Memahami Faktor Krusial Komunikasi Efektif dalam Keluarga

Hai Teman DRYD,

Setuju ga kalo saya bilang komunikasi itu salah satu hal dalam hidup yang mudah dimengerti tapi sulit untuk dipraktikkan? Ga setuju? Coba, berapa banyak konflik rumah tangga yang seharusnya bisa diselesaikan bahkan sebelum kemunculannya kalau saja kedua belah pihak bisa membangun komunikasi yang baik? At least salah satu aja dari kedua belah pihak mau memulai membuka jalur komunikasi, api prahara sebetulnya bisa diredam sebelum membesar jadi kebakaran. Banyak yang bisa jadi penyebab komunikasi stagnan. Tapi yang paling kentara, yang paling umum, dan yang paling-paling-paling nyebelin adalah ego. Kalo ego udah bicara, selogis apapun satu manusia, pasti berubah jadi individu paling susah untuk berbicara dan diajak bicara. Rumah tangga itu kan, persatuan 2 kepala ya. Nah, 2 kepala ini punya 2 manusia yang tentu saja berbeda karakter. Teman DRYD bisa aja berkilah, “Engga ah Dok, ga beda. Saya nikah kan karena banyak kesamaan sama pasangan.” Hooh, iya. Tentu saja demikian. Tapi sadar ga, mau sesama kayak apapun sama pasangan pasti ada perbedaan fundamental yang ada di antara kalian? Oh, dua-duanya seneng musik. Udah ngebahas genre musik favorit belum? Penyuka musik klasik akan punya persepsi tertentu terhadap musik pop cheeky dan easylistening yang disukai pasangannya. Oh, dua-duanya hobi nonton, udah kroscek genre kesukaan masing-masing? Penggemar berat film komedi pasti ogah nonton film horor kesukaan pasangannya. Kalo mau pun, pasti dengan sangat berat hati; nonton cuma gegara ga enak ati mau nolak.

Nah, itu dia yang saya maksud dengan perbedaan fundamental. Perbedaan fundamental inilah yang seringkali jadi sumber konflik dalam rumah tangga. Ada tipe orang yang mau pasangannya mengerti karakter dasar dirinya. Ada yang mau kompromi dan ada juga yang menekan sangat keras karakter dan kepribadiannya sendiri demi menghindari menyulut drama. Semua ini, Teman-teman saya sekalian, hanya bisa terakomodasi dengan efisien jika komunikasi efektif dalam keluarga tercipta. Dengan mengkomunikasikan karakter pribadi pada pasangan, hilang sudah kemungkinan munculnya rasa kesal karena pasangan ga ngerti maunya kita apa, potensi depresi karena kudu jadi pihak yang selalu ngalah, atau meminimalisasi keterbatasan kemampuan manajemen konflik.

Seringnya nih, kita punya kecenderungan buat menghindar dari konflik. Enggak, saya ga bilang kita kudu cari masalah terus-terusan. Cape juga kali kaya gitu. Tapi kadang konflik itu mau ga mau kudu pecah. Dan ini proses yang sebetulnya menguntungkan kalau difasilitasi dengan baik. Konflik itu bisa jadi bentuk komunikasi juga, jadi jangan ditekan supaya ga meledak tapi di-manage. Pahami cara menyalurkan ide dan pokok permasalahan dengan selugas mungkin, ga usah pake metafora apalagi pribahasa. Pelajari cara menuntaskan rasa marah pada pasangan dengan cara yang lebih baik; ga pake ngambek-ngambek penuh kode keras, ga pake jerit-jerit, ga pake ngeluarin seisi kebun binatang dari mulut, ga pake jambak-jambak, cakar-cakar, gigit-gigit, gegulingan, pencak silat, karate, kayang, daaan segala macam lainnya. Marah pada pasangan itu ga salah kok. Ya wajar dong…. Namanya juga 2 manusia berbeda yang disatukan dalam ikatan resmi. Isi kepalanya beda-beda. Perspektif yang dipake beda-beda. Pola menyusun solusi beda-beda. Cara memahami subjek atau topik beda-beda. Dan perbedaan itulah yang sering banget jadi penyulut pertengkaran.

