Meeting Internal Keluarga: Mengajarkan Demokrasi Sejak Dini

Kayanya, kalo udah ngomongin masalah bentuk pemerintahan, semua pasti setuju ya, kalo demokrasi adalah tipe yang paling ideal. Idealnya, dengan membawa paham yang satu ini, pemerintahan negara berjalan berdasar keinginan rakyat, pemimpin berperan lebih sebagai pelaksana. Idealnya, ya itu; praktiknya mah, ga tau juga yeee….

Tenang-tenang, Teman DRYD, kita ga lagi mau bahas perkara tata negara. Dokter Yusri ga lagi mau merambah ranah politik kok. Masih di sini-sini aja nemenin Teman-teman mencari jalan dan solusi terbaik untuk mendapatkan kulit yang senantiasa glowing.

Trus kenapa bawa-bawa bentuk pemerintahan, Dok?”

Kali ini saya berniat membawa bentuk pemerintahan demokratis ke ranah parenting. Kok bisa? Ya bisa, dong. Keluarga dan rumah tangga itu kan sama aja kaya negara kecil. Ada kepalanya, ada mentrinya, dan ada rakyatnya. Umumnya, kepala negara dalam sebuah rumah tangga adalah bapak, ibu ada di sampingnya sebagai mentri yang memberikan dukungan kepada si pemimpin. Umumnya begitu. Rakyatnya siapa? Ya anak-anak, dong, siapa lagi?

Dengan analogi seperti ini, bentuk pemerintahan yang demokratis bisa diterapkan juga loh. Cara membina rumah tangga yang didasari atas kepentingan bersama ini justru bisa menciptakan dinamika keluarga yang lebih sehat dan terbuka. Coba deh, Teman-teman bayangin kalo sebuah rumah tangga dijalankan dengan cara yang otoriter. Orangtua memegang peran tirani yang titahnya ga bisa dipatahkan sama sekali. Anak ga punya celah untuk mengungkapkan pendapat dan dipandang sebagai rakyat jelata yang sebaiknya nurut aja apa kata yang lebih tua.

Emang iyaaa, yang namanya anak-anak pastinya belum terbiasa dengan yang namanya memilah sesuatu berdasarkan benar-salah. Mereka bertindak berdasar naluri dan keinginan dan asal hepi aja. Dan tindakan orangtua untuk menuntun anak-anaknya yang belum tahu apa-apa itu juga udah semestinya. Tapi kan ga berarti kalo anak ga berhak punya pendapat sendiri atau sekadar menyampaikan aspirasinya. Kita yang orang dewasa lah yang selanjutnya menyaring apakah pendapat atau keinginan si anak akan berdampak baik untuk dirinya sendiri dan untuk keutuhan dan kedaulatan rumah tangga secara umum. Udah kaya pelajaran Tata Negara aja ini pake bawa-bawa kedaulatan segala.

Tapi beneran deh, biasanya anak yang tumbuh dalam keluarga yang diktator itu biasanya akan jadi kepribadian yang problematis. Ini bukan judgment loh ya; tapi emang banyak banget kasus semacam itu. Ada anak yang jadi individu yang depresi pas gedenya. Ada yang jadi kaku dan frigid. Ada yang maunya serba harus dituruti. Sementara anak yang berkembang dalam keluarga yang open dan serba gamblang biasanya gedenya nanti jauh lebih fleksibel, mudah bergaul, dan lebih positif sikapnya terhadap kritikan dari orang lain.

Menerapkan demokrasi dalam keluarga itu ga susah sebenernya. Cuma kadang ego kita sebagai orangtua terlalu gede yang akhirnya membuat kita sering menyepelekan perasaan dan pandangan dari anak-anak. Gimana caranya menerapkan paham ini dalam level dasar seperti sebuah keluarga?

  1. Budayakan kebiasaan melindungi hak-hak anggota keluarga

Semua manusia itu punya hak azazi: hak untuk mendapatkan pemenuhan terhadap kebutuhan, hak hidup dengan aman, dan hak untuk memberi dan menerima kasih sayang. Semua anggota keluarga perlu menyadari hak mereka sendiri dan menghargai hak yang dimiliki oleh pihak lain. dari sisi anak-anak sendiri ada 10 macam hak azazi yang ditetapkan oleh PBB dalam Konvensi Hak Anak tahun 1989: hak bermain, hak mendapatkan pendidikan, hak mendapatkan perlindungan, hak mendapatkan nama atau identitas, hak memiliki status kebangsaan, hak untuk mendapatkan makanan dan akses kesehatan, hak untuk berekreasi, hak untuk mendapatkan kesamaan, dan hak dalam berperan di pembangunan. Coba deh Teman DRYD telaah lagi, apakah kesemua hak anak ini udah Teman-teman penuhi untuk si buah hati.

  1. Ajarkan menjaga komunikasi

Yang namanya rumah tangga atau keluarga itu adalah tempat pertama bagi anak-anak untuk belajar bersosialisasi. Nah, bersosialisasi yang benar itu adalah dengan cara menjaga jalur komunikasi terbuka secara dua arah. Ini mencakup komunikasi antara kedua orangtua, antara orangtua dan anak, dan antara sesama anak (jika ada). Ajarkan anak-anak cara berkomunikasi yang benar agar mereka mampu mendengarkan orang lain dengan baik, tidak berkembang menjadi pribadi yang egois, dan memiliki kemampuan empati yang tinggi.

Supaya semuanya bisa berjalan dengan natural dan sehat, sebaiknya budaya berkomunikasi ini diterapkan sejak si anak masih bayi. Gimana caranya? Coba libatkan anak dalam percakapan—sesuai batasan, tentunya. Minta pendapatnya dan biarkan dia mengutarakan isi kepalanya, sekalipun pendapatnya itu kedengeran ga masuk akal. Yaaa, namanya juga anak-anak. Jangan lupa juga tanyakan apa yang ia rasakan dan ungkapkan apa yang kita rasakan. Coba deh, belajar buang jauh-jauh anggapan bahwa anak masih terlalu kecil untuk dilibatkan. Ini cuma perkara pemilihan kata aja kok. Kosakata anak-anak masih terlalu terbatas jadi sesuaiin aja cara penyampaian kita kepada mereka.

  1. Normalisasi hormat-menghormati dan saling sayang menyayangi

Udah ga jamannya beranggapan orangtua adalah yang paling powerful dan karenanya adalah yang paling pantas untuk dihormati. Sekarang tuh, coba terapkan prinsip “hargai saya dan saya akan menghormati kamu”.

  1. Terbukalah akan kritik dan pendapat

Ingat ya, Teman-teman, yang namanya demokratisasi keluarga pasti diwarnai ketidaksepahaman dan silang pendapat. Dari sini muncul kritikan. Orangtua ga sempurna jadi juga ga luput dari kritikan yang anak lancarkan. Ini sah-sah aja ya. Justru ini adalah pola dinamika yang sehat karena semua elemen keluarga punya hak yang setara dalam soal melancarkan kritik. Tapi pastikan kita udah ngajarin anak cara menyampaikan pendapat dan kritik dengan benar. Sebaliknya, ketika kita mengkritik anak, sebaiknya juga kita dampingi dirinya supaya mengerti gimana seharusnya bersikap ketika dikritik.

  1. Jangan pernah mendiskriminasi

Demokrasi yang ideal adalah lingkungan yang bebas diskriminasi dalam bentuk apa pun. Rasa aman dan nyaman adalah hak semua anggota keluarga jadi jangan pernah ada yang namanya kekerasan psikis, verbal, atau juga fisik.

  1. Tanamkan pola tugas dan kewajiban

Yang namanya kesetaraan hak pasti juga disertai dengan keadilan dalam hal kewajiban. Pembagian tugas rumah tangga harus adil, bukan sejajar. Karena kalau berdasarkan kesejajaran, berarti anak juga mengemban tugas untuk nyari nafkah, dong? Penekanan harus diberikan pada prinsip keadilan dan kesesuaian. Bapak ada tugas dan kewajibannya. Begitu juga dengan ibu dan anak-anak. Anak-anak punya kewajiban juga? Iya, dong. Tugas-tugas sederhana seperti mematikan lampu kamar atau merapikan mainan mereka sendiri juga termasuk kewajiban. Lagi-lagi, semua harus sesuai dengan umur dan kemampuan masing-masing, ya.

