Halo Teman DRYD,
Disadari ato engga, suka ato engga, media sosial udah jadi bagian hidup sehari-hari kita. Bahkan, daya tarik berinternet sebagian besar ada di kenikmatan ber-media sosial. Berita-berita ato isu-isu terbaru bisa dengan gampang nyebar lewat medsos. Update tentang teman, mau teman dekat ato sekadar kenalan, bisa dikonsumsi dalam beberapa detik saat sebuah unggahan masuk ke linimasa. Internet memang memberikan kemajuan dalam hidup semenjak diciptakan. Tapi media sosial-lah yang merevolusi cara kita bergaul dan memandang suatu hal. Artis-artis yang udah punya nama punya media baru buat menjangkau fans. Orang biasa bisa melejit jadi tenar dalam semalam. Berbisnis jadi lebih mudah karena marketing bisa disederhanakan dan lebih affordable. Wah, kalo udah bahas efek kemunculan media sosial bisa-bisa satu artikel pun ga bakal cukup. Tapi ada satu hal unik yang dimungkinkan untuk terjadi karena media sosial yang datang dengan segala kemudahannya: Branding.
Sekelumit tentang Branding

Branding sebagai salah satu metode marketing.
Kata branding diturunkan dari kata dasar brand, yang merujuk pada simbol dan alat identifikasi suatu produk sehingga si produk bisa dibedakan dari produk-produk lain. Nah, branding adalah proses mengembangkan simbol atau identitas ini. Di dunia bisnis dan marketing, branding adalah salah satu bagian mendasar yang harus disempurnakan sebelum sebuah produk bisa mendatangkan keuntungan bagi si pihak yang menawarkan. Kaitannya dengan media sosial adalah media sosial mampu menyebarluaskan sebuah brand dengan sangat mudah karena sifatnya yang easily accessible. Proses menyebar sebuah brand inilah yang disebut branding, yaitu membuat sekelompok individu mengenali satu merek barang atau jasa. Setelah menyebar, akan ada kondisi brand awareness, yaitu ketika orang-orang sudah menyadari dan mengasosiasikan satu merek dengan produk atau jasa yang ditawarkan.
Makanya marketing melalui media sosial itu sekarang udah jadi pakemnya berbisnis. Bakal lucu kalo sebuah entitas bisnis, apalagi nama-nama besar dalam suatu industri, ga merambah dunia digital yang satu ini dan memilih tetap menggunakan cara-cara marketing yang konvensional. Buat bisnis-bisnis kecil social media branding akan menjadi satu senjata andalan mengingat ongkos yang minim (kalaupun ada) dan kesederhanaan metode operasional.
Tapi bukan itu fokus bahasan kita kali ini, Teman DRYD.
Branding Model Lain
Ada yang namanya self brand. Basis pengertiannya sama seperti yang udah dikulik di atas tadi. Tapi kalo tadi objeknya adalah barang atau jasa yang diniatkan untuk dipasarkan, ini lebih kepada diri pribadi. Emang kenapa gitu diri sendiri harus di-brand? Kalau kita pintar mengembangkan sebuah brand untuk diri kita sendiri, efek positifnya bakal berasa banget dari sisi profesionalisme. Ibaratnya gini; semua orang pasti mau dong, dinilai menguasai suatu bidang pekerjaan? Kita semua pasti maunya orang lain paham bahwa kualitas diri kita ada di atas rata-rata. Nah, dengan mengembangkan brand personal ini, kita bisa kayak ngomong ke orang lain, “Hei, gue jago banget di bidang ini,” tanpa perlu mengumbar klaim atau bawa resume ke mana-mana. Kalo si brand personal udah nyebar luas dan udah kebentuk satu awareness terhadap brand kita itu, kerjaan pasti dateng tanpa perlu dicari. Dengan kata lain, saat kita punya satu skill, si brand tadi itu yang bakal jadi “kartu nama” supaya orang lain bisa menghubungi kita. Itu dari satu sisi profesionalisme.

