Bonding dengan Anak dengan Cara yang Benar

Teman DRYD,

Pasti pada familiar dengan jargon “Anak cowo deketnya ama mama, anak cewe ama papa”, kan? Ini tuh anggapan lazim di kalangan masyarakat luas dan emang pas diamati, ada kecenderungan demikian. Tapi sebenernya sejauh apa sih, anggapan ini validitasnya? Apa emang ada penyebab-penyebab khusus atau ini cuma kerangka pikir yang terbentuk berdasar landasan sosiokultural aja?

Naaah, ini nih, yang bakal kita bahas kali ini.

Kalo kita bicara tentang kedekatan antara orang tua dan anak, itu ga jauh-jauh larinya dari proses bonding. Ikatan antara orang tua dan anak terbentuk sejak dini, bahkan sudah dimulai sejak si buah hati masih ada dalam kandungan. Prosesnya sangat fundamental sifatnya dan sering banget ga bisa diobservasi secara langsung. Itu bisa disebabkan karena ada faktor familiaritas antara orang tua dan si anak, jadi semua terasa natural bahkan ketika sekalipun interaksi yang ada tidak secara sadar diarahkan pada pola pembentukan ikatan antara kedua pihak. Tapi saking fundamental proses ini, semuanya bisa berdampak pada tumbuh-kembang si buah hati sampai ke saat anak tersebut menginjak usia dewasa nanti. Mulai dari hal-hal kecil seperti cara kita berkomunikasi, berinteraksi, penggunaan kalimat dan intonasi, cara memberikan komunikasi fisik sampai ke hal-hal yang secara signifikan emang ditujukan untuk mendidik si anak seperti memberi masukan dalam hal akademis, memberi pemahaman mengenai tata krama dan sopan santun, menurunkan nilai-nilai budaya dan sosial. Semua ini adalah bentuk-bentuk bonding antara anak dan kedua orangtuanya. Seerat apa ikatan yang terbentuk pada prosesnya akan menjadi faktor penentu apakah si anak akan berkembang dengan relatif sempurna di kemudian hari.

Nah, jargon yang udah kita singgung sebelumnya akan menjadi penghambat besar dalam memberikan pengaruh positif pada anak kalo kita—sebagai orangtua—tidak mencernanya dengan saksama dan menyeluruh loh. Jangan sampai salah kaprah dan menelan jargon itu mentah-mentah tanpa dipelajari terlebih dahulu.

Pada dasarnya, anak itu paling deket sama ibunya, mau anak cowo, mau anak cewe, ketika mereka masih bayi. Ada basis kuat untuk hal ini. Di fase perkembangan sejak lahir hingga beberapa tahun setelahnya, si bayi akan sangat tergantung pada si ibu dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar, misalnya soal nutrisi. Anak bayi makannya apa? Ya air susu ibunya kan? Cuma ibu yang bisa menyediakan kebutuhan seprimer ini. Itu baru soal makan. Gimana perkara lain kayak ganti popok, mandi, ganti baju? Si ibu kan yang paling sering berperan. Emang sih, ada juga ayah yang menjalankan peran ibu, tapi persentasenya jauh lebih kecil daripada alternatif pertama—dan sifatnya pun lebih cenderung berdasarkan kasus aja.

Semakin si anak bertambah usianya, akan ada sedikit pergeseran. Maka jadilah jargon yang kita bahas di awal tadi: Anak cowo sama mamanya, anak cewe sama papanya. Apakah ini proses alami? Apakah ini bentuk adaptasi? Apa ini cuma soal kebiasaan? Yuk, kita cari tahu alasannya.

Kenapa Anak Cewe Lebih Deket ke Papanya?

Bener ga sih, anak cewe lebih deket sama papanya?

Di mata anak perempuan, figur seorang ayah adalah sosok yang bisa memberikan perlindungan untuknya dan juga lebih tegas. Ini bikin si anak cewe merasa lebih aman pas deketan sama papanya. Ini ga otomatis berarti ibu ga mampu melindungi anak cewe-nya lo ya. Cuma, anak perempuan bisa mendapatkan lebih banyak pelajaran tentang ketegasan dan ketangguhan dari ayahnya.

Faktor lain penyebab anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya adalah kecemburuan terhadap adik, terutama adik laki-laki. Kehadiran bayi baru yang belum bisa apa-apa akan menyedot fokus dan tenaga ibu. Otomatis, anak perempuan yang sudah lebih dewasa umurnya akan mencari sumber perhatian lain karena waktu ibunya sudah terpakai mengasuh sang adik. Dalam hal ini, ayahlah yang menjadi tempat mereka “melarikan diri”.

Riset oleh Jennifer Mascaro di Universitas Emory menunjukkan bahwa seorang ayah juga cenderung lebih mudah memberikan perhatian atau respons untuk anak perempuannya. Hasil riset tersebut membuktikan bahwa aktivitas otak ayah akan meningkat secara signifikan ketika melihat foto anak perempuannya ketimbang anak laki-laki. Secara tidak sadar, ini juga dapat diobservasi dari cara anak perempuan mendekati ayahnya ketika menginginkan sesuatu seperti mainan, misalnya. Si anak perempuan seolah mengerti bahwa ayahnya pasti akan memberikan respons positif terhadap keinginannya ketimbang ibu. Kecenderungan yang ada adalah seorang ibu kemungkinan besar akan mengabaikan rengekan anak perempuannya sementara seorang ayah akan segera mengabulkan permintaannya.

Kenapa Anak Cowo Lebih Deket ke Mamanya?

Anak cowo lebih mesra dengan ibunya, katanya.

Anak cowo akan memilih untuk mengadu atau lari ke ibunya ketika berbuat salah atau menangis karena sesuatu, bukan ke ayahnya. Ini bukan semata-mata soal manja loh, ya. Tapi si anak laki-laki merasa lebih bisa tenang dan diperhatikan oleh ibunya. Kecenderungan yang ada adalah seorang ayah mungkin malah akan menghakimi si anak cowo, bukannya menenangkan. Faktor segan dan takut juga ikut ambil bagian karena seorang papa biasanya punya ekspektasi yang terlalu besar untuk dipenuhi oleh si anak cowo: Laki-laki harus kuat. Padahal justru sebaliknya, kuat-tidak seorang anak tidak dipengaruhi oleh jenis kelaminnya. Anak laki-laki boleh aja kok ngerasa tidak berdaya dan membutuhkan bantuan atau dukungan. Sebaliknya, anak perempuan juga ga boleh kalah dari anak laki-laki, juga harus mandiri dan dependable. Ketegasan seorang ayah pun bisa diartikan sebagai sikap galak oleh anak laki-laki yang mungkin pada suatu waktu tertentu membutuhkan ayahnya.

Kecerdasan emosional seorang anak cowo biasanya terasah lebih baik ketika di dekat mamanya. Anak-anak cowo yang memiiki ikatan kuat dengan mamanya umumnya lebih terjauhkan dari masalah denga teman, tidak suka bertikai atau memilih cara kekerasan seperti berkelahi, tidak ikut-ikut geng sekolahan, tidak jatuh dalam pengaruh narkoba, dan terhindar dari perilaku seks bebas. Tentunya banyak faktor lain yang menentukan ini semua, tidak semata-mata hanya karena kedekatan dengan ibu. Tapi seorang ibu biasanya lebih mudah berkomunikasi dengan anak sehingga si anak laki-laki akhirnya mencontoh sifat ini untuk diterapkan di dalam hidupnya sendiri. Dengan skill komunikasi yang terlatih relatif dengan baik, anak cowo biasanya punya lebih banyak teman dan minim risiko mengalami stres.

Pola kedekatan dengan si ibu juga mempengaruhi anak laki-laki dalam hal berempati, menjauhkan diri dari bahaya, dan pengendalian emosi. Ada juga kemungkinan besar bahwa si anak akan lebih mampu menghargai perempuan.

Salahkah Pola Bonding Seperti Ini?

Ga ada yang salah, ga ada yang benar. Agak berisiko kalo kita mau membedah topik ini dari sudut pandang benar-salah. Yang sebaiknya dilakukan adalah menyudahi pola asuh dan pola didik yang terlalu berbasi gender. Jenis kelamin tidak memainkan peran dalam porsi pemberian kasih sayang dan perhatian—bahkan bukan sebuah faktor yang relevan untuk sekadar dipertimbangkan. Mau anak cowo, mau anak cewe, semua butuh kasih sayang dan apalah kita orang tua kalo bukan gudangnya kasih sayang untuk anak-anak kita, kan? Rasa kasih, rasa sayang, rasa cinta, dan perhatian itu bukan konsep berbasis gender jadi siapa kita mau menentukan anak cowo porsinya lebih sedikit dari anak cewe atau sebaliknya? Jangan pilih kasih, apalagi pilih kasih berdasar jenis kelamin si anak. Dampaknya bisa fatal dan mungkin ga bisa diperbaiki.

