Unknown's avatar

About yusridinuth

aesthetician//hypnotherapist//pediatric enthusiast. part time singer!

Meeting Internal Keluarga: Mengajarkan Demokrasi Sejak Dini

Kayanya, kalo udah ngomongin masalah bentuk pemerintahan, semua pasti setuju ya, kalo demokrasi adalah tipe yang paling ideal. Idealnya, dengan membawa paham yang satu ini, pemerintahan negara berjalan berdasar keinginan rakyat, pemimpin berperan lebih sebagai pelaksana. Idealnya, ya itu; praktiknya mah, ga tau juga yeee….

Tenang-tenang, Teman DRYD, kita ga lagi mau bahas perkara tata negara. Dokter Yusri ga lagi mau merambah ranah politik kok. Masih di sini-sini aja nemenin Teman-teman mencari jalan dan solusi terbaik untuk mendapatkan kulit yang senantiasa glowing.

Trus kenapa bawa-bawa bentuk pemerintahan, Dok?”

Kali ini saya berniat membawa bentuk pemerintahan demokratis ke ranah parenting. Kok bisa? Ya bisa, dong. Keluarga dan rumah tangga itu kan sama aja kaya negara kecil. Ada kepalanya, ada mentrinya, dan ada rakyatnya. Umumnya, kepala negara dalam sebuah rumah tangga adalah bapak, ibu ada di sampingnya sebagai mentri yang memberikan dukungan kepada si pemimpin. Umumnya begitu. Rakyatnya siapa? Ya anak-anak, dong, siapa lagi?

Dengan analogi seperti ini, bentuk pemerintahan yang demokratis bisa diterapkan juga loh. Cara membina rumah tangga yang didasari atas kepentingan bersama ini justru bisa menciptakan dinamika keluarga yang lebih sehat dan terbuka. Coba deh, Teman-teman bayangin kalo sebuah rumah tangga dijalankan dengan cara yang otoriter. Orangtua memegang peran tirani yang titahnya ga bisa dipatahkan sama sekali. Anak ga punya celah untuk mengungkapkan pendapat dan dipandang sebagai rakyat jelata yang sebaiknya nurut aja apa kata yang lebih tua.

Emang iyaaa, yang namanya anak-anak pastinya belum terbiasa dengan yang namanya memilah sesuatu berdasarkan benar-salah. Mereka bertindak berdasar naluri dan keinginan dan asal hepi aja. Dan tindakan orangtua untuk menuntun anak-anaknya yang belum tahu apa-apa itu juga udah semestinya. Tapi kan ga berarti kalo anak ga berhak punya pendapat sendiri atau sekadar menyampaikan aspirasinya. Kita yang orang dewasa lah yang selanjutnya menyaring apakah pendapat atau keinginan si anak akan berdampak baik untuk dirinya sendiri dan untuk keutuhan dan kedaulatan rumah tangga secara umum. Udah kaya pelajaran Tata Negara aja ini pake bawa-bawa kedaulatan segala.

Tapi beneran deh, biasanya anak yang tumbuh dalam keluarga yang diktator itu biasanya akan jadi kepribadian yang problematis. Ini bukan judgment loh ya; tapi emang banyak banget kasus semacam itu. Ada anak yang jadi individu yang depresi pas gedenya. Ada yang jadi kaku dan frigid. Ada yang maunya serba harus dituruti. Sementara anak yang berkembang dalam keluarga yang open dan serba gamblang biasanya gedenya nanti jauh lebih fleksibel, mudah bergaul, dan lebih positif sikapnya terhadap kritikan dari orang lain.

Menerapkan demokrasi dalam keluarga itu ga susah sebenernya. Cuma kadang ego kita sebagai orangtua terlalu gede yang akhirnya membuat kita sering menyepelekan perasaan dan pandangan dari anak-anak. Gimana caranya menerapkan paham ini dalam level dasar seperti sebuah keluarga?

  1. Budayakan kebiasaan melindungi hak-hak anggota keluarga

Semua manusia itu punya hak azazi: hak untuk mendapatkan pemenuhan terhadap kebutuhan, hak hidup dengan aman, dan hak untuk memberi dan menerima kasih sayang. Semua anggota keluarga perlu menyadari hak mereka sendiri dan menghargai hak yang dimiliki oleh pihak lain. dari sisi anak-anak sendiri ada 10 macam hak azazi yang ditetapkan oleh PBB dalam Konvensi Hak Anak tahun 1989: hak bermain, hak mendapatkan pendidikan, hak mendapatkan perlindungan, hak mendapatkan nama atau identitas, hak memiliki status kebangsaan, hak untuk mendapatkan makanan dan akses kesehatan, hak untuk berekreasi, hak untuk mendapatkan kesamaan, dan hak dalam berperan di pembangunan. Coba deh Teman DRYD telaah lagi, apakah kesemua hak anak ini udah Teman-teman penuhi untuk si buah hati.

  1. Ajarkan menjaga komunikasi

Yang namanya rumah tangga atau keluarga itu adalah tempat pertama bagi anak-anak untuk belajar bersosialisasi. Nah, bersosialisasi yang benar itu adalah dengan cara menjaga jalur komunikasi terbuka secara dua arah. Ini mencakup komunikasi antara kedua orangtua, antara orangtua dan anak, dan antara sesama anak (jika ada). Ajarkan anak-anak cara berkomunikasi yang benar agar mereka mampu mendengarkan orang lain dengan baik, tidak berkembang menjadi pribadi yang egois, dan memiliki kemampuan empati yang tinggi.

Supaya semuanya bisa berjalan dengan natural dan sehat, sebaiknya budaya berkomunikasi ini diterapkan sejak si anak masih bayi. Gimana caranya? Coba libatkan anak dalam percakapan—sesuai batasan, tentunya. Minta pendapatnya dan biarkan dia mengutarakan isi kepalanya, sekalipun pendapatnya itu kedengeran ga masuk akal. Yaaa, namanya juga anak-anak. Jangan lupa juga tanyakan apa yang ia rasakan dan ungkapkan apa yang kita rasakan. Coba deh, belajar buang jauh-jauh anggapan bahwa anak masih terlalu kecil untuk dilibatkan. Ini cuma perkara pemilihan kata aja kok. Kosakata anak-anak masih terlalu terbatas jadi sesuaiin aja cara penyampaian kita kepada mereka.

  1. Normalisasi hormat-menghormati dan saling sayang menyayangi

Udah ga jamannya beranggapan orangtua adalah yang paling powerful dan karenanya adalah yang paling pantas untuk dihormati. Sekarang tuh, coba terapkan prinsip “hargai saya dan saya akan menghormati kamu”.

