Proses Berpikir Berhenti di Pematangan Logika? Engga Juga!

Ada satu jurnal unik tentang perselingkuhan yang pernah saya baca tempo hari. Jurnal ini mengklaim bahwa perselingkuhan pada dasarnya bukan hanya mengenai satu orang yang sudah memiliki komitmen dengan seorang pasangan kemudian menjalin hubungan dengan orang lain. Ketika satu saja dari pihak yang sudah saling berkomitmen itu merasa nyaman dengan pola interaksi yang ada dengan pihak lain, itu sudah sebuah perselingkuhan. Kata kuncinya di sini adalah “interaksi” loh ya. Jadi bentuknya bisa sangat umum, harmless, dan halus nyaris ga bisa dibedakan dari pola interaksi yang lain.

Selingkuh: sebuah konflik yang umum tapi bisa dihindari

Dari sini timbul satu pertanyaan, dan pertanyaan itu betul-betul “revolusioner”, “Kalo gitu, semua orang di muka bumi ini pasti pernah selingkuh se-engga-nya sekali seumur hidup?” Revolusioner, kan? Ini bisa mengubah cara kita meniilik konsep perselingkuhan dan bisa-bisa memaksa kita mengganti cara berinteraksi dengan orang lain, dong.

Bentarbentar, jangan dulu ngerasa dituduh trus sebel sama saya, ya. Hahahah. Saya ga nuduh, loh. Ini bukan judgment. Ini cuma pembahasan menarik buat saya karena ternyata hal sederhana yang kayanya ga berisiko-berisiko banget ternyata bisa punya dampak sistemik yang gede, gitu.

Supaya lebih praktis, yuk coba kita terapin pake contoh real. Ada ga yang masih temenan sama mantannya di medsos? Kalo ada, pasti dong, sering kepo. Sering kan, ngeliat fotonya di feed trus masuk ke profilnya trus kebayang masa lalu trus kepikiran masa-masa indah dulu trus senyum-senyum sendiri. Trus tanpa diduga muncul dorongan buat nyoba ngontak lagi. DM-DM-an, ah. Trus ngobrol deh panjang-lebar. Dan semuanya pasti dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Nunggu pasangan tidur lah, di kamar mandi lah, di tempat kerja lah. Kenapa sembunyi-sembunyi? Karena alam bawah sadar kita cenderung mem-protect diri sendiri supaya ga ada dalam situasi menjadi tertuduh dan merasa bersalah. Kebayang kan, gimana berabe-nya kalo pasangan sampe ngegap kita lagi ngobrol asik sama mantan? Kita tahu itu salah dan punya banyak potensi konflik, tapi tetap kita lakukan; maka mekanisme defensif kita adalah dengan melakukannya di belakang pihak yang berisiko menjadi marah.

Semua serba di belakang pasangan

Ga usah sampe DM-DM-an sama mantan deh; menikmati keindahan manusia yang fotonya terpampang di feed aja pasti udah bikin nyaman kan? Cakep banget nih UwU. Gila, bening banget, nih. Emang, mungkin ga sampe yang nekat ngajak kenalan ato bikin hasrat menggebu-gebu. Tapi nyaman ga, pas mantengin? Nyaman? Nah, selingkuh deh, tuh.

Ato kasus lain. Ada ga yang udah lama ga kontak sama mantannya, tiba-tiba harus ngubungin gegara masalah kerjaan? Udah setengah mati nyoba nyari pakar lain tapi cuma si mantan yang available dan kita tahu kualitas kerjanya kaya apa. Mau ga mau kan? Deadline udah deket, nih. Di-WA deh, tuh si mantan. Kebayang dong awkward-nya gimana? Tapi seiring waktu berjalan dan karena memang konteksnya adalah pekerjaan, rasa canggung pun hilang, berganti rasa nyaman. Dari rasa nyaman, muncul rasa kehilangan kalo ga kontak sehari karena emang lagi ga ada keperluan kerja.

“Ya kan, ga salah, Dok. Di kasus pertama, kita ga sampe ketemuan. Di kasus kedua, kan cuma suka ngeliatin—paling jauh juga ngasi like. Di kasus ketiga, salahnya di mana, Dok? Kan ngobrolnya cuma masalah kerjaan.”

Gini, ada yang namanya selingkuh fisik, ada yang namanya selingkuh hati dan pikiran. Kalo selingkuh fisik, pasti pada paham dong. Pasangan udah ketemuan sama orang lain, ngedate tiap minggu tanpa kita tahu, kebangetan kalo masih nanya, “Selingkuh ga sih, itu namanya?” Nah, selingkuh hati adalah jenis perselingkuhan yang paling abstrak. Kenapa? Karena biasanya terjadi satu arah, si pihak lain bisa aware dan merespon balik bisa enggak. Kedua, perselingkuhan jenis ini bisa melibatkan fisik bisa enggak, meskipun di kebanyakan kasus, ga perlu kontak fisik atau face to face. Ketiga, jenis perselingkuhan ini relatif lebih cepat hilang, apalagi kalo pihak satunya ga memberi respons yang mendukung. Begitu jalur komunikasi ditutup, rasa-rasa dalam dada bisa cepat hilang.

Karena sifatnya terlalu abstrak dan seringkali tidak terdeteksi, selingkuh hati ini juga sekaligus jenis perselingkuhan yang paling sering terjadi. Masa sih, cuma ngelike foto orang doang bisa dianggap selingkuh? Harmless emang; tapi coba deh tempatkan diri kita di posisi pasangan. Apa kita ga otomatis kepikiran, “Seharusnya aku yang di-like. Kenapa dia ngelike orang itu? Apa yang kurang di diriku?” Insecurities, self-doubt, ketidakbahagiaan, rasa marah, rasa tidak percaya, rasa curiga, perasaan dikhianati; wah, resep anti-gagal untuk memasak konflik dalam hubungan hingga matang.

Selingkuh itu konsep sederhana, sebetulnya, cuma aplikasinya sangat luas jadinya bikin kita mikir ke mana-mana. Simpelnya, selingkuh itu adalah ketika kamu melakukan atau merasakan sesuatu yang seharusnya kamu lakukan bersama atau rasakan terhadap pasangan sahmu—baik pacar apalagi pasangan legal. Dan dari ketiga contoh di atas tadi, benang merah-nya sama: ciri ciri selingkuh hati itu adalah ketika kita merasa nyaman terhadap sesuatu yang terjadi dengan orang lain dan semuanya terjadi di belakang pasangan kita. Semua orang bisa berargumen mengontak mantan itu bukan hal yang salah ketika menyangkut masalah profesionalisme. Mengobrol dengan mantan pun relatif tidak salah; argumennya, toh, ga ada pembicaraan yang “menjurus”. Cuma tanya kabar, sibuk apa, atau mengomentari anaknya (kalo ada) yang kiyut. Semuanya pun ga kita perkirakan dan tanpa sepengetahuan pasangan—baik pasangan kita maupun pasangan si mantan. Kondisi ini bisa terjadi tanpa si mantan berniat memicu kembali kenangan masa lalu yaaa. Si mantan bisa aja tetep nge-jaga profesionalisme. Bahkan mungkin pasangannya sendiri tahu urusan kita sama si mantan. Tapi dari sisi kita sendiri? Siapa yang bisa jamin ga ada kesalahpahaman di antara kalian sehingga ucapan yang sejatinya bersifat pekerjaan malah kita artikan bentuk kepedulian personal?

Ga ada yang salah. Selama masih dalam batas normal dan paham cara mengatasi selingkuh hati, semua serbah sah sebenarnya.

Tapi pantas, ga?

Siapapun pasti paham tentang konsep benar-salah. Dari kecil kita udah dididik untuk membedakan mana yang benar untuk dilakukan, mana yang salah. Kadarnya mungkin memang berbeda, tergantung latar belakang, lingkungan, dan daya nalar. Tapi semua orang punya parameter masing-masing mengenai benar-salah. Tapi kalo udah membahas pantas-tidak pantas, ceritanya bakal panjang.

Seseorang boleh menghubungi kembali mantannya untuk masalah pekerjaan. Seorang anak yang sudah dewasa berhak dihidupi oleh orang tuanya. Mendukung satu ideologi sah diperbolehkan oleh hukum. Tidak ada yang salah sama sekali. Tapi, apakah pantas menghubungi mantan di luar pekerjaan? Apakah pantas orang dewasa menggantungkan hidupnya pada orang tuanya? Apakah pantas mendukung sebuah ideologi kontroversial? Konsep benar-salah itu diterapkan berdasarkan logika sementara pemahaman mengenai pantas-tidak pantas itu lebih mengedepankan perasaan. Mana yang harus didahulukan? Apa salah mendahulukan logika? Toh, manusia diberikan kemampuan untuk melakukan proses berpikir kritis, kan? Itu pun benar. Tapi yang perlu diingat adalah benar-salah adalah pola pikir hitam-putih yang sangat subjektif sifatnya. Hidup itu ga serba hitam atau serba putih. Ada kalanya kita dipaksa memasuki area abu-abu dan pembagian benar-salah tidak efektif. Apa yang menurut logika subjektif kita adalah benar, bisa berarti sebaliknya dari perspektif orang lain.

Enggak, bukan berarti kita harus hidup berdasarkan pendapat orang lain juga. Kita individu merdeka, bebas dari apa yang orang lain pikirkan tentang tindakan kita. Tapiii, ada baiknya jika kita juga meluangkan waktu untuk menggunakan perasaan sendiri untuk menelaah tingkat kepatutan suatu tindakan setelah selesai dengan proses pemilahan tingkat kebenaran tindakan tersebut. Gunanya apa? Supaya kita tidak menyakiti perasaan orang lain atau, amit-amit melanggar hak orang lain.

