Memukul dan Menggigit: Ketika Anak Cuma Tahu Ekspresi Fisikal untuk Berkomunikasi

Beberapa orang di dekat saya sempat mengeluh tentang anak yang tiba-tiba suka sekali menggigit atau memukul mereka. Awalnya si buah hati maniiis banget. Tau-tau, ga ada ujan ga ada badai, kebiasaannya jadi berubah lebih agresif. Saya jadi kasian karena kondisi begini biasanya gampang banget bikin si ortu jadi kepikiran. Kaya, mereka jadi otomatis mikir, “Apa sih sebenernya yang salah? Apa saya salah didik apa gimana? Apa ada faktor tertentu di dalam rumah yang bikin anak saya jadi seagresif ini ya?” Itu baru sebagian kecil contoh overthinking ortu ketika menghadapi kenyataan bahwa anaknya yang tadinya berperilaku sweet bak malaikat tiba-tiba berubah jadi monster.

Yang jadi masalah lebih besar lagi adalah bahwa si buah hati ga cuma ngejadiin ortunya sendiri sebagai sasaran. Orang lain, terutama teman-teman sebayanya, juga bisa kena. Siapa yang ga stres dengan situasi macam begini? Digigit atau dipukul anak itu emang sakit, apalagi anak-anak ga bisa ngukur efek dari tindakannya itu. Main gigit atau pukul aja. Kadang sampe bikin kulit memar dan bahkan mungkin berdarah. Tapi rasa sakit fisikal ini kalah mengkhawatirkan dibandingkan dengan kemungkinan si anak berubah menjadi bully saat dia nanti masuk sekolah.

Memukul atau menggigit sebetulnya pola perilaku yang lambat laun bisa hilang seiring dengan pertambahan usia si anak. Tapi akan lebih baik jika tindakan seperti ini bisa ditangani sejak dini sebelum berubah menjadi pola perilaku yang lebih sulit untuk dikoreksi di masa depan. Konsep dasarnya seperti ini: Perilaku agresif pada anak-anak umur di bawah tiga tahun itu lebih mengarah kepada masalah “latihan” yang minim ketimbang kenakalan murni. Batita adalah makhluk yang baru lepas dari gendongan ibunya, skill sosial dan komunikasi mereka saaangat terbatas dengan jumlah kosa kata yang bahkan jauh lebih minim lagi. Makanya, mereka menggunakan cara menggigit atau memukul orang lain sebagai cara untuk menyampaikan protes atau ketidaksetujuan yang mereka rasakan karena cuma itu yang mereka anggap logis. Nalarnya belum sempurna. Empatinya belum berkembang sempurna. Mereka ga suka sama sesuatu tapi karena keterbatasan daya penyampaian, mereka beralih pada ekspresi fisikal untuk menyampaikan apa yang dirasakan. Kitalah sebagai orang tua, manusia dewasa yang logika dan empatinya udah jauh lebih matang, yang seharusnya bisa mengajarkan si anak untuk mengembangkan kemampuan sosial yang lebih baik tanpa mengambil jalan yang justru bikin kebiasaan menggigit dan memukul jadi makin buruk.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan dan Apa yang Semestinya Dihindari?

Yang jangan dilakukan adalah:

Pertama, JANGAN PERNAH memukul balik si anak dan berpikir itu akan menjadi sarana pembelajaran bagi si anak. Sadar ga sih, ketika kita memukul buah hati kita karena kelakuannya itu hanya akan memberikan pembenaran buat dia sendiri? Berpikir bahwa memukul adalah tindakan pendisiplinan yang efektif itu cuma bakal bikin si anak mikir kalo kekerasan fisik itu bisa diterima. Orang tuanya aja suka mukul, apalagi anaknya.

Kedua, JANGAN PERNAH memberikan hukuman dalam bentuk apa pun. Tujuan kita adalah membantu anak untuk mengelola semua emosi yang dia rasakan. Tapi pemberian hukuman justru bakal jadi kontraproduktif karena itu hanya akan membuatnya berpikir bahwa dirinya adalah jahat dan nakal. Ini, pada prosesnya nanti, hanya akan memperburuk perilaku agresifnya.