  1. Terbukalah akan kritik dan pendapat

Ingat ya, Teman-teman, yang namanya demokratisasi keluarga pasti diwarnai ketidaksepahaman dan silang pendapat. Dari sini muncul kritikan. Orangtua ga sempurna jadi juga ga luput dari kritikan yang anak lancarkan. Ini sah-sah aja ya. Justru ini adalah pola dinamika yang sehat karena semua elemen keluarga punya hak yang setara dalam soal melancarkan kritik. Tapi pastikan kita udah ngajarin anak cara menyampaikan pendapat dan kritik dengan benar. Sebaliknya, ketika kita mengkritik anak, sebaiknya juga kita dampingi dirinya supaya mengerti gimana seharusnya bersikap ketika dikritik.

  1. Jangan pernah mendiskriminasi

Demokrasi yang ideal adalah lingkungan yang bebas diskriminasi dalam bentuk apa pun. Rasa aman dan nyaman adalah hak semua anggota keluarga jadi jangan pernah ada yang namanya kekerasan psikis, verbal, atau juga fisik.

  1. Tanamkan pola tugas dan kewajiban

Yang namanya kesetaraan hak pasti juga disertai dengan keadilan dalam hal kewajiban. Pembagian tugas rumah tangga harus adil, bukan sejajar. Karena kalau berdasarkan kesejajaran, berarti anak juga mengemban tugas untuk nyari nafkah, dong? Penekanan harus diberikan pada prinsip keadilan dan kesesuaian. Bapak ada tugas dan kewajibannya. Begitu juga dengan ibu dan anak-anak. Anak-anak punya kewajiban juga? Iya, dong. Tugas-tugas sederhana seperti mematikan lampu kamar atau merapikan mainan mereka sendiri juga termasuk kewajiban. Lagi-lagi, semua harus sesuai dengan umur dan kemampuan masing-masing, ya.

  1. Biasakan bermusyawarah

Setiap keputusan internal rumah tangga harus diambil berdasarkan musyawarah. Ga perlu rapat formal; suasana santai pun bisa jadi ajang bermusyawarah keluarga loh.

Keluarga saya sendiri menerapkan contoh demokrasi di lingkungan keluarga seperti ini terutama di poin terakhir. Biasanya, setiap akhir bulan seluruh anggota keluarga inti: bapak, ibu, saya, dan adik-adik saya akan berkumpul untuk meeting internal. Apa aja manfaat yang saya rasakan?

Pertama, bonding antara anggota keluarga jadi lebih erat karena dalam rapat bulanan ini kami ada dalam situasi yang lebih hangat dan akrab.

Kedua, saya merasakan pola komunikasi yang lebih efisien dan efektif karena diskusi ga cuma berlangsung di belakang layar antara bapak dan ibu tapi juga antara mereka dan kami para anak serta antara sesama anak-anak. Kita jadi paham proses pengambilan keputusan yang akan diterapkan dan bebas mempertanyakan kebijakan dari orangtua juga.

Ketiga, semua elemen dalam keluarga bebas membicarakan apa aja, mulai dari ada kejadian apa selama sebulan ini, ada perkembangan apa, ada hal baru apa yang sedang dikerjakan, saaampai ke hal-hal yang rada berat dan membutuhkan keputusan bersama. Topik emang bebas, tapi bukan ga ada batesan ya. Hal-hal tertentu yang sifatnya personal dan sensitif biasanya dibicarakan dengan cara pendekatan yang lebih privat juga. Biasanya salah satu atau kedua orangtua akan “menarik” satu anak ke “pinggir” dan mulai deh di-interview.

“Lah, katanya open, Dok? Kok main sembunyi-sembunyi ngobrolnya?”

Ya kalo topiknya terlalu sensitif dan berpotensi mempermalukan si anggota keluarga terkait di depan publik, masa iya harus dibahas terbuka juga? Kan demokrasi itu menjamin rasa aman dan nyama setiap anggota. Kalo malu jadinya ga nyaman lagi dong.

Tapi itu sekadar contoh yaaa. Setiap keluarga pasti punya ciri khas tersendiri yang mungkin bikin metode yang ada di keluarga saya sedikit ga efektif untuk diterapkan. Gapapa. Berdemokrasi itu fleksibel aja kok asal kesejahteraan setiap anggota keluarga tetap terjamin. Kalo emang kayanya lebih aman kalo dimulai dengan “di balik layar” dan cara pendekatan yang selalu personal dan privat, ya monggo. Asal ga berdampak negatif secara global (cie global… apasiii   ?), ya gapapa. Intinya sih, apa pun caranya, gimanapun metodenya, semua anggota keluarga harus dijamin hak dan diminta pertanggungjawabannya.

Teknik Jurnaling: Ketik atau Tulis Tangan?

Hai Teman DRYD,

Udah nemuin apa self-love languages kalian? Seperti yang kita udah pernah bahas kemarin-kemarin, ungkapan mencintai diri sendiri itu juga penting untuk dipelajari supaya kita ga terjebak dalam mencintai orang atau hal lain tapi luput dari memelihara kesehatan pribadi—fisik maupun mental. Dan karena setiap individu adalah subjek unik yang memiiki cara tersendiri dalam menangani berbagai macam kendala pribadi, yang namanya self-love language buat masing-masing juga berbeda-beda. Ada yang memilih bermeditasi, ada yang lebih suka pergi ke spa atau dipijat, ada juga yang cenderung lebih merasa dirinya teraktualisasi ketika melakukan hobi yang mereka suka.

Semuanya valid dan legit ya, Teman DRYD. Do whatever makes you happy and feel loved by your very own self. Ga ada judgment di sini. Namanya juga self-care, cuma kita yang tahu gimana caranya supaya bisa mencintai diri sendiri dengan lebih mendalam dan lebih intim dalam menjalin hubungan dengan diri sendiri. Cuma kadang-kadang nih, apa yang menurut kita bisa membuat lebih mencintai diri sendiri itu bisa-bisa kebentur penghalang. Misalnya, yang berminat meditasi mungkin terkendala masalah jadwal kerja. Sibuk di kantor, lembur sampe malam, kerjaan kebawa sampe rumah—banyak faktor yang berkaitan dengan kesibukan hari-hari yang menjegal jalan menuju ketenangan batin lewat meditasi. Ataaau, mungkin ada yang kepingin nyobain spa atau massage treatment tapi kehalang masalah budget. Mungkin alokasi dana bulanan ini mepet banget dan kalo dipaksain pergi ke spa malah bikin overbudget. Atau mungkin ada yang kepikiran buat menekuni hobi memasak atau berkebun tapi si buah hati yang masih kecil bikin agak ga mungkin buat mereka ninggalin barang semenit.

Apa pun alasannya, gapapa. Ga cuma satu jalan ke Roma, kata orang-orang. Ga perlu stres gegara ga sempet me-time karena entah apa pun. Ga usah juga merasa ga enak pada siapapun dan ngerasa banyak alesan. Kita yang tau kondisi. Kita yang paham medan. Kita yang ngerti kaya apa situasi, risiko, dan efeknya. Gapapa.

Teman DRYD tau ga, kalo ternyata tindakan self-care yang paling efektif itu adalah juga yang paling murah, mudah, dan ga ngebebanin?

“Masa sih, Dok? Emang ada alternatif lain?”

