Hai Teman DRYD,
Percaya ga kalo penyakit kulit bisa disebabkan oleh tekanan batin yang berlebihan? Sepertinya mungkin emang ga ada kaitannya ya. Kok bisa, gitu, kulit bermasalah gegara hati yang gundah gulana? Tekanan batin kan adanya di dalam hati ya, ga mungkin lah bisa ngefek ke kulit.
Pikiran soal gangguan psikis bisa berimbas ke fisik itu emang kaya ga masuk akal karena kita terbiasa memisahkan keduanya dengan garis batas maya yang tegas. Terlalu tegas, malah, sampe-sampe kita menolak percaya bahwa apa yang ada dalam hati kita bisa terefleksikan dari penampilan luar. Beberapa waktu lalu kita pernah bahas yang namanya penyakit psikosomatis, yaitu ketika beban mental yang terlalu besar berubah menjadi penyakit fisikal, yang baru bisa diatasi jika sumbernya (yaitu ketidakseimbangan kondisi psikis) di-handle terlebih dahulu. Ini beneran lo ya, ga ngada-ngada. Pada beberapa kasus, justru isi kepala dan hatilah yang bikin badan jadi sakit dan gejala-gejala gangguan fisikal itu akan hilang setelah metode-metode stress management diterapkan. Yaaa, sebenernya ga sesimpel itu juga sih. Tapi paling ga nih ya, gejala fisik tadi mungkin akan lebih mudah untuk diatasi jika kondisi psikis seseorang sudah tertangani lebih dulu.
Ini juga berlaku untuk kondisi gangguan kulit.
Pernah ga sih, Teman DRYD tiba-tiba nemuin ada jerawat di muka padahal ga abis ngapa-ngapain dan selalu merawat dan membersihkan kulit? Ato mungkin ada rasa gatal-gatal tanpa sebab di permukaan kulit di beberapa bagian tubuh tertentu? Semuanya serba tiba-tiba dan serba goib aja gitu, muncul tanpa sebab. Coba deh liat ke belakang lagi, runut semuanya. Apa Teman DRYD baru aja ngalamin suatu kejadian yang bikin nervous? Ada ujian yang ribet, mungkin? Atau lagi abis berantem sama si bos, mungkin? Ato mungkin tempat kerja yang udah terlalu toxic?
Kalo iya, curiga ga sih kalo gejala-gejala yang ada di kulit tadi ada hubungannya? Ini dengan catatan semua effort buat menjaga kulit udah dilakuin loh, ya. Ya kali kulit ga bakal sakit even pas kita ga rajin cuci muka. Coba bandingin kondisi kulit setelah tekanan batin terpicu sama sebelum. Ada perbedaan? Kalo iya, fixed udah semuanya dikarenakan kondisi psikis sedang dalam keadaan yang ga sehat.
Sebenernya prosesnya ga sesederhana itu juga sih. Ga yang…. kalo lagi tertekan, langsung biduren, langsung jerawatan. Ga seinstan itu juga. Tetap ada yang namanya sebab-musabab, reaksi berantai. Kayak efek domino, gitu; kalo yang satu di awal udah tumbang, yang lainnya ikutan ketimpa dan terus berjatuhan.
Semuanya berawal dari hormon.
Tubuh kita punya yang namanya sistem respons terhadap pencetus stres. Ini proses alami ya, sesuatu yang mutlak secara biologis dan fisiologis jadi mustahil bisa kita kendalikan atau hentikan sama sekali. Begitu kita tertekan, tubuh akan memproduksi hormon tertentu sebagai respons alami. Apa hormon itu? Jreng jreng jreeeng, perkenalkaaan hormon kortisol!
Kortisol ini dikenal juga dengan julukan the stress hormone. Kenapa? Karena ketika kita sedang mengalami tekanan psikis, produksi hormon ini meningkat jumlahnya. Jadi ketika diukur, tubuh seseorang yang tengah mengalami tekanan batin akan mengandung sejumlah besar kortisol. Yuk cek fun facts about this hormone:
- Kortisol berperan dalam produksi energi bagi tubuh dan membantu mengendalikan stres. Kortisol berperan dalam proses metabolisme tubuh karena hormon ini mengendalikan jumlah glukosa yang digunakan untuk menyediakan energi untuk tubuh. Kortisol diproduksi dengan jumlah besar ketika tubuh mengalami stres, baik fisikal mau pun psikis, karena hormon ini juga berfungsi menormalisasi tekanan darah dan memicu pelepasan insulin untuk mengendalikan kadar glukosa darah. Jadi semakin kita stres, semakin banyak kortisol yang diekskresikan karena tubuh tuh ngertinya kondisi badan kita lagi ga Jadi selama tubuh masih ga seimbang, bakalan ada terus tu, peningkatan kortisol.
