Bumil dan Busui Skincare-an? Emang Ga Bahaya, Gitu?

Pasti pada paham dong ya, skin care itu penting. Yang lebih penting lagi adalah membentuk rutinitas perawatan kulit untuk hasil yang maksimal. Di banyak kasus, perawatan kulit yang secara rutin dilakukan dan dengan cara yang tepat bisa menjadi kunci untuk mendapatkan kulit yang glowing, segar, sehat, dan awet muda. Naaah, yang jadi pokok pembicaraan sekarang tuh, skincare untuk ibu hamil. Masa kehamilan adalah periode yang pastinya membahagiakan untuk semua perempuan. Tapiii, waktu hamil juga di saat yang sama bisa menjadi masa-masa yang penuh stres. Makan jadi kagok, takut ga dibolein. Kopi jadi dilema buat perempuan pencinta kafein. Aktivitas jadi kikuk, takut ada yang salah. Hal yang sama juga pasti dirasakan ibu-ibu hamil dan menyusui kalo udah soal skincare. Beberapa malah memutuskan untuk membiarkan kulitnya ga terawat selama kehamilan karena satu keraguan: Apakah nanti produk perawatan yang dipakai tidak akan berpengaruh pada janin yang dikandung? Hasilnya, kulit jadi kusam. Tau sendiri kan, masa kehamilan itu penuh dengan produksi hormon yang fluktuatif dan ini bikin kulit jadi salah satu yang terkena dampaknya.

Ibu hamil juga perlu perawatan kulit

Berdasarkan diskusi dengan dokter oktavianus wahyu spog., saya menyimpulkan bahwa selain dari hal-hal yang jelas berbahaya (alkohol dan rokok, misalnya) bagi kehamilan, ga ada kok, yang ga boleh untuk digunakan oleh bumil dan busui. Yang ada tuh, keharusan buat memperhatikan komposisi ingredients-nya. Memang ada beberapa bahan yang lazim ditemukan dalam produk-produk kecantikan dan perawatan kulit yang bisa berbahaya baik untuk ibu hamil maupun yang menyusui. Selagi bahan-baahan itu dihindari, sah-sah aja kok, melakukan perawatan. Skincare itu hak azazi semua anak bangsa loooh, termasuk bumil dan busui. Perempuan hamil dan ibu-ibu menyusui punya hak yang sama dengan yang lain untuk tetap terlihat cantik dan menawan dari masa kehamilan sampai periode menyusui saaampai nanti-nanti juga. Hidup kesetaraan hak untuk menjadi cantik! Perjuangkan hak-hak ibu-ibu untuk tetap terlihat awet muda!

Oke-oke, saya berhenti orasi….

Apa Aja Yang Berbahaya?

Naaah, muncul deh, pertanyaan berikutnya: “Kalo gitu apa sih, Dok, skincare yang aman untuk ibu hamil dan menyusui?”

Biarkan saya memulai dengan mengatakan bahwa jawaban untuk pertanyaan itu sedikit tricky. Sedikit rumit-rumit simpel.

Gimana sih, Dok?

Sabaaar…. Gini. Ketika hamil, kita kudu banget waspada dalam 2 hal: Terhadap bahan-bahan yang berbahaya untuk kita DAN untuk si bayi dalam kandungan. Ketika lepas melahirkan dan masuk periode menyusui, risiko untuk pribadi mungkin menurun tapi risiko untuk si bayi masih tetap tinggi karena potensi transfer komposisi kimia sangat besar melalui air susu yang diberikan. Di sini letak rumitnya. Kudu pake banget baca komposisi dalam suatu produk. Buat amannya sih, ya konsultasi ke dokter. Jangan deh, coba-coba ini-itu tanpa tau efek samping. Inget, kita bertanggung jawab untuk menjaga kesehatan si anak. Sisi simpelnya ya itu tadi, setelah tau apa-apa yang menjadi larangan dan masuk blacklist, hindari dan semua akan baik-baik saja.

Apa aja bahan-bahan skincare yang tidak boleh untuk ibu hamil?