  1. Biasakan bermusyawarah

Setiap keputusan internal rumah tangga harus diambil berdasarkan musyawarah. Ga perlu rapat formal; suasana santai pun bisa jadi ajang bermusyawarah keluarga loh.

Keluarga saya sendiri menerapkan contoh demokrasi di lingkungan keluarga seperti ini terutama di poin terakhir. Biasanya, setiap akhir bulan seluruh anggota keluarga inti: bapak, ibu, saya, dan adik-adik saya akan berkumpul untuk meeting internal. Apa aja manfaat yang saya rasakan?

Pertama, bonding antara anggota keluarga jadi lebih erat karena dalam rapat bulanan ini kami ada dalam situasi yang lebih hangat dan akrab.

Kedua, saya merasakan pola komunikasi yang lebih efisien dan efektif karena diskusi ga cuma berlangsung di belakang layar antara bapak dan ibu tapi juga antara mereka dan kami para anak serta antara sesama anak-anak. Kita jadi paham proses pengambilan keputusan yang akan diterapkan dan bebas mempertanyakan kebijakan dari orangtua juga.

Ketiga, semua elemen dalam keluarga bebas membicarakan apa aja, mulai dari ada kejadian apa selama sebulan ini, ada perkembangan apa, ada hal baru apa yang sedang dikerjakan, saaampai ke hal-hal yang rada berat dan membutuhkan keputusan bersama. Topik emang bebas, tapi bukan ga ada batesan ya. Hal-hal tertentu yang sifatnya personal dan sensitif biasanya dibicarakan dengan cara pendekatan yang lebih privat juga. Biasanya salah satu atau kedua orangtua akan “menarik” satu anak ke “pinggir” dan mulai deh di-interview.

“Lah, katanya open, Dok? Kok main sembunyi-sembunyi ngobrolnya?”

Ya kalo topiknya terlalu sensitif dan berpotensi mempermalukan si anggota keluarga terkait di depan publik, masa iya harus dibahas terbuka juga? Kan demokrasi itu menjamin rasa aman dan nyama setiap anggota. Kalo malu jadinya ga nyaman lagi dong.

Tapi itu sekadar contoh yaaa. Setiap keluarga pasti punya ciri khas tersendiri yang mungkin bikin metode yang ada di keluarga saya sedikit ga efektif untuk diterapkan. Gapapa. Berdemokrasi itu fleksibel aja kok asal kesejahteraan setiap anggota keluarga tetap terjamin. Kalo emang kayanya lebih aman kalo dimulai dengan “di balik layar” dan cara pendekatan yang selalu personal dan privat, ya monggo. Asal ga berdampak negatif secara global (cie global… apasiii   ?), ya gapapa. Intinya sih, apa pun caranya, gimanapun metodenya, semua anggota keluarga harus dijamin hak dan diminta pertanggungjawabannya.

Permintaan dari Anak: Sejauh Apa Kita Harus Memenuhi?

Menjadi orangtua adalah suatu pengalaman yang pastinya bikin kita excited, ya. Setelah menemukan pasangan yang pas di hati kemudian mengarungi bahtera rumah tangga, hal berikutnya yang paling ditunggu-tunggu adalah kehadiran si buah hati yang akan mengisi hari-hari kita hingga tua nanti. Tapi apa sesederhana itu? Teman-teman DRYD yang udah jadi orangtua sekarang pasti paham kalo yang namanya ngasuh dan ngedidik anak itu bukan perkara gampang. Menjadi orangtua itu adalah pekerjaan seumur hidup. Orang bilang begitu si anak sudah menikah, tugas kita sebagai orangtua selesai. Kenyataannya, bahkan ketika buah hati kita udah mapan dan siap hidup dengan orang lain, kita sebagai orangtua akan selalu menjadi tempat si anak kembali dan berkeluh-kesah. Kita pun punya kewajiban untuk memberikan bimbingan dan bantuan dalam bentuk apa pun yang dibutuhkan si anak. Coba, sekarang siapa yang bisa anak kita andalkan untuk meminta nasihat kalo bukan orangtuanya sendiri? Namanya orangtua, pasti menang di besaran angka usia kan? Nah, asumsinya adalah dengan usia yang lebih matang, pengalaman pun lebih banyak. Sementara si anak mungkin baru memasuki satu tahap tertentu yang udah bertahun-tahun lalu kita lewati. Emang sih, usia ga menjamin kematangan pengalaman hidup tapi ya suka ga suka tetap kita para orangtua yang akan dijadikan sumber pembelajaran buat anak. Ibaratnya kita adalah sebuah buku yang akan dibaca dan dijadikan referensi oleh si buah hati.

Nah, salah satu hal terberat yang dihadapi oleh orangtua adalah perkara permintaan anak. Sebagai orangtua yang sangat menyayangi anaknya, naluri atau insting kita adalah membuat anak bahagia. Menuruti apa yang diminta oleh anak menjadi sebuah dorongan yang akan kita rasakan. Ditilik dari segi tanggung jawab orangtua pun, emang udah sebuah kewajiban untuk mengabulkan keinginan anak. Kasarnya seperti ini: Kita berani punya anak, kita pun harus berani berkomitmen untuk mensejahterakan kehidupan si anak. Yang jadi sumber persoalan sekarang adalah apabila kita secara buta mengabulkan keinginan anak—apalagi jika ini adalah pola yang udah telanjur dikenal si anak dari kecil. Apa aja risiko menuruti semua kemauan anak? Akan menjadi bumerang di kemudian hari. Jika anak sejak kecil udah terbiasa mendapatkan apa yang dia mau, dia akan tumbuh menjadi individu yang kurang daya usahanya dan temperamental sifatnya. Ketika semua kehendaknya kita turuti, pola asuh seperti ini akan menghapus insting si anak, merusak kemampuannya untuk mengikhlaskan sesuatu, meniadakan wibawa dan keberanian, terlalu royal, cuma bisa bersuka-ria, egoistis, dan selalu mementingkan diri sendiri.

Jadi gimana strategi yang perlu diterapkan supaya kita ga kebablasan dalam merespon permintaan dari anak?

  1. Pahami konsep boleh-tidak boleh.

Kita sebagai orangtua perlu menelaah permintaan si anak itu sendiri terlebih dahulu. Pertimbangkan apakah permintaan tersebut termasuk sesuatu yang tabu atau justru sebenarnya baik untuk diri anak sendiri. Banyak faktor yang bisa dijadikan tolok ukur. Umur, misalnya. Anak biasanya cuma tahu meminta karena dia suka tetapi kita sebagai orang yang lebih dewasa seharusnya bisa memilah mana yang pantas mana yang tidak. Ga semua permintaan harus dikabulkan kok selama itu emang ga pantes. Contohnya, anak mungkin kepingin dibelikan satu pakaian karena dia melihat idolanya mengenakan kostum yang serupa di televisi atau internet. Kita lihat dulu objeknya; jika pakaiannya terlalu terbuka, pastinya ga pantes dong dipakai oleh balita.

  1. Ajarkan batasan

Balik ke poin pertama, ga semua permintaan kudu kita kabulkan. Terlepas dari apakah si anak memahami alasan keinginannya ga kita penuhi, ini merupakan cara yang jitu buat mengajarkan batasan-batasan untuk si anak pahami. Ada untungnya juga buat kita sebagai orangtua. Jika anak sudah memahami konsep spesifik bahwa tidak semua permintaannya akan kita penuhi, dia ga akan memandang kita sebagai orangtua yang jahat, pelit, dan mengecewakan. Hasilnya, selain memahami konsep batasan, anak juga akan belajar untuk ga mudah patah semangat ketika nanti terbentur kesulitan.

