Istilah self love sekarang baaanyak banget dipake di mana-mana. Unggahan-unggahan Instagram, advice dari kolega atau keluarga, buku-buku self-help, cerita-cerita seleb, kita mungkin bahkan denger istilah ini dalam percakapan sehari-hari. Konsep “mencintai diri sendiri” sering dipake baik secara kasual maupun kontekstual sampe-sampe istilah itu jadi kehilangan makna terdalamnya. Dan meskipun emang makna cinta itu sendiri begiiitu universal dan bisa diaplikasikan ke apa aja, kadang-kadang kalo kita pake terus-terusan hanya sebatas permukaan, jadinya ya… cuma sekadar omongan. Kosong, gitu.

Teman-teman DRYD mungkin punya pemaknaan tersendiri terhadap cinta pada diri sendiri. Praktiknya pun mungkin beda-beda, tergantung preferensi dan definisi itu tadi. Tapi pernah ga temen-temen denger tentang self-love language? Tau ga caranya berbicara pada diri sendiri supaya diri sendiri sadar bahwa kita mencintai diri kita sendiri?
Yuk, bermain peran. Bayangin diri kita jadi orang lain yang sedang menjalin hubungan dengan kita. Gimana cara kita memperlakukan orang itu? Apakah kita baik padanya? Apakah kita selalu berpikiran baik terhadap tubuh dan jiwa orang itu? Sebagai manusia, pernah ga temen-temen ngalamin yang kaya begini:
- Mencaci-maki diri sendiri dengan ucapan-ucapan yang kejam?
- Menetapkan ekspektasi-ekspektasi yang impossible dan ga masuk akal, yang kemudian berujung kepada kegagalan?
- Melakukan tindakan sabotase pribadi dan akhirnya menutup jalan untuk mendapatkan apapun yang pantas didapatkan?
- Menyakiti tubuh dengan mengabaikannya atau mengambil keputusan-keputusan yang salah?
Disadari ato engga, tindakan-tindakan macam begitu akan ngaruh banget ke kesehatan mental dan fisik, ngerusak hubungan dengan orang lain, dan juga mengganggu perkembangan karir. Dan disadari ato engga, salah satu hal yang paling sulit dilakukan oleh manusia adalah bagaiman kita bisa menerima diri kita sendiri sepenuhnya dan mencintai individu yang ada di dalam diri. Begitu kita bisa melakukan ini, menerima dan mencintai diri kita sendiri dengan total tanpa denial, kita akan bisa memberikan cinta dan menerima cinta dari dunia, termasuk orang lain. Saat kebutuhan untuk mencintai diri sendiri sudah selesai dan terpenuhi dengan relatif sempurna, kita bisa mencintai hal lain tanpa perlu merasa terpaksa, kelelahan, dan terkuras. Saat kita bisa menerima diri sendiri dan memahami struktur internal diri kita, kita bisa menerima cinta dari dunia dengan bangga dan penuh rasa terima kasih karena kita paham, kita tahu bahwa kita pantas dicintai dan diterima oleh dunia.
Pertanyaan terbesarnya sekarang: Gimana caranya kita bisa mencintai diri sendiri? Inilah gunanya mempelajari bahasa cinta terhadap diri sendiri karena sekadar mengetahui kalo kita perlu melakukan ini tuh beda banget sama bener-bener ngelakuinnya.
Dr. Gary Chapman menulis dan menerbitkan buku “The 5 Love Languages” di tahun 1992, isinya mengupas bahasa cinta dengan mendetail supaya pembacanya bisa memahami cara memberi dan menerima cinta.
Yuk, kita breakdown bagian mencintai diri sendiri.
- Memikirkan Self-love: Kata-kata Afirmasi
Afirmasi diri sebaiknya dilakukan harian. Kenapa? Pikiran kita biasanya datang lebih dulu daripada emosi dan tindakan. Jadi kalo cara berpikir udah negatif duluan, semuanya akan jadi serba negatif juga. Coba cari kata-kata yang bisa meningkatkan rasa kasih kita pada diri sendiri. Fokuskan pikiran pada bagaimana caranya supaya kita bisa memperlakukan diri sendiri dengan lebih baik. Cara-cara yang bisa dilakukan meliputi membuat catatan tentang aspek-aspek kekuatan kita dan segala hal tentang kita yang kita syukuri. Coba buat sebuah dokumentasi tentang semua yang sudah kita capai selama ini, tentang hal-hal yang membuat perasaan bahagia, segala hal yang udah kita lakukan dengan baik, atau apapun yang kita suka tentang diri kita sendiri. Coba self-talk yang positif. Redam si tukang kritik di dalam diri.

