Insight Timer: Aplikasi untuk yang Sedang Berusaha Merapikan Kembali Hidupnya

Hai hai, Teman DRYD.

Udah pernah nyoba meditasi tapi selalu gagal? Selalu niat buat ngejadiin meditasi part of your day-to-day life but still can’t find a way to do so? Atooo, pengen banget nyobain meditasi tapi bingung kudu mulai dari mana? Naaah, kalo Teman-teman berpikir bermeditasi adalah bentuk self-care yang Teman-teman nilai cocok atau kalo Teman-teman berpikir bahwa bermeditasi adalah bentuk self-love language yang sesuai dengan kepribadian Teman-teman, mungkin semuanya bakal berat di awal. Kenapa? Pertama, kita ga kebiasa. Kedua, karena ga kebiasa itu, kita ga tau gimana memulainya.

Sama. Saya dulu juga gitu, ga tau apa yang harus dilakuin pertama buat membiasakan diri bermeditasi. Taaapi, sejak kenal yang namanya insight timer, saya jadi lebih bisa memahami langkah-langkah awal yang harus dipraktikkan supaya bermeditasi menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.

Insight Timer adalah nama sebuah aplikasi smartphone yang rancangannya menarget mereka-mereka yang sedang mencari jalan untuk menenangkan batin, termasuk di dalamnya adalah meditasi. Aplikasi ini bisa membantu dengan lebih dari satu jalan.

Pertama, itu tadi; aplikasi ini menawarkan sejumlah panduan bermeditasi yang gampang dipahami dan dipraktikkan. Panduan-panduan itu dibagi ke dalam judul-judul berbeda, jadi kita tinggal pilih mana yang kira-kira cocok buat kita praktekin.

Kedua, aplikasi ini membantu mereka-mereka yang sedang mencoba menemukan cara untuk lebih rileks. Ada bagian yang menawarkan koleksi musik-musik yang menenangkan untuk dinikmati dan membuat kita lebih tenang dan santai.

Ketiga, ada juga bagian yang ditujukan untuk membantu orang agar bisa tidur lebih nyenyak dan lebih berkualitas.

Keempat, pada bagian Talks, Teman-teman bisa menemukan koleksi pembahasan topik oleh orang-orang yang kompeten di bidangnya. Dengan menikmati bagian ini, Teman-teman bisa mendapatkan wawasan baru tentang satu subjek yang mungkin ga kepikiran sebelumnya.

Kelima, ada bagian khusus orang tua juga yang ngasi tips dan trik tentang, misalnya, gimana cara supaya anak bisa lebih berkembang kreativitasnya atau tentang meditasi tidur untuk anak-anak.

Pokoknya lengkap deh. Aplikasi ini pas banget buat menemani perjalanan Teman DRYD yang baru mau atau berencana menjadikan bermeditasi part of their lifestyle, gitu. Buat saya, aplikasi ini bantuannya sangat gede, so it’s definitely a must try for me.

 

P.S. Insight Timer tersedia untuk sistem operasi Android dan iOS.

Download versi Android di sini dan versi iOS di sini.

 

Haruskah Menyekolahkan Anak di Sekolah Internasional?

Pertanyaan di atas bisa dijawab dengan simpel: Ya kalo emang sanggup, why not? Kesanggupan di sini ada banyak macamnya tapi ya yang paling penting sih, sanggup ga sama biayanya. Sekolah macam begini ga murah loh ya. Jumlah total uang yang dihabiskan di akhir periode pendidikan bisa buat keliling dunia kali…. Jadi ya, kudu kuat di dompet biar kita sebagai orang tua ga kelabakan menuhin kebutuhan pendidikan si buah hati. Tapi pada praktiknya nih ya, realitasnya bisa beda dan hal ini semua bisa jadi ga sesimpel itu. Sebelum kita bahas lebih jauh, mending kita bahas deh, apa bedanya sekolah nasional dan sekolah internasional.

Perbedaan Fundamental

Hal paling mencolok yang membedakan kedua tipe sekolah ini adalah kurikulum. Kurikulum di international schools biasanya ya kalo ga IGSCE (International General Certificate of Secondary Education, ya IB (International Baccalaureate). Dari namanya aja udah keliatan dong, berbeda. Kurikulum yang diterapkan seperti ini membuat penjurusan di sekolah jadi beda juga dari sekolah nasional. Kalo biasanya sekolah nasional menerapkan jurusan IPA-IPS (kadang juga ada yang nerapin jurusan Bahasa), tapi kalo di international schools, bidang minat boleh berat ke satu area, tapi juga include mata pelajaran dari area lain. Jadinya, oke boleh komposisi mata pelajaran dibanyakin natural science-nya, tapi minimal ada mata pelajaran dari bidang social science juga.

Yang kedua, bahasa. Yang namanya international schools, bahasa pengantar pada proses belajar-mengajar ya pastinya bahasa internasional juga—dalam hal ini Bahasa Inggris. Interaksi murid baik dengan guru, staf, maupun dengan sesama murid harus menggunakan Bahasa Inggris. Makanya ga heran lulusan international schools pasti casciscus ngomong bulenya. Beberapa internationa schools lain mengijinkan penggunaan bahasa lain di luar sesi belajar—selama proses belajar-mengajar berlangsung, wajib menggunakan Bahasa Inggris. Guru-guru dan sesama murid pun akan banyak membantu jika satu anak mengalami kesulitan dalam hal grammar atau vocabulary. Mengambil kelas selain Bahasa Inggris pun jadi mata pelajaran wajib juga. Ada yang menawarkan kelas bahasa Arab, Cina, Jerman, atau Jepang. Gimana dengan Bahasa Indonesia? Bahasa Indonesia diperlakukan sebagai bahasa kedua malahan.