- Alarm alamiah tubuh menjadi pemicu pelepasan kortisol. Ketika stres, otak akan mengartikan itu sebagai kondisi mengancam untuk tubuh secara umum dan memerintahkan kelenjar adrenal untuk memproduksi adrenalin dan kortisol secara bersamaan. Adrenalin membuat denyut jantung meningkat sementara kortisol memperbanyak kadar gula dalam darah. Dengan kondisi ini, tubuh akan membuat keadaan yang lebih kondusif bagi otak untuk bisa berpikir dengan lebih jernih.
- Kortisol ada dalam kadar tertingginya justru di pagi hari. Normalnya, kadar tertinggi kortisol dalam tubuh terjadi sekitar jam 8 pagi dan kemudian menurun ke tingkat paling rendah di saat sebelum tidur. Nah, pada orang-orang yang pola kerjanya lebih banyak dilakukan di malam hari, tingkatannya akan sebaliknya.
- Kortisol bisa menjadi penyebab kenaikan berat badan. Jika kortisol diproduksi secara hiperaktif dan tidak ditangani, hormon ini bisa mengubah cara tubuh menyimpan lemak. Tubuh akan dipengaruhi dan punya kecenderungan untuk menumpuk lemak di area perut. Ini, pada gilirannya, akan menyebabkan peningkatan risiko penyakit-penyakit kardiovaskular.
Hormon dan Kulit
“Trus hubungannya kortisol dengan gangguan pada kulit apa dong, Dok?”
Simpel: Produksi kortisol berlebihan menyebabkan 1) peradangan dan 2) produksi minyak pada kulit meningkat.
Kalo udah begini, udah deh ya… pasti bakal banyak keluhan yang muncul.
Pertama, jerawat udah pasti jadi masalah umum. Kenapa? Dengan kondisi minyak pada permukaan kulit yang diproduksi secara meningkat, potensi kulit dihinggapi partikel-partikel penyumbat pori-pori juga ikut meningkat. Pori-pori yang tersumbat bikin pengeluaran minyak terhambat dan ini jadi lingkungan yang cocok buat bakteri berkembang-biak. Meradang lah itu kulit. Jerawatan lah akhirnya.
Kedua, biduran. Ini sedikit lebih rumit prosesnya. Ketika stres, selain mengeluarkan kortisol, tubuh juga memproduksi neuropeptida dan neurotransmitter. Zat kimia seperti ini berpotensi “mengobrak-abrik” cara tubuh merespons alergen, zat-zat pemicu alergi. Kulit jadi supersensitif dan merespons alergen tadi dengan cara abnormal dan ini akan memicu biduran. Jadi jangan heran kalo pas stres kita jadi lebih sensitif terhadap hal-hal yang tadinya ga memicu alergi.
Ketiga, eksim. Baik eksim atopik mau pun eksim diskoid ditandai dengan kulit kemerahan, rasa gatal, bersisik, dan penebalan. Penyebab utama eksim sebenernya masih jadi perdebatan tapi secara umum peningkatan kortisol ketika stres akan membuat kulit secara umum meradang dan ini yang menyebabkan eksim muncul.
Keempat, psoriasis. Psoriasis ditandai dengan kulit merah dan bersisik yang terasa gatal. Psoriasis merupakan jenis penyakit kulit yang disebabkan, salah satunya, gangguan sistem imun. Ketika stres, sistem imun tubuh akan terganggu dan ini bisa berujung pada kemunculan psoriasis. Kondisi psoriasis yang emang udah ada sebelumnya juga bisa diperparah. Beberapa orang merespons stres dengan cara menggaruk kulit yang aslinya ga gatal. Jika area yang digaruk sudah terjangkit psoriasis, kondisinya bisa lebih parah.
