Hai Teman DRYD,
Ketika mendengar istilah “inner child”, apakah yang muncul dalam pikiran Teman-teman semua? Diliat dari terjemahan literalnya, inner child itu adalah sisi anak-anak yang ada dalam diri semua individu. Tapi ini definis yang terlalu amat sangat luas sekali. Dan bisa jadi banyak yang bakal menolak keberadaan konsep inner child ini kalo cuma bersandar pada arti harafiahnya saja.

Kebanyakan dari kita pasti udah ngerasa dewasa begitu melewati fase-fase hidup tertentu: lulus sekolah, jadi sarjana, bekerja, menikah, memiliki keturunan, daaan sebagainya. Nah, setiap fase tersebut punya parameter atau tuntutan kedewasaan masing-masing jadi kita akan mudah menganggap bahwa seseorang yang sudah menikah, misalnya, adalah pribadi yang sangat mature dan memiliki pola pemikiran yang dewasa serta cara pandang yang lebih matang. Itu adalah frame sosiokultural yang ada di kalangan masyarakat. Pada praktiknya, kenyataan bisa berbeda 180 derajat dari yang dijadikan anggapan. Seseorang yang sudah menikah atau sudah bekerja dengan mapan masih mungkin memiliki pola pikir dan tindak-tanduk yang tidak sesuai baik dengan usia kematangan fisik maupun usia kemajuan mental. Kok bisa? Inner child-lah penyebabnya.
Jadi apa sih, inner child itu sebenernya? Konsep ini adalah salah satu dari banyak banget konsep yang keliatannya sih simpel tapi nyatanya punya banyak makna dan penerapan, jadinya agak sedikit ribet kalo mau dijabarkan dengan tidak menghilangkan detail-detail kecil. Inner child itu, kalo dalam kajian psikologi pop dan psikologi analitis, adalah aspek kanak-kanak dari kepribadian kita, terutama segala macam hal yang dialami pada periode prapubertas. Inner child juga merupakan sebuah kepribadian dari diri yang sifatnya semi-independen dari kepribadian utama kita. Jadi mungkin boleh dibilang kalo inner child itu adalah “tandem”-nya kesadaran diri kita, keberadaannya bisa disadari bisa tidak tapi koneksinya dengan kepribadian diri itu masih tetap ada.
Kita boleh berdalih, “Ah, enggak kok. Saya udah cukup dewasa untuk bisa lepas dari sisi kekanak-kanakan saya. Kan udah gede, udah … (isi titik-titik dengan usia yang relevan) taun, ya ga mungkin dong masih kayak anak-anak.”
Nah, ini. Banyak banget orang yang ga nyadarin kalo kedewasaan dan usia itu korelasinya ga selalu berbanding lurus. Selalu aja usia yang lebih dulu jadi konteks kedewasaan. Kalo di antara Teman-teman DRYD ada yang, amit-amit nih, ya, masih punya konsep kayak gitu, berpikir bahwa umur dan kedewasaan itu sepaket, coba deh dipikir ulang. Orang yang umurnya 45 tahun masih ada loh, yang gaaampang banget tersinggung karena hal paling sepele. Ato ada yang umurnya udah 55 tahun tapi masih bisa ngerasa insecure, punya trust issues parah, dan suka banget baperan. Bukan. Saya ga lagi ngejudge ya, jadi jangan dulu emosi hahahah! Gini. Asumsi mendasarnya adalah seiring dengan pertambahan usia, pola pikir, kepribadian, dan kestabilan emosi seharusnya bisa lebih matang dan stabil. Jadi kenapa ada beberapa individu yang ga kayak gitu? Pertama ya itu tadi, kedewasaan dan usia itu ga sepaket belinya. Ga buy one get one. Kedua, balik lagi ke awal, ada yang perlu dilihat kembali dari segi inner child-nya.