Kita, semerdeka-merdekanya kita, seindividualistis apapun kita, adalah makhuk sosial. Kita ga hidup sendirian. Bahkan di saat kita berpikir bahwa kita sudah menjalani lifestyle yang mandiri, independen, ga pedulian, tanpa disadari hidup kita selalu bersinggungan dengan orang lain. Selalu ada satu irisan yang membuat kita berinteraksi dengan hidup orang lain. Perasaan dan hak orang lain juga kudu dipertimbangkan. Konsekuensinya kalo engga gimana? Ya, jadi public enemy. Jadi sumber pencetus konflik. Pasangan ga bakal nyaman hidup berdampingan dengan kita padahal kan, tujuan membina sebuah relationship itu kan salah salah satunya menyatukan dua kepala yang berbeda biar satu arah. Kalo sebuah hubungan dijalani tanpa rasa nyaman, udah pasti ambyar. Tinggal nunggu waktu. Ini berlaku ga cuma perkara romance loh, ya. Hubungan pertemanan juga sama; ga ada orang yang nyaman berada di satu circle yang sama dengan seseorang yang ga pernah mikirin perasaan orang lain. Hubungan profesional juga sama, lebih-lebih lagi malah mengingat unsur like and dislike sangat kental di dunia kerja.

Contoh lain yang menarik adalah momen reuni. Kan biasa nih ya, pasti ada group chat alumni. Trus salah satu anggota grup adalah seorang cewe yang dulunya pas kuliah sering berpenampilan hot, gitu, serba wow. Trus ada anggota lain, cowo (tipikal badut di kelas gitu, deh) yang tiba-tiba nyeletuk, “Eh, lu masih seksi, ga?” di dalam percakapan grup tersebut. Salah? Enggak. Pada kenyataannya emang si cewe itu penampilannya emang menarik perhatian. Dan karena udah lama ga ketemu, pastinya ga tau ada update apa, kan. Ada perubahan ato engga. Completely harmless. Malah mungkin mengundang seisi grup untuk ketawa, lucu-lucuan aja, gitu.

Tapi pantes, ga?

Siapa yang tau pasti si member cewe masih kaya dulu? Siapa tahu dia udah hijrah sepenuhnya. Siapa tahu dia udah berkeluarga dan ada perasaan keluarga yang harus dia jaga. Gimana perasaan kita kalo jadi suaminya dan ngeliat pertanyaan kaya gitu terlontar segitu casual-nya? Gimana perasaan istri kita kalo dia liat suaminya nanyain hal begituan? Apa ga timbul pertanyaan, “Lah, kalo masih seksi trus mau gimana? Mau dipepet, gitu?” Panjang urusannya. Secara ga langsung, menimbang kepantasan suatu tindakan atau ucapan bisa mencegah kemunculan konflik-konflik yang ga perlu di hidup kita. Problematika hidup yang udah ada aja masih belum kelar, masa mau nambah? Dengan meminimalisasi konflik, hidup akhirnya akan terasa lebih ringan. Hidup yang dijalani dengan ringan akan menyenangkan. Salah satu kunci kebahagiaan adalah dengan meningkatkan kedewasaan diri.

Suatu hal bisa benar tapi tidak pantas di saat yang sama. Sebaliknya, sesuatu itu bisa salah tapi kemungkinannya untuk menjadi pantas masih terbuka lebar. Apa contohnya? Tau dong, berinteraksi dengan manusia lain di masa pandemi seperti sekarang adalah hal yang salah untuk dilakukan. Tapi gimana dengan orang-orang yang hidupnya bergantung sepenuhnya pada pekerjaan yang mengharuskan mereka untuk interaksi? Maka tetap berinteraksi dengan orang lain menjadi pantas untuk dilakukan—setelah menimbang aspek kewaspadaan, kehati-hatian, dan pencegahan, tentu saja. Intinya, proses berpikir sebaiknya ga berhenti di apakah suatu hal itu benar atau salah. Pikirkan juga tentang apakah sesuatu itu: 1) akan mengundang konflik atau tidak, 2) menyakiti dan melanggar hak orang lain atau tidak, 3) urjen atau tidak.

Jadi apa nih, yang kudu di-lakuin untuk mencegah diri dari menjadi individu yang hitam-putih? Pertama, lihat ke dalam. Apakah selfawareness dan selfcontrol kita udah matang? Tingkat kematangan kedewasaan seseorang bisa dilihat dari kedua hal itu. Inget, dewasa tidak berbanding lurus dengan besaran usia, ya. Dalam praktiknya, pengertian kedewasaan lebih menitikberatkan pada kemampuan seseorang dalam me-manage dirinya secara internal dan memahami perannya dalam lingkungan.

Kedua, untuk contoh kasus perselingkuhan nih, pahami perasaan sendiri. Identifikasi, tanyakan pada diri sendiri, “Ini perasaan apa sih?” Analisa, “Oh, ini perasaan nyaman. Apa yang menjadi penyebab?” Dan mitigasi, hindari hal-hal yang bisa menjadi trigger. Hentikan sama sekali jika memang sangat membahayakan dan memungkinkan. Cegah dirimu melihat-lihat hal-hal yang potensial menimbulkan masalah. Ingat, perasaan pasangan kita adalah hal pertama yang harus dijaga. Tapiii, logika dan perasaan dalam cinta harus seimbang. Percuma mengandalkan logika aja karena pada kenyataannya kita berurusan dengan hal yang saaangat abstrak. Menggunakan perasaan sepenuhnya juga riskan karena kalo soal cinta, hati seringkali ga berguna dalam mengurai permasalahan. Seimbangkan semuanya. Jaga hatimu, hati pasanganmu, dan hati pasangannya mantanmu. Kecuali nih, kalo kamu dan mantanmu (atau pihak lain manapun) masih sama-sama single, in which case, by all means, go ahead.

Ketiga, introspeksi. Kita sering lupa berkaca pada diri sendiri. Kita sering lupa menempatkan diri pada posisi orang lain. Judgment sering lancar mengalir dari mulut. Ucapan sering ga dijaga. Ada bener-nya omongan orang-orang tentang sebaiknya pause dulu sebelum berbicara. Pikir dulu efeknya nanti kayak gimana. If you have nothing good to say, then you might as well shut your mouth.

Tapiii, yang namanya manusia pasti nih ya, sering luput, sering banget bikin kesalahan yang ga disengaja. Niatnya bercanda, eh orang lain kesinggung. Niatnya ngingetin, eh bikin bubar pertemanan. Niatnya nyembunyiin cerita tentang pekerjaan dengan mantan dari pasangan biar ga curigaan, eh malah murka dianya. Risiko pasti ada, kok. Lagi-lagi, namanya manusia, pasti isinya ga ada yang sempurna. Basi? Iya. Klise? Hooh, emang. Tapi itu realitasnya. Sebagai manusia yang ber-akal-budi, semuanya balik ke kita gimana cara menyikapi realitas itu. Pikir, telaah, dan timbang.

Fat-burning Injections: Apa, Kenapa, dan Bagaimana?

Alihkan fokus dari weight loss menjadi size loss

Ada berbagai macam cara yang tersedia saat ini untuk mendapatkan tubuh yang ideal. Mulai dari aneka paket diet yang menggiurkan hingga pilihan olahraga, Teman DRYD pasti ga bakal kehabisan ide untuk menurunkan berat badan. Tapi ya, cara-cara itu biasanya ga ngasi hasil instan. Butuh kesabaran, ketekunan, dan dedikasi buat bisa mencapai target berat badan yang diinginkan melalui cara-cara itu tadi. Ada juga cara-cara cepat. Operasi weight loss, misalnya. Manipulasi lemak dalam tubuh melalui cara pembedahan bisa dijadikan alternatif bagi Teman semua yang tertarik untuk mendapatkan badan yang in­-shape dan ideal. Tapiii, yang namanya operasi pastinya membawa konsekuensi. Apa konsekuensinya? Banyak; recovery lama dan risikonya pun besar. Tapi ya itu preferensi sih, ya. Kalau emang maunya langsung dapat tubuh kurus, ya lemaknya diangkat manual melalui operasi. Sisi baiknya juga banyak kok.

Fat-burning Injections: Pengenalan Singkat

Alat suntik yang lazim digunakan dalam prosedur Fat-burning injection

Nah, fat burning injection dihadirkan sebagai pilihan lain untuk dipertimbangkan sebagai cara untuk mengurangi berat badan. Ada banyak faktor yang menyebabkan opsi ini belakangan menjadi populer di kalangan masyarakat tapi itu kita bahas nanti, ya. Sekarang kita coba telaah dulu apa sebener-nya fat-burning injections itu. Dilihat dari namanya, pastinya udah bisa ditebak kan? Fat-burning injections atau yang juga lumrah dikenal sebagai suntik pelangsing merupakan sebuah serum yang disuntikkan langsung ke lapisan bawah kulit dengan tujuan untuk menghancurkan sel-sel lemak di area yang ditarget. Mirip dengan liposuction; keduanya sama-sama menggunakan alat untuk membidik lapisan lemak bawah kulit secara langsung. Bedanya, kalau liposuction dilakukan dengan cara “membuka” kulit untuk mengakses lapisan lemak lalu secara manual mencairkan lemak di area tertentu (untuk kemudian disedot dan dibuang), fat-burning injections bekerja secara kimiawi dalam “membongkar” sel lemak. Karena prosedurnya dilakukan melalui penyuntikan, maka suntik kurus bersifat non-invasif dan karena itu relatif lebih aman.

Dok, kalo sedot lemak kan jelas, tuh, ya; lemaknya dihancurkan, disedot, terus dibuang. Nah, kalo suntik gimana?

Gini, yang bikin gendut itu kan, penambahan jumlah lemak dalam tubuh yang sejatinya diperlukan untuk cadangan energi. Nah, yang bertanggung jawab untuk menyimpan lemak-lemak yang belum terpakai ini adalah sel-sel lemak. Sel-sel ini punya elastisitas yang menakjubkan; mereka bisa menyesuaikan kapasitas mereka untuk mengakomodasi semua lemak yang belum dipakai oleh tubuh sebagai energi. Semakin banyak, semakin gembung. Semakin gembung sel-sel ini, semakin melar deh badan kita. Nah, suntikan peluruh lemak diberikan untuk menarget sel-sel ini dan menghancurkan mereka dalam keadaan terkontrol. Lemaknya keluar dan udah ga ada lagi fasilitas penyimpanannya, maka tubuh akan menggunakan lemak itu untuk dijadikan energi.

