Bipolar atau Mood Swings Biasa? Yuk Kita Coba Identifikasi

Hai Teman DRYD,

Pernah ngalamin yang namanya mood naik turun? Atau mungkin ada orang di sekitar Teman-teman yang mood-nya kaya yang ga bisa ditebak gitu? Sekarang hepi, ceria, penuh semangat tapi trus sedetik kemudian berubah jadi murung, males ngapa-ngapain, ga bisa diajak have fun? Cape emang ngadepin yang kaya gitu ya. Kita ga pernah tau kira-kira apa yang bisa memicu perubahan suasana hati. Yang paling bikin frustrasi itu kalo orang terdekat kita yang ngalamin kaya begitu. Serba salah aja semua rasanya.

Tapi yang miris sekarang itu tu ya, adalah kenyataan bahwa istilah “bipolar” sekarang seperti jadi kata-kata kasual yang sering dilancarkan orang secara ngasal untuk sembarang orang. Misalnya gini; kita punya temen, mood-nya seeering banget berubah dalam waktu yang relatif singkat dan kadang-kadang ga peduli momen. Trus kita langsung nyeletuk, “Ah, elu bipolar banget deh!”

Kalo Teman DRYD ada yang pernah ngelakuin ini, kalo bisa jangan lagi ya. Ga boleh. Bipolar itu gangguan psikis yang valid dalam dunia medis jadi sebaiknya ga dipake buat hal-hal sekasual seperti contoh sebelumnya. Bipolar itu bisa di-treat secara klinis tapi kadang judgment yang diberikan orang lain bisa jadi salah satu sumber penyebab kenapa gangguan ini sulit dikendalikan oleh si pengidap.

Dari sisi kita sendiri, ucapan semacam itu tu ga adil terhadap si orang yang dimaksud. Bisa jadi dia ga punya bipolar tapi emang mood swing-nya tergolong cukup parah. Nah, supaya kita ga lagi salah kaprah dan mungkin berakhir menyinggung perasaan orang lain, yuk coba kita teliti perbedaan antara gangguan bipolar dan mood swing.

Mood swing biasa itu ditandai dengan perubahan emosi dan suasana hati seseorang dalam periode yang ga bisa dibilang singkat. Ada periode yang jelas yang membatasi mood positif dan negatif. Durasinya juga relatif lebih pendek. Pembeda mendasar lain adalah efek dari kondisi ini. Mood swings biasanya ga sampe ngeganggu hidup kita secara keseluruhan. Iya, pas lagi bad mood mungkin emang males ngapa-ngapain dan mudah tersinggung. Tapi itu ga bikin hidup kita hari itu kacau balau. Cuma low energy aja gitu.

Nah, kalo bipolar itu kebalikannya. Perubahan mood terjadi secepat kilat, senang ke sedih atau sedih ke senang itu beralih dan berganti-ganti sekejap mata. Soal durasi juga berbeda; orang dengan gangguan bipolar punya dua episode: mania (naik, ceria dan senang berlebihan) dan depresi (turun, sedih dan stres berlebihan). Di beberapa kondisi tertentu malah ada orang yang mengalami kedua jenis episode dalam waktu yang bersamaan. Nah, biasanya durasi dari masing-masing episode ini bisa berlangsung selama berjam-jam, bahkan mungkin sepanjang hari. Efeknya pun lebih menyeluruh. Hidup si pengidap bisa sangat terpengaruh akibat perubahan emosi ini. Ketika memasuki salah satu episode bipolar, si individu pengidap bisa aja praktis ga bisa berfungsi sebagaimana manusia biasanya.

Jadi beda banget ni, bipolar dan mood swing biasa. Orang bipolar itu pasti ngalamin mood swings tapi orang yang mengalami perubahan mood cukup dramatis belum tentu punya bipolar.

Setelah paham perbedaan fundamentalnya, yuk kita cari tahu ciri-ciri gangguan bipolar. Biar lebih mudah, ciri-ciri bipolar itu bisa dirumuskan berdasar masing-masing episode.

Ciri-ciri episode mania:

  1. Perasaan bahagia berlebihan yang timbul dalam periode yang lama,
  2. Cara berbicara dan berpikir berlangsung sangat cepat,
  3. Perasaan tidak membutuhkan tidur,
  4. Impulsif dan dan tidak bisa diam,
  5. Perhatian mudah teralihkan,
  6. Overconfidence (rasa percaya diri yang berlebihan),
  7. Kecenderungan untuk melakukan hal-hal berisiko tinggi seperti menghabiskan uang berjudi atau untuk membeli barang-barang yang tidak perlu.

Ciri-ciri episode depresi:

  1. Perasaan sedih dan putus asa dalam periode yang lama,
  2. Kecenderungan menghindari keluarga dan teman,
  3. Kehilangan interest terhadap hal yang sebelumnya disenangi,
  4. Gangguan pola dan nafsu makan, bisa kehilangan nafsu makan atau malah makan berlebihan,
  5. Perasaan kelelahan dan kehilangan energi.
  6. Daya ingat dan konsentrasi menurun dan tidak mampu mengambil keputusan,
  7. Pikiran tentang bunuh diri atau didominasi tentang kematian.

Nah, permasalahannya sekarang, jika ada orang di sekitar kita yang memiliki ciri-ciri seperti di atas, apa yang sebaiknya dilakukan?

Yang pertama, berhenti ngejudge. Pengidap bipolar juga ga bisa mengendalikan apa yang mereka rasakan. Kadang ini mungkin sulit dilakukan karena logika personal kita ga bisa menerima atau bahkan mencerna apa yang terjadi dan terlihat. Tapi lagi-lagi, pengidap bipolar juga ga mau kali, dapet hal kaya gitu dan membebani orang lain.

Yang kedua yang perlu dilakukan adalah mencarikan si pengidap gangguan bantuan profesional. Ini juga kayanya bertentangan dengan logika umum ya. Masa udah sakit, malah orang lain yang harus repot nyariin bantuan. Tapi pada kenyataannya, para pengidap bipolar emang ga bisa berpikir sejauh itu. Mereka udah telanjur sibuk “berperang” dengan diri mereka sendiri, terlalu kesulitan untuk bahkan sekadar mencari pertolongan. Kitalah yang justru harus memberikan uluran tangan. Oh, dan jangan coba-coba ditangani sendiri ya, kecuali kalo emang kita punya kapasitas di bidang sespesifik ini. Bipolar cuma bisa ditangani oleh pihak yang emang paham seluk-beluk gangguan ini jadi cuma mereka yang berkemampuan untuk mengatasi persoalan yang ada.

