Pertanyaan di atas bisa dijawab dengan simpel: Ya kalo emang sanggup, why not? Kesanggupan di sini ada banyak macamnya tapi ya yang paling penting sih, sanggup ga sama biayanya. Sekolah macam begini ga murah loh ya. Jumlah total uang yang dihabiskan di akhir periode pendidikan bisa buat keliling dunia kali…. Jadi ya, kudu kuat di dompet biar kita sebagai orang tua ga kelabakan menuhin kebutuhan pendidikan si buah hati. Tapi pada praktiknya nih ya, realitasnya bisa beda dan hal ini semua bisa jadi ga sesimpel itu. Sebelum kita bahas lebih jauh, mending kita bahas deh, apa bedanya sekolah nasional dan sekolah internasional.

Perbedaan Fundamental
Hal paling mencolok yang membedakan kedua tipe sekolah ini adalah kurikulum. Kurikulum di international schools biasanya ya kalo ga IGSCE (International General Certificate of Secondary Education, ya IB (International Baccalaureate). Dari namanya aja udah keliatan dong, berbeda. Kurikulum yang diterapkan seperti ini membuat penjurusan di sekolah jadi beda juga dari sekolah nasional. Kalo biasanya sekolah nasional menerapkan jurusan IPA-IPS (kadang juga ada yang nerapin jurusan Bahasa), tapi kalo di international schools, bidang minat boleh berat ke satu area, tapi juga include mata pelajaran dari area lain. Jadinya, oke boleh komposisi mata pelajaran dibanyakin natural science-nya, tapi minimal ada mata pelajaran dari bidang social science juga.
Yang kedua, bahasa. Yang namanya international schools, bahasa pengantar pada proses belajar-mengajar ya pastinya bahasa internasional juga—dalam hal ini Bahasa Inggris. Interaksi murid baik dengan guru, staf, maupun dengan sesama murid harus menggunakan Bahasa Inggris. Makanya ga heran lulusan international schools pasti casciscus ngomong bulenya. Beberapa internationa schools lain mengijinkan penggunaan bahasa lain di luar sesi belajar—selama proses belajar-mengajar berlangsung, wajib menggunakan Bahasa Inggris. Guru-guru dan sesama murid pun akan banyak membantu jika satu anak mengalami kesulitan dalam hal grammar atau vocabulary. Mengambil kelas selain Bahasa Inggris pun jadi mata pelajaran wajib juga. Ada yang menawarkan kelas bahasa Arab, Cina, Jerman, atau Jepang. Gimana dengan Bahasa Indonesia? Bahasa Indonesia diperlakukan sebagai bahasa kedua malahan.
Terus, perbedaan lain terletak pada tugas sekolah. Murid-murid international school biasanya diajarkan sejak dini untuk bisa merangkai proses berpikir logis dan ini terefleksi dari metode penugasan dari sekolah. Makalah adalah hal biasa bagi murid-murid di sekolah macam ini. Murid juga dilatih untuk melakukan eksperimen sendiri terutama dalam bidang ilmu science kayak Biologi, Fisika, atau Kimia. Mereka akan dituntut untuk menyusun hipotesis sendiri, membuat metode penelitian sendiri, membahas hasil penelitian, dan membuat konklusi dari penelitian itu tadi. Untuk kelas-kelas bahasa, biasanya mereka akan ditugaskan untuk membuat analisis karya sastra, entah novel, cerpen, atau puisi.
Cara belajar di international schools juga dirancang lebih interaktif. Murid-murid diberi kebebasan untuk mengetengahkan pendapat mereka sendiri terhadap sebuah subjek. Guru dituntut untuk membangun jalur komunikasi dua arah dengan murid, ga cuman bediri depan kelas dan ceramah.
Kalo soal ujian, international schools biasanya menerapkan Ujian Tengah Semester, Ujian Akhir Semester, plus ujian resmi sesuai kurikulum terapan. Ujian kurikulum ini biasanya cuma diadakan di akhir, sebelum kelulusan. Bentuk ujiannya juga esai semua, ga ada pilihan ganda.
Guru di international schools bervariasi. Beberapa sekolah hanya meng-hire satu guru asing untuk Bahasa Inggris, yang lainnya orang Indonesia—meskipun demikian, interaksi harus tetap berbasis Bahasa Inggris. Sekolah-sekolah lain ada juga yang meng-hire beberapa guru asing untuk mengampu berbagai mata pelajaran.
Keuntungan
Dari perbedaan-perbedaan itu, kita bisa deh cari tau apa aja keuntungan sekolah di sekolah internasional. Naaah, karena pola belajarnya menitikberatkan pada interaksi dan komunikasi dua arah, murid-murid jadi terlatih buat menyampaikan isi kepalanya dengan cara yang lebih tertata dan logis. Jadi ga pasif aja gitu, nerima materi tanpa mencerna dan memahami.