Jangan juga mengandalkan jargon-jargon umum tanpa mendidik diri sendiri sebagai orang tua. Siapa, aturan mana, hukum seperti apa yang menentukan anak mana deket ama ortu yang mana. Anak cewe dan ibunya bisa jadi duo maut yang sinkron di segala lini karena mereka berbagi jenis kelamin yang sama dan begitu juga anak cowo bisa jadi “partner in crime” yang koheren untuk ayahnya karena mereka bisa aja berbagi passion serupa—ini kalo emang mau bawa-bawa jenis kelamin ke perihal bonding, ya. Kalo bonding didasarkan pada jargon semata, efeknya bisa membuat anak punya jarak yang lebar dengan salah satu orang tua. Yang kita mau kan, semua anak kita bisa deket sama kita, kan? Bisa berbagi dengan kita, bisa bicara apa aja sama kita, bisa lengket dan harmonis relasinya dengan kita, kan? Iya, kan? Apa di antara Teman DRYD yang menginginkan sebaliknya? Engga, kan?

Nah, mending dari awal disadari deh. Kontrol jarak antara kita dan buah hati. Kalo dirasa interaksi antara anak cowo dan papanya kurang ato kalo anak cewe kayanya lebih sering hangout sama papanya, coba deh, mulai diliat lagi bagian mana yang harus dimodifikasi.

Semuanya harus rata. Anak cowo harus diajari empati dan cara berkomunikasi oleh ibunya sambil tetap diberikan pemahaman tentang menjadi kuat dan tegas oleh ayahnya dengan cara yang tepat. Anak cewe gimana caranya tetap menyerap nilai-nilai prinsipil dan mendapat perlindungan dari ayahnya tanpa mengecilkan peran si ibu yang bisa mewariskan ajaran tentang keperempuanan padanya. Semua harus balance.

Taaapiii, jangan juga terus lupa sama satu hal yang paaaling fundamental soal mengasuh anak: Setiap anak lahir dengan karakternya masing-masing. Ini juga yang bikin pola asuh berbasis gender dan jargon jadi ga efektif. Setiap anak adalah “special case”, pendekatannya seharusnya lebih ke berbasis individual dan sesuai porsi dan posisi. Kita sebagai orang tua harus siaga buat beradaptasi dengan karakter anak sambil tetap diarahkan. Harus fluid dan fleksibel. Harus adaptif. Harus siap dengan perubahan dan mau menerima hal-hal baru selain dari jargon atau quote tua yang belum tentu aplikatif di era modern ini.

Anak cowo atau cewe sama-sama butuh perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Mengajarkan Gemar Membaca Buku pada Anak itu Bermula dari Kita

Hai moms and dads,

Buku itu adalah jendela dunia. Karenanya, dengan membaca buku, artinya kita bisa mengintip dunia dan mengetahui banyak hal tanpa perlu berinteraksi langsung dengan dunia luar. Kita jadi tau New York tu kayak gimana atau Paris tuh gemerlapnya kayak apa tanpa perlu bener-bener dateng ke kota yang dimaksud. Kita bisa tau proses-proses ilmiah, geologis, biologis, astronomis, filosofis, sosiologis—macem-macem, cuma dengan membaca buku. Buku dan membaca menjadi senjata untuk membuka kunci yang mengekang wawasan dan pengetahuan kita mengenai banyak hal di dunia dan kehidupan ini.

Dengan bekal pengetahuan yang didapat dari membaca, anak pun bisa terbantu tumbuh-kembangnya. Banyaaak banget manfaat membaca buku tapi itu kita bahas ntaran deh ya. Sekarang saya mau nanya dulu; moms and dads, pada suka baca buku ga?

Sebagai orang tua, kita pastinya mau anak kita berpengetahuan luas, wawasannya mencakup berbagai macam bidang, ketrampilan dan keahliannya keasah tajam. Kita kepingin anak kita kualitasnya lebih baik dari orang tuanya karena—suka ga suka—salah satu parameter keberhasilan mendidik anak adalah ketika si anak memahami hal-hal tertentu yang orang tuanya mungkin ga pernah punya kesempatan buat dalami, kan? Nah, dengan membaca, si anak bisa membuka matanya untuk banyak kemungkinan yang ada di luar sana. Sementara kita, para orang tua, sibuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan rumah tangga, si anak bisa mengasah pengetahuannya dengan segala macam buku yang dia baca.

Permasalahannya, sejauh apa kita bisa meng-influence anak untuk mencintai buku? Apakah sudah maksimal cara kita mendukung dan mendorong anak untuk gemar membaca? Atau justru malah kita membiarkan buah hati kita tenggelam dalam dunia online di genggamannya dengan pemikiran “lebih baik sibuk dengan handphone daripada kenapa-kenapa”?

Kalo udah ada kesempatan dan jeda dari kesibukan, coba deh, moms and dads, berenti sebentar buat nanya ke diri sendiri: “Sudahkah saya menjadikan membaca sebagai habit saya sendiri?”

“Kenapa gitu harus banget nanya kayak gitu ke diri sendiri, Dok?”

Kalo udah soal mendidik anak, kayanya lebih efektif kalo kita ngasi contoh langsung deh. Anak suka ga responsif kalo kita cuma ngandelin perintah oral apalagi sambil dimara-marain ato dibentak-bentak. Biasanya suka mental omongan kita kan? Nah, kalo si anak udah sejak dini ngeliat orang tuanya demen baca buku, dia bisa menginternalisasi kebiasaan kita, lebih mudah untuk disuruh mencoba membaca, dan akhirnya nanti potensi doyan baca bukunya juga lebih gede.

Nah, moms and dads jangan cuma bisa nyuru anaknya baca yaaa. Kudu banget ngejadiin baca buku sebagai kebiasaan harian kita sendiri supaya anak bisa jadiin contoh buat dirinya sendiri. Pada prinsipnya, anak ga bakal suka baca buku kalo orang tuanya ga suka baca buku juga. Habit itu menular loh, ya. Bakal kesulitan mendidik anak untuk suka buku kalo kitanya sendiri ga punya interest sedikit pun ke objek terkait.

Ga berarti kita juga kudu ngubah sesuatu yang emang pada dasarnya bukan kita yaaa. Natural aja. Kalo emang ga bisa meng-influence anak buat suka baca, yaaa mungkin bisa dikasi suplemen lain yang bisa nutup “bolongan” itu. Pas nonton TV, misalnya; mungkin kita bisa memberi stimulasi dengan acara-acara pendidikan—yang tentunya juga sulit dilakukan pada masa ini mengingat kualitas acara televisi kita….

Tapi intinya begitu; jangan memaksakan kemauan kita, idealisasi yang ada di kepala kita kalo kitanya sendiri juga masih ga menerapkan itu. Bisa-bisa si anak ngeluarin jurus, “Mamah-Papah nyuru-nyuru baca, emang Mamah-Papah sendiri suka baca?” Gigit lidah kan kalo anak udah nge-skakmat kita kayak gitu?

Kadang juga kita suka tergiur sama tren buku diskon. Begitu ada info tentang cuci gudang dan diskon gede-gedean, kita langsung aja pengen nyomot. Tujuannya mau buat anak supaya bisa doyan baca. Tapi kan ya percuma, orang bekal interestnya aja ga ada kan? Mau beli buku diskonan satu truk juga kalo si anak kaga doyan baca, ga bakal berguna. Stop deh, ikut-ikut beli diskonan buku gitu. Ngapain dibeli kalo ujung-ujungnya buku-buku itu cuma jadi bagian dari dekorasi rumah? Yang ada buku-bukunya malah ngumpulin debu, rusak dimakan rayap, ancur karena lembap. Akhirnya apa? Dibuang. Diloakin. Dikiloin. Dijadiin pembungkus. Kan kasian. Nulis buku itu ga gampang loh. Jadi jangan disia-siain kalo emang ga bakal kepake ato berguna.

Membuat anak untuk gemar membaca buku itu tujuan mulia. Tapi tujuan itu akan lebih mudah tercapai kalo semuanya dimulai dari dasar, dari diri kita sendiri dulu. Jadikan membaca sebagai sebuah kebiasaan secara harian dan anak akan mencontoh. Mungkin ga sampai ke target yang kita kehendaki, karena toh anak juga punya interest-nya sendiri. Tapi paling engga, kita udah ngebiasain buah hati buat terbiasa memegang buku dan ga menganggap buku sebagai sebuah media kuno yang ga lagi relevan di zaman modern.

Menjadikan membaca buku sebagai sebuah kebiasaan juga membawa berbagai macam dampak positif kok.

