Hai Teman DRYD,
Udah nemuin apa self-love languages kalian? Seperti yang kita udah pernah bahas kemarin-kemarin, ungkapan mencintai diri sendiri itu juga penting untuk dipelajari supaya kita ga terjebak dalam mencintai orang atau hal lain tapi luput dari memelihara kesehatan pribadi—fisik maupun mental. Dan karena setiap individu adalah subjek unik yang memiiki cara tersendiri dalam menangani berbagai macam kendala pribadi, yang namanya self-love language buat masing-masing juga berbeda-beda. Ada yang memilih bermeditasi, ada yang lebih suka pergi ke spa atau dipijat, ada juga yang cenderung lebih merasa dirinya teraktualisasi ketika melakukan hobi yang mereka suka.
Semuanya valid dan legit ya, Teman DRYD. Do whatever makes you happy and feel loved by your very own self. Ga ada judgment di sini. Namanya juga self-care, cuma kita yang tahu gimana caranya supaya bisa mencintai diri sendiri dengan lebih mendalam dan lebih intim dalam menjalin hubungan dengan diri sendiri. Cuma kadang-kadang nih, apa yang menurut kita bisa membuat lebih mencintai diri sendiri itu bisa-bisa kebentur penghalang. Misalnya, yang berminat meditasi mungkin terkendala masalah jadwal kerja. Sibuk di kantor, lembur sampe malam, kerjaan kebawa sampe rumah—banyak faktor yang berkaitan dengan kesibukan hari-hari yang menjegal jalan menuju ketenangan batin lewat meditasi. Ataaau, mungkin ada yang kepingin nyobain spa atau massage treatment tapi kehalang masalah budget. Mungkin alokasi dana bulanan ini mepet banget dan kalo dipaksain pergi ke spa malah bikin overbudget. Atau mungkin ada yang kepikiran buat menekuni hobi memasak atau berkebun tapi si buah hati yang masih kecil bikin agak ga mungkin buat mereka ninggalin barang semenit.
Apa pun alasannya, gapapa. Ga cuma satu jalan ke Roma, kata orang-orang. Ga perlu stres gegara ga sempet me-time karena entah apa pun. Ga usah juga merasa ga enak pada siapapun dan ngerasa banyak alesan. Kita yang tau kondisi. Kita yang paham medan. Kita yang ngerti kaya apa situasi, risiko, dan efeknya. Gapapa.
Teman DRYD tau ga, kalo ternyata tindakan self-care yang paling efektif itu adalah juga yang paling murah, mudah, dan ga ngebebanin?
“Masa sih, Dok? Emang ada alternatif lain?”
Ada dong. Perkenalkan, jurnaling.
Pernah denger? Ato ini pertaman kalinya denger istilah ini? Basically, membuat jurnal itu adalah kegiatan pencatatan pengalaman yang dilakukan secara harian dalam sebuah media tertulis. Nah, berdasarkan definisi sederhana ini, pasti yang kebayang itu adalah buku diari kan ya?
“Dok, masa udah tua masih disuru nulis diari, sih?”
Eits, jangan buru-buru nyimpulin yaaa. Sekilas emang menulis jurnal dan buku diary itu mirip. Tapi keduanya berbeda secara fundamental. Diari yang biasanya kita gembok pas jaman es-de sampe es-em-a itu ditulis harian, emang. Tapi isinya saaangat random dan sifatnya lebih ke luapan isi hati yang ga bisa disampaikan ke orang lain. Kesel sama sahabat lah, bete sama pacar lah, sedih dicuekin gebetan lah, keki sama ortu lah, seneng karena nilai ulangan bagus lah, emosi gegara LDR-an lah, cemburu sama orang lain lah, gitu-gitu deh.
Nah, bedanya sama jurnal, jurnal itu lebih rapi, lengkap, berpola, dan teknis. Kita ga harus menceritakan panjang lebar tentang perasaan sebel gegara ngeliat gebetan dipepet sama temen deket. Cukup, misalnya, bikin satu section yang mengandung emoticon-emoticon dari sedih sampe seneng. Nanti dibuat bagan per tanggal untuk satu bulan. Di tanggal yang dimaksud, kita tinggal warnai emoticon yang sesuai dengan overall mood kita hari itu. Simpel, kan? Kalo mau dispesifikkan kenapa kita mewarnai emoticon sedih untuk hari itu, bisa aja dikasi note gitu, ngejelasin kenapa mood kita jelek.
Teknik ini disebut juga dengan bulletjournal, karena kita dianjurkan untuk seminim mungkin dalam menggunakan kata-kata dan lebih bermain ke pewarnaan, checklist, diagram, dan ikon-ikon atau gambar. Dengan cara ini, pencatatan harian kita selama sebulan bisa lebih compact, praktis, dan mudah dibawa ke mana-mana. Kebayang ga, gimana repotnya harus punya dan bawa-bawa 5 buku catatan untuk hal yang berbeda? Kegiatan menjurnal bakal jadi sangat menyita waktu dan truly exhausting.
