Mari Berkenalan dengan Overthinking, si Penyebab Stres yang Sulit Ditangkap

Hai Teman DRYD,

Ada yang lagi bergulat dengan overthinking? Kebiasaan ini bisa berlangsung lama tanpa disadari dan bisa berdampak buruk terhadap kesehatan mental secara umum. Yang paling berbahaya adalah kebiasaan ini bisa berubah menjadi sebuah pola yang akan sangat sulit untuk diubah di kemudian hari karena kita udah terbiasa banget mikirin sesuatu (yang seringkali ga seharusnya dipikirin) secara sangat berlebihan.

Overthinking kadang sulit buat dideteksi kemunculannya. Kenapa bisa gitu? Karena terkadang kita ga bisa bedain mana yang overthinking, mana yang bersikap hati-hati dan waspada—terutama ketika akan mengambil sebuah keputusan. Tapiii, overthinking pun bisa terjadi setelah ngelakuin sesuatu dan efeknya ga sesuai dengan apa yang kita arepin. Typically, kepala seseorang yang overthinking itu akan dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang diawali dengan “gimana kalo”. Pernah ga Teman DRYD ngalamin yang kaya gini? Atau malah sering?

Waspada itu boleh. Menghitung risiko dan efek dari sebuah keputusan itu emang sebuah tindakan yang mencirikan proses berpikir logis. Tapi kalo semuanya berakhir ngebuat kita jadi sakit kepala kan juga ga sehat. Kalo diliat dari definisi mendasar, pengertian overthinking bisa disederhanakan menjadi “terlalu banyak berpikir”. Bukan, ini ga berarti orang yang banyak berpikir adalah seorang pemikir, ya. Beda itu. Yang menjadi pembeda apa? Kalo seorang pemikir itu biasanya suka menelaah suatu hal secara mendalam dalam bingkai pencarian pemecahan masalah. Nah, kalo overthinking itu biasanya sebuah proses berpikir yang ga penting dan berlebihan tentang suatu hal yang aslinya sepele dan remeh. Ini ga bisa dipandang sebelah mata ya, Teman DRYD; kondisi overthinking seperti ini bahkan udah bisa dianggap sebagai semacam epidemi. Semua orang bisa kena, ga pandang jenis kelamin atau usia.

Universitas Michigan pernah ngadain studi buat menilik kondisi ini dalam ruang lingkup masyarakat yang luas. Hasil studinya menunjukkan bahwa sebanyak 73% dari total sampel grup usia 25-35 tahun sering banget overthinking sementara grup usia 45-55 tahun ada 62%-nya. Kesimpulan yang bisa diambil dari angka-angka ini adalah overthinking adalah sebuah kebiasaan yang dilakukan banyak orang tingkat yang cukup lazim,

Kebanyakan orang berpikir bahwa dengan memikirkan sesuatu secara ekstra, mereka bisa mendapatkan pemahaman lain dari sebuah persoalan lewat sudut pandang yang berbeda. Padahal, hasil studi dari Universitas Michigan tadi juga menunjukkan bahwa overthinking itu sebetulnya sebuah hal yang tidak hanya tidak sehat tapi juga berakibat buruk terhadap kesehatan mental. Motif lain dari kebiasaan overthinking adalah kebiasaan membayangkan skenario atau kemungkinan terburuk dari sebuah keadaan. Parahnya, skenario atau kemungkinan buruk yang dibayangkan ini bahkan belum tentu terjadi loh. Seringkali, setelah ditilik lebih jauh lagi permasalahan yang dipikirkan berlebihan itu tadi bahkan tidak seberat itu. Ini, kalo dibiarin terus-terusan terjadi, akan menumpulkan kemampuan kita untuk menggunakan insting dan bisa-bisa membuat kita malah mengambil keputusan yang tidak menguntungkan sama sekali.

Kemungkinan lain adalah kita bakal kejebak situasi yang namanya analysis paralysis. Kondisi ini muncul ketika kita terus-terusan memikirkan sebuah permasalahan tanpa benar-benar bisa menemukan solusi dan jalan keluar. Ini jelas sebuah hal yang menyita waktu. Energi pun terkuras habis dan akhirnya kita malah jadi ga poduktif. Overthinking memberikan efek negatif terhadap kreativitas karena kebiasaan ini akan memberikan beban mental yang sangat besar yang akhirnya berujung keputusasaan dan menutup jalur pola berpikir kreatif.

Ada juga akibat overthinking yang mempengaruhi segi jasmani seseorang. Jadi overthinking ini ga cuma ngerusak secara mental aja ya. Fisik kita pun ikut terkena dampak yang cukup signifikan ketika pikiran kita terfokus pada satu hal secara berlebihan. Apa aja efeknya?

Yang pertama adalah stres. Udah bukan rahasia lagi kalo overthinking itu sumbernya depresi. Ketika kita tertekan, maka tubuh akan bereaksi dengan cara melepas hormon kortisol. Hormon ini akan memerintahkan organ hati untuk memproduksi gula yang sedianya akan menjadi sumber energi. Tapiii, jika gula yang dilepaskan ternyata ga terpakai, gula itu akan kembali diserap oleh tubuh. Apa akibatnya? Denyut jantung akan meningkat, kepala sakit, konsentrasi terganggu, napas tersengal, kelelahan, dan pusing.

Kedua, pola tidur akan terganggu. Otak akan ada dalam kondisi selalu bekerja aktif dan tubuh tidak terasa tenang. Kombinasi keduanya akan menghambat kelancaran proses tidur sehingga tingkat energi tubuh menjadi minim dan kita pun merasa kelelahan.

