kok.” Cara kita berkomunikasi bisa dengan drastis mempengaruhi seberapa negatif respons yang kita berikan.

Pada contoh kalimat pertama, kita menimpakan kesalahan pada orang lain. Orang lainlah yang bersalah dan membuat kita marah. Kalimat kedua lebih jelas menyatakan perasaan kita sebetulnya dan menunjukkan bahwa adalah sepenuhnya tanggung jawab kita kenapa bisa merasakan hal tersebut.

Konsultasi dengan Terapis

Kalo permasalahan sikap responsif yang berlebihan seperti ini udah mulai jadi sebuah problem yang terlalu besar dan mengganggu, mencari bantuan dari pihak profesional mungkin bisa membantu kita menemukan solusi yang tepat. Terapis profesional bisa jadi pilihan karena mereka mampu membantu kita mengenali perilaku mana aja yang ga bermanfaat buat hidup kita. Terapis profesional juga berkemungkinan besar bisa menolong kita membuat perubahan yang dibutuhkan supaya kita ga selalu jadi budak mood dan mencari tahu apa yang diperlukan untuk mengendalikan mood itu.

Jangan mau jadi budak emosi.

Nah, Teman DRYD, perlu diingat baik-baik kalo ga semua hal harus direspon dengan seketika. Perlu banget menahan diri buat ga langsung bereaksi terhadap sesuatu apalagi kalo reaksi yang dimaksud kontennya negatif. Kenapa? Karena itu ga sehat buat kondisi psikis kita sendiri. Energi akan sangat gampang terkuras habis dan akan ada kemungkinan buat jadi overthinking pada prosesnya—yang juga sama ga sehat dengan menjadi reaktif dan reaksioner.

Menunda reaksi atau respons jadinya lebih-kurang adalah sebuah usaha untuk menikmati me-time karena kita memilih untuk “memanjakan diri sendiri” dulu ketimbang tunduk dan ikut “permainan” orang lain. Ga salah kok, kalo kita ga langsung merespon sesuatu. Ga usah takut dibilang “loading-nya lama” atau ga ekspresif. Buat apa jadi ekspresif kalo ujung-ujungnya kita pusing sendiri dengan berbagai macam efek, hasil akhir, dan beban mental yang buruk? Yang penting itu adalah bagaimana kita bisa menjaga diri sendiri, menata hati, dan memberikan reaksi dan respons di saat yang tepat—yaitu ketika kita merasa semuanya sudah dicerna dengan baik.

Kalo misalnya kita kena sebuah kritik dari orang lain, diem dulu deh, coba ya. Kalo kita ngasi respons instan, kemungkinan besar semuanya akan berujung pada debat yang ga tentu arah. Kita hanya akan langsung mengeluarkan apa yang ada di dalam pikiran saat itu aja tanpa disaring, tanpa ditelaah, tanpa dicerna terlebih dahulu.

Saya selalu menekankan untuk banyak menarik napas dalam sebelum melontarkan suatu respons atau memberikan reaksi terhadap suatu hal karena tindakan menarik napas ini bener-bener mujarab banget buat menenangkan pikiran dan membantu mengendalikan perasaan dan emosi. Coba deh, Teman DRYD praktekin. Next time kalo ada dorongan buat langsung responsif dan reaksioner terhadap suatu hal, diem dulu, tarik napas daaalam-dalam, dan rasakan pikiran berangsur-angsur jadi lapang. Abis itu, baru deh mikirin gimana kudu menanggapi hal tersebut.

Lima Holy Grail Ingredients Versi Dinuth

Hai Teman DRYD,

Pada ngeh ga, sama yang namanya holy grail? Kalo dalam Bahasa Inggris, “holy grail” itu adalah idiom, semacam majas yang artinya merujuk pada suatu hal yang paling diinginkan oleh semua orang. Kadang-kadang, istilah ini juga memiliki konotasi suatu hal yang banyak dicari oleh semua orang tapi sangat sulit untuk didapatkan. Tapi kita ga lagi mau bicara soal istilah ini dan definisi persisnya apa, kok.

Fokus topik bahasan kita kali ini adalah bahan-bahan yang biasanya digunakan dalam produk-produk skin care. Kenapa disebut bahan-bahan holy grail? Karena semuanya punya khasiat yang mujarab jadi pasti selalu dimasukkan ke dalam produk, ga boleh engga. Wajib. Kudu. Kayak, kalo sebuah produk ga menyertakan bahan-bahan holy grail ini, ga bisa deh dibilang komplit, apalagi efektif untuk perawatan.