Secara umum, membuat jurnal adalah kegiatan positif yang sehat untuk mental dan tidak menuntut banyak dari pelakunya. Dengan membuat jurnal, kita bisa lebih mudah dalam mengolah emosi yang dirasakan, mengembangkan kreativitas, dan mempermudah strategi hidup (melacak kejadian di masa lalu, membantu menyusun apa yang harus dilakukan saat ini, dan merancang masa depan). Uniknya, bullet journal juga bisa mencakup masalah penyusunan budget harian. Kita bisa mencatat pengeluaran untuk dijadikan parameter ketika akan menyusun keperluan finansial di bulan berikutnya. Kira-kira di bagian mana uang mengalir terlalu deras sehingga menyedot kebutuhan di sektor lain.
Pake Tangan Ato Ketik?
Pertanyaan yang satu ini jadi relevan karena di jaman modern kaya gini, smartphone kita pun disertai kemampuan untuk menjalankan aplikasi digital bahkan untuk membuat jurnal harian. Komputer pun bisa mengakomodasi kegiatan ini dengan cakupan yang lebih luas mengingat kemampuannya untuk memfasilitasi desain grafis. Tapi ada hal tertentu yang membedakan membuat jurnal dengan menulis dan mengetik lebih dari jenis media dan fasilitas.
Membuat jurnal dengan buku dan pena itu sesederhana membuka lembaran kertas dan mulai menuliskan pikiran, pendapat, dan perasaan. Dengan menulis, kita bisa memiliki kesempatan untuk melibatkan otak kita dengan lebih dinamis sehingga bisa membuat kita menyimpan memori dengan lebih baik. Menjurnal dengan mengetik melibatkan aplikasi menulis digital seperti OneNote, Microsoft Word, Google Docs, Tumblr, atau WordPress. Isi pikiran dan perasaan diketik dan tertuang langsung dalam layar peranti di hadapan kita.
Ada keuntungan dan kekurangan masing-masing dari kedua cara itu tadi. Menulis memungkinkan kita untuk mewariskan sesuatu yang dapat dipegang pada anak-cucu kita nanti untuk mereka pelajari sendiri. Menulis di atas kertas pun meniadakan kemungkinan data kita diretas atau hilang karena kerusakan media penyimpanan. Mengetik dengan media digital, di lain pihak, memungkinkan kita untuk membuat backup data dan dengan alat yang tepat kita bisa mengakses arsip-arsip data di mana dan kapan aja.
Menulis dengan Tangan Memaksa Kita untuk Melambatkan Proses Berpikir
Keluhan terbesar tentang membuat jurnal dengan menulis adalah bahwa kegiatan ini sama sekali ga convenient. Ga praktis untuk sesuatu yang semestinya membuat segalanya ringkas dan, well, praktis. Menulis emang bukan hal sulit tapi mengetik jauh lebih mudah apalagi kalo pada kenyataannya kita udah duduk di depan komputer juga buat kerja. Kebanyakan dari kita bahkan mungkin lebih banyak mengetik daripada mengunakan pena jadi membuat jurnal dengan menulis mungkin akan butuh beberapa saat sebelum kita terbiasa. Karena ini, menulis dengan tangan akan terdengar ga produkti karena kita akan diperlambat—tapi ini justru berdampak baik. Kenapa? Karena ketika kita menulis dengan tangan, kita dipaksa untuk fokus pada apa yang penting saat itu. Ketika kita menulis dengan tangan, kita akan menghasilkan lebih banyak kata ketimbang saat mengetik dan juga kita bisa mengekspresikan lebih banyak ide.
Menulis tangan memerlukan koordinasi halus antara jari-jari dan otak—ini sesuatu yang lebih complicated daripada mengetik. Kegiatan ini merangsang aktivitas pada bagian motor cortex di otak—efek yang sama ditemukan juga pada kegiatan bermeditasi.
Mengetik Mempermudah Kita Membentuk Habit
Kenyamanan dan kemudahan adalah keuntungan utama jika kita memilih mengetik sebagai cara untuk journalling. Dan karena semuanya serba mudah dan nyaman, mengetik membuat kegiatan menjurnal lebih mudah untuk ditelateni dengan ketekunan. Ketika menulis dengan tangan, kita dipaksa untuk memproses apa yang kita rasakan sebelum dituangkan di atas kertas. Mengetik di komputer atau smartphone membuat kita meng-skip proses yang satu ini jadi isi kepala bisa langsung mengalir dalam bentuk tulisan pada layar monitor.
Analisis
Beberapa orang merasakan sensasi atau kepuasan tersendiri ketika menjurnal dengan tangan setelah melalui satu hari yang penuh dengan stres atau diwarnai hal-hal yang membuat down. Mereka merasa lebih “lepas” dan “lega” setelah menggunakan pena dan kertas untuk mengeluarkan isi kepala, terutama karena mereka secara ga sadar mengasosiasikan mengetik di komputer atau gadget lain dengan kegiatan kerja profesional—yang tentunya melelahkan.