Ketiga, nafsu makan kacau. Ketika sedang overthinking, beberapa orang justru akan menaikkan frekuensi makannya dengan harapan pikirannya bisa sedikit teralihkan dari permasalahan. Ada juga yang justru nafsu makannya drop jauh karena pikirannya udah telanjur terporsir untuk masalah yang ada.

Keempat, pelepasan hormon kortisol secara berlebihan berpotensi menyebabkan gangguan kardiovaskular, masalah pencernaan, gangguan kulit karena peradangan, dan sistem imun tubuh anjlok.

Jadi gimana caranya kita bisa mencegah overthinking dan meniadakan risiko akibat tekanan batin terus menerus?

  1. Coba ambil kertas dan pena. Tuliskan apa yang sedang dipikirkan. Ini adalah jalan yang paling mudah. Jangan diketik, ya; semuanya harus ditulis dengan tangan di atas kertas. Ketika semua hal yang menjadi pokok pikiran udah ditulis, pikiran akan sedikit lebih lega karena otak tidak lagi penuh sesak memikirkan segala macam skenario atau kemungkinan-kemungkinan. Kita bisa jadi lebih taktis, strategis, dan efektif dalam memandang sebuah permasalahan. Solusi pun bisa lebih mudah untuk dicari dan dirumuskan.
  2. Coba cari pengalihan. Carilah aktivitas menyenangkan yang bisa mengalihkan perhatian dari masalah yang ada yang bisa menyedot waktu dan energi. Misalnya dengan mendengarkan musik. Dengan mengalihkan pikiran dari hal-hal yang mencuri fokus, otak bisa beristirahat sejenak. Pilihan aktivitas lain bisa juga dengan cara membaca buku yang menarik perhatian, menyibukkan diri dengan berolahraga, menikmati tontonan film yang menyenangkan, atau menghubungi sahabat via telepon untuk sekadar curhat.
  3. Coba berefleksi. Daripada sibuk memikirkan sebuah masalah yang tidak akan memberikan jawaban atau solusi, apa ga lebih baik kita mencoba merefleksikan diri dan menarik pelajaran berharga dari kondisi saat ini agar di masa depan nanti ga keulang lagi?
  4. Coba ambil tindakan. Hentikan melakukan pendekatan terhadap sebuah persoalan dengan cara memikirkannya aja. Coba tindaklanjuti kemungkinan yang ada dengan langsung. Jika ada sesuatu yang menyebabkan tekanan batin meningkat, coba langsung dikonfrontasi. Kita bisa langsung dapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala. Masalah selesai, beban mental pun berkurang drastis.

Tapiii, kalo emang setelah dicoba dihentikan tapi overthinking tetap menjadi momok yang susah lepas dari keseharian kita, ga ada salahnya loh, datang ke psikolog atau pakar bidang ini. Kita bisa diberikan mental exercises atau tata cara untuk mendisiplinkan pola pikir agar selalu sehat dan ga hiperaktif. Jangan ogah-ogahan ya, kalo emang ke psikolog atau ahli bisa jadi cara yang efektif untuk mengakhiri overthinking. Jangan biarin diri kita larut dalam pola seperti ini karena jelas ga baik buat kesehatan mental dan fisik kita juga.

 

Keluhan Kesehatan Kulit dan Stres

Hai Teman DRYD,

Percaya ga kalo penyakit kulit bisa disebabkan oleh tekanan batin yang berlebihan? Sepertinya mungkin emang ga ada kaitannya ya. Kok bisa, gitu, kulit bermasalah gegara hati yang gundah gulana? Tekanan batin kan adanya di dalam hati ya, ga mungkin lah bisa ngefek ke kulit.

Pikiran soal gangguan psikis bisa berimbas ke fisik itu emang kaya ga masuk akal karena kita terbiasa memisahkan keduanya dengan garis batas maya yang tegas. Terlalu tegas, malah, sampe-sampe kita menolak percaya bahwa apa yang ada dalam hati kita bisa terefleksikan dari penampilan luar. Beberapa waktu lalu kita pernah bahas yang namanya penyakit psikosomatis, yaitu ketika beban mental yang terlalu besar berubah menjadi penyakit fisikal, yang baru bisa diatasi jika sumbernya (yaitu ketidakseimbangan kondisi psikis) di-handle terlebih dahulu. Ini beneran lo ya, ga ngada-ngada. Pada beberapa kasus, justru isi kepala dan hatilah yang bikin badan jadi sakit dan gejala-gejala gangguan fisikal itu akan hilang setelah metode-metode stress management diterapkan. Yaaa, sebenernya ga sesimpel itu juga sih. Tapi paling ga nih ya, gejala fisik tadi mungkin akan lebih mudah untuk diatasi jika kondisi psikis seseorang sudah tertangani lebih dulu.

Ini juga berlaku untuk kondisi gangguan kulit.

Pernah ga sih, Teman DRYD tiba-tiba nemuin ada jerawat di muka padahal ga abis ngapa-ngapain dan selalu merawat dan membersihkan kulit? Ato mungkin ada rasa gatal-gatal tanpa sebab di permukaan kulit di beberapa bagian tubuh tertentu? Semuanya serba tiba-tiba dan serba goib aja gitu, muncul tanpa sebab. Coba deh liat ke belakang lagi, runut semuanya. Apa Teman DRYD baru aja ngalamin suatu kejadian yang bikin nervous? Ada ujian yang ribet, mungkin? Atau lagi abis berantem sama si bos, mungkin? Ato mungkin tempat kerja yang udah terlalu toxic?