Nah, udah jelas ya, Teman-teman DRYD. Jangan lagi deh bilang orang lain bipolar cuma untuk lucu-lucuan. Kita ga tau apa yang sebenernya terjadi jadi jangan sampai menyinggung perasaan orang lain atau memperparah kondisi mental orang lain.

Gagal, Kalah, Kecewa, Sakit: Cerita Sangat Pendek dari Hidup

Hai Teman DRYD,

Ini edisi khusus curhat dokter Yusri ya. Hahah, sebenernya agak rancu sih soalnya kan bagian Self-care biasa biasanya emang diisi sama curhatan-curhatan saya ya. Jadi kalo saya sampe announce kali ini adalah edisi curhat jadinya rada ga guna juga. Jadi lebay. Tapi emang, kalo biasanya saya curhat di Self-care berdasarkan curhatan orang lain yang kemudian dibahas pake kacamata orang lain, kali ini saya curhat berdasarkan pengalaman pribadi. Pengalaman yang mungkin bisa aja jadi berarti buat dibaca oleh orang lain. Kalo membantu, ya sukur semoga kita bisa belajar banyak bareng-bareng yaaa. Kalo ga membantu juga gapapa, siapa tau bisa di-share ke orang lain yang mungkin lagi butuh pencerahan, insights, pendapat, gitu-gitu.

Apa sih curhatnya dokter Yusri ini sampe pake edisi khusus segala?

Saya mau membahas kegagalan, sodara-sodara.

Siapa sih yang ga tau apa itu kegagalan? Semua orang pasti paham; anak kecil juga pasti ngalamin meskipun mereka mungkin belum tau maknanya, apalagi pelajaran apa yang bisa diambil. Tapi pernah ga sih, Teman DRYD ngalamin kegagalan yang benar-benar gagal? Gagal segagal-gagalnya sampe down dan mikir kaya ga mungkin lagi kembali berdiri? Gagal yang hancur porak-poranda?

Ada yang bilang hidup itu lebih dinamis jika terisi oleh beberapa momen kegagalan yang “sehat”, yaitu ketika kita bisa memetik pelajaran berharga dari momen tersebut untuk memperbaiki banyak hal di kemudian hari. Ada yang bilang juga kalo yang namanya gagal itu guru paling baik tempat kita belajar pengalaman hidup dan introspeksi. Beberapa orang mungkin bisa menanggapi kegagalan dengan cara yang lebih baik, apalagi kalo kegagalan yang dimaksud itu semacam hal-hal yang relatif kecil. Tapi kalo kegagalan itu sampe bikin kita stres dan merasa ga bersemangat menghadapi hidup? Wah, banyak efek dan akibatnya. Jadi kaya domino; satu kegagalan menjadi sumber untuk serangkaian kegagalan-kegagalan lain dalam hidup.

Ada ga yang pernah sampai kaya gitu?

Saya pernah.

Apa sih yang bikin saya terpuruk demikian dalam dan sampe harus ngambil terapi khusus buat memperbaiki semuanya? Satu kata sederhana: bangkrut.

Semuanya berawal dari bisnis klinik kecantikan yang saya bangun di Jakarta beberapa tahun lalu. Singkat aja nih ya; setelah berjalan, saya melewati fase bisnis yang bikin saya rugi besar sampe harus gulung tikar. Ini kegagalan dan ini hal yang lazim terjadi dalam dunia bisnis. Sampe di sana kelar? Enggaaa. Kalo orang bilang satu kegagalan seharusnya ga bikin kita gentar dan memadamkan semangat, justru itu yang terjadi pada saya dulu. Saya down se-down-down-nya. Stres? Bukan lagi stres, depresi. Saya depresi berat sampai butuh bantuan profesional buat bisa setidaknya ngeliat kejadian ini dari kacamata yang berbeda. Kecenderungan orang yang depresi itu sederhana, Teman DRYD, mereka ga bakal bisa “menarik” diri dari pusaran tekanan di sekitar tanpa uluran tangan orang lain. Makanya nih, kalo ada di antara Teman DRYD yang udah mulai ngerasain gejala-gejala depresi, jangan menutup diri. Jangan terlena dengan tekanan yang ada. Percaya deh, orang kalo lagi depresi itu saaangat-sangat “menikmati” kondisi tertekan mereka. Tanda kutip itu, ya; artinya mereka cenderung membiarkan diri semakin tenggelam dalam kegelapan—bukan karena mereka enjoy berada di situasi itu tapi karena mereka ga tau kudu ngapain.

Itu yang terjadi pada saya.

Setelah mulai pulih, apa yang saya lakukan? Apa saya kapok berkecimpung di dunia estetika? Apakah saya terus mencampakkan ijazah kedokteran saya? Engga dong. Jalan dari terapi ke fase membaik itu ga simpel. Ga singkat. Sampe sekarang saya masih merasa bahwa proses penyembuhan itu terus berjalan. It takes time. Suatu waktu, saya kerjasama dengan dr. Jimmy Adrian SPKj. untuk mengadakan semacam seminar. Waktu itu temanya overthinking. Nah, di situlah saya ketemu sama salah satu partisipan yang sekarang jadi teman baik saya. Namanya Mbak Deborah Ayu.

Kenapa satu perempuan ini yang saya sorot? Karena saya dan dia dihubungkan dengan satu kondisi yang sama: bangkrut. Kami sama-sama pernah ada di titik terendah hidup kami. Kami sama-sama pernah menderita batin, sama-sama pernah memandang hidup ini ga adil dan kepingin kelar aja cepet-cepet semuanya.

Mbak Deborah ini juga penggiat bidang estetika. Kasusnya juga mirip sama apa yang saya lalui. Singkatnya, bisnisnya juga bubar. Tapi di kliniknya ada alat-alat nganggur yang saat itu terbengkalai. Langsung deh saya kepikiran, “Wah, daripada mesin-mesin itu rusak ga kepake, kenapa ga saya aja yang pake buat bisnis sendiri lagi?”

