Berhati-hati dengan Bahaya Bias Gender dalam Pengasuhan Anak

Hai Teman DRYD,

Mungkin di antara teman semua ada yang memahami apa itu bias gender dan tahu pasti tentang literatur atau sumber-sumber padat informasi mengenai isu satu ini. Mungkin ada yang tahu tapi pemahamannya masih samar, masih meraba-raba. Jadi ada baiknya jika pertemuan kita kali ini diawali dengan pembahasan yang mendasar dulu ya.

Yuk, kita samakan persepsi dulu mengenai definisi istilah itu. Bias adalah suatu kondisi yang diwarnai dengan kecenderungan untuk memihak atau merugikan. Gender adalah sifat atau nilai yang dilekatkan baik pada laki-laki maupun perempuan oleh konstruksi sosial dan budaya. Dari sini, kita bisa mensederhanakan pengertian bias gender menjadi keberpihakan pada satu gender yang merugikan gender lain.

Gender tidak sama dengan jenis kelamin ya, moms, sekalipun sering digunakan bergantian dengan anggapan bahwa keduanya merupakan sinonim. Kata kuncinya adalah ‘sosial’ dan ‘budaya’. Gender merupakan identitas hasil persepsi sosial dan ditanamkan pada satu individu dalam ruang lingkup kultur tertentu. Dan karena berkaitan dengan kultur, maka identitas gender bisa dikatakan sebagai warisan leluhur sebab ide mendasar yang menjadi landasan pembagian gender muncul dan diteruskan secara turun-temurun.

Akibatnya apa? Kita sebagai masyarakat sosial memiliki kebiasaan untuk mengkotak-kotakkan sesuatu berdasar ide identifikasi gender tersebut. Contohnya apa, Dok? Misal nih, pas lebaran kan ada tradisi beli baju baru kan. Nah, orang tua akan cenderung memilih produk yang dibeli berdasar pola gender tadi. Jadilah anak laki-laki dibelikan baju biru sementara anak perempuan dapat baju warna merah jambu. Atau anak laki-laki dibelikkan robot-robotan sementara adik perempuannya diberi boneka cantik yang anggun. Ga ada salahnya sama sekali melakukan yang seperti ini—asal anaknya seneng aja. Tapi, coba deh lihat kembali ke belakang, apa sih yang mendasari perlakuan seperti ini? Anak-anak mungkin ga peduli dengan konsep seabstrak maskulin-feminin dan itu lumrah karena mereka belum perlu mengenal keduanya dan apa bedanya. Kita nih, sebagai orang tua yang menyetir persepsi mereka dari kecil sehingga mainan mobil-mobilan merupakan hak prerogatif untuk laki-laki sementara anak perempuan diidentifikasi dengan boneka, warna merah jambu, permainan masak-masakan, dan sederet lain aktivitas yang dinilai cewe banget.

Emang secara lahiriah cowocewe itu beda. Tapi siapa yang tahu pasti tentang perkara batiniah. Seorang anak perempuan mungkin tertarik memegang robot-robotan karena di matanya robot itu sangat unik untuk dieksplorasi ketimbang boneka sederhana yang membosankan. Seorang anak mungkin tertarik dengan warna biru atau merah elektrik atau bahkan hitam karena entah kenapa. Itu cuma preferensi ya, Teman-teman. Memilih sesuatu yang diidentikkan dengan lawan gendernya tidak serta-merta mengubah identifikasi seksualnya. Si anak perempuan cuma suka main robot, ga ada yang salah kan? Bias gender-lah yang membuat semua terlihat seperti tidak pada tempatnya.

Guys, otak kita merespon konsep bias dengan sangat baik. Konsep maskulin-feminin dan strata di antara keduanya merupakan konsep purba yang sudah dipupuk selama ratusan ribu tahun sejak nenek moyang kita masih hidup di gua dengan pola berburu dan meramu. Kebayang kan, seberapa dalam pemahaman ini udah mengakar di dalam gen kita? Otak kita kayak udah disetel demikian dari sananya. Ini adalah kultur yang patut untuk ditilik lebih lanjut untuk direkonstruksi. Kenapa? Yang berbahaya lagi adalah kebiasaan pengelompokan hal berdasar gender ini akan lambat laun membentuk karakter si anak. Berdasarkan pengertian bias gender menurut para ahli, pihak gender yang diuntungkan akan mudah melontarkan judgment sementara si pihak yang dirugikan akan memiliki kompleks inferioritas. Kita sebagai orang tua pastinya ga mau kan, kalo ada anak kita yang merasa dirinya inferior? Karena bias gender lebih sering merugikan perempuan ketimbang laki-laki, maka jika pola asuh berdasar gender diterapkan secara asal, anak perempuan bukan ga mungkin akan merasa lebih kecil daripada laki-laki. Lebih jauh lagi, inferioritas ini mungkin berpotensi merambah lebih dalam lagi dan membuat si anak merasa kecil di hadapan siapapun bahkan di depan sesama gendernya sendiri. Orang tua yang paling memanjakan anaknya sekalipun pasti ingin anaknya mandiri dan mampu menyelesaikan persoalannya sendiri dengan relatif lancar. Sekarang, kalo dari awal aja si anak udah ngerasa ga mampu, gimana gedenya, kan?

Yang lebih menyedihkan lagi adalah keberadaan bias gender dalam pendidikan. Sekolah, sebuah institusi pendidikan formal, pun mengaplikasikan bias gender, disadari atau tidak. Buku-buku pelajaran diwarnai dengan pengondisian konseptual terhadap peran laki-laki versus perempuan. Di buku-buku SD—bahkan mungkin sarana pengajaran di playground—coba liat deh. Anak laki-laki diilustrasikan bermain di luar rumah dengan teman-temannya. Atau mungkin mancing dengan bapaknya. Atau mungkin ada ilustrasi lain yang menggambarkan pria dewasa di lingkungan kerjanya. Bagian anak perempuan gimana? Anak cewe biasanya digambarkan membantu ibunya memasak di rumah, beres-beres kamar, bermain boneka sendirian. Perempuan dewasa diilustrasikan sebagai pribadi yang terikat dengan rumah: Mengasuh anak, menyiapkan makan dan minum, atau mungkin ngobrol sama tetangga. Jomplang kan? Dan itu ditemukan di media pendidikan dasar yang akan membentuk landasan pikiran dan persepsinya di kemudian hari.

UUD 1945 pasal 31 udah dengan sangat gamblang ngasi ketegasan: Pendidikan itu hak semua warga negara. Ga peduli gendernya. Semua orang berhak mendapatkan pendidikan dan pengetahuan yang setara maka buku pelajaran SD pun sebaiknya bisa memuat ilustrasi tentang seorang pilot perempuan. Pernah liat perempuan jadi pilot? Kalopun pernah pasti cuma sekali seumur hidup dan tanggapan kita pasti, “Gilak ni cewek, jadi pilot euy!” Ada perasaan takjub campur heran. Tapi kalo kita liat pilot laki-laki, apa respons kita? Ga ada kan? Seolah-olah kita udah nerima gitu aja kalo pilot itu pekerjaan yang secara natural dilakukan laki-laki. Artinya apa? Secara ga langsung kita dikondisikan untuk beranggapan bahwa cuma laki-laki yang punya kecakapan dan kekuatan yang dibutuhkan untuk menjadi pilot.

Okelah kita berargumen memang perempuan memiliki fisik yang lebih lemah dari laki-laki sehingga wajar yang dipilih untuk satu pekerjaan adalah laki-laki. Oke, let’s go with that argument. Tapi itu tidak otomatis menutup pintu probabilitas seharusnya. Laki-laki dan perempuan berhak atas pengetahuan yang sama, dalam komposisi yang sama, dengan persepsi yang sama, dan perlakuan yang sama dalam hal pendidikan. Kita ambil contoh profesi pilot tadi. Aturan mana yang melarang perempuan untuk mempelajari dunia penerbangan? Terserah nanti di masa depan mau kayak gimana. Seorang perempuan akan menjadi pilot atau tidak, itu tergantung ketekunan, potensi, preferensi, dan kemampuannya. Tapi paling tidak sedari awal dia sudah dibekali dengan porsi pengetahuan yang ga beda dari rekan laki-lakinya.