Kalo iya, curiga ga sih kalo gejala-gejala yang ada di kulit tadi ada hubungannya? Ini dengan catatan semua effort buat menjaga kulit udah dilakuin loh, ya. Ya kali kulit ga bakal sakit even pas kita ga rajin cuci muka. Coba bandingin kondisi kulit setelah tekanan batin terpicu sama sebelum. Ada perbedaan? Kalo iya, fixed udah semuanya dikarenakan kondisi psikis sedang dalam keadaan yang ga sehat.

Sebenernya prosesnya ga sesederhana itu juga sih. Ga yang…. kalo lagi tertekan, langsung biduren, langsung jerawatan. Ga seinstan itu juga. Tetap ada yang namanya sebab-musabab, reaksi berantai. Kayak efek domino, gitu; kalo yang satu di awal udah tumbang, yang lainnya ikutan ketimpa dan terus berjatuhan.

Semuanya berawal dari hormon.

Tubuh kita punya yang namanya sistem respons terhadap pencetus stres. Ini proses alami ya, sesuatu yang mutlak secara biologis dan fisiologis jadi mustahil bisa kita kendalikan atau hentikan sama sekali. Begitu kita tertekan, tubuh akan memproduksi hormon tertentu sebagai respons alami. Apa hormon itu? Jreng jreng jreeeng, perkenalkaaan hormon kortisol!

Kortisol ini dikenal juga dengan julukan the stress hormone. Kenapa? Karena ketika kita sedang mengalami tekanan psikis, produksi hormon ini meningkat jumlahnya. Jadi ketika diukur, tubuh seseorang yang tengah mengalami tekanan batin akan mengandung sejumlah besar kortisol. Yuk cek fun facts about this hormone:

  1. Kortisol berperan dalam produksi energi bagi tubuh dan membantu mengendalikan stres. Kortisol berperan dalam proses metabolisme tubuh karena hormon ini mengendalikan jumlah glukosa yang digunakan untuk menyediakan energi untuk tubuh. Kortisol diproduksi dengan jumlah besar ketika tubuh mengalami stres, baik fisikal mau pun psikis, karena hormon ini juga berfungsi menormalisasi tekanan darah dan memicu pelepasan insulin untuk mengendalikan kadar glukosa darah. Jadi semakin kita stres, semakin banyak kortisol yang diekskresikan karena tubuh tuh ngertinya kondisi badan kita lagi ga Jadi selama tubuh masih ga seimbang, bakalan ada terus tu, peningkatan kortisol.
  2. Alarm alamiah tubuh menjadi pemicu pelepasan kortisol. Ketika stres, otak akan mengartikan itu sebagai kondisi mengancam untuk tubuh secara umum dan memerintahkan kelenjar adrenal untuk memproduksi adrenalin dan kortisol secara bersamaan. Adrenalin membuat denyut jantung meningkat sementara kortisol memperbanyak kadar gula dalam darah. Dengan kondisi ini, tubuh akan membuat keadaan yang lebih kondusif bagi otak untuk bisa berpikir dengan lebih jernih.
  3. Kortisol ada dalam kadar tertingginya justru di pagi hari. Normalnya, kadar tertinggi kortisol dalam tubuh terjadi sekitar jam 8 pagi dan kemudian menurun ke tingkat paling rendah di saat sebelum tidur. Nah, pada orang-orang yang pola kerjanya lebih banyak dilakukan di malam hari, tingkatannya akan sebaliknya.
  4. Kortisol bisa menjadi penyebab kenaikan berat badan. Jika kortisol diproduksi secara hiperaktif dan tidak ditangani, hormon ini bisa mengubah cara tubuh menyimpan lemak. Tubuh akan dipengaruhi dan punya kecenderungan untuk menumpuk lemak di area perut. Ini, pada gilirannya, akan menyebabkan peningkatan risiko penyakit-penyakit kardiovaskular.

Hormon dan Kulit

Trus hubungannya kortisol dengan gangguan pada kulit apa dong, Dok?”

Simpel: Produksi kortisol berlebihan menyebabkan 1) peradangan dan 2) produksi minyak pada kulit meningkat.

Kalo udah begini, udah deh ya… pasti bakal banyak keluhan yang muncul.

Pertama, jerawat udah pasti jadi masalah umum. Kenapa? Dengan kondisi minyak pada permukaan kulit yang diproduksi secara meningkat, potensi kulit dihinggapi partikel-partikel penyumbat pori-pori juga ikut meningkat. Pori-pori yang tersumbat bikin pengeluaran minyak terhambat dan ini jadi lingkungan yang cocok buat bakteri berkembang-biak. Meradang lah itu kulit. Jerawatan lah akhirnya.

Kedua, biduran. Ini sedikit lebih rumit prosesnya. Ketika stres, selain mengeluarkan kortisol, tubuh juga memproduksi neuropeptida dan neurotransmitter. Zat kimia seperti ini berpotensi “mengobrak-abrik” cara tubuh merespons alergen, zat-zat pemicu alergi. Kulit jadi supersensitif dan merespons alergen tadi dengan cara abnormal dan ini akan memicu biduran. Jadi jangan heran kalo pas stres kita jadi lebih sensitif terhadap hal-hal yang tadinya ga memicu alergi.

Ketiga, eksim. Baik eksim atopik mau pun eksim diskoid ditandai dengan kulit kemerahan, rasa gatal, bersisik, dan penebalan. Penyebab utama eksim sebenernya masih jadi perdebatan tapi secara umum peningkatan kortisol ketika stres akan membuat kulit secara umum meradang dan ini yang menyebabkan eksim muncul.