Sebenernya buat memulai bisnis lagi itu satu step yang cukup bikin gemeteran sih, waktu itu. Ya namanya trauma ya. Lukanya mungkin udah sembuh di permukaan tapi di bawahnya masih memar-memar berdarah. Kebayang lagi deh kejadian-kejadian masa lalu. Tapi trus sayanya mikir, “Ini passion saya. Ini kesempatan baik dan ga semua orang dikasi kesempatan baik dua kali.”

Mbak Deborah sendiri sedang ada di fase ingin menyembuhkan diri dari luka pribadinya. Satu cara yang dia pilih waktu itu adalah dengan melepaskan semua perlengkapan dan peralatan yang dulu dia pake buat berbisnis. Asumsinya dia adalah bahwa dengan “membuang” segala hal yang ada kaitannya dengan masa lalu, proses penyembuhan dirinya jadi lebih cepat.

Akhirnya ya saya sampein deh ke Mbak Deborah waktu itu, “Alat-alatmu saya beli aja buat bisnis di Jogja.” Perjanjiannya waktu itu pembayarannya dengan cara mencicil dan saya sanggup melunasi dalam waktu kurang dari setengah tahun, bahkan. Sombong? Bukan. Ini bukan perkara saya menyombongkan kemampuan saya dalam melunasi hutang. Ini perkara “di mana ada kemauan, di situ ada jalan.”

Klasik? Basi? Bikin eneg? Ya gapapa; kenyataannya kalimat itu emang udah terlalu sering diumbar dan didengar sampe-sampe maknanya jadi monoton dan membosankan. Tapi kalimat itu sering diucapkan karena emang ada benernya kok sekalipun ga sesederhana itu realitasnya.

Kenapa saya bilang ga sesederhana itu? Ketika kita tahu apa yang kita mau, kita tahu cara mendapatkannya. Adaaa aja jalannya. Tapi, sekarang gimana bisa kita punya kemauan kalo buat bernapas aja butuh energi lebih? Depresi itu candu lo ya, Teman DRYD. Alam bawah sadar kita udah sedemikian ter-disable sampe-sampe otak jadi kepengaruh dan berpikir bahwa ga ada jalan lain, this is the end of the road.

Jadi hal berbeda apa yang saya lakukan? Pertama, saya tanamkan ke diri saya bahwa saya ga boleh membandingkan penderitaan saya dengan orang lain. Iya, ada banyak orang lain di dunia ini yang penderitaannya jauh lebih menyakitkan dari saya. Iya, saya masih lebih beruntung karena masih punya support system yang lebih dari bersedia mendukung saya. Tapi menepis penderitaan sendiri, menutup mata dan menulikan telinga dari rasa sakit yang saya rasakan hanya karena orang lain punya masalah lebih berat itu juga ga adil buat diri saya sendiri. Jalan orang berbeda dengan jalan saya. Cara mereka menghadapi kejadian berbeda dengan cara saya dan gitu juga dengan kapasitas masing-masing. Menyadari persoalan orang lain, menghargai usaha mereka untuk tetap hidup, dan tidak menyepelekan masalah orang lain itu penting dan harus. Tapi ga bisa dilakukan dengan cara menyepelekan persoalan sendiri ya.

Dari situ berlanjut ke penerimaan. Saya menerima kondisi saya tanpa menipu diri sendiri. Saya tanamkan pada diri sendiri bahwa denial itu ga bakal menyelesaikan apa pun. Saya ingat-ingat terus bahwa ga ada yang salah dengan kalah dan menerima fakta bahwa saya kalah. Kalah-menang itu hukum alam. Senang dan gembira karena menang itu lumrah. Sedih dan kecewa karena kalah itu manusiawi. Di kondisi keduanya, diri kita sebagai manusia diuji. Oh, kamu kalah? Apa yang mau kamu lakukan dengan fakta itu, kondisi itu? Oke, kamu mau bersedih dan menangis? Nikmati fase itu. Tapi seterusnya jangan biarkan dirimu larut dan tenggelam apalagi sampe nolak bantuan dari orang lain. Sadari bahwa kamu depresi dan dalam keadaan itu kamu adalah musuh terbesarmu.

Terakhir, saya coba pikirkan, apa sih yang sebetulnya paling menyakitkan ketika kalah? Saya berkesimpulan, kekalahan yang ada terasa sangat telak dan kemudian saya depresi karena masih punya keterkaitan emosional dengan hal di masa lalu. Dari situ saya mulai belajar melepaskan. Apa yang tidak ditakdirkan menjadi milik saya, sampai jagat raya kiamat pun ga bakal pernah saya genggam lagi. Keterikatan dengan suatu hal itu adalah sumber penderitaan. Saya merasa memiliki suatu hal dan saya tersungkur parah ketika sesuatu itu lepas dari tangan. Dari belajar melepaskan ini saya paham, ketika kita mau membiarkan hal yang sudah lewat tetap ada di masa lalu dan mengakui kekalahan yang kita terima, semestalah yang kemudian akan mengambil alih dan menggantikannya dengan yang baru. Akhirnya apa? Saya kembali punya klinik. Di Jogja. Hal yang serupa, di kota yang berbeda, dengan orang-orang berbeda, dengan kondisi dan situasi yang berbeda.

Saya paham. Belajar melepaskan dan mengakui kekalahan itu proses yang menyakitkan. Tapi kadang rasa sakit itu diperlukan untuk menyembuhkan luka. Kemudian, bekas lukanya mungkin hilang tapi sensasi sakitnya akan terus terasa selagi kita memiliki otak yang fungsional. Di titik inilah kita perlu menimbang: Am I forever defined by the pain I experienced in the past? Apakah luka dan trauma di masa lalu menjadi identitas tunggal diri ini?

Teknik Jurnaling: Ketik atau Tulis Tangan?

Hai Teman DRYD,

Udah nemuin apa self-love languages kalian? Seperti yang kita udah pernah bahas kemarin-kemarin, ungkapan mencintai diri sendiri itu juga penting untuk dipelajari supaya kita ga terjebak dalam mencintai orang atau hal lain tapi luput dari memelihara kesehatan pribadi—fisik maupun mental. Dan karena setiap individu adalah subjek unik yang memiiki cara tersendiri dalam menangani berbagai macam kendala pribadi, yang namanya self-love language buat masing-masing juga berbeda-beda. Ada yang memilih bermeditasi, ada yang lebih suka pergi ke spa atau dipijat, ada juga yang cenderung lebih merasa dirinya teraktualisasi ketika melakukan hobi yang mereka suka.