  1. Retinol, retin-A, asam retinoat, dan tazaratene. Bahan-bahan turunan vitamin A ini emang ajaib banget dan ampuh buat bikin kulit halus. Tapiii, penggunaannya bisa mengganggu perkembangan janin dan yang paling bikin ngeri adalah potensinya untuk menyebabkan cacat dari lahir.
  2. Hydroquinone dan benzoyl peroxide. Keduanya adalah bahan aktif pemutih kulit. Kenapa harus dihindari? Uji coba pada hewan menunjukkan keduanya memiliku potensi karsinogenik yang tinggi.
  3. Asam salisilat dan produk-produk yang mengandung asam salisilat, termasuk aspirin.

Kesemuanya sebaiknya dihindari. Tapi dari 3 kelompok itu, retinol dan hydroquinone adalah yang paling wajib diwaspadai karena keduanya termasuk yang umum ditemukan dalam produk perawatan kulit. Aspirin masuk ke dalam kategori abu-abu; sebagian pakar tidak menganjurkan sama sekali, sebagian lain membolehkan tapi dalam dosis yang rendah terutama untuk pasien yang memang kondisinya memerlukan perawatan berbasis salisilat. Lagi-lagi, sebaiknya konsultasi dulu ke dokter kulit dan dokter Sp. OG buat mastiin semuanya aman. Anjuran dan instruksi dari pakar harus diikuti ya.

Hydroquinone

Hydroquinone

Sebagai salah satu bahan yang sering ditambahkan dalam produk perawatan kulit, hydroquinone bisa dibilang primadona yang sedang naik daun. Dan itu bukan tanpa alasan. Bahan ini diklaim ampuh mencerahkan kulit karena kemampuannya untuk menekan jumlah melanin dalam kulit. Makanya dia banyak ditemukan dalam produk-produk yang menargetkan kondisi hiperpigmentasi kulit seperti bekas jerawat, melasma, age spot, dan sun spot. Hydroquinone sudah digunakan sejak abad ke-19 tapi kontroversinya muncul relatif baru-baru ini. Tahun 2006, U.S. Food and Drug Administration mengadakan penelitian yang mengungkap sejumlah risiko kesehatan yang dibawa oleh bahan kimia turunan benzena ini. Secara umum hydroquinone berpotensi menyebabkan ochronosis, photosensitivity, reaksi alergi. Ochronosis adalah jenis kerusakan kulit yang justru menimbulkan noda gelap kebiruan atau abu-abu. Photosensitivity adalah kondisi kulit yang terlalu sensitif terhadap sinar UV. Kulit yang di-treatment menggunakan hydroquinone sebaiknya dilapisi dengan sunscreen supaya tidak terbakar matahari. Reaksi alergi sebetulnya efek yang masih langka dari penggunaan hydroquinone. Beberapa individu yang sangat sensitif bisa mengalami pembengkakan pada mulut, sensasi tersengat pada kulit, dan kesulitan bernapas.

Belum ada riset yang secara pasti menegaskan bahaya hydroquinone untuk ibu hamil dan menyusui. Uji coba klinis masih terbatas pada hewan tapi hasilnya seharusnya cukup untuk membuat ibu-ibu mikir dua kali buat make hydroquinone pas hamil. Sebagai tambahan, zat ini punya tingkat serapan yang terbilang tinggi ke dalam kulit, sekitar 35-45%. Emang sih, hydroquinone adalah bahan yang paling efektif buat mencerahkan wajah, tapi apa ga takut make produk yang segitu gampang diserap kulit pada saat hamil dan menyusui sementara efek sampingnya masih jadi sumber perdebatan?

Arbutin

Sebagai alternatif, ada bahan lain yang bisa digunakan untuk mencerahkan kulit. Kojic acid, misalnya. Asam ini dihasilnya dari proses fermentasi minuman sake dan bisa dijadikan pertimbangan. Ada juga arbutin yang diekstrak dari daun bearberry. Arbutin adalah hydroquinone alami, struktur kimianya mirip dengan yang sintetis. Ada lagi yang namanya azelaic acid yang diturunkan dari jamur Pityrosporum ovale, yang jauh lebih soft daripada hydroquinone. Niacinamide juga bisa masuk itungan. Antioksidan yang diekstrak dari tumbuh-tumbuhan ini lebih aman digunakan karena struktur kimianya lebih stabil.