  1. Tentukan aturan

Ini gunanya adalah untuk mengajarkan anak untuk tidak mencari celah dan berargumen ketika si anak keinginannya tidak dikabulkan. Kesalahan umum yang kita lakukan sebagai orangtua ketika menolak keinginan anak adalah ketiadaan aturan khusus dalam melarang. Contoh kasus, anak udah kebanyakan makan makanan manis dan masih meminta lebih; kecenderungan kita adalah mengucapkan larangan yang ambigu seperti, “Oke, kamu boleh makan satu lagi.” Larangan yang open-ended seperti ini memberi celah buat si anak untuk menegosiasi permintaannya supaya dia bisa makan lebih dari satu. Coba susun ulang kalimat larangan tadi menjadi, “Oke, gapapa makan satu lagi, tapi abis itu kuenya disimpan, ya.” Dengan begini, anak paham batasan, larangan, dan tidak akan menegosiasikan permintaannya lebih jauh.

  1. Ketika ragu, terapkan aturan tambahan

Jika kita belum terlalu yakin apakah akan mengabulkan atau menolak keinginan anak, coba berikan satu aturan tambahan sebelum berkata, “Ya.” Misalnya, Teman DRYD masih ragu apakah sebaiknya membiarkan anak menonton TV atau tidak. Untuk meyakinkan diri, coba berikan satu syarat ke anak. Jadi sampaikan, “Kamu baru boleh nonton TV kalo udah tidur siang dulu.” Atau, “Boleh nonton TV kalo mainannya udah kamu rapiin, ya.”

  1. Ga ada yang namanya cuma-cuma

Terapkan sistem reward. Mengabulkan keinginan anak tanpa memberikan tututan padanya adalah cara ampuh untuk membuat anak jadi manja. Sebaiknya, keinginan anak baru dikabulkan apabila dia sudah bisa memenuhi apa yang kita minta lebih dulu. Belikan dia mainan baru hanya jika nilainya bagus di sekolah, misalnya.

  1. Pahami konsep hak dan kewajiban

Tanamkan pada anak kemampuan untuk memenuhi kewajiban untuk mendapatkan apa yang menjadi haknya. Kita sebagai orangtua pun harus konsisten; jika anak sudah berhasil memenuhi kewajibannya, berikan haknya tanpa menunda.

  1. Buka komunikasi dan berdiskusi

Berikan penjelasan pada anak tentang kenapa kita menolak permintaannya dengan cara selugas mungkin. Harapannya adalah dengan membuka jalur komunikasi seperti ini, anak akan paham bahwa dia tidak sebaiknya mementingkan diri sendiri, belajar mengendalikan keinginannya, dan menjadi cermat dalam menghabiskan uang.

  1. Jangan bertindak fisikal

Maksudnya, jika menolak permintaan dari anak, jangan pernah disertai bentakan, ancaman, apalagi kontak fisik seperti pukulan. Tindakan seperti ini akan di-copy oleh anak dan ini akan berdampak pada sikap agresif. Sebagai orangtua, kita selayaknya membujuk dan menggunakan kata-kata yang penuh kasih sayang dan lembut. Tentunya ini perlu dilakukan tanpa disertai pemberian janji-janji yang menimbulkan harapan di diri si anak.

  1. Tetap konsisten

Ketika aturan sudah diterapkan, kita harus konsisten dan mengikuti apa yang kita tetapkan sendiri. Jangan keluar jalur sekalipun kita kasihan pada anak.

  1. Kompak dengan pasangan

Kita dan pasangan adalah orangtua si anak dan karena itu harus sejalan dalam mendisiplinkan buah hati. Jika menolak, keduanya menolak. Jika setuju, kedunya harus sepemahaman. Ini juga berlaku untuk orang dewasa selain orangtua seperti kakek-nenek, pengasuhnya, atau saudaranya.

  1. Perhatikan cara anak meminta

Sekalipun apa yang diminta oleh anak adalah hal yang baik yang ia butuhkan dan kita emang mampu mengabulkannya, jika anak meminta dengan cara yang tidak pantas seperti berteriak, menangis, atau merengek, jangan langsung dipenuhi setidaknya sampai akhirnya sikapnya berubah jadi lebih baik. Sebaliknya, jika permintaannya disertai dengan perilaku yang manis, berikan pujian dan usapan lembut di rambut atau tangannya. Ini akan meng-encourage sikap positif di masa depan.

  1. Jangan mudah tergugah

Jangan menyerah pada permohonan, teriakan, dan tangisan si anak. Tegaskan bahwa no means no. Sekali kita mengalah karena tangisan si anak, dia akan otomatis beranggapan bahwa keinginannya akan terkabul dengan cara-cara negatif.

Mengelola cara mengabulkan atau menolak keinginan anak itu cukup praktis karena kita langsung menghadapinya. Anak meminta sesuatu, tinggal kita yang perlu secara cermat memilih bagaimana menyikapi. Tapiii, ada juga loh, beberapa jenis permintaan anak yang tersirat. Maksudnya di sini adalah permintaan-permintaan yang bahkan si anak ga sadar ingin kita kabulkan dan penuhi. Emang iya? Nah, yuk kita liat.

  1. Anak ingin dicintai sepenuh hati. Ini mungkin hal yang simpel di mata kita. Toh, kita kerja banting tulang siang malam juga kan, untuk anak. Tapi pahami bahwa ada hal-hal lain yang bisa dilakukan untuk menunjukkan cinta pada anak juga.
  2. Anak ingin kita tidak memarahinya di depan publik. Kita frustrasi, stres, dan kehilangan kesabaran itu wajar. Tapi jangan pernah meluapkan amarah pada anak di depan orang banyak. Ini akan menghancurkan kepercayadiriannya dan membuat kita sendiri terlihat buruk di matanya.
  3. Anak ingin kita tidak membanding-bandingkan. Jangan pernah membandingkan anak kita dengan saudaranya sendiri atau orang lain. Setiap anak adalah harta karun tersendiri. Mereka memiliki prosesnya sendiri. Mudah buat kita membandingkan mereka dengan orang lain tapi apakah pernah terlintas di pikiran kita bahwa hal yang sama bisa mereka lakukan pada kita? Setiap anak juga punya gambaran ideal tentang orangtua sempurna, sanggupkah kita menerima kenyataan bahwa anak membandingkan kita dengan orangtua temannya, misalnya?
  4. Anak ingin kita menjadi role model-nya yang baik. Anak itu adalah cerminan kita sebagai orangtua. Apa yang kita terapkan akan terefleksi pada bagaimana mereka bertindak dan berperilaku. Kalau kita ingin anak berperilaku X, maka kita harus memberikan contoh X yang sama padanya.
  5. Anak ingin kita menilainya dewasa. Ini pastinya sesuai porsi ya; tapi intinya anak itu ga mau dianggap kecil dan ga berdaya terus-menerus. Umurnya bertambah tiap tahun jadi kita pun harus menyesuaikan semuanya.
  6. Anak ingin dibiarkan mencoba sesuatu. Jika gagal, jika berhasil, jika salah, jika benar, mereka ingin dibimbing dan diapresiasi, bukannya dikekang.
  7. Anak ingin kita ga ngungkit-ngungkit Anak melakukan kesalahan itu sudah sepantasnya. Kita pun ga luput dari kesalahan, loh. Maafkan kesalahan yang ada dan kemudian move on. Kalo kita terus-terusan mengingatkan anak tentang kesalahannya, ini akan membuat dirinya ga mampu menilai diri sendiri lebih dari kesalahannya.
  8. Anak ingin kita tidak memarahinya dengan hal-hal buruk. Sekali lagi, anak bertindak salah dan kita memarahinya itu adalah hal lumrah. Udah emang gitu siklus orangtua-anak, mah. Tapi kalo kemarahan kita disalurkan dengan disertai ucapan-ucapan kasar yang buruk, mental si anak bisa rusak dan mengalami trauma.
  9. Anak ingin kita memberikan penjelasan atas larangan yang kita berikan. Jangan berhenti pada kata “jangan” atau “ga boleh”, tapi lanjutkan dengan alasan dan penjelasan.
  10. Anak ingin kita ga menyeretnya ke dalam persoalan yang sama sekali ga ada hubungannya dengan dia. Kalo kita lagi berantem sama pasangan, jangan bawa-bawa anak atau melampiaskan kekesalan pada anak yang ga ngerti apa-apa.