Semuanya valid dan legit ya, Teman DRYD. Do whatever makes you happy and feel loved by your very own self. Ga ada judgment di sini. Namanya juga self-care, cuma kita yang tahu gimana caranya supaya bisa mencintai diri sendiri dengan lebih mendalam dan lebih intim dalam menjalin hubungan dengan diri sendiri. Cuma kadang-kadang nih, apa yang menurut kita bisa membuat lebih mencintai diri sendiri itu bisa-bisa kebentur penghalang. Misalnya, yang berminat meditasi mungkin terkendala masalah jadwal kerja. Sibuk di kantor, lembur sampe malam, kerjaan kebawa sampe rumah—banyak faktor yang berkaitan dengan kesibukan hari-hari yang menjegal jalan menuju ketenangan batin lewat meditasi. Ataaau, mungkin ada yang kepingin nyobain spa atau massage treatment tapi kehalang masalah budget. Mungkin alokasi dana bulanan ini mepet banget dan kalo dipaksain pergi ke spa malah bikin overbudget. Atau mungkin ada yang kepikiran buat menekuni hobi memasak atau berkebun tapi si buah hati yang masih kecil bikin agak ga mungkin buat mereka ninggalin barang semenit.

Apa pun alasannya, gapapa. Ga cuma satu jalan ke Roma, kata orang-orang. Ga perlu stres gegara ga sempet me-time karena entah apa pun. Ga usah juga merasa ga enak pada siapapun dan ngerasa banyak alesan. Kita yang tau kondisi. Kita yang paham medan. Kita yang ngerti kaya apa situasi, risiko, dan efeknya. Gapapa.

Teman DRYD tau ga, kalo ternyata tindakan self-care yang paling efektif itu adalah juga yang paling murah, mudah, dan ga ngebebanin?

“Masa sih, Dok? Emang ada alternatif lain?”

Ada dong. Perkenalkan, jurnaling.

Pernah denger? Ato ini pertaman kalinya denger istilah ini? Basically, membuat jurnal itu adalah kegiatan pencatatan pengalaman yang dilakukan secara harian dalam sebuah media tertulis. Nah, berdasarkan definisi sederhana ini, pasti yang kebayang itu adalah buku diari kan ya?

“Dok, masa udah tua masih disuru nulis diari, sih?”

Eits, jangan buru-buru nyimpulin yaaa. Sekilas emang menulis jurnal dan buku diary itu mirip. Tapi keduanya berbeda secara fundamental. Diari yang biasanya kita gembok pas jaman es-de sampe es-em-a itu ditulis harian, emang. Tapi isinya saaangat random dan sifatnya lebih ke luapan isi hati yang ga bisa disampaikan ke orang lain. Kesel sama sahabat lah, bete sama pacar lah, sedih dicuekin gebetan lah, keki sama ortu lah, seneng karena nilai ulangan bagus lah, emosi gegara LDR-an lah, cemburu sama orang lain lah, gitu-gitu deh.

Nah, bedanya sama jurnal, jurnal itu lebih rapi, lengkap, berpola, dan teknis. Kita ga harus menceritakan panjang lebar tentang perasaan sebel gegara ngeliat gebetan dipepet sama temen deket. Cukup, misalnya, bikin satu section yang mengandung emoticon-emoticon dari sedih sampe seneng. Nanti dibuat bagan per tanggal untuk satu bulan. Di tanggal yang dimaksud, kita tinggal warnai emoticon yang sesuai dengan overall mood kita hari itu. Simpel, kan? Kalo mau dispesifikkan kenapa kita mewarnai emoticon sedih untuk hari itu, bisa aja dikasi note gitu, ngejelasin kenapa mood kita jelek.

Teknik ini disebut juga dengan bulletjournal, karena kita dianjurkan untuk seminim mungkin dalam menggunakan kata-kata dan lebih bermain ke pewarnaan, checklist, diagram, dan ikon-ikon atau gambar. Dengan cara ini, pencatatan harian kita selama sebulan bisa lebih compact, praktis, dan mudah dibawa ke mana-mana. Kebayang ga, gimana repotnya harus punya dan bawa-bawa 5 buku catatan untuk hal yang berbeda? Kegiatan menjurnal bakal jadi sangat menyita waktu dan truly exhausting.

Secara umum, membuat jurnal adalah kegiatan positif yang sehat untuk mental dan tidak menuntut banyak dari pelakunya. Dengan membuat jurnal, kita bisa lebih mudah dalam mengolah emosi yang dirasakan, mengembangkan kreativitas, dan mempermudah strategi hidup (melacak kejadian di masa lalu, membantu menyusun apa yang harus dilakukan saat ini, dan merancang masa depan). Uniknya, bullet journal juga bisa mencakup masalah penyusunan budget harian. Kita bisa mencatat pengeluaran untuk dijadikan parameter ketika akan menyusun keperluan finansial di bulan berikutnya. Kira-kira di bagian mana uang mengalir terlalu deras sehingga menyedot kebutuhan di sektor lain.

Pake Tangan Ato Ketik?

Pertanyaan yang satu ini jadi relevan karena di jaman modern kaya gini, smartphone kita pun disertai kemampuan untuk menjalankan aplikasi digital bahkan untuk membuat jurnal harian. Komputer pun bisa mengakomodasi kegiatan ini dengan cakupan yang lebih luas mengingat kemampuannya untuk memfasilitasi desain grafis. Tapi ada hal tertentu yang membedakan membuat jurnal dengan menulis dan mengetik lebih dari jenis media dan fasilitas.

Membuat jurnal dengan buku dan pena itu sesederhana membuka lembaran kertas dan mulai menuliskan pikiran, pendapat, dan perasaan. Dengan menulis, kita bisa memiliki kesempatan untuk melibatkan otak kita dengan lebih dinamis sehingga bisa membuat kita menyimpan memori dengan lebih baik. Menjurnal dengan mengetik melibatkan aplikasi menulis digital seperti OneNote, Microsoft Word, Google Docs, Tumblr, atau WordPress. Isi pikiran dan perasaan diketik dan tertuang langsung dalam layar peranti di hadapan kita.