Apa akibatnya kalau kita membiarkan bias gender menjadi that one driving force di balik cara kita mengasuh anak? Banyak. Terlalu banyak untuk dibahas karena sifatnya sistemik, menjalar ke mana-mana. Tapi secara umum bias gender dalam pola asuh bisa:

  1. Membuat si anak berkembang menjadi pribadi yang mudah memberikan judgment pada pihak yang tidak menerapkan konsep yang serupa. Contoh nih, si anak A melihat sebuah keluarga yang bapaknya ga Si ibu yang mencari nafkah sementara si bapak mengasuh anak dan mengurus rumah. Si A akan memiliki persepsi negatif terhadap keluarga tersebut. “Ih, masa cowo ga kerja…?” “Ih, kok cewe berangkat pagi pulang sore. Apa ga mau ngurus rumah ya?” Kita ga pernah tahu cerita yang ada di balik sebuah keluarga. Dan bias gender membuat kita merancang sebuah cerita tentang keluarga itu untuk merasionalisasi ketidakcocokan dengan konsep pribadi kita.
  2. Menghambat fleksibilitas anak ketika nanti dewasa. Contoh yang paling mudah adalah tentang pilot yang tadi kita bahas. Karena sedari kecil udah diinternalisasikan ke pikiran si anak cewe bahwa dia ga punya kepantasan untuk menyandang gelar profesi tertentu, sedari kecil jalan hidupnya bakal banyak benturan. Dia akan berjalan di satu arah tertentu yang didiktekan oleh konstruksi sosial budaya sekitarnya. Tidak ada ruang untuk bertumbuh dan berkembang dan menyerap pengalaman lain. Perempuan dituntut untuk selalu bersifat melayani, berpembawaan lembut, dan selalu berpenampilan cantik. Dan tidak ada pilot (atau profesi lain yang terasa maskulin) dikondisikan tidak cocok untuk yang cantik-cantik atau yang lembut-lembut. Profesi itu cuma cocok untuk yang gagah, kuat, dan berani, yaitu segala kualitas yang dimiliki laki-laki. Potensi yang mungkin ada di diri satu gender akan ditekan sangat kuat oleh sosial budaya di sekitarnya hanya karena tidak dinilai sesuai.

Kesetaraan gender tidak otomatis meninggalkan kodrat masing-masing individu. Iya, emang perempuan dikaruniai insting lebih serta desain fisik yang membuatnya mampu menjalankan peran sebagai ibu. Tapi mengasuh anak tidak serta-merta menjadi ranah khusus perempuan. Si bapak tidak harus melulu bekerja, minta dilayani, dan istirahat. Kalo emang ada waktu dan energi, coba deh, ambil si anak dari pangkuan istri dan ajak main. Itung-itung ngasi istri jeda buat bernapas. Bonding akan menjadi proses yang menyenangkan sehingga si anak tidak berkembang menjadi pribadi yang menganggap bapaknya seseorang yang kaku, dingin, dan tidak bisa diakses. Anak itu seharusnya punya akses 24 jam bebas hambatan loh, ke orang tuanya sendiri. Ini penting untuk membangun kedekatan dan menciptakan keharmonisan.

Sistem keluarga patriarki memang sudah terlalu kental dalam struktur sosial masyarakat kita. Butuh proses panjang dan ketekunan untuk bisa menyusun ulang semuanya supaya ga ada pihak yang dirugikan. Tapi semua mulainya dari keluarga inti kok. Jadi apa yang bisa kita lakukan?

Pertama, biarkan preferensi menjadi preferensi. Sadari bahwa preferensi bukanlah sebuah tindakan yang melawan hukum alam. Biarkan anak-anak memilih apa yang mereka suka; toh, kalau nantinya mereka tidak lagi merasa cocok dengan suatu hal, mereka akan mencari hal lain lagi yang barangkali lebih sesuai. Sambil tetap diamati loh, ya. Jangan sampe kebablasan melanggar koridor kewajaran. Anak yang cewe penasaran sama mobil-mobilan abangnya, berikan ia kesempatan untuk eksplorasi. Anak cowo mau nyoba megang boneka kakaknya, biarin ya, moms. Cuma megang doang, ga perlu ditanggapi dengan histeris apalagi sampe keluar pertanyaan, “Anak laki main bonekaaa? Mau jadi apa kamu?!” Ga perlu ya, moms. Dia cuma penasaran dan membiarkan anak menemukan jawaban atas rasa penasarannya akan berdampak positif untuk tumbuh-kembang-nya.

Kedua, jangan pilih kasih. Anak cowo dibeliin baju baru warna biru, tanya saudara perempuannya apa mau warna biru juga? Lagi-lagi, jangan membatasi preferensinya. Kecuali kalo emang dianya memilih yang berbeda. Tapi tanyakan dulu maunya apa dan yang mana. Dengan begini dia bisa merasakan kenyamanan dalam lingkup keluarga yang inklusif dan paham bahwa orang tuanya tidak memilih-milih dalam meberikan perhatian. Ini juga berlaku untuk keluarga dengan satu anak loh, ya. Biarkan anak yang memilih, kita cuma perlu kasi pendapat tanpa memaksakan konsep apapun. Toh, yang make barangnya ya dia. Toh, yang ngejalanin hidupnya nanti ya dia. Kita cuma perlu membiarkan dia tahu bahwa kita sangat menyayanginya.

You Guys, Staycation Yuk!

Kemunculan kebijakan new normal pastinya memberikan kemudahan bagi kita semua di tengah periode waktu yang tidak menentu seperti sekarang ini. Pandemi COVID-19 belum keliatan ujungnya. Bisnis-bisnis yang di awal pandemi goyang masih meraba kemungkinan untuk kembali bangkit sambil di saat yang sama mengantisipasi the worst of all scenarios. Nah, bisnis hospitality, sebagai salah satu sektor yang paling menderita di kala COVID-19 juga udah mulai menggeliat. Udah mulai keliatan nih; objek wisata di indonesia mulai banyak dikunjungi lagi sama pelancong-pelancong domestik.

Menikmati liburan sendiri juga oke

Emang sih, turis mancanegara masih belum banyak keliatan. Ya iya, dong; mereka juga kan sama kayak kita. Butuh recovery dulu dari kesulitan ekonomi yang dibawa si wabah, butuh memastikan dulu kalo mereka sehat, butuh arrange dulu perjalanan wisata mereka—kalo emang ada rencananya buat jalan-jalan. Sama kok semuanya. Palingan juga mereka yang di luar negri sana asik main ke tempat wisata negara mereka sendiri. Sotoy aja sih, sayanya mah hahahah.

Tapi banyak hal di era New Normal ini yang diterapkan dengan mendetail dan merata di semua sektor. Penggunaan masker wajah dijadikan kewajiban. Cuci tangan masih jadi suatu keharusan. Ini juga merambah ranah pariwisata loh. Kalo kita dateng ke satu objek wisata, pasti disuruh cuci tangan dulu sama ditanya maskernya ada ato engga. Ga boleh juga terlalu deketan sama orang lain. Pokoknya kita diwajibkan mematuhi aturan supaya bisa melanjutkan hidup seperti sebelum pandemi melanda. Secara langsung, New Normal udah mulai menggeser tren traveling di indonesia menjadi lebih praktis dan lebih mengarah ke the whole package, gitu. Dan ini, ujung-ujungnya, bakalan mengubah cara kita buat menikmati metime. Hal menarik dari sebuah tren adalah bahwa tren itu suatu entitas yang… fleksibel, gitu. Ada tren yang hilang setiba-tiba dia datang. Ada tren yang muncul terus stay buat beberapa saat sebelum ilang. Ada tren yang dicetuskan trus dorman beberapa lama trus keluar lagi. Tren metime juga gitu. Kalo ga percaya, coba, dulu sarana paling populer buat metime pasti traveling, kan? Semua orang sibuk merencanakan mau pergi jalan-jalan ke provinsi manaaa gitu. Tiket pesawat di-booking jauh-jauh hari. Penginapan di-pesen setaun sebelumnya. Sampe di lokasi main sana-sini, foto-foto, aplot deh, ke Instagram. Ye kaaan? Ngaku deh.

Nah, di masa New Normal ini, udah susah yang kayak gitu. Buat berangkat ke luar kota dalam satu pulau aja, kudu banyak yang dipersiapin. Rapid test lah, swab test lah, bikin surat keterangan lah. Nambah deh, peer-nya. Suka ga suka, kita kudu mikirin lagi cara yang efisien buat metime. Eh, jangan sepelein metime loh, ya. Kita tuh, butuh yang kayak gitu. Menghabiskan waktu berkualitas dengan diri sendiri itu adalah sebuah bentuk kepedulian pribadi sama kesehatan mental. Kita kadang butuh space dari hal-hal yang membuat kita jenuh, bisa orang, bisa rutinitas, bisa pekerjaan. Kita perlu sesekali menjauhkan diri dari semua yang bikin kepala butek dan ruwet biar bisa fresh lagi. Kalo engga, emang kenapa, Dok?