Nah itu tadi pembahasan singkat kita tentang gimana nyikapin keinginan anak ya, Teman DRYD. Pastinya semuanya sebaiknya dipraktikkan atau diaplikasikan sesuai dengan situasi dan kondisi ya. Semoga kita bisa menjadi orangtua yang sempurna di mata anak.

Mengasuh Anak dengan Cara yang Apa Adanya

Teman DRYD,

Udah maksimal belum dalam memastikan anak hepi dan bertumbuh-kembang dengan baik? Ini bukan judgment loh ya, Teman-teman, cuma pertanyaan sederhana yang bahkan mungkin tanpa perlu diajukan sekalipun udah ada dalam kepala kita semua. Salah satu dari banyak concerns kita sebagai orang tua adalah memastikan si buah hati tidak memiliki hambatan yang berarti dalam prosesnya mendewasa. Dan salah satu cara untuk bisa melancarkan proses perkembangan anak itu adalah dengan membuatnya bahagia di rumah.

Rumah yang terasa hangat dan energetik adalah sumber kebahagiaan anak yang mutlak. Anak tidak akan bisa bertumbuh dan berkembang dengan relatif sempurna jika lingkungan intinya tidak akomodatif dan sehat. Peran kita dalam hal ini adalah membentuk lingkungan akomodatif tersebut.

Sebenernya mencari tahu dan mengukur kadar apakah anak itu sehat atau tidak adalah suatu hal yang sedikit kompleks. Kita perlu jadi supersensitif terhadap perubahan sekecil apa pun pada anak, superkritis terhadap diri sendiri dan cara-cara pengasuhan anak yang dipakai, super-willing buat mengevaluasi dan mengoreksi diri, supertajam dalam menganalisa keadaan, superikhlas dalam mempersembahkan banyak faktor untuk anak (waktu, ruang, energi), dan superfleksibel dalam menyediakan perhatian khusus untuk si buah hati.

Terdengar rumit, kan? Emang iya. Saya ga bosen-bosen ngingetin kalo membesarkan anak itu tugas yang saaangat ribet. Keliatannya aja yang gampang, apalagi kalo kita lebih banyak ngeliat keluar dan cuma yang enak-enaknya aja. Sekali diterapin sendiri bisa keteteran. Bisa terjerat sendiri dalam serangkaian kerumitan menjadi orang tua.

Tapi sebagai guidelines mendasar, ada kok parameter penilaian apakah anak sehat di rumah dan ini dibagi menjadi dua tipe: jasmani dan rohani.

Ciri-ciri anak yang jasmaninya sehat relatif lebih mudah untuk diobservasi:

  1. Aktif

Anak yang secara fisik aktif adalah anak yang cukup sering bergerak sehingga makanan yang ia konsumsi bisa diubah menjadi energi secara konsisten. Efeknya apa dari anak yang dinamis? Kepercayaan dirinya lebih besar, konsentrasinya lebih tinggi, lebih mudah bersosialisasi, berbagi dan bekerja sama dengan orang pun akan menjadi suatu hal yang alami buat si anak. Organ-organ dalamnya juga lebih kuat dan maksimal dalam bekerja.

  1. Tumbuh

Agak ga fair sebenernya kalo mau memberikan penilaian kesehatan anak dari sisi pertumbuhannya karena setiap anak adalah individu berbeda yang memiliki laju tumbuh-kembang yang berbeda-beda juga. Penambahan tinggi dan berat adalah 2 hal yang cukup konstan untuk ditilik di setiap anak: Proses ini semestinya berlangsung secara proporsional dan menunjukkan peningkatan signifikan, terutama di masa pubertas.

  1. Tubuh

Menilai kesehatan anak secara jasmani bisa jauh lebih mudah apabila si anak emang nunjukin ciri-ciri yang sehat. Kulitnya sehat ga bentol-bentil atau kering, rambutnya ga rontok dan ga ada kutu di kepala, kukunya bersih dan kuat, lidahnya kemerahan, mulutnya ga bau, dan giginya ga ada lubang atau karang.

Ciri-ciri anak yang rohaninya sehat cuma bisa diamati dengan peninjauan ekstensif dan komprehensi karena berkenaan erat dengan aspek-aspek seperti kemampuan akademik, kepribadian, dan sikap, tapi umumnya:

  1. Emosinya lebih stabil

Perilakunya secara umum baik dan sopan dan ga suka tantrum. Agresivitasnya pun masih dalam skala masuk akal. Si anak jarang terlihat sedih dan ga narik dirinya tiba-tiba.

  1. Kepercayaan dirinya tinggi dan sifatnya ceria

Si anak tampak lebih menikmati hidupnya dan jauh dari yang namanya cemas berlebihan.

  1. Sifatnya supel

Kemandirian bisa diamati dalam dirinya dan ini membuatnya lebih mudah bergaul tanpa menghindari dunia sosial di sekitarnya.

  1. Lebih mudah belajar

Konsentrasinya terjaga dengan baik dan mampu menyerap pelajaran di sekolah dengan relatif baik pula.

  1. Istirahatnya cukup

Buah hati ga mengalami kesulitan dalam beristirahat dan ga ada gangguan tidur—ga sulit tidur atau tidurnya kelamaan.

Tentunya ini cuma general guidelines ya. Ga mesti semuanya harus sesuai dengan apa yang dijabarkan di atas, lebih bersifat berdasarkan kasus aja. Yang perlu diingat juga adalah anak-anak masih mempelajari cara berkomunikasi yang baik dan efektif jadi akan selalu ada kemungkinan dia menyimpan sendiri kendala yang ia hadapi. Kitalah yang perlu jeli, responsif, dan proaktif dalam mengulik permasalahan yang sebetulnya terjadi.

Apa pentingnya kita menjaga kesehatan anak di rumah? Anak yang tumbuh sehat di rumah adalah anak yang bahagia. Anak yang bahagia akan merefleksikan cara mengasuh anak yang baik pula, yang orang lain bisa lihat secara langsung. Ini bukan berarti kita perlu selalu memikirkan apa opini atau omongan orang lain ya; anak kan anak kita. Kita yang kenal karakternya seperti apa. Kita yang menghadapi kesulitan dan menikmati keberhasilan dalam mendidik anak. Bodo amat deh sama apa yang orang lain pikirkan. Tapiii, ketika anak berubah menjadi “cermin” yang memantulkan pola asuh yang kita terapkan dan orang lain bisa dengan gamblang menangkap sinyal bahwa si anak ga bahagia di rumah, kita juga yang kena getahnya. Kita dianggap ga becus membesarkan anak dan belum lagi kita harus menghadapi konsekuensi dari pola asuh yang tidak tepat itu sendiri nanti.

Lagi-lagi, emang kita ga perlu menyusahkan diri sendiri dengan memikirkan pandangan orang lain. Tapi orang lain itu juga bisa banget menangkap apa yang anak rasakan dari cara mereka berinteraksi dengan si anak.Misalnya nih, kita lagi ketemu sama temen dan anak kita bawa. Ketika si temen mencoba membangun komunikasi dengan anak kita, cara si anak memberi respons kepada orang dewasa akan mencerminkan apa yang kita tanamkan kepadanya. Apakah dia malu dan memilih bersembunyi di balik badan kita? Apakah dia dengan sopan membalas sapaan orang dewasa dan terlibat dalam percakapan yang dinamis? Sesama orang dewasa bisa menangkap jika ada sesuatu yang salah dengan cara kita mendidik anak di rumah atau jika ada sesuatu yang dengan tepat sudah kita terapkan pada anak.

Anak itu output ya, Teman-teman. Mereka bisa menjadi tolok ukur orang lain dalam menilai kefasihan kita dalam memastikan kesehatan dan kebahagiaan anak. Jadi jangan “bersandiwara”; bersikap seolah-olah semuanya udah kita terapkan dengan baik dan sempurna sementara dari muka anaknya aja udah keliatan kalo dia ga mendapatkan cukup kebahagiaan di rumahnya sendiri.