Ada dong. Perkenalkan, jurnaling.

Pernah denger? Ato ini pertaman kalinya denger istilah ini? Basically, membuat jurnal itu adalah kegiatan pencatatan pengalaman yang dilakukan secara harian dalam sebuah media tertulis. Nah, berdasarkan definisi sederhana ini, pasti yang kebayang itu adalah buku diari kan ya?

“Dok, masa udah tua masih disuru nulis diari, sih?”

Eits, jangan buru-buru nyimpulin yaaa. Sekilas emang menulis jurnal dan buku diary itu mirip. Tapi keduanya berbeda secara fundamental. Diari yang biasanya kita gembok pas jaman es-de sampe es-em-a itu ditulis harian, emang. Tapi isinya saaangat random dan sifatnya lebih ke luapan isi hati yang ga bisa disampaikan ke orang lain. Kesel sama sahabat lah, bete sama pacar lah, sedih dicuekin gebetan lah, keki sama ortu lah, seneng karena nilai ulangan bagus lah, emosi gegara LDR-an lah, cemburu sama orang lain lah, gitu-gitu deh.

Nah, bedanya sama jurnal, jurnal itu lebih rapi, lengkap, berpola, dan teknis. Kita ga harus menceritakan panjang lebar tentang perasaan sebel gegara ngeliat gebetan dipepet sama temen deket. Cukup, misalnya, bikin satu section yang mengandung emoticon-emoticon dari sedih sampe seneng. Nanti dibuat bagan per tanggal untuk satu bulan. Di tanggal yang dimaksud, kita tinggal warnai emoticon yang sesuai dengan overall mood kita hari itu. Simpel, kan? Kalo mau dispesifikkan kenapa kita mewarnai emoticon sedih untuk hari itu, bisa aja dikasi note gitu, ngejelasin kenapa mood kita jelek.

Teknik ini disebut juga dengan bulletjournal, karena kita dianjurkan untuk seminim mungkin dalam menggunakan kata-kata dan lebih bermain ke pewarnaan, checklist, diagram, dan ikon-ikon atau gambar. Dengan cara ini, pencatatan harian kita selama sebulan bisa lebih compact, praktis, dan mudah dibawa ke mana-mana. Kebayang ga, gimana repotnya harus punya dan bawa-bawa 5 buku catatan untuk hal yang berbeda? Kegiatan menjurnal bakal jadi sangat menyita waktu dan truly exhausting.

Secara umum, membuat jurnal adalah kegiatan positif yang sehat untuk mental dan tidak menuntut banyak dari pelakunya. Dengan membuat jurnal, kita bisa lebih mudah dalam mengolah emosi yang dirasakan, mengembangkan kreativitas, dan mempermudah strategi hidup (melacak kejadian di masa lalu, membantu menyusun apa yang harus dilakukan saat ini, dan merancang masa depan). Uniknya, bullet journal juga bisa mencakup masalah penyusunan budget harian. Kita bisa mencatat pengeluaran untuk dijadikan parameter ketika akan menyusun keperluan finansial di bulan berikutnya. Kira-kira di bagian mana uang mengalir terlalu deras sehingga menyedot kebutuhan di sektor lain.

Pake Tangan Ato Ketik?

Pertanyaan yang satu ini jadi relevan karena di jaman modern kaya gini, smartphone kita pun disertai kemampuan untuk menjalankan aplikasi digital bahkan untuk membuat jurnal harian. Komputer pun bisa mengakomodasi kegiatan ini dengan cakupan yang lebih luas mengingat kemampuannya untuk memfasilitasi desain grafis. Tapi ada hal tertentu yang membedakan membuat jurnal dengan menulis dan mengetik lebih dari jenis media dan fasilitas.

Membuat jurnal dengan buku dan pena itu sesederhana membuka lembaran kertas dan mulai menuliskan pikiran, pendapat, dan perasaan. Dengan menulis, kita bisa memiliki kesempatan untuk melibatkan otak kita dengan lebih dinamis sehingga bisa membuat kita menyimpan memori dengan lebih baik. Menjurnal dengan mengetik melibatkan aplikasi menulis digital seperti OneNote, Microsoft Word, Google Docs, Tumblr, atau WordPress. Isi pikiran dan perasaan diketik dan tertuang langsung dalam layar peranti di hadapan kita.

Ada keuntungan dan kekurangan masing-masing dari kedua cara itu tadi. Menulis memungkinkan kita untuk mewariskan sesuatu yang dapat dipegang pada anak-cucu kita nanti untuk mereka pelajari sendiri. Menulis di atas kertas pun meniadakan kemungkinan data kita diretas atau hilang karena kerusakan media penyimpanan. Mengetik dengan media digital, di lain pihak, memungkinkan kita untuk membuat backup data dan dengan alat yang tepat kita bisa mengakses arsip-arsip data di mana dan kapan aja.

Menulis dengan Tangan Memaksa Kita untuk Melambatkan Proses Berpikir

Keluhan terbesar tentang membuat jurnal dengan menulis adalah bahwa kegiatan ini sama sekali ga convenient. Ga praktis untuk sesuatu yang semestinya membuat segalanya ringkas dan, well, praktis. Menulis emang bukan hal sulit tapi mengetik jauh lebih mudah apalagi kalo pada kenyataannya kita udah duduk di depan komputer juga buat kerja. Kebanyakan dari kita bahkan mungkin lebih banyak mengetik daripada mengunakan pena jadi membuat jurnal dengan menulis mungkin akan butuh beberapa saat sebelum kita terbiasa. Karena ini, menulis dengan tangan akan terdengar ga produkti karena kita akan diperlambat—tapi ini justru berdampak baik. Kenapa? Karena ketika kita menulis dengan tangan, kita dipaksa untuk fokus pada apa yang penting saat itu. Ketika kita menulis dengan tangan, kita akan menghasilkan lebih banyak kata ketimbang saat mengetik dan juga kita bisa mengekspresikan lebih banyak ide.

Menulis tangan memerlukan koordinasi halus antara jari-jari dan otak—ini sesuatu yang lebih complicated daripada mengetik. Kegiatan ini merangsang aktivitas pada bagian motor cortex di otak—efek yang sama ditemukan juga pada kegiatan bermeditasi.

Mengetik Mempermudah Kita Membentuk Habit

Kenyamanan dan kemudahan adalah keuntungan utama jika kita memilih mengetik sebagai cara untuk journalling. Dan karena semuanya serba mudah dan nyaman, mengetik membuat kegiatan menjurnal lebih mudah untuk ditelateni dengan ketekunan. Ketika menulis dengan tangan, kita dipaksa untuk memproses apa yang kita rasakan sebelum dituangkan di atas kertas. Mengetik di komputer atau smartphone membuat kita meng-skip proses yang satu ini jadi isi kepala bisa langsung mengalir dalam bentuk tulisan pada layar monitor.