Saking lazim bahan-bahan yang dimaksud, Teman-teman pasti seenggaknya pernah baca dari daftar komposisi sebuah produk, deh. Yuk, daripada lama-lama, langsung bahas ya.

Retinol

Sebagai salah satu anggota kelompok vitamin A, retinol juga disebut dengan nama vitamin A1-alkohol. Retinol bisa ditemukan secara alami dalam makanan dan penggunaannya biasanya berkaitan dengan penanganan kondisi kekurangan vitamin A seperti xerophthalmia. Dalam kaitannya dengan produk skin care, retinol bekerja dengan cara meningkatkan produksi kolagen dalam badan dan mengenyalkan kulit. Retinol juga bisa memperbaiki warna kulit dan mengurangi bercak-bercak pada permukaan kulit. Penggunaan produk berbasis retinol bisa menyebabkan lapisan kulit atas mengering dan bersisik. Oleh karena itu, penggunaan produk tipe ini sebaiknya dilakukan pada malam hari kemudian diikuti dengan pengaplikasian pelembap dan tabir surya di pagi harinya. Retinol dapat mengurangi tampilan kerut pada kulit, meningkatkan ketebalan dan elastisitas kulit, menunda penguraian kolagen (yang sejatinya menjaga kekencangan kulit), dan mencerahkan bercak kecoklatan akibat paparan matahari. Retinol pertama kali muncul pada awal dekade 70an dan dipasarkan sebagai obat jerawat.

Cara kerja retinol bertumpu pada kemampuannya untuk merangsang sel-sel kulit di permukaan untuk luruh lebih cepat yang kemudian digantikan oleh sel-sel kulit baru yang tumbuh di bagian bawah. Klaim bahwa retinol menipiskan kulit adalah tidak benar. Emang sih, pada minggu-minggu pertama penggunaan, retinol akan mengakibatkan pengelupasan kulit dan membuat kulit kemerahan. Tapi sebetulnya retinol justru mempertebal kulit. Retinol juga bisa mengikis lapisan bercak kecoklatan dan menghambat pembetukan melanin.

Struktur kimia retinol

Hyaluronic Acid (HA)

Secara alami, hyaluronic acid dapat ditemukan di dalam tubuh manusia dengan konsentrasi paling tinggi terdapat di mata dan persendian. HA diklaim sebagai obat antipenuaan tapi klaim ini sebetulnya tidak sepenuhnya benar. Menyebut HA sebagai sumber hidrasi kulit adalah lebih akurat. HA memiliki struktur molekul makro, yang berarti molekul HA berukuran terlalu besar untuk bisa diserap oleh kulit secara efektif. Khasiat HA terdapat pada kemampuannya untuk menjaga tingkat hidrasi kulit. Sifat HA adalah humectant, artinya HA mengikat air di dalam strukturnya sendiri dan ini akan menyebabkan kulit bisa menahan air lebih lama. Ketika HA diaplikasikan, zat ini akan menarik kelembapan dari lapisan dalam kulit sehingga lapisan atasnya bisa terhidrasi. Jika kita sedang berada di area dengan kelembapan tinggi, HA pun bisa menarik molekul air di udara ke kulit kita. HA mungkin ga bisa menghapus garis-garis halus dan kerutan pada kulit tapi kelembapan ekstra yang HA berikan bisa membantu menjaga kekenyalan kulit, yang akhirnya membuat kulit terlihat lebih halus. Garis-garis halus di sekitar mata dan bibir biasanya juga disebabkan oleh dehidrasi jadi penggunaan HA akan membantu membuat kulit tidak terlalu berkerut. HA pun bekerja baik untuk segala macam tipe kulit. Zat ini bisa meningkatkan kelembapan kulit tanpa menambah jumlah kandungan minyak. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa HA memiliki kemampuan antioksidan dan antiradang. HA membantu mempercepat regenerasi penyembuhan kulit.

Pengaplikasian serum hyaluronic acid.

Alpha Hydroxy Acids dan Beta Hydroxy Acids

Alpha dan Beta Hydroxy Acids, atau AHA/BHA, merupakan dua asam hidroksi yang membantu mengeksfoliasi kulit, yang berarti keduanya bisa digunakan untuk membuang lapisan sel kulit mati.