Enggak, langit ga bakal runtuh dan bumi ga bakal kebelah cuma gegara kita ga punya cukup waktu dan kesempatan buat metime. Tapiii, membiarkan diri terlalu jenuh kemudian kejenuhan itu mereda dengan sendirinya akan menjadi cikal-bakal stres berkepanjangan loh. Kalo siklus itu dibiarkan bergulir gitu aja, ujung-ujungnya nanti meledak dan jadi konflik. Sama pasangan jadi gampang murka. Dikit kesenggol, kesulut amarahnya. Sama anak jadi kurang sensitif. Rewel dikit, emosi. Bukan berarti yang single bakal lebih mudah, ya. Menghadapi konflik mental sendirian itu jauh lebih sulit.

Staycation, yuk!

Sebenernya ga cuma satu cara buat menikmati ­metime itu, ga melulu perkara ngabisin duit. Ada orang yang emang ga doyan jalan-jalan, apapun alasannya. Ada yang cukup dengan baking udah seger lagi pikirannya. Yoga juga jadi pilihan banyak orang. Simpel deh, beres-beres rumah aja mungkin udah jadi sarana yang lebih dari cukup buat kembali merasa relaxed. Tergantung preferensinya sih. Tapiii, semuanya itu kemungkinan besar dilakukan di rumah, tempat yang mungkin paling sering jadi pencetus kebosanan dan permasalahan lain. kebayang ga, harus mencoba menenangkan diri di tempat yang justru jadi sumber ke-butek-an? Kerjanya dua kali lipat loh, itu—itu pun dengan asumsi goal-nya tercapai. Lah kalo enggak? Bisa beneran geger itu rumah. Kadang perlu secara fisik berada sejauh mungkin dari sumber kejenuhan. Yang ibu-ibu, tinggalin deh anaknya sama bapaknya. Menipedi, deh. Spa sekalian. Ato ajak bapaknya juga, anak titipin sama neneknya. Kecuali masi bayi loh yaaa. Yang single gimana? Lah kan single, mo mikirin apa…?

Nah, makanya nih butuh banget sama yang namanya menekan tombol pause di kehidupan ini. Dari sekian banyak manfaat travelling, ini mungkin yang paling krusial, yaitu memberi kesempatan buat diri sendiri agar bisa menikmati sesuatu selain apa yang selama ini dijalani. Bisa liat pemandangan baru. Bisa dapat experience baru. Bisa kenalan sama orang baru, mungkin. Bisa dapat perspektif baru dalam menelaah persoalan lain.

Intinya apa nih, Dok…?

Duh, iya… jadi ngelantur, kan….

Kaitan dari omongan saya tadi-tadi itu tuh, gini. Kita kan butuh metime, nih. Metime itu salah satunya jalan-jalan, tamasya. Tapi trus ada New Normal yang bikin riweuh. Cara metime kudu berubah. Nah, gitu runtutannya.

Jadi, gimana dong…? Udah kebelet pengen metime-an? Nih, staycation aja.

Staycation adalah isitilah yang digabung dari 2 kata, stay ‘tetap’ dan vacation ‘liburan’. Ada juga yang nyebutnya holistay, dari holiday dan stay. Menurut Google Dictionary, istilah yang pertama kali muncul di kala Amerika mengalami krisis keuangan tahun 2003 ini berarti liburan di negara sendiri. Simpelnya, mereka yang melakukan staycation adalah turis di kotanya sendiri. Jadi, kalo kita staycation, artinya kita ga perlu sampe pergi ke luar negri, provinsi lain, ato bahkan ga perlu keluar dari batas kota sendiri. Kita bisa memilih untuk memesan hotel dan menghabiskan waktu di dalam kamar yang kita pesan sampai waktu checkout datang. Di dalam kamar bisa maraton nonton film, bisa pesen makanan—entah dari yang disediain pihak hotel, entah pesen dari delivery, main games, pijet, lulur, baaanyak banget. Ato kalo kebetulan lagi ada event di hotel itu, naaah bisa deh tuh, ikutan.

Ga mesti terikat dalam kamar juga kok. Cek gugel deh, cari destinasi wisata di dalam kota yang belum pernah dicobain. Bisa museum, bisa kebun binatang misalnya. Kafe atau juga gapapa. Pastiin aja mereka terima customer dinein dan pastikan jam tutupnya kapan. Tau sendiri, kan lagi New Normal; semua serba dijatah jam operasinya dan beberapa tempat mungkin sudah beroperasi tapi hanya dengan menerima pesanan bawa pulang.

Pandemi Mempengaruhi Tren Traveling

Tren traveling segera bergeser

Situasi pandemi memukul telak sektor pariwisata Indonesia dan kebijakan New Normal memaksa tren traveling untuk bergeser. Konsultan marketing MarkPlus Inc., mengadakan survei April kemarin dan hasilnya menunjukkan bahwa antusiasme untuk berwisata masih tinggi di kalangan masyarakat meskipun sebagian besar rasa nyaman dan aman dalam berwisata mungkin baru akan muncul at least 6 bulan pascapandemi. Survei yang sama juga menyatakan bahwa 16% dari responden memilih staycation sebagai pilihan utama mereka. Liburan ke luar negri gimana? Cuma 11%. Hal lain yang menarik dari survei ini adalah tipe wisata yang diperkirakan akan menuai lonjakan ada 3: wisata air, wisata gunung, dan wisata kuliner. Wisata kuliner populer di segala jenjang umur responden, wisata air dan gunung difavoritkan oleh responden muda. Responden dari kalangan yang sudah berumur lebih memilih staycation. Tren berlibur pasca-COVID-19 akan didominasi tipe short trip; staycation akan menjadi norma wisata lumrah setelah pandemi mereda.

Relevansinya apa dong dengan semua cerita kita sebelumnya? Staycation sekarang naik tahta dari yang tadinya cuma sekadar tren menjadi bentuk metime yang legit hahahah!

Kenapa ketawa, Dok?

Gapapa, seneng aja jadi banyak pilihan. Sekarang ga kudu repot mikir belum beli tiket pesawat, belum pesen hotel, ga perlu ngebayangin harus packing ini-itu. Tinggal berangkaaat!

Eit, nanti dulu, belum kelar. Staycation juga bisa jadi peluang bisnis loooh. Dengan jumlah wisatawan domestik yang berpotensi meningkat drastis, ini bisa jadi ladang basah karena turis-turis itu semua pasti butuh kamar kaaan. Nah, kalo ada modal, coba deh eksplorasi potensi ini buat dijadiin sebuah model bisnis. Bikin business plan buat membangun penginapan. Bikin yang unik ya, biar ada nilai dan daya tariknya. Banyak juga loh, wisatawan dari luar kota yang sengaja datang ke kota lain cuma buat stay di kamarnya. Demand terhadap ketersediaan kamar akan melonjak dan kita perlu cermat menanggapi potensi yang satu ini.

Staycation dan Manfaatnya

Sebenernya manfaat traveling dan manfaat staycation itu beda-beda tipis, sama-sama membuat kita segar kembali setelah lama terkubur dalam kesibukan hari-hari. Tapi ada yang membuat staycation menjadi pelan-pelan berubah menjadi primadona di kalangan masyarakat.

Pertama, proses perencanaannya ga ribet. Jauh lebih mudah. Pilihan tempat menginap tersedia mulai dari hotel, apartemen, saaampai vila. Semua bisa disesuaikan dengan budget yang ada. Abis pesen kamar, dateng, trus udah, ga usah repot mikir mau ke mana. Kalo emang pengen jalan-jalan keluar kamar juga boleeeh. Bebas kok. Yang penting keluar dulu dari rumah.

Kedua, pengalokasian dana akan terasa lebih ringan. Kita ga kudu mikir duit buat beli tiket, bayar kamar, expenses buat makan dan akses masuk objek wisata, beli suvenir, jajan… gitugitu. Lah kan cuma nginep. Bawa makan dari rumah juga terserah, ga bakal diusir sama pihak hotel ini. Kecualiii jenis makanannya melanggar aturan menginap di hotel, baru deh.