Terus, perbedaan lain terletak pada tugas sekolah. Murid-murid international school biasanya diajarkan sejak dini untuk bisa merangkai proses berpikir logis dan ini terefleksi dari metode penugasan dari sekolah. Makalah adalah hal biasa bagi murid-murid di sekolah macam ini. Murid juga dilatih untuk melakukan eksperimen sendiri terutama dalam bidang ilmu science kayak Biologi, Fisika, atau Kimia. Mereka akan dituntut untuk menyusun hipotesis sendiri, membuat metode penelitian sendiri, membahas hasil penelitian, dan membuat konklusi dari penelitian itu tadi. Untuk kelas-kelas bahasa, biasanya mereka akan ditugaskan untuk membuat analisis karya sastra, entah novel, cerpen, atau puisi.

Cara belajar di international schools juga dirancang lebih interaktif. Murid-murid diberi kebebasan untuk mengetengahkan pendapat mereka sendiri terhadap sebuah subjek. Guru dituntut untuk membangun jalur komunikasi dua arah dengan murid, ga cuman bediri depan kelas dan ceramah.

Kalo soal ujian, international schools biasanya menerapkan Ujian Tengah Semester, Ujian Akhir Semester, plus ujian resmi sesuai kurikulum terapan. Ujian kurikulum ini biasanya cuma diadakan di akhir, sebelum kelulusan. Bentuk ujiannya juga esai semua, ga ada pilihan ganda.

Guru di international schools bervariasi. Beberapa sekolah hanya meng-hire satu guru asing untuk Bahasa Inggris, yang lainnya orang Indonesia—meskipun demikian, interaksi harus tetap berbasis Bahasa Inggris. Sekolah-sekolah lain ada juga yang meng-hire beberapa guru asing untuk mengampu berbagai mata pelajaran.

Keuntungan

Dari perbedaan-perbedaan itu, kita bisa deh cari tau apa aja keuntungan sekolah di sekolah internasional. Naaah, karena pola belajarnya menitikberatkan pada interaksi dan komunikasi dua arah, murid-murid jadi terlatih buat menyampaikan isi kepalanya dengan cara yang lebih tertata dan logis. Jadi ga pasif aja gitu, nerima materi tanpa mencerna dan memahami.

Dengan banyak aturan yang diterapkan, utamanya soal penggunaan Bahasa Inggris dan metode pengerjaan tugas, murid-murid juga jadi belajar soal disiplin dan menghargai hasil kerja sendiri.

Kombinasi antara kurikulum internasional dan penggunaan bahasa asing yang intens juga bisa mempersiapkan murid untuk mengantisipasi globalisasi dan iklim persaingan dunia. Resume mereka kelak akan lebih “bersinar” dan mereka ga bakal kaget sama kehidupan dan dunia perkuliahan yang emang menuntut kemandirian individu.

Di international schools juga sering ada program overseas yang mengharuskan murid untuk terbang ke negara lain untuk belajar. Ini memungkinkan si anak untuk menyerap budaya modern lebih mudah dan membantu merestrukturisasi pola pikirnya secara akademis juga.

Kekurangan

Nah, dengan berbagai keuntungan itu tadi, sulit ya, rasanya ngebayangin ada yang namanya kekurangan sekolah internasional. Kenyataannya, kekurangan itu hal lazim dalam dunia pendidikan, termasuk dalam hal international schools juga.

Pertama, murid-murid harus ikut ujian akhir dua kali. Pertama, ujian berbasis kurikulum sekolah, kedua, Ujian Nasional. Ini wajib, sudah ditetapkan dalam peraturan Mendikbud tahun 2014. Hasilnya apa? Murid bisa jadi kewalahan membagi fokus karena harus mengimbangi kedua kewajiban di saat yang bersamaan.

Kedua, beban ujiannya jauh lebih membebani. Tiap mata pelajaran menuntut ujian dalam 2 bentuk, teori dan studi kasus. Itu belum ditambah ujian dalam bentuk extended essay sepanjang at least 4000 kata.

Ketiga, mengingat materi pelajaran yang bermuatan internasional, murid kemungkinan tidak bisa mengenal negaranya sendiri dengan lebih baik. Emang sih, pas kelas Sastra Indonesia mereka akan juga belajar tentang sejarah, tapi apakah itu cukup?

Kekurangan nomor empat terletak pada keharusan menggunakan Bahasa Inggris di sekolah. Iya sih, mereka akan lebih cakap dalam menggunakan bahasa asing, tapi nantinya ketika diminta berbicara dengan Bahasa Indonesia, pola tutur mereka akan tidak konsisten. Bahasa Inggris yang dicampur Bahasa Indonesia. Atau sebaliknya.

Jadi Sebaiknya Gimana?

Menyekolahkan anak di mana itu kewajiban dan mau di mana menyekolahkan anak itu adalah hak. Jadi ya, suka-suka orang tuanya kan? Asal itu tadi, sanggup menyokong si anak sampai pendidikannya selesai, ga putus di tengah jalan. Tapi ada pertanyaan yang jauh lebih krusial lagi sebenarnya: Apakah keputusan untuk memasukkan anak ke sekolah bertaraf internasional itu didasari oleh tren, gengsi, atau emang tuntutan kebutuhannya seperti itu? Hal lain yang kudu banget dipertimbangin ada rasio antara keputusan tersebut dengan output-nya nanti. Sebanding ga? Sesuai ga? Worth it, ga? Apa yang dimaksud dengan “output”? Coba kita sederhanakan deh, ya. Kira-kira nanti profesi yang diambil si anak sepadan ga dengan latar belakang pendidikannya? Iya, bener; anak mau jadi apa nanti itu ga ada yang bisa nebak. Tapi paling ga, kita sebagai orang tua udah menerapkan navigasi profesi sejak si anak masih kecil. Coba kita kasi si anak berbagai macam alternatif pilihan profesi sejak jenjang pendidikan dasar sehingga nanti fokus si buah hati dalam belajar bisa lebih terarah. Relevansinya apa dengan international school? Ini akan membantu kita dalam memilihkan sekolah mana untuk si kecil. Kurikulum mana yang kira-kira akan membantunya meraih cita-citanya. Orang tua boleh kan, bermimpi anaknya menjadi seseorang dengan profesi yang so orang tua idamkan? Boleh dong. Asalkan tetap pada jalurnya, ga memaksakan apa pun tapi tetap memberikan pengarahan. Ga ada orang tua yang pingin anaknya jadi pengangguran atau menjalani profesi yang tidak menjamin masa depannya sendiri. Misalnya nih, kita mau anak kita jadi dokter. Ya udah, dari kecil diarahkan. Boleh pilih sekolah berkurikulum internasional asalkan itu emang beneran bisa mendukung jalur profesi di masa depannya nanti.