Ada keuntungan dan kekurangan masing-masing dari kedua cara itu tadi. Menulis memungkinkan kita untuk mewariskan sesuatu yang dapat dipegang pada anak-cucu kita nanti untuk mereka pelajari sendiri. Menulis di atas kertas pun meniadakan kemungkinan data kita diretas atau hilang karena kerusakan media penyimpanan. Mengetik dengan media digital, di lain pihak, memungkinkan kita untuk membuat backup data dan dengan alat yang tepat kita bisa mengakses arsip-arsip data di mana dan kapan aja.

Menulis dengan Tangan Memaksa Kita untuk Melambatkan Proses Berpikir

Keluhan terbesar tentang membuat jurnal dengan menulis adalah bahwa kegiatan ini sama sekali ga convenient. Ga praktis untuk sesuatu yang semestinya membuat segalanya ringkas dan, well, praktis. Menulis emang bukan hal sulit tapi mengetik jauh lebih mudah apalagi kalo pada kenyataannya kita udah duduk di depan komputer juga buat kerja. Kebanyakan dari kita bahkan mungkin lebih banyak mengetik daripada mengunakan pena jadi membuat jurnal dengan menulis mungkin akan butuh beberapa saat sebelum kita terbiasa. Karena ini, menulis dengan tangan akan terdengar ga produkti karena kita akan diperlambat—tapi ini justru berdampak baik. Kenapa? Karena ketika kita menulis dengan tangan, kita dipaksa untuk fokus pada apa yang penting saat itu. Ketika kita menulis dengan tangan, kita akan menghasilkan lebih banyak kata ketimbang saat mengetik dan juga kita bisa mengekspresikan lebih banyak ide.

Menulis tangan memerlukan koordinasi halus antara jari-jari dan otak—ini sesuatu yang lebih complicated daripada mengetik. Kegiatan ini merangsang aktivitas pada bagian motor cortex di otak—efek yang sama ditemukan juga pada kegiatan bermeditasi.

Mengetik Mempermudah Kita Membentuk Habit

Kenyamanan dan kemudahan adalah keuntungan utama jika kita memilih mengetik sebagai cara untuk journalling. Dan karena semuanya serba mudah dan nyaman, mengetik membuat kegiatan menjurnal lebih mudah untuk ditelateni dengan ketekunan. Ketika menulis dengan tangan, kita dipaksa untuk memproses apa yang kita rasakan sebelum dituangkan di atas kertas. Mengetik di komputer atau smartphone membuat kita meng-skip proses yang satu ini jadi isi kepala bisa langsung mengalir dalam bentuk tulisan pada layar monitor.

Analisis

Beberapa orang merasakan sensasi atau kepuasan tersendiri ketika menjurnal dengan tangan setelah melalui satu hari yang penuh dengan stres atau diwarnai hal-hal yang membuat down. Mereka merasa lebih “lepas” dan “lega” setelah menggunakan pena dan kertas untuk mengeluarkan isi kepala, terutama karena mereka secara ga sadar mengasosiasikan mengetik di komputer atau gadget lain dengan kegiatan kerja profesional—yang tentunya melelahkan.

Dari satu studi di Universitas Iowa, subjek penelitian menunjukkan reaksi positif terhadap pengalaman traumatis setelah membuat jurnal tentang pengalaman tersebut; tapi hasil ini semua didapatkan bukan dari kegiatan itu sendiri melainkan lebih kepada bagaimana kegiatan itu dilakukan, gitu. Mereka diminta untuk menjurnal dengan menulis tangan dan berfokus tidak hanya pada emosi tapi juga pada pikiran dan perasaan.

Ketika kita menulis dengan tangan, fokus untuk pikiran dan perasaan jadi terasa lebih leluasa untuk dilakukan karena kita kudu nih, berenti sebentar buat memproses apa yang kita rasakan sebetulnya. Ketika mengetik, proses ini otomatis ditiadakan karena kita ngerasa ga perlu berhenti sejenak buat berpikir dan merasakan. Semuanya langsung mengalir lewat kecepatan tangan mengetik.

Jadi Mana Yang Lebih Baik?

Mengetik tidak serta-merta berarti kita ga bisa memproses isi kepala dan perasaan dan semata-mata mencurahkan fokus pada emosi aja. Tetap bisa, tapi dengan menulis tangan, semuanya bakal kerasa lebih organik aja karena kita ga terarahkan untuk menuangkan sebuah ide tanpa berhenti sebentar. Kadang perlu juga loh, ngerem diri sendiri sebelum bertindak. Diproses dulu apa yang kita rasakan. Sinkronkan dulu dengan isi kepala. Baru kemudian kita gunakan sejajar dengan emosi yang ada. Jadi menentukan mana yang lebih baik antara menulis tangan dan mengetik itu agak sedikit rancu karena semuanya balik lagi ke tujuan awal kita membuat jurnal.

Mengetik bisa jadi pilihan yang aman jika tujuan kita adalah merekam informasi dan data karena lebih mudah dan lebih cepat. Tapi kalo kita kepingin belajar melacak kejadian di masa lalu, memproses perasaan, menghasilkan ide-ide, ato sekadar untuk menjadi lebih tenang aja, menulis dengan tangan adalah pilihan yang lebih tepat.

Ga ada alasan juga buat ga ngelakuin keduanya. Pas mau nyatet informasi ato data, ngetik deh. Pas mau menajamkan fokus dan mau ngerem proses berpikir sebentar, nulis tangan deh. Tapi kalo tujuannya dari awal mau ngedapetin manfaat secara kesehatan mental, mending nulis tangan deh.

Beberapa Tips

Tertarik buat mulai bikin jurnal, terutama dengan menulis tangan? Ada tipsnya supaya ga ngebosenin dan kita bisa dapetin manfaat penuh.

