Free Trial Classes untuk Anak? Tabukah?

Hai Teman DRYD,

Kapan itu kita kan udah ngomongin gaya parenting 3 negara maju di Eropa kan ya. Dari pembahasan tempo hari itu, kesimpulannya bisa diambil kalo di ketiga model pola asuh di ketiga negara itu sama-sama menekankan free will, kemandirian, dan peningkatan kemampuan emosional anak-anak. Anak-anak di Denmark, Perancis, dan Jerman udah dikenalin sejak dini ke konsep-konsep menghargai diri sendiri, kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri dan menghadapi konsekuensi, kemauan untuk berdiri di kaki sendiri dan mencari solusi untuk sebuah masalah, dan menghargai orang lain serta norma-norma kesopanan. Hal-hal seperti ini juga bisa nih, ternyata, diobservasi dari cara orang-orang tua di negara maju dalam membiarkan anak-anak mereka memilih pendidikan yang mereka inginkan. Pastinya dong, peran orang tua masih tetap ada. Tapi itu lebih kepada pemberian pengarahan. Jadi para orang tua mengambil posisi sebagai sumber saran dan masukan aja. Selebihnya si anak dibiarkan menikmati sebesar mungkin kesempatan untuk mencoba segala macam opportunities yang ada dan tersedia.

Ini sedikit kontras dengan apa yang ada di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Pola pengasuhan di negara kita masih bercorak involved 100%. Si anak bukan lagi diarahkan atau diberi masukan. Mereka jadi disetir dan di-micromanage. Anak jadi ga punya ruang untuk memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan. Ga salah siiih, membantu memilihkan sesuatu untuk anak. Toh juga namanya anak-anak kan masih milih berdasar kesukaan, excitement, dan fun. Sementara di lain pihak kita orang tua mikirnya udah jauh perkara masa depan. Tapi kalo pola manajemen hidup anak kita dasarkan pada agenda pribadi, gimana dong? Kan jadinya kita ngegedein anak buat jadi versi kecil-nya diri kita sendiri. Si anak juga kan individu merdeka yang kemauannya mungkin berbeda jauh dari orang tuanya. Kalo kita maksain agenda-agenda tertentu, jangan heran nanti kalo ternyata hidup yang dia jalanin adalah sebuah penyiksaan ketimbang petualangan. Jangan heran nanti kalo kuliahnya lamaaa banget ato bahkan ga selesai. Jangan heran kalo nanti dia serba kesel sama kita dan hubungan kita jadi ga harmonis dengan dia.

Orang tua membantu anak menentukan pilihan hidup itu kewajiban. Sayangnya, banyak yang gagal membedakan “membantu” dan “mengendalikan”. Kita mau punya anak, berarti kita juga harus mau menerima kenyataan bahwa kita sedang membesarkan seorang manusia yang datang lengkap dengan free will, interes, pola pikir, dan hasratnya sendiri. Kita ga lagi ngegedein versi mini dari kita, bukan kloning kita. Tugas kita cuma memastikan si anak bertumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang aman, nyaman, kondusif, dan positif. Selebihnya kita cuma perlu memfasilitasi supaya si anak bisa sadar dan menemukan apa yang ia kehendaki dan kemudian realisasikan.

Cara Pandang Umum

Dengan konsep seperti yang dijabarkan di atas, yuk kita coba lirik kecenderungan orang tua kebanyakan yang sering banget nolak daftarin anaknya ke program free trial class. Kelas-kelas model begini biasanya disediakan untuk anak-anak usia TK atau playgroup dan bisa berjalan dalam 3 kali pertemuan atau bahkan 3 minggu.

Kelas – percobaan – gratis. Dari kata-kata penyusun istilah itu aja kita udah bisa nebak apa yang ngedorong orang tua ogah daftarin anaknya.

Di pikiran kita, yang namanya kelas itu adalah ruangan tempat proses belajar mengajar antara murid dan guru berlangsung kan ya. Nah, bayangannya adalah sebuah sekolah formal yang didukung oleh kurikulum formal dan valid.

Di pikiran kita, yang namanya percobaan itu temporer. Setelah masa uji kelar, udah deh ga lanjut. Signifikansi program percobaan jadinya gimana? Kan gitu mikirnya.

Di pikiran kita yang gratis-gratis itu pasti kualitas rendah karena otak kita udah kadung keprogram buat mikir kalo kualitas tinggi itu berbanding lurus dengan harga. Kalo bisa, semakin mahal berarti semakin baik.