Ketiga, JANGAN PERNAH memusingkan apa yang orang lain katakan. Berkaitan dengan kasus anak suka memukul atau menggigit, fokus kita harus seratus persen diberikan kepada si anak, bukan kepada nama baik kita sebagai orang tua atau pendapat orang lain. Jadi jangan pernah takut kalo perilaku anak akan membuat imej kita buruk dan dianggap sebagai orang tua yang tidak handal. Semua orang punya porsi masing-masing. Semua orang punya cara masing-masing.

Keempat, JANGAN PERNAH memaksa si anak meminta maaf atas perbuatannya. Kata kuncinya di sini adalah “memaksa” ya. Batita mungkin sudah fasih meminta maaf tapi permintaan maaf dari seorang batita itu ga pernah tulus kok. Mereka cuma minta maaf buat keluar dari kemungkinan dimarahi. Jadi gimana? Ga mungkin dibiarin aja kan? Tentunya engga. Ketika si anak sudah lebih tenang dan tantrumnya ilang, ajak dia bicara sesederhana mungkin tentang apa yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki situasi atau tentang bagaimana dia bisa membuat si orang yand digigit atau dipukul merasa lebih baik. Caranya gimana? Coba berikan gambaran tentang tindakan kebajikan ke si anak. Atau kalo bisa didemonstrasikan langsung tindakan kebajikan itu malah lebih baik. Kita bisa ngajarin si anak buat bertanggung jawab atas tindakannya sendiri dan berempati pada orang lain juga.

Yang sebaiknya dilakukan adalah:

Pertama, monitor buah hati kita. Batita itu kaya cuaca, susah banget ditebak. Tapi sebagai orang tua kita mungkin punya cara tersendiri buat mengenali fase frustrasi atau kelelahan anak kita sendiri ketika sedang bermain dengan anak-anak lain. Begitu kita menangkap sinyal buruk dari suasana hati si anak, langsung aja deh dia dibawa pergi sebelum keadaanya makin buruk.

Kedua, tetaplah tenang. Kita orang tua juga manusia jadi bisa dimengerti ada rasa kesal ketika anak bertingkah tidak pantas. Tapi hasil positif bisa lebih mudah didapatkan jika kita tetap tenang dalam situasi anak memukul atau menggigit. Jika kita menunjukkan kekesalan dengan gamblang, si anak akan malah ketakutan dan ini mempersulit dirinya untuk mempelajari nilai-nilai yang mau kita sampaikan. Plus, si anak akan menyadari bahwa orang tuanya memberikan respons secara signifikan ketika dia melakukan kesalahan dan akhirnya berpikir bahwa perhatian orang tua cuma bisa didapatkan melalui sifat nakal—yang artinya kita gagal memperbaiki sifatnya.

Ketiga, berempatilah dengan anak dan buat batasan. Jangan gengsi buat menyampaikan pada anak bahwa kita memahami emosi yang ia rasakan dan berikan pengertian padanya bahwa apa yang ia rasakan bukan alasan pembenaran untuk tindakannya.

Keempat, tenangkan si anak. Ajarkan kepada anak untuk menenangkan diri dengan cara pernapasan perut, pemberian pelukan, atau bahkan menyanyikan sebuah lagu. Tujuannya adalah memberikan kesadaran pada anak bahwa dialah yang punya kuasa atas segala bentuk emosi yang dirasakannya tanpa perlu membiarkan dirinya meledak.

Kelima, cobalah mempraktikkan “redo”. Begitu anak sudah cukup tenang, ajak dia membayangkan alternatif berbeda dari apa yang sudah dia lakukan lain kali. Tapi kita kudu sabar juga, emosi mentah yang dirasakan si anak bisa terlalu kuat dan kebiasaan baru itu butuh waktu buat dipelajari.