  1. Cari buku yang cocok sama kepribadian kita. Kenapa? Simpel. Ga ada kan yang nganggep buku tulis polos tanpa pemanis itu menarik? Ga perlu yang terlalu semarak warna-warni ber-glitter. Baaanyak buku jurnal dijual di luar sana dengan desain menarik dan inovatif. Pilih satu yang emang berpotensi ngedukung kegiatan kita dan sesuai dengan kepribadian kita. Ini bakal bikin excitement meningkat dan kita bakal ngerasa kayak ada yang ilang kalo ga ngejurnal sehari aja.
  2. Don’t limit yourself. Maksudnya di sini jangan sekali-kali ngasi batasan tentang isi jurnal yang sebaiknya. Jurnal ga melulu perkara tanggal-tanggal dan appointments Isinya bisa tentang jadwal atau siklus mens (buat cewe-cewe ni, ya), must-try recipes, alokasi budget, ide-ide dan inspirasi apa pun, lists (judul film yang mau/harus ditonton, album must-have), bahkan rancangan belanja bulanan. Untuk masalah ini, kreativitas kitalah yang jadi batasannya.
  3. Tetapkan jadwal jurnal rutin. Ga perlu setiap pagi kok. Kalo emang nyamannya memulai menjurnal di pagi hari, ya mulailah sesegera setelah bangun. Kalo emang lebih nyaman di malam hari, ga Yang penting ada alokasi waktu menjurnal setiap hari.
  4. Memilih buku harian yang cocok aja ga Harus ada temannya. Cari alat-alat tulis dan dekorasi yang menarik juga. Pena warna, stiker-stiker, label, pembatas halaman, apa pun itu yang bisa ngedukung kreativitas.
  5. Yang terakhir, enjoy. Tanamkan di diri kalo kegiatan menjurnal ini adalah sesuatu yang sifatnya menenangkan. Ini semua perkara self-care. Dijalani aja senyamannya kita. Tapi kalo emang setelah dicoba, kegiatan ini ga kerasa ada dampak positifnya, sah-sah aja kok kalo kita mau berpaling dan mencoba alternatif self-care Lagi-lagi, ga satu jalan menuju Roma. Self-love language adalah sesuatu yang fleksibel dan hanya menuntut satu hal saja: Do whatever makes you happy and love yourself even more.

Mari Berkenalan dengan Overthinking, si Penyebab Stres yang Sulit Ditangkap

Hai Teman DRYD,

Ada yang lagi bergulat dengan overthinking? Kebiasaan ini bisa berlangsung lama tanpa disadari dan bisa berdampak buruk terhadap kesehatan mental secara umum. Yang paling berbahaya adalah kebiasaan ini bisa berubah menjadi sebuah pola yang akan sangat sulit untuk diubah di kemudian hari karena kita udah terbiasa banget mikirin sesuatu (yang seringkali ga seharusnya dipikirin) secara sangat berlebihan.

Overthinking kadang sulit buat dideteksi kemunculannya. Kenapa bisa gitu? Karena terkadang kita ga bisa bedain mana yang overthinking, mana yang bersikap hati-hati dan waspada—terutama ketika akan mengambil sebuah keputusan. Tapiii, overthinking pun bisa terjadi setelah ngelakuin sesuatu dan efeknya ga sesuai dengan apa yang kita arepin. Typically, kepala seseorang yang overthinking itu akan dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang diawali dengan “gimana kalo”. Pernah ga Teman DRYD ngalamin yang kaya gini? Atau malah sering?

Waspada itu boleh. Menghitung risiko dan efek dari sebuah keputusan itu emang sebuah tindakan yang mencirikan proses berpikir logis. Tapi kalo semuanya berakhir ngebuat kita jadi sakit kepala kan juga ga sehat. Kalo diliat dari definisi mendasar, pengertian overthinking bisa disederhanakan menjadi “terlalu banyak berpikir”. Bukan, ini ga berarti orang yang banyak berpikir adalah seorang pemikir, ya. Beda itu. Yang menjadi pembeda apa? Kalo seorang pemikir itu biasanya suka menelaah suatu hal secara mendalam dalam bingkai pencarian pemecahan masalah. Nah, kalo overthinking itu biasanya sebuah proses berpikir yang ga penting dan berlebihan tentang suatu hal yang aslinya sepele dan remeh. Ini ga bisa dipandang sebelah mata ya, Teman DRYD; kondisi overthinking seperti ini bahkan udah bisa dianggap sebagai semacam epidemi. Semua orang bisa kena, ga pandang jenis kelamin atau usia.

Universitas Michigan pernah ngadain studi buat menilik kondisi ini dalam ruang lingkup masyarakat yang luas. Hasil studinya menunjukkan bahwa sebanyak 73% dari total sampel grup usia 25-35 tahun sering banget overthinking sementara grup usia 45-55 tahun ada 62%-nya. Kesimpulan yang bisa diambil dari angka-angka ini adalah overthinking adalah sebuah kebiasaan yang dilakukan banyak orang tingkat yang cukup lazim,

Kebanyakan orang berpikir bahwa dengan memikirkan sesuatu secara ekstra, mereka bisa mendapatkan pemahaman lain dari sebuah persoalan lewat sudut pandang yang berbeda. Padahal, hasil studi dari Universitas Michigan tadi juga menunjukkan bahwa overthinking itu sebetulnya sebuah hal yang tidak hanya tidak sehat tapi juga berakibat buruk terhadap kesehatan mental. Motif lain dari kebiasaan overthinking adalah kebiasaan membayangkan skenario atau kemungkinan terburuk dari sebuah keadaan. Parahnya, skenario atau kemungkinan buruk yang dibayangkan ini bahkan belum tentu terjadi loh. Seringkali, setelah ditilik lebih jauh lagi permasalahan yang dipikirkan berlebihan itu tadi bahkan tidak seberat itu. Ini, kalo dibiarin terus-terusan terjadi, akan menumpulkan kemampuan kita untuk menggunakan insting dan bisa-bisa membuat kita malah mengambil keputusan yang tidak menguntungkan sama sekali.

Kemungkinan lain adalah kita bakal kejebak situasi yang namanya analysis paralysis. Kondisi ini muncul ketika kita terus-terusan memikirkan sebuah permasalahan tanpa benar-benar bisa menemukan solusi dan jalan keluar. Ini jelas sebuah hal yang menyita waktu. Energi pun terkuras habis dan akhirnya kita malah jadi ga poduktif. Overthinking memberikan efek negatif terhadap kreativitas karena kebiasaan ini akan memberikan beban mental yang sangat besar yang akhirnya berujung keputusasaan dan menutup jalur pola berpikir kreatif.

Ada juga akibat overthinking yang mempengaruhi segi jasmani seseorang. Jadi overthinking ini ga cuma ngerusak secara mental aja ya. Fisik kita pun ikut terkena dampak yang cukup signifikan ketika pikiran kita terfokus pada satu hal secara berlebihan. Apa aja efeknya?