Komunikasi Efektif Dimulai dari Orang Tua

Cara berkomunikasi dengan anak itu harus diperhatikan

Pemahaman mengenai komunikasi efektif dalam keluarga berdampak langsung ke cara mendidik dan mengasuh anak. Sekarang gini, gimana coba mau berkomunikasi dengan anak dengan cara yang baik kalo berkomunikasi dengan pasangan sendiri aja susah? Ngomong sama bini, intonasinya dingin. Ngomong sama laki, nadanya tinggi. Kebayang ga, jadi anak di dalam rumah yang penuh huru-hara kayak gimana rasanya? Gimana anaknya ga lebih betah di luar sana main sampe seminggu ga pulang-pulang. Diinget lagi coba deh, pola pengasuhan yang baik itu adalah ketika orang-orang dewasa di sekitar si anak mampu menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan menyehatkan sisi mental dan fisik bagi tumbuh-kembang. Iyaaa, bisa dipahami kalo kita berargumen, “Namanya juga manusia, Dok. Kan kadang suka luput.” Itulah pentingnya komunikasi yang baik antara kedua orang tua; cara menyampaikan isi kepala dan emosi sebaiknya dimutakhirkan supaya ketika nanti konflik muncul, dampaknya ke anak bisa diminimalkan kalo ga ditiadakan sama sekali.

Tipe Komunikasi

Tipe komunikasi

Nah, komunikasi itu secara umum ada 2 tipenya: verbal dan nonverbal. Dalam praktiknya, komunikasi verbal adalah jenis komunikasi yang paling dominan dalam pola hubungan apapun. Kenapa? Karena sebuah ide lebih mudah disampaikan dengan metode ini. Dengan cara komunikasi verbal, pihak yang dituju diharapkan bisa menangkap ide-ide atau topik-topik secara langsung dan mencerna situasi. Jenis komunikasi ini bisa dilakukan baik secara lisan maupun tulisan. Apapun yang kita baca dan apapun yang kita dengar adalah contoh nyata usaha komunikasi verbal yang dilakukan pihak lain.

Sementara itu, komunikasi non verbal meliputi hal-hal yang sifatnya interpretatif, subtil, dan implisit. Bentuk komunikasi ini sebetulnya sering secara ga sadar kita lakukan karena kecenderungannya yang lebih menuntut kepekaan emosional dan ketajaman intuisi. Ini juga yang sering bikin komunikasi tipe ini ga efektif. Satu pihak mungkin terlalu sering menggunakannya sementara pihak lain kurang mampu menerjemahkan sinyal yang ditangkap atau malah ga bisa menangkap sinyal itu sama sekali. Bentuk komunikasi seperti ini meliputi elemen seperti:

  1. Sentuhan fisik, contohnya seperti belaian tangan ibu di rambut atau punggung anaknya atau teguran dari ayah berupa tepukan di tangan anaknya.
  2. Kinesik

Kinesik adalah istilah yang merujuk pada gerakan tubuh dalam komunikasi yang biasanya memungkinkan kita untuk meniadakan frase lisan, menjelaskan suatu gambaran, dan mengekspresikan emosi. Bentuk kinesik bisa beragam tapi umumnya bisa berupa kontak mata, gestur tubuh, dan ekspresi pada wajah. Contoh paling gampang buat kinesik adalah gerakan menganggukkan kepala untuk memberikan ijin pada anak.

  1. Vokalik

Kalo kinesik berkisar di sekitar gerakan tubuh, vokalik berfokus pada unsur-unsur nonverbal yang menjadi pendukung dalam suatu ucapan. Sederhananya, vokalik adalah cara kita berbicara pada anak. Contohnya: kejernihan suara, kecepatan berbicara, intensitas suara, dan nada (nada suara dan nada bicara).

  1. Kronemik

Kronemik berfokus pada waktu berkomunikasi. Contohnya: durasi yang sesuai untuk sebuah proses komunikasi, porsi komunikasi yang pas dalam rentang waktu tertentu, dan ketepatan waktu berkomunikasi.