Keadaan Suspended Animation
Kalo kita pake kacamata psikologi untuk menelaah inner child lebih dalam, aspek kanak-kanak dari diri seseorang itu adalah sisi kepribadian yang terbentuk akibat trauma di masa lalu, ketika seseorang itu masih, well, anak-anak. Periode kanak-kanak itu fragile ya, rapuh banget. Kita sebagai orang tua ga bakal bisa memprediksi mana dari tindakan kita terhadap anak yang bakal membekas daaalam banget mana yang bisa langsung sembuh tanpa jejak sama sekali. Beberapa jenis trauma bisa melukai diri anak sangat dalam dan ga sembuh-sembuh. Ini yang bahaya; luka yang ga sembuh itu dibawa sampe si anak gede dan berperan besar dalam membentuk kepribadiannya kelak.
Ketika si aspek kanak-kanak ini terluka berat dan ga bisa sembuh, sisi ini akan masuk dalam mode suspended animation dan sebelum ada intervensi, dia ga bakal berubah apalagi sembuh. Apa itu suspended animation? Coba bayangkan pemain akrobat yang sedang melompat dari satu tali ke tali lain. Sebelum si pemain akrobat berhasil menggapai tali yang dia tuju, bekukan dia di udara. Ngambang kan? balik ke tali sebelumnya ga bisa, maju ke tali selanjutnya juga ga mungkin. Itu yang namanya suspended animation. Semua serba ada dalam kondisi terhambat dan diam. Stagnan.
Figur anak kecil dalam diri semua manusia itu bisa berbentuk positif bisa negatif. Yang positif sih udah jelas, ya. Kenangan dan pengalaman yang menyenangkan di masa lalu bisa membentuk manusia dewasa yang relatif bahagia, tenang, nyaman dengan dirinya sendiri, lepas dan bebas, dan penuh semangat. Karena itu, kita kayanya ga perlu fokus pada inner child yang positif. Yang jadi masalah adalah individu-individu yang inner child-nya penuh dengan trauma. Inner child yang membawa trauma yang ga sembuh akan bermanifestasi ketika usia bertambah dan memasuki fase adult dalam bentuk dominasi perasaan atau emosi seperti kecemasan, kebencian, ketakutan, dan kemarahan.

Dan kalo udah ngomongin trauma masa kecil, duh…. Mungkin perlu satu buku khusus buat ngebahas apa aja yang berpotensi jadi sumber trauma buat anak kecil. Tapi semuanya selalu hal-hal yang buat kita, sebagai orang tua, keliatan kecil banget, keliatan ga mungkin banget bisa bikin si anak trauma. Siapa yang ngira kalo marain anak yang ga mau makan bakal bikin dia jadi orang yang takutan, membangkang, dan suka ngedumel di belakang pas gede nanti? Siapa yang bisa prediksi bahwa anaknya ga bakal jadi individu pemarah penuh dendam kesumat hanya karena kita sebagai orang tua selalu menyetir opininya tanpa mau ngasi dia sedetik pun kesempatan untuk berpendapat? Ga ada kan? Itu karena kita ga tau (atau mungkin ga mau tau) kalo batu pun bakal pecah kalo terus-terusan kena tetesan air. Kita cuma mikir si anak masih kecil, dia ga tau mana yang baik mana yang salah, dia belum bisa berpikiran objektif, dia belum bisa menimbang-nimbang konsekuensi sebuah tindakan. Ato pas masih pada kecil-kecil salah satu anak selalu jadi pilihan pertama sementara yang lain mungkin masuk itungan aja enggak. Gede-nya nanti si anak yang ga diperhitungkan bisa punya krisis kepercayaan diri dan bahkan bisa membenci saudaranya yang lain. Ato anak yang kecilnya selalu kesepian karena orang tuanya berpikir bahwa pekerjaan yang menuntut jarak dan waktu harus dilaksanakan demi si anak juga. Niatnya bener, tapi efeknya nanti si anak tumbuh jadi individu yang ga paham cara berkomunikasi dengan orang lain dan emosinya ga terkendali.
See? Itu masih segelintir contoh loh. Banyak banget hal lain yang dari sisi orang tua mungkin logis dan relevan bahkan mungkin wajib tapi bagi perkembangan psikologis si anak justru buruk. Iya, sebagai orang tua kita emang cuma bisa melakukan yang terbaik tapi ada untungnya juga kita mempertimbangkan risiko-risiko dan konsekuensi yang berpotensi buruk di masa depan. Ribet? Complicated? Siapa bilang jadi orang tua itu gampang?