Analisis

Beberapa orang merasakan sensasi atau kepuasan tersendiri ketika menjurnal dengan tangan setelah melalui satu hari yang penuh dengan stres atau diwarnai hal-hal yang membuat down. Mereka merasa lebih “lepas” dan “lega” setelah menggunakan pena dan kertas untuk mengeluarkan isi kepala, terutama karena mereka secara ga sadar mengasosiasikan mengetik di komputer atau gadget lain dengan kegiatan kerja profesional—yang tentunya melelahkan.

Dari satu studi di Universitas Iowa, subjek penelitian menunjukkan reaksi positif terhadap pengalaman traumatis setelah membuat jurnal tentang pengalaman tersebut; tapi hasil ini semua didapatkan bukan dari kegiatan itu sendiri melainkan lebih kepada bagaimana kegiatan itu dilakukan, gitu. Mereka diminta untuk menjurnal dengan menulis tangan dan berfokus tidak hanya pada emosi tapi juga pada pikiran dan perasaan.

Ketika kita menulis dengan tangan, fokus untuk pikiran dan perasaan jadi terasa lebih leluasa untuk dilakukan karena kita kudu nih, berenti sebentar buat memproses apa yang kita rasakan sebetulnya. Ketika mengetik, proses ini otomatis ditiadakan karena kita ngerasa ga perlu berhenti sejenak buat berpikir dan merasakan. Semuanya langsung mengalir lewat kecepatan tangan mengetik.

Jadi Mana Yang Lebih Baik?

Mengetik tidak serta-merta berarti kita ga bisa memproses isi kepala dan perasaan dan semata-mata mencurahkan fokus pada emosi aja. Tetap bisa, tapi dengan menulis tangan, semuanya bakal kerasa lebih organik aja karena kita ga terarahkan untuk menuangkan sebuah ide tanpa berhenti sebentar. Kadang perlu juga loh, ngerem diri sendiri sebelum bertindak. Diproses dulu apa yang kita rasakan. Sinkronkan dulu dengan isi kepala. Baru kemudian kita gunakan sejajar dengan emosi yang ada. Jadi menentukan mana yang lebih baik antara menulis tangan dan mengetik itu agak sedikit rancu karena semuanya balik lagi ke tujuan awal kita membuat jurnal.

Mengetik bisa jadi pilihan yang aman jika tujuan kita adalah merekam informasi dan data karena lebih mudah dan lebih cepat. Tapi kalo kita kepingin belajar melacak kejadian di masa lalu, memproses perasaan, menghasilkan ide-ide, ato sekadar untuk menjadi lebih tenang aja, menulis dengan tangan adalah pilihan yang lebih tepat.

Ga ada alasan juga buat ga ngelakuin keduanya. Pas mau nyatet informasi ato data, ngetik deh. Pas mau menajamkan fokus dan mau ngerem proses berpikir sebentar, nulis tangan deh. Tapi kalo tujuannya dari awal mau ngedapetin manfaat secara kesehatan mental, mending nulis tangan deh.

Beberapa Tips

Tertarik buat mulai bikin jurnal, terutama dengan menulis tangan? Ada tipsnya supaya ga ngebosenin dan kita bisa dapetin manfaat penuh.

  1. Cari buku yang cocok sama kepribadian kita. Kenapa? Simpel. Ga ada kan yang nganggep buku tulis polos tanpa pemanis itu menarik? Ga perlu yang terlalu semarak warna-warni ber-glitter. Baaanyak buku jurnal dijual di luar sana dengan desain menarik dan inovatif. Pilih satu yang emang berpotensi ngedukung kegiatan kita dan sesuai dengan kepribadian kita. Ini bakal bikin excitement meningkat dan kita bakal ngerasa kayak ada yang ilang kalo ga ngejurnal sehari aja.
  2. Don’t limit yourself. Maksudnya di sini jangan sekali-kali ngasi batasan tentang isi jurnal yang sebaiknya. Jurnal ga melulu perkara tanggal-tanggal dan appointments Isinya bisa tentang jadwal atau siklus mens (buat cewe-cewe ni, ya), must-try recipes, alokasi budget, ide-ide dan inspirasi apa pun, lists (judul film yang mau/harus ditonton, album must-have), bahkan rancangan belanja bulanan. Untuk masalah ini, kreativitas kitalah yang jadi batasannya.
  3. Tetapkan jadwal jurnal rutin. Ga perlu setiap pagi kok. Kalo emang nyamannya memulai menjurnal di pagi hari, ya mulailah sesegera setelah bangun. Kalo emang lebih nyaman di malam hari, ga Yang penting ada alokasi waktu menjurnal setiap hari.
  4. Memilih buku harian yang cocok aja ga Harus ada temannya. Cari alat-alat tulis dan dekorasi yang menarik juga. Pena warna, stiker-stiker, label, pembatas halaman, apa pun itu yang bisa ngedukung kreativitas.
  5. Yang terakhir, enjoy. Tanamkan di diri kalo kegiatan menjurnal ini adalah sesuatu yang sifatnya menenangkan. Ini semua perkara self-care. Dijalani aja senyamannya kita. Tapi kalo emang setelah dicoba, kegiatan ini ga kerasa ada dampak positifnya, sah-sah aja kok kalo kita mau berpaling dan mencoba alternatif self-care Lagi-lagi, ga satu jalan menuju Roma. Self-love language adalah sesuatu yang fleksibel dan hanya menuntut satu hal saja: Do whatever makes you happy and love yourself even more.

Collagen Drink: Bisakah Minuman Suplemen Menjaga Kulit Tetap Glowing?

“Anda adalah apa yang Anda makan”.

Pernah dengar slogan yang satu itu? Kalo Teman DRYD rutin nyari referensi kesehatan pasti sering banget kan, nemu kalimat kaya gitu? Jargon itu emang ada benernya. Kita mengonsumsi sesuatu yang kemudian imbasnya (baik positif maupun negatif) bisa terlihat dari penampilan luar. Kalo makannya berantakan dan sembarangan, kulit dan tubuh secara umum pasti keliatan kusam dan ga seger. Sebaliknya, kalo asupan makan sehari-hari yang kita konsumsi terjaga dengan benar, pasti kita akan tampak lebih glowing dan sehat. Dengan asumsi seperti ini, kita juga pasti dengan mudah mengartikan bahwa kalau kita meminum collagen drink, hasilnya kulit bakal lebih kenyal, elastis, dan awet muda. Iya kan? Tapi pada kenyataannya ga sesederhana itu kok.

“Lah, kan you are what you eat, Dok. Ya itu juga harusnya berlaku untuk suplemen yang satu itu.”

Iyaaa. Minuman kolagen emang lagi ngehype banget belakangan ini. Influencer-influencer di Instagram ato YouTube banyak banget yang promoin produk-produk macam begini. Ga ada salahnya sih, mau nyobain. Tapi pernah ga kepikiran satu pertanyaan simpel: Emang bisa gitu dengan minum sesuatu doang kulit bakal awet muda? Kalo emang produk seperti itu ada, kenapa baru sekaran-sekarang ini keblow-up?