Zat-zat yang termasuk AHA adalah:

  1. Glycolic Acid, diturunkan dari gula tebu, memiliki kemampuan antimikroba,
  2. Malic acid, diturunkan dari apel,
  3. Lactic acid, diturunkan dari laktosa,
  4. Tartaric acid, diturunkan dari ekstrak buah anggur,
  5. Mandelic acid, diturunkan dari ekstrak almon,
  6. Citric acid, diturunkan dari buah sitrus.

AHA biasanya ditambahkan ke dalam produk untuk membantu menyeimbangkan keasaman kulit dan mencerahkan bercak kulit.

Zat-zat yang termasuk BHA adalah:

  1. Asam salisilat, lazim digunakan untuk mengatasi jerawat,
  2. Beberapa formula asam sitrat juga masuk dalam kategori BHA dan berperan dalam mengangkat sel kulit mati dan menekan produksi minyak,

Fungsi AHA dan BHA meliputi:

  1. Menanggulangi radang yang menyertai jerawat atau rosacea,
  2. Membantu membuat warna kulit lebih rata,
  3. Mengendalikan tampilan pembesaran pori-pori dan mengatasi kerutan,
  4. Mencegah jerawat dengan membuka pori-pori,
  5. Mengangkat sel kulit mati,
  6. Merestrukturisasi tekstur kulit,

AHA/BHA ampuh mengikis sel kulit mati.

Niacinamide

Dikenal juga dengan nama nicotinamide atau vitamin B3, niacinamide adalah zat yang gampang larut dalam air dan dapat mengurangi pembesaran pori-pori, mengencangkan pori-pori, meratakan warna kulit, menghaluskan garis-garis wajah dan kerutan, mengurangi kekusaman, dan mengencangkan permukaan kulit yang kendor. Vitamin ini juga bisa mengurangi dampak kerusakan dari faktor eksternal dengan cara memperbaiki pertahanan alami kulit terhadap lingkungan luar. Manfaat lain niacinamide adalah memperbarui dan mengembalikan kelembapan dan hidrasi kulit dengan cara merangsang produksi ceramide—zat yang berfungsi menjaga kekencangan kulit.

Struktur kimia niacinamide.

Vitamin C

Pertama kali ditemukan tahun 1912, vitamin c diisolasi tahun 1928 dan merupakan jenis vitamin pertama yang diproduksi secara kimiawi di tahun 1933. Vitamin ini dikenal luas karena kemampuannya dalam membantu tubuh memerangi radikal bebas. Karena kemampuannya ini, vitamin C bisa mempercepat proses regenerasi kulit. Tapi kemampuan antioksidan bukan satu-satunya potensi yang dimiliki vitamin C. karena sifatnya yang sangat asam, vitamin C bisa digunakan secara topikal untuk memicu kulit menyembuhkan diri dengan cara mempercepat produksi kolagen dan elastin—dua serat protein yang secara alami bisa membantu menjaga kulit tetap kenyal dan kencang. Vitamin C juga mampu membatasi pembentukan melanin pada kulit.

Jeruk adalah salah satu sumber vitamin C.

Skincare dan Kombinasi yang Tepat

Yang perlu diingat di sini adalah harga mahal bukanlah sebuah jaminan untuk efektivitas suatu produk. Kita harus proaktif dalam memperhatikan dan mempelajari bahan-bahan aktif dalam sebuah produk, yang artinya kitalah yang harusnya menjadi yang paling tahu tentang apa yang dibutuhkan oleh kulit kita sendiri. Ada beberapa bahan yang sebaiknya tidak dikombinasikan pada saat pengaplikasian karena akan membuat efektivitas masing-masing bahan menurun secara signifikan. Efeknya bisa menyebabkan kulit bruntusan. Ini kemudian diartikan oleh customer produk tersebut tidak cocok dengan kulitnya padahal sebetulnya kombinasi bahan-bahan tersebutlah yang menyebabkan gangguan. Produk yang tersedia di pasaran pasti sudah melalui dan lolos proses uji jadi tidak mungkin produsen salah menggabungkan ingredients yang ada. Customer sendirilah yang kemudian salah mengkombinasikan unsur-unsur yang ada dikarenakan ketidakpahaman mengenai semua bahan yang disertakan.

Nah, yuk, kita liat kombinasi apa aja yang patut mendapatkan perhatian khusus.