Keempat, psoriasis. Psoriasis ditandai dengan kulit merah dan bersisik yang terasa gatal. Psoriasis merupakan jenis penyakit kulit yang disebabkan, salah satunya, gangguan sistem imun. Ketika stres, sistem imun tubuh akan terganggu dan ini bisa berujung pada kemunculan psoriasis. Kondisi psoriasis yang emang udah ada sebelumnya juga bisa diperparah. Beberapa orang merespons stres dengan cara menggaruk kulit yang aslinya ga gatal. Jika area yang digaruk sudah terjangkit psoriasis, kondisinya bisa lebih parah.

Itu tadi baru beberapa contoh kasus aja ya. Secara estetis, stres membuat kualitas tampilan kulit jadi ga menarik karena kita akan kelihatan lebih tua dengan kerutan, kulit keriput dan ga elastis, dan kekusaman. Rosacea juga bisa muncul tapi mungkin lebih kepada orang-orang yang emang berisiko tinggi. Kondisi-kondisi gangguan kulit ini diperparah juga dengan kemungkinan besar kita lupa melakukan perawatan kulit. Tau dong ya, kalo udah stres pasti ga kepikiran mau cuci muka. Perawatan se-basic nyuci muka aja luput apalagi yang kaya-kaya pake pelembap gitu. Makin parah lah kondisi gangguannya.

“Ah, kalo gitu mendingan hormonnya distop produksinya kali ya, Dok?”

Ga gitu juga, Nyaiii….

Stres itu sesuatu yang mustahil buat dihindari karena kita ga punya kontrol terhadap kemunculannya. Makanya saya agak menghindari mencari tahu tentang cara menghilangkan stres. Iya, saya penganut paham “daripada sibuk nyari cara ngilangin stres, mending di-managekalo udah soal ini sih. Karena saya pikir sih, mencoba menghilangkan, menghentikan, atau bahkan mencegah itu kayak mencoba menahan gelombang laut gitu. Sia-sia. Dia datang di saat tak terduga dan ga peduli sama persiapan apa pun yang udah kita coba terapkan. Jadi mending dimitigasi, dikelola, dikenali, dan dijadikan teman. Karena kita juga butuh stres buat bertumbuh dan berkembang. Beberapa jenis stres dalam tingkatan tertentu malah dibutuhkan sebagai stimulan yang berpengaruh secara positif pada tubuh. Iya, kita kudu waspada. Iya kita kudu paham efeknya apa. Tapi mencoba menghilangkan stres itu tindakan yang menurut saya sedikit ga ada gunanya. Kita cuma bisa mencoba mengurangi dan membatasi efek buruknya aja.

“Jadi apa ngga ada yang bisa dilakukan supaya kulit ga terlalu menderita pas stres, Dok? Sedih banget dong….”

Ada dooong.

Yang pertama yang harus dilakukan sebagai cara mengatasi stres adalah jangan jadi denial. Sadari diri sedang mengalami stres dan jangan berusaha mengabaikannya. Jangan pernah berpikir, “Ah, engga gua ga stres. Cuma lagi banyak kerjaan aja.” Ya, masa harus dikasi tau sih, kalo tumpukan pekerjaan itu adalah salah satu faktor utama pemicu stres?

Kedua, sestres apa pun, se-distracted apa pun, sepusing apa pun sama lingkungan, JANGAN PERNAH lupa (atau melewatkan) merawat kulit. Kulit harus selalu dijaga bersih dan dirawat supaya tetap sehat. Cuci muka sehari dua kali. Pelembap dipake terus. Sunscreen juga ga boleh dilewatin. Berikan perhatian ekstra untuk kulit. Rasakan setiap sentuhan yang diberikan. Ini juga bisa jadi momen pas buat menyembuhkan kondisi psikis yang sedang kacau.

Ketiga, perhatikan makanan. Nih ya, pas lagi stres, pasti bawaannya pengen ngemil kan? Gapapa, ga masalah. Boleh aja ngemil tapi pastiin cemilannya sehat dan ga memperburuk kondisi kulit. Kaya yang manis-manis dan minyak-minyak, itu ga boleh ya. Ganti dengan buah dan sayuran aja.

Keempat, tidur yang cukup. Saat kita tidur, tubuh melakukan perbaikan struktural menyeluruh, termasuk di bagian kulit. Kurang tidur sama sekali ga memperbaiki keadaan karena tubuh akan malah semakin stres.

Kelima, relaksasi. Apa aja metodenya? Meditasi bisa. Pijat juga bisa. Spa pun bisa. Efeknya dobel pula; stres berkurang, kulit makin segar.

Keenam, gunakan produk-produk eksternal seperti krim atau salep. Psoriasis bisa ditanggulangi dengan krim retinoid sementara eksim bisa ditangani dengan krim gliserin. Tapiii, ada baiknya sebelum menggunakan produk seperti ini kita konsultasi dulu ke dokter kulit biar ga nimbulin masalah baru.

Stres jangan dianggap enteng tapi jangan diperburuk dengan overthinking ya. Kondisi psikis dan kondisi kulit itu berkaitan secara langsung meskipun ga sederhana juga prosesnya. Yang terpenting, jangan lupa merawat kulit apa pun keadannya. Jangan males, jangan kebawa emosi. Kelola dan kendalikan stres dengan cara yang efisien.

Golf? Why?

Why golf? Simpel, Teman DRYD. Dari jenis olahraga yang satu ini, ada baaanyak banget manfaat yang bisa diambil. Saya sendiri sih sebenernya baru aja nyicipin golf. Yaaa, masih amatiran gitu lah. Tapi lumayan; ada sejibun keuntungan yang bisa saya ambil dari bermain golf.