Sebelum ke sana, kita kenalan dulu yuk sama zat yang jadi nilai jual produk yang dimaksud.

What Is Collagen?

Apa itu kolagen? Teman DRYD jangan sering suka ngucapin satu nama bahan tanpa tahu apa sebenarnya bahan itu ya. Yang namanya kolagen itu adalah jenis protein yang tersusun dari berbagai macam asam amino yang fungsinya adalah menjaga keutuhan struktural jaringan tubuh dan tulang. Kolagen juga adalah protein yang memberi kulit kekenyalan khas serta merangsang pembentukan hyaluronic acid. Di dalam tubuh sendiri ada beberapa tipe kolagen tergantung lokasinya, ada yang di tulang, di otot, rambut, dan kulit. Tipe kolagen tertentu berfungsi menjaga kulit tetap elastis tapi kita cenderung kehilangan 1.5% dari total simpanan kolagen alami setelah usia 25 tahun. Ada banyak faktor yang menyebabkan penurunan ini di antaranya adalah proses penuaan, kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol berlebihan, konsumsi gula terlalu banyak, dan konsumsi makanan yang diproses secara tidak sehat.

Nah, karena fungsinya yang berkaitan erat dengan menjaga stabilitas kulit inilah makanya sekarang muncul tren kecantikan baru dalam bentuk minuman kolagen. Prinsipnya sederhana; itu tadi, Anda adalah apa yang Anda konsumsi. Jadi singkat kata, jika kita minum kolagen, persediaan kolagen badan akan bertambah dan kulit akan tetap elastis dan awet muda. Sederhana kan? Tapi logikanya ga berhenti sampe di sana aja. Berapa banyak kolagen yang harus dikonsumsi supaya efeknya bisa terlihat? Worth it ga sih, kalo kita menyertakan kolagen dalam pola diet kita dari segi budget? Ada ga sih bukti ilmiah yang memperlihatkan dengan gamblang kalo suplemen kaya gini tuh beneran efektif?

Emang Gimana sih Cara Kerja Minuman Kolagen?

Kita mulai dengan yang paling dasar. Gimana kolagen bisa bekerja lewat minuman yang kita konsumsi? Merk-merk yang ada di pasaran biasanya menyertakan kolagen dalam bentuk peptida yang terhidrolisasi. Tujuannya adalah supaya begitu dikonsumsi, molekulnya bisa dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil yang gampang diserap usus. Setelah diserap, zat kolagen dari minuman itu akan masuk ke dalam pembuluh darah yang kemudian disebar ke seluruh badan. Peptida kolagen ini sampai ke kulit dan bisa bertahan dalam lapisan kulit selama 2 minggu. Hasil uji laboratorium menunjukkan kalo peptida kolagen dalam produk suplemen dapat memperbaiki hidrasi kulit dan mengurangi kerutan. Nah ini baru hasil uji dalam lab loh, ya. Karena pada kenyataannya, di luar konteks uji ilmiah, keefektifan minuman kolagen masih jadi sumber perdebatan.

Argumen yang digunakan untuk menampik efektivitas minuman kolagen adalah proses penyerapan yang diutarakan tadi. Kolagen utuh yang masuk ke dalam perut akan dipecah menjadi asam amino. Ada yang berpendapat kalo kolagen yang dikonsumsi ga bakal mungkin selamat dan tetap utuh setelah melewati proses pencernaan untuk didistribusikan ke seluruh tubuh lewat pembuluh darah. Kalopun ada elemen yang berhasil sampe ke kulit, persentasenya akan sangat kecil, terlalu kecil untuk bisa memberikan perubahan atau perbaikan berarti. Nah, ini untuk kasus konsumsi kolagen utuh. Apalagi kalo yang diminum adalah kolagen dalam bentuk peptida, semestinya sih begitu sampai dalam usus udah ga utuh lagi untuk diproses badan.

Manfaat Mengonsumsi Suplemen Kolagen

Jadi ga guna dong udah cape-cape minum rutin tapi ga ada hasil?

Bukan ga ada. Investigasi ilmiah masih terus berjalan untuk nyari tau efektivitas minuman collagen dalam menjaga kesehatan kulit. Beberapa orang yang rutin mengonsumsi juga ngerasain efek positif setelahnya.

Pertama, tetap ada yang ngerasa kalo kesehatan kulitnya membaik. Ada sebuah studi yang mengamati individu-individu yang rutin selama 8 minggu mengonsumsi suplemen kolagen sebanyak 2.5-5 gram. Hasilnya kulit mereka jadi ga terlalu kering dan ada juga peningkatan signifikan dalam hal elastisitas kulit. Studi lain menunjukkan bahwa rutin mengonsumsi minuman yang dicampur dengan suplemen kolage selama 12 minggu akan memperbaiki hidrasi kulit dan penipisan kerutan.

Kedua, nyeri sendi berkurang. Kolagen juga berfungsi menjaga keutuhan jaringan tulang rawan yang banyak ditemukan di area persendian badan. Jaringan tulang rawan ini berkurang kinerjanya seiring dengan penuruan produksi alami kolagen dalam tubuh. Akibatnya persendian akan sering terasa sakit dan kaku. Meminum suplemen kolagen bisa membantu mengatasi keluhan ini. Teorinya, kolagen yang dikonsumsi akan menumpuk di jaringan tulang rawan dan merangsang produksi kolagen dalam tubuh.

Ketiga, mencegah pengeroposan tulang. Fun fact: tulang-tulang kita tersusun mayoritas dari kolagen. Ketika produksi kolagen menurun drastis, massa tulang pun anjlok yang kemudian menyebabkan osteoporosis. Apa risikonya? Tulang jadi rapuh dan gampang patah.

Keempat, konsumsi suplemen kolage bisa berdampak positif untuk meningkatkan massa otot. Sepuluh persen dari total massa otot tersusun dari kolagen. Konsumsi kolagen dapat merangsang sintesis protein otot seperti kreatin.

Kelima, konsumsi collagen drink yang bagus dikatakan dapat meningkatkan kesehatan jantung. Pembuluh darah arteri, yaitu pembuluh darah yang menyalurakan darah dari jantung ke seluruh tubuh juga tersusun antara lain oleh kolagen. Kekurangan kolagen akan menyebabkan pembuluh ini lemah dan rapuh. Kondisi ini akan berisiko menyebabkan atherosclerosis, keadaan medis yang ditandai dengan penipisan arteri dan berpotensi menyebabkan serangan jantung dan stroke.

Keenam, ada beberapa efek positif lain yang ditimbulkan dari konsumsi kolagen. Suplemen kolagen dikatakan bisa mencegah kerapuhan kuku dan rambut, memperbaiki beberapa keluhan perut seperti leaky gut syndrome, membantu meningkatkan mood dan mengurangi gejala kecemasan, dan mempercepat proses metabolisme sehingga membantu menurunkan berat badan.