Yang pertama adalah stres. Udah bukan rahasia lagi kalo overthinking itu sumbernya depresi. Ketika kita tertekan, maka tubuh akan bereaksi dengan cara melepas hormon kortisol. Hormon ini akan memerintahkan organ hati untuk memproduksi gula yang sedianya akan menjadi sumber energi. Tapiii, jika gula yang dilepaskan ternyata ga terpakai, gula itu akan kembali diserap oleh tubuh. Apa akibatnya? Denyut jantung akan meningkat, kepala sakit, konsentrasi terganggu, napas tersengal, kelelahan, dan pusing.

Kedua, pola tidur akan terganggu. Otak akan ada dalam kondisi selalu bekerja aktif dan tubuh tidak terasa tenang. Kombinasi keduanya akan menghambat kelancaran proses tidur sehingga tingkat energi tubuh menjadi minim dan kita pun merasa kelelahan.

Ketiga, nafsu makan kacau. Ketika sedang overthinking, beberapa orang justru akan menaikkan frekuensi makannya dengan harapan pikirannya bisa sedikit teralihkan dari permasalahan. Ada juga yang justru nafsu makannya drop jauh karena pikirannya udah telanjur terporsir untuk masalah yang ada.

Keempat, pelepasan hormon kortisol secara berlebihan berpotensi menyebabkan gangguan kardiovaskular, masalah pencernaan, gangguan kulit karena peradangan, dan sistem imun tubuh anjlok.

Jadi gimana caranya kita bisa mencegah overthinking dan meniadakan risiko akibat tekanan batin terus menerus?

  1. Coba ambil kertas dan pena. Tuliskan apa yang sedang dipikirkan. Ini adalah jalan yang paling mudah. Jangan diketik, ya; semuanya harus ditulis dengan tangan di atas kertas. Ketika semua hal yang menjadi pokok pikiran udah ditulis, pikiran akan sedikit lebih lega karena otak tidak lagi penuh sesak memikirkan segala macam skenario atau kemungkinan-kemungkinan. Kita bisa jadi lebih taktis, strategis, dan efektif dalam memandang sebuah permasalahan. Solusi pun bisa lebih mudah untuk dicari dan dirumuskan.
  2. Coba cari pengalihan. Carilah aktivitas menyenangkan yang bisa mengalihkan perhatian dari masalah yang ada yang bisa menyedot waktu dan energi. Misalnya dengan mendengarkan musik. Dengan mengalihkan pikiran dari hal-hal yang mencuri fokus, otak bisa beristirahat sejenak. Pilihan aktivitas lain bisa juga dengan cara membaca buku yang menarik perhatian, menyibukkan diri dengan berolahraga, menikmati tontonan film yang menyenangkan, atau menghubungi sahabat via telepon untuk sekadar curhat.
  3. Coba berefleksi. Daripada sibuk memikirkan sebuah masalah yang tidak akan memberikan jawaban atau solusi, apa ga lebih baik kita mencoba merefleksikan diri dan menarik pelajaran berharga dari kondisi saat ini agar di masa depan nanti ga keulang lagi?
  4. Coba ambil tindakan. Hentikan melakukan pendekatan terhadap sebuah persoalan dengan cara memikirkannya aja. Coba tindaklanjuti kemungkinan yang ada dengan langsung. Jika ada sesuatu yang menyebabkan tekanan batin meningkat, coba langsung dikonfrontasi. Kita bisa langsung dapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala. Masalah selesai, beban mental pun berkurang drastis.

Tapiii, kalo emang setelah dicoba dihentikan tapi overthinking tetap menjadi momok yang susah lepas dari keseharian kita, ga ada salahnya loh, datang ke psikolog atau pakar bidang ini. Kita bisa diberikan mental exercises atau tata cara untuk mendisiplinkan pola pikir agar selalu sehat dan ga hiperaktif. Jangan ogah-ogahan ya, kalo emang ke psikolog atau ahli bisa jadi cara yang efektif untuk mengakhiri overthinking. Jangan biarin diri kita larut dalam pola seperti ini karena jelas ga baik buat kesehatan mental dan fisik kita juga.

 

Social Distancing vs. Social Disconnecting: Beda dan Bahaya

Hai Teman DRYD,

Di update kali ini, kita mau ngomongin COVID-19 lagi nih.

Whaaat?! Yaaah, masa stupid covid lagi, Dok? Basi kali….”

Ga dooong. Pandemi kan masih jalan; dan selama pandemi masih belum dinyatakan kelar, suka ga suka topik satu ini pasti masih valid buat diperbincangkan. Bukan berarti sehabis pandemi kita bisa melupakan ya. Forgive but never forget. Kita bisa move on dan memaafkan semua bencana yang disebabkan pandemi tapi kita sama sekali ga boleh melupakan efeknya. Belajar dari yang terjadi. Ambil hikmahnya.

Emang ada, Dok, hikmah dari semua mimpi buruk ini?”

Adaaa. Kan saya udah pernah bilang, jika kita ga bisa mengubah sesuatu, yuk kita coba liat sesuatu itu dari perspektif yang berbeda. Tinggal “pelintir” aja cara kita melihat suatu hal. Bukan berarti denial, ya, ga gitu. Kita tetap harus terima kenyataan tapi sebaiknya kia ga cuma fokus ke hal-hal buruk aja. Ga sehat buat mental dan di saat yang sama juga ga sehat buat fisik.

Salah satu yang sempat menjadi tren beberapa saat lalu adalah kebijakan social distancing. Di titik ini, pastinya semua udah pada ngeh dong ya, tentang penjarakan sosial di masa wabah seperti ini. Kebijakan ini diterapkan supaya penyebaran virus dapat ditekan karena asumsinya orang-orang pada berada di jarak aman yang tidak mengakomodasi infeksi lebih jauh secara massal. Prinsipnya, dengan membatasi jarak interaksi antarindividu, penyebaran virus jadi terbatas dan ini bisa memberikan waktu bagi para pakar untuk menciptakan penangkal bagi penyakit yang ada, seperti vaksin misalnya. Pembuatan vaksin itu butuh waktu hitungan tahun, jadi dengan mengekang atau mengendalikan laju penyebaran virus, jumlah orang yang terinfeksi bisa tetap minimal dan bisa dibuat imun setelah vaksin selesai dibuat.