Masalah terbesar kita sebagai orang tua yang memiliki anak yang masih lumayan kecil adalah bagaimana kita bisa membuatnya patuh tanpa menggunakan cara-cara yang berpotensi merusak tumbuh-kembangnya. Ada sih tips dan trik yang bisa dipake, tapi sama lagi, semuanya ini cuma general guidelines, ya. Tinggal cocokkan dengan apa yang terjadi dan situasi di rumah aja nanti.

  1. Berikan contoh yang baik

Mengharapkan diri sendiri menjadi orang tua yang sempurna itu cuma mimpi. Kita cuma bisa melakukan dan memberikan yang terbaik. Don’t be too hard on yourself; adapt, adapt, and adapt. Kita harus fleksibel dan cukup mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak dan tuntutan menjadi orang tua yang “memadai” aja. Jangan menarget kesempurnaan karena ini bisa berpotensi menjadi bumerang yang hanya akan menyakiti diri sendiri pada prosesnya. Memberikan contoh kepada anak adalah yang sederhana; anak itu seperti kertas kosong yang tinggal diisi dengan apa yang kita kehendaki. Jika kita menginginkan anak memiliki sikap tertentu, tunjukkan. Jangan cuma menyuruh dan memerintah. Anak lebih mudah mencontoh apa yang ia lihat daripada dengar.

  1. Panggil namanya

Kita susah-susah mencarikan nama yang artinya bagus buat anak, kita juga yang akhirnya menolak menggunakan nama itu untuk memanggilnya. Kan ga konsisten jadinya. Menyebut nama si anak akan memberikan rasa dianggap pada diri anak sendiri. Setelah si buah hati menoleh, utarakan dengan lembut apa yang kita inginkan. Jangan pernah berteriak atau membentak ya.

  1. Dengarkan dirinya

Dengarkan keluhannya. Dengarkan protesnya. Dengarkan alasannya.

  1. Kenali trigger

Jika anak marah, kita patut mencari tahu apa yang menjadi penyebab kemunculan emosi negatif. Hindari menguliahi anak di saat dia sedang marah karena ga bakalan ada satu pelajaran pun yang bisa dia serap.

  1. Jadilah konsisten

Pola yang konsisten dan rutin akan memberikan rasa aman untuk anak dan mendidiknya untuk terbiasa dengan karakter kita sendiri sebagai orang tua.

  1. Hukum dengan pantas

Kalau bicara soal hukuman, semua sudah pasti harus selalu proporsional. Hukuman yang masih dalam batas kewajaran bisa menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dan ketegasan pada diri anak.

  1. Apresiasi dan puji

Berikan pujian dan apresiasi terhadap pencapaian anak dengan tidak berlebihan atau kurang dari cukup agar motivasi anak tetap terjaga.

  1. Ciptakan keharmonisan

Menjaga keharmonisan rumah tangga dapat mendukung rasa nyaman anak sehingga lebih mudah untuk mereka mendengarkan ucapan dan permintaan orang tua.

Memukul dan Menggigit: Ketika Anak Cuma Tahu Ekspresi Fisikal untuk Berkomunikasi

Beberapa orang di dekat saya sempat mengeluh tentang anak yang tiba-tiba suka sekali menggigit atau memukul mereka. Awalnya si buah hati maniiis banget. Tau-tau, ga ada ujan ga ada badai, kebiasaannya jadi berubah lebih agresif. Saya jadi kasian karena kondisi begini biasanya gampang banget bikin si ortu jadi kepikiran. Kaya, mereka jadi otomatis mikir, “Apa sih sebenernya yang salah? Apa saya salah didik apa gimana? Apa ada faktor tertentu di dalam rumah yang bikin anak saya jadi seagresif ini ya?” Itu baru sebagian kecil contoh overthinking ortu ketika menghadapi kenyataan bahwa anaknya yang tadinya berperilaku sweet bak malaikat tiba-tiba berubah jadi monster.

Yang jadi masalah lebih besar lagi adalah bahwa si buah hati ga cuma ngejadiin ortunya sendiri sebagai sasaran. Orang lain, terutama teman-teman sebayanya, juga bisa kena. Siapa yang ga stres dengan situasi macam begini? Digigit atau dipukul anak itu emang sakit, apalagi anak-anak ga bisa ngukur efek dari tindakannya itu. Main gigit atau pukul aja. Kadang sampe bikin kulit memar dan bahkan mungkin berdarah. Tapi rasa sakit fisikal ini kalah mengkhawatirkan dibandingkan dengan kemungkinan si anak berubah menjadi bully saat dia nanti masuk sekolah.

Memukul atau menggigit sebetulnya pola perilaku yang lambat laun bisa hilang seiring dengan pertambahan usia si anak. Tapi akan lebih baik jika tindakan seperti ini bisa ditangani sejak dini sebelum berubah menjadi pola perilaku yang lebih sulit untuk dikoreksi di masa depan. Konsep dasarnya seperti ini: Perilaku agresif pada anak-anak umur di bawah tiga tahun itu lebih mengarah kepada masalah “latihan” yang minim ketimbang kenakalan murni. Batita adalah makhluk yang baru lepas dari gendongan ibunya, skill sosial dan komunikasi mereka saaangat terbatas dengan jumlah kosa kata yang bahkan jauh lebih minim lagi. Makanya, mereka menggunakan cara menggigit atau memukul orang lain sebagai cara untuk menyampaikan protes atau ketidaksetujuan yang mereka rasakan karena cuma itu yang mereka anggap logis. Nalarnya belum sempurna. Empatinya belum berkembang sempurna. Mereka ga suka sama sesuatu tapi karena keterbatasan daya penyampaian, mereka beralih pada ekspresi fisikal untuk menyampaikan apa yang dirasakan. Kitalah sebagai orang tua, manusia dewasa yang logika dan empatinya udah jauh lebih matang, yang seharusnya bisa mengajarkan si anak untuk mengembangkan kemampuan sosial yang lebih baik tanpa mengambil jalan yang justru bikin kebiasaan menggigit dan memukul jadi makin buruk.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan dan Apa yang Semestinya Dihindari?

Yang jangan dilakukan adalah:

Pertama, JANGAN PERNAH memukul balik si anak dan berpikir itu akan menjadi sarana pembelajaran bagi si anak. Sadar ga sih, ketika kita memukul buah hati kita karena kelakuannya itu hanya akan memberikan pembenaran buat dia sendiri? Berpikir bahwa memukul adalah tindakan pendisiplinan yang efektif itu cuma bakal bikin si anak mikir kalo kekerasan fisik itu bisa diterima. Orang tuanya aja suka mukul, apalagi anaknya.

Kedua, JANGAN PERNAH memberikan hukuman dalam bentuk apa pun. Tujuan kita adalah membantu anak untuk mengelola semua emosi yang dia rasakan. Tapi pemberian hukuman justru bakal jadi kontraproduktif karena itu hanya akan membuatnya berpikir bahwa dirinya adalah jahat dan nakal. Ini, pada prosesnya nanti, hanya akan memperburuk perilaku agresifnya.

Ketiga, JANGAN PERNAH memusingkan apa yang orang lain katakan. Berkaitan dengan kasus anak suka memukul atau menggigit, fokus kita harus seratus persen diberikan kepada si anak, bukan kepada nama baik kita sebagai orang tua atau pendapat orang lain. Jadi jangan pernah takut kalo perilaku anak akan membuat imej kita buruk dan dianggap sebagai orang tua yang tidak handal. Semua orang punya porsi masing-masing. Semua orang punya cara masing-masing.