Karena prosedurnya dilakukan dengan menggunakan serum dengan jumlah atau dosis yang dibatasi, maka akan salah kaprah kalo Teman DRYD berpikir suntikan ini bisa digunakan untuk membuat badan kurus dalam waktu singkat dengan hasil yang instan. Fat-burning injections lebih tepat jika disebut sebagai salah satu metode body contouring. Apa dan gimana konsep body contouring itu udah pernah dibahas ya, sebelumnya. Jadi fokusnya dialihkan, gitu, dari yang tadinya menurunkan berat badan secara drastis menjadi mendapatkan tubuh berlekuk yang aduhai. Toh, tetap ada pengurangan angka timbangan juga kok nantinya. Dengan “membakar” sejumlah sel lemak di area tertentu, ukuran di bagian tubuh tersebut bakal berkurang juga.

Sekilas tentang Komposisi

Efek fat burn dari suntikan serum ini didapatkan dari kombinasi berbagai macam zat. Apa aja komposisinya, yuk kita lihat. Catatan: Penggunaan kombinasi zat-zat di bawah bergantung kepada preferensi dokter yang menjalankan prosedur dan jenis treatment yang dipilih ya.

  1. Human Chorionic Gonadotropin (HCG)

HCG adalah tipe hormon yang sering ditemukan dalam tubuh perempuan yang sedang hamil.

  1. Lipostabil dan L. Carnitine

Keduanya adalah zat dengan fungsi pencair dan pembakar lemak.

  1. Aqualyx

Zat ini membantu tubuh dalam menyerap lemak yang sudah dicairkan ke dalam darah untuk kemudian dibuang melalui air seni.

  1. Kombinasi PPC, L. Carnitine, silicum organik, dan procaine

Nah, udah ya, ga usah bahas yang berat-berat. Cukup untuk pengetahuan aja. Kalo dilanjut nanti malah jadi makalah ilmiah lagi. Intinya mah, obat peluruh lemak itu banyak banget dan beda-beda banget juga tergantung brand yang di-pake pas prosedurnya.

Perbedaan: Persiapan, Efek Samping, Risiko

Pengoptimalan ukuran bagian badan

fat-burning injections bukan tipe treatment instan…”

Perbedaan mendasar lain yang juga menjadi keuntungan dari prosedur fat-burning injections adalah persiapannya yang ga ribet. Operasi, apapun tujuan dan jenisnya, membutuhkan persiapan yang panjang. Belum lagi si pasien bakalan ada di bawah pembiusan. Kalo disuntik kurus, persiapannya sangat singkat. Dokter akan melakukan pengukuran pada tubuh pasien yang akan di-treatment setelah konsultasi. Lalu obat dan si pasien dipersiapkan dan kemudian prosedur bisa langsung dimulai. Udah deh, gitu doang. Kadang-kadang emang sih anestesi diperlukan, tapi sifatnya topikal dan hanya diperlukan kalo area tubuh yang ditarget sangat sensitif.

Secara umum, efek samping suntik kurus sangat minim, kalaupun ada. Paling cuma ada rasa nyeri dan pegel karena namanya juga kita ngancurin bagian dari badan, kan. Tapi di kebanyakan kasus, rasa nyeri dan pegel ini ga sampe bikin si pasien harus bed rest, kok. Abis treatment, istirahat bentar, langsung bisa aktivitas, deh. Jadi, suntik peluruh lemak bisa jadi pilihan yang sangat cocok untuk Teman-Teman DRYD yang aktif dan jadwal harian yang full. Tapi sekali lagi nih, yaaa, fat-burning injections bukan tipe treatment instan yang bisa ngasi kamu hasil seketika. Bentuk dan lekuk tubuh yang diinginkan mungkin baru akan terlihat setelah beberapa kali menjalani prosedur. Makanya, treatment biasanya akan diulang dalam 2 minggu setelah prosedur sebelumnya dilakukan. “Sebulan harus berapa kali suntik, Dok?” Nah, ini relatif. Ga bisa di-kasi target gitu. Karena sifatnya non-invasif, maka treatment harus dijalankan sebanyak yang diperlukan sampai target ukuran tercapai. Kalo emang dalam sebulan udah mencapai target, prosedur bisa dihentikan.

Tapiii, risiko masih tetap ada untuk dipertimbangkan karena pemberian obat melalui jalur injeksi dibandingkan oral. Pertama, risiko bekas suntikan seperti lebam. Ini sih, tanda umum prosedur injeksi yaaa. Suntik apapun akan membawa risiko ini meskipun memang ga terjadi di setiap orang juga. Risiko kedua lebih ke efek setelah injeksi yang mirip rasa kemeng, gitutau kan? Kayak rasa pegelpegel ringan, gitu, di area bekas injeksinya. Itu sih ya, risiko paling umum. Emang ada risiko infeksi terutama kalo alat suntik yang digunakan ga steril.

“Duh, kok serem, Dok…? Jadi ragu….”

Honey, itu risiko. Risiko bisa di-manage. Gimana caranya? Makanya datang ke pakarnya. Datang ke dokter yang praktiknya berlisensi dan bersertifikat. Jangan asal percaya sama klaim-klaim yang berlebihan. Kalo perlu, googling  dulu deh latar belakang si orang. Inget ya, ini investasi. Kamu kudu pinterpinter memilah. Jangan langsung tergiur atau nanti kamu harus menanggung risiko yang gede. Jangan juga main suntik sendiri di rumah. Kan banyak tuh, produk-produk suntik kurus dijual di luar sana. Jangan buru-buru beli terus nyuntik sendiri. Banyak yang harus dijadikan pertimbangan: Sudut jarum suntik waktu dimasukkan ke kulit harus bener, dosis harus tepat, disinfeksi harus dilakukan. Bahkan kalo pun kamu merasa yakin dan cukup mencari informasi di internet, pikir lagi. Pikir berkali-kali. Bandingkan risiko dengan tindakan. Jangan ragu juga buat mengkomunikasikan concern dan keluhan ke dokter. Sekelumit informasi bisa jadi poin besar yang akhirnya menentukan kebahagian yang bakal kamu dapat setelah prosedur loh. Speak up. Show. Share.  Paham ya? Risiko selalu ada, apapun yang kita lakukan. Tapi risiko selalu bisa di-manage atau malah dieliminasi sekalian.

Gimana dengan Post-Procedure Care?

Exercise, exercise, exercise

“Ada pantangan ga, Dok?” Ga ada sih, ya. Ga ada aturan tertentu yang melarang kamu untuk makan apapun setelah menjalani prosedur. Cuma perlu mengikuti program diet sehat aja kok. Kenapa? Balik lagi ke konsep sebelumnya; prosedur body contouring pada prinsipnya cuma mengurangi jumlah sel lemak—yang mampu mengakomodasi jumlah lemak dalam tubuh. Jumlah sel lemak emang berkurang. Tapi ingat, sel lemak yang ada setelah prosedur pun masih punya kemampuan dan kapasitas dalam mengakomodasi kadar lemak yang masuk lewat makanan. Karenanya, asupan kalori kudu banget diawasi. Soalnya, kalo makan ga dikendalikan, percuma treatment APAPUN. Banyakin deh tuh, makan sayur sama buah. Banyakin minum air. Jangan over gulanya. Gitu juga dengan exercise. Sisa kadar lemak yang tertinggal ga mungkin ilang kalo kamu ga bergerak. It has to go somewhere, doesn’t it? Pengaturan ulang ukuran sel lemak cuma bisa dilakukan dengan cara-cara yang efektif seperti olahraga dengan durasi dan jenis yang tepat. Baru deh, ukuran badan bisa ideal. Olahraga juga bagus kok, buat kesehatan psikis. Kamu jadi lebih hepi, badan lebih segar, dan ukuran lebih memuaskan.

Program diet dengan komposisi yang benar akan membantu

Manage Lemak, Manage Hati

Saya selalu menitikberatkan size loss ketimbang weight loss. Kenapa? Concern saya adalah estetika. Badan yang kehilangan sejumlah berat secara signifikan belum tentu sedap dipandang. Kulit melar dan akhirnya butuh operasi lagi, duit lagi, recovery lagi. Kulit kusam dan terlihat tidak segar, akhirnya konsultasi lagi, beli produk pencerah kulit lagi, duit lagi, perlu waktu lagi. Serba ga efisien. Badan lemes, energi minim, mood berantakan. Hati yang ga hepi berpotensi besar menjadi sumber masalah besar yang ujung-ujungnya merembet ke mana-mana.

Jadi mending kita atur apa yang ada. Oh, perut saya melar, yuk kita kecilkan. Oh, tangan saya kegedean, yuk kita cari solusinya. Oh, dagu saya dobel, yuk kita ilangin yang satunya. Selama masih bisa di-manage parsial, kenapa harus jadi ambil tindakan ekstrim kan? Kecuali nih, kalo udah masuk kasus obesitas; mau ga mau ya harus weight loss yang diambil. Udah beda ceritanya.

Fat-burning injections adalah opsi yang lebih bersahabat kalo concern-mu adalah bagian-bagian tubuh yang membesar karena tumpukan lemak. Kurangi jumlah lemak di bagian itu maka bentuk tubuh akan jauh lebih terdefinisi. Berat badan tetap berkurang, bentuk tubuh lebih desirable, kulit tetap terjaga kesegarannya, penampilan lebih awet muda, stamina tetap terjaga, dan—yang paling penting—hati senang dan bahagia.