Tapi dari semuanya, contoh trauma paling gampang bikin inner child meradang sampe gede itu adalah kekerasan fisik dan psikis, baik yang diterima langsung oleh si anak maupun yang diobservasi oleh si anak.
Emang anak-anak bisa observasi, Dok?
Weh, jangan salah. Anak-anak itu mungkin daya nalar-nya masih berkembang tapi kan indra-indranya udah cukup matang buat menerima informasi. Kemampuan observasi anak-anak itu masih sangat mentah dan apa adanya makanya sangat-sangat berbahaya membiarkan informasi masuk dengan bebas ke dalam diri si anak tanpa kita membantu memfilternya. Dia ga bakal ngerti alasan di balik kenapa bapaknya selingkuh dan bikin ibunya nangis tiap malam. Dia cuma taunya si bapak jahat ke si ibu dan membenci si bapak. Buruknya lagi, konsep perselingkuhan yang dia terima tanpa hambatan ini bakal jadi momok di kemudian hari yang akhirnya bikin dia parno membangun relasi dengan orang lain dengan alasan takut diselingkuhi kayak ibunya dulu. Sepele kan? Kita sebagai orang tua yang juga manusia pasti mikirnya, “Saya sedang mengalami krisis dalam rumah tangga, jadi fokusnya adalah menyembuhkan diri dulu dari luka pribadi ini.” Mana sempat kita memikirkan perasaan dan kondisi psikis anak kalo di saat yang sama juga kudu handle kenyataan bahwa pasangan punya kekasih lain kan?
Tapi ya nyatanya efeknya juga kena ke anak. Makanya, jangan pernah meremehkan daya observasi anak-anak. Ada yang bilang insting anak-anak itu masih raw, murni, jadi mereka bisa jadi lebih sensitif untuk hal-hal tertentu. Dia bisa susah banget disuruh makan ato belajar. Tapi mungkin bisa paham tanpa perlu omongan kalo orang tuanya lagi bermasalah.
Analogi Pohon
Mari membayangkan sebuah pohon. Apakah semua bagian pohon yang terlihat itu muncul gitu aja tanpa ada yang menyokong? Kalo tanahnya subur, penuh nutrisi, dan kelembapannya terjaga, pohon yang tumbuh juga bagus kualitasnya. Kalo semua faktor eksternal di sekitar tunas pohon udah ga seimbang dari awal, si pohon bakal ga maksimal pertumbuhannya. Emang sih, tetap ada kemungkinan buat membesar dan terlihat seperti pohon kebanyakan. Gimanapun juga makhluk hidup di bumi dibekali daya adaptasi terhadap lingkungan yang luar biasa. Tapi risiko juga lebih besar. Si pohon emang bisa tumbuh besar dan keliatan sehat. Tapi mungkin dia ga bisa berbuah. Daunnya jarang-jarang dan kecil-kecil. Selalu dihinggapi penyakit. Semua itu dampak dari adaptasi akar terhadap lingkungan yang ga bersahabat.
Analogi ini cocok untuk diterapin ke konsep inner child. Kenapa? Karena semua hal yang ada di masa kini itu akarnya ada di masa lalu. Kepribadian kita sekarang adalah salah satunya. Bahkan, dalam metode terapi inner child, kita bakal dibawa pertama-tama untuk melihat kembali ke belakang, balik ke masa kecil.