Personal branding dan perannya.
Kita belum bahas dampak pengembangan brand personal di aspek hidup yang lain. Di dalam hidup modern ini yang semuanya serba diukur dengan follower, mengembangkan personal branding bisa membantu membentuk kelompok massa yang akan rajin mengikuti update dalam hidup kita. Misal satu individu A punya kepribadian yang hangat dan senang memasak. Maka para calon followers yang punya interest di dalam area tersebut akan segera ter-grab perhatiannya. Ibaratnya, brand yang kita kembangkan akan menjadi hook yang bisa “menjerat” lebih banyak lagi pengikut di media sosial kita.
Membandingkan Self-Image dengan Personal Branding
Brand personal tidak sama dengan self image ya, Teman-teman. Untuk masalah brand pribadi, itu lebih cenderung ke sifat bawaan yang kemudian ditampilkan setelah di-enhance. Makanya dari tadi saya lebih suka menggunakan istilah “mengembangkan” daripada “membentuk” ketika merujuk pada brand personal. Kita contohkan brand personal dengan warna kulit. Kulit yang gelap udah hampir mustahil buat diubah. Yang bisa dilakukan cuma memilih treatment yang benar supaya si kulit tadi tetap sehat, segar, berkilau, dan bebas dari gangguan—dengan kata lain di-enhance. Brand personal juga sama. Seorang individu yang dari awalnya emang udah seneng sama dunia anak-anak, ga bakal bisa diubah interest itu. Yang bisa dilakukan cuma mengembangkan interest tadi menjadi fokus yang bisa dsajikan untuk pemirsa sekalian.
Image atau citra, di lain pihak, adalah kesan yang didapat oleh orang lain terhadap diri kita. Dan karena sifat citra itu adalah impresi eksternal (berasal dari luar seorang individu), maka akan sangat mudah dibentuk dan dimanipulasi. Oh, kita sebenernya ga suka yang namanya masak karena panas, berminyak, cape, de-el-el, de-es-be. Tapi kita tau basis penggemar masak itu gede banget di dunia medsos. Maka kita bisa merancang sebuah imej yang sesuai dengan target sekalipun itu bukan interest kita, apalagi fokus.

Tren self-branding masa kini
Membentuk citra yang bertolak belakang dengan realitas itu ga salah. Selama ga merugikan orang lain secara finansial atau membahayakan jiwa semua pihak, ga salah dong, tampil layaknya koki jebolan sekolah kuliner di Perancis padahal aslinya ngebalik telor mata sapi aja gagap? Enggak, itu ga salah. Tapi apa pantas?
Minta tolong disadari dong, ketika kita membentuk sebuah imej, apalagi kalo kita adalah seorang influencer, kita bisa dengan mudah menggiring opini publik. Apa yang bahaya dari potensi ini? Emang mau, pake krim pemutih yang bahkan nama mereknya aja ga bisa kita lafalkan cuma gegara diendorse YouTuber ternama?
Self-Image dan Personal Branding Bisa Sejalan
Dari obrolan di atas, mudah emang memberi label negatif terhadap proses pembentukan citra dan mengaitkannya dengan kebiasaan berbohong atau berpura-pura. Yang perlu diingat adalah citra diri yang mapan memang bisa didapatkan dari pengembangan brand personal. Tapi pembentukan citra melalui brand personal itu berarti kita sebaiknya ga pake bohong. Ketika kita sedang live di akun Instagram dan berbicara tentang satu topik atau me-review suatu barang yang sama sekali ga kita kuasai, kita udah membohongi orang lain. Boleeeh, boleh banget kok, mengulas satu produk. Ga dilarang kok, ngebahas satu topik hangat minggu ini. Tapi ketika berbicara, pastikan dulu kita punya bukti, data, referensi, dan kalo bisa pengalaman di dalam apa yang sedang dijadikan pembahasan. Tapi ketika kita dengan antusias me-review satu produk padahal kita bahkan ga punya pengetahuan paling dasar tentang produk itu, semua imej yang kita bentuk akan keliatan kosong melompong.