Nah, Teman DRYD, yang perlu diingat di sini adalah semua manfaat konsumsi minuman kolagen ini tuh cuma berdasar laporan subjektif aja ya. Semua berdasar pada cerita orang yang mengonsumsi, studi ilmiah terbatas, dan investigasi yang belum terlalu intensif. Masih diperlukan uji coba dan penelitan ekstensif buat bisa mengambil kesimpulan umum tentang efektivitas minuman kolagen.

Efek Samping

Sejauh ini dan secara umum, ga ada ya, efek samping yang membahayakan kesehatan dari mengonsumsi beauty drink. Tapi, beberapa produk mungkin menyertakan kolagen yang diturunkan dari bahan-bahan penyebab alergi seperti ikan, kerang, dan telur. Orang yang alergi dengan bahan-bahan seperti itu sebaiknya menghindari konsumsi produk terkait. Beberapa orang juga melaporkan rasa ga enak di mulut mereka setelah mengonsumsi suplemen kolagen sementara beberapa yang lain melaporkan rasa penuh dalam perut dan nyeri di ulu hati.

Tapi laporan-laporan ini semua masih berdasarkan pada beberapa kasus aja ya. Suplemen kolagen relatif aman dikonsumsi sesuai dosis dan anjuran.

Alternatif yang Lebih “Safe

Safe” di sini ga otomatis saya mengklaim kalo suplemen kolagen itu ga aman dikonsumsi ya, sampe harus nyari penggantinya. Seperti yang udah disampein tadi, uji ilmiah terhadap efektivitas suplemen kolagen masih bergulir dan butuh waktu sebelum para ahli bisa sampai pada satu kesimpulan pasti. Tapi kalo tetap masih mau minum collagen drink terbaik ya monggo aja sih. Asalkan ga berlebihan yaaa. Sesuai anjuran aja. Siapa tau emang ada efek baiknya kan?

Tapi ada kok cara lain yang bisa dipakai untuk meningkatkan produksi kolagen dalam tubuh.

Pertama, dengan cara menggunakan retinoid. Retinoid diturunkan dari vitamin A dan sejauh ini masih merupakan satu-satunya zat topikal yang ampuh mencegah penuaan dini. Retinoid bisa memudarkan kerutan kulit, memperlambat penguraian kolagen, dan mencerahkan pigmentasi dan bintik-bintik pada wajah.

Kedua, dengan vitamin C. Vitamin C juga dibutuhkan dalam sintesis kolagen dalam tubuh. Vitamin C juga bersifat antioksidan, mencerahkan kulit, dan antiradang. Gunakan vitamin C dengan konsentrasi tidak lebih dari 20% karena kandungan konsentrasi yang lebih tinggi justru malah akan mengiritasi kulit.

Ketiga, dengan meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung kolagen alami. Diet yang seimbang dan mengandung cukup protein (nabati atau hewani) bisa meningkatkan produksi kolagen dalam tubuh. Ditambah sayur dan buah yang mengandung vitamin C, kebutuhan kita akan kolagen akan segera terpenuhi dengan alami. Coba tambahkan juga dalam pola makan kita elemen kaldu dari tulang, entah dari tulang ayam, tulang sapi, atau tulang ikan. Makanan berbasis kaldu tulang biasanya berefek menyembuhkan tubuh dan tinggi kandungan kolagen, gelatin, dan asam amino—kesemuanya berfungsi positif untuk kesehatan usus.

Makanan Apa Aja Yang Kaya akan Kolagen?

Ikan sejak lama dikenal sebagai sumber asam amino, yang pada akhirnya digunakan tubuh untuk memproduksi kolagen. Dianjurkan menyantap ikan sekaligus dengan kulitnya untuk hasil yang maksimal.

Sayuran dan buah, seperti yang tadi udah disinggung, tinggi kandungan vitamin C-nya. Coba tambahkan lemon, paprika (merah dan hijau), serta tomat dalam menu sehari-hari. Tomat sendiri juga tinggi likopen, antioksidan yang dapat menanggulangi kerusakan pada kulit setelah terpapar matahari.

Kaldu tulang juga tadi sempat disinggung ya. Buatlah menu olahan berbahan dasar tulang, seperti sup misalnya.

Buah beri. Buah-buahan di keluarga berries termasuk stroberi, blackberry, blueberry, dan raspberry. Kesemuanya tinggi kandungan vitamin C.

Daging merah kaya akan zinc, yang juga salah satu elemen penting untuk pembentukan kolagen. Di dalam daging juga terkandung hidriprolin, prolin, dan glusin—3 asam amino esensial yang menyusun kolagen.

Tiram mengandung tembaga, unsur lain yang menyusun kolagen.

Final Words

Ga dilarang kok, minum minuman kolagen. Selagi ada budget khusus buat menyertakan suplemen yang satu ini dalam pola diet sehari-hari, kenapa engga kan? Toh juga ga ada efek buruknya. Toh juga masih tetap ada hal baik yang bisa diharapkan.

Tapiii, buat yang masih meragukan efektivitas suplemen seperti ini karena masih kurang didukung dengan data ilmiah dan endorse resmi dari dunia kedokteran, ya gapapa juga. Gimana enaknya aja, senyamannya. Toh juga masih ada alternatif lain yang bisa diandalkan.

Yang penting itu kulit sehat dan hati senang.

Ratu Segala Sate

Hai Teman DRYD,

Bukan rahasia lagi ya, kalo sate adalah salah satu makanan favorit semua orang dari berbagai lapisan dan kalangan. Rasanya yang jelas enak bisa cocok di lidah banyak penikmat kuliner. Di Indonesia sendiri pastinya Teman-teman udah tau dong, kalo ada banyak banget varian sate dengan cara pengolahan dan penyajian yang khas masing-masing daerah. Ini bikin kita ga kehabisan pilihan untuk dinikmati jadinya.

Nah, di Jogja ada satu outlet sate yang terkenal banget sampe-sampe semua turis dalam maupun luar negri pasti nyempetin buat mampir.

Namanya Sate Ratu. Satenya sate ayam tapi bumbunya diklaim resep rahasia jadi bikin kita yang datang dan menikmati hidangan menebak-nebak apa sih yang dipake di bumbunya, gimana sih teknik masaknya. Gitu-gitu. Menunya ada 3 macam yang dijadikan andalan: Sate Merah, Sate Lilit Basah, dan Ceker Tugel.

Sate Merah sih katanya dimodifikasi dari bumbu sate Rembiga. Warna bumbunya merah tapi ga pedes-pedes banget kok. Ini menu andalan Sate Ratu dan selalu jadi highlight yang diincar wisatawan mancanegara.

Sate Lilit Basah dimodifikasi dari sate lilit khas Bali. Cuma penyajiannya disertakan dalam kuah, berbeda dari aslinya yang menggunakan batang serai sebagai tusukan dan berbalut kelapa.

Ceker Tugel adalah menu eksotis berbahan utama ceker ayam yang katanya dimasak selama 13 jam tapi ga selalu ada. Untung-untungan aja kalo ini sih.