Ibarat pohon, segala daun, batang, cabang, ranting, bunga, buah, semuanya yang bisa dilihat adalah masa sekarang. Tapi semua yang kita nikmati itu (daun yang hijau segar, batang yang kokoh, cabang yang megah, ranting yang meliuk-liuk rumit, bunga yang cantik rupawan, buah yang manis sedap) cuma bisa dihasilkan lewat peran besar satu hal yang selalu luput dari perhatian: Akar. Akar itu terkubur dalam tanah, persis seperti inner child kita hilang dari pandangan tertutupi masa lalu. Tapi andilnya luar biasa besar. Orang-orang yang inner child-nya trauma ga sembuh-sembuh bisa dipastikan punya permasalahan. Semua permasalahan ini bisa dirunut ke belakang, jauuuh ke masa si orang ini masih kecil. Saya mungkin agak bias di sini. Mereka-mereka yang punya kehidupan bahagia saat ini pun sebetulnya mungkin punya trauma masa kecil. Itu ada 2 kemungkinannya: 1) dia sudah berdamai dengan masa lalu atau 2) ada mekanisme pertahanan mental yang mengubur trauma tertentu saaangat dalam. Kalo yang pertama yang terjadi, well, good for them. Kalo yang kedua yang terjadi, nah, ini yang rumit.
Seiring pertambahan usia, memori memudar. Trauma berubah menjadi flashback, bukan lagi sebuah rekaman detail. Alam bawah sadar kita bakal membungkus trauma itu, masukin dalem kotak, trus simpen di gudang, yang terus ketumpuk-tumpuk memori lain. Ini mekanisme natural. Ada alternatif ilustrasi lain. Si trauma yang begitu besar udah ga bisa diselamatin terus berubah jadi dinding tebal. Nah, perkembangan mental kita bisa diibaratkan sebagai jaringan akar yang secara naluriah menghindari si dinding. Jadi pertumbuhannya bisa memutar mengitari si dinding, bisa naik ke atas si dinding, bisa ngegali tanah di bawah si dinding. Apapun dilakukan karena sejatinya kondisi psikis manusia itu memiliki progres. Perkembangan harus tetap terjadi apapun yang terjadi, mau ada trauma atau enggak. Jadi apa boleh buat kan? karena progres harus tetap diakomodasi, mau ga mau si trauma tadi harus difasilitasi karena ga bisa disembuhkan secara alami.
Kalo kita ngebiarin alam bawah sadar kita yang meng-handle trauma masa lalu, yang terjadi adalah kita berkembang menjadi pribadi yang tidak sehat. Hasilnya? Kita jadi orang yang punya trust issues, ga mampu membangun keintiman dalam bentuk apapun dengan orang lain (kalaupun bisa, sifat hubungan itu bakal sangat berketergantungan), dan berpotensi menjadi orang yang kompulsif dan adiktif. Kita pun bisa sering merasa rendah diri, ga bisa dikritik, gampang banget kesinggung, amarahnya mudah terpicu, penuh rasa cemas dan khawatir berlebihan, punya rasa insecure tinggi, dan mungkin selalu takut disakiti orang lain.
“Destructive behavior takes various forms: from subtle self-sabotage and self-defeating patterns to passive hostility to severe self-destructive symptoms, violent aggression and, sometimes, evil deeds.” – Stephen A. Diamond Ph.D.
Kutipan di atas jika disederhanakan berarti bahwa inner child yang terluka bisa berujung pada berbagai macam bentuk tingkah-laku destruktif. Ini juga berarti bahwa gangguan pada inner child menyebabkan pematangan mental yang tersendat dan akhirnya orang yang umurnya udah gede tapi pola pikirnya masih persis seperti anak-anak dan terlihat tidak berdaya dalam mengendalikan situasi di sekitarnya. Kondisi “anak-anak yang terjebak dalam tubuh orang dewasa ini” sama sekali ga cute loh, ya. Yang ada malah bikin si orang jadi nyebelin, selalu self-defense, penuh excuses, dan ya itu tadi, seolah tidak berdaya, helpless, hopeless, ngerasa dirinya sendirian di dunia yang kejam. Intinya, si orang tadi tumbuh jadi a self-deprecating, self-depreciating, self-loathing, self-condemning asshole yang aduuuh, bikin gemes deh. And not in a good way loh, ya. Iya, masalahnya pelik. Iya konfliknya gede. Iya kepalanya keburu penuh jadi ga bisa mikir rasional. Kita paham kok meskipun kita ga melalui kesulitan itu. Tapi kan kesel ya, kita udah bantu kasi perspektif berbeda, nyoba kasi solusi, nyoba ngasi pemahaman baru. Semuaaanya mental, kek ngomong sama selembar karet. Kayak… ngerti ga si lu, kita tuh care, kita ga mau lu kesulitan. Tapi cuma gegara si inner child-nya segitu terlukanya, dia kayak susaaah banget dengerin orang lain. Siapa yang ga kesel coba, kalo rasa sayang, rasa peduli, rasa toleransi, rasa sabar, rasa semua-muanya kita sama sekali ga ada efeknya sedikit pun?
