Teman DRYD, kali ini saya mau ngajakin Teman-teman semua melanglang buana ke benua Eropa. Taaapi, bukan buat tamasyaaa hehehehe. Kali ini saya mau ngebahas tentang pola asuh yang banyak diterapkan di tiga negara Eropa yaitu Denmark, Perancis, dan Jerman.
“Kenapa gitu, Dok? Emang pola parenting negara sendiri jelek ya, sampe harus jauh-jauh ngelirik negara lain?”
Bukaaan. Ini bukan masalah mana yang jelek mana yang bagus. Ini juga bukan soal mana yang terbaik. Pola asuh itu berbeda berdasarkan negara, kultur, dan kebiasaan. Budaya Indonesia pastinya beda dong sama budaya Amerika atau Eropa bahkan bisa beda jauh dengan sesama negara Asia. Pertimbangannya sederhana sih, Eropa kan terhitung wilayah yang lebih maju daripada area berkembang lain, jadinya ga salah dong kalo kita pelajari apa aja yang membuatnya berbeda dari negara sendiri?
“Trus kenapa harus ketiga negara itu, Dok? Kan banyak negara lain di Eropa sana.”
Denmark saya pilih karena negara itu secara konstan ada dalam daftar negara paling bahagia menurut World Happiness Record yang diselenggarakan oleh PBB. Prestasi ini udah diraih Denmark selama 40 tahun—berturut-turut. Pasti dong, ada yang membuat pencapaian ini menjadi istimewa dan menarik untuk ditelaah. Perancis unik untuk dibahas karena pola parenting ibu-ibu negara sana mendidik anak tumbuh menjadi individu yang santun. Sementara Jerman dikenal dengan pola asuh yang menekankan kemandirian. Nah, bahagia, santun, dan mandiri; orang tua mana yang ga mau anaknya punya kualitas seperti itu?
Mengintip Pola Asuh di Denmark

Pola asuh di Denmark bisa disederhanakan dengan satu kata: PARENT, yang merupakan akronim dari Play, Authenticity, Reframing, Empathy, No ultimatums, dan Togetherness and Hygge. Dengan menerapkan konsep ini, anak-anak Denmark tumbuh dan berkembang menjadi pribadi dengan masa kecil yang membahagiakan.
- P = PLAY (Bermain)
Anak-anak di Denmark dibebaskan bermain oleh orangtua mereka. Mereka pun dibolehkan untuk memulai jenjang pendidikan ketika berusia 7 tahun. Reasoning-nya apa? Dengan memberi keleluasaan semacam ini, anak-anak Denmark punya kesempatan yang cukup untuk menikmati periode bermain mereka sebelum akhirnya dihadapkan pada kewajiban bersekolah. Apa pentingnya membiarkan anak-anak bermain dengan bebas? Banyak hal yang mereka bisa pelajari hanya dari hal sesederhana permainan; mereka paham mengenai ketangguhan, cara bergaul dan bersosialisasi yang benar, dan belajar self–control sejak dini.
- A = AUTHENTICITY (Otentisitas)
Poin berharga lain yang diwariskan orangtua Denmark kepada anak-anak mereka adalah kejujuran kepada diri sendiri dan identifikasi emosi yang dirasakan. Pola didik yang dilaksanakan lebih dititikberatkan pada mengenali dan mengekspresikan emosi ketimbang kesempurnaan.
- R = REFRAMING (Memaknai ulang)
Secara sederhana, reframing adalah proses penelaahan terhadap suatu hal dari perspektif yang berbeda. Yang dilakukan oleh orangtua Denmark adalah mengajarkan anaknya untuk dapat menarik kesimpulan positif dari apa yang mereka hadapi tapi tetap dalam koridor yang realistis. Penerapan metode ini diharapkan bisa mendidik anak menjadi individu yang tidak gampang berpikiran negatif terhadap suatu kondisi ataupun orang lain.
- E = EMPATHY (Empati)
Empati pada dasarnya adalah kemampuan seseorang untuk dapat ikut merasakan apa yang orang lain rasakan. Inilah yang ditanamkan oleh orangtua kepada anak di Denmark. Sistem pendidikan di negara itu pun dirancang dengan prinsip ini sebagai landasannya.