Ketiga, staycation itu ga makan banyak waktu. Baaanyak hotel berserakan di kota mah, guling-guling juga nyampe. Kecuali kalo yang dipilih itu resor eksotis ato vila-vila di kaki bukit, mungkin butuh waktu buat nyampe sana. Tapi itu pun paling ga makan waktu seharian kan? Tapi tetep, karena ga perlu menempuh perjalanan panjang, kita ga usah nunggu lama sampe waktu libur panjang tiba ato ngepasin jadwal melancong dengan jatah cuti. Ga ada deh tuh, yang namanya deg-degan; holiday dengan perasaan was-was takut keenakan off trus keburu masuk kantor lagi.

Keempat, dengan staycation kita bisa punya kesempatan buat mengeksplor kota sendiri. Kita bisa dateng ke tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi. Yang namanya kota sendiri pasti sering luput. Di momen liburan kaya staycation ini, kita bisa tercengang gegara ga nyangka ternyata fasilitas pariwisata kota sendiri ga kalah wah dari tempat lain. Ini juga momen yang pas buat ngebuka mata kita sama sudut-sudut kota yang selama ini sering kita abaikan karena kesibukan yang ada di depan mata udah kadung mendominasi hidup.

Ada banyak pilihan tempat wisata

Trus, dengan staycation, kita bisa kontak lagi sama teman-teman dekat. Banyak faktor yang bikin kita jarang komunikasi sama temen­temen. Kerjaan numpuk. Tugas di rumah banyak. Anak masih susah diajak kompromi. Hasilnya, kontak sama temen sehari-hari cuma via WA, komen-komenan ato DM-DM-an IG, paling banter telepon ato VC—itu pun ga nyampe sejam. Ketemuan pun ga lama karena keburu harus pulang. Nah, kita bisa nih, ngajakin temen buat staycation bareng. Arrange jadwal. Sewa vila kalo perlu biar bisa ramean sekalian. Dah, sana ngumpul.

Staycation bersama teman dekat

Terakhir, staycation sendirian bisa ngasi banyak kemungkinan yang selama ini kayak ga kepikiran aja, gitu. Misal nih, kita nginep di sebuah penginapan, homestay katakanlah. Biasanya model penginapan gini kan owner-nya lebih bisa didekati secara personal kan. Ajak ngobrol deh. Pengalaman orang lain bisa kita jadikan sumber pengetahuan buat diterapin di hidup kita sendiri. Pelajari pola pikirnya. Amati perspektifnya. Siapa tau ceritanya bisa jadi inspirasi buat kita ngelakuin sesuatu. See? Pengetahuan nambah, relasi nambah, refreshing-nya dapet juga. Tapi kalo emang tujuan awalnya mau serba sendirian, ga ganggu dan ga diganggu juga gapapaaa. Sah kok, bebas.

Kalo saya pribadi sih, udah lama mempraktikkan staycation. Kalo lagi pengeeen banget metime sendirian, langsung deh, booking hotel. Buat saya satu kali staycation itu udah equal sama seminggu traveling ke luar kota.

Iya… saya segampang itu….

Duh, Ada Flek di Muka… Gimana Dong Ini?

Itu kali ya, jeritan hati Teman-Teman DRYD pas ngaca dan liat di muka ada bercak kecoklatan. Emang bikin histeris ga keruan. Dicuci berkali-kali ga ilang. Pake krim-krim yang dijual di luar sana, ga ada efeknya. Pake makeup baru deh, rada ilang. Tapi masa iya, kudu pake makeup terus? Bikin kepikiran kan? Flek emang bikin resah. Wajah jadi ga keliatan mulus bening kayak bayi. Tapi Teman-Teman tau ga sih? Flek itu gejala normal badaniah? Emang bisa sih, dicegah dan ditanggulangi; tapi, di kebanyakan kasus, flek gelap di wajah itu sangat amat sulit hilang. Kenapa? Nah, mending kita bahas dari dasar dulu deh, ya, biar paham seluk-beluknya.

Flek Sama Freckles Bedakah?

Flek itu sebetulnya bagian dari apa yang disebut dengan hiperpigmentasi kulit. Buat yang ga tau, hiperpigmentasi kulit adalah keadaan yang tampak di bagian tertentu pada permukaan kulit yang menggelap dikarenakan produksi melanin yang over. Sementara itu, melanin artinya adalah pigmen natural yang diproduksi oleh sel-sel khusus bernama melanosit, yang pada akhirnya memberi warna pada kulit. Semakin banyak melanin yang diproduksi, semakin gelap warna kulit. Flek biasanya muncul bisa di wajah, di tangan, atau di leher. Banyak faktor yang mempengaruhi kemunculan flek tapi yang umum adalah hormon, gen, dan exposure terhadap sinar matahari. Flek kulit adalah kondisi kulit yang sering dialami oleh perempuan-perempuan Latin, Afrika, Mediterania, dan juga Asia. Orang-orang Kaukasoid juga punya melanin, loh; cuma jumlahnya jauh lebih sedikit. Tau freckles, kan? Itu loh, bintik-bintik merah di kulit orang bule. Nah, itu juga bentuk hiperpigmentasi. Jadi yang ada di kulit saya ini flek apa freckles ya, Dok? Yok, kita liat satu-satu.

Kenalan Sama Hiperpigmentasi, Yuk!

Jadi hiperpigmentasi kulit itu ada 3 macamnya.

Ada yang namanya Melasma. Biasanya muncul di tubuh ibu-ibu hamil, perempuang yang sedang mengonsumsi pil kontrasepsi, atau individu yang lagi terapi hormon. Dalam kondisi-kondisi begini, biasanya hormon-hormon estrogen dan progesteron sedang fluktuatif dan ini memicu aktivasi sel-sel melanosit yang lebih hiperaktif. Melasma biasanya banyak ditemukan di area dahi, bibir, hidung, dan pipi.

Ada yang namanya freckles itu tadi. Bahasa medis-nya adalah lentigo. Freckles ini muncul akibat paparan sinar matahari pada melanin berkonsentrasi tinggi di kulit. Kondisi ini banyak ditemukan pada mereka-mereka yang berkulit putih biasanya.

Nah, kalo flek itu isitilah lainnya adalah solar lentigo, biasa juga disebut age spot atau liver spot. Hiperpigmentasi tipe ini biasanya sangat dipengaruhi oleh penuaan. Kulit yang mengalami penuaan akan mengalami kesulitan untuk me­-manage kerusakan yang disebabkan terpapar sinar matahari dan me-maintain strukturnya. Umumnya, kondisi ini muncul di kulit perempuan yang berumur 40 tahun ke atas.

Ada lagi nih, yang namanya post inflammatory hyperpigmentation atau hiperpigmentasi yang muncul setelah peradangan. Inflamasi atau radang bisa mempengaruhi lapisan dermal atau epidermal yang terkena trauma dan setelah inflamasinya sembuh, melanin yang terakumulasi di titik-titik trauma tadi tidak ikut hilang. Faktor penyebabnya termasuk reaksi alergi, infeksi, luka, dermatitis, dan juga jerawat.

Apa hikmahnya mengetahui beda-beda hiperpigmentasi ini? Pertama dan yang terutama adalah bahwa kondisi ini disebabkan oleh 3 faktor utama: 1) sinar matahari, 2) usia, 3) hormon. Dengan memahami ini, Teman-Teman bisa menelusuri cara menghilangkan flek hitam di wajah dengan lebih baik.

Kadang saya suka senyum-senyum sendiri kalo ada pasien yang datang dengan panik minta dihilangkan flek di wajahnya. Katanya minta supaya bercak yang mengganggu itu hilang-lang-lang. Musnah dari mukanya dan dari muka bumi. Ga sesimpel itu, buk­­ibuuuk. Kan tadi udah dibilang, flek itu urusannya soal sinar matahari, umur, sama hormon. Okelah, kita bisa pake segala perlindungan dari sinar mentari yang terik menghangatkan jiwa raga. Okelah kita bisa pake topi, sweater, jaket, kaos tebel, payung, sepatu buts tinggi selutut, sun block, sun screen, face shield, ato sekalian ga keluar rumah seharian. Lah, kalo soal umur? Kalo soal hormon? Gimana caranyaaa?

Flek yang bikin resah

Saya mau bilang satu hal dan ini mungkin akan kedengeran jahat banget. Kalo udah kena flek, susaaah ngilanginnya. Kalopun ilang, begitu berenti treatment, pasti deh, nanti muncul lagi di area yang sama lagi. Inti omongan saya adalah daripada membebani pikiran dengan soal ini, lebih baik di-manage. Pahami penyebab flek dengan baik dan berangkat dari sana aja deh. Ga usah panik; it isn’t the end of the world, kok.