“Kok ngomel sih, Dok? Hayooo, pengalaman pribadi ya?”
Aduh, saya jadi ngelantur kan…. Saya minta maap nih, ya, terpaksa menggunakan kata sekasar itu karena ya… ngeselin. Ga ditujukan ke any person sih, lebih ke kondisinya aja yang bikin sebel.
Penanganan: Metode-metode Konkrit
Masalah sepelik ini emang bikin kita ngerasa putus asa, kayak ga mungkiiin aja ada solusinya. Solusi itu ada. Cuma, kitanya mau ngga, sabar buat nyeleseinnya? Berurusan dengan anak-anak beneran aja udah ribet, loh, apalagi ngurusin anak-anak yang ada dalam diri kita sendiri. Konsepnya abstrak, pola pendekatannya pun pastinya lebih delicate. Tapi semuanya mengerucut pada satu hal yang, lagi-lagi, sederhana tapi luar biasa complicated: self-acceptance.
Jangan buru-buru bilang, “I’ve already accepted myself, kok!”
Pada kenyataannya, pengertian self acceptance itu ga sama dengan berpasrah diri. Ada bedanya juga dengan toxic positivity. Self-acceptance itu adalah legowo tanpa kepasrahan. Gimana tuh, Dok? Kita bisa mulai dengan mencoba ga defense. Akui bahwa inner child itu ada dan ada trauma pada dirinya. Terima kenyataan bahwa apa yang terjadi udah ga bisa diubah. Kita semua punya keinginan buat balik ke masa lalu dan membetulkan semua yang salah supaya masa kini dan masa depan menjadi lebih baik. Tapi kan ga mungkin. Itu cuma wishful thinking. Yang bisa dilakukan sekarang cuma menyadari bahwa kesalahan dan trauma di masa lalu itu ada dan berperan membentuk masa kini dan masa depan kita tapi kita punya kemampuan untuk membatasi pengaruhnya. Gimana cara memberikan batasan terhadap ‘hantu’ dari masa lalu itu? Dengan meningkatkan self awareness. Kesadaran terhadap diri sendiri itu penting untuk membantu memetakan permasalahan, menemukan titik-titik rawan konflik, dan kemudian menyusun strategi untuk menyerang balik. Tujuannya bukan apa-apa kok. Kita ga perlu membuktikan apapun ke orang lain apalagi pihak yang ga ada sangkut-pautnya dengan diri kita. Ini masalah ketenangan batin. Ini soal resolusi perdamaian dengan masa lalu yang terus-menerus memberikan pengaruh negatifnya ke kehidupan kita saat ini dan yang akan datang.