Tapi jangan mentang-mentang udah yakin sekolahnya cocok dan bagus, malah dibiarin aja sekolah yang mengambil-alih pola pengasuhan si anak ya. Ini bisa berujung pada inkonsistensi budaya belajar nanti.

Orang Tua dan Peran Mereka

Gini, di sekolah internasional itu kan semuanya berbasis Bahasa Inggris. Kalo kita lepas tangan dan ngebiarin sekolah sepenuhnya mendidik si anak, dampaknya bisa sangat berbahaya. Bahasa itu cikal-bakal budaya. Membiarkan anak fasih ber-Bahasa Inggris tanpa filter dan upaya pengimbangan di rumah akan melunturkan nilai budaya negara sendiri. Akibatnya si anak akan lupa pada jati dirinya sendiri dan berkiblat ke negara barat. Ga masalah menjadikan negara barat sebagai tolok ukur, toh mereka emang maju kok. Banyak pelajaran dan ide yang bisa dipetik dan diterapkan dari negara-negara maju. Tapi kalau proses pergeseran nilai itu terjadi dengan gegabah dan kita ga secara proaktif mengendalikannya, lahirlah sifat “mengagungkan negara barat dan merendahkan budaya sendiri”. Anak-anak yang bersekolah di sekolah internasional harus diberikan pengertian bahwa Indonesia juga merupakan bagian dari komunitas global. Mereka harus dibuat paham bahwa yang namanya “internasional” itu tidak otomatis konotasinya adalah negara-negara barat. Mereka harus tahu bahwa harga diri dan jati diri mereka sendiri membuat mereka pantas berdiri di antara anggota penduduk dunia lain, sama rata, sejajar.

Terus, dari sisi orang tua, ga bosen-bosennya diingatkan, perhatikan masalah pendanaan. Sekolah macam begini tuh, ga murah. Uang akan mulai terkikis sedikit demi sedikit mulai dari fase pendaftaran saaampai akhirnya nanti lulus. Jangan berpikir, “Ya udah semampunya dulu aja.” Ga ada ceritanya begitu. Sekali menginginkan anak sekolah dengan gaya internasional, selanjutnya harus konsisten. SD-nya internasional, masa SMP-nya lokal? Ga haram sih, emang, apalagi kalo emang udah tuntutannya begitu. Tapi akibatnya si anak bisa ngalamin culture shock. Dari yang tadinya mereka diajarkan untuk bersikap kritis, aktif, dan komunikatif, mereka akan dibentuk ulang dalam pola sekolah nasional yang… yaaa… you know-lah. Makanya, sebelum memutuskan cuma karena excited, ukur dulu semuanya. Pikir-pikir lagi perbandingan antara sustainability pekerjaan kita yang sekarang dengan kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak.

Terus lagi, nilai-nilai yang diajarkan ke anak sebaiknya konsisten dengan apa yang mereka serap dari sekolah. Kalo di sekolah mereka dituntut mandiri dan aktif, di rumah mereka juga harus diminta berperilaku sama. Jangan pas di sekolah mereka serba dinamis dan terbiasa dengan proses yang cepat, di rumah mereka serba dilayani, serba dijadikan raja dan ratu, serba diiyakan maunya. Serba selalu dibantu sama asisten rumah tangga kebutuhannya. Neneknya dateng ke rumah, jadi manja. Jadi ngelendot-ngelendot. Anak manja pada orang tua atau kakek-neneknya itu wajar. Tapi kita juga harus dengan sadar mencoba menanamkan apa yang diajarkan sekolah mereka. Supaya apa? Supaya karakternya konsisten dan apa adanya. Fokusnya ga kebagi-bagi, di sekolah harus mandiri, di rumah jadi manja. Sesuai aja semuanya, ya. Sesuai porsi, sesuai kebiasaan. Inget, kita menginginkan anak yang bermental baja dalam mengantisipasi arus globalisasi yang terkenal kejam itu.

Menjadikan Berkonsultasi dengan Psikolog Sebuah Habit yang Sehat

Teman DRYD,

Coba diinget-inget, sering ga Teman-teman ujug-ujug ngalamin nyeri di badan, diserang sesak napas tiba-tiba, atau tau-tau lemes dan ga bisa gerakin anggota badan? Kalo sering, pasti ke dokter, kan, buat mastiin apa sih sebetulnya yang terjadi? Udah berapa dokter yang disamperin? Banyak? Tapi ga satu pun yang bisa ngasi jawaban yang memuaskan? Semuanya cuma bisa ngasi resep obat yang ga bener-bener mujarab ngilangin keluhan-keluhan tadi? Hati-hati loh, ya, ngonsumsi obat. Nanti bukannya nyembuhin keluhan, malah ada keluhan baru lagi. Tapi ngeselin kan, ya…. Udah ke dokter sana-sini, udah minum obat ga brenti-brenti, udah ini, udah itu, tapi badan maaasih aja sakit. Dan maaasih aja ga tau penyebabnya apa.

