Hai Teman DRYD,
Bersikap terlalu sensitif dan selalu mengambil hati tentang segala hal berpotensi mengganggu hubungan interpersonal. Sayangnya, situasi seperti ini selalu terjadi berulang kali dan barangkali Teman-teman juga pernah merasa heran akan reaksi yang Teman-teman berikan terhadap suatu hal. Dan jika memang ini yang sering terjadi, maka Teman-teman sebaiknya mulai mencari tahu kenapa Teman-teman bisa sangat reaktif secara emosional.
Tanda-tanda orang yang reaktif secara emosional meliputi:
- Gampang sekali tersinggung bahkan karena hal paling remeh sekalipun,
- Reaksi yang diberikan terhadap sebuah situasi sering berlebihan,
- Sering merasa sangat kesal apabila sesuatu tidak berjalan sesuai rencana,
- Meyakini bahwa reaksi yang diberikan adalah akibat keadaan yang ada yang mengakibatkan perasaan tertekan oleh kerasnya hidup,
- Orang lain di sekitar merasa tidak nyaman berada di sekitar,
- Bersikap defensif dan penuh kemarahan ketika orang lain diduga sudah mengkritisi diri,
- Mudah diliputi kemurkaan dalam waktu singkat bahkan akibat provokasi paling kecil sekalipun,
- Merasakan ada sebuah pola dalam suatu ledakan amarah tapi tidak dapat diketahui dengan pasti,
- Merasa tidak berdaya disertai dengan rasa tanggung jawab yang rendah.
Mengubah kecenderungan untuk selalu reaktif secara emosional itu agak sulit sebenarnya karena melibatkan cara kita menyusun ulang bagaimana kita mempersepsikan hidup. Yang pertama harus kita tanamkan di diri adalah pemahaman bahwa kita bukanlah korban dari keadaan dan kita bisa dengan sadar menentukan cara kita merespon sesuatu, terutama jika sesuatu itu tidak sesuai dengan apa yang kita kehendaki.

Menjadi terlalu responsif secaqra emosional itu tidak baik untuk mental.
Tarik Napas Dalam-dalam
Jangan langsung bereaksi. Coba diam sebentar beberapa detik sebelum memberikan respons apa pun itu bentuknya, ya. Ketika kita merasakan bahwa sesaat lagi rasa marah kita akan meledak, tarik napas dalam-dalam dan pertimbangkan kembali apa sih yang sebetulnya terjadi. Apakah situasinya itu sendiri yang membuat kita marah atau malah semuanya cuma soal hal di balik situasi itu yang mengusik kita?
Kenali Trigger
Mengenali pemicu ledakan amarah atau sikap reaksioner emang rada ribet dan butuh banyak waktu tapi jika akhirnya berhasil, cara ini sebenernya cukup ampuh untuk mengurangi level reaktif diri kita. Dalam jangka waktu tertentu, coba kembangkan kemampuan untuk bisa “memeriksa” apa yang kita pikirkan, rasakan, dan lakukan. Jangan membiarkan diri bereaksi secara langsung tapi kenali momen ketika kita akan bereaksi atau memberikan respons dan buatlah catatan mental mengenai momen itu. Ketika sudah tenang nanti, coba deh lihat kembali reaksi yang udah kita kasi trus coba juga memahami emosi yang ada di balik reaksi tersebut yang menjadi pemicu. Ketika nanti di masa yang akan datang kita akan bereaksi atau merespon sesuatu, kita bisa mengenali dorongan tersebut apa adanya: Tidak lebih dari sekadar faktor pemicu. Untuk contoh praktis, misalnya kita punya kecenderungan untuk langsung merespon opini yang kontra dengan ide yang kita punya. Yang umum terjadi kan pastinya kita akan langsung masuk ke dalam situasi debat kusir yang ujung-ujungnya cuma akan bikin kita sakit kepala. Nah, coba hindari perdebatan, karena ini adalah faktor trigger. Dengan menghindar, memikirkan kembali inti dari apa yang menjadi sumber perdebatan, dan kemudian mengenali dorongan untuk berdebat sebagai respon semata, seharusnya kita bisa memilah kapan sebaiknya melempar opini dan memposisikan diri dalam sebuah forum.