Ada metode yang lebih aplikatif sebagai cara meningkatkan kesadaran diri? Ada dooong. Kita bisa coba segala cara yang bisa efektif dalam menenangkan inner child kita. Misalnya dengan afirmasi diri. Sederhananya, self affirmation adalah cara-cara yang dilakukan untuk menimbulkan positivitas dalam diri kita. Yang paling mudah adalah dengan misalnya mengucapkan kata-kata positif dengan perulangan di depan cermin. Lama-kelamaan nanti konsep yang kita ucapkan itu akan tertanam dengan dalam dan bisa mengubah cara kita memandang sesuatu. Itu cuma salah satu contoh afirmasi percaya diri ya. Ada banyak metode lain. Misalnya bisa dengan mempelajari self-love language atau dengan menyempatkan diri untuk menikmati me-time. Cara kita mengafirmasi diri sendiri juga bisa diperluas hingga ke bagaimana kita berkomunikasi dengan orang lain. Misalnya dengan mengatakan bahwa kita terganggu dengan omongan temen tapi kita akan mencoba mengatasi rasa itu. Ingat ya, ga perlu defense kalo emang inner child kita merasa sesuatu itu salah. Yang perlu dilakukan cuma gimana caranya supaya semuanya ga meledak jadi luapan emosi atau malah konflik berkepanjangan. Jujur sama perasaan sendiri itu juga menyehatkan kok. Tapi ya ga usah pake emosi berlebihan. “Oh iya, omongannya si anu nyelekit banget. Tapi ya udah ah…,” adalah bentuk penyederhanaan paaaling sederhana buat konsep ini. Kita menyadari bahwa rasa tersinggung itu muncul bukan karena omongan itu sendiri melainkan karena inner child kita yang terusik dan kita dengan sadar memilih untuk ga menindaklanjuti rasa itu lebih lanjut. Diingat juga ya, ketika udah berurusan dengan inner child kita, orang lain ga salah sama sekali. Masalahnya ada di kita, inner child kita yang memproyeksikan masalah itu ke orang lain. Tapi ini juga ga otomatis berarti kita harus nyari pemakluman untuk kelakuan orang lain yang nyebelin juga ya. Kalo emang omongan temen itu sifatnya intrusif, komentar-komentar rasis atau melecehkan, misalnya? Wajar dong kita tersinggung dan merespon. Ga ada hubungan sama inner child itu mah. Tapi secara umum sebaiknya kita introspeksi dulu, telaah dulu semuanya. Pahami konteks dan kondisinya. Kalo emang temen-temen pada ceng-cengin pas kondisi lagi ngobrol bareng-bareng, hepi-hepi, suasana lagi hangat dan topik pembicaraan ringaaan seringan-ringannya, apa iya kita kudu ngambek berhari-hari cuma karena satu omongan yang bahkan bukan sebuah ejekan? Apalagi kalo emang kita udah paham banget sifatnya si temen yang nyablak. Kan nanti kitanya yang dinilai baperan. Mau? Coba deh, pas ada omongan atau ejekan ringan yang kebetulan ngena banget ke kita, jangan biarin inner child kita yang take over. Ngambek sehari dua hari ya udah sih ya, suka-suka yang penting manage dulu suasana hatinya. Tapi kalo sampe memutus relasi kan ya terlalu ekstrim to?
Ada lagi ga sih, yang bisa kita lakuin biar lebih hands-on, gitu ngehandle masalah inner child ini?
Pertama, coba meditasi. Meditasi itu ga perlu yang sampe duduk di taman sepi di depan kolam lotus sambil ngeluarin bunyi “Hmmmmm”, gitu. Yaaa, kalo emang bisa gitu sih, ya gapapa juga. Tapi meditasi itu banyak modelnya tapi semuanya tujuannya cuma satu: memfasilitasi diri untuk bisa in-touch sama apa yang ada di dalem diri kita. It’s a private session between you and you alone. Mau duduk, boleh. Mau sambil jalan kaki di tempat yang teduh, monggo. Yang penting, sediakan waktu setidaknya lima menit sehari untuk bisa menyendiri dan bicara dengan anak-anak di dalam diri kita. Tarik napas dalam lalu keluarkan sambil ngomong, “Umur saya lima tahun. Saya dilingkupi kasih sayang dan saya tersenyum penuh kebahagiaan.” Anak-anak di dalam diri kita yang terkubur jauh itu usianya lima tahun dan dia perlu dihibur, di-emong, disembuhkan, dirawat, dan diajak bicara. Ga ada orang lain yang bisa ngelakuin itu selain diri kita sendiri. Nah, nantinya, kalo kita udah terbiasa dengan kalimat tadi di atas, meditasinya bisa di-upgrade dengan mengubah kalimat menjadi, “Umur saya lima tahun. Saya dikelilingi kasih sayang dan kedua orang tua saya tersenyum penuh perhatian pada saya.”