Soalnya, kalo udah panik, kita ga bisa mikir dengan tenang. Akhirnya apa? Semua yang ada di muka bakal dianggap flek. Ada dulu itu, ngeluh soal noda hitam di wajah dengan paniknya. Padahal apa coba? Skintag. Cari tahu dulu yang bener ciri ciri skin tag itu kayak apa. Bedanya apa sama flek. Baru deh, kita cari dan ngomongin treatment dengan lebih jauh. Maaf nih, jadi ngomel. Abisnya suka gemes aja gitu, pengen bilang “Aduh sayaaang, ini mah gampaaang.”

Jadi tenang, ya. Tarik napas dulu dalemdalem. Noda-noda di wajah emang mengganggu penampilan. Tapi, sekali lagi ya, Teman-Teman, itu bukan akhir dari semuanya. Kuncinya cuma sabar, tekun, dan—yang paling penting—mencegah.

Siapa Aja Nih, yang Berisiko?

Pada dasarnya, karena hiperpigmentasi itu adalah respons alami badan terhadap lingkungan, semua orang, ga pilih umur, jenis kulit, atau jenis kelamin, bisa mengalami flek. Cumaaa, emang ada beberapa penyebab flek hitam di wajah yang membuat seseorang memiliki risiko lebih tinggi.

Sering terekspos sinar matahari itu jelas; tapi harus dalam durasi yang lama apalagi kalo setelahnya ga ada tindakan penyegaran kembali. Kulit ga punya cukup waktu dan cara buat membereskan semua kekacauan setelah ditembus sinar UV.

Kulit yang berwarna terang. Ati­ati nih, yang kulitnya seputih porselen ya; sel-sel melanositnya lebih rentan hiperaktif.

Kulit terang rentan flek

Faktor genetis juga jadi pertimbangan. Kalo ada di silsilah keluarga yang pernah punya kasus flek, kemungkinan flek muncul akan tinggi juga.

Meskipun terpampang nyata di permukaan kulit, flek biasanya dateng ga pake permisi. Ga ada gejalanya, gitu. Kecuali mungkin yang kulitnya kena radang kali ya. Tapi rasa nyeri dari peradangan sama sekali bukan indikasi hiperpigmentasi. Pembengkakan juga bukan gejala langsung dari flek. Pokoknya mah, datang tak diundang, tapi ga pergi-pergi aja. Flek tidak selalu hitam warnanya. Bisa kemerahan, bisa kecoklatan. Yang jelas, warnanya pasti lebih gelap daripada area di sekitarnya. Bentuknya kayak noda atau bercak, ga beraturan. Ukurannya bervariasi tapi setidaknya sekitar 1 milimeter. Flek tidak menonjol, jadi lempeng aja gitu, nyebar di kulit. Flek yang muncul di kulit anak-anak biasanya hilang begitu usianya bertambah. Di beberapa orang, flek bisa muncul ketika terpapar matahari dan lalu hilang begitu tidak lagi terkena sinar matahari.

Tuh bisa, Dok. Katanya ga bisa.

Eits, saya ga bilang ga bisa loh, ya. Pertama, itu contoh kasus flek yang muncul pada anak-anak. Kedua, itu contoh kasus pada individu tertentu. Ketiga, kalo emang bisa ilang tapi kita kerjanya keluar rumah ga pake pelindung—ato salah pilih pelindung—apa iya bakal ilang? Fokus diskusi kali ini adalah pada individu-individu yang berusia di atas 40 tahun ke atas, yaitu mereka-mereka yang memang kulitnya sudah mulai menurun kemampuan regenerasinya, mereka-mereka yang mengalami penuaan dini, juga mereka-mereka yang keseimbangan hormonalnya berada dalam risiko.

Kalo emang kulitnya sehat dan mampu menghilangkan kondisi ini dengan baik, ya bagus dong. Keep up the good work! Jaga kesehatan kulit, hidrasi maksimal, gunakan produk yang tepat. Nah, kalo buat yang sebaliknya gimana? Again, tenang. This isn’t the end of it all.

Lemon adalah salah satu bahan yang sering dipakai mengatasi flek

Flek di Usia 40

Flek biasanya ga berbahaya untuk kesehatan. Seperti yang dibahas di atas, ada yang datang terus pergi, ada yang datang, ga pergi-pergi. Ga sampe membahayakan jiwa kok, cuma bikin gundah gulana aja. Dan itu ga salah loh yaaa. Ngerasa keganggu karena flek merusak penampilan itu manusiawi kok. Makanya cuma perlu memahami penyebab flek hitam di wajah dan cara menghilangkannya, rajin, dan sabar. Khusus untuk perempuan-perempuan berusian 40 tahun ke atas, kontinuitas perawatan adalah hal yang mutlak untuk ditanamkan pada diri sendiri. Konsistensi dalam mengaplikasikan krim, misalnya, akan menentukan hasil akhir yang diinginkan. Diinget ya, flek pada usia lanjut itu sangat amat sulit sekali hilang. Pada banyak kasus, hasil paling maksimal cuma membuat nodanya pudar hampir sewarna dengan warna kulit sekitarnya. Kalopun akhirnya hilang, begitu treatment dihentikan, kemunculannya bisa dipastikan akan datang, cepat atau lambat. Jadiii, simpen baik-baik nih, dua kata kunci ini: KONTINUITAS dan KONSISTENSI. Oh iya, jangan panik juga. Jangan nangis mengharu-biru begitu liat ada flek di muka pas ngaca abis bangun tidur. Ini cuma ujian yang pada akhirnya akan menguji tingkat kesabaran kita sebagai insan di dunia dalam menanti hasil akhir yang baik dan memuaskan. Apasi….  Gitu dah pokonya mah….

Jadi Ga Usah ke Dokter, Dok?

Ke dokter juga gapapa. Sinihsinih ke klinik aja, hehehe. Dokter atau pakar kecantikan pasti paham apa yang dikeluhkan pasien dan bagaimana menanggulangi noda yang membandel di wajah. Tapiii, kalo si flek mulai menunjukkan ketidaknormalan, harus ada konsultasi lebih lanjut untuk mengetahui tindakan apa yang pantas untuk diaplikasikan. Ketidaknormalan macam apa sih, yang bikin si flek ini harus dikhawatirkan?

Pertama, perhatikan teksturnya. Inget ya, Teman-Teman, yang namanya flek itu ga punya dimensi. Dia cuma nemplok aja gitu, datar di permukaan kulit. Tapi kalo udah menonjol atau membengkak, yuk kita periksakan.

Kedua, selain berubah menonjol, perhatikan apakah permukaan flek bergelombang atau tidak rata teksturnya. Kalo udah kayak gini, udah bukan flek lagi namanya. Yuk, dicek.

Ketiga, liat ukurannya. Secara umum, flek punya garis batas yang memisahkannya dari area sekitar. Nah, kalo fleknya berkembang dan membesar, mungkin waktunya untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Keempat. Coba liat warnanya. Kalo semakin menggelap, kemungkinannya bisa jadi karena paparan sinar matahari sudah sangat merusak atau mungkin ada gejala lain. Sekalipun memudar, tapi kalo ada tekstur atau membengkak atau meluas, tetap harus diwaspadai ya.

Kelima, apakah terasa nyeri? Ingat-ingat apakah rasa nyeri ditimbulkan dari benturan pada lokasi flek atau muncul begitu saja? Rasa nyeri adalah indikasi trauma, inflamasi, atau infeksi. Minta bantuan dokter untuk memastikan semua baik-baik saja.

Kudu Digimanain, Dok?

Walopun bukan hal yang mengancam jiwa, pasti dong keberadaan flek menjadi sumber gangguan yang menurunkan rasa percaya diri. Makanya pada banyak yang milih treatment untuk secara fokus menarget noda pada wajah. Pilihan perawatan wajah untuk menghilangkan flek hitam itu bervariasi, mulai dari yang sederhana sampe yang rumit.