Secara konsep, kebijakan ini sederhana sebenernya. Kasi aja jarak yang cukup jauh antara kita dan orang lain. Tapi kenyataannya ga sesimpel itu. Selain kita ga bener-bener bisa menjamin bahwa partikel virus ga bisa sampe ke kita dalam jarak tertentu, efek psikologisnya jauh lebih besar lagi. Kenapa? Karena kita ga terbiasa untuk memberi jarak antara kita dan orang lain ketika berinteraksi. Naluri kita sebagai manusia adalah untuk terus membangun relasi dengan individu lain dan ini memerlukan kedekatan dalam hal jarak. Kita butuh interaksi fisikal dalam kadar yang relatif berbeda-beda tapi ini menuntut kita untuk berdekatan dengan orang lain. Akan sedikit sulit untuk kita bisa selalu berjauhan dengan dengan orang lain secara konsisten karena kehidupan sehari-hari kita pun bergantung dengan keberadaan orang di sekitar. Lalu kita pun mengurung diri dalam rumah selama berhari-hari, takut berhubungan dengan orang lain. Kita mengambil tindakan ekstrim yang akhirnya berbuntut pada pemutusan relasi dengan dunia luar. Alih-alih menjalani proses penjarakan sosial, kita pun tenggelam dalam yang namanya social disconnecting. Ini sangat, sangat ga sehat. Ga sehat buat fisik, ga sehat buat mental, dan ga sehat untuk kemampuan kita menjalani hidup sosial.

Kalo diliat sekilas, menutup diri dari interaksi sosial emang cukup praktis. Kita ga perlu membuat “jembatan” dengan dunia luar dan risiko tertular virus pun bisa tetap ditekan secara signifikan. Yang jadi masalah adalah ini ga membuat kita merasa lebih baik. Kondisi terkungkung dalam rumah tanpa bisa melakukan apa pun itu berpotensi besar membuat stres dan kalo dibiarin berlarut-larut bakal berujung pada depresi. Dan ga ada satu pun yang bisa dinikmati dari keadaan tertekan mental di tengah pandemi yang ga tau kapan bakal kelar. Selesai sampe sana? Tentu engga. Kalau kita depresi, kita butuh penanganan khusus. Yang artinya kita harus interaksi dengan pihak lain, para pakar kejiwaan misalnya. Ini berarti hasil akhir dari keputusan yang kita ambil sebelumnya untuk menutup diri dari dunia luar adalah negatif, yang artinya lagi adalah kenapa ga dari awal aja dipikir lagi semuanya?

Jangan gegabah, itu aja sih yang perlu ditanamkan. Penjarakan sosial ga serta-merta kita mengubah sifat menjadi antisosial. Yang salah itu bukan sosialnya tapi cara berinteraksinya. Ga dilarang kok berinteraksi sama tukang sayur keliling kompleks, misalnya, asal kita pake masker, dianya pake masker, kita cuci tangan setelah transaksi, batasi komunikasi oral, pake sarung tangan kalo perlu. Ga perlu denger kata orang lain. “Ih, si ibu mah, lebay. Saya kan ga kena corona….” Bodo amat yaaa. Ga peduli lu mau sakit apa engga, yang penting gue jaga diri sendiri aja dulu. Ga perlu memusuhi orang-orang dan bersikap defensif terhadap dunia luar. Kita cuma perlu membatasi, bukan menutup diri dari segala hal.

Naaah, sekarang penajarakan sosial jauh lebih longgar dengan penerapan new normal. Apa ini berarti kita bebas kembali seperti sebelum semuanya berubah jadi mimpi buruk sekarang? Ga jugaaa. Justru kita malah lebih wajib menyesuaikan diri. Karena sekarang dengan kenormalan baru ini, semua orang keluar dari sarangnya. Ini yang bikin kita harusnya lebih waspada dari yang udah-udah. Jarak interaksi masih harus tetap dijaga pada batas aman. Kontak fisik tetap harus ditekan ke level minimal. Berada di lingkungan dengan sirkulasi udara yang lancar dan baik tetap harus diutamakan. Durasi berinteraksi pun harus dijaga supaya ga berlebihan. Durasi, ventilasi, dan jarak adalah tiga kata sakral yang harus kita jadikan mantra untuk diingat di masa-masa seperti ini.

Kenormalan baru mengundan orang-orang untuk tetap berinteraksi sosial dengan cara baru. Ini bisa jadi faktor utama yang mendorong kita untuk memutus interaksi sosial secara total. Gimana supaya kita bisa menyikapi pandemi dan penjarakan sosial dengan lebih bijak?

Pertama, berhenti mempertanyakan kapan wabah COVID-19 berakhir. Tadi udah dijelasin, wabah kaya gini baru bakal kelar kalo vaksinnya udah ditemukan dan terbukti dan teruji efektif. Selama vaksinnya belum ada, yang kita perlu lakukan cuma menerima kenyataan bahwa hidup udah berubah. Ini bikin kita lebih legaan dikit dalam menjalani hidup sehari-hari. Karena kan kita ga bisa ngelakuin apa-apa soal ini, toh? Ya udah, dijalani aja dulu. Toh, juga para ahli bukannya diem-diem bae, nyante-nyante ngopi. Mereka juga muter otak kali, ga tidur berhari-hari buat mecahin satu masalah ini.

Kedua, stop bersikap seolah-olah pandemi ini adalah alasan bagus buat jadi anti sosial. Yang justru malah sebaiknya dilakukan adalah memandang situasi ini sebagai sebuah pertanda bahwa kita harus hidup lebih baik. Kalo mau dibawa ke sisi yang lebih sih, anggap aja wabah ini sebuah teguran dari alam bahwa kita selama ini udah terlalu dimanjakan dengan pola hidup yang sama sekali ga sehat. Dulu sebelum wabah ga kepikiran kan buat cuci tangan dengan sangat rajin? Ga kepikiran kan, buat rajin olahraga? Ga kepikiran kan, buat memperhatikan pola makan dan apa yang dimakan?

Ini sebenernya bisa jadi momen yang pas buat kita bisa introspeksi diri, menata ulang segala yang salah tentang diri kita. Bukannya malah ngambek dan ga mau interaksi sama sekali dengan sosial sekitar. Ada wabah ato engga, hidup sebaiknya terus berjalan.

Dan hidup memang tetap berjalan, ga peduli sama apa yang terjadi. Tinggal kitanya, mau adaptasi dan mengubah diri atau tenggelam dalam jurang depresi.