Gangguan psikosomatis: Ketika pikiran membuat tubuh sakit

Kalo udah gini, besar kemungkinan Teman DRYD kena penyakit psikosomatis namanya. Apa itu? Psikosomatis itu istilah yang berasal dari dua kata asing: psyche ‘jiwa’, dan soma ‘tubuh’. Sederhananya, penyakit psikosomatis adalah jenis penyakit yang melibatkan kedua aspek, tubuh dan pikiran, secara bersamaan. Dengan pemahaman ini, Teman DRYD tentunya udah bisa menerka, ada semacam ketidakseimbangan mental yang akhirnya menimbulkan penyakit pada jasmani atau bahkan memperburuk kondisi kesehatan fisik yang sudah ada sebelumnya. Umumnya, penyakit psikosomatis itu ada hubungannya dengan gangguan fungsional jasmani (seperti kemunculan rasa sakit pada bagian tubuh tertentu) akan tetapi tidak ditemukan keanehan apa pun ketika pemeriksaan fisik dilakukan. Ghoib aja, gitu. Sakitnya kerasa, tapi yang nyebabin sakit ga tau apaan.

Gejala Penyakit Psikosomatis

Nah, kalo ngomongin gejala, agak susah kalo berhubungan dengan psikosomatis. Tiap orang beda-beda dan gejala-gejala tersebut bisa muncul terus ilang sesuai dengan keadaan mental si pengidap. Tapi secara garis besar bisa dijabarkan sebagai berikut:

  1. Jantung berdebar kencang tanpa sebab fisikal,
  2. Kesulitan bernapas dan dada terasa sesak,
  3. Anggota tubuh terasa lemas dan pada beberapa kasus bahkan ga bisa digerakin,
  4. Ulu hati terasa nyeri,
  5. Nafsu makan turun drastis,
  6. Pola tidur kacau, dan
  7. Nyeri di bagian kepala dan/atau sekujur tubuh.

Semuanya ini tanpa sebab, tau-tau dateng aja. Si pengidap bisa jadi punya riwayat kesehatan tertentu yang berimbas pada gejala-gejala tadi, tapi bisa jadi juga engga. Pokoknya pas diperiksa sama dokter semuanya keliatan beres aja, gitu. Karena satu dokter ga bisa kasi jawaban, pindahlah ke dokter yang lain. Sama lagi, ga ada jawaban lagi; pindah dokter baru lagi. Gituuu aja terus sampe dokter satu kota kenal semua. Kadang si pengidap tersinggung juga kalo si dokter bilang ga ada yang salah, semua sehat-sehat aja. Lah ya mau gimana kan? Hasil tesnya ngasi tau semua baik-baik aja kok si pasien malah marah-marah…. Ini nih, ciri khas lain dari pengidap penyakit psikosomatis, dokternya gonta-ganti sampe akhirnya settle down sama satu dokter—yang mau ngederin keluhan si pasien dari A sampai Z. Kenapa harus dokter yang kaya gini? Ya kan masalahnya ada di dalam pikiran. Mau ke dokter pemenang penghargaan Nobel sekalipun, kalo obatnya cuma sesederhana ngobrol, curhat, ngeluh, dan numpahin semua uneg-uneg yang selama ini bikin hati mampet juga ga bakal selesai masalahnya.

Itu cuma penyederhanaan ya. Kalo praktiknya pasti lebih panjang prosesnya. Tapi bener deh, kadang-kadang kalo kepala lagi penuh, badan pasti menunjukkan efeknya. Dan kalo udah gini, pertolongan pertamanya ya sudah seharusnya nyari tempat buat ngeluarin isi kepala. Tapi masa sih, sehebat itu efek tekanan mental pada tubuh?

Gini yaaa, ketika kita sedang streees banget, tubuh otomatis akan memberikan respons. Apa responsnya? Palpitasi (debar jantung) menaik frekuensinya. Perut berasa mual dan kita jadi pingin muntah. Tremor terutama di tangan. Keringet ngucur. Mulut kering. Dada nyeri. Kepala sakit. Napas jadi ga aturan. Otot, sendi, tulang, punggung, sakit semua. Otak mengidentifikasi kondisi tekanan mental dari sinyal-sinyal saraf dan memberi feedback berupa perintah ekskresi adrenalin ke aliran darah dan akhirnya kondisi itu tadi pun muncul. Mekanisme hubungan tekanan mental dan sakit fisik itu sebenernya belum terlalu jelas diketahui. Tapi pada banyak kasus, stres paling ngga merupakan salah satu pencetus kesehatan seseorang jadi memburuk.

Cara Mengatasi

Meditasi sebagai salah satu cara menenangkan pikiran

Kalo soal mengatasi, ada banyak sih, caranya. Meditasi dan aktivitas relaksasi lain bisa jadi pilihan. Teknik pengalihan bisa diterapin. Akupuntur, hipnoterapi, fisioterapi, transcutaneous electrical nerve stimulation, atau obat-obatan antidepresan yang diresepkan dokter bisa juga diambil sebagai metode penanganan. Tapi ada satu hal yang kudu banget dilakukan: konsultasi psikolog.

Psikolog mampu memberikan bantuan yang dibutuhkan

Kenapa? Ngeri, ya?

“Ya masa ke psikolog, Dok? Saya kan ga mengidap gangguan mental. Cuma stres aja kok ke psikolog segala…?”