Dengan banyak aturan yang diterapkan, utamanya soal penggunaan Bahasa Inggris dan metode pengerjaan tugas, murid-murid juga jadi belajar soal disiplin dan menghargai hasil kerja sendiri.
Kombinasi antara kurikulum internasional dan penggunaan bahasa asing yang intens juga bisa mempersiapkan murid untuk mengantisipasi globalisasi dan iklim persaingan dunia. Resume mereka kelak akan lebih “bersinar” dan mereka ga bakal kaget sama kehidupan dan dunia perkuliahan yang emang menuntut kemandirian individu.

Di international schools juga sering ada program overseas yang mengharuskan murid untuk terbang ke negara lain untuk belajar. Ini memungkinkan si anak untuk menyerap budaya modern lebih mudah dan membantu merestrukturisasi pola pikirnya secara akademis juga.
Kekurangan
Nah, dengan berbagai keuntungan itu tadi, sulit ya, rasanya ngebayangin ada yang namanya kekurangan sekolah internasional. Kenyataannya, kekurangan itu hal lazim dalam dunia pendidikan, termasuk dalam hal international schools juga.
Pertama, murid-murid harus ikut ujian akhir dua kali. Pertama, ujian berbasis kurikulum sekolah, kedua, Ujian Nasional. Ini wajib, sudah ditetapkan dalam peraturan Mendikbud tahun 2014. Hasilnya apa? Murid bisa jadi kewalahan membagi fokus karena harus mengimbangi kedua kewajiban di saat yang bersamaan.
Kedua, beban ujiannya jauh lebih membebani. Tiap mata pelajaran menuntut ujian dalam 2 bentuk, teori dan studi kasus. Itu belum ditambah ujian dalam bentuk extended essay sepanjang at least 4000 kata.
Ketiga, mengingat materi pelajaran yang bermuatan internasional, murid kemungkinan tidak bisa mengenal negaranya sendiri dengan lebih baik. Emang sih, pas kelas Sastra Indonesia mereka akan juga belajar tentang sejarah, tapi apakah itu cukup?
Kekurangan nomor empat terletak pada keharusan menggunakan Bahasa Inggris di sekolah. Iya sih, mereka akan lebih cakap dalam menggunakan bahasa asing, tapi nantinya ketika diminta berbicara dengan Bahasa Indonesia, pola tutur mereka akan tidak konsisten. Bahasa Inggris yang dicampur Bahasa Indonesia. Atau sebaliknya.

Jadi Sebaiknya Gimana?
Menyekolahkan anak di mana itu kewajiban dan mau di mana menyekolahkan anak itu adalah hak. Jadi ya, suka-suka orang tuanya kan? Asal itu tadi, sanggup menyokong si anak sampai pendidikannya selesai, ga putus di tengah jalan. Tapi ada pertanyaan yang jauh lebih krusial lagi sebenarnya: Apakah keputusan untuk memasukkan anak ke sekolah bertaraf internasional itu didasari oleh tren, gengsi, atau emang tuntutan kebutuhannya seperti itu? Hal lain yang kudu banget dipertimbangin ada rasio antara keputusan tersebut dengan output-nya nanti. Sebanding ga? Sesuai ga? Worth it, ga? Apa yang dimaksud dengan “output”? Coba kita sederhanakan deh, ya. Kira-kira nanti profesi yang diambil si anak sepadan ga dengan latar belakang pendidikannya? Iya, bener; anak mau jadi apa nanti itu ga ada yang bisa nebak. Tapi paling ga, kita sebagai orang tua udah menerapkan navigasi profesi sejak si anak masih kecil. Coba kita kasi si anak berbagai macam alternatif pilihan profesi sejak jenjang pendidikan dasar sehingga nanti fokus si buah hati dalam belajar bisa lebih terarah. Relevansinya apa dengan international school? Ini akan membantu kita dalam memilihkan sekolah mana untuk si kecil. Kurikulum mana yang kira-kira akan membantunya meraih cita-citanya. Orang tua boleh kan, bermimpi anaknya menjadi seseorang dengan profesi yang so orang tua idamkan? Boleh dong. Asalkan tetap pada jalurnya, ga memaksakan apa pun tapi tetap memberikan pengarahan. Ga ada orang tua yang pingin anaknya jadi pengangguran atau menjalani profesi yang tidak menjamin masa depannya sendiri. Misalnya nih, kita mau anak kita jadi dokter. Ya udah, dari kecil diarahkan. Boleh pilih sekolah berkurikulum internasional asalkan itu emang beneran bisa mendukung jalur profesi di masa depannya nanti.