Keenam, praktikkan strategi alternatif. Ajak anak main boneka dan pancing dia untuk mempraktikkan apa yang mungkin dia bisa lakukan ketika merasa frustrasi, termasuk pergi menjauh, meminta tolong, atau menggunakan kata-kata yang tepat untuk menyampaikan apa yang dia rasakan. Yang perlu diingat, strategi ini mungkin ga bakal menunjukkan hasil dalam waktu singkat tapi menerapkannya sejak dini dan reguler adalah kunci.

Mengatasi Perilaku Agresif pada Anak di Atas 3 Tahun

Cara mengatasi anak yang suka memukul atau menggigit pada rentang usia di bawah 3 tahun emang cukup menyita perhatian. Tapi ketika anak di atas 3 tahun masih suka agresif, semuanya berubah menjadi luar biasa melelahkan karena asumsinya adalah mereka udah sepantasnya tahu baik-buruk dan benar-salah. Sebaiknya kita ga langsung mengklaim bahwa si anak udah bakat buat jadi bully. Yang lebih penting untuk dilakukan adalah memahami bahwa “kenakalan” macam ini tuh aslinya pertanda bahwa si anak perlu dilatih dengan strategi pengendalian impuls.

Terlebih dulu buang jauh-jauh kecenderungan untuk mencap anak sebagai anak yang nakal, kasar, dan agresif karena label seperti ini akan membuat anak kecil hati dan memperburuk perilaku negatif yang udah ada.

Mengatasi perilaku agresif pada anak usia di atas 3 tahun bisa dibagi menjadi 3 kelompok: sebelum, pada saat, dan sesudah sebuah insiden.

Sebelum insiden

  1. Pastikan anak istirahat dengan cukup. Anak akan lebih mudah mengendalikan impuls mereka ketika kebutuhan tidurnya tercukupi.
  2. Jangan berlama-lama berkunjung ke tempat orang lain. Ketika anak sudah sangat bosan berada di satu tempat, dia akan lebih mudah melancarkan sikap agresif.
  3. Jangan melewatkan waktu tidur siang atau waktu beristirahat secara umum. Bermain bersama teman atau mengunjungi anggota keluarga akan terasa lebih menyenangkan jika anak punya cukup waktu untuk beristirahat.
  4. Selalu penuhi kebutuhan anak akan perhatian. Berikan perhatian yang positif pada anak setiap hari. Sisihkan waktu untuk mendengarkan cerita mereka untuk membangun ikatan emosional dan menenangkan impuls si anak.
  5. Ajarkan strategi resolusi konflik yang positif. Dorongan anak untuk bertindak agresif akan terkendali jika dia sudah mempelajari strategi-strategi seperti penggunaan frase “aku merasa…”, pergi meninggalkan sumber konflik, tidak mengindahkan, mencari jalan tengah, atau semacamnya.
  6. Jangan langsung merespon begitu sikap agresif muncul. Ikuti alurnya jika si anak menggunakan kata-kata untuk berargumen. Tapi begitu tanda-tanda perilaku kasar dan agresif terlihat, langsung tenangkan dirinya dan carilah jalan keluar yang lebih baik.
  7. Pujilah anak ketika dia berhasil tetap tenang. Jangan pelit mengeluarkan pujian ketika memang pujian itu pantas diberikan, terutama ketika anak berhasil tetap mengendalikan emosinya di bawah tekanan.
  8. Rancang jadwal kegiatan fisik yang proporsional. Beberapa anak memang lebih cenderung bersifat fisikal dan itu adalah kenyataan yang ga bisa ditampik. Menjadwalkan kegiatan fisikal bisa menjadi alternatif buat si anak untuk menyalurkan energinya yang berlebihan.
  9. Terapkan cara berkomunikasi yang penuh kedamaian. Jika suasana rumah dipenuhi rasa menghargai, kemungkinannya akan sangat kecil buat si anak untuk bertindak agresif.