Naaah, ini nih yang kudu dibenerin. Pola pikir kayak gitu tuh udah kuno. Udah ga jamannya mikir “ke psikolog berarti gila”. Kan tadi udah dibahas, penyakit fisik dan penyakit psikis itu bisa jadi erat banget kaitannya. Yang satu kena, yang lain ngerasa juga. Boleh dibilang sama deh, sakit psikis sama penyakit fisik. Bedanya, yang satu keliatan, yang satu lebih abstrak. Kalo kita ke psikolog, berarti kita paham kalo ada sesuatu di “dalam” sana yang lagi sakit dan perlu diobatin. Ga ada satu resep pun yang ampuh buat ngatasin beban mental selain bicara pada seseorang yang mau dengerin kita. Antidepresan, penghilang rasa sakit, resep-resep kimia lain, itu semua cuma penolong dari sisi fisik. Iya sakitnya berkurang. Iya nyerinya ilang. Iya punggungnya ga encok. Tapi selagi yang di “dalam” sana masih sakit, percaya deh kalo cepat atau lambat semua keluhannya balik lagi.

Sakit tubuh yang disebabkan sakit pikiran

Kalo selama ini kita cuma concern sama checkup fisik, sekarang saatnya kita juga menormalisasi mengunjungi ahlinya buat checkup psikis. Sekarang udah waktunya kita menyejajarkan mengunjungi dokter umum dengan mengunjungi dokter jiwa. Ingat, datang ke pakar ilmu jiwa ga berarti jiwa kita keganggu, ya. Fisik dan mental itu sama-sama bisa sakit. Fisik dan mental itu sama-sama butuh obat. Jenis penyakit dan obatnya yang beda. Penyebab sakitnya beda, sumber obatnya juga beda.

Pola hidup dan interaksi yang ga ngebebasin kita buat berekspresi akan sangat menekan mental. Sukur-sukur Teman DRYD semua bisa dengan mudah mengerti emosi sendiri, mengolah dan mencernanya, terus diungkapkan dengan cara yang sehat. Tapi kalo kenyataan yang ada itu sebaliknya, bimbingan konseling bisa menjadi satu-satunya cara untuk menstabilkan pikiran dan menentramkan hati. Lagi-lagi, ini cuma penyederhanaan ya. Siapa tau dengan me-time-an sebentar ternyata udah bisa legaan perasaannya. Tapi buat yang emang sangat terkendala dan rentan banget terkena stres, pertimbangin deh, dateng ke psikolog.

Tujuan Datang ke Psikolog

Tadi kita udah singgung dikit ya, tentang kesetaraan urjensi antara penyakit fisik dan psikis. Keduanya punya hubungan yang sangat erat dan bahkan saling mempengaruhi satu sama lain. Kesejajaran urjensi inilah yang bikin kita ga perlu lagi mengkhawatirkan soal mana yang lebih aib. Kan banyak tuh orang-orang yang malu kalo ketauan dateng ke psikolog. Takut dicap sakit jiwa. Takut dianggap sebagai pribadi yang problematis. Takut kena dampak profesional. Takut dikucilkan. Sementara kalo sakit fisik, boro-boro ditutup-tutupin, yang ada malah di-instastory. Trus kalo ditanyain follower, jawab deh mengharu-biru. Jangan gitu lagi ya. Sekali lagi, datang ke psikolog bukan berarti kita gila. Kita cuma perlu orang lain yang bisa ngedengerin kita, keluhan-keluhan kita, mau tau tentang apa yang kita rasakan. Itu doang kok. Ga salah kan, kalo kita nyari bantuan dari orang lain waktu kita emang membutuhkan pertolongan?

“Kenapa harus ke psikolog, Dok? Kalo mau cerita doang kan ke temen ato anggota keluarga juga bisa.”

Iya, emang bisa. Tapi yakin ga nanti seperti apa respons si temen ato keluarga itu? Yang namanya temen, sahabat, ato anggota keluarga itu pasti bias. Mereka pasti memihak kita dan karena keberpihakan ini, reaksi atau respons yang didapatkan pasti subjektif. Hasilnya, solusi, advice, tips, atau trik yang diberikan pasti cuma ada unsur “mementingkan diri kita sendiri” juga.

Loh, ya malah bagus kan, Dok, ada yang memihak kita ketika kita ngerasa dunia ngejudge kita?”

Oh ya pasti dong kalo soal itu. Tapi jangan lupa, keberpihakan yang dimaksud bisa nutup mata kita dan kita gagal meliat sesuatu dari perspektif yang universal. Kita dan orang-orang di dekat kita mungkin hanya memikirkan apa yang terbaik buat kita sendiri. Tapi orang lain, apa lagi seorang pakar kejiwaan yang emang kerjaannya memberikan konseling, mungkin bisa menemukan sudut pandang yang lebih fresh—sebuah perspektif yang bisa jadi berbeda total dengan apa yang kita pikirkan atau dengan apa yang orang-orang dekat kita sampaikan.

Bukan ga boleh loh ya, ngomong ke temen, saudara, pasangan, atau orang tua. Boleeeh. Boleh banget malah. Tapi psikolog bisa memberikan alternatif baru untuk kita cerna. Opini berbeda yang didasarkan pada assessment profesional mungkin yang kita butuhkan. Bantuan moral bisa kita andalkan dari orang-orang dekat. Tapi support psikis secara profesional bisa membuka wawasan baru yang bukan ga mungkin mengubah cara kita memandang sebuah permasalahan.

Nah, kalo emang belum bisa membiasakan diri datang ke psikolog untuk sekadar konsultasi, coba deh pilih dari sekian banyak orang-orang di dekat kita yang paling memungkinkan untuk bersikap netral dan ga reaktif. Pilih yang paling logis di antara semuanya dan yang kira-kira bisa ngasi solusi atau masukan paling masuk akal.

Saya sendiri menerapkan metode ini. Dari sekian banyak kenalan, saya ambil beberapa yang kira-kira bisa dijadikan konselor pribadi, sekadar buat numpahin isi kepala tanpa perlu takut judgment. Tentunya, ini ga otomatis mengecilkan peran Teman-teman DRYD yang lain ya. Semuanya punya andil; hanya saja, ada beberapa yang selalu saya jadikan tumpuan ketika dirasa memerlukan input yang bebas bias dan objektif aja.