Retinol dan Retinoid

Di saat hamil, ada dua hal yang menjadi concern terbesar: kulit kusam dan terlihat tua dan jerawat. Treatment anti-aging bisa diambil untuk kasus pertama sementara treatment jerawat bisa mengatasi yang kedua. Yang jadi masalah adalah produk-produk anti-aging sebagian besar mengadung retinol dan perawatan jerawat memakai retinoid supaya efektif. Dan keduanya membawa risiko besar untuk ibu hamil.

Retinol diturunkan dari vitamin A dan dikenal dengan nama yang berbeda-beda (Accutane, retinyl palmitate, atau Retin-A). Retinol dikenal ampuh mengatasi tanda-tanda penuaan dini pada kulit. Tapiii, efek samping retinol untuk ibu hamil juga berisiko besar, terutama jika dosisnya terlampau berlebihan. Potensi merusak zat ini muncul pada naiknya risiko kecacatan janin seperti kelainan otak, jantung, tulang belakang, kepala, dan wajah. Jumlah retinol yang diserap kulit sebenernya ga banyak. Tapi risiko yang terlalu besar bikin lebih baik sama sekali dihentikan penggunaannya seengganya sampai si bayi lahir. Selama kehamilan dan menyusui sebaiknya beralih ke sunscreen biasa aja supaya aman.

Retinoid mengandung komposisi yang terdiri dari tretinoin, tazarotene, isotretinoin, bexarotene, alitretinoin, adapalene, dan citretin. Retinoid umumnya dimanfaatkan sebagai bahan aktif penghilang jerawat dan psoriasis, dikonsumsi secara oral maupun topikal. Penggunaan topikal (dioles) terhitung aman untuk janin ketimbang oral (diminum) karena persentase zat yang diserap jauh lebih kecil sehingga potensi transfernya ke kandungan pun minim. Tapiii, menurut European Medicines Agency, retinoid punya efek samping berupa gangguan saraf baik pada ibu maupun janin. Jadiii, mending ga usah pake sama sekali deh supaya risiko bisa ditekan seminimal mungkin.

Azelaic acid

Nah, kalo untuk jerawat mungkin sifatnya lebih ke perawatan per kasus nih ya, asal dominan bahan alami dan ga ada retinoid, relatif aman. Atau boleh coba azelaic acid yang bisa melawan jerawat sekaligus hiperpigmentasi. Tapiii, apa dong Dok, alternatif retinol untuk ibu hamil? Kan tetep pingin keliatan muda walopun lagi hamil.

  1. Coba pake ekstrak kedelai. Kandungan di dalam ekstrak kedelai serupa dengan asam retinoat yang dalam retinol. Ekstrak kedelai bisa merangsang fibroblast, sel-sel kulit yang memproduksi kolagen, tanpa efek kering pada kulit seperti yang lazim ditemukan dalam penggunaan retinol. Kekurangannya cuma satu: Ekstrak kedelai punya efek mirip estrogen yang kadang malah memperburuk pigmentasi kulit terutama pada kulit gelap ato kondisi melasma (noda gelap yang sering muncul saat kehamilan). Tapi ada kok, produk ekstrak kedelai yang dikemas tanpa efek samping mirip estrogen ini.
  2. Vitamin C juga punya andil dalam pembentukan kolagen. Vitamin C punya komponen antioksidan yang melindungi sel kulit dari kerusakan penuaan dini dengan cara menekan radikal bebas yang sering muncul ketika kulit terpapar sinar matahari.
  3. Kojic acid memberikan hasil serupa dengan retinol tanpa efek samping yang sama. Penggunaan retinol utamanya menghasilkan kulit yang bebas dari garis-garis halus. Efek pencerah kulit dari retinol, di lain pihak, didapat dari kemampuannya untuk mempertebal lapisan dermis dan mengikis lapisan sel kulit mati di permukaan kulit. Kojic acid yang diturunkan dari jamur bekerja dengan cara yang lebih simpel: Zat ini menekan enzim pembentuk pigmen kulit.