Dari satu studi di Universitas Iowa, subjek penelitian menunjukkan reaksi positif terhadap pengalaman traumatis setelah membuat jurnal tentang pengalaman tersebut; tapi hasil ini semua didapatkan bukan dari kegiatan itu sendiri melainkan lebih kepada bagaimana kegiatan itu dilakukan, gitu. Mereka diminta untuk menjurnal dengan menulis tangan dan berfokus tidak hanya pada emosi tapi juga pada pikiran dan perasaan.
Ketika kita menulis dengan tangan, fokus untuk pikiran dan perasaan jadi terasa lebih leluasa untuk dilakukan karena kita kudu nih, berenti sebentar buat memproses apa yang kita rasakan sebetulnya. Ketika mengetik, proses ini otomatis ditiadakan karena kita ngerasa ga perlu berhenti sejenak buat berpikir dan merasakan. Semuanya langsung mengalir lewat kecepatan tangan mengetik.
Jadi Mana Yang Lebih Baik?
Mengetik tidak serta-merta berarti kita ga bisa memproses isi kepala dan perasaan dan semata-mata mencurahkan fokus pada emosi aja. Tetap bisa, tapi dengan menulis tangan, semuanya bakal kerasa lebih organik aja karena kita ga terarahkan untuk menuangkan sebuah ide tanpa berhenti sebentar. Kadang perlu juga loh, ngerem diri sendiri sebelum bertindak. Diproses dulu apa yang kita rasakan. Sinkronkan dulu dengan isi kepala. Baru kemudian kita gunakan sejajar dengan emosi yang ada. Jadi menentukan mana yang lebih baik antara menulis tangan dan mengetik itu agak sedikit rancu karena semuanya balik lagi ke tujuan awal kita membuat jurnal.
Mengetik bisa jadi pilihan yang aman jika tujuan kita adalah merekam informasi dan data karena lebih mudah dan lebih cepat. Tapi kalo kita kepingin belajar melacak kejadian di masa lalu, memproses perasaan, menghasilkan ide-ide, ato sekadar untuk menjadi lebih tenang aja, menulis dengan tangan adalah pilihan yang lebih tepat.
Ga ada alasan juga buat ga ngelakuin keduanya. Pas mau nyatet informasi ato data, ngetik deh. Pas mau menajamkan fokus dan mau ngerem proses berpikir sebentar, nulis tangan deh. Tapi kalo tujuannya dari awal mau ngedapetin manfaat secara kesehatan mental, mending nulis tangan deh.
Beberapa Tips
Tertarik buat mulai bikin jurnal, terutama dengan menulis tangan? Ada tipsnya supaya ga ngebosenin dan kita bisa dapetin manfaat penuh.
- Cari buku yang cocok sama kepribadian kita. Kenapa? Simpel. Ga ada kan yang nganggep buku tulis polos tanpa pemanis itu menarik? Ga perlu yang terlalu semarak warna-warni ber-glitter. Baaanyak buku jurnal dijual di luar sana dengan desain menarik dan inovatif. Pilih satu yang emang berpotensi ngedukung kegiatan kita dan sesuai dengan kepribadian kita. Ini bakal bikin excitement meningkat dan kita bakal ngerasa kayak ada yang ilang kalo ga ngejurnal sehari aja.
- Don’t limit yourself. Maksudnya di sini jangan sekali-kali ngasi batasan tentang isi jurnal yang sebaiknya. Jurnal ga melulu perkara tanggal-tanggal dan appointments Isinya bisa tentang jadwal atau siklus mens (buat cewe-cewe ni, ya), must-try recipes, alokasi budget, ide-ide dan inspirasi apa pun, lists (judul film yang mau/harus ditonton, album must-have), bahkan rancangan belanja bulanan. Untuk masalah ini, kreativitas kitalah yang jadi batasannya.
- Tetapkan jadwal jurnal rutin. Ga perlu setiap pagi kok. Kalo emang nyamannya memulai menjurnal di pagi hari, ya mulailah sesegera setelah bangun. Kalo emang lebih nyaman di malam hari, ga Yang penting ada alokasi waktu menjurnal setiap hari.
- Memilih buku harian yang cocok aja ga Harus ada temannya. Cari alat-alat tulis dan dekorasi yang menarik juga. Pena warna, stiker-stiker, label, pembatas halaman, apa pun itu yang bisa ngedukung kreativitas.
- Yang terakhir, enjoy. Tanamkan di diri kalo kegiatan menjurnal ini adalah sesuatu yang sifatnya menenangkan. Ini semua perkara self-care. Dijalani aja senyamannya kita. Tapi kalo emang setelah dicoba, kegiatan ini ga kerasa ada dampak positifnya, sah-sah aja kok kalo kita mau berpaling dan mencoba alternatif self-care Lagi-lagi, ga satu jalan menuju Roma. Self-love language adalah sesuatu yang fleksibel dan hanya menuntut satu hal saja: Do whatever makes you happy and love yourself even more.