JiwaJawi: Suaka Hijau di Pinggir Kota Jogja

http://blockquote%20class=instagram-media%20data-instgrm-captioned%20data-instgrm-permalink=https://www.instagram.com/p/Bw9LQUpBdcd/?utm_source=ig_embed&utm_campaign=loading%20data-instgrm-version=12%20style=%20background:#FFF;%20border:0;%20border-radius:3px;%20box-shadow:0%200%201px%200%20rgba(0,0,0,0.5),0%201px%2010px%200%20rgba(0,0,0,0.15);%20margin:%201px;%20max-width:540px;%20min-width:326px;%20padding:0;%20width:99.375%;%20width:-webkit-calc(100%%20-%202px);%20width:calc(100%%20-%202px);div%20style=padding:16px;%20a%20href=https://www.instagram.com/p/Bw9LQUpBdcd/?utm_source=ig_embed&utm_campaign=loading%20style=%20background:#FFFFFF;%20line-height:0;%20padding:0%200;%20text-align:center;%20text-decoration:none;%20width:100%;%20target=_blank%20div%20style=%20display:%20flex;%20flex-direction:%20row;%20align-items:%20center;%20div%20style=background-color:%20#F4F4F4;%20border-radius:%2050%;%20flex-grow:%200;%20height:%2040px;%20margin-right:%2014px;%20width:%2040px;/div%20div%20style=display:%20flex;%20flex-direction:%20column;%20flex-grow:%201;%20justify-content:%20center;%20div%20style=%20background-color:%20#F4F4F4;%20border-radius:%204px;%20flex-grow:%200;%20height:%2014px;%20margin-bottom:%206px;%20width:%20100px;/div%20div%20style=%20background-color:%20#F4F4F4;%20border-radius:%204px;%20flex-grow:%200;%20height:%2014px;%20width:%2060px;/div/div/divdiv%20style=padding:%2019%%200;/div%20div%20style=display:block;%20height:50px;%20margin:0%20auto%2012px;%20width:50px;svg%20width=50px%20height=50px%20viewBox=0%200%2060%2060%20version=1.1%20xmlns=https://www.w3.org/2000/svg%20xmlns:xlink=https://www.w3.org/1999/xlinkg%20stroke=none%20stroke-width=1%20fill=none%20fill-rule=evenoddg%20transform=translate(-511.000000,%20-20.000000)%20fill=#000000gpath%20d=M556.869,30.41%20C554.814,30.41%20553.148,32.076%20553.148,34.131%20C553.148,36.186%20554.814,37.852%20556.869,37.852%20C558.924,37.852%20560.59,36.186%20560.59,34.131%20C560.59,32.076%20558.924,30.41%20556.869,30.41%20M541,60.657%20C535.114,60.657%20530.342,55.887%20530.342,50%20C530.342,44.114%20535.114,39.342%20541,39.342%20C546.887,39.342%20551.658,44.114%20551.658,50%20C551.658,55.887%20546.887,60.657%20541,60.657%20M541,33.886%20C532.1,33.886%20524.886,41.1%20524.886,50%20C524.886,58.899%20532.1,66.113%20541,66.113%20C549.9,66.113%20557.115,58.899%20557.115,50%20C557.115,41.1%20549.9,33.886%20541,33.886%20M565.378,62.101%20C565.244,65.022%20564.756,66.606%20564.346,67.663%20C563.803,69.06%20563.154,70.057%20562.106,71.106%20C561.058,72.155%20560.06,72.803%20558.662,73.347%20C557.607,73.757%20556.021,74.244%20553.102,74.378%20C549.944,74.521%20548.997,74.552%20541,74.552%20C533.003,74.552%20532.056,74.521%20528.898,74.378%20C525.979,74.244%20524.393,73.757%20523.338,73.347%20C521.94,72.803%20520.942,72.155%20519.894,71.106%20C518.846,70.057%20518.197,69.06%20517.654,67.663%20C517.244,66.606%20516.755,65.022%20516.623,62.101%20C516.479,58.943%20516.448,57.996%20516.448,50%20C516.448,42.003%20516.479,41.056%20516.623,37.899%20C516.755,34.978%20517.244,33.391%20517.654,32.338%20C518.197,30.938%20518.846,29.942%20519.894,28.894%20C520.942,27.846%20521.94,27.196%20523.338,26.654%20C524.393,26.244%20525.979,25.756%20528.898,25.623%20C532.057,25.479%20533.004,25.448%20541,25.448%20C548.997,25.448%20549.943,25.479%20553.102,25.623%20C556.021,25.756%20557.607,26.244%20558.662,26.654%20C560.06,27.196%20561.058,27.846%20562.106,28.894%20C563.154,29.942%20563.803,30.938%20564.346,32.338%20C564.756,33.391%20565.244,34.978%20565.378,37.899%20C565.522,41.056%20565.552,42.003%20565.552,50%20C565.552,57.996%20565.522,58.943%20565.378,62.101%20M570.82,37.631%20C570.674,34.438%20570.167,32.258%20569.425,30.349%20C568.659,28.377%20567.633,26.702%20565.965,25.035%20C564.297,23.368%20562.623,22.342%20560.652,21.575%20C558.743,20.834%20556.562,20.326%20553.369,20.18%20C550.169,20.033%20549.148,20%20541,20%20C532.853,20%20531.831,20.033%20528.631,20.18%20C525.438,20.326%20523.257,20.834%20521.349,21.575%20C519.376,22.342%20517.703,23.368%20516.035,25.035%20C514.368,26.702%20513.342,28.377%20512.574,30.349%20C511.834,32.258%20511.326,34.438%20511.181,37.631%20C511.035,40.831%20511,41.851%20511,50%20C511,58.147%20511.035,59.17%20511.181,62.369%20C511.326,65.562%20511.834,67.743%20512.574,69.651%20C513.342,71.625%20514.368,73.296%20516.035,74.965%20C517.703,76.634%20519.376,77.658%20521.349,78.425%20C523.257,79.167%20525.438,79.673%20528.631,79.82%20C531.831,79.965%20532.853,80.001%20541,80.001%20C549.148,80.001%20550.169,79.965%20553.369,79.82%20C556.562,79.673%20558.743,79.167%20560.652,78.425%20C562.623,77.658%20564.297,76.634%20565.965,74.965%20C567.633,73.296%20568.659,71.625%20569.425,69.651%20C570.167,67.743%20570.674,65.562%20570.82,62.369%20C570.966,59.17%20571,58.147%20571,50%20C571,41.851%20570.966,40.831%20570.82,37.631/path/g/g/g/svg/divdiv%20style=padding-top:%208px;%20div%20style=%20color:#3897f0;%20font-family:Arial,sans-serif;%20font-size:14px;%20font-style:normal;%20font-weight:550;%20line-height:18px;%20View%20this%20post%20on%20Instagram/div/divdiv%20style=padding:%2012.5%%200;/div%20div%20style=display:%20flex;%20flex-direction:%20row;%20margin-bottom:%2014px;%20align-items:%20center;div%20div%20style=background-color:%20#F4F4F4;%20border-radius:%2050%;%20height:%2012.5px;%20width:%2012.5px;%20transform:%20translateX(0px)%20translateY(7px);/div%20div%20style=background-color:%20#F4F4F4;%20height:%2012.5px;%20transform:%20rotate(-45deg)%20translateX(3px)%20translateY(1px);%20width:%2012.5px;%20flex-grow:%200;%20margin-right:%2014px;%20margin-left:%202px;/div%20div%20style=background-color:%20#F4F4F4;%20border-radius:%2050%;%20height:%2012.5px;%20width:%2012.5px;%20transform:%20translateX(9px)%20translateY(-18px);/div/divdiv%20style=margin-left:%208px;%20div%20style=%20background-color:%20#F4F4F4;%20border-radius:%2050%;%20flex-grow:%200;%20height:%2020px;%20width:%2020px;/div%20div%20style=%20width:%200;%20height:%200;%20border-top:%202px%20solid%20transparent;%20border-left:%206px%20solid%20#f4f4f4;%20border-bottom:%202px%20solid%20transparent;%20transform:%20translateX(16px)%20translateY(-4px)%20rotate(30deg)/div/divdiv%20style=margin-left:%20auto;%20div%20style=%20width:%200px;%20border-top:%208px%20solid%20#F4F4F4;%20border-right:%208px%20solid%20transparent;%20transform:%20translateY(16px);/div%20div%20style=%20background-color:%20#F4F4F4;%20flex-grow:%200;%20height:%2012px;%20width:%2016px;%20transform:%20translateY(-4px);/div%20div%20style=%20width:%200;%20height:%200;%20border-top:%208px%20solid%20#F4F4F4;%20border-left:%208px%20solid%20transparent;%20transform:%20translateY(-4px)%20translateX(8px);/div/div/div/a%20p%20style=%20margin:8px%200%200%200;%20padding:0%204px;%20a%20href=https://www.instagram.com/p/Bw9LQUpBdcd/?utm_source=ig_embed&utm_campaign=loading%20style=%20color:#000;%20font-family:Arial,sans-serif;%20font-size:14px;%20font-style:normal;%20font-weight:normal;%20line-height:17px;%20text-decoration:none;%20word-wrap:break-word;%20target=_blankSecangkir%20kopi%20adalah%20hening%20hutan%20selepas%20hujan,%20sangsi%20yang%20selesai%20pas%20huruf-huruf%20bertautan%20merangkai%20namamu,%20merangkum%20rindu.%20.%20#JiwaJawi/a/p%20p%20style=%20color:#c9c8cd;%20font-family:Arial,sans-serif;%20font-size:14px;%20line-height:17px;%20margin-bottom:0;%20margin-top:8px;%20overflow:hidden;%20padding:8px%200%207px;%20text-align:center;%20text-overflow:ellipsis;%20white-space:nowrap;A%20post%20shared%20by%20a%20href=https://www.instagram.com/jiwajawijogja/?utm_source=ig_embed&utm_campaign=loading%20style=%20color:#c9c8cd;%20font-family:Arial,sans-serif;%20font-size:14px;%20font-style:normal;%20font-weight:normal;%20line-height:17px;%20target=_blank%20JIWAJAWI/a%20(@jiwajawijogja)%20on%20time%20style=%20font-family:Arial,sans-serif;%20font-size:14px;%20line-height:17px;%20datetime=2019-05-02T09:55:11+00:00May%202,%202019%20at%202:55am%20PDT/time/p/div/blockquote%20script%20async%20src=//www.instagram.com/embed.js/script

Hai Teman DRYD!