Nah, dari perbedaan kedua jenis komunikasi ini kita bisa menimbang keefektifan kita dalam berkomunikasi dengan anak. Tapiii, jangan dikira keduanya bisa dilakukan terpisah satu sama lain yaaa. Ini rada pelik sih. Misalnya gini; kita sebagai orang tua mungkin akan berpikir komunikasi verbal adalah yang paling efektif karena pokok pikiran kita langsung terungkap dan harapannya si anak bisa langsung memahami. Tapi kan si anak juga punya daya interpretasinya sendiri. Maka, ketika kita membolehkan si anak main keluar tapi dengan nada yang dingin (karena aslinya kita ga ngebolein), si anak akan kebingungan karena ada mixed signal yang dia terima. Jadi unsur nonverbal dari sebuah komunikasi verbal akan terus ada, sulit untuk dipisahkan satu sama lain.

Komunikasi yang efektif (baik antar pasangan dan dengan anak) akan terbentuk lebih efektif jika kedua elemen verbal dan nonverbal bisa sinkron. Keinginan, maksud, dan tujuan kita bisa dituruti dan dipahami oleh pasangan atau anak jika ucapan dan intonasi sejalan. Misalnya gini, kita lagi repot nih, ngerjain sesuatu, trus tetiba si bayi rewel. Reaksi pertama kita pastinya kan akan meminta pasangan buat handle si anak kan? Kan apa yang lagi dikerjain kan lagi ga bisa ditinggal ni. Nah, ini adalah momen krusial yang akan menentukan apakah kita bisa menyampaikan maksud sebenarnya ke pasangan. Seringnya kita bakal teriak nyuru pasangan buat handle si anak. Kadang kalo lagi dikejar deadline bisa sampe ngebentak. Ini ga bakal efektif. Si pasangan mungkin akan merespon dengan ngedumel. Ato bales teriak. Yang kemudian dibalas teriakan berikutnya dari pasangan. Yang terus disautin pake teriakan selanjutnya dari yang satunya. Ga ada ujungnya. Kerjaan ga kelar, anak nangis makin jadi. Beuh, betah tinggal dalem rumah kayak gitu?

Contoh lain nih. Kita lagi masak di dapur. Trus garem abis. Trus nyuru anak bantu beliin. Ngomongnya sih bener, “Deeek, garem abiiis. Bantuin mamah dong, beliin ke warung.” Tapi suaranya ga kedengeran yang bikin harus sautsautan. Ato pake intonasinya kasar. Ato sambil ngomel. Ato pake banting-banting barang. Kompor ditonjok. Tabung gas ditendang. Tempenya dibejekbejek. Kaki disentak-sentak. Rambutnya ditarik-tarik. Matanya melotot. Kukunya keluar. Taringnya berkilat. Ngeluarin api dari mulut. Ya kan ga bakal direspon baik sama anak itu mah. Udala anaknya emang mageran, disuruh dengan cara kayak gitu, ya pastinya bakal kuat-kuatan satu sama lain. Masak kaga kelar. Perut laper. Emosi liat tingkah anak. Akhirnya apa? Matiin kompor, pake sendal, jalan ke warung ngedumel, marah-marah ke ibu warung yang ga tau apa-apa, pulang lanjut masak yang akhirnya asin seasin-asinnya dunia, trus ngadu ke suami, eh si suami balik marahin kita, tambah kesel, suami disuruh tidur di halaman. Panjang…. Cuma karena kita ga tau kudu gimana ngomong ke anak.

Kadang-kadang, kita sebagai orang tua sukanya berkomunikasi lisan karena berpikir si anak harusnya mengerti isi omongan tapi komunikasi interpersonal dalam keluarga itu, terutama sama anak, ga bisa cuma ngandelin omongan. Contoh yang diberikan ke anak sebaiknya ga berhenti di pola verbal. Kita mau rumah selalu dalam keadaan rapi. Tapi anak pulang sekolah tasnya dilempar ke sofa, sepatunya dilepas di tengah ruangan, seragamnya dibiarin di lantai. Nah, kita kalo mau menanamkan konsep kerapian ke anak ga cukup cuma disuruh doang, apalagi pake marah-marah. Bakal mental, masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Coba kasi contoh yang lebih nyata. Ambil pakaiannya dari lantai sambil ngomong, “Dek, ini jangan dibiarin di sini ya. Naronya di gantungan kamar kayak gini.”

