Diet Gagal Mulu? Yuk, Cari Tau Kenapa

Haaalo,

Yang lagi diet, gimana nih? Lancar-lancar aja ga? Diet mah kuncinya yang sabar aja. Komitmen sama target dan proses kudu banget dijaga. Nah, buat yang dietnya relatif ga nemuin banyak kendala dan hambatan berarti, selamat yaaa. Dijaga terus pola hidup sehatnya. Diatur asupan gizi dan jangan mengabaikan keseimbangan nutrisi demi mengejar target angka timbangan yang lebih kecil.

Ada beberapa orang yang tubuhnya merespon dengan baik perubahan pola makan dan gaya hidup yang lebih sehat. Yang kaya gini biasanya bakal menikmati hasil yang datang dengan relatif lebih cepat dan lebih cepat juga merasakan perubahan. Taaapi, ada juga beberapa orang yang terkendala.

Orang-orang yang kaya gini biasanya akan lebih “menderita” dalam menjalani proses diet dan cenderung lebih mudah “kalah” terus berhenti. Instead of mendapatkan perubahan yang signifikan dalam hidup, mereka justru mengalami regresi dan bahkan mungkin bisa jadi hidupnya lebih buruk lagi dibanding periode sebelum mencoba berdiet.

Pernah ngalamin kaya gini? Kesandung dikit, langsung aja deh bubar program dietnya. Ga salah kok itu. Ini zona aman loh ya; kita ga lagi ngejudge siapa-siapa. Kegagalan itu manusiawi; siapapun pasti pernah terjegal kegagalan. Orang-orang yang berhasil menjalankan program diet mereka juga mungkin megalami kegagalan berkali-kali sebelum akhirnya bisa menikmati buah hasil perjuangan mereka—kita ga pernah tau looo, proses orang itu gimana; yang kita tau cuma tubuhnya bagus dan kulitnya bersih. Itu juga manusiawi. Sebagai manusia, kita cenderung lebih mudah mempersepsi apa yang tepat ada di depan mata kita ketimbang mencoba mengulik apa yang ada di belakangnya. Si A keliatan sukses dietnya; badannya bagus, hidupnya sehat. Tapi mungkin di balik apa yang kita lihat, si A ini mungkin harus menjalani proses berdarah-darah penuh air mata.

Buat yang selalu dan sering gagal berdiet, jangan putus asa. Balik lagi, diet itu kuncinya cuma satu: Niat dan komitmen. Yang lain-lain mah ngikut. Asal kita punya kedua hal itu tadi, kita udah punya modal buat sukses memangkas berat badan berlebih.

Taaapi, niat sama komitmen aja tentunya belum memadai, harus juga didukung faktor-faktor spesifik lain. Apa aja sih? Yuk, kita kulik.

  1. Niat dan intensitas niat

Kita udah punya niat buat menjalani program diet, itu udah ada poin nilainya. Tapi ga berenti sampe di situ. Niatnya juga harus mengandung intensitas. Artinya, niat kita itu kudu banget kuat dan keras kaya batu. Niat yang letoy berarti kita nanti bakal gampang banget patah semangat, teralihkan, dan ujung-ujungnya ya kecewa sama diri sendiri. Apa yang menentukan intensitas niatan yang kita punya? Tentunya background; alasan kenapa kita kepikiran buat berdiet. Kalo disertai alasan medis misalnya, pasti niatan kita juga semakin keras. Contoh ni ya; katakanlah kita punya tendensi resistensi terhadap insulin. Mau ga mau kita kudu diet karena di titik ini, pilihannya cuma dua: terus makan ga terkendali dan membahayakan jiwa raga sendiri atau take control of everything dan mulai memperbaiki gaya hidup.

Program diet yang dijalani dengan dasar estetis semata bukannya ga efektif. Tapi dengan sense of urgency yang juga minim, program tapi bisa gampang banget dibatalkan.

Bukan berarti nih ya, kita perlu nunggu sakit dulu baru diet; ga gitu juga konsepnya. Tapi at least, dengan menyadari risiko dan ancaman kesehatan dari pola makan yang buruk seengganya kita bisa mulai merapikan segala sesuatunya.

  • Support system

Ada yang bilang kalo pola makan kita juga dipengaruhi orang-orang di sekitar kita. Habit dan kecenderungan bisa dengan mudah terbentuk dalam lingkungan yang tersusun dari individu-individu yang punya pola serupa. Jadi kalo misalnya kita dikelilingi orang-orang yang rada-rada kurang peduli sama kesehatan dan pola makan, kita akan secara ga sadar mengadopsi pola serupa dan akan sangat sulit menjadi “berbeda” di tengah-tengah kelompok yang polanya sangat bertolak-belakang dari rencana kita.

Kalo orang-orang di sekitar kita paham dan memberikan dukungan, ya bagus. Sukur-sukur mereka juga ikutan nyoba hidup sehat. Bisa sama-sama deh, diet sehat.

Nah, yang jadi masalah adalah ketika circle di sekitar kita terdiri dari orang-orang yang entah itu ga peduli sama hidup sehat atau malah bahkan mencoba meng-influence kita buat ga usah hidup sehat. Kalo kasusnya kaya gini, gapapa kok kalo kita dengan sadar memberikan batasan kepada orang-orang di sekitar atau bahkan menjauhkan diri. Bukan mau sombong atau sok sehat yaaa. Lah emang niatnya kan mau mencoba menjadi lebih sehat kok. Cara ini mungkin ekstrim ya. Tapi kalo eman udah ga ada pilihan lain, ga masalah buat dipraktikkan. Asaaal, kita ngasi tau alasannya ke orang-orang terdekat di sekitar kita. Biar ga salah paham dan malah memutus relasi baik yang dibina bertahun-tahun. Siapa tau dengan ngasi tau mereka juga sadar dan introspeksi. Trus ikutan gabung sama kita.