Udah pada tau mau ke mana weekend nanti? Belum? Atau ga ada rencana ke mana-mana sama sekali? Oh, gapapa. Ngabisin waktu di akhir minggu emang ga perlu selalu keluar, kok. Di rumah aja juga ga masalah. Mau baca buku? Melukis? Yoga? Mau metime tanpa harus berbagi space dengan manusia-manusia lain? gapapa, kok. Sesekali enak juga nongkrong di rumah aja.

Tapiii, kalo Teman DRYD semua kepingin ngelakuin itu semua sambil menikmati kesegaran udara dan makanan yang oke punya, ke JiwaJawi, aja. Pokoknya beda deh, dari yang udahudah. Biasanya yang namanya tempat hangout pasti identik dengan segala sesuatu yang hip dan kekinian, kan? Desain kedai kopi pasti chic atau industrial. Sudut-sudut ruangan dirancang sedemikian rupa sehingga pas buat selfie atau ngobrol sama temen-temen. Nah, JiwaJawi bisa jadi alternatif buat Teman DRYD semua kalo bosen sama yang begituan; you know, tipikal tempat hangout masa kini di kisaran kota Yogyakarta deh.

Tempat Apa sih, ini Dok?

JiwaJawi Resto menghadirkan pengalaman berbeda untuk kamu-kamu semua yang menginginkan spot mengobrol dengan rekan, menikmati sajian khas, atau sekadar retreat dari hiruk-pikuk kota yang membuat suntuk dan frustrasi. Alih-alih menekankan desain kafe atau restoran yang bergaya urban, JiwaJawi memilih latar hutan di wilayah pinggiran kota sebagai daya tariknya.

Pertama masuk aja kita udah disuguhi nuansa kuno: Sebuah gerbang batu dengan sentuhan kusam khas yang membuat ingatan terlempar ke gerbang-gerbang kraton. Penggunaan material mayoritas batu kayaknya emang disengaja deh, biar ngeblend gitu sama sekitarannya. Suasana asri langsung terasa setelah lewat gerbang: Pohon-pohon rindang dengan daun yang rimbun mendominasi pemandangan.

Pilihan tempat duduk bervariasi; Teman DRYD bisa memilih area balkon, taman belakang, rumah kopi, atau juga joglo. Yang manapun, Teman semua tidak akan kehilangan kesempatan buat menikmati kesegaran udara di tempat ini.

Alamat di Mana, Dok?

Salah satu spot di JiwaJawi

JiwaJawi berlokasi di Banyutemumpang RT 01, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta dan buka mulai jam 8 pagi sampai jam 9 malam, Selasa hingga Minggu. Khusus hari Senin, tempat ini ditutup.

Gimana Caranya ke Sana, Dok?

JiwaJawi udah Mapsready, kok. Ketik aja JiwaJawi Resto, nanti pasti ketemu. Dari titik nol kilometer, JiwaJawi berjarak lebih kurang 13 kilometer. Perjalanan dengan sepeda motor akan menghabiskan waktu lebih kurang 23 menit, tergantung kepadatan lalu lintas juga. Tapi yakin deh, rasa cape di perjalanan langsung musnah begitu menginjakkan kaki di depan gerbang restoran.

Menu, Harga, Fasilitas?

Menu yang disediakan beraneka ragam dan harganya juga bervariasi. Tapi berikut harga minuman andalan tempat ini sebagai gambaran buat kamu.

Menu di JiwaJawi didominasi sajian khas nusantara, terutama dari daerah Jawa dan Bali. Spot parkir yang tersedia cukup luas sementara restoran menerima pembayaran dengan menggunakan kartu kredit. Kamu-kamu yang malas terburu-buru pun bisa reservasi dulu untuk mendapatkan tempat yang diinginkan. Ga ada fasilitas WiFi di JiwaJawi, seolah-olah memang tempat ini “memaksa” pengunjungnya buat menikmati warna hijau di sekitaran atau mengobrol dengan teman. Itungitung detoks internet.

Kenapa Must-try, Dok?

Kalo saya, JiwaJawi pas banget buat quality time. Begitu ada waktu senggang, pasti meluncur ke sana sekadar buat melepas lelah setelah berkesibukan. Biasanya sih, weekend, biar bisa barengan sama temen-temen. Tapi sendirian pun sering. Biasanya saya dateng bawa buku mewarnai, hihihi, maklum ga bisa gambar….Bebas kok, mau ngapain aja di sini. Yoga boleh. Cuap-cuap sama rekan kerja, ayuk. Bikin janji temu bahas treatment sama saya? Juga oke. Apa aja boleh deh. Asal ga bikin huru-hara aja yaaa. Nuansa hijau JiwaJawi Resto pas banget buat kamu-kamu yang kepingin lepas dari drama kehidupan tengah kota. Buat saya, ini adalah satu celah kecil tempat saya lari meninggalkan rasa penat. So, it’s definitely a must-try.

Menilik COVID-19 dari Perspektif yang Berbeda

Kalau ada kumpulan kata yang bisa menyatukan umat sedunia, COVID-19 adalah salah satunya. Kenapa? Semua orang, ga peduli usia, ga pandang jabatan, cewek-cowok bodo amat, pasti tahu coronavirus dan penyakit yang dibawanya. Semua orang mungkin tahu, tapi pemahamannya pasti berbeda-beda. Ada yang tahu separah apa akibat terjangkit COVID-19. Ada yang paham cara pencegahan dan penanganannya. Ada juga yang menyamakan coronavirus dengan COVID-19 (coronavirus itu virusnya, penyebab sakitnya; COVID-19 itu penyakit yang disebabkan virusnya.) Variasi pemahaman bisa berbeda tapi cuma satu hal yang sama: Semua tahu, paham, dan setuju bahwa COVID-19 itu berbahaya. Makanya di awal dikatakan COVID-19 itu salah satu pemersatu bangsa-bangsa. Semua memiliki musuh yang sama.

Pandemi dan Respons Kita

Bayangkan, satu makhluk kecil mungil tak kasat mata mampu men-shut down­ dunia. Pariwisata mati suri, tau deh kapan bangunnya. Perdangangan hampir pingsan. Ekonomi global praktis koma. PHK di mana-mana. Cuti tak berbayar jadi satu hal yang ditunggu dengan tidak antusias. Alkohol, masker wajah, sarung tangan, hand sanitizer, bahkan hidrogen peroksida menipis stoknya. Se-desperate itu. Sepanik itu. Cuma gara-gara virus yang menyebar ke mana-mana. COVID-19 berubah dari istilah menjadi teror yang bikin kita ngeri-ngeri horor. Hal-hal pertama yang nyangkut di kepala ketika mendengar COVID-19 adalah: wabah, infeksi, pandemi, virus, demam, dan segudang kata lain yang, oh tuhanku, bikin pingin di rumah aja sampe kelar.

Batuk kering adalah salah satu gejala umum

Belum lagi kalo kita ngomongin fakta bahwa COVID-19 belum ada obatnya, vaksinnya. Wah, kepala bakal tambah butek. Pikiran resah. Tidur ga nyenyak. Makan ga enak. Hari-hari diisi khawatir berkepanjangan. Setiap jam diisi pertanyaan “Apa lagi, nih, yang kudu gue lakuin biar lebih higienis, sehat, bebas kuman?” Trus, ngelakuin hal-hal yang niatnya supaya waspada tapi kenanya malah ga masuk akal. WFH niatnya baik tapi gara-gara kelamaan di rumah malah berubah jadi kaya hukuman. Mau keluar, takut. Tetap di rumah, bosan. Kita semua bimbang mau mengorbankan kebiasaan demi keamanan atau bersikap ga mau tau, berharap dan berdoa semua baik-baik aja.

Tapi masa sih, cuma hal buruk yang ada untuk diantisipasi dari keadaan saat ini? Masa sih, kita kudu memaksa diri beradaptasi dengan cara bersiap untuk hal-hal paling buruk aja? Masa sih, mulai sekarang kita kudu hidup dengan penuh curiga sama orang lain? Sulit, memang, membayangkan ada hal baik yang bisa dilihat dari situasi seburuk sekarang ini. Kita cenderung terenyuh waktu dihadapkan dengan keadaan yang serba buruk—dan itu, BTW, manusiawi. Siapa sih, yang benar-benar siap menerima kenyataan pahit? Kita bisa selalu siap siaga, selalu waspada dan berpikir tidak ada yang terlalu berat untuk dihadapi. Tapi bencana—apapun bentuknya—itu kaya banjir bandang. Selalu datang tiba-tiba di saat yang paling tidak kita kira. Dan kalo udah dateng, udah deh, cuma bisa ngelakuin tindakan-tindakan kuratif meskipun tindakan preventifnya udah seabreg-abreg.

Sisi Lain dari COVID-19

Nah, udah deh ya, kita ga usah bahas yang serem-serem. Ada banyak sumber di luar sana buat dibaca kalo soal dampak buruk lah, simtom lah, pengobatan lah. Ga usah juga bahas apa itu coronavirus, tinggal buka Wikipedia buat ringkasnya, mah. Coba tutup mata pelan-pelan dan tarik napas dalam-dalam. Habis itu, yuk kita ngobrolin yang baik-baik aja sekarang, saat ini, sebentar saja.