Pertama, pasti dong soal fisik. Golf mungkin keliatan santai, ya. Tapi tetep aja pake gerakin sekujur badan. Pemanasan juga perlu biar ga ada otot yang missed saat digunakan. Artinya apa? Jasmani bisa diaktifkan dengan maksimal.

Kedua, golf juga “memaksa” saya buat meng-“update” postur tubuh. Tanpa disadari nih, saya mungkin lupa bahwa beban berat badan bikin punggung bungkuk dan cara berdiri atau berjalan juga salah. Di golf, postur tubuh yang benar akan memiliki andil besar dalam membantu kita memasukkan bola ke hole target. Tanpa positioning dan posturing yang tepat, agak sulit kalo mau sukses nambah skor. Mau ga mau, jadinya saya harus membetulkan postur yang salah.

Ketiga, golf adalah tipe olahraga yang minim risiko cedera. Golf adalah jenis kegiatan fisikal yang kalem, serene, dan ga terlalu demanding perkara ketahanan fisik—sambil tetap mengharuskan kita buat aktif di saat yang sama. Ga ada keterburu-buruan dalam golf. Yang ada cuma tuntutan untuk tetap tenang, fokus, dan membuat keputusan yang tepat.

Keempat, golf membantu saya buat melihat sesuatu dengan ketenangan tersendiri. Ini mungkin lebih ke efek personal aja sih, ya. Soalnya lapangan golf itu kan luas, ya. Jadi dengan view yang lebih lapang, pikiran jadi lebih lega dan dengan kelegaan ini saya jadi lebih bisa berpikir dengan jernih, gitu.

Kelima, saya belajar tentang cara melepaskan. Melepaskan apa aja yang ga bisa saya kendalikan, gitu maksudnya. Karena gini, abis swing golf, kan bolanya ga balik lagi ke kita kan. Trus ga ada juga orang lain yang bakal mukul bola itu balik ke arah kita. Jadi ya udah aja gitu; pukul bolanya, bolanya ngglinding ke satu arah, kalo masuk ya sukur kalo engga, ya apa boleh buat…? Tinggal kita samperin bolanya trus susun strategi baru buat langkah berikutnya.

Keenam, golf itu environment-nya ga terlalu toxic dan dramanya lebih sedikit. Persaingan pasti dong tetep ada. Namanya juga competitive game. Tapi orang-orang bakal lebih sibuk buat mikir apa yang efektif buat masukin bola ke hole target dan ground masing-masing aja. Udah ga ada waktu buat bergosip ato mikir, “Gue kudu lebih baik dari si anu!” Karena lingkungan yang cenderung netral, pikiran ga bakal overthinking dan hati pun lebih tenang. Fisik sehat, mental seger, pikiran lebih lega. Paket komplit dah.

Tentunya ini semua dari perspektif pribadi yaaa. Semua orang pasti beda-beda pengalamannya. Tapi karena ada kesemua keuntungan yang udah saya jabarin di atas, so it’s definitely a must-try for me.

Mengasuh Anak dengan Cara yang Apa Adanya

Teman DRYD,

Udah maksimal belum dalam memastikan anak hepi dan bertumbuh-kembang dengan baik? Ini bukan judgment loh ya, Teman-teman, cuma pertanyaan sederhana yang bahkan mungkin tanpa perlu diajukan sekalipun udah ada dalam kepala kita semua. Salah satu dari banyak concerns kita sebagai orang tua adalah memastikan si buah hati tidak memiliki hambatan yang berarti dalam prosesnya mendewasa. Dan salah satu cara untuk bisa melancarkan proses perkembangan anak itu adalah dengan membuatnya bahagia di rumah.

Rumah yang terasa hangat dan energetik adalah sumber kebahagiaan anak yang mutlak. Anak tidak akan bisa bertumbuh dan berkembang dengan relatif sempurna jika lingkungan intinya tidak akomodatif dan sehat. Peran kita dalam hal ini adalah membentuk lingkungan akomodatif tersebut.

Sebenernya mencari tahu dan mengukur kadar apakah anak itu sehat atau tidak adalah suatu hal yang sedikit kompleks. Kita perlu jadi supersensitif terhadap perubahan sekecil apa pun pada anak, superkritis terhadap diri sendiri dan cara-cara pengasuhan anak yang dipakai, super-willing buat mengevaluasi dan mengoreksi diri, supertajam dalam menganalisa keadaan, superikhlas dalam mempersembahkan banyak faktor untuk anak (waktu, ruang, energi), dan superfleksibel dalam menyediakan perhatian khusus untuk si buah hati.

Terdengar rumit, kan? Emang iya. Saya ga bosen-bosen ngingetin kalo membesarkan anak itu tugas yang saaangat ribet. Keliatannya aja yang gampang, apalagi kalo kita lebih banyak ngeliat keluar dan cuma yang enak-enaknya aja. Sekali diterapin sendiri bisa keteteran. Bisa terjerat sendiri dalam serangkaian kerumitan menjadi orang tua.

Tapi sebagai guidelines mendasar, ada kok parameter penilaian apakah anak sehat di rumah dan ini dibagi menjadi dua tipe: jasmani dan rohani.

Ciri-ciri anak yang jasmaninya sehat relatif lebih mudah untuk diobservasi:

  1. Aktif

Anak yang secara fisik aktif adalah anak yang cukup sering bergerak sehingga makanan yang ia konsumsi bisa diubah menjadi energi secara konsisten. Efeknya apa dari anak yang dinamis? Kepercayaan dirinya lebih besar, konsentrasinya lebih tinggi, lebih mudah bersosialisasi, berbagi dan bekerja sama dengan orang pun akan menjadi suatu hal yang alami buat si anak. Organ-organ dalamnya juga lebih kuat dan maksimal dalam bekerja.