  • Pengelolaan overthinking

Emang overthinking itu momok paling menakutkan dalam hal psikologi manusia—terlebih lagi karena sifatnya yang ga pandang bulu dan ga peduli menyangkut persoalan apa. Dalam kaitannya dengan masalah diet, kita tuh paling sering menyibukkan diri dengan memikirkan tipe program diet yang sebaiknya dijalani. Jenis diet itu ada macam-macam kan? Nah, ketika kita mencoba mempelajari semuanya, kita tau baik-buruk masing-masing jenis dan kemudian ngide. Ngidenya gimana? Dicampurlah semuanya jadi mixed method. Padahal jenis-jenis diet itu bermunculan karena kebutuhan manusia juga berbeda-beda. Dan karena perbedaan ini, mencoba mencari tahu tentang pola diet mana yang paling benar itu adalah sesuatu yang sia-sia. Daripada memfokuskan diri pada pola diet yang terbaik, mendingan nyari jenis diet yang emang paling cocok sama preferensi kita secara pribadi setelah berkonsultasi dengan ahlinya. Kenapa? Dengan cara begini, kita bisa lebih konsisten dalam menjalankan program karena kita ga ngerasa kesiksa dan terpaksa.

  • Pencegahan terhadap Obsesi

Obsesi di sini maksudnya limpahan perhatian kita yang diberikan secara keterlaluan terhadap berat badan ideal. Gapapa, ga masalah kalo emang kita punya target berat badan ideal yang mau dicapai. Itu bisa membantu mengatur fokus kita supaya tetap bisa konsisten. Yang jadi masalah adalah ketika target itu udah berubah jadi obsesi. Inget ya, Teman DRYD; segala sesuatu yang sifatnya obsesi adalah ga baik. Ga baik buat badan, ga baik buat mental. Dalam hal berdiet, ada baiknya mempertimbangkan persoalan weight loss vs. size loss.

Ada baiknya kita menggeser fokus kita dari jumlah kilogram yang hilang dari timbangan badan ke size loss. Atau kalo emang itu terlalu teknis rasanya, the very least you should do is mempertimbangkan target yang lebih rasional. Misalnya apa? Misalnya target yang tadi terlalu muluk dan wah bisa diturunin jadi at least fungsi badan bisa berjalan maksimal dan sebagaimana adanya.

Nah, buat perempuan ni; hindari menimbang badan pada saat menstruasi. Ketika memasuki periode menstruasi, jumlah hormon estrogen dalam badan meningkat drastis. Kandungan hormon yang melonjak ini berdampak pada tubuh yang menyimpan lebih banyak air sebagai efeknya. Akibatnya, pembacaan angka timbangan jadi ga objektif karena angka yang diberikan akan lebih besar karena dominan kandungan berat air.

Kebanyakan dari kita pasti punya perasaan menang setelah selama seminggu berhasil mengendalikan diri dan menjinakkan nafsu makan. Akhirnya apa? Akhirnya kita merasa kita berhak mendapatkan “reward” dalam bentuk kelonggaran satu hari bebas makan apa aja. Pola pikir kaya gini tu ga salah. Kita emang menang dan mungkin berhak dapat imbalan. Tapi kita sering luput mempertimbangkan kenyataan bahwa kemenangan itu sifatnya baru sementara. Kita bahkan belum mengubah apa-apa karena begitu kita melonggarkan diri, berat badan bakal balik lagi balik lagi.

Seseorang yang sedang mencoba program diet sebaiknya melupakan cheat day selama 2-3 bulan pertama. Kenapa? Kejam ya? Ya emang. Orang kita juga dengan kejam ngebiarin badan ga terkontrol beratnya. Nih ya, kita udah bertahun-tahun makan dan hidup ga sehat. Periode 2-3 bulan itu ga ada artinya dibanding keteledoran kita sendiri; 2- 3 bulan itu adalah sebuah harga yang masih terlalu kecil dibandingkan jumlah waktu yang kita buang untuk merusak badan sendiri.

Asumsinya adalah, dalam 2-3 bulan pertama program diet itu, tubuh kita dilatih untuk terbiasa dengan pola asupan gizi yang baru, habit yang baru, output energi yang baru, dan pola metabolisme yang baru juga. Kalo sebentar-sebentar kita mikir kapan cheat day, ya badannya ga punya kesempatan buat ngerasain gaya hidup sehat yang kita pikir udah kita terapin.

Diet itu manfaatnya untuk jangka panjang. Dan karena itu, prosesnya juga panjang. Tapi yakin deh, begitu kita ngerasain perubahan yang signifikan, kita pasti mikir, “Kenapa ga dari dulu gue ngendaliin pola makan gue, ya…?”

Jadi apa esensinya cerita kali ini? Kenapa kita ngebahas diet di kategori artikel yang dikhususkan buat skin care?

Jadi gini. Kulit itu memancarkan apa yang ada di dalamnya, di bawahnya. Nah, kalo apa yang ada di balik kulit itu aja ga sehat, ya kali kulitnya bisa keliatan sehat…. Sebelum ngurusin perawatan kulit, kecantikan kulit, dan kesehatan kulit, pastiin dulu kesehatan secara general udahkecover dengan menyeluruh. Makan dibenerin, tidur diteraturin, air dicukupin. Abis itu, baru deh, ngomongin skin care.

Leave a comment