Membaca bisa mengurangi risiko stres. Universitas Sussex di Inggris melakukan riset tahun 2009 yang hasilnya menunjukkan bahwa stres bisa dikurangi sampai 68%. Detak jantung melambat hanya dengan membaca buku selama 6 menit.

Membaca bisa meningkatkan kemampuan empati. Keith Oatley dan Raymond Mar, profesor emeritus psikologi Universitas Toronto dan psikolog di Universitas York—respectively, berpendapat bahwa kebiasaan membaca karya fiksi bisa menajamkan kemampuan individu dalam memahami orang lain.

Membaca bisa melatih kemampuan matematis. Selain melatih kemampuan bahasa, ketajaman matematis juga bisa ditingkatkan dengan membaca karena seorang individu yang gemar membaca buku memiliki daya serap teoretis dan konseptual yang lebih tinggi.

Membaca bisa memperpanjang umur. Riset oleh Universitas Yale di tahun 2016 menunjukkan bahwa membaca selama setidaknya 30 menit setiap hari bisa memperbaiki kualitas hidup seseorang yang akhirnya bisa memperpanjang usia.

Membaca bisa membantu menyehatkan tubuh. Menurut hasil riset Universitas Stavanger di Norwegia, anak-anak yang tidak gemar membaca kondisi fisik dan mentalnya jauh lebih buruk daripada mereka yang suka.

Membaca bisa membantu mengasah daya ingat. Ketika kita tidur, energi akan sepenuhnya tersalurkan ke otak. Jika sebelum tidur kita membaca buku, otomatis daya ingat kita akan semua informasi yang didapat sebelumnya juga akan lebih baik.

Membaca bisa membuat otak bugar. Saat membaca buku, otak akan berpikir lebih banyak. Imajinasi dan abstraksi ide akan lebih dinamis.

Memberikan sebuah buku anak akan jauh lebih baik daripada membiarkan buah hati sibuk dengan gadget yang layarnya memancarkan sinar biru. Ini klasik sih, masalah mana yang lebih baik: buku atau smartphone. Kita ga perlu mencari-cari keburukan dari sebuah gadget, gimanapun juga toh perkembangan teknologi bisa berdampak positif untuk kemajuan peradaban. Yang patut dipertanyakan di sini adalah apakah bijak membiarkan anak mengenal smartphone terlalu awal? Dari sebuah peranti kecil dalam genggaman tangan si buat hati yang mungil, arus informasi tidak akan bisa dibendung. Otaknya akan mengalami ketersendatan dalam berkembang karena hanya pasif menerima input dari smartphone-nya.

Buku jauh lebih sehat. Buku memberikan pengetahuan dalam skala besar tapi juga ruang lingkupnya bisa sedikit dikekang. Dengan keterbatasan akses ke informasi tambahan, si anak akan distimulasi untuk berimajinasi, mengolah sebuah konsep, dan melatihnya menyerap dan menyaring sesuatu sebelum diaplikasikan ke dunia nyata.

Free Trial Classes untuk Anak? Tabukah?

Hai Teman DRYD,

Kapan itu kita kan udah ngomongin gaya parenting 3 negara maju di Eropa kan ya. Dari pembahasan tempo hari itu, kesimpulannya bisa diambil kalo di ketiga model pola asuh di ketiga negara itu sama-sama menekankan free will, kemandirian, dan peningkatan kemampuan emosional anak-anak. Anak-anak di Denmark, Perancis, dan Jerman udah dikenalin sejak dini ke konsep-konsep menghargai diri sendiri, kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri dan menghadapi konsekuensi, kemauan untuk berdiri di kaki sendiri dan mencari solusi untuk sebuah masalah, dan menghargai orang lain serta norma-norma kesopanan. Hal-hal seperti ini juga bisa nih, ternyata, diobservasi dari cara orang-orang tua di negara maju dalam membiarkan anak-anak mereka memilih pendidikan yang mereka inginkan. Pastinya dong, peran orang tua masih tetap ada. Tapi itu lebih kepada pemberian pengarahan. Jadi para orang tua mengambil posisi sebagai sumber saran dan masukan aja. Selebihnya si anak dibiarkan menikmati sebesar mungkin kesempatan untuk mencoba segala macam opportunities yang ada dan tersedia.

Ini sedikit kontras dengan apa yang ada di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Pola pengasuhan di negara kita masih bercorak involved 100%. Si anak bukan lagi diarahkan atau diberi masukan. Mereka jadi disetir dan di-micromanage. Anak jadi ga punya ruang untuk memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan. Ga salah siiih, membantu memilihkan sesuatu untuk anak. Toh juga namanya anak-anak kan masih milih berdasar kesukaan, excitement, dan fun. Sementara di lain pihak kita orang tua mikirnya udah jauh perkara masa depan. Tapi kalo pola manajemen hidup anak kita dasarkan pada agenda pribadi, gimana dong? Kan jadinya kita ngegedein anak buat jadi versi kecil-nya diri kita sendiri. Si anak juga kan individu merdeka yang kemauannya mungkin berbeda jauh dari orang tuanya. Kalo kita maksain agenda-agenda tertentu, jangan heran nanti kalo ternyata hidup yang dia jalanin adalah sebuah penyiksaan ketimbang petualangan. Jangan heran nanti kalo kuliahnya lamaaa banget ato bahkan ga selesai. Jangan heran kalo nanti dia serba kesel sama kita dan hubungan kita jadi ga harmonis dengan dia.

Orang tua membantu anak menentukan pilihan hidup itu kewajiban. Sayangnya, banyak yang gagal membedakan “membantu” dan “mengendalikan”. Kita mau punya anak, berarti kita juga harus mau menerima kenyataan bahwa kita sedang membesarkan seorang manusia yang datang lengkap dengan free will, interes, pola pikir, dan hasratnya sendiri. Kita ga lagi ngegedein versi mini dari kita, bukan kloning kita. Tugas kita cuma memastikan si anak bertumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang aman, nyaman, kondusif, dan positif. Selebihnya kita cuma perlu memfasilitasi supaya si anak bisa sadar dan menemukan apa yang ia kehendaki dan kemudian realisasikan.

Cara Pandang Umum

Dengan konsep seperti yang dijabarkan di atas, yuk kita coba lirik kecenderungan orang tua kebanyakan yang sering banget nolak daftarin anaknya ke program free trial class. Kelas-kelas model begini biasanya disediakan untuk anak-anak usia TK atau playgroup dan bisa berjalan dalam 3 kali pertemuan atau bahkan 3 minggu.

Kelas – percobaan – gratis. Dari kata-kata penyusun istilah itu aja kita udah bisa nebak apa yang ngedorong orang tua ogah daftarin anaknya.

Di pikiran kita, yang namanya kelas itu adalah ruangan tempat proses belajar mengajar antara murid dan guru berlangsung kan ya. Nah, bayangannya adalah sebuah sekolah formal yang didukung oleh kurikulum formal dan valid.

Di pikiran kita, yang namanya percobaan itu temporer. Setelah masa uji kelar, udah deh ga lanjut. Signifikansi program percobaan jadinya gimana? Kan gitu mikirnya.

Di pikiran kita yang gratis-gratis itu pasti kualitas rendah karena otak kita udah kadung keprogram buat mikir kalo kualitas tinggi itu berbanding lurus dengan harga. Kalo bisa, semakin mahal berarti semakin baik.

Tanpa disadari, ketiga pola pikir ini bikin kita ngerasa ogah buat nyoba kelas-kelas gratis dari bimbel-bimbel yang ada. Dan kalo dipikir-pikir masuk akal juga sebenernya. Siapa juga yang mau anaknya duduk dalam program kelas tambahan yang temporer dan diberikan secara cuma-cuma, kan? Tapi ngebiarin opini semacam ini berlarut-larut juga berarti kita membiarkan kesempatan buat anak bisa ngembangin potensinya lebih dini terbang gitu aja. Kenapa? Yuk kita bahas manfaat kelas percobaan itu apa aja. Kelas percobaan itu intinya mempersiapkan anak untuk periode pendidikan yang lebih serius lagi di masa depan. Kurikulum yang diberikan di kelas percobaan ga jauh beda dari sekolah formal; jadi, ini yang perlu diluruskan: Kelas percobaan itu bukan tempat penitipan anak atau sesuatu yang buang-buang waktu.

Manfaat di Segala Sisi

Tapi Dok, kan katanya di Eropa sana anak-anak ga harus nyoba belajar formal terlalu dini.”