  1. Kita jadi lebih sering cuci tangan

Coba, dulu sebelum COVID-19 trending, berapa kali kita cuci tangan dalam sehari? Cuci tangan sekali sehari juga udah bagus, kan? Itu pun sekadar basah. Sekarang, cuci tangan kudu pake sabun, kalo ga, ga mantep. Frekuensinya juga naik. Setiap dari luar, habis pegang sesuatu, atau ngapain pasti cuci tangan minimal 20 detik. Katanya ada juga yang cuci tangan sambil digosok kuat-kuat sampe lecet. Lebay sih, emang. Tapi mencuci tangan tiba-tiba jadi budaya harian yang lumrah dilakukan. Toko-toko, mall-mall, warung-warung makan, semua sedia fasilitas cuci tangan. Repot? Pastinya; apa lagi kalau kita ingat jaman dulu sebelum wabah, masuk mall main masuk aja. Sekarang? Jangan coba-coba kalo ga mau diusir pak satpam. Jadi ingat juga dulu pas kuliah ada temen yang males banget cuci tangan karena pemikirannya gini: ngapain cuci tangan toh ada asam lambung yang bakal bunuh bakteri dan virus yang nempel di makanan.

Wabah COVID-19 membawa kesadaran untuk kita supaya kita sadar, hei, selama ini kita tuh teledor sekali soal kebersihan dan sering menyepelekan hal sekecil virus. Ingat ya, hal besar selalu berakar dari hal kecil.

  1. Lebih teliti soal kehigienisan hal di sekitar

Sekali kita sadar tentang menghargai kebersihan, kita pun akan menjadi lebih pemilih perkara kebersihan. Ada semacam kesadaran di diri kita untuk menghindari makanan yang tidak dimasak atau dimasak tidak sempurna. Bahkan ketika memilih makanan segar (sayuran mentah, misalnya) kita akan tergerak untuk benar-benar membersihkan si bahan makanan. Mungkin akan ada pikiran, ah, virus ga mungkin nempel di sayur segitu lamanya. Tapi, apakah kita sebegitu kepingin makan sayuran mentah sampai rela mengonsumsi sesuatu yang tidak dicuci dengan menyeluruh dan tuntas?

Fun tip: Pilah-pilah daun sayuran, buang yang layu (atau sisihkan untuk dimasak, jika bisa). Lepaskan dari bonggolnya lalu cuci di bawah air mengalir. Kemudian, rendam sayuran tersebut dalam baskom berisi air garam dan biarkan selama setidaknya 10 menit. Ini juga bisa dilakukan sebagai tindakan disinfeksi alamiah untuk sayuran yang akan dimasak tapi tidak dalam waktu lama.

Lingkungan tempat tinggal pun menjadi objek yang tidak bisa kita abaikan. Kita jadi lebih sering mengepel lantai. Semprotan disinfektan (baik yang tanpa aroma maupun yang wanginya semerbak semesta raya sampai kecium ke jalan) secara reguler. Semua supaya kita yakin tidak ada potensi infeksi di sekitar tempat kita menghabiskan waktu sehari-hari.

  1. Pola makan lebih teratur dan terjaga

Dulu, sebelum COVID-19, berapa kali kita makan junkfood? Berapa kali kita makan daging tanpa diimbangi unsur gizi lain? Sekarang saatnya kita-kita yang menghindari sayuran dan buah untuk mempertimbangkan ulang pola dan pilihan hidup yang kita ambil. Iya, sayur memang rasanya tidak seenak daging. Oke, dari kecil ga terbiasa makan buah karena repot ngupas dan motong. Tapi ini saatnya kita belajar membiasakan diri. Buah dan sayuran tinggi nilai gizi dan antioksidan alami. Vitamin? Jangan tanya. Mineral? Sayuran dan buah gudangnya. Makan buah dan sayuran akan memberi kita manfaat yang berlipat-lipat; vitamin, mineral, dan antioksidan didapatkan, serat alami juga masuk. Badan sehat karena imun kuat, pencernaan lancar jaya bebas tanpa hambatan.

  1. Tidur lebih baik

Berkat pandemi, kantor-kantor ditutup dan karyawannya disuruh kerja dari rumah. Ini bisa dijadikan momen tepat untuk mendetoks diri dari lingkungan kantor yang selama ini bikin kita jengah dan muak. Memang, untuk bisa nyaman bekerja dari rumah setelah bertahun-tahun menjalani rutinitas berangkat ke dan pulang dari kantor butuh waktu. Anggap saja ini adalah paksaan untuk kita menekan tombol reset. Karena bekerja dari rumah, keharusan untuk lembur tidak ada. Bangun pagi jauh lebih santai tanpa bayangan ketakutan terjebak macet dan konsekuensi terlambat. Kita pun bisa beristirahat lebih maksimal. Tidur jauh lebih cukup ketimbang pas masih ngantor. Tapi ingat ya, WFH atau tidak, kewajiban tetap kewajiban loh.

  1. Lebih banyak waktu untuk keluarga

Konsekuensi wabah COVID-19 ada bermacam-macam dari sisi profesi. Di-PHK dan pemberian status cuti tanpa bayaran sudah bukan hal mengejutkan lagi sekarang ini. Respons psikis kita pun berbeda-beda terhadap konsekuensi ini. Tapi kalau kita bisa melihat dari sisi lain dan mampu melewati periode “berduka” itu dengan sehat, ada kok hikmahnya. Kita bisa kembali mendekatkan diri dengan keluarga setelah selama ini waktu yang kita punya hanya terfokus pada pekerjaan dan main dengan teman di luaran sana. Kita bisa ikut melihat tumbuh-kembang anak, lebih terlibat dalam mendidik mereka dan memantau apa-apa di sekitar mereka. Dengan pasangan juga bisa lebih mesra dan lebih dekat lagi.

Gimana kalo yang masih lajang? Sama juga. Kita bisa lebih sadar dengan hal-hal yang terjadi di rumah, misalnya. Kita pun bisa menjadi tempat curhat bagi orang tua atau saudara. Pokoknya, ini benar-benar menjadi kesempatan untuk kita bisa kembali “melihat ke dalam”.

  1. Jadi lebih paham teknologi

Kewajiban untuk bekerja dan sekolah dari rumah menuntut kita untuk melek teknologi. Dulu mungkin kita ga tau apa sih, Zoom itu? Fungsinya apa, dan makenya gimana? Sekarang semuanya diselenggarakan via internet. Mau ga mau kita kudu upgrade skill kita dalam menggunakan teknologi komunikasi digital. Para orang tua juga dituntut paham teknologi dalam membantu anak-anak mereka menyelenggarakan sekolah via internet. Pastinya ada kesulitan tersendiri terkait hal ini. Tapi karena terpaksa, ya…lagi-lagi, mau ga mau kan?

  1. Kreativitas meningkat

COVID-19 datang dengan konsekuensi ekonomi yang bertaraf global. Saat PHK karena corona dan cuti massal diberlakukan, kita pun dituntut untuk lebih kreatif dalam mencari penghasilan. Jika sebelumnya polanya adalah lebih cenderung pasif (kerja dan terima upah) sekarang kita harus memutar otak mencari apa yang bisa dijadikan uang di masa sulit seperti ini. Jualan daring jadi lazim. Metode reseller jadi alternatif yang cukup menggiurkan.

  1. Lebih rajin olahraga

Apa lagi coba, yang lebih efektif dalam meningkatkan stamina selain menggerakkan tubuh? Dulu ada berbagai macam alasan yang kita pakai untuk menunda olahraga: “Ah, fitnesan kejauhan…”, “Ah, membership-nya kemahalan…”, “Ah, males”, “Ah, cape”, “Ah, ga ada waktu”, dan sebaris ah-ah lain mulai dari yang masuk akal sampe yang malah kedengeran dibuat-buat. Sekarang, dengan segalanya tentang WFH saat ini, udah ga ada alasan buat ga olahraga.

Menyikapi New Normal

Belakangan marak istilah New Normal. Ketika sebuah wabah belum bisa diatasi dengan menyeluruh dan obat yang bisa membabat habis penyebab sakit belum ditemukan, maka aturan stay at home menjadi satu-satunya alat untuk menekan penyebaran virus. Makanya kemarin-kemarin banyak banget iklan dan kampanye buat kasi pengertian ke masyarakat biar tetap di rumah aja, ga usah ke mana-mana. COVID-19 itu tingkat penularannya terbilang tinggi; jadi kalau mobilitas penduduk tidak sedikit dikekang, jadinya ya, bisa-bisa penyebarannya bisa merata ke seluruh pelosok negara.

Anjuran buat stay at home memang ga membawa dampak bagi mereka-mereka yang pekerjaannya bisa dijalankan dari rumah. Trus, gimana dong, sama yang pekerjaannya mengharuskan mereka untuk ada di luar rumah? Gimana dengan yang menggantungkan hidup justru dari pola mobilitas tinggi? Naaah, makanya awalnya diberlakukan PSBB; boleh keluar, asal untuk alasan urgent dan pekerjaan; yang kelayapan cuma buat cari tempat hangout, disuruh balik ke rumah masing-masing. Keluar dari rumah pun masih disertai persyaratan: kudu pake masker, kudu pake sarung tangan karet, kudu cuci tangan setiap sehabis megang sesuatu. Hand sanitizer dan sebotol disinfektan jadi perkakas wajib buat dimasukin ke tas. Kudu jaga jarak dari orang lain.

Still, itu pun masih ga cukup. Pemerintah mikirnya, mau sampe kapan bisnis-bisnis dikekang? Mau sampe kapan pemukiman penduduk diportal? Mau sampe kapan provinsi-provinsi di-lock down? Perekonomian terancam, nih. Ga mungkin juga ngutang ke negara lain, kan? Negara lain juga sama terpuruk, loh. Naaah, muncul deh, New Normal, sebuah tatanan berkehidupan yang baru sebagai respons direct terhadap kemungkinan bahwa COVID-19 masih belum sepenuhnya berada di bawah kendali. Kita semua dituntut beradaptasi dengan keadaan yang ada. Semuanya berangkat dari satu pemikiran sederhana: Life must go on, wabah atau tidak.