Lokasi Sate Ratu ga susah kok dicari. Ga jauh juga dari pusat kota dan titik-titik wisata Yogyakarta. Teman-teman DRYD yang kehabisan referensi sate di wilayah DIY atau teman-teman yang berencana datang ke area DIY bisa milih Sate Ratu sebagai salah satu destinasi kuliner yang wajib dimasukkan ke dalam itinerary.

Saya sih, suka banget, ya sama sate ini. So, it’s definitely a must-try for me!

 

Permintaan dari Anak: Sejauh Apa Kita Harus Memenuhi?

Menjadi orangtua adalah suatu pengalaman yang pastinya bikin kita excited, ya. Setelah menemukan pasangan yang pas di hati kemudian mengarungi bahtera rumah tangga, hal berikutnya yang paling ditunggu-tunggu adalah kehadiran si buah hati yang akan mengisi hari-hari kita hingga tua nanti. Tapi apa sesederhana itu? Teman-teman DRYD yang udah jadi orangtua sekarang pasti paham kalo yang namanya ngasuh dan ngedidik anak itu bukan perkara gampang. Menjadi orangtua itu adalah pekerjaan seumur hidup. Orang bilang begitu si anak sudah menikah, tugas kita sebagai orangtua selesai. Kenyataannya, bahkan ketika buah hati kita udah mapan dan siap hidup dengan orang lain, kita sebagai orangtua akan selalu menjadi tempat si anak kembali dan berkeluh-kesah. Kita pun punya kewajiban untuk memberikan bimbingan dan bantuan dalam bentuk apa pun yang dibutuhkan si anak. Coba, sekarang siapa yang bisa anak kita andalkan untuk meminta nasihat kalo bukan orangtuanya sendiri? Namanya orangtua, pasti menang di besaran angka usia kan? Nah, asumsinya adalah dengan usia yang lebih matang, pengalaman pun lebih banyak. Sementara si anak mungkin baru memasuki satu tahap tertentu yang udah bertahun-tahun lalu kita lewati. Emang sih, usia ga menjamin kematangan pengalaman hidup tapi ya suka ga suka tetap kita para orangtua yang akan dijadikan sumber pembelajaran buat anak. Ibaratnya kita adalah sebuah buku yang akan dibaca dan dijadikan referensi oleh si buah hati.

Nah, salah satu hal terberat yang dihadapi oleh orangtua adalah perkara permintaan anak. Sebagai orangtua yang sangat menyayangi anaknya, naluri atau insting kita adalah membuat anak bahagia. Menuruti apa yang diminta oleh anak menjadi sebuah dorongan yang akan kita rasakan. Ditilik dari segi tanggung jawab orangtua pun, emang udah sebuah kewajiban untuk mengabulkan keinginan anak. Kasarnya seperti ini: Kita berani punya anak, kita pun harus berani berkomitmen untuk mensejahterakan kehidupan si anak. Yang jadi sumber persoalan sekarang adalah apabila kita secara buta mengabulkan keinginan anak—apalagi jika ini adalah pola yang udah telanjur dikenal si anak dari kecil. Apa aja risiko menuruti semua kemauan anak? Akan menjadi bumerang di kemudian hari. Jika anak sejak kecil udah terbiasa mendapatkan apa yang dia mau, dia akan tumbuh menjadi individu yang kurang daya usahanya dan temperamental sifatnya. Ketika semua kehendaknya kita turuti, pola asuh seperti ini akan menghapus insting si anak, merusak kemampuannya untuk mengikhlaskan sesuatu, meniadakan wibawa dan keberanian, terlalu royal, cuma bisa bersuka-ria, egoistis, dan selalu mementingkan diri sendiri.

Jadi gimana strategi yang perlu diterapkan supaya kita ga kebablasan dalam merespon permintaan dari anak?

  1. Pahami konsep boleh-tidak boleh.

Kita sebagai orangtua perlu menelaah permintaan si anak itu sendiri terlebih dahulu. Pertimbangkan apakah permintaan tersebut termasuk sesuatu yang tabu atau justru sebenarnya baik untuk diri anak sendiri. Banyak faktor yang bisa dijadikan tolok ukur. Umur, misalnya. Anak biasanya cuma tahu meminta karena dia suka tetapi kita sebagai orang yang lebih dewasa seharusnya bisa memilah mana yang pantas mana yang tidak. Ga semua permintaan harus dikabulkan kok selama itu emang ga pantes. Contohnya, anak mungkin kepingin dibelikan satu pakaian karena dia melihat idolanya mengenakan kostum yang serupa di televisi atau internet. Kita lihat dulu objeknya; jika pakaiannya terlalu terbuka, pastinya ga pantes dong dipakai oleh balita.

  1. Ajarkan batasan

Balik ke poin pertama, ga semua permintaan kudu kita kabulkan. Terlepas dari apakah si anak memahami alasan keinginannya ga kita penuhi, ini merupakan cara yang jitu buat mengajarkan batasan-batasan untuk si anak pahami. Ada untungnya juga buat kita sebagai orangtua. Jika anak sudah memahami konsep spesifik bahwa tidak semua permintaannya akan kita penuhi, dia ga akan memandang kita sebagai orangtua yang jahat, pelit, dan mengecewakan. Hasilnya, selain memahami konsep batasan, anak juga akan belajar untuk ga mudah patah semangat ketika nanti terbentur kesulitan.

  1. Tentukan aturan

Ini gunanya adalah untuk mengajarkan anak untuk tidak mencari celah dan berargumen ketika si anak keinginannya tidak dikabulkan. Kesalahan umum yang kita lakukan sebagai orangtua ketika menolak keinginan anak adalah ketiadaan aturan khusus dalam melarang. Contoh kasus, anak udah kebanyakan makan makanan manis dan masih meminta lebih; kecenderungan kita adalah mengucapkan larangan yang ambigu seperti, “Oke, kamu boleh makan satu lagi.” Larangan yang open-ended seperti ini memberi celah buat si anak untuk menegosiasi permintaannya supaya dia bisa makan lebih dari satu. Coba susun ulang kalimat larangan tadi menjadi, “Oke, gapapa makan satu lagi, tapi abis itu kuenya disimpan, ya.” Dengan begini, anak paham batasan, larangan, dan tidak akan menegosiasikan permintaannya lebih jauh.

  1. Ketika ragu, terapkan aturan tambahan

Jika kita belum terlalu yakin apakah akan mengabulkan atau menolak keinginan anak, coba berikan satu aturan tambahan sebelum berkata, “Ya.” Misalnya, Teman DRYD masih ragu apakah sebaiknya membiarkan anak menonton TV atau tidak. Untuk meyakinkan diri, coba berikan satu syarat ke anak. Jadi sampaikan, “Kamu baru boleh nonton TV kalo udah tidur siang dulu.” Atau, “Boleh nonton TV kalo mainannya udah kamu rapiin, ya.”

  1. Ga ada yang namanya cuma-cuma

Terapkan sistem reward. Mengabulkan keinginan anak tanpa memberikan tututan padanya adalah cara ampuh untuk membuat anak jadi manja. Sebaiknya, keinginan anak baru dikabulkan apabila dia sudah bisa memenuhi apa yang kita minta lebih dulu. Belikan dia mainan baru hanya jika nilainya bagus di sekolah, misalnya.