Emang. Kan kelas percobaan itu sifatnya pengondisian dan fungsinya buat nyari tau bakat dan minat sejak dini. Kurikulum mungkin sama dengan sekolah formal, tapi aplikasinya bisa aja dikemas dengan cara berbeda, kan? Lagian kan ini modelnya suplemental gitu, jadi anak ga kaget dengan pola akademis sebetulnya nanti. Paling engga, dengan mendaftarkan anak ke kelas percobaan, kita bisa tau kemampuan interaksi sosial dasarnya kek gimana. Karena, coba deh, bayangin, hal terberat buat anak-anak ketika pertama kali masuk sekolah itu pasti membangun relasi dengan teman-teman sekelas dan guru. Dia harus keluar dari zona nyaman di rumah, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan di saat yang sama harus menyerap materi ajar di papan tulis. Dengan kelas percobaan, paling tidak si anak udah dilatih buat berada di antara orang-orang yang bukan komponen keluarganya.

Dan karena kurikulum yang diterapin ga jauh beda dari sekolah formal, kita tau kalo kualitasnya juga ga main-main sekalipun programnya cuma-cuma. Program kelas percobaan ini dikasi gratis juga kan karena menguntungkan si bimbel, guys. Mereka toh butuh anak didik supaya bisnis bisa jalan toh? Nah, harapannya itu program kelas percobaan gratis ini tuh, bisa jadi media promosi dan pengenalan jasa pada calon-calon klien. Ditambah lagi nih ya, program percobaan kaya gini nih, bisa banget ngebantu bimbel buat mengevaluasi kemampuan anak mengikuti kurikulum yang tersedia jadi nantinya penempatan level belajarnya bisa efisien dan efektif. Kalo kita asal daftarin anak ke bimbel langsung masuk ke level intermediate, misalnya, sementara si anak bahkan belum memiliki penguasaan materi dasar, ya kan jadi masalah lagi nantinya.

Dari sisi anak juga lebih besar manfaatnya.

Pertama, bimbel bisa memperkenalkan kurikulum pada orang tua dan anak dan kita bisa mempelajari apakah program terkait memang benar sesuai dengan kemampuan si anak dan minatnya. Kita bisa liat nih, misalnya, “Oh, anak saya agak lemah di bidang matematika tapi ternyata bimbel ini fokusnya ke pengasahan kemampuan berhitung.” Nah, kita bisa ambil strategi yang mungkin relevan. Entah mungkin bisa meneruskan program dan mendaftarkan anak secara resmi ke bimbelnya. Atau mungkin berpikir biar nanti sekolah formal yang meng-handle sisi kelemahan si anak jadi sekarang cabut dulu dari bimbelnya dan cari program lain yang mendukung minat anak.

Kedua, seperti yang udah sempet disinggung tadi, mendaftar ke program kelas percobaan tuh, bisa membantu anak beradaptasi dengan lingkungan sosial-akademis dengan lebih natural. Anak bisa terbiasa menghabiskan beberapa jam ga bareng orang tuanya di rumah aja jadi nanti pas beneran masuk sekolah, dianya ga kaget dan harus beradaptasi dengan berbagai macam perubahan di saat yang sama. Ga semua anak loh, punya kemampuan adaptasi yang fleksibel. Ada yang mungkin karena ga sanggung mengimbangi perubahan yang datang secara sekaligus malah terganggu proses belajarnya.

Ketiga, anak bisa belajar tentang kedisiplinan lebih awal. Mungkin program kelas percobaan ga sama persis dengan sekolah. Tapi pasti ada serentetan aturan yang kemudian diimplementasikan kepada para peserta belajar. Karena udah dibekali dengan pengalaman berurusan dengan jadwal dan urutan kegiatan, anak bisa lebih udah mengikuti aturan sekolah yang pastinya lebih strict dan di rumah pun bisa mempraktikkan apa yang sudah dia dapatkan.

Dari sisi orang tua juga ada hal yang bisa didapatkan. Karena sifatnya gratis, orang tua bisa leluasa memutuskan untuk tidak menggunakan jasa satu bimbel tanpa ada konsekuensi finansial apapun. Tentunya ini semua setelah melakukan observasi terhadap respons si buah hati terhadap program yang ada ya. Selanjutnya, orang tua juga bisa memberikan masukan kepada pihak penyelenggara setelah masa percobaannya selesai. Kritik dan poin-poin evaluasi bisa dilancarkan agar program kelas percobaan yang disediakan pihak bimbel bisa mengoreksi diri.

Yang Perlu Dipersiapkan

Kita sebagai orang tua ga boleh gede gengsi cuma karena fasilitas yang dikasi itu gratis. Kalo ada di antara Teman DRYD yang punya pola pikir “mahal pasti bagus”, coba deh ilangin. Jaman sekarang udah ga relevan punya pola pikir kayak gitu. Nyobain kelas gratis ga bikin prestige turun, sumpah. Lah, buktinya program kelas percobaan gratis justru banyak diadakan oleh bimbel-bimbel ternama. Sekarang, kalo bimbel terkenal dan punya nama aja mau ngasi gratisan, siapa kita nolak-nolak, kan?

Taaapiii, jangan mentang-mentang gratis, semuuua kelas percobaan dicobain. Bukannya ga boleh sih, tapi, pertama, kasian anaknya. Masa dari pagi sampe sore ngabisin waktu di luar rumah? Kan si buah hati juga perlu ada di sekitar kita selama masa pertumbuhan. Kita aja yang orang dewasa bisa bosen dengan rutinitas, apa lagi anak-anak. Terus, si anak jadi ga punya fokus. Pagi-siang, les membaca. Siang-sore, les berhitung. Sore-agak malaman, les musik. Padet banget gitu, mainnya kapan? Lebih kacau lagi kalo si anak udah masuk sekolah. Sebagian besar harinya diabisin di sekolah. Sisanya di les-lesan. Selain ga efisien dan terlalu menyedot energi, kita ga bisa liat ini anak potensinya di bidang apa. Si anak pun keteteran meng-handle semuanya tanpa sempat mengasah satu keahlian yang dia emang punya ketertarikan.

Nah, kalo udah dapet satu program yang dinilai cocok sama anak, apa nih yang kudu dilakuin?

Pertama, pelajari dengan mendetail kurikulum yang tersedia, sarana dan prasarana, dan aturan yang ada di satu lembaga itu. Lingkungannya harus aman, harus nyaman, harus bersahabat dengan anak-anak. Staf-staf dan pengajar harus orang yang paham berkomunikasi dengan anak-anak. Kurikulumnya harus sejalan dengan target minat dan fokus anak. Pokoknya semuanya harus serba kondusif demi anak.

Kedua, kita kudu proaktif tanya ini-itu ke semua elemen di bimbel itu, gurukah, stafnya-kah. Semuanya. Bodo amat dikira ceriwis dan nyinyir. Gratis ato engga, kita sebagai orang tua punya hak sepenuhnya buat tau seluk-beluk tentang bimbel penyelenggara. Dan kalo pihak penyelenggaranya fair dan paham aturan main, pastinya ga keberatan ngasi jawaban untuk semua pertanyaan kita.

Ketiga, balik lagi ke fokus si anak. Pertimbangkan tiga hal dari anak: potensi, minat, dan kemampuan. Setelah itu, bandingkan dengan rancangan kurikulum bimbel, apakah sudah tepat dan mampu menyokong ketiga poin itu?

Keempat, pahami kategori program belajar yang akan diambil. Ada lembaga pendidikan yang menyediakan program-program belajar akademis, ada juga yang bidangnya berat ke segi seni. Bisa nih, kita pertimbangin buat daftarin anak ke kumon kalo emang potensinya gede di bidang akademis. Kalo si anak nunjukin minat besar ke dunia seni, kelas mewarnai atau menggambar atau mungkin balet bisa dijadikan alternatif. Anak-anak belajar robotika juga ga tabu loh. Malah bisa mengasah rasa ingin tahu si anak bahkan, bagus buat tumbuh-kembang intelijensinya nanti.

Minimalisasi Intervensi

Jadi gitu. Kita sebagai orang tua harus banget ngebiarin anak memilih sendiri bidang minat dan fokusnya. Kita ga perlu intervensi, toh juga kelas-kelas percobaannya masih gratis. Ga ada konsekuensi apapun kok, kecuali mungkin kita kudu ngorbanin sedikit waktu buat ngajak anak keluar dari rumah. Gapapa, kan manfaatnya juga dobel-dobel. Jangan intervensi apa-apa ya. Anak maunya apa, kita turutin dulu soal ini. Oh, mau belajar ngitung cepet? Yuk! Oh, mau belajar nari muter-muter pake rok tutu? Yuk! Oh, mau belajar bikin robot? Yuk! Anak-anak biasanya fokusnya ilang secepet minatnya berubah kok. Biarin aja dulu dia sadar dan menemukan apa yang menjadi passion-nya. Intinya mah, yang penting dia bisa kenal dunia pendidikan dari awal, belajar disiplin lebih dini, bisa paham arti kemandirian sejak kecil, dan mengenal konsep free will secara fundamental.