Keempat, JANGAN PERNAH memaksa si anak meminta maaf atas perbuatannya. Kata kuncinya di sini adalah “memaksa” ya. Batita mungkin sudah fasih meminta maaf tapi permintaan maaf dari seorang batita itu ga pernah tulus kok. Mereka cuma minta maaf buat keluar dari kemungkinan dimarahi. Jadi gimana? Ga mungkin dibiarin aja kan? Tentunya engga. Ketika si anak sudah lebih tenang dan tantrumnya ilang, ajak dia bicara sesederhana mungkin tentang apa yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki situasi atau tentang bagaimana dia bisa membuat si orang yand digigit atau dipukul merasa lebih baik. Caranya gimana? Coba berikan gambaran tentang tindakan kebajikan ke si anak. Atau kalo bisa didemonstrasikan langsung tindakan kebajikan itu malah lebih baik. Kita bisa ngajarin si anak buat bertanggung jawab atas tindakannya sendiri dan berempati pada orang lain juga.

Yang sebaiknya dilakukan adalah:

Pertama, monitor buah hati kita. Batita itu kaya cuaca, susah banget ditebak. Tapi sebagai orang tua kita mungkin punya cara tersendiri buat mengenali fase frustrasi atau kelelahan anak kita sendiri ketika sedang bermain dengan anak-anak lain. Begitu kita menangkap sinyal buruk dari suasana hati si anak, langsung aja deh dia dibawa pergi sebelum keadaanya makin buruk.

Kedua, tetaplah tenang. Kita orang tua juga manusia jadi bisa dimengerti ada rasa kesal ketika anak bertingkah tidak pantas. Tapi hasil positif bisa lebih mudah didapatkan jika kita tetap tenang dalam situasi anak memukul atau menggigit. Jika kita menunjukkan kekesalan dengan gamblang, si anak akan malah ketakutan dan ini mempersulit dirinya untuk mempelajari nilai-nilai yang mau kita sampaikan. Plus, si anak akan menyadari bahwa orang tuanya memberikan respons secara signifikan ketika dia melakukan kesalahan dan akhirnya berpikir bahwa perhatian orang tua cuma bisa didapatkan melalui sifat nakal—yang artinya kita gagal memperbaiki sifatnya.

Ketiga, berempatilah dengan anak dan buat batasan. Jangan gengsi buat menyampaikan pada anak bahwa kita memahami emosi yang ia rasakan dan berikan pengertian padanya bahwa apa yang ia rasakan bukan alasan pembenaran untuk tindakannya.

Keempat, tenangkan si anak. Ajarkan kepada anak untuk menenangkan diri dengan cara pernapasan perut, pemberian pelukan, atau bahkan menyanyikan sebuah lagu. Tujuannya adalah memberikan kesadaran pada anak bahwa dialah yang punya kuasa atas segala bentuk emosi yang dirasakannya tanpa perlu membiarkan dirinya meledak.

Kelima, cobalah mempraktikkan “redo”. Begitu anak sudah cukup tenang, ajak dia membayangkan alternatif berbeda dari apa yang sudah dia lakukan lain kali. Tapi kita kudu sabar juga, emosi mentah yang dirasakan si anak bisa terlalu kuat dan kebiasaan baru itu butuh waktu buat dipelajari.

Keenam, praktikkan strategi alternatif. Ajak anak main boneka dan pancing dia untuk mempraktikkan apa yang mungkin dia bisa lakukan ketika merasa frustrasi, termasuk pergi menjauh, meminta tolong, atau menggunakan kata-kata yang tepat untuk menyampaikan apa yang dia rasakan. Yang perlu diingat, strategi ini mungkin ga bakal menunjukkan hasil dalam waktu singkat tapi menerapkannya sejak dini dan reguler adalah kunci.

Mengatasi Perilaku Agresif pada Anak di Atas 3 Tahun

Cara mengatasi anak yang suka memukul atau menggigit pada rentang usia di bawah 3 tahun emang cukup menyita perhatian. Tapi ketika anak di atas 3 tahun masih suka agresif, semuanya berubah menjadi luar biasa melelahkan karena asumsinya adalah mereka udah sepantasnya tahu baik-buruk dan benar-salah. Sebaiknya kita ga langsung mengklaim bahwa si anak udah bakat buat jadi bully. Yang lebih penting untuk dilakukan adalah memahami bahwa “kenakalan” macam ini tuh aslinya pertanda bahwa si anak perlu dilatih dengan strategi pengendalian impuls.

Terlebih dulu buang jauh-jauh kecenderungan untuk mencap anak sebagai anak yang nakal, kasar, dan agresif karena label seperti ini akan membuat anak kecil hati dan memperburuk perilaku negatif yang udah ada.

Mengatasi perilaku agresif pada anak usia di atas 3 tahun bisa dibagi menjadi 3 kelompok: sebelum, pada saat, dan sesudah sebuah insiden.

Sebelum insiden

  1. Pastikan anak istirahat dengan cukup. Anak akan lebih mudah mengendalikan impuls mereka ketika kebutuhan tidurnya tercukupi.
  2. Jangan berlama-lama berkunjung ke tempat orang lain. Ketika anak sudah sangat bosan berada di satu tempat, dia akan lebih mudah melancarkan sikap agresif.
  3. Jangan melewatkan waktu tidur siang atau waktu beristirahat secara umum. Bermain bersama teman atau mengunjungi anggota keluarga akan terasa lebih menyenangkan jika anak punya cukup waktu untuk beristirahat.
  4. Selalu penuhi kebutuhan anak akan perhatian. Berikan perhatian yang positif pada anak setiap hari. Sisihkan waktu untuk mendengarkan cerita mereka untuk membangun ikatan emosional dan menenangkan impuls si anak.
  5. Ajarkan strategi resolusi konflik yang positif. Dorongan anak untuk bertindak agresif akan terkendali jika dia sudah mempelajari strategi-strategi seperti penggunaan frase “aku merasa…”, pergi meninggalkan sumber konflik, tidak mengindahkan, mencari jalan tengah, atau semacamnya.
  6. Jangan langsung merespon begitu sikap agresif muncul. Ikuti alurnya jika si anak menggunakan kata-kata untuk berargumen. Tapi begitu tanda-tanda perilaku kasar dan agresif terlihat, langsung tenangkan dirinya dan carilah jalan keluar yang lebih baik.
  7. Pujilah anak ketika dia berhasil tetap tenang. Jangan pelit mengeluarkan pujian ketika memang pujian itu pantas diberikan, terutama ketika anak berhasil tetap mengendalikan emosinya di bawah tekanan.
  8. Rancang jadwal kegiatan fisik yang proporsional. Beberapa anak memang lebih cenderung bersifat fisikal dan itu adalah kenyataan yang ga bisa ditampik. Menjadwalkan kegiatan fisikal bisa menjadi alternatif buat si anak untuk menyalurkan energinya yang berlebihan.
  9. Terapkan cara berkomunikasi yang penuh kedamaian. Jika suasana rumah dipenuhi rasa menghargai, kemungkinannya akan sangat kecil buat si anak untuk bertindak agresif.

Pada saat insiden

Untuk trik ketika anak melakukan tindakan kasar dan agresif, secara umum sama seperti apa yang dijelaskan pada bagian mengatasi anak batita yang suka menggigit dan memukul: jangan memukul balik, jangan menghukum, jangan memikirkan pendapat orang lain, berempati dan berikan batasan, dan tetaplah bersikap tenang. Tambahannya adalah, jangan lupa memastikan pihak yang menjadi objek perilaku anak kita baik-baik saja—jika melibatkan orang lain. Jika si anak sudah lebih tenang, kalo bisa ikutsertakan dia dalam proses khusus ini jadi dia juga bisa belajar lebih jauh tentang empati dan tentang bagaimana tindakannya akan mempengaruhi orang lain.

Setelah insiden—Untuk dilakukan pada saat situasi sudah lebih tenang

  1. Jalankan skenario role-play. Ajarkan anak bagaimana memberikan respons tanpa perlu melibatkan tindakan kasar. Misalnya dengan menggunakan kata-kata, meminta bantuan pada orang dewasa, atau pergi meninggalkan sumber konflik.
  2. Praktikkan strategi menenangkan diri. Metodenya banyak, mulai dari pernapasan perut sampai ke pola menghitung sampai angka 10.
  3. Buat sinyal nonverbal rahasia. Isyarat ini bisa digunakan untuk menunjukkan kepada anak kapan dia perlu mempraktikkan strategi menenangkan diri.
  4. Sadari bahwa kendali impuls adalah hal yang sulit untuk dilakukan oleh anak-anak.