Jadi gitu ya, Teman DRYD. Ga usah sungkan buat dateng ke psikolog kalau emang dirasa perlu. Daripada dipendam semua, bikin sakit pikiran, bikin sakit badan. Coba diomongin dulu sama yang paham seluk-beluk kejiwaan supaya next time badan kerasa ga beres secara misterius, kita ga perlu lagi maraton dari satu dokter ke dokter yang lain saat yang kita butuhkan cuma bicara, ngobrol, dan curhat.

Infus atau Injeksi Skin Brightening? Yang Mana, Nih?

Halo Teman DRYD,

Masalah kulit yang warnanya gelap ato ga rata emang bikin cemas ya. Tingkat pede turun drastis. Pikiran jadi overthinking. Mood bawaannya negatif terus. Cara memutihkan kulit jadi satu topik yang sering banget di-googling. Di internet, banyak yang nyaranin pake bahan-bahan alami. Maksudnya sih biar sehat gitu. Dan emang bener, make bahan-bahan alami akan lebih bisa bikin kita ngedapetin hasil yang sesuai dengan keinginan tanpa perlu efek samping. Relatif jauh lebih aman ketimbang harus make produk-produk yang mengandung bahan kimia sintetis. Tapi ada kelemahan dari pilihan ini, dan kelemahan itulah yang bikin banyak orang jadi rada ogah buat make bahan alami: Hasilnya lama, persiapannya makan waktu, dan sisa produk ga bisa tahan lama pas disimpan.

Kita ambil masker lidah buaya seger deh, ya. Kebayang kan? Resep banyak berserakan di internet—beberapa orang mungkin punya resep keluarga turun-temurun yang menggunakan tanaman satu ini. Tapi kan hasilnya ga instan. Kudu aplikasi berminggu-minggu buat bisa ngeliat hasil perawatan alami—itu pun mungkin ga terlalu signifikan perubahannya. Mana bikinnya kan lama, ya; harus cari dulu tanamannya kalo ga punya, harus potong dulu daunnya, harus kerok dulu isi lidah buayanya, disiapin dulu dalam mangkok. Baru deh bisa dipake. Di jaman serba sibuk kayak sekarang, kayaknya ga kuat ya, ngimbangin ritual ini. Ga praktis, sementara kita dikejar deadline kerjaan, tugas rumah lain belum kelar, janji ketemu temen ga bisa di-cancel. Pokoknya selalu aja ada alasan yang bikin perawatan kulit dengan bahan seratus persen alami jadi sedikit mengganggu. Sisa masker yang ga kepake mau diapain? Dibuang, sayang. Disimpen dalem kulkas, paling ga nyampe seminggu udah rusak.

Kalo pake produk masker pasaran, jauh lebih gampang, kan? Tinggal beli di toko, sobek packaging-nya, siapin secukupnya, simpan sisanya, pake deh ke muka. Praktis, gampang, dan hasilnya juga relatif lebih cepet keliatan.

Alasan ini juga yang bikin infus brightening jadi primadona dunia kecantikan belakangan ini. Pasien tinggal datang ke klinik, minta treatment, duduk santai beberapa menit, udah, kelar. Pulang udah bisa ngaca dan takjub liat perubahan yang terpampang nyata di cermin. Minggu depan treatment lagi. Kulit cerah, hati senang, kerjaan ga keganggu, aktivitas ga perlu digeser-geser. Instan, semuanya serba detik itu juga.

Sebenernya ga ada yang salah juga sih. Skin treatment macam begitu risikonya cukup rendah karena faktor bahanya juga minim. Paling gatel dikit, trus beberapa menit kemudian udah ilang. Cuman, belakangan saya cukup dibikin tergelitik dengan beberapa orang yang komentar bahwa brightening dengan cara infus itu berbeda dengan injeksi brightening. Yang mengganggu buat saya itu lebih ke… apa, ya… mungkin lebih kepada cara mereka-mereka itu yang seolah-olah meperlakukan infus dan injeksi pencerah kulit sebagai dua treatment yang berbeda secara fundamental.

Keduanya tuh secara esensi sama aja, loh sebenernya. Sama-sama dipraktikkan dengan menggunakan zat tertentu yang bisa menekan produksi melanin di kulit—dalam hal ini, zat itu adalah vitamin C umumnya. Mungkin ada beberapa zat lain yang ditambahkan tapi intinya keduanya mah sama aja. Sama-sama jenis treatment yang targetnya adalah membuat kulit lebih glowing. Trus apa dong yang bikin beda sampe nyebutnya kudu ada infus DAN injeksi? Kalo pake kata “dan”, pastinya ada perbedaan dong?

Perbedaannya cuma satu dan cukup basic. Keduanya sama-sama mengantarkan obat dalam bentuk cair langsung ke pembuluh darah; taaapiii, cairan obatnya ini yang bikin keduanya beda satu sama lain. Pada metode infus, cairan obatnya lebih kentel. Konsentrasi zat di dalam satu paket obat infus jauh lebih padat daripada injeksi. Makanya perlu pengenceran. Makanya metode delivery-nya dripping begitu dari kantong obat. Kalo injeksi, konsentrasi obatnya udah diencerin biar bisa langsung bereaksi begitu selesai diaplikasikan.

Tubuh manusia sih aslinya bisa-bisa aja menerima kedua jenis konsentrasi obat. Toh, akhirnya apa pun yang masuk ke badan pasti dicerna dan di-breakdown kan? Cuma tubuh akan kerja jauh lebih berat kalo dikasi obat yang terlalu kental tanpa pengenceran terlebih dahulu. Proses pengeluaran sisa obat yang tidak terpakai dan produk-produk samping hasil metabolis obat tersebut bakal lebih memakan waktu, energi, dan bisa aja membahayakan.