    Kojic acid

  4. Glycolic acid bisa menghilangkan minyak berlebih dan mengikis sel kulit mati. Penggunaan asam ini menyebabkan luka-luka mikroskopik pada permukaan kulit yang merangsang pembentukan kolagen. Produk glycolic acid dari dokter kulit biasanya mengandung konsentrasi sebesar 40%. Tapi produk non-resep dengan konsentrasi rendah pun tetap punya efek yang menjanjikan. Tapiii, kesamaannya dengan retinol adalah keduanya sama-sama meningkatkan sensitivitas terhadap sinar UV. Gunakan sunscreen untuk perlindungan tambahan ya.

Glycolic acid

Konklusi

Kita udah panjang-lebar ngebahas skincare untuk ibu menyusui dan ibu hamil. Udah butek juga pasti kan, liat nama-nama zat kimia? Jadi, intinya apa? Pembahasan kali ini bukan dimaksudkan supaya bukibuk semua parno. Engga, sama sekali engga. Kehamilan itu, suka ga suka, adalah masa penuh tekanan, Buk. Kalo mau dibahas parno, wah semua hal bisa bikin takut. Megang ini, takut. Ngelakuin itu, ragu. Makan ini, minum itu, mikir panjang dan lama. Ini cuma sekadar ngingetin, ngerawat kulit itu harus dilakuin sekalipun lagi hamil ato menyusui. Punya janin yang lagi di kandungan, punya bayi yang lagi disusui, semuanya ga boleh jadi alasan buat skip perawatan. Jangan skincare yang dihindari karena mikir zat kimianya pasti berbahaya. Sekarang gini, okelah takut treatment, okelah niatnya meminimalisasi zat kimia ke dalam janin. Tapi siapa yang bisa jamin risiko ga bakal dateng dari sumber lain? Air yang diminum bisa jadi sumber masalah. Makanan yang masuk bisa jadi perkara. Udara yang dihirup bisa bikin prahara.

Ngeri kan? Iya, emang ngeri—kalo kita cuma fokus ke risiko. Identifikasi kondisi dan risiko. Telaah dulu benerbener. Baru deh, ambil tindakan. Selama kita tau kandungan skincare untuk ibu hamil dan ibu menyusui yang aman, perawatan kulit ga bisa dilewatin gitu aja. Kalo emang ga berani treatment sendiri di rumah, ke dokter dulu. Tanya ini-itu. Perluas dulu pengetahuan, jangan buru-buru parno. Dokter biasanya paham kondisi ibu hamil dan menyusui dan harusnya tau mana yang berbahaya, mana yang masih meragukan, dan mana yang aman. Perhatian lebih sebaiknya juga diberikan untuk memilah bahan skincare berdasar tingkat bahaya karena nanti efeknya bakal kerasa lewat pemberian ASI.

Emang ke klinik pas kondisi hamil atau menyusui ga dilarang, Dok? Nah lo…. Ga ada yang larang. Bumil dan busui gapapa ke klinik buat treatment kulit. Jangan salah, treatment kulit khusus buat bumil dan busui itu adaaa. Apa aja treatment dan di mana treatment-nya bisa dilakuin? Nah, bagian ini bisa dijawab dengan nanya ke admin klinik DRYD. Di sana ada justru udah disiapin tipe treatment yang emang khusus diperuntukkan buat bumil dan busui. Semua prosedur juga ada di bawah monitor dan kontrol dokter SPOG jadi keamanannya bisa dimaksimalkan.

Jadi gitu. Ibu hamil juga punya hak buat cantik. Ibu menyusui juga berhak terlihat awet muda. Ibu-ibu ga boleh kalah sama yang belum ada di fase itu. Semua berhak untuk cantik! Semua berhak untuk glowing! Hidup glowing! Ayo perjuangkan kesetaraan hak untuk glowing!

Iya-iya, saya berhenti orasi….

Leave a comment