  1. Vitamin C dan AHA/BHA

Vitamin C merupakan asam yang bersifat aktif. Jika dikombinasikan dengan AHA/BHA jenis apapun bisa membuat struktur molekul asamnya menjadi tidak stabil, dan mengganggu keseimbangan pH kulit. By the end of the day, bahan-bahan yang semestinya bisa bermanfaat malah jadi tidak memiliki dampak apapun.

  1. Vitamin C dan Niacinamide

Keduanya sama-sama bisa menyamarkan bekas jerawat dan membantu penyembuhan kulit yang luka. Tapi ketika digabungkan, struktur rantai molekul vitamin C bisa dirusak oleh niacinamide.

  1. Retinol dan vitamin C

Jika vitamin C dan retinol digunakan bersamaan, kulit bisa mengalami pengelupasan, kemerahan, dan iritasi. Kombinasi keduanya juga menyebabkan kulit menjadi jauh lebih sensitif terhadap matahari. Retinol sebaiknya diaplikasikan malam hari sementara vitamin C bisa dipakai pada siang hari.

  1. Retinol dan AHA/BHA

Retinol mungkin memang bukan zat eksfoliasi tapi tetap memiliki kemampuan untuk mengelupas permukaan kulit dan merangsang regenerasi kulit. Penggunaan kedua bahan bersamaan akan mengakibatkan kulit kering dan teriritasi serta mengganggu keseimbangan kelembapan kulit dan berpotensi menyebabkan breakout jerawat.

  1. Glycolic acid dan salicylic acid

Kedua asam ini sangat mujarab dalam perkara mengangkat sel kulit mati tapi ketika dikombinasikan malah akan menyebabkan sensasi menyakitkan.

Penggunaan layer ingredients yang tidak tepat berisiko menyebabkan bruntusan.

Ber-Dialoog di Bali Seberang

Resor, pantai, leisure, private, eksklusif. Kesemua kata kunci ini pasti bikin pikiran terbang ke seberang Pulau Jawa dan hinggap di Bali, kan?

Gimana kalo saya bilang kamu ga usah jauh-jauh melintasi selat mengarungi samudra dan menelusuri padang pasir buat bisa nikmatin yang kaya begitu?

“Hah? Di mana, Dok? Buruan kasi tau sih!”

Saaantuy dooong.

Cukup pesen tiket kereta ke Banyuwangi trus meluncur deh ke Dialoog. Kenapa? Kareeena, di Dialoog, kamu bisa dapetin semua hal yang mungkin selama ini kamu pikir cuma bisa dinikmati di Bali. Laut biru, bebukitan di cakrawala, payung-payung putih berjejer menaungi kursi-kursi malas di pinggir pantai, akomodasi mewah dengan fasilitas yang sepadan, angin semilir yang bikin ngantuk. Ga nyangka kan, bakal bisa mendapati itu semua tanpa perlu terlalu jauh ke Bali? Makanya saya ngasi julukan personal buat area resor Dialoog ini sebagai “Bali Seberang”. Di seberangnya Bali kan? Ga salah kan? Bodo ah, kalo salah. Yeee, suka-suka dooong.

Kamarnya ada berbagai tipe, cek aja langsung di situs resminya yak, hehehe. Pusat wellness-nya meliputi kolam renang, spa, dan gym dengan fasilitas lengkap. Casabanyu Restaurant & Beach Bar-nya persis di pinggir pantai. Jadi bisa deh tuh, nongki-nongki sambil menatap jauh ke tempat laut bertemu langit—ciyeee.

Mau honeymoon-an di sini bisaaa. Mau enjoy ngunjungin objek-objek wisata terdekat, bisaaa. Mau ngendon doang di kamar, bisaaa—dan ga bisa disalahin juga sih, tempatnya senyaman itu, jadi ogah ke mana-mana.

Dialoog bisa banget kamu jadiin opsi buat melarikan diri dari hiruk-pikuk kesibukan sehari-hari, apalagi kalo kamu niatnya mau social-distancing lebih lanjut di tengah pandemi ini. Dari sisi durasi, kamu bisa mau selama apapun stay di sana. Dari segi ventilasi, udara bersih yang segar bisa ngerefresh paru-paru. Dari masalah penjarakan, ga masalah. Kan ga ramean.

Gih, booking cepet. Foto-foto, trus upload biar seisi dunia iri.

Dialoog is a slice of heaven indeed, so it’s a must-try for me definitely.