Komunikasi interpersonal

Ke pasangan juga gitu. Mungkin ada kebiasaannya yang ga cocok sama kita. Mungkin pasangan suka naro gelas minuman di meja kayu yang akhirnya bikin ada bercak air di permukaan. Solusinya kan gampang ya tinggal pake coaster, kan? Tapi pasangan mungkin mikirnya itu bukan hal yang terlalu gede buat dipermasalahkan. Benturan antara idealisme pribadi dengan pola pikir orang lain kaya gini yang sebetulnya bisa di-manage supaya konflik ga tercetus. Bilang ke pasangan, “Beb, enak ya nyore di meja ini. Aku juga seneng gitu. Tapi kalo aku seringnya gelasnya dikasi alas biar ga ngotorin kayunya.” Trus ambil satu coaster, taro di bawah gelas yang sedang dia pake. Simpel kan? Apa yang kita mau atau suka tetap terjaga, perasaan pasangan terjaga, keindahan meja kayu yang kita sayangi tetap terjaga. Cuma kadang emang yang paling racun itu egonya kita sendiri. Sering banget pasti mikir, “Gimana sih, gitu doang ga paham?!”

Yang namanya kebiasaan pasti susah hilang, Teman-Teman DRYD. Makanya, pasti nanti kebiasaan buruk yang kita ga suka dari pasangan akan muncul terus. Kitanya yang harus telaten. Kalo mau hasil instan yang emang, tinggal hardik, kelar. Tapi instan itu ga sebanding dengan risiko dan efek lanjutan. Sebuah hardikan bisa berujung peperangan. Kalo kita bisa dengan tekun memberi contoh dan sabar, lama-kelamaan bakal keliatan kok perubahannya. Dan kalo kedua orang tua udah punya pola yang jelas dan sinkron, si anak bisa belajar sendiri memahami aturan, nilai, dan norma yang ditetapkan tanpa harus diseret. Jadi jangan cuma ngomong doang. Ucapan dan suruhan verbal tetap harus diterapkan tapi sebaiknya disertai dengan tindakan. Action, people! Action speaks louder!

Waspadai Orang Ketiga

Yang saya maksud dengan “orang ketiga” bukan selingkuhan. Ada yang tinggal bareng mertua ato mertuanya benerbener involved dengan keluarga inti sampai hal paling kecil sekalipun? Nah, ini salah satu yang paling jadi momok di setiap keluarga: Ketika peranan mertua porsinya membesar ga terkendali. Kita ga lagi bahas jelek-jeleknya mertua ya. Bukan itu intinya. Tapi kita kudu memahami porsi dan posisi masing-masing. Mertua itu siapa sih? Dia cuma orang tua dari pasangan kita yang berarti porsinya sebaiknya sesuai dengan posisi yang dia tempati.

Yang sering terjadi adalah mertua ikut campur dalam urusan pengasuhan anak. Memberi andil pada tumbuh-kembang cucu itu wajib loh ya bagi semua elemen keluarga. Tapi seringkali seorang mertua melewati garis batas karena lebih tua dan lebih banyak pengalaman. Itu bener; karena hidup lebih dulu dan udah lebih lama, mertua pasti lebih banyak pengalamannya. Tapi jaman kan udah beda. Apa yang jadi pakem parenting ketika mertua dulu menjalankan perannya sebagai orang tua pasti juga udah berevolusi di jaman anaknya.

Kenapa perlu diwaspadai porsi dan posisi mertua? Karena intervensi dari pihak ketiga akan mengacaukan alur komunikasi interpersonal DAN intrapersonal dalam sebuah keluarga. Apa perbedaan interpersonal dan intrapersonal? Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang terbentuk antar individu sementara komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang dibentuk dalam diri seseorang itu sendiri. Sederhananya, komunikasi intrapersonal adalah bagaimana cara seseorang mengajak bicara dan mengenali dirinya sendiri. Apa contoh komunikasi interpersonal dalam keluarga? Udah banyak tadi contohnya di atas ya. Apa contoh komunikasi intrapersonal? Misalnya cara seseorang mengolah dan mencerna informasi apapun yang dia terima. Atau ketika berbicara dengan orang lain (komunikasi interpersonal), kita sering menelaah sifat-sifat orang itu dalam hati saja (komunikasi intrapersonal).