  1. Sunscreen (Tabir surya)

Ini yang paling simpel: Jangan pernah keluar dari rumah tanpa mengaplikasikan tabir surya terlebih dahulu. Fungsinya persis seperti namanya, sunscreen bekerja memfilter spektrum sinar matahari yang berbahaya untuk jaringan kulit. Pilih produk yang SPF-nya minimal 50. Kenapa 50? SPF itu adalah indikator berapa lama produk tabir surya melekat di kulit wajah. Nah, SPF 50 menandakan bahwa produk yang dipakai bisa bertahan hingga 4-6 jam setelah di-apply ke wajah. Kalo SPF 30 juga bagus, tapi bertahannya lebih sebentar dan kita harus pake lagi buat dapetin efek tabir surya-nya. Seringnya kita pake sunscreen sekali doang di pagi hari dan berpikir produknya bisa efektif dalam jangka waktu lama. SPF 30 itu bertahan antara 2-4 jam. Kebayang kan, repotnya bakal kaya apa harus pake sunscreen lagi? Dengan jangka waktu proteksi yang lebih panjang, SPF 50 bisa menunda keharusan untuk aplikasi ulang. Jadi, pagi pake SPF 50. Setelah itu, gapapa pake SPF 30. Tergantung kebutuhan juga sih. Kalo aktivitas outdoor-nya intens, mending pake SPF 50 sekalian.

Pake sunblock juga boleh. Cuma sunblock teksturnya lebih tebal jadi agak kurang pas dipake di wajah, lebih cocok dipakaikan ke area selain wajah.

  1. Krim pencerah

Ada banyak merek pencerah di luaran sana; sebaiknya pilih yang mengandung hydroquinone yang bisa membantu mengurangi produksi melanin. Tapiii, ada baiknya datang ke dokter langsung. Jadi kita bisa konsultasi dan si dokter bisa ngasi resep yang pas untuk tipe kulit kita.

  1. Krim retinoid

Di dalam krim retinoid terdapat tretinoin topikal, yaitu senyawa vitamin A yang bisa mencerahkan kulit.

  1. Laser therapy

Terapi laser menggunakan sinar dengan intensitas dan gelombang tertentu yang dipaparkan langsung pada area bernoda. Cara ini efektif mencerahkan kulit relatif tanpa efek samping yang signifikan.

Terapi laser sebagai pilihan

  1. Cryosurgery

Prosedur ini dilakukan dengan mengaplikasikan nitrogen cair yang bersuhu rendah pada bagian kulit bernoda. Sel kulit yang bermasalah akan dihancurkan dengan cara ini. Tidak semua jenis flek bisa diatasi dengan cryosurgery meskipun periode recovery-nya terbilang singkat.

  1. Chemical peeling

Cairan kimia seperti asam trikoloasetat atau asam alfahidroksi akan diaplikasikan pada area kulit bermasalah dengan tujuan untuk mengangkat sel-sel kulit di area tersebut.

Pilih jenis treatment yang sesuai dengan jenis kulit, tingkat sensitivitas kulit, kondisi fleknya sendiri, dan tentu saja budget yang disediakan, ya. Kalo ternyata kulit kita terlalu sensitif, pilihan tipe perawatan yang terlalu harsh pastinya bakal bikin kulit normal di sekitar flek keganggu dan akhirnya kita perlu perawatan lain buat me-manage bagian kulit itu lagi. Peer banget kan, jadinya.

Catatan Tambahan

Sekian ya, pembahasan kali ini. Flek itu ga mesti dihadapi dengan gusar. Tindakan pencegahan kudu banget dilakukan supaya ga nimbulin masalah di kemudian hari. Gimana caranya, kalo bisa nih, ga usah deh aktivitas di luar ruangan dari jam 10 pagi sampe jam 4 sore. Paparan sinar matahari dan faktor turunan bisa jadi kombinasi buruk loh, yang akhirnya nyebabin flek. Tapi kalo emang harus, pastiin deh selalu pake sunscreen. Pakaian juga kudu bener. Jangan pas panas terik malah pake kaos tipis sama celana pendek. Adem emang, tapi inget risiko ya.

Terus, ga bosenbosen saya ulang: KONTINUITAS dan KONSISTENSI. Semua hal, sebaik apapun, ga bakal ngasi hasil positif kalo kita menjaga kesinambungan dan regularitas. Pake krimnya terus sesuai dosis dan instruksi. Jaga diri. Hati-hati sama matahari.

Yuk, Ngintip 2 Situs Traveling Yang Super-Helpful

Halo, Teman-teman DRYD!

Di kategori Musttry edisi kali ini, saya mau bahas sesuatu yang unik nih, tentang situs web favorit sayaaa, hehehe. “Apa uniknya, Dok? Website doang.” Biarin ah. Siapa tau ada faedahnya, ye kaaan. Bosen ga sih, kalo online urusannya kerjaan lagi, kerjaan lagi. Nanti obatnya paling cuman masuk Instagram lagi, Instagram lagi? Abis itu, YouTube lagi, YouTube lagi. Biasanya kan walopun udah bosen, teteeep aja mantengin feed Instagram, kan? Scroll teruuus ke bawah. Nanti kalo udah ga menarik, naik lagi ke atas, refresh timeline. Semuanya karena apa? Pastinya karena ga ada lagi referensi situs lain buat diakses dan dinikmati kontennya. Saya juga sering tau, kaya gitu. Nah, kalo udah bosen sama yang biasa-biasanya, saya terus buka browser, trus masuk deh ke website favorit. Apa aja yang sering saya akses? Jreng… jreng… jreng… drum roll please! Introducing Kartu Pos and Social Junkee!

Kartu Pos dan Social Junkee punya tema yang sama; sama-sama membahas tentang traveling dan hal-hal detail terkait vacation, gitu.

Kartu Pos didesain lebih mirip sebuah situs komersil. Yang paling menonjolkan sisi ini adalah keberadaan fitur “Deals & Freebies” dan “Shop”. Fitur pertama isinya offeringoffering menarik mulai dari kupon diskon sampe lelang voucher. Fitur Shop berisi merchandise cantik yang bisa dibeli. Selain itu, isi website ini dipenuhi artikel-artikel tentang traveling, baik mancanegara maupun domestik. Cukup masuk ke kategori Journals dan Teman semua bakalan disuguhi se-jibun artikel untuk dinikmati. Artikel-artikelnya pun bisa dipilah-pilah berdasar destinasi seperti Asia, Australia, Amerika, Eropa, juga Selandia Baru. Yang paling menarik adalah fitur #/KARTUPOSTRIP. Isinya adalah paket agenda-agenda festival menarik yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat. Cukup akses satu entry, nanti kamu bakal di bawa ke halaman khusus yang mengulas suatu acara dengan cukup lengkap, mulai dari harga paket, jadwal acara, sampe itinerary. Kalo minat, tinggal pencet tombol Join This Trip, udah deh, tinggal berangkat di tanggal yang dijadwalkan. Eits, tapi perhatiin daftar service yang tidak di-include dalam harga paketan ya.

Nah, kalo Social Junkee lebih berasa nuansa blognya. Penyajian konten lebih casual, jadi berasa kayak dengerin orang cas-cis-cus ngomongin pengalaman traveling-nya. Karena pendekatannya lebih personal, maka pembahasan satu topik disajikan dengan jaaauh lebih mendetail. Misal nih, ada artikel yang bahas trip ke Norwegia. Dibahas dah tuh, tiket berapa, makan abis berapa, berapa malam di kota mana, transport-nya kena berapa dari mana ke mana. Asiknya lagi, Social Junkee nawarin alternatif buat maksimalin—bahkan ngurangin—ongkos dan tips-tips buat diterapin selama main di negara orang. Isi blognya juga ga melulu perkara jalan-jalan. Ada topik-topik ringan juga yang dibahas jauh lebih casual lagi daripada topik jalan-jalan.

 

 

Apa manfaatnya nge-bookmark kedua situs ini? Kamu-kamu yang punya bucket list yang isinya cita-cita dateng ke satu negara bisa jadiin keduanya sebagai sumber referensi. Teman-teman yang punya hasrat wanderlust yang menggebu-gebu jadi semakin terpacu buat mewujudkan impian kalian. Khusus buat Kartu Pos, salah satu offering yang disediakan bisa jad solusi buat kamu-kamu yang berencana traveling on a budget. Lumayan kan, dapet diskon-diskon gitu.

Overall, kedua website ini bisa dijadikan alternatif yang menyegarkan di kala rasa bosan dengan aplikasi-aplikasi media sosial kebanyakan menghampiri. Follow akun-akun mereka, bookmark website-nya.

            Kalo saya mah, mantengin foto-foto petualangan Social Junkee aja udah cukup; berasa ikutan udah. Saya sering mikir, “Cape juga buka-buka Instagram mulu ato nyari-nyari video di YouTube. Sekali-kali refresh deh, bucket list gue.” Siapa tau taun depan bisa keliling Eropa.

            So, it’s definitely a must-try for me.

