Mengasuh Anak dengan Cara yang Apa Adanya

Teman DRYD,

Udah maksimal belum dalam memastikan anak hepi dan bertumbuh-kembang dengan baik? Ini bukan judgment loh ya, Teman-teman, cuma pertanyaan sederhana yang bahkan mungkin tanpa perlu diajukan sekalipun udah ada dalam kepala kita semua. Salah satu dari banyak concerns kita sebagai orang tua adalah memastikan si buah hati tidak memiliki hambatan yang berarti dalam prosesnya mendewasa. Dan salah satu cara untuk bisa melancarkan proses perkembangan anak itu adalah dengan membuatnya bahagia di rumah.

Rumah yang terasa hangat dan energetik adalah sumber kebahagiaan anak yang mutlak. Anak tidak akan bisa bertumbuh dan berkembang dengan relatif sempurna jika lingkungan intinya tidak akomodatif dan sehat. Peran kita dalam hal ini adalah membentuk lingkungan akomodatif tersebut.

Sebenernya mencari tahu dan mengukur kadar apakah anak itu sehat atau tidak adalah suatu hal yang sedikit kompleks. Kita perlu jadi supersensitif terhadap perubahan sekecil apa pun pada anak, superkritis terhadap diri sendiri dan cara-cara pengasuhan anak yang dipakai, super-willing buat mengevaluasi dan mengoreksi diri, supertajam dalam menganalisa keadaan, superikhlas dalam mempersembahkan banyak faktor untuk anak (waktu, ruang, energi), dan superfleksibel dalam menyediakan perhatian khusus untuk si buah hati.

Terdengar rumit, kan? Emang iya. Saya ga bosen-bosen ngingetin kalo membesarkan anak itu tugas yang saaangat ribet. Keliatannya aja yang gampang, apalagi kalo kita lebih banyak ngeliat keluar dan cuma yang enak-enaknya aja. Sekali diterapin sendiri bisa keteteran. Bisa terjerat sendiri dalam serangkaian kerumitan menjadi orang tua.

Tapi sebagai guidelines mendasar, ada kok parameter penilaian apakah anak sehat di rumah dan ini dibagi menjadi dua tipe: jasmani dan rohani.

Ciri-ciri anak yang jasmaninya sehat relatif lebih mudah untuk diobservasi:

  1. Aktif

Anak yang secara fisik aktif adalah anak yang cukup sering bergerak sehingga makanan yang ia konsumsi bisa diubah menjadi energi secara konsisten. Efeknya apa dari anak yang dinamis? Kepercayaan dirinya lebih besar, konsentrasinya lebih tinggi, lebih mudah bersosialisasi, berbagi dan bekerja sama dengan orang pun akan menjadi suatu hal yang alami buat si anak. Organ-organ dalamnya juga lebih kuat dan maksimal dalam bekerja.

  1. Tumbuh

Agak ga fair sebenernya kalo mau memberikan penilaian kesehatan anak dari sisi pertumbuhannya karena setiap anak adalah individu berbeda yang memiliki laju tumbuh-kembang yang berbeda-beda juga. Penambahan tinggi dan berat adalah 2 hal yang cukup konstan untuk ditilik di setiap anak: Proses ini semestinya berlangsung secara proporsional dan menunjukkan peningkatan signifikan, terutama di masa pubertas.

  1. Tubuh

Menilai kesehatan anak secara jasmani bisa jauh lebih mudah apabila si anak emang nunjukin ciri-ciri yang sehat. Kulitnya sehat ga bentol-bentil atau kering, rambutnya ga rontok dan ga ada kutu di kepala, kukunya bersih dan kuat, lidahnya kemerahan, mulutnya ga bau, dan giginya ga ada lubang atau karang.

Ciri-ciri anak yang rohaninya sehat cuma bisa diamati dengan peninjauan ekstensif dan komprehensi karena berkenaan erat dengan aspek-aspek seperti kemampuan akademik, kepribadian, dan sikap, tapi umumnya:

  1. Emosinya lebih stabil

Perilakunya secara umum baik dan sopan dan ga suka tantrum. Agresivitasnya pun masih dalam skala masuk akal. Si anak jarang terlihat sedih dan ga narik dirinya tiba-tiba.

  1. Kepercayaan dirinya tinggi dan sifatnya ceria

Si anak tampak lebih menikmati hidupnya dan jauh dari yang namanya cemas berlebihan.

  1. Sifatnya supel

Kemandirian bisa diamati dalam dirinya dan ini membuatnya lebih mudah bergaul tanpa menghindari dunia sosial di sekitarnya.

  1. Lebih mudah belajar

Konsentrasinya terjaga dengan baik dan mampu menyerap pelajaran di sekolah dengan relatif baik pula.

  1. Istirahatnya cukup

Buah hati ga mengalami kesulitan dalam beristirahat dan ga ada gangguan tidur—ga sulit tidur atau tidurnya kelamaan.

Tentunya ini cuma general guidelines ya. Ga mesti semuanya harus sesuai dengan apa yang dijabarkan di atas, lebih bersifat berdasarkan kasus aja. Yang perlu diingat juga adalah anak-anak masih mempelajari cara berkomunikasi yang baik dan efektif jadi akan selalu ada kemungkinan dia menyimpan sendiri kendala yang ia hadapi. Kitalah yang perlu jeli, responsif, dan proaktif dalam mengulik permasalahan yang sebetulnya terjadi.