  1. Tumbuh

Agak ga fair sebenernya kalo mau memberikan penilaian kesehatan anak dari sisi pertumbuhannya karena setiap anak adalah individu berbeda yang memiliki laju tumbuh-kembang yang berbeda-beda juga. Penambahan tinggi dan berat adalah 2 hal yang cukup konstan untuk ditilik di setiap anak: Proses ini semestinya berlangsung secara proporsional dan menunjukkan peningkatan signifikan, terutama di masa pubertas.

  1. Tubuh

Menilai kesehatan anak secara jasmani bisa jauh lebih mudah apabila si anak emang nunjukin ciri-ciri yang sehat. Kulitnya sehat ga bentol-bentil atau kering, rambutnya ga rontok dan ga ada kutu di kepala, kukunya bersih dan kuat, lidahnya kemerahan, mulutnya ga bau, dan giginya ga ada lubang atau karang.

Ciri-ciri anak yang rohaninya sehat cuma bisa diamati dengan peninjauan ekstensif dan komprehensi karena berkenaan erat dengan aspek-aspek seperti kemampuan akademik, kepribadian, dan sikap, tapi umumnya:

  1. Emosinya lebih stabil

Perilakunya secara umum baik dan sopan dan ga suka tantrum. Agresivitasnya pun masih dalam skala masuk akal. Si anak jarang terlihat sedih dan ga narik dirinya tiba-tiba.

  1. Kepercayaan dirinya tinggi dan sifatnya ceria

Si anak tampak lebih menikmati hidupnya dan jauh dari yang namanya cemas berlebihan.

  1. Sifatnya supel

Kemandirian bisa diamati dalam dirinya dan ini membuatnya lebih mudah bergaul tanpa menghindari dunia sosial di sekitarnya.

  1. Lebih mudah belajar

Konsentrasinya terjaga dengan baik dan mampu menyerap pelajaran di sekolah dengan relatif baik pula.

  1. Istirahatnya cukup

Buah hati ga mengalami kesulitan dalam beristirahat dan ga ada gangguan tidur—ga sulit tidur atau tidurnya kelamaan.

Tentunya ini cuma general guidelines ya. Ga mesti semuanya harus sesuai dengan apa yang dijabarkan di atas, lebih bersifat berdasarkan kasus aja. Yang perlu diingat juga adalah anak-anak masih mempelajari cara berkomunikasi yang baik dan efektif jadi akan selalu ada kemungkinan dia menyimpan sendiri kendala yang ia hadapi. Kitalah yang perlu jeli, responsif, dan proaktif dalam mengulik permasalahan yang sebetulnya terjadi.

Apa pentingnya kita menjaga kesehatan anak di rumah? Anak yang tumbuh sehat di rumah adalah anak yang bahagia. Anak yang bahagia akan merefleksikan cara mengasuh anak yang baik pula, yang orang lain bisa lihat secara langsung. Ini bukan berarti kita perlu selalu memikirkan apa opini atau omongan orang lain ya; anak kan anak kita. Kita yang kenal karakternya seperti apa. Kita yang menghadapi kesulitan dan menikmati keberhasilan dalam mendidik anak. Bodo amat deh sama apa yang orang lain pikirkan. Tapiii, ketika anak berubah menjadi “cermin” yang memantulkan pola asuh yang kita terapkan dan orang lain bisa dengan gamblang menangkap sinyal bahwa si anak ga bahagia di rumah, kita juga yang kena getahnya. Kita dianggap ga becus membesarkan anak dan belum lagi kita harus menghadapi konsekuensi dari pola asuh yang tidak tepat itu sendiri nanti.

Lagi-lagi, emang kita ga perlu menyusahkan diri sendiri dengan memikirkan pandangan orang lain. Tapi orang lain itu juga bisa banget menangkap apa yang anak rasakan dari cara mereka berinteraksi dengan si anak.Misalnya nih, kita lagi ketemu sama temen dan anak kita bawa. Ketika si temen mencoba membangun komunikasi dengan anak kita, cara si anak memberi respons kepada orang dewasa akan mencerminkan apa yang kita tanamkan kepadanya. Apakah dia malu dan memilih bersembunyi di balik badan kita? Apakah dia dengan sopan membalas sapaan orang dewasa dan terlibat dalam percakapan yang dinamis? Sesama orang dewasa bisa menangkap jika ada sesuatu yang salah dengan cara kita mendidik anak di rumah atau jika ada sesuatu yang dengan tepat sudah kita terapkan pada anak.

Anak itu output ya, Teman-teman. Mereka bisa menjadi tolok ukur orang lain dalam menilai kefasihan kita dalam memastikan kesehatan dan kebahagiaan anak. Jadi jangan “bersandiwara”; bersikap seolah-olah semuanya udah kita terapkan dengan baik dan sempurna sementara dari muka anaknya aja udah keliatan kalo dia ga mendapatkan cukup kebahagiaan di rumahnya sendiri.

Masalah terbesar kita sebagai orang tua yang memiliki anak yang masih lumayan kecil adalah bagaimana kita bisa membuatnya patuh tanpa menggunakan cara-cara yang berpotensi merusak tumbuh-kembangnya. Ada sih tips dan trik yang bisa dipake, tapi sama lagi, semuanya ini cuma general guidelines, ya. Tinggal cocokkan dengan apa yang terjadi dan situasi di rumah aja nanti.