Komunikasi intrapersonal

Nah, kehadiran pihak ketiga yang porsinya melebihi elemen dasar rumah tangga inti akan menimbulkan distorsi pada pola yang sudah lebih dulu established. Misalnya si anak pulang sekolah selalu berantakan. Nah neneknya berinisiatif membereskan tanpa memberi instruksi apapun. Ketika orang tua si anak mencoba mengajari suatu konsep, si anak akan membenturkannya dengan apa yang dia serap dari interaksi dan komunikasinya dengan si nenek.

Ibu: “Deeek, bajunya jangan dibiarin di lantaaai!”

Anak: “Aaah, udah diberesin nenek koook.”

Familiar ga sama dialog kayak gitu?”

Mungkin dari semua Teman DRYD yang baca ini sekarang belum ada yang jadi mertua. Sebagian malah mungkin udah. Udah ato belum, kesadaran tentang porsi dan posisi itu mutlak diterapkan. Sebagai orang tua, kita wajib mengajari anak untuk paham bahwa komando komunikasi itu ada di kita. Bukan berarti harus otoriter dan membatasi atau bahkan melarang anak berkomunikasi dengan pihak lain ya. Tapi ini tentang bagaimana si anak paham bahwa ibu dan ayah adalah 2 komponen fundamental yang harus dia dengarkan meskipun dia punya opini berbeda. Sebagai mertua, kita juga harus jeli menyadari posisi kita. Jangan mencampuri urusan anak dalam mengasuh anaknya kecuali dimintai bantuan. Itupun, lagi-lagi, harus sesuai porsinya. Misal nih ya, ibunya lagi sibuk di dapur ato si cucu dititipin ke kita. Si cucu trus lari-lari megang gunting. Kan ngeri tuh ya. Nah, karena si ibunya lagi ga ada di sekitaranya, boleh deh kita take over urusan ngasi pemahaman mana yang sebaiknya dan tidak sebaiknya. Tapi kalo ibunya pas ada trus si anak koprol bolak-balik ruang tamu-dapur, ya biarin deh ibunya yang bertugas ngasi larangan dan pengertian. Yaaa, sambil ngelarang-larang dikit gapapaaa. Namanya juga khawatir kan. Tapi kalo urusan mendidik si anak ya udah sih, ada emaknya ini. Kalo emang kegangguuu banget sama cara si ibu ngerawat anaknya, ajak ngobrol empat mata. Ungkapkan concern kita dan biarkan si anak atau menantu mengajukan counterargument-nya. Sebagai anak atau menantu, filter konsep parenting dari yang lebih tua. Serap yang baik-baik, tinggalkan yang sekiranya ga cocok lagi diterapkan di masa kini.

Berkomunikasi dengan Efektif Agar Keluarga Lebih Harmonis

Mengusahakan agar komunikasi bisa berjalan lancar itu salah satu cara menjaga keharmonisan rumah tangga loh. Ingat, pasangan kita bukan cenayang yang tau apa yang kita pikirkan. Lucu juga kali ya, punya pasangan yang bisa baca pikiran. Tinggal mikir, eh dia langsung bilang, “Oke sayaaang, laksanakan,” gitu. Tapi kalo kebetulan kita dapet manusia biasa sebagai pasangan, ya kudu banget jaga pola komunikasi yang sehat. Yaaa, korslet dikit sana-sini gapapalah. Namanya juga rumah tangga; ngarepin muluus aja gitu ga pake kendala juga rada mustahil. Beberapa orang malah bilang kalo tahapan pra-konflik, konflik, dan pasca-konflik itu justru yang bikin kehidupan berumah tangga jadi lebih dinamis. Tapi jangan dicari-cari juga, kakaaak. Udah, idup tanpa drama udah paling nyaman dah.

Bermula dari komunikasi antarpasangan yang lancar, anak pun bisa terdidik dengan relatif lebih baik. Keinginan kita supaya si anak berkembang menjadi pribadi yang lugas, mandiri, ga manja, logis, dan mengenal dirinya sendiri bisa terwujud dengan lebih rasional.

Leave a comment