Tanpa disadari, ketiga pola pikir ini bikin kita ngerasa ogah buat nyoba kelas-kelas gratis dari bimbel-bimbel yang ada. Dan kalo dipikir-pikir masuk akal juga sebenernya. Siapa juga yang mau anaknya duduk dalam program kelas tambahan yang temporer dan diberikan secara cuma-cuma, kan? Tapi ngebiarin opini semacam ini berlarut-larut juga berarti kita membiarkan kesempatan buat anak bisa ngembangin potensinya lebih dini terbang gitu aja. Kenapa? Yuk kita bahas manfaat kelas percobaan itu apa aja. Kelas percobaan itu intinya mempersiapkan anak untuk periode pendidikan yang lebih serius lagi di masa depan. Kurikulum yang diberikan di kelas percobaan ga jauh beda dari sekolah formal; jadi, ini yang perlu diluruskan: Kelas percobaan itu bukan tempat penitipan anak atau sesuatu yang buang-buang waktu.

Manfaat di Segala Sisi

Tapi Dok, kan katanya di Eropa sana anak-anak ga harus nyoba belajar formal terlalu dini.”

Emang. Kan kelas percobaan itu sifatnya pengondisian dan fungsinya buat nyari tau bakat dan minat sejak dini. Kurikulum mungkin sama dengan sekolah formal, tapi aplikasinya bisa aja dikemas dengan cara berbeda, kan? Lagian kan ini modelnya suplemental gitu, jadi anak ga kaget dengan pola akademis sebetulnya nanti. Paling engga, dengan mendaftarkan anak ke kelas percobaan, kita bisa tau kemampuan interaksi sosial dasarnya kek gimana. Karena, coba deh, bayangin, hal terberat buat anak-anak ketika pertama kali masuk sekolah itu pasti membangun relasi dengan teman-teman sekelas dan guru. Dia harus keluar dari zona nyaman di rumah, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan di saat yang sama harus menyerap materi ajar di papan tulis. Dengan kelas percobaan, paling tidak si anak udah dilatih buat berada di antara orang-orang yang bukan komponen keluarganya.

Dan karena kurikulum yang diterapin ga jauh beda dari sekolah formal, kita tau kalo kualitasnya juga ga main-main sekalipun programnya cuma-cuma. Program kelas percobaan ini dikasi gratis juga kan karena menguntungkan si bimbel, guys. Mereka toh butuh anak didik supaya bisnis bisa jalan toh? Nah, harapannya itu program kelas percobaan gratis ini tuh, bisa jadi media promosi dan pengenalan jasa pada calon-calon klien. Ditambah lagi nih ya, program percobaan kaya gini nih, bisa banget ngebantu bimbel buat mengevaluasi kemampuan anak mengikuti kurikulum yang tersedia jadi nantinya penempatan level belajarnya bisa efisien dan efektif. Kalo kita asal daftarin anak ke bimbel langsung masuk ke level intermediate, misalnya, sementara si anak bahkan belum memiliki penguasaan materi dasar, ya kan jadi masalah lagi nantinya.

Dari sisi anak juga lebih besar manfaatnya.

Pertama, bimbel bisa memperkenalkan kurikulum pada orang tua dan anak dan kita bisa mempelajari apakah program terkait memang benar sesuai dengan kemampuan si anak dan minatnya. Kita bisa liat nih, misalnya, “Oh, anak saya agak lemah di bidang matematika tapi ternyata bimbel ini fokusnya ke pengasahan kemampuan berhitung.” Nah, kita bisa ambil strategi yang mungkin relevan. Entah mungkin bisa meneruskan program dan mendaftarkan anak secara resmi ke bimbelnya. Atau mungkin berpikir biar nanti sekolah formal yang meng-handle sisi kelemahan si anak jadi sekarang cabut dulu dari bimbelnya dan cari program lain yang mendukung minat anak.

Kedua, seperti yang udah sempet disinggung tadi, mendaftar ke program kelas percobaan tuh, bisa membantu anak beradaptasi dengan lingkungan sosial-akademis dengan lebih natural. Anak bisa terbiasa menghabiskan beberapa jam ga bareng orang tuanya di rumah aja jadi nanti pas beneran masuk sekolah, dianya ga kaget dan harus beradaptasi dengan berbagai macam perubahan di saat yang sama. Ga semua anak loh, punya kemampuan adaptasi yang fleksibel. Ada yang mungkin karena ga sanggung mengimbangi perubahan yang datang secara sekaligus malah terganggu proses belajarnya.

Ketiga, anak bisa belajar tentang kedisiplinan lebih awal. Mungkin program kelas percobaan ga sama persis dengan sekolah. Tapi pasti ada serentetan aturan yang kemudian diimplementasikan kepada para peserta belajar. Karena udah dibekali dengan pengalaman berurusan dengan jadwal dan urutan kegiatan, anak bisa lebih udah mengikuti aturan sekolah yang pastinya lebih strict dan di rumah pun bisa mempraktikkan apa yang sudah dia dapatkan.

Dari sisi orang tua juga ada hal yang bisa didapatkan. Karena sifatnya gratis, orang tua bisa leluasa memutuskan untuk tidak menggunakan jasa satu bimbel tanpa ada konsekuensi finansial apapun. Tentunya ini semua setelah melakukan observasi terhadap respons si buah hati terhadap program yang ada ya. Selanjutnya, orang tua juga bisa memberikan masukan kepada pihak penyelenggara setelah masa percobaannya selesai. Kritik dan poin-poin evaluasi bisa dilancarkan agar program kelas percobaan yang disediakan pihak bimbel bisa mengoreksi diri.