- N = No ultimatums (Tanpa peringatan)
Pola asuh orangtua Denmark ditandai dengan sikap lembut, menghargai, dan tanpa ancaman. Akibatnya, ada kedekatan antara anak dan orangtua dalam hubungan yang harmonis tanpa rasa takut.
- T = TOGETHERNESS & HYGEE (Kebersamaan & kenyamanan)
Keluarga Denmark menekankan poin penting tentang kebersamaan. Berkumpul dengan keluarga merupakan hal yang tidak boleh dilewatkan sesibuk apapun hari yang dilalui. Hari libur pun dihabiskan dengan berkumpul bersama anggota keluarga. Dari rasa kebersamaan yang dipupuk, muncullah rasa nyaman yang bisa dinikmati oleh semua orang.
Belajar Tata Krama dan Adab Sopan Santun a la Perancis

Di Perancis, metode parenting yang diterapkan berfokus pada pembentukan kepribadian yang penuh sopan santun dan jauh dari kata manja. Strategi yang dijalankan meliputi:
- Didikan untuk menghargai waktu orang tua
Di Perancis, anaklah yang diatur sedemikian rupa sehingga jadwal pribadi si orang tua tidak terganggu. Anak akan diajari untuk sudah berada di dalam ruang tidur jam 7 malam. Si anak boleh langsung tidur atau memilih untuk melakukan aktivitas lain, selama aktivitas itu tidak mengganggu orang tua. Apa tujuan dari penerapan metode ini? Anak diharapkan bisa tumbuh dengan pemahaman bahwa dia bukanlah pusat dunia, bahkan dunia orang tuanya pun tidak hanya berpusat pada dirinya saja. Anak diajarkan untuk mengerti bahwa orang tua mereka pun manusia yang harus menjalankan hidupnya sendiri di luar tanggung jawab mereka terhadap anak.
- Selektif dalam memberikan pujian pada anak
Orang tua Perancis tidak gampang memuji anaknya. Pencapaian kecil si anak mungkin tidak akan berbalas pujian. Pujian baru akan diberikan apabila si anak berhasil melakukan yang memang pantas untuk diapresiasi. Bukannya pelit. Tapi metode ini bertujuan untuk membentuk kepribadian yang tidak gampang puas untuk segala sesuatu yang sudah si anak lakukan serta mendidiknya untuk tidak selalu melakukan sesuatu dengan mengharapkan imbalan.
- Pengimplementasian jadwal dan pola makan yang strict
Dengan cara ini, kasus picky eater pada anak-anak Perancis minim ditemukan. Orang tua tidak secara khusus menyiapkan makanan untuk sang anak. Anak duduk di meja makan dengan tenang dan diwajibkan memakan apapun yang tersaji. Kebiasaan ngemil praktis ga ada di pola asuh orang tua Perancis karena berisiko mengacaukan selera makan. Di sana memang ada tradisi gouter, yaitu makan sedikit roti di sore hari setelah pulang sekolah. Tapi secara umum, anak tidak akan makan apapun antara makan siang dan makan malam, sekitar pukul 8. Akibatnya, begitu si anak duduk di meja makan, perut yang keroncongan akan membuatnya menyantap apapun yang disajikan orang tua.
- Melatih kesabaran
Kasus tantrum di anak-anak Perancis pun minim. Apa rahasianya? Orang tua mengajarkan kepada anak-anak untuk sabar untuk hal-hal mendasar seperti menerima perhatian, menunggu waktu makan, maupun menunggu giliran mendapatkan jawaban. Dengan pendidikan begini, si anak sejak kecil dilatih untuk menunggu dengan sabar tanpa gelisah, marah, atau tantrum.
- Pengikutsertaan anak dalam urusan rumah tangga
Enggak, ini ga berarti si anak harus ikut dalam pengambilan keputusan atau semacamnya. Tapi si anak bisa dilibatkan dalam urusan bagaimana menjaga rumah agar tetap rapi dan nyaman, misalnya. Anak-anak Perancis dididik dari kecil untuk aktif menuntaskan tugas rumah tangga yang sepadan dengan usia mereka seperti ikut berbelanja ke supermarket, membuang sampah pada tempatnya, menata piring di meja makan, dan hal-hal kecil lainnya.