Pikirkan dulu apa yang ada dalam kepala sebelum meyesal.
Pada praktiknya, adu argumen itu emang jauh lebih sehat ketimbang adu jotos untuk bisa menemukan jalan tengah. Tapi beradu argumen pun sejatinya punya tata cara yang baik agar bisa produktif dan efisien, bukan sekadar adu lempar pendapat dan bersitegang ga mau kalah.
Isi Ulang Tenaga Kita
Tubuh yang lemas dan kelelahan merupakan salah satu sumber utama penyebab kecenderungan respons negatif dari biasanya karena kita ga punya cukup cadangan energi. Coba susun jadwal kegiatan dalam seminggu yang bisa membantu me-recharge energi kita, bukannya malah menguras energi. Kegiatan-kegiatan yang sifatnya statis dan menenangkan bisa menjadi alternatif seperti meditasi, kegiatan dinamis seperto berolahraga, atau aktivitas kreatif juga bisa (contohnya berkebun, memasak, menggambar, atau menulis). Ga perlu, bahkan, sesuatu yang njelimet, cukup meluangkan waktu untuk introspeksi diri sendiri dan memastikan apa yang sedang kita rasakan untuk bisa membuat kita merasa lebih sejalan dengan diri sendiri.
Ubah Cara Mengungkapkan Perasaan
Kalo biasanya kita selalu nyalahin orang lain, coba deh ubah perspektifnya. Kalo biasanya kita selalu bilang, “Kamu bikin aku marah waktu kamu lupa telepon aku,” coba ubah kalimatnya menjadi, “Kalo kamu ga telepon aku di jam yang udah kita setujuin sama-sama, aku ngerasa diabaikan dan dilupakan. Kamu cuma perlu kirim pesan aja, kasi tau kalo kamu ternyata ga bisa nepatin janji telepon itu, kok.” Cara kita berkomunikasi bisa dengan drastis mempengaruhi seberapa negatif respons yang kita berikan.
Pada contoh kalimat pertama, kita menimpakan kesalahan pada orang lain. Orang lainlah yang bersalah dan membuat kita marah. Kalimat kedua lebih jelas menyatakan perasaan kita sebetulnya dan menunjukkan bahwa adalah sepenuhnya tanggung jawab kita kenapa bisa merasakan hal tersebut.
Konsultasi dengan Terapis
Kalo permasalahan sikap responsif yang berlebihan seperti ini udah mulai jadi sebuah problem yang terlalu besar dan mengganggu, mencari bantuan dari pihak profesional mungkin bisa membantu kita menemukan solusi yang tepat. Terapis profesional bisa jadi pilihan karena mereka mampu membantu kita mengenali perilaku mana aja yang ga bermanfaat buat hidup kita. Terapis profesional juga berkemungkinan besar bisa menolong kita membuat perubahan yang dibutuhkan supaya kita ga selalu jadi budak mood dan mencari tahu apa yang diperlukan untuk mengendalikan mood itu.

Jangan mau jadi budak emosi.
—
Nah, Teman DRYD, perlu diingat baik-baik kalo ga semua hal harus direspon dengan seketika. Perlu banget menahan diri buat ga langsung bereaksi terhadap sesuatu apalagi kalo reaksi yang dimaksud kontennya negatif. Kenapa? Karena itu ga sehat buat kondisi psikis kita sendiri. Energi akan sangat gampang terkuras habis dan akan ada kemungkinan buat jadi overthinking pada prosesnya—yang juga sama ga sehat dengan menjadi reaktif dan reaksioner.
Menunda reaksi atau respons jadinya lebih-kurang adalah sebuah usaha untuk menikmati me-time karena kita memilih untuk “memanjakan diri sendiri” dulu ketimbang tunduk dan ikut “permainan” orang lain. Ga salah kok, kalo kita ga langsung merespon sesuatu. Ga usah takut dibilang “loading-nya lama” atau ga ekspresif. Buat apa jadi ekspresif kalo ujung-ujungnya kita pusing sendiri dengan berbagai macam efek, hasil akhir, dan beban mental yang buruk? Yang penting itu adalah bagaimana kita bisa menjaga diri sendiri, menata hati, dan memberikan reaksi dan respons di saat yang tepat—yaitu ketika kita merasa semuanya sudah dicerna dengan baik.
Kalo misalnya kita kena sebuah kritik dari orang lain, diem dulu deh, coba ya. Kalo kita ngasi respons instan, kemungkinan besar semuanya akan berujung pada debat yang ga tentu arah. Kita hanya akan langsung mengeluarkan apa yang ada di dalam pikiran saat itu aja tanpa disaring, tanpa ditelaah, tanpa dicerna terlebih dahulu.
Saya selalu menekankan untuk banyak menarik napas dalam sebelum melontarkan suatu respons atau memberikan reaksi terhadap suatu hal karena tindakan menarik napas ini bener-bener mujarab banget buat menenangkan pikiran dan membantu mengendalikan perasaan dan emosi. Coba deh, Teman DRYD praktekin. Next time kalo ada dorongan buat langsung responsif dan reaksioner terhadap suatu hal, diem dulu, tarik napas daaalam-dalam, dan rasakan pikiran berangsur-angsur jadi lapang. Abis itu, baru deh mikirin gimana kudu menanggapi hal tersebut.