Ato ketika kita pengen keliatan punya kepribadian yang feminin padahal aslinya tomboi, misalnya; kan ada kesenjangan fundamental antara apa yang disajikan ke orang lain dan apa yang sebetulnya. Sebaiknya apa yang ada di kehidupan nyata sejalan dengan apa yang diperlihatkan secara online. Baru deh, citra bisa terbentuk secara alami dan brand personal bisa mengakar di pikiran orang-orang.
Tapi itu juga ga berarti kita kudu saklek sama satu hal ya.
Misalnya gini, si tomboi tadi misalnya. Kepribadiannya cuek, awur-awuran, suka ngasal, kalo ketawa masyaallah nyaringnya. Tapi di saat yang sama dia juga adalah individu yang senang dengan dunia merancang busana, misalnya. Ga masalah ditampilkan. Toh, itu benar. Toh, ga ada yang direka-reka. Dengan mengembangkan satu aspek sifat diri ini menjadi brand personal, siapa tau malah mendatangkan keuntungan. Untuk contoh tadi, siapa tau si cewek tomboi malah jadi desainer andalan dan banyak yang tertarik menggunakan jasanya? Who knows, kan? Tapi kalo udala tomboi, pake baju cenderung simpel, trus dikondisikan jadi individu dengan keahlian merancang busana, bisa jadi bumerang kan? Berbohong kepada orang lain itu sama dengan membohongi diri sendiri. Kenapa? Karena ketika kita menampilkan suatu kepura-puraan, di saat yang sama kita pun tahu bahwa itu semua dusta.

Jujurlah pada diri sendiri
Dampak Pencitraan
Citra yang dibentuk tanpa memperhatikan risiko dan efek akan mendatangkan potensi pergeseran value di tengah masyarakat. Ujung-ujungnya, bermedsos akan menjadi tidak sehat. Kemudahan dalam menampilkan citra diri lewat internet juga memberi jalan untuk mengubah gaya hidup pengguna media sosial. Tolok ukur kesuksesan standar, terutama di mata anak muda, akan sangat tidak masuk akal jadinya. Sukses itu relatif dan subjekti ya, sifatnya. Ada yang mengukur kesuksesan ketika lulus kuliah S3, punya anak 2, dan istri yang bahagia. Ada yang menilai kesuksesannya ketika dia udah punya kerajaan bisnis di kelima benua. Tapi ketika opini bisa dengan mudah digiring hanya dengan menatap layar handphone dan menonton sepotong kehidupan pesohor di Amrik sana, semua bisa terdekonstruksi.
Konsep kebahagiaan bisa-bisa mentok di apa yang dilihat di Instagram, misalnya, dan akhirnya semua akan berpikir bahwa sukses itu adalah ketika di garasi ada berderet mobil impor, punya rumah harganya triliunan, dan gadget yang dipakai harus yang paling baru. Mentereng semuanya. Ketika pada kenyataannya ga bisa dapetin itu semua, realitas tabrakan sama idealisasi, dan akhirnya depresi.
Ini yang sebaiknya kita ingat ketika mencoba mengembangkan brand personal kita: Bahwa pada akhirnya branding pada diri sendiri akan berujung pada pembentukan citra dan citra itu memiliki potensi yang besar dalam mempengaruhi hidup banyak orang lain.
Hal lain yang perlu diingat adalah bahwa medsos itu mesin raksasa yang ditenagai tren. Begitu tren habis, mesinnya mandek. Dan kalo medsosnya udah ga lagi mengakomodasi suatu tren, kelar deh kesempatan membanggakan sesuatu yang ga sesuai dengan realitas.