- Mengajari sopan santun dan tata krama
Ada istilah bien eleve dalam pola asuh di Perancis yang bisa diterjemahkan sebagai adab sopan santun yang merupakan hal mutlak dan tidak bisa dikompromi. Konsep ini sudah mulai diterapkan sejak si anak mulai bicara. Contohnya seperti:
- Saat bertemu dengan orang baru, harus memperkenalkan diri
- Membiasakan diri untuk mengucapkan terima kasih, maaf, dan tolong
- Memberikan salam setiap kali memasuki ruangan
- Memperhatikan kontak mata ketika berbicara dengan orang lain
- Mempelajari dan menerapkan table manner saat makan
- Pada saat menghadiri acara formal atau pesta, harus mengenakan pakaian terbaik
- Mengajar anak untuk mampu menyelesaikan segala sesuatu sendiri
Karakter yang otonom menjadi target lain yang diinginkan dalam penerapan pola parenting a la Perancis. Anak-anak diajarkan untuk berkembang menjadi pribadi yang penuh rasa tanggung jawab, kemandirian, dan kepercayaan diri yang tinggi. Anak-anak pun dididik untuk mengerjakan berbagai hal yang bisa mereka lakukan sendiri lalu belajar untuk menerima konsekuensi logis dari kesalahan yang diperbuat.
Parenting Cara Jerman yang Tegas

Karakter pola asuh Jerman diwarnai pendidikan menghargai waktu dan disiplin yang kental. Cara-cara yang diterapkan termasuk:
- Pendisiplinan anak dengan penekanan pada empati dan diskusi
Percaya ato engga, di Jerman, strategi hukuman fisik sebagai bentuk pendisiplinan sudah ditetapkan ilegal sejak tahun 2000. Sebagai gantinya, metode diskusi dengan muatan empati dan logika menjadi pilihan. Saat seorang anak melakukan kesalahan, orang tua akan mengajaknya untuk berdiskusi, utamanya perihal perilaku mana yang pantas dan mana yang tidak untuk dilakukan oleh anak pada usianya. Efektivitas metode ini terletak pada kemampuannya mendidik anak untuk memahami siapa yang memegang kendali dan bahwa semuanya perlu dilakukan untuk kebaikan si anak itu sendiri.
- Mengenalkan alur rutinitas sejak bayi
Memperkenalkan rutinitas merupakan hal penting untuk dilakukan dalam mengasuh balita. Orang tua Jerman, di lain pihak, bahkan sudah menerapkan hal ini semenjak si anak masih bayi. Mirip dengan pola asuh Perancis, orang tua Jerman mengajarkan si anak untuk menghargai jadwal mereka. Rutinitas di-arrange sedemikian rupa sehingga mengikuti alur jadwal si orang tua ketimbang sebaliknya. Batasan tegas diberikan untuk waktu tidur, makan, dan bermain dan disesuaikan dengan usia si anak. Pemberian instruksi yang jelas, konsisten, dan tegas juga berkemungkinan menghindarkan orang tua dari keharusan untuk mengingatkan ulang si anak.
- Mengajari anak untuk mencari penyelesaian masalah sendiri
Kalo Teman-teman DRYD pernah dengan istilah helicopter parenting, pola asuh Jerman cenderung berbeda total, malah lebih condong ke tipe authoritative. Standar perilaku yang tinggi dan aturan tegas ditanamkan sejak dini pada anak, ketimbang membiarkan mereka melakukan apapun yang mereka inginkan. Ini diterapkan sambil tetap memperhatikan kebutuhan emosional si anak di saat yang sama. Ketika si anak melakukan kesalahan atau mengalami hambatan, si orang tua ga serta-merta take over dan menyelesaikan permasalahan untuk si anak. Mereka cuma bakal ngasi instruksi atau pentunjuk untuk menuntun si anak agar mampu menyelesaikan persoalan.
Sebuah penelitian oleh Organization for Economic Co-operation dan Development menunjukkan bahwa anak-anak Jerman lebih mudah memecahkan permasalahan yang mereka temui dalam hal membaca, Bahasa Inggris, dan matematika dibandingkan dengan anak seusia mereka dari Amerika—semua berkat penerapan metode asuh yang satu ini.