Sekarang, toko-toko, kafe-kafe, pusat-pusat perbelanjaan, hotel-hotel udah mulau dibolehin beroperasi. Tapi kita juga digiring untuk tahu diri biar ga kebablasan. Jangan mentang-mentang udah pada buka, lepas semuanya. Masker ga dipake. Cuci tangan malas. Mulai kacau-balau pola makan-tidur-olahraganya. Ga boleh gitu, ya. Inget ya, vaksinnya belum ada nih, ini penyakit. Kudu siap juga dengan COVID-19 gelombang kedua nanti. Ya, sukur-sukur sih, ga pake gelombang-gelombangan.

Berharap, Berdoa, dan Beradaptasi

Kata orang, habis gelap, terbitlah terang. Kata orang yang lain, selalu ada matahari sehabis badai. Orang yang lain lagi, ada hikmah di setiap kesulitan. Gimana kalo kita coba putar cara kita berpikir jadi gitu? Apa lagi sih, yang kita bisa lakukan, kan? Tentu segala pencegahan harus dijalankan, pastinya. Tapi kalau kita terus-terusan fokus ke hal buruk doang, apa ga bikin depresi ujung-ujungnya? COVID-19 memang bencana; cuma si pongah, si angkuh, dan si pengidap keterbatasan informasi yang mungkin mengklaim sebaliknya. Tapi percaya deh, this, too, shall pass. Ini juga bakal ada ujungnya. Semua bakal indah pada waktunya.

Punya Anak Lebih Dari Satu Itu Berisiko? Yuk, Kita Bahas

Keluarga yang harmonis

Haaalo Teman DRYD!

Ketemu lagi kita di kategori khusus membahas seputar dunia parenting. Teman semua pasti dong tahu tentang yang dimaksud parenting. Paling ga, pasti ada pemahaman mendasar tentang topik ini. Parenting bisa disederhanakan sebagai pola asuh orang tua terhadap anak, bagaimana orang tua mendidik anaknya. Tapi, pendidikan yang gimana dulu nih?

American Psychological Association (APA) mengerucutkan parenting dengan definisi berupa pola asuh anak yang dilakukan oleh orang dewasa (tidak mesti berhubungan secara biologis loh, ya) dengan tujuan utama meliputi: memastikan kesehatan dan keamanan bagi anak, memastikan si anak menjadi pribadi yang produktif di masa depan, dan memastikan nilai-nilai budaya turun pada anak dan terinternalisasi dengan baik.

Definisi mendasar parenting ini bisa kita gunakan untuk menilik fenomena unik yang kayanya makin marak belakangan ini: Bahwa semakin banyak orang tua yang kepingin menambah anak tanpa memperhitungkan jarak anak pertama dan kedua. Hasrat menambah anak adalah hal lazim di setiap rumah tangga dan itu dapat dimaklumi. Kenapa mau tambah anak? Wah, ada banyak alasan untuk dijadikan jawaban bagi pertanyaan sesederhana itu. Ada yang berpikir dengan menambah anak maka rumah akan menjadi lebih ramai, ga sunyi kayak lapangan kosong. Ada yang mikir, wah si kakak butuh adek nih, biar ga sibuk sendiri. Ada lagi yang mikir, nambah anak dengan rentang usia berdekatan berarti nanti gede-nya bisa barengan; ga yang satu udah dewasa, yang satu masih muda belia. Ide bahwa membesarkan anak secara bersamaan berarti nanti rasa lelahnya pun usai bersamaan pun juga jadi alasan logis. Trus, ada lagi yang mikir-nya rada-rada konvensional; banyak anak, banyak rejeki, jadi selagi masih bisa, yok di-gas. Semua alasan ini valid; kita ga lagi ngomongin mana yang masuk akal, mana yang bikin mulut menganga. Kecuali alasannya mau bikin kesebelasan, baru deh, mengernyitkan dahi. Tapi yang jadi pokok permasalahannya di sini adalah apakah sebuah langkah yang smart menambah anak sementara anak pertama masih perlu dipantau perkembangannya?

Ga ada kok, yang menyalahkan keinginan punya anak. Tapi coba deh, dipikir-pikir lagi, apa si anak pertama sudah cukup menerima pola asuh dari kita sebagai orang tua? Ada tahapan perkembangan anak menurut umur yang harus selalu diikuti dengan baik agar si anak sempurna pertumbuhannya, baik fisik maupun mental. Kalau anak pertama bicara saja masih belum beres, terus udah hamil lagi, ibu akan sangat keteteran dalam meng-cover semuanya: Memastikan anak pertama baik-baik saja itu sudah menyedot pikiran loh, apalagi kalau ditambah harus memantau anak dalam kandungan sehat selalu di saat yang sama.

Apa Buruknya?

Setuju ga, kalau dibilang mengurus satu anak itu ga gampang? Iya kan? Iya, dia lahir dari kita. Iya, dia kita yang urus. Tapi seorang anak tetaplah individu yang berdiri sendiri; kepalanya aja udah beda, apalagi isinya, apalagi karakter dan kepribadiannya. Jujur deh, kalau punya anak kedua (atau ketiga, keempat) pasti anak yang sudah lebih dulu tua disuruh ikut membantu merawat adiknya. Kenapa? Ini biasanya terjadi ketika si ibu merasa segalanya sudah out of hand, dia sudah merasa bahwa kondisi rumah tangga sudah tidak bisa lagi dia kontrol sendirian. Mending kalo si bapak melek situasi, kan? Coba kalo suami tipe yang keburu tersedot perhatian dan tenaganya oleh pekerjaan. Ujung-ujungnya, anak yang gede yang disuruh-suruh.

“Kan tujuannya juga buat ngelatih dia, Dok, biar mandiri, sigap, patuh.”

Iyaaa, paham. Melibatkan anak dalam urusan rumah tangga itu ga salah. Malah banyak sisi positifnya. Tapi masa iya, dia mau disuruh ngawasin adek-nya juga? Orang dia juga masih perlu diawasi, kok. Gini loh, bundaaa, kalau si anak diberi tanggung jawab se-gede itu, dia ditempatkan dalam posisi yang mungkin hampir sama dengan orang tuanya, nanti dia dewasa terlalu cepat loh. Beban psikis yang diterima belum sepadan dengan tahapan tumbuh-kembangnya dan akhirnya dipaksa men-skip apa yang seharusnya dia lewati dengan sehat. Nih, ke-skip satu aja fase perkembangan di usia dini bisa fatal akibatnya. Efeknya mungkin ga langsung bisa diobservasi. Tapi nanti suatu saat nanti ketika dia besar secara umur, baru deh bermanifestasi. Susah? Complicated? Siapa bilang punya anak itu gampang?

Mari Membahas Risiko dan Efek

Waspada terhadap potensi tantrum pada anak

Jadi, apa sih, Dok, efek nyata dari punya anak dengan rentang umur terlalu dekat?

Pertama, potensi tantrum menanjak. Si anak pertama masih butuh kasih-sayang dan perhatian khusus, sudah ditinggal mengurus anak kedua—yang juga butuh extra care. Dari sisi orang tua saja jelas ini merupakan kerugian besar. Cape loh, kondisi kayak gini. Anak yang masih bayi nangis minta makan. Anak pertama nangis ngajak main. Si anak pertama belum paham apa-apa, tau-nya cuma teriak-teriak minta ini-itu. Kalo ga dikabulkan, marah sejadi-jadinya. Kenapa? Karena cara komunikasinya baru sampai sana. Pahamnya baru tentang jerit-menjerit. Dia belum sempat belajar menyampaikan kemauan dengan lebih smooth. Nah, tantrum-nya keluar, orang tuanya kecapean, meledak ga tuh seisi rumah?

Kedua, bonding menjadi kurang, baik antara anak pertama dan orang tua dan juga antara anak pertama dengan yang kedua. Kenapa bisa begitu? Usia-usia dini, sekitar 1 hingga 3 tahun, adalah periode kritis dalam proses identifikasi anak terhadap lingkungannya, termasuk unsur-unsur di dalam ruang lingkup dekat. Orang tua termasuk memegang peran vital dalam memastikan keutuhan ikatan batin antara mereka dan si anak. Gimana sih, proses bonding ini? Apa sih, yang bikin ikatan batin jadi kuat? Banyak faktor dan aspeknya. Yang paling sederhana ya, menghabiskan waktu dengan si anak. Main dengan mereka. Makan dengan mereka. Penuhi semua kebutuhan dasarnya. Ajak dia berbincang. Caranya bisa macemmacem; tapi dengan keberadaan anak yang baru lahir, apa mungkin Teman DRYD sanggup membagi perhatian, waktu, dan energi dengan adil dan merata? Dengan adiknya sendiri juga akan sulit terbentuk ikatan yang kuat. Sejak kecil si kakak akan menilai bahwa si adik adalah sebuah tanggung jawab. Perlakuannya akan beda sebab si kakak ujung-ujungnya bakal menganggap adiknya ini sebuah… apa ya… beban, mungkin?

Ketiga, rasa percaya diri si kakak bisa berada dalam bahaya. Inget kan, tadi dikatakan usia dini itu periode kritis? Ini juga berlaku untuk pematangan cara si kakak memandang dirinya sendiri, caranya memberi value pada dirinya sendiri. Di dalam usia yang semestinya masih menerima perhatian utuh dan terfokus, si kakak harus mencerna kenyataan bahwa dirinya ga terlalu spesial untuk dirawat. Selalu adik yang nomor satu. “Tapi anak bayi namanya, Dok. Pasti dong dirawat ekstra….” Ya makanya itu; suka ga suka, bayi itu sangat demanding. Dengan keberadaan si kakak, akan sangat sulit membagi fokus dan meratakan perhatian dengan serata-ratanya. Kondisi ini bisa diperburuk lagi kalau si kakak juga dituntut untuk berpartisipasi dalam membesarkan si adik. Itu bukan kewajibannya loh. Akhirnya gimana kalau ada tanggung jawab itu juga yang harus si kakak pikul? Yaaa, mungkin nanti dia bakal mikir, “Ah, saya cuma orang yang ikut membesarkan adik….” Gawat kan, kalo sampe sana dia berpikir.