Kedua, jangan mengabaikan apa yang inner child sampaikan pada kita. Disadari ato engga, anak-anak di dalam diri yang sedang terluka sering berusaha menyampaikan perasaannya pada kita. Cara si inner child berbicara pada kita inilah yang memiliki kaitan erat dengan trauma di masa lalu. Apa yang harus dilakukan? Dengarkan, dengarkan, dan dengarkan dengan saksama. Diri kita yang sekarang sudah lebih dewasa daripada si anak kecil di dalam sana. Katakan padanya, “Diriku yang muda belia, yang belum tahu apa-apa, aku siap mendengarkanmu. Apa saja. Keluhan, rasa sakit, gangguan, apa saja. Ceritakan penderitaanmu. Beritahu aku apa yang membuatmu menderita.” Peluk si anak kecil, erat. Biarkan dia tahu bahwa dirinya aman dan kehangatan yang bersumber dari pelukan itu selalu bisa dia dapatkan. Jika memang perlu, menangislah bersamanya. Bangunlah hubungan yang mesra dengan dirinya sebab dia adalah kita juga sebetulnya. Memahami penyebab rasa sedih dan penderitaan, mengkomunikasikannya dengan si inner child, dan bersama-sama merasakan semuanya akan membantu mempercepat penyembuhan trauma yang tak kasat mata.
Ketiga, jangan tinggalkan si anak di masa lalu. Jangan bersikap seolah-olah apa yang terjadi di masa lalu, trauma yang dialami ketika kecil bukanlah bagian dari masa kini yang sedang kita jalani dan masa depan yang akan tiba. Ga ada orang yang suka merasa left out, dikucilkan dan ditinggalkan. Si anak dalam diri kita pun begitu. Jadi jangan membuat batas antara diri kita saat ini yang sudah besar dan diri kita yang masih kecil yang masih butuh perhatian. Lagi-lagi, siapa yang bisa memenuhi kebutuhan si anak kecil itu selain kita sendiri? Mengharapkan orang lain tentu bukan jalan keluar; orang lain pun mungkin butuh waktu untuk menyembuhkan inner child-nya sendiri. Ajak si anak kecil berbincang. Ga perlu soal yang rumit-rumit. Ga perlu memaksanya ke dalam situasi dewasa. Toh namanya juga anak kecil; maka perlakukan dia selayaknya anak kecil.
Keempat, visualisasikan. Maksudnya di sini adalah memposisikan si anak kecil di dalam diri kita itu sebagai lawan bicara yang ada di depan kita. Saya paham, ini mungkin akan terkesan sedikit… ga masuk akal. Tapi efeknya luar biasa melegakan. Ambil dua buah bantal. Letakkan satu di bawah kepala kita dan yang satunya di sebelahnya persis. Berbaringlah menghadap ke bantal di sebelah dan bayangkan diri kita versi umur lima tahun sedang ada di sana, berbaring menghadap kita. Ucapkan hal-hal positif yang menenangkan seperti misalnya memberikan pengertian kepada si anak kecil bahwa hidup itu menyenangkan dan indah untuk dijalani. Selanjutnya, kita bisa pindah ke bantal kosong itu, berbaring menghadap bantal yang sebelumnya kita pakai dan bicaralah selayaknya anak kecil umur lima tahun. Bayangkan di sebelah kita ada diri kita versi dewasa dan gunakan bahasa anak-anak untuk memberikan gambaran beban yang sedang kita pikul sebagai anak-anak. Katakan padanya bahwa kita sedang merasa tidak berdaya, takut, terancam, bingung, sedih. Setelah selesai berkeluh-kesah, balik lagi ke bantal pertama, kembali berperan sebagai diri versi dewasa. Yakinkan diri versi anak bahwa semua curhatannya sudah kita dengarkan dan cerna dengan baik lalu tekankan bahwa kita bisa menuntaskan persoalan bersama-sama. Ho-oh, ini cara yang rada ribet dan berisiko membuat situasi menjadi kikuk apalagi kalo ketahuan orang lain. Pertama kali mencoba terapi ini mungkin bakal berasa kayak… maaf, orang setres. Makanya, usahakan metode ini dilakukan dalal kondisi yang menjamin privasi dan coba jalankan selama 10 menit dalam 5 hari. Kalo emang dirasa ga ada perubahan signifikan, ya mungkin memang terapi ini tidak atau belum cocok untuk dijalani.