 

Follow Kartu Pos on Instagram and Twitter.

Follow Social Junkee on Instagram.

Berkenalan dengan Parenting Styles di 3 Negara

Teman DRYD, kali ini saya mau ngajakin Teman-teman semua melanglang buana ke benua Eropa. Taaapi, bukan buat tamasyaaa hehehehe. Kali ini saya mau ngebahas tentang pola asuh yang banyak diterapkan di tiga negara Eropa yaitu Denmark, Perancis, dan Jerman.

“Kenapa gitu, Dok? Emang pola parenting negara sendiri jelek ya, sampe harus jauh-jauh ngelirik negara lain?”

Bukaaan. Ini bukan masalah mana yang jelek mana yang bagus. Ini juga bukan soal mana yang terbaik. Pola asuh itu berbeda berdasarkan negara, kultur, dan kebiasaan. Budaya Indonesia pastinya beda dong sama budaya Amerika atau Eropa bahkan bisa beda jauh dengan sesama negara Asia. Pertimbangannya sederhana sih, Eropa kan terhitung wilayah yang lebih maju daripada area berkembang lain, jadinya ga salah dong kalo kita pelajari apa aja yang membuatnya berbeda dari negara sendiri?

Trus kenapa harus ketiga negara itu, Dok? Kan banyak negara lain di Eropa sana.”

Denmark saya pilih karena negara itu secara konstan ada dalam daftar negara paling bahagia menurut World Happiness Record yang diselenggarakan oleh PBB. Prestasi ini udah diraih Denmark selama 40 tahun—berturut-turut. Pasti dong, ada yang membuat pencapaian ini menjadi istimewa dan menarik untuk ditelaah. Perancis unik untuk dibahas karena pola parenting ibu-ibu negara sana mendidik anak tumbuh menjadi individu yang santun. Sementara Jerman dikenal dengan pola asuh yang menekankan kemandirian. Nah, bahagia, santun, dan mandiri; orang tua mana yang ga mau anaknya punya kualitas seperti itu?

Mengintip Pola Asuh di Denmark

Pola asuh di Denmark bisa disederhanakan dengan satu kata: PARENT, yang merupakan akronim dari Play, Authenticity, Reframing, Empathy, No ultimatums, dan Togetherness and Hygge. Dengan menerapkan konsep ini, anak-anak Denmark tumbuh dan berkembang menjadi pribadi dengan masa kecil yang membahagiakan.

  1. P = PLAY (Bermain)

Anak-anak di Denmark dibebaskan bermain oleh orangtua mereka. Mereka pun dibolehkan untuk memulai jenjang pendidikan ketika berusia 7 tahun. Reasoning-nya apa? Dengan memberi keleluasaan semacam ini, anak-anak Denmark punya kesempatan yang cukup untuk menikmati periode bermain mereka sebelum akhirnya dihadapkan pada kewajiban bersekolah. Apa pentingnya membiarkan anak-anak bermain dengan bebas? Banyak hal yang mereka bisa pelajari hanya dari hal sesederhana permainan; mereka paham mengenai ketangguhan, cara bergaul dan bersosialisasi yang benar, dan belajar selfcontrol sejak dini.

  1. A = AUTHENTICITY (Otentisitas)

Poin berharga lain yang diwariskan orangtua Denmark kepada anak-anak mereka adalah kejujuran kepada diri sendiri dan identifikasi emosi yang dirasakan. Pola didik yang dilaksanakan lebih dititikberatkan pada mengenali dan mengekspresikan emosi ketimbang kesempurnaan.

  1. R = REFRAMING (Memaknai ulang)

Secara sederhana, reframing adalah proses penelaahan terhadap suatu hal dari perspektif yang berbeda. Yang dilakukan oleh orangtua Denmark adalah mengajarkan anaknya untuk dapat menarik kesimpulan positif dari apa yang mereka hadapi tapi tetap dalam koridor yang realistis. Penerapan metode ini diharapkan bisa mendidik anak menjadi individu yang tidak gampang berpikiran negatif terhadap suatu kondisi ataupun orang lain.

  1. E = EMPATHY (Empati)

Empati pada dasarnya adalah kemampuan seseorang untuk dapat ikut merasakan apa yang orang lain rasakan. Inilah yang ditanamkan oleh orangtua kepada anak di Denmark. Sistem pendidikan di negara itu pun dirancang dengan prinsip ini sebagai landasannya.

  1. N = No ultimatums (Tanpa peringatan)

Pola asuh orangtua Denmark ditandai dengan sikap lembut, menghargai, dan tanpa ancaman. Akibatnya, ada kedekatan antara anak dan orangtua dalam hubungan yang harmonis tanpa rasa takut.

  1. T = TOGETHERNESS & HYGEE (Kebersamaan & kenyamanan)

Keluarga Denmark menekankan poin penting tentang kebersamaan. Berkumpul dengan keluarga merupakan hal yang tidak boleh dilewatkan sesibuk apapun hari yang dilalui. Hari libur pun dihabiskan dengan berkumpul bersama anggota keluarga. Dari rasa kebersamaan yang dipupuk, muncullah rasa nyaman yang bisa dinikmati oleh semua orang.

Belajar Tata Krama dan Adab Sopan Santun a la Perancis

Di Perancis, metode parenting yang diterapkan berfokus pada pembentukan kepribadian yang penuh sopan santun dan jauh dari kata manja. Strategi yang dijalankan meliputi:

  1. Didikan untuk menghargai waktu orang tua

Di Perancis, anaklah yang diatur sedemikian rupa sehingga jadwal pribadi si orang tua tidak terganggu. Anak akan diajari untuk sudah berada di dalam ruang tidur jam 7 malam. Si anak boleh langsung tidur atau memilih untuk melakukan aktivitas lain, selama aktivitas itu tidak mengganggu orang tua. Apa tujuan dari penerapan metode ini? Anak diharapkan bisa tumbuh dengan pemahaman bahwa dia bukanlah pusat dunia, bahkan dunia orang tuanya pun tidak hanya berpusat pada dirinya saja. Anak diajarkan untuk mengerti bahwa orang tua mereka pun manusia yang harus menjalankan hidupnya sendiri di luar tanggung jawab mereka terhadap anak.

  1. Selektif dalam memberikan pujian pada anak

Orang tua Perancis tidak gampang memuji anaknya. Pencapaian kecil si anak mungkin tidak akan berbalas pujian. Pujian baru akan diberikan apabila si anak berhasil melakukan yang memang pantas untuk diapresiasi. Bukannya pelit. Tapi metode ini bertujuan untuk membentuk kepribadian yang tidak gampang puas untuk segala sesuatu yang sudah si anak lakukan serta mendidiknya untuk tidak selalu melakukan sesuatu dengan mengharapkan imbalan.

  1. Pengimplementasian jadwal dan pola makan yang strict

Dengan cara ini, kasus picky eater pada anak-anak Perancis minim ditemukan. Orang tua tidak secara khusus menyiapkan makanan untuk sang anak. Anak duduk di meja makan dengan tenang dan diwajibkan memakan apapun yang tersaji. Kebiasaan ngemil praktis ga ada di pola asuh orang tua Perancis karena berisiko mengacaukan selera makan. Di sana memang ada tradisi gouter, yaitu makan sedikit roti di sore hari setelah pulang sekolah. Tapi secara umum, anak tidak akan makan apapun antara makan siang dan makan malam, sekitar pukul 8. Akibatnya, begitu si anak duduk di meja makan, perut yang keroncongan akan membuatnya menyantap apapun yang disajikan orang tua.

  1. Melatih kesabaran

Kasus tantrum di anak-anak Perancis pun minim. Apa rahasianya? Orang tua mengajarkan kepada anak-anak untuk sabar untuk hal-hal mendasar seperti menerima perhatian, menunggu waktu makan, maupun menunggu giliran mendapatkan jawaban. Dengan pendidikan begini, si anak sejak kecil dilatih untuk menunggu dengan sabar tanpa gelisah, marah, atau tantrum.

  1. Pengikutsertaan anak dalam urusan rumah tangga

Enggak, ini ga berarti si anak harus ikut dalam pengambilan keputusan atau semacamnya. Tapi si anak bisa dilibatkan dalam urusan bagaimana menjaga rumah agar tetap rapi dan nyaman, misalnya. Anak-anak Perancis dididik dari kecil untuk aktif menuntaskan tugas rumah tangga yang sepadan dengan usia mereka seperti ikut berbelanja ke supermarket, membuang sampah pada tempatnya, menata piring di meja makan, dan hal-hal kecil lainnya.

