Mari Berkenalan dengan Overthinking, si Penyebab Stres yang Sulit Ditangkap

Hai Teman DRYD,

Ada yang lagi bergulat dengan overthinking? Kebiasaan ini bisa berlangsung lama tanpa disadari dan bisa berdampak buruk terhadap kesehatan mental secara umum. Yang paling berbahaya adalah kebiasaan ini bisa berubah menjadi sebuah pola yang akan sangat sulit untuk diubah di kemudian hari karena kita udah terbiasa banget mikirin sesuatu (yang seringkali ga seharusnya dipikirin) secara sangat berlebihan.

Overthinking kadang sulit buat dideteksi kemunculannya. Kenapa bisa gitu? Karena terkadang kita ga bisa bedain mana yang overthinking, mana yang bersikap hati-hati dan waspada—terutama ketika akan mengambil sebuah keputusan. Tapiii, overthinking pun bisa terjadi setelah ngelakuin sesuatu dan efeknya ga sesuai dengan apa yang kita arepin. Typically, kepala seseorang yang overthinking itu akan dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang diawali dengan “gimana kalo”. Pernah ga Teman DRYD ngalamin yang kaya gini? Atau malah sering?

Waspada itu boleh. Menghitung risiko dan efek dari sebuah keputusan itu emang sebuah tindakan yang mencirikan proses berpikir logis. Tapi kalo semuanya berakhir ngebuat kita jadi sakit kepala kan juga ga sehat. Kalo diliat dari definisi mendasar, pengertian overthinking bisa disederhanakan menjadi “terlalu banyak berpikir”. Bukan, ini ga berarti orang yang banyak berpikir adalah seorang pemikir, ya. Beda itu. Yang menjadi pembeda apa? Kalo seorang pemikir itu biasanya suka menelaah suatu hal secara mendalam dalam bingkai pencarian pemecahan masalah. Nah, kalo overthinking itu biasanya sebuah proses berpikir yang ga penting dan berlebihan tentang suatu hal yang aslinya sepele dan remeh. Ini ga bisa dipandang sebelah mata ya, Teman DRYD; kondisi overthinking seperti ini bahkan udah bisa dianggap sebagai semacam epidemi. Semua orang bisa kena, ga pandang jenis kelamin atau usia.

Universitas Michigan pernah ngadain studi buat menilik kondisi ini dalam ruang lingkup masyarakat yang luas. Hasil studinya menunjukkan bahwa sebanyak 73% dari total sampel grup usia 25-35 tahun sering banget overthinking sementara grup usia 45-55 tahun ada 62%-nya. Kesimpulan yang bisa diambil dari angka-angka ini adalah overthinking adalah sebuah kebiasaan yang dilakukan banyak orang tingkat yang cukup lazim,

Kebanyakan orang berpikir bahwa dengan memikirkan sesuatu secara ekstra, mereka bisa mendapatkan pemahaman lain dari sebuah persoalan lewat sudut pandang yang berbeda. Padahal, hasil studi dari Universitas Michigan tadi juga menunjukkan bahwa overthinking itu sebetulnya sebuah hal yang tidak hanya tidak sehat tapi juga berakibat buruk terhadap kesehatan mental. Motif lain dari kebiasaan overthinking adalah kebiasaan membayangkan skenario atau kemungkinan terburuk dari sebuah keadaan. Parahnya, skenario atau kemungkinan buruk yang dibayangkan ini bahkan belum tentu terjadi loh. Seringkali, setelah ditilik lebih jauh lagi permasalahan yang dipikirkan berlebihan itu tadi bahkan tidak seberat itu. Ini, kalo dibiarin terus-terusan terjadi, akan menumpulkan kemampuan kita untuk menggunakan insting dan bisa-bisa membuat kita malah mengambil keputusan yang tidak menguntungkan sama sekali.

Kemungkinan lain adalah kita bakal kejebak situasi yang namanya analysis paralysis. Kondisi ini muncul ketika kita terus-terusan memikirkan sebuah permasalahan tanpa benar-benar bisa menemukan solusi dan jalan keluar. Ini jelas sebuah hal yang menyita waktu. Energi pun terkuras habis dan akhirnya kita malah jadi ga poduktif. Overthinking memberikan efek negatif terhadap kreativitas karena kebiasaan ini akan memberikan beban mental yang sangat besar yang akhirnya berujung keputusasaan dan menutup jalur pola berpikir kreatif.