Berinternet dengan Sehat
Dari sisi konsumen internet, butuh kesadaran dan pembentukan pola pikir. Sadari bahwa apapun bisa terlihat indah dan menarik di internet dan media sosial. Tanpa kehati-hatian dalam menyaring input, berinternet tidak akan sehat dan bermedsos akan hanya menimbulkan keirian. Dampaknya ga bagus buat mental dan mungkin bisa berakibat fisik juga. Jadi apa yang harus dilakukan ketika mengkonsumsi unggahan orang lain di medsos?
- Pertanyakan kapasitas dan bukti
Contoh paling gampang buat poin ini adalah ketika menonton sebuah ulasan produk kecantikan. Pada banyak kasus, si pengulas biasanya cuma dibayar untuk cuap-cuap tentang satu produk. Kalo dihadapkan dengan yang satu ini, bedah dulu si pengulasnya. Siapa orang ini?. Ketika si pengulas produk mengklaim bahwa satu produk itu aman, tanyakan pada diri kita sendiri dulu, sudah seahli apa si pembicara sampai bisa mengeluarkan statement tertentu? Seorang beauty vlogger harusnya paham estetika tapi ga berarti dia punya kapasitas yang cukup buat merambah ranah medis.
Ketika seseorang menampilkan sebuah kegiatan secara online, kulik kembali ke belakang. Lacak rekam jejaknya di feed dan bandingkan kesesuaian latar belakangnya dengan apa yang ditampilkan.
Klaim-klaim dan statement yang dibuat secara online sebaiknya dikroscek dengan mencari referensi sendiri, jangan ditelan mentah-mentah. Cari sumber validnya. Baca referensi dari ahlinya. Bandingkan dengan apa yang kita terima.
- Pertanyakan masalah certification
Lagi-lagi, ini lebih kepada persoalan ulasan produk ya. Ketika ada selebram yang mempromosikan satu produk, kulik produk itu sampai ke akar-akarnya. Cari tahu tentang keamanan penggunaan, bahan-bahan yang digunakan, saaampai klaim dukungan dari pakar. Semua harus dalam keadaan serba dipertanyakan. Kalo ternyata si produk banyak kontroversi, jangan tutup mata dan telinga dari apa kata orang. Kalo semua orang bilang bahaya, masa kita tetap mau pake cuma karena loyal dengan seorang selebgram?
- Pertanyakan, “Relatable ga, sih?”
Ngeliat YouTuber pelesir ke Eropa bulan ini terus ke Afrika bulan besoknya terus ke Antartika taun depannya emang menghibur. Ngeliat YouTuber hangout sama artis-artis papan atas di tempat mahal setiap hari emang nyenengin. Tapi jangan buru-buru kepingin. Bandingin dulu sama kenyataan hidup sendiri. Gapapa dijadikan cita-cita. Mimpi itu bagus buat memacu kerja keras. Tapi jangan larut dan lupa sama kenyataan. Kalo ternyata gaya hidup yang dilihat ga bisa diterapkan di kehidupan hari-hari, move along….
- Pertanyakan soal kebutuhan
Kalo ada selebgram ngerekomenin furnitur bagus buat leyeh–leyeh sementara kita ga butuh, jangan buru-buru ke toko mebel. Sayang uangnya. Sayang waktunya. Sayang energinya. Iya kalo kita punya budget nganggur. Lah kalo duitnya cuma cukup beli beras sama isi dapur buat sebulan, masa iya mau di-pake beli furnitur? Kalo ternyata butuh pun, di-liat lagi deh, mendingan. Siapa tau ada barang yang serupa tapi dengan harga yang jaaauh di bawah yang direkomendasikan.
Catatan Tambahan
Topik bahasan ini sudah pernah saya jadikan tema obrolan di Instagram. Coba klik di sini ya, buat lengkapnya. Siapa tau bisa menambah informasi lebih jauh lagi. Salam.