Mengajarkan Gemar Membaca Buku pada Anak itu Bermula dari Kita

Hai moms and dads,

Buku itu adalah jendela dunia. Karenanya, dengan membaca buku, artinya kita bisa mengintip dunia dan mengetahui banyak hal tanpa perlu berinteraksi langsung dengan dunia luar. Kita jadi tau New York tu kayak gimana atau Paris tuh gemerlapnya kayak apa tanpa perlu bener-bener dateng ke kota yang dimaksud. Kita bisa tau proses-proses ilmiah, geologis, biologis, astronomis, filosofis, sosiologis—macem-macem, cuma dengan membaca buku. Buku dan membaca menjadi senjata untuk membuka kunci yang mengekang wawasan dan pengetahuan kita mengenai banyak hal di dunia dan kehidupan ini.

Dengan bekal pengetahuan yang didapat dari membaca, anak pun bisa terbantu tumbuh-kembangnya. Banyaaak banget manfaat membaca buku tapi itu kita bahas ntaran deh ya. Sekarang saya mau nanya dulu; moms and dads, pada suka baca buku ga?

Sebagai orang tua, kita pastinya mau anak kita berpengetahuan luas, wawasannya mencakup berbagai macam bidang, ketrampilan dan keahliannya keasah tajam. Kita kepingin anak kita kualitasnya lebih baik dari orang tuanya karena—suka ga suka—salah satu parameter keberhasilan mendidik anak adalah ketika si anak memahami hal-hal tertentu yang orang tuanya mungkin ga pernah punya kesempatan buat dalami, kan? Nah, dengan membaca, si anak bisa membuka matanya untuk banyak kemungkinan yang ada di luar sana. Sementara kita, para orang tua, sibuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan rumah tangga, si anak bisa mengasah pengetahuannya dengan segala macam buku yang dia baca.

Permasalahannya, sejauh apa kita bisa meng-influence anak untuk mencintai buku? Apakah sudah maksimal cara kita mendukung dan mendorong anak untuk gemar membaca? Atau justru malah kita membiarkan buah hati kita tenggelam dalam dunia online di genggamannya dengan pemikiran “lebih baik sibuk dengan handphone daripada kenapa-kenapa”?

Kalo udah ada kesempatan dan jeda dari kesibukan, coba deh, moms and dads, berenti sebentar buat nanya ke diri sendiri: “Sudahkah saya menjadikan membaca sebagai habit saya sendiri?”

“Kenapa gitu harus banget nanya kayak gitu ke diri sendiri, Dok?”

Kalo udah soal mendidik anak, kayanya lebih efektif kalo kita ngasi contoh langsung deh. Anak suka ga responsif kalo kita cuma ngandelin perintah oral apalagi sambil dimara-marain ato dibentak-bentak. Biasanya suka mental omongan kita kan? Nah, kalo si anak udah sejak dini ngeliat orang tuanya demen baca buku, dia bisa menginternalisasi kebiasaan kita, lebih mudah untuk disuruh mencoba membaca, dan akhirnya nanti potensi doyan baca bukunya juga lebih gede.

Nah, moms and dads jangan cuma bisa nyuru anaknya baca yaaa. Kudu banget ngejadiin baca buku sebagai kebiasaan harian kita sendiri supaya anak bisa jadiin contoh buat dirinya sendiri. Pada prinsipnya, anak ga bakal suka baca buku kalo orang tuanya ga suka baca buku juga. Habit itu menular loh, ya. Bakal kesulitan mendidik anak untuk suka buku kalo kitanya sendiri ga punya interest sedikit pun ke objek terkait.

Ga berarti kita juga kudu ngubah sesuatu yang emang pada dasarnya bukan kita yaaa. Natural aja. Kalo emang ga bisa meng-influence anak buat suka baca, yaaa mungkin bisa dikasi suplemen lain yang bisa nutup “bolongan” itu. Pas nonton TV, misalnya; mungkin kita bisa memberi stimulasi dengan acara-acara pendidikan—yang tentunya juga sulit dilakukan pada masa ini mengingat kualitas acara televisi kita….

Tapi intinya begitu; jangan memaksakan kemauan kita, idealisasi yang ada di kepala kita kalo kitanya sendiri juga masih ga menerapkan itu. Bisa-bisa si anak ngeluarin jurus, “Mamah-Papah nyuru-nyuru baca, emang Mamah-Papah sendiri suka baca?” Gigit lidah kan kalo anak udah nge-skakmat kita kayak gitu?