Menghardik dan Bahayanya

Ketika menghadapi kondisi anak suka menggigit atau memukul, udah pasti kita akan ngerasa kesel dan frustrasi. Naluri kita sebagai manusia cenderung ingin segera merespon perilaku si anak ketika tingkahnya ga sesuai dengan harapan. Tapi sekesal apa pun kita, seemosi apa pun kita dibuatnya, jangan pernah meneriaki anak apalagi memaki. Ada banyak dampak negatif dari menerapkan pola pendisiplinan yang terlalu keras dan ini juga yang bikin menghardik a big NO ketika kita mau mendidik anak yang perilakunya agresif. Frustrasi itu normal. Jengkel dan kesal itu alami. Kita juga manusia, sekalipun kita adalah orang tua. Tapi begitu merasakan ada dorongan untuk menghardik anak, coba ingat-ingat hal berikut ini:

  1. Hardikan hanya akan memperburuk perilaku anak.

Sangat mudah membayangkan bahwa teriakan kepada anak akan menyelesaikan semuanya dengan cepat dan memberi tahu si anak apa yang boleh apa yang ga boleh dilakukan. Tapi penelitannya udah ada tentang hardikan yang justru malah bikin permasalahan lebih banyak dalam jangka panjang. Hardikan akan memperburuk perilaku negatif anak yang akhirnya kita malah harus menghardik lebih keras lagi dengan harapan semuanya selesai. Dan lingkaran setan pun dimulai.

  1. Hardikan dapat mengganggu perkembangan otak anak

Otak manusia memproses input-input negatif lebih cepat daripada yang positif. Ketika anak terpapar makian dan teriakan di masa kecilnya, akan ada kelainan mencolok pada bagian otak yang memproses suara dan bahasa.

  1. Hardikan bisa berujung depresi.

Bentakan dari orang tua itu ga cuma membuat anak merasa sakit, takut, dan sedih. Kekerasan verbal berpotensi menciptakan gangguan psikologis yang lebih dalam di diri anak dan permasalahan ini bisa terbawa sampai saat ia dewasa.

  1. Hardikan berpengaruh terhadap kesehatan jasmani dan berpotensi menyebabkan penyakit kronis

Kekerasan verbal di masa kecil bisa membuat anak mengalami berbagai gangguan kesehatan seperti nyeri sendi, sakit kepala, dan gangguan pada punggung dan leher.

Daripada menghabiskan energi dengan meneriaki anak dengan harapan bisa mendisiplinkannya, mending belajar cara berkomunikasi yang baik dengan anak deh. Rumah terasa lebih damai dan risiko besar di masa dewasa pada anak bisa ditekan sedalam mungkin.

Haruskah Menyekolahkan Anak di Sekolah Internasional?

Pertanyaan di atas bisa dijawab dengan simpel: Ya kalo emang sanggup, why not? Kesanggupan di sini ada banyak macamnya tapi ya yang paling penting sih, sanggup ga sama biayanya. Sekolah macam begini ga murah loh ya. Jumlah total uang yang dihabiskan di akhir periode pendidikan bisa buat keliling dunia kali…. Jadi ya, kudu kuat di dompet biar kita sebagai orang tua ga kelabakan menuhin kebutuhan pendidikan si buah hati. Tapi pada praktiknya nih ya, realitasnya bisa beda dan hal ini semua bisa jadi ga sesimpel itu. Sebelum kita bahas lebih jauh, mending kita bahas deh, apa bedanya sekolah nasional dan sekolah internasional.

Perbedaan Fundamental

Hal paling mencolok yang membedakan kedua tipe sekolah ini adalah kurikulum. Kurikulum di international schools biasanya ya kalo ga IGSCE (International General Certificate of Secondary Education, ya IB (International Baccalaureate). Dari namanya aja udah keliatan dong, berbeda. Kurikulum yang diterapkan seperti ini membuat penjurusan di sekolah jadi beda juga dari sekolah nasional. Kalo biasanya sekolah nasional menerapkan jurusan IPA-IPS (kadang juga ada yang nerapin jurusan Bahasa), tapi kalo di international schools, bidang minat boleh berat ke satu area, tapi juga include mata pelajaran dari area lain. Jadinya, oke boleh komposisi mata pelajaran dibanyakin natural science-nya, tapi minimal ada mata pelajaran dari bidang social science juga.

Yang kedua, bahasa. Yang namanya international schools, bahasa pengantar pada proses belajar-mengajar ya pastinya bahasa internasional juga—dalam hal ini Bahasa Inggris. Interaksi murid baik dengan guru, staf, maupun dengan sesama murid harus menggunakan Bahasa Inggris. Makanya ga heran lulusan international schools pasti casciscus ngomong bulenya. Beberapa internationa schools lain mengijinkan penggunaan bahasa lain di luar sesi belajar—selama proses belajar-mengajar berlangsung, wajib menggunakan Bahasa Inggris. Guru-guru dan sesama murid pun akan banyak membantu jika satu anak mengalami kesulitan dalam hal grammar atau vocabulary. Mengambil kelas selain Bahasa Inggris pun jadi mata pelajaran wajib juga. Ada yang menawarkan kelas bahasa Arab, Cina, Jerman, atau Jepang. Gimana dengan Bahasa Indonesia? Bahasa Indonesia diperlakukan sebagai bahasa kedua malahan.

Terus, perbedaan lain terletak pada tugas sekolah. Murid-murid international school biasanya diajarkan sejak dini untuk bisa merangkai proses berpikir logis dan ini terefleksi dari metode penugasan dari sekolah. Makalah adalah hal biasa bagi murid-murid di sekolah macam ini. Murid juga dilatih untuk melakukan eksperimen sendiri terutama dalam bidang ilmu science kayak Biologi, Fisika, atau Kimia. Mereka akan dituntut untuk menyusun hipotesis sendiri, membuat metode penelitian sendiri, membahas hasil penelitian, dan membuat konklusi dari penelitian itu tadi. Untuk kelas-kelas bahasa, biasanya mereka akan ditugaskan untuk membuat analisis karya sastra, entah novel, cerpen, atau puisi.

Cara belajar di international schools juga dirancang lebih interaktif. Murid-murid diberi kebebasan untuk mengetengahkan pendapat mereka sendiri terhadap sebuah subjek. Guru dituntut untuk membangun jalur komunikasi dua arah dengan murid, ga cuman bediri depan kelas dan ceramah.

Kalo soal ujian, international schools biasanya menerapkan Ujian Tengah Semester, Ujian Akhir Semester, plus ujian resmi sesuai kurikulum terapan. Ujian kurikulum ini biasanya cuma diadakan di akhir, sebelum kelulusan. Bentuk ujiannya juga esai semua, ga ada pilihan ganda.

Guru di international schools bervariasi. Beberapa sekolah hanya meng-hire satu guru asing untuk Bahasa Inggris, yang lainnya orang Indonesia—meskipun demikian, interaksi harus tetap berbasis Bahasa Inggris. Sekolah-sekolah lain ada juga yang meng-hire beberapa guru asing untuk mengampu berbagai mata pelajaran.

Keuntungan

Dari perbedaan-perbedaan itu, kita bisa deh cari tau apa aja keuntungan sekolah di sekolah internasional. Naaah, karena pola belajarnya menitikberatkan pada interaksi dan komunikasi dua arah, murid-murid jadi terlatih buat menyampaikan isi kepalanya dengan cara yang lebih tertata dan logis. Jadi ga pasif aja gitu, nerima materi tanpa mencerna dan memahami.

Dengan banyak aturan yang diterapkan, utamanya soal penggunaan Bahasa Inggris dan metode pengerjaan tugas, murid-murid juga jadi belajar soal disiplin dan menghargai hasil kerja sendiri.