“Wah, jadi mendingan injeksi dong, Dok?”

Ntar duluuu. Metode injeksi emang kedengeran lebih aman karena udah disesuaiin buat aplikasi tanpa diencerkan. Tapi bayangin deh, kita injeksi pencerah kulit tiap minggu, at least tiap bulan. Ginjal bakal dipaksa kerja keras menyaring obat yang masuk ke aliran darah secara reguler. Jangan pernah beralasan, “Loh, Dok, kan obatnya lewat kulit, masa bisa kena ke ginjal?” karena apa pun cairan yang masuk ke badan pasti di satu titik juga lewat ke ginjal kok. Nah, kalo terus-terusan ke-expose obat, kan kasian ginjalnya.

Loh, Dok, kan yang masuk vitamin C. Badan kan perlu vitamin, Dok?”

Nah ini…. Bisa fatal kalo alasan begini dijadiin excuse. Tubuh emang butuh vitamin buat bisa berfungsi dengan normal, tapi kalo tubuh dikasi vitamin lebih dari yang dia butuhkan, gimana jadinya? Banyak banget risiko overdosis vitamin C. Treatment vitamin C melalui injeksi secara tidak tepat bisa berujung menjadi hemolytic anemia. Terus, meskipun ga secara langsung menyebabkan batu ginjal, overdosis vitamin C bisa bikin air seni semakin asam dan ini memperburuk risiko batu ginjal juga akhirnya. Efek lainnya juga meliputi peningkatan ekskresi oksalat dan asam urat, kelebihan zat besi, dan penurunan kemampuan tubuh untuk menyerap vitamin B12 dan unsur tembaga. Ga usah bahas masalah medis deh, overdosis vitamin C cukup buat bikin kita kena diare, mual-mual, dan kram perut. Emang sih, gejala-gejala ringan bisa ilang setelah ngurangin dosis. Tapi kan perawatannya jalan terus. Tetep aja badan ketiban asupan vitamin berlebihan yang ujung-ujungnya membebani ginjal, kan?

Hemolytic anemia adalah salah satu efek overdosis vitamin C

Makanya, ketika memilih treatment pencerah kulit, baik lewat infus ato injeksi, perlu banget konsultasi mendalam sama expert-nya. Cuma dokter yang paham dosis tepat penggunaan obat treatment begini jadi jangan deh coba-coba beli produk diari toko online buat disuntikin sendiri di rumah. Ngerjain ginian sendiri itu meningkatkan risiko bahaya medis berkali-kali lipat, loh, walopun udah riset di internet sana-sini. Banyak yang kudu diperatiin; penggunaan jarum, jenis obat, kandungan obat, dosis obat, arah penusukan jarum suntik ke pembuluh darah, aftercare, inilah, itulah. Banyaaak. Belum lagi soal kebutuhan pribadi; misalnya nih, gimana kalo ternyata kondisi kulit itu terkait dengan problem kesehatan lain yang lebih urjen buat diurus?

Sebagai pasien juga harus lebih cerdas. Bilang aja ke dokternya minta dijelasin apa aja bahan-bahan obat treatment. Fungsi bahannya apa aja. Ga usah takut dibilang bawel. Lah, daripada malah bikin sakit, kan? Cerewet dikit di awal gapapa, dong?

Concern terkait skin brightening treatment dan efek sampingnya jadi meningkat berkali-kali lipat kalo  udah berhubungan dengan orang-orang yang ada di zona atau rentang usia yang berisiko tinggi. Semakin bertambah usia, fungsi fisiologis dan metabolis tubuh jadi berkurang juga. Nah, treatment dengan cara yang direct macam injeksi atau infus ga dianjurin buat mereka, nih. Risiko gagal ginjal jauh lebih tinggi di kelompok individu seperti ini.

Risiko gagal ginjal meningkat

Trus, gimana, Dok? Masa orang-orang 40 tahunan ke atas ga boleh punya kulit glowing?”

Bukan ga boleh. Cuma ya, harus ada alternatif lain yang dipertimbangin. Kan pencerah kulit ga cuma infus atau injeksi vitamin C. Treatment-treatment topikal juga banyak yang efektif kok. Ga cuma orang-orang 40 tahunan ke atas. Individu-individu yang dari sananya emang punya risiko tinggi juga ga sebaiknya memilih treatment kaya begini. Karena itu tadi, overdosis vitamin C bisa aja ganggu kesehatan mereka dan bisa berujung bahaya medis yang perlu penanganan intens. Makanya saya ga bosen-bosen bilang, “Konsultasi, konsultasi, konsultasi. Cerita, cerita, cerita.” Biar kita semua tau apa yang bakal menghadang di perjalanan nanti. Biar ga ada yang missed dan akhirnya risiko gangguan kesehatan jadi naik. Biar tau, ada ga alternatif pengganti? Biar kulit bisa cerah, glowing, sehat, segar, kenyal, tapi badan tetep prima.

Naaah, kebetulan nih yaaa, klinik dryd ngasi solusi. Sekarang Teman DRYD bisa treatment injeksi brightening tanpa perlu was-was bakal ngadepin risiko-risiko yang udah dibahas tadi karena ada paketan yang nyertain cek fungsi ginjal. Program ini udah dimulai sejak Juli 2020 kemarin dan berkolaborasi dengan pramita lab. Sebelum treatment, dicek dulu ginjalnya gimana. Sehat ato engga. Sesuai ato engga dengan treatment ini. Yang tertarik, coba deh kontak admin klinik ya. Nanti cerita-cerita deh tentang semuanya.