COVID-19 dan Dilema Mengajak Anak Bermain di Kala Pandemi

Hai moms,

Bermain adalah kegiatan penting untuk anak-anak yang masih dalam periode tumbuh-kembang. Penting bagi kita sebagai orang tua untuk bisa mengajak dan memfasilitasi kebutuhan bermain si anak agar pertumbuhan fisiknya sempurna dan perkembangan otaknya maksimal. Menikmati kegiatan bermain adalah salah satu hak mendasar seorang anak, seperti yang juga sudah ditetapkan oleh PBB. Buat kita orang dewasa mungkin bermain itu adalah hal yang sepele dan remeh. Tapi pada dasarnya semua manusia yang hidup di dunia adalah homo ludens, makhluk yang suka bermain. Saat dewasa pun kita pasti melakukan kegiatan bermain tapi mungkin cara dan jenisnya sudah berevolusi karena manusia dewasa memiliki tuntutan, tanggung jawab, kewajiban, gaya hidup, dan energi yang berbeda dari anak-anak. Maka bermain pun berubah menjadi traveling, berolahraga, atau melakukan hal lain yang melibatkan tubuh dan indra.

Bermain adalah salah satu hak dasar anak-anak

Karena cara pandang kita berbeda, mungkin kita sering menganggap enteng kegiatan bermain untuk anak dan membiarkan si anak cenderung diam dan pasif. Ini sebenernya ga disaranin ya, moms. Psikoanalis Sigmund Freud berpendapat bahwa ada nilai-nilai terapeutik yang bisa diambil dari kegiatan bermain. Dengan merangsang si anak untuk aktif bermain, kita bisa mencegah potensi kemunculan ketidakseimbangan psiko-emosional dalam dirinya. Dengan bermain jugalah si anak bisa menetralkan situasi stres, rasa cemas, rasa takut, serta meminimalisasi kemungkinan depresi. Ini penting supaya kelak ketika si anak dewasa, ia bisa mengatur keadaan psikisnya sendiri dengan lebih efektif.

Bagi orang tua, meluangkan waktu setiap hari untuk berinteraksi dengan anaknya akan memungkinkan kita untuk membentuk suatu ikatan emosional yang kuat dengan si anak sehingga ia bisa menganggap kita teman untuk berbagi dan berkembang menjadi individu matang yang terbuka. Pastinya ga mau dong, moms, anaknya jadi orang yang tertutup rapat dan nyimpen banyak banget rahasia dari kita orang tuanya sendiri?

Bermain pun punya manfaat sosial yang besar untuk perkembangan mental si anak. Sering bergaul dengan teman dan menghabiskan waktu bermain bersama anak-anak lain akan membuat anak paham bagaimana cara berinteraksi yang lebih efisien dengan individu lain. Kegiatan bermain yang intens dan reguler akan membantu mengasah soft skills anak jadi nanti ketika dewasa, ia tahu betul apa itu fairplay, persaingan sehat, bagaimana mencegah diri merasa iri, dan bisa memupuk rasa percaya diri yang maksimal.

Membiarkan anak bermain bisa membantu mengasah soft skills

Kita sebagai orang tua mungkin lebih sering berpikir bahwa pendidikan formal dari sekolah akan cukup untuk memberi anak bekal untuk dewasa nanti. Tapi kita luput mempertimbangkan bahwa sesempurna apapun sekolah dan kurikulum yang ditawarkan, ada beberapa hal yang tidak bisa diajarkan bagi kebaikan si anak di masa depan.

Dan kita sebagai orang tua juga sering lengah dan kebablasan dalam memanjakan anak. Anak usia TK udah dikasi gadget. Iya, taaau; pasti sebel juga denger anak pulang sekolah langsung komplain, “Ma, temenku dibeliin iPhone sama mamahnya!” Terus kita panas dan mau juga ngasi anak barang mahal. Ato mungkin karena cape kali ya, didesak mulu sama anak buat beliin handphone. Alasan lain orang tua membelikan gadget untuk anaknya mungkin didasari oleh alasan keamanan. Mungkin kita takut kalo nanti dia kesasar apa gimana, bisa langsung telepon ke rumah dan kita akan segera memberikan pertolongan. Semua alasan ini valid dan legit. Ga ada orang tua yang ga mau anaknya seneng, aman, nyaman, terpenuhi semua kemauannnya. Tapi kita juga kudu banget jeli memilah mana yang kemauan dan mana yang kebutuhan. Gadget itu stagnan ya, moms. Benda elektronik itu merangsang visual anak tapi mematikan sensor-sensor lain—yang juga seharusnya distimulasi supaya perkembangannya benar. Anak umur 1 sampai 5 tahun harusnya aktif bergerak, berinteraksi dengan sesama manusia, banyak berkomunikasi, dan bonding dengan teman sebaya, bukannya diem di sofa mantengin Instagram. Ga heran kalo jaman sekarang pengetahuan dunia pop anak umur setahun bisa lebih luas daripada orang tuanya sendiri. Jangan sampe ya, kita dapet update artis mana yang cerai atau selingkuh dari anak kita sendiri yang seharusnya masih ngubek-ngubek tanah ato ngejer-ngejer kucing. Jangan sampe dia terpengaruh YouTuber paling kaya se-Indonesia trus pengen dibeliin mobil balap impor sementara kita mau beli bajunya aja kudu mikir sisa duit cukup ngga buat makan. Jangan sampe ya, anak badannya membesar ga terkendali karena kerjanya makan melewati batas normal dan ngemil depan TV setiap hari. Tuh, yang gitu-gitu yang kudu dihindari. Dan yang gitu-gitu sebenernya bisa kita cegah seandainya kita mau proaktif memberikan stimulasi agar anak mau bermain, entah bersama kita, entah dengan teman-temannya di luar sana.

Tapiii, ada lagi nih hal lain yang bikin semuanya agak riweuh. Kan lagi pandemi ni ya, gimana dong caranya supaya si anak bisa tetap aktif? Pandemi emang merepotkan dan kita harus beradaptasi dengan cara mengadopsi pola asuh new normal. Kalo dipikir-pikir, apa sih yang ga dibikin repot sama pandemi kan ya? Pola hidup, ga cuma pola asuh, harus diperbarui supaya kita tetap bisa menjalankan hidup dengan relatif normal sekalipun wabah masih belum reda.

Betul, mengajak anak bermain outdoor di tengah pandemi memang ribet. Tapi bukan ga mungkin. Masalahnya ada di kita; apakah kita mau telaten dan sabar? Anjuran umum memang mengatakan bahwa sekalipun New Normal udah diberlakukan, sebaiknya tetap di rumah aja kalo ga ada keperluan banget keluar rumah. Tapi itu ga berarti kita ga boleh ajak anak keluar sama sekali. Di teras rumah juga udah lumayan. Ato kalo ada halaman cukup luas, ajak deh anak main di sana.

Ato kalo emang nih, kita takut banget ngajak anak keluar dari rumah, ada sih beberapa tips agar anak tidak bosan di rumah saat pandemi. Cuma nih ya, kita juga ga boleh menutup mata dari kebutuhan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan di luar rumahnya. Membiarkan anak lama di dalam rumah tanpa diberi kesempatan sedikit pun untuk mendapatkan stimulasi terhadap indra-indranya dari lingkungan eksternal itu juga bisa jadi pisau bermata dua. Iya, si anak bakal lebih terjamin keamanannya karena kita bisa 24 jam memonitor situasi dan kondisi. Tapi di saat yang sama dia ga sempat mencerna apa itu dunia luar dan ketika nanti sudah agak besar, si anak akan dipenuhi rasa cemas ketika harus melangkah keluar dari pintu depan rumah. Bayangin gimana repotnya kalo dia udah masuk masa sekolah. Masa kita juga kudu ikut duduk di kelas? Kita juga harus mempersiapkan si anak dengan memberi bekal pengertian bahwa dunia itu lebih dari sekadar apa yang dia observasi di dalam rumah. Wawasannya bisa meluas. Rasa percaya dirinya bisa terbentuk. Rasa sosialnya bisa dipupuk.

Dan iya, sebaiknya tetap diusahakan supaya si anak sempat berinteraksi dengan anak lain—selain saudaranya, kalo ada. Dengan cara ini, dia bisa belajar toleransi dan memahami bahwa dunia bukan miliknya sendiri, bisa lebih mandiri, dan mengetahui cara yang tepat untuk berempati. Enggak, kita ga perlu beli masker bayi banyak-banyak. WHO sendiri udah netapin kalo bayi dan anak-anak di bawah 2 tahun jangan penutup wajah, apapun bentuknya, mau face shield, masker kain, masker dokter, masker N95, masker bengkoang, masker spirulina…. Enggak, ga usah. Nanti kalo ada yang ngiklan jualan masker yang katanya bisa buat bayi, jangan ngiler ya, moms. Saya bukannya mau sabotase jualannya orang nih. Tapi emang ga dianjurin anak bayi pake masker.