Pada saat insiden

Untuk trik ketika anak melakukan tindakan kasar dan agresif, secara umum sama seperti apa yang dijelaskan pada bagian mengatasi anak batita yang suka menggigit dan memukul: jangan memukul balik, jangan menghukum, jangan memikirkan pendapat orang lain, berempati dan berikan batasan, dan tetaplah bersikap tenang. Tambahannya adalah, jangan lupa memastikan pihak yang menjadi objek perilaku anak kita baik-baik saja—jika melibatkan orang lain. Jika si anak sudah lebih tenang, kalo bisa ikutsertakan dia dalam proses khusus ini jadi dia juga bisa belajar lebih jauh tentang empati dan tentang bagaimana tindakannya akan mempengaruhi orang lain.

Setelah insiden—Untuk dilakukan pada saat situasi sudah lebih tenang

  1. Jalankan skenario role-play. Ajarkan anak bagaimana memberikan respons tanpa perlu melibatkan tindakan kasar. Misalnya dengan menggunakan kata-kata, meminta bantuan pada orang dewasa, atau pergi meninggalkan sumber konflik.
  2. Praktikkan strategi menenangkan diri. Metodenya banyak, mulai dari pernapasan perut sampai ke pola menghitung sampai angka 10.
  3. Buat sinyal nonverbal rahasia. Isyarat ini bisa digunakan untuk menunjukkan kepada anak kapan dia perlu mempraktikkan strategi menenangkan diri.
  4. Sadari bahwa kendali impuls adalah hal yang sulit untuk dilakukan oleh anak-anak.

Menghardik dan Bahayanya

Ketika menghadapi kondisi anak suka menggigit atau memukul, udah pasti kita akan ngerasa kesel dan frustrasi. Naluri kita sebagai manusia cenderung ingin segera merespon perilaku si anak ketika tingkahnya ga sesuai dengan harapan. Tapi sekesal apa pun kita, seemosi apa pun kita dibuatnya, jangan pernah meneriaki anak apalagi memaki. Ada banyak dampak negatif dari menerapkan pola pendisiplinan yang terlalu keras dan ini juga yang bikin menghardik a big NO ketika kita mau mendidik anak yang perilakunya agresif. Frustrasi itu normal. Jengkel dan kesal itu alami. Kita juga manusia, sekalipun kita adalah orang tua. Tapi begitu merasakan ada dorongan untuk menghardik anak, coba ingat-ingat hal berikut ini:

  1. Hardikan hanya akan memperburuk perilaku anak.

Sangat mudah membayangkan bahwa teriakan kepada anak akan menyelesaikan semuanya dengan cepat dan memberi tahu si anak apa yang boleh apa yang ga boleh dilakukan. Tapi penelitannya udah ada tentang hardikan yang justru malah bikin permasalahan lebih banyak dalam jangka panjang. Hardikan akan memperburuk perilaku negatif anak yang akhirnya kita malah harus menghardik lebih keras lagi dengan harapan semuanya selesai. Dan lingkaran setan pun dimulai.

  1. Hardikan dapat mengganggu perkembangan otak anak

Otak manusia memproses input-input negatif lebih cepat daripada yang positif. Ketika anak terpapar makian dan teriakan di masa kecilnya, akan ada kelainan mencolok pada bagian otak yang memproses suara dan bahasa.

  1. Hardikan bisa berujung depresi.

Bentakan dari orang tua itu ga cuma membuat anak merasa sakit, takut, dan sedih. Kekerasan verbal berpotensi menciptakan gangguan psikologis yang lebih dalam di diri anak dan permasalahan ini bisa terbawa sampai saat ia dewasa.

  1. Hardikan berpengaruh terhadap kesehatan jasmani dan berpotensi menyebabkan penyakit kronis

Kekerasan verbal di masa kecil bisa membuat anak mengalami berbagai gangguan kesehatan seperti nyeri sendi, sakit kepala, dan gangguan pada punggung dan leher.

Daripada menghabiskan energi dengan meneriaki anak dengan harapan bisa mendisiplinkannya, mending belajar cara berkomunikasi yang baik dengan anak deh. Rumah terasa lebih damai dan risiko besar di masa dewasa pada anak bisa ditekan sedalam mungkin.

Leave a comment