brain cartoon characters vector illustration image showing how man has confused emotion when brains debating together about self confidence (conceptual image about human self confidence)
- Melakukan Self-love: Tindakan Memberikan Pelayanan
Melayani ga selalu berkaitan dengan orang lain yaaa, diri sendiri pun kadang perlu dilayani dan cuma kita yang mengerti jenis layanan seperti apa yang akan menunjukkan self-love. Kita bisa mulai dengan cara menyiapkan makanan sehat untuk diri sendiri. Berikan perhatian menyeluruh ketika berbelanja bahan makanan dan ketika proses memasak. Ciptakan lingkungan rumah yang teratur, bersih, dan menyenangkan secara estetis. Cintai tempat tinggal kita sendiri bahkan ketika budget-nya terbatas. Rutinlah mengecek kesehatan fisik, kesehatan gigi, dan kesehatan mental. Selesaikan persoalan di setiap segi begitu persoalan itu muncul di saat yang tepat. Tanpa kesehatan, kita praktis ga punya apa-apa untuk diandalkan. Grooming dan perawatan tubuh juga jangan luput. Penampilan fisik yang terawat akan sinkron dengan perasaan mencintai diri sendiri yang muncul.
![]()
- Menyerap Self-love: Menerima hadiah
Batasi pembelian barang-barang pada hal-hal yang emang disukai. Jangan buat lemari atau rumah penuh dengan hal-hal yang ga ngasi kita perasaan positif. Coba declutter, buang barang-barang yang udah ga lagi ngasi kita rasa bahagia. Susun bucket list dan hadiahi diri sendiri dengan pengalaman yang ga terlupakan. Misalnya, kita udah lama pengen nyoba rafting nih. Coba deh, susun anggaran dan perencanaan. Wujudin keinginan itu. Coba berinvestasi di pendidikan dan pengembangan skill. Kalo pengen dapet gelar S2, misalnya, atau pengen ngasah kemampuan masak, misalnya. Coba lakukan sesuatu untuk bener-bener bisa ngeraih itu semua.
- Mempraktikkan Self-love: Menghabiskan Waktu Berkualitas
Luangkan waktu setiap hari untuk kegiatan-kegiatan melapangkan pikiran seperti meditasi, latihan pernapasan dalam, dan relaksasi otot. Sisihkan waktu untuk bersenang-senang dan menjalankan hobi. Salah satu aspek penting dalam menghargai hidup adalah dengan menyediakan waktu untuk bermain dan bersenang-senang, loh. Tidur dan olahraga harus jadi prioritas.

- Merasakan Self-love: Sentuhan Fisik
Meregangkan otot dan memijat bagian-bagian badan tertentu bisa memberi efek relaksasi. Keluarkan racun-racun dalam badan dengan berendam air panas. Stres berkurang dan badan akan berterima kasih akan cinta kasih yang kita berikan. Aplikasikan losion atau minyak-minyak pelembap kulit. Di setiap sentuhan yang kita berikan pada badan, ucapkan terima kasih atas jasa-jasa bagian tubuh tersebut untuk hidup kita. Pahami kalo kita sangat-sangat pantas menerima perhatian khusus dengan cara, mungkin menikmati sebuah spa treatment. Manikur, pedikur, facial treatment, apapun yang bisa membuat hati senang dan badan rileks.