Yang Perlu Dipersiapkan

Kita sebagai orang tua ga boleh gede gengsi cuma karena fasilitas yang dikasi itu gratis. Kalo ada di antara Teman DRYD yang punya pola pikir “mahal pasti bagus”, coba deh ilangin. Jaman sekarang udah ga relevan punya pola pikir kayak gitu. Nyobain kelas gratis ga bikin prestige turun, sumpah. Lah, buktinya program kelas percobaan gratis justru banyak diadakan oleh bimbel-bimbel ternama. Sekarang, kalo bimbel terkenal dan punya nama aja mau ngasi gratisan, siapa kita nolak-nolak, kan?

Taaapiii, jangan mentang-mentang gratis, semuuua kelas percobaan dicobain. Bukannya ga boleh sih, tapi, pertama, kasian anaknya. Masa dari pagi sampe sore ngabisin waktu di luar rumah? Kan si buah hati juga perlu ada di sekitar kita selama masa pertumbuhan. Kita aja yang orang dewasa bisa bosen dengan rutinitas, apa lagi anak-anak. Terus, si anak jadi ga punya fokus. Pagi-siang, les membaca. Siang-sore, les berhitung. Sore-agak malaman, les musik. Padet banget gitu, mainnya kapan? Lebih kacau lagi kalo si anak udah masuk sekolah. Sebagian besar harinya diabisin di sekolah. Sisanya di les-lesan. Selain ga efisien dan terlalu menyedot energi, kita ga bisa liat ini anak potensinya di bidang apa. Si anak pun keteteran meng-handle semuanya tanpa sempat mengasah satu keahlian yang dia emang punya ketertarikan.

Nah, kalo udah dapet satu program yang dinilai cocok sama anak, apa nih yang kudu dilakuin?

Pertama, pelajari dengan mendetail kurikulum yang tersedia, sarana dan prasarana, dan aturan yang ada di satu lembaga itu. Lingkungannya harus aman, harus nyaman, harus bersahabat dengan anak-anak. Staf-staf dan pengajar harus orang yang paham berkomunikasi dengan anak-anak. Kurikulumnya harus sejalan dengan target minat dan fokus anak. Pokoknya semuanya harus serba kondusif demi anak.

Kedua, kita kudu proaktif tanya ini-itu ke semua elemen di bimbel itu, gurukah, stafnya-kah. Semuanya. Bodo amat dikira ceriwis dan nyinyir. Gratis ato engga, kita sebagai orang tua punya hak sepenuhnya buat tau seluk-beluk tentang bimbel penyelenggara. Dan kalo pihak penyelenggaranya fair dan paham aturan main, pastinya ga keberatan ngasi jawaban untuk semua pertanyaan kita.

Ketiga, balik lagi ke fokus si anak. Pertimbangkan tiga hal dari anak: potensi, minat, dan kemampuan. Setelah itu, bandingkan dengan rancangan kurikulum bimbel, apakah sudah tepat dan mampu menyokong ketiga poin itu?

Keempat, pahami kategori program belajar yang akan diambil. Ada lembaga pendidikan yang menyediakan program-program belajar akademis, ada juga yang bidangnya berat ke segi seni. Bisa nih, kita pertimbangin buat daftarin anak ke kumon kalo emang potensinya gede di bidang akademis. Kalo si anak nunjukin minat besar ke dunia seni, kelas mewarnai atau menggambar atau mungkin balet bisa dijadikan alternatif. Anak-anak belajar robotika juga ga tabu loh. Malah bisa mengasah rasa ingin tahu si anak bahkan, bagus buat tumbuh-kembang intelijensinya nanti.

Minimalisasi Intervensi

Jadi gitu. Kita sebagai orang tua harus banget ngebiarin anak memilih sendiri bidang minat dan fokusnya. Kita ga perlu intervensi, toh juga kelas-kelas percobaannya masih gratis. Ga ada konsekuensi apapun kok, kecuali mungkin kita kudu ngorbanin sedikit waktu buat ngajak anak keluar dari rumah. Gapapa, kan manfaatnya juga dobel-dobel. Jangan intervensi apa-apa ya. Anak maunya apa, kita turutin dulu soal ini. Oh, mau belajar ngitung cepet? Yuk! Oh, mau belajar nari muter-muter pake rok tutu? Yuk! Oh, mau belajar bikin robot? Yuk! Anak-anak biasanya fokusnya ilang secepet minatnya berubah kok. Biarin aja dulu dia sadar dan menemukan apa yang menjadi passion-nya. Intinya mah, yang penting dia bisa kenal dunia pendidikan dari awal, belajar disiplin lebih dini, bisa paham arti kemandirian sejak kecil, dan mengenal konsep free will secara fundamental.

Leave a comment