Kelima, kalo bisa, coba deh, tulis surat untuk si anak. Kita bisa punya banyak rencana. Kita bisa punya banyak cara untuk mengafirmasi perubahan. Tapi kadang semuanya hanya ada di dalam kepala dan itu bikin semuanya mengawang-awang bebas di alam pemikiran. Menuliskan semuanya dalam format surat yang ditujukan langsung untuk si anak akan membuat semuanya terasa lebih konkrit dan mungkin bisa membantu diri sendiri dalam merumuskan langkah-langkah nyata untuk mengobati diri.
Keenam, ketika ada kesempatan untuk bersenang-senang, jangan berpikir bahwa kesenangan dan kebahagiaan itu adalah hak eksklusif diri versi besar. Libatkan diri versi kecil kita dalam segala hal. Jangan buat inner child kita merasa bahwa kita hanya mau berkomunikasi saat semua terasa menyedihkan dan lalu kita pergi saat bersenang-senang. Bayangkan duduk di pantai menikmati sunset bersama si anak. Bayangkan berwisata kuliner dengan si anak kecil ada di sebelah kita. Bayangkan rasa takut si anak saat menonton film horor di bioskop dan kita memeluknya.
Ketujuh, jika bisa, carilah teman yang pernah punya masalah yang sama dengan inner child-nya dan berhasil berdamai. Dukungan dari mereka-mereka yang mengerti tentang latar belakang persoalan spesifik seperti ini akan sangat menguatkan dan membantu mempercepat penyembuhan trauma pada si anak kecil di dalam diri kita sendiri.
Semua metode di atas sifatnya fleksibel. Artinya, mungkin dengan salah satu aja dan dalam waktu singkat, penyembuhan sudah bisa diraih. Semua tergantung separah apa trauma yang ada, sih. Makin dalam lukanya, makin rumit penanganannya, bahkan mungkin butuh cara selain yang sudah dicontohkan biar bisa sembuh. Yang menjadi pokok adalah self healing itu adalah sebuah proses. Ga ada yang namanya sekali meditasi kurang dari 5 menit, traumanya ilang. Efek trauma bisa instan, penyembuhannya butuh waktu. Bahkan ketika dirasa sudah sembuh pun, konsistensi dalam berkomunikasi dengan inner child harus banget dijaga biar tetap harmonis semuanya.
Mendewasakan Diri dengan Menyembuhkan Inner Child

Pertemuan kita kali ini rada lama ya, Teman DRYD. Saya mah gitu, dikasi kesempatan dikit aja langsung deh, nyerocos. Moga ga bosen, ye….
Omongan boleh panjang kali lebar. Penjabaran bisa bertele-tele dan ga to the point. Tapi inti omongan saya sih, kita sebaiknya berinisiatif memutus mata rantai lingkaran setan yang bermula dari inner child yang menderita. Kalo inner child kita trauma akibat pola asuh yang salah dari orang tua, gimana caranya supaya semuanya berhenti sampai di kita aja. Lingkungan kita ga perlu ikut kena imbasnya. Jangan mengulangi pola. Jangan membiarkan luka masa lalu infeksi dan menjalar ke masa sekarang apalagi masa depan. Jangan membuat anak kita merasakan hal yang sama dengan kita; ingat, anak kita yang berumur lima tahun akan membeku kondisi psikisnya, lengkap dengan luka-luka dan rasa sedih, sekalipun tubuhnya membesar dan usianya bertambah.
Sembuhkan inner child kita sendiri because who else? Siapa lagi kalau bukan kita yang bisa nyembuhin luka di masa lalu? Maafkan dan terima kesalahan di masa lalu. Lepaskan yang ga bisa diapa-apain lagi. Sembuhkan si anak di dalam diri kita dan kemerdekaan akan menjadi sesuatu yang niscaya. Karena orang dewasa yang sudah benar-benar matang fisik dan mentalnya adalah mereka-mereka yang ga larut dalam trauma masa lalu dan memori buruk masa kecil.
Pingback: Berdamai dengan Diri Sendiri: Inner Child, Self-Acceptance, dan Self-Healing — Yusri Dinuth | Mon site officiel / My official website