Ada juga akibat overthinking yang mempengaruhi segi jasmani seseorang. Jadi overthinking ini ga cuma ngerusak secara mental aja ya. Fisik kita pun ikut terkena dampak yang cukup signifikan ketika pikiran kita terfokus pada satu hal secara berlebihan. Apa aja efeknya?

Yang pertama adalah stres. Udah bukan rahasia lagi kalo overthinking itu sumbernya depresi. Ketika kita tertekan, maka tubuh akan bereaksi dengan cara melepas hormon kortisol. Hormon ini akan memerintahkan organ hati untuk memproduksi gula yang sedianya akan menjadi sumber energi. Tapiii, jika gula yang dilepaskan ternyata ga terpakai, gula itu akan kembali diserap oleh tubuh. Apa akibatnya? Denyut jantung akan meningkat, kepala sakit, konsentrasi terganggu, napas tersengal, kelelahan, dan pusing.

Kedua, pola tidur akan terganggu. Otak akan ada dalam kondisi selalu bekerja aktif dan tubuh tidak terasa tenang. Kombinasi keduanya akan menghambat kelancaran proses tidur sehingga tingkat energi tubuh menjadi minim dan kita pun merasa kelelahan.

Ketiga, nafsu makan kacau. Ketika sedang overthinking, beberapa orang justru akan menaikkan frekuensi makannya dengan harapan pikirannya bisa sedikit teralihkan dari permasalahan. Ada juga yang justru nafsu makannya drop jauh karena pikirannya udah telanjur terporsir untuk masalah yang ada.

Keempat, pelepasan hormon kortisol secara berlebihan berpotensi menyebabkan gangguan kardiovaskular, masalah pencernaan, gangguan kulit karena peradangan, dan sistem imun tubuh anjlok.

Jadi gimana caranya kita bisa mencegah overthinking dan meniadakan risiko akibat tekanan batin terus menerus?

  1. Coba ambil kertas dan pena. Tuliskan apa yang sedang dipikirkan. Ini adalah jalan yang paling mudah. Jangan diketik, ya; semuanya harus ditulis dengan tangan di atas kertas. Ketika semua hal yang menjadi pokok pikiran udah ditulis, pikiran akan sedikit lebih lega karena otak tidak lagi penuh sesak memikirkan segala macam skenario atau kemungkinan-kemungkinan. Kita bisa jadi lebih taktis, strategis, dan efektif dalam memandang sebuah permasalahan. Solusi pun bisa lebih mudah untuk dicari dan dirumuskan.
  2. Coba cari pengalihan. Carilah aktivitas menyenangkan yang bisa mengalihkan perhatian dari masalah yang ada yang bisa menyedot waktu dan energi. Misalnya dengan mendengarkan musik. Dengan mengalihkan pikiran dari hal-hal yang mencuri fokus, otak bisa beristirahat sejenak. Pilihan aktivitas lain bisa juga dengan cara membaca buku yang menarik perhatian, menyibukkan diri dengan berolahraga, menikmati tontonan film yang menyenangkan, atau menghubungi sahabat via telepon untuk sekadar curhat.
  3. Coba berefleksi. Daripada sibuk memikirkan sebuah masalah yang tidak akan memberikan jawaban atau solusi, apa ga lebih baik kita mencoba merefleksikan diri dan menarik pelajaran berharga dari kondisi saat ini agar di masa depan nanti ga keulang lagi?
  4. Coba ambil tindakan. Hentikan melakukan pendekatan terhadap sebuah persoalan dengan cara memikirkannya aja. Coba tindaklanjuti kemungkinan yang ada dengan langsung. Jika ada sesuatu yang menyebabkan tekanan batin meningkat, coba langsung dikonfrontasi. Kita bisa langsung dapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala. Masalah selesai, beban mental pun berkurang drastis.

Tapiii, kalo emang setelah dicoba dihentikan tapi overthinking tetap menjadi momok yang susah lepas dari keseharian kita, ga ada salahnya loh, datang ke psikolog atau pakar bidang ini. Kita bisa diberikan mental exercises atau tata cara untuk mendisiplinkan pola pikir agar selalu sehat dan ga hiperaktif. Jangan ogah-ogahan ya, kalo emang ke psikolog atau ahli bisa jadi cara yang efektif untuk mengakhiri overthinking. Jangan biarin diri kita larut dalam pola seperti ini karena jelas ga baik buat kesehatan mental dan fisik kita juga.

 

Leave a comment