Itu tadi baru beberapa contoh kasus aja ya. Secara estetis, stres membuat kualitas tampilan kulit jadi ga menarik karena kita akan kelihatan lebih tua dengan kerutan, kulit keriput dan ga elastis, dan kekusaman. Rosacea juga bisa muncul tapi mungkin lebih kepada orang-orang yang emang berisiko tinggi. Kondisi-kondisi gangguan kulit ini diperparah juga dengan kemungkinan besar kita lupa melakukan perawatan kulit. Tau dong ya, kalo udah stres pasti ga kepikiran mau cuci muka. Perawatan se-basic nyuci muka aja luput apalagi yang kaya-kaya pake pelembap gitu. Makin parah lah kondisi gangguannya.
“Ah, kalo gitu mendingan hormonnya distop produksinya kali ya, Dok?”
Ga gitu juga, Nyaiii….
Stres itu sesuatu yang mustahil buat dihindari karena kita ga punya kontrol terhadap kemunculannya. Makanya saya agak menghindari mencari tahu tentang cara menghilangkan stres. Iya, saya penganut paham “daripada sibuk nyari cara ngilangin stres, mending di-manage” kalo udah soal ini sih. Karena saya pikir sih, mencoba menghilangkan, menghentikan, atau bahkan mencegah itu kayak mencoba menahan gelombang laut gitu. Sia-sia. Dia datang di saat tak terduga dan ga peduli sama persiapan apa pun yang udah kita coba terapkan. Jadi mending dimitigasi, dikelola, dikenali, dan dijadikan teman. Karena kita juga butuh stres buat bertumbuh dan berkembang. Beberapa jenis stres dalam tingkatan tertentu malah dibutuhkan sebagai stimulan yang berpengaruh secara positif pada tubuh. Iya, kita kudu waspada. Iya kita kudu paham efeknya apa. Tapi mencoba menghilangkan stres itu tindakan yang menurut saya sedikit ga ada gunanya. Kita cuma bisa mencoba mengurangi dan membatasi efek buruknya aja.
“Jadi apa ngga ada yang bisa dilakukan supaya kulit ga terlalu menderita pas stres, Dok? Sedih banget dong….”
Ada dooong.
Yang pertama yang harus dilakukan sebagai cara mengatasi stres adalah jangan jadi denial. Sadari diri sedang mengalami stres dan jangan berusaha mengabaikannya. Jangan pernah berpikir, “Ah, engga gua ga stres. Cuma lagi banyak kerjaan aja.” Ya, masa harus dikasi tau sih, kalo tumpukan pekerjaan itu adalah salah satu faktor utama pemicu stres?
Kedua, sestres apa pun, se-distracted apa pun, sepusing apa pun sama lingkungan, JANGAN PERNAH lupa (atau melewatkan) merawat kulit. Kulit harus selalu dijaga bersih dan dirawat supaya tetap sehat. Cuci muka sehari dua kali. Pelembap dipake terus. Sunscreen juga ga boleh dilewatin. Berikan perhatian ekstra untuk kulit. Rasakan setiap sentuhan yang diberikan. Ini juga bisa jadi momen pas buat menyembuhkan kondisi psikis yang sedang kacau.
Ketiga, perhatikan makanan. Nih ya, pas lagi stres, pasti bawaannya pengen ngemil kan? Gapapa, ga masalah. Boleh aja ngemil tapi pastiin cemilannya sehat dan ga memperburuk kondisi kulit. Kaya yang manis-manis dan minyak-minyak, itu ga boleh ya. Ganti dengan buah dan sayuran aja.
Keempat, tidur yang cukup. Saat kita tidur, tubuh melakukan perbaikan struktural menyeluruh, termasuk di bagian kulit. Kurang tidur sama sekali ga memperbaiki keadaan karena tubuh akan malah semakin stres.
Kelima, relaksasi. Apa aja metodenya? Meditasi bisa. Pijat juga bisa. Spa pun bisa. Efeknya dobel pula; stres berkurang, kulit makin segar.
Keenam, gunakan produk-produk eksternal seperti krim atau salep. Psoriasis bisa ditanggulangi dengan krim retinoid sementara eksim bisa ditangani dengan krim gliserin. Tapiii, ada baiknya sebelum menggunakan produk seperti ini kita konsultasi dulu ke dokter kulit biar ga nimbulin masalah baru.
Stres jangan dianggap enteng tapi jangan diperburuk dengan overthinking ya. Kondisi psikis dan kondisi kulit itu berkaitan secara langsung meskipun ga sederhana juga prosesnya. Yang terpenting, jangan lupa merawat kulit apa pun keadannya. Jangan males, jangan kebawa emosi. Kelola dan kendalikan stres dengan cara yang efisien.