Kadang juga kita suka tergiur sama tren buku diskon. Begitu ada info tentang cuci gudang dan diskon gede-gedean, kita langsung aja pengen nyomot. Tujuannya mau buat anak supaya bisa doyan baca. Tapi kan ya percuma, orang bekal interestnya aja ga ada kan? Mau beli buku diskonan satu truk juga kalo si anak kaga doyan baca, ga bakal berguna. Stop deh, ikut-ikut beli diskonan buku gitu. Ngapain dibeli kalo ujung-ujungnya buku-buku itu cuma jadi bagian dari dekorasi rumah? Yang ada buku-bukunya malah ngumpulin debu, rusak dimakan rayap, ancur karena lembap. Akhirnya apa? Dibuang. Diloakin. Dikiloin. Dijadiin pembungkus. Kan kasian. Nulis buku itu ga gampang loh. Jadi jangan disia-siain kalo emang ga bakal kepake ato berguna.

Membuat anak untuk gemar membaca buku itu tujuan mulia. Tapi tujuan itu akan lebih mudah tercapai kalo semuanya dimulai dari dasar, dari diri kita sendiri dulu. Jadikan membaca sebagai sebuah kebiasaan secara harian dan anak akan mencontoh. Mungkin ga sampai ke target yang kita kehendaki, karena toh anak juga punya interest-nya sendiri. Tapi paling engga, kita udah ngebiasain buah hati buat terbiasa memegang buku dan ga menganggap buku sebagai sebuah media kuno yang ga lagi relevan di zaman modern.

Menjadikan membaca buku sebagai sebuah kebiasaan juga membawa berbagai macam dampak positif kok.

Membaca bisa mengurangi risiko stres. Universitas Sussex di Inggris melakukan riset tahun 2009 yang hasilnya menunjukkan bahwa stres bisa dikurangi sampai 68%. Detak jantung melambat hanya dengan membaca buku selama 6 menit.

Membaca bisa meningkatkan kemampuan empati. Keith Oatley dan Raymond Mar, profesor emeritus psikologi Universitas Toronto dan psikolog di Universitas York—respectively, berpendapat bahwa kebiasaan membaca karya fiksi bisa menajamkan kemampuan individu dalam memahami orang lain.

Membaca bisa melatih kemampuan matematis. Selain melatih kemampuan bahasa, ketajaman matematis juga bisa ditingkatkan dengan membaca karena seorang individu yang gemar membaca buku memiliki daya serap teoretis dan konseptual yang lebih tinggi.

Membaca bisa memperpanjang umur. Riset oleh Universitas Yale di tahun 2016 menunjukkan bahwa membaca selama setidaknya 30 menit setiap hari bisa memperbaiki kualitas hidup seseorang yang akhirnya bisa memperpanjang usia.

Membaca bisa membantu menyehatkan tubuh. Menurut hasil riset Universitas Stavanger di Norwegia, anak-anak yang tidak gemar membaca kondisi fisik dan mentalnya jauh lebih buruk daripada mereka yang suka.

Membaca bisa membantu mengasah daya ingat. Ketika kita tidur, energi akan sepenuhnya tersalurkan ke otak. Jika sebelum tidur kita membaca buku, otomatis daya ingat kita akan semua informasi yang didapat sebelumnya juga akan lebih baik.

Membaca bisa membuat otak bugar. Saat membaca buku, otak akan berpikir lebih banyak. Imajinasi dan abstraksi ide akan lebih dinamis.

Memberikan sebuah buku anak akan jauh lebih baik daripada membiarkan buah hati sibuk dengan gadget yang layarnya memancarkan sinar biru. Ini klasik sih, masalah mana yang lebih baik: buku atau smartphone. Kita ga perlu mencari-cari keburukan dari sebuah gadget, gimanapun juga toh perkembangan teknologi bisa berdampak positif untuk kemajuan peradaban. Yang patut dipertanyakan di sini adalah apakah bijak membiarkan anak mengenal smartphone terlalu awal? Dari sebuah peranti kecil dalam genggaman tangan si buat hati yang mungil, arus informasi tidak akan bisa dibendung. Otaknya akan mengalami ketersendatan dalam berkembang karena hanya pasif menerima input dari smartphone-nya.

Buku jauh lebih sehat. Buku memberikan pengetahuan dalam skala besar tapi juga ruang lingkupnya bisa sedikit dikekang. Dengan keterbatasan akses ke informasi tambahan, si anak akan distimulasi untuk berimajinasi, mengolah sebuah konsep, dan melatihnya menyerap dan menyaring sesuatu sebelum diaplikasikan ke dunia nyata.