Amankah masker bayi?

Lah, kenapa, Dok? Kan bisa buat ngalangin partikel virus di udara.

Kalo itu iya, masker mungkin bisa jadi alat pencegahan. Tapi yang perlu diinget di sini adalah bahwa saluran pernapasan anak kecil itu masih saaangat kecil. Jadi dia butuh akses ke oksigen tanpa gangguan. Masker itu kan kudu ketat dan sebisa mungkin menutup akses langsung ke udara kan, sementara si anak sistem pernapasannya belum mampu mengakomodasi keterbatasan asupan oksigen. Anak bayi juga belum bisa bereaksi ketika jalan udarannya terhambat jadi ga bisa ngelepas masker sendiri kalo sesak napas. Anak-anak yang lebih gedean mungkin bisa langsung copot tapi itu memperbesar risiko kontak kulit wajah dengan tangan, secara kan mereka belum paham cara melepas masker yang benar. Jadi serba salah ni; pake masker kudu ketat, bikin sesak, ga pake masker, risiko infeksi jadi tinggi. Jadi gimana ngatasinnya supaya anak bisa tetap enjoy diajak main ke luar?

Kitanya yang kudu waspada. Kitanya yang kudu maskeran sama cuci tangan bersih-bersih. Kitanya yang harus membantu membatasi potensi infeksi pada anak karena sistem imun bayi dan anak-anak juga masih sangat rentan. Ga boleh lengah; malah mungkin harus jauh lebih teliti ketimbang ketika si anak ada dalam rumah. Kita harus banget mengedukasi diri soal personal hygiene anak. Bayi mungkin pasif ya, bisanya cuma diem dalam gendongan kita jadi mungkin sedikit lebih mudah melindunginya.

Ajarkan kebersihan sejak dini

Cukup awasi jangan sampai ada kotoran yang menempel pada bagian tubuhnya. Yang repot itu anak-anak yang udah mulai bisa jalan apalagi yang udah mulai bandel lari-larian sana-sini. Coba mulai perkenalkan si anak dengan kebiasaan mencuci tangan pake sabun setiap abis dari luar rumah. Supaya efektif, kita kasih contoh. Jadi jangan kitanya yang males, bisanya cuma nyuru doang. Ajarkan si anak secara mendetail: kapan aja harus cuci tangan, sabun cuci tangannya yang mana, bagian mana dulu yang dicuci, step-nya apa aja, berapa lama nyabunin tangannya, gitu-gitu. Harus sabar juga. Karena kan namanya anak-anak, yang diliat pasti sisi fun-nya aja.

Terus, peratiin juga durasi bermain anak. Semakin lama di luar rumah pastinya semakin tinggi terekspos berbagai macam kuman dan kotoran. Seengganya, biarin anak bermain selama 2 jam setiap hari, 1 jam di dalam rumah, 1 jam di luar.

Perhatikan durasi

Abis itu, mandiii, yaaay! Sekalipun mainnya cuma di dalam rumah, ada baiknya juga memperkenalkan sistem penjadwalan kepada si anak sejak dini supaya dia bisa belajar disiplin dan menghargai waktu. Nanti seiring pertambahan usia, boleh kok, menambahkan jam bermain.

Yang berikutnya untuk diperhitungkan adalah ventilasi udara. Ini khususnya berlaku untuk ketika si anak bermain di dalam ruangan ya, moms. Pastikan sirkulasi udara dari dan ke dalam ruangan bermain terjaga agar udara senantiasa bersih dan sehat untuk dihirup. Ventilasi yang tidak memadai tidak akan bisa memfasilitasi pertukaran udara sehingga kemungkinannya lebih besar untuk debu dan partikel kuman tetap berada di dalam ruangan lebih lama. Bukan berarti ini tidak berlaku dengan area bermain outdoor.

Sirkulasi udara yang baik juga penting

Jangan biarkan anak bermain di lokasi yang terlalu lembap atau terlalu kering. Area yang terlalu lembap adalah ladang subur untuk perkembangbiakan bakteri dan hal-hal menakutkan lain. Sementara area yang terlalu kering selain membuat udara terasa panas, debu lebih mudah terbang dan hinggap di saluran pernapasan.

Nah, buat yang anaknya doyan banget main sama temen-temennya, ajarin deh aturan jarak aman social distancing menurut who.

Beri pengertian tentang social distancing

Jarak aman minimal itu 2 meter, tapi mungkin anak-anak akan kebingungan kalo kita suruh jauh-jauh 2 meter dari anak lain. Jadi mungkin moms bisa kasih contoh yang lebih mudah supaya dia ngerti. Misalnya mungkin dengan memberi jarak dua rentang tangan si anak. Ato buat ibu-ibu yang hobi ngobrol sore-sore sama tetangga, bisa terapkan juga metode penjarakan ini. Ga perlu ngerasa ga enak ato takut dianggap antisosial atau sombong. Orang lain juga kalo emang paham situasi dan kondisi juga males kali deketan.

Beradaptasi dengan mencari tahu tentang cara mengasuh anak saat pandemi covid-19 itu sudah merupakan sebuah kewajiban di era New Normal ini. Kita ga bisa lengah dan menurunkan tingkat kewaspadaan gitu aja meskipun peraturan udah lebih longgar. Tapi di saat yang sama kita juga harus memperhitungkan kewajiban kita untuk memenuhi hak anak untuk menikmati kegiatan bermainnya. Bermain sambil waspada itu masih memungkinkan untuk dilakukan asal kita paham regulasi dan aturan serta memilah mana yang efektif dan efisien dan mana yang sekadar bersumber dari ketakutan personal kita sebagai orang tua.

Memahami Faktor Krusial Komunikasi Efektif dalam Keluarga

Hai Teman DRYD,

Setuju ga kalo saya bilang komunikasi itu salah satu hal dalam hidup yang mudah dimengerti tapi sulit untuk dipraktikkan? Ga setuju? Coba, berapa banyak konflik rumah tangga yang seharusnya bisa diselesaikan bahkan sebelum kemunculannya kalau saja kedua belah pihak bisa membangun komunikasi yang baik? At least salah satu aja dari kedua belah pihak mau memulai membuka jalur komunikasi, api prahara sebetulnya bisa diredam sebelum membesar jadi kebakaran. Banyak yang bisa jadi penyebab komunikasi stagnan. Tapi yang paling kentara, yang paling umum, dan yang paling-paling-paling nyebelin adalah ego. Kalo ego udah bicara, selogis apapun satu manusia, pasti berubah jadi individu paling susah untuk berbicara dan diajak bicara. Rumah tangga itu kan, persatuan 2 kepala ya. Nah, 2 kepala ini punya 2 manusia yang tentu saja berbeda karakter. Teman DRYD bisa aja berkilah, “Engga ah Dok, ga beda. Saya nikah kan karena banyak kesamaan sama pasangan.” Hooh, iya. Tentu saja demikian. Tapi sadar ga, mau sesama kayak apapun sama pasangan pasti ada perbedaan fundamental yang ada di antara kalian? Oh, dua-duanya seneng musik. Udah ngebahas genre musik favorit belum? Penyuka musik klasik akan punya persepsi tertentu terhadap musik pop cheeky dan easylistening yang disukai pasangannya. Oh, dua-duanya hobi nonton, udah kroscek genre kesukaan masing-masing? Penggemar berat film komedi pasti ogah nonton film horor kesukaan pasangannya. Kalo mau pun, pasti dengan sangat berat hati; nonton cuma gegara ga enak ati mau nolak.

Nah, itu dia yang saya maksud dengan perbedaan fundamental. Perbedaan fundamental inilah yang seringkali jadi sumber konflik dalam rumah tangga. Ada tipe orang yang mau pasangannya mengerti karakter dasar dirinya. Ada yang mau kompromi dan ada juga yang menekan sangat keras karakter dan kepribadiannya sendiri demi menghindari menyulut drama. Semua ini, Teman-teman saya sekalian, hanya bisa terakomodasi dengan efisien jika komunikasi efektif dalam keluarga tercipta. Dengan mengkomunikasikan karakter pribadi pada pasangan, hilang sudah kemungkinan munculnya rasa kesal karena pasangan ga ngerti maunya kita apa, potensi depresi karena kudu jadi pihak yang selalu ngalah, atau meminimalisasi keterbatasan kemampuan manajemen konflik.