Tapi jangan mentang-mentang udah yakin sekolahnya cocok dan bagus, malah dibiarin aja sekolah yang mengambil-alih pola pengasuhan si anak ya. Ini bisa berujung pada inkonsistensi budaya belajar nanti.
Orang Tua dan Peran Mereka
Gini, di sekolah internasional itu kan semuanya berbasis Bahasa Inggris. Kalo kita lepas tangan dan ngebiarin sekolah sepenuhnya mendidik si anak, dampaknya bisa sangat berbahaya. Bahasa itu cikal-bakal budaya. Membiarkan anak fasih ber-Bahasa Inggris tanpa filter dan upaya pengimbangan di rumah akan melunturkan nilai budaya negara sendiri. Akibatnya si anak akan lupa pada jati dirinya sendiri dan berkiblat ke negara barat. Ga masalah menjadikan negara barat sebagai tolok ukur, toh mereka emang maju kok. Banyak pelajaran dan ide yang bisa dipetik dan diterapkan dari negara-negara maju. Tapi kalau proses pergeseran nilai itu terjadi dengan gegabah dan kita ga secara proaktif mengendalikannya, lahirlah sifat “mengagungkan negara barat dan merendahkan budaya sendiri”. Anak-anak yang bersekolah di sekolah internasional harus diberikan pengertian bahwa Indonesia juga merupakan bagian dari komunitas global. Mereka harus dibuat paham bahwa yang namanya “internasional” itu tidak otomatis konotasinya adalah negara-negara barat. Mereka harus tahu bahwa harga diri dan jati diri mereka sendiri membuat mereka pantas berdiri di antara anggota penduduk dunia lain, sama rata, sejajar.

Terus, dari sisi orang tua, ga bosen-bosennya diingatkan, perhatikan masalah pendanaan. Sekolah macam begini tuh, ga murah. Uang akan mulai terkikis sedikit demi sedikit mulai dari fase pendaftaran saaampai akhirnya nanti lulus. Jangan berpikir, “Ya udah semampunya dulu aja.” Ga ada ceritanya begitu. Sekali menginginkan anak sekolah dengan gaya internasional, selanjutnya harus konsisten. SD-nya internasional, masa SMP-nya lokal? Ga haram sih, emang, apalagi kalo emang udah tuntutannya begitu. Tapi akibatnya si anak bisa ngalamin culture shock. Dari yang tadinya mereka diajarkan untuk bersikap kritis, aktif, dan komunikatif, mereka akan dibentuk ulang dalam pola sekolah nasional yang… yaaa… you know-lah. Makanya, sebelum memutuskan cuma karena excited, ukur dulu semuanya. Pikir-pikir lagi perbandingan antara sustainability pekerjaan kita yang sekarang dengan kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak.
Terus lagi, nilai-nilai yang diajarkan ke anak sebaiknya konsisten dengan apa yang mereka serap dari sekolah. Kalo di sekolah mereka dituntut mandiri dan aktif, di rumah mereka juga harus diminta berperilaku sama. Jangan pas di sekolah mereka serba dinamis dan terbiasa dengan proses yang cepat, di rumah mereka serba dilayani, serba dijadikan raja dan ratu, serba diiyakan maunya. Serba selalu dibantu sama asisten rumah tangga kebutuhannya. Neneknya dateng ke rumah, jadi manja. Jadi ngelendot-ngelendot. Anak manja pada orang tua atau kakek-neneknya itu wajar. Tapi kita juga harus dengan sadar mencoba menanamkan apa yang diajarkan sekolah mereka. Supaya apa? Supaya karakternya konsisten dan apa adanya. Fokusnya ga kebagi-bagi, di sekolah harus mandiri, di rumah jadi manja. Sesuai aja semuanya, ya. Sesuai porsi, sesuai kebiasaan. Inget, kita menginginkan anak yang bermental baja dalam mengantisipasi arus globalisasi yang terkenal kejam itu.