Dengan penerapan pola ini, di Jerman dikenal konsep “selbständigkeit”, yaitu kemampuan untuk mengandalkan diri sendiri sehingga si anak ga cepet menyerah atau meminta bantuan dari orang lain untuk persoalan yang sebetulnya bisa diselesaikan sendiri.
- Membiasakan anak untuk bermain sambil belajar
Orang tua Jerman tidak terlalu terburu-buru dan memaksa anaknya untuk cepat bisa menulis dan membaca. Mereka justru meng-encourage anaknya untuk banyak menghabiskan waktu dengan bermain di luar. Cuaca tidak masalah. Unstructured play menjadi bagian integral dalam pola asuh Jerman selagi pakaian yang dikenakan tepat dan kondisi aman. Konsep permainan tak berstruktur ini bisa melatih kemampuan sosial si anak, mendidiknya menjadi pribadi yang mawas diri, mampu menjaga dirinya sendiri, dan melatih pola pikir kreatif.
Menarik Benang Merah
Pola asuh Denmark membuat kita sadar bahwa untuk bisa berkembang menjadi kepribadian yang bahagia, perlu banget membentuk masa kecil yang memorable dan penuh dengan sukacita. Anak harus diajari untuk mengenali dirinya sendiri untuk bisa menyadari posisinya dalam lingkungan yang lebih luas.
Pola asuh Perancis memberikan kita makna empati yang sebenarnya dan keharusan untuk menjaga tata krama bahkan dari ruang lingkup rumah tangga.
Pola asuh cara Jerman menekankan pembentukan individu yang penuh otoritas, mandiri, dan memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah dengan efektif dan efisien.
Secara umum, cara-cara yang diterapkan dalam mengasuh anak di ketiga negara tersebut relatif mudah untuk diaplikasikan secara aman. Pengecualian mungkin bisa diberikan untuk pola asuh dari Denmark poin usia masuk sekolah secara sistem pendidikannya juga berbeda dari yang ada di Indonesia. Tapi semuanya masih bisa di-tambal-sulam, kok. Kalo ditarik benang merah-nya, ketiganya punya satu kesamaan: Ketiganya sama-sama menitikberatkan pada keharusan untuk menerapkan pola asuh dengan kebutuhan emosional si anak sebagai dasarnya.
Kalo selama ini kita mendidik anak dengan menggunakan kepentingan kita pribadi sebagai reasoning dasarnya, maka si anak akan lupa cara menghargai dirinya sendiri. Nah, kalo menghargai diri sendiri aja luput, gimana mau menghargai orang lain? Gimana mau menghargai lingkungan? Kemandirian pun menjadi motif lain yang ditemukan dalam ketiga parenting styles itu. Anak-anak Denmark, Perancis, dan Jerman diajarkan untuk mengandalkan diri mereka sendiri dengan asumsi bahwa kemampuan untuk membantu orang lain berakar dari kemampuan untuk menolong diri sendiri.
Konklusi
Suka ga suka, pertanyaan seputar parenting styles mana yang paling baik untuk coba diterapkan di Indonesia akan banyak muncul setelah menelaah metode pengasuhan di 3 negara di atas. Tapi kita, lagi-lagi, di sini ga harus mengunggulkan satu metode di atas yang lain. Metode parenting Indonesia juga ada nilai positifnya, kok. Cuma, ga ada salahnya toh, mempelajari bagaimana orang-orang tua di negara lain mendidik anak mereka?
Jangan kebablasan; sebagus apapun satu metode, mungkin tidak cocok dengan kondisi dalam negri. Ambil yang baik-baik, kombinasikan dengan konsep pribadi, dan terapkan sesuai kebutuhan. Keharusan untuk selalu berkumpul dengan keluarga mungkin tidak bisa terus-terusan dipraktikkan sehubungan dengan keharusan untuk bekerja di luar kota dalam jangka waktu lama, misalnya. Kebijakan no ultimatums pun mungkin tidak bisa selalu ditegakkan mengingat orang tua pun manusia yang bisa habis kesabarannya. Apapun itu, jika terjadi kesalahan, tidak ada salahnya loh untuk minta maaf pada anak. Jangan gengsi. Itu malah bisa ngajarin si anak tentang betapa berharga dan powerful sebuah kata sederhana.
Pingback: Free Trial Classes untuk Anak? Tabukah? | Yusri Dinuth