  1. Pahami konsep hak dan kewajiban

Tanamkan pada anak kemampuan untuk memenuhi kewajiban untuk mendapatkan apa yang menjadi haknya. Kita sebagai orangtua pun harus konsisten; jika anak sudah berhasil memenuhi kewajibannya, berikan haknya tanpa menunda.

  1. Buka komunikasi dan berdiskusi

Berikan penjelasan pada anak tentang kenapa kita menolak permintaannya dengan cara selugas mungkin. Harapannya adalah dengan membuka jalur komunikasi seperti ini, anak akan paham bahwa dia tidak sebaiknya mementingkan diri sendiri, belajar mengendalikan keinginannya, dan menjadi cermat dalam menghabiskan uang.

  1. Jangan bertindak fisikal

Maksudnya, jika menolak permintaan dari anak, jangan pernah disertai bentakan, ancaman, apalagi kontak fisik seperti pukulan. Tindakan seperti ini akan di-copy oleh anak dan ini akan berdampak pada sikap agresif. Sebagai orangtua, kita selayaknya membujuk dan menggunakan kata-kata yang penuh kasih sayang dan lembut. Tentunya ini perlu dilakukan tanpa disertai pemberian janji-janji yang menimbulkan harapan di diri si anak.

  1. Tetap konsisten

Ketika aturan sudah diterapkan, kita harus konsisten dan mengikuti apa yang kita tetapkan sendiri. Jangan keluar jalur sekalipun kita kasihan pada anak.

  1. Kompak dengan pasangan

Kita dan pasangan adalah orangtua si anak dan karena itu harus sejalan dalam mendisiplinkan buah hati. Jika menolak, keduanya menolak. Jika setuju, kedunya harus sepemahaman. Ini juga berlaku untuk orang dewasa selain orangtua seperti kakek-nenek, pengasuhnya, atau saudaranya.

  1. Perhatikan cara anak meminta

Sekalipun apa yang diminta oleh anak adalah hal yang baik yang ia butuhkan dan kita emang mampu mengabulkannya, jika anak meminta dengan cara yang tidak pantas seperti berteriak, menangis, atau merengek, jangan langsung dipenuhi setidaknya sampai akhirnya sikapnya berubah jadi lebih baik. Sebaliknya, jika permintaannya disertai dengan perilaku yang manis, berikan pujian dan usapan lembut di rambut atau tangannya. Ini akan meng-encourage sikap positif di masa depan.

  1. Jangan mudah tergugah

Jangan menyerah pada permohonan, teriakan, dan tangisan si anak. Tegaskan bahwa no means no. Sekali kita mengalah karena tangisan si anak, dia akan otomatis beranggapan bahwa keinginannya akan terkabul dengan cara-cara negatif.

Mengelola cara mengabulkan atau menolak keinginan anak itu cukup praktis karena kita langsung menghadapinya. Anak meminta sesuatu, tinggal kita yang perlu secara cermat memilih bagaimana menyikapi. Tapiii, ada juga loh, beberapa jenis permintaan anak yang tersirat. Maksudnya di sini adalah permintaan-permintaan yang bahkan si anak ga sadar ingin kita kabulkan dan penuhi. Emang iya? Nah, yuk kita liat.

  1. Anak ingin dicintai sepenuh hati. Ini mungkin hal yang simpel di mata kita. Toh, kita kerja banting tulang siang malam juga kan, untuk anak. Tapi pahami bahwa ada hal-hal lain yang bisa dilakukan untuk menunjukkan cinta pada anak juga.
  2. Anak ingin kita tidak memarahinya di depan publik. Kita frustrasi, stres, dan kehilangan kesabaran itu wajar. Tapi jangan pernah meluapkan amarah pada anak di depan orang banyak. Ini akan menghancurkan kepercayadiriannya dan membuat kita sendiri terlihat buruk di matanya.
  3. Anak ingin kita tidak membanding-bandingkan. Jangan pernah membandingkan anak kita dengan saudaranya sendiri atau orang lain. Setiap anak adalah harta karun tersendiri. Mereka memiliki prosesnya sendiri. Mudah buat kita membandingkan mereka dengan orang lain tapi apakah pernah terlintas di pikiran kita bahwa hal yang sama bisa mereka lakukan pada kita? Setiap anak juga punya gambaran ideal tentang orangtua sempurna, sanggupkah kita menerima kenyataan bahwa anak membandingkan kita dengan orangtua temannya, misalnya?
  4. Anak ingin kita menjadi role model-nya yang baik. Anak itu adalah cerminan kita sebagai orangtua. Apa yang kita terapkan akan terefleksi pada bagaimana mereka bertindak dan berperilaku. Kalau kita ingin anak berperilaku X, maka kita harus memberikan contoh X yang sama padanya.
  5. Anak ingin kita menilainya dewasa. Ini pastinya sesuai porsi ya; tapi intinya anak itu ga mau dianggap kecil dan ga berdaya terus-menerus. Umurnya bertambah tiap tahun jadi kita pun harus menyesuaikan semuanya.
  6. Anak ingin dibiarkan mencoba sesuatu. Jika gagal, jika berhasil, jika salah, jika benar, mereka ingin dibimbing dan diapresiasi, bukannya dikekang.
  7. Anak ingin kita ga ngungkit-ngungkit Anak melakukan kesalahan itu sudah sepantasnya. Kita pun ga luput dari kesalahan, loh. Maafkan kesalahan yang ada dan kemudian move on. Kalo kita terus-terusan mengingatkan anak tentang kesalahannya, ini akan membuat dirinya ga mampu menilai diri sendiri lebih dari kesalahannya.
  8. Anak ingin kita tidak memarahinya dengan hal-hal buruk. Sekali lagi, anak bertindak salah dan kita memarahinya itu adalah hal lumrah. Udah emang gitu siklus orangtua-anak, mah. Tapi kalo kemarahan kita disalurkan dengan disertai ucapan-ucapan kasar yang buruk, mental si anak bisa rusak dan mengalami trauma.
  9. Anak ingin kita memberikan penjelasan atas larangan yang kita berikan. Jangan berhenti pada kata “jangan” atau “ga boleh”, tapi lanjutkan dengan alasan dan penjelasan.
  10. Anak ingin kita ga menyeretnya ke dalam persoalan yang sama sekali ga ada hubungannya dengan dia. Kalo kita lagi berantem sama pasangan, jangan bawa-bawa anak atau melampiaskan kekesalan pada anak yang ga ngerti apa-apa.

Nah itu tadi pembahasan singkat kita tentang gimana nyikapin keinginan anak ya, Teman DRYD. Pastinya semuanya sebaiknya dipraktikkan atau diaplikasikan sesuai dengan situasi dan kondisi ya. Semoga kita bisa menjadi orangtua yang sempurna di mata anak.