  1. Mengajari sopan santun dan tata krama

Ada istilah bien eleve dalam pola asuh di Perancis yang bisa diterjemahkan sebagai adab sopan santun yang merupakan hal mutlak dan tidak bisa dikompromi. Konsep ini sudah mulai diterapkan sejak si anak mulai bicara. Contohnya seperti:

  • Saat bertemu dengan orang baru, harus memperkenalkan diri
  • Membiasakan diri untuk mengucapkan terima kasih, maaf, dan tolong
  • Memberikan salam setiap kali memasuki ruangan
  • Memperhatikan kontak mata ketika berbicara dengan orang lain
  • Mempelajari dan menerapkan table manner saat makan
  • Pada saat menghadiri acara formal atau pesta, harus mengenakan pakaian terbaik
  1. Mengajar anak untuk mampu menyelesaikan segala sesuatu sendiri

Karakter yang otonom menjadi target lain yang diinginkan dalam penerapan pola parenting a la Perancis. Anak-anak diajarkan untuk berkembang menjadi pribadi yang penuh rasa tanggung jawab, kemandirian, dan kepercayaan diri yang tinggi. Anak-anak pun dididik untuk mengerjakan berbagai hal yang bisa mereka lakukan sendiri lalu belajar untuk menerima konsekuensi logis dari kesalahan yang diperbuat.

Parenting Cara Jerman yang Tegas

Karakter pola asuh Jerman diwarnai pendidikan menghargai waktu dan disiplin yang kental. Cara-cara yang diterapkan termasuk:

  1. Pendisiplinan anak dengan penekanan pada empati dan diskusi

Percaya ato engga, di Jerman, strategi hukuman fisik sebagai bentuk pendisiplinan sudah ditetapkan ilegal sejak tahun 2000. Sebagai gantinya, metode diskusi dengan muatan empati dan logika menjadi pilihan. Saat seorang anak melakukan kesalahan, orang tua akan mengajaknya untuk berdiskusi, utamanya perihal perilaku mana yang pantas dan mana yang tidak untuk dilakukan oleh anak pada usianya. Efektivitas metode ini terletak pada kemampuannya mendidik anak untuk memahami siapa yang memegang kendali dan bahwa semuanya perlu dilakukan untuk kebaikan si anak itu sendiri.

  1. Mengenalkan alur rutinitas sejak bayi

Memperkenalkan rutinitas merupakan hal penting untuk dilakukan dalam mengasuh balita. Orang tua Jerman, di lain pihak, bahkan sudah menerapkan hal ini semenjak si anak masih bayi. Mirip dengan pola asuh Perancis, orang tua Jerman mengajarkan si anak untuk menghargai jadwal mereka. Rutinitas di-arrange sedemikian rupa sehingga mengikuti alur jadwal si orang tua ketimbang sebaliknya. Batasan tegas diberikan untuk waktu tidur, makan, dan bermain dan disesuaikan dengan usia si anak. Pemberian instruksi yang jelas, konsisten, dan tegas juga berkemungkinan menghindarkan orang tua dari keharusan untuk mengingatkan ulang si anak.

  1. Mengajari anak untuk mencari penyelesaian masalah sendiri

Kalo Teman-teman DRYD pernah dengan istilah helicopter parenting, pola asuh Jerman cenderung berbeda total, malah lebih condong ke tipe authoritative. Standar perilaku yang tinggi dan aturan tegas ditanamkan sejak dini pada anak, ketimbang membiarkan mereka melakukan apapun yang mereka inginkan. Ini diterapkan sambil tetap memperhatikan kebutuhan emosional si anak di saat yang sama. Ketika si anak melakukan kesalahan atau mengalami hambatan, si orang tua ga serta-merta take over dan menyelesaikan permasalahan untuk si anak. Mereka cuma bakal ngasi instruksi atau pentunjuk untuk menuntun si anak agar mampu menyelesaikan persoalan.

Sebuah penelitian oleh Organization for Economic Co-operation dan Development menunjukkan bahwa anak-anak Jerman lebih mudah memecahkan permasalahan yang mereka temui dalam hal membaca, Bahasa Inggris, dan matematika dibandingkan dengan anak seusia mereka dari Amerika—semua berkat penerapan metode asuh yang satu ini.

Dengan penerapan pola ini, di Jerman dikenal konsep “selbständigkeit”, yaitu kemampuan untuk mengandalkan diri sendiri sehingga si anak ga cepet menyerah atau meminta bantuan dari orang lain untuk persoalan yang sebetulnya bisa diselesaikan sendiri.

  1. Membiasakan anak untuk bermain sambil belajar

Orang tua Jerman tidak terlalu terburu-buru dan memaksa anaknya untuk cepat bisa menulis dan membaca. Mereka justru meng-encourage anaknya untuk banyak menghabiskan waktu dengan bermain di luar. Cuaca tidak masalah. Unstructured play menjadi bagian integral dalam pola asuh Jerman selagi pakaian yang dikenakan tepat dan kondisi aman. Konsep permainan tak berstruktur ini bisa melatih kemampuan sosial si anak, mendidiknya menjadi pribadi yang mawas diri, mampu menjaga dirinya sendiri, dan melatih pola pikir kreatif.

Menarik Benang Merah

Pola asuh Denmark membuat kita sadar bahwa untuk bisa berkembang menjadi kepribadian yang bahagia, perlu banget membentuk masa kecil yang memorable dan penuh dengan sukacita. Anak harus diajari untuk mengenali dirinya sendiri untuk bisa menyadari posisinya dalam lingkungan yang lebih luas.

Pola asuh Perancis memberikan kita makna empati yang sebenarnya dan keharusan untuk menjaga tata krama bahkan dari ruang lingkup rumah tangga.

Pola asuh cara Jerman menekankan pembentukan individu yang penuh otoritas, mandiri, dan memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah dengan efektif dan efisien.

Secara umum, cara-cara yang diterapkan dalam mengasuh anak di ketiga negara tersebut relatif mudah untuk diaplikasikan secara aman. Pengecualian mungkin bisa diberikan untuk pola asuh dari Denmark poin usia masuk sekolah secara sistem pendidikannya juga berbeda dari yang ada di Indonesia. Tapi semuanya masih bisa di-tambal-sulam, kok. Kalo ditarik benang merah-nya, ketiganya punya satu kesamaan: Ketiganya sama-sama menitikberatkan pada keharusan untuk menerapkan pola asuh dengan kebutuhan emosional si anak sebagai dasarnya.

Kalo selama ini kita mendidik anak dengan menggunakan kepentingan kita pribadi sebagai reasoning dasarnya, maka si anak akan lupa cara menghargai dirinya sendiri. Nah, kalo menghargai diri sendiri aja luput, gimana mau menghargai orang lain? Gimana mau menghargai lingkungan? Kemandirian pun menjadi motif lain yang ditemukan dalam ketiga parenting styles itu. Anak-anak Denmark, Perancis, dan Jerman diajarkan untuk mengandalkan diri mereka sendiri dengan asumsi bahwa kemampuan untuk membantu orang lain berakar dari kemampuan untuk menolong diri sendiri.

Konklusi

Suka ga suka, pertanyaan seputar parenting styles mana yang paling baik untuk coba diterapkan di Indonesia akan banyak muncul setelah menelaah metode pengasuhan di 3 negara di atas. Tapi kita, lagi-lagi, di sini ga harus mengunggulkan satu metode di atas yang lain. Metode parenting Indonesia juga ada nilai positifnya, kok. Cuma, ga ada salahnya toh, mempelajari bagaimana orang-orang tua di negara lain mendidik anak mereka?

Jangan kebablasan; sebagus apapun satu metode, mungkin tidak cocok dengan kondisi dalam negri. Ambil yang baik-baik, kombinasikan dengan konsep pribadi, dan terapkan sesuai kebutuhan. Keharusan untuk selalu berkumpul dengan keluarga mungkin tidak bisa terus-terusan dipraktikkan sehubungan dengan keharusan untuk bekerja di luar kota dalam jangka waktu lama, misalnya. Kebijakan no ultimatums pun mungkin tidak bisa selalu ditegakkan mengingat orang tua pun manusia yang bisa habis kesabarannya. Apapun itu, jika terjadi kesalahan, tidak ada salahnya loh untuk minta maaf pada anak. Jangan gengsi. Itu malah bisa ngajarin si anak tentang betapa berharga dan powerful sebuah kata sederhana.