Cek fungsi ginjal

Tampil dengan kulit cantik berseri emang udah jadi idaman banget deh, life goal gitu. Tapi kita sebaiknya juga kudu sadar kalo jadi cantik dan pede itu ga perlu sampe harus ngorbanin kesehatan dan merisikokan banyak hal. Ada alternatif lain kok yang lebih aman.

Ada Apa dengan Tumbler?

Sekarang agak beda nih, kategori Must-try minggu ini.

Saya ga mau bahas merk produk. Saya mau bahas tumbler. Pasti udah sering denger kata ini kaaan? Mungkin Teman DRYD bahkan punya seenggaknya sebiji pasti deh, di rumah. Tapi tau ga, Teman-teman, kalo istilah itu awalnya ga merujuk ke sebuah botol minum ringan dengan ragam desain yang menggemaskan?

Tumbler mulanya digunakan untuk jenis gelas minum yang didesain tanpa pegangan tapi lengkap dengan tutup khusus yang pas. Bentuk gelas ini bagian bawahnya bisa cembung bisa lancip, intinya dia ga bisa ditaro gitu aja karena bakal terguling kalo ga terus dipegang. Makanya namanya tumbler, karena dia tumble, “tumbang”.

Naaah, baru deh, di jaman modern nama itu juga dipake buat menyebut bentuk botol minum yang ga kayak botol lazimnya.

Banyak tumbler lucu buat dijadiin pilihan.

Tumbler ini gunanya ga bisa dianggap enteng loh, ya.

Tumbler memungkinkan penggunanya untuk menghemat biaya karena dia bisa membatasi pengeluaran kita buat beli air minum kemasan. Emang sih, harga air minum kemasan ga segitu mahal—tapi itu kalo kita belinya satu ato dua aja. Coba deh, at least kita butuh 2 botol air kemasan dalam sehari. Kaliin aja biaya per hari itu selama sebulan. Kebayang dong, berapa banyak duit yang kepake buat minum doang? Ga lucu dong kerja sebulan gajinya abis beli air aja. Mau puasa aja sebulan full? Yakin? Dengan tumbler, kita tinggal memasak air hingga matang dan kemudian bisa dibawa ke mana aja. Ato, tinggal beli air kemasan besar untuk dibagi ke dalam tumbler.

Nih, beli air minum kemasan kan ga bisa beli airnya doang juga kan? Si botol plastik apa kabar? Ga disarankan loh, menggunakan kembali botol plastik transparan bekas air mineral. Akhirnya gimana? Dibuang, kan? Sampah lagi. Nanti banjir lagi. Ngomel lagi. Plastik kemasan air minum itu sulit didaur ulang secara alami loh, ya. Butuh ratusan tahun buat mengurai strukturnya. Yang bisa dilakukan cuma upcycle, yaitu make botol itu untuk tujuan selain minum. Tumbler relatif lebih ramah lingkungan karena biasanya terbuat dari bahan yang aman dan bisa digunakan berkali-kali dalam jangka waktu lama.

Menggunakan tumbler juga berarti kita ga perlu mikir ribet ketika kita jauh dari toko atau penjual air minum. Tinggal ambil botolnya, buka tutupnya, glek-glek-glek, babay haus deh.

Yang terakhir, dan mungkin yang paling penting, tumbler bisa dijadiin solusi buat mereka-mereka yang udah niat mau rajin minum air putih tapi adaaa aja halangannya. Yang malas lah, yang terlalu sibuk sampe ga sempet ambil minum lah, apa lah. Dengan tumbler dalam tas ato di genggaman, udah ga ada alesan lagi nih, buat ga minum air. Sewaktu-waktu haus atau udah jadwalnya minum air, tinggal samber aja tumbler-nya.

Stainless steel tumbler yang ramah lingkungan.

Tumbler stainless steel adalah mungkin yang paling recommended deh kalo soal jenis. Bahannya non-plastik, ada fitur insulasi yang bikin kita nyaman milih bawa air panas ato dingin, dan durable jadi ga gampang rusak. Tapi jangan ngasal ya. Kudu tau nih, apa aja yang harus diperhatikan ketika memilih tumbler stainless steel.

Pertama, cari tau gimana kerja fitur insulasi si tumbler. Perhatikan durasi suhu air ketika dimasukkan ke dalam tumbler. Ini berguna supaya kita juga bisa memilih tumbler yang pas sama kebutuhan kita sehari-hari.

Kedua, liat ukurannya. Ini hubungannya sama kenyamanan waktu menggenggam si tumbler. Karena ada kemungkinan isi tas ga mengijinkan si tumbler buat masuk, maka alternatifnya kan pasti akhirnya dipegang kan ya. Nah, tumbler harus bisa dibawa-bawa dengan tangan dengan nyaman, ga kegedean, ga kekecilan, ga terlalu berat juga.

Ketiga, periksa tutupnya. Pastikan konten tumbler ga rembes dari celah tutupnya waktu dimiringin. Kan berabe kalo pas dimasukin tas, isinya tumpe ke mana-mana. Pastiin juga tutup tumbler terbuat dari bahan yang mudah dicuci ketika ga lagi dipake.

Keempat, pastiin tumbler-nya berlabel food grade. Label ini menandakan bahwa produk yang dibeli itu bebas BPA jadi aman untuk dipakai sehari-hari.

Terakhir, pilih tumbler yang desainnya pas sama selera dan preferensi kita pribadi. Misalnya, nih, gambarnya lucu dan gue banget. Kenapa? Karena dengan begitu, kita jadi lebih excited buat bawa-bawa tumbler-nya ke mana-mana. Jadi, style-nya dapet, fungsinya juga ga ketinggalan.

Style dan fungsi sama-sama dapet.

Gitu deh, Teman DRYD. Saya sih selalu bawa tumbler di setiap kesempatan yang memungkinkan karena benda yang satu ini berguna banget buat saya untuk stay hydrated. So, it’s a must-try for me, indeed.