Seringnya nih, kita punya kecenderungan buat menghindar dari konflik. Enggak, saya ga bilang kita kudu cari masalah terus-terusan. Cape juga kali kaya gitu. Tapi kadang konflik itu mau ga mau kudu pecah. Dan ini proses yang sebetulnya menguntungkan kalau difasilitasi dengan baik. Konflik itu bisa jadi bentuk komunikasi juga, jadi jangan ditekan supaya ga meledak tapi di-manage. Pahami cara menyalurkan ide dan pokok permasalahan dengan selugas mungkin, ga usah pake metafora apalagi pribahasa. Pelajari cara menuntaskan rasa marah pada pasangan dengan cara yang lebih baik; ga pake ngambek-ngambek penuh kode keras, ga pake jerit-jerit, ga pake ngeluarin seisi kebun binatang dari mulut, ga pake jambak-jambak, cakar-cakar, gigit-gigit, gegulingan, pencak silat, karate, kayang, daaan segala macam lainnya. Marah pada pasangan itu ga salah kok. Ya wajar dong…. Namanya juga 2 manusia berbeda yang disatukan dalam ikatan resmi. Isi kepalanya beda-beda. Perspektif yang dipake beda-beda. Pola menyusun solusi beda-beda. Cara memahami subjek atau topik beda-beda. Dan perbedaan itulah yang sering banget jadi penyulut pertengkaran.

Komunikasi Efektif Dimulai dari Orang Tua

Cara berkomunikasi dengan anak itu harus diperhatikan

Pemahaman mengenai komunikasi efektif dalam keluarga berdampak langsung ke cara mendidik dan mengasuh anak. Sekarang gini, gimana coba mau berkomunikasi dengan anak dengan cara yang baik kalo berkomunikasi dengan pasangan sendiri aja susah? Ngomong sama bini, intonasinya dingin. Ngomong sama laki, nadanya tinggi. Kebayang ga, jadi anak di dalam rumah yang penuh huru-hara kayak gimana rasanya? Gimana anaknya ga lebih betah di luar sana main sampe seminggu ga pulang-pulang. Diinget lagi coba deh, pola pengasuhan yang baik itu adalah ketika orang-orang dewasa di sekitar si anak mampu menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan menyehatkan sisi mental dan fisik bagi tumbuh-kembang. Iyaaa, bisa dipahami kalo kita berargumen, “Namanya juga manusia, Dok. Kan kadang suka luput.” Itulah pentingnya komunikasi yang baik antara kedua orang tua; cara menyampaikan isi kepala dan emosi sebaiknya dimutakhirkan supaya ketika nanti konflik muncul, dampaknya ke anak bisa diminimalkan kalo ga ditiadakan sama sekali.

Tipe Komunikasi

Tipe komunikasi

Nah, komunikasi itu secara umum ada 2 tipenya: verbal dan nonverbal. Dalam praktiknya, komunikasi verbal adalah jenis komunikasi yang paling dominan dalam pola hubungan apapun. Kenapa? Karena sebuah ide lebih mudah disampaikan dengan metode ini. Dengan cara komunikasi verbal, pihak yang dituju diharapkan bisa menangkap ide-ide atau topik-topik secara langsung dan mencerna situasi. Jenis komunikasi ini bisa dilakukan baik secara lisan maupun tulisan. Apapun yang kita baca dan apapun yang kita dengar adalah contoh nyata usaha komunikasi verbal yang dilakukan pihak lain.

Sementara itu, komunikasi non verbal meliputi hal-hal yang sifatnya interpretatif, subtil, dan implisit. Bentuk komunikasi ini sebetulnya sering secara ga sadar kita lakukan karena kecenderungannya yang lebih menuntut kepekaan emosional dan ketajaman intuisi. Ini juga yang sering bikin komunikasi tipe ini ga efektif. Satu pihak mungkin terlalu sering menggunakannya sementara pihak lain kurang mampu menerjemahkan sinyal yang ditangkap atau malah ga bisa menangkap sinyal itu sama sekali. Bentuk komunikasi seperti ini meliputi elemen seperti:

  1. Sentuhan fisik, contohnya seperti belaian tangan ibu di rambut atau punggung anaknya atau teguran dari ayah berupa tepukan di tangan anaknya.
  2. Kinesik

Kinesik adalah istilah yang merujuk pada gerakan tubuh dalam komunikasi yang biasanya memungkinkan kita untuk meniadakan frase lisan, menjelaskan suatu gambaran, dan mengekspresikan emosi. Bentuk kinesik bisa beragam tapi umumnya bisa berupa kontak mata, gestur tubuh, dan ekspresi pada wajah. Contoh paling gampang buat kinesik adalah gerakan menganggukkan kepala untuk memberikan ijin pada anak.

  1. Vokalik

Kalo kinesik berkisar di sekitar gerakan tubuh, vokalik berfokus pada unsur-unsur nonverbal yang menjadi pendukung dalam suatu ucapan. Sederhananya, vokalik adalah cara kita berbicara pada anak. Contohnya: kejernihan suara, kecepatan berbicara, intensitas suara, dan nada (nada suara dan nada bicara).

  1. Kronemik

Kronemik berfokus pada waktu berkomunikasi. Contohnya: durasi yang sesuai untuk sebuah proses komunikasi, porsi komunikasi yang pas dalam rentang waktu tertentu, dan ketepatan waktu berkomunikasi.

Nah, dari perbedaan kedua jenis komunikasi ini kita bisa menimbang keefektifan kita dalam berkomunikasi dengan anak. Tapiii, jangan dikira keduanya bisa dilakukan terpisah satu sama lain yaaa. Ini rada pelik sih. Misalnya gini; kita sebagai orang tua mungkin akan berpikir komunikasi verbal adalah yang paling efektif karena pokok pikiran kita langsung terungkap dan harapannya si anak bisa langsung memahami. Tapi kan si anak juga punya daya interpretasinya sendiri. Maka, ketika kita membolehkan si anak main keluar tapi dengan nada yang dingin (karena aslinya kita ga ngebolein), si anak akan kebingungan karena ada mixed signal yang dia terima. Jadi unsur nonverbal dari sebuah komunikasi verbal akan terus ada, sulit untuk dipisahkan satu sama lain.

Komunikasi yang efektif (baik antar pasangan dan dengan anak) akan terbentuk lebih efektif jika kedua elemen verbal dan nonverbal bisa sinkron. Keinginan, maksud, dan tujuan kita bisa dituruti dan dipahami oleh pasangan atau anak jika ucapan dan intonasi sejalan. Misalnya gini, kita lagi repot nih, ngerjain sesuatu, trus tetiba si bayi rewel. Reaksi pertama kita pastinya kan akan meminta pasangan buat handle si anak kan? Kan apa yang lagi dikerjain kan lagi ga bisa ditinggal ni. Nah, ini adalah momen krusial yang akan menentukan apakah kita bisa menyampaikan maksud sebenarnya ke pasangan. Seringnya kita bakal teriak nyuru pasangan buat handle si anak. Kadang kalo lagi dikejar deadline bisa sampe ngebentak. Ini ga bakal efektif. Si pasangan mungkin akan merespon dengan ngedumel. Ato bales teriak. Yang kemudian dibalas teriakan berikutnya dari pasangan. Yang terus disautin pake teriakan selanjutnya dari yang satunya. Ga ada ujungnya. Kerjaan ga kelar, anak nangis makin jadi. Beuh, betah tinggal dalem rumah kayak gitu?

Contoh lain nih. Kita lagi masak di dapur. Trus garem abis. Trus nyuru anak bantu beliin. Ngomongnya sih bener, “Deeek, garem abiiis. Bantuin mamah dong, beliin ke warung.” Tapi suaranya ga kedengeran yang bikin harus sautsautan. Ato pake intonasinya kasar. Ato sambil ngomel. Ato pake banting-banting barang. Kompor ditonjok. Tabung gas ditendang. Tempenya dibejekbejek. Kaki disentak-sentak. Rambutnya ditarik-tarik. Matanya melotot. Kukunya keluar. Taringnya berkilat. Ngeluarin api dari mulut. Ya kan ga bakal direspon baik sama anak itu mah. Udala anaknya emang mageran, disuruh dengan cara kayak gitu, ya pastinya bakal kuat-kuatan satu sama lain. Masak kaga kelar. Perut laper. Emosi liat tingkah anak. Akhirnya apa? Matiin kompor, pake sendal, jalan ke warung ngedumel, marah-marah ke ibu warung yang ga tau apa-apa, pulang lanjut masak yang akhirnya asin seasin-asinnya dunia, trus ngadu ke suami, eh si suami balik marahin kita, tambah kesel, suami disuruh tidur di halaman. Panjang…. Cuma karena kita ga tau kudu gimana ngomong ke anak.