Kombinasi antara kurikulum internasional dan penggunaan bahasa asing yang intens juga bisa mempersiapkan murid untuk mengantisipasi globalisasi dan iklim persaingan dunia. Resume mereka kelak akan lebih “bersinar” dan mereka ga bakal kaget sama kehidupan dan dunia perkuliahan yang emang menuntut kemandirian individu.

Di international schools juga sering ada program overseas yang mengharuskan murid untuk terbang ke negara lain untuk belajar. Ini memungkinkan si anak untuk menyerap budaya modern lebih mudah dan membantu merestrukturisasi pola pikirnya secara akademis juga.

Kekurangan

Nah, dengan berbagai keuntungan itu tadi, sulit ya, rasanya ngebayangin ada yang namanya kekurangan sekolah internasional. Kenyataannya, kekurangan itu hal lazim dalam dunia pendidikan, termasuk dalam hal international schools juga.

Pertama, murid-murid harus ikut ujian akhir dua kali. Pertama, ujian berbasis kurikulum sekolah, kedua, Ujian Nasional. Ini wajib, sudah ditetapkan dalam peraturan Mendikbud tahun 2014. Hasilnya apa? Murid bisa jadi kewalahan membagi fokus karena harus mengimbangi kedua kewajiban di saat yang bersamaan.

Kedua, beban ujiannya jauh lebih membebani. Tiap mata pelajaran menuntut ujian dalam 2 bentuk, teori dan studi kasus. Itu belum ditambah ujian dalam bentuk extended essay sepanjang at least 4000 kata.

Ketiga, mengingat materi pelajaran yang bermuatan internasional, murid kemungkinan tidak bisa mengenal negaranya sendiri dengan lebih baik. Emang sih, pas kelas Sastra Indonesia mereka akan juga belajar tentang sejarah, tapi apakah itu cukup?

Kekurangan nomor empat terletak pada keharusan menggunakan Bahasa Inggris di sekolah. Iya sih, mereka akan lebih cakap dalam menggunakan bahasa asing, tapi nantinya ketika diminta berbicara dengan Bahasa Indonesia, pola tutur mereka akan tidak konsisten. Bahasa Inggris yang dicampur Bahasa Indonesia. Atau sebaliknya.

Jadi Sebaiknya Gimana?

Menyekolahkan anak di mana itu kewajiban dan mau di mana menyekolahkan anak itu adalah hak. Jadi ya, suka-suka orang tuanya kan? Asal itu tadi, sanggup menyokong si anak sampai pendidikannya selesai, ga putus di tengah jalan. Tapi ada pertanyaan yang jauh lebih krusial lagi sebenarnya: Apakah keputusan untuk memasukkan anak ke sekolah bertaraf internasional itu didasari oleh tren, gengsi, atau emang tuntutan kebutuhannya seperti itu? Hal lain yang kudu banget dipertimbangin ada rasio antara keputusan tersebut dengan output-nya nanti. Sebanding ga? Sesuai ga? Worth it, ga? Apa yang dimaksud dengan “output”? Coba kita sederhanakan deh, ya. Kira-kira nanti profesi yang diambil si anak sepadan ga dengan latar belakang pendidikannya? Iya, bener; anak mau jadi apa nanti itu ga ada yang bisa nebak. Tapi paling ga, kita sebagai orang tua udah menerapkan navigasi profesi sejak si anak masih kecil. Coba kita kasi si anak berbagai macam alternatif pilihan profesi sejak jenjang pendidikan dasar sehingga nanti fokus si buah hati dalam belajar bisa lebih terarah. Relevansinya apa dengan international school? Ini akan membantu kita dalam memilihkan sekolah mana untuk si kecil. Kurikulum mana yang kira-kira akan membantunya meraih cita-citanya. Orang tua boleh kan, bermimpi anaknya menjadi seseorang dengan profesi yang so orang tua idamkan? Boleh dong. Asalkan tetap pada jalurnya, ga memaksakan apa pun tapi tetap memberikan pengarahan. Ga ada orang tua yang pingin anaknya jadi pengangguran atau menjalani profesi yang tidak menjamin masa depannya sendiri. Misalnya nih, kita mau anak kita jadi dokter. Ya udah, dari kecil diarahkan. Boleh pilih sekolah berkurikulum internasional asalkan itu emang beneran bisa mendukung jalur profesi di masa depannya nanti.

Tapi jangan mentang-mentang udah yakin sekolahnya cocok dan bagus, malah dibiarin aja sekolah yang mengambil-alih pola pengasuhan si anak ya. Ini bisa berujung pada inkonsistensi budaya belajar nanti.

Orang Tua dan Peran Mereka

Gini, di sekolah internasional itu kan semuanya berbasis Bahasa Inggris. Kalo kita lepas tangan dan ngebiarin sekolah sepenuhnya mendidik si anak, dampaknya bisa sangat berbahaya. Bahasa itu cikal-bakal budaya. Membiarkan anak fasih ber-Bahasa Inggris tanpa filter dan upaya pengimbangan di rumah akan melunturkan nilai budaya negara sendiri. Akibatnya si anak akan lupa pada jati dirinya sendiri dan berkiblat ke negara barat. Ga masalah menjadikan negara barat sebagai tolok ukur, toh mereka emang maju kok. Banyak pelajaran dan ide yang bisa dipetik dan diterapkan dari negara-negara maju. Tapi kalau proses pergeseran nilai itu terjadi dengan gegabah dan kita ga secara proaktif mengendalikannya, lahirlah sifat “mengagungkan negara barat dan merendahkan budaya sendiri”. Anak-anak yang bersekolah di sekolah internasional harus diberikan pengertian bahwa Indonesia juga merupakan bagian dari komunitas global. Mereka harus dibuat paham bahwa yang namanya “internasional” itu tidak otomatis konotasinya adalah negara-negara barat. Mereka harus tahu bahwa harga diri dan jati diri mereka sendiri membuat mereka pantas berdiri di antara anggota penduduk dunia lain, sama rata, sejajar.

Terus, dari sisi orang tua, ga bosen-bosennya diingatkan, perhatikan masalah pendanaan. Sekolah macam begini tuh, ga murah. Uang akan mulai terkikis sedikit demi sedikit mulai dari fase pendaftaran saaampai akhirnya nanti lulus. Jangan berpikir, “Ya udah semampunya dulu aja.” Ga ada ceritanya begitu. Sekali menginginkan anak sekolah dengan gaya internasional, selanjutnya harus konsisten. SD-nya internasional, masa SMP-nya lokal? Ga haram sih, emang, apalagi kalo emang udah tuntutannya begitu. Tapi akibatnya si anak bisa ngalamin culture shock. Dari yang tadinya mereka diajarkan untuk bersikap kritis, aktif, dan komunikatif, mereka akan dibentuk ulang dalam pola sekolah nasional yang… yaaa… you know-lah. Makanya, sebelum memutuskan cuma karena excited, ukur dulu semuanya. Pikir-pikir lagi perbandingan antara sustainability pekerjaan kita yang sekarang dengan kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak.

Terus lagi, nilai-nilai yang diajarkan ke anak sebaiknya konsisten dengan apa yang mereka serap dari sekolah. Kalo di sekolah mereka dituntut mandiri dan aktif, di rumah mereka juga harus diminta berperilaku sama. Jangan pas di sekolah mereka serba dinamis dan terbiasa dengan proses yang cepat, di rumah mereka serba dilayani, serba dijadikan raja dan ratu, serba diiyakan maunya. Serba selalu dibantu sama asisten rumah tangga kebutuhannya. Neneknya dateng ke rumah, jadi manja. Jadi ngelendot-ngelendot. Anak manja pada orang tua atau kakek-neneknya itu wajar. Tapi kita juga harus dengan sadar mencoba menanamkan apa yang diajarkan sekolah mereka. Supaya apa? Supaya karakternya konsisten dan apa adanya. Fokusnya ga kebagi-bagi, di sekolah harus mandiri, di rumah jadi manja. Sesuai aja semuanya, ya. Sesuai porsi, sesuai kebiasaan. Inget, kita menginginkan anak yang bermental baja dalam mengantisipasi arus globalisasi yang terkenal kejam itu.