Apa pentingnya kita menjaga kesehatan anak di rumah? Anak yang tumbuh sehat di rumah adalah anak yang bahagia. Anak yang bahagia akan merefleksikan cara mengasuh anak yang baik pula, yang orang lain bisa lihat secara langsung. Ini bukan berarti kita perlu selalu memikirkan apa opini atau omongan orang lain ya; anak kan anak kita. Kita yang kenal karakternya seperti apa. Kita yang menghadapi kesulitan dan menikmati keberhasilan dalam mendidik anak. Bodo amat deh sama apa yang orang lain pikirkan. Tapiii, ketika anak berubah menjadi “cermin” yang memantulkan pola asuh yang kita terapkan dan orang lain bisa dengan gamblang menangkap sinyal bahwa si anak ga bahagia di rumah, kita juga yang kena getahnya. Kita dianggap ga becus membesarkan anak dan belum lagi kita harus menghadapi konsekuensi dari pola asuh yang tidak tepat itu sendiri nanti.

Lagi-lagi, emang kita ga perlu menyusahkan diri sendiri dengan memikirkan pandangan orang lain. Tapi orang lain itu juga bisa banget menangkap apa yang anak rasakan dari cara mereka berinteraksi dengan si anak.Misalnya nih, kita lagi ketemu sama temen dan anak kita bawa. Ketika si temen mencoba membangun komunikasi dengan anak kita, cara si anak memberi respons kepada orang dewasa akan mencerminkan apa yang kita tanamkan kepadanya. Apakah dia malu dan memilih bersembunyi di balik badan kita? Apakah dia dengan sopan membalas sapaan orang dewasa dan terlibat dalam percakapan yang dinamis? Sesama orang dewasa bisa menangkap jika ada sesuatu yang salah dengan cara kita mendidik anak di rumah atau jika ada sesuatu yang dengan tepat sudah kita terapkan pada anak.

Anak itu output ya, Teman-teman. Mereka bisa menjadi tolok ukur orang lain dalam menilai kefasihan kita dalam memastikan kesehatan dan kebahagiaan anak. Jadi jangan “bersandiwara”; bersikap seolah-olah semuanya udah kita terapkan dengan baik dan sempurna sementara dari muka anaknya aja udah keliatan kalo dia ga mendapatkan cukup kebahagiaan di rumahnya sendiri.

Masalah terbesar kita sebagai orang tua yang memiliki anak yang masih lumayan kecil adalah bagaimana kita bisa membuatnya patuh tanpa menggunakan cara-cara yang berpotensi merusak tumbuh-kembangnya. Ada sih tips dan trik yang bisa dipake, tapi sama lagi, semuanya ini cuma general guidelines, ya. Tinggal cocokkan dengan apa yang terjadi dan situasi di rumah aja nanti.

  1. Berikan contoh yang baik

Mengharapkan diri sendiri menjadi orang tua yang sempurna itu cuma mimpi. Kita cuma bisa melakukan dan memberikan yang terbaik. Don’t be too hard on yourself; adapt, adapt, and adapt. Kita harus fleksibel dan cukup mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak dan tuntutan menjadi orang tua yang “memadai” aja. Jangan menarget kesempurnaan karena ini bisa berpotensi menjadi bumerang yang hanya akan menyakiti diri sendiri pada prosesnya. Memberikan contoh kepada anak adalah yang sederhana; anak itu seperti kertas kosong yang tinggal diisi dengan apa yang kita kehendaki. Jika kita menginginkan anak memiliki sikap tertentu, tunjukkan. Jangan cuma menyuruh dan memerintah. Anak lebih mudah mencontoh apa yang ia lihat daripada dengar.

  1. Panggil namanya

Kita susah-susah mencarikan nama yang artinya bagus buat anak, kita juga yang akhirnya menolak menggunakan nama itu untuk memanggilnya. Kan ga konsisten jadinya. Menyebut nama si anak akan memberikan rasa dianggap pada diri anak sendiri. Setelah si buah hati menoleh, utarakan dengan lembut apa yang kita inginkan. Jangan pernah berteriak atau membentak ya.

  1. Dengarkan dirinya

Dengarkan keluhannya. Dengarkan protesnya. Dengarkan alasannya.

  1. Kenali trigger

Jika anak marah, kita patut mencari tahu apa yang menjadi penyebab kemunculan emosi negatif. Hindari menguliahi anak di saat dia sedang marah karena ga bakalan ada satu pelajaran pun yang bisa dia serap.

  1. Jadilah konsisten

Pola yang konsisten dan rutin akan memberikan rasa aman untuk anak dan mendidiknya untuk terbiasa dengan karakter kita sendiri sebagai orang tua.

  1. Hukum dengan pantas

Kalau bicara soal hukuman, semua sudah pasti harus selalu proporsional. Hukuman yang masih dalam batas kewajaran bisa menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dan ketegasan pada diri anak.

  1. Apresiasi dan puji

Berikan pujian dan apresiasi terhadap pencapaian anak dengan tidak berlebihan atau kurang dari cukup agar motivasi anak tetap terjaga.

  1. Ciptakan keharmonisan

Menjaga keharmonisan rumah tangga dapat mendukung rasa nyaman anak sehingga lebih mudah untuk mereka mendengarkan ucapan dan permintaan orang tua.

Leave a comment