Kadang-kadang, kita sebagai orang tua sukanya berkomunikasi lisan karena berpikir si anak harusnya mengerti isi omongan tapi komunikasi interpersonal dalam keluarga itu, terutama sama anak, ga bisa cuma ngandelin omongan. Contoh yang diberikan ke anak sebaiknya ga berhenti di pola verbal. Kita mau rumah selalu dalam keadaan rapi. Tapi anak pulang sekolah tasnya dilempar ke sofa, sepatunya dilepas di tengah ruangan, seragamnya dibiarin di lantai. Nah, kita kalo mau menanamkan konsep kerapian ke anak ga cukup cuma disuruh doang, apalagi pake marah-marah. Bakal mental, masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Coba kasi contoh yang lebih nyata. Ambil pakaiannya dari lantai sambil ngomong, “Dek, ini jangan dibiarin di sini ya. Naronya di gantungan kamar kayak gini.”

Komunikasi interpersonal

Ke pasangan juga gitu. Mungkin ada kebiasaannya yang ga cocok sama kita. Mungkin pasangan suka naro gelas minuman di meja kayu yang akhirnya bikin ada bercak air di permukaan. Solusinya kan gampang ya tinggal pake coaster, kan? Tapi pasangan mungkin mikirnya itu bukan hal yang terlalu gede buat dipermasalahkan. Benturan antara idealisme pribadi dengan pola pikir orang lain kaya gini yang sebetulnya bisa di-manage supaya konflik ga tercetus. Bilang ke pasangan, “Beb, enak ya nyore di meja ini. Aku juga seneng gitu. Tapi kalo aku seringnya gelasnya dikasi alas biar ga ngotorin kayunya.” Trus ambil satu coaster, taro di bawah gelas yang sedang dia pake. Simpel kan? Apa yang kita mau atau suka tetap terjaga, perasaan pasangan terjaga, keindahan meja kayu yang kita sayangi tetap terjaga. Cuma kadang emang yang paling racun itu egonya kita sendiri. Sering banget pasti mikir, “Gimana sih, gitu doang ga paham?!”

Yang namanya kebiasaan pasti susah hilang, Teman-Teman DRYD. Makanya, pasti nanti kebiasaan buruk yang kita ga suka dari pasangan akan muncul terus. Kitanya yang harus telaten. Kalo mau hasil instan yang emang, tinggal hardik, kelar. Tapi instan itu ga sebanding dengan risiko dan efek lanjutan. Sebuah hardikan bisa berujung peperangan. Kalo kita bisa dengan tekun memberi contoh dan sabar, lama-kelamaan bakal keliatan kok perubahannya. Dan kalo kedua orang tua udah punya pola yang jelas dan sinkron, si anak bisa belajar sendiri memahami aturan, nilai, dan norma yang ditetapkan tanpa harus diseret. Jadi jangan cuma ngomong doang. Ucapan dan suruhan verbal tetap harus diterapkan tapi sebaiknya disertai dengan tindakan. Action, people! Action speaks louder!

Waspadai Orang Ketiga

Yang saya maksud dengan “orang ketiga” bukan selingkuhan. Ada yang tinggal bareng mertua ato mertuanya benerbener involved dengan keluarga inti sampai hal paling kecil sekalipun? Nah, ini salah satu yang paling jadi momok di setiap keluarga: Ketika peranan mertua porsinya membesar ga terkendali. Kita ga lagi bahas jelek-jeleknya mertua ya. Bukan itu intinya. Tapi kita kudu memahami porsi dan posisi masing-masing. Mertua itu siapa sih? Dia cuma orang tua dari pasangan kita yang berarti porsinya sebaiknya sesuai dengan posisi yang dia tempati.

Yang sering terjadi adalah mertua ikut campur dalam urusan pengasuhan anak. Memberi andil pada tumbuh-kembang cucu itu wajib loh ya bagi semua elemen keluarga. Tapi seringkali seorang mertua melewati garis batas karena lebih tua dan lebih banyak pengalaman. Itu bener; karena hidup lebih dulu dan udah lebih lama, mertua pasti lebih banyak pengalamannya. Tapi jaman kan udah beda. Apa yang jadi pakem parenting ketika mertua dulu menjalankan perannya sebagai orang tua pasti juga udah berevolusi di jaman anaknya.

Kenapa perlu diwaspadai porsi dan posisi mertua? Karena intervensi dari pihak ketiga akan mengacaukan alur komunikasi interpersonal DAN intrapersonal dalam sebuah keluarga. Apa perbedaan interpersonal dan intrapersonal? Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang terbentuk antar individu sementara komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang dibentuk dalam diri seseorang itu sendiri. Sederhananya, komunikasi intrapersonal adalah bagaimana cara seseorang mengajak bicara dan mengenali dirinya sendiri. Apa contoh komunikasi interpersonal dalam keluarga? Udah banyak tadi contohnya di atas ya. Apa contoh komunikasi intrapersonal? Misalnya cara seseorang mengolah dan mencerna informasi apapun yang dia terima. Atau ketika berbicara dengan orang lain (komunikasi interpersonal), kita sering menelaah sifat-sifat orang itu dalam hati saja (komunikasi intrapersonal).

Komunikasi intrapersonal

Nah, kehadiran pihak ketiga yang porsinya melebihi elemen dasar rumah tangga inti akan menimbulkan distorsi pada pola yang sudah lebih dulu established. Misalnya si anak pulang sekolah selalu berantakan. Nah neneknya berinisiatif membereskan tanpa memberi instruksi apapun. Ketika orang tua si anak mencoba mengajari suatu konsep, si anak akan membenturkannya dengan apa yang dia serap dari interaksi dan komunikasinya dengan si nenek.

Ibu: “Deeek, bajunya jangan dibiarin di lantaaai!”

Anak: “Aaah, udah diberesin nenek koook.”

Familiar ga sama dialog kayak gitu?”

Mungkin dari semua Teman DRYD yang baca ini sekarang belum ada yang jadi mertua. Sebagian malah mungkin udah. Udah ato belum, kesadaran tentang porsi dan posisi itu mutlak diterapkan. Sebagai orang tua, kita wajib mengajari anak untuk paham bahwa komando komunikasi itu ada di kita. Bukan berarti harus otoriter dan membatasi atau bahkan melarang anak berkomunikasi dengan pihak lain ya. Tapi ini tentang bagaimana si anak paham bahwa ibu dan ayah adalah 2 komponen fundamental yang harus dia dengarkan meskipun dia punya opini berbeda. Sebagai mertua, kita juga harus jeli menyadari posisi kita. Jangan mencampuri urusan anak dalam mengasuh anaknya kecuali dimintai bantuan. Itupun, lagi-lagi, harus sesuai porsinya. Misal nih ya, ibunya lagi sibuk di dapur ato si cucu dititipin ke kita. Si cucu trus lari-lari megang gunting. Kan ngeri tuh ya. Nah, karena si ibunya lagi ga ada di sekitaranya, boleh deh kita take over urusan ngasi pemahaman mana yang sebaiknya dan tidak sebaiknya. Tapi kalo ibunya pas ada trus si anak koprol bolak-balik ruang tamu-dapur, ya biarin deh ibunya yang bertugas ngasi larangan dan pengertian. Yaaa, sambil ngelarang-larang dikit gapapaaa. Namanya juga khawatir kan. Tapi kalo urusan mendidik si anak ya udah sih, ada emaknya ini. Kalo emang kegangguuu banget sama cara si ibu ngerawat anaknya, ajak ngobrol empat mata. Ungkapkan concern kita dan biarkan si anak atau menantu mengajukan counterargument-nya. Sebagai anak atau menantu, filter konsep parenting dari yang lebih tua. Serap yang baik-baik, tinggalkan yang sekiranya ga cocok lagi diterapkan di masa kini.

Berkomunikasi dengan Efektif Agar Keluarga Lebih Harmonis

Mengusahakan agar komunikasi bisa berjalan lancar itu salah satu cara menjaga keharmonisan rumah tangga loh. Ingat, pasangan kita bukan cenayang yang tau apa yang kita pikirkan. Lucu juga kali ya, punya pasangan yang bisa baca pikiran. Tinggal mikir, eh dia langsung bilang, “Oke sayaaang, laksanakan,” gitu. Tapi kalo kebetulan kita dapet manusia biasa sebagai pasangan, ya kudu banget jaga pola komunikasi yang sehat. Yaaa, korslet dikit sana-sini gapapalah. Namanya juga rumah tangga; ngarepin muluus aja gitu ga pake kendala juga rada mustahil. Beberapa orang malah bilang kalo tahapan pra-konflik, konflik, dan pasca-konflik itu justru yang bikin kehidupan berumah tangga jadi lebih dinamis. Tapi jangan dicari-cari juga, kakaaak. Udah, idup tanpa drama udah paling nyaman dah.

Bermula dari komunikasi antarpasangan yang lancar, anak pun bisa terdidik dengan relatif lebih baik. Keinginan kita supaya si anak berkembang menjadi pribadi yang lugas, mandiri, ga manja, logis, dan mengenal dirinya sendiri bisa terwujud dengan lebih rasional.