Keempat, timbul rasa iri dan sifat kompetitif yang berlebihan dan tidak sehat. Naaah, ini nih, yang paling gampang dideteksi. Siapa sih, yang suka dengan sikap pilih kasih? Si kakak bisa berpikir si adik menerima curahan kasih sayang dan perhatian seratus persen dari ibu-bapaknya sementara dia cuma di-acknowledge kapan perlu. Ga perlu anak-anak deh, orang dewasa juga sebel dibegituin, kan? Orang tua bisa berdalih, “Engga kok, saya ga pilih kasih. Kan sesuai porsinya, kakak udah gede, udah bisa mandi, makan sendiri. Adek kan belum bisa ngapa-ngapain.” Itu menurut kita; dari perspektif si kakak bisa beda total. Dari rasa iri, muncul kompetisi. Dan kalo udah ada kompetisi, dijamin deh, rumah bakal panas rasanya. Persaingan antarsaudara itu lumrah. Malah mungkin sehat kalau intensitasnya normal. Tapi kalau sudah jadi kompetisi, itu yang berbahaya. Si kakak mikir gimana caranya supaya jadi yang the best di segala lini. Apa-apa kudu sempurna, lebih dari adiknya. Si adek, di lain pihak, kan ga ngerti nih, ini kakak kenaaapa, ya? Trus ga suka sama kelakuan kakaknya yang ga mau kalah. Ga nutup kemungkinan di kemudian hari nanti apa yang bermula sebagai persaingan sederhana berujung benci dan dendam, itu yang kita harusnya hindari.

Ada Ga Sih, Jarak Usia Anak-anak yang Ideal?

“Tapi, yang jadi pertanyaan adalah, apakah sanggup membagi rata perhatian dan memastikan pola asuh yang diberikan sudah tepat?”

Ajak si kakak berkomunikasi

Ada baiknya memikirkan selisih umur anak yang ideal sebelum memutuskan untuk punya anak lagi. Warren Cann, psikolog dari Parenting Research Centre di Australia, berpendapat bahwa rentang usia antara 2 anak yang terlalu dekat dan terlalu jauh sama-sama memiliki risiko kesehatan. Jadi diperlukan semacam garis tengah yang aman dalam hal ini. Jika bicara tentang jarak umur anak yang ideal dalam kaitannya dengan keinginan untuk punya 2 anak berjarak dekat usianya, sebaiknya kehamilan berikutnya direncanakan setidaknya 18 hingga 23 bulan semenjak kelahiran anak sebelumnya. Itu setidaknya loh, ya. Periode ini dirasa cukup untuk memberikan kesempatan pada anak pertama untuk bertumbuh dan berkembang dengan wajar sehingga kehadiran anak berikutnya tidak akan memberi jeda pada tahap-tahap yang semestinya.

Dua masa kehamilan yang berjarak kurang dari 18 bulan akan membuat Teman DRYD kehilangan me-time. Bukan, ini bukan berarti Teman semua harus egoistis—menjadi orang tua adalah pekerjaan seumur hidup yang otomatis meniadakan waktu berkualitas untuk diri sendiri. Tapi bagaimanapun juga kita semua adalah manusia yang kadang jenuh dengan rutinitas sehingga butuh menekan tombol pause sejenak untuk menarik napas. Dua anak yang umurnya terlalu dekat akan sangat melelahkan. Memang nantinya akan lebih mudah karena mereka pun membesar hampir bersamaan. Tapi, yang jadi pertanyaan adalah, apakah sanggup membagi rata perhatian dan memastikan pola asuh yang diberikan sudah tepat? Ingat ya, pola pengasuhan harus membuat anak-anak merasa aman, sehat, produktif, dan mampu memahami nilai dan tatanan yang diturunkan. Sebaliknya, 2 anak dengan rentang usia yang terlalu jauh memiliki potensi beban psikologis yang besar. Setelah 5 tahun merawat satu anak, kembali mengasuh bayi dari nol akan memaksa diri untuk lagi dan lagi melewati fase yang sama.

Langkah-langkah Preventif

Sebenarnya, tidak ada solusi pasti untuk fenomena ini karena memang ini bukan masalah melainkan lebih kepada berkenaan hal-hal abstrak yang bersifat management. Tapi tetap ada cara-cara yang bisa bunda semua lakukan untuk menekan potensi efek negatif.

Kita sebagai orang tua sebaiknya aware perkara keharusan untuk sharing dengan anak pertama, terutama tentang hal-hal yang bikin hepi. Jika memang Teman memutuskan untuk punya anak dengan jarak usia berdekatan, selama masa kehamilan kedua, cobalah berbagi dengan si kakak mengenai yang positif-positif saja. Pas lagi berduaan, ajak ngobrol deh, coba tanya “Kakak bentar lagi punya temen loh; mau diajak ngapain aja nanti?” Atau “Nanti dede-nya disayang ya, Kakak. Dikasi kue ya, sama dipinjemin mainan, ya.” Kecil kemungkinan anak umur 1 atau 2 tahun bisa paham apa yang bunda katakan. Tapi paling tidak si kakak bisa meraba mimik muka bunda dan merespon nada bicara bunda yang positif dan membuatnya bahagia. Nantinya, si kakak akan mengasosiasikan si adik dengan hal-hal baik yang membuat rasa excitement-nya meningkat. Jadi jangan sedikit-sedikit si kakak di-ingetin tentang kewajiban harus menjaga adik, harus merawat adik, harus nyuapin adik, apalagi harus menyekolahkan adik, berabe buk-ibuuuuk.

Terus, hal basic nih. Perkirakan kesiapan Teman DRYD untuk kembali menimang anak. Punya anak-anak deketan usianya emang ide yang menawan karena prospek lepas dari rasa lelah mengasuh anak yang lebih serentak di masa depan. Tapi siap ga secara mental, fisik, dan, terutama, finansial? Emang sih, karena jarak yang ga terlalu jauh, peralatan bayi si kakak bisa dipakai lagi untuk si adik—dot atau stroller misalnya. Tapi ada hal lain loh, yang ga mungkin disamakan. Asupan gizi anak umur 2 tahun pasti beda dengan anak umur sebulan setengah, misalnya. Belum nanti kalo mereka udah gedean, udah bisa mikir lebih kompleks dan punya selera sendiri. Mana mau si adek make baju bekas kakaknya.

Persiapan Sebelum Kembali Memiliki Momongan

“Pastikan ikatan antara bunda dan si kakak tetap terjaga sekalipun di tengah masa kehamilan yang baru.”

Jadi? Udah mantep mau punya anak lagi? Gini nih, garis besar persiapannya.

  1. Lihat usia si ibu

Perempuan di bawah 30 tahun yang sehat berpotensi lebih besar ketimbang yang berusia di atas 35 tahun. Bukaaan, bukan dilarang hamil umur segitu. Tapi kehamilan pada saat usia ibu di atas 35 tahun lebih rentan risiko terutama risiko kelainan kongenital. Selama kehamilan pun si ibu nanti akan lebih berpotensi kesulitan seperti diabetes gestasional maupun keguguran.

  1. Jarak kehamilan sebaiknya ideal

Tadi udah disinggung tentang periode ideal antara 2 kehamilan jika yang diinginkan adalah anak-anak yang usianya berdekatan. Nah, sekarang bahas jarak kehamilan yang ideal secara normal, yang pasnya, gitu. Sebaiknya, rencanakan kehamilan berikutnya antara 2 hingga 4 tahun sejak kelahiran yang pertama. Ini bukan cuma perkara kematangan si anak yang sebelumnya tetapi juga kondisi fisik si ibu. Kondisi tubuh perempuan memerlukan waktu untuk kembali siap mengandung lagi. Jika kehamilan terjadi terlalu dekat, dikhawatirkan akan terjadi kelainan plasenta—risiko ini akan berlipat apabila persalinan sebelumnya terjadi secara sesar.

  1. Timbang-timbang kemampuan finansial

Ini sih, seharusnya sudah tidak dibahas ya. Jumlah anggota keluarga bertambah, artinya biaya yang dibutuhkan pun meningkat. Tapi ya mau ga mau harus diikutsertakan sebagai salah satu faktor yang patut ditelaah sebelum memutuskan untuk memiliki momongan lagi. Banyak loh, yang harus dipersiapkan: biaya selama kehamilan, biaya persalinan, asupan gizi seperti susu, perlengkapan dan peralatan bayi, imunisasi, sampai masalah biaya pendidikan jika sudah menginjak usia sekolah.

  1. Cari tahu masalah kesiapan pasangan

Punya anak itu andil berdua, ya. Jika satu saja dari sepasang orang tua berpikir bahwa ia belum siap memiliki momongan lagi, maka sebaiknya diurungkan saja.

  1. Tanya si kakak, siapkah dia menyandang status baru?

Dengan asumsi si kakak sudah dapat berkomunikasi lebih baik dan pola logikanya sudah mulai terbentuk, ajukan pertanyaan-pertanyaan yang bunda bisa jadikan sebagai tolok ukur kesiapan mentalnya dalam menerima kehadiran bayi baru di tengah keluarga. Pastikan ikatan antara bunda dan si kakak tetap terjaga sekalipun di tengah masa kehamilan yang baru.

Final Words

Siap punya anak lagi?

Pembahasan kali ini bukan dimaksudkan sebagai judgment atau upaya menentukan nilai baik-buruk, benar-salah. Semua berhak dan bisa punya anak, kapanpun mereka siap dan berapapun mereka mau. Tapi ini lebih kepada usaha pemberian pemahaman kepada Teman semua mengenai risiko, konsekuensi, dan tanggung jawab kita sebagai orang tua dalam memastikan pola asuh yang tepat.

Punya anak lebih dari satu itu memang menyenangkan. Rumah terasa lebih hangat dan Teman DRYD pun tidak akan kesepian. Tetapi kalau Teman memilih untuk punya anak lebih dari satu dengan jarak usia yang sangat mepet dan akhirnya kewalahan, apakah tidak lebih baik dari awal menunda kehamilan berikutnya? Something to think about.