Semua ini penting dilakukan. Tapi yang paling penting lagi adalah menyadari bahwa mencintai diri sendiri itu adalah sebuah proses perjalanan—apalagi kalo kita terbiasa memandang rendah diri sendiri. Yang dibutuhkan adalah dedikasi, perhatian penuh, dan mempraktikkan semuanya.
Self-love dan Relationship
Jadi ada ga sih, kaitan langsung antara self-love languages dengan hubungan dengan orang lain? Oh, jelas ada dong. Lima macam bahas mencintai diri sendiri di atas itu bisa diliat mana yang lebih efektif untuk kita praktikkan. Kalo emang kelima-limanya sangat efektif, ya bagus deh. Tapi paling engga nih ya, ada satu tipe yang emang klop banget buat kita jalani.
Nah, setelah menemukan tipe yang sesuai dengan kita, sebaiknya dikomunikasikan dengan pasangan. “Yang, keknya tiap hari Minggu mau meditasi deh.” Ato, “Babe, tiap hari Rabu aku mau konsultasi treatment skincare.” Ato, “Khusus hari Sabtu aku mau kursus masak ya.” Apa manfaatnya mengkomunikasikan ini ke orang lain? Toh, yang ngerasain juga diri kita sendiri, kan artinya orang lain ga perlu tahu, ya ga? Ga gitu juga sih. Ketika ada dalam sebuah hubungan, artinya kita harus menimbang posisi orang lain. Ketika seseorang ga paham bahwa pasangannya sedang me-time-an, akan timbul gesekan. Dari korslet-korslet kecil nanti jadi salah paham yang kemudian akan meledak jadi konflik. Sebagai pasangan yang sudah diinformasikan mengenai self-love language partnernya, kita juga kudu menghargai hak dia untuk mencintai dirinya sendiri juga. Jangan dibates-batesin, dilarang-larang. Toh juga kebahagiaan yang dia rasakan dengan dirinya sendiri akan berdampak positif terhadap kebahagiaan hubungan juga.
Kebahagiaan anak juga akan lebih improved—buat yang udah punya momongan—karena harmonisasi antara kedua orang tuanya lebih terjaga. Ga ada salah paham. Level stres lebih terkelola dengan baik. Orang tua yang bahagia dengan dirinya sendiri, bahagia dengan hubungan bersama pasangan, dan bahagia secara umum akan membuat keadaan rumah jauh lebih ceria dan si anak bisa tumbuh dan berkembang dengan lebih sempurna.
Apa ini berarti self-love languages cuma cocok diterapin untuk mereka-mereka yang udah berpasangan dan memiliki anak? Apa single ladies and gents out there ga bisa mempraktikkan ini? Oh, sudah pasti status seseorang ga relevan di masalah ini. Siapapun bisa mempraktikkan bahasa cinta pada diri sendiri terlepas dari status percintaannya. Justru mungkin mereka-mereka yang single malah butuh mempraktikkan ini lebih banyak. Bahkan, pola ini ga cuma aplikatif di masalah percintaan loh. Dalam hubungan pertemanan, pekerjaan, dan relasi dengan orang tua pun penting supaya bisa meminimalisasi konflik, meningkatkan rasa percaya (pada diri sendiri dan satu sama lain), dan membuat hubungan lebih intim dan hangat.
Nah, Teman DRYD, semoga kita bisa belajar banyak tentang bagaimana mencintai dan menerima diri sendiri yaaa. Mencintai orang lain dengan sepenuh hati itu dimulai dengan mencintai diri sendiri dulu. Ini mungkin kalimat yang Teman-teman udah sering denger, sampe eneg juga mungkin. Tapi ini juga kalimat yang sekaligus sangat powerful dan mujarab untuk mengubah cara pandang kita, baik terhadap dunia umumnya dan terhadap diri sendiri khususnya.
Yuk, sharing pengalaman kalian dalam mempraktikkan self-love di kolom komentar. Ato kalo mau nanya-nanya juga boleh. Ditunggu yaaa.

Pingback: Insight Timer: Aplikasi untuk yang Sedang Berusaha Merapikan Kembali Hidupnya | Yusri Dinuth