  1. Berikan contoh yang baik

Mengharapkan diri sendiri menjadi orang tua yang sempurna itu cuma mimpi. Kita cuma bisa melakukan dan memberikan yang terbaik. Don’t be too hard on yourself; adapt, adapt, and adapt. Kita harus fleksibel dan cukup mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak dan tuntutan menjadi orang tua yang “memadai” aja. Jangan menarget kesempurnaan karena ini bisa berpotensi menjadi bumerang yang hanya akan menyakiti diri sendiri pada prosesnya. Memberikan contoh kepada anak adalah yang sederhana; anak itu seperti kertas kosong yang tinggal diisi dengan apa yang kita kehendaki. Jika kita menginginkan anak memiliki sikap tertentu, tunjukkan. Jangan cuma menyuruh dan memerintah. Anak lebih mudah mencontoh apa yang ia lihat daripada dengar.

  1. Panggil namanya

Kita susah-susah mencarikan nama yang artinya bagus buat anak, kita juga yang akhirnya menolak menggunakan nama itu untuk memanggilnya. Kan ga konsisten jadinya. Menyebut nama si anak akan memberikan rasa dianggap pada diri anak sendiri. Setelah si buah hati menoleh, utarakan dengan lembut apa yang kita inginkan. Jangan pernah berteriak atau membentak ya.

  1. Dengarkan dirinya

Dengarkan keluhannya. Dengarkan protesnya. Dengarkan alasannya.

  1. Kenali trigger

Jika anak marah, kita patut mencari tahu apa yang menjadi penyebab kemunculan emosi negatif. Hindari menguliahi anak di saat dia sedang marah karena ga bakalan ada satu pelajaran pun yang bisa dia serap.

  1. Jadilah konsisten

Pola yang konsisten dan rutin akan memberikan rasa aman untuk anak dan mendidiknya untuk terbiasa dengan karakter kita sendiri sebagai orang tua.

  1. Hukum dengan pantas

Kalau bicara soal hukuman, semua sudah pasti harus selalu proporsional. Hukuman yang masih dalam batas kewajaran bisa menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dan ketegasan pada diri anak.

  1. Apresiasi dan puji

Berikan pujian dan apresiasi terhadap pencapaian anak dengan tidak berlebihan atau kurang dari cukup agar motivasi anak tetap terjaga.

  1. Ciptakan keharmonisan

Menjaga keharmonisan rumah tangga dapat mendukung rasa nyaman anak sehingga lebih mudah untuk mereka mendengarkan ucapan dan permintaan orang tua.

Social Distancing vs. Social Disconnecting: Beda dan Bahaya

Hai Teman DRYD,

Di update kali ini, kita mau ngomongin COVID-19 lagi nih.

Whaaat?! Yaaah, masa stupid covid lagi, Dok? Basi kali….”

Ga dooong. Pandemi kan masih jalan; dan selama pandemi masih belum dinyatakan kelar, suka ga suka topik satu ini pasti masih valid buat diperbincangkan. Bukan berarti sehabis pandemi kita bisa melupakan ya. Forgive but never forget. Kita bisa move on dan memaafkan semua bencana yang disebabkan pandemi tapi kita sama sekali ga boleh melupakan efeknya. Belajar dari yang terjadi. Ambil hikmahnya.

Emang ada, Dok, hikmah dari semua mimpi buruk ini?”

Adaaa. Kan saya udah pernah bilang, jika kita ga bisa mengubah sesuatu, yuk kita coba liat sesuatu itu dari perspektif yang berbeda. Tinggal “pelintir” aja cara kita melihat suatu hal. Bukan berarti denial, ya, ga gitu. Kita tetap harus terima kenyataan tapi sebaiknya kia ga cuma fokus ke hal-hal buruk aja. Ga sehat buat mental dan di saat yang sama juga ga sehat buat fisik.

Salah satu yang sempat menjadi tren beberapa saat lalu adalah kebijakan social distancing. Di titik ini, pastinya semua udah pada ngeh dong ya, tentang penjarakan sosial di masa wabah seperti ini. Kebijakan ini diterapkan supaya penyebaran virus dapat ditekan karena asumsinya orang-orang pada berada di jarak aman yang tidak mengakomodasi infeksi lebih jauh secara massal. Prinsipnya, dengan membatasi jarak interaksi antarindividu, penyebaran virus jadi terbatas dan ini bisa memberikan waktu bagi para pakar untuk menciptakan penangkal bagi penyakit yang ada, seperti vaksin misalnya. Pembuatan vaksin itu butuh waktu hitungan tahun, jadi dengan mengekang atau mengendalikan laju penyebaran virus, jumlah orang yang terinfeksi bisa tetap minimal dan bisa dibuat imun setelah vaksin selesai dibuat.

Secara konsep, kebijakan ini sederhana sebenernya. Kasi aja jarak yang cukup jauh antara kita dan orang lain. Tapi kenyataannya ga sesimpel itu. Selain kita ga bener-bener bisa menjamin bahwa partikel virus ga bisa sampe ke kita dalam jarak tertentu, efek psikologisnya jauh lebih besar lagi. Kenapa? Karena kita ga terbiasa untuk memberi jarak antara kita dan orang lain ketika berinteraksi. Naluri kita sebagai manusia adalah untuk terus membangun relasi dengan individu lain dan ini memerlukan kedekatan dalam hal jarak. Kita butuh interaksi fisikal dalam kadar yang relatif berbeda-beda tapi ini menuntut kita untuk berdekatan dengan orang lain. Akan sedikit sulit untuk kita bisa selalu berjauhan dengan dengan orang lain secara konsisten karena kehidupan sehari-hari kita pun bergantung dengan keberadaan orang di sekitar. Lalu kita pun mengurung diri dalam rumah selama berhari-hari, takut berhubungan dengan orang lain. Kita mengambil tindakan ekstrim yang akhirnya berbuntut pada pemutusan relasi dengan dunia luar. Alih-alih menjalani proses penjarakan sosial, kita pun tenggelam dalam yang namanya social disconnecting. Ini sangat, sangat ga sehat. Ga sehat buat fisik, ga sehat buat mental, dan ga sehat untuk kemampuan kita menjalani hidup sosial.

Kalo diliat sekilas, menutup diri dari interaksi sosial emang cukup praktis. Kita ga perlu membuat “jembatan” dengan dunia luar dan risiko tertular virus pun bisa tetap ditekan secara signifikan. Yang jadi masalah adalah ini ga membuat kita merasa lebih baik. Kondisi terkungkung dalam rumah tanpa bisa melakukan apa pun itu berpotensi besar membuat stres dan kalo dibiarin berlarut-larut bakal berujung pada depresi. Dan ga ada satu pun yang bisa dinikmati dari keadaan tertekan mental di tengah pandemi yang ga tau kapan bakal kelar. Selesai sampe sana? Tentu engga. Kalau kita depresi, kita butuh penanganan khusus. Yang artinya kita harus interaksi dengan pihak lain, para pakar kejiwaan misalnya. Ini berarti hasil akhir dari keputusan yang kita ambil sebelumnya untuk menutup diri dari dunia luar adalah negatif, yang artinya lagi adalah kenapa ga dari awal aja dipikir lagi semuanya?

Jangan gegabah, itu aja sih yang perlu ditanamkan. Penjarakan sosial ga serta-merta kita mengubah sifat menjadi antisosial. Yang salah itu bukan sosialnya tapi cara berinteraksinya. Ga dilarang kok berinteraksi sama tukang sayur keliling kompleks, misalnya, asal kita pake masker, dianya pake masker, kita cuci tangan setelah transaksi, batasi komunikasi oral, pake sarung tangan kalo perlu. Ga perlu denger kata orang lain. “Ih, si ibu mah, lebay. Saya kan ga kena corona….” Bodo amat yaaa. Ga peduli lu mau sakit apa engga, yang penting gue jaga diri sendiri aja dulu. Ga perlu memusuhi orang-orang dan bersikap defensif terhadap dunia luar. Kita cuma perlu membatasi, bukan menutup diri dari segala hal.

Naaah, sekarang penajarakan sosial jauh lebih longgar dengan penerapan new normal. Apa ini berarti kita bebas kembali seperti sebelum semuanya berubah jadi mimpi buruk sekarang? Ga jugaaa. Justru kita malah lebih wajib menyesuaikan diri. Karena sekarang dengan kenormalan baru ini, semua orang keluar dari sarangnya. Ini yang bikin kita harusnya lebih waspada dari yang udah-udah. Jarak interaksi masih harus tetap dijaga pada batas aman. Kontak fisik tetap harus ditekan ke level minimal. Berada di lingkungan dengan sirkulasi udara yang lancar dan baik tetap harus diutamakan. Durasi berinteraksi pun harus dijaga supaya ga berlebihan. Durasi, ventilasi, dan jarak adalah tiga kata sakral yang harus kita jadikan mantra untuk diingat di masa-masa seperti ini.

Kenormalan baru mengundan orang-orang untuk tetap berinteraksi sosial dengan cara baru. Ini bisa jadi faktor utama yang mendorong kita untuk memutus interaksi sosial secara total. Gimana supaya kita bisa menyikapi pandemi dan penjarakan sosial dengan lebih bijak?

Pertama, berhenti mempertanyakan kapan wabah COVID-19 berakhir. Tadi udah dijelasin, wabah kaya gini baru bakal kelar kalo vaksinnya udah ditemukan dan terbukti dan teruji efektif. Selama vaksinnya belum ada, yang kita perlu lakukan cuma menerima kenyataan bahwa hidup udah berubah. Ini bikin kita lebih legaan dikit dalam menjalani hidup sehari-hari. Karena kan kita ga bisa ngelakuin apa-apa soal ini, toh? Ya udah, dijalani aja dulu. Toh, juga para ahli bukannya diem-diem bae, nyante-nyante ngopi. Mereka juga muter otak kali, ga tidur berhari-hari buat mecahin satu masalah ini.

Kedua, stop bersikap seolah-olah pandemi ini adalah alasan bagus buat jadi anti sosial. Yang justru malah sebaiknya dilakukan adalah memandang situasi ini sebagai sebuah pertanda bahwa kita harus hidup lebih baik. Kalo mau dibawa ke sisi yang lebih sih, anggap aja wabah ini sebuah teguran dari alam bahwa kita selama ini udah terlalu dimanjakan dengan pola hidup yang sama sekali ga sehat. Dulu sebelum wabah ga kepikiran kan buat cuci tangan dengan sangat rajin? Ga kepikiran kan, buat rajin olahraga? Ga kepikiran kan, buat memperhatikan pola makan dan apa yang dimakan?

Ini sebenernya bisa jadi momen yang pas buat kita bisa introspeksi diri, menata ulang segala yang salah tentang diri kita. Bukannya malah ngambek dan ga mau interaksi sama sekali dengan sosial sekitar. Ada wabah ato engga, hidup sebaiknya terus berjalan.

Dan hidup memang tetap berjalan, ga peduli sama apa yang terjadi. Tinggal kitanya, mau adaptasi dan